BAGIAN 2
Aku tidak berteriak.
Justru itu yang membuat Yuni terlihat semakin gelisah.
Aku mengambil tas dan menggenggam tangan Nanda.
“Kita pulang.”
Ibu keluar dari ruang makan.
“Dewi, jangan begitu.”
Aku berhenti di dekat pintu.
“Begitu bagaimana, Bu?”
“Ini ulang tahun Ibu.”
Aku hampir tertawa, tapi tidak ada yang lucu.
“Dan rumah ini tetap rumahku meskipun hari ini ulang tahun Ibu.”
Yuni mendesis, “Jangan bicara soal kepemilikan di depan tamu.”
“Kenapa? Karena memalukan?”
Ia tidak menjawab.
Aku membawa Nanda pulang.
Di mobil, hampir sepuluh menit kami tidak bicara.
Baru setelah masuk jalan utama, aku bertanya, “Bagas ngomong apa lagi?”
Nanda memandangi amplop Rp50 ribu di pangkuannya.
“Dia tidak bermaksud jahat, Bu.”
“Aku tidak sedang marah sama Bagas.”
Nanda mengangguk.

“Dia bilang ayahnya dapat uang besar dari rumah Nenek. Katanya nanti bagian depan jadi tempat paket. Aku bilang rumah itu punya Ibu.”
“Terus?”
“Dia bilang jangan sok tahu.”
Nanda menggigit bibir.
“Terus dia bilang kalau aku kasih tahu Ibu, Tante Yuni akan suruh Nenek keluar karena Ibu pasti marah.”
Aku mengerti sekarang kenapa ia menahanku agar tidak pulang.
Ia ingin aku melihat sendiri.
Bukan karena ia takut kepadaku.
Ia takut menjadi anak yang menyebabkan neneknya kehilangan tempat tinggal.
Aku menepikan mobil.
“Nanda.”
Ia menatapku.
“Dengar. Kamu tidak bertanggung jawab atas keputusan orang dewasa.”
“Tapi Nenek…”
“Nenek juga orang dewasa.”
Untuk pertama kalinya hari itu, matanya berkaca-kaca.
“Aku cuma tidak mau keluarga berantem gara-gara aku.”
Aku memegang tangannya.
“Keluarga tidak berantem gara-gara orang yang mengatakan kebenaran. Kalau ada masalah, masalahnya sudah ada sebelum kamu bicara.”
Malam itu aku membuka percakapan WhatsApp dengan Yuni sampai hampir tiga tahun ke belakang.
Aku mencari kata “sertifikat”.
Ada empat hasil.
Dua tahun sebelumnya, Yuni pernah meminta foto halaman depan SHM.
Katanya untuk mencocokkan data PBB karena ada kesalahan nomor blok.
Aku mengirim foto.
Setahun kemudian ia meminta foto KTP-ku.
Katanya pihak kelurahan membutuhkan data pemilik rumah untuk pembaruan administrasi.
Aku juga mengirim.
Saat itu semuanya terasa biasa.
Sekarang tidak.
Keesokan paginya aku menelepon nomor perusahaan logistik yang tertulis di draf.
Aku tidak menuduh siapa pun.
Aku hanya memperkenalkan diri sebagai pemilik sah alamat tersebut dan meminta bicara dengan bagian yang menangani sewa.
Dua kali telepon dipindahkan.
Akhirnya seorang perempuan bernama Lia menjawab.
Setelah aku menjelaskan, ia diam cukup lama.
“Bu Dewi, terus terang kami menerima informasi bahwa bangunan ini dikelola keluarga dan pemilik setuju.”
“Apakah ada tanda tanganku?”
“Untuk perjanjian final belum. Itu sebabnya kemarin tim survei datang lagi. Sebelum penandatanganan kami memang masih perlu verifikasi.”
Aku sedikit lega.
Belum ada kontrak final.
Lalu Lia melanjutkan.
“Tapi uang tanda jadi dan pembayaran awal sudah ditransfer.”
“Berapa?”
“Rp180 juta.”
Aku memejamkan mata.
“Ke rekening siapa?”
“Ada surat pernyataan pengelolaan dari penghuni rumah. Rekening penerima atas nama Sulastri.”
Nama Ibu.
Bukan Yuni.
Aku meminta bukti transfer dikirimkan kepadaku.
Setengah jam kemudian, sebuah PDF masuk melalui WhatsApp.
Rp180 juta.
Masuk dua belas hari sebelumnya.
Ke rekening Ibu.
Sore itu Yuni menelepon.
“Kamu hubungi perusahaan itu?”
“Iya.”
“Kenapa kamu harus mempermalukan kami?”
Aku memandang layar ponsel.
“Aku baru tahu rumahku disewakan lima tahun tanpa izinku, tapi kamu masih menemukan cara supaya aku yang mempermalukan kalian?”
“Kamu selalu begitu. Kalau sudah bicara soal uang, nada kamu berubah.”
“Uangnya masuk ke rekening Ibu.”
Yuni diam.
Aku menunggu.
Akhirnya ia berkata, “Ya sudah. Berarti bukan aku yang ambil.”
Itu jawaban yang membuatku hampir percaya bahwa selama ini aku mencurigai orang yang salah.
Malamnya aku pergi ke rumah Ibu seorang diri.
Ibu sedang melipat kain lap di ruang tengah.
Aku meletakkan bukti transfer di meja.
“Kenapa, Bu?”
Beliau tidak menyangkal.
“Uangnya belum habis.”
“Berapa yang tersisa?”
Ibu menghindari mataku.
“Ibu cuma mau membantu.”
“Siapa?”
Beliau menarik ujung kerudungnya, kebiasaan yang selalu muncul saat gugup.
“Kakakmu sedang susah.”
“Jadi Ibu sewakan rumahku?”
“Jangan bilang begitu. Rumah ini juga tempat tinggal Ibu.”
“Aku tidak pernah bilang Ibu tidak boleh tinggal di sini.”
“Yuni punya anak dua. Pegawainya banyak. Kalau usahanya tutup, berapa keluarga yang kena?”
Aku menahan napas.
“Berapa uangnya yang masih ada?”
Ibu menatapku akhirnya.
“Dua puluh juta.”
Aku tidak langsung memahami.
“Dari Rp180 juta?”
Beliau mengangguk.
“Rp160 juta ke mana?”
Ibu menunduk.
Saat itulah ponselku berbunyi.
Lia dari perusahaan logistik mengirimkan dokumen tambahan yang tadi kuminta.
Bukan kontrak.
Sebuah surat instruksi pembayaran yang ditandatangani Ibu.
Di bawah tanda tangan Ibu terdapat satu nama sebagai pihak yang mengurus negosiasi.
Arif Prasetyo.
Suami Yuni.
Aku mengangkat wajah.
“Ibu tidak mengatur semua ini sendiri, kan?”
Ibu tidak menjawab.
Dari arah dapur terdengar suara pintu dibuka.
Arif berdiri di sana.
Ternyata sejak tadi ia berada di rumah.
Dan dari cara wajahnya berubah ketika melihat dokumen di tanganku, aku tahu Rp160 juta itu belum menjadi bagian terburuk dari cerita ini.
Saat itu aku akhirnya tahu siapa yang harus kutanya. Kalau kamu jadi aku, apakah kamu masih memberi kesempatan mereka menjelaskan, atau langsung menghentikan semuanya?
BAGIAN 3
Arif tidak maju.
Ia hanya berdiri di ambang dapur dengan kaus abu-abu dan celana pendek, seolah-olah baru saja ketahuan melakukan sesuatu yang sebenarnya sudah ia tahu salah.
Aku memandang Ibu.
“Kenapa Om Arif ada di sini?”
Ibu menjawab pelan, “Dia tadi antar obat.”
Arif menghela napas.
“Dewi, kita bicara baik-baik.”
Aku mengangkat kertas di tanganku.
“Aku juga sedang bicara baik-baik.”
“Jangan langsung ambil kesimpulan.”
“Bagus. Berarti kamu bisa menjelaskan.”
Ia menarik kursi.
Aku tidak duduk.
Ibu masih memainkan ujung kerudungnya.
Aku menunjuk surat pembayaran.
“Rp160 juta dari uang ini ke mana?”
Arif menatap Ibu terlebih dahulu.
Gerakan kecil itu cukup.
“Jangan lihat Ibu,” kataku. “Lihat aku.”
Ia menggeser rahangnya.
“Dipakai usaha.”
“Usaha siapa?”
“Katering.”
“Katering Yuni.”
“Iya.”
“Dengan izin siapa?”
Arif mulai kehilangan kesabaran.
“Dewi, jangan bikin seolah-olah kami mencuri uang di jalan. Ini rumah keluarga.”
Aku tertawa pendek.
“SHM-nya atas namaku.”
“Karena waktu itu memang paling mudah pakai nama kamu.”
Aku menatapnya.
“Itu KPR-ku tujuh tahun.”
“Aku tahu.”
“Aku bayar dari hasil jahitanku.”
“Aku tahu.”
“Lalu bagian mana yang membuat rumah ini jadi milik usahamu?”
Ia tidak menjawab.
Ibu berdiri.
“Sudahlah. Jangan saling keras.”
Aku menoleh.
“Bu, aku belum pernah sekeras ini selama sembilan tahun. Mungkin itu masalahnya.”
Wajah Ibu berubah.
Aku langsung menyesal dengan nada suaraku, tapi bukan dengan kalimatnya.
Aku mengambil kursi dan duduk.
“Oke. Jelaskan dari awal.”
Arif tetap berdiri.
“Usaha kami lagi seret.”
“Sejak kapan?”
“Delapan bulan.”
Aku teringat sesuatu.
Delapan bulan terakhir, Yuni dua kali mengatakan kebutuhan Ibu naik.
Sekali karena obat.
Sekali karena atap bocor.
Aku mengirim tambahan total hampir Rp11 juta.
“Seret bagaimana?”
“Kontrak makan siang dari salah satu pabrik berhenti. Mereka ganti vendor.”
“Terus?”
“Cash flow kacau.”
“Utangnya berapa?”
Arif mengusap belakang leher.
“Tidak perlu masuk sedetail itu.”
Aku hampir berdiri lagi.
“Rumahku sedang kamu sewakan lima tahun untuk membayar masalahmu, tapi utangmu bukan urusanku?”
Ibu berkata lirih, “Sekitar tiga ratus.”
Aku menoleh.
“Rp300 juta?”
Arif memejamkan mata sebentar.
“Rp327 juta.”
Angka yang terlalu tepat untuk disebut perkiraan.
“Ke siapa?”
“Ada beberapa.”
“Koperasi?”
“Sebagian.”
“Supplier?”
Ia mengangguk.
“Cicilan kendaraan?”
Lagi-lagi ia mengangguk.
Saat itulah aku mulai memahami kenapa selama setahun terakhir mobil Yuni beberapa kali tidak ada, lalu muncul lagi. Kenapa pegawai katering yang biasanya ramai di belakang rumah berkurang. Kenapa Yuni sering berkata sedang “merapikan usaha”.
Aku kira ia sedang menata dapur.
Ternyata ia sedang menahan bangunan agar tidak runtuh.
Masalahnya, ia mencoba menyangga bangunan itu dengan rumahku.
“Siapa yang punya ide menyewakan lantai bawah?”
Arif menjawab, “Aku.”
Ibu menyela, “Tapi Ibu setuju.”
Aku menatap beliau.
“Kenapa?”
Mata Ibu mulai merah.
“Karena kakakmu datang malam-malam.”
Arif bergerak sedikit.
“Bu…”
Ibu mengangkat tangan.
“Biar Ibu ngomong.”
Aku diam.
Beliau duduk lagi.
“Dua bulan lalu Yuni ke sini. Nangis. Katanya ada supplier yang mau berhenti kirim bahan kalau utang lama tidak dibayar. Mobil operasional juga menunggak. Kalau dapur tutup, pegawainya pulang semua.”
“Terus?”
“Ibu bilang jual mobil.”
Arif mendengus kecil.
Ibu menatapnya.
“Memang Ibu bilang begitu.”
Aku nyaris tidak percaya bahwa mereka bahkan pernah mempertimbangkan pilihan yang masuk akal.
“Kenapa tidak dijual?”
Arif akhirnya duduk.
“Kalau kendaraan dijual, pengantaran gimana?”
Aku menatapnya.
“Kalau rumahku disewakan lima tahun, Ibu tinggal bagaimana?”
“Kami tidak sewakan semuanya.”
“Drafnya lantai bawah dan depan.”
“Kamar Ibu di atas.”
Aku merasa ada sesuatu yang dingin bergerak di dada.
“Kalian serius mau membuat perempuan tujuh puluh satu tahun naik turun tangga setiap hari supaya lantai bawah bisa jadi gudang ekspedisi?”
“Bisa dibuat akses samping.”
Aku menatap Arif cukup lama sampai ia berhenti bicara.
Ibu menyela.
“Ibu yang bilang tidak apa-apa.”
“Karena Ibu tahu semua konsekuensinya?”
Beliau diam.
“Perusahaan itu mau sewa lima tahun.”
“Ibu tahu.”
“Mereka mau pakai carport untuk kendaraan keluar masuk.”
“Ibu tahu.”
“Dapur belakang kemungkinan dibongkar sebagian.”
Beliau tidak menjawab.
Aku menoleh kepada Arif.
“Ibu tahu?”
Arif menghela napas.
“Kami belum bahas detail teknis.”
Aku menatap Ibu lagi.
“Jadi tidak.”
Ibu menunduk.
Itulah pola yang selama ini tidak kusadari.
Tidak ada satu kebohongan besar.
Yang ada adalah potongan-potongan kebenaran yang diberikan secukupnya agar seseorang mau mengatakan iya.
Kepada Ibu, mereka bilang usaha Yuni hampir tutup.
Mereka tidak menjelaskan lima tahun.
Kepada perusahaan logistik, mereka bilang rumah dikelola keluarga dan pemilik sudah setuju secara prinsip.
Mereka tidak mengatakan aku bahkan belum tahu.
Kepadaku, mereka tidak mengatakan apa pun.
Lalu semua orang berharap rasa sungkanku akan mengisi celah yang tersisa.
Aku kembali ke pertanyaan utama.
“Rp160 juta.”
Arif menatap meja.
“Rp120 juta dibayar ke koperasi.”
“Empat puluh?”
“Supplier.”
“Berarti sudah habis.”
“Ada Rp20 juta di rekening Ibu.”
“Itu bagian dari Rp180 juta yang belum kalian sentuh.”
“Untuk perbaikan rumah.”
Aku menatapnya.
“Perbaikan apa?”
Ia tidak menjawab.
Ibu berkata, “Rencananya kamar mandi atas.”
Aku menarik napas panjang.
“Besok aku akan memberi tahu perusahaan itu bahwa aku tidak menyetujui penyewaan.”
Arif langsung berdiri.
“Jangan.”
Satu kata.
Nada suaranya berubah total.
“Kenapa?”
“Uangnya harus dikembalikan.”
“Iya.”
“Kamu pikir gampang cari Rp160 juta dalam beberapa hari?”
“Aku tidak tahu.”
“Kamu tahu usaha kami lagi susah.”
“Aku tahu sejak lima menit lalu.”
“Dewi.”
“Apa?”
Ia menekan telapak tangan ke meja.
“Kita keluarga.”
Aku memandang tangannya.
Ada tepung kering di sela kuku. Mungkin benar ia baru dari dapur usaha. Mungkin benar ia bekerja keras.
Tapi kerja keras seseorang tidak memberinya hak mengambil keputusan atas milik orang lain.
“Kita keluarga,” kataku. “Justru karena itu kalian seharusnya bicara.”
“Kalau kami bicara, kamu pasti bilang tidak.”
Aku terdiam.
Bukan karena ia salah.
Karena akhirnya seseorang mengatakan kebenaran paling sederhana malam itu.
“Betul,” jawabku.
Arif berkedip.
“Aku pasti bilang tidak.”
Ia mengangkat kedua tangan.
“Nah.”
“Dan karena kalian tahu aku akan bilang tidak, kalian sengaja tidak bertanya.”
Tidak ada yang menjawab.
Aku mengambil tas.
Ibu berdiri.
“Mau pulang?”
“Iya.”
“Dewi…”
Aku menoleh.
Beliau terlihat kecil di ruang tamu yang selama bertahun-tahun kubayangkan sebagai tempat paling aman yang bisa kuberikan kepadanya.
“Besok aku kembali, Bu.”
“Untuk apa?”
“Kita lihat rekening Ibu.”
Wajahnya menegang.
“Kenapa harus?”
“Karena aku ingin tahu berapa lama ini sudah berlangsung.”
Ibu menatapku lama.
“Tidak ada apa-apa lagi.”
Aku ingin mempercayainya.
Dulu aku pasti langsung percaya.
Malam itu aku hanya berkata,
“Semoga.”
Pagi berikutnya, pukul sembilan kurang sedikit, aku sudah berada di depan rumah Ibu.
Yuni ada di sana.
Ia duduk di meja makan dengan wajah bengkak seperti tidak tidur semalaman.
Arif berdiri dekat jendela.
Tidak ada tumpeng.
Tidak ada saudara.
Tidak ada tawa.
Hanya empat orang dewasa dan masalah yang akhirnya tidak bisa lagi disembunyikan di balik kalimat “demi keluarga”.
Nanda kutinggal di rumah bersama tetanggaku, Bu Reni.
Aku tidak ingin anakku menjadi penonton.
Namun sebelum aku berangkat, ia sempat bertanya,
“Ibu mau marah?”
Aku menjawab, “Mungkin.”
“Jangan gara-gara aku.”
Aku menatapnya.
“Nanda, Ibu ke sana justru supaya mulai hari ini kamu tidak perlu menjaga rahasia orang dewasa lagi.”
Ia mengangguk pelan.
Di rumah Ibu, Yuni langsung bicara.
“Kalau kamu mau bahas uang sewa, aku sudah tahu.”
“Bagus.”
“Arif cerita.”
Aku duduk.
“Aku juga mau lihat mutasi rekening Ibu satu tahun.”
Yuni tertawa tanpa humor.
“Sekarang kamu mau periksa rekening Ibu?”
“Iya.”
“Memangnya kamu siapa?”
Aku hampir menjawab keras.
Ibu mendahului.
“Dia anak Ibu.”
Yuni terdiam.
Aku menatap Ibu.
Beliau mengambil ponsel dari meja.
“Ayo ke bank.”
Yuni berdiri.
“Bu.”
Ibu tidak menoleh.
“Kamu bilang kemarin semuanya harus terang.”
“Aku bilang soal sewa rumah.”
Ibu memasukkan ponsel ke tas.
“Kalau sudah terang, ya sekalian.”
Kami pergi bertiga.
Arif tidak ikut.
Di bank, aku tidak bisa meminta data rekening Ibu tanpa persetujuan beliau, dan memang tidak perlu.
Ibu sendiri yang meminta petugas mencetak mutasi rekening untuk periode yang kami butuhkan.
Kami duduk di kursi tunggu hampir setengah jam.
Yuni tidak berhenti menggoyangkan kakinya.
Aku mengenal kebiasaan itu sejak kecil.
Kalau ia gugup, tumitnya selalu bergerak.
Saat lembar-lembar transaksi akhirnya berada di tangan Ibu, beliau langsung memberikannya kepadaku.
Aku tidak membaca semuanya di sana.
Kami pulang.
Di meja makan, aku menandai setiap transfer dariku.
Rp4 juta.
Rp4 juta.
Rp4 juta.
Kadang Rp5,5 juta.
Sekali Rp8 juta ketika Ibu bilang harus mengganti pompa air dan membayar pemeriksaan mata.
Lalu aku menemukan pola lain.
Setiap kali uang dariku masuk, dua atau tiga hari kemudian ada transfer ke rekening Yuni.
Rp1 juta.
Rp1,5 juta.
Rp2 juta.
Tidak selalu.
Tapi cukup sering.
Aku menghitung dengan kalkulator ponsel.
Dalam dua belas bulan, totalnya Rp22,5 juta.
Aku meletakkan pena.
“Apa ini?”
Yuni langsung berkata, “Jangan lebay. Itu kecil-kecil.”
Aku menatapnya.
“Rp22,5 juta bukan kecil.”
“Dibanding uang sewa, iya.”
“Bukan itu pertanyaanku.”
Ibu menarik napas.
“Kadang Yuni butuh bayar bahan.”
“Dari uang yang kukirim untuk Ibu?”
“Kadang saja.”
“Bu.”
“Ibu tidak habiskan semuanya.”
Aku menekan bibir.
Inilah bagian yang terasa lebih menyakitkan daripada Rp180 juta.
Bukan karena jumlahnya lebih besar.
Justru karena transaksi kecil itu sudah berlangsung lama.
Berulang.
Diam-diam.
Saat aku mengambil pekerjaan tambahan sampai tengah malam karena merasa uang Ibu kurang, sebagian uang itu keluar lagi untuk menambal kehidupan Yuni.
“Kenapa Ibu tidak pernah bilang?”
Ibu mulai defensif.
“Kalau Ibu bilang, kamu pasti hitung-hitungan.”
Aku bersandar.
Kalimat itu.
Selama bertahun-tahun keluargaku menggunakannya seperti palu kecil.
Masa sama keluarga hitung-hitungan.
Masa sama kakak sendiri.
Masa sama ibu sendiri.
Sampai akhirnya aku baru sadar, anehnya hanya orang yang memberi yang selalu dilarang menghitung.
Orang yang menerima justru hafal berapa banyak yang masih bisa diambil.
Yuni menyilangkan tangan.
“Sekarang kamu mau menagih semua?”
“Aku sedang memahami.”
“Memahami apa?”
“Kenapa setiap kali Ibu bilang uangnya kurang, aku selalu menambah.”
Wajah Yuni mengeras.
“Kamu pikir aku hidup enak?”
“Aku tidak bilang begitu.”
“Dari dulu kamu begitu. Karena kerja sendiri, kamu merasa paling mandiri.”
Aku menatap kakakku.
“Aku tidak pernah merasa paling apa-apa.”
“Waktu kamu beli rumah ini, semua orang memuji. Waktu aku minta modal ke Ayah dulu, katanya tidak ada uang. Kamu selalu dapat bagian yang kelihatan bagus.”
Aku tidak langsung menjawab.
Itu bukan pembelaan.
Itu luka lama.
Dan akhirnya aku mengerti sebagian kemarahannya.
Ayah memang sering tidak percaya kepada pilihan Yuni.
Ketika Yuni ingin membuka usaha pertama kali, Ayah bilang ia terlalu terburu-buru.
Ketika aku memilih kursus menjahit, Ayah memberiku mesin jahit bekas.
Bagi Yuni, mungkin mesin jahit itu bukan sekadar mesin.
Itu bukti bahwa Ayah pernah percaya kepadaku lebih dulu.
“Jadi ini tentang Ayah?” tanyaku.
“Jangan dibalik.”
“Aku tidak membalik.”
Yuni tertawa pahit.
“Kamu tahu apa yang paling lucu? Rumah ini kamu beli karena punya uang dari hasil jual apartemen kecil setelah cerai. Semua orang bilang kamu hebat. Aku membangun katering dari nol, memberi kerja belasan orang, tapi kalau aku sekali kesulitan, semua orang lihat aku seperti gagal.”
“Yun.”
“Aku cuma butuh waktu.”
“Waktu dengan memakai rumahku?”
“Aku akan kembalikan.”
“Kapan?”
Ia terdiam.
“Kalau perusahaan itu bayar sewa, usaha jalan lagi. Kami bisa napas. Nanti pelan-pelan…”
“Lima tahun, Yun.”
“Apa?”
“Kamu menjual lima tahun penggunaan rumah ini untuk membeli beberapa bulan napas.”
Ia berdiri.
“Kamu gampang bicara karena bukan usahamu yang hampir mati.”
Aku ikut berdiri.
“Benar.”
Ia terkejut.
“Benar,” ulangku. “Aku tidak tahu rasanya punya belasan pegawai menunggu gaji. Aku tidak tahu rasanya supplier menagih. Aku tidak tahu semua tekananmu.”
Aku menunjuk mutasi rekening.
“Tapi kamu juga tidak tahu rasanya menjahit sampai jam dua pagi karena Ibu bilang biaya hidupnya naik, lalu menemukan uang itu ternyata dipakai menutup tagihan usahamu.”
Yuni membuka mulut.
Tidak ada suara.
Ibu menunduk.
Aku mengambil satu lembar lain.
“Dan aku tidak tahu rasanya menjadi Nanda. Duduk di ulang tahun neneknya, diberi Rp50 ribu di depan semua orang, lalu mendengar sepupunya bilang kami tidak boleh tahu soal rumah karena nanti Nenek kehilangan tempat tinggal.”
Yuni langsung berkata, “Itu anak-anak.”
“Anak-anak mendengar dari orang dewasa.”
“Bagas tidak mengerti.”
“Aku tahu.”
Aku tidak ingin menyerang Bagas.
Ia lima belas tahun.
Ia hanya mengulang potongan percakapan yang ia dengar di rumah.
Aku menatap Yuni.
“Yang aku tanyakan bukan kenapa Bagas bicara. Aku mau tahu kenapa keluarga kita sudah sampai di titik anak-anak merasa harus memilih rahasia orang dewasa.”
Tidak ada jawaban.
Untuk pertama kalinya, Yuni duduk lagi tanpa membantah.
Siang itu aku menelepon Lia di depan mereka.
Aku menjelaskan bahwa sebagai pemilik bangunan, aku tidak menyetujui perjanjian lima tahun.
Lia mengatakan perusahaan tidak akan melanjutkan penandatanganan.
Namun Rp180 juta harus dikembalikan sesuai pembicaraan dan dokumen pembayaran awal.
“Ada waktu berapa lama?” tanyaku.
“Kami akan koordinasikan dengan bagian keuangan, Bu. Karena kasusnya tidak biasa. Tapi tentu kami menginginkan pengembalian secepatnya.”
Setelah telepon ditutup, Arif yang baru datang berkata,
“Sekarang puas?”
Aku menatapnya.
“Tidak.”
“Kamu baru saja bikin kami harus cari Rp180 juta.”
“Aku tidak membuat kalian menerima uang itu.”
“Kalau kamu kasih waktu…”
“Waktu untuk apa?”
“Biarkan usaha jalan tiga bulan.”
“Dengan uang perusahaan yang seharusnya membeli hak sewa rumahku?”
Ia mengusap muka.
“Dewi, realistis sedikit.”
“Aku sedang realistis.”
Aku mengambil buku kecil dari tas.
“Ada tiga masalah. Jangan campur jadi satu.”
Mereka menatapku.
“Pertama, uang Rp180 juta milik calon penyewa harus dikembalikan.”
Aku menulis angka satu.
“Kedua, selama ini ada uang yang kukirim untuk kebutuhan Ibu tapi dialihkan ke usaha Yuni.”
Angka dua.
“Ketiga, bagian belakang rumahku dipakai usaha bertahun-tahun tanpa aturan jelas.”
Angka tiga.
Yuni mendecakkan lidah.
“Kamu mau bikin kontrak sama kakak sendiri?”
“Iya.”
Ia menatapku seolah aku baru menghina seluruh silsilah keluarga.
Aku melanjutkan.
“Mulai sekarang, kalau ada bagian rumah dipakai usaha, semuanya tertulis.”
“Gila.”
“Mungkin.”
Aku menutup buku.
“Tapi cara lama kita jelas tidak bekerja.”
Arif berkata, “Kami tidak punya tempat pindah usaha.”
“Aku tidak menyuruh kalian keluar hari ini.”
“Terus?”
“Aku kasih enam puluh hari.”
Yuni langsung berdiri.
“Enam puluh hari buat apa?”
“Pindahkan usaha dari rumah ini.”
Ibu mengangkat wajah.
“Dewi…”
Aku menoleh kepada beliau.
“Ibu tetap tinggal di sini.”
Beliau terdiam.
“Aku tidak mengusir Ibu.”
Aku sengaja mengatakannya dengan jelas.
Karena selama dua hari terakhir, semua orang menggunakan ketakutan itu.
Nanda takut.
Ibu takut.
Mungkin Yuni juga memanfaatkannya karena tahu itu kelemahanku.
“Ibu akan tetap tinggal di rumah ini selama Ibu mau,” kataku. “Tapi rumah ini bukan modal usaha siapa pun.”
Ibu mengusap mata.
“Apa tidak bisa mereka tetap pakai belakang?”
Aku menarik napas.
“Tidak untuk sekarang.”
“Kenapa?”
“Karena kita semua perlu belajar bahwa izin itu bisa berakhir.”
Yuni tertawa getir.
“Jadi kamu menghukum aku.”
“Aku sedang menghentikan sesuatu yang sudah terlalu jauh.”
“Bedanya apa?”
“Kalau aku mau menghukum kamu, aku bisa menagih semua uang penggunaan rumah empat tahun.”
Ia langsung diam.
“Aku tidak akan lakukan itu.”
Arif menatapku.
“Kenapa?”
“Karena aku juga salah.”
Yuni mengernyit.
“Aku membiarkan semuanya tanpa aturan. Aku tahu kalian makin lama makin banyak memakai rumah ini, tapi aku selalu bilang ke diri sendiri, sudahlah, keluarga. Aku ikut menciptakan keadaan di mana kalian mengira diamku berarti setuju.”
Aku menunjuk mereka.
“Tapi kesalahanku berhenti hari ini.”
Mencari Rp160 juta bukan perkara kecil.
Aku tidak menalangi.
Itulah keputusan yang paling sulit.
Selama bertahun-tahun, setiap masalah keluarga akhirnya sampai kepadaku dalam bentuk pertanyaan yang sama:
“Kamu bisa bantu dulu?”
Biasanya aku membantu.
Kali ini tidak.
Arif marah selama beberapa hari.
Yuni tidak menjawab pesanku.
Ibu menelepon dua kali meminta aku mempertimbangkan meminjamkan uang.
Aku menjawab hal yang sama.
“Aku tetap bayar kebutuhan Ibu. Tapi utang usaha bukan tanggung jawabku.”
“Kalau usaha kakakmu tutup?”
“Itu akibat yang harus mereka urus.”
“Kamu tega?”
Pertanyaan itu membuat dadaku sakit.
Tapi aku tidak mengubah jawaban.
“Kalau aku terus membayar setiap akibat dari keputusan mereka, mereka tidak pernah benar-benar harus mengambil keputusan sendiri.”
Tiga hari kemudian Yuni datang ke tempat jahitanku.
Ia berdiri di antara gulungan kain seragam sekolah dengan wajah lelah.
“Kita jual mobil.”
Aku menghentikan mesin.
“Mobil yang mana?”
“Mobil keluarga.”
Aku tahu mobil itu masih dicicil.
“Cukup?”
“Setelah pelunasan cicilan, tidak banyak.”
“Terus?”
“Arif punya motor gede.”
Aku hampir tersenyum.
Motor itu kebanggaan Arif.
Setiap ada acara keluarga, ia selalu memarkirnya di tempat paling terlihat.
“Mau dijual?”
“Dia tidak mau.”
“Lalu?”
Yuni menjatuhkan diri ke kursi plastik.
“Aku bilang pilih motor atau usaha.”
Untuk pertama kalinya sejak masalah itu dimulai, aku tertawa kecil.
Yuni ikut tertawa, meski matanya merah.
“Dia marah dua jam.”
“Sekarang?”
“Sedang foto motor buat dijual.”
Kami diam.
Kemudian Yuni berkata,
“Aku memang salah.”
Aku tidak menjawab terlalu cepat.
Ia melihat meja.
“Tapi kalau kamu menunggu aku bilang semuanya salahku, tidak juga.”
“Aku tidak butuh itu.”
“Usaha kami memang sedang hancur.”
“Aku tahu.”
“Aku takut.”
Itu pertama kalinya ia menggunakan kata itu.
Bukan susah.
Bukan cash flow.
Bukan kebutuhan keluarga.
Takut.
“Aku takut kalau katering tutup, semua yang kubangun habis. Aku takut orang-orang ngomong. Aku takut Bagas lihat ibunya gagal.”
Aku menatap kakakku.
“Jadi kamu membuat anakku takut sebagai gantinya?”
Ia menutup mata.
“Aku tidak pernah nyuruh Bagas ngomong begitu.”
“Aku tahu.”
“Tapi aku dengar dia pernah bilang ke Nanda soal rumah.”
“Kenapa tidak kamu luruskan?”
Yuni tidak menjawab.
Itulah jawabannya.
Karena selama ketakutan Nanda membuatku tetap diam, ketakutan itu berguna bagi mereka.
Beberapa luka tidak perlu dibesar-besarkan supaya terasa.
Aku kembali menginjak pedal mesin jahit perlahan.
Yuni berkata, “Aku minta maaf.”
Aku menghentikan mesin.
“Ke aku?”
“Iya.”
“Ke Nanda juga.”
Ia menatapku.
Aku tidak mengalah.
“Kalau kamu serius, minta maaf ke Nanda.”
Yuni mengangguk.
Seminggu kemudian, Yuni datang ke rumahku bersama Bagas.
Tidak ada acara keluarga.
Tidak ada penonton.
Bagas terlihat paling tidak nyaman.
Nanda duduk di ruang tamu sambil memegang gelas sirup.
Yuni duduk di depannya.
“Nanda.”
Anakku menatapnya.
“Tante mau minta maaf.”
Nanda tidak menjawab.
Yuni melanjutkan.
“Tante seharusnya tidak membiarkan kamu dengar masalah orang dewasa lalu merasa harus menyimpannya.”
Bagas menunduk.
“Aku juga minta maaf.”
Nanda memandang sepupunya.
Bagas menggaruk lutut.
“Aku ngomong soal Nenek bakal kehilangan rumah cuma karena aku dengar Ayah sama Ibu ribut. Aku kira memang begitu.”
“Kenapa kamu bilang aku jangan kasih tahu Ibu?”
Bagas menelan ludah.
“Karena Ayah bilang kalau Tante Dewi tahu, rencana bakal gagal.”
Yuni menutup mata sebentar.
Tidak ada yang membantah.
Aku tidak menyela.
Nanda berkata pelan,
“Aku bukan mau bikin gagal.”
“Aku tahu,” kata Bagas.
“Aku cuma takut Nenek harus pergi.”
Yuni menatap anakku.
“Nenek tidak akan pergi.”
Nanda melihat kepadaku untuk memastikan.
Aku mengangguk.
“Rumah Nenek tetap ada.”
Baru saat itu bahunya terlihat rileks.
Percakapan itu tidak membuat semuanya langsung baik.
Tapi setidaknya dua anak tidak lagi membawa beban yang dibuat empat orang dewasa.
Dalam lima minggu, Yuni dan Arif berhasil mengembalikan seluruh Rp180 juta.
Tidak dengan cara mudah.
Mobil mereka dijual.
Motor besar Arif juga.
Salah satu freezer industri dilepas ke usaha katering lain.
Mereka meminta skema pembayaran beberapa minggu kepada supplier.
Perusahaan logistik menerima pengembalian bertahap setelah kesepakatan tertulis dibuat.
Aku ikut bertemu dengan perwakilan perusahaan sekali, bukan untuk membayar, tapi untuk memastikan namaku tidak lagi digunakan dalam negosiasi apa pun.
Aku juga mengirim pernyataan tertulis bahwa setiap penggunaan bangunan harus melalui persetujuanku langsung.
Tidak dramatis.
Tidak ada polisi.
Tidak ada orang diborgol.
Hanya tanda tangan, bukti transfer, percakapan yang tidak menyenangkan, dan orang-orang yang akhirnya harus menanggung keputusan mereka sendiri.
Aneh sekali, terkadang konsekuensi paling berat bukan hukuman besar.
Hanya tidak ada lagi seseorang yang datang menyelamatkan.
Enam puluh hari kemudian, dapur katering pindah ke ruko kecil yang mereka sewa di daerah Gedangan.
Lebih sempit.
Tidak sebagus tempat lama.
Yuni mengurangi menu.
Pegawainya tinggal tujuh orang.
Tapi usahanya tidak mati.
Malah beberapa bulan kemudian ia mengatakan biaya operasional lebih mudah dihitung karena untuk pertama kalinya ia tahu persis berapa harga tempat usahanya.
“Dulu gratis,” katanya.
Aku menatapnya.
“Tidak gratis.”
Ia diam.
Lalu mengangguk.
“Iya. Ternyata cuma aku yang menganggap gratis.”
Hubungan kami belum kembali seperti dulu.
Mungkin tidak akan pernah.
Aku sudah berhenti berharap semua hubungan harus kembali ke bentuk lama supaya disebut sembuh.
Kadang-kadang sembuh berarti bentuknya berubah.
Aku dan Yuni masih bertemu untuk urusan Ibu.
Kadang minum kopi.
Kadang bertengkar kecil.
Tapi sekarang kalau ia butuh bantuan, ia menyebut nominal dan tujuannya dengan jelas.
Dan aku bisa berkata tidak.
Yang mengejutkanku, dunia tidak runtuh ketika aku melakukannya.
Ibu juga berubah, meskipun paling lambat.
Aku berhenti mentransfer Rp4 juta sekaligus setiap bulan.
Bukan karena berhenti merawat beliau.
Aku membayar listrik langsung.
Obat rutin kubelikan.
Untuk belanja harian, aku transfer jumlah tertentu setiap minggu.
Biaya kontrol dokter kubayar sesuai kebutuhan.
Awalnya Ibu tersinggung.
“Jadi sekarang Ibu tidak dipercaya?”
Aku menjawab jujur.
“Untuk mengatur uang yang kukirim tanpa memberi tahu aku, belum.”
Beliau tidak bicara denganku dua hari.
Hari ketiga, beliau menelepon.
“Obat darah tinggi tinggal tiga.”
Aku menjawab, “Nanti sore aku antar.”
Tidak ada pembahasan besar.
Itulah cara kami mulai lagi.
Pelan-pelan.
Tanpa pidato.
Tanpa berpura-pura tidak pernah terjadi apa-apa.
Tiga bulan setelah ulang tahun itu, aku kembali makan siang di rumah Ibu bersama Nanda.
Hanya kami bertiga.
Carport sudah kosong.
Rak katering hilang.
Bekas baut kanopi masih terlihat di tembok.
Ibu menaruh sayur asem, ikan goreng, sambal, dan tempe di meja.
Tidak ada amplop.
Tidak ada perbandingan.
Setelah makan, Ibu masuk kamar lalu kembali membawa uang Rp50 ribu.
Aku langsung menatapnya.
Beliau tertawa kecil.
“Bukan hadiah.”
Nanda ikut tersenyum.
“Terus?”
“Titip beli es krim di minimarket. Nenek malas jalan.”
Nanda mengambil uang itu.
“Yang cokelat?”
“Yang kamu suka.”
Ia berdiri, lalu berhenti di pintu.
“Bu, mau ikut?”
Aku menggeleng.
“Kamu saja.”
Setelah Nanda keluar, Ibu duduk di seberangku.
“Waktu ulang tahun kemarin…”
Aku menunggu.
“Ibu memang tidak adil.”
Aku tidak menyelamatkannya dari kalimat itu.
Dulu mungkin aku akan berkata, “Sudahlah, Bu.”
Kali ini aku diam.
Ibu melanjutkan.
“Ibu kasih Bagas lebih banyak karena waktu itu Yuni cerita dia butuh uang buat kegiatan sekolah. Terus ke Nanda cuma segitu.”
Beliau menatap meja.
“Tapi cara Ibu ngomong… salah.”
Aku mengangguk.
“Nanda ingat.”
“Ibu tahu.”
“Anak-anak sering ingat hal kecil lebih lama daripada yang kita kira.”
Mata Ibu berair.
“Dia marah sama Ibu?”
“Tidak.”
“Lebih enak kalau marah.”
Aku hampir tersenyum.
“Nanda memang begitu.”
Ibu mengusap meja dengan ujung jarinya.
“Rumah ini…”
Aku menunggu lagi.
“Ibu mungkin terlalu lama merasa karena tinggal di sini, Ibu boleh menentukan semuanya.”
Aku menarik napas.
“Aku juga salah karena tidak pernah menjelaskan batasnya.”
Beliau menatapku.
“Kalau suatu hari Ibu tidak ada…”
“Bu.”
“Dengar dulu.”
Aku diam.
“Rumah ini tetap rumahmu. Jangan biarkan siapa pun bilang lain.”
Ada rasa sakit kecil mendengar kalimat itu.
Bukan karena baru.
Karena seharusnya kalimat sesederhana itu tidak membutuhkan hampir kehilangan rumah untuk akhirnya diucapkan.
Aku mengangguk.
“Iya.”
Beliau melihat ke luar.
“Nanda anak baik.”
“Iya.”
“Terlalu banyak diam.”
Aku tertawa kecil.
“Turunan.”
Ibu melirikku.
Kami berdua tahu siapa yang kumaksud.
Enam bulan setelah kejadian itu, hidupku tidak berubah menjadi sempurna.
Pesanan jahit masih kadang sepi.
Mesin obras masih suka ngadat kalau terlalu panas.
Nanda masih harus kuingatkan tiga kali untuk menaruh handuk basah di tempatnya.
Yuni masih kadang membuatku kesal di grup WhatsApp keluarga.
Arif tidak pernah benar-benar nyaman kalau bertemu denganku.
Tapi ia berhenti memanggil rumah Ibu sebagai “tempat usaha kita”.
Sekarang ia menyebutnya sesuai kenyataan.
“Rumah Dewi yang ditempati Ibu.”
Perubahan kecil.
Tapi aku mendengarnya setiap kali.
Suatu sore, setelah mengantar obat Ibu, aku berdiri sebentar di carport.
Pot bunga beliau sudah kembali berjajar.
Di tempat dulu dua orang surveyor mengukur ruang untuk kendaraan ekspedisi, sekarang ada sandal Nanda, sandal Ibu, dan selang air yang digulung sembarangan.
Aku membuka lemari kecil di kamar atas.
Di sana ada map berisi fotokopi SHM, PBB, dan beberapa dokumen rumah.
Dokumen asli tetap kusimpan sendiri.
Di halaman depan map itu kutempel selembar kertas kecil:
Setiap urusan rumah harus sepengetahuan Dewi.
Ibu sempat mengeluh tulisan itu jelek.
Aku bilang yang penting terbaca.
Beliau tertawa.
Sebelum pulang, aku menutup pagar.
Nanda sudah menungguku di motor sambil memakai helm.
Amplop Rp50 ribu dari ulang tahun Ibu masih ia simpan di laci meja belajarnya.
Aku pernah bertanya kenapa tidak dipakai.
Ia menjawab,
“Biar aku ingat.”
“Ingat apa?”
Ia berpikir sebentar.
“Kalau ada sesuatu yang bikin aku takut, aku harus ngomong ke Ibu. Jangan cuma diam supaya orang lain senang.”
Aku tidak bisa mengatakan apa-apa selama beberapa detik.
Ternyata aku juga perlu belajar hal yang sama di usia empat puluh delapan tahun.
Aku menyalakan motor.
Ibu berdiri di balik pagar dan melambaikan tangan.
Rumah itu masih menjadi tempat tinggalnya.
Yuni masih menjadi kakakku.
Bagas masih menjadi sepupu yang sesekali main gim dengan Nanda.
Tidak semua hubungan harus diputus.
Tidak semua kesalahan harus dibalas dengan kehilangan segalanya.
Tapi sejak hari itu, satu hal berubah untuk selamanya.
Di keluargaku, kata “demi keluarga” tidak lagi otomatis berarti aku harus mengatakan iya.
Kadang-kadang menjaga keluarga justru dimulai ketika seseorang akhirnya berani berkata,
“Ini batasnya.”
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak merasa bersalah mengucapkannya.
Terima kasih sudah membaca kisah ini sampai akhir. Semoga kamu dan keluargamu selalu diberi kesehatan, ketenangan, rezeki yang cukup, dan keberanian untuk saling menghargai batas masing-masing. Kalau kamu berada di posisiku, apakah kamu juga akan menghentikan penyewaan itu meskipun kakakmu sedang terlilit utang? Aku ingin membaca pendapatmu. Kalau cerita ini terasa dekat dengan kehidupan nyata, kamu boleh membagikannya kepada orang lain yang mungkin pernah merasa sulit berkata “tidak” kepada keluarga sendiri.
