BAGIAN 2
Aku tidak membangunkan Bima.
Aku pergi ke kamar mandi, membasuh wajah, lalu duduk di lantai selama beberapa menit karena lututku terasa terlalu lemas untuk kembali ke tempat tidur.
Sekitar pukul tiga, aku akhirnya berbaring.
Punggungku menghadap Bima sampai pagi.
Ia bangun pukul enam lewat dua puluh.
“Tidurmu nggak enak?”
“Lumayan.”
Aku menatap lemari.
“Mas.”
“Hm?”

“Kalau suatu hari kita punya lebih dari satu anak, menurutmu mereka harus selalu dibesarkan bersama?”
Tangannya berhenti saat memasang jam.
Pertanyaan yang sederhana.
Reaksinya tidak.
“Kenapa tiba-tiba nanya begitu?”
“Cuma kepikiran.”
“Tentu saja bersama.”
Aku menoleh.
“Tentu?”
“Iya.”
Aku mengangguk.
“Bagus.”
Ia menatapku beberapa detik lebih lama.
Aku tahu saat itu dia curiga.
Aku juga tahu aku belum siap mendengar kebohongan kedua.
Hari itu aku pergi ke dapur produksi seperti biasa.
Aku memang mengurangi aktivitas fisik, tapi bekerja membuat pikiranku lebih teratur.
Saat orang memesan dua ratus kotak nasi, tidak ada ruang untuk kalimat samar.
Ayam harus berapa kilogram.
Sambal berapa liter.
Jam berapa motor keluar.
Siapa mengantar ke mana.
Keluarga tidak bekerja seperti itu.
Di keluarga, satu kata “nanti” bisa menyembunyikan keputusan bertahun-tahun.
Sore hari, Bima datang.
Ia menunggu sampai pegawaiku pulang.
“Kamu lihat ponselku?”
Aku sedang menghitung invoice.
“Aku lihat notifikasinya.”
“May.”
“Apa kesepakatanmu dengan Mas Arman?”
Ia menarik kursi.
“Bisa nggak kita bahas di rumah?”
“Kenapa? Di sini temboknya beda?”
“Maya.”
Aku meletakkan pulpen.
“Aku sedang membawa tiga anakmu. Ibumu menulis bahwa salah satu kesepakatanmu dengan kakakmu sekarang bisa dijalankan. Aku rasa aku berhak tahu di mana pun aku bertanya.”
Bima menunduk.
Itulah saat aku tahu isi jawabannya akan lebih buruk daripada yang kuharapkan.
“Dulu,” katanya akhirnya, “waktu Mas Arman sama Mbak Rina habis gagal program lagi, keadaan mereka jelek.”
“Terus?”
“Mereka hampir pisah.”
“Terus?”
“Aku bilang ke Mas Arman, kalau suatu hari aku punya anak lebih dari satu…”
Ia berhenti.
Aku membantu menyelesaikan kalimatnya.
“Kamu akan memberikan satu?”
“Bukan memberikan.”
“Pakai kata yang kamu mau.”
“Diasuh.”
“Anak siapa?”
“Maya, itu cuma omongan lama.”
“Tapi ibumu tahu.”
Ia tidak menjawab.
“Dan sekarang aku hamil tiga.”
“Mama terlalu jauh mikirnya.”
“Siapa yang memberi dia sesuatu untuk dipikirkan?”
Bima menarik napas.
“Aku salah pernah ngomong begitu.”
“Rina tahu?”
“May…”
“Rina tahu?”
“Aku nggak tahu.”
Jawaban itu membuatku berdiri.
Aku mengambil tas.
“Mau ke mana?”
“Ke rumah Mbak Rina.”
Bima langsung ikut berdiri.
“Jangan.”
“Kenapa?”
“Mas Arman belum tentu di rumah.”
“Aku bukan mau bicara sama Mas Arman.”
“Maya, ini urusan lama.”
“Bukan lagi.”
Aku menunjuk perutku yang bahkan belum terlihat jelas.
“Sekarang urusan lama kalian punya tiga detak jantung.”
Bima mencoba menahan lenganku.
Aku menarik tangan.
“Aku nggak mau berantem.”
“Justru itu masalahku selama ini. Aku selalu nggak mau berantem, lalu kalian menganggap aku pasti akan ikut.”
Aku pergi sendiri.
Rina tinggal di kawasan Banyumanik, sekitar dua puluh lima menit dari rumahku kalau lalu lintas tidak terlalu padat.
Ia membuka pintu memakai kaus longgar dan celana rumah.
Begitu melihat wajahku, ia tidak bertanya apakah aku mau minum.
Dia hanya berkata, “Kamu sudah tahu?”
Aku masuk.
“Jadi Mbak tahu.”
Rina menutup pintu.
“Aku tahu mereka pernah ngomong.”
“Mereka?”
“Bima sama Arman.”
“Dan Ibu.”
Rina tertawa pendek tanpa senyum.
“Tentu saja akhirnya Ibu tahu.”
Aku duduk.
“Apakah Mbak mau mengambil salah satu anakku?”
Wajah Rina berubah.
“Maya.”
“Jawab saja.”
“Tidak.”
“Benar?”
“Aku tidak pernah minta anakmu.”
Dia duduk di depanku.
“Bahkan kalau kamu punya lima, enam, atau sepuluh, aku nggak mau satu pun diberikan ke aku karena orang lain merasa jumlahmu berlebih.”
Aku menatapnya.
“Lalu kenapa semua orang bicara seolah-olah ini rencana keluarga?”
Rina memejamkan mata.
“Karena Arman tidak pernah benar-benar melepaskan ide itu.”
“Kenapa?”
Kali ini ia diam lama.
Lalu ia berjalan ke lemari kecil di dekat televisi.
Ia mengambil satu amplop putih yang sudah kusut di tepinya.
Bukan sertifikat.
Bukan surat bank.
Hanya hasil pemeriksaan medis lama.
Ia tidak memberikannya kepadaku.
Ia memegangnya sendiri.
“Sebelas tahun aku dipanggil perempuan yang tidak bisa kasih keturunan.”
Aku tidak menjawab.
Rina menatapku.
“Setiap Lebaran ada yang menyuruh aku lebih banyak berdoa. Setiap acara keluarga ada yang memberi nomor dokter. Ibu pernah bawa aku ke pengobatan alternatif tanpa tanya.”
Aku menelan ludah.
“Aku kira…”
“Semua orang kira masalahnya aku.”
Ia mengangkat amplop itu.
“Bukan.”
Aku langsung mengerti sebelum dia melanjutkan.
Rina berkata pelan,
“Yang secara medis punya masalah berat itu Mas Arman.”
Aku menatapnya.
“Bima tahu?”
“Tahu.”
“Bu Ratna?”
Rina menggeleng.
“Tidak.”
Aku merasa dingin meski kipas ruang tamu mati.
“Jadi selama sebelas tahun…”
“Aku diam.”
“Kenapa?”
Rina tersenyum tipis.
Senyum orang yang sudah terlalu sering menyesali satu keputusan.
“Karena dulu aku pikir menjaga harga diri suami adalah bagian dari menjaga rumah tangga.”
Ia melihat ke arah pintu kamar yang tertutup.
“Lama-lama aku sadar, harga diri yang dibayar dengan harga diriku sendiri itu bukan rumah tangga.”
Dari luar terdengar suara mobil masuk ke carport.
Rina berdiri.
Wajahnya langsung tegang.
“Itu Arman.”
Aku ikut bangkit.
Rina menatap perutku, lalu mataku.
“Ada satu hal lagi yang harus kamu tahu sebelum dia masuk.”
Pintu depan terbuka.
Suara kunci diletakkan di meja.
Rina berkata sangat pelan,
“Bima bukan cuma pernah berjanji pada kakaknya.”
Aku menahan napas.
“Dia pernah meminta aku menyetujui rencana itu sebelum dia menikah denganmu.”
Kalau suamimu pernah menjanjikan sesuatu sebesar itu sebelum menikah, apakah menurut kalian kalimat “itu cuma omongan lama” masih bisa dianggap cukup?
BAGIAN 3
Arman baru melangkah dua kali ke ruang tamu ketika melihatku.
Ia berhenti.
Tatapannya berpindah dari aku ke Rina, lalu ke amplop putih di tangan istrinya.
“Ada apa?”
Rina tidak menjawab.
Aku yang menjawab.
“Aku sedang tanya soal anakku.”
Wajah Arman berubah.
Sedikit saja.
Tetapi cukup.
Ia menaruh tas kerjanya di kursi.
“Bima cerita?”
“Bukan.”
“Terus?”
“Aku baca pesan Ibu.”
Arman menoleh kepada Rina.
“Kamu ngomong apa?”
Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya justru ditujukan kepada istrinya.
Rina tertawa pendek.
“Lihat? Bahkan sekarang pun yang kamu pikirkan siapa yang membocorkan.”
“Rin, aku cuma nanya.”
“Aku tidak membocorkan apa pun.”
Aku berdiri di antara mereka.
“Mas Arman, aku tanya langsung. Apakah Mas pernah menganggap salah satu anakku akan dibesarkan oleh kalian?”
Ia tidak langsung menjawab.
“Maya, situasinya tidak sesederhana itu.”
Aku hampir tersenyum.
Kalimat itu rupanya warisan keluarga.
Tidak sesederhana itu.
Nanti dibicarakan.
Demi kebaikan bersama.
Semua terdengar rapi sampai seseorang bertanya siapa yang membayar harganya.
“Buat sederhana,” kataku.
Arman menarik kursi, tapi tidak duduk.
“Dulu kami sedang ada masalah.”
“Masalah kesuburan?”
Ia menatap Rina.
Rina tidak menolongnya.
Aku melanjutkan.
“Aku sudah tahu.”
Rahang Arman menegang.
“Rina nggak seharusnya cerita.”
Rina berdiri.
“Apa?”
“Aku nggak bilang kamu salah, tapi itu masalah pribadi.”
“Pribadi siapa?” tanyanya.
Arman diam.
“Tubuhmu diperiksa dokter, tapi aku yang sebelas tahun disebut mandul. Itu pribadi siapa?”
“Aku nggak pernah suruh Ibu nyalahin kamu.”
“Kamu juga nggak pernah menghentikan.”
Arman membuang pandangannya.
Aku melihat sesuatu yang belum pernah kulihat dari hubungan mereka.
Bukan pertengkaran baru.
Sebuah luka lama yang sudah terlalu sering ditutup taplak.
Aku mengembalikan pembicaraan.
“Kenapa Bima pernah minta Mbak Rina setuju?”
Arman menatapku lagi.
“Karena waktu itu kami mau mencoba segala kemungkinan.”
“Termasuk anak orang lain?”
“Bukan orang lain.”
Aku menahan napas.
“Nah. Itu dia.”
Arman mengernyit.
“Apa?”
“Kalimat itu.”
Aku menunjuk dirinya, lalu rumah di sekeliling kami.
“Bukan orang lain. Masih keluarga. Darahnya sama. Itu yang bikin kalian merasa batasnya bisa dipindahkan seenaknya.”
Arman memijat tengkuk.
“Bima bilang kalau nanti dia punya dua anak atau lebih, mungkin salah satu bisa lebih banyak tinggal sama kami. Bukan berarti kami menculik anak.”
“Lalu anak itu memanggil siapa Ayah?”
Arman diam.
Aku menatapnya.
“Siapa?”
Ia akhirnya berkata, “Itu belum dibicarakan.”
“Sudah dibicarakan cukup jauh sampai ibumu menulis jangan kasih tahu aku sebelum aku terlanjur sayang.”
Rina menutup mata.
Arman langsung bertanya, “Ibu bilang begitu?”
Aku mengangguk.
Untuk pertama kalinya ia terlihat benar-benar terganggu.
“Mama nggak seharusnya…”
“Bukan cuma Ibu.”
Aku mendekat satu langkah.
“Bima membuat janji. Mas menyimpannya. Mbak Rina disuruh diam. Dan sekarang Ibu mencoba mengatur waktu kapan aku boleh tahu.”
Tidak ada yang menyela.
Aku merasakan mual naik.
Bukan mual kehamilan.
Setidaknya aku pikir bukan.
Aku mengambil napas pelan.
Rina langsung mendekat.
“Kamu pucat.”
“Aku nggak apa-apa.”
“Duduk.”
Aku ingin bilang tidak.
Tapi lantai terasa sedikit bergerak.
Aku duduk.
Rina memberiku air.
Arman berdiri beberapa langkah jauhnya, wajahnya tidak lagi defensif.
“Maya, aku nggak pernah berniat menyakiti kamu.”
Aku minum seteguk.
“Itu mungkin benar.”
Ia tampak sedikit lega.
Aku belum selesai.
“Tapi orang bisa menyakiti orang lain tanpa berniat. Apalagi kalau mereka terlalu sibuk melindungi dirinya sendiri.”
Arman menunduk.
Ponselku bergetar.
Bima.
Aku membiarkannya.
Bergetar lagi.
Aku membiarkannya lagi.
Ketiga kalinya, Rina berkata, “Angkat. Kalau kamu nggak angkat, dia pasti ke sini.”
Aku menerima panggilan.
“Ya?”
“Kamu di rumah Mbak Rina?”
“Iya.”
Suara Bima terdengar tegang.
“Aku ke sana.”
“Silakan.”
“Maya, jangan ambil keputusan apa pun dulu.”
Aku hampir tertawa.
“Aku bahkan belum pernah diajak ikut membuat keputusan dari awal.”
Aku mematikan telepon.
Dua puluh menit kemudian Bima datang.
Ia masuk tanpa salam panjang.
Begitu melihat Arman, ia langsung berkata, “Mas, aku sudah bilang jangan dibahas dulu.”
Kalimat itu salah.
Bukan sedikit salah.
Sangat salah.
Aku bangkit.
“Jadi kamu memang masih membahasnya.”
Bima berhenti.
“Maksudku bukan begitu.”
“Barusan kamu ngomong ke kakakmu, bukan ke aku.”
“Maya, dengar dulu.”
“Aku sudah dengar banyak hari ini.”
Bima memandang Rina.
“Mbak cerita semuanya?”
Rina menyilangkan tangan.
“Kalau maksudmu aku cerita bahwa sebelum kamu nikah kamu pernah datang ke rumah ini dan bilang, kalau nanti punya dua anak, satu bisa kami asuh, iya.”
Bima mengusap wajah.
“Itu terjadi tiga tahun lalu.”
Aku membeku beberapa detik.
“Tiga tahun?”
Bima menatapku.
Kami mulai dekat sekitar dua setengah tahun lalu.
Berarti janji itu dibuat sebelum hubungan kami serius.
Sebelum aku masuk ke rumah ini.
Sebelum ada aku di bayangan mereka.
Aneh sekali mengetahui bahwa seseorang pernah merencanakan masa depan tubuhmu sebelum tahu apakah tubuh itu akan menjadi bagian hidupnya.
“Aku waktu itu belum kenal kamu,” kata Bima.
“Justru itu yang menakutkan.”
“Apa?”
“Kamu bisa menjanjikan anak dari perempuan yang bahkan belum kamu kenal.”
“Itu bukan janji resmi.”
“Berapa kali aku harus dengar versi berbeda dari kata janji?”
Bima menarik kursi.
“Maya, waktu itu Mas Arman benar-benar hancur.”
Arman berkata, “Bim, nggak usah.”
Bima mengabaikannya.
“Dia dan Mbak Rina hampir cerai. Ibu terus tekan soal cucu. Mas Arman nggak mau cerita hasil pemeriksaan. Aku cuma berusaha…”
“Menyelamatkan semuanya.”
Bima diam.
Aku mengenal kalimat yang tidak dia ucapkan.
Bima selalu seperti itu.
Kalau ibunya marah kepada kakaknya, Bima menengahi.
Kalau Arman kesulitan dengan pelanggan, Bima turun tangan.
Kalau Rina pulang ke rumah orang tuanya setelah bertengkar, Bima yang menjemput.
Aku dulu menganggap itu kebaikan.
Mungkin memang kebaikan.
Masalahnya, ada orang yang terbiasa menjadi penyelamat sampai ia merasa berhak memakai milik orang lain sebagai pelampung.
“Kamu menikah denganku sambil masih menyimpan janji itu?”
“Nggak.”
“Jawab.”
Bima berdiri.
“Aku sudah menganggap itu selesai.”
“Kenapa Ibumu tahu?”
Ia tidak menjawab.
“Bima.”
“Beberapa bulan setelah kita menikah, Ibu nanya soal Mas Arman. Aku keceplosan.”
“Keceplosan bahwa kamu pernah menjanjikan anak?”
“Aku bilang dulu pernah ada pembicaraan.”
“Lalu?”
“Ibu bilang kalau memang nanti kita punya dua…”
“Tiga,” potongku.
Wajahnya mengeras.
“Maksudku, lebih dari satu.”
“Apa jawabanmu?”
Bima diam.
Aku merasa lebih sakit melihat diamnya daripada jika ia berteriak.
“Kamu tidak bilang tidak.”
“Aku bilang jangan dibahas sebelum ada kenyataan.”
Aku mengangguk perlahan.
“Itu bukan tidak.”
“Maya, saat itu kamu belum hamil.”
“Itu bukan tidak.”
Rina duduk lagi.
Arman bersandar ke dinding.
Tidak ada yang membela Bima.
Aku melihat suamiku dan mendadak teringat begitu banyak percakapan kecil selama hampir setahun menikah.
Ibu Ratna bertanya, “Kalau punya dua, enak ya, satu bisa dekat sama Ibu.”
Bima tertawa.
Arman pernah berkata saat Lebaran, “Kalau anakmu nanti banyak, rumah kalian pasti ramai.”
Bima menjawab, “Bagi satu, Mas.”
Semua orang tertawa.
Aku juga.
Aku pikir itu lelucon keluarga.
Ternyata beberapa lelucon hanya aman bagi orang yang tidak tahu ada perjanjian di belakangnya.
Aku mengambil tas.
Bima langsung mendekat.
“Mau pulang?”
“Iya.”
“Aku antar.”
“Nggak perlu.”
“Maya.”
“Aku perlu waktu tanpa keluargamu.”
Ia berhenti.
Kalimat itu menyakitinya.
Aku melihatnya.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak buru-buru memperbaiki rasa sakit yang bukan kubuat.
Sebelum keluar, Rina memanggil.
“Maya.”
Aku menoleh.
“Jangan tinggal di rumah Ibu setelah melahirkan kalau kamu nggak mau.”
Aku menatapnya.
Rina melanjutkan, “Sekali orang merasa membantu, kadang mereka mulai merasa punya hak.”
Aku mengangguk.
Arman menunduk.
Bima ikut keluar beberapa menit kemudian.
Aku sudah duduk di mobil saat ia berdiri di samping pintu.
“Kita harus bicara.”
“Kita akan bicara.”
“Kapan?”
“Setelah aku tahu aku bisa bicara tanpa akhirnya disuruh memahami semua orang kecuali diriku sendiri.”
Ia mengetuk kaca pelan.
Aku tidak membukanya.
Aku pergi.
Malam itu aku tidur di kamar kerja.
Bima tidak memaksa masuk.
Ia mengetuk sekali sekitar pukul sepuluh.
“Aku taruh susu di depan.”
Aku tidak menjawab.
Pagi berikutnya, Ibu Ratna datang.
Aku sedang sarapan bubur ketika bel berbunyi.
Bima membuka pintu.
Suara ibunya langsung terdengar.
“Maya mana?”
Aku meletakkan sendok.
Bima menjawab sesuatu pelan.
Ibu Ratna masuk ke ruang makan.
Wajahnya tegang.
“Maya.”
“Bu.”
“Kamu ke rumah Rina kemarin?”
“Iya.”
Beliau menarik kursi.
“Kita harus luruskan.”
Aku menatap Bima.
Dia berdiri dekat pintu dapur.
Tidak duduk.
Bagus.
Setidaknya kali ini ia tidak berpura-pura percakapan ini biasa.
Ibu Ratna memulai.
“Ibu tidak pernah mau mengambil anakmu.”
“Lalu pesan Ibu maksudnya apa?”
Beliau menatap Bima.
“Pesan apa?”
Aku membacakan dari ingatan.
“Tiga itu justru mempermudah. Kesepakatanmu dengan Mas Arman dulu sekarang masih bisa dijalankan. Jangan bicara ke Maya sebelum kandungannya kuat.”
Wajah Ibu Ratna berubah.
Tidak ada jalan keluar.
Beliau menghela napas.
“Ibu cuma berpikir…”
“Anakku bisa dibagi?”
“Jangan pakai kata begitu.”
“Pakai kata apa?”
“Diasuh.”
Aku tersenyum kecil.
Ternyata mereka sudah sepakat soal kosakata.
Ibu Ratna menarik napas lebih dalam.
“Kamu belum mengerti keadaan Arman.”
“Aku mengerti lebih banyak sejak kemarin.”
Bima langsung menatapku.
Aku tidak menyebut hasil pemeriksaan Arman.
Itu bukan rahasiaku untuk diumumkan.
Ibu Ratna melanjutkan.
“Sebelas tahun mereka menikah. Kamu tahu bagaimana keluarga besar bicara.”
“Iya.”
“Ibu yang dengar semuanya.”
“Rina juga.”
Beliau terdiam.
“Kamu baru masuk keluarga ini setahun.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Tetapi setelah keluar, tidak bisa ditarik kembali.
Aku meletakkan sendok.
“Nah.”
Ibu Ratna tampak bingung.
“Itu sebenarnya masalahnya.”
“Apa?”
“Aku baru masuk setahun, jadi Ibu merasa aku belum cukup keluarga untuk ikut keputusan. Tapi anak di perutku sudah cukup keluarga untuk dipakai menyelesaikan masalah sebelas tahun.”
Bima menutup mata sebentar.
Ibu Ratna mengetuk meja dengan jari.
“Kamu jangan bikin semuanya terdengar jahat.”
“Aku tidak bilang Ibu jahat.”
“Lalu?”
“Aku bilang Ibu melewati batas.”
Beliau langsung berdiri.
“Aku ibunya Bima.”
“Iya.”
“Arman juga anakku.”
“Iya.”
“Aku mau dua-duanya bahagia.”
“Dengan anakku.”
Beliau menatapku.
“Kalau kamu punya tiga, apa salahnya satu lebih dekat dengan om dan tantenya? Tetap ketemu kamu. Tetap darah keluarga.”
Aku merasa sesuatu dalam diriku berhenti bernegosiasi.
Mungkin karena akhirnya kalimat yang selama ini disamarkan keluar dalam bentuk paling jelas.
Aku berdiri.
“Tidak.”
Ibu Ratna mengerutkan kening.
“Apa?”
“Tidak.”
“Maya…”
“Ketiga anak ini akan pulang ke rumahku.”
Aku menunjuk lantai.
“Rumah ini.”
“Bagaimana kamu mengurus tiga bayi?”
“Aku cari cara.”
“Ibu bisa bantu.”
“Boleh membantu.”
Aku menahan tatapannya.
“Tapi membantu bukan menentukan.”
Ibu Ratna menoleh kepada Bima.
“Kamu diam saja?”
Aku juga menatap suamiku.
Ini bukan ujian yang kurencanakan.
Tetapi ternyata ada saat dalam pernikahan ketika seseorang harus memilih apakah ia ingin menjadi anak yang selalu patuh, atau suami yang bertanggung jawab atas rumah tangganya sendiri.
Bima membuka mulut.
Tidak ada suara.
Ibu Ratna berkata, “Bima.”
Aku merasa dadaku turun.
Tentu saja.
Begitulah selama ini.
Diam.
Nanti.
Jangan bikin suasana jelek.
Kemudian Bima berkata, “Bu, Maya benar.”
Ibu Ratna membeku.
Aku juga.
Bima menarik kursi dan duduk.
“Yang salah pertama aku.”
Ibu Ratna langsung menjawab, “Kamu cuma mau bantu kakakmu.”
“Aku tetap salah.”
“Kamu dulu belum menikah.”
“Justru karena belum menikah, aku nggak punya hak menjanjikan anak yang belum ada.”
Ibu Ratna memandangnya seolah-olah baru pertama kali melihat anak bungsunya berbicara dengan nada itu.
Bima melanjutkan.
“Aku juga salah waktu Ibu tahu. Aku nggak tegas bilang pembicaraan itu selesai.”
“Karena kamu tahu kakakmu menderita.”
“Aku tahu.”
“Terus kamu mau apa? Suruh Ibu lihat Arman begitu terus?”
Bima terdiam.
Aku melihat rasa bersalah yang selama ini membuatnya mudah digerakkan.
Ibu Ratna tahu titiknya.
Ibu selalu tahu.
“Sejak kecil kakakmu yang ngalah,” katanya. “Waktu Bapak sakit, Arman yang berhenti kuliah satu semester bantu gudang. Kamu bisa lanjut.”
Bima mengusap bibir.
“Bu…”
“Waktu usaha hampir jatuh, siapa yang jual mobil?”
“Mas Arman.”
“Sekarang dia minta satu hal…”
Aku langsung memotong.
“Bukan dia yang membayar satu hal itu.”
Ibu Ratna menatapku tajam.
Aku tetap berdiri.
“Pengorbanan Mas Arman kepada Bima tidak bisa dibayar dengan anakku.”
Ruangan hening.
Bukan hening dramatis.
Hanya tidak ada lagi kalimat yang cukup sopan untuk menyembunyikan masalah.
Bel pintu berbunyi.
Bima berdiri.
Ternyata Arman dan Rina.
Aku tidak tahu siapa yang memanggil mereka.
Kemudian kulihat wajah Bima.
Dia.
Ibu Ratna langsung berkata, “Bagus. Sekalian.”
Rina masuk lebih dulu.
Begitu melihat Ibu Ratna, bahunya menegang.
Arman menutup pintu.
Kami berlima berada di ruang makan yang biasanya terlalu kecil kalau ada acara keluarga.
Hari itu terasa terlalu besar.
Ibu Ratna menunjuk kursi.
“Duduk.”
Rina tetap berdiri.
“Kalau soal anak Maya, aku nggak perlu duduk untuk bilang aku tidak mau.”
Ibu Ratna memandangnya.
“Kamu jangan emosi.”
“Aku tidak emosi.”
“Kamu kemarin ngomong apa ke Maya?”
Rina tersenyum tipis.
“Ibu mau tahu bagian mana?”
Arman berkata, “Rin.”
Rina menoleh kepada suaminya.
“Kamu juga jangan mulai suruh aku diam.”
Arman menutup mulut.
Ibu Ratna semakin kesal.
“Ibu cuma ingin keluarga ini punya jalan keluar.”
Rina menjawab, “Dari masalah apa?”
Ibu Ratna memukul meja pelan.
“Kalian sebelas tahun nggak punya anak!”
Aku melihat Arman.
Wajahnya pucat.
Rina tidak berkedip.
“Iya.”
“Ibu salah kalau memikirkan kemungkinan?”
“Kalau kemungkinan itu memakai anak perempuan lain tanpa izin, iya.”
“Aku nggak pernah bilang tanpa izin.”
Rina menoleh kepadaku.
“Dia tahu rencananya kapan?”
Aku menjawab, “Kemarin malam.”
Rina menatap Ibu Ratna lagi.
“Berarti memang tanpa izin.”
Arman tiba-tiba berkata, “Sudah.”
Semua menoleh.
Ia berjalan ke kursi lalu duduk.
Tangannya saling menggenggam.
“Sudah.”
Ibu Ratna langsung melembut.
“Man…”
“Bu.”
Ada sesuatu di wajah Arman yang berubah.
Mungkin kelelahan.
Mungkin akhirnya tidak punya tempat lagi untuk menyimpan semuanya.
Ia melihat Rina terlebih dahulu.
“Aku minta maaf.”
Rina tidak menjawab.
Arman menoleh kepada ibunya.
“Masalah kami bukan seperti yang Ibu pikir.”
Bima langsung berdiri.
“Mas.”
Arman mengangkat tangan.
“Biar.”
Ibu Ratna mengerutkan dahi.
“Maksudmu?”
Arman menarik napas sangat panjang.
“Yang punya masalah kesuburan aku.”
Ibu Ratna tidak langsung memahami.
“Apa?”
“Aku.”
Rina menatap lantai.
“Bukan Rina.”
Ibu Ratna duduk perlahan.
Arman melanjutkan.
“Hasil pemeriksaanku jelek dari dulu. Peluang punya anak biologis kecil sekali.”
“Tidak mungkin.”
“Ada hasilnya.”
“Dokter juga bisa salah.”
“Bu.”
“Kenapa nggak pernah bilang?”
Arman tertawa pendek.
Tidak ada humor di sana.
“Karena aku pengecut.”
Ibu Ratna menatap Rina.
“Jadi selama ini…”
“Rina diam karena aku minta.”
Rina langsung berkata, “Awalnya karena kamu minta. Lama-lama karena aku malu mengakui bahwa aku membiarkan diriku diperlakukan seperti itu.”
Arman menunduk.
Ibu Ratna tampak seperti ingin menyangkal, tetapi tidak tahu bagian mana yang harus disangkal lebih dulu.
“Aku pernah bawa kamu ke…”
“Ke orang pintar di Salatiga?” Rina tersenyum pahit. “Iya, Bu. Aku ingat.”
Wajah Ibu Ratna memerah.
“Kenapa kamu ikut kalau kamu tahu bukan kamu masalahnya?”
Rina menatap beliau lama.
“Karena waktu itu Mas Arman nangis di kamar dan minta aku jangan kasih tahu siapa pun.”
Arman menutup wajah dengan kedua tangan.
Bima duduk lagi.
Aku melihat keluarga ini seperti melihat ruangan setelah lemari besar dipindahkan.
Ternyata dinding di belakangnya selama ini lembap.
Tidak terlihat bukan berarti tidak ada.
Ibu Ratna berkata pelan, “Kenapa sekarang baru bilang?”
Arman mengangkat kepala.
“Karena sekarang kebohonganku mulai mengambil hidup orang lain.”
Ia menatapku.
“Maya, aku minta maaf.”
Aku tidak langsung menerima.
Ia melanjutkan.
“Aku memang pernah berharap Bima menepati omongannya.”
Rina menatapnya.
Arman tidak menghindar.
“Aku pikir kalau dia punya dua anak, satu bisa sering tinggal sama kami. Lama-lama…”
Ia berhenti.
Aku berkata, “Lama-lama jadi anak kalian.”
Ia mengangguk.
“Waktu tahu tiga, aku sempat berharap lagi.”
Rina menutup mata.
Arman melihat istrinya.
“Itu juga alasan kita berantem dua hari lalu.”
Aku baru mengerti kenapa Rina datang ke rumahku dengan wajah aneh membawa baju bayi.
Arman melanjutkan.
“Rina bilang kalau aku terima anak kalian dengan cara begitu, dia akan pergi.”
Ibu Ratna langsung menoleh.
“Rina.”
Rina menjawab tenang.
“Aku serius.”
“Kamu mau cerai gara-gara…”
“Bukan gara-gara bayi.”
Rina duduk akhirnya.
“Aku capek hidup dalam rumah tangga yang setiap masalahnya diselesaikan dengan aku yang diam.”
Aku merasa kalimat itu seperti ditujukan juga kepadaku.
Bukan sengaja.
Tapi tetap mengenai.
Arman berkata pelan, “Aku sedang berusaha memperbaiki.”
Rina menatapnya.
“Mulai dari berhenti minta orang lain membayar rasa malumu.”
Arman mengangguk.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada tangisan bersama.
Hanya anggukan kecil.
Aneh, tapi justru itu terasa lebih nyata.
Ibu Ratna duduk tanpa bicara cukup lama.
Lalu beliau menatapku.
“Jadi sekarang kamu puas?”
Bima langsung berkata, “Bu.”
Aku tidak marah.
Setidaknya tidak seperti sebelumnya.
“Tidak.”
Ibu Ratna tampak terkejut.
“Aku tidak puas melihat keluarga Mas Bima seperti ini.”
“Terus?”
“Aku cuma tidak mau anakku dipakai menutup sesuatu yang sudah retak sebelum aku datang.”
Beliau menunduk.
Tangannya merapikan ujung taplak yang sebenarnya sudah rata.
Aku pernah melihat gerakan itu berkali-kali.
Setiap Ibu Ratna gugup, beliau merapikan benda.
Serbet.
Bantal.
Piring.
Apa pun yang bisa dibuat terlihat teratur ketika keadaan tidak bisa.
Aku duduk kembali.
“Bu.”
Beliau tidak melihatku.
“Aku tidak akan tinggal di rumah Ibu setelah melahirkan.”
Bima menoleh.
Aku sudah memikirkan keputusan itu sejak semalam.
Ibu Ratna akhirnya menatapku.
“Kamu yakin?”
“Iya.”
“Dengan tiga bayi?”
“Aku akan atur bantuan.”
“Siapa?”
“Aku bisa bayar pengasuh. Ibu kandungku juga bisa datang beberapa hari dalam seminggu. Tari bisa pegang dapur lebih banyak. Bima akan ambil bagian.”
Aku menoleh kepada suamiku.
“Kalau dia mau tetap jadi suamiku.”
Bima menarik napas.
Aku belum pernah mengatakan kemungkinan itu di depan keluarga.
Wajahnya berubah.
“Maya.”
“Aku belum bilang aku mau pisah.”
Ibu Ratna langsung berkata, “Jangan bawa perceraian.”
Aku mengangkat tangan.
“Tolong.”
Beliau diam.
Aku menatap Bima.
“Aku butuh tahu apakah setelah hari ini kamu masih akan jadi orang yang menenangkan semua orang dengan janji yang bukan hakmu.”
Bima menatap meja.
“Tidak.”
“Jangan jawab cepat.”
Ia mengangkat kepala.
“Aku sudah jawab terlambat tiga tahun.”
Aku tidak menyangka kalimat itu.
Ia melanjutkan.
“Aku pikir selama ini aku menjaga keluarga.”
Aku tidak mengatakan apa-apa.
“Tapi aku sebenarnya cuma menghindari melihat mereka kecewa.”
Ia menoleh kepada ibunya.
“Termasuk Ibu.”
Ibu Ratna menegang.
Bima melanjutkan.
“Kalau Ibu marah, aku diam. Kalau Mas Arman minta bantuan, aku langsung cari cara. Kalau Mbak Rina pulang, aku jemput. Aku selalu pikir itu bikin semuanya tetap utuh.”
Arman menatap adiknya.
“Bim.”
“Ternyata aku cuma bikin semua orang nggak perlu belajar menanggung akibat.”
Kalimat itu membuat ruangan kembali diam.
Aku memahami sesuatu tentang suamiku.
Bima bukan lelaki yang suka mengendalikan.
Ia bahkan sebaliknya.
Ia takut konflik.
Tetapi orang yang terlalu takut konflik bisa melakukan hal sama merusaknya dengan orang yang suka menang.
Karena ia akan mengorbankan orang yang paling aman untuk dikorbankan.
Dan selama ini, orang itu mulai menjadi aku.
Aku berkata, “Aku nggak butuh kamu lawan keluargamu.”
Bima menatapku.
“Aku butuh kamu berhenti memakai aku supaya kamu nggak perlu melawan siapa pun.”
Ia mengangguk.
Kali ini aku percaya ia memahami kalimatnya.
Belum tentu ia langsung berubah.
Tapi setidaknya ia tidak lari dari artinya.
Hari itu tidak berakhir dengan damai.
Ibu Ratna pulang lebih dulu.
Beliau tidak memelukku.
Tidak mengucapkan selamat tinggal seperti biasa.
Hanya mengambil tas dan berkata kepada Bima, “Kalau memang begitu, urus sendiri.”
Pintu tertutup.
Bima berdiri beberapa detik menatapnya.
Lalu ia duduk lagi.
Arman dan Rina pulang setelah satu jam.
Sebelum pergi, Arman berdiri di depanku.
“Aku nggak akan minta apa pun lagi soal anakmu.”
Aku mengangguk.
“Bagus.”
Ia terlihat ingin mengatakan sesuatu.
Aku menunggu.
“Kalau nanti aku masih berharap…”
“Mas boleh berharap punya anak.”
Ia menatapku.
“Tapi bukan berharap anakku pindah tangan.”
Arman mengangguk.
Rina menyentuh lenganku.
“Hati-hati.”
Aku mengangguk.
Dua minggu setelah itu, hubunganku dengan Ibu Ratna hampir berhenti.
Beliau tidak datang.
Tidak mengirim sup.
Tidak bertanya jadwal kontrol.
Awalnya aku merasa lega.
Lalu, anehnya, aku juga sedih.
Aku tidak membenci Ibu Ratna.
Itulah bagian tersulit.
Lebih mudah membuat batas dengan orang yang jelas-jelas buruk.
Jauh lebih sulit ketika orang itu pernah membawakan makanan saat kita demam, mengingat obat kita, memanggil teknisi ketika AC rusak, lalu pada saat yang sama merasa berhak ikut memutuskan hidup kita.
Manusia tidak selalu datang dalam satu warna.
Pada kontrol minggu berikutnya, dokter mengatakan kehamilanku perlu dipantau lebih sering.
Aku mulai mengurangi kunjungan ke dapur.
Tari mengambil alih pembelian bahan.
Untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun usaha, aku menyerahkan kunci gudang utama kepada orang lain.
Aku takut.
Ternyata batas bukan cuma sesuatu yang harus dibuat terhadap keluarga.
Kadang kita juga harus membuat batas terhadap kebiasaan sendiri.
Aku terbiasa mengerjakan semuanya supaya tidak merepotkan siapa pun.
Sekarang tubuhku memaksa aku menerima bantuan.
Bedanya, kali ini aku ingin memilih bantuan dari siapa dan dalam bentuk apa.
Bima berubah lebih pelan daripada yang ia janjikan.
Minggu pertama, ia masih hampir setiap sore berkata, “Ibu tadi nanya…”
Aku langsung memotong.
“Kalau Ibu mau nanya aku, beliau punya nomor aku.”
Bima mengangguk.
Minggu kedua ia berhenti menjadi kurir percakapan.
Kalau ibunya mengirim pesan tentangku kepadanya, ia membalas, “Tanya Maya langsung.”
Suatu malam ia menunjukkan percakapan itu tanpa kuminta.
Ibu Ratna menulis:
Kalau Maya nggak mau dengar Ibu, kamu sebagai suami harus bisa memutuskan.
Bima membalas:
Aku bisa memutuskan untuk diriku sendiri. Soal tubuh Maya dan persalinannya, Maya ikut memutuskan.
Aku membaca dua kali.
“Kenapa ditunjukkan?”
“Bukan supaya dapat nilai.”
“Lalu?”
“Supaya kamu tahu aku nggak bilang satu hal ke kamu dan satu hal ke Ibu.”
Aku mengembalikan ponselnya.
“Itu awal yang bagus.”
Ia tersenyum kecil.
Tidak meminta lebih.
Pada minggu kedua puluh empat, Ibu Ratna akhirnya datang.
Beliau membawa jeruk.
Tidak sup.
Tidak vitamin.
Tidak daftar pengasuh.
Hanya satu kantong jeruk.
Aku membukakan pintu.
“Boleh masuk?”
Aku bergeser.
Beliau duduk di ruang tamu.
Bima sedang bekerja.
Kami berdua saja.
Ibu Ratna melihat perutku yang sudah besar.
“Tiga-tiganya sehat?”
“Sejauh ini.”
Beliau mengangguk.
Lalu tangannya kembali merapikan ujung tas.
“Ibu marah waktu itu.”
“Aku tahu.”
“Ibu merasa kamu masuk lalu bikin keluarga kacau.”
Aku tidak langsung menjawab.
Beliau tersenyum pahit.
“Padahal ternyata sudah kacau dari dulu.”
Aku duduk di kursi seberangnya.
“Ibu ketemu Rina?”
“Sudah.”
“Bagaimana?”
“Dia ngomong banyak.”
Aku hampir tersenyum.
“Mungkin memang sudah waktunya.”
Ibu Ratna mengusap kening.
“Ibu minta maaf sama dia.”
Aku tidak menduga.
“Dia maafin?”
“Belum.”
Beliau tertawa kecil.
“Katanya minta maaf bukan kupon yang harus langsung ditukar dengan maaf.”
Itu terdengar sangat seperti Rina.
Aku ikut tersenyum.
Lalu Ibu Ratna menatapku.
“Ibu juga minta maaf sama kamu.”
Aku menunggu.
Beliau tidak menangis.
Tidak menyentuhku.
“Aku terlalu sibuk mikir bagaimana supaya Arman nggak merasa hidupnya kurang.”
Beliau berhenti.
“Sampai aku menganggap kelebihanmu bisa dibagi untuk menutup kekurangannya.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi tepat.
Aku mengangguk.
“Terima kasih sudah bilang.”
Beliau menatapku.
“Belum maaf?”
Aku tersenyum tipis.
“Belum tahu.”
Anehnya, beliau juga tersenyum.
“Ya sudah.”
Itulah percakapan pertama kami yang tidak berakhir dengan salah satu pihak berpura-pura semuanya baik-baik saja.
Dan ternyata tidak semenakutkan yang kubayangkan.
Kehamilanku tidak menjadi mudah setelah itu.
Pada minggu ketiga puluh dua, aku harus lebih banyak berbaring.
Dua minggu kemudian, dokter memutuskan ketiga bayi perlu dilahirkan melalui operasi caesar karena kondisiku dan posisi mereka.
Aku ketakutan.
Sangat.
Malam sebelum operasi, aku tidak bisa tidur.
Bima duduk di kursi rumah sakit sambil melihat tiga nama yang kami tulis di selembar kertas.
Nara.
Raka.
Dito.
“Kalau nanti ada apa-apa sama aku…”
Bima langsung menutup kertas.
“Jangan.”
“Dengar.”
Ia menatapku.
“Aku serius.”
Aku menjelaskan dokumen dan urusan usaha yang perlu dia tahu.
Siapa mengurus dapur.
Nomor rekening operasional.
Kontak ibuku.
Hal-hal yang beberapa bulan sebelumnya mungkin akan kuserahkan begitu saja tanpa diskusi karena kupikir seorang istri harus percaya.
Sekarang aku tetap percaya.
Tapi percaya tidak lagi berarti membiarkan semua keputusan tak tertulis.
Bima mendengarkan.
Ketika aku selesai, ia berkata, “Aku juga mau bilang sesuatu.”
“Apa?”
“Kalau nanti semuanya baik-baik saja, aku mau ambil cuti tiga minggu.”
Aku tertawa.
“Tiga minggu untuk tiga bayi. Pas.”
“Kurang?”
“Jelas.”
Ia tertawa juga.
Pagi berikutnya, ketiga anak kami lahir.
Tidak ada musik.
Tidak ada keluarga berdiri bertepuk tangan.
Tidak ada momen sempurna.
Hanya cahaya ruang operasi, suara alat, orang-orang bergerak cepat, dan kepalaku terlalu berat untuk memahami semuanya.
Nara lahir paling dulu.
Raka beberapa menit setelahnya.
Dito paling kecil.
Mereka harus dirawat di ruang neonatal.
Aku baru bisa melihat mereka dengan benar keesokan hari.
Tiga tubuh kecil.
Tiga nama.
Tiga kehidupan yang selama berbulan-bulan dibicarakan keluarga sebagai angka.
Begitu melihat mereka, aku memahami kenapa pesan Ibu Ratna malam itu membuatku begitu takut.
Bukan karena aku benar-benar berpikir seseorang akan datang lalu membawa salah satu bayiku pergi.
Tetapi karena aku takut hidup mereka akan dimulai dalam keluarga yang sudah lebih dulu memberi mereka peran.
Anak pengganti.
Penyelamat pernikahan.
Penerus nama.
Penghibur nenek.
Pembayar pengorbanan lama.
Aku tidak ingin itu.
Aku hanya ingin mereka menjadi Nara, Raka, dan Dito.
Ibu Ratna datang sore hari.
Beliau berdiri di balik kaca cukup lama.
Aku melihatnya menangis.
Tetapi kali ini beliau tidak berkata, “Yang ini mirip Arman,” atau, “Satu cocok tinggal sama…”
Beliau hanya bertanya kepada perawat kapan aku boleh belajar memberi ASI perah.
Tiga hari kemudian Rina datang sendiri.
Ia membawa makanan untukku.
“Arman?”
“Di bawah.”
“Kenapa nggak naik?”
“Belum berani.”
Aku tertawa.
“Masih hidup?”
“Sayangnya.”
Kami tertawa pelan.
Rina melihat foto ketiga bayi di ponselku.
“Mereka lucu.”
“Iya.”
Ia mengusap layar dengan jarinya.
“Dan semuanya pulang ke rumahmu.”
Aku menatapnya.
“Begitu cukup besar.”
Rina mengangguk.
Ada kelegaan aneh di antara kami.
Bukan karena kami menang atas siapa pun.
Karena satu rantai berhenti sebelum diteruskan.
Empat bulan setelah kelahiran, hidup kami jauh dari rapi.
Kateringku belum kembali beroperasi penuh.
Pendapatan turun hampir tiga puluh persen.
Kami harus mempekerjakan satu pengasuh tambahan selama beberapa bulan.
Bima terlihat lima tahun lebih tua karena kurang tidur.
Aku sendiri kadang menangis hanya karena menemukan botol susu belum dicuci.
Tidak ada yang glamor dari menjadi ibu tiga bayi.
Tapi rumah itu milikku lagi.
Bukan secara sertifikat.
Itu memang dari dulu.
Milikku dalam arti keputusan di dalamnya tidak lagi berpindah-pindah sesuai siapa yang paling keras bicara.
Ibu Ratna datang dua kali seminggu.
Beliau selalu bertanya sebelum mengambil bayi dari gendonganku.
“Boleh Ibu pegang?”
Pertanyaan itu kecil.
Mungkin bagi orang lain tidak berarti apa-apa.
Bagiku, itu bukti bahwa orang bisa belajar batas baru jika kita berhenti menyembunyikan batas lama.
Arman dan Rina belum punya anak.
Mereka juga belum sepenuhnya baik.
Rina pernah tinggal tiga minggu di rumah kakaknya.
Arman akhirnya mulai konseling bersama Rina.
Ia juga mengatakan kebenaran soal kondisi kesuburannya kepada dua kerabat yang paling sering menyindir istrinya.
Bukan kepada seluruh keluarga besar.
Belum.
Tapi untuk Arman, itu sudah sesuatu.
Ia pernah mengirim pesan kepadaku.
Aku baru sadar selama bertahun-tahun aku lebih takut dianggap gagal sebagai laki-laki daripada takut membuat istriku merasa gagal sebagai perempuan.
Aku tidak menjawab panjang.
Hanya:
Semoga sekarang Mas memperbaikinya ke orang yang paling lama menanggung akibatnya.
Ia membalas:
Iya.
Bima tidak pernah lagi membicarakan janji lamanya.
Suatu malam, ketika anak-anak sudah tidur, aku bertanya apakah ia masih merasa bersalah kepada Arman.
Ia sedang mencuci botol susu.
“Masih.”
“Terus?”
Ia membilas satu botol.
“Ya aku belajar hidup dengan rasa bersalah tanpa harus membayar pakai hidup orang lain.”
Aku menatapnya.
“Lumayan.”
“Cuma lumayan?”
“Jangan cepat puas.”
Ia tertawa.
Aku ikut tertawa.
Pernikahan kami tidak berubah menjadi sempurna.
Aku juga tidak berubah menjadi perempuan yang tiba-tiba berani menghadapi semua orang.
Kadang aku masih diam terlalu lama.
Kadang Bima masih mencoba menengahi sesuatu yang tidak perlu ia tengahi.
Kadang Ibu Ratna masih memberi saran tiga kali setelah aku bilang satu kali sudah cukup.
Tetapi sekarang kami tahu kapan harus berhenti.
Itu ternyata lebih penting daripada berpura-pura sudah berubah seluruhnya.
Suatu pagi, hampir enam bulan setelah kelahiran, aku berdiri di dapur sambil menyiapkan susu.
Di meja ada tiga botol.
Aku menuliskan nama mereka satu per satu.
Nara.
Raka.
Dito.
Dari ruang tengah terdengar Bima berseru,
“May, yang bangun dua!”
Aku tertawa.
“Yang mana?”
“Raka sama Dito.”
Beberapa detik kemudian dia menambahkan,
“Nara ikut bangun.”
“Tiga-tiganya?”
“Iya.”
Aku mengambil tiga botol sekaligus.
Dulu angka tiga membuat seluruh keluarga mulai menghitung siapa mendapat apa.
Sekarang aku tidak menghitung bagian siapa.
Aku hanya berjalan menuju ruang tengah, tempat tiga anakku menangis bersamaan dan suamiku sudah kewalahan memegang dua di antaranya.
“Yang satu buat kamu,” katanya.
Aku mengangkat alis.
“Hanya satu?”
Bima menatap tiga bayi, lalu aku.
“Oke. Kalimat itu terdengar berbahaya di keluarga kita.”
Aku tertawa sampai Nara ikut berhenti menangis dan menatapku.
Untuk pertama kalinya sejak hari USG itu, angka tiga terasa sederhana.
Bukan solusi.
Bukan utang.
Bukan kesepakatan.
Hanya tiga anak yang harus kami besarkan tanpa menjadikan hidup mereka pembayaran atas luka orang dewasa.
Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Kadang masalah terbesar dalam keluarga bukan kurangnya kasih sayang, melainkan kasih sayang yang kehilangan batas dan berubah menjadi hak untuk menentukan hidup orang lain. Menurut kalian, apakah Maya terlalu keras kepada keluarganya, atau justru batas seperti itu memang seharusnya dibuat sejak awal? Semoga kita semua diberi keluarga yang bisa saling membantu tanpa saling memiliki.
