BAGIAN 2
Aku mengambil ponsel Damar.
Pesan yang terbuka dikirim Ibu hampir dua bulan sebelum akad.
Namaku disebut berkali-kali.
Ratih sebenarnya sudah lama ingin keluar dari Surabaya, Mas.
Pesan berikutnya:
Dia cuma sungkan bicara sendiri.
Lalu:
Kalau memang Mas Damar serius, Ratih setuju dikenalkan untuk tujuan menikah. Dia bilang lebih tenang dengan orang yang sudah dikenal keluarga.
Aku membaca tiga kali.
“Aku tidak pernah mengatakan ini.”
Damar bersandar pada meja.
“Makanya waktu kita makan di Lawang aku bingung kamu tanya kenapa aku mau menikah.”
Aku menggeser layar.
Ada pesannya.
Ratih tahu soal kondisi usaha?
Jawaban Ibu:
Tahu, tapi jangan terlalu dibahas dulu. Dia gampang merasa bersalah kalau menyangkut Bapak.
Aku berhenti.
Damar melihat wajahku.
“Aku baru sadar kalimat itu aneh setelah kamu datang ke sini.”
“Kenapa Mas tetap lanjut?”
Dia tidak segera membela diri.
Itu justru membuatku lebih bisa mendengar jawabannya.
“Aku umur empat puluh empat tahun, Ratih. Ibuku meninggal tiga tahun lalu. Rumah ini tinggal aku dan pekerja. Bu Mira bilang kamu memang ingin menikah, cuma capek dengan urusan toko dan keluarga.”
“Jadi Mas percaya begitu saja?”
“Tidak.”
“Nyatanya kita menikah.”
Damar mengangguk kecil.
“Aku juga punya bagian salah.”
Aku menatapnya.
Dia melanjutkan, “Aku pikir kalau kamu setuju dan aku juga nggak keberatan, mungkin nggak perlu dibuat rumit.”
Aku tertawa pendek.
Bukan karena lucu.
“Pernikahan memang terkenal sebagai urusan yang tidak perlu dibuat rumit.”
“Aku pantas kena itu.”
Aku mengembalikan ponselnya.
“Terus soal usaha?”
“Aku memang sudah bicara dengan ayahmu beberapa bulan sebelum stroke. Mau beli sebagian stok dan pakai jaringan mereka untuk suplai kain pelapis furnitur.”
“Bukan bantuan?”
“Bisnis.”
“Bukan karena menikah denganku?”
“Tidak.”
Aku menekan kedua telapak tangan ke meja.
Tiba-tiba semua hal kecil yang sejak awal terasa aneh mulai punya bentuk.
Ibu mendesakku menikah seolah-olah Rp640 juta tergantung pada jawabanku.
Padahal sebagian besar transaksi itu sudah punya dasar usaha sendiri.
Lalu setelah akad, Ibu meminta Rp300 juta lagi.
Aku menatap Damar.
“Kalau aku minta Mas kasih tambahan modal ke Rendy, Mas mau?”
“Tidak.”
Jawabannya terlalu cepat.
“Kenapa?”
“Karena laporan toko kalian berantakan.”
Aku mendongak.
“Mas lihat laporan?”
“Yang dikirim Rendy waktu minta kerja sama.”
“Kapan dia minta?”
“Empat hari setelah akad.”
Dadaku terasa sesak.
“Dia sudah minta?”
Damar masuk ke ruang kerjanya dan kembali membawa map tipis berwarna hitam.
Bukan map rahasia.
Bukan sesuatu yang disembunyikan.
Dia meletakkannya begitu saja di meja.
Di dalamnya ada proposal.
Nama perusahaan keluarga kami tercetak di halaman depan.
Pengajuan fasilitas barang senilai Rp950 juta.
Aku membaca angka itu dua kali.
“Ini bukan Rp300 juta.”
“Aku juga tahu.”
“Apa jaminannya?”
“Belum ada.”
Aku membalik halaman.
Di bagian proyeksi kerja sama tertulis satu kalimat yang membuatku berhenti.
Sinergi usaha keluarga pascapernikahan akan memberikan kepastian hubungan jangka panjang antara kedua pihak.
Aku mendongak.
“Siapa yang menulis ini?”
“Rendy.”
Aku mengambil ponselku.
Ada delapan panggilan tidak terjawab dari Ibu.
Dua dari Rendy.
Satu pesan baru masuk.
Mbak, jangan salah paham dulu. Besok aku ke Malang. Kita bicarakan baik-baik.
Aku memperlihatkannya kepada Damar.
“Dia mau datang.”
Damar melihat jam.
“Dia bilang besok?”
Bel pintu depan berbunyi.
Kami saling menatap.
Bu Sari yang sedang di dapur berjalan ke depan.
Beberapa detik kemudian terdengar suara Ibu.
“Ratih?”
Aku berdiri begitu cepat sampai kursiku bergeser.
Ibu masuk membawa tas tangan.
Di belakangnya Rendy memegang tabung dokumen dan sebuah laptop.
Wajah Ibu langsung berubah ketika melihat map hitam di meja.
“Damar sudah menunjukkan itu?”
Aku tidak menjawab.
Rendy menaruh laptopnya.
“Mbak, jangan langsung marah. Kita memang mau jelaskan.”
“Jelaskan apa?”
Dia menarik kursi.
“Begini. Pesanan seragam sekolah itu sebenarnya sudah ada.”
“Aku tidak bertanya soal pesanan.”
“Ya itu bagian dari penjelasan.”
Ibu memotong.
“Ratih, duduk dulu.”
Aku tetap berdiri.
“Bu bilang Damar minta menikah denganku sebagai syarat membantu toko.”
Ibu memucat.
Rendy menoleh kepadanya.
Damar tidak bergerak dari dekat pintu ruang kerja.
Aku bertanya lagi.
“Benar atau tidak?”
Ibu meremas pegangan tas.
“Kami cuma… menyederhanakan keadaan.”
Aku hampir tidak percaya dengan kata yang dipilihnya.
“Menyederhanakan?”
“Kalau waktu itu Ibu bilang Damar tertarik kepadamu tapi bantuan bisnisnya tidak ada hubungannya dengan pernikahan, kamu pasti akan menolak dikenalkan.”
“Karena aku punya hak menolak.”
Ibu mulai menangis.
“Dan kalau kamu menolak, hubungan keluarga kita dengan mereka bisa renggang lagi.”
Aku menatap Damar.
“Renggang lagi?”
Dia menyipitkan mata.
Rendy buru-buru berkata, “Itu cerita lama.”
“Cerita apa?”
Tidak ada yang menjawab.
Aku berbalik kepada Damar.
“Mas tahu?”
“Tidak.”
Rendy membuka laptop.
“Mbak, kita fokus dulu sama keadaan sekarang.”
Aku tertawa.
“Keadaan sekarang adalah kalian berbohong supaya aku menikah.”
“Mbak jangan pakai kata begitu.”
“Kalau bukan bohong, apa?”
Ibu duduk perlahan.
“Kami panik.”
Aku memandang beliau.
“Panik sampai membuat dua orang menikah berdasarkan cerita yang berbeda?”
Ibu menunduk.
Rendy mendorong laptop ke arah Damar.
“Mas, kalau kita bahas ini sekarang malah semua rugi. Saya cuma butuh tanda tangan persetujuan kerja sama. Kontrak dari sekolah sudah hampir selesai.”
Damar tidak menyentuh laptop.
“Tanda tangan siapa?”
“Mas.”
“Tidak.”
Rendy membeku.
Damar melanjutkan, “Aku belum lihat audit stok, utang usaha, sama arus kas tiga bulan terakhir.”
“Itu bisa menyusul.”
“Kalau menyusul, uangku juga menyusul.”
Wajah Rendy mengeras.
Ibu menatapku.
“Ratih, tolong bicara sama suamimu.”
Kalimat itu.
Sederhana.
Tapi akhirnya aku mengerti.
Mereka tidak hanya menggunakan pernikahanku untuk menyelamatkan toko kemarin.
Mereka sudah merencanakan menjadikan pernikahanku sebagai pintu yang tidak pernah ditutup.
Aku melihat tabung dokumen yang dibawa Rendy.
“Isinya apa?”
Rendy menariknya menjauh.
“Bukan apa-apa.”
“Buka.”
“Mbak.”
“Buka.”
Damar tidak berkata apa-apa.
Tapi Rendy akhirnya mengeluarkan gulungan kertas.
Salah satunya adalah draft kontrak pasokan.
Di halaman terakhir ada kolom penjamin kerja sama.
Namaku sudah diketik di bawahnya.
Ratih Prameswari Prasetyo.
Aku bahkan belum pernah melihat dokumen itu.
Dan di bawah namaku, ada tempat tanda tangan kosong.
Aku menatap Ibu.
Beliau mulai menangis lagi.
Kali ini aku tidak buru-buru menenangkan.
Karena untuk pertama kalinya aku bertanya pada diriku sendiri:
berapa lama keluargaku sudah membuat rencana berdasarkan keyakinan bahwa pada akhirnya aku pasti akan mengalah?
Kalau seseorang selalu mengorbankan diri demi keluarga, kapan pengorbanan itu berubah menjadi izin untuk terus dipakai?
BAGIAN 3
Aku menarik dokumen itu dari tangan Rendy.
“Kenapa namaku ada di sini?”
Rendy mengembuskan napas keras.
“Itu baru draft.”
“Aku tahu membaca kata draft.”
“Mbak, jadi jangan bertindak seperti tanda tanganmu sudah dipalsukan.”
“Aku juga tahu tanda tanganku belum ada.”
Aku menunjuk namaku.
“Yang kutanya, kenapa namaku sudah dimasukkan tanpa bicara denganku?”
Rendy berdiri.
“Karena secara struktur akan lebih mudah kalau Mbak ikut menjamin.”
“Struktur apa?”
“Kerja sama keluarga.”
Damar yang sejak tadi diam akhirnya bicara.
“Tidak ada struktur keluarga dalam kontrak perusahaanku.”
Rendy menatapnya.
“Mas Damar, saya cuma mencoba membuat semua pihak nyaman.”
“Aku justru nggak nyaman.”
Ibu berdiri dari kursi.
“Damar, jangan salah paham. Kami tidak bermaksud memanfaatkan siapa pun.”
Damar mengangguk ke arah dokumen.
“Nama istri saya dimasukkan sebagai penjamin tanpa dia tahu.”
Nada suaranya datar.
Justru itu yang membuat suasana lebih berat.
Rendy memijat pelipis.
“Mbak Ratih selama ini juga bagian dari perusahaan.”
Aku menatapnya.
“Bagian seperti apa?”
“Ya keluarga.”
“Bukan itu pertanyaanku.”
Dia diam.
“Secara hukum aku masih tercatat sebagai apa?”
Rendy menatap Ibu.
Gerakan kecil.
Tapi cukup.
Aku langsung tahu ada sesuatu lagi.
“Rendy.”
“Mbak masih komisaris.”
Aku terdiam.
“Masih?”
Aku sudah meminta mundur hampir setahun sebelumnya setelah kami bertengkar soal pembukaan cabang ketiga.
Aku masih membantu pembukuan, tetapi aku pikir perubahan akta perusahaan sudah dilakukan.
“Kamu bilang notaris sedang mengurus.”
“Memang.”
“Sudah sebelas bulan.”
“Ada dokumen yang belum lengkap.”
“Dokumen apa?”
Rendy menggeser pandangan.
Aku mengambil ponsel.
“Nama notarisnya siapa?”
Ibu mendekat.
“Ratih, sekarang sudah malam.”
Aku melihat jam.
Pukul tujuh lewat dua puluh.
“Jam tujuh bukan tengah malam, Bu.”
“Kamu sedang emosi.”
“Betul.”
Ibu tampak kaget mendengar jawabanku.
Biasanya kalau beliau mengatakan aku sedang emosi, aku langsung menurunkan suara. Menjadi lebih sopan. Lebih pelan.
Malam itu aku tidak merasa perlu membuktikan bahwa aku anak baik.
Aku hanya perlu memastikan aku tidak kembali menjadi anak yang mudah diarahkan.
“Rendy,” kataku, “nama notarisnya.”
Dia menyebut sebuah kantor di Surabaya yang memang pernah kami gunakan.
Aku mencatatnya.
“Besok aku hubungi.”
Rendy menggeleng.
“Mbak mau mempermalukan kita?”
Aku hampir tertawa.
“Menanyakan status namaku sendiri itu mempermalukan keluarga?”
“Bisa dibicarakan di rumah.”
“Kenapa harus di rumah?”
“Karena ini urusan keluarga.”
Damar bersandar ke kusen pintu.
“Kalau pakai nama di kontrak perusahaan, itu sudah jadi urusan bisnis.”
Rendy menatapnya tajam.
“Mungkin Mas jangan ikut dulu. Ini antara saya dan kakak saya.”
Damar tidak bergerak.
Dia melihatku.
Bukan Rendy.
“Ratih mau aku pergi?”
Pertanyaan itu sederhana.
Aku baru menyadari betapa jarangnya orang di keluargaku bertanya apakah aku ingin seseorang tinggal atau pergi.
Mereka biasanya memutuskan untukku.
Aku menggeleng.
“Tidak.”
Damar mengangguk.
“Berarti aku di sini.”
Rendy mencibir.
“Baru menikah dua minggu sudah sok jadi pelindung.”
Aku langsung berkata, “Jangan.”
Rendy menoleh padaku.
“Masalahku sama kamu bukan soal Damar.”
Aku meletakkan kontrak di meja.
“Jangan ubah topik supaya aku sibuk membela suamiku dan lupa menanyakan tindakanmu.”
Wajahnya berubah.
Mungkin karena itu pertama kalinya aku memotong cara lamanya.
Selama bertahun-tahun, Rendy selalu begitu.
Kalau terpojok tentang keputusan bisnis, dia akan bicara soal betapa keras dia bekerja.
Kalau aku bertanya soal utang, dia akan bicara soal kesehatan Bapak.
Kalau aku bertanya kenapa cabang baru dibuka tanpa proyeksi yang jelas, dia akan berkata aku tidak tahu susahnya mencari pelanggan.
Dan setiap kali percakapan berakhir, pertanyaan awal sering belum dijawab.
Aku menarik kursi.
“Duduk.”
Rendy terlihat ingin menolak.
Tapi akhirnya duduk.
Aku membuka laptopnya.
“Mana laporan arus kas?”
“Mbak mau audit aku sekarang?”
“Aku mau tahu kenapa namaku dibutuhkan.”
Ibu menyeka pipi.
“Ratih, kamu percaya adikmu sedikit saja.”
Aku menatap beliau.
“Bu percaya aku?”
Pertanyaan itu membuat tangannya berhenti.
“Ya tentu.”
“Kalau percaya, kenapa Ibu harus berbohong soal Damar supaya aku mau menikah?”
Ibu membuka mulut.
Tidak ada jawaban keluar.
Aku kembali ke laptop.
Rendy akhirnya membuka beberapa file.
Angkanya buruk.
Lebih buruk daripada yang kukira.
Utang usaha yang kuketahui sekitar Rp1,1 miliar.
Ternyata setelah pembayaran dan penjadwalan ulang, masih ada kewajiban lain hampir Rp780 juta.
Ada cicilan kendaraan distribusi.
Ada tunggakan sewa gudang.
Ada pembayaran ke pemasok yang dibagi menjadi beberapa termin.
Dan ada satu pos yang membuatku berhenti.
Penarikan pemilik: Rp186 juta.
Aku menunjuknya.
“Ini apa?”
Rendy diam.
“Rendy.”
“Biaya operasional.”
“Kalau operasional kenapa masuk penarikan pemilik?”
“Sebagian untuk kebutuhan lapangan.”
“Sebagian berapa?”
Dia mengusap wajah.
“Sekitar seratus dua puluh.”
“Yang enam puluh enam?”
Ibu tiba-tiba berkata, “Untuk rumah.”
Aku menatapnya.
“Rumah siapa?”
Ibu memegang tas lebih erat.
“Rumah kita.”
Aku tidak langsung paham.
Kemudian aku ingat.
Enam bulan sebelumnya atap rumah orang tuaku diperbaiki.
Dapur direnovasi.
Kamar mandi Bapak dibuat lebih ramah kursi roda.
Aku menyumbang Rp48 juta.
Ibu bilang sisanya dari tabungan Bapak.
“Bu bilang pakai tabungan Bapak.”
“Waktu itu uang Bapak kurang.”
“Kenapa tidak bilang?”
Ibu terdengar lelah.
“Kamu sudah banyak keluar uang.”
“Jadi lebih baik mengambil dari perusahaan yang sedang hampir bangkrut?”
“Rumah itu juga untuk Bapak.”
Aku menatap layar.
Rasa marahku berubah bentuk.
Bukan lagi ledakan panas.
Lebih dingin.
Lebih jelas.
Selama ini kami semua melakukan hal yang hampir sama.
Ketika ada masalah, kami mengambil dari tempat yang masih punya sedikit ruang.
Toko kekurangan uang, aku menambah.
Rumah butuh renovasi, perusahaan membayar.
Rendy kekurangan modal, kami memperpanjang kredit.
Bapak sakit, semua keputusan ditunda karena tidak tega.
Tidak pernah ada garis yang jelas.
Dan karena aku paling sering bisa menutup lubang, semua orang membangun kebiasaan bahwa pada akhirnya Ratih akan mengurus.
Aku ikut menciptakan sistem itu.
Pemikiran itu menyakitkan.
Tapi juga membebaskan.
Karena kalau aku ikut menciptakannya, berarti aku juga bisa berhenti menjalankannya.
Aku menutup laptop.
“Tidak ada tanda tangan malam ini.”
Rendy langsung berdiri.
“Mbak, kontraknya masuk dua hari lagi.”
“Itu masalahmu.”
“Kalau gagal, toko bisa benar-benar selesai.”
Ibu terisak.
“Ratih.”
Aku memandang beliau.
Dadaku sakit.
Tentu saja sakit.
Aku tidak tiba-tiba berhenti sayang hanya karena marah.
“Ibu mau aku lakukan apa?”
“Bantu sekali ini.”
Aku hampir menjawab iya karena kalimat itu begitu akrab.
Sekali ini.
Padahal “sekali ini” sudah datang mungkin dua puluh kali dalam sepuluh tahun terakhir.
Aku berkata pelan, “Aku sudah menikah berdasarkan kebohongan untuk membantu keadaan yang katanya darurat. Ternyata dua minggu kemudian namaku dimasukkan lagi ke kontrak baru.”
Ibu menunduk.
“Kalau aku bilang iya malam ini, apa yang membuat ini jadi terakhir?”
Beliau tidak menjawab.
Aku melihat Rendy.
Dia juga tidak.
“Itu jawabannya.”
Rendy mengambil laptop.
“Baik.”
Nada suaranya berubah dingin.
“Kalau toko tutup, jangan nanti pura-pura sedih.”
Aku berdiri.
“Kalau toko tutup karena satu kontrak tidak mendapat penjamin baru, berarti masalahnya sudah ada jauh sebelum malam ini.”
Dia memasukkan dokumen ke tas.
Ibu tidak ikut bergerak.
“Ratih, kamu ikut pulang?”
Pertanyaan itu membuatku terdiam.
“Pulang ke mana?”
“Surabaya.”
Aku melihat Damar.
Dia tidak mengatakan apa pun.
Ibu melanjutkan, “Setelah tahu semua ini, kamu masih mau tinggal di sini?”
Aku baru memahami makna pertanyaannya beberapa detik kemudian.
Bagi Ibu, kalau dasar pernikahan kami ternyata penuh kebohongan, pilihan logis adalah aku kembali kepada keluarga yang berbohong.
Aneh sekali.
Dan sangat masuk akal menurut cara hidup kami selama ini.
Aku menarik napas.
“Aku belum tahu soal pernikahanku.”
Wajah Damar tidak berubah.
“Tapi aku tidak akan memutuskan malam ini karena Ibu menyuruhku pulang.”
Ibu menangis lagi.
Aku hampir mendekat.
Kakiku bahkan sempat bergerak.
Kemudian aku berhenti.
Bukan karena ingin menghukum beliau.
Aku hanya akhirnya memahami bahwa setiap kali Ibu menangis, aku selalu buru-buru menghapus sumber kesedihannya.
Sering kali sumber itu adalah batas yang sedang coba kubuat.
Malam itu aku membiarkan Ibu menangis tanpa langsung mengubah keputusanku.
Rendy membawa beliau pulang ke Surabaya.
Setelah mobilnya keluar dari halaman, rumah terasa sangat sunyi.
Aku berdiri di teras.
Damar keluar membawa dua cangkir.
Dia menyerahkan satu kepadaku.
“Kopi?”
“Jam segini?”
“Teh.”
Aku menerimanya.
Kami duduk di bangku panjang dekat pintu.
Beberapa menit tidak ada yang bicara.
Akhirnya aku berkata, “Mas menyesal?”
“Menikah?”
“Iya.”
Dia menatap halaman.
“Aku menyesal caranya.”
“Bukan orangnya?”
Damar mengusap bibir dengan ibu jari.
“Aku belum kenal kamu cukup lama untuk menjawab dengan indah.”
Aku mendengus.
“Setidaknya jujur.”
“Aku suka kamu.”
Aku menoleh.
Dia masih memandang halaman.
“Kalau itu membantu.”
Panas naik ke wajahku.
Situasinya terlalu kacau untuk kalimat seperti itu.
“Mungkin jangan bilang sekarang.”
“Makanya aku bilang sambil lihat pohon.”
Aku hampir tertawa.
Lalu tidak jadi.
“Mas bisa membatalkan semua kerja sama dengan keluargaku.”
“Bisa.”
“Kenapa belum?”
“Karena kontrak yang sudah jalan tetap harus dihormati. Pekerja mereka tidak ikut berbohong ke kita.”
Aku memandangnya.
“Mas marah?”
“Sama siapa?”
“Semuanya.”
“Ada.”
“Kelihatannya nggak.”
“Aku kalau marah biasanya bersih-bersih gudang.”
Aku melihat ke arah gudang.
“Besok gudangnya kinclong?”
“Bisa jadi.”
Aku tertawa kecil.
Kemudian air mataku justru jatuh.
Aku buru-buru mengusapnya.
Damar tidak menyentuhku.
Dia tidak berkata jangan menangis.
Dia hanya mengambil kotak tisu dari meja kecil dan meletakkannya di antara kami.
“Kalau mau nangis, nangis saja.”
Aku menutup wajah.
“Aku merasa bodoh.”
“Nggak.”
“Aku tiga puluh delapan tahun, Mas.”
“Terus?”
“Ibuku berhasil membuatku menikah hanya dengan bilang dua belas karyawan bisa kehilangan pekerjaan.”
Damar diam sebentar.
“Itu bukan karena kamu bodoh.”
“Karena apa?”
“Karena mereka tahu tombol mana yang harus ditekan.”
Kalimat itu jauh lebih menyakitkan.
Karena benar.
Pagi berikutnya aku menelepon kantor notaris dari teras belakang.
Aku tidak meminta informasi rahasia.
Aku memperkenalkan diri, memberikan data perusahaan, lalu menanyakan status perubahan susunan pengurus yang pernah kuminta.
Petugas meminta waktu memeriksa arsip.
Dua puluh menit kemudian dia menelepon kembali.
Dokumen pengunduran diriku memang pernah disiapkan.
Tetapi proses tidak dilanjutkan karena dokumen rapat pemegang saham belum pernah dikembalikan lengkap.
Artinya, namaku masih tercatat.
Aku meminta salinan dokumen yang memang menjadi hakku dan membuat janji untuk datang ke Surabaya siang berikutnya.
Setelah itu aku menelepon Bu Lina, akuntan lepas yang dulu membantu toko kami.
“Bu, saya mau tanya satu hal.”
“Ratih? Kamu sudah lama nggak telepon.”
“Saya mau tahu apakah tahun lalu Ibu pernah menyarankan perusahaan menutup cabang ketiga.”
Bu Lina terdiam.
“Pernah.”
“Ke siapa?”
“Ke kamu juga saya kirim.”
Aku mengerutkan kening.
“Saya nggak pernah terima.”
“Lewat email perusahaan.”
Aku langsung membuka laptop.
Akses email lama sudah tidak aktif.
“Isi rekomendasinya apa?”
“Cabang tiga ditutup, kendaraan satu dijual, stok mati dilepas walau rugi, kemudian operasi dipusatkan.”
“Rendy tahu?”
“Tahu.”
“Bapak?”
“Tahu.”
“Ibu?”
“Waktu rapat ada.”
Aku menelan ludah.
“Kenapa tidak dilakukan?”
Bu Lina menghela napas.
“Karena keluargamu berharap penjualan membaik setelah tahun ajaran baru.”
Tentu.
Menunggu.
Berharap.
Menambah uang sedikit lagi.
Itulah penyakit keluarga kami.
Kami lebih takut mengakui kerugian daripada terus membuat kerugian baru.
Ketika telepon selesai, Damar sedang berdiri beberapa meter dariku.
“Dengar?”
“Sedikit.”
Aku menutup laptop.
“Mas, aku mau ke Surabaya besok.”
“Oke.”
“Aku mau urus pengunduran diri resmi.”
“Oke.”
“Dan mungkin toko benar-benar harus mengecil.”
“Oke.”
Aku menatapnya.
“Mas cuma punya satu jawaban?”
“Kalau kamu tanya pendapatku, baru aku kasih pendapat.”
Aku tersenyum getir.
“Pendapat Mas?”
Dia menarik kursi.
“Pisahkan tiga hal.”
“Apa?”
“Usaha keluargamu. Hubunganmu sama keluargamu. Pernikahan kita.”
Aku diam.
“Kalau dicampur, setiap keputusan akan jadi drama.”
“Kedengarannya mudah.”
“Nggak mudah.”
“Mas sendiri bisa?”
“Belum tentu.”
Setidaknya dia tidak pura-pura bijak.
Keesokan harinya aku pulang ke Surabaya.
Bukan ke rumah orang tuaku.
Aku langsung ke kantor notaris.
Dari sana aku mendapat kepastian bahwa aku bisa memulai proses perubahan pengurus, tetapi tetap membutuhkan prosedur perusahaan yang benar.
Tidak ada keajaiban satu tanda tangan.
Tidak ada tombol yang bisa langsung menghapus namaku.
Aku harus menghadapi Rendy.
Siang itu aku mengirim pesan ke grup keluarga.
Besok jam 10 kita rapat di toko. Aku, Rendy, Ibu, Bapak kalau kondisinya memungkinkan. Aku juga minta Bu Lina hadir. Kita bahas posisi perusahaan dan namaku secara resmi.
Ibu langsung menelepon.
Aku tidak mengangkat.
Beliau menelepon lagi.
Aku mengirim pesan pribadi.
Bu, besok kita bicara langsung. Aku tidak akan membahasnya lewat telepon.
Lima menit kemudian masuk pesan.
Sekarang kamu sudah punya suami jadi Ibu tidak penting lagi?
Aku membaca kalimat itu lama.
Dulu aku pasti langsung menelepon.
Kali ini aku meletakkan ponsel terbalik.
Malamnya aku menginap di sebuah hotel kecil dekat toko.
Bukan rumah orang tuaku.
Bukan rumah teman.
Aku membutuhkan satu malam ketika tidak ada seorang pun yang bisa mengetuk pintu kamarku dan membuat keputusan berubah sebelum pagi.
Damar menelepon pukul sembilan.
“Sudah makan?”
“Sudah.”
“Bohong?”
“Sedikit.”
“Pesan makan.”
“Mas nelpon cuma buat mengatur makan?”
“Tidak.”
“Terus?”
Dia diam.
“Kamu besok mau aku datang?”
Aku memandang langit-langit.
“Aku belum tahu.”
“Oke.”
“Kalau aku bilang tidak?”
“Aku tidak datang.”
“Kalau aku bilang iya?”
“Aku datang.”
Sesederhana itu.
Aku menutup mata.
“Datang setelah jam sebelas.”
“Kenapa?”
“Aku mau bicara sama keluargaku dulu. Bukan sebagai istrimu.”
“Baik.”
Aku hampir mengakhiri telepon.
“Mas.”
“Hm?”
“Terima kasih.”
“Besok kalau mau nangis jangan di depan Rendy.”
Aku mengerutkan kening.
“Kenapa?”
“Dia tipe orang yang menganggap air mata sebagai tanda dia menang.”
Aku tertawa.
“Mas mulai mengenal adikku.”
“Sayangnya.”
Jam sepuluh pagi berikutnya, kami duduk di meja panjang bagian belakang toko.
Meja yang dulu dipakai Bapak untuk menghitung pesanan.
Bapak datang menggunakan kursi roda.
Tubuhnya jauh lebih kurus dibandingkan setahun sebelumnya.
Bu Lina duduk dengan laptop.
Rendy duduk di seberangku.
Ibu di samping Bapak.
Aku memulai tanpa pidato.
“Aku mau keluar resmi dari posisi komisaris.”
Rendy langsung menyahut, “Mbak pikir itu menyelesaikan masalah?”
“Tidak.”
“Terus?”
“Menyelesaikan satu masalah.”
Ibu menghela napas.
“Kamu mau cuci tangan.”
Aku sudah memperkirakan kalimat itu.
“Tidak, Bu. Aku sedang menentukan tangan siapa bertanggung jawab atas apa.”
Bu Lina membuka laporan.
Aku memintanya menjelaskan kondisi perusahaan.
Tidak bagus.
Kalau tidak ada restrukturisasi, kas kami hanya cukup sekitar dua bulan.
Namun toko tidak harus langsung mati.
Masih ada jalan.
Tutup cabang yang rugi.
Jual satu kendaraan.
Lepas stok lambat dengan diskon besar.
Negosiasi ulang gudang.
Hentikan pembelian spekulatif.
Fokus ke pelanggan grosir yang masih rutin.
Rendy menggeleng sepanjang penjelasan.
“Itu sama saja mengecilkan usaha sampai tinggal separuh.”
Bu Lina menjawab, “Lebih baik usaha separuh daripada utang dua kali lipat.”
“Apa Ibu ngerti pasar sekarang?”
Bu Lina menutup laptop.
“Saya mungkin nggak ngerti gengsi kamu, tapi saya ngerti arus kas.”
Aku menahan senyum.
Rendy menatapku.
“Mbak sudah sepakat sama dia?”
“Belum. Tapi aku setuju kita nggak bisa terus menambah utang.”
“Kalau kontrak sekolah jadi, kita bisa pulih.”
“Apa sudah ada purchase order?”
Dia diam.
“Rendy.”
“Masih proses.”
“Jadi belum.”
“Ada komitmen lisan.”
Aku menatap Ibu.
“Inilah yang kemarin mau dijamin pakai namaku.”
Ibu berkata, “Kalau tidak berani mengambil kesempatan, usaha tidak akan maju.”
Aku tidak marah pada kalimat itu.
Aneh.
Dulu mungkin aku akan berdebat.
Sekarang aku hanya bertanya, “Kalau gagal, siapa yang bayar?”
Ibu tidak menjawab.
Aku menunjuk Rendy.
“Dia?”
Rendy mengangkat dagu.
“Ya aku.”
“Dengan apa?”
Dia memalingkan wajah.
Bapak tiba-tiba mengangkat tangan.
Suaranya tidak sekuat dulu.
“Sudah.”
Kami semua diam.
Bapak memandangku.
“Ratih.”
“Iya, Pak.”
“Bapak yang salah.”
Ibu langsung berkata, “Pak, jangan.”
Bapak menggeleng.
“Saya yang selalu bilang ke Rendy, usaha jangan kelihatan mundur.”
Aku merasakan tenggorokanku mengencang.
Bapak melanjutkan pelan-pelan.
“Cabang harus tetap buka. Mobil jangan dijual. Gudang jangan dilepas. Nanti orang bilang kita jatuh.”
Jadi itu.
Bukan hanya Rendy.
Bukan hanya Ibu.
Rasa malu.
Gengsi.
Ketakutan sebuah keluarga yang sudah puluhan tahun dikenal sebagai pemilik toko besar, lalu tidak sanggup menerima bahwa mereka tidak sebesar dulu.
Rendy menatap meja.
Bapak berkata, “Kalau uang kurang, Bapak selalu bilang cari cara.”
Aku bertanya, “Dan caranya sering aku?”
Wajah Bapak berubah.
Dia tidak menyangkal.
Ibu mulai menangis lagi.
“Jangan bicara seperti kami tidak sayang kamu.”
Aku menatap beliau.
“Aku nggak pernah bilang Ibu nggak sayang.”
“Lalu kenapa sekarang semua dihitung?”
“Karena ternyata cinta tanpa batas yang jelas membuat kita saling menyakiti.”
Rendy mencibir kecil.
“Sekarang bicaramu sudah seperti Damar.”
Aku menatapnya.
“Tidak. Ini suaraku sendiri. Kamu cuma jarang dengar karena selama ini aku sering menyerah sebelum selesai bicara.”
Dia diam.
Jam sebelas lewat lima belas, Damar tiba.
Dia tidak duduk di sebelahku.
Dia memilih kursi agak jauh.
Aku menghargai itu.
Rendy melemparkan proposal lama ke meja.
“Mas datang bagus. Jadi sekalian putuskan. Mau lanjut kerja sama atau tidak.”
Damar membuka halaman pertama.
“Aku lanjut kontrak yang sudah berjalan sesuai kesepakatan lama.”
“Yang baru?”
“Tidak.”
“Karena Ratih?”
“Karena angkanya buruk.”
Rendy tertawa dingin.
“Enak ya. Sekarang kalian satu suara.”
Damar memandangnya.
“Aku menolak proposal ini sebelum tahu ibumu bohong soal pernikahan.”
Rendy terdiam.
Damar melanjutkan, “Kalau kamu punya usaha sehat, aku tetap bisa bisnis sama kamu walau aku cerai sama Ratih besok.”
Ruangan langsung sunyi.
Aku menoleh.
Damar sadar kalimatnya kasar.
Dia menggaruk alis.
“Contoh buruk.”
Bu Lina menahan senyum.
Bahkan Bapak tampak hampir tertawa.
Ketegangan pecah sedikit.
Kemudian Damar berkata, “Justru masalahnya kalian menjadikan hubungan pribadi sebagai pengganti kelayakan bisnis.”
Dia menggeser proposal kembali.
“Kalau butuh modal, buktikan usahanya bisa membayar.”
Rendy menatap Ibu.
Tidak ada yang bisa menyelamatkannya dari jawaban itu.
Akhirnya aku mengeluarkan dokumen yang kubawa dari notaris.
“Aku akan proses keluar dari posisi komisaris.”
Aku mendorongnya ke arah Rendy.
“Aku tidak minta toko ditutup.”
Dia membaca cepat.
“Aku minta keputusan tentang restrukturisasi dibuat tanpa memakai namaku sebagai jalan keluar.”
Ibu bertanya, “Kamu tidak akan bantu lagi?”
Pertanyaan itu jauh lebih menyakitkan daripada teriakan.
Aku memandang beliau.
“Aku masih anak Ibu.”
“Bukan itu yang Ibu tanya.”
“Aku tahu.”
Aku mengambil napas.
“Biaya obat Bapak akan tetap kubantu sesuai jumlah yang jelas. Kalau ada kebutuhan rumah yang benar-benar untuk Bapak, kita bagi bertiga dan dibicarakan dulu.”
“Usaha?”
“Tidak ada uang pribadiku lagi untuk menutup kerugian toko.”
Ibu menutup mulut.
Rendy bersandar.
“Mbak serius.”
“Iya.”
“Setelah semua yang keluarga lakukan buat Mbak?”
Kalimat itu membuat sesuatu dalam diriku retak.
Bukan karena kejam.
Karena aku tahu dari mana asalnya.
Aku kuliah dengan uang keluarga.
Aku tinggal di rumah orang tua sampai umur tiga puluh.
Bapak membelikanku mobil pertama.
Ibu merawatku ketika demam.
Mereka memang melakukan banyak hal untukku.
Tapi selama ini aku membayar rasa terima kasih itu seperti utang tanpa angka dan tanpa tanggal lunas.
Aku memandang Rendy.
“Kalau kasih sayang orang tua harus kubayar dengan menyelamatkan semua keputusan buruk keluarga sampai mati, itu bukan kasih sayang. Itu cicilan.”
Ibu menangis lebih keras.
Aku juga menangis.
Tapi aku tidak menarik kalimatku kembali.
Restrukturisasi akhirnya disetujui bukan karena semua orang tiba-tiba sadar.
Itu penting.
Tidak ada pelukan besar hari itu.
Tidak ada Rendy berdiri lalu meminta maaf.
Tidak ada Ibu berkata aku benar.
Mereka setuju karena pilihan lain semakin sedikit.
Cabang ketiga ditutup dua minggu kemudian.
Satu kendaraan dijual.
Tiga karyawan dari cabang dipindahkan ke toko utama. Dua memilih keluar dan mendapatkan pembayaran sesuai kemampuan perusahaan melalui kesepakatan bertahap.
Gudang lama kami lepaskan.
Stok kain yang selama ini dipertahankan karena tidak rela rugi akhirnya dijual murah.
Rendy marah hampir setiap hari selama proses itu.
Dia bahkan tidak bicara denganku selama tiga minggu.
Tapi untuk pertama kalinya dia tidak punya uangku sebagai bantalan.
Dan ternyata manusia belajar jauh lebih cepat ketika tidak ada orang lain yang diam-diam menanggung akibatnya.
Dia membatalkan rencana kontrak sekolah yang belum pasti.
Sebulan kemudian, dia mulai menjual langsung melalui beberapa pelanggan lama dan marketplace B2B kecil.
Tidak spektakuler.
Tidak membuat kami kaya.
Tapi uang yang masuk benar-benar uang hasil penjualan, bukan pinjaman baru.
Aku resmi keluar dari posisi komisaris setelah prosedurnya selesai.
Hari menerima salinan akta perubahan, aku duduk di mobil hampir sepuluh menit.
Bukan karena sedih.
Aku memegang kertas itu dan merasa aneh.
Seolah-olah satu versi diriku yang selama bertahun-tahun selalu siaga akhirnya diperbolehkan pulang.
Hubunganku dengan Ibu lebih sulit.
Beliau tidak datang ke Malang hampir dua bulan.
Kalau menelepon, pembicaraan kami pendek.
“Bapak sudah makan?”
“Sudah.”
“Obat baru bagaimana?”
“Cocok.”
“Uang BPJS tambahan kemarin sudah masuk?”
“Sudah.”
Kadang setelah itu hening.
Aku tahu Ibu menunggu aku membuka topik lain.
Aku juga menunggu.
Tidak ada yang melakukannya.
Suatu sore beliau akhirnya berkata, “Kamu masih marah sama Ibu?”
Aku sedang melipat kain sampel di ruang makan.
“Masih ada.”
Ibu diam.
“Kamu belum bisa maafkan?”
“Aku bisa sayang Ibu sambil tetap marah.”
Beliau menghela napas.
“Itu kalimat aneh.”
“Mungkin karena kita jarang melakukannya.”
Aku mendengar suara televisi dari rumah Surabaya.
Kemudian Ibu berkata pelan, “Waktu itu Ibu takut.”
“Takut apa?”
“Toko tutup. Bapak makin sakit. Rendy gagal. Orang-orang ngomong.”
Aku berhenti melipat.
“Terus Ibu pikir aku yang paling mungkin bilang iya.”
Beliau tidak menjawab.
Aku tidak membutuhkan jawaban lagi.
Akhirnya Ibu berkata, “Ibu minta maaf soal Damar.”
Itu bukan permintaan maaf sempurna.
Beliau masih menambahkan:
“Ibu cuma pikir kalian mungkin cocok.”
Aku hampir membantah.
Lalu memilih tidak.
Bagi Ibu, mungkin dibutuhkan waktu lebih lama untuk mengakui seluruh kesalahan tanpa membuat pembenaran kecil.
Aku tidak harus menyelesaikan proses itu untuknya.
Masalah berikutnya adalah pernikahanku.
Selama kekacauan toko, aku dan Damar hidup hampir seperti dua orang yang kebetulan berbagi rumah.
Anehnya, itu membuat kami justru benar-benar saling mengenal.
Aku tahu dia tidak bisa tidur kalau pintu gudang belum dicek dua kali.
Dia tahu aku selalu membaca ulang pesan penting sebelum mengirim.
Aku tahu dia diam kalau sedih.
Dia tahu aku memasak nasi terlalu banyak setiap kali cemas.
Suatu malam tiga bulan setelah akad, listrik di bengkel padam karena gangguan jaringan.
Kami duduk di teras dengan lampu darurat.
Damar bertanya, “Kamu mau tetap menikah?”
Pertanyaan itu datang begitu saja.
Aku menatapnya.
“Mas mau?”
“Aku tanya dulu.”
“Kenapa?”
“Karena kalau aku jawab dulu, kamu bisa menyesuaikan jawaban.”
Aku tersenyum.
Dia memang sudah mengenalku.
Aku menatap halaman gelap.
“Aku nggak mau pernikahan ini diteruskan cuma karena malu kalau gagal.”
“Bagus.”
“Aku juga nggak mau pulang ke Surabaya cuma karena awalnya salah.”
“Bagus.”
“Mas punya kata lain?”
“Punya.”
“Apa?”
“Aku mau.”
Aku menoleh.
Damar mengusap tengkuk.
“Aku mau tetap menikah sama kamu.”
Tidak romantis.
Tidak ada musik.
Dari gudang justru terdengar suara salah satu pekerja berteriak mencari senter.
Aku tertawa.
“Kenapa?”
Damar berpikir.
“Karena rumah ini lebih berisik sejak kamu datang.”
“Itu alasan?”
“Dan teh di meja selalu habis.”
“Mas bisa cari pembantu lain.”
“Bu Sari bisa bikin teh.”
“Terus?”
Dia akhirnya memandangku.
“Karena aku mulai mikir pulang itu berarti ada kamu.”
Aku tidak tertawa lagi.
Aku menunduk.
“Mas.”
“Hm?”
“Kalau kali ini kita lanjut, aku mau karena kita pilih sendiri.”
Damar mengangguk.
“Aku juga.”
“Dan kita nggak boleh pakai keluarga sebagai alasan.”
“Setuju.”
“Kalau ada masalah, bilang.”
“Setuju.”
“Kalau marah jangan bersih-bersih gudang sampai jam dua pagi.”
Dia mengerutkan kening.
“Yang itu perlu dibahas lagi.”
Aku tertawa.
Malam itu kami masih tidur di kamar terpisah.
Dua minggu kemudian, tanpa upacara apa pun, Damar memindahkan beberapa bajunya ke lemariku.
Dia membawa terlalu banyak kaos hitam.
Aku memprotes.
Dia bilang lemariku terlalu penuh.
Kami bertengkar kecil soal gantungan baju.
Itulah mungkin awal pernikahan kami yang sebenarnya.
Bukan hari akad.
Bukan hari keluarga kami membuat perjanjian.
Tapi hari ketika dua orang memutuskan tinggal bersama setelah mengetahui mereka sebenarnya punya pilihan untuk pergi.
Enam bulan kemudian, Toko Kain Sinar Mulya tinggal satu lokasi.
Papan nama lama masih tergantung di depan.
Catnya mulai pudar.
Tapi setiap akhir bulan, perusahaan bisa membayar gaji tanpa meminjam dariku.
Itu kemenangan yang jauh lebih kecil daripada impian Rendy dulu.
Anehnya, justru terasa lebih nyata.
Rendy mulai mencicil kembali sebagian uang perusahaan yang pernah dia gunakan untuk biaya pribadi.
Tidak banyak.
Rp3 juta.
Kadang Rp5 juta.
Dia belum pernah meminta maaf kepadaku secara langsung.
Namun suatu hari dia mengirim pesan:
Mbak, kalau ada waktu lihat laporan bulan ini. Bukan buat minta uang. Cuma mau tahu menurut Mbak stok mana yang harus dihentikan.
Aku membaca pesan itu sambil berdiri di depan gudang Damar.
Aku tidak langsung menjawab.
Dulu aku mungkin akan membuka laptop saat itu juga.
Sekarang aku menunggu sampai pekerjaanku selesai.
Baru malamnya aku membalas:
Kirim. Besok aku lihat satu jam.
Bukan:
Aku urus.
Bukan:
Biar aku selesaikan.
Hanya satu jam.
Batas kecil.
Tapi hidup kadang berubah lewat hal-hal sekecil itu.
Ibu juga mulai belajar.
Pelan.
Kadang mundur lagi.
Pernah beliau menelepon dan berkata, “Ada kebutuhan rumah Rp12 juta.”
Dulu aku pasti langsung transfer.
Sekarang aku bertanya, “Untuk apa?”
Ibu sempat tersinggung.
Kemudian menjelaskan.
Atap belakang bocor.
Aku minta foto.
Kami hitung.
Aku membayar bagian yang menjadi tanggung jawabku.
Rendy membayar bagian lain.
Sebagian diambil dari uang pensiun Bapak.
Tidak ada drama besar.
Tidak ada rumah runtuh karena aku bertanya.
Ternyata selama ini aku takut pada banyak bencana yang hanya hidup di kepalaku.
Suatu Minggu pagi, Ibu dan Bapak akhirnya datang ke Malang.
Bapak ingin melihat bengkel.
Damar membawanya berkeliling perlahan dengan kursi roda.
Ibu duduk bersamaku di teras.
Beliau memandang Damar yang sedang menjelaskan sesuatu tentang kayu jati kepada Bapak.
“Dia baik.”
Aku mengangguk.
“Iya.”
“Kamu bahagia?”
Aku berpikir sebelum menjawab.
“Sedang belajar.”
Ibu tersenyum kecil.
Kemudian berkata, “Dulu Ibu pikir kalau kamu menikah sama dia, setidaknya ada satu masalah keluarga selesai.”
Aku menoleh.
Ibu tidak menangis.
“Sekarang Ibu tahu pernikahanmu bukan alat.”
Aku merasakan sesuatu mengendur di dada.
Tidak hilang.
Tapi mengendur.
Aku mengulurkan tangan dan memegang tangannya.
Bukan karena semua sudah selesai.
Bukan karena aku melupakan kebohongannya.
Aku hanya tidak ingin kemarahan menjadi satu-satunya cara kami berhubungan.
Damar memanggil dari halaman.
“Ratih!”
“Apa?”
“Bapakmu bilang meja di teras ini jelek.”
Bapak langsung membantah dari jauh.
“Saya bilang sudah tua!”
Damar tertawa.
Aku berdiri.
Ibu ikut berdiri.
Di depan pintu, ponselku berbunyi.
Pesan dari Rendy.
Mbak, pemasok lama nawarin kredit tambahan Rp200 juta. Menurut Mbak ambil nggak?
Aku melihat layar beberapa detik.
Lalu memasukkan ponsel ke saku.
Tidak langsung menjawab.
Tidak panik.
Tidak merasa kalau aku terlambat lima menit, seluruh keluarga akan runtuh.
Damar membuka pintu untuk Bapak.
Ibu berjalan di belakangku.
Pagi itu bengkel penuh suara mesin, debu kayu, dan orang-orang yang memanggil satu sama lain dari kejauhan.
Hidupku tidak menjadi lebih tenang.
Keluargaku juga tidak mendadak sempurna.
Tapi akhirnya aku mengerti satu hal sederhana.
Membantu keluarga tidak harus berarti menyerahkan seluruh hidup supaya mereka tidak pernah merasakan akibat dari keputusan mereka sendiri.
Aku masih anak Ibu.
Masih kakak Rendy.
Masih peduli pada toko yang membesarkanku.
Dan sekarang aku juga istri Damar.
Tapi untuk pertama kalinya, semua peran itu tidak lagi berdiri di atas satu syarat yang sama:
bahwa Ratih harus selalu mengalah.
Aku masuk ke rumah.
Di belakangku, ponsel berbunyi sekali lagi.
Kali ini aku bahkan tidak menoleh.
Pesan itu bisa menunggu.
Keluargaku juga bisa belajar menunggu.
Dan aku akhirnya punya kehidupan yang tidak harus dihentikan setiap kali orang lain membutuhkan penyelamat.
Terima kasih sudah mengikuti kisah Ratih sampai akhir. Menurut kalian, apakah keputusan Ratih menjaga jarak dari keuangan keluarga terlalu keras, atau justru sudah terlambat dilakukan? Semoga kita semua diberi keluarga yang saling membantu tanpa kehilangan batas, dan keberanian untuk mengatakan “cukup” ketika kasih sayang mulai berubah menjadi kewajiban tanpa akhir.

