BAGIAN 2 — PEREMPUAN DI BALIK PINTU MENGUNGKAP RAHASIA DUA PULUH TAHUN, DAN NARA MENGETAHUI ALASAN AYAHNYA MEMBAWANYA KEMBALI KE PABRIK
—Akhirnya… kamu pulang juga.
Nara tidak mampu menjawab.
Perempuan itu berdiri hanya beberapa meter darinya. Tubuhnya kurus, rambutnya dipenuhi uban, tetapi mata dalam wajah itu persis dengan mata perempuan muda di foto yang sedang digenggam Nara.
Nara mengangkat foto tersebut.
—Siapa Anda?
Perempuan itu menatap foto itu, lalu air matanya jatuh.
—Namaku Ratih.
Ia berhenti sejenak.
—Dan aku adalah ibumu.
—Bohong!
Suara ayah Nara menggema di seluruh ruangan.
Pria itu melangkah maju.
—Nara, jangan dengarkan dia. Perempuan ini tidak waras!
Ratih justru tersenyum pahit.
—Dua puluh tahun berlalu, dan itu masih kalimat terbaik yang bisa kau gunakan, Harun?
Nara menoleh kepada ayahnya.
—Jadi Ayah mengenalnya?
Harun terdiam.
Keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban.
Ratih mengeluarkan sebuah kunci kecil dari sakunya.
—Ikut aku.
Ia berbalik menuju ruangan tersembunyi.
Harun langsung menghadang.
—Tidak ada yang masuk ke sana!
Salah satu pria yang dibawanya ikut maju.
Namun tiba-tiba suara keras terdengar dari halaman.
—Jangan sentuh gadis itu!
Nara menoleh.
Lelaki tua yang ditemuinya di pasar berdiri di pintu bersama beberapa warga. Di sampingnya ada perempuan tua berjas hujan yang datang malam sebelumnya.
Harun membeku.
—Kalian…
Lelaki tua itu masuk.
—Kami sudah terlalu lama diam.
Ternyata namanya Pak Darto. Dahulu ia bekerja sebagai kepala bagian produksi di pabrik tersebut. Sementara perempuan tua itu adalah Bu Sari, salah satu penenun terakhir yang bekerja untuk Ratih.
Nara semakin bingung.
—Tolong… seseorang jelaskan semuanya.
Ratih membuka pintu lebih lebar.
Di baliknya ternyata terdapat lorong menuju sebuah ruangan kecil di bagian belakang bangunan. Ada tempat tidur sederhana, kipas tua, meja, persediaan makanan, dan pintu lain menuju kebun belakang.
Nara akhirnya mengerti.
Ratih tidak terkunci di sana.
Ia tinggal di ruangan itu secara diam-diam.
—Kenapa Ibu bersembunyi?
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Ratih menutup mata saat mendengar Nara memanggilnya “Ibu”.
—Karena aku menunggumu.
Dua puluh tahun sebelumnya, Ratih adalah pemilik pabrik tenun itu. Usahanya tidak besar, tetapi kain tenun buatannya dipasarkan ke beberapa kota. Ia mewarisi bangunan dan tanah dari orang tuanya.
Saat itulah ia mengenal Harun.
Mereka menikah secara sederhana.
Setahun kemudian, Nara lahir.
Namun usaha Ratih mulai berkembang tepat ketika Harun terlilit utang akibat bisnis yang gagal.
—Dia meminta agar tanah ini dijadikan jaminan —kata Ratih.—Aku menolak.
Harun mengepalkan tangan.
—Aku melakukan semuanya untuk keluarga!
—Tidak. Kau melakukannya untuk menutup utangmu sendiri.
Ratih kemudian membuka lemari besi kecil.
Ia mengeluarkan beberapa map tua.
—Suatu malam, saat Nara masih bayi, Harun membawa anakku pergi.
Nara merasa tenggorokannya mengering.
—Lalu buku catatan itu?
Pak Darto menjawab:
—Catatan pembayaran kepada orang-orang yang membantu memalsukan cerita tentang kepergian ibumu.
Harun langsung membantah.
—Itu tidak membuktikan apa pun!
—Memang tidak sendirian.
Ratih mengeluarkan sebuah kaset rekaman lama.
—Karena itu aku menyimpan ini.
Wajah Harun berubah.
Ratih menjelaskan bahwa bertahun-tahun lalu ia berhasil merekam percakapan antara Harun dan seorang perantara mengenai pembayaran sejumlah uang agar beberapa dokumen dibuat seolah-olah Ratih meninggalkan keluarga dan menyerahkan pengasuhan Nara.
Nara memandang ayahnya dengan mata merah.
—Jadi selama ini cerita bahwa ibu kandungku meninggal ketika aku kecil…
Harun tidak menjawab.
—Itu bohong?
—Aku membesarkanmu! —bentak Harun.—Siapa yang memberimu makan? Siapa yang menyekolahkanmu?
—Dan siapa yang membuatku percaya ibuku sudah mati?
Harun terdiam.
Nara tiba-tiba teringat sesuatu.
—Kenapa Ayah membawaku ke sini sekarang?
Kali ini justru ibu tirinya yang pucat.
Ratih menatap mereka.
—Karena mereka membutuhkan tanda tanganmu.
Nara mengernyit.
Ratih membuka satu map lagi.
Ternyata pabrik, rumah tua, dan hampir seluruh tanah di sekitarnya tidak pernah menjadi milik Harun.
Sebelum menghilang dari kehidupan Nara, Ratih telah mengalihkan hak kepemilikan melalui perwalian keluarga yang menetapkan Nara sebagai penerima manfaat ketika mencapai usia dua puluh tahun.
Dan Nara baru berulang tahun dua puluh beberapa minggu sebelumnya.
—Mereka tidak membawamu kemari untuk membuangmu —kata Ratih.—Mereka membawamu karena ada dokumen yang membutuhkan tanda tanganmu.
Nara langsung teringat dua pria asing tadi.
Ia menoleh.
Keduanya sudah mundur mendekati pintu.
Pak Darto berdiri menghalangi.
—Mau ke mana?
Salah satu pria gugup.
—Kami hanya diminta datang sebagai saksi.
—Saksi untuk apa?
Tidak ada jawaban.
Bu Sari kemudian mengeluarkan ponselnya.
—Polisi sedang menuju kemari.
Harun langsung panik.
—Kita bisa menyelesaikan ini sebagai keluarga.
Nara tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya malam itu, tawanya terdengar.
Namun tidak ada kebahagiaan di dalamnya.
—Keluarga?
Ia mengambil buku catatan dari balik bajunya dan meletakkannya di atas meja.
—Ayah mengambil tabunganku.
Kemudian ia menatap ibu tirinya.
—Kalian mengambil motorku.
Tatapannya kembali kepada Harun.
—Kalian meninggalkanku di tempat ini dengan 120.000 rupiah karena mengira aku akan ketakutan dan menerima apa pun yang kalian suruh tanda tangani.
Harun mendekatinya.
—Nara, dengarkan Ayah.
Nara mundur.
—Jangan.
Hanya satu kata.
Tetapi cukup membuat Harun berhenti.
Tak lama kemudian, suara kendaraan terdengar dari luar.
Beberapa petugas tiba.
Dokumen, buku catatan, rekaman, serta keterangan para saksi diserahkan untuk diperiksa.
Harun dan dua pria yang datang bersamanya diminta ikut untuk memberikan keterangan.
Sebelum dibawa pergi, Harun menoleh kepada Nara.
—Setelah semua yang Ayah lakukan untukmu, begini caramu membalas?
Nara menatapnya lama.
Lalu menjawab:
—Ayah memang membesarkanku. Karena itu aku akan selalu mengingat bagian baik yang pernah Ayah lakukan. Tapi membesarkanku tidak memberi Ayah hak untuk mencuri hidup orang lain.
Harun tidak mampu menjawab.
Ketika kendaraan itu menghilang dari halaman, hujan akhirnya berhenti.
Nara dan Ratih berdiri berhadapan.
Kini tidak ada lagi orang yang menghalangi mereka.
Namun Nara tidak langsung memeluknya.
—Aku belum bisa memanggilmu Ibu seperti semuanya tidak pernah terjadi.
Ratih mengangguk sambil menangis.
—Aku tidak meminta itu.
—Aku juga punya banyak pertanyaan.
—Tanyakan semuanya.
—Dan mungkin aku akan marah.
—Kamu berhak.
Nara menatap perempuan yang telah menunggunya selama dua puluh tahun.
—Kalau begitu… jangan menghilang lagi.
Ratih menutup mulut menahan tangis.
—Tidak akan.
Namun tepat ketika Nara hendak mendekatinya, Pak Darto muncul dari ruangan tersembunyi membawa sebuah kotak kayu.
—Nara.
Ia meletakkannya di meja.
—Ada satu hal lagi yang harus kamu lihat.
Pada tutup kotak itu tertulis sebuah kalimat.
“Untuk Nara, ketika ia akhirnya kembali.”
Dan ketika kotak itu dibuka, Nara melihat sesuatu yang membuatnya menyadari bahwa rahasia keluarganya ternyata belum sepenuhnya berakhir.
(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)
