BAGIAN 2
Pria berhelm itu tidak langsung menjawab.
Dia menurunkan senternya dan menatap tanda tanganku lagi.
“Ibu… Bu Miranti?”
Aku mengangguk.
Dia mengembuskan napas pendek.
“Saya cuma bagian pengukuran lapangan, Bu.”
“Siapa yang memberi dokumen ini?”
“Dari broker yang berhubungan dengan Pak Arman.”
“Tanah ini sudah dijual?”
“Belum akad final.”
Jawaban itu satu-satunya hal baik yang kudengar hari itu.
Aku segera memotret seluruh halaman dengan ponsel.

Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai Yono. Dia menolak menjelaskan banyak, tapi sebelum turun bukit dia mengatakan satu hal yang menempel di kepalaku.
“Setahu saya sudah ada uang tanda jadi.”
“Berapa?”
Dia menggeleng.
“Saya tidak pegang bagian itu.”
Malam itu aku tidak tidur.
Aku duduk di mulut gua sampai cahaya pagi muncul, membaca dokumen yang sama berkali-kali.
Bidang tanahnya hampir enam ribu meter persegi.
Rencana perusahaan itu adalah membuat gudang dan jalan akses untuk kendaraan berat.
Nilai transaksi yang tertulis dalam lampiran: Rp2,4 miliar.
Bagian itu membuat perutku mual.
Bukan karena aku menghitung berapa yang akan kudapat.
Karena tidak ada satu orang pun di keluargaku yang pernah berkata tanah itu sedang diproses.
Pukul tujuh pagi, ponselku bergetar.
Arman.
“Semalam kamu ke mana?”
Aku menatap layar cukup lama.
“Kenapa?”
“Ibu nanya.”
“Bukannya Ibu tidak boleh banyak pikiran?”
Diam.
Lalu suaranya turun.
“Mir, kamu ke bukit?”
Aku memandang patok kuning di depan gua.
Pertanyaan itu memberitahuku lebih banyak daripada jawaban apa pun.
“Kenapa kamu tanya begitu?”
“Jangan bikin urusan baru.”
“Ada urusan apa di bukit?”
“Pulang dulu. Kita bicara.”
Kemarin dia melarangku masuk.
Pagi ini dia menyuruhku pulang.
Aku menutup telepon.
Orang pertama yang kudatangi adalah Sari, teman SMA-ku yang sekarang memiliki toko fotokopi dan alat tulis dekat kantor kecamatan.
Dia menatapku hampir sepuluh detik saat melihatku berdiri di depan tokonya.
Kemudian dia berkata, “Kamu pasti belum sarapan.”
Bukan pertanyaan tentang penjara.
Bukan tatapan kasihan.
Aku hampir menangis hanya karena itu.
Aku mandi di kamar mandi kecil belakang tokonya, makan lontong sayur, lalu mencetak foto semua dokumen.
Sari mengenal seorang staf di kantor desa tempat letak tanah Ayah tercatat.
Dari sanalah aku mendapat informasi awal.
Sertifikat tanah masih atas nama Ayah.
Belum pernah ada pembagian resmi.
Belum ada pemecahan.
Aku, Arman, Nita, dan Ibu termasuk pihak yang haknya harus dibereskan sebelum transaksi apa pun bisa tuntas.
“Apa mungkin dijual tanpa aku?” tanyaku.
“Untuk proses resmi, ya tidak sesederhana itu,” kata Sari. “Tapi kalau orang berani bikin surat seolah kamu sudah setuju, berarti mereka berharap kamu tidak muncul sebelum semuanya selesai.”
Kalimat itu membuat ruang sempit tokonya terasa makin panas.
Siang harinya Nita akhirnya menelepon.
“Mbakyu, jangan marah dulu.”
Itu kalimat orang yang tahu aku punya alasan untuk marah.
“Kamu tanda tangan surat penjualan tanah?”
“Aku tanda tangan beberapa berkas.”
“Namaku juga ada.”
Dia diam.
“Nita.”
“Aku kira Mas Arman sudah bicara sama kamu.”
“Aku di penjara.”
“Ibu bilang kamu sudah setuju sejak dulu.”
Sejak dulu kapan?
Sebelum dipenjara aku bahkan tidak tahu ada perusahaan yang ingin memakai bukit kami.
“Uangnya buat apa?”
Nita menangis pelan.
“Gudang sudah hampir disita bank.”
Aku menutup mata.
Gudang bahan bangunan keluarga kami.
Tempat masalahku bermula.
“Mas Arman pinjam lagi?”
“Sehabis kamu masuk, usaha berantakan. Banyak pelanggan pergi. Cicilan numpuk. Biaya Ibu juga besar.”
Untuk beberapa menit aku mengira sudah memahami semuanya.
Arman menjual tanah demi menyelamatkan usaha dan membayar kebutuhan Ibu.
Masih salah.
Tapi setidaknya masuk akal.
Sampai Nita menambahkan, “Uang mukanya sebenarnya sudah masuk dari bulan lalu.”
Aku menegakkan punggung.
“Berapa?”
“Katanya Rp300 juta.”
“Masuk ke rekening siapa?”
“Aku tidak tahu.”
Sore itu aku pergi ke rumah Ibu lagi.
Kali ini pagar terbuka.
Arman tidak ada.
Ibu duduk di kursi rotan dengan kaki disangga bantal.
Wajahnya lebih kurus dibanding terakhir kali kulihat tiga tahun lalu.
Aku mencium tangannya.
Dia menangis.
Namun setelah lima menit, tangannya mulai gelisah merapikan ujung bajunya.
Kebiasaan yang kulihat sejak kecil setiap kali Ibu menyembunyikan sesuatu.
Aku meletakkan fotokopi surat di meja.
“Ibu bilang aku setuju menjual tanah?”
Dia tidak melihat kertas itu.
“Tanah itu untuk menyelamatkan keluarga.”
“Aku tanya apakah Ibu bilang aku setuju.”
“Arman sudah keluar banyak uang sejak kamu kena kasus.”
“Aku tidak tanya itu.”
Akhirnya Ibu menatapku.
“Kamu pikir selama kamu di dalam kami hidup enak?”
Dadaku sesak.
Tidak karena tuduhannya sepenuhnya salah.
Melainkan karena aku tahu percakapan kami baru dimulai dan Ibu sudah menagih rasa bersalah.
Aku membalik halaman terakhir.
Di bawah tanda tanganku ada lampiran lain yang sebelumnya tidak kubaca teliti.
Surat pernyataan pembagian hak keluarga.
Di situ tertulis bahwa aku telah menerima kompensasi Rp480 juta sebagai bagian hakku atas tanah.
Tanggalnya empat tahun lalu.
Di bawah tulisan itu ada cap jempol Ibu.
Aku menatapnya.
“Rp480 juta?”
Ibu menunduk.
“Aku pernah menerima uang itu kapan?”
Dia tidak menjawab.
Aku menunjuk cap jarinya.
“Ini cap jempol Ibu?”
Lama sekali baru dia berkata, “Iya.”
Saat itulah rasa marahku berubah bentuk.
Tanda tanganku bisa dipalsukan Arman.
Tapi cap jempol Ibu tidak muncul sendiri.
Bagian 3 adalah saat aku berhenti mencari siapa yang paling jahat, dan mulai mencari tahu kenapa seluruh keluargaku merasa berhak membuat keputusan besar atas namaku.
BAGIAN 3
Aku tidak berteriak.
Mungkin justru itu yang membuat Ibu akhirnya gelisah.
Dia lebih mengenalku sebagai anak yang kalau marah akan menangis, lalu meminta maaf karena sudah membuat suasana tidak enak.
Kali ini aku menarik kursi dan duduk di depannya.
“Uangnya ke mana?”
Ibu memijat jari-jarinya.
“Uang apa?”
“Rp480 juta yang katanya sudah kuterima.”
“Itu hitung-hitungan keluarga.”
“Hitung-hitungan keluarga tidak bisa ditulis seolah uangnya masuk ke tanganku.”
“Miranti…”
“Tolong jawab.”
Ibu menoleh ke arah pintu seolah berharap Arman segera datang.
“Waktu kamu kena perkara, siapa yang bayar pengacara?”
“Sebagian dari tabunganku.”
“Tidak cukup.”
“Lalu?”
“Siapa yang bayar beberapa kewajiban ke pelanggan supaya urusanmu tidak tambah panjang?”
Aku menatapnya.
“Bukannya gudang yang bayar?”
“Gudang itu keluarga.”
“Jadi Rp480 juta itu apa?”
Ibu menarik napas.
“Pengeluaran keluarga untuk kasusmu. Ditambah biaya selama bertahun-tahun. Kami anggap itu sudah menjadi bagian yang kamu terima.”
Aku hampir tertawa.
Bukan karena lucu.
Karena aku akhirnya memahami permainan angka yang selama ini dipakai di rumah kami.
Kalau keluarga mengeluarkan uang untukku, itu dicatat sebagai utang moral.
Kalau aku mengorbankan sesuatu untuk keluarga, itu disebut kewajiban.
“Siapa yang menentukan jumlahnya?”
“Arman yang menghitung.”
“Tentu.”
Ibu tersinggung.
“Jangan begitu bicara tentang kakakmu.”
Aku menatap perempuan yang melahirkanku itu.
Tujuh tahun delapan bulan aku tidur di penjara karena tanda tanganku sendiri.
Dan belum genap dua hari aku bebas, aku sudah menemukan tanda tangan lain yang bukan buatanku.
“Ibu tahu tanda tanganku di surat penjualan itu bukan tanda tanganku?”
Wajahnya berubah sedikit.
Hanya sedikit.
Tapi aku melihatnya.
“Ibu?”
“Arman bilang itu hanya untuk melengkapi berkas awal.”
“Berarti Ibu tahu aku belum tanda tangan.”
“Dia bilang nanti setelah kamu bebas bisa dibereskan.”
Aku berdiri.
“Jadi kalian memang berencana memberitahuku setelah uangnya masuk?”
“Jangan membuatnya terdengar seburuk itu.”
“Aku bahkan tidak punya tempat tidur semalam.”
Ibu terdiam.
“Aku tidur di gua.”
Kepalanya terangkat.
Untuk pertama kalinya sejak aku datang, dia benar-benar terlihat terkejut.
“Gua Ayah?”
Aku mengangguk.
“Di situlah aku menemukan dokumennya.”
Ibu memegang sandaran kursi.
“Oh, Gusti…”
“Apa?”
“Tidak apa-apa.”
Aku mengenal ekspresi itu.
Ada sesuatu lagi.
Namun aku tidak memaksa.
Belum.
Aku mengambil dokumen dan memasukkannya kembali ke tas.
“Kalau Arman pulang, bilang aku akan bicara dengannya. Tapi bukan sebelum aku tahu semua angka yang sebenarnya.”
Ibu menatapku dengan mata merah.
“Jangan hancurkan usaha itu, Mir.”
Aku berhenti di pintu.
“Aku pernah mengorbankan diriku supaya usaha itu tidak hancur.”
Aku menoleh.
“Ternyata itu hanya mengajari kalian bahwa aku selalu bisa dikorbankan lagi.”
Dua hari berikutnya adalah dua hari tersibuk dalam hidupku sejak bebas.
Sari memberiku tempat tidur lipat di gudang belakang tokonya.
Aku menolak ketika dia menawarkan uang.
“Kalau mau bantu,” kataku, “pinjamkan aku printer dan internet.”
Dia tidak bertanya lagi.
Dari salinan dokumen, aku menemukan nama PPAT yang tercantum di rancangan transaksi.
Aku mendatangi kantornya.
Bukan untuk mencari penyelamat.
Aku hanya ingin tahu apakah berkas itu benar-benar berasal dari sana.
Seorang staf memeriksa salinannya cukup lama.
“Ini bukan akta final,” katanya.
“Apa kantor ini sudah menerima tanda tanganku?”
“Kalau Ibu menyatakan tidak pernah menandatangani, Ibu sebaiknya menyampaikan secara tertulis bahwa Ibu tidak memberikan persetujuan.”
“Jadi tanahnya belum berpindah?”
“Belum.”
Aku pulang dengan informasi itu dan menyusun surat sederhana bersama Sari.
Namaku.
Nomor identitas lama.
Keterangan bahwa aku baru bebas pada tanggal tertentu.
Pernyataan bahwa tanda tangan bertanggal 12 Juni bukan tanda tanganku.
Permintaan agar proses apa pun atas bidang tanah peninggalan Ayah tidak dilanjutkan tanpa kehadiranku.
Aku mengirimkan salinannya kepada pihak perusahaan yang namanya tercantum di dokumen.
Sore harinya seorang perempuan bernama Bu Rendra dari bagian legal perusahaan menelepon.
“Kami perlu memastikan satu hal, Bu Miranti. Apakah Ibu keberatan dengan rencana transaksi secara keseluruhan, atau hanya dengan dokumennya?”
“Aku keberatan dengan siapa pun yang menggunakan namaku tanpa izin.”
“Baik.”
“Dan aku belum mengambil keputusan soal tanahnya.”
Dia terdengar lega mendengar jawabanku yang kedua.
Kemudian aku bertanya, “Uang tanda jadi sudah dibayar?”
Hening sebentar.
“Sudah.”
“Berapa?”
“Rp300 juta.”
“Ke siapa?”
“Kepada pihak keluarga melalui rekening atas nama Pak Arman, berdasarkan perjanjian awal.”
Itu konfirmasi pertama.
Aku meminta bukti yang boleh mereka tunjukkan kepadaku sebagai pihak yang namanya tercantum dalam transaksi.
Tidak semua dokumen diberikan.
Tapi cukup.
Tanggal transfer.
Rp300 juta.
Rekening Arman.
Aku lalu meminta Arman mengirim rincian penggunaan uang tersebut.
Pesanku dibaca.
Tidak dibalas.
Satu jam kemudian grup WhatsApp keluarga yang selama bertahun-tahun nyaris mati mendadak ramai.
Paman.
Bibi.
Sepupu.
Orang-orang yang tidak pernah sekali pun datang menjengukku.
Salah satu bibi menulis:
Miranti, jangan baru keluar sudah bikin Ibu stres.
Sepupu lain:
Mas Arman selama ini yang menanggung semuanya.
Lalu pesan yang paling membuatku tersenyum pahit datang dari Pakde Joko.
Keluarga itu bukan perusahaan. Masa sama saudara sendiri harus pakai surat segala?
Aku membalas satu kalimat.
Karena tanpa surat, tanda tanganku bisa dibuat oleh orang lain.
Setelah itu grup sunyi selama hampir sepuluh menit.
Kemudian Arman menelepon.
“Kamu puas mempermalukan keluarga?”
Aku duduk di kursi plastik depan toko Sari.
“Aku belum menyebut siapa yang bikin tanda tangannya.”
“Kamu tahu orang-orang akan mikir apa.”
“Kenapa kamu takut mereka berpikir begitu?”
“Jangan main kata-kata sama aku.”
“Aku cuma ingin rincian Rp300 juta.”
“Itu bukan urusanmu.”
Aku tertawa kecil.
“Tanahnya hakku juga. Namaku dipakai. Tapi uangnya bukan urusanku?”
“Uang itu buat menyelamatkan gudang.”
“Berapa masuk ke gudang?”
Dia terdiam.
“Arman?”
“Datang ke rumah besok malam. Kita selesaikan.”
“Siapa saja?”
“Ibu, kamu, aku, Nita.”
“Bawa rekening koran atau bukti transfer uang muka.”
“Mir…”
“Kalau tidak, aku tidak datang.”
Dia memutus telepon.
Tanganku gemetar setelah percakapan itu selesai.
Sari keluar membawa dua gelas teh.
“Kamu takut?”
“Banget.”
“Kelihatannya nggak.”
“Itu karena aku sudah terlalu lama takut dan tetap melakukan apa yang mereka mau.”
Aku minum teh.
“Sekarang aku mau coba takut sambil tetap melakukan yang menurutku benar.”
Malam berikutnya, rumah Ibu terasa lebih kecil daripada yang kuingat.
Nita sudah duduk di meja makan.
Matanya bengkak.
Arman berdiri dekat dispenser sambil merokok meski Ibu berkali-kali melarangnya merokok di dalam rumah.
Aku duduk.
Tidak ada makanan.
Tidak ada basa-basi.
Bagus.
“Mana rincian uangnya?” tanyaku.
Arman mengembuskan asap.
“Kita ngomong keluarga dulu.”
“Angkanya bagian dari masalah keluarga.”
Ibu menyela.
“Jangan keras-keras.”
Aku belum meninggikan suara.
Tapi di rumah kami, menolak mengalah sudah dianggap sama dengan berteriak.
Arman meletakkan map biru di meja.
“Ini.”
Aku membukanya.
Ada beberapa bukti transfer.
Rp120 juta ke rekening pinjaman usaha.
Rp42 juta untuk menutup tunggakan pemasok.
Rp18 juta ke rumah sakit dan apotek selama beberapa bulan.
Rp25 juta ke rekening Nita.
Aku menatap adikku.
Nita segera berkata, “Itu buat biaya Ibu. Aku yang pegang karena aku yang bolak-balik rumah sakit.”
Aku mengangguk.
Masuk akal.
Masih tersisa Rp95 juta.
“Yang ini mana?”
Arman mengambil rokoknya dari bibir.
“Dipakai operasional.”
“Bukti?”
“Tidak semua ada transfer. Sebagian cash.”
“Rp95 juta cash?”
“Gudang itu bukan kantor pemerintah.”
Aku tidak menjawab.
Kutatap Nita.
Dia menghindari mataku.
“Ni?”
“Aku nggak tahu.”
Arman memukul meja pelan.
“Kenapa sekarang semua orang harus diperiksa seperti pencuri?”
Aku menatapnya.
“Karena ada orang yang tanda tangan pakai namaku.”
“Cukup soal tanda tangan!”
“Nah.”
Aku bersandar.
“Kalau soal itu kecil, bilang sekarang siapa yang bikin.”
Ibu langsung berkata, “Miranti.”
Bukan jawaban.
Peringatan.
Arman menekan rokok di asbak sampai patah.
“Aku yang suruh orang buat.”
Nita menutup mulutnya.
Ibu menunduk.
Aku sudah tahu.
Tapi mendengarnya langsung tetap membuat sesuatu di dalam dadaku retak.
“Kamu meniru tanda tanganku?”
“Aku nggak punya waktu menunggu kamu keluar.”
“Aku keluar enam minggu kemudian.”
“Bank nggak mau nunggu.”
“Perusahaan juga tidak akan pergi dalam enam minggu kalau tanah memang bersih.”
“Kamu nggak ngerti kondisi usaha.”
Aku tertawa pendek.
“Aku masuk penjara karena terlalu mengerti kondisi usaha.”
Arman berdiri.
“Jangan mulai bawa masa lalu seolah semua salahku.”
“Aku tidak bilang semua salahmu.”
“Memang bukan!”
“Aku yang tanda tangan laporan stok dulu. Aku salah. Aku tahu angkanya tidak benar.”
Arman kelihatan tidak menyangka aku mengakuinya.
Aku melanjutkan.
“Aku melakukan itu karena kamu bilang uang proyek masuk bulan depan. Karena Ibu nangis. Karena aku takut kalau usaha tutup, semua orang akan menyalahkanku karena tidak membantu.”
Aku menunjuk kertas di meja.
“Dan sekarang, setelah hampir delapan tahun, kalian melakukan hal yang sama. Bedanya kali ini kalian bahkan tidak repot-repot menunggu aku menandatangani.”
Ibu menyeka matanya.
“Kakakmu terdesak.”
“Dulu juga begitu alasannya.”
“Kalau gudang tutup, enam orang kehilangan pekerjaan,” kata Arman.
“Aku tahu.”
“Ibu butuh biaya.”
“Aku tahu.”
“Nita sudah bertahun-tahun ngurus Ibu.”
“Aku tahu.”
“Anakku juga kerja di gudang.”
“Aku tahu.”
Arman membuka kedua tangannya.
“Lalu menurutmu aku harus apa?”
Akhirnya.
Bukan pembelaan lagi.
Pertanyaan.
Aku menatap kakakku.
Rambutnya sudah banyak uban.
Wajahnya tampak lebih tua dari usianya.
Aku bisa melihat bahwa delapan tahun terakhir tidak mudah baginya.
Itulah yang membuat semuanya lebih menyakitkan.
Orang tidak harus menjadi monster untuk menghancurkan orang lain.
Kadang mereka hanya harus cukup terdesak, cukup takut, dan cukup yakin bahwa pengorbananmu lebih murah daripada pengorbanan mereka sendiri.
“Yang harus kamu lakukan,” kataku, “adalah bertanya.”
Arman menggeleng kesal.
“Kamu pasti nolak.”
“Mungkin.”
“Nah.”
“Tapi itu hakku.”
“Kalau semua orang cuma mikirin hak masing-masing, keluarga ini sudah habis dari dulu.”
Aku menatapnya.
“Dan kalau satu orang terus dipaksa mengalah supaya keluarga bertahan, keluarga itu sebenarnya sudah habis. Cuma belum ada yang berani bilang.”
Tidak ada yang bicara.
Suara rice cooker berpindah ke mode hangat terdengar dari dapur.
Aku memandang Ibu.
“Sekarang soal Rp480 juta.”
Ibu menegang.
Arman menyela, “Itu perhitungan lama.”
“Aku mau tahu cara kalian menghitung.”
Dia mengusap wajah.
“Biaya pengacara. Penyelesaian pelanggan. Uang yang dikirim ke kamu. Biaya kunjungan. Kerugian usaha.”
“Kerugian usaha dimasukkan sebagai bagian waris yang sudah kuterima?”
“Karena kasus itu berasal dari bagian administrasi yang kamu pegang.”
Aku menatapnya lama.
“Kita benar-benar mau membuka itu?”
Arman menatap balik.
“Buka saja.”
Aku mengangguk.
“Baik.”
Kukeluarkan fotokopi beberapa dokumen lama dari tas.
Sebelum bebas, aku meminta salinan berkas perkara yang masih boleh kuakses untuk keperluan administrasi.
Di dalamnya ada daftar transaksi dan catatan pemeriksaan yang dulu terlalu menyakitkan untuk kubaca.
Sekarang justru itulah yang kubutuhkan.
“Dalam pemeriksaan waktu itu,” kataku, “ada tiga belas pembayaran pelanggan yang masuk ke rekening operasional yang kamu pegang.”
Arman diam.
“Total Rp610 juta.”
“Lalu?”
“Sebagian dipakai beli stok. Sebagian dipakai bayar utang pemasok lama. Sebagian tidak pernah bisa dijelaskan.”
“Karena usahanya jalan tunai.”
“Itu jawabanmu delapan tahun lalu.”
Wajahnya memerah.
“Aku sudah bilang sebagian besar balik ke usaha!”
“Aku tidak bilang kamu mencuri semua.”
Aku melihat Ibu.
“Ini yang tidak pernah kita lakukan dulu. Kita tidak pernah duduk dan mengakui bahwa usaha sudah bermasalah sebelum tanda tanganku masuk.”
Ibu memejamkan mata.
“Nggak ada gunanya membuka itu lagi.”
“Ada.”
Aku menunjuk surat Rp480 juta.
“Karena kalian memakai masa lalu untuk membuatku dianggap sudah tidak punya hak hari ini.”
Nita yang sejak tadi diam akhirnya bicara.
“Mas, bilang soal Rp95 juta.”
Arman menoleh tajam.
“Nita.”
“Kalau nggak, Mbakyu akan cari tahu sendiri.”
Aku menatap adikku.
“Apa?”
Nita menggenggam kedua tangannya di pangkuan.
“Rp95 juta itu bukan buat gudang.”
Arman berdiri mendadak.
“Cukup!”
Ibu menutup mata.
Aku tidak bergerak.
“Buat apa?”
Nita menatap kakaknya, lalu kepadaku.
“Buat mengembalikan pinjaman ke beberapa saudara.”
“Pinjaman untuk apa?”
Arman menjawab dengan gigi terkatup.
“Biaya hidup keluarga selama usahanya kacau.”
“Siapa?”
“Semua.”
Aku mengernyit.
Nita mulai menangis.
“Setelah Mbakyu masuk, gudang hampir nggak punya arus kas. Mas Arman pinjam sana-sini. Buat sekolah anaknya. Buat Ibu. Buat gaji pegawai. Bahkan waktu anakku masuk kuliah, aku juga pinjam dari dia.”
Aku terdiam.
“Jadi keluarga besar tahu?”
“Sebagian.”
“Dan mereka semua menunggu tanah ini dijual supaya utang mereka kembali?”
Tidak ada yang menjawab.
Saat itulah semuanya masuk akal.
Pesan-pesan di grup WhatsApp.
Pakde Joko yang begitu cepat menyuruhku tidak hitung-hitungan.
Bibi yang mengatakan Arman menanggung semuanya.
Orang-orang yang bertahun-tahun tidak pernah menghubungiku, mendadak takut aku menggagalkan penjualan.
Bukan karena mereka semua benci padaku.
Lebih buruk.
Mereka punya rencana keuangan yang bergantung pada aku tetap diam.
Tanah Ayah sudah dibagi di kepala mereka jauh sebelum dibagi di atas kertas.
Bukan berdasarkan hak.
Berdasarkan kebutuhan siapa yang paling keras terdengar.
Dan karena aku berada di penjara, kebutuhanku dianggap tidak ada.
Aku tertawa pelan.
Nita memandangku takut.
“Mbakyu?”
“Aku baru ngerti.”
“Apa?”
“Selama ini kalian tidak benar-benar menganggap bagian tanahku hilang.”
Aku memandang satu per satu.
“Kalian sudah membelanjakannya.”
Tidak ada yang membantah.
Itulah twist yang paling menyakitkan.
Bukan satu orang mencuri hakku.
Satu keluarga sudah terbiasa hidup dengan keyakinan bahwa kalau keadaan terdesak, bagian Miranti bisa dipakai.
Karena Miranti dulu selalu mengalah.
Karena Miranti pernah masuk penjara.
Karena Miranti tidak punya suami.
Tidak punya anak.
Tidak punya rumah.
Tidak ada yang berdiri di sampingku sambil berkata, “Bagian dia jangan disentuh.”
Dan selama hampir delapan tahun, rupanya tidak ada yang merasa perlu.
Aku menutup map.
“Penjualan tanah itu tidak boleh dilanjutkan.”
Arman memukul meja.
“Terus uang Rp300 juta gimana?”
“Itu masalah yang harus kita selesaikan.”
“Kita?”
Aku menatapnya.
“Aku bilang kita selesaikan. Bukan aku yang tanggung.”
Dia tertawa getir.
“Enak sekali.”
“Aku baru tidur di gua dua malam. Jangan bicara kepadaku soal enak.”
Ibu menangis.
“Kalau uangnya harus dikembalikan, dari mana?”
Aku sudah memikirkan itu.
“Aku bicara dengan pihak perusahaan. Mereka mau menunda proses selama kita memberi kepastian.”
Arman langsung menatapku.
“Kamu hubungi mereka?”
“Ya.”
“Kamu nggak punya hak bicara sendiri!”
Aku tersenyum tipis.
“Lucu sekali mendengarnya dari orang yang tanda tangan atas namaku.”
Nita menunduk untuk menyembunyikan senyum kecil yang segera hilang.
Aku mengeluarkan satu lembar kertas.
“Ada dua pilihan.”
Arman mencibir.
“Sekarang kamu jadi pengacara?”
“Tidak. Justru karena aku bukan pengacara, aku tidak mau bermain dengan dokumen lagi.”
Aku menjelaskan.
Kami bisa meneruskan penjualan setelah pembagian hak dan persetujuan seluruh ahli waris dibuat dengan jelas.
Atau transaksi dibatalkan dan uang tanda jadi dikembalikan sesuai kesepakatan dengan pembeli.
Aku sendiri belum memutuskan mau menjual bagianku.
Arman menggeleng keras.
“Kalau kamu tahan bagianmu, bentuk lahannya jadi nggak menarik buat perusahaan.”
“Itu risiko karena kalian membuat kesepakatan sebelum semua orang setuju.”
“Bank akan menagih bulan depan.”
“Berapa sisa pinjaman gudang?”
Dia tidak menjawab.
“Berapa?”
“Sekitar Rp430 juta.”
Aku mengernyit.
“Kalau Rp120 juta uang muka sudah masuk ke sana, berarti sebelumnya sekitar Rp550 juta?”
“Kurang lebih.”
“Gudang punya aset apa?”
“Tanah bangunan.”
“Atas nama siapa?”
“Namaku.”
“Mobil?”
“Pickup dua.”
“Yang satu masih kredit?”
“Iya.”
Aku mengangguk.
“Berarti usaha punya aset. Kamu juga punya aset pribadi.”
Wajahnya langsung gelap.
“Kamu mau aku jual semuanya?”
“Aku mau berhenti jadi aset pertama yang kalian pikirkan setiap kali ada lubang.”
Ibu berkata, “Arman punya keluarga.”
Aku menatapnya.
“Dan aku apa?”
Ibu membuka mulut.
Tidak ada suara keluar.
Aku tidak pernah mengira pertanyaan sesederhana itu akan menjadi titik paling sunyi malam itu.
Akhirnya aku berkata, “Aku juga keluarga, Bu.”
Air mata mengalir di wajah Ibu.
“Aku tahu.”
“Tidak.”
Suaraku pecah untuk pertama kalinya.
“Kalau Ibu tahu, kemarin pagar rumah itu terbuka.”
Arman memalingkan wajah.
Ibu menangis semakin keras.
Sebagian dari diriku ingin berdiri, memeluknya, meminta maaf karena sudah membuatnya sedih.
Itulah Miranti lama.
Perempuan yang selalu menghapus luka orang lain sebelum sempat melihat lukanya sendiri.
Aku tetap duduk.
Pertemuan malam itu berakhir tanpa pelukan.
Tanpa permintaan maaf besar.
Tanpa siapa pun tiba-tiba berubah menjadi orang baik.
Tapi ada tiga keputusan.
Pertama, aku tidak memberi persetujuan penjualan sampai seluruh riwayat transaksi dijelaskan dan hak waris dibereskan secara resmi.
Kedua, Arman harus memberitahu perusahaan bahwa tanda tanganku sebelumnya tidak sah dan segala proses harus diulang.
Ketiga, tidak ada lagi satu rupiah pun kebutuhan keluarga yang otomatis dibebankan pada “bagian Miranti”.
Arman menandatangani catatan pertemuan itu dengan marah.
“Puas?”
Aku melihat tanda tangannya.
“Belum. Tapi sekarang setidaknya orang menandatangani pakai nama sendiri.”
Dia mendorong pulpen hingga jatuh.
Aku pulang ke toko Sari malam itu dengan tangan gemetar.
Di tempat tidur lipat, untuk pertama kalinya aku menangis sampai tertidur.
Bukan karena tanah.
Bukan karena Rp2,4 miliar.
Aku menangisi sesuatu yang lebih kecil dan lebih besar sekaligus.
Aku akhirnya menerima bahwa rumah yang selama bertahun-tahun kubayangkan sebagai tempat pulang sebenarnya sudah lama berubah.
Dan aku tidak bisa memaksa kenangan untuk membuka pintu.
Dua minggu kemudian, pihak perusahaan menangguhkan rencana pembelian.
Mereka memberi waktu kepada keluarga kami untuk membereskan status tanah.
Arman marah hampir setiap hari.
Beberapa saudara di grup WhatsApp juga mulai menyindir.
Ada yang menulis bahwa orang yang baru bebas seharusnya “banyak introspeksi”.
Aku membalas sekali.
Benar. Karena itu sekarang aku belajar tidak mengulangi kesalahan yang sama, termasuk menandatangani sesuatu hanya karena ditekan keluarga.
Setelah itu aku membisukan grup.
Aku mulai bekerja di tempat Sari, membantu menerima pesanan, mengetik surat, dan menjaga toko saat dia mengantar anaknya sekolah.
Gajinya tidak besar.
Rp2,3 juta sebulan.
Tapi setiap rupiah yang kuterima terasa berbeda karena tidak ada rasa takut orang akan menanyakannya.
Pada minggu ketiga, Arman datang.
Dia berdiri di depan toko dengan wajah lelah.
“Bisa ngobrol?”
Aku mengangguk.
Kami duduk di warung kopi sebelah.
Dia memesan kopi hitam.
Aku teh tawar.
“Aku jual mobil Avanza,” katanya.
Aku tidak menyangka.
“Kenapa?”
“Buat mulai balikin uang tanda jadi.”
Aku diam.
“Pickup gudang yang tua juga mau dijual.”
Aku mengangguk.
“Bank?”
“Minta restrukturisasi.”
“Bisa?”
“Belum tahu.”
Dia menatap jalan.
Lalu berkata, “Kamu pasti senang.”
Aku mengerutkan kening.
“Kenapa aku senang melihat usahanya susah?”
“Karena akhirnya aku kena akibatnya.”
Aku menatap kakakku.
“Man, aku tidak ingin kamu hancur.”
Dia tertawa pahit.
“Tapi kamu juga nggak mau nolong.”
“Aku sudah nolong terlalu lama dengan cara yang salah.”
Dia tidak menjawab.
Beberapa kendaraan lewat sebelum dia berkata, “Dulu aku pikir kamu tahu kondisi gudang.”
“Aku tahu sebagian.”
“Aku benar-benar pikir proyek besar itu akan bayar semua.”
“Aku juga.”
“Aku nggak pernah rencana bikin kamu masuk penjara.”
Kalimat itu hampir terdengar seperti permintaan maaf.
Hampir.
“Tapi waktu semuanya pecah,” kataku, “kamu membiarkanku berdiri paling depan.”
Dia menatap kopi.
“Ibu bilang kalau aku ikut terseret, semua orang habis.”
“Aku tahu.”
“Aku pengecut.”
Aku tidak segera menjawab.
Mungkin itulah pengakuan paling jujur yang pernah kudengar darinya.
“Aku juga pengecut,” kataku akhirnya.
Dia mengangkat kepala.
“Aku menandatangani laporan yang kutahu salah karena takut mengecewakan kalian.”
“Beda.”
“Tidak sejauh yang kita suka bayangkan.”
Dia menggosok wajah.
“Aku masih marah sama kamu.”
“Aku juga.”
“Jadi kita gimana?”
Aku mengangkat bahu.
“Untuk sekarang? Jangan tanda tangan pakai namaku lagi.”
Untuk pertama kalinya, Arman tertawa kecil.
Bukan tawa bahagia.
Tapi cukup manusiawi.
“Baik.”
Proses pembagian hak tanah membutuhkan waktu berbulan-bulan.
Tidak ada jalan pintas.
Kami mengumpulkan dokumen.
Mencocokkan identitas.
Menyelesaikan beberapa kekurangan administrasi.
Datang bersama ke kantor terkait.
Bertemu PPAT.
Membahas dengan pihak perusahaan dari awal.
Pada akhirnya kami tidak menjual seluruh bidang.
Setelah pengukuran ulang dan pembicaraan panjang, perusahaan tetap tertarik membeli bagian depan yang paling dekat dengan jalan, sekitar sepertiga dari total tanah.
Nilainya tentu jauh lebih rendah dibanding rencana awal.
Tapi cukup untuk mengembalikan sisa uang tanda jadi yang bermasalah, melunasi sebagian pinjaman usaha, menyisihkan biaya Ibu, dan membagikan bagian sesuai kesepakatan yang ditulis jelas.
Aku menerima jauh lebih sedikit daripada angka Rp480 juta yang dulu diklaim sudah kuterima.
Anehnya, aku justru lega.
Uang yang benar-benar masuk ke rekeningku, meski tidak fantastis, terasa jauh lebih besar daripada ratusan juta yang hanya pernah ada di atas kertas.
Dari bagianku, aku menyewa rumah kecil dua kamar di daerah Cerme selama dua tahun di muka.
Tidak besar.
Cat ruang tamunya bahkan sedikit mengelupas.
Tapi pada hari pertama aku menerima kunci, aku berdiri di carport kecil hampir satu menit.
Tidak ada orang di balik pagar yang berkata aku tidak boleh masuk.
Aku membeli kasur.
Rice cooker.
Dua piring.
Dua gelas.
Dan sebuah lemari besi kecil bekas dari toko barang kantor.
Sari menertawakanku.
“Isinya apa? Emas?”
“Dokumen.”
“Seram amat.”
Aku tersenyum.
“Sudah pernah sekali hidupku rusak gara-gara tanda tangan. Sekarang kertas-kertas penting akan kuperlakukan lebih baik daripada baju Lebaran.”
Hubunganku dengan Ibu berubah paling lambat.
Dulu aku menelepon hampir setiap hari dari penjara.
Setelah bebas, justru kadang seminggu kami tidak bicara.
Aku masih membantunya.
Tapi bukan dengan memberikan uang tunai kepada Arman.
Kalau ada obat yang tidak ditanggung, aku bayar langsung.
Kalau Nita perlu ongkos membawa Ibu kontrol, kami bagi dengan jelas.
Awalnya Ibu tersinggung.
“Kenapa sekarang semuanya dicatat?”
Aku menjawab, “Supaya nanti tidak ada yang merasa paling banyak berkorban karena semua orang tahu bagiannya.”
Dia diam.
Sebulan kemudian dia mulai mengirim foto struk apotek tanpa kuminta.
Itu mungkin terdengar kecil.
Bagiku, itu perubahan besar.
Nita menjadi orang pertama di keluarga yang benar-benar meminta maaf.
Dia datang membawa pisang goreng ke rumah kontrakanku.
“Aku salah karena tanda tangan surat itu.”
“Aku tahu.”
“Aku kira Mbakyu sudah setuju.”
“Kamu juga tidak bertanya.”
“Iya.”
Dia menatap lantai.
“Waktu Mbakyu di dalam, aku pikir lebih gampang nggak tahu terlalu banyak.”
Aku tersenyum pahit.
“Keluarga kita memang ahli begitu.”
Dia tertawa sambil menangis.
Setelah itu kami mulai bicara lebih sering.
Bukan setiap hari.
Tapi lebih jujur.
Dengan Arman, batasnya lebih jelas.
Kami tidak pernah kembali sedekat masa kecil.
Mungkin tidak akan.
Dia berhasil mempertahankan gudang dalam ukuran lebih kecil setelah menjual beberapa aset dan mengurangi stok.
Dua pegawai memilih keluar.
Empat lainnya tetap bekerja.
Dia tidak lagi menjadi orang yang otomatis menentukan semua keputusan keluarga.
Dan setiap kali ada urusan tanah, surat, atau uang, Nita selalu menulis di grup kecil kami:
Semua sudah baca?
Dulu kalimat itu mungkin terasa berlebihan.
Sekarang justru membuatku tenang.
Enam bulan setelah keluar dari penjara, aku kembali ke gua kapur untuk pertama kalinya.
Bukan untuk tidur.
Aku membawa dua botol air dan sebungkus nasi.
Sari ikut sampai kaki bukit lalu menyerah karena sandal jepitnya tidak cocok untuk naik.
“Kalau ketemu harta karun, bagi dua!” teriaknya dari bawah.
Aku tertawa.
Garis cat merah di dinding mulai pudar.
Sebagian patok sudah dicabut karena batas lahan berubah.
Gua itu tetap sama.
Dingin.
Berdebu.
Sedikit lembap.
Aku duduk di tempat yang sama di mana malam pertama dulu aku memeluk tas plastik karena tidak punya tempat lain.
Ternyata tidak ada peti peninggalan Ayah.
Tidak ada emas.
Tidak ada surat rahasia yang tiba-tiba membuat hidupku mudah.
Yang kutemukan di tempat itu hanyalah sebuah dokumen yang seharusnya tidak pernah dibuat.
Tapi mungkin justru itu harta karun yang kubutuhkan.
Bukan karena dokumen itu memberiku tanah.
Melainkan karena untuk pertama kalinya, aku melihat dengan jelas apa yang selama bertahun-tahun kulakukan pada diriku sendiri.
Aku selalu menunggu keluarga menghargai batas yang bahkan tidak pernah kubuat.
Aku selalu berharap mereka tahu kapan pengorbananku sudah terlalu jauh.
Padahal orang yang terbiasa menerima “iya” akan sering menganggap “iya” berikutnya sudah pasti.
Aku makan nasi perlahan.
Kemudian kubuka ponsel.
Ada pesan dari Ibu.
Besok jadi antar Ibu kontrol?
Aku mengetik:
Jadi. Jam delapan aku jemput. Tapi siangnya aku harus kerja.
Dulu aku mungkin akan membatalkan semuanya demi Ibu.
Sekarang aku membantu tanpa menghapus kehidupanku sendiri.
Balasannya datang beberapa menit kemudian.
Iya. Tidak apa-apa.
Hanya itu.
Tidak ada rasa bersalah.
Tidak ada kata-kata tentang anak berbakti.
Aku memasukkan ponsel ke tas dan berdiri.
Sebelum turun, aku menoleh sekali lagi ke dalam gua.
Dulu aku masuk ke sana karena tidak punya rumah.
Hari itu aku meninggalkannya karena sudah punya tempat untuk pulang.
Malamnya, setelah mandi dan makan, aku membuka lemari besi kecil di kamar.
Di dalamnya ada salinan dokumen pembagian tanah, buku tabungan baru, surat bebas dari lapas, dan beberapa lembar bukti pembayaran kebutuhan Ibu.
Kumasukkan satu dokumen lagi.
Salinan surat dengan tanda tangan palsuku.
Bukan karena ingin terus mengingat pengkhianatan.
Aku menyimpannya untuk mengingat satu hal sederhana:
Tanda tanganku adalah namaku.
Namaku adalah hidupku.
Dan setelah terlalu lama membiarkan orang lain menentukan keduanya, akhirnya aku belajar mengatakan,
“Tidak. Kali ini aku sendiri yang memutuskan.”
Aku menutup lemari.
Memutar kuncinya.
Lalu mematikan lampu ruang tamu rumah kecilku sendiri.
Terima kasih sudah mengikuti kisah Miranti sampai akhir. Semoga kamu dan keluargamu selalu diberi kesehatan, ketenangan, dan keberanian untuk saling membantu tanpa menghilangkan batas serta harga diri satu sama lain. Kalau kamu berada di posisi Miranti, apakah kamu akan tetap mempertahankan hakmu meski hampir seluruh keluarga menuduhmu egois? Ceritakan pendapatmu di kolom komentar. Jika kisah ini terasa dekat dengan kehidupan nyata, kamu boleh membagikannya agar orang lain juga bisa ikut membaca dan berdiskusi.
