Di Acara Lamaran Keponakanku, Kakakku Menyuruhku Masuk Lewat Pintu Dapur Karena Dianggap “Cuma Orang Katering”, Lalu Aku Menemukan Kenapa Ibu Selalu Panik Setiap Aku Menanyakan Sertifikat Rumah
BAGIAN 1
Aku baru menurunkan dua kotak nasi kebuli dari mobil ketika kakakku menarik lenganku sebelum aku sempat masuk ke ruang tamu.
“Ratih, lewat belakang saja.”
Aku menoleh ke pintu depan rumah Ibu yang sudah dihias bunga putih, kain krem, dan papan nama acara lamaran putri kakakku.
“Kenapa?”
Wajah Mas Dimas berubah kaku.
“Besan sudah datang. Mereka kira kateringnya dari vendor luar. Jangan bikin suasana jadi aneh.”
Butuh beberapa detik sampai aku mengerti maksudnya.
Aku menatap seragam kerja yang kupakai. Blus hitam sederhana, celana kain, celemek abu-abu yang tadi lupa kulepas.
“Jadi aku masuk lewat dapur karena aku kelihatan seperti pegawai katering?”
“Bukan begitu.”
“Lalu bagaimana?”

Mas Dimas melihat ke arah ruang tamu, memastikan tak ada orang mendengar.
“Hari ini acara Naya. Tolong jangan sensitif.”
Kalimat itu lebih menyakitkan daripada kalau dia langsung bilang aku memalukan.
Selama hampir lima belas tahun aku memang menjalankan usaha katering kecil di Sidoarjo. Bukan restoran besar, bukan perusahaan dengan puluhan mobil. Aku punya satu dapur produksi, enam pegawai tetap, dan beberapa pekerja harian kalau pesanan sedang ramai.
Dari usaha itulah aku membiayai kuliah anakku setelah suamiku meninggal sembilan tahun lalu.
Dari usaha itu pula, hampir setiap bulan, sebagian uangku mengalir ke rumah Ibu.
Obat tekanan darah.
Kontrol jantung.
Perbaikan atap.
Pajak rumah.
Pompa air.
Renovasi kamar mandi supaya Ibu tidak mudah terpeleset.
Dan beberapa tahun terakhir, uang untuk kebutuhan yang selalu disebut Mas Dimas sebagai “urusan rumah”.
Aku anak sulung.
Entah sejak kapan dua kata itu terasa seperti jabatan tanpa masa pensiun.
Aku menarik napas.
“Mana Naya?”
“Di kamar. Makeup.”
“Aku mau ketemu sebentar.”
“Nanti.”
Mas Dimas mengambil salah satu kotak makanan dari tanganku.
“Pokoknya masuk belakang saja, ya.”
Aku seharusnya marah.
Seharusnya aku meletakkan kotak itu di lantai, melepas celemek, lalu pulang.
Tapi dari dalam rumah terdengar suara Ibu tertawa bersama keluarga calon besan.
Dan seperti biasa, rasa sungkan datang lebih cepat daripada harga diriku.
Aku masuk lewat pintu samping.
Di dapur, Mbak Yuli, pegawaiku, menatapku heran.
“Bu Ratih kok lewat sini?”
“Biar cepat,” jawabku.
Aku tahu dia tahu aku berbohong.
Acara berjalan hampir dua jam.
Aku lebih banyak berada di belakang, memastikan makanan keluar tepat waktu. Sesekali Naya masuk ke dapur dan memelukku.
“Bude, nanti duduk di depan ya. Mama bilang kursi keluarga sudah disiapkan.”
Aku tersenyum.
“Iya.”
Tapi kursi itu tak pernah kutempati.
Ketika aku akhirnya keluar membawa nampan minuman, seorang perempuan dari keluarga calon besan menyerahkan gelas kosong kepadaku.
“Mbak, sekalian ini dibawa ke belakang, ya.”
Aku menerimanya.
Mas Dimas melihat.
Dia tidak mengatakan apa-apa.
Itulah bagian yang paling kuingat.
Bukan karena aku diperlakukan seperti pekerja.
Aku memang bekerja hari itu.
Tapi karena kakakku tahu siapa aku, tahu aku bagian dari keluarga, dan tetap memilih diam karena dianggap lebih mudah daripada menjelaskan.
Menjelang sore, tamu mulai pulang.
Aku sedang mengumpulkan piring di meja makan ketika Ibu menghampiriku.
“Jangan marah sama Dimas.”
Aku tertawa kecil tanpa humor.
“Aku belum bilang apa-apa.”
“Ibu tahu mukamu.”
“Kalau Ibu tahu, berarti Ibu juga tahu dia keterlaluan.”
Ibu menarik kursi.
“Dia lagi banyak pikiran.”
Aku sudah hafal kalimat itu.
Sejak usaha wedding organizer Mas Dimas mulai sepi setelah pandemi, hampir semua perilakunya punya satu alasan yang sama.
Dia lagi banyak pikiran.
Kalau terlambat bayar sekolah anak, banyak pikiran.
Kalau meminjam Rp10 juta lalu tiga bulan tidak mengembalikan, banyak pikiran.
Kalau meminjam mobil box milikku tanpa mengisi bensin, banyak pikiran.
Aku meletakkan piring.
“Ibu mau bilang apa?”
“Jangan dibesar-besarkan. Keluarga calon besan Naya itu orang berada. Dimas cuma ingin acaranya terlihat bagus.”
Aku menatap ruang tamu yang baru direnovasi enam bulan lalu.
Dinding baru.
Lampu gantung baru.
Lantai granit baru.
Pintu kayu depan baru.
Aku ikut membayar Rp48 juta untuk renovasi itu karena Ibu bilang atap bocor dan ruang tamu sudah tidak layak.
Saat itu aku percaya.
Sekarang, melihat dekorasi dan sofa baru yang tidak pernah disebutkan, aku mulai bertanya-tanya berapa banyak dari Rp48 juta itu benar-benar digunakan untuk atap.
“Ibu,” kataku perlahan, “bulan lalu aku transfer Rp7 juta buat pajak rumah dan obat. Sudah dibayar?”
Ibu langsung mengambil toples kue di meja, seolah-olah pertanyaanku baru mengingatkannya pada nastar.
“Sudah.”
“Boleh aku lihat bukti pajaknya nanti?”
Tangannya berhenti.
Hanya satu detik.
Tapi aku melihatnya.
“Buat apa?”
“Aku cuma mau simpan catatan.”
“Dimas yang urus.”
“Makanya aku tanya.”
Ibu menghela napas.
“Ratih, kamu ini kalau soal uang terlalu rapi. Sama keluarga sendiri saja dicatat.”
Aku menahan jawabanku.
Dua bulan sebelumnya, aku pernah meminta foto sertifikat rumah karena bank meminta data aset keluarga saat aku mengurus pinjaman usaha kecil.
Ibu langsung bilang sertifikat sedang disimpan di tempat aman.
Ketika kutanya tempat aman itu di mana, jawabannya berubah menjadi, “Pokoknya aman.”
Waktu itu aku tidak memikirkan apa-apa.
Sekarang aku mulai mengingatnya.
Setelah semua peralatan katering masuk mobil, aku kembali ke ruang tengah untuk mengambil tas.
Dimas sedang menerima telepon di teras.
Suaranya rendah.
“Iya, Pak. Minggu depan pasti.”
Aku berjalan pelan.
“Bukan, bukan. Ibu sudah setuju.”
Aku berhenti di balik pintu.
“Mbak Ratih belum perlu tahu.”
Namaku membuat tubuhku otomatis diam.
“Kalau dia tahu sekarang, dia pasti tidak mau tanda tangan.”
Ada jeda.
Mas Dimas melihat ke arah jalan.
“Pokoknya jangan kirim surat ke rumah dulu.”
Aku mundur sebelum dia masuk.
Tanganku terasa dingin ketika meraih tas.
Bukan karena aku tahu apa yang mereka sembunyikan.
Justru karena aku sama sekali tidak tahu.
Di meja makan, Ibu sedang membereskan amplop hadiah.
Aku berdiri di depannya.
“Ibu.”
“Hm?”
“Sertifikat rumah sekarang ada di mana?”
Ibu tidak menjawab.
Dia memasukkan satu amplop ke tas kain.
“Ibu?”
“Sudah malam, Ratih.”
“Aku cuma tanya satu hal.”
Wajahnya berubah lelah.
“Di tempat aman.”
“Di mana?”
“Kenapa tiba-tiba kamu ribut soal sertifikat?”
Aku menatapnya cukup lama.
Lalu aku sadar sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kupikirkan.
Setiap kali aku bertanya soal uang, Ibu tersinggung.
Setiap kali aku bertanya soal rumah, Ibu menghindar.
Dan setiap kali aku bertanya soal sertifikat, jawabannya selalu sama.
Aman.
Malam itu aku pulang dengan perasaan tidak enak yang tidak mau hilang.
Sekitar pukul setengah sebelas, saat aku sedang memeriksa pesanan untuk esok pagi, ponselku berbunyi.
Pesan WhatsApp dari nomor yang tidak kusimpan.
Selamat malam, Ibu Ratih. Saya Arman dari kantor notaris di Surabaya. Mohon konfirmasi apakah Ibu dapat hadir hari Selasa untuk penandatanganan persetujuan ahli waris terkait rencana pengikatan jaminan atas rumah almarhum Bapak Hadi?
Aku membacanya dua kali.
Lalu tiga kali.
Ayah sudah meninggal enam tahun.
Rumah itu selama ini disebut Ibu sebagai satu-satunya rumah yang akan tetap menjadi rumah keluarga.
Aku tidak pernah setuju menjadikannya jaminan apa pun.
Aku mengetik satu pertanyaan.
Jaminan untuk pinjaman siapa, Pak?
Balasannya datang kurang dari satu menit.
Setahu saya untuk fasilitas pembiayaan usaha atas nama Bapak Dimas Prakoso.
Aku menatap layar.
Jadi ini bukan tentang aku dipermalukan di acara keluarga.
Bukan tentang pintu depan atau pintu dapur.
Masalah sebenarnya jauh lebih besar.
Dan seseorang sudah membuat rencana dengan rumah peninggalan Ayah tanpa pernah memberitahuku.
Kalau kamu berada di posisiku, apakah kamu akan langsung menelepon keluarga malam itu juga, atau diam dulu sampai tahu apa sebenarnya yang sedang mereka lakukan?
BAGIAN 2
Aku tidak menelepon siapa pun malam itu.
Aku justru membalas Pak Arman.
Besok pagi saya bisa ke kantor Bapak?
Jawabannya datang beberapa menit kemudian.
Bisa, Bu. Pukul 10.00.
Aku hampir tidak tidur.
Pagi-pagi sekali aku tetap datang ke dapur produksi. Aku memotong daun bawang, mengecek bumbu, memastikan pesanan nasi kotak untuk kantor di Waru berangkat tepat waktu.
Rutinitas kadang menjadi satu-satunya cara agar pikiran tidak berantakan.
Pukul sembilan aku berangkat ke Surabaya.
Kantor Pak Arman berada di sebuah ruko dua lantai. Dia pria sekitar lima puluhan, berkacamata, suaranya hati-hati.
Setelah aku menunjukkan KTP dan menjelaskan hubunganku dengan almarhum Ayah, dia memutar layar komputernya sedikit ke arahku.
“Bu Ratih, saya perlu luruskan. Prosesnya belum selesai. Justru karena masih membutuhkan persetujuan para ahli waris, kami menghubungi Ibu.”
“Siapa yang membawa dokumen awal?”
“Pak Dimas.”
“Dengan Ibu saya?”
Pak Arman mengangguk.
“Dua kali.”
Aku menatap salinan berkas di layar.
Ada fotokopi KTP Ibu.
Kartu keluarga.
Dokumen usaha milik Mas Dimas.
Dan sebuah rincian kebutuhan pembiayaan sekitar Rp480 juta.
Aku menelan ludah.
“Untuk apa uang sebesar itu?”
“Setahu saya restrukturisasi utang usaha dan tambahan modal.”
“Rumah Ibu mau dijaminkan untuk utang Mas Dimas?”
Pak Arman tidak langsung menjawab.
“Saya hanya bisa menjelaskan dokumen yang kami terima.”
“Apakah Ibu saya tahu risikonya?”
“Beliau mengatakan sudah memahami.”
Aku hampir tertawa.
Ibu bahkan selalu meminta bantuanku membaca pesan dari bank karena takut salah menekan tombol.
Tapi katanya memahami risiko rumah dijadikan jaminan utang hampir setengah miliar.
“Ada dokumen lain?”
Pak Arman ragu sejenak.
“Ada surat pernyataan bahwa seluruh keluarga mengetahui rencana tersebut.”
Dia membuka satu file.
Aku mendekat.
Di bawah namaku terdapat tanda tangan.
Bentuknya mirip.
Tapi bukan milikku.
Aku tidak berteriak.
Aku hanya berkata, “Saya tidak pernah menandatangani ini.”
Pak Arman langsung menarik napas panjang.
“Itulah kenapa kami tetap meminta kehadiran langsung.”
Aku memotret layar setelah mendapat izin.
Di mobil, aku menelepon Mas Dimas.
Dia mengangkat pada dering ketiga.
“Ada apa?”
“Aku baru dari kantor Pak Arman.”
Sunyi.
Lalu suara kakakku berubah.
“Ratih, dengar dulu.”
“Siapa yang tanda tangan atas namaku?”
“Bukan tanda tangan resmi.”
“Mas.”
“Itu cuma lampiran awal.”
“Siapa?”
Dia menghela napas keras.
“Aku.”
Jawaban itu seharusnya membuat semuanya jelas.
Tapi anehnya, justru tidak.
“Kenapa?”
“Karena kalau aku jelaskan dari awal, kamu pasti langsung nolak.”
“Tentu aku nolak.”
“Itu rumah Ibu.”
“Itu juga warisan Ayah.”
“Nah, justru karena itu harus diselamatkan.”
Aku menutup mata.
“Diselamatkan dari apa?”
Mas Dimas diam.
Lalu berkata, “Usahaku punya utang.”
“Berapa?”
“Tidak usah lewat telepon.”
“Berapa?”
“Sekitar Rp350 juta.”
“Berkas yang kulihat Rp480 juta.”
“Ratih, nanti kita ngomong di rumah.”
Dia menutup telepon.
Siang itu, Ibu menelepon.
Bukan untuk meminta maaf.
“Kenapa kamu pergi ke notaris tanpa bilang Ibu?”
Aku tertawa pendek.
“Kenapa Ibu pergi ke notaris tanpa bilang aku?”
“Dimas lagi susah.”
“Jadi tanda tanganku boleh dipalsukan?”
“Jangan pakai kata dipalsukan. Kedengarannya seperti kriminal.”
Aku memejamkan mata.
“Ibu lebih marah karena aku menyebut perbuatannya daripada karena dia melakukannya?”
“Dia kakakmu.”
“Justru karena dia kakakku.”
Ibu mulai menangis pelan.
Dan aku benci satu hal tentang diriku sendiri.
Meskipun marah, suara tangis Ibu masih bisa membuatku merasa bersalah.
“Kamu tidak tahu keadaan Dimas,” katanya. “Kalau usahanya tutup, pegawainya bagaimana? Anak-anaknya bagaimana? Naya baru mau menikah.”
Aku nyaris percaya bahwa itulah seluruh masalahnya.
Sampai sore, ketika aku membuka mobile banking untuk memeriksa transfer bulanan ke rekening Ibu.
Enam bulan terakhir, aku selalu mengirim antara Rp5 juta sampai Rp8 juta untuk obat, kebutuhan rumah, dan biaya hidup.
Aku mengambil kalkulator.
Totalnya Rp41 juta.
Lalu aku menelepon apotek langganan Ibu, tempat aku kadang memesan obat.
Tagihan obat selama enam bulan tidak sampai Rp9 juta.
Pajak rumah belum jatuh tempo.
Tagihan listrik dibayar otomatis dari rekening pensiun Ibu.
Ada selisih lebih dari Rp25 juta.
Malamnya aku pergi ke rumah Ibu.
Mas Dimas belum datang.
Ibu duduk di ruang makan dengan wajah tegang.
“Aku mau tanya satu hal,” kataku.
“Kalau soal rumah, tunggu Dimas.”
“Bukan.”
Aku meletakkan catatan transfer di meja.
“Uang yang kukirim enam bulan ini dipakai untuk apa?”
Wajah Ibu langsung berubah.
Saat itulah aku tahu jawabannya.
“Untuk Dimas?”
Ibu tidak menjawab.
“Ibu kasih ke Mas Dimas?”
Dia menunduk.
“Hanya sementara.”
“Berapa?”
“Ratih…”
“Berapa, Bu?”
“Tidak semuanya.”
Aku menatapnya.
“Berapa?”
“Sekitar Rp30 juta.”
Dadaku terasa sesak, tapi bukan karena jumlahnya.
Aku teringat dua bulan lalu ketika Ibu menelepon dan bilang obatnya harus dibeli, lalu aku memindahkan jadwal pembayaran pemasok supaya bisa mengirim Rp6 juta hari itu juga.
“Kok bisa?”
“Dimas butuh bayar pegawai.”
“Kenapa Ibu bilang buat obat?”
“Kalau Ibu bilang buat Dimas, kamu pasti banyak tanya.”
Kalimat itu hampir sama dengan yang diucapkan Mas Dimas.
Kalau dijelaskan, kamu pasti menolak.
Aku berdiri.
Lalu pandanganku jatuh pada map cokelat yang sedikit menyembul dari lemari ruang makan.
Aku mengenali map itu.
Dulu Ayah menyimpan fotokopi dokumen rumah di sana.
Aku menariknya keluar.
Ibu langsung berdiri.
“Ratih, jangan!”
Aku membuka map.
Tidak ada sertifikat.
Yang ada justru surat pemberitahuan tunggakan dari sebuah perusahaan pembiayaan usaha.
Nama debitur: Dimas Prakoso.
Dan di bagian jaminan tambahan tercantum sesuatu yang membuat tanganku berhenti.
Bukan hanya rumah Ibu.
Ada satu baris lain.
Satu unit kendaraan usaha atas nama Ratih Wulandari.
Mobil box milik kateringku.
Aku menatap Ibu.
“Ibu tahu soal ini?”
Ibu pucat.
Dan dari caranya dia memegang ujung meja, aku tahu untuk pertama kalinya malam itu bahwa mungkin Ibu juga tidak mengetahui semuanya.
Saat itu aku sadar, Mas Dimas bukan cuma mencoba menyelamatkan usahanya dengan rumah keluarga. Dia sudah menyeret milikku ke dalam utangnya juga. Kalau kamu jadi aku, apakah kamu akan menghadapinya malam itu juga, atau mencari tahu dulu sejauh apa semuanya sudah berjalan?
BAGIAN 3
“Apa maksudnya mobilku tercantum di sini?”
Ibu tidak menjawab.
Aku menggeser surat itu ke tengah meja.
“Ibu pernah kasih BPKB mobil box-ku ke Mas Dimas?”
Ibu menggeleng cepat.
“Tidak.”
“Pernah lihat BPKB-nya?”
“Bukannya sama kamu?”
Aku menatap lemari kayu kecil di samping kulkas.
Selama ini beberapa dokumen keluarga memang masih disimpan di rumah Ibu karena setelah suamiku meninggal, aku sempat tinggal di sana hampir dua tahun. Sebagian besar sudah kuambil ketika pindah, tapi BPKB mobil box pertama usahaku pernah tertinggal karena waktu itu mobil tersebut dibeli menggunakan alamat rumah Ibu.
Aku langsung menelepon Mbak Yuli.
“Mbak, tolong besok pagi jangan izinkan mobil box keluar dulu.”
“Kenapa, Bu?”
“Ada urusan dokumen.”
“Besok ada kiriman jam enam.”
“Pakai mobil satunya.”
“Baik.”
Setelah itu aku membuka lemari.
Map plastik biru masih ada.
STNK lama ada.
Beberapa kuitansi servis ada.
BPKB tidak ada.
Aku menoleh kepada Ibu.
“Kapan terakhir Ibu lihat?”
“Sudah lama.”
“Siapa yang biasa buka lemari ini?”
“Ya Ibu. Kadang Dimas kalau cari surat-surat Ayah.”
Aku tertawa pelan.
Tidak lucu.
Hanya saja tubuhku seperti tidak tahu lagi harus bereaksi bagaimana.
“Telepon Mas Dimas.”
“Besok saja.”
“Sekarang.”
“Ratih, ini sudah malam.”
Aku mengambil ponselku.
“Kalau Ibu tidak mau, aku yang telepon.”
Ibu memegang tanganku.
“Jangan marah dulu.”
Aku menatap jari-jarinya.
Tipis.
Sudah ada bintik-bintik cokelat karena usia.
Tangan yang dulu menggoreng tempe sebelum subuh ketika kami masih sekolah.
Tangan yang menggadaikan gelangnya supaya Mas Dimas bisa kuliah satu semester ketika usaha Ayah sedang jatuh.
Aku tahu kenapa Ibu selalu membelanya.
Mas Dimas adalah anak yang paling sering gagal, dan justru karena itu paling sering diselamatkan.
“Ibu tahu dia ambil BPKB?”
“Aku tidak tahu.”
“Kalau begitu jangan minta aku tidak marah.”
Aku menelepon.
Mas Dimas tidak mengangkat.
Aku mencoba lagi.
Tetap tidak.
Lalu satu pesan masuk.
Besok saja. Aku capek.
Aku membalas.
Aku tunggu sampai jam 9 malam. Kalau kamu tidak datang, besok aku langsung ke perusahaan pembiayaan dengan surat ini.
Tiga puluh tujuh menit kemudian, suara pagar dibuka.
Mas Dimas masuk tanpa menyapa.
Kaosnya kusut. Wajahnya marah sebelum percakapan dimulai.
“Kamu ngapain bongkar-bongkar lemari Ibu?”
Aku duduk di meja makan.
“Duduk.”
“Aku nggak punya waktu buat diinterogasi.”
“BPKB mobilku di mana?”
Dia berhenti.
Cukup.
Aku tidak perlu jawaban lagi untuk tahu.
“Dimas.”
“Dengar dulu.”
“Di mana?”
“Masih aman.”
Aku hampir tidak percaya mendengar kata itu lagi.
Aman.
Sertifikat aman.
Uang aman.
Dokumen aman.
Ternyata di keluarga kami, kata aman sering berarti disembunyikan dari orang yang paling berhak tahu.
“Di mana?”
“Di kantor pembiayaan.”
Ibu menjatuhkan sendok.
“Kamu bilang apa?”
Mas Dimas menoleh.
“Bu, nanti aku jelaskan.”
“Kamu ambil BPKB mobil Ratih?”
“Cuma jaminan sementara.”
“Tanpa izin?” tanyaku.
Dia duduk.
“Waktu itu aku pinjam mobilmu buat acara di Gresik. BPKB-nya kebetulan ada di lemari. Aku butuh tambahan jaminan supaya pencairan pertama bisa jalan.”
Aku menatap kakakku.
“Dan kamu pikir itu normal?”
“Aku mau kembalikan.”
“Kapan?”
“Begitu ada pembayaran masuk.”
“Pembayaran apa?”
“Proyek.”
“Proyek yang mana?”
Dia mengusap wajah.
“Ratih, aku lagi berusaha selamatkan usaha.”
“Dengan mencuri dokumen usahaku?”
“Jangan bilang mencuri!”
Dia membentak begitu keras sampai Ibu terkejut.
Mas Dimas berdiri.
“Aku pinjam. Kita keluarga. Mobil itu juga dulu dibeli setelah kamu tinggal di rumah ini. Ayah bantu kamu cari dealer. Ibu yang jagain anakmu waktu kamu mulai usaha. Jangan sekarang seolah-olah semua yang kamu punya berdiri sendiri.”
Kalimatnya menghantam tempat yang sangat tepat.
Karena ada bagian yang benar.
Ibu memang menjaga Danu, anakku, bertahun-tahun ketika aku memasak sejak dini hari.
Ayah memang pernah meminjamkan Rp15 juta ketika aku membeli peralatan pertama.
Mas Dimas juga pernah membantu mengantar pesanan ketika pegawaiku sakit.
Keluarga kami saling membantu.
Tapi aku baru sadar, selama bertahun-tahun kami tidak pernah membedakan antara bantuan dan hak.
“Aku tidak pernah bilang aku berdiri sendiri,” jawabku. “Tapi bantuan Ayah dua belas tahun lalu tidak membuat BPKB-ku jadi milikmu.”
Mas Dimas menatapku.
“Kamu selalu hitung-hitungan.”
“Aku baru mulai menghitung setelah kalian berhenti jujur.”
Ibu menangis.
“Sudah, jangan bertengkar.”
Aku menoleh kepada Ibu.
“Belum selesai.”
“Ratih.”
“Belum.”
Mas Dimas mendengus.
“Kamu mau apa?”
“Besok pagi kita ke perusahaan pembiayaan.”
“Buat apa?”
“Aku mau lihat dokumennya.”
“Nggak bisa sembarangan.”
“Bisa. Namaku tercantum.”
“Kalau kamu bikin masalah, fasilitas pinjamanku bisa dibatalkan.”
“Itu tujuan pertama.”
Wajahnya berubah.
“Kamu serius?”
“Sangat.”
“Kalau pencairan dibatalkan, aku nggak bisa bayar vendor.”
“Bukan urusanku.”
“Naya mau menikah empat bulan lagi!”
Aku menatapnya.
“Naya bukan alasan untuk menjaminkan milikku.”
“Kalau usahaku tutup, kamu pikir pernikahan itu gimana?”
“Lebih sederhana.”
Dia menatapku seolah aku baru menghina seluruh keluarganya.
“Kamu gampang ngomong.”
“Tidak. Aku justru tahu susahnya usaha tutup. Dua tahun setelah suamiku meninggal, aku hampir kehilangan katering karena utang bahan baku. Aku jual gelang, bukan BPKB mobilmu.”
Mas Dimas terdiam.
Ibu menyeka air mata.
Lalu berkata lirih, “Dimas, sebenarnya utangmu berapa?”
Kakakku tidak menjawab.
“Berapa?” ulang Ibu.
“Sudah kubilang sekitar tiga ratusan.”
Aku mengangkat surat.
“Surat ini mencatat tunggakan lama Rp216 juta. Pengajuan baru Rp480 juta. Jadi total tanggunganmu berapa?”
Dia mengusap tengkuk.
“Ada beberapa.”
“Berapa?”
“Sekitar tujuh ratus.”
Ibu memegang dadanya.
“Rp700 juta?”
“Belum semuanya jatuh tempo.”
Aku menatap wajah kakakku.
Dan tiba-tiba penghinaan di acara lamaran kemarin terlihat berbeda.
Sofa baru.
Dekorasi mahal.
Keluarga calon besan yang harus dibuat terkesan.
Dia bukan hanya sedang mempertahankan usaha.
Dia sedang mempertahankan penampilan.
Gengsi.
Perasaan bahwa semua orang harus percaya hidupnya masih berjalan baik.
“Renovasi rumah ini,” kataku. “Berapa yang benar-benar dipakai buat atap?”
Mas Dimas menghindari pandanganku.
Ibu menatapnya.
“Dimas?”
“Sebagian.”
“Berapa?”
“Bu…”
“Berapa?”
“Sekitar dua puluh.”
Aku merasakan sesuatu di dalam diriku menjadi sangat tenang.
Aku mentransfer Rp48 juta.
Rp20 juta untuk rumah.
Sisanya?
“Dua puluh delapan juta ke mana?”
Mas Dimas tidak menjawab.
Aku berdiri.
“Besok jam sembilan.”
“Ratih.”
“Kalau kamu tidak datang, aku tetap datang.”
Aku memasukkan surat ke tas.
Sebelum keluar, Ibu memanggilku.
“Ratih.”
Aku berhenti di pintu.
“Kamu mau lapor polisi?”
Pertanyaan itu tidak membuatku lega.
Malah membuatku sedih.
Karena Ibu tidak bertanya apakah aku baik-baik saja.
Dia bertanya apakah aku akan membuat konsekuensi datang.
“Aku belum tahu,” jawabku. “Besok aku mau menyelamatkan milikku dulu.”
Pagi berikutnya, Mas Dimas datang terlambat dua puluh menit.
Kami bertemu di kantor perusahaan pembiayaan di Surabaya Barat.
Aku membawa salinan surat, KTP, STNK, dan bukti kepemilikan kendaraan dari arsip usahaku.
Seorang staf bernama Pak Reza menemui kami di ruang kecil.
Setelah mendengar penjelasanku, ekspresinya berubah serius.
“Bu Ratih menyatakan tidak pernah menyerahkan BPKB secara sukarela?”
“Tidak pernah.”
“Dan tidak pernah menandatangani persetujuan jaminan?”
“Tidak.”
Mas Dimas memotong.
“Itu kan kendaraan keluarga.”
Aku menoleh.
“Diam dulu.”
Pak Reza membuka berkas.
Ada fotokopi KTP-ku.
Ada salinan BPKB.
Ada surat persetujuan pemilik kendaraan.
Dan lagi-lagi, sebuah tanda tangan yang bukan milikku.
Tapi kali ini aku melihat sesuatu yang lebih menyakitkan.
Di bagian saksi keluarga, ada tanda tangan Ibu.
Aku menatapnya lama.
“Ini Ibu yang tanda tangan?”
Mas Dimas langsung berkata, “Ibu nggak tahu isinya.”
“Bukan aku tanya kamu.”
Pak Reza terlihat tidak nyaman.
Aku menelepon Ibu.
Dia mengangkat.
“Ibu, aku kirim foto satu dokumen. Tolong lihat.”
Beberapa detik kemudian terdengar suara notifikasi.
Lalu hening.
“Itu tanda tangan Ibu?”
“Iya.”
Mas Dimas mengembuskan napas.
Aku bertanya, “Ibu tahu itu untuk BPKB mobilku?”
“Dimas bilang cuma surat saksi bahwa dia pinjam dokumen keluarga.”
Aku menutup mata.
Jadi Ibu bukan tidak terlibat.
Dia terlibat setengah sadar.
Yang mungkin lebih berbahaya.
“Ibu tanda tangan tanpa baca?”
“Dia buru-buru.”
“Kenapa?”
“Dia bilang kalau tidak hari itu, pegawainya tidak gajian.”
Aku melihat Mas Dimas.
Dia menatap lantai.
Pak Reza berkata hati-hati, “Bu, karena ada keberatan dari pemilik aset, kami perlu menghentikan proses lanjutan dan melakukan pemeriksaan internal.”
“BPKB saya bisa kembali?”
“Kalau terbukti tidak ada persetujuan yang sah, tentu harus ada penyelesaian. Tetapi kami perlu proses.”
“Berapa lama?”
“Beberapa hari kerja.”
Aku mengangguk.
Mas Dimas mencondongkan tubuh.
“Pak, kalau jaminan itu ditarik, pengajuan baru saya bagaimana?”
Pak Reza menatapnya.
“Untuk sementara kami tahan.”
Mas Dimas langsung berbalik kepadaku.
“Kamu puas?”
Aku tidak menjawab.
“Kamu tahu nggak akibatnya?”
“Aku baru dua hari belajar akibat dari perbuatanmu.”
“Kamu pikir setelah ini semua beres?”
“Tidak.”
Aku berdiri.
“Aku justru tahu belum beres.”
Di parkiran, Mas Dimas mengejarku.
“Ratih!”
Aku membuka pintu mobil.
Dia berdiri di depanku.
“Aku memang salah pakai BPKB tanpa izin.”
“Bagus. Akhirnya satu kalimat jujur.”
“Tapi kamu nggak ngerti tekanannya.”
“Aku mau mengerti. Jelaskan.”
Dia terdiam.
Aku menunggu.
Beberapa mobil lewat.
Akhirnya dia berkata, “Tahun lalu aku ambil tiga proyek pernikahan besar. Dua klien belum bayar lunas. Satu acara batal. Aku sudah keluar uang ke vendor.”
“Lalu?”
“Aku pinjam buat nutup arus kas.”
“Lalu?”
“Pinjaman pertama dipakai bayar vendor lama. Pinjaman kedua buat gaji dan proyek baru.”
Aku mengangguk.
“Jadi gali lubang tutup lubang.”
“Awalnya nggak separah itu.”
“Lalu kenapa rumah Ibu?”
“Karena tidak ada aset lain.”
“Ada rumahmu.”
Wajahnya berubah.
“Rumahku masih KPR.”
“Jual mobil.”
“Itu perlu buat kerja.”
“Jual perlengkapan.”
“Nanti usaha mati.”
“Jadi pilihan terbaikmu adalah mengambil aset orang lain?”
Dia menatapku lama.
“Aku pikir kalau usaha pulih, semua balik.”
Kalimat itu mungkin adalah kebenaran paling jujur yang dia ucapkan.
Dia benar-benar percaya bisa memperbaiki semuanya sebelum kami tahu.
Masalahnya, dia sudah terlalu lama hidup dengan keyakinan bahwa keluarga adalah cadangan darurat yang boleh digunakan tanpa persetujuan.
“Kapan terakhir kamu hitung semua utangmu dengan benar?” tanyaku.
Dia tidak menjawab.
“Itu masalahmu, Mas. Bukan uang. Kamu bahkan takut melihat angka sebenarnya.”
Aku masuk mobil.
Sebelum menutup pintu, dia berkata, “Kalau aku jatuh, Ibu juga malu.”
Aku menatapnya.
“Kalau kamu terus begini, Ibu bukan cuma malu. Ibu bisa kehilangan rumah.”
Malam itu aku tidak pulang ke rumah Ibu.
Aku membuka semua catatan transfer lima tahun terakhir.
Aku jarang menghitung bantuan kepada keluarga karena selalu merasa tidak enak.
Ketika Ayah meninggal, aku membayar sebagian biaya pemakaman.
Ketika atap bocor, aku kirim uang.
Ketika Dimas kesulitan uang sekolah Naya, aku transfer.
Ketika Ibu bilang listrik naik, aku tambah.
Ketika ada renovasi, aku bayar.
Sedikit-sedikit.
Rp2 juta.
Rp4 juta.
Rp7 juta.
Rp15 juta.
Rp48 juta.
Ketika semuanya dijumlahkan, aku menatap angka di layar cukup lama.
Lebih dari Rp310 juta dalam lima tahun.
Bukan berarti aku menyesal membantu Ibu.
Aku menyesal karena selama ini bantuan itu tidak pernah punya batas yang jelas.
Keesokan harinya aku membuat tiga keputusan.
Pertama, aku menghentikan transfer uang bulanan ke rekening yang bisa diakses Mas Dimas melalui kartu ATM milik Ibu.
Bukan menghentikan bantuan kepada Ibu.
Aku mulai membayar obat, BPJS tambahan, listrik, dan kebutuhan rumah secara langsung.
Kedua, aku meminta semua dokumen milikku yang masih ada di rumah Ibu dikumpulkan.
Ketiga, aku tidak akan menandatangani persetujuan apa pun untuk menjaminkan rumah Ayah sebelum seluruh utang Mas Dimas dibuka kepada keluarga.
Aku mengirim pesan ke grup WhatsApp keluarga.
Sabtu sore kita kumpul di rumah Ibu. Aku minta Dimas bawa daftar seluruh pinjaman, cicilan, dan utang usaha. Ini bukan untuk mempermalukan siapa pun. Tapi setelah namaku dan asetku dipakai tanpa izin, aku tidak akan membuat keputusan berdasarkan cerita setengah-setengah lagi.
Mas Dimas langsung menelepon.
Aku tidak mengangkat.
Dia menulis.
Jangan bikin Naya tahu.
Aku membalas.
Naya tidak perlu ikut kalau kamu tidak mau. Tapi masalah ini tidak akan disembunyikan lagi dari orang yang asetnya dipakai.
Sabtu sore, kami duduk di ruang makan yang sama.
Ibu.
Aku.
Mas Dimas.
Mbak Sari, istrinya.
Dan adik kami, Lala, yang tinggal di Malang dan sengaja pulang setelah membaca pesan di grup.
Lala masuk rumah sambil membawa tas ransel dan wajah yang sudah marah.
“Kenapa aku baru tahu semua ini?”
Mas Dimas mendengus.
“Karena Ratih suka bikin drama.”
Lala meletakkan tas.
“Kalau BPKB orang dipakai tanpa izin, itu bukan drama.”
Aku menahan sedikit rasa lega.
Selama ini aku kira Lala akan otomatis membela Mas Dimas karena mereka lebih dekat.
Ternyata aku salah.
Mbak Sari duduk pucat.
Aku membuka percakapan.
“Mas, bawa catatannya?”
Dia meletakkan selembar kertas di meja.
Aku melihat angka-angka.
Tiga pinjaman usaha.
Dua utang vendor.
Satu pinjaman pribadi.
Total Rp728 juta.
Ibu menutup mulut.
Mbak Sari mulai menangis.
Aku menatapnya.
“Kamu tahu?”
Dia menggeleng.
“Aku tahu ada utang. Aku nggak tahu segini.”
Mas Dimas memukul meja pelan.
“Aku lakukan buat keluarga.”
Lala tertawa pendek.
“Keluarga yang mana?”
“Usahaku kasih makan keluargaku.”
“Berarti utangnya tanggung jawabmu.”
“Gampang ngomong. Kamu pegawai tetap.”
Lala mencondongkan tubuh.
“Dua tahun lalu kamu pinjam Rp20 juta dariku. Sampai sekarang belum kembali.”
Aku menoleh kepadanya.
Aku tidak tahu soal itu.
Mas Dimas langsung berkata, “Itu beda.”
“Selalu beda kalau kamu yang butuh.”
Ibu mulai menangis.
“Jangan begini.”
Aku memegang tangan Ibu.
“Bu, kita harus begini.”
“Kenapa harus dibuka semua?”
“Karena selama ditutup-tutupi, yang dipakai buat menambal bukan uang Mas Dimas lagi. Sudah uangku. Uang Lala. Rumah Ibu.”
Mas Dimas berdiri.
“Jadi kalian mau lihat aku hancur?”
Aku menatapnya.
“Duduk.”
“Aku nggak perlu dihakimi.”
“Tidak ada yang minta kamu sempurna. Kami minta kamu berhenti mengambil keputusan atas milik orang lain.”
“Aku sudah bilang aku mau mengembalikan!”
“Kapan?”
“Kalau proyek masuk.”
“Proyek yang mana?”
Dia diam.
Aku menunjuk daftar.
“Dengan cicilan segini, bahkan kalau ada proyek baru, sebagian besar uangnya akan habis menutup utang lama. Kamu tahu itu.”
Mbak Sari menutup wajah.
“Mas,” katanya pelan, “apa rumah kita juga ada surat apa-apa?”
Mas Dimas tidak menjawab.
Mbak Sari menurunkan tangannya.
“Mas?”
“Ada restrukturisasi KPR.”
“Tanpa aku tahu?”
“Kamu tanda tangan waktu itu.”
“Itu katanya perubahan bunga!”
Wajah Mas Dimas menegang.
Aku melihat sesuatu runtuh di mata Mbak Sari.
Bukan karena angka.
Karena pola.
Semua orang diberi sedikit informasi.
Cukup untuk membuat mereka setuju.
Tidak cukup untuk membuat mereka memahami.
Lala berkata pelan, “Mas, kamu ini sebenarnya takut apa?”
Pertanyaan itu membuatnya diam lebih lama daripada semua tuduhan kami.
Akhirnya dia duduk.
“Takut gagal.”
Tidak ada yang bicara.
Dia menatap tangannya.
“Semua orang pikir aku yang paling berhasil. Teman-teman. Keluarga Sari. Calon besan Naya. Aku yang punya usaha. Aku yang tiap tahun bikin acara besar. Aku yang kalau Lebaran selalu traktir makan.”
Aku baru mengerti.
Bukan hanya usaha yang dia selamatkan.
Identitasnya.
“Waktu pandemi, usahaku hampir habis. Setelah mulai ramai lagi, aku kira bisa kejar semua. Aku ambil proyek besar. Aku sewa gudang baru. Aku tambah pegawai. Aku nggak mau kelihatan mundur.”
Mbak Sari berkata, “Aku berkali-kali bilang pindah rumah lebih kecil tidak apa-apa.”
Mas Dimas menggeleng.
“Kamu nggak tahu rasanya.”
“Aku istrimu,” jawab Mbak Sari. “Harusnya aku tahu.”
Kalimat itu membuat ruangan diam.
Ibu berkata lirih, “Kenapa kamu tidak bilang ke Ibu dari awal?”
Mas Dimas menatapnya.
“Bu, aku bilang.”
“Tidak. Kamu bilang butuh bantuan sebentar.”
“Itu karena kalau aku bilang semuanya, Ibu panik.”
Aku tertawa tanpa senyum.
“Menarik. Alasanmu sama ke semua orang. Kalau kami tahu semuanya, kami pasti menolak.”
Dia menatapku.
Aku melanjutkan.
“Mas, mungkin bukan kami yang tidak mengerti. Mungkin kamu memang tahu keputusanmu tidak akan disetujui kalau dijelaskan dengan jujur.”
Itulah titik ketika dia berhenti membela diri.
Bukan meminta maaf.
Belum.
Tapi berhenti.
Kami menyusun keputusan satu per satu.
Rumah Ibu tidak dijadikan jaminan.
Aku dan Lala menolak menandatangani persetujuan.
BPKB mobilku harus dikembalikan melalui proses perusahaan pembiayaan.
Mas Dimas harus menjual satu mobil operasional pribadinya dan beberapa perlengkapan dekorasi yang jarang dipakai untuk membayar sebagian utang paling mendesak.
Gudang barunya dihentikan sewanya ketika kontrak habis.
Jumlah pegawai dikurangi secara baik-baik sesuai kemampuan usaha.
Mbak Sari mengambil alih akses laporan rekening rumah tangga.
Dan yang paling membuat Mas Dimas marah, aku menolak memberi pinjaman baru.
“Rp100 juta saja,” katanya setelah yang lain mulai tenang. “Kalau aku bisa tutup dua vendor, aku masih bisa jalan.”
Aku menatapnya.
Dulu, mungkin aku akan mencari cara.
Menggadaikan deposito.
Mengambil sebagian tabungan Danu.
Mengorbankan modal katering.
Karena aku anak sulung.
Karena keluarga.
Karena takut dianggap tega.
Tapi hari itu aku berkata, “Tidak.”
Mas Dimas menatapku cukup lama.
“Hanya itu?”
“Iya.”
“Kamu punya uang.”
“Aku punya kewajiban.”
“Keponakanmu mau menikah.”
“Pernikahan Naya tidak harus dibayar dengan utang baru.”
“Jadi kamu biarkan aku tenggelam?”
Aku menarik napas.
“Mas, selama bertahun-tahun kami semua berenang ke arahmu setiap kali kamu bilang hampir tenggelam. Masalahnya, kamu tidak pernah belajar keluar dari air karena kamu tahu kami akan datang.”
Ibu menunduk.
Aku melanjutkan lebih pelan.
“Aku tetap kakakmu. Kalau kamu sakit, aku datang. Kalau kamu butuh makan, aku bantu. Kalau anakmu butuh sesuatu yang penting, aku pertimbangkan. Tapi aku tidak akan lagi membayar supaya kamu bisa terlihat sukses.”
Mas Dimas berdiri.
Dia masuk kamar lama Ayah dan menutup pintu.
Tidak ada yang mengejarnya.
Itu mungkin pertama kalinya dalam hidupnya keluarga kami membiarkannya marah tanpa buru-buru menyelamatkan perasaannya.
Tiga hari kemudian, perusahaan pembiayaan menghubungiku.
Setelah pemeriksaan dan pencocokan dokumen, mereka mengakui ada persoalan pada persetujuan penggunaan kendaraan.
Proses jaminan dihentikan.
BPKB dikembalikan kepadaku setelah beberapa administrasi selesai.
Saat menerima map berisi dokumen itu, aku tidak merasa menang.
Aku hanya merasa lelah.
Aku memasukkannya ke tas dan langsung membawanya ke tempat penyimpanan dokumen di rumahku sendiri.
Sertifikat rumah Ibu masih menjadi persoalan berbeda.
Dokumen aslinya ternyata memang disimpan di lemari besi kecil milik notaris lama yang dulu membantu Ayah mengurus beberapa surat tanah, bukan di tangan Mas Dimas.
Ibu mengetahui tempatnya.
Dia hanya tidak mau memberitahuku karena Mas Dimas meminta agar proses pengajuan jaminan tidak diganggu.
Hal itu menjadi percakapan tersulit antara aku dan Ibu.
Kami duduk di teras sore-sore.
Tidak ada Dimas.
Tidak ada Lala.
Hanya kami berdua dan suara motor lewat di gang.
“Ibu bohong sama aku,” kataku.
Ibu memandang halaman.
“Ibu takut kamu langsung nolak.”
“Memang aku akan nolak.”
“Ibu pikir cuma sementara.”
“Semua masalah Mas Dimas selalu sementara sampai jadi masalah orang lain.”
Ibu diam.
Aku berkata, “Yang paling sakit bukan uangnya.”
Ibu menoleh.
“Aku datang setiap kali Ibu butuh. Tapi Ibu tetap memilih menyembunyikan sesuatu karena takut aku tidak mau membantu Mas Dimas.”
“Ibu bukan tidak sayang kamu.”
“Aku tahu.”
Itu benar.
Dan justru karena aku tahu, sakitnya lebih rumit.
“Ibu terlalu takut Dimas jatuh,” lanjutku. “Sampai lupa aku juga bisa jatuh.”
Air mata muncul di mata Ibu.
“Dia dari kecil begitu. Kalau gagal, dia bisa berhari-hari tidak makan. Ayah selalu keras sama dia.”
“Dan aku?”
“Kamu selalu kuat.”
Aku tertawa kecil.
Itulah kalimat yang selama ini menjadi penjara paling rapi.
Kamu kuat.
Berarti kamu bisa mengalah.
Kamu kuat.
Berarti kamu tidak apa-apa.
Kamu kuat.
Berarti uangmu bisa dipinjam.
Waktumu bisa diambil.
Perasaanmu bisa ditunda.
“Aku tidak selalu kuat, Bu.”
Ibu menatapku.
“Aku cuma jarang diberi pilihan untuk lemah.”
Dia menangis.
Aku tidak langsung memeluknya.
Aku membiarkan kalimat itu tinggal di antara kami.
Beberapa menit kemudian, Ibu berkata, “Maaf.”
Bukan pembelaan.
Bukan “tapi”.
Hanya satu kata.
Aku mengangguk.
“Aku masih akan bantu Ibu.”
Dia menggenggam tanganku.
“Tapi mulai sekarang, aku bayar kebutuhan langsung. Tidak ada lagi uang yang bisa dipindahkan ke Mas Dimas tanpa aku tahu.”
Ibu mengangguk.
“Dan soal rumah?”
“Rumah tetap atas nama dan hak Ibu selama Ibu hidup. Tapi kalau ada urusan sertifikat, semua anak harus tahu.”
Ibu menarik napas panjang.
“Iya.”
Empat bulan berikutnya tidak mudah.
Mas Dimas harus menjual SUV yang selama ini selalu dia banggakan.
Dia pindah dari gudang besar ke tempat penyimpanan yang lebih kecil.
Tiga pegawai tetap dipertahankan. Beberapa pekerja proyek dilepas.
Naya menunda pesta pernikahan besar dan memilih akad serta resepsi sederhana di gedung serbaguna dekat rumah calon suaminya.
Ketika aku mendengar itu, aku merasa bersalah.
Sampai Naya sendiri datang ke dapur kateringku.
Dia duduk di kursi plastik sambil minum es teh.
“Bude pikir aku sedih?”
Aku tersenyum.
“Sedikit.”
“Awalnya iya.”
Dia memutar sedotan.
“Tapi ternyata Arga malah lega. Keluarganya juga nggak pernah minta pesta besar.”
Aku menatapnya.
“Lalu kenapa ayahmu sampai segitunya?”
Naya tersenyum getir.
“Karena Ayah pengin membuktikan sesuatu ke orang lain.”
Kalimat itu terdengar terlalu dewasa untuk gadis dua puluh enam tahun.
“Bude,” katanya, “aku juga mau minta maaf soal acara lamaran.”
“Kamu tidak salah.”
“Aku baru tahu Mama cerita setelah semuanya ribut.”
Aku tertawa kecil.
“Nggak usah dipikir.”
“Bude sakit hati, kan?”
Aku tidak berbohong.
“Iya.”
Dia mengangguk.
“Aku juga kalau jadi Bude pasti sakit hati.”
Lalu dia berkata sesuatu yang tidak kuduga.
“Ayah malu karena usaha Bude lebih stabil dari usahanya.”
Aku menatapnya.
“Apa?”
“Dia pernah bilang ke Mama. Katanya orang-orang selalu pikir Ayah paling sukses karena kantornya keren, tapi sebenarnya Bude yang paling jarang minta bantuan.”
Aku diam.
Tiba-tiba aku mengerti bagian lain dari hari lamaran itu.
Mungkin Mas Dimas tidak hanya malu karena aku memakai celemek.
Mungkin dia juga tidak ingin keluarga calon besan tahu bahwa katering yang membuat acaranya berjalan baik adalah milik kakak yang selama ini diam-diam sering menolong keuangannya.
Kadang rasa rendah diri memakai pakaian yang aneh.
Bisa berubah menjadi gengsi.
Bisa berubah menjadi meremehkan orang yang justru membuat kita merasa kecil.
Dua bulan setelah pernikahan Naya, Mas Dimas datang ke dapurku.
Aku sedang menghitung pesanan nasi tumpeng.
Dia berdiri di pintu cukup lama.
“Masuk,” kataku.
Dia duduk.
Tubuhnya terlihat lebih kurus.
“Aku sudah jual perlengkapan dekorasi tambahan.”
Aku mengangguk.
“Lumayan buat bayar dua vendor.”
“Bagus.”
Dia menggeser sebuah amplop.
“Apa ini?”
“Rp5 juta.”
Aku menatapnya.
“Buat apa?”
“Cicilan utangku ke kamu.”
“Aku tidak pernah catat itu sebagai utang.”
“Aku catat sekarang.”
Aku tidak menyentuh amplop.
Dia berkata, “Aku belum bisa ganti semuanya.”
“Aku juga nggak minta sekaligus.”
Dia mengangguk.
Lalu diam.
Aku kembali memeriksa catatan pesanan.
Beberapa detik kemudian dia berkata, “Soal BPKB…”
Aku berhenti menulis.
“Aku salah.”
Aku menatapnya.
Dia terlihat sangat tidak nyaman mengucapkan kalimat itu.
“Dan soal acara Naya.”
Aku tetap diam.
“Aku seharusnya nggak suruh kamu masuk lewat belakang.”
“Tidak.”
“Aku malu.”
Aku mengangkat alis.
“Karena bajuku?”
Dia menggeleng.
“Karena aku tahu kateringmu dibayar penuh sama keluarga Arga. Sedangkan aku bahkan masih punya utang ke vendor dekorasi acara anakku sendiri.”
Jadi Naya benar.
“Aku merasa…” dia berhenti. “Entahlah. Kayak kalau orang tahu keadaan sebenarnya, semua yang kubangun kelihatan palsu.”
Aku menatap kakakku.
Untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai, aku tidak melihat seseorang yang berusaha memanipulasiku.
Aku melihat pria empat puluh dua tahun yang menghabiskan bertahun-tahun mempertahankan citra sampai hampir kehilangan rumah ibunya sendiri.
“Ada satu hal yang masih harus kamu pahami,” kataku.
“Apa?”
“Rasa malu tidak pernah memberimu hak mengambil milik orang lain.”
Dia mengangguk.
“Aku tahu.”
“Dan aku belum percaya penuh sama kamu.”
Wajahnya berubah sedikit.
Tapi aku tidak menarik kalimatku.
“Kalau kamu berharap setelah minta maaf semua kembali seperti dulu, tidak.”
Dia menatap meja.
“Aku ngerti.”
“Bagus.”
Dia berdiri.
Sebelum pergi, dia menunjuk amplop.
“Ambil.”
Aku mengambilnya.
Bukan karena Rp5 juta itu mengubah apa pun.
Tapi karena untuk pertama kalinya dia membayar sesuatu tanpa harus dikejar.
Setahun setelah acara lamaran itu, rumah Ibu masih berdiri.
Tidak pernah dijaminkan.
Sertifikatnya sekarang disimpan dengan sistem yang jelas. Aku, Dimas, dan Lala masing-masing tahu di mana dokumen berada dan apa statusnya.
Mas Dimas belum bebas dari utang.
Tapi jumlahnya turun.
Usahanya lebih kecil.
Tidak ada lagi gudang besar.
Tidak ada SUV.
Tidak ada acara mewah untuk sekadar terlihat berhasil.
Anehnya, justru setelah mengecil, usahanya mulai lebih sehat.
Mbak Sari memegang pembukuan rumah tangga.
Mas Dimas tidak suka pada awalnya.
Sekarang dia sudah terbiasa.
Ibu masih sering membelanya.
Itu mungkin tidak akan pernah hilang sepenuhnya.
Bedanya, sekarang ketika Ibu berkata, “Kasihan Dimas,” aku tidak langsung membuka mobile banking.
Aku bertanya dulu.
“Kasihan karena apa?”
Dan kadang jawabannya memang membuatku membantu.
Kadang tidak.
Aku belajar bahwa mengatakan tidak tidak membuatku berhenti menjadi anak yang berbakti.
Aku masih mengantar Ibu kontrol.
Masih membelikan obat.
Masih datang membawa sup kalau dia sakit.
Yang berubah hanya satu.
Aku tidak lagi menyerahkan keputusan atas hidupku supaya orang lain tidak kecewa.
Suatu sore, setelah mengantar pesanan, aku mampir ke rumah Ibu.
Di teras ada sandal Mas Dimas.
Aku hampir otomatis merasa tegang.
Lalu aku berhenti.
Aku bukan lagi Ratih yang berdiri di depan pintu sambil menebak masalah apa yang harus kuselesaikan.
Aku membuka pagar.
Masuk lewat pintu depan.
Ibu sedang membuat teh.
Dimas duduk di ruang tamu memperbaiki tali tas kerjanya yang putus.
“Teh?” tanya Ibu.
“Boleh.”
Aku duduk.
Tidak ada yang meminta uang.
Tidak ada dokumen yang disembunyikan.
Tidak ada kalimat “demi keluarga” yang dipakai sebagai senjata.
Hanya tiga orang dewasa dengan hubungan yang belum sempurna, tapi akhirnya lebih jujur daripada sebelumnya.
Aku memegang cangkir teh hangat dan melihat pintu dapur di ujung lorong.
Setahun lalu aku disuruh masuk dari sana karena kakakku takut orang lain melihatku sebagai bagian dari keluarganya.
Sore itu aku masuk lewat pintu depan.
Bukan karena akhirnya mereka mengakui siapa aku.
Tapi karena aku sendiri sudah berhenti meminta izin untuk menempati tempat yang memang menjadi hakku.
Terima kasih sudah membaca cerita ini sampai akhir. Semoga kamu dan keluargamu selalu diberi kesehatan, ketenangan, rezeki yang cukup, serta keberanian untuk saling membantu tanpa mengambil hak satu sama lain. Kalau kamu berada di posisiku, apakah kamu masih akan membantu saudara yang pernah memakai asetmu tanpa izin, atau memilih menjaga jarak sepenuhnya? Bagikan pendapatmu di kolom komentar. Kalau cerita ini terasa dekat dengan kehidupan nyata, kamu juga boleh membagikannya kepada orang lain yang mungkin pernah berada di situasi serupa.
