Suamiku Menceraikanku Demi Menikahi Putri Direktur Utama—Namun Saat Ayahku Datang ke Jamuan Pertunangan Mereka, Satu Benda di Meja Membuat Seluruh Keluarganya Pucat Membisu dan Para Tamu Penting Mendadak Berdiri Menyambutnya
Bagian 1 — Suamiku Membawa Surat Cerai dan Menganggap Aku Hambatan Karier, Lalu Meminta Benda Warisan Ayahku untuk Diberikan kepada Calon Istrinya yang Baru
“Tidak usah menangis, Nadira. Kita sudah sama-sama dewasa. Tanda tangani saja, lalu kita selesaikan semuanya dengan baik.”
Aku berdiri di depan meja makan sambil menatap dua lembar dokumen yang baru saja didorong Raka ke arahku.
Surat gugatan cerai.
Di sampingnya ada sebuah pena hitam.
Entah kenapa, benda kecil itulah yang paling menyakitkan.
Pena yang dulu kupakai untuk menandatangani buku nikah kami lima tahun lalu.
Raka bahkan sudah menyiapkan semuanya.
Kertas.
Pena.
Fotokopi dokumen.
Seolah pernikahan lima tahun bisa dibereskan seperti menutup kontrak proyek.
“Ada perempuan lain?” tanyaku.
Raka melepaskan jam tangannya, meletakkannya di meja, lalu menghela napas seperti akulah masalah yang melelahkan.
“Aku tidak mau menyebutnya seperti itu.”
“Kalau begitu sebut apa?”
Dia diam beberapa detik.
Lalu mengatakan nama yang sebenarnya sudah beberapa minggu terakhir sering kudengar dari ibunya.
“Ayu Mahardika.”
Dadaku langsung terasa kosong.
Aku mengenal nama itu.
Ayu adalah putri tunggal Arman Mahardika, direktur utama PT Arunika Logistik, perusahaan tempat Raka bekerja sebagai manajer pengadaan strategis.
Beberapa bulan terakhir, Raka sering pulang terlambat dengan alasan makan malam bersama direksi.
Ibunya juga semakin sering berbicara tentang pentingnya “jaringan keluarga”.
Ternyata semuanya saling terhubung.
Raka duduk di hadapanku.
“Aku tidak tidur dengannya. Jadi jangan langsung menuduh macam-macam.”
Aku tertawa pendek.
“Kamu datang membawa surat cerai karena ingin menikahi dia, tapi aku tidak boleh menganggap ada perempuan lain?”
“Nadira, jangan dramatis.”
Kalimat itu membuatku menatapnya lama.
Lima tahun lalu, ketika kami menikah sederhana di Yogyakarta, pria ini berkata dia menyukai ketenanganku.
Sekarang ketenangan yang sama dia sebut kelemahan.
“Keluargamu sudah tahu?”
“Ibu dan Papa mendukung.”
“Tentu saja.”
Raka mengerutkan kening.
Aku melanjutkan, “Ibumu bahkan pernah bilang aku terlalu biasa untuk menjadi istri laki-laki yang sedang naik karier.”
“Nah, kamu sendiri tahu masalahnya.”
Aku tidak menyangka dia akan menjawab secepat itu.
Raka merapatkan kedua tangannya.
“Karierku sedang bagus. Ada pembukaan posisi kepala regional tahun depan. Pak Arman melihat potensiku. Kalau aku masuk ke keluarga mereka, banyak hal akan menjadi lebih mudah.”
“Termasuk bisnis ayahmu?”
Wajah Raka sedikit berubah.
Ayah Raka memiliki perusahaan transportasi darat skala menengah yang selama dua tahun terakhir kesulitan mendapatkan kontrak besar.
Aku pernah mendengar mertuaku membicarakan tender distribusi PT Arunika.
Raka akhirnya mengangguk.
“Papa juga mungkin bisa masuk sebagai vendor. Kakakku sedang butuh modal untuk memperluas gudang. Hubungan ini bagus untuk semua orang.”
“Semua orang kecuali aku.”
Dia mengusap wajah.
“Kamu akan dapat bagian yang layak.”
“Bagian?”
“Apartemen bisa kita jual. Tabungan dibagi. Aku tidak akan menyulitkanmu.”
Aku hampir ingin bertanya sejak kapan dirinya merasa sedang bermurah hati.
Sebagian besar uang muka apartemen itu berasal dari uang yang diberikan ayahku saat aku menikah.
Namun Raka tidak pernah benar-benar bertanya.
Dia hanya tahu ayahku bernama Harun.
Seorang pria pendiam yang datang ke pernikahan mengenakan batik sederhana, duduk bersama kerabat, lalu pulang tanpa rombongan.
Keluarga Raka mengira ayahku pensiunan konsultan.
Aku tidak pernah membetulkan anggapan itu.
Nama lengkapku Nadira Prameswari, memakai nama keluarga ibuku sejak kecil. Ayahku, Harun Santosa, tidak pernah meminta aku menggunakan namanya untuk membuka pintu.
Saat aku mendapat pekerjaan pertama sebagai analis risiko, beliau bahkan berkata, “Kalau orang menghormatimu hanya karena tahu siapa Ayah, kamu tidak akan pernah tahu berapa nilai dirimu sendiri.”
Aku menjalani prinsip itu.
Termasuk ketika menikahi Raka.
Mungkin itulah kesalahanku.
Aku mengira manusia bisa dinilai dari cara mereka memperlakukan seseorang yang dianggap tidak punya apa-apa.
“Tanda tangani saja,” kata Raka lagi.
Aku mengambil pena.
Tidak menangis.
Tidak berteriak.
Aku menandatangani dokumen itu.
Raka justru tampak bingung.
“Kamu tidak mau mempertahankan pernikahan ini?”
“Mempertahankan apa?”
Dia terdiam.
Aku menutup pena.
“Kamu sudah memilih.”
Untuk beberapa detik, tidak terdengar apa pun kecuali suara pendingin ruangan.
Kemudian Raka berkata pelan, “Ada satu hal lagi.”
Aku menatapnya.
Dia berdiri dan membuka lemari pajangan dekat ruang keluarga.
Tangannya mengambil sebuah kotak kayu kecil berwarna cokelat tua.
Jantungku langsung berdegup lebih keras.
Di dalam kotak itu tersimpan sebuah pena antik berlapis perak, dengan ukiran kecil berbentuk tiga gelombang di bagian klipnya.
Warisan dari kakekku.
Ayah memberikannya kepadaku beberapa hari sebelum aku menikah.
“Pegang ini. Dulu Kakekmu menandatangani kontrak pertamanya dengan pena ini,” katanya saat itu.
Raka memegang kotak tersebut.
“Pak Arman mengoleksi pena tua.”
Aku sudah tahu apa yang akan dia katakan.
Tetapi aku tetap ingin mendengarnya.
“Terus?”
“Aku ingin memberikannya kepada beliau.”
Aku menatap Raka tanpa berkedip.
“Pena Kakekku?”
“Sebagai tanda penghormatan. Minggu depan keluarga kami akan makan malam resmi dengan keluarga Mahardika.”
“Untuk membicarakan pertunanganmu dengan Ayu?”
Raka terlihat tidak nyaman.
“Iya.”
Aku hampir tidak percaya.
Dia bukan hanya ingin membuang pernikahan kami.
Dia juga ingin mengambil benda warisan keluargaku untuk memenangkan hati calon mertuanya.
“Bukankah kamu bilang pena itu tidak terlalu berguna bagimu?” katanya.
Aku ingat pernah mengatakan aku jarang memakainya karena takut rusak.
Entah bagaimana kalimat itu berubah menjadi izin untuk memberikannya kepada orang lain.
Aku mengambil kotak tersebut dari tangannya.
Raka langsung berkata, “Kalau kamu keberatan, bilang saja.”
Aku membuka kotaknya.
Memotret nomor ukiran kecil di bagian bawah pena.
Kemudian menutupnya kembali.
Dan menyerahkannya kepada Raka.
“Ambil.”
Dia terkejut.
“Serius?”
Aku menatapnya.
“Anggap saja benda terakhir dari keluargaku yang pernah masuk ke tangan keluargamu.”
Malam itu aku keluar dari apartemen membawa dua koper.
Di parkiran, aku duduk hampir sepuluh menit di dalam mobil tanpa menyalakan mesin.
Barulah aku menelepon ayah.
Beliau mengangkat pada dering kedua.
“Nadira?”
Aku berusaha bicara biasa.
“Ayah sedang sibuk?”
“Tidak. Kenapa?”
Aku menunduk.
“Aku boleh pulang beberapa hari?”
Hening.
Ayah tidak bertanya apa yang terjadi.
Tidak memaksaku bercerita.
Beliau hanya menjawab, “Kamar kamu masih sama. Pulang.”
Aku akhirnya menangis.
Bukan karena kehilangan Raka.
Melainkan karena baru menyadari betapa lama aku memaksakan diri bertahan di rumah yang tidak pernah benar-benar menganggapku keluarga.
Empat hari kemudian, seorang teman mengirimkan tangkapan layar unggahan ibu Raka.
Foto makan siang keluarga.
Raka duduk di samping Ayu.
Tulisan di bawahnya berbunyi:
Kadang Tuhan menutup satu pintu supaya anak kita menemukan keluarga yang benar-benar sepadan.
Aku hanya membaca sekali.
Lalu memblokir akunnya.
Namun masalah belum selesai.
Seminggu kemudian, ayah menerima undangan resmi untuk sebuah jamuan bisnis dan keluarga di hotel kawasan Kuningan, Jakarta.
Tuan rumahnya keluarga Mahardika.
Di bagian bawah undangan tercantum agenda khusus: perkenalan keluarga Ayu Mahardika dan Raka Pradipta.
Aku menatap nama ayah dalam daftar tamu.
Bapak Harun Santosa.
Ketua Dewan Pengawas Samudra Karsa Group.
Perusahaan induk itu memiliki investasi di pelabuhan, pergudangan dan rantai dingin di beberapa kota besar Indonesia.
Ayah tidak terkenal bagi masyarakat umum.
Namun di kalangan logistik, hampir semua direktur senior mengenalnya.
“Ayah tetap datang?” tanyaku.
“Sudah dijadwalkan sejak bulan lalu,” jawabnya. “Ada pembicaraan investasi setelah makan malam.”
Aku tidak meminta beliau membatalkan.
Aku juga tidak menceritakan siapa Ayu.
Sampai malam acara tiba.
Sekitar pukul tujuh, sekretaris ayah menelepon.
Satu map evaluasi investasi tertinggal di ruang kerja rumah.
Ayah membutuhkannya sebelum rapat tertutup.
Aku memutuskan mengantarnya.
Aku datang dengan blus putih sederhana dan celana hitam.
Begitu memasuki foyer ballroom, langkahku berhenti.
Raka berdiri bersama keluarganya.
Ayu ada di sampingnya.
Ibunya melihatku terlebih dahulu.
Wajahnya langsung berubah.
“Nadira?”
Raka berbalik.
“Apa yang kamu lakukan di sini?”
“Aku mengantar dokumen.”
Ibunya maju satu langkah.
“Kalau mau mencari perhatian, jangan malam ini. Banyak orang penting di sini.”
Aku belum sempat menjawab ketika mataku tertuju pada meja khusus di dekat pintu ballroom.
Di atas meja itu terdapat beberapa hadiah keluarga.
Dan tepat di tengahnya ada kotak kayu milik kakekku.
Terbuka.
Pena antik itu dipajang di atas kain beludru.
Di depannya terdapat kartu kecil.
Pusaka keluarga Pradipta, dipersembahkan kepada keluarga Mahardika sebagai simbol penghormatan.
Tanganku mendadak dingin.
Mereka bukan hanya memberikan barang keluargaku.
Mereka mengakuinya sebagai pusaka keluarga mereka sendiri.
Raka mengikuti arah pandangku.
“Nadira, jangan membuat masalah.”
Aku menatapnya.
“Kamu bilang akan memberikannya sebagai hadiah. Kamu tidak bilang akan mengaku itu warisan keluargamu.”
Ibunya mencibir.
“Hanya pena tua. Jangan bersikap seolah itu harta kerajaan.”
Pada saat itulah pintu ballroom terbuka.
Beberapa direktur perusahaan berdiri hampir bersamaan.
Kemudian orang-orang di sekitar pintu mulai menegakkan tubuh dan menyambut seorang pria berusia enam puluhan yang baru masuk bersama dua anggota stafnya.
Raka langsung membisikiku, “Itu Pak Harun Santosa. Salah satu orang yang paling ingin ditemui Pak Arman malam ini. Jadi tolong jangan mempermalukan kami.”
Aku tidak menjawab.
Ayah melihatku.
Langkahnya berhenti.
Lalu, di depan Raka, Ayu, keluarga Mahardika dan semua orang yang sedang menunggu untuk menyalaminya, ayah justru berjalan lurus ke arahku.
“Nadira?”
Raka membeku.
Ayah berhenti di depanku.
“Kok kamu yang antar mapnya?”
Aku menyerahkannya.
“Tadi sekretaris Ayah bilang tertinggal.”
Ayah tersenyum singkat.
“Terima kasih, Nak.”
Wajah ibu Raka berubah pucat.
Tetapi itu belum apa-apa.
Karena beberapa detik kemudian pandangan ayah jatuh pada kotak kayu di meja.
Senyumnya lenyap.
Beliau mengambil pena itu perlahan, membalik bagian bawahnya, lalu melihat ukiran tiga gelombang yang dibuat kakekku lebih dari empat puluh tahun lalu.
Ayah mengangkat kepala.
“Nadira.”
Suaranya tidak keras.
Namun seluruh area di sekitar kami menjadi sunyi.
“Kenapa pena milik Kakekmu dipajang sebagai pusaka keluarga mereka?”
Dan untuk pertama kalinya malam itu, aku melihat Raka benar-benar ketakutan.
#DramaKeluarga #KisahRumahTangga #PengkhianatanSuami #CeritaIndonesia #KarmaKehidupan
Bagian 2 — Di Jamuan Pertunangan Itu, Mereka Menghinaku di Depan Para Tamu, Sampai Ayahku Berjalan Lurus ke Arahku Tanpa Menyapa Tuan Rumah
Tidak ada yang langsung menjawab pertanyaan ayah.
Ayu memandang Raka.
Lalu memandang pena di tangan ayah.
“Pena milik kakeknya Nadira?” tanyanya.
Raka menelan ludah.
Ibunya buru-buru menyela.
“Pak Harun, sepertinya ada kesalahpahaman kecil.”
Ayah menatapnya.
“Kesalahpahaman yang mana?”
“Itu diberikan Nadira kepada Raka.”
“Benar?”
Ayah menoleh kepadaku.
Aku mengangguk.
“Raka memintanya setelah memberikan surat cerai. Katanya Pak Arman mengoleksi pena dan dia ingin menjadikannya hadiah.”
Wajah Arman Mahardika yang sejak tadi berdiri beberapa meter dari kami mulai berubah.
Aku melanjutkan.
“Aku tidak tahu mereka akan menulis bahwa itu pusaka keluarga Pradipta.”
Raka mendekat.
“Aku bisa menjelaskan.”
Ayu segera mundur satu langkah darinya.
“Jadi cerita tentang pena milik kakekmu yang membangun bisnis transportasi dari nol itu bohong?”
Raka diam.
Aku bahkan baru tahu cerita itu.
Rupanya kebohongan mereka jauh lebih lengkap daripada yang kubayangkan.
Ayah meletakkan kembali pena ke dalam kotaknya.
“Pak Arman,” katanya tenang, “maaf acara keluarga Anda menjadi tidak nyaman karena benda milik keluarga saya.”
Arman menggeleng cepat.
“Justru saya yang harus minta maaf.”
Ayah tidak meninggikan suara.
Tidak menghina Raka.
Tidak menyebut statusnya sendiri.
Beliau hanya menutup kotak kayu itu dan memberikannya kepadaku.
“Bawa pulang.”
Aku menerimanya.
Raka mencoba tersenyum.
“Pak Harun, saya sungguh tidak tahu Nadira adalah putri Bapak.”
Ayah menatapnya beberapa detik.
Kemudian mengatakan satu kalimat yang membuat wajah Raka semakin kaku.
“Seharusnya itu tidak mengubah cara kamu memperlakukannya.”
Tak seorang pun menjawab.
Namun sesuatu yang jauh lebih buruk terjadi setelah itu.
Sekretaris ayah datang mendekat dan mengatakan rapat investasi akan dimulai dua puluh menit lagi.
Ketika menyebut nama PT Arunika Logistik, ayah tiba-tiba memandang Raka.
“Nama lengkapmu Raka Pradipta?”
“Iya, Pak.”
“Divisi pengadaan strategis?”
Raka terlihat terkejut.
“Iya.”
Ayah menoleh kepada stafnya.
“Berkas pemeriksaan vendor Arunika ada di map yang Nadira antar?”
Staf itu memeriksa.
“Ada, Pak.”
Wajah Raka berubah.
Ayah membuka map.
Aku berdiri cukup dekat untuk melihat beberapa tabel dan kode kontrak.
“Ada apa?” tanya Arman.
Ayah tidak menjawab dengan tuduhan.
Beliau justru menyerahkan dokumen tersebut kepadanya.
“Tim kami sedang melakukan due diligence sebelum investasi. Saya rasa bagian ini lebih baik diperiksa internal perusahaan Anda sendiri.”
Arman membaca dua halaman.
Lalu ekspresinya berubah total.
“Raka.”
Suara itu terdengar jauh lebih dingin daripada sebelumnya.
“Apa hubungan CV Pradipta Trans dengan ayahmu?”
Raka membeku.
“Itu… perusahaan keluarga.”
“Kenapa tidak tercantum dalam deklarasi konflik kepentingan?”
Raka membuka mulut.
Tidak keluar suara.
Arman membalik halaman.
“Ada tiga penawaran vendor. Dua perusahaan lain memberikan harga hampir identik dan akhirnya proyek diberikan kepada perusahaan keluargamu.”
Ayah segera berkata, “Pak Arman, tim kami belum menyimpulkan pelanggaran. Itu sebabnya saya bilang harus diperiksa.”
Kalimat itu justru membuat semuanya terasa lebih serius.
Ini bukan kemarahan seorang ayah.
Ini bukan balas dendam karena putrinya diceraikan.
Berkas itu sudah ada sebelum ayah tahu siapa Raka bagiku.
Arman menatap Raka.
“Besok pagi serahkan semua komunikasi pengadaan terkait kontrak ini kepada audit internal.”
“Pak, saya bisa jelaskan—”
“Besok.”
Ayah Raka yang sejak tadi diam akhirnya mendekat.
“Pak Arman, mungkin ada prosedur administrasi yang terlewat. Jangan sampai masalah kecil merusak hubungan keluarga.”
Ayu menoleh kepadanya.
“Hubungan keluarga?”
Kemudian dia memandang Raka.
“Jadi ini alasan kamu terus bertanya kapan Papa akan membuka tender distribusi Jawa Barat?”
Raka menggeleng cepat.
“Ayu, bukan begitu.”
Aku seharusnya pergi.
Tetapi tiba-tiba teringat sesuatu.
Percakapan terakhirku dengan Raka.
Aku mengambil ponsel.
Beberapa minggu sebelumnya, Raka pernah mengirim pesan ketika aku mempertanyakan kenapa keluarganya begitu dekat dengan Mahardika.
Aku tidak pernah menghapusnya.
Aku membuka percakapan itu dan menyerahkan layar kepada Ayu.
Pesannya pendek.
Namun cukup.
Kalau aku dekat dengan keluarga Pak Arman, posisi regional lebih mudah. Papa juga bisa masuk tender. Kamu jangan melihat semuanya dari sisi perasaan saja.
Ayu membaca dua kali.
Raka mencoba mengambil ponsel dari tangannya.
Ayu menarik tangan.
“Ayu, dengarkan aku.”
Dia menatap Raka dengan mata merah.
“Kamu bilang memilihku karena kita punya masa depan yang sama.”
“Kita memang—”
“Tidak.”
Suara Ayu bergetar.
“Kamu menceraikan istrimu karena menganggap keluargaku jalan menuju jabatan. Lalu membawa barang milik keluarganya dan mengaku itu pusakamu supaya Papa terkesan.”
Raka pucat.
Ibunya mencoba mendekat.
“Ayu, semua pernikahan juga mempertimbangkan masa depan—”
Ayu menoleh tajam.
“Bukan dengan kebohongan.”
Lalu dia melepaskan cincin kecil yang baru beberapa menit sebelumnya dikenakan Raka pada jarinya.
Dia meletakkannya di meja, tepat di tempat pena kakekku tadi dipajang.
“Tidak ada pertunangan malam ini.”
Wajah Raka langsung berubah panik.
“Ayu!”
Namun Ayu belum selesai.
Dia menatap ayahnya.
“Papa, aku mau pulang.”
Arman mengangguk.
Sebelum pergi, dia memandang Raka.
“Mulai malam ini, kamu dibebastugaskan sementara dari kewenangan pengadaan sampai audit selesai.”
Raka menatapku.
Tatapan yang selama lima tahun kukenal berubah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda.
Marah.
Takut.
Dan putus asa.
“Nadira.”
Dia menunjukku.
“Ini semua gara-gara kamu.”
Ayah bergerak hendak maju.
Aku menahan lengannya.
Kemudian aku menatap mantan suamiku sendiri.
“Tidak, Raka.”
Aku menunjuk dokumen di tangan direktur utamanya.
“Itu bahkan sudah tertulis sebelum mereka tahu aku pernah menjadi istrimu.”
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Raka tidak punya siapa pun lagi yang bisa dia salahkan.
Bagian 3 — Saat Asal-usulku Terungkap, Bukan Status Keluargaku yang Menghancurkan Mereka, Melainkan Bukti Keserakahan yang Mereka Tinggalkan dengan Tangan Sendiri di Meja Malam Itu
Aku pergi dari hotel bersama ayah tanpa menoleh lagi.
Di dalam mobil, beliau tidak langsung berbicara.
Beberapa menit kemudian baru terdengar suaranya.
“Kenapa tidak cerita dari awal?”
Aku menatap keluar jendela.
“Aku malu.”
“Karena diceraikan?”
Aku menggeleng.
“Karena selama lima tahun aku terus membuat alasan untuk orang-orang yang sebenarnya sudah menunjukkan siapa diri mereka.”
Ayah terdiam.
Kemudian menggenggam tanganku sebentar.
“Itu pelajaran mahal.”
Aku tersenyum lemah.
“Lumayan mahal.”
Ayah tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari, dadaku terasa sedikit lebih ringan.
Tetapi akibat malam itu baru benar-benar terlihat beberapa minggu kemudian.
Audit internal PT Arunika menemukan bahwa Raka memang beberapa kali tidak melaporkan hubungan keluarganya dengan vendor yang mengikuti pengadaan.
Bukan hanya satu kontrak.
Ada tiga.
Dalam salah satu proyek, perusahaan milik ayah Raka menerima pekerjaan dengan nilai sekitar Rp1,4 miliar setelah dua pesaing mengirim penawaran dengan selisih harga yang mencurigakan.
Investigasi perusahaan tidak menyatakan Raka melakukan tindak pidana.
Namun mereka menyimpulkan ada konflik kepentingan serius, pelanggaran prosedur dan komunikasi yang tidak dilaporkan.
Raka diberhentikan dari posisi manajerial.
Beberapa bulan kemudian dia keluar dari perusahaan.
Perusahaan ayahnya juga kehilangan status sebagai vendor sampai proses evaluasi selesai.
Semua itu terjadi tanpa campur tangan ayahku.
Samudra Karsa bahkan menunda keputusan investasi sampai audit Arunika selesai agar tidak muncul tuduhan bahwa ayah menggunakan hubungan bisnis untuk menghukum mantan menantunya.
Sementara itu, proses perceraianku berjalan.
Di situlah aku menemukan masalah lain.
Dua minggu sebelum memberikan surat cerai, Raka ternyata telah memindahkan Rp186 juta dari rekening bersama kami ke rekening pribadinya.
Saat mediasi, pengacaranya menyebut uang itu sebagai “dana yang sudah disepakati untuk kebutuhan keluarga”.
Aku meminta bukti.
Tidak ada.
Akhirnya transfer itu dimasukkan dalam perhitungan pembagian harta.
Apartemen dijual.
Bagian uang muka yang bisa kubuktikan berasal dari pemberian orang tuaku diperhitungkan dalam penyelesaian.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, aku berhenti mengalah hanya karena takut disebut materialistis.
Aku tidak meminta lebih.
Tetapi aku juga tidak menyerahkan apa yang menjadi hakku.
Ibu Raka menghubungiku berkali-kali.
Pesan pertamanya masih terdengar angkuh.
Nadira, sebaiknya kita bicara sebagai keluarga.
Aku tidak menjawab.
Pesan berikutnya berubah.
Ibu tidak pernah bermaksud merendahkanmu.
Lalu:
Raka sedang tertekan. Bagaimanapun kalian pernah saling mencintai.
Dan akhirnya:
Kalau sejak awal kami tahu siapa ayahmu, semua ini mungkin tidak terjadi.
Aku membaca kalimat terakhir itu cukup lama.
Lalu membalas satu kali.
Justru karena Ibu tidak tahu siapa ayah saya, saya akhirnya tahu bagaimana Ibu menilai saya.
Setelah itu aku memblokir nomornya.
Ayu juga pernah menghubungiku.
Bukan untuk meminta maaf atas Raka.
Dia hanya ingin mengembalikan sebuah gelang yang pernah dititipkan ibu Raka sebagai bagian dari hadiah pertunangan.
Aku mengatakan benda itu bukan milikku.
Sebelum percakapan berakhir, Ayu berkata, “Aku benar-benar tidak tahu bagaimana pernikahan kalian berakhir.”
“Aku percaya.”
“Aku juga tidak tahu soal pena itu.”
“Aku tahu.”
Kami tidak menjadi teman.
Kami tidak perlu.
Dua perempuan tidak harus saling membenci hanya karena pernah dibohongi laki-laki yang sama.
Enam bulan setelah perceraian selesai, aku menerima promosi menjadi kepala tim risiko di perusahaan tempatku bekerja.
Ayah pernah menawarkan agar aku masuk ke salah satu anak usaha Samudra Karsa.
Aku menolak.
“Ayah tersinggung?” tanyaku.
Beliau malah tertawa.
“Justru kalau kamu langsung menerima jabatan karena Ayah, semua ceramah Ayah selama ini jadi tidak laku.”
Aku kembali tinggal sendiri di sebuah apartemen lebih kecil di Jakarta Selatan.
Tidak semewah tempat tinggalku bersama Raka.
Namun untuk pertama kalinya, ketika membuka pintu setiap malam, aku merasa benar-benar pulang.
Pena kakek kusimpan di atas rak ruang kerja.
Bukan di dalam kotak.
Aku mulai menggunakannya lagi.
Hampir setahun setelah malam pertunangan itu, aku bertemu Raka untuk terakhir kalinya setelah menyelesaikan satu urusan administrasi perceraian.
Dia terlihat berbeda.
Lebih kurus.
Tidak lagi mengenakan pakaian kantor mahal.
Kami berdiri di area parkir gedung mediator.
“Nadira.”
Aku berhenti.
Raka menatapku.
“Aku minta maaf.”
Aku tidak menjawab.
Dia melanjutkan.
“Aku terlalu ambisius. Waktu itu aku pikir semua orang melakukan hal yang sama. Cari koneksi. Cari posisi. Cari keluarga yang bisa mengangkat kita.”
“Dan sekarang?”
Dia tersenyum pahit.
“Sekarang aku tahu aku membuang orang yang benar-benar ada bersamaku.”
Aku tidak merasa puas melihatnya jatuh.
Anehnya, aku juga tidak marah lagi.
Hanya kosong.
“Raka,” kataku, “waktu kamu meninggalkanku, masalahnya bukan karena kamu tidak tahu siapa ayahku.”
Dia menatapku.
“Masalahnya adalah kamu merasa aku boleh dibuang ketika kamu mengira keluargaku tidak bisa memberi keuntungan apa pun.”
Dia menunduk.
Aku melanjutkan perjalanan menuju mobil.
“Nadira.”
Aku menoleh sekali lagi.
“Apa masih ada kemungkinan kita—”
“Tidak.”
Aku tidak membiarkannya menyelesaikan kalimat.
Bukan karena aku ingin menghukumnya.
Melainkan karena beberapa pintu memang harus ditutup setelah kita akhirnya mengerti kenapa ruangan di belakangnya membuat kita sesak.
Malam itu aku makan bersama ayah di rumah.
Beliau melihat pena kakek terselip di sakuku.
“Sekarang dipakai?”
“Iya.”
“Takut rusak?”
Aku tersenyum.
“Barang bisa diperbaiki.”
Aku meletakkan pena itu di atas meja.
“Yang penting jangan salah menyerahkannya kepada orang.”
Ayah tertawa.
Aku ikut tertawa.
Tidak ada pesta kemenangan.
Tidak ada keluarga yang datang memohon di depan rumah.
Tidak ada keajaiban.
Hanya hidup yang perlahan kembali ke tempatnya.
Raka kehilangan jabatan karena keputusan yang dibuatnya sendiri.
Keluarganya kehilangan kesempatan bisnis karena cara mereka sendiri menjalankannya.
Pertunangannya gagal karena kebohongan yang dia bangun sendiri.
Sedangkan aku akhirnya mendapatkan sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah kumiliki di dalam pernikahan itu.
Harga diri yang tidak lagi membutuhkan persetujuan siapa pun.
Dan kali ini, aku tidak akan pernah menukarnya dengan apa pun.

