Malam Suamiku Meminta Cerai, Aku Baru Tahu Aku Hamil Setelah Enam Tahun Menunggu. Namun Surat yang Ia Letakkan di Samping Berkas Perceraian Membuatku Mengerti, Pernikahan Kami Sedang Dipakai untuk Menekan Satu Tanda Tanganku

Avatar penulis
Cerita 01
27 menit baca 98 tayangan
Malam Suamiku Meminta Cerai, Aku Baru Tahu Aku Hamil Setelah Enam Tahun Menunggu. Namun Surat yang Ia Letakkan di Samping Berkas Perceraian Membuatku Mengerti, Pernikahan Kami Sedang Dipakai untuk Menekan Satu Tanda Tanganku
Indeks

BAGIAN 2

Aku berjalan langsung ke belakang truk.

Sopirnya sedang memegang surat jalan.

“Pak, barang ini untuk siapa?”

Dia menunjuk bangunan milikku.

“Titip di sini, Bu. Seperti biasa.”

Seperti biasa.

Aku meminta surat jalannya.

Nama penerima tercetak:

Malam Suamiku Meminta Cerai, Aku Baru Tahu Aku Hamil Setelah Enam Tahun Menunggu. Namun Surat yang Ia Letakkan di Samping Berkas Perceraian Membuatku Mengerti, Pernikahan Kami Sedang Dipakai untuk Menekan Satu Tanda Tanganku

PT Surya Kencana Distribusi – Gudang Waru.

Alamatnya adalah alamatku.

Tidak ada nama Dinda Tekstil sama sekali.

“Sudah berapa lama kirim ke sini?”

Sopir itu berpikir.

“Mungkin dua bulan.”

Pak Hadi berdiri beberapa meter dariku.

Aku menoleh.

“Dua bulan?”

Ia menundukkan kepala.

“Bu, saya sebenarnya mau bilang.”

“Kapan?”

Ia tidak menjawab.

Aku tidak berteriak.

Itu justru membuat semua orang di halaman lebih diam.

“Kardusnya jangan diturunkan dulu,” kataku kepada sopir. “Tolong hubungi kantor pengirim.”

Sopir terlihat panik.

“Bu, saya cuma antar.”

“Saya tahu. Bapak tidak salah. Tapi alamat penerimanya sedang bermasalah.”

Aku membawa Pak Hadi ke ruang administrasi.

“Mulai dari awal.”

Ia duduk di tepi kursi.

“Pak Arya bilang perusahaan keluarganya perlu tempat transit sementara.”

“Kapan?”

“Awal Juli.”

Dua bulan lalu.

“Kenapa tidak tanya saya?”

“Pak Arya bilang Ibu sudah setuju.”

Aku tertawa pendek.

Bukan karena lucu.

“Apa lagi?”

Pak Hadi membuka laci.

Ada sebuah buku pencatatan baru.

Enam belas pengiriman.

Keramik.

Semen instan.

Sanitary ware.

Pipa.

Semuanya masuk dan keluar melalui halaman gudangku.

Beberapa hanya menginap semalam.

Ada yang tiga hari.

Ruang penyimpanan nomor dua bahkan sudah dikosongkan untuk mereka.

“Apa produksi kita terganggu?”

“Belum banyak.”

“Belum?”

Pak Hadi menggaruk alis.

“Pengiriman kain minggu lalu sempat tertunda bongkar karena halaman penuh.”

Aku teringat telepon dari supplier yang mengeluh sopirnya menunggu hampir dua jam.

Pak Hadi waktu itu bilang ada perbaikan forklift.

Ternyata tidak ada perbaikan forklift.

“Kenapa Bapak bohong?”

Wajahnya memerah.

“Pak Arya bilang jangan bikin Ibu kepikiran karena program hamil.”

Kalimat itu lebih menusuk daripada yang kuharapkan.

Program hamilku telah berubah menjadi alasan agar orang bisa menyembunyikan sesuatu dariku.

Aku menelepon Arya.

Dia mengangkat setelah nada ketiga.

“Kamu di gudang?”

“Kamu tahu aku di sini?”

“Pak Hadi telepon Bayu.”

Jadi cepat sekali jalurnya.

“Aku hentikan pengiriman Surya Kencana mulai hari ini.”

“Dinda, jangan bikin keputusan saat marah.”

“Aku tidak marah.”

“Kamu jelas marah.”

“Mas, aku sedang berdiri di usaha milikku dan baru tahu alamat ini sudah kalian ubah di surat jalan selama dua bulan.”

“Itu cuma administrasi.”

“Administrasi yang membuat perusahaan lain terlihat beroperasi dari tempatku.”

“Kita bicarakan nanti.”

“Sekarang.”

“Aku ada meeting.”

Aku menatap kardus melalui jendela.

“Bagus. Bicarakan juga bagaimana kalian akan memindahkan barang.”

Dia menurunkan suara.

“Din, jangan bikin masalah perusahaan tambah besar.”

“Kalian yang membawa masalah perusahaan ke halaman saya.”

Aku menutup telepon.

Hari itu aku tidak pulang sampai sore.

Aku meminta semua barang Surya Kencana dicatat.

Bukan ditahan.

Aku hanya ingin tahu apa yang berada di propertiku.

Totalnya tiga puluh delapan palet.

Lebih banyak daripada yang kukira.

Menjelang pukul empat, Bayu datang.

Kakak Arya itu berusia empat puluh empat tahun.

Selama ini hubungan kami baik.

Setidaknya aku pikir begitu.

Dia masuk ke ruang administrasi tanpa mengetuk.

“Din, kenapa barang ditahan?”

“Tidak ditahan. Saya minta dipindahkan.”

“Kita keluarga.”

“Kita memang keluarga.”

“Terus kenapa begini?”

Aku mendorong buku pencatatan ke arahnya.

“Karena saya baru tahu usaha Mas berjalan dari tempat saya.”

Bayu melihat buku itu lalu menghela napas.

“Harusnya Arya sudah ngomong.”

“Ternyata belum.”

“Kami pikir kalian sudah sepakat.”

“Siapa ‘kami’?”

Dia tidak menjawab.

Aku berdiri.

“Mas Bayu, perusahaan ada masalah apa?”

Dia mengusap rahang.

“Customer besar telat bayar.”

“Berapa?”

“Cukup besar.”

“Utang bank?”

“Din.”

“Supplier?”

Dia melihatku.

Saat itulah aku tahu masalah mereka jauh lebih serius.

“Kalau saya menandatangani perjanjian sepuluh tahun, uang sewanya benar-benar akan dibayar?”

Bayu tersinggung.

“Kenapa tanya begitu?”

“Karena kalau arus kas kalian sehat, kalian tidak perlu diam-diam menaruh barang di sini selama dua bulan.”

Wajahnya mengeras.

“Kamu jangan merasa paling berjasa cuma karena punya gudang.”

Aku terdiam.

Bayu juga tampak sadar kalimatnya terlalu jauh.

Tapi dia tidak meminta maaf.

“Kami membangun usaha ini dari nol,” katanya. “Arya kerja dari pagi sampai malam. Ibu gadaikan perhiasan waktu awal. Sekarang ada masalah sedikit, masa keluarga sendiri tidak bantu?”

“Masalah sedikit tidak membutuhkan gudang sepuluh tahun.”

Dia berdiri.

“Kalau kamu tidak mau bantu, bilang.”

“Baik. Saya tidak mau tanda tangan.”

Bayu menatapku cukup lama.

Lalu berkata, “Kalau begitu kamu harus siap dengan keputusan Arya.”

Dadaku seperti ditarik satu simpul.

Bukan karena takut.

Karena kalimat itu menyambungkan dua map di meja makan.

“Jadi perceraian dan gudang memang satu pembicaraan?”

Bayu memalingkan wajah.

“Bukan begitu.”

“Tadi Mas baru bilang saya harus siap dengan keputusan Arya kalau saya tidak membantu.”

“Saya cuma bilang rumah tangga kalian sudah bermasalah.”

“Tapi keputusan soal gudang belum saya dengar sampai tadi malam.”

Dia tidak menjawab.

Aku mengambil ponsel.

“Silakan pindahkan barang paling lambat besok sore. Saya kasih waktu karena saya tidak mau sopir dan pekerja kalian yang kena.”

Aku pulang pukul delapan malam.

Mobil Bu Ratna sudah berada di depan rumah.

Di ruang makan, ada tiga orang.

Arya.

Bu Ratna.

Dan Bayu.

Tidak ada yang mengundangku duduk.

Bu Ratna langsung berkata, “Kamu kenapa bikin urusan kerja jadi urusan rumah tangga?”

Aku meletakkan tas.

“Seharusnya saya yang bertanya begitu.”

“Arya cuma minta bantuan.”

“Memakai gudang saya dua bulan tanpa izin itu bukan meminta.”

“Dia suamimu.”

“Justru karena suami, harusnya lebih mudah bertanya.”

Bu Ratna menggeleng.

“Kamu berubah sekali sejak usaha kamu maju.”

Kalimat itu sudah pernah kudengar.

Biasanya setelah aku menolak sesuatu.

Aku duduk.

“Bu, apakah Ibu tahu Arya mau cerai?”

Beliau terdiam.

Aku menatapnya.

“Sejak kapan?”

“Jangan bawa Ibu ke situ.”

“Ibu sudah ada di situ sebelum saya tahu.”

Arya menyela.

“Aku yang ambil keputusan.”

Aku menatap suamiku.

“Benar?”

“Benar.”

“Tidak ada hubungannya dengan gudang?”

“Masalah kita sudah lama.”

Aku mengangguk.

Kemudian mengeluarkan map abu-abu dari tas.

“Konsultan yang menyiapkan ini namanya Pak Jaya, ya?”

Arya langsung menatapku.

“Kenapa?”

“Tadi siang saya telepon kantornya.”

Wajah Bu Ratna berubah.

Aku melanjutkan.

“Saya cuma bertanya apakah sudah ada proses perceraian yang didaftarkan.”

Arya menelan ludah.

“Belum ada.”

Aku tahu jawabannya sebelum dia mengatakannya.

Pak Jaya memang mengenal Arya.

Tapi tidak pernah menerima instruksi untuk mengurus perceraian.

Dia hanya diminta membuat contoh pembagian aset untuk konsultasi keluarga.

Tidak lebih.

Aku menatap Arya.

“Kamu tidak sedang mengurus perceraian.”

Dia diam.

Bu Ratna berkata cepat, “Memangnya harus langsung daftar?”

Aku tidak mengalihkan pandangan.

“Arya?”

“Aku memang belum daftar.”

“Karena?”

Dia mengusap tengkuk.

“Kita masih bicara.”

“Tidak. Tadi malam kamu bilang sudah memutuskan.”

“Din…”

“Kamu bilang mau cerai malam yang sama ketika kamu meminta aku menandatangani penggunaan gudang.”

“Bukan begitu.”

Aku hampir tersenyum.

Kalimat favorit keluarga kami.

Bukan begitu.

Tidak sesederhana itu.

Kamu salah paham.

Semua kalimat yang membuat kenyataan seolah-olah menjadi kesalahan orang yang melihatnya.

“Kamu berharap aku takut kehilangan pernikahan ini,” kataku. “Lalu aku akan menandatangani apa pun supaya kamu berubah pikiran.”

Tak seorang pun menjawab.

Dan diam mereka akhirnya memberiku jawaban yang lebih buruk daripada perceraian.

Bagian berikutnya bukan lagi tentang apakah aku akan mempertahankan pernikahan. Aku harus memutuskan apakah aku masih mau menjadi orang yang selalu menyelamatkan keluarga dengan mengorbankan diriku sendiri.

BAGIAN 3

Aku masih duduk ketika Bu Ratna akhirnya berkata, “Jangan menuduh suamimu seperti itu.”

Aku menoleh kepadanya.

“Ibu punya penjelasan lain?”

“Arya sedang tertekan.”

“Itu bukan jawaban.”

“Perusahaannya bisa tutup.”

Arya langsung berkata, “Bu.”

Tapi sudah terlambat.

Aku menatapnya.

“Bisa tutup?”

Dia menekan kedua bibirnya.

Bayu berdiri di dekat pintu dapur dengan kedua tangan di pinggang.

Bu Ratna tampak kesal karena sudah mengatakan terlalu banyak.

Aku bertanya, “Seberapa parah?”

Arya tidak menjawab.

“Aku bukan lagi orang yang boleh tahu?”

“Dinda…”

“Enam tahun aku ikut membayar masalah keluarga ini. Sekarang gudangku dipakai. Pernikahanku dipakai. Tapi angka sebenarnya tetap bukan urusanku?”

Bayu menyela.

“Kamu mau angka? Baik. Kami kurang sekitar satu koma dua miliar untuk menjaga operasional tiga bulan ke depan.”

Aku tidak segera bereaksi.

Rp1,2 miliar.

Aku membaca ulang angka itu dalam kepala.

“Utang ke siapa?”

“Bukan satu tempat.”

“Supplier?”

“Supplier, bank, leasing.”

“Pajak?”

Bayu menggeleng.

“Tidak.”

Setidaknya itu.

Aku menatap Arya.

“Kenapa kamu tidak pernah cerita?”

“Karena setiap kali aku bicara soal perusahaan, kamu langsung bilang pisahkan urusan keluarga dan usaha.”

“Karena selama ini kalian memang tidak pernah memisahkannya.”

Arya berdiri.

“Perusahaan ini sumber hidup Ibu, Mas Bayu, aku, puluhan karyawan.”

“Lalu?”

“Kalau gudangmu bisa membantu satu atau dua tahun sampai kami stabil, apa salahnya?”

“Perjanjiannya sepuluh tahun.”

“Bisa dinegosiasikan.”

“Setelah saya bertanya.”

“Ya.”

“Kalau saya tidak menemukan map itu?”

Dia diam.

Aku menatap Bu Ratna.

“Ibu tahu perjanjiannya sepuluh tahun?”

Beliau mengusap kain celana di lutut.

“Arya bilang cuma supaya kontraknya kuat.”

“Kontrak dengan siapa?”

Bayu menjawab, “Distributor nasional.”

Aku mengangguk perlahan.

Akhirnya bentuk masalah itu mulai terlihat.

Mereka sedang mengejar kontrak distribusi.

Untuk mendapatkannya, Surya Kencana harus menunjukkan kapasitas gudang dan titik operasional yang lebih besar.

Mereka tidak punya uang untuk menyewa tempat baru.

Jadi mereka menggunakan tempatku lebih dulu.

Lalu hendak melegalkannya setelah kontrak masuk.

Dan mereka membutuhkan tanda tanganku sebelum audit lokasi berikutnya.

“Kapan orang distributor datang lagi?”

Tidak ada yang menjawab.

Aku melihat wajah mereka satu per satu.

“Besok?”

Bayu memalingkan wajah.

“Lusa,” kata Arya.

Aku tertawa pendek.

“Jadi itu alasan semuanya harus selesai malam ini.”

Bu Ratna berkata, “Din, coba kamu lihat dari sisi kami.”

“Aku sedang mencoba sejak tadi.”

“Kamu punya tempat itu tanpa cicilan.”

Aku menatapnya.

Kalimat itu sederhana.

Tapi aku langsung memahami sesuatu yang selama ini tidak ingin kuakui.

Bagi Bu Ratna, fakta bahwa aku memiliki sesuatu tanpa utang berarti aku memiliki kapasitas untuk menanggung utang orang lain.

“Bapak saya membangun tempat itu tiga puluh tahun,” kataku.

“Ibu tidak bilang kamu dapat gratis.”

“Tapi Ibu bilang seolah-olah karena saya tidak punya cicilan, maka risikonya kecil.”

“Kalau perusahaan maju lagi, kamu juga ikut untung.”

“Bagaimana?”

Beliau terdiam.

Aku menunggu.

“Bagaimana saya ikut untung?”

“Ya… nanti bisa dibicarakan.”

“Tapi pengorbanannya harus diputuskan sekarang?”

Arya duduk lagi.

“Aku mau bicara baik-baik.”

“Dengan map perceraian?”

Dia menunduk.

Untuk pertama kalinya malam itu, kemarahanku turun.

Yang tersisa justru rasa sedih.

Bukan sedih karena aku mungkin akan kehilangan Arya.

Sedih karena aku mulai melihat betapa lama kami hidup dengan aturan yang berbeda tanpa pernah menyadarinya.

Bagiku, membantu keluarga adalah keputusan.

Baginya, mungkin sudah lama berubah menjadi kewajiban.

Aku berdiri.

“Aku tidak akan tanda tangan.”

Bu Ratna langsung berkata, “Kalau perusahaan tutup, kamu siap lihat suamimu kehilangan pekerjaan?”

Aku menatapnya.

“Inilah yang selama ini salah, Bu.”

“Apa?”

“Setiap ada masalah, Ibu membuat orang lain merasa kalau tidak menolong, berarti dia penyebab kehancurannya.”

Wajah beliau memerah.

“Kamu jangan kurang ajar.”

“Aku tidak sedang kurang ajar.”

“Aku ibunya.”

“Dan saya menantu Ibu. Bukan dana darurat keluarga.”

Arya memukul meja dengan telapak tangan.

Tidak keras.

Tapi cukup membuat kami semua berhenti.

“Sudah.”

Aku menatapnya.

Dia berkata, “Jangan bicara seperti itu ke Ibu.”

“Kalau begitu kamu yang bicara.”

“Aku sudah bilang kita sedang butuh bantuan.”

“Kamu belum bilang bagian bahwa pernikahan kita dipakai sebagai tekanan.”

“Aku tidak memakai pernikahan sebagai tekanan.”

“Lalu kenapa malam yang sama?”

Dia membuka mulut.

Tidak ada suara.

“Kenapa?” tanyaku lagi.

Arya akhirnya duduk.

Wajahnya lelah.

“Satu bulan lalu aku tanya apakah kamu mau menyewakan setengah gudang.”

Aku mengingatnya.

Kami sedang dalam mobil pulang dari rumah ibunya.

Dia pernah bertanya, “Kalau ada orang mau sewa gudang sebagian, kamu tertarik?”

Aku menjawab, “Tidak sekarang. Produksi lagi naik.”

Aku bahkan tidak menanyakan siapa penyewanya.

“Dan aku bilang tidak,” kataku.

“Iya.”

“Lalu kamu bagaimana?”

“Aku cari cara lain.”

“Dengan memakai tempat itu diam-diam?”

“Awalnya cuma transit dua hari.”

“Dua hari jadi dua bulan.”

“Karena situasinya berubah.”

“Dan saya tetap tidak diberi tahu.”

Arya mengusap muka.

“Aku tahu kalau aku bilang perusahaan hampir jatuh, kamu pasti langsung menolak karena kamu merasa keluarga selalu bergantung sama kamu.”

Aku menatapnya.

“Jadi solusinya membuat saya tidak tahu?”

“Aku pikir kalau kontrak distributor sudah pasti, semuanya akan lebih mudah dijelaskan.”

Bayu berkata, “Memang rencananya begitu.”

Aku menoleh kepadanya.

“Mas, tolong jangan membantu penjelasan seperti ini.”

Dia menutup mulut.

Aku kembali kepada Arya.

“Terus perceraian?”

Lama sekali dia tidak menjawab.

Kemudian suamiku berkata pelan, “Aku marah.”

“Karena saya tidak mau sewakan gudang?”

“Bukan cuma itu.”

Dia menatapku.

“Enam tahun kita mencoba punya anak. Semua keputusan selalu berhenti karena program hamil.”

Aku mengerutkan kening.

“Contohnya?”

“Kita tidak jadi pindah rumah karena kamu takut jauh dari klinik. Kita tidak jadi buka cabang usahaku di Malang karena jadwal tindakan. Setiap liburan harus menunggu jadwal dokter. Setiap bulan kita berharap. Setiap bulan gagal.”

“Aku tidak memaksa kamu ikut semua itu.”

“Tapi kalau aku tidak ikut, aku jadi suami macam apa?”

Aku terdiam.

Untuk pertama kalinya malam itu, ada sesuatu yang nyata di balik pembelaannya.

Bukan pembenaran.

Tapi rasa lelah yang selama ini mungkin memang tidak pernah dia katakan.

Arya melanjutkan, “Aku capek merasa bersalah kalau aku ingin hidup jalan terus.”

Aku menggenggam sandaran kursi.

“Kamu seharusnya bilang.”

“Kapan?”

“Enam tahun itu panjang, Mas.”

“Setiap kali hasilnya gagal, kamu hancur. Aku mau bilang apa? ‘Din, aku bosan’?”

“Lebih baik daripada membuat rencana perceraian palsu.”

Wajahnya langsung mengeras lagi.

“Aku tidak bilang palsu.”

“Kalau saya tidak tanda tangan, kamu benar-benar akan cerai?”

Arya diam.

Itulah inti semuanya.

“Jawab.”

“Aku tidak tahu.”

“Semalam kamu tahu.”

“Aku marah.”

“Jadi cerai adalah kalimat yang kamu lempar ketika marah?”

“Jangan buat aku jadi satu-satunya orang jahat di sini.”

Aku mengangguk pelan.

“Benar.”

Dia terlihat terkejut.

“Aku juga salah.”

Bu Ratna memandangku.

Aku menarik kursi dan duduk lagi.

“Selama bertahun-tahun aku membayar supaya tidak perlu bertengkar.”

Tak seorang pun bicara.

“Mas Bayu perlu modal, aku kasih. Truk rusak, aku bantu. Ibu masuk rumah sakit, aku transfer dulu sebelum ditanya. Arya bilang ada kebutuhan, aku jarang tanya.”

Bu Ratna tampak ingin menyela, tapi aku lanjut.

“Aku pikir itu membuatku jadi istri dan menantu yang baik.”

Aku memandang Arya.

“Ternyata aku sedang mengajari semua orang bahwa batasanku bisa dipindahkan selama alasannya keluarga.”

Bayu menurunkan pandangan.

“Aku ikut membuat keadaan ini,” kataku. “Tapi itu berhenti sekarang.”

Arya berkata, “Apa maksudmu?”

“Mulai besok Surya Kencana tidak menggunakan tempatku.”

“Din.”

“Aku kasih waktu empat puluh delapan jam untuk pindahkan barang.”

Bayu langsung berdiri.

“Tidak mungkin.”

“Kenapa?”

“Kami tidak punya tempat.”

“Itu masalah yang seharusnya kalian selesaikan sebelum membawa barang ke sana.”

“Kalau distributor datang lusa dan lihat gudang kosong, kontrak bisa batal.”

Aku menatapnya.

“Kalau mereka datang dan percaya gudang itu milik kalian, bukankah itu juga masalah?”

Bayu mengusap kepalanya.

“Kita bisa bayar sewa.”

“Dengan uang apa?”

Dia diam.

Aku berkata, “Itulah kenapa saya tidak akan menandatangani kontrak sepuluh tahun.”

Bu Ratna mulai menangis.

Bukan keras.

Beliau hanya mengambil tisu dan menekan sudut matanya.

“Ayahnya Arya bangun usaha itu dari nol.”

Tidak ada yang menjawab.

“Dulu waktu belum punya apa-apa, kami tidur di belakang toko,” katanya. “Arya masih kecil. Bayu bantu angkat kardus sepulang sekolah.”

Aku tahu cerita itu.

Sudah puluhan kali kudengar.

“Kalau tempat itu tutup, apa yang tersisa dari Bapak mereka?”

Arya menatap meja.

Bayu memandang jendela.

Untuk beberapa detik aku melihat bukan pemilik perusahaan dan bukan orang yang mencoba memakai gudangku.

Aku melihat satu keluarga yang takut kehilangan simbol terakhir dari ayah mereka.

Itu membuatku iba.

Tapi tidak mengubah jawabanku.

“Saya mengerti Ibu takut,” kataku.

Bu Ratna menatapku.

“Tapi takut kehilangan usaha tidak memberi kita hak mengambil risiko dari orang lain tanpa izin.”

Beliau menghapus air mata.

“Kamu tidak sayang keluarga ini?”

Pertanyaan itu biasanya berhasil.

Bertahun-tahun.

Aku akan langsung menjelaskan.

Menenangkan.

Membuktikan.

Malam itu aku hanya berkata, “Sayang tidak sama dengan menyerahkan semua keputusan.”

Arya berdiri dan masuk ke ruang kerja.

Pintunya tertutup.

Bayu pergi beberapa menit kemudian.

Bu Ratna pulang tanpa mengucapkan salam kepadaku.

Aku tinggal sendiri di ruang makan.

Di dalam saku tasku ada alat tes kehamilan yang tadi pagi kupindahkan dari celana.

Aku belum memberitahu siapa pun.

Dan setelah percakapan itu, aku semakin yakin bahwa aku belum siap mengatakannya.

Bukan karena ingin menghukum Arya.

Aku hanya tidak ingin kehamilan ini langsung berubah menjadi alasan baru untuk menunda masalah.

Kalau aku mengatakannya malam itu, semua orang mungkin akan berhenti membicarakan gudang.

Bu Ratna akan menangis bahagia.

Arya akan memelukku.

Perceraian akan dianggap tidak pernah ada.

Dan dua bulan kemudian mungkin aku akan kembali menjadi orang yang tidak enak hati menanyakan apa yang mereka lakukan.

Aku tidak mau anakku lahir ke dalam pola itu.


Pagi berikutnya aku menelepon Bu Lestari, akuntan yang mengurus pembukuan Dinda Tekstil.

Bukan pengacara.

Bukan polisi.

Aku hanya ingin memastikan perusahaan kami sendiri bersih.

Kami memeriksa izin usaha, alamat operasional, kontrak supplier, asuransi bangunan, serta dokumen yang berkaitan dengan penggunaan gudang.

Tidak ada nama Surya Kencana di dokumen kami.

“Kalau mereka cuma titip barang, sebenarnya bisa saja dibuat kerja sama sederhana,” kata Bu Lestari. “Masalahnya Ibu tidak tahu.”

“Itu yang paling mengganggu saya.”

“Dan kalau jumlah barangnya besar, risikonya juga bukan cuma soal sewa.”

Aku mengangguk.

Aku tidak membutuhkan kuliah hukum.

Aku hanya perlu memahami satu hal sederhana.

Semakin banyak kegiatan orang lain berlangsung di tempatku, semakin besar kemungkinan masalah mereka datang mengetuk pintuku.

Siang hari, aku memanggil seluruh kepala bagian.

Pak Hadi duduk paling dekat pintu.

Aku berkata, “Mulai sekarang siapa pun yang membawa barang bukan milik Dinda Tekstil harus ada persetujuan tertulis dari saya atau Bu Lestari.”

Pak Hadi mengangguk.

Aku menatapnya.

“Termasuk Pak Arya.”

Dia tampak tidak nyaman.

“Bu…”

“Bapak tidak perlu memilih antara saya dan suami saya. Bapak bekerja untuk perusahaan ini. Ikuti prosedurnya.”

“Baik.”

Aku juga mengganti kode pintu gudang belakang.

Bukan untuk mengunci Arya dari hidupku.

Untuk memperbaiki sesuatu yang seharusnya sudah kami lakukan sejak awal.

Hari berikutnya, tiga truk Surya Kencana datang memindahkan barang.

Bayu tidak muncul.

Arya datang sekitar pukul empat sore.

Ia berdiri di halaman ketika pekerja mengangkat palet terakhir.

Aku sedang memeriksa pesanan seragam sebuah rumah sakit swasta.

“Kita perlu bicara,” katanya.

“Kita bisa bicara di kantor.”

Dia mengikutiku masuk.

“Kamu benar-benar pindahkan semuanya.”

“Aku sudah bilang.”

“Distributor datang besok.”

“Aku tahu.”

“Mereka bisa batal.”

Aku menutup daftar pesanan.

“Mas, aku tidak bisa menjalankan usaha berdasarkan ketakutan bahwa kalau aku bilang tidak, perusahaan keluargamu runtuh.”

“Aku juga sedang cari gudang.”

“Bagus.”

“Harganya mahal.”

“Aku tahu.”

Dia tertawa kecil tanpa humor.

“Tentu kamu tahu. Kamu punya satu.”

Aku menatapnya.

“Jangan mulai menyalahkan saya karena punya sesuatu.”

Arya duduk.

Wajahnya jauh lebih tua daripada tiga hari sebelumnya.

“Aku bicara sama Ibu.”

“Bagaimana?”

“Tidak baik.”

Aku hampir tersenyum.

“Itu baru.”

Dia tidak ikut tersenyum.

“Ibu bilang kamu sudah tidak anggap kami keluarga.”

“Apa jawabanmu?”

Arya menggosok kedua tangan.

“Aku bilang mungkin selama ini kami terlalu terbiasa minta kamu bantu.”

Aku terdiam.

Itu kalimat kecil.

Tapi mungkin pertama kalinya aku mendengar Arya menyebut “kami” sebagai pihak yang juga bisa salah.

“Terima kasih,” kataku.

Dia mengangguk.

Kemudian menatap meja.

“Din, soal cerai…”

Aku merasakan alat tes dalam tasku.

Sudah tiga hari.

“Ya?”

“Aku minta maaf.”

“Untuk bagian mana?”

Dia mengangkat kepala.

“Semua.”

“Itu terlalu luas.”

Arya menarik napas.

“Aku tidak seharusnya menggunakan kata cerai waktu marah.”

“Apa kamu memang ingin cerai?”

Dia lama sekali menjawab.

“Aku tidak tahu.”

Jawaban itu menyakitkan.

Tapi setidaknya bukan kebohongan.

Aku berkata, “Aku juga belum tahu apakah aku masih mau tetap menikah.”

Wajahnya berubah.

Mungkin selama ini Arya mengira hanya dia yang punya kuasa untuk pergi.

“Kamu serius?”

“Serius.”

“Karena gudang?”

“Karena aku tidak tahu apakah aku bisa percaya keputusan kita benar-benar keputusan berdua.”

Dia berdiri dan berjalan ke jendela.

“Aku tidak selingkuh.”

“Aku tidak menuduh.”

“Aku tidak punya perempuan lain.”

“Bagus.”

Dia menoleh tajam.

“Cuma ‘bagus’?”

“Apa yang kamu ingin aku lakukan? Memberi penghargaan?”

Arya hampir marah, tapi akhirnya hanya mengembuskan napas.

“Aku tahu aku salah.”

“Masalahnya bukan cuma benar dan salah.”

“Terus?”

“Kalau besok perusahaanmu punya masalah lagi, apa kamu akan memberitahuku sebelum membuat keputusan?”

Dia tidak langsung menjawab.

Aku mengangguk.

“Itulah masalahnya.”

Aku membuka tas.

Tanganku menyentuh alat tes.

Aku menariknya keluar.

Benda kecil itu sudah berada di dalam kantong plastik bening karena aku tidak tahu harus menyimpannya bagaimana.

Aku meletakkannya di meja.

Arya memandang benda itu.

Kemudian kepadaku.

Kemudian kembali ke meja.

“Apa ini?”

Aku tidak menjawab.

Dia mengambilnya.

Tangannya berhenti.

Aku melihat wajah suamiku kehilangan semua pertahanan sekaligus.

“Dinda.”

Aku duduk.

“Kapan?”

“Malam kamu minta cerai.”

Dia memegang tepi meja.

“Kenapa kamu tidak bilang?”

Pertanyaan itu keluar lebih keras daripada yang seharusnya.

Aku menatapnya.

Arya langsung menyesal.

“Maaf. Aku… maksudku…”

“Aku tahu maksudmu.”

Dia duduk perlahan.

Matanya sudah basah.

“Kamu yakin?”

“Aku sudah cek darah kemarin.”

“Kenapa sendiri?”

Aku tersenyum kecil.

“Itu pertanyaan yang cukup rumit.”

Arya menutup wajah dengan kedua tangan.

Beberapa detik kemudian bahunya bergerak.

Aku tidak pernah melihat dia menangis seperti itu selain ketika ayahnya meninggal.

Aku tidak langsung menyentuhnya.

Setelah beberapa saat dia mengangkat wajah.

“Din, kita punya anak.”

“Aku hamil. Belum banyak yang bisa kita pastikan.”

“Tapi…”

“Iya.”

Dia menangis lagi.

Kali ini aku memberinya tisu.

Bukan pelukan.

Tisu.

Arya tertawa kecil di sela tangisnya.

“Kamu bahkan tidak mau peluk aku?”

Aku memandangnya.

“Mas, kabar ini tidak menghapus tiga hari terakhir.”

Wajahnya langsung berubah.

Aku melanjutkan, “Dan itu penting.”

“Aku tidak akan cerai.”

Aku merasakan kemarahan muncul lagi.

“Lihat?”

“Apa?”

“Baru saja kamu memutuskan sendiri lagi.”

Arya terdiam.

“Apa kalau aku tidak hamil, kamu akan tetap mempertimbangkan cerai?”

“Aku…”

“Jangan jawab cepat.”

Dia menunduk.

Aku berkata, “Aku tidak mau anak ini menjadi lem yang menempelkan dua orang yang tidak memperbaiki retaknya.”

Arya mengangguk pelan.

“Jadi kamu mau bagaimana?”

Pertanyaan itu akhirnya terdengar berbeda.

Bukan tuntutan.

Pertanyaan.

“Aku mau pulang ke rumah Ibu selama beberapa minggu.”

Dia menatapku.

“Kenapa?”

“Aku butuh jarak.”

“Rumah ini juga rumahmu.”

“Aku tahu.”

“Kita bisa pisah kamar.”

“Mas, aku yang menentukan apa yang kubutuhkan sekarang.”

Dia menutup mulut.

Lalu mengangguk.

“Oke.”

Aku tidak menyangka satu kata itu bisa terdengar seperti sesuatu yang baru.


Distributor Surya Kencana datang keesokan hari.

Kontrak mereka tidak langsung batal.

Tapi perusahaan diminta menyediakan alamat gudang alternatif dalam dua minggu.

Mereka akhirnya menyewa tempat lebih kecil di kawasan Margomulyo dengan biaya lebih tinggi daripada rencana mereka.

Bayu marah.

Selama hampir sebulan ia tidak menghubungiku.

Bu Ratna bahkan lebih lama.

Arya tidak memintaku membujuk mereka.

Itu perubahan pertama yang kuperhatikan.

Dia juga mulai membuka angka perusahaan kepadaku.

Bukan karena aku akan membantu.

Justru karena untuk pertama kalinya ia tahu aku mungkin tidak akan membantu.

Ternyata Surya Kencana bukan gagal karena satu customer terlambat membayar.

Masalahnya sudah berjalan hampir dua tahun.

Mereka terlalu agresif membeli kendaraan baru setelah mendapatkan beberapa kontrak besar.

Bayu mengambil dua proyek dengan margin tipis demi menaikkan omzet.

Ketika biaya bahan bakar dan pembayaran supplier naik, mereka menutup lubang bulan ini dengan uang bulan depan.

Arya tahu situasinya memburuk.

Tapi dia takut mengatakan kepada ibunya bahwa perusahaan harus mengecil.

Bu Ratna selalu menganggap ekspansi sebagai bukti bahwa usaha almarhum suaminya berhasil.

Bayu takut dianggap sebagai anak yang menghancurkan warisan Bapak.

Arya takut menjadi adik yang meninggalkan kakaknya saat sulit.

Dan aku?

Aku menjadi pintu termudah.

Karena aku hampir selalu bilang iya.

Mereka menjual dua kendaraan.

Mengurangi satu rute distribusi yang merugi.

Membatalkan rencana kontrak besar.

Tiga pekerja administrasi dialihkan ke cabang lain.

Tidak ada solusi yang indah.

Tidak ada satu cek besar yang menyelamatkan semuanya.

Mereka harus mengecil.

Bu Ratna menganggapnya sebagai kehinaan selama beberapa bulan.

Lalu beliau mulai terbiasa.

Kehamilanku berjalan tidak semudah yang kami harapkan.

Pada minggu kesebelas aku mengalami perdarahan ringan.

Arya mengantarku ke rumah sakit.

Di ruang tunggu, dia tidak berkata, “Pasti baik-baik saja.”

Dia hanya duduk di sampingku.

Ketika aku gemetar, dia berkata, “Aku di sini.”

Dokter mengatakan kondisi janin masih baik, tapi aku harus lebih banyak beristirahat.

Malam itu Arya mengantarku ke rumah Ibu.

Sebelum turun dari mobil, dia berkata, “Aku tidak akan tanya kapan kamu pulang.”

Aku menoleh.

“Kenapa?”

“Karena kemarin aku mau tanya.”

Aku hampir tertawa.

“Tapi?”

“Terapis bilang kalau aku terus menanyakan kapan kamu kembali, itu bukan memberi ruang.”

Aku terdiam.

“Kamu ke terapis?”

“Dua kali.”

Arya tampak malu mengakuinya.

“Sendiri?”

“Iya.”

“Kenapa tidak bilang?”

“Kamu bilang aku harus belajar membuat keputusan tanpa menjadikan kamu tempat semua jawabannya.”

Aku menatapnya.

“Kali ini keputusan yang bagus.”

Dia tersenyum sedikit.

Itu pertama kalinya sejak malam dua map itu kami tersenyum tanpa pura-pura.

Aku tetap tinggal di rumah Ibu hampir tiga bulan.

Arya datang setiap Sabtu.

Kadang kami makan bersama.

Kadang dia mengantarku kontrol.

Kadang kami bertengkar.

Sekali aku menyuruhnya pulang karena dia menjawab telepon Bayu tiga kali selama makan siang.

Dia marah.

Dua jam kemudian dia mengirim pesan.

Kamu benar soal satu hal. Aku selalu merasa masalah keluarga harus selesai sebelum hidupku sendiri boleh berjalan. Aku sedang belajar bahwa itu tidak mungkin.

Aku tidak langsung menjawab.

Malamnya aku hanya menulis:

Belajar pelan-pelan. Aku juga.

Pada bulan keenam kehamilan, Bu Ratna akhirnya datang.

Aku sedang duduk di teras rumah Ibu memotong label kain untuk sampel produksi ketika mobilnya berhenti.

Beliau membawa mangga.

Terlalu banyak.

Seperti biasa kalau sedang tidak tahu bagaimana memulai pembicaraan.

“Ibumu ada?”

“Ke pengajian.”

Beliau duduk.

Matanya beberapa kali turun ke perutku.

“Arya bilang perempuan.”

Aku mengangguk.

Beliau tersenyum sedikit.

“Sudah ada nama?”

“Belum final.”

Kami diam.

Lima menit.

Mungkin lebih.

Akhirnya beliau berkata, “Ibu dulu marah sekali sama kamu.”

“Saya tahu.”

“Ibu merasa kamu tidak peduli nasib perusahaan.”

Aku tidak menjawab.

“Tapi waktu mereka jual truk pertama, Ibu baru tahu leasing-nya sebesar apa.”

Aku menatapnya.

“Arya tidak pernah kasih lihat angka?”

“Bapak mereka dulu tidak pernah bicara soal utang ke Ibu.”

Kalimat itu menjelaskan banyak hal.

Bu Ratna dibesarkan dalam sistem di mana seseorang mengurus uang dan orang lain percaya.

Kemudian beliau mengharapkan anak-anaknya melakukan hal yang sama.

Dan mungkin tanpa sadar kami semua menyalin pola itu.

“Ibu kira kalau usaha besar, berarti sehat,” katanya.

“Banyak orang pikir begitu.”

Beliau memainkan pegangan tas.

“Mas Bayu juga salah.”

Aku hampir tertawa.

Dari mulut Bu Ratna, itu pengakuan besar.

“Dan Arya?”

Beliau menatapku tajam.

“Jangan banyak-banyak.”

Aku benar-benar tertawa kali ini.

Bu Ratna ikut tersenyum kecil.

Kemudian wajahnya kembali serius.

“Ibu minta maaf soal gudang.”

Aku tidak mengatakan, “Tidak apa-apa.”

Karena memang pernah tidak baik-baik saja.

Aku hanya berkata, “Terima kasih, Bu.”

Beliau mengangguk.

“Sama satu lagi.”

“Apa?”

“Ibu waktu itu tanya kamu masih sayang keluarga ini atau tidak.”

Aku menunggu.

“Harusnya Ibu tidak bicara begitu.”

Aku menatap perempuan di depanku.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada tangisan besar.

Tapi aku tahu biaya yang dibutuhkan Bu Ratna untuk mengucapkan kalimat itu.

“Saya masih sayang keluarga ini,” kataku.

Beliau menatapku.

“Cuma sekarang saya tidak mau membuktikannya dengan selalu mengalah.”

Bu Ratna menghela napas.

“Ya.”

Kemudian menepuk lutut.

“Keras kepala.”

Aku tersenyum.

“Mungkin.”

“Tapi bagus sedikit.”

Itu sedekat mungkin dengan restu yang bisa kudapat hari itu.


Putri kami lahir pada awal Februari.

Kami menamainya Nadira.

Arya ada di ruang bersalin.

Ketika pertama kali menggendongnya, dia menangis begitu keras sampai perawat menyuruhnya duduk.

Aku tertawa sambil menangis.

Kami belum sepenuhnya kembali sebagai pasangan saat itu.

Aku bahkan masih punya beberapa pakaian di rumah Ibu.

Tapi tiga minggu setelah Nadira lahir, aku pulang.

Bukan karena bayi membutuhkan ayahnya.

Bukan karena Bu Ratna meminta.

Bukan karena orang bilang rumah tangga harus utuh.

Aku pulang karena selama enam bulan Arya melakukan hal yang dulu paling jarang ia lakukan.

Dia menunjukkan perubahan sebelum meminta hasil.

Dia berhenti meminjam uang dariku.

Dia memisahkan rekening rumah tangga dari kebutuhan keluarganya.

Dia tidak lagi memberi Bayu akses memakai kendaraan pribadi kami tanpa bertanya.

Kalau ibunya meminta sesuatu yang tidak masuk akal, dia menjawab sendiri.

Kadang jawabannya tetap iya.

Tapi itu iya miliknya.

Bukan milikku.

Dan ketika kami bertengkar, kata cerai tidak pernah muncul lagi sebagai senjata.

Aku juga berubah.

Aku berhenti merasa setiap “tidak” membutuhkan tiga paragraf penjelasan.

Pak Hadi pernah meminta izin agar keponakannya memakai ruang kosong gudang untuk menyimpan barang selama seminggu.

Dulu mungkin aku akan bilang, “Ya sudah.”

Kali itu aku berkata, “Maaf, tidak bisa.”

Pak Hadi menjawab, “Baik, Bu.”

Selesai.

Aku sampai tertawa setelah dia keluar.

Bertahun-tahun aku takut bahwa batas akan selalu menciptakan perang.

Ternyata kadang batas hanya menciptakan kalimat pendek.


Hampir dua tahun setelah malam Arya meletakkan dua map di meja makan, Surya Kencana mengadakan acara ulang tahun perusahaan yang ketiga puluh.

Bukan gala mewah.

Mereka sudah tidak punya uang maupun keinginan untuk berpura-pura sebesar dulu.

Acara berlangsung di ballroom hotel kecil di Surabaya.

Supplier datang.

Karyawan lama datang.

Beberapa customer datang.

Ada layar yang menampilkan foto almarhum Pak Surya ketika masih punya satu toko.

Arya memintaku datang.

“Aku tidak akan paksa,” katanya.

“Bu Ratna?”

“Sudah tanya empat kali.”

Aku tertawa.

Akhirnya aku datang membawa Nadira.

Anak kami hampir satu setengah tahun.

Ia sudah bisa berjalan, meskipun masih seperti orang mabuk kecil yang sangat percaya diri.

Aku mengenakan baju sederhana.

Tidak ada niat membuat siapa pun menyesal.

Hidup nyata jarang memberikan panggung serapi itu.

Begitu masuk ballroom, Nadira langsung melihat Arya di depan.

“Ayah!”

Semua kepala tidak menoleh.

Hanya beberapa.

Cukup.

Arya sedang berdiri bersama Bayu dan seorang supplier.

Begitu mendengar suara putrinya, dia meninggalkan percakapan tanpa berpikir.

Nadira berjalan cepat.

Hampir jatuh.

Arya berjongkok dan menangkapnya.

Aku berdiri beberapa meter dari mereka.

Bu Ratna datang dari samping.

Beliau tidak melihatku lebih dulu.

Beliau melihat Nadira.

Kemudian putranya.

Dan entah kenapa, wajah Bu Ratna berubah.

Mungkin beliau teringat malam ketika kami hampir merusak semuanya demi sebuah kontrak.

Mungkin tidak.

Aku tidak pernah menanyakannya.

Bayu mendekat kepadaku.

Hubungan kami belum kembali seperti dulu.

Mungkin tidak akan pernah.

Tapi ia sudah membayar kembali seluruh pinjaman lama yang pernah kuberikan, termasuk sisa Rp32 juta yang selama bertahun-tahun tidak pernah kubicarakan.

“Tempatmu sekarang penuh terus, ya?” tanyanya.

“Lumayan.”

“Dengar-dengar dapat kontrak rumah sakit lagi.”

“Dua.”

Dia mengangguk.

“Bagus.”

Aku juga mengangguk.

Tidak ada rasa puas karena usahaku selamat sementara usaha mereka harus mengecil.

Surya Kencana masih hidup.

Lebih kecil.

Lebih sehat.

Bayu bahkan terlihat lebih tenang daripada ketika mereka mengejar omzet besar.

“Din,” katanya.

“Ya?”

“Dulu aku pikir kamu egois.”

Aku tersenyum.

“Sekarang?”

“Kadang masih.”

Aku tertawa.

Dia ikut tertawa.

Kemudian wajahnya serius.

“Tapi kalau waktu itu kamu kasih gudang, mungkin kami justru tambah berani ambil utang.”

Aku tidak menjawab.

“Arya pernah bilang begitu.”

“Mas Arya sekarang suka sekali bicara setelah semuanya selesai.”

Bayu tersenyum.

“Memang.”

Di panggung, pembawa acara memanggil nama Bayu.

Dia pergi.

Aku berjalan ke arah Arya.

Nadira sudah berada di bahunya sambil memainkan kerah batiknya.

“Capek?” tanyaku.

Arya menggeleng.

“Nggak.”

“Kamu habis pidato?”

“Sudah.”

“Bilang apa?”

“Tidak penting.”

Bu Ratna menyela, “Dia bilang perusahaan harus belajar tumbuh sesuai kemampuan.”

Aku mengangkat alis.

Arya terlihat malu.

“Wah.”

“Jangan mulai,” katanya.

Aku tersenyum.

Bu Ratna mengambil Nadira.

“Sudah, sini sama Eyang.”

Nadira langsung pindah.

Arya berdiri di sampingku.

Kami melihat ibu mertuaku membawa cucunya ke meja makanan.

Setelah beberapa detik Arya berkata, “Kamu ingat malam itu?”

Aku tahu malam mana.

“Sayangnya iya.”

“Aku kadang masih malu.”

“Bagus.”

Dia menoleh.

“Galak.”

“Aku serius. Sedikit malu mungkin berguna.”

Arya tersenyum.

Kemudian berkata, “Kalau kamu waktu itu langsung bilang hamil, mungkin semuanya beda.”

Aku memandangnya.

“Mungkin.”

“Kamu pernah menyesal tidak bilang?”

Aku berpikir.

“Tidak.”

Arya tidak tersinggung.

Itu juga baru.

Aku berkata, “Kalau aku bilang malam itu, mungkin kita akan terlalu sibuk bahagia sampai tidak pernah membicarakan masalah sebenarnya.”

Dia mengangguk.

“Aku mungkin akan sobek map cerai, peluk kamu, terus tetap bawa barang ke gudang diam-diam.”

“Persis.”

“Jahat sekali penilaianmu.”

“Tapi akurat?”

Dia tertawa.

“Iya.”

Aku melihat Nadira mengambil potongan semangka dari piring Bu Ratna.

Jus merah menetes ke bajunya.

Bu Ratna panik mencari tisu.

Bayu masih bicara di panggung.

Arya berdiri di sampingku.

Tidak ada musik dramatis.

Tidak ada orang kalah.

Tidak ada kemenangan besar.

Hanya keluarga yang pernah hampir hancur karena terlalu banyak orang takut mengatakan hal yang sebenarnya.

Aku dulu berpikir pernikahan bertahan karena dua orang terus memilih satu sama lain.

Sekarang aku tahu itu baru setengahnya.

Kadang pernikahan bertahan karena dua orang akhirnya berhenti memilih untuk orang lain.

Ketika kami pulang malam itu, Nadira tertidur di mobil.

Arya menggendongnya masuk.

Aku membuka pintu rumah.

Di meja makan masih ada bekas goresan kecil dekat sudut kanan.

Bekas map biru milik Arya pernah terjatuh dan pengait logamnya menggesek kayu.

Dulu aku ingin mengganti mejanya.

Sekarang tidak.

Aku meletakkan kunci mobil di atas goresan itu.

Lalu memindahkannya sedikit.

Bekasnya masih terlihat.

Tidak mengganggu.

Tidak perlu ditutup.

Beberapa kerusakan memang tidak harus dihapus supaya hidup bisa diteruskan.

Yang penting, kami tidak lagi berpura-pura bahwa retaknya tidak pernah ada.

Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Menurut kalian, apakah Dinda benar karena tidak langsung memberi tahu Arya tentang kehamilannya malam itu? Semoga siapa pun yang sedang belajar menetapkan batas dengan keluarga diberi keberanian untuk tetap menyayangi tanpa harus kehilangan dirinya sendiri.