Di Hari Pemakaman Ayah, Ibu Tiriku Mengumumkan Seluruh Saham Pabrik Batik Menjadi Miliknya. Aku Tidak Membantah, Sampai Ia Menyebut Rencana Memindahkan Merek yang Sejak Dulu Tidak Pernah Menjadi Milik Ayah

Avatar penulis
Cerita 01
25 menit baca 124 tayangan
Di Hari Pemakaman Ayah, Ibu Tiriku Mengumumkan Seluruh Saham Pabrik Batik Menjadi Miliknya. Aku Tidak Membantah, Sampai Ia Menyebut Rencana Memindahkan Merek yang Sejak Dulu Tidak Pernah Menjadi Milik Ayah
Indeks

BAGIAN 2

Aku membalas Hendra malam itu.

Jangan proses apa pun sampai saya datang sendiri.

Balasannya langsung masuk.

Baik, Bu. Besok pagi ada permintaan konsultasi dari pihak PT Arunika Busana.

PT Arunika Busana.

Perusahaan Maya.

Aku tidak tidur nyenyak.

Pukul delapan pagi, Bu Lestari mengetuk pintuku.

Dia sudah mengenakan blouse krem dan celana hitam. Wajahnya masih bengkak setelah dua hari hampir tidak tidur.

“Jam sepuluh kita ke Pak Damar.”

“Aku mau ke pabrik dulu.”

Tatapannya berubah.

“Hari ini?”

“Ya.”

Di Hari Pemakaman Ayah, Ibu Tiriku Mengumumkan Seluruh Saham Pabrik Batik Menjadi Miliknya. Aku Tidak Membantah, Sampai Ia Menyebut Rencana Memindahkan Merek yang Sejak Dulu Tidak Pernah Menjadi Milik Ayah

“Ratri, urusan perusahaan bisa menunggu beberapa hari.”

“Kalau begitu dokumen yang harus kutandatangani juga bisa menunggu.”

Dia tidak menjawab.

Itu jawaban pertama yang kudapat pagi itu.

Pabrik berada sekitar lima belas menit dari rumah jika jalanan lancar.

Bangunan depan hampir tidak berubah sejak aku kecil.

Cat putihnya baru, tetapi pohon sawo di dekat pos satpam masih ada.

Tulisan SEKAR LAWeyan terpampang di dinding showroom.

Di bawahnya, lebih kecil:

Diproduksi oleh PT Langgeng Karya.

Dulu aku tidak pernah memikirkan perbedaan dua kalimat itu.

Pagi itu, rasanya seperti seseorang menggarisbawahinya.

Pak Seno menemukanku di lantai produksi.

“Bu Ratri.”

Dia masih memanggilku “Bu”, meski dulu dia yang mengajariku membedakan kain primissima dengan kain kualitas lebih rendah.

“Saya kira Ibu istirahat.”

“Aku perlu lihat lini Sekar Muda.”

Pak Seno menekan bibir.

Lalu berjalan tanpa bertanya.

Kami melewati meja potong menuju ruangan belakang.

Ada sekitar dua puluh orang bekerja di sana.

Model bajunya memang berbeda dari produk utama kami.

Label yang dijahit di bagian leher bertuliskan:

Sekar Muda by Arunika.

Aku mengambil satu.

“Sejak kapan?”

“Sekitar delapan bulan.”

“Bahan dari mana?”

“Gudang sini.”

“Mesin?”

“Sini.”

“Pegawai?”

Pak Seno tidak perlu menjawab.

Aku melihat sendiri.

“Arunika bayar produksi ke Langgeng Karya?”

Pak Seno menggaruk pelipis.

“Lebih baik tanya Bu Rina.”

Aku menemui Bu Rina di ruang keuangan.

Dia menutup pintu sebelum aku minta.

Itu clue ketiga.

“Berapa?” tanyaku.

“Bu Ratri…”

“Berapa nilai barang, gaji, dan penggunaan mesin yang masuk ke Arunika?”

Dia membuka komputer.

Tidak langsung memberikan data.

Dia hanya menunjukkan beberapa jurnal transaksi.

Ada biaya produksi.

Bahan.

Pengiriman.

Jasa pemasaran.

Beberapa pembayaran sudah masuk.

Banyak yang belum.

“Piutang Arunika ke perusahaan sekitar satu koma satu miliar,” katanya akhirnya.

Aku terdiam.

“Ayah tahu?”

“Sebagian.”

“Sebagian itu berapa?”

Bu Rina menelan ludah.

“Pak Hadi awalnya menyetujui batas sampai sekitar empat ratus juta. Katanya untuk bantu Mbak Maya membuka pasar.”

“Lalu sisanya?”

“Setelah beliau mulai sering sakit, keputusan banyak lewat Bu Lestari.”

Aku bersandar.

Jadi inilah jawabannya.

Setidaknya begitu yang kupikir.

Bu Lestari menggunakan pabrik Ayah untuk menopang perusahaan anaknya.

Lalu setelah Ayah meninggal, dia mendapat saham mayoritas dan berniat memindahkan merek sekalian.

Sederhana.

Terlalu sederhana.

Aku menemukan Maya di gudang belakang hampir satu jam kemudian.

Dia sedang memeriksa contoh kain bersama dua staf.

Begitu melihatku, dia menyuruh mereka keluar.

“Mbak mau marah?”

“Aku mau tanya.”

“Biasanya pertanyaan Mbak kalau lagi marah lebih bikin takut daripada orang teriak.”

Aku menaruh label Sekar Muda di meja.

“Kamu tahu Sekar Laweyan bukan milik perusahaan?”

Maya memandang label itu.

“Aku tahu.”

Aku tidak menyangka.

“Ibumu tahu?”

Dia tertawa pendek.

“Ibu lebih tahu daripada aku.”

“Kalau begitu kenapa kalian mau mengurus sublicensing tanpa bicara denganku?”

“Karena Ibu yakin Mbak akhirnya akan tanda tangan.”

Kalimat itu menusuk tepat pada tempat yang tidak ingin kuakui.

Bukan karena sombong.

Karena masuk akal.

Selama bertahun-tahun, kalau keluarga meminta sesuatu dan aku bisa memberikannya tanpa harus bertengkar, biasanya kuberikan.

Uang sekolah keponakan.

Tagihan rumah.

Biaya rumah sakit Ayah yang sebenarnya sanggup dia bayar sendiri.

Aku selalu memilih jalan yang membuat percakapan cepat selesai.

Maya menarik kursi.

“Kalau Mbak pikir Ibu melakukan semuanya buat aku, itu juga nggak benar.”

“Piutang satu koma satu miliar bukan bantuan kecil.”

“Aku tahu.”

“Kamu belum bayar.”

“Aku juga tahu.”

“Lalu?”

Wajahnya mengeras.

“Tiga bulan lalu Pak Hadi justru menyuruh lini Sekar Muda dihentikan kalau sampai September aku belum mulai bayar.”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena perusahaan butuh uang.”

“Perusahaan ini omzet puluhan miliar setahun.”

“Omzet bukan saldo rekening.”

Aku tidak suka ketika orang yang lebih muda dariku mengatakan hal yang masuk akal saat aku sedang marah.

Maya membuka laci meja dan mengeluarkan salinan jadwal pembayaran.

Namanya tercantum di atas.

Ada cicilan pertama Rp75 juta yang seharusnya masuk bulan lalu.

Belum dibayar.

“Aku nggak minta dibenarkan,” katanya. “Usahaku memang dibantu terlalu banyak.”

“Lalu Ibumu?”

“Ibu marah waktu Pak Hadi mau berhenti.”

“Tentu.”

“Bukan cuma karena aku.”

Dia menatapku lurus.

“Kalau Mbak benar-benar mau tahu apa yang Ayah Mbak tinggalkan, jangan cuma lihat surat wasiat.”

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Maya berdiri.

“Pergi ke Bu Rina. Minta dia buka posisi kas tiga bulan ke depan.”

“Aku tadi sudah bicara dengannya.”

“Bukan piutangku.”

Maya menarik napas.

“Tanya berapa lama perusahaan ini masih bisa membayar delapan puluh enam orang kalau tidak ada uang baru masuk.”

Dia mengambil tasnya.

Sebelum keluar, dia berhenti.

“Dan tanya kenapa Ibu sudah dua minggu mencari pinjaman dengan jaminan kontrak merek.”

Pintu menutup.

Aku kembali ke ruang Bu Rina.

Kali ini aku tidak bertanya tentang Arunika.

Aku bertanya:

“Saldo untuk gaji cukup berapa lama?”

Bu Rina memandang layar.

Kemudian memandangku.

“Kalau tidak ada penerimaan besar masuk?”

“Ya.”

“Sebelas hari.”

Baru saat itulah aku mengerti.

Ayah tidak meninggalkan sebuah perusahaan yang diperebutkan dua perempuan.

Dia meninggalkan sesuatu yang mungkin sedang tenggelam.

Dan tanpa merek milikku, Bu Lestari mungkin tidak punya jalan yang dia anggap cukup cepat untuk menyelamatkannya.

Kalau ternyata orang yang paling membuat kita marah juga sedang memegang masalah yang jauh lebih besar, apakah itu mengubah kesalahannya, atau hanya mengubah cara kita harus menghadapinya?

BAGIAN 3

“Saya mau lihat semuanya.”

Bu Rina masih duduk di belakang meja.

“Apa saja, Bu?”

“Utang bank, utang vendor, piutang, kontrak distributor, uang muka pelanggan. Jangan dipilih.”

Dia menatap pintu.

“Bu Lestari belum memberi izin.”

Aku hampir menjawab dengan nada tinggi.

Lalu berhenti.

PT Langgeng Karya memang bukan milikku.

Aku bahkan bukan direkturnya.

Kalau aku menuntut Bu Rina memberikan seluruh dokumen hanya karena aku anak pendiri, aku sedang melakukan hal yang sama yang membuatku marah sejak kemarin.

Menganggap hubungan keluarga otomatis memberi hak.

Aku menarik napas.

“Benar.”

Bu Rina terlihat sedikit lega.

“Aku tidak mau kamu melanggar aturan perusahaan.”

Aku menunjuk komputer.

“Tapi kalau ada data yang terkait penggunaan merek milikku atau kewajiban kepada pemegang merek, aku berhak tahu sebelum menandatangani lisensi baru.”

Dia mengangguk pelan.

“Yang itu bisa.”

Untuk pertama kali sejak pemakaman, aku merasa sedang berpikir, bukan hanya bereaksi.

Kami mulai dari kontrak lisensi lama.

Sepuluh tahun sebelumnya, PT Langgeng Karya mendapat hak eksklusif memakai merek Sekar Laweyan untuk pakaian, kain batik, perlengkapan rumah, dan beberapa produk turunannya.

Ada royalti kecil.

Selama Ayah masih hidup, pembayaran royalti sering hanya dicatat sebagai kewajiban tahunan karena aku sendiri berkali-kali mengatakan tidak perlu ditransfer.

Aku bahkan pernah bercanda, “Anggap saja buat beli teh pegawai.”

Sekarang aku ingin menampar versi diriku sendiri yang mengatakan itu.

Bukan karena jumlahnya.

Karena kebiasaan itulah yang membuat semua batas di keluarga kami menjadi kabur.

Ketika hak, uang, dan bantuan terus dianggap “nanti saja dihitung”, pada akhirnya tak seorang pun tahu mana pemberian, mana kewajiban, mana izin sementara, dan mana sesuatu yang sudah dianggap milik sendiri.

Bu Rina menunjukkan laporan penggunaan merek untuk Sekar Muda.

Tidak ada sublicensing resmi.

Artinya PT Arunika menggunakan nama itu hanya berdasarkan persetujuan internal.

“Ayah tahu semua ini?”

“Pak Hadi tahu produknya,” jawab Bu Rina. “Saya tidak tahu apakah beliau tahu struktur penjualannya.”

“Struktur apa?”

Dia menunjukkan beberapa faktur.

Barang dibuat oleh Langgeng Karya.

Namun sebagian penjualan daring dibukukan oleh Arunika.

Sebagai gantinya, Langgeng Karya mendapat biaya produksi.

Margin yang lebih besar tertinggal di Arunika.

Aku membaca satu angka dua kali.

“Siapa yang membuat pola ini?”

“Awalnya konsultan pemasaran.”

“Siapa yang menyetujui?”

Bu Rina diam.

Aku tidak mendesak.

Aku sudah tahu.

Bu Lestari.

Tetapi ada angka lain yang justru lebih menggangguku.

Utang bank.

Bukan fantastis.

Justru itu yang membuatnya terasa nyata.

Rp3,8 miliar fasilitas modal kerja yang jatuh tempo bertahap.

Sekitar Rp1,2 miliar tagihan vendor yang melewati jadwal.

Uang muka dua pelanggan besar yang sebagian sudah dipakai untuk membeli mesin baru.

Dan kontrak hotel di Bali yang ternyata tidak sebesar proyeksi awal.

“Ayah beli mesin kapan?”

“Delapan bulan lalu.”

Waktunya hampir bersamaan dengan ekspansi Maya.

Aku memijat kening.

“Jadi ada dua ekspansi sekaligus?”

Bu Rina mengangguk.

“Pak Hadi yakin kontrak hotel akan besar. Bu Lestari yakin lini Mbak Maya bisa masuk pasar anak muda.”

“Dan dua-duanya memakai kas perusahaan.”

“Kurang lebih.”

Aku tertawa kecil.

Tidak ada yang lucu.

Begitulah keluarga kami rupanya bekerja.

Ayah mengambil risiko karena percaya pengalaman membuatnya selalu bisa memperbaiki keadaan nanti.

Bu Lestari mengambil risiko karena merasa dirinya yang paling tahu kondisi sehari-hari.

Maya menerima bantuan karena selama ada orang tua yang berkata bisa, kenapa harus bertanya terlalu banyak?

Dan aku?

Aku pergi.

Lalu setiap kali muncul masalah, aku mengirim uang atau menjawab “terserah Ayah” supaya tidak perlu terlibat.

Tidak ada satu penjahat yang berdiri di tengah ruangan.

Hanya empat orang dewasa yang sama-sama memilih cara termudah bagi dirinya sendiri.

Akibatnya dibayar delapan puluh enam pegawai.

Ponselku bergetar.

Bu Lestari.

Kami tunggu di Pak Damar jam sepuluh.

Jam menunjukkan 09.17.

Aku mengetik:

Saya tidak akan datang sebelum membaca dokumen lisensinya. Tolong kirim dulu.

Tiga titik muncul.

Hilang.

Muncul lagi.

Kemudian telepon masuk.

“Ratri.”

“Aku di pabrik.”

“Aku tahu.”

“Siapa yang bilang?”

“Semua orang mengenalmu di sana.”

Nada suaranya tidak tinggi.

Justru itu yang membuat ketegangannya lebih terasa.

“Apa isi dokumen yang harus kutandatangani?”

“Perpanjangan lisensi.”

“Berapa lama?”

Hening.

“Lima belas tahun.”

Aku menutup mata sebentar.

Lisensi lama sepuluh tahun.

Dia meminta lima belas.

“Untuk PT Langgeng Karya?”

“Dan perusahaan afiliasi yang disetujui.”

“Itu berarti Arunika.”

“Termasuk Arunika kalau diperlukan.”

“Apa lagi?”

“Ratri, ini bukan pembicaraan lewat telepon.”

“Kalau begitu jangan minta aku datang ke notaris sebelum tahu apa yang akan kutandatangani.”

Nada suaranya berubah.

“Ayahmu baru dua hari dimakamkan.”

Aku menatap barisan kain sampel di depan Bu Rina.

“Justru itu.”

“Apa maksudmu?”

“Aku tidak mau kita memakai suasana berkabung untuk membuat keputusan lima belas tahun.”

Dia terdiam.

Kemudian berkata sangat pelan, “Kamu pikir aku sedang memanfaatkan kematian ayahmu?”

“Aku belum bilang begitu.”

“Tapi kamu memikirkannya.”

Aku tidak menyangkal.

Bu Lestari menghembuskan napas.

“Aku pulang ke rumah. Kita bicara di sana.”

“Bukan di rumah.”

“Kenapa?”

“Karena ini urusan perusahaan.”

Itu pertama kalinya dalam hidupku aku mendengar diriku sendiri membuat batas sejelas itu kepada keluarga.

Aku berkata, “Jam satu di showroom pabrik. Bu Rina ikut. Pak Seno kalau berkaitan dengan produksi. Maya juga.”

“Kenapa Maya?”

“Karena Arunika ada di dokumen.”

“Kita tidak perlu membuat semua orang tahu masalah keluarga.”

“Ini bukan cuma masalah keluarga.”

Aku melihat Bu Rina.

“Ini juga uang perusahaan.”

Telepon terputus.

Aku baru sadar telapak tanganku berkeringat.

Bu Rina menatapku.

“Saya harus ikut?”

“Kalau kamu boleh hadir secara jabatan.”

“Boleh.”

“Kalau kamu tidak nyaman, jangan.”

Dia mengangguk kecil.

“Justru mungkin sudah waktunya.”


Sebelum rapat, aku masuk ke ruang kerja Ayah di lantai dua.

Tidak banyak yang berubah.

Mejanya lebih rapi daripada kamar di rumah.

Di sudut ada termos stainless.

Di dinding tergantung foto lama pembukaan pabrik pertama.

Aku masih berumur sembilan belas tahun di foto itu.

Ibu berdiri di tengah sambil memegang gunting.

Ayah di sebelah kanan.

Aku di kiri, jauh lebih kurus dan tidak tahu apa-apa tentang hidup.

Di belakang foto, ada papan nama pertama bertuliskan Sekar Laweyan.

Nama itu ide Ibu.

Dulu dia menjual kain dari rumah.

Ayah yang membuat usahanya besar.

Mereka selalu bertengkar soal siapa yang lebih berjasa.

Ibu bilang tanpa desain dan pelanggan awalnya, Ayah cuma punya mesin.

Ayah bilang tanpa keberaniannya meminjam uang, Ibu selamanya akan menjual tiga lembar kain sehari.

Mereka menikah tiga puluh tahun dan tidak pernah menyelesaikan perdebatan itu.

Mungkin memang tidak perlu.

Aku duduk di kursi Ayah.

Lalu membuka lagi WhatsApp.

Dua pesan suara.

Yang pertama hanya sebelas detik.

Suara Ayah terdengar lelah.

“Tri, kalau sempat pulang, Ayah mau bicara soal perpanjangan merek. Jangan tanda tangan apa pun dulu sebelum kamu lihat pembukuannya, ya.”

Aku berhenti bernapas beberapa detik.

Bukan karena isinya mengejutkan.

Karena kalimat itu datang dari orang yang sudah tidak bisa kuhubungi kembali.

Aku memutar pesan kedua.

Kali ini hampir satu menit.

“Ayah tahu kamu tidak suka dicampur urusan pabrik lagi. Ayah juga salah, terlalu banyak bilang nanti. Lestari banyak bantu Ayah, terutama waktu Ayah sakit. Tapi urusan Maya sudah kelewatan. Ayah sudah minta dibatasi. Kalau Ayah belum sempat bereskan, kamu jangan langsung mengalah karena kasihan pegawai. Lihat angkanya dulu. Cari jalan yang benar.”

Ada jeda panjang.

Lalu suara Ayah lebih pelan.

“Jangan seperti Ayah.”

Pesan selesai.

Aku memutarnya sekali lagi.

Bukan bagian tentang Maya.

Bukan tentang merek.

Dua kata terakhir itu.

Jangan seperti Ayah.

Aku duduk sendirian hampir sepuluh menit.

Selama ini aku selalu mengira Ayah adalah orang yang suka mengatur.

Ternyata ada bagian lain yang baru bisa kulihat ketika semuanya terlambat.

Dia juga pengecut dalam caranya sendiri.

Berani mengambil utang miliaran.

Berani membeli mesin.

Berani membuka pasar baru.

Tapi untuk berkata kepada istrinya, “anakmu harus berhenti memakai uang perusahaan”, dia menunggu.

Untuk berkata kepadaku, “aku masih membutuhkanmu”, dia menelepon lalu berkata nanti.

Dalam hal-hal besar, Ayah berani.

Dalam hal-hal yang bisa melukai orang yang dicintainya, dia sering memilih menunda.

Aku persis seperti dia.


Pukul satu kurang sepuluh, Bu Lestari masuk showroom.

Maya bersamanya.

Pak Damar tidak ikut.

Bagus.

Bu Lestari menaruh tas di kursi.

“Kita bisa bicara berempat saja?”

Aku menunjuk Bu Rina dan Pak Seno.

“Tidak.”

“Ratri.”

“Mereka tidak perlu tahu urusan pribadi. Tapi mereka perlu tahu keputusan yang menyangkut perusahaan.”

Bu Lestari tersenyum tipis.

Bukan senyum ramah.

“Akhirnya setelah dua belas tahun kamu ingat perusahaan ini punya pegawai.”

Kalimat itu kena.

Aku tidak langsung membalas.

Pak Seno menggeser posisi duduk.

Maya menunduk.

Aku berkata, “Ibu benar.”

Bu Lestari kelihatan tidak siap.

“Apa?”

“Aku pergi dua belas tahun. Aku terlalu sering bilang semua keputusan terserah Ayah. Itu bagian kesalahanku.”

Wajahnya berubah sedikit.

“Tapi kesalahanku tidak membuat penggunaan merek tanpa izin menjadi benar.”

Senyumnya hilang.

“Ayahmu setuju.”

“Untuk koleksinya. Bukan untuk memindahkan hak merek ke perusahaan Maya.”

“Tidak ada yang memindahkan.”

“Draf yang mau kutandatangani mencantumkan hak sublicensing untuk perusahaan afiliasi.”

Bu Lestari menoleh kepada Maya.

Maya berkata, “Aku sudah bilang Mbak Ratri pasti baca.”

“Diam dulu.”

Itu pertama kalinya suara Bu Lestari naik.

Maya menyandarkan tubuh.

“Aku justru pengin ngomong.”

“Ibu bilang diam.”

“Ibu juga bilang ke aku pinjaman baru bakal beres kalau Mbak Ratri tanda tangan. Sekarang dia sudah tahu.”

Bu Lestari menatap anaknya cukup lama.

Aku melihat sesuatu yang jarang terlihat di keluarga kami.

Bukan kemarahan.

Kelelahan.

Perempuan itu duduk.

“Baik.”

Dia membuka tas dan mengeluarkan map.

“Aku memang butuh lisensi panjang.”

“Untuk apa?”

“Bank.”

“Apa yang mau dibiayai?”

“Modal kerja.”

“Dan utang lama.”

Dia menatapku.

“Kamu sudah lihat angkanya?”

“Sebagian.”

“Kalau begitu kamu tahu.”

“Aku tahu kita punya masalah.”

“Bukan kita.”

Bu Lestari langsung memperbaiki.

“Aku.”

Ruangan menjadi lebih tenang.

“Perusahaan ini diwariskan kepadaku.”

Dia mengusap ujung map dengan ibu jari.

“Kalau bulan depan ada vendor yang berhenti kirim kain, yang ditelepon aku. Kalau pegawai telat gaji, yang dicari aku. Kalau bank menagih, bukan kamu.”

“Aku tahu.”

“Tidak. Kamu belum tahu.”

Aku membiarkannya bicara.

“Ayahmu sakit hampir dua tahun. Setahun terakhir, separuh rapat dia jalani dari rumah. Kadang jam sepuluh pagi dia sudah kelelahan.”

Suaranya mulai bergetar.

“Siapa yang ke sini?”

“Ibu.”

“Siapa yang mendengar keluhan pegawai?”

“Ibu.”

“Siapa yang menemani dia waktu sesak tengah malam?”

Aku tidak menjawab.

Bu Lestari menatapku.

“Kamu datang dua minggu sekali, duduk dua jam, lalu pulang ke Semarang.”

Maya menoleh ke jendela.

Pak Seno menunduk.

Aku merasakan keinginan lama muncul.

Keinginan untuk membela diri.

Mengatakan aku juga punya pekerjaan.

Punya anak.

Ayah tidak pernah meminta.

Aku tidak tahu dia separah itu.

Semua benar.

Tapi kebenaran tidak selalu harus digunakan sebagai senjata.

“Aku tahu Ibu merawat Ayah.”

“Tidak. Kamu tahu kalimatnya. Kamu tidak menjalani harinya.”

Aku menelan ludah.

Bu Lestari melanjutkan.

“Jadi ketika Ayahmu memberikan sahamnya kepadaku, jangan lihat seolah-olah aku mencurinya.”

“Aku tidak keberatan soal saham.”

Dia tertawa pendek.

“Tentu kamu bilang begitu sekarang.”

“Aku serius.”

Aku mencondongkan tubuh.

“Kalau itu keputusan Ayah, aku tidak akan menggugat hanya karena aku anak kandung.”

Dia berhenti.

“Aku tidak mau perusahaan.”

Bu Lestari tidak berkedip.

“Aku mau batasnya jelas.”

Aku meletakkan salinan lisensi lama di meja.

“PT Langgeng Karya milik pemegang sahamnya. Merek Sekar Laweyan milikku. Arunika milik Maya. Kita berhenti berpura-pura tiga hal itu sama hanya karena semuanya keluarga.”

Maya menarik napas pelan.

Bu Lestari berkata, “Kalau kamu tidak memperpanjang lisensi, perusahaan bisa kehilangan pembiayaan.”

“Aku akan memperpanjang.”

Dia langsung menegakkan punggung.

“Tapi bukan lima belas tahun.”

“Berapa?”

“Satu tahun.”

Wajahnya langsung keras.

“Bank tidak akan suka.”

“Bukan masalahku membuat bank suka.”

“Delapan puluh enam pegawai bisa kehilangan pekerjaan.”

Kalimat itu yang selama ini selalu berhasil.

Bukan hanya dari Bu Lestari.

Dari Ayah.

Dari paman.

Dari siapa pun yang tahu bagian terlemahku.

Pegawai.

Keluarga.

Orang tua.

Anak.

Semua orang yang bisa terluka kalau aku berkata tidak.

Dulu aku akan langsung mengalah setelah mendengar angka delapan puluh enam.

Hari itu aku tidak.

“Aku tidak akan menghentikan lisensi yang sekarang.”

Bu Lestari diam.

“Masih ada waktu enam minggu,” lanjutku. “Produksi tetap jalan. Pesanan lama tetap dipenuhi. Kita pakai enam minggu itu untuk memperbaiki arus kas dan aturan penggunaan merek.”

“Enam minggu tidak cukup.”

“Kalau dari awal Ibu bicara kepadaku, waktunya lebih dari enam minggu.”

“Itu salah Ayahmu juga.”

Aku mengangguk.

“Iya.”

Jawaban itu kembali membuatnya berhenti.

“Iya,” ulangku. “Ayah salah.”

Maya memandangku.

Pak Seno mengangkat kepala.

Aku berkata, “Aku baru dengar pesan suaranya.”

Bu Lestari langsung tahu pesan apa.

Wajahnya berubah.

“Dia menghubungimu?”

“Tujuh kali.”

“Dan kamu tidak angkat.”

Tidak ada nada kasihan dalam kalimat itu.

Hanya fakta.

“Tidak.”

“Bagus.”

Satu kata itu lebih menyakitkan daripada teriakan.

“Sekarang kamu tahu rasanya orang menghindari pembicaraan sampai orang lain harus membereskan semuanya.”

Aku hampir membalas.

Kemudian sadar dia benar lagi.

Sebagian.

“Aku salah tidak mengangkat telepon.”

Suaraku lebih pelan.

“Tapi Ibu juga salah memakai uang perusahaan untuk menopang Arunika tanpa batas yang jelas.”

Bu Lestari memalingkan wajah.

Maya berkata, “Bu.”

“Jangan.”

“Memang benar.”

“Maya.”

“Aku yang harus bayar.”

Bu Lestari menatapnya.

Maya duduk lebih tegak.

“Aku pinjam fasilitas pabrik. Aku dapat bahan. Aku pakai pegawai. Kalau semuanya terus dianggap bantuan keluarga, usaha aku sendiri nggak pernah akan benar-benar berdiri.”

Aku melihat mata Bu Lestari mulai merah.

Bukan kesedihan untuk Ayah kali ini.

Kemungkinan besar marah.

“Kamu bicara begitu karena sekarang ada Mbakmu.”

“Bukan.”

“Delapan bulan Ibu bantu kamu.”

“Dan delapan bulan aku jadi merasa bisnis ini lebih sehat daripada kenyataannya.”

Bu Lestari mengetuk meja dengan ujung jarinya.

“Saya melakukan itu supaya dua usaha sama-sama hidup.”

Pak Seno akhirnya bicara.

“Bu, boleh saya bicara?”

Bu Lestari menatapnya.

“Silakan.”

“Kami di produksi sudah beberapa kali kesulitan menentukan prioritas.”

“Kenapa tidak pernah bilang?”

Pak Seno tersenyum pahit.

“Sudah.”

Ruangan mendadak sangat sunyi.

Bukan sunyi dramatis.

Lebih buruk.

Sunyi ketika seseorang tahu percakapan lama sedang ditagih kembali.

Pak Seno melanjutkan.

“Waktu order Arunika masuk bersamaan dengan pesanan hotel, saya bilang kapasitas tidak cukup. Pak Hadi minta hotel didahulukan. Ibu minta dua-duanya jalan.”

Bu Lestari berkata, “Karena dua-duanya penting.”

“Benar.”

Pak Seno mengangguk.

“Tapi mesin tidak tahu mana yang keluarga.”

Maya menutup mulutnya sebentar, mungkin menahan sesuatu.

Kalimat sederhana itu memukul kami semua.

Mesin tidak tahu mana yang keluarga.

Kas perusahaan juga tidak.

Vendor tidak.

Bank tidak.

Hanya kami yang selama bertahun-tahun bertindak seolah hubungan darah bisa menggantikan aturan.

Aku memandang Bu Rina.

“Kalau Arunika mulai membayar Rp75 juta bulan ini sesuai jadwal lama, membantu?”

“Membantu, tapi belum cukup.”

“Apa lagi?”

“Dua distributor besar punya pesanan kuartal terakhir. Kalau mereka bersedia membayar uang muka lebih besar, kebutuhan kas bisa lebih longgar.”

Bu Lestari berkata, “Mereka sudah menolak.”

“Kenapa?”

“Mereka minta kepastian merek setelah Oktober.”

Aku akhirnya melihat bentuk masalahnya secara utuh.

Bukan lisensi lima belas tahun untuk mencuri sesuatu dariku.

Lisensi itu dipakai sebagai jawaban paling cepat untuk semua kekacauan yang sudah menumpuk.

Memberikan lima belas tahun mungkin menyelamatkan kas hari ini.

Tapi juga membuat semua orang bisa kembali menunda pembicaraan yang seharusnya dilakukan sekarang.

Aku berkata kepada Bu Rina, “Kalau aku memberikan perpanjangan satu tahun, tertulis bahwa merek tidak boleh dipindahtangankan atau disublisensikan tanpa persetujuanku, apakah cukup untuk meyakinkan distributor?”

“Harus ditanyakan.”

“Telepon.”

Bu Lestari langsung berkata, “Sekarang?”

“Ya.”

“Ratri, kita tidak membuat keputusan sebesar ini sambil improvisasi.”

Aku menatapnya.

“Kita sudah improvisasi delapan bulan.”

Dia tidak membalas.

Bu Rina keluar untuk menelepon.

Aku kemudian menoleh kepada Maya.

“Kamu bisa mulai bayar bulan ini?”

“Rp75 juta?”

“Ya.”

Dia menghitung sebentar.

“Bisa. Tapi aku harus batalkan produksi koleksi Oktober.”

“Itu keputusanmu.”

Bu Lestari berkata, “Tidak bisa. Koleksi itu sudah dipasarkan.”

Maya menatap ibunya.

“Kalau aku lanjut karena Ibu terus melindungi aku, enam bulan lagi kita duduk di sini lagi.”

“Maya.”

“Aku capek dianggap anak yang selalu harus diselamatkan.”

Wajah Bu Lestari berubah.

Kalimat itu rupanya mengenai sesuatu yang lebih tua daripada perusahaan.

“Kamu pikir Ibu membantu karena menganggap kamu lemah?”

“Aku nggak tahu.”

“Setelah bapakmu pergi, siapa yang kita punya?”

Maya menunduk.

Aku tahu sedikit tentang mantan suami Bu Lestari.

Dia meninggal ketika Maya masih SMA.

Mereka masuk ke keluarga kami membawa kehilangan sendiri.

Aku hanya tidak pernah tertarik melihatnya.

Bu Lestari melanjutkan dengan suara pelan.

“Ibu menikah dengan Pak Hadi ketika kamu baru mulai kerja. Semua orang bilang Ibu beruntung. Masuk rumah besar. Suami pengusaha.”

Dia tersenyum tanpa bahagia.

“Kalau bisnismu gagal, menurutmu orang akan bilang apa?”

Maya tidak menjawab.

“Mereka akan bilang anak bawaan istri kedua cuma tahu menikmati perusahaan orang.”

Aku menatapnya.

Akhirnya aku mengerti sebagian rasa takutnya.

Bukan hanya uang.

Gengsi.

Harga diri.

Posisinya di keluarga.

Dia membantu Maya bukan sekadar karena sayang.

Dia sedang berusaha membuktikan bahwa anaknya juga pantas berada di dunia yang dibangun Ayah.

Masalahnya, untuk membuktikan itu dia menggunakan sesuatu yang bukan milik mereka.

Bu Lestari menatapku.

“Dan sekarang kamu datang. Anak kandung. Pemilik merek. Nama ibumu ada di mana-mana. Kamu tidak perlu melakukan apa pun untuk dianggap bagian dari sejarah perusahaan.”

Aku hampir berkata bahwa aku juga kehilangan Ibu.

Bahwa nama itu bukan hadiah kecil.

Tapi aku menahannya.

Karena ternyata di balik pertengkaran kami ada dua ketakutan yang berbeda.

Aku takut rumah dan usaha Ibu dihapus.

Bu Lestari takut dirinya dan anaknya selamanya dianggap tamu.

Tidak satu pun memberi kami hak untuk mengambil milik orang lain.

“Aku tidak mau menghapus Ibu,” kataku.

Dia tertawa tipis.

“Tapi?”

“Tapi aku juga tidak mau Ibu menghapus batas.”

Bu Rina kembali.

“Saya bicara dengan Pak Yusuf dari Nusantara Tekstil.”

Aku mengenalnya.

Perusahaannya sudah menjadi distributor kami sejak Ibu masih hidup.

“Bagaimana?”

“Kalau lisensi diperpanjang satu tahun dan ada surat bahwa pemilik merek menyetujui produksi berjalan, mereka bersedia menaikkan uang muka pesanan dari dua puluh persen menjadi tiga puluh lima persen.”

“Nilainya?”

“Sekitar Rp620 juta tambahan.”

Bu Lestari langsung menghitung dalam kepala.

Aku bisa melihatnya.

“Distributor satunya?”

“Belum jawab.”

Aku menoleh kepada Bu Lestari.

“Enam ratus dua puluh juta bukan menyelesaikan semuanya.”

“Tidak.”

“Arunika mulai bayar Rp75 juta per bulan.”

Maya mengangguk.

“Bisa.”

“Semua biaya penggunaan mesin dan pegawai mulai bulan depan dicatat sebagai transaksi perusahaan, bukan bantuan keluarga.”

Maya kembali mengangguk.

Bu Lestari berkata, “Kamu bicara seolah sudah menjadi komisaris.”

“Tidak.”

Aku menatapnya.

“Aku bicara sebagai pemilik merek yang diminta memberi lisensi.”

Aku mendorong kertas kosong ke tengah meja.

“Dan aku tidak meminta satu saham pun dari Ibu.”

Untuk pertama kalinya hari itu, mata Bu Lestari berkaca-kaca.

Mungkin karena marah.

Mungkin karena lega.

Mungkin karena dua-duanya.

“Ayahmu benar-benar memberikan saham itu kepadaku,” katanya.

“Aku percaya.”

“Kamu tidak akan menggugat?”

“Tidak selama tidak ada alasan lain yang membuat wasiat itu bermasalah.”

Dia mengusap bawah hidung dengan tisu.

“Aku kira setelah pemakaman kamu akan datang membawa pengacara.”

“Aku kira setelah pemakaman Ibu akan mengambil semua yang pernah dibangun Ibu kandungku.”

Kami saling melihat.

Lalu Maya tiba-tiba berkata, “Berarti kalian berdua dari awal sama-sama sudah menulis cerita sendiri.”

Tidak ada yang tertawa.

Tapi dia benar.


Tiga hari berikutnya tidak menyelesaikan apa pun dengan cantik.

Kami memanggil akuntan independen untuk meninjau transaksi antara Langgeng Karya dan Arunika.

Bukan audit forensik besar.

Kami tidak sedang membuat film.

Kami hanya perlu tahu mana transaksi yang tercatat, mana yang belum ditagih, dan mana yang tidak punya dasar persetujuan yang jelas.

Hasil awalnya membuat Maya pucat.

Total kewajiban Arunika sekitar Rp1,14 miliar.

Sekitar Rp420 juta memang pernah disetujui Ayah sebagai fasilitas sementara.

Sisanya tumbuh sedikit demi sedikit.

Bahan bulan ini.

Biaya jahit bulan depan.

Pengiriman.

Foto katalog.

Pemakaian gudang.

Tidak ada satu transaksi yang tampak cukup besar untuk membuat orang panik.

Itulah sebabnya semuanya bisa menjadi besar.

Bu Lestari tidak mengambil uang Rp700 juta lalu memasukkannya ke tas.

Kenyataannya lebih biasa dan lebih berbahaya.

Dia terus berkata, “Catat dulu.”

Lalu bulan berikutnya berkata lagi, “Nanti dibayar.”

Sampai “nanti” menjadi lebih dari setengah miliar.

Maya menjual mobil keduanya.

Bukan karena aku minta.

Dia sendiri yang memutuskan.

Hasilnya digunakan untuk membayar sebagian kewajiban pertama dan menutup biaya produksi koleksi yang sudah telanjur dijanjikan.

Dia juga menghentikan rencana membuka toko kedua.

Bu Lestari tidak setuju.

Mereka bertengkar di parkiran.

Aku mendengar dari jauh.

Untuk pertama kalinya, aku tidak masuk untuk menjadi penengah.

Itu bukan pertengkaranku.

Seminggu kemudian, kami menandatangani lisensi baru.

Bukan lima belas tahun.

Dua belas bulan.

Ada opsi diperpanjang jika laporan penggunaan merek, pembayaran royalti, dan transaksi dengan perusahaan terafiliasi disampaikan secara jelas.

Tidak ada sublicensing otomatis.

Tidak ada pemindahan hak.

Sekar Muda masih boleh diproduksi sampai akhir musim berjalan, tetapi setiap penggunaan merek setelah itu harus punya perjanjian sendiri.

Bu Lestari menandatangani dengan wajah kaku.

Setelah selesai, dia menutup pulpen.

“Jadi setiap tahun saya harus minta izin?”

Aku hampir menjawab, “Ya.”

Lalu memilih kata lain.

“Setiap tahun kita harus duduk dan memastikan sistemnya masih sehat.”

“Beda tipis.”

“Buat kita mungkin.”

Aku menatapnya.

“Buat perusahaan, beda besar.”

Dia tidak tersenyum.

Tapi dia juga tidak membantah.


Masalah bank tidak hilang.

Kami tetap harus menjual satu mesin baru yang jarang terpakai.

Ekspansi hotel dihentikan.

Dua vendor meminta jadwal pembayaran tertulis.

Pak Seno mengubah sistem prioritas produksi.

Arunika harus menyewa jam mesin secara resmi jika membutuhkan kapasitas pabrik.

Bu Rina mendapat kewenangan baru untuk menolak transaksi afiliasi yang tidak punya dokumen.

Bu Lestari paling membenci bagian itu.

“Aku pemegang saham mayoritas.”

“Iya.”

“Kenapa keputusan pembayaran harus lewat dua orang?”

“Karena satu orang sudah terbukti bisa terlalu yakin.”

Dia menatapku tajam.

Aku menambahkan, “Ayah juga.”

Tatapannya melunak sedikit.

Hanya sedikit.

Akhirnya dia setuju.

Bukan karena kalah.

Karena tidak punya argumen yang lebih baik.

Aku juga membuat satu keputusan untuk diriku sendiri.

Aku tidak masuk manajemen.

Pak Seno sempat meminta.

Bu Rina menyarankan aku menjadi komisaris.

Bahkan Maya bilang mungkin perusahaan butuh “satu orang yang nggak takut sama Ibu”.

Aku menolak.

Dua belas tahun lalu aku pergi karena setiap masalah keluarga membuatku merasa hidupku harus kembali berputar mengelilingi pabrik.

Kalau sekarang aku masuk hanya karena rasa bersalah atas telepon Ayah yang tidak kujawab, aku sedang membangun penjara baru.

Aku tetap di Semarang.

Tetap bekerja di rumah sakit.

Setiap bulan aku menerima laporan merek.

Kalau ada keputusan besar menyangkut Sekar Laweyan, mereka harus menghubungiku.

Bukan karena aku ingin mengontrol semuanya.

Justru karena aku akhirnya belajar bahwa batas yang sehat harus terlihat.

Bukan hanya dimengerti dalam hati.


Dua bulan setelah Ayah meninggal, aku kembali ke Solo pada Sabtu pagi.

Pabrik sedang sibuk menyiapkan pesanan akhir tahun.

Pak Seno menghampiriku sambil membawa daftar produksi.

“Bu Lestari di atas.”

“Aku tidak mencari beliau.”

Pak Seno tersenyum.

“Beliau mencari Ibu.”

Aku naik.

Bu Lestari ada di ruang Ayah.

Sekarang mejanya sudah dipakai olehnya.

Awalnya pemandangan itu membuat dadaku aneh.

Kemudian aku sadar meja hanyalah meja.

Ayah tidak tinggal di sana.

Ibu juga tidak tinggal pada tulisan Sekar Laweyan.

Orang mati meninggalkan benda.

Orang hidup yang memutuskan benda itu akan menjadi warisan atau senjata.

Bu Lestari menggeser sebuah map kepadaku.

Aku hampir tertawa melihatnya.

“Kok senyum?”

“Tidak apa-apa.”

“Proposal koleksi Lebaran.”

Aku membukanya.

Ada enam desain.

Rencana produksi.

Anggaran pemasaran.

Nama perusahaan yang akan menanggung biaya.

Bahkan ada kolom penggunaan merek.

Dua bulan lalu, dia akan langsung menjalankannya.

Sekarang dia bertanya.

“Menurutmu?”

Aku membaca sebentar.

“Yang ini terlalu mirip koleksi tahun lalu.”

“Pak Seno bilang begitu juga.”

“Kenapa masih dimasukkan?”

“Karena saya suka.”

Aku tertawa.

Dia mendengus.

“Akhirnya kamu berani ketawa di ruangan ini.”

Aku menutup map.

“Koleksinya boleh lanjut. Tapi Arunika jangan pakai invoice Langgeng Karya.”

“Sudah dipisah.”

“Biaya foto?”

“Arunika.”

“Model?”

“Arunika.”

“Produksi?”

“Sewa kapasitas pabrik.”

Aku mengangguk.

Bu Lestari menatap jendela.

“Gaji bulan lalu aman.”

“Aku dengar.”

“Vendor kain juga mulai normal.”

“Bagus.”

Dia diam beberapa detik.

Lalu berkata, “Maya menjual mobilnya.”

“Aku tahu.”

“Saya sebenarnya bisa kasih uang pribadi.”

“Tapi Ibu tidak kasih.”

“Tidak.”

Itulah bentuk permintaan maaf terdekat yang pernah dia berikan kepadaku.

Bukan kata maaf.

Sebuah keputusan kecil yang seharusnya sudah dibuat sejak lama.

Aku tidak memaksanya berkata lebih.

Sebelum pulang, aku turun ke showroom.

Seorang pegawai baru sedang melipat kain di meja depan.

Ponselku bergetar.

Pesan dari Bu Lestari.

Untuk foto kampanye, boleh logo Sekar Laweyan dibuat berdampingan dengan Sekar Muda seperti proposal tadi?

Dua bulan lalu, pertanyaan seperti itu mungkin membuatku kesal karena seharusnya dia sudah tahu.

Sekarang justru aku tersenyum.

Aku membalas:

Boleh. Kirim desain final dulu sebelum dicetak.

Lalu aku meletakkan ponsel dengan layar menghadap ke bawah.

Aku membantu pegawai itu melipat kain yang salah sisinya.

Di luar, papan Sekar Laweyan masih tergantung di tempat yang sama.

Nama Ibu tetap ada.

Perusahaan Ayah tetap berjalan.

Bu Lestari tetap menjadi pemilik mayoritas.

Maya tetap harus membayar utangnya.

Dan aku akhirnya memahami sesuatu yang selama ini gagal dipahami keluarga kami.

Menjadi keluarga tidak berarti semua harus menjadi milik bersama.

Kadang justru supaya sebuah keluarga tetap bisa saling melihat sebagai keluarga, kami perlu berhenti mengambil sesuatu hanya karena merasa orang lain pasti akan mengizinkan.

Ayah tidak sempat membereskan semuanya.

Aku juga tidak bisa memperbaiki dua belas tahun hanya dalam beberapa bulan.

Tapi untuk pertama kalinya, tidak ada lagi yang berkata “nanti” ketika batas perlu dibicarakan.

Dan anehnya, itu membuat kehilangan Ayah terasa sedikit lebih bisa kutanggung.

Terima kasih sudah membaca kisah Ratri sampai selesai. Menurut kalian, keputusan Ratri mempertahankan hak mereknya tetapi tetap memberi kesempatan perusahaan berjalan sudah adil, atau seharusnya ia mengambil langkah lebih tegas? Semoga kita semua diberi keluarga yang bisa saling membantu tanpa menghapus batas, serta keberanian untuk membicarakan masalah sebelum kata “nanti” menjadi terlalu mahal.