SANG GURU MENGIRA DIA HANYALAH KURIR MISKIN YANG DATANG MEMOHON AGAR ANAKNYA BISA BERSEKOLAH — SAMPAI RAPAT DARURAT MEMBUAT SELURUH SEKOLAH BERDIRI UNTUK MENYAMBUTNYA
BAGIAN 1
Pagi itu, hujan deras telah mengguyur kota sejak langit bahkan belum benar-benar terang. Halaman sebuah sekolah swasta ternama dipenuhi genangan air, sementara para orang tua buru-buru mengantar anak-anak mereka sebelum segera pergi.
Nadira sedang berdiri di depan ruang guru ketika melihat seorang pria asing.
Usianya sekitar awal empat puluhan. Ia mengenakan jaket kurir yang warnanya sudah memudar, celana panjang gelap, dan sepatu lama yang masih berlumuran lumpur. Sepeda motor yang terparkir di luar gerbang pun terlihat biasa saja.
Di tangannya ada sebuah ransel anak berwarna kuning.
Petugas keamanan langsung menghentikannya.
—Kalau Anda mengantar barang, tinggalkan saja di meja keamanan. Anda tidak boleh masuk sendiri ke area kelas.
Pria itu menjawab dengan tenang.
—Saya bukan mengantar barang. Saya ingin bertemu dengan wali kelas dua.

Petugas keamanan memandang pakaiannya dari atas sampai bawah. Wajahnya langsung menunjukkan ketidaksabaran.
—Sudah membuat janji?
—Belum.
—Kalau begitu tunggu di luar.
Mendengar percakapan mereka, Nadira segera menghampiri.
—Anda mencari siapa?
Pria itu menatapnya.
—Nama saya Arga. Saya ingin bertanya tentang seorang murid bernama Bima.
Nadira terdiam sejenak.
Bima adalah murid yang baru pindah ke kelasnya tiga minggu lalu.
Anak itu pendiam dan sering duduk sendirian saat jam istirahat. Dalam berkas sekolahnya, informasi mengenai kedua orang tuanya hampir kosong. Hanya ada nama seorang wali dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
—Anda keluarga Bima?
Arga terdiam beberapa detik sebelum mengangguk.
—Bisa dibilang begitu.
Jawaban yang aneh itu membuat Nadira waspada.
—Maaf, kalau Anda tidak bisa membuktikan hubungan Anda dengan murid tersebut, saya tidak dapat memberikan informasi apa pun.
Alih-alih tersinggung, Arga justru tersenyum.
—Anda melakukan hal yang benar.
Ia menyerahkan ransel kuning itu kepada Nadira.
—Bima melupakan ini tadi pagi. Obat alerginya ada di dalam.
Begitu mendengar kata “alergi”, ekspresi Nadira langsung berubah.
Ia segera menerima ransel tersebut.
—Terima kasih.
Tepat saat itu, Bima berlari dari ujung koridor.
Begitu melihat Arga, anak itu langsung berhenti.
Nadira mengira Bima akan berlari dengan gembira lalu memeluk pria tersebut.
Namun ternyata tidak.
Bima justru menundukkan kepala, kedua tangannya mencengkeram ujung bajunya.
Arga juga tidak menghampirinya.
Ia hanya meletakkan sebuah kantong kertas kecil di kursi dekat mereka.
—Sarapanmu. Jangan melewatkan sarapan lagi.
Bima menjawab lirih.
—Iya, aku tahu.
Setelah itu, Arga berbalik dan pergi.
Nadira memandang punggungnya dengan penuh tanda tanya.
Sore harinya, ia bertanya kepada Bima.
—Paman Arga itu siapa?
Bima terdiam sangat lama.
—Dia orang baik.
Hanya itu jawabannya.
Sejak hari tersebut, Arga mulai sering muncul.
Terkadang ia membawakan buku untuk Bima. Di lain waktu, ia memperbaiki sepeda tua milik anak itu. Ada pula hari-hari ketika ia hanya berdiri di luar gerbang, memastikan Bima masuk sekolah sebelum pergi.
Perlahan, Nadira mulai terbiasa dengan kehadirannya.
Suatu sore, hujan deras tiba-tiba turun. Kendaraan Nadira tidak bisa dinyalakan.
Arga yang kebetulan berada tidak jauh dari sana segera membungkuk untuk memeriksanya.
—Akinya sudah lemah.
—Anda juga bisa memperbaiki kendaraan?
—Sedikit.
Sepuluh menit kemudian, kendaraan itu kembali menyala.
Nadira ingin memberinya uang, tetapi Arga menggeleng.
—Anda sudah menjaga Bima dengan baik. Anggap saja impas.
—Anda benar-benar bekerja sebagai kurir?
Arga memandang jaket yang dikenakannya, lalu tertawa.
—Saya terlihat seperti kurir?
—Sangat.
—Kalau begitu, anggap saja begitu.
Nadira tidak bertanya lebih jauh.
Perlahan, mereka menjadi teman.
Arga sering duduk di warung makan kecil di seberang sekolah sambil menunggu Bima pulang. Sesekali Nadira ikut makan siang di sana.
Nadira bercerita kepadanya tentang anak-anak dari keluarga kurang mampu yang ditolak sekolah karena orang tua mereka tidak sanggup membayar biaya pendidikan.
—Ini sekolah swasta —kata Arga— menurut Anda, bukankah hal seperti itu wajar?
Nadira mengaduk tehnya.
—Saya mengerti sekolah membutuhkan uang untuk beroperasi. Tapi anak yang pintar seharusnya tidak kehilangan kesempatan hanya karena orang tuanya miskin.
—Kalau Anda menjadi kepala sekolah, apa yang akan Anda lakukan?
—Saya akan membuat dana beasiswa.
—Uangnya dari mana?
—Dari orang-orang kaya.
Arga hampir tersedak minumannya.
Nadira tertawa.
—Kenapa?
—Tidak apa-apa. Saya hanya penasaran orang kaya mana yang cukup sial sampai menjadi sasaran Anda.
—Kalau saya bertemu orang seperti itu, saya tidak akan membiarkannya kabur.
Arga tertawa lama.
Nadira sama sekali tidak menyadari bahwa candaan tersebut suatu hari akan kembali kepadanya.
Sebulan kemudian, sebuah masalah terjadi di sekolah.
Ibu dari salah seorang siswi bekerja menjual makanan di pasar dan terlambat membayar uang sekolah selama dua bulan.
Pihak manajemen memutuskan untuk menangguhkan kegiatan belajar anak tersebut.
Nadira menentangnya.
Ia bahkan bersedia menggunakan tabungannya sendiri untuk membayar sebagian biaya terlebih dahulu, tetapi bagian keuangan menolak.
—Ini keputusan pihak manajemen.
—Anak itu sebentar lagi menghadapi ujian akhir semester.
—Itu bukan tanggung jawab Anda.
Nadira marah.
—Kalau pendidikan anak-anak bukan tanggung jawab seorang guru, lalu apa tanggung jawab saya?
Pertengkaran itu dengan cepat sampai ke telinga kepala sekolah.
Keesokan paginya, Nadira menerima surat peringatan.
Pada hari yang sama, Arga datang ke sekolah.
Ia menemukan Nadira duduk sendirian di warung seberang sekolah dengan mata memerah.
—Ada apa?
—Tidak ada apa-apa.
—Anda sangat buruk dalam berbohong.
Akhirnya Nadira menceritakan semuanya.
Setelah mendengarnya, Arga hanya bertanya.
—Kalau karena masalah ini Anda kehilangan pekerjaan, apakah Anda akan menyesal?
Nadira terdiam beberapa detik.
—Tentu saja saya takut. Saya masih harus menghidupi ibu dan adik perempuan saya. Tapi kalau hari ini saya memilih diam, kelak saya tidak akan berani menatap murid-murid saya lagi.
Arga menatapnya lama.
—Saya mengerti.
—Mengerti apa?
—Tidak apa-apa.
Ia berdiri.
—Besok Anda tetap datang bekerja, kan?
—Tentu saja.
—Bagus.
Keesokan paginya, begitu memasuki sekolah, Nadira langsung merasa ada sesuatu yang berbeda.
Deretan mobil mewah memenuhi halaman.
Semua kepala bagian mengenakan pakaian resmi.
Kepala sekolah berkali-kali membenahi dasinya, sementara manajer administrasi mondar-mandir seolah sedang menunggu kedatangan seseorang yang sangat penting.
Seorang rekan kerja menarik Nadira ke samping.
—Kamu belum dengar? Pemilik seluruh jaringan sekolah ini akan datang hari ini.
Nadira terkejut.
—Sekolah berganti pemilik?
—Bukan. Katanya orang yang sebenarnya berada di balik kelompok pendidikan ini hampir tidak pernah muncul secara langsung. Hari ini dia sendiri yang memanggil rapat darurat.
Nadira tidak terlalu memikirkannya.
Namun baru saja ia memasuki ruang guru, sebuah pemberitahuan datang. Semua staf diwajibkan segera berkumpul di aula.
Hampir dua ratus guru dan pegawai memenuhi ruangan tersebut.
Kepala sekolah berdiri di atas panggung. Ia terlihat begitu gugup hingga suaranya sedikit bergetar.
—Hari ini, pendiri sekaligus pemegang saham pengendali jaringan sekolah kita akan secara langsung mengumumkan sejumlah perubahan penting.
Pintu besar di belakang aula terbuka.
Semua jajaran manajemen langsung berdiri.
Nadira pun secara refleks menoleh.
Sekelompok orang mengenakan setelan formal memasuki aula.
Di tengah mereka berjalan seorang pria tinggi dengan setelan hitam sederhana.
Tidak ada lagi jaket kurir lusuh.
Tidak ada lagi sepatu berlumpur.
Rambutnya tertata rapi, dan pembawaannya yang tenang serta berwibawa membuatnya terlihat sama sekali berbeda dari pria yang biasa duduk makan di warung kecil di depan sekolah.
Pena di tangan Nadira jatuh ke lantai.
Arga.
Pria yang selama ini ia kira hanyalah seorang kurir.
Kepala sekolah buru-buru turun dari panggung dan menjabat tangannya dengan penuh hormat.
—Pak Arga, merupakan kehormatan besar bagi kami karena Anda bersedia datang langsung ke sini.
Seluruh aula mendadak sunyi.
Arga tidak memandang kepala sekolah.
Tatapannya melewati ratusan orang sebelum akhirnya berhenti tepat pada Nadira.
Kemudian ia berjalan naik ke panggung.
—Sebelum kita memulai rapat ini, ada dua hal yang ingin saya selesaikan terlebih dahulu.
Suaranya tenang, tetapi tidak seorang pun di ruangan itu berani berbicara.
—Hal pertama berkaitan dengan seorang murid yang kegiatan belajarnya ditangguhkan hanya karena keluarganya terlambat membayar uang sekolah.
Wajah kepala sekolah seketika memucat.
Arga meletakkan sebuah berkas di atas meja.
—Hal kedua berkaitan dengan seorang guru yang menerima surat peringatan karena berusaha membela murid tersebut.
Tubuh Nadira menegang.
Kepala sekolah buru-buru berkata.
—Pak, mungkin Anda belum mengetahui keseluruhan masalah ini…
Arga mengangkat satu tangan.
Seluruh aula langsung kembali sunyi.
Ia mengeluarkan selembar kertas yang terlipat rapi dari saku jasnya.
Nadira langsung mengenalinya.
Itu adalah rancangan dana beasiswa yang pernah ia tulis asal-asalan di atas selembar kertas saat mereka makan di warung, lalu menunjukkannya kepada Arga.
Namun ucapan Arga berikutnya benar-benar membuat semua orang terdiam.
—Mulai hari ini, saya akan mendirikan sebuah dana pendidikan baru. Orang yang bertanggung jawab langsung atas dana ini bukan kepala sekolah, dan juga bukan anggota mana pun dari jajaran manajemen saat ini.
Ia menatap lurus ke arah Nadira.
—Orang yang saya pilih adalah Bu Nadira.
Aula langsung dipenuhi suara bisik-bisik.
Nadira spontan berdiri.
—Kenapa harus saya?
Arga terdiam beberapa detik.
Kemudian ia menoleh ke arah pintu.
—Karena ada satu hal lain yang selama ini saya sembunyikan dari Anda.
Pintu aula kembali terbuka.
Bima masuk bersama seorang perempuan lanjut usia yang membawa setumpuk berkas tebal.
Begitu melihat perempuan tersebut, wajah kepala sekolah langsung pucat pasi.
Arga menoleh kepada Nadira.
—Anda pernah bertanya kepada saya siapa sebenarnya Bima. Hari ini saya akan menjawabnya. Tetapi begitu Anda mengetahui kebenaran tentang anak itu… Anda juga akan mengerti mengapa selama ini saya memilih hidup seperti orang biasa.
Perempuan tua itu meletakkan berkas di atas meja.
Pada halaman pertama terlihat jelas sebuah hasil tes hubungan biologis.
Nadira membaca nama yang tercantum di sana.
Matanya seketika membelalak.
Karena nama yang tertulis pada kolom “ayah biologis” sama sekali bukan orang yang selama ini dipikirkan semua orang…
BAGIAN 2
Nama yang tercantum pada kolom ayah biologis itu adalah Rendra Mahesa.
Nadira tidak mengenal nama tersebut.
Namun reaksi orang-orang di sekelilingnya membuatnya sadar bahwa nama itu bukan nama biasa.
Kepala sekolah bahkan harus berpegangan pada sisi meja.
—Tidak mungkin…
Arga menatapnya tajam.
—Mengapa tidak mungkin, Pak? Bukankah Anda mengenal nama itu dengan sangat baik?
Suasana aula semakin mencekam.
Perempuan lanjut usia yang datang bersama Bima membuka berkas berikutnya.
Arga kemudian menjelaskan bahwa Rendra adalah sahabat masa kecilnya sekaligus salah satu orang yang ikut membangun yayasan pendidikan tersebut bertahun-tahun lalu.
Namun namanya tidak pernah muncul di hadapan publik.
Rendra berasal dari keluarga sederhana. Setelah dewasa, ia membangun usaha kecil dan menggunakan sebagian besar keuntungannya untuk membantu anak-anak yang tidak mampu bersekolah.
Dialah yang pertama kali mengusulkan kepada Arga agar jaringan sekolah mereka menyediakan tempat bagi siswa dari keluarga kurang mampu.
Namun beberapa tahun lalu, Rendra meninggal karena sakit.
Sebelum meninggal, ia menitipkan sebuah rahasia kepada Arga.
Bima adalah putranya.
Ibu Bima telah meninggal lebih dulu ketika anak itu masih kecil.
—Rendra meminta saya tidak membesarkan Bima sebagai anak orang kaya —kata Arga.—Dia ingin putranya tumbuh dengan memahami kehidupan orang biasa.
Nadira menatap Bima.
Anak itu berdiri diam sambil menggenggam tangan perempuan tua di sampingnya.
—Lalu mengapa Bima masuk ke sekolah ini dengan data keluarga yang hampir kosong? —tanya Nadira.
Arga menghela napas.
—Karena saya ingin mengetahui sesuatu.
Ia berbalik menghadap seluruh jajaran manajemen.
—Saya ingin tahu apakah sekolah yang kami bangun masih menjalankan cita-cita awalnya ketika tidak ada nama besar, uang, atau kekuasaan yang berdiri di belakang seorang anak.
Tak seorang pun berbicara.
Arga sengaja mendaftarkan Bima sebagai anak dari keluarga biasa. Ia bahkan beberapa kali datang mengenakan pakaian sederhana untuk mengamati bagaimana staf memperlakukan orang yang mereka anggap tidak memiliki status.
Hasilnya membuatnya kecewa.
Beberapa guru sangat baik.
Namun sistem sekolah perlahan berubah menjadi tempat yang mengukur anak berdasarkan kemampuan finansial keluarganya.
Dan yang paling buruk, sejumlah dana beasiswa yang seharusnya diberikan kepada siswa kurang mampu ternyata tidak pernah sampai kepada mereka.
Kepala sekolah langsung berdiri.
—Pak Arga, saya bisa menjelaskan!
—Silakan.
Arga meletakkan beberapa laporan keuangan di atas meja.
—Jelaskan mengapa selama tiga tahun terakhir dana bantuan terus dicairkan, tetapi jumlah penerima beasiswa justru menurun.
Wajah kepala sekolah berubah pucat.
Manajer administrasi di sampingnya mulai gelisah.
Ternyata perempuan lanjut usia yang datang bersama Bima bukan sekadar pengasuh.
Ia adalah seorang auditor senior yang selama dua bulan terakhir memeriksa keuangan yayasan atas permintaan Arga.
Mereka menemukan serangkaian pengeluaran mencurigakan.
Sebagian dana pendidikan dialihkan ke acara mewah, fasilitas eksekutif, dan berbagai proyek yang sama sekali tidak membantu murid.
Nadira akhirnya mengerti mengapa kepala sekolah ketakutan sejak melihat perempuan tersebut.
Arga tidak langsung memecat siapa pun.
Ia memerintahkan audit independen menyeluruh dan meminta semua pihak yang terlibat bertanggung jawab sesuai hasil pemeriksaan.
Kemudian ia kembali menatap Nadira.
—Sekarang Anda mengerti mengapa saya memilih Anda?
Nadira menggeleng perlahan.
—Tidak. Justru sekarang saya semakin merasa saya bukan orang yang tepat. Saya hanya seorang guru.
—Itulah alasannya.
Arga mengambil kertas rancangan beasiswa milik Nadira.
—Ketika Anda menulis ini, Anda tidak tahu siapa saya. Anda tidak sedang mencoba membuat saya terkesan. Anda bahkan mengatakan akan mengejar orang kaya sampai mereka tidak bisa kabur.
Beberapa guru tertawa kecil.
Nadira memerah.
—Saya tidak tahu Anda salah satunya.
—Sekarang sudah tahu.
Untuk pertama kalinya sejak rapat dimulai, Arga tersenyum.
Namun Nadira tetap serius.
—Saya tidak bisa menerima jabatan hanya karena kita berteman.
Senyum Arga perlahan menghilang.
—Saya juga tidak ingin Anda menerimanya karena itu.
—Kalau begitu buat proses seleksi terbuka. Biarkan guru lain mengajukan gagasan. Pilih orang berdasarkan kemampuan, bukan kedekatan dengan pemilik.
Aula kembali sunyi.
Banyak orang menatap Nadira seolah ia baru saja menolak kesempatan terbesar dalam hidupnya.
Arga justru terlihat puas.
—Baik.
Nadira terkejut.
—Baik?
—Kita lakukan seperti itu. Seleksi terbuka, penilaian independen, dan laporan penggunaan dana dapat dilihat oleh seluruh guru serta orang tua.
Ia menoleh kepada para staf.
—Mulai hari ini, tidak boleh ada lagi satu orang yang memiliki kekuasaan mutlak menentukan masa depan seorang anak.
Tepuk tangan pertama terdengar dari barisan belakang.
Kemudian disusul tepuk tangan kedua.
Dalam beberapa detik, hampir seluruh aula berdiri.
Nadira melihat Bima tersenyum untuk pertama kalinya.
Ia mengira semuanya telah selesai.
Namun ketika rapat berakhir dan orang-orang mulai meninggalkan aula, Bima tiba-tiba menarik ujung bajunya.
—Bu Nadira…
—Ya?
Anak itu menatap Arga, lalu kembali menatap Nadira.
—Boleh saya meminta sesuatu?
—Apa?
Bima menggigit bibirnya.
—Jangan marah kepada Paman Arga.
Nadira tersenyum kecil.
—Saya tidak marah.
Bima menggeleng.
—Bukan soal dia kaya.
Nadira mengernyit.
Bima kemudian mengucapkan kalimat yang membuat Arga langsung membeku.
—Tentang alasan sebenarnya Paman Arga selalu datang ke sekolah.
Nadira menoleh.
—Apa maksudmu?
Bima memandang Arga polos.
—Paman bilang dia datang untuk mengawasi saya. Tapi sebenarnya setelah minggu pertama, dia datang karena ingin bertemu Bu Nadira.
—Bima!
Wajah Arga berubah untuk pertama kalinya.
Anak itu malah tersenyum lebar.
—Paman juga menyimpan karet rambut Bu Nadira di laci meja kerjanya.
Nadira membelalakkan mata.
—Karet rambut?
Arga menutup mata sebentar.
—Kita perlu membicarakan kebiasaanmu membuka laci orang lain.
Bima tertawa dan berlari keluar.
Nadira menatap Arga.
Pria yang beberapa menit lalu membuat seluruh jajaran manajemen terdiam kini tampak tidak tahu harus mengatakan apa.
—Jadi? —tanya Nadira.
Arga menarik napas panjang.
—Sepertinya saya masih punya satu rahasia lagi yang harus saya akui.
BAGIAN 3
Arga tidak langsung menjawab.
Ia mengajak Nadira keluar dari aula dan berjalan menuju warung kecil di seberang sekolah, tempat mereka biasanya makan siang.
Aneh rasanya melihat seorang pemilik jaringan sekolah besar duduk kembali di kursi plastik yang sama.
Nadira menyilangkan tangan.
—Saya menunggu.
Arga tersenyum canggung.
—Saya memang awalnya datang karena Bima.
—Lalu?
—Lalu saya melihat seorang guru berdebat dengan petugas keamanan demi membela seorang pria yang dikira kurir.
—Saya tidak membela Anda.
—Anda sedikit membela saya.
—Saya hanya menjalankan tugas.
—Itulah masalahnya.
Nadira terdiam.
Arga kemudian mengaku bahwa sejak istrinya meninggal beberapa tahun sebelumnya, ia hampir tidak pernah membiarkan siapa pun masuk terlalu dekat ke dalam kehidupannya.
Ia menghabiskan hidup dengan bekerja.
Bima menjadi satu-satunya keluarga yang benar-benar dekat dengannya.
Ketika mulai menyamar untuk mengamati sekolah, Arga tidak pernah berencana berteman dengan Nadira.
Namun Nadira memperlakukannya sama seperti orang lain.
Ia pernah memarahinya karena terlambat membawa obat Bima.
Pernah menyuruhnya memindahkan motor karena menghalangi gerbang.
Bahkan pernah meminta Arga membayar makan karena minggu sebelumnya Nadira yang membayar.
—Tidak pernah ada orang yang menyuruh saya membayar nasi goreng dengan nada setegas itu —kata Arga.
Nadira tertawa.
—Karena Anda memang berutang.
—Saya tahu.
Suasana di antara mereka menjadi lebih ringan.
Arga lalu mengeluarkan sesuatu dari dompetnya.
Sebuah karet rambut sederhana.
Nadira langsung mengenalinya.
Beberapa minggu sebelumnya, saat membantu Bima membuat proyek sekolah, rambut Nadira terus jatuh menutupi wajah. Karet rambutnya putus dan ia membuangnya ke meja.
Arga ternyata mengambilnya.
—Ini agak aneh —kata Nadira.
—Saya tahu.
—Sangat aneh.
—Saya juga tahu.
Nadira tertawa lagi.
Namun kemudian wajahnya kembali serius.
—Arga, saya tidak tahu kehidupan Anda sebenarnya seperti apa. Dunia kita terlalu berbeda.
—Mungkin.
—Dan saya tidak ingin suatu hari orang-orang mengatakan saya mendapatkan pekerjaan atau kesempatan karena hubungan dengan Anda.
Arga mengangguk.
—Karena itu saya akan menjaga jarak dari proses seleksi dana pendidikan.
Ia benar-benar menepati janjinya.
Selama dua bulan berikutnya, sebuah komite independen dibentuk.
Puluhan guru mengirimkan proposal.
Nadira juga ikut, tetapi ia tidak mendapat perlakuan khusus.
Ia menjalani wawancara, presentasi, pemeriksaan anggaran, dan evaluasi seperti peserta lain.
Proposal Nadira akhirnya terpilih bukan hanya karena gagasan beasiswanya.
Ia mengembangkan program yang jauh lebih besar.
Anak-anak dari keluarga kurang mampu mendapat bantuan biaya sekolah berdasarkan kebutuhan, sementara orang tua mereka juga dapat mengikuti pelatihan keterampilan gratis.
Sekolah membuka kelas tambahan pada akhir pekan.
Dana bantuan dipublikasikan secara transparan.
Tidak ada lagi siswa yang boleh dikeluarkan hanya karena terlambat membayar tanpa melalui proses pendampingan terlebih dahulu.
Nadira resmi menjadi direktur program pendidikan inklusif sambil tetap mengajar beberapa kelas setiap minggu.
Sementara itu, hasil audit lama diumumkan.
Beberapa pejabat sekolah terbukti menyalahgunakan kewenangan dan diberhentikan. Sebagian dana yang sebelumnya dialihkan berhasil dikembalikan ke program beasiswa.
Namun perubahan terbesar justru terjadi pada Arga.
Ia berhenti bersembunyi sepenuhnya di balik jajaran eksekutif.
Setiap bulan ia mengunjungi sekolah-sekolah dalam jaringannya, bukan untuk menghadiri acara mewah, melainkan berbicara langsung dengan guru, murid, petugas kebersihan, penjaga keamanan, dan orang tua.
Suatu sore, enam bulan kemudian, Nadira sedang menyusun laporan ketika Bima masuk ke ruangannya.
—Bu Nadira, ikut saya.
—Ke mana?
—Rahasia.
Bima menarik tangannya menuju halaman belakang sekolah.
Di sana berdiri sebuah bangunan kecil yang baru selesai direnovasi.
Nadira membaca papan di depannya.
PUSAT BELAJAR RENDRA
Di bawahnya terdapat kalimat sederhana:
Tidak ada anak yang boleh kehilangan masa depan hanya karena keluarganya sedang kesulitan.
Nadira menoleh.
Arga berdiri beberapa meter di belakangnya.
—Ini ide Anda?
—Bukan sepenuhnya. Ide awalnya milik Rendra. Anda yang membuat saya mengingatnya kembali.
Pusat tersebut menyediakan perpustakaan gratis, kelas sore, makanan tambahan bagi anak-anak yang membutuhkan, serta ruang konsultasi untuk keluarga.
Bima berdiri di depan foto kecil ayahnya.
Untuk pertama kalinya, ia bercerita kepada Nadira tentang Rendra.
Tentang seorang ayah yang selalu mengatakan bahwa menjadi kaya bukan berarti memiliki banyak uang, melainkan mampu membuat hidup orang lain sedikit lebih baik.
Mata Bima berkaca-kaca.
Arga berlutut di sampingnya.
—Ayahmu pasti bangga kepadamu.
Bima menggeleng.
—Bangga kepada kita.
Ia kemudian menggenggam tangan Arga dan Nadira sekaligus.
—Sekarang kita keluarga, kan?
Nadira dan Arga saling menatap.
Tak seorang pun langsung menjawab.
Bima mendesah seperti orang dewasa yang sedang menghadapi dua anak kecil keras kepala.
—Kalian lama sekali.
Ia melepaskan tangan mereka dan pergi.
Setahun berlalu.
Program Nadira berkembang ke beberapa sekolah lain.
Ratusan anak mendapat beasiswa.
Siswi yang dahulu hampir dikeluarkan karena ibunya terlambat membayar uang sekolah berhasil menjadi salah satu murid dengan nilai terbaik di kelasnya.
Pada hari pengumuman beasiswa tahun berikutnya, Nadira berdiri di aula yang sama tempat identitas Arga dahulu terbongkar.
Namun kali ini suasananya berbeda.
Tidak ada ketakutan.
Tidak ada kepala sekolah yang gemetar.
Di barisan depan duduk para orang tua dari berbagai latar belakang.
Setelah acara selesai, Nadira keluar menuju halaman.
Hujan ringan mulai turun.
Sebuah sepeda motor tua berhenti di depan gerbang.
Pengendaranya mengenakan jaket kurir lusuh.
Nadira menatapnya tidak percaya.
Arga membuka helm.
—Mau pulang?
Nadira tertawa.
—Anda membeli kembali jaket itu?
—Saya tidak pernah membuangnya.
—Kenapa?
—Karena dengan jaket ini saya bertemu seseorang yang berani mengatakan bahwa dia akan mengejar orang kaya sampai mereka tidak bisa kabur.
Nadira mendekatinya.
—Dan sekarang orang kaya itu sudah tertangkap?
Arga mengeluarkan sebuah kotak kecil.
Namun sebelum Nadira sempat salah paham, ia membukanya.
Di dalamnya bukan cincin.
Melainkan karet rambut baru.
Berwarna kuning, sama seperti ransel Bima pada hari pertama mereka bertemu.
—Saya pikir kita belum perlu terburu-buru dengan hal lain —kata Arga.—Tapi saya ingin bertanya satu hal. Mulai sekarang, bolehkah saya berhenti berpura-pura punya alasan untuk datang menemui Anda?
Nadira mengambil karet rambut itu.
—Boleh.
Arga tersenyum.
—Hanya itu?
—Untuk sekarang.
Dari pos keamanan terdengar suara Bima berteriak.
—Paman! Bu Nadira! Kalau kalian masih ngobrol terus, saya pulang sendiri!
Mereka berdua tertawa.
Dua tahun kemudian, halaman Pusat Belajar Rendra dipenuhi bunga dan lampu sederhana.
Tidak ada pesta mewah.
Hanya keluarga, guru, murid, beberapa sahabat lama, dan ratusan anak yang pernah menerima bantuan pendidikan.
Di sanalah Nadira dan Arga menikah.
Bima berdiri paling depan membawa sebuah kotak kecil berisi cincin.
Ketika tiba waktunya menyerahkan cincin, ia berbisik kepada Nadira.
—Dulu saya bilang Paman Arga orang baik. Ternyata saya benar, kan?
Nadira tersenyum.
—Hampir benar.
—Hampir?
Nadira melirik Arga.
—Kadang-kadang dia masih menyebalkan.
Bima tertawa paling keras.
Beberapa tahun kemudian, Nadira masih mengajar.
Arga masih sesekali datang ke sekolah tanpa rombongan dan tanpa mobil mewah.
Dan Bima tumbuh menjadi remaja yang selalu memperkenalkan Nadira sebagai orang yang mengajarinya bahwa sebuah sekolah bukanlah gedung mahal atau seragam bagus.
Sekolah adalah tempat seorang anak merasa masa depannya masih terbuka.
Suatu sore, Nadira menemukan jaket kurir lama Arga tersimpan rapi di lemari rumah.
Di sakunya masih ada karet rambut yang dahulu ia simpan.
Nadira membawanya keluar.
—Kenapa masih menyimpan semua ini?
Arga memandang jaket itu dan tersenyum.
—Karena dulu saya masuk ke sekolah itu untuk mencari tahu apakah masih ada orang yang percaya pada tujuan awal kami.
Ia menggenggam tangan Nadira.
—Ternyata saya menemukan lebih dari itu.
Di halaman, Bima sedang membantu beberapa anak membuat proyek sekolah.
Suara tawa mereka memenuhi rumah.
Nadira menyandarkan kepala di bahu Arga.
Dulu ia mengira pria berjaket lusuh di depan gerbang hanyalah seorang kurir yang datang mengantarkan ransel seorang anak.
Arga juga mengira ia hanya sedang menguji sebuah sekolah.
