Saat Hamil Delapan Bulan Aku Diminta Keluar dari Rumah yang Kucicil Bertahun-Tahun, Suamiku Bilang Aku Tidak Punya Apa-Apa, Sampai Telepon dari Bank Membuka Alasan Sebenarnya Ia Membutuhkan Tanda Tanganku

Avatar penulis
Cerita 01
32 menit baca 63 tayangan
Saat Hamil Delapan Bulan Aku Diminta Keluar dari Rumah yang Kucicil Bertahun-Tahun, Suamiku Bilang Aku Tidak Punya Apa-Apa, Sampai Telepon dari Bank Membuka Alasan Sebenarnya Ia Membutuhkan Tanda Tanganku
Indeks

Saat Hamil Delapan Bulan Aku Diminta Keluar dari Rumah yang Kucicil Bertahun-Tahun, Suamiku Bilang Aku Tidak Punya Apa-Apa, Sampai Telepon dari Bank Membuka Alasan Sebenarnya Ia Membutuhkan Tanda Tanganku

BAGIAN 1

Aku sedang memasukkan baju bayi ke dalam mesin cuci ketika Fajar meletakkan sebuah kunci kos di atas meja makan.

“Mulai Senin kamu tinggal di sini dulu.”

Aku menatap kunci itu, lalu menatap suamiku.

Usia kandunganku sudah delapan bulan. Kakiku mudah bengkak, punggungku sering sakit kalau berdiri terlalu lama, dan dua hari sebelumnya dokter baru mengingatkanku agar tidak terlalu lelah.

“Kos?”

“Dekat rumah sakit tempat kamu kontrol. Ada lift. Lebih praktis.”

Aku masih memegang satu kaus bayi berwarna putih.

Saat Hamil Delapan Bulan Aku Diminta Keluar dari Rumah yang Kucicil Bertahun-Tahun, Suamiku Bilang Aku Tidak Punya Apa-Apa, Sampai Telepon dari Bank Membuka Alasan Sebenarnya Ia Membutuhkan Tanda Tanganku

“Kenapa aku harus tinggal di kos?”

Fajar tidak langsung menjawab.

Ibunya, Bu Mira, yang sejak tadi duduk di ruang tamu sambil mengupas jeruk, akhirnya ikut bicara.

“Cuma sementara, Ratih. Jangan langsung berpikir macam-macam.”

Kalimat seperti itu sudah kukenal selama sebelas tahun menikah.

Setiap kali seseorang berkata jangan berpikir macam-macam, biasanya ada sesuatu yang memang seharusnya kupikirkan.

Fajar menarik kursi.

“Rumah ini mau dipakai untuk urusan bank.”

Aku perlahan duduk di depannya.

Rumah dua lantai sederhana di Sidoarjo itu kami beli enam tahun sebelumnya. Tidak mewah. Carport-nya hanya cukup untuk satu mobil dan dua motor. Cat tembok samping bahkan sudah mulai mengelupas karena rembesan.

Tetapi hampir separuh masa pernikahan kami ada di rumah itu.

Aku yang memilih keramik dapurnya.

Aku yang mencicil lemari kamar.

Setiap tanggal dua puluh lima, begitu gajiku sebagai staf pengadaan sebuah rumah sakit swasta masuk, aku langsung memindahkan sebagian besar uang ke rekening bersama.

Dari sanalah KPR dibayar.

Karena penghasilan Fajar lebih besar ketika kami mengajukan KPR, namanya yang tercantum sebagai debitur utama.

Selama ini aku tidak pernah mempermasalahkannya.

Kami menikah.

Aku tidak pernah membayangkan suatu hari suamiku akan menunjuk sebuah kunci kos dan berbicara seolah aku tamu yang masa sewanya habis.

“Urusan bank apa?”

Fajar mengusap wajah.

“Kak Bayu butuh modal buat bengkel furniturnya. Beberapa proyek belum bayar. Ada hampir dua puluh orang yang hidup dari sana.”

Aku menatap Bu Mira.

Beliau membuang kulit jeruk ke piring kecil.

Bayu adalah kakak Fajar. Bengkel furniturnya di Gresik memang sedang sulit beberapa bulan terakhir. Aku tahu karena dalam grup WhatsApp keluarga, istrinya beberapa kali mengeluhkan klien yang menunda pembayaran.

“Tapi kenapa rumah kita?”

“Top-up KPR.”

Aku tidak langsung mengerti.

Fajar menjelaskan bahwa ia ingin menambah pinjaman dengan rumah kami sebagai jaminan.

“Cuma beberapa tahun. Usaha Kak Bayu kalau sudah normal bisa bayar sebagian.”

“Berapa?”

Ia diam sebentar.

“Belum final.”

“Berapa yang kamu ajukan?”

Bu Mira ikut menyela.

“Ratih, jangan semuanya harus dihitung saat keluarga sedang susah.”

Aku menoleh kepadanya.

“Justru karena rumah ini juga tempat saya tinggal, Bu, saya perlu tahu.”

Wajah Bu Mira berubah.

Tidak marah, tetapi jelas tidak suka.

Fajar mendorong kunci kos itu sedikit lebih dekat.

“Selama proses penilaian dan beberapa urusan lain, lebih baik rumah kosong dulu.”

Aku menatapnya.

“Bank menyuruh rumah kosong?”

Ia mengalihkan pandangan.

Itulah kebiasaan Fajar kalau jawabannya tidak utuh.

Tangannya biasanya mencari sesuatu untuk disentuh. Gelas, kunci mobil, ponsel.

Kali itu ia memutar cincin kawinnya.

“Bukan begitu. Ada kemungkinan rumah perlu diperbaiki sedikit. Aku juga nggak mau kamu stres.”

Aku hampir tertawa.

“Kamu memindahkanku ke kos saat aku hamil delapan bulan supaya aku tidak stres?”

“Jangan dibikin dramatis.”

Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada kalau ia membentak.

Aku berdiri tanpa menjawab.

Setelah sebelas tahun, kelemahanku masih sama.

Aku terlalu sering memilih diam karena tidak mau suasana keluarga rusak.

Ketika Bu Mira pernah membutuhkan Rp18 juta untuk operasi katarak, aku yang mengusulkan kami membantu.

Ketika Bayu terlambat membayar uang sekolah anaknya, aku tidak bertanya saat Fajar mentransfer Rp6 juta.

Ketika adiknya membutuhkan uang muka motor untuk bekerja, aku juga mengangguk.

Menurutku keluarga memang saling membantu.

Masalahnya, tanpa kusadari, setiap bantuan pelan-pelan berubah menjadi kewajiban.

Dan setiap kali aku bertanya, pertanyaanku dianggap sebagai bukti bahwa aku tidak ikhlas.

Sore itu aku membuka mobile banking.

Aku sebenarnya hanya ingin memastikan pembayaran KPR bulan berikutnya aman.

Angka di rekening tabungan bersama membuatku duduk lebih tegak.

Rp2.846.715.

Aku keluar dari aplikasi, lalu masuk lagi.

Tetap sama.

Tiga bulan sebelumnya ada lebih dari Rp91 juta di sana.

Uang itu kami kumpulkan sebagai dana darurat menjelang persalinan.

Aku memanggil Fajar.

Ia sedang memasukkan beberapa map ke dalam tas kerja.

“Uang di rekening ke mana?”

Ia berhenti.

“Uang apa?”

“Tabungan kita.”

“Dipakai dulu.”

“Untuk apa?”

“Urusan usaha.”

“Usaha siapa?”

Ia mengembuskan napas.

“Ratih, aku lagi banyak pikiran.”

“Aku juga banyak pikiran. Salah satunya karena sebentar lagi melahirkan dan tabungan kita tinggal dua juta.”

Bu Mira yang masih berada di rumah masuk ke ruang makan.

“Fajar sudah bilang ke Ibu. Nanti dikembalikan.”

Aku menoleh.

“Jadi Ibu tahu?”

“Dia membantu keluarga.”

“Rp88 juta?”

Fajar menurunkan suaranya.

“Jangan bicara seperti aku mencuri.”

“Aku belum bilang begitu.”

“Tapi nadamu begitu.”

Aku menatap laki-laki yang selama bertahun-tahun tidur di sebelahku.

Saat itulah aku sadar sesuatu.

Ia bukan marah karena aku salah.

Ia marah karena aku bertanya.

Fajar mengambil tasnya.

“Aku berangkat sebentar.”

“Ke mana?”

“Ketemu orang bank.”

“Tanpa aku?”

Ia berhenti di dekat pintu.

“Memangnya semua urusan harus kamu ikut?”

Pintu depan tertutup.

Bu Mira mengambil tasnya beberapa menit kemudian.

Sebelum keluar, beliau berkata pelan, “Kadang perempuan harus tahu kapan mendukung suami. Fajar melakukan ini supaya keluarga tetap berdiri.”

Aku memandangi mangkuk buah yang belum dibereskan.

“Kalau begitu kenapa tidak ada yang mau menjelaskan kepada saya apa yang sedang dilakukan?”

Beliau tidak menjawab.

Malam itu aku tidak langsung tidur.

Aku membuka lemari kecil tempat kami menyimpan dokumen.

Map KPR ada.

Fotokopi sertifikat ada.

Polis asuransi ada.

Tetapi map plastik bening berisi fotokopi KTP dan beberapa dokumen yang pernah kutandatangani saat pengajuan KPR tidak ada.

Aku mencoba mengingat kapan terakhir melihatnya.

Dua minggu sebelumnya Fajar sempat meminta foto KTP-ku.

Katanya untuk memperbarui data pajak keluarga.

Aku mengirimkannya melalui WhatsApp tanpa bertanya lagi.

Saat itu tidak terasa aneh.

Sekarang terasa berbeda.

Besok paginya sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.

“Selamat pagi, Ibu Ratih. Kami dari bagian administrasi kredit. Mohon konfirmasi apakah Ibu dapat menerima telepon terkait dokumen persetujuan pasangan.”

Aku membaca pesan itu dua kali.

Aku menjawab bahwa aku bisa ditelepon setelah pukul sepuluh.

Kurang dari lima menit kemudian, Fajar menelepon.

“Bank ada hubungi kamu?”

Aku belum pernah mengatakan kepadanya soal pesan tadi.

“Kenapa?”

“Kalau ada, bilang saja semua sudah kamu setujui.”

Tanganku yang memegang ponsel menjadi kaku.

“Aku bahkan belum tahu apa yang diajukan.”

“Sudah kubilang. Modal usaha Kak Bayu.”

“Berapa?”

Fajar terdiam.

“Sekitar enam ratus.”

“Enam ratus apa?”

“Juta.”

Aku berdiri dari kursi.

“Rp600 juta?”

“Tidak semuanya cair ke kita.”

“Fajar, aku belum pernah menyetujui rumah ini dijadikan jaminan untuk pinjaman sebesar itu.”

Suaranya berubah dingin.

“Kamu selalu ngomong rumah ini seolah namamu ada di sertifikat.”

Aku tidak menjawab.

Ia melanjutkan.

“Kalau aku tidak pernah bekerja, kamu pikir bank akan kasih KPR dulu?”

“Aku ikut membayar cicilannya enam tahun.”

“Dan kamu tinggal di sini enam tahun.”

Kalimat itu membuat ruangan terasa sangat kecil.

Aku mendengar diriku sendiri berkata, “Jadi selama ini menurutmu aku hanya menumpang?”

Ia tertawa pendek.

“Jangan putar kata-kataku.”

“Jawab saja.”

“Ratih, aku tidak punya waktu untuk drama pagi-pagi.”

Telepon terputus.

Aku duduk cukup lama.

Bayi di perutku bergerak.

Biasanya aku akan mengirim pesan panjang kepada Fajar. Menjelaskan bahwa aku terluka. Menunggu ia pulang. Mencari waktu yang paling aman supaya pembicaraan tidak berubah menjadi pertengkaran.

Pagi itu aku tidak melakukannya.

Aku mengambil map KPR dari lemari, memasukkan KTP ke tas, lalu menunggu telepon dari bank.

Pukul 10.17, seorang pria bernama Pak Yudi menelepon.

Setelah memverifikasi beberapa data, ia berkata, “Kami membutuhkan konfirmasi ulang dari Ibu sebelum proses dilanjutkan.”

“Konfirmasi apa, Pak?”

Ada jeda singkat.

“Persetujuan pasangan untuk pengikatan rumah sebagai agunan tambahan.”

“Saya belum pernah memberi persetujuan.”

Kali ini yang diam adalah Pak Yudi.

“Maaf, Bu?”

“Saya tidak pernah menandatangani dokumen persetujuan apa pun.”

Suara kertas terdengar dari seberang.

“Kalau begitu sebaiknya Ibu datang ke kantor cabang.”

“Kenapa?”

Pak Yudi terdengar jauh lebih hati-hati ketika menjawab.

“Karena kami sudah menerima dokumen atas nama Ibu.”

Aku memegang sisi meja.

“Ada tanda tangan saya?”

“Secara administrasi, ada.”

“Kalau ada, itu bukan tanda tangan yang saya buat untuk pengajuan ini.”

Ia menghela napas.

“Itulah alasan kami belum bisa melanjutkan. Tanda tangan di surat tersebut berbeda dengan spesimen yang tersimpan dari pengajuan KPR lama.”

Aku menatap pintu kamar.

Kemudian Pak Yudi mengatakan tanggal yang tercetak di bawah tanda tangan itu.

Tanggal 14 Agustus.

Aku tahu persis aku berada di mana hari itu.

Aku sedang dirawat selama hampir enam jam di IGD karena kontraksi terlalu dini.

Dan Fajar duduk di samping ranjangku hampir sepanjang waktu.

Setidaknya, itulah yang selama ini kupercaya.

Kalau kamu berada di posisiku, kamu akan langsung menghadapi suamimu setelah telepon itu, atau diam dulu sampai tahu dokumen apa sebenarnya yang sudah memakai namamu?

BAGIAN 2

Aku tidak menelepon Fajar.

Untuk pertama kalinya sejak menikah, aku sengaja tidak memberinya kesempatan menyiapkan jawaban sebelum aku melihat faktanya sendiri.

Sekitar satu jam kemudian aku sudah duduk di depan meja Pak Yudi di kantor cabang bank di Surabaya.

Aku membawa map KPR, KTP, buku nikah, dan botol air yang terus kugenggam karena telapak tanganku berkeringat.

Pak Yudi tidak memberikan dokumen asli kepadaku, tetapi ia menjelaskan apa yang bisa dikonfirmasi kepadaku sebagai pihak yang namanya tercantum dalam persetujuan.

Nilai fasilitas yang diajukan bukan Rp600 juta.

Rp720 juta.

Setelah pelunasan sebagian saldo KPR dan biaya, ratusan juta rupiah sisanya direncanakan untuk “pengembangan usaha keluarga”.

“Usaha Kak Bayu?” tanyaku.

Pak Yudi melihat layar komputernya.

“Dalam dokumen pendukung ada beberapa invoice dari usaha furnitur milik Pak Bayu.”

Itu cukup bagiku.

Aku langsung mengira semuanya berasal dari Bayu.

Selama bertahun-tahun, Bayu memang paling sering membutuhkan bantuan.

Aku keluar dari bank dan meneleponnya.

Ia mengangkat setelah dering ketiga.

“Kamu di mana?” tanyaku.

“Bengkel. Kenapa?”

“Aku mau tanya sesuatu. Tolong jangan hubungi Fajar dulu.”

Bayu tertawa kecil.

“Serius amat.”

“Mas, kamu mengajukan pinjaman pakai rumahku?”

Sunyi.

Bukan sunyi orang yang sedang mencari alasan.

Sunyi orang yang tidak mengerti pertanyaannya.

“Apa?”

“Invoice bengkelmu dipakai untuk pengajuan pinjaman Rp720 juta.”

“Pinjaman apa?”

“Jangan bohong.”

“Aku nggak ngerti kamu ngomong apa.”

Aku mendengar suara mesin potong kayu di belakangnya.

Kemudian Bayu berteriak menyuruh seseorang mematikannya.

Setelah suara bengkel lebih tenang, ia berkata, “Fajar pernah minta beberapa invoice proyek dan fotokopi NIB bengkel. Katanya mau bantu aku cari fasilitas pembayaran supplier.”

“Kapan?”

“Sekitar tiga minggu lalu.”

“Dia bilang rumah kami mau dijadikan jaminan?”

“Tidak.”

“Bengkelmu butuh uang berapa sebenarnya?”

Bayu tidak langsung menjawab.

“Kalau semua klien belum bayar, paling buruk sekitar Rp110 sampai Rp130 juta.”

Aku memejamkan mata.

“Bukan tujuh ratus dua puluh?”

“Gila. Kalau aku pinjam segitu, aku bayar pakai apa?”

Untuk pertama kali, dugaan yang paling mudah runtuh.

Bayu memang sedang kesulitan.

Tetapi pinjaman itu bukan untuk menyelamatkan bengkelnya.

“Ratih,” katanya pelan. “Ada apa?”

Aku menceritakan seperlunya.

Tentang tanda tangan.

Tentang rekening kami yang hampir kosong.

Tentang kunci kos.

Bayu diam cukup lama.

Lalu ia bertanya sesuatu yang tidak kuduga.

“Fajar akhir-akhir ini sering ke toko Ibu?”

“Toko di Wonokromo?”

“Iya.”

“Aku tidak tahu.”

Bayu mengumpat pelan.

“Tiga bulan lalu Ibu sempat bilang mau melepas ruko itu.”

Aku mengenal ruko yang dimaksud.

Bangunan dua lantai tua yang sejak sebelum aku menikah dipakai Bu Mira menjual bahan bangunan.

Setelah ayah Fajar meninggal, usaha itu mengecil. Bu Mira semakin sering mengatakan sudah lelah mengurus stok, pegawai, dan supplier.

“Kenapa mau dijual?”

“Ibu capek. Ada orang yang nawar.”

“Fajar tahu?”

“Pasti.”

Sebuah ingatan kecil muncul.

Dua bulan sebelumnya, saat makan di rumah Bu Mira, beliau pernah memegang perutku dan berkata, “Kalau nanti punya cucu, paling tidak toko keluarga jangan sampai jatuh ke orang lain.”

Waktu itu aku menganggapnya hanya ucapan orang tua.

Aku mulai tidak yakin.

Sebelum pulang dari bank, aku meminta rekening bersama kami dicetak mutasinya untuk periode tiga bulan terakhir.

Karena rekening itu atas nama kami berdua, aku bisa mendapatkannya.

Ada transfer Rp15 juta.

Rp20 juta.

Rp25 juta.

Lalu Rp24 juta.

Semuanya ke satu rekening.

Nama penerima: Mira Kusumawati.

Total Rp84 juta.

Bukan ke Bayu.

Bukan ke supplier bengkel.

Ke ibu mertuaku.

Malam sebelumnya Bu Mira duduk di rumahku dan berkata uang kami sedang dipakai untuk membantu keluarga.

Ternyata beliau sendiri yang menerimanya.

Aku meminta Pak Yudi menjelaskan satu hal terakhir.

“Kalau dana ini cair, apakah bisa dipakai membeli properti?”

Ia berhati-hati menjawab.

“Pemakaian fasilitas tergantung struktur pengajuan. Tetapi di sini memang ada dokumen pendukung lain.”

“Apa?”

Ia membaca layar sebentar.

“Draft transaksi sebuah ruko.”

Aku sudah tahu jawabannya sebelum bertanya.

“Ruko milik siapa?”

Pak Yudi menyebut alamat di Wonokromo.

Alamat toko Bu Mira.

Aku menaruh tangan di bawah perutku.

Jadi uang Rp84 juta yang hilang bukan dipinjamkan kepada Bayu.

Itu pembayaran awal.

Dan rumah kami bukan sedang dipertaruhkan untuk menyelamatkan usaha keluarga yang hampir bangkrut.

Fajar sedang mencoba meminjam ratusan juta menggunakan rumah yang kucicil bersamanya untuk membeli ruko milik ibunya.

Aku meminta satu informasi lagi.

“Siapa yang tercantum sebagai calon pembeli ruko itu?”

Pak Yudi menatapku sebentar sebelum menjawab.

“Pak Fajar.”

Hanya namanya.

Bukan namaku.

Bukan nama kami berdua.

Aku tidak merasa marah pada detik pertama.

Yang kurasakan justru malu.

Malu karena selama bertahun-tahun aku begitu takut dianggap istri yang hitung-hitungan sampai tidak pernah benar-benar bertanya ke mana uang keluarga kami pergi.

Aku mengeluarkan ponsel.

Ada tujuh panggilan tak terjawab dari Fajar.

Satu pesan dari Bu Mira.

Jangan bikin masalah besar hanya karena salah paham. Pulang dulu, kita bicara baik-baik.

Aku belum sempat membalas ketika pesan berikutnya dari Fajar masuk.

Bank menahan proses karena kamu. Kalau pengajuan ini gagal, jangan salahkan aku kalau kita kehilangan semuanya.

Aku membaca kalimat terakhir beberapa kali.

Bukan “kalau keluarga kehilangan toko”.

Bukan “kalau Bayu kehilangan usaha”.

Ia menulis:

kita kehilangan semuanya.

Padahal untuk pertama kalinya aku mulai mengerti bahwa “semuanya” yang ia maksud mungkin tidak pernah benar-benar mencakup aku.

Saat itu aku tahu masalahnya bukan lagi soal Rp84 juta. Kalau kamu jadi aku, apakah kamu masih akan pulang untuk mendengar penjelasan, atau langsung menghentikan semua akses sebelum mereka bisa memindahkan lebih banyak lagi?

BAGIAN 3

Aku membalas pesan Fajar hanya dengan satu kalimat.

Aku akan pulang setelah selesai di bank.

Lalu aku mematikan notifikasi grup WhatsApp keluarga.

Bukan memblokir siapa pun.

Bukan mengirim ancaman.

Aku hanya membutuhkan beberapa jam tanpa suara orang lain menjelaskan kepadaku apa yang seharusnya kurasakan.

Di bank, aku meminta dibuatkan catatan tertulis bahwa aku tidak pernah memberikan persetujuan atas pengajuan tambahan tersebut.

Pak Yudi meminta aku menandatangani pernyataan di depan petugas.

Aku membacanya dua kali.

Dulu Fajar sering tertawa karena kebiasaanku membaca semua tulisan kecil.

“Kalau beli rice cooker saja kamu bisa baca buku petunjuk sampai halaman terakhir,” katanya.

Pagi itu kebiasaan yang sering dianggap berlebihan justru menjadi satu-satunya hal yang membuatku merasa masih menjadi diriku sendiri.

Setelah itu aku meminta bank mengubah nomor notifikasi rekening bersama supaya setiap transaksi keluar tetap masuk ke ponselku.

Aku juga menelepon bagian payroll rumah sakit.

Mulai gaji bulan berikutnya, gajiku tidak lagi masuk ke rekening bersama.

Aku membuka rekening pribadi yang selama ini hampir tidak pernah kupakai.

Keputusan itu terasa kecil.

Hanya beberapa formulir dan tanda tangan.

Tetapi selama sebelas tahun, aku tidak pernah memisahkan penghasilanku dari Fajar.

Tanganku bergetar setelah selesai.

Bukan karena aku ragu.

Karena aku baru menyadari betapa lama aku membiarkan rasa percaya menggantikan hak untuk mengetahui.

Sebelum meninggalkan bank, aku menelepon dokter kandunganku dan meminta izin datang sore untuk pemeriksaan karena perutku beberapa kali terasa mengeras.

Dokter memintaku banyak minum, beristirahat, dan menghindari ketegangan sebisa mungkin.

Aku hampir tertawa ketika mendengar kalimat terakhir.

Di luar bank, Bayu menungguku.

Ia datang dengan motor dan masih memakai kemeja kerja yang bagian lengannya penuh debu kayu.

“Aku bilang jangan hubungi Fajar,” kataku.

“Aku nggak hubungi.”

“Kenapa datang?”

“Karena kalau benar invoice bengkelnya dipakai, aku juga harus tahu.”

Kami masuk ke warung kecil tidak jauh dari bank.

Aku hanya memesan teh hangat.

Bayu memesan kopi tetapi tidak menyentuhnya.

Selama sebelas tahun menjadi adik iparnya, aku tidak pernah terlalu dekat dengan Bayu.

Ia keras kepala, mudah tersinggung, dan beberapa kali pernah meminjam uang kepada Fajar tanpa memberitahuku.

Aku juga tahu Fajar sering menganggapnya anak kesayangan almarhum ayah mereka.

Dulu kupikir masalah antara dua bersaudara itu hanya kecemburuan masa kecil yang tidak pernah selesai.

Ternyata aku terlalu menyederhanakan.

“Apa Fajar pernah bicara soal beli toko Ibu?” tanyaku.

Bayu mengangguk pelan.

“Pernah.”

“Kapan?”

“Sudah lama.”

“Seberapa lama?”

“Sejak Bapak masih hidup.”

Aku menunggu.

Bayu menggeser gelas kopinya.

“Fajar selalu merasa toko itu harus jatuh ke dia.”

“Kenapa?”

“Karena dia yang paling lama kerja sama Bapak sebelum kuliah. Setelah itu dia keluar, kerja sendiri. Aku yang balik membantu toko.”

Nada suaranya datar, tetapi aku tahu ada sejarah panjang di sana.

“Fajar pernah bilang Bapak lebih percaya sama kamu.”

Bayu tersenyum pahit.

“Itu versi Fajar.”

“Versimu?”

“Bapak memang sering keras sama dia. Tapi bukan berarti toko dijanjikan ke aku.”

“Jadi toko mau diapakan?”

“Ibu ingin jual karena capek. Hasilnya mau dibagi untuk kebutuhan beliau sendiri dan sebagian ditabung.”

“Kenapa Fajar keberatan?”

Bayu menatap ke jalan.

“Karena menurut dia kalau toko dijual ke orang lain, keluarga kita gagal menjaga peninggalan Bapak.”

Kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang akan dikatakan Fajar.

Ia selalu punya ukuran sendiri tentang keberhasilan.

Mobil harus lebih bagus daripada sepupunya.

Rumah harus terlihat rapi ketika keluarga datang.

Kalau ada acara keluarga, ia ingin menjadi orang yang membayar.

Bahkan ketika kami sebenarnya sedang menunda membeli kulkas baru.

“Apa Ibu tahu rumah kami mau diagunkan?”

Bayu menggeleng.

“Aku nggak tahu.”

“Uang Rp84 juta masuk ke rekening Ibu.”

Kepalanya langsung terangkat.

“Dari rekening kalian?”

“Iya.”

“Kamu setuju?”

“Tidak.”

Ia mengusap wajah.

“Aku harus ngomong sama Ibu.”

“Jangan dulu.”

“Kenapa?”

“Aku ingin mendengar mereka bicara ketika mereka belum tahu kamu tahu.”

Bayu menatapku cukup lama.

Kemudian ia mengangguk.

“Aku ikut?”

Aku mempertimbangkannya.

“Datang satu jam setelah aku pulang.”

“Kalau Fajar marah?”

Aku hampir menjawab bahwa aku tidak peduli.

Tetapi itu tidak benar.

Aku peduli.

Aku masih takut.

Aku masih hamil delapan bulan.

Aku masih mencintai sebagian dari laki-laki itu, atau mungkin aku mencintai ingatan tentang siapa dirinya ketika kami belum berubah menjadi dua orang yang saling menyembunyikan saldo rekening.

“Aku justru ingin melihat apa yang dia lakukan ketika marah,” kataku.

Ketika sampai di rumah, mobil Fajar sudah ada di carport.

Kunci kos masih berada di meja makan.

Tidak bergeser sedikit pun dari tempat ia meletakkannya sehari sebelumnya.

Fajar berdiri di dapur.

“Dari mana?”

“Bank.”

Ia tertawa tanpa humor.

“Jelas.”

Bu Mira duduk di ruang tamu.

Jadi mereka sudah menungguku.

“Aku mau tanya beberapa hal,” kataku.

Fajar menyilangkan tangan.

“Kalau kamu mau ceramah soal bank, aku sudah tahu. Mereka telepon.”

“Aku menolak pengajuan itu.”

“Aku tahu.”

“Dan aku minta proses dihentikan.”

“Aku juga tahu.”

Bu Mira berdiri.

“Ratih, duduk dulu. Kamu hamil besar.”

Aku duduk.

Bukan karena beliau meminta.

Karena punggungku memang sakit.

Fajar tetap berdiri.

“Senang sekarang?”

Aku memandangnya.

“Belum.”

“Apa lagi?”

“Kenapa uang Rp84 juta dari rekening kita ditransfer ke Ibu?”

Wajah Bu Mira berubah.

Fajar menjawab lebih cepat.

“Uang muka.”

“Untuk?”

Ia tidak menjawab.

Aku menoleh kepada Bu Mira.

“Untuk ruko?”

Beliau menunduk.

Aku mendapat jawabanku.

“Jadi benar.”

Bu Mira akhirnya bicara.

“Ibu kira kamu sudah tahu.”

Aku melihat beliau.

“Kapan Ibu bertanya kepada saya?”

“Ibu pikir suami istri itu bicara.”

“Seharusnya.”

Fajar menghantamkan telapak tangannya pelan ke meja.

“Jangan bawa Ibu ke sini. Aku yang mengatur.”

“Memang kamu yang mengatur.”

“Karena kalau aku tidak urus, toko itu dijual ke orang lain!”

“Jadi?”

“Itu toko keluarga.”

“Rumah ini juga rumah keluargamu.”

Ia menunjuk lantai.

“Aku yang namanya ada di sertifikat.”

Aku tidak langsung menjawab.

Bu Mira berkata pelan, “Fajar.”

Tetapi ia sudah terlalu marah untuk berhenti.

“Sejak kemarin kamu terus bicara seolah aku mengambil rumahmu. Aku yang mengajukan KPR. Aku yang berurusan dengan bank. Aku yang bayar uang muka pertama.”

“Aku tidak pernah menyangkal itu.”

“Lalu apa?”

“Aku membayar cicilan enam tahun. Aku membayar renovasi dapur. Aku membayar setengah biaya hidup kita. Dan sekarang aku tahu kamu mencoba memakai tanda tanganku untuk utang Rp720 juta.”

“Aku tidak memakai tanda tanganmu.”

“Bank punya dokumen atas namaku.”

“Itu hanya administrasi awal.”

Aku menatapnya.

“Dengan tanda tanganku?”

Fajar mengusap rambutnya.

“Kamu sengaja memilih kata-kata paling buruk.”

“Apa kata yang lebih baik untuk tanda tangan yang bukan kubuat?”

Ia diam.

Aku bisa mendengar suara kulkas.

Dulu keheningan seperti itu akan membuatku buru-buru mencairkan suasana.

Aku mungkin akan berkata, sudah, kita bicara nanti.

Aku mungkin akan membuat teh.

Aku mungkin akan meminta maaf karena nada suaraku terlalu tinggi.

Hari itu aku membiarkan keheningan berada di sana.

Akhirnya Fajar berkata, “Aku tahu kamu akan menolak bahkan sebelum mendengar penjelasannya.”

“Jadi kamu merasa berhak membuat persetujuanku sendiri?”

“Bukan begitu.”

“Lalu bagaimana?”

“Kita sedang bicara kesempatan.”

“Kesempatan untuk siapa?”

“Untuk kita!”

Aku menunggu.

Fajar menunjuk ke arah perutku.

“Untuk anak kita juga.”

Aku spontan menutupi perutku dengan tangan.

“Jangan pakai anak ini untuk membenarkan sesuatu yang dia bahkan belum lahir untuk memilih.”

“Kalau toko itu jadi milikku, nanti siapa yang dapat? Anak kita.”

“Dan kalau pinjaman Rp720 juta macet?”

Ia tidak menjawab.

“Siapa yang kehilangan rumah?”

“Tidak akan macet.”

“Dari mana bayarnya?”

“Ada pendapatan toko.”

“Toko Ibu sekarang saja labanya berapa?”

“Ia bisa dikembangkan.”

“Dengan uang apa?”

“Makanya ada pinjaman.”

Aku menahan napas.

Itu lingkaran yang sempurna.

Meminjam uang dengan rumah kami untuk membeli usaha yang katanya nanti akan membayar pinjaman yang dipakai membeli usaha itu.

“Kenapa pakai invoice bengkel Bayu?”

Fajar menatapku cepat.

Untuk pertama kalinya sejak aku pulang, ia terlihat benar-benar terkejut.

“Kamu bicara sama Bayu?”

“Jawab.”

“Itu cuma dokumen pendukung.”

“Apakah dia tahu?”

“Dia kasih sendiri.”

“Dia bilang untuk fasilitas supplier.”

Wajah Fajar menegang.

“Bayu selalu pintar pura-pura tidak tahu kalau ada masalah.”

Terdengar suara pagar depan.

Beberapa detik kemudian Bayu masuk.

Fajar langsung berdiri tegak.

“Kamu panggil dia?”

“Aku yang datang,” kata Bayu.

“Keluar.”

“Belum.”

Fajar mendekatinya.

“Aku bilang keluar.”

Bayu tidak bergerak.

Aku belum pernah melihat dua bersaudara itu berdiri sedekat itu dalam keadaan marah.

Bu Mira memegang sandaran kursi.

“Cukup. Jangan di depan Ratih.”

Aku berkata, “Justru biarkan.”

Semua orang menoleh kepadaku.

“Selama ini setiap ada masalah, selalu jangan di depan Ratih. Jangan bilang Ratih. Jangan bikin Ratih kepikiran. Jangan bikin Ratih marah.”

Aku menatap Fajar.

“Lihat hasilnya.”

Bayu menarik sebuah kursi dan duduk.

“Kamu pakai dokumen usahaku buat apa?”

Fajar tertawa pendek.

“Sekarang kamu ikut jadi orang suci?”

“Aku cuma tanya.”

“Bengkelmu berkali-kali kubantu.”

“Betul.”

“Berapa kali aku nutup gaji pegawaimu?”

“Dua kali.”

“Uang sekolah anakmu?”

“Pernah.”

“Terus sekarang kamu mau duduk di sini seolah kamu tidak pernah makan uang keluarga?”

Bayu mengangguk.

“Aku memang pernah minta bantuan.”

“Pernah?”

“Oke. Beberapa kali.”

“Lalu?”

“Tapi aku tidak pernah minta rumah adik iparku dijadikan jaminan Rp720 juta.”

Fajar membalikkan wajah.

“Ini bukan urusanmu.”

“Namaku kamu pakai.”

“Invoice, bukan namamu.”

“Bengkelku.”

“Dan aku melakukan itu supaya pengajuan masuk kategori usaha.”

Aku menyela.

“Jadi benar kamu sengaja membuat bank mengira uangnya untuk usaha Bayu.”

“Bukan begitu cara kerjanya.”

“Lalu jelaskan.”

Fajar terdiam lagi.

Bu Mira mulai menangis.

Bukan keras.

Beliau hanya duduk dan menyeka bawah matanya menggunakan ujung kerudung.

Aku menoleh kepadanya.

“Ibu tahu soal invoice Bayu?”

Beliau menggeleng.

“Ibu cuma tahu Fajar mau beli toko.”

“Dan Ibu menerima Rp84 juta dari rekening kami.”

“Ibu kira itu uang kalian berdua.”

“Untuk tanda jadi?”

Beliau mengangguk.

“Fajar bilang kamu setuju.”

Aku menatap suamiku.

Ia memandang ibunya.

“Ibu tidak perlu menjelaskan semua.”

Bu Mira tiba-tiba menaikkan suara.

“Memangnya Ibu harus bilang apa? Kamu bilang Ratih setuju!”

Fajar mengepalkan tangan.

“Bu, toko itu mau Ibu jual!”

“Karena Ibu sudah tidak kuat mengurus.”

“Ke orang lain!”

“Kalau ada yang membeli dan harganya cocok, kenapa tidak?”

“Itu peninggalan Bapak.”

“Peninggalan Bapak bukan cuma tembok!”

Kalimat itu membuat Fajar diam.

Bu Mira berdiri meskipun lututnya terlihat tidak nyaman.

“Bapakmu membangun toko supaya keluarga bisa hidup. Bukan supaya kalian berdua bertengkar sampai tua.”

Fajar menunjuk Bayu.

“Kalau dari dulu Bapak tidak selalu membandingkan aku dengan dia, mungkin aku tidak perlu begini.”

Bayu mengernyit.

“Sekarang salahku?”

“Selalu kamu yang paling dipercaya!”

“Aku yang tinggal dekat rumah waktu Bapak sakit!”

“Karena aku kerja!”

“Semua orang juga kerja!”

“Sudah!” kata Bu Mira.

Fajar berbalik ke arah jendela.

Aku melihat bahunya turun sedikit.

Untuk pertama kalinya aku tidak melihat seorang laki-laki yang sedang merencanakan mengambil uang.

Aku melihat anak kedua berusia empat puluh satu tahun yang masih mencoba memenangkan sesuatu dari ayahnya yang sudah meninggal.

Masalahnya, memahami luka seseorang tidak membuat tindakannya menjadi benar.

Itu hanya membuatnya lebih manusiawi.

Dan kadang justru lebih menyakitkan.

“Jadi ini soal Bapakmu?” tanyaku.

Fajar tidak menjawab.

Aku melanjutkan.

“Kamu mau punya toko itu karena kamu merasa selama ini Bayu yang dianggap lebih layak?”

“Bukan sesederhana itu.”

“Tentu tidak.”

Aku mengangguk.

“Kamu ingin membuktikan kamu bisa menjaga toko. Kamu ingin Ibu melihatnya. Mungkin kamu juga ingin anak kita punya sesuatu nanti.”

Ia menoleh.

Ada kelegaan kecil di wajahnya.

Seolah akhirnya aku mengerti.

Lalu aku berkata, “Tapi kamu membuktikan semua itu dengan mempertaruhkan rumah yang kubayar bersamamu dan memakai persetujuan yang tidak pernah kuberikan.”

Kelegaan itu hilang.

“Ratih…”

“Tidak.”

Aku belum pernah memotong ucapannya secepat itu.

“Sekarang kamu dengar aku.”

Ruangan kembali diam.

“Aku bisa mengerti kenapa kamu takut toko itu dijual. Aku bisa mengerti kenapa kamu punya masalah dengan Kak Bayu sejak lama. Aku bahkan bisa mengerti kenapa kamu merasa membeli toko itu investasi untuk anak kita.”

Aku menahan air mata.

“Tapi aku tidak bisa mengerti kenapa untuk melakukan semua itu, orang pertama yang kamu jadikan tidak penting adalah istrimu sendiri.”

Fajar menarik kursi dan duduk.

“Kalau aku tanya, kamu pasti bilang tidak.”

“Benar.”

“Nah.”

Ia mengangkat kedua tangan seperti baru saja membuktikan sesuatu.

Aku menatapnya.

“Dan menurutmu itu alasan yang membenarkan semuanya?”

“Aku hanya tahu kalau aku terus minta izin setiap kali ada keputusan besar, kita tidak pernah maju.”

Aku tersenyum tipis.

“Jadi selama ini kamu tidak menganggapnya keputusan bersama.”

“Jangan begitu.”

“Kamu sendiri yang bilang.”

Bu Mira berbisik, “Fajar, cukup.”

Tetapi aku belum selesai.

“Kemarin kamu memberiku kunci kos.”

Ia melihat kunci di meja.

“Kamu bilang rumah perlu kosong.”

“Aku cuma…”

“Kenapa?”

Ia diam.

“Katakan.”

“Kalau prosesnya jadi, akan ada appraisal lagi. Mungkin ada beberapa kunjungan. Aku tidak mau kamu ribut.”

Aku menatapnya.

“Jadi kamu ingin aku keluar supaya aku tidak melihat apa yang sedang kamu lakukan.”

“Bukan begitu.”

“Lalu kenapa tidak kamu saja yang tinggal di kos?”

Tidak ada jawaban.

Bayu menggeser tubuhnya di kursi.

Bu Mira melihat ke lantai.

Pada saat itulah sesuatu dalam diriku berubah.

Tidak meledak.

Tidak dramatis.

Justru sangat tenang.

Selama bertahun-tahun aku selalu menunggu orang lain mengakui bahwa batas yang kulewati sudah terlalu jauh.

Hari itu aku sadar aku tidak membutuhkan pengakuan mereka.

Aku hanya perlu memutuskan batasnya sendiri.

“Aku sudah menghentikan pengajuan di bank,” kataku.

Fajar mengangkat kepala.

“Aku tahu.”

“Gajiku mulai bulan depan masuk ke rekening pribadiku.”

Ia berdiri.

“Kamu apa?”

“Aku juga minta setiap transaksi rekening bersama dikirim ke nomorku.”

“Jadi sekarang kamu tidak percaya aku sama sekali?”

Aku hampir menjawab.

Kemudian aku sadar pertanyaan itu sendiri terbalik.

“Setelah apa yang kamu lakukan, kenapa justru aku yang harus menjelaskan kenapa kepercayaanku berubah?”

Ia berjalan beberapa langkah, lalu kembali.

“Kalau semua uang dipisah, gimana kita hidup?”

“Kita buat daftar.”

“Daftar?”

“KPR, listrik, air, kebutuhan rumah, persiapan bayi. Kita bayar sesuai kesepakatan.”

Ia tertawa.

“Sekarang rumah tangga kita mau dibuat seperti kantor?”

“Kalau selama ini kata ‘percaya’ berarti aku tidak boleh melihat angka, mungkin sedikit cara kantor justru akan membantu.”

Bayu menunduk, mungkin menahan reaksi.

Aku menoleh kepada Bu Mira.

“Untuk Rp84 juta, saya minta dikembalikan.”

Wajah beliau langsung pucat.

“Ratih…”

“Itu dana persalinan dan dana darurat kami.”

“Ibu masih pegang.”

Fajar cepat menyela.

“Tidak usah dikembalikan.”

Aku menatapnya.

“Aku bicara dengan Ibu.”

Bu Mira mengangguk perlahan.

“Besok Ibu transfer.”

“Bu!”

Beliau menoleh kepada anaknya.

“Ibu tidak mau uang untuk cucu lahir dipakai beli toko.”

“Itu bukan uang melahirkan semua.”

“Fajar.”

Nada suara Bu Mira berubah.

Tidak keras, tetapi tegas.

“Ibu bilang besok dikembalikan.”

Fajar menarik napas panjang lalu menendang pelan kaki kursi.

“Bagus. Semua sekarang melawan aku.”

Bayu mendengus.

“Bukan melawan. Kamu ketahuan bohong.”

Fajar berbalik.

“Mulutmu…”

Aku berdiri.

Perutku tiba-tiba mengencang.

Rasa nyeri menjalar ke punggung.

Aku memegang ujung meja.

Bayu yang pertama menyadarinya.

“Ratih?”

“Aku nggak apa-apa.”

Fajar langsung mendekat.

“Duduk.”

Aku menepis tangannya.

“Jangan.”

“Ratih, jangan keras kepala.”

“Kata dokter aku harus istirahat.”

Aku mengambil tas.

“Aku akan tidur di kamar.”

Fajar menatap kunci kos.

“Kamu tidak jadi pindah?”

Aku berhenti.

“Tidak.”

“Kalau aku bilang…”

Aku memandangnya.

Ia tidak melanjutkan.

“Rumah ini masih tempat tinggalku,” kataku. “Kalau kamu butuh ruang untuk berpikir, kunci kos itu masih ada.”

Malam itu Fajar benar-benar pergi.

Bukan karena kuusir.

Ia mengambil beberapa baju dan mengatakan akan tinggal di kamar belakang ruko Bu Mira beberapa hari.

Aku tidak menahannya.

Sebelum keluar, ia berdiri di depan kamar.

“Aku nggak pernah bermaksud bikin kamu kehilangan rumah.”

Aku sedang melipat selimut bayi.

“Tapi kamu bersedia mengambil risiko itu tanpa bertanya kepadaku.”

“Semua yang kulakukan juga buat anak kita.”

Aku meletakkan selimut.

“Anak kita tidak membutuhkan toko kalau harga yang harus dibayar adalah melihat ayahnya menganggap keputusan ibunya tidak penting.”

Fajar membuka mulut.

Tidak ada kata yang keluar.

Ia pergi.

Keesokan paginya, pukul 09.12, Rp84 juta masuk kembali ke rekening bersama.

Bu Mira mengirim bukti transfer kepadaku.

Tidak ada pesan panjang.

Hanya:

Maaf. Ibu benar-benar kira kamu tahu.

Aku menatap kalimat itu beberapa saat sebelum menjawab.

Terima kasih sudah mengembalikan, Bu. Nanti kalau sudah lebih tenang kita bicara.

Aku tidak mengatakan semuanya baik-baik saja.

Karena memang belum.

Tiga hari berikutnya terasa aneh.

Fajar hanya pulang mengambil pakaian.

Bayu mengirim salinan pesan lama dari Fajar yang meminta invoice bengkelnya. Aku menyimpannya.

Bank mengonfirmasi secara tertulis bahwa pengajuan tidak dilanjutkan karena persetujuanku ditarik.

Aku berkonsultasi dengan seorang advokat yang direkomendasikan teman kantor, bukan untuk langsung menggugat apa pun, tetapi untuk memahami posisiku mengenai rumah, KPR, dan keuangan selama perkawinan.

Aku datang membawa map cokelat penuh dokumen.

Untuk pertama kali dalam hidupku, mengetahui hakku tidak terasa seperti sedang mempersiapkan perang.

Rasanya seperti menyalakan lampu di ruangan yang selama ini sengaja kubiarkan gelap.

Seminggu kemudian Fajar meminta bertemu.

Bukan di rumah.

Ia memilih kedai kopi kecil dekat kantor tempatku bekerja.

Aku datang setelah kontrol kandungan.

Ia terlihat lebih kurus.

“Kamu sudah ngomong sama pengacara?” tanyanya.

“Sudah konsultasi.”

“Kamu mau cerai?”

Pertanyaan itu langsung.

Aku menghargainya.

“Aku belum tahu.”

Ia menatap meja.

“Aku nggak selingkuh.”

Aku hampir tertawa karena absurditas kalimat itu.

“Aku tidak pernah menuduhmu selingkuh.”

“Maksudku, aku bukan suami yang hidup dua kehidupan.”

Aku mengaduk air hangat.

“Fajar, kamu membuat keputusan soal ratusan juta tanpa aku. Kamu memindahkan tabungan tanpa memberitahu. Kamu memberikan dokumen atas namaku ke bank. Itu juga kehidupan kedua.”

Ia menelan ludah.

“Aku panik waktu tahu Ibu serius mau jual toko.”

“Aku tahu.”

“Aku merasa kalau toko itu hilang, semua yang Bapak bangun selesai.”

“Bukan tanggung jawabmu menjaga semua peninggalan ayahmu.”

“Gampang buat kamu bilang.”

“Memang.”

Aku mengangguk.

“Karena itu ayahmu, bukan ayahku. Aku tidak akan berpura-pura mengerti seluruh luka kalian.”

Ia menatapku.

“Tapi aku istrimu. Dan justru karena itu, kamu seharusnya bisa bilang, ‘Aku takut kehilangan toko Bapak.’ Bukan mengambil uang kita lalu memberiku kunci kos.”

Fajar menunduk.

Beberapa detik kemudian ia berkata, “Aku malu.”

Itu mungkin kalimat paling jujur yang kudengar darinya selama berbulan-bulan.

“Malu karena apa?”

“Karena selama ini aku selalu ngomong ke semua orang kalau hidupku paling stabil.”

Aku tidak menyela.

“Bayu punya bengkel sendiri. Walaupun berantakan, itu punya dia. Dulu Bapak selalu bilang Bayu berani ambil risiko.”

Tangannya memainkan sachet gula.

“Aku punya pekerjaan bagus, rumah, mobil. Tapi semuanya cicilan. Toko itu satu-satunya hal yang rasanya benar-benar milik keluarga.”

“Kamu ingin memilikinya.”

“Iya.”

“Bukan menyelamatkannya.”

Ia tidak langsung menjawab.

Akhirnya ia mengangguk.

Mata Fajar merah.

“Aku ingin sekali dalam hidupku jadi orang yang memegang sesuatu yang Bapak bangun.”

Aku merasa sakit mendengarnya.

Bukan karena alasan itu membuat tindakannya bisa diterima.

Justru karena aku tahu kalau ia mengatakan kalimat tersebut tiga bulan sebelumnya, mungkin aku akan memeluknya.

Mungkin kami bisa duduk dan menghitung.

Mungkin aku tetap akan berkata tidak pada pinjaman itu.

Tetapi setidaknya ia tidak perlu menghancurkan kepercayaanku untuk mengetahui jawabannya.

“Aku mengerti sekarang,” kataku.

Ia mengangkat kepala.

“Tapi mengerti tidak berarti aku kembali seperti dulu.”

Wajahnya turun lagi.

“Apa yang kamu mau?”

“Untuk sekarang, kita tinggal terpisah.”

Ia tidak langsung bereaksi.

“Kamu tetap bisa datang untuk kontrol atau urusan bayi kalau kita sepakat.”

“Ratih…”

“Aku akan melahirkan sebentar lagi. Aku tidak mau setiap pagi bangun dan bertanya apakah ada sesuatu lagi yang tidak kuketahui.”

“Aku bisa berubah.”

“Mungkin.”

“Aku serius.”

“Aku juga serius.”

Aku menatapnya.

“Perubahanmu tidak bisa menjadi syarat supaya aku langsung percaya lagi. Kalau kamu berubah, lakukan karena memang itu yang seharusnya kamu lakukan.”

Ia mengusap kedua matanya.

“Terus rumah?”

“KPR tetap dibayar dari rekening yang kita sepakati. Setelah bayi lahir dan kondisi lebih tenang, kita tentukan apakah rumah dipertahankan atau dijual.”

“Aku nggak mau jual rumah.”

“Aku juga dulu tidak mau.”

Ia menatapku.

Aku melanjutkan, “Tapi aku lebih tidak mau hidup di rumah yang setiap sudutnya membuatku takut siapa sebenarnya yang punya hak bicara.”

Dua minggu kemudian anak laki-laki kami lahir.

Kami menamainya Arga.

Persalinanku berlangsung lebih cepat dari perkiraan.

Fajar berada di rumah sakit.

Ia menungguku di luar ruang bersalin dan tidak pernah mencoba menjadikan hari itu sebagai kesempatan untuk meminta maaf lagi atau memaksaku mengambil keputusan.

Ketika perawat meletakkan Arga di dekatku, aku menangis.

Bukan karena seluruh masalah kami tiba-tiba hilang.

Tidak ada bayi yang seharusnya diberi tugas memperbaiki pernikahan orang tuanya.

Aku menangis karena selama berbulan-bulan aku takut memasuki masa menjadi ibu dalam keadaan tidak punya kendali atas hidupku sendiri.

Saat itu aku tahu setidaknya satu hal sudah berubah.

Aku tidak lagi menyerahkan semua keputusan kepada orang lain hanya supaya dianggap mudah diajak hidup bersama.

Bu Mira datang sore harinya.

Beliau membawa sup dan beberapa baju bayi.

Sebelum pulang, beliau duduk di samping tempat tidurku.

“Ibu minta maaf.”

Aku memandang Arga yang sedang tidur.

“Karena uangnya?”

“Bukan cuma itu.”

Beliau meremas tali tasnya.

“Ibu terlalu sering bilang ke kamu untuk mengerti Fajar.”

Aku diam.

“Dulu waktu Bapak masih hidup, Ibu juga sering begitu. Kalau Fajar marah, Ibu bilang Bayu harus mengalah. Kalau Bayu marah, Ibu bilang Fajar harus mengerti.”

Beliau tersenyum pahit.

“Mungkin karena itu mereka jadi laki-laki umur empat puluhan yang masih merasa harus menang dari saudaranya.”

Aku tertawa kecil.

Bu Mira ikut tertawa, lalu air matanya keluar.

“Ibu mau jual toko itu saja.”

“Jangan karena saya.”

“Bukan. Sudah waktunya.”

“Fajar mungkin marah.”

“Ibu capek hidup berdasarkan siapa yang nanti marah.”

Aku menoleh kepadanya.

Untuk pertama kali, aku melihat bahwa aku bukan satu-satunya perempuan di keluarga itu yang terlalu lama menjaga kedamaian dengan cara mengorbankan suaranya.

Tiga bulan kemudian, ruko Wonokromo akhirnya dijual kepada seorang pengusaha bahan bangunan lain.

Bu Mira menyimpan sebagian besar hasilnya untuk kebutuhan hari tua.

Sebagian kecil ia berikan kepada Fajar dan Bayu dalam jumlah yang sama.

Fajar tidak membeli toko itu.

Dunia tidak berakhir.

Nama keluarga mereka juga tidak hilang hanya karena papan bertuliskan “Sumber Rejeki” diturunkan dari depan ruko.

Bayu memakai bagiannya untuk menutup utang supplier dan mengecilkan bengkel agar lebih sehat.

Ia tidak mendadak sukses.

Tetapi untuk pertama kalinya, katanya, ia berhenti mengandalkan Fajar sebagai dana darurat.

Fajar sendiri mulai menemui konselor.

Aku tidak pernah memaksanya.

Ia yang memberitahuku setelah beberapa kali datang.

Kami belum kembali tinggal bersama.

Sekitar empat bulan setelah Arga lahir, kami membuat kesepakatan tertulis mengenai kebutuhan anak, pembayaran KPR, dan biaya rumah.

Fajar mentransfer bagiannya setiap awal bulan.

Tidak lagi menitipkan melalui ibunya.

Tidak lagi mengatakan, “Nanti aku urus.”

Ada angka.

Ada tanggal.

Ada bukti transfer.

Aneh sekali bagaimana sesuatu yang dulu kuanggap terlalu kaku justru membuat hubungan kami lebih tenang.

Enam bulan setelah persalinan, kami akhirnya memutuskan menjual rumah.

Keputusan itu tetap menyakitkan.

Aku berdiri lama di dapur pada hari calon pembeli datang.

Tanganku menyentuh meja yang kupilih sendiri.

Di dinding dekat pintu masih ada goresan kecil akibat Fajar pernah menjatuhkan rak sepatu dua tahun sebelumnya.

Di kamar belakang ada bekas paku tempat kami menggantung foto pernikahan.

Rumah itu bukan musuhku.

Ia hanya menjadi tempat di mana aku akhirnya belajar bahwa membayar sesuatu bersama tidak otomatis berarti dua orang merasa memiliki hak yang sama.

Setelah KPR dilunasi dari hasil penjualan, sisa uang kami bagi berdasarkan kesepakatan yang dibuat dengan bantuan profesional.

Tidak ada adegan dramatis di kantor.

Tidak ada yang membanting meja.

Tidak ada yang menang seluruhnya.

Aku menggunakan bagianku untuk menyewa rumah satu lantai tidak jauh dari rumah sakit tempatku bekerja.

Ada dua kamar.

Carport kecil.

Teras yang hanya cukup untuk dua kursi dan beberapa pot tanaman.

Fajar membantu membawa tempat tidur bayi saat aku pindah.

Setelah semua barang masuk, ia berdiri di pintu.

“Boleh aku tanya sesuatu?”

Aku mengangguk.

“Masih ada kemungkinan kita kembali?”

Aku melihatnya lama.

“Aku tidak tahu.”

Ia tersenyum tipis.

“Jawaban jujur.”

“Iya.”

“Dulu kamu pasti bilang ‘lihat nanti’ supaya aku nggak sakit hati.”

Aku ikut tersenyum.

“Mungkin.”

Ia menatap Arga yang tertidur di gendonganku.

“Aku akan tetap berusaha.”

“Berusahalah jadi ayah yang baik.”

“Dan jadi suami?”

“Kita lihat dari tindakanmu.”

Ia mengangguk.

Untuk pertama kali, ia menerima jawaban yang tidak bisa ia kendalikan.

Hubunganku dengan Bu Mira juga tidak kembali persis seperti dulu.

Aku masih datang sesekali.

Beliau datang menjenguk Arga.

Kami bisa makan bersama.

Tetapi kalau beliau berkata, “Masa sama keluarga sendiri begitu,” aku sekarang berani menjawab, “Justru karena keluarga, semuanya harus jelas.”

Anehnya, beliau tidak lagi tersinggung.

Mungkin orang lain sebenarnya bisa menerima batas kita.

Kitalah yang terlalu lama takut mencobanya.

Suatu pagi, hampir setahun setelah hari ketika kunci kos diletakkan di meja makan, aku bersiap berangkat bekerja.

Arga sudah mulai berdiri sambil berpegangan pada sofa.

Aku memasukkan bekalnya ke tas pengasuh, memeriksa dompet, lalu membuka laci meja.

Di dalamnya ada map cokelat.

Isinya sederhana.

Perjanjian sewa rumah.

Salinan dokumen keuangan.

Rekening atas namaku sendiri.

Dokumen kebutuhan Arga.

Tidak ada harta rahasia.

Tidak ada warisan miliaran rupiah.

Tidak ada orang kaya yang tiba-tiba datang menyelamatkanku.

Hanya beberapa lembar kertas yang sekarang kubaca dan kupahami sendiri.

Aku menutup laci.

Di dekat pintu ada sebuah mangkuk kecil tempatku menaruh kunci rumah.

Aku mengambil satu kunci.

Bukan kunci kos yang diberikan seseorang kepadaku karena mereka merasa berhak menentukan di mana aku seharusnya tinggal.

Kunci rumah yang kupilih sendiri.

Aku menggendong Arga, membuka pintu, lalu menguncinya dari luar.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, bunyi klik kecil dari kunci itu tidak terdengar seperti sesuatu yang menutupku di dalam.

Ia terdengar seperti batas yang akhirnya kutentukan sendiri.

Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai akhir. Semoga kamu dan keluargamu selalu diberi kesehatan, ketenangan, dan keberanian untuk saling membantu tanpa kehilangan batas serta rasa hormat. Kalau kamu berada di posisi Ratih, apakah kamu masih akan memberi Fajar kesempatan membangun kembali kepercayaan, atau memilih menutup hubungan itu sepenuhnya? Aku ingin membaca pendapatmu. Jika cerita ini terasa dekat dengan kehidupan nyata, kamu juga boleh membagikannya kepada orang lain yang mungkin pernah belajar bahwa mencintai keluarga tidak berarti harus selalu berkata iya.