SAAT PERGI KE BANK BERSAMA IBU MERTUAKU, AKU TAK SENGAJA MENEMUKAN BAHWA SUAMIKU TELAH MENJADIKAN RUMAH MILIKKU SEBAGAI JAMINAN UTANG — TAPI IBU MERTUAKU MALAH MENAHAN TANGANKU: “JANGAN BONGKAR SEKARANG. BIARKAN IBU LIHAT SEJAUH MANA DIA BERANI MELANGKAH.”

Avatar penulis
Cerita 05
17 menit baca 1,239 tayangan
SAAT PERGI KE BANK BERSAMA IBU MERTUAKU, AKU TAK SENGAJA MENEMUKAN BAHWA SUAMIKU TELAH MENJADIKAN RUMAH MILIKKU SEBAGAI JAMINAN UTANG — TAPI IBU MERTUAKU MALAH MENAHAN TANGANKU: “JANGAN BONGKAR SEKARANG. BIARKAN IBU LIHAT SEJAUH MANA DIA BERANI MELANGKAH.”
Indeks

SAAT PERGI KE BANK BERSAMA IBU MERTUAKU, AKU TAK SENGAJA MENEMUKAN BAHWA SUAMIKU TELAH MENJADIKAN RUMAH MILIKKU SEBAGAI JAMINAN UTANG — TAPI IBU MERTUAKU MALAH MENAHAN TANGANKU: “JANGAN BONGKAR SEKARANG. BIARKAN IBU LIHAT SEJAUH MANA DIA BERANI MELANGKAH.”

Aku tidak pernah menyangka sebuah pagi yang terlihat biasa saja bisa membalikkan seluruh pernikahanku yang telah berjalan selama enam tahun.

Hari itu, ibu mertuaku, Bu Ratih, memintaku menemaninya pergi ke bank.

Katanya, dia ingin memeriksa tabungan lama yang sudah disimpannya selama bertahun-tahun.

Aku sama sekali tidak curiga.

Sejak menikah dengan Farhan, hubunganku dengan ibu mertua sebenarnya cukup baik. Bu Ratih bukan tipe ibu mertua yang suka ikut campur dalam rumah tangga anaknya. Bahkan, beberapa kali ketika Farhan bersikap tidak peduli kepadaku, justru dia yang membelaku.

Kami baru saja duduk di meja pelayanan ketika seorang pegawai membawa beberapa dokumen.

Dia memandang layar komputernya, lalu tiba-tiba bertanya:

—Bu Ratih, apakah Ibu ingin memeriksa rekening tabungan atau berkas penjaminan pinjaman?

Ibu mertuaku mengernyit.

—Penjaminan pinjaman apa?

SAAT PERGI KE BANK BERSAMA IBU MERTUAKU, AKU TAK SENGAJA MENEMUKAN BAHWA SUAMIKU TELAH MENJADIKAN RUMAH MILIKKU SEBAGAI JAMINAN UTANG — TAPI IBU MERTUAKU MALAH MENAHAN TANGANKU: “JANGAN BONGKAR SEKARANG. BIARKAN IBU LIHAT SEJAUH MANA DIA BERANI MELANGKAH.”

Pegawai itu terdiam sesaat.

Dia kembali memeriksa layar sebelum menjawab:

—Pinjaman yang didaftarkan dua belas hari lalu. Aset yang dijadikan jaminan adalah sebuah rumah atas nama Ibu Nadira.

Aku langsung membeku.

Nadira adalah aku.

—Apa yang Bapak katakan?

Pegawai itu menoleh kepadaku.

—Rumah dua lantai yang tercatat sebagai milik Ibu telah dimasukkan sebagai jaminan untuk pinjaman usaha dengan nilai yang cukup besar.

Aku langsung berdiri.

—Tidak mungkin!

Rumah itu dibelikan oleh orang tuaku sebelum aku menikah.

Sertifikat dan seluruh dokumen aslinya selalu kusimpan di dalam brankas di rumah.

Yang lebih penting, aku tidak pernah menandatangani dokumen pinjaman apa pun.

Aku segera meminta pegawai tersebut menunjukkan berkasnya.

Namun tepat ketika dia hendak memutar layar komputer ke arahku, ibu mertuaku tiba-tiba mencengkeram pergelangan tanganku.

Cengkeramannya sangat kuat.

—Nadira.

Aku menoleh.

Wajahnya tenang dengan cara yang justru terasa menakutkan.

—Ibu, seseorang menggunakan rumahku untuk mendapatkan pinjaman!

—Ibu tahu.

Dua kata itu membuatku terpaku.

Aku menatapnya tanpa berkedip.

—Ibu tahu?

Bu Ratih tidak menjelaskan.

Dia hanya menoleh kepada pegawai bank dan dengan tenang mengatakan bahwa kami perlu memeriksa kembali beberapa dokumen keluarga sebelum menarikku keluar dari bank.

Begitu sampai di area parkir, aku langsung melepaskan tanganku.

—Ibu harus menjelaskan semuanya kepadaku. Sebenarnya apa yang terjadi?

Bu Ratih melihat sekeliling sebelum membuka pintu mobil.

—Masuk dulu.

—Aku tidak mau!

Suaraku hampir pecah.

—Rumah itu peninggalan orang tuaku. Kalau terjadi sesuatu, aku bisa kehilangan rumah itu!

Bu Ratih terdiam beberapa detik sebelum tiba-tiba bertanya:

—Kunci brankas di rumahmu, selain kamu, siapa lagi yang memilikinya?

Jantungku seolah jatuh.

—Farhan.

—Kata sandinya?

Aku tidak menjawab.

Karena jawabannya sudah terlalu jelas.

Farhan tahu.

Suamiku mengetahui semuanya.

Bu Ratih menatap lurus ke arahku.

—Kalau begitu, apa kamu masih perlu Ibu beri tahu siapa yang mengambil dokumen itu?

Kedua kakiku terasa lemas.

Namun yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa dia sudah mengetahui semua ini.

—Kalau Ibu sudah tahu, kenapa Ibu tidak memberitahuku?

Bu Ratih membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah ponsel lama.

Dia menunjukkan sebuah foto.

Di dalam foto itu, Farhan sedang duduk di sebuah kafe bersama adik laki-lakinya, Rafi.

Di atas meja terdapat sebuah map cokelat.

Aku langsung mengenalinya.

Itu adalah map tempat aku menyimpan dokumen rumahku.

—Tiga minggu lalu, Ibu tidak sengaja melihat mereka berdua bertemu dengan seorang perantara keuangan.

Aku bertanya dengan suara bergetar:

—Lalu kenapa Ibu tetap diam?

—Karena Ibu ingin tahu untuk apa mereka membutuhkan uang itu.

Bu Ratih menggeser layar ke foto berikutnya.

Terlihat sebuah toko besar yang sedang direnovasi.

Di bagian depan terdapat papan nama sebuah perusahaan yang sama sekali tidak kukenal.

Bu Ratih berkata:

—Farhan dan Rafi sedang mempersiapkan jaringan usaha baru.

Aku mengembuskan napas dalam kepedihan.

Setidaknya, itu masih berkaitan dengan bisnis.

Namun kalimat berikutnya menghancurkan sedikit harapan yang masih kumiliki.

—Perusahaan itu bukan atas nama Farhan.

—Juga bukan atas nama Rafi.

Aku menatapnya.

—Lalu atas nama siapa?

Bu Ratih belum sempat menjawab ketika ponselku bergetar.

Pesan dari Farhan.

“Aku ada rapat malam ini, mungkin pulang terlambat. Kamu makan dulu, ya.”

Pesan yang begitu biasa.

Sama seperti ratusan pesan yang dikirimkannya kepadaku selama enam tahun pernikahan kami.

Aku menatapnya lama.

Bu Ratih tiba-tiba berkata:

—Balas.

—Balas apa?

—Seperti biasa saja.

Aku menoleh kepadanya.

—Ibu ingin aku berpura-pura tidak tahu?

—Benar.

—Kenapa?

Tatapan Bu Ratih berubah dingin.

—Karena kalau sekarang kamu bertanya, dia hanya perlu mengatakan bahwa ada kesalahan dalam dokumen. Setelah itu dia bisa menghapus semua jejak.

Dia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.

—Kalau dia sudah berani mengambil aset istrinya untuk melakukan semua ini, Ibu ingin tahu berapa banyak hal lain yang masih dia sembunyikan.

Malam itu, aku pulang ke rumah seolah tidak terjadi apa-apa.

Hampir pukul sebelas malam, Farhan baru pulang.

Dia masuk ke kamar dan memelukku dari belakang.

—Kenapa belum tidur?

Aku memandang pria itu melalui cermin.

Masih wajah yang sama.

Masih suara lembut yang sama.

Aku bertanya:

—Rapatmu hari ini lancar?

Farhan menjawab tanpa sedikit pun keraguan.

—Lancar.

Dia bahkan mencium rambutku.

—Beberapa bulan ke depan mungkin aku akan sangat sibuk. Tapi kalau semuanya berjalan lancar, aku akan mengajakmu liburan.

Aku tersenyum.

—Baik.

Malam itu, aku berbaring di sampingnya tetapi tidak bisa tidur.

Sekitar pukul dua dini hari, Farhan tiba-tiba bangun.

Dia mengira aku sudah tertidur, lalu membawa ponselnya ke balkon.

Aku mendengar suaranya berbicara sangat pelan.

—Semua prosedurnya hampir selesai.

Hening beberapa saat.

Kemudian Farhan berkata:

—Dia belum tahu apa-apa.

Aku mencengkeram selimut.

—Jangan khawatir. Begitu pinjaman itu cair, kita bisa menjalankan langkah berikutnya.

Aku tidak bisa mendengar apa yang dikatakan orang di seberang telepon.

Namun kalimat terakhir Farhan membuat seluruh tubuhku membeku.

—Kalau Nadira?

Dia tertawa kecil.

—Setelah semuanya selesai, aku akan membuatnya menandatangani surat cerai dengan tangannya sendiri.

Keesokan paginya, aku langsung menemui ibu mertuaku.

Aku menceritakan semua yang kudengar.

Bu Ratih sama sekali tidak terlihat terkejut.

Dia hanya membuka sebuah laci dan mengeluarkan amplop.

—Sebenarnya Ibu berniat menunggu beberapa hari lagi sebelum memberikan ini kepadamu.

Aku menerimanya.

Di dalamnya terdapat dokumen pendaftaran perusahaan.

Mataku langsung tertuju pada bagian nama orang yang terdaftar sebagai perwakilan resmi perusahaan.

Nama seorang perempuan tercetak di sana.

Salma Pradani.

Aku tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya.

—Siapa dia?

Ibu mertuaku menatapku.

—Perempuan yang diam-diam menerima kiriman uang dari Farhan selama hampir dua tahun.

Kepalaku berdengung.

—Maksud Ibu, dia memiliki perempuan lain?

—Ibu belum menyimpulkan apa pun.

Bu Ratih mendorong setumpuk dokumen lain ke arahku.

—Tapi ada sesuatu yang jauh lebih serius.

Aku membukanya.

Itu adalah salinan sebuah kontrak.

Di halaman terakhir terdapat tanda tanganku.

Aku menatapnya beberapa detik sebelum langsung berdiri.

—Ini bukan tanda tanganku!

—Ibu tahu.

—Kalau begitu, kenapa bank bisa menerimanya?

Bu Ratih menatapku lama.

—Itulah yang sedang Ibu cari tahu.

Tepat saat itu, ponselnya berdering.

Yang menelepon adalah suaminya.

Bu Ratih mengangkat telepon.

Belum sampai sepuluh detik, ekspresi wajahnya berubah total.

—Kamu yakin?

Entah apa yang dikatakan dari seberang telepon.

Bu Ratih langsung berdiri.

—Tahan mereka di sana. Aku dan Nadira akan segera datang.

Dia menutup telepon.

Aku bertanya:

—Ada apa, Bu?

Dia menatapku.

Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku melihat kemarahan yang nyata di matanya.

—Farhan baru saja membawa seorang perempuan dan seorang anak ke rumah Ibu dan Ayah.

Jantungku berdetak keras.

—Salma?

—Benar.

Aku belum sempat bereaksi ketika Bu Ratih melanjutkan:

—Tapi itu belum bagian yang paling mengerikan.

Dia menyerahkan ponselnya kepadaku.

Di layar terlihat foto yang baru saja dikirim oleh ayah mertuaku.

Farhan berdiri di ruang tamu.

Di sebelahnya ada seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh tahun yang menggandeng tangan seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun.

Aku menatap anak itu.

Lalu seluruh tubuhku membeku.

Karena wajah bocah itu…

begitu mirip dengan Farhan hingga rasanya tidak membutuhkan penjelasan apa pun.

Tepat di bawah foto tersebut terdapat pesan dari ayah mertuaku:

“Farhan bilang hari ini dia membawa putra kandungnya pulang untuk bertemu dengan kakek dan neneknya.”

BAGIAN 2

Aku tidak ingat bagaimana caranya aku bisa sampai ke rumah ibu dan ayah mertua.

Sepanjang perjalanan, foto anak laki-laki itu terus memenuhi pikiranku.

Putra kandung Farhan.

Dua kata itu seperti menghantam kepalaku berulang kali.

Selama enam tahun menikah, Farhan selalu mengatakan belum siap memiliki anak. Setiap kali aku membicarakannya, dia meminta waktu.

—Kita masih muda, Nadira. Nikmati dulu hidup kita.

Dan aku mempercayainya.

Namun sekarang seorang bocah berusia sekitar lima tahun berdiri di rumah orang tuanya dan diperkenalkan sebagai putra kandungnya.

Begitu mobil berhenti, Bu Ratih langsung turun.

—Apa pun yang terjadi di dalam, jangan kehilangan kendali.

Aku menatapnya.

—Ibu masih ingin aku diam?

—Bukan diam.

Tatapannya tajam.

—Ibu ingin kamu mendengar semuanya sampai selesai. Setelah itu, keputusan ada di tanganmu.

Kami masuk.

Farhan berdiri di ruang tamu bersama Salma dan anak laki-laki itu. Rafi duduk tidak jauh darinya, sementara ayah mertua berdiri dengan wajah gelap.

Saat melihatku, Farhan langsung pucat.

—Nadira?

Aku tersenyum tipis.

—Kenapa? Aku tidak boleh pulang untuk bertemu putra kandung suamiku?

Salma segera menundukkan kepala.

Farhan melangkah mendekat.

—Dengarkan aku dulu. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan.

Aku hampir tertawa.

Kalimat paling klasik dari seseorang yang tertangkap menyembunyikan sesuatu.

Namun Bu Ratih mendahuluiku.

—Bagus. Kalau begitu jelaskan.

Farhan terdiam.

Bu Ratih duduk di sofa.

—Duduk semuanya.

Tidak ada yang berani membantah.

Setelah beberapa detik, Farhan akhirnya berkata bahwa Salma adalah mantan kekasihnya sebelum mengenalku.

Mereka berpisah, lalu Salma menikah dengan orang lain.

Beberapa tahun kemudian pernikahan Salma berakhir.

Saat itulah dia menghubungi Farhan dan mengatakan bahwa anaknya, Ilham, sebenarnya adalah anak Farhan.

—Aku baru tahu dua tahun lalu.

Farhan menatapku.

—Aku bersumpah.

Aku bertanya:

—Jadi selama dua tahun kamu diam-diam mengirim uang kepadanya?

Dia mengangguk.

—Aku bertanggung jawab sebagai ayah.

—Lalu perusahaan atas nama Salma?

Wajahnya berubah.

—Kamu tahu tentang itu?

Bu Ratih melemparkan salinan dokumen perusahaan ke atas meja.

—Kami tahu lebih banyak daripada yang kamu kira.

Rafi tiba-tiba berdiri.

—Kak, sebaiknya kita jelaskan saja.

Farhan menoleh tajam.

—Diam!

Namun terlambat.

Aku memandang Rafi.

—Jelaskan apa?

Rafi terlihat gugup.

Ternyata bisnis itu membutuhkan modal besar. Farhan tidak memiliki cukup uang dan pengajuan pinjamannya ditolak.

Kemudian dia mengetahui rumah milikku memiliki nilai tinggi dan tidak memiliki utang.

Maka dia mengambil dokumen dari brankas.

Aku merasa darahku mendidih.

—Dan memalsukan tanda tanganku?

Farhan buru-buru berkata:

—Aku hanya meminjamnya sementara! Setelah bisnis menghasilkan keuntungan, pinjaman itu akan kulunasi dan sertifikat rumahmu kembali.

—Tanpa memberitahuku?

Dia terdiam.

Aku menatap Salma.

—Kenapa perusahaan itu atas namamu?

Salma menggenggam tangan anaknya.

—Farhan yang memintanya.

Farhan langsung menyela:

—Karena status kreditku bermasalah!

Namun Bu Ratih tertawa dingin.

—Masih mau berbohong?

Dia mengeluarkan satu dokumen lagi.

—Perusahaan itu didirikan enam bulan sebelum Salma mengatakan akan bercerai dari mantan suaminya.

Ruangan mendadak sunyi.

Farhan membeku.

Bu Ratih melanjutkan:

—Dan selama hampir dua tahun, kamu memindahkan uang dari rekening bersama dengan Nadira ke rekening perusahaan ini.

Aku menatap Farhan.

Kali ini bahkan rasa sakit terasa berubah menjadi sesuatu yang dingin.

—Berapa banyak?

Dia tidak menjawab.

Bu Ratih menyebut jumlahnya.

Aku sampai kehilangan kata-kata.

Itu bukan sekadar uang Farhan.

Sebagian adalah tabunganku.

Uang yang kukumpulkan selama bertahun-tahun.

Aku bertanya:

—Jadi rencanamu apa?

—Nadira…

—Jawab.

Farhan akhirnya kehilangan kesabaran.

—Aku cuma ingin memulai hidup baru!

Aku membeku.

Dia menyadari ucapannya, tetapi sudah terlambat.

—Hidup baru dengan siapa?

Farhan tidak menjawab.

Salma mulai menangis.

Namun tiba-tiba anak kecil di sampingnya menarik bajunya.

—Mama, kita pulang saja.

Aku melihat Ilham.

Dia tidak bersalah.

Apa pun yang dilakukan orang dewasa, anak itu tidak seharusnya menanggung akibatnya.

Aku berlutut dan berkata lembut:

—Kamu tidak melakukan kesalahan apa pun. Jangan takut.

Farhan menatapku dengan ekspresi rumit.

Kemudian Bu Ratih berdiri.

—Sekarang giliran Ibu.

Dia mengambil ponselnya.

—Tadi pagi, sebelum kalian datang, Ibu sudah menghubungi bank.

Farhan langsung menegang.

—Maksud Ibu?

—Proses pencairan pinjaman sudah dihentikan karena pemilik sah rumah menyatakan tidak pernah menandatangani dokumen tersebut.

Wajah Farhan kehilangan warna.

—Tidak mungkin!

—Kenapa tidak?

Bu Ratih menatap putranya dingin.

—Kamu pikir ibumu akan membiarkanmu merampas rumah istrimu?

Farhan bangkit.

—Ibu menghancurkan semuanya!

Untuk pertama kalinya, Bu Ratih mengangkat suara.

—Yang menghancurkan semuanya adalah kamu!

Ruangan langsung hening.

Namun kemudian Salma tiba-tiba berkata:

—Farhan, cukup.

Dia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop.

Tangannya gemetar.

—Ada sesuatu yang harus mereka ketahui.

Farhan langsung berubah panik.

—Salma!

Tetapi perempuan itu mundur.

—Aku tidak mau terus berbohong.

Dia menyerahkan amplop itu kepada Bu Ratih.

Aku melihat hasil pemeriksaan laboratorium di dalamnya.

Pada bagian kesimpulan tertulis sebuah informasi yang membuat semua orang terpaku.

Ilham ternyata bukan anak biologis Farhan.

Aku mengangkat kepala.

Farhan terlihat seperti baru saja kehilangan kemampuan berbicara.

Salma menangis.

—Aku sudah memberitahunya tiga bulan lalu.

Aku menatap Farhan.

—Kamu sudah tahu?

Dia diam.

Dan pada detik itu aku memahami sesuatu yang jauh lebih buruk.

Kalau Farhan sudah tahu Ilham bukan anaknya, maka alasan dia membawa Salma dan anak itu ke rumah hari ini sama sekali bukan untuk memperkenalkan putra kandungnya.

Ada tujuan lain.

Bu Ratih rupanya memikirkan hal yang sama.

—Farhan.

Suaranya sangat dingin.

—Sebenarnya apa yang ingin kamu dapatkan dengan membawa mereka ke sini?

BAGIAN 3

Farhan tidak langsung menjawab.

Tetapi kali ini Salma yang bicara.

—Dia ingin orang tuanya percaya bahwa Ilham adalah cucu kandung mereka.

Farhan memukul meja.

—Diam!

Ilham langsung ketakutan.

Salma menarik anaknya ke belakang.

Bu Ratih berdiri di antara mereka.

—Jangan pernah membentak di depan anak kecil.

Farhan terdiam.

Salma menangis sambil mengatakan semuanya.

Bisnis baru mereka sebenarnya berada di ambang kegagalan bahkan sebelum resmi dibuka.

Farhan dan Rafi telah mengeluarkan banyak uang untuk sewa, renovasi, dan kontrak pemasok.

Mereka membutuhkan modal tambahan.

Namun ada satu masalah.

Ayah Farhan memiliki sebidang properti komersial bernilai tinggi yang selama ini direncanakan akan diwariskan kepada anak-anaknya.

Farhan berharap jika orang tuanya percaya Ilham adalah cucu kandung pertama mereka, mereka akan bersedia menjual atau menjaminkan aset itu untuk menyelamatkan bisnisnya.

Aku akhirnya mengerti.

Rumahku hanyalah langkah pertama.

Jika berhasil, berikutnya adalah aset orang tuanya sendiri.

Ayah mertua menatap Farhan lama sekali.

—Jadi kamu membawa seorang anak ke sini untuk memanfaatkan perasaan kami?

Farhan buru-buru membela diri.

—Aku akan mengembalikan semuanya setelah bisnis berhasil!

Bu Ratih tertawa pahit.

—Kamu selalu mengatakan “nanti dikembalikan”.

—Rumah Nadira nanti dikembalikan.

—Tabungannya nanti dikembalikan.

—Aset ayahmu nanti dikembalikan.

Dia menatap putranya.

—Masalahnya, semua yang ingin kamu kembalikan tidak pernah menjadi milikmu sejak awal.

Farhan terdiam.

Aku berdiri.

Anehnya, aku tidak menangis.

Mungkin karena selama dua hari terakhir aku sudah terlalu banyak menangis di dalam hati.

Aku melepaskan cincin pernikahanku.

Farhan langsung menatap tanganku.

—Nadira, jangan membuat keputusan saat emosi.

Aku meletakkan cincin itu di atas meja.

—Justru baru sekarang aku tidak sedang mengambil keputusan karena emosi.

—Kita bisa memperbaikinya.

Aku menggeleng.

—Kamu memalsukan tanda tanganku.

—Kamu mengambil tabunganku.

—Kamu menggunakan rumah peninggalan orang tuaku sebagai jaminan.

—Dan kamu sudah merencanakan membuatku menandatangani perceraian setelah mendapatkan uang.

Aku menatap matanya.

—Bagian mana yang ingin kamu perbaiki?

Dia tidak mampu menjawab.

Aku kemudian menatap Rafi.

—Semua bukti transaksi, dokumen, dan percakapan akan diserahkan kepada pengacara.

Rafi pucat.

—Kak Nadira…

—Aku tidak akan menutupi siapa pun.

Bu Ratih menggenggam tanganku.

—Dan kamu tidak perlu melakukannya.

Farhan memandang ibunya tak percaya.

—Ibu benar-benar memilih dia daripada anak Ibu sendiri?

Bu Ratih menjawab tenang:

—Ibu memilih yang benar.

—Kamu tetap anak Ibu. Karena itulah Ibu tidak akan membantu kamu menjadi manusia yang lebih buruk dengan menutupi kesalahanmu.

Hari itu aku meninggalkan rumah bersama Bu Ratih.

Bukan karena aku lemah.

Aku hanya tidak ingin tinggal satu menit lebih lama di tempat yang dipenuhi kebohongan.

Beberapa minggu berikutnya menjadi periode paling melelahkan dalam hidupku.

Bank membatalkan seluruh proses pinjaman setelah pemeriksaan membuktikan tanda tanganku bermasalah.

Rumahku tetap aman.

Melalui bantuan hukum, sebagian besar uang yang dialihkan dari rekening bersama juga berhasil dibekukan sebelum digunakan.

Bisnis Farhan tidak pernah dibuka.

Hubungannya dengan Rafi pun memburuk setelah keduanya mulai saling menyalahkan.

Salma memilih memberikan kesaksian dan menyerahkan percakapan serta dokumen yang disimpannya.

Barulah aku mengetahui bahwa Salma sendiri tidak sepenuhnya memahami rencana Farhan sejak awal.

Dia memang pernah berbohong mengenai ayah biologis Ilham karena sedang berada dalam kondisi sulit setelah rumah tangganya bermasalah.

Itu salah.

Dan dia mengakuinya.

Namun Farhan kemudian memanfaatkan kebohongan itu.

Bahkan setelah hasil pemeriksaan membuktikan Ilham bukan anaknya, dia meminta Salma tetap berpura-pura.

Sebagai gantinya, Farhan menjanjikan tempat tinggal dan bagian dari keuntungan perusahaan.

Pada akhirnya, Salma membawa Ilham pergi.

Sebelum pergi, dia datang menemuiku.

—Aku tahu permintaan maaf tidak bisa memperbaiki apa pun.

Aku memandangnya.

—Memang tidak.

Dia menunduk.

Aku melanjutkan:

—Tapi kamu masih bisa memperbaiki kehidupan anakmu.

Salma menangis.

Aku tidak memaafkannya saat itu.

Namun aku juga tidak membencinya.

Aku hanya ingin semua hubungan di antara kami berakhir.

Proses perceraianku dengan Farhan berlangsung beberapa bulan.

Dia berkali-kali mencoba menghubungiku.

Kadang meminta maaf.

Kadang menyalahkan keadaan.

Kadang mengingatkan tentang enam tahun pernikahan kami.

Aku tidak membalas.

Sampai suatu sore dia menungguku di luar kantor.

Wajahnya jauh lebih kurus.

—Nadira.

Aku berhenti.

—Aku kehilangan semuanya.

Aku menatapnya.

—Tidak.

Dia terlihat bingung.

Aku berkata:

—Kamu kehilangan sesuatu hanya ketika sesuatu itu benar-benar milikmu.

—Rumah itu bukan milikmu.

—Uangku bukan milikmu.

—Kepercayaan orang tuamu juga bukan sesuatu yang boleh kamu gunakan sesukamu.

Aku berhenti sejenak.

—Yang benar-benar kamu buang hanyalah keluarga yang pernah mempercayaimu.

Farhan menunduk.

Kali ini aku pergi tanpa menoleh lagi.

Setelah perceraian selesai, hal pertama yang kulakukan bukan membeli barang mahal atau pergi jauh.

Aku mengganti seluruh kunci rumah.

Kemudian aku membuka semua jendela.

Cahaya pagi masuk memenuhi ruang tamu.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, rumah itu terasa benar-benar menjadi milikku lagi.

Bu Ratih masih sering datang.

Hubungan kami tidak berakhir bersama pernikahanku.

Suatu hari dia membawa tanaman melati kecil dan meletakkannya di dekat jendela.

—Rumah terlalu sepi kalau tidak ada tanaman.

Aku tertawa.

—Mungkin Ibu hanya mencari alasan untuk datang setiap minggu.

Dia ikut tertawa.

Lalu tiba-tiba matanya berkaca-kaca.

—Maaf karena anak Ibu membuatmu mengalami semua ini.

Aku menggenggam tangannya.

—Ibu tidak perlu meminta maaf atas pilihan orang lain.

Dia mengangguk.

Setahun kemudian, kehidupanku berubah jauh lebih banyak daripada yang pernah kubayangkan.

Aku menggunakan sebagian tabunganku untuk membuka studio kecil bersama seorang teman lama.

Awalnya hanya ada tiga orang.

Kemudian menjadi tujuh.

Lalu dua belas.

Aku tidak menjadi kaya mendadak.

Tidak ada keajaiban.

Tetapi setiap rupiah yang masuk berasal dari sesuatu yang kubangun sendiri.

Dan setiap malam aku bisa tidur tanpa bertanya-tanya apakah orang di sampingku sedang berbohong.

Pada ulang tahunku berikutnya, Bu Ratih dan suaminya datang membawa kue.

Kami makan bersama di halaman.

Saat matahari hampir terbenam, Bu Ratih bertanya:

—Sekarang bahagia?

Aku memandang rumahku.

Tanaman melati yang dulu kecil sudah tumbuh memenuhi pagar.

Aku memikirkan perempuan yang setahun lalu berdiri di bank dengan tangan gemetar karena takut kehilangan semuanya.

Kemudian aku tersenyum.

—Sekarang aku tahu sesuatu, Bu.

—Apa?

—Dulu aku pikir akhir sebuah pernikahan berarti kehilangan keluarga.

Aku menggenggam tangannya.

—Ternyata tidak selalu begitu.

Bu Ratih tersenyum.

—Lalu apa yang sebenarnya kamu kehilangan?

Aku berpikir sebentar.

Kemudian tertawa kecil.

—Seseorang yang memang seharusnya kulepaskan sejak lama.

Kami tertawa bersama.

Di dalam rumah, ponselku bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kukenal.

“Aku baru mendengar studio Anda sedang mencari mitra untuk proyek baru. Kalau Anda bersedia, bolehkah kita bertemu untuk membicarakannya?”

Aku membaca nama pengirimnya.

Seorang pengusaha yang pernah kukenal melalui pekerjaan beberapa tahun lalu.

Bu Ratih melirik ekspresiku.

—Siapa?

Aku segera mematikan layar.

—Urusan pekerjaan.

Dia tersenyum penuh arti.

—Benarkah cuma pekerjaan?

Aku tertawa.

—Ibu jangan mulai.

Malam itu, setelah semua orang pulang, aku berdiri sendirian di balkon.

Tidak ada lagi rasa takut ketika memikirkan masa depan.

Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti aku akan menikah lagi.

Aku juga tidak tahu apakah orang yang baru mengirim pesan itu kelak akan menjadi seseorang yang penting dalam hidupku.

Dan untuk pertama kalinya, aku merasa tidak perlu mengetahui jawabannya.

Karena kebahagiaanku tidak lagi bergantung pada siapa yang berdiri di sampingku.

Aku sudah memiliki rumahku.

Pekerjaanku.

Orang-orang yang benar-benar menyayangiku.

Dan yang paling penting, aku mendapatkan kembali diriku sendiri.

Aku memandang tanaman melati yang bergerak perlahan tertiup angin malam.

Dulu aku mengira hari ketika mengetahui pengkhianatan Farhan adalah hari terburuk dalam hidupku.

Sekarang aku baru mengerti.

Hari itu sebenarnya adalah hari ketika sebuah pintu terbuka.

Aku hanya terlalu terluka untuk melihatnya.

Di balik pintu itu bukanlah kehancuran.

Melainkan kehidupan baru yang selama ini tidak pernah berani kubayangkan.

Dan kali ini, aku akan menjalani kehidupan itu dengan namaku sendiri, dengan pilihanku sendiri, dan tanpa pernah lagi menyerahkan kunci kebahagiaanku kepada siapa pun.