Ibu Mertua Kakakku Datang Menjaga Menantunya yang Hamil, Menamparku karena Buah di Dapur, Lalu Memaksaku Menikahi Keponakannya—Tanpa Tahu Rumah dan Usaha yang Mereka Banggakan Berdiri atas Namaku

Avatar penulis
admini
14 menit baca 21 tayangan
Indeks

Ibu Mertua Kakakku Datang Menjaga Menantunya yang Hamil, Menamparku karena Buah di Dapur, Lalu Memaksaku Menikahi Keponakannya—Tanpa Tahu Rumah dan Usaha yang Mereka Banggakan Berdiri atas Namaku

Bagian 1 — Baru Satu Jam di Rumah, Bu Marni Menamparku dan Mengatur Hidupku Seolah Aku Pembantu yang Dibeli untuk Putrinya Selama Kehamilan

Tamparan itu datang begitu cepat sampai mangkuk berisi potongan nanas di tanganku jatuh dan pecah di lantai dapur.

“Perempuan macam apa kamu ini?”

Bu Marni berdiri di depanku dengan wajah merah padam.

“Laila sedang hamil tujuh bulan, kamu malah potong nanas di rumah! Mau bikin dia kepikiran? Mau bikin dia stres?”

Aku memegangi pipi yang panas.

Nanas itu bahkan bukan untuk Laila.

Aku membelinya sepulang kerja karena aku sendiri ingin makan.

Tapi baru satu jam berada di rumah kami di Bekasi, ibu kandung kakak iparku itu sudah bertingkah seolah semua benda di rumah harus meminta izin darinya.

Laila keluar dari kamar sambil memegangi perut.

“Ma, kenapa ribut?”

Bu Marni langsung menunjukku.

“Adik iparmu ini tidak punya perasaan. Mama baru datang, dia sudah bikin masalah.”

Yang mengejutkanku bukan tuduhan itu.

Yang mengejutkanku adalah Laila hanya menghela napas lalu berkata kepadaku,

“Nadira, kan Mama datang jauh-jauh dari Solo untuk bantu aku. Jangan dibikin capek.”

Aku hampir tertawa.

Yang ditampar aku.

Yang harus mengalah juga aku.

Namaku Nadira Prameswari, tiga puluh empat tahun.

Laila adalah istri kakakku, Faris.

Kami sebenarnya pernah satu kampus, meski beda jurusan. Sejak dulu hubungan kami tidak pernah dekat. Setelah menikah dengan Faris tiga tahun lalu, sikapnya justru berubah seperti aku mempunyai utang seumur hidup kepadanya.

Ketika hamil, semuanya makin menjadi.

Jam sebelas malam ingin bubur ayam, aku yang disuruh keluar.

Kontrol ke dokter pukul tujuh pagi, aku yang diminta mengantar karena Faris katanya ada rapat.

Laila ingin pindah rumah sakit karena ruang tunggunya terlalu ramai, aku pula yang harus mencari informasi, mengurus jadwal, bahkan membayar deposit menggunakan kartu pribadiku terlebih dahulu.

Setiap kali aku protes, ibuku, Bu Yuni, selalu mengulang kalimat yang sama.

“Kamu ini perempuan. Kakakmu nanti yang meneruskan nama keluarga.”

“Atur hubungan baik dengan Faris. Jangan cuma memikirkan dirimu.”

Ayah kami sudah meninggal enam tahun lalu.

Sejak saat itu, Ibu seperti mempunyai satu keyakinan: apa pun yang berhubungan dengan keluarga harus diprioritaskan untuk anak laki-laki.

Padahal selama enam tahun itu, aku yang paling banyak membereskan masalah.

Bengkel kemasan kecil peninggalan Ayah pernah hampir tutup karena utang pemasok.

Aku yang mencari modal.

Aku yang merapikan jaringan pelanggan.

Aku yang membuat badan usaha baru ketika usaha lama sudah tidak layak diteruskan.

Tapi di rumah, semua itu jarang dibicarakan.

Faris tetap dianggap “penerus usaha Ayah”.

Aku?

Perempuan yang seharusnya membantu kakaknya.

Bu Marni baru saja datang dengan dua koper besar dan satu kardus oleh-oleh.

Begitu melihat blus merah marun yang kupakai, ia langsung mengerutkan kening.

“Besok jangan pakai warna menyala begini di depan Laila. Dia gampang pusing.”

Aku menatap pakaianku.

“Itu warna baju, Bu.”

“Jangan membantah orang tua.”

Lima menit kemudian ia memindahkan kopiku dari meja makan karena aromanya katanya membuat Laila mual.

Sepuluh menit kemudian ia meminta kamar kerja kecilku dikosongkan supaya bisa dipakai tidur.

“Kamarmu kan besar,” katanya enteng. “Meja kerja bisa dipindah ke ruang belakang.”

Aku menolak.

“Itu ruangan untuk kerja saya.”

Bu Marni langsung memasang wajah tersinggung.

“Saya datang untuk merawat menantu yang sedang mengandung cucu keluarga kalian. Masa satu kamar saja perhitungan?”

Faris pulang menjelang malam.

Kupikir setidaknya kakakku akan memahami bahwa Bu Marni baru masuk rumah beberapa jam dan sudah mengubah aturan seenaknya.

Ternyata aku salah.

“Nadira, ngalah sedikit kenapa?”

Faris meletakkan tas kerjanya.

“Bu Marni itu tamu sekaligus orang tua Laila.”

“Kalau tamu, bukankah seharusnya tidak menampar pemilik rumah?”

Ruangan langsung sunyi.

Laila menatap suaminya.

Bu Marni mendengus.

“Pemilik rumah?”

Ia tertawa pendek.

“Rumah keluarga begini kok merasa paling berkuasa.”

Faris segera memotong.

“Sudahlah. Jangan diperpanjang.”

Lalu ia menoleh kepadaku.

“Kamu juga jangan sensitif.”

Aku memandang wajah kakakku beberapa detik.

Aku tidak menjawab.

Malam itu, Bu Marni membuat daftar aturan baru.

Sarapan harus tersedia sebelum pukul tujuh.

Tidak boleh memasak makanan berbau tajam.

Aku diminta mengurangi lembur supaya bisa membantu Laila.

Bahkan mobil yang biasa kupakai ke kantor ingin ia gunakan untuk mengantar Laila kontrol.

Kupikir kelancangannya berhenti di sana.

Ternyata keesokan malam, saat kami sedang makan, ia membuka topik yang jauh lebih menjijikkan.

“Nadira, umurmu tiga puluh empat, kan?”

Sendokku berhenti.

“Iya.”

“Belum punya calon?”

“Belum.”

Bu Marni tersenyum.

“Mumpung saya di sini, saya bisa bantu.”

Ia mengeluarkan ponsel dan menunjukkan foto seorang pria berbaju polo yang berdiri di depan sepeda motor.

“Namanya Bimo. Keponakan saya.”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Umurnya dua puluh sembilan. Sekolah memang cuma sampai SMP, tapi orangnya pekerja keras.”

Laila ikut tersenyum.

“Bimo baik, Nad. Daripada kamu sendirian terus.”

Aku menatap mereka bergantian.

Bu Marni melanjutkan dengan nada yang membuat darahku mendidih.

“Kamu jangan terlalu banyak memilih. Ayah sudah tidak ada, umur juga lewat tiga puluh. Perempuan makin lama makin susah.”

Ibuku justru mengangguk kecil.

“Ibu juga sudah sering bilang begitu.”

Bu Marni makin berani.

“Bimo itu laki-laki. Pendidikan bukan segalanya. Kalau menikah, ya nanti dia yang memimpin rumah tangga. Kamu kerja terlalu keras juga tidak bagus.”

Aku melihat Faris.

Kakakku sibuk makan.

Tidak satu pun kalimat membelaku.

Lalu Bu Marni menambahkan,

“Kalau menikah sama Bimo, saya juga tenang. Rumah dan urusan kerja kamu nanti ada laki-laki yang mengatur.”

Nah.

Kalimat terakhir itu membuatku berhenti marah.

Aku justru mulai berpikir.

Mengatur rumahku?

Mengatur pekerjaanku?

Aku mengangkat kepala.

“Baik.”

Semua orang terdiam.

Bu Marni sampai menyipitkan mata.

“Apa?”

“Aku mau dikenalkan dengan Bimo.”

Wajahnya langsung berseri-seri.

“Nah, begitu dong! Perempuan itu harus tahu kapan berhenti keras kepala.”

Ibuku tampak lega.

Faris tersenyum puas seolah baru memenangkan sesuatu.

Hanya aku yang tahu alasan sebenarnya aku menerima.

Besok paginya, nomor asing mengirim pesan WhatsApp kepadaku.

“Halo Mbak Nadira, saya Bimo. Tante Marni kasih nomor Mbak.”

Aku belum sempat menjawab ketika pesan kedua masuk.

“Katanya setelah nikah nanti saya bisa ikut ngurus rumah sama usaha Mbak. Saya memang sudah lama mau pindah kerja ke Bekasi.”

Darahku terasa dingin.

Lalu masuk satu foto.

Bimo sedang memotret layar laptop.

Di layar itu terlihat nama sebuah dokumen.

DRAFT PENGALIHAN WEWENANG ASET — NADIRA PRAMESWARI.

Aku mengenali laptop tersebut.

Itu laptop Faris.

Saat itulah aku sadar.

Mereka bukan sedang mencarikanku suami.

Mereka sedang mencarikan seseorang untuk membantu mengambil apa yang selama ini mereka kira tidak akan pernah berani kupertahankan.

Bagian 2 — Aku Menerima Lamaran Konyol Itu dengan Senyum, lalu Menyiapkan Satu Pertemuan yang Membuat Kakakku Kehilangan Kendali di Depan Semua Orang

Aku tidak langsung menuduh siapa pun.

Aku justru membalas Bimo dengan ramah.

“Kita ketemu saja. Biar ngobrol lebih jelas.”

Dua hari kemudian kami bertemu di sebuah kedai kopi di Summarecon Bekasi.

Bimo datang terlambat dua puluh menit.

Belum lima belas menit duduk, ia sudah bicara tentang rencana setelah menikah.

“Kalau saya tinggal di rumah Mbak, nanti saya bisa bantu kontrol pengeluaran.”

Aku mengaduk es kopi.

“Pengeluaran siapa?”

“Ya keluarga.”

Ia tertawa.

“Perempuan kalau pegang uang sendiri terus kadang susah diatur.”

Aku hampir tersedak karena ingin tertawa.

Bimo kemudian bercerita bahwa Bu Marni sudah menjanjikan posisi untuknya di tempatku bekerja.

Katanya Faris membutuhkan “orang kepercayaan”.

Aku pura-pura tertarik.

“Faris bilang begitu?”

Bimo membuka WhatsApp.

“Ini.”

Tanpa diminta, ia menunjukkan percakapan grup kecil antara dirinya, Bu Marni, dan Faris.

Aku membaca cepat.

Ada pembicaraan tentang rumah.

Ada pembicaraan tentang jabatanku.

Bahkan ada kalimat dari Faris:

Kalau Nadira sudah menikah, lebih gampang minta dia fokus keluarga. Urusan usaha biar kita yang pegang.

Tanganku tetap tenang di atas meja.

“Terus dokumen yang kemarin kamu foto?”

“Oh, itu.”

Bimo tampak bangga.

“Mas Faris sudah siapkan konsepnya. Bukan jual rumah, kok. Cuma surat kuasa pengelolaan.”

“Bisa kirim ke aku? Aku mau baca.”

Tanpa curiga sedikit pun, ia mengirimkan file PDF tersebut.

Kesalahan terbesar mereka selesai hanya dengan satu tombol kirim.

Malam itu aku tidak pulang langsung.

Aku pergi menemui Rendra, konsultan hukum perusahaan yang sudah bekerja denganku sejak empat tahun lalu.

Besok paginya, kami mengundang akuntan internal untuk memeriksa transaksi tiga bulan terakhir.

Hasilnya lebih buruk daripada dugaanku.

Faris memakai fasilitas perusahaan untuk biaya yang tidak pernah kusetujui.

Rp18 juta untuk furnitur kamar bayi.

Rp11 juta untuk upgrade kamar rumah sakit.

Beberapa pembayaran makan keluarga dimasukkan sebagai “jamuan klien”.

Ada juga transfer total Rp27 juta ke sebuah pemasok baru.

Ketika dicek, pemilik pemasok itu ternyata sepupu Bimo.

Total transaksi bermasalah mencapai hampir Rp89 juta.

Belum tentu semuanya pidana.

Tapi semuanya cukup untuk audit internal dan pencabutan akses keuangan.

Aku segera membekukan kartu perusahaan yang selama ini dipegang Faris dan meminta bagian keuangan menghentikan semua pembayaran vendor baru sampai pemeriksaan selesai.

Sore harinya, Faris meneleponku berkali-kali.

Aku tidak mengangkat.

Malamnya aku pulang dan mendapati ruang makan penuh orang.

Bu Marni rupanya mengundang dua saudara dari Solo.

Bimo juga ada di sana.

Di meja terdapat kotak kue, buah, dan map cokelat.

Aku baru melangkah masuk ketika Bu Marni berkata,

“Nah, calon pengantinnya pulang.”

Aku melepas sepatu perlahan.

“Ada acara apa?”

“Sekalian bicara serius.”

Ibuku duduk di ujung meja.

Faris memasang wajah tegang.

Laila menghindari tatapanku.

Bimo mendorong map cokelat itu ke arahku.

“Ini cuma kesepakatan awal.”

Aku membukanya.

Isinya persis file yang sudah ia kirim.

Surat kuasa pengelolaan rumah.

Surat persetujuan akses rekening usaha.

Dan satu dokumen tambahan yang belum pernah kulihat.

Rencana penempatan Bimo sebagai koordinator pembelian di perusahaan.

Aku menatap Faris.

“Kamu membuat ini?”

Ia tidak menyangkal.

“Supaya semuanya lebih rapi setelah kamu menikah.”

“Siapa yang bilang aku mau menyerahkan pekerjaanku?”

Bu Marni memukul meja.

“Jangan mulai lagi! Kamu sudah setuju kenalan. Kalau memang serius menikah, harus belajar percaya pada laki-laki.”

Aku tertawa kecil.

“Jadi syarat menikah dengan keponakan Ibu adalah menyerahkan rumah dan pekerjaan?”

Wajahnya berubah.

“Jangan dibalik-balik.”

Faris akhirnya berdiri.

“Nadira, cukup.”

Nada suaranya meninggi.

“Selama ini kamu merasa paling berjasa karena pegang administrasi. Padahal usaha itu dibangun dari nama Ayah.”

Aku menatapnya.

“Lanjutkan.”

“Kalau kamu terus egois, jangan kerja di sana lagi.”

Ibu ikut bicara.

“Dengarkan kakakmu.”

Faris menunjuk ke arah pintu.

“Dan kalau tidak mau mengikuti aturan keluarga, keluar saja dari rumah ini malam ini.”

Untuk pertama kalinya malam itu, aku tersenyum lebar.

Aku berjalan ke kamar.

Bu Marni berseru dari belakang,

“Nah, bagus! Kemasi barangmu sekalian!”

Aku kembali membawa sebuah map hitam.

Kutaruh di meja tepat di depan Faris.

“Tidak perlu aku yang mengemasi barang.”

Kukeluarkan selembar salinan sertifikat.

“Baca halaman pertama.”

Faris mengambilnya dengan kasar.

Matanya bergerak dari baris pertama ke baris berikutnya.

Kemudian wajahnya kehilangan warna.

Bu Marni membungkuk penasaran.

“Apa?”

Faris tidak menjawab.

Karena di kolom pemegang hak atas rumah yang baru saja ia suruh kutinggalkan, hanya tercetak satu nama.

Namaku.

Bagian 3 — Saat Mereka Mengira Aku Sudah Terpojok, Notaris Membuka Dokumen yang Membuat Semua Penghinaan Mereka Berbalik Menjadi Tagihan Nyata Hari Itu

“Ini pasti cuma formalitas.”

Bu Marni menjadi orang pertama yang mencoba menyangkal.

Aku memandangnya.

“Formalitas di Badan Pertanahan?”

Ia langsung diam.

Rumah di Bekasi itu kubeli empat tahun lalu, ketika Faris dan Laila baru menikah.

Ibu ingin kami tinggal berdekatan.

Karena Faris belum mempunyai uang muka, aku mengambil rumah tersebut atas namaku dan membayar cicilannya dari penghasilanku.

Awalnya aku memang berniat membiarkan keluarga tinggal bersama selama semuanya saling menghormati.

Kesalahanku hanya satu.

Aku tidak pernah merasa perlu mengumumkan siapa pemiliknya setiap hari.

Faris membanting sertifikat ke meja.

“Rumah boleh atas namamu. Tapi usaha Ayah beda.”

Aku mengangguk.

“Benar. Usaha Ayah memang berbeda.”

Keesokan paginya, seperti sudah kurencanakan, aku meminta mereka datang ke kantor notaris di Bekasi Selatan.

Bu Marni datang karena masih yakin aku sedang menggertak.

Faris datang dengan wajah keras.

Ibu ikut.

Bimo tidak berani hadir.

Di depan mereka, Pak Hendra, notaris yang menangani pendirian perusahaanku, membuka dokumen satu per satu.

Usaha kecil Ayah dulu bernama UD Cahaya Kemasan.

Setelah Ayah meninggal, utangnya hampir Rp600 juta dan sebagian besar aset sudah dijual untuk menutup kewajiban.

Perusahaan tempat Faris bekerja sekarang bukan usaha itu.

Empat tahun lalu aku mendirikan badan usaha baru bernama PT Arunika Kemasan Nusantara menggunakan modal pribadiku dan investasi seorang rekan bisnis.

Sahamku delapan puluh dua persen.

Sisanya milik investor.

Faris?

Tidak mempunyai satu lembar saham pun.

Ia adalah kepala operasional bergaji Rp24 juta per bulan.

Mobil yang ia pakai milik perusahaan.

Laptop yang ia gunakan milik perusahaan.

Kartu pembayaran yang ia banggakan juga milik perusahaan.

Aku memandang kakakku.

“Semalam kamu menyuruhku berhenti dari perusahaan yang kamu kira milikmu.”

Faris tidak mampu menjawab.

Aku kemudian menggeser hasil audit ke arahnya.

“Ini transaksi yang harus kamu jelaskan.”

Ia membaca angka Rp89 juta dan langsung menatap Laila.

Laila pucat.

“Aku tidak tahu soal vendor itu.”

“Aku percaya,” jawabku. “Karena nama yang mengusulkan vendor adalah Faris.”

Bu Marni mulai berdiri.

“Ini urusan kakak-adik. Tidak usah dibesar-besarkan.”

Aku menatapnya dingin.

“Waktu Ibu menampar saya di rumah saya sendiri, memaksa saya menikahi keponakan Ibu, dan ikut merencanakan penguasaan aset saya, Ibu juga sedang mencampuri urusan kakak-adik.”

Ia kembali duduk.

Rendra lalu menyerahkan surat pemberitahuan resmi.

Akses Faris terhadap rekening perusahaan dicabut selama audit.

Ia dibebastugaskan dari aktivitas operasional sampai pemeriksaan selesai.

Mobil perusahaan harus dikembalikan hari itu juga.

Vendor milik kerabat Bimo dihentikan.

Untuk transaksi pribadi yang dibebankan ke perusahaan, Faris diberi pilihan: mengembalikan dana secara bertahap atau menghadapi proses hukum dan ketenagakerjaan sesuai hasil pemeriksaan.

Ia memilih mencicil.

Aku belum selesai.

“Untuk rumah, aku memberi waktu tiga puluh hari kepada Faris dan Laila untuk mencari tempat tinggal.”

Ibu menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Kamu mengusir kakakmu saat istrinya hamil?”

“Aku memberi mereka tiga puluh hari.”

Aku menahan suaraku agar tetap tenang.

“Aku juga tidak membatalkan asuransi kesehatan Laila dan tidak akan mengganggu pemeriksaan kandungannya. Bayi itu tidak melakukan kesalahan.”

Laila akhirnya menangis.

Bukan karena marah.

Ia menunduk.

“Nadira… aku minta maaf.”

Aku tidak langsung memaafkannya.

Permintaan maaf tidak menghapus tiga tahun perlakuan buruk dalam satu menit.

Tapi setidaknya ia adalah orang pertama yang mengakui kesalahan tanpa mencari alasan.

Bu Marni berbeda.

Ia masih mencoba menyalahkanku sampai kami keluar dari kantor notaris.

Katanya aku mempermalukan keluarga.

Katanya perempuan yang terlalu mandiri akan kesulitan mendapat pasangan.

Aku hanya menjawab,

“Lebih baik sendiri daripada menikah dengan orang yang datang membawa surat kuasa atas rumah saya.”

Bimo memblokir nomorku sore itu.

Aku menganggapnya hadiah.

Tiga minggu kemudian, Faris dan Laila pindah ke rumah kontrakan di Tambun.

Tanpa mobil kantor dan fasilitas perusahaan, Faris akhirnya merasakan berapa banyak biaya hidup yang selama ini diam-diam ditanggung oleh pekerjaanku.

Hasil audit membuatnya kehilangan posisi kepala operasional.

Ia dipindahkan ke tugas nonmanajerial selama masa penyelesaian kewajiban sebelum akhirnya mengundurkan diri beberapa bulan kemudian.

Laila mulai menjual makanan beku dari rumah dan perlahan membangun penghasilannya sendiri.

Hubungan kami tidak langsung akrab.

Namun setidaknya ia berhenti memerintahku.

Bu Marni pulang ke Solo.

Setelah rencana perjodohannya terbongkar, bahkan beberapa kerabat yang tadinya ikut mendukung mulai menjaga jarak darinya.

Ibuku memilih tetap tinggal bersamaku.

Tapi kali ini aku membuat aturan yang jelas.

Tidak ada lagi kalimat “kamu perempuan, jadi harus mengalah”.

Tidak ada tamu yang boleh mengatur rumah.

Dan tidak ada satu rupiah pun milikku yang boleh dijanjikan kepada orang lain tanpa izinku.

Suatu malam, hampir dua bulan setelah semuanya selesai, Ibu mengetuk pintu ruang kerjaku.

Ia membawa teh hangat.

“Nadira.”

Aku menoleh.

Ibu duduk di depanku cukup lama sebelum berkata,

“Ibu terlalu lama menganggap Faris harus diutamakan hanya karena dia anak laki-laki.”

Aku tidak menjawab.

“Ibu salah.”

Itu bukan kalimat yang bisa mengembalikan tahun-tahun yang hilang.

Tapi untuk pertama kalinya, aku mendengarnya.

Aku menerima tehnya.

Bukan berarti semua luka selesai.

Hanya berarti hidupku akhirnya tidak lagi diatur oleh rasa bersalah yang mereka tanamkan.

Beberapa bulan kemudian, aku merekrut kepala operasional profesional untuk perusahaan.

Penjualan kami tumbuh.

Rumah menjadi jauh lebih tenang.

Kamar yang dulu ingin direbut Bu Marni kuubah menjadi ruang kerja dengan rak besar di sepanjang dinding.

Suatu sore aku membeli satu buah nanas, memotongnya di dapur, lalu duduk di teras sambil menikmatinya sendirian.

Tidak ada yang berteriak.

Tidak ada yang menyuruhku meminta izin.

Dan yang paling membuatku lega, tidak ada lagi orang yang berani mengatakan aku harus menyerahkan hidupku hanya supaya mereka merasa nyaman.

Ternyata aku tidak membutuhkan siapa pun untuk “memperbaiki nasibku”.

Aku hanya perlu berhenti membiarkan orang lain hidup enak dengan mengorbankan hidupku.