RAHASIA ANAK LELAKI ITU MEMBUKA PENGKHIANATAN LIMA BELAS TAHUN, NAMUN SATU REKAMAN MEMBUAT SELURUH RENCANA MEREKA BERBALIK ARAH

Avatar penulis
Cerita 05
6 menit baca 6 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — RAHASIA ANAK LELAKI ITU MEMBUKA PENGKHIANATAN LIMA BELAS TAHUN, NAMUN SATU REKAMAN MEMBUAT SELURUH RENCANA MEREKA BERBALIK ARAH

Ruangan itu mendadak begitu sunyi.

Suamiku berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat, sementara suara pengacaraku masih terdengar dari pengeras suara ponsel.

—Apa maksud Anda anak itu berhubungan dengan aset saya?

Pengacaraku menarik napas.

—Besok kita bicarakan lengkap di kantor. Tapi malam ini jangan menandatangani apa pun, jangan menyerahkan dokumen apa pun, dan simpan semua bukti yang Anda temukan. Ada indikasi tanda tangan Anda digunakan tanpa persetujuan dalam lebih dari satu dokumen.

Aku menatap suamiku.

Dia menelan ludah.

—Matikan teleponnya. Kita bisa bicara sebagai suami istri.

Aku justru bertanya kepada pengacara:

—Apakah transaksi itu masih bisa dihentikan?

—Kami sudah mengirim permohonan penangguhan. Untuk sementara, jangan beri tahu siapa pun mengenai langkah hukum selanjutnya.

—Baik.

Aku menutup telepon.

Suamiku segera melangkah mendekat.

—Dengar dulu penjelasanku.

—Siapa perempuan itu?

Dia diam.

—Siapa anak itu?

Masih diam.

Aku menunjuk layar.

—Lima belas tahun. Usianya sekitar lima belas tahun, bukan?

Wajahnya berubah.

Saat itulah aku mendapatkan jawabanku bahkan sebelum dia berbicara.

—Dia anakku.

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada yang kubayangkan.

Aku tidak menangis.

Aku hanya duduk diam sambil menatap laki-laki yang telah menjadi suamiku selama enam belas tahun.

—Dengan perempuan itu?

Dia mengangguk perlahan.

Menurut ceritanya, hubungan itu terjadi ketika pernikahan kami baru berjalan sekitar setahun. Perempuan itu kemudian hamil. Dia mengaku ingin memutuskan hubungan, tetapi keluarganya mengetahui keberadaan anak tersebut.

Terutama ayah dan ibu mertuaku.

Karena anak itu laki-laki.

Karena bagi mereka, cucu laki-laki dianggap penerus keluarga.

Tiba-tiba aku teringat kalung di leher anak itu.

—Jadi ayahmu tahu?

Suamiku menunduk.

—Sudah lama.

Aku tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Aku baru menyadari bahwa selama bertahun-tahun aku duduk di meja yang sama dengan orang-orang yang mengetahui rahasia sebesar itu dan mereka masih bisa tersenyum kepadaku seolah tidak terjadi apa-apa.

—Lalu asetku?

Dia cepat-cepat berkata:

—Awalnya bukan seperti yang kamu pikirkan.

—Kalau begitu jelaskan.

Dia mengatakan perempuan itu mengalami masalah keuangan. Anak mereka akan segera melanjutkan pendidikan, dan dia ingin memastikan masa depannya aman.

Aku memotongnya.

—Dengan rumah ibuku?

Dia terdiam.

—Dengan toko yang kubangun?

Tidak ada jawaban.

—Dengan saham perusahaanku?

—Aku berniat mengembalikannya setelah restoran menghasilkan keuntungan.

Aku menatapnya seakan baru pertama kali melihat wajahnya.

—Kamu memalsukan tanda tanganku lalu menyebutnya meminjam?

—Aku terdesak!

—Tidak. Kamu membuat pilihan.

Aku berdiri.

—Keluar dari ruangan ini.

Dia mencoba mendekat.

—Kita punya anak perempuan. Jangan hancurkan keluarga kita karena kesalahan masa lalu.

Kalimat itu membuatku berhenti.

—Yang menghancurkan keluarga ini bukan masa lalumu. Yang menghancurkannya adalah apa yang kamu lakukan tiga minggu lalu ketika kamu memalsukan tanda tanganku.

Dia tidak bisa menjawab.

Aku mengunci diri di kamar malam itu.

Pagi berikutnya, aku pergi menemui pengacara.

Di sana aku menemukan sesuatu yang lebih buruk.

Surat kuasa palsu bukan satu-satunya dokumen.

Ada formulir jaminan, persetujuan pengalihan aset, bahkan dokumen internal yang mencantumkan informasi saham perusahaanku.

Namun satu detail membuat kami curiga.

Beberapa dokumen berisi data yang seharusnya hanya tersimpan di kantor perusahaan.

Artinya ada orang lain yang membantu.

Kami memeriksa akses dokumen internal.

Nama yang muncul membuatku tercengang.

Adik iparku.

Enam bulan sebelumnya, aku pernah memberinya pekerjaan sementara di bagian administrasi karena dia mengaku membutuhkan penghasilan.

Saat itu aku merasa sedang membantu keluarga.

Ternyata selama bekerja denganku, dia telah menyalin beberapa dokumen.

Restoran itu bukan sekadar impiannya.

Restoran tersebut direncanakan menjadi cara memutar dana pinjaman.

Sebagian uang masuk ke usaha, sebagian lainnya dialihkan kepada perempuan dan anak lelaki itu.

Namun mereka melakukan satu kesalahan besar.

Adik iparku menggunakan komputer kantor untuk mengirim salinan beberapa berkas.

Semua aktivitasnya tercatat.

Aku meminta pengacara menyimpan bukti.

Kemudian aku melakukan sesuatu yang tidak mereka duga.

Aku pulang dan berpura-pura tidak tahu.

Dua hari kemudian, ibu mertua mengundangku makan bersama.

Begitu aku tiba, suamiku, adik ipar, serta kedua mertuaku sudah menunggu.

Di meja ada sebuah map.

Ibu mertua mendorongnya kepadaku.

—Kita tidak perlu memperpanjang masalah. Tanda tangani ini, semuanya selesai.

Aku membuka map.

Dokumen itu menyatakan bahwa aku mengetahui dan menyetujui penggunaan aset untuk kepentingan keluarga.

Aku hampir tertawa.

Mereka ingin tanda tanganku sekarang untuk menutupi apa yang telah dilakukan sebelumnya.

Aku meletakkan map kembali.

—Sebelum saya tanda tangan, saya ingin bertemu perempuan itu.

Wajah suamiku berubah.

Ibu mertua langsung menyela:

—Untuk apa?

—Kalau uang saya akan diberikan kepadanya, setidaknya saya ingin tahu siapa dia.

Mereka saling berpandangan.

Akhirnya pertemuan diatur tiga hari kemudian.

Kami bertemu di rumah mertua.

Perempuan itu datang bersama anak lelakinya.

Untuk pertama kalinya aku melihatnya secara langsung.

Dia tampak gugup.

Anak itu bahkan tidak berani menatapku.

Yang mengejutkanku, aku tidak membenci mereka.

Terutama anak itu.

Dia tidak memilih dilahirkan dalam situasi seperti ini.

Kami duduk mengelilingi meja.

Ibu mertua menjadi orang pertama yang berbicara.

—Sekarang semuanya sudah berkumpul. Mari selesaikan secara baik-baik.

Aku mengangguk.

—Setuju.

Lalu aku menatap perempuan itu.

—Anda tahu aset yang akan diberikan kepada Anda bukan milik suami saya?

Dia terlihat bingung.

—Apa?

Suamiku langsung menyela.

—Jangan mulai.

Aku mengabaikannya.

—Rumah, toko, dan saham yang digunakan sebagai jaminan adalah milik saya.

Wajah perempuan itu memucat.

—Dia bilang semuanya milik kalian berdua.

—Tidak.

Aku mengeluarkan beberapa salinan dokumen.

—Dan tanda tangan saya dipalsukan.

Perempuan itu langsung menoleh kepada suamiku.

—Kamu bilang dia setuju!

Suamiku berdiri.

—Cukup!

Tiba-tiba anak lelaki itu ikut berdiri.

—Ayah, jadi uang untuk sekolahku juga dari dia?

Tidak ada yang menjawab.

Anak itu melepas kalung dari lehernya dan meletakkannya di meja.

—Aku tidak mau.

Ayah mertua terlihat terpukul.

—Itu milikmu. Kamu cucu laki-laki keluarga ini.

Anak itu menggeleng.

—Kalau untuk mendapatkannya harus mengambil milik orang lain, aku tidak mau.

Ruangan mendadak sunyi.

Namun kejutan terbesar belum datang.

Perempuan itu membuka tasnya.

—Kalau begitu, kalian juga harus mendengar ini.

Dia mengeluarkan ponsel.

Kemudian memutar sebuah rekaman.

Suara ibu mertuaku terdengar jelas.

“Begitu dia menandatangani persetujuan, rumah dan saham bisa dipindahkan. Setelah itu, kalau mereka bercerai pun, semuanya sudah terlambat.”

Aku menatap ibu mertua.

Wajahnya seketika kehilangan warna.

Rekaman berlanjut.

Lalu terdengar suara suamiku.

“Yang penting jangan sampai dia tahu sebelum pinjaman cair sepenuhnya.”

Tak seorang pun bergerak.

Aku mematikan rekaman setelah beberapa detik.

Lalu aku mengeluarkan ponselku sendiri.

—Terima kasih. Pengacara saya sudah menunggu bukti terakhir ini.

Suamiku menatapku.

—Apa maksudmu?

Aku berdiri.

—Artinya mulai hari ini, kalian tidak lagi menentukan apa yang terjadi pada hidup atau hartaku.

Dan sebelum meninggalkan rumah itu, aku meletakkan satu amplop terakhir di atas meja.

Di dalamnya terdapat pemberitahuan resmi bahwa seluruh akses suamiku terhadap perusahaan, rekening terkait, dan dokumen aset telah dibekukan.

Di bawahnya ada satu dokumen lain.

Permohonan perceraian.

Kali ini, suamiku benar-benar kehilangan kata-kata.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)