BAGIAN 2
Dita merebut telepon Bu Riska dari arah pandangku.
“Pesan itu konteksnya bukan begitu.”
Aku mengulurkan tangan.
“Biar aku baca.”
Bu Riska terlihat tidak nyaman.
“Pak, kalau ini masalah keluarga, saya bisa kembali lain waktu.”
“Tidak perlu, Bu. Saya cuma ingin satu jawaban. Ibu saya pernah meminta fisioterapi dihentikan?”
“Tidak.”
Dita langsung menyela.
“Ibu bilang capek.”
Bu Riska menoleh kepadanya.
“Capek setelah latihan, iya. Tapi Bu Marni malah bilang ingin bisa kembali tinggal sendiri.”
Ibuku menunduk.
Kalimat itu sederhana, tetapi membuatku merasa semakin bodoh.
Aku pikir Ibu nyaman tinggal denganku.

Aku tidak pernah bertanya apakah beliau ingin pulang.
Aku hanya menyediakan kamar, perawat, makanan, obat, lalu menganggap semua sudah beres.
Bu Riska berpamitan setelah menyerahkan alat latihan.
Begitu pintu tertutup, Dita berkata, “Aku bisa jelaskan.”
Aku menatap Ibu.
“Benar Ibu mau pindah?”
Beliau lama menjawab.
“Pulang.”
“Ke rumah Wonokromo?”
Ibu mengangguk.
“Kenapa tidak bilang?”
Dita tertawa pendek.
“Karena rumahnya tidak aman.”
Aku menoleh kepadanya.
“Aku bertanya kepada Ibu.”
Ibuku mengusap tongkatnya.
“Dita bilang kamu ingin rumah ini kosong setelah menikah.”
Aku tidak langsung mengerti.
“Apa?”
“Katanya wajar. Kalian pengantin baru.”
Dita memejamkan mata sebentar.
“Bu, saya tidak pernah bilang Mas Arga mengusir.”
“Tidak pakai kata mengusir.”
Ibu menatapnya.
“Tapi maksudnya sama.”
Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Dita tidak langsung punya jawaban.
Aku menatap perempuan yang delapan bulan lagi seharusnya menjadi istriku.
“Kenapa kamu mengatakan itu?”
“Aku bilang kita perlu bicara tentang batas.”
“Dengan siapa?”
“Dengan kamu.”
“Tidak. Kamu bicara kepada Ibu tanpa aku.”
“Karena setiap kali aku bicara soal Ibu, jawabanmu selalu sama.”
“Apa?”
“‘Nanti kita atur.’”
Aku diam.
Dita melanjutkan.
“Kamu bisa mengeluarkan uang untuk segala hal, Mas. Tapi kalau menyangkut keputusan yang bisa membuat seseorang kecewa, kamu menunda.”
Kalimat itu mengenai sesuatu yang tidak ingin kuakui.
Namun aku tidak membiarkannya mengubah arah percakapan.
“Uang kios.”
Dita mengembuskan napas.
“Tidak hilang.”
“Masuk ke mana?”
Ibuku berkata, “Ibu yang tanda tangan.”
Aku menoleh cepat.
“Tanda tangan apa?”
“Surat untuk penyewa.”
Dita mengambil tasnya.
“Aku pulang dulu. Kamu sekarang tidak akan percaya apa pun yang kukatakan.”
“Duduk.”
Dia berhenti.
Aku tidak pernah berbicara kepadanya dengan nada seperti itu.
Mungkin karena itu dia akhirnya kembali duduk.
Ibu masuk ke kamar dan beberapa menit kemudian keluar membawa map plastik biru.
Bukan map rahasia.
Bukan dokumen tersembunyi.
Map itu biasanya berisi tagihan listrik rumah lama dan kuitansi pajak kios.
Beliau menyerahkan satu lembar kepadaku.
Surat pemberitahuan sederhana.
Mulai bulan Januari, pembayaran sewa dua kios dilakukan bukan lagi ke rekening Ibu.
Di bawahnya tercantum rekening perusahaan bernama:
CV Lentera Pesta Bersama.
Aku tidak mengenal nama itu.
“Ini perusahaan siapa?”
Dita menjawab pelan.
“Rendy.”
Adiknya.
Aku membaca lagi.
“Kenapa uang sewa Ibu masuk ke perusahaan Rendy?”
“Ibu membantu kami.”
“Berapa lama?”
“Enam bulan.”
Ibuku berkata, “Awalnya katanya tiga bulan.”
Aku memandang Dita.
Dia mengusap dahinya.
“Usaha Rendy kena masalah.”
Dua tahun sebelumnya aku pernah membantu usaha dekorasi mereka ketika sebuah hotel menahan pembayaran proyek hampir Rp300 juta.
Aku memberikan pinjaman.
Sebagian dikembalikan.
Sebagian lagi tidak pernah kutagih.
Saat itu Dita menangis karena malu.
Dia berjanji tidak akan meminta bantuan lagi.
Rupanya dia menepati janjinya dengan cara yang sangat berbeda.
“Kamu tidak meminta kepadaku,” kataku.
“Karena aku tahu jawabanmu.”
“Apa?”
“Kamu akan bayar lagi.”
Aku hampir tertawa.
“Jadi supaya aku tidak membayar, kamu mengambil uang Ibu?”
“Tidak mengambil.”
Dita menatap Ibu.
“Ibu setuju.”
Ibu mengangguk pelan.
“Waktu pertama.”
Dita membeku.
Aku menunggu.
Ibu melanjutkan.
“Dita bilang cuma sampai pekerjaan Rendy dibayar. Tiga bulan.”
“Lalu?”
“Setelah itu Ibu mau hentikan.”
“Kenapa tidak dihentikan?”
Ibu tidak menjawab.
Ponselnya berdering.
Nama Pak Yanto muncul.
Ibu memandangku sebelum mengangkat.
“Halo, Pak.”
Kami bisa mendengar suara laki-laki dari seberang meski tidak jelas.
Ibu berkata, “Tidak, Pak. Mulai bulan depan jangan dulu.”
Beliau mendengarkan.
Lalu wajahnya berubah.
“Apa?”
Aku berdiri.
Ibu menekan pengeras suara.
Pak Yanto berkata, “Saya kira Ibu sudah tahu. Kemarin Mbak Dita minta kami memperpanjang cara pembayaran sampai pertengahan tahun depan. Katanya Ibu sudah setuju karena uangnya untuk biaya tempat tinggal Ibu setelah pindah.”
Aku menoleh kepada Dita.
Tidak ada yang bergerak.
Pak Yanto melanjutkan, “Saya belum tanda tangan perpanjangan sewanya, Bu. Makanya saya telepon. Saya takut salah.”
Setelah telepon ditutup, Ibu memandang Dita dengan ekspresi yang jauh lebih menyakitkan daripada marah.
“Tempat tinggal apa?”
Dita tidak menjawab.
Aku berkata, “Jawab.”
Akhirnya dia membuka tas dan mengeluarkan sebuah brosur yang terlipat dua.
Brosur sebuah hunian lansia di kawasan Batu.
Di sudut kanan atas ada tulisan tangan.
Bu Marni, kamar lantai 1, deposit Rp25 juta.
Aku menatapnya lama.
Dita berkata sangat pelan, “Aku cuma membuat pilihan.”
Aku menoleh kepada Ibu.
Beliau memegang tongkat dengan kedua tangan.
“Pilihan untuk siapa?”
Tak seorang pun menjawab.
Bagian berikutnya bukan lagi tentang uang. Ini tentang siapa yang merasa berhak menentukan hidup orang lain atas nama keluarga.
BAGIAN 3
Aku meletakkan brosur itu di meja.
Tidak kubanting.
Tidak kurobek.
Aku hanya meratakannya dengan telapak tangan.
“Siapa yang membayar deposit?”
Dita tidak menjawab.
Aku menatap Ibu.
Beliau menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
“Dita?”
“Belum dibayar.”
Aku menunjuk tulisan Rp25 juta.
“Ini apa?”
“Catatan biaya.”
“Jadi kamu sudah survei?”
“Iya.”
“Dengan siapa?”
“Sendiri.”
Ibuku berkata, “Kapan?”
Dita menatap beliau.
“Bulan lalu.”
Bulan lalu.
Aku langsung teringat sesuatu.
Dita pernah mengatakan dia harus pergi ke Malang karena ada klien wedding.
Dia menginap satu malam.
Aku bahkan menawarkan sopir.
Dia menolak karena katanya jadwalnya berubah-ubah.
Sekarang aku tahu setidaknya satu tujuan perjalanannya.
“Aku tidak mengerti,” kataku. “Kamu ingin Ibu tinggal di Batu?”
“Aku ingin kita punya pilihan.”
“Kita?”
Dita terlihat mulai kehilangan kesabarannya.
“Iya, kita. Kamu dan aku. Orang yang akan menikah.”
“Dan Ibu tidak termasuk orang yang perlu tahu?”
“Kalau dari awal aku bilang, Ibu pasti menolak.”
“Karena itu hidup Ibu.”
“Dan rumah ini nanti hidup kita.”
Kalimat itu membuat Ibu menoleh.
Dita sadar dirinya sudah mengatakan terlalu banyak.
Aku berdiri.
“Bu, masuk kamar dulu.”
Ibuku langsung menggeleng.
“Tidak.”
Aku menatap beliau.
Biasanya Ibu paling cepat menghindari pertengkaran.
Kali ini tangannya memang masih mencengkeram tongkat, tetapi punggungnya lebih tegak.
“Ibu mau dengar.”
Dita menyilangkan tangan.
“Bagus. Mungkin memang sudah waktunya semua bicara jujur.”
Aku duduk kembali.
“Silakan.”
Dia menatapku beberapa detik.
“Sejak kapan kamu mau dengar?”
Aku hampir memotong, tetapi urung.
Dita tertawa kecil tanpa humor.
“Setiap aku bicara soal setelah kita menikah, kamu cuma bilang jangan khawatir. Kamar cukup. Rumah besar. Uang bukan masalah.”
“Memang.”
“Itu masalahnya.”
Aku mengerutkan kening.
“Kamu pikir semua bisa selesai dengan kamar cukup dan uang cukup.”
“Apa salahnya memastikan Ibu punya tempat tinggal?”
“Tidak salah. Tapi aku akan jadi istrimu, Mas. Bukan tamu tambahan di rumah yang semua keputusannya tetap mengikuti Ibu.”
Ibu menarik napas.
“Dita, Ibu tidak pernah mengatur rumah ini.”
“Tidak perlu.”
Dita menatapnya.
“Mas Arga sendiri yang selalu menyesuaikan.”
“Karena dia anak saya.”
“Dan sebentar lagi dia suami saya.”
Suasana berubah.
Bukan karena ada orang berteriak.
Justru karena akhirnya masalah yang selama ini disamarkan sebagai tagihan, fisioterapi, dan kamar lansia mendapatkan bentuk aslinya.
Perebutan tempat.
Bukan tempat tidur.
Bukan kamar.
Tempat dalam hidup seseorang.
Aku menatap Dita.
“Jadi kamu ingin Ibu keluar.”
“Aku ingin kita punya rumah tangga sendiri.”
“Kamu bisa bilang itu kepadaku.”
“Aku sudah mencoba.”
“Kapan?”
“Waktu kita pilih tanggal pernikahan.”
Aku berpikir.
Ada percakapan di sebuah restoran hampir enam bulan lalu.
Dita pernah bertanya, “Kalau kita sudah menikah, Ibu akan tetap di rumahmu?”
Aku menjawab tanpa banyak berpikir.
“Sampai sembuh total.”
Dia lalu bertanya, “Setelah itu?”
Aku mengatakan, “Lihat nanti.”
Benar.
Aku memang mengatakannya.
Dita berkata lagi, “Waktu aku tanya siapa yang akan mengurus kalau Ibu nanti tidak bisa tinggal sendiri, kamu bilang, ‘Ya kita.’”
Aku diam.
“Aku tidak bilang tidak mau membantu,” lanjutnya. “Tapi kamu memutuskan kata ‘kita’ sebelum bertanya apakah aku sanggup.”
Untuk pertama kalinya sejak siang itu, aku tidak punya jawaban cepat.
Ibuku juga diam.
Dita melihat perubahan di wajahku dan suaranya melunak.
“Aku takut, Mas.”
Aku menatapnya.
“Aku hampir empat puluh. Aku tidak menikah untuk kemudian hidup seperti menantu yang harus merasa sungkan setiap kali mau mengubah sesuatu di rumah sendiri.”
Ibu berkata, “Kalau kamu bilang begitu dari awal, Ibu bisa pulang.”
Dita tertawa pendek.
“Ke rumah yang kamar mandinya membuat Ibu jatuh?”
“Aku bisa renovasi.”
“Pakai uang siapa?”
“Ibu punya uang.”
“Uang kios?”
Kalimat itu keluar dari mulutku sebelum Dita bisa melanjutkan.
Dia langsung diam.
Aku mencondongkan badan.
“Kita kembali ke situ.”
“Mas.”
“Kalau masalahnya hanya tempat tinggal Ibu, kenapa uang kios masuk ke perusahaan Rendy?”
Dita mengusap wajah.
“Karena dua masalah itu terjadi bersamaan.”
“Jelaskan.”
“Rendy mendapat proyek dekorasi tiga gedung serbaguna untuk rangkaian acara wisuda. Dia sewa gudang tambahan, beli rangka, kain, lampu, semua.”
“Aku tahu proyek itu.”
“Tidak semuanya.”
Dia menatap lantai.
“Vendor utamanya bangkrut.”
Aku mulai mengerti.
“Rendy tidak dibayar.”
“Rp460 juta.”
Angka itu besar untuk usaha mereka.
Dita melanjutkan.
“Dia masih punya cicilan alat. Upah orang. Sewa gudang. Ada dua belas karyawan tetap.”
“Lalu kamu minta Ibu membantu.”
“Aku tidak minta Rp460 juta.”
“Berapa?”
“Rp66 juta.”
Enam bulan uang sewa kios.
Aku menghitung cepat.
“Lalu kenapa diperpanjang?”
“Karena masalahnya belum selesai.”
Ibuku berkata, “Kamu bilang pembayaran masuk bulan April.”
Dita melihat beliau.
“Aku juga percaya begitu.”
“Sekarang sudah Juni.”
“Aku tahu.”
“Dan kamu tidak bilang.”
“Aku sedang mencari jalan.”
Ibu menatapnya lama.
“Dengan memasukkan Ibu ke Batu?”
Dita memejamkan mata.
“Itu bukan karena uang.”
“Lalu kenapa kamu bilang uang kios untuk biaya tempat tinggal Ibu?”
“Saya bilang itu ke Pak Yanto supaya dia tidak banyak bertanya.”
Ibu terdiam.
Aku merasakan kemarahan yang sejak tadi kutahan mulai berubah.
Bukan lagi panas.
Lebih dingin.
“Jadi kamu menggunakan nama Ibu untuk menutup kebutuhan usaha Rendy.”
Dita menatapku.
“Jangan buat seolah-olah aku mencuri.”
“Aku sedang menyebut apa yang kamu lakukan.”
“Ibu tanda tangan.”
“Tiga bulan.”
“Tidak ada tulisan tiga bulan.”
Ibuku tampak seperti ditampar.
Aku menoleh kepadanya.
Beliau menunduk.
Dita langsung menyadari kata-katanya salah.
“Bu, maksud saya bukan begitu.”
Ibu mengangkat tangan.
“Sudah.”
Hanya satu kata.
Tetapi kali ini artinya berbeda.
Bukan untuk menghentikan pertengkaran.
Untuk menghentikan Dita.
Ibuku berkata, “Waktu itu kamu bilang suratnya cuma supaya penyewa tidak bingung kalau bayar ke rekening lain.”
“Iya.”
“Kamu bilang tiga bulan.”
“Iya.”
“Karena Ibu percaya, Ibu tidak baca lama-lama.”
Dita tidak menjawab.
Ibu mengangguk perlahan.
“Berarti salah Ibu.”
“Bu,” kataku.
“Memang.”
Beliau menatapku.
“Dari dulu Ibu begitu. Kalau orang bilang keluarga sedang susah, Ibu cepat kasihan.”
Lalu beliau menatap Dita.
“Tapi orang yang tahu Ibu seperti itu seharusnya tidak memakai kelemahan itu untuk membuat Ibu setuju lebih banyak.”
Dita membuka mulut.
Tidak ada kata yang keluar.
Aku baru sadar bahwa selama ini aku selalu mengira kelemahan Ibu adalah terlalu mudah mengalah.
Padahal kelemahan itu ada di keluarga kami lebih dari satu generasi.
Ibu mengalah.
Aku membayar.
Kami berdua menghindari pertengkaran dengan cara berbeda.
Akibatnya, orang lain belajar bahwa batas kami bisa digeser asal caranya cukup halus.
Aku berdiri.
“Telepon Rendy.”
Dita langsung menjawab, “Tidak perlu.”
“Kenapa?”
“Karena ini urusanku.”
“Kamu baru saja bilang uangnya untuk usaha dia.”
“Aku yang minta Ibu.”
“Berarti dia tidak tahu?”
Dita diam.
Itu jawaban lain.
Aku mengambil teleponku.
Dita berdiri.
“Mas, jangan.”
“Kenapa?”
“Dia lagi di lokasi.”
“Aku juga punya perusahaan. Kalau ada masalah Rp66 juta, aku masih bisa mengangkat telepon.”
“Aku tidak mau kamu mempermalukan dia.”
Aku hampir tertawa.
“Menarik.”
“Apa?”
“Sejak siang kamu bicara tentang batas rumah tangga. Tapi uang Ibu boleh menyeberang ke usaha adikmu karena kamu tidak mau dia malu.”
“Itu beda.”
“Kenapa?”
“Karena dia punya karyawan.”
“Dan Ibu bukan manusia yang punya kebutuhan?”
“Aku tidak bilang begitu.”
“Fisioterapi dihentikan.”
“Karena mahal.”
Aku menatapnya.
Kalimat itu keluar begitu saja.
Dita langsung menyesal.
Aku tidak meninggikan suara.
“Siapa yang bilang mahal?”
Dia diam.
“Aku?”
Tidak menjawab.
“Ibu?”
Diam.
“Kamu yang menganggapnya mahal?”
Dita menunduk.
Aku merasakan sesuatu di dada yang jauh lebih buruk daripada kemarahan.
“Bu Riska dibayar Rp350 ribu sekali datang.”
Dita berkata pelan, “Empat kali seminggu.”
“Betul.”
“Sebulan hampir Rp6 juta.”
“Betul.”
“Aku cuma berpikir kalau dikurangi…”
“Kenapa kamu harus mengurangi biaya yang aku bayar?”
“Karena semua ini tidak sehat.”
“Apa yang tidak sehat?”
“Kamu terus mengeluarkan uang tanpa batas.”
Aku menatapnya beberapa detik.
“Kamu memindahkan Rp11 juta per bulan dari Ibu ke usaha adikmu, lalu menghentikan fisioterapi Rp6 juta per bulan karena menurutmu aku terlalu banyak mengeluarkan uang untuk Ibu.”
“Itu bukan perbandingan yang adil.”
“Menurutku sangat jelas.”
Dita mulai menangis.
Bukan tangis keras.
Dia duduk dan menekan ujung jari ke pelipis.
“Aku sedang panik.”
Aku tidak menjawab.
Dia melanjutkan.
“Kalau Rendy gagal bayar gudang, semua barang bisa ditahan. Kalau barang ditahan, proyek lain tidak jalan. Kalau proyek lain tidak jalan, dua belas orang kehilangan kerja.”
“Lalu kenapa tidak bilang kepadaku?”
“Karena dua tahun lalu kamu sudah membantu.”
“Dan?”
“Ayahku bilang jangan pernah minta lagi.”
Aku mengerutkan kening.
“Ayahmu?”
Dita tertawa hambar.
“Kamu pikir cuma Ibu yang punya rasa malu?”
Dia menatapku.
“Keluargaku juga.”
Aku teringat ayah Dita.
Pak Anton.
Pensiunan supervisor pabrik yang selalu memakai kemeja meski hanya makan bakso di rumah.
Ketika dulu aku membantu usaha Rendy, dia tidak pernah membahasnya.
Bahkan saat Lebaran, dia hampir tidak mau menatapku.
Dita berkata, “Ayah bilang kalau aku menikah denganmu setelah keluarga kami dua kali dibantu, orang akan menganggap aku mengejar uang.”
“Itu alasan untuk mengambil uang Ibu?”
“Bukan.”
“Lalu apa?”
“Alasan aku takut meminta.”
Aku mengangguk.
Akhirnya ada satu kalimat jujur.
Bukan pembenaran.
Bukan jawaban yang membuat tindakannya benar.
Tetapi jujur.
Aku menelepon Rendy.
Dita tidak lagi mencoba menghentikan.
Telepon diangkat setelah empat nada.
“Mas Arga?”
“Di mana?”
“Pakuwon. Bongkar dekor.”
“Aku mau tanya soal uang dari kios Ibu.”
Hening.
Lalu suara truk terdengar dari tempatnya.
“Mas dapat dari Mbak Dita?”
“Jawab dulu. Kamu tahu uangnya milik Ibu?”
“Iya.”
“Sejak kapan?”
“Awal.”
Aku menatap Dita.
Dia tidak membalas tatapanku.
“Berapa yang sudah masuk?”
“Sekitar enam puluh enam.”
“Kenapa diteruskan?”
Rendy diam cukup lama.
“Karena Mbak bilang Ibu setuju sampai invoice kami cair.”
“Invoice belum cair.”
“Belum.”
“Dan kamu pikir tidak perlu tanya lagi kepada Ibu?”
“Aku pikir Mbak yang urus.”
Aku tersenyum tanpa senang.
Kalimat itu sangat kukenal.
Aku pikir dia yang urus.
Aku sendiri hidup dengan kalimat itu selama bertahun-tahun.
Dita urus rumah.
Staf urus kantor.
Ibu urus dirinya.
Kalau ada masalah, aku bayar.
Mungkin aku tidak berhak pura-pura terkejut ketika orang lain menggunakan cara yang sama.
“Aku mau kamu datang ke rumah jam enam,” kataku.
“Sekarang?”
“Jam enam.”
“Ada apa?”
“Kalau kamu menerima uang orang, kamu datang ketika orang itu ingin bicara.”
Dia akhirnya menjawab, “Iya.”
Aku menutup telepon.
Dita berkata, “Kamu tidak perlu membuat ini jadi sidang keluarga.”
“Aku tidak mengundang keluarga besar.”
“Rendy saja sudah cukup.”
“Dia menerima uangnya.”
“Kamu mau apa? Memaksa dia bayar malam ini?”
“Tidak.”
“Lalu?”
“Aku ingin semua berhenti bicara atas nama orang lain.”
Dia menatapku.
Aku menoleh kepada Ibu.
“Bu.”
“Ya?”
“Mulai sekarang aku akan bertanya langsung. Ibu juga jawab langsung. Jangan lihat Dita. Jangan lihat siapa pun.”
Ibu menelan ludah.
“Baik.”
“Ibu mau tinggal di mana setelah bisa berjalan lebih baik?”
Beliau tidak menjawab cepat.
Aku menunggu.
Biasanya pada titik itu aku akan menawarkan solusi.
Renovasi.
Perawat.
Apartemen.
Apa saja.
Kali ini aku diam.
Akhirnya Ibu berkata, “Rumah Ibu.”
“Wonokromo?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena itu rumah Ibu.”
Sederhana.
Masuk akal.
Aku mengangguk.
“Kalau kamar mandi direnovasi dan pegangan dipasang?”
“Ibu mau.”
“Kalau ada perawat datang setengah hari?”
“Untuk dua bulan pertama.”
“Setelah itu?”
“Lihat kondisi.”
“Baik.”
Dita melihat kami.
“Aku sudah pernah bilang rumah itu harus direnovasi.”
Aku menoleh kepadanya.
“Masalahnya bukan apakah idemu bagus.”
“Lalu?”
“Kamu membuat keputusan tanpa bertanya kepada orang yang akan menjalani.”
Dia terdiam.
Aku melanjutkan.
“Dan kamu menggunakan seolah-olah keputusan itu berasal dariku.”
“Aku tahu itu salah.”
“Belum.”
“Apa?”
“Kamu tahu sekarang karena ketahuan.”
Wajahnya menegang.
“Jangan kejam.”
“Aku tidak sedang kejam.”
“Kamu bicara seperti aku orang asing.”
“Karena hari ini aku menemukan banyak hal tentangmu yang tidak pernah kamu berikan kesempatan untuk kukenal.”
Dia bangkit.
“Jadi empat tahun selesai karena satu kesalahan?”
Ibuku menoleh cepat kepadaku.
Aku tahu pertanyaan itu akan datang.
Mungkin beberapa tahun lalu aku akan takut menjawabnya.
Aku terlalu benci menjadi orang yang membuat keputusan final ketika orang lain menangis.
Itu sebabnya aku lama tidak menceraikan mantan istriku meski kami sama-sama tahu pernikahan pertama kami sudah mati hampir dua tahun sebelum resmi selesai.
Aku membiarkan hubungan membusuk karena berharap waktu membuat keputusan untukku.
Aku tidak ingin mengulangnya.
“Bukan satu kesalahan,” kataku.
Dita memandangku.
“Kamu berbohong kepada Ibu tentang aku. Kamu berbohong kepadaku tentang Ibu. Kamu memakai persetujuan tiga bulan seolah persetujuan tanpa batas. Kamu menghentikan fisioterapi tanpa hak. Kamu merencanakan tempat tinggal Ibu tanpa persetujuan Ibu. Dan kamu memberi tahu penyewa cerita palsu supaya uang tetap masuk ke usaha Rendy.”
Air matanya turun.
“Aku panik.”
“Aku percaya.”
“Lalu?”
“Panik menjelaskan kenapa kamu melakukan sesuatu. Panik tidak menghapus akibatnya.”
Dia mengambil tas.
“Jadi kamu mau aku pergi.”
“Malam ini, iya.”
Dita mengangguk.
“Aku mengerti.”
“Barangmu yang ada di kamar tamu bisa diambil besok. Aku akan ada di rumah.”
Dia menatap cincin di jarinya.
Aku juga melihatnya.
Cincin itu bukan berlian besar yang membuat orang menoleh.
Aku memang mampu membeli yang jauh lebih mahal.
Tapi Dita sendiri memilih cincin sederhana dengan safir kecil karena katanya dia tidak mau memakai sesuatu yang membuatnya takut naik ojek.
Dulu aku menyukai jawaban itu.
Sekarang cincin itu terasa seperti benda dari kehidupan lain.
Dia melepasnya.
Aku mengangkat tangan.
“Bawa dulu.”
Dia menatapku bingung.
“Aku belum membatalkan apa pun malam ini.”
Wajah Ibu berubah.
Dita pun terlihat sedikit lega.
Aku melanjutkan.
“Tapi pernikahan berhenti dipersiapkan sampai aku memutuskan.”
Kelegaan itu hilang.
“Berapa lama?”
“Aku tidak tahu.”
“Kamu mau menghukum aku?”
“Aku mau berhenti membuat keputusan besar hanya karena aku takut orang lain kecewa.”
Dia tidak menjawab.
Setelah Dita pergi, Ibu berkata, “Ga.”
Aku sedang memindahkan tongkatnya lebih dekat.
“Ya?”
“Jangan batal menikah cuma karena Ibu.”
Aku menatap beliau.
“Itu juga salah satu masalah kita.”
“Apa?”
“Ibu selalu bilang jangan karena Ibu.”
Beliau tersenyum tipis.
“Memang.”
“Waktu aku mau berhenti kuliah dulu, Ibu bilang jangan karena Ibu.”
“Itu benar.”
“Waktu aku mau pindahkan Ibu ke rumah lebih besar, Ibu bilang jangan.”
“Karena rumah lama cukup.”
“Waktu aku mau berhenti kerja tiga hari saat Ibu operasi, Ibu marah.”
“Kamu punya karyawan.”
Aku menarik kursi mendekat.
“Bu, kalau semua keputusan selalu dibuat supaya tidak merepotkan orang lain, akhirnya kita bahkan tidak tahu apa yang kita mau.”
Ibu tidak langsung menjawab.
Kemudian beliau berkata, “Kamu juga begitu.”
Aku tertawa kecil.
“Iya.”
“Lebih parah.”
“Terima kasih.”
Beliau ikut tersenyum.
Untuk pertama kalinya hari itu, ruangan terasa seperti rumah lagi.
Jam enam lewat tujuh menit Rendy datang.
Kaos hitamnya masih terkena debu dekorasi.
Dia tidak duduk sebelum Ibu mempersilakan.
“Aku minta maaf, Bu.”
Ibu menunjuk kursi.
“Duduk dulu.”
Rendy duduk.
Aku tidak bicara.
Aku ingin mendengar bagaimana dia menjelaskan tanpa Dita di sampingnya.
Rendy menatap Ibu.
“Waktu Mbak Dita bilang Ibu mau bantu, aku memang senang.”
“Kenapa tidak telepon Ibu?”
“Sungkan.”
Ibu mengangguk.
“Sungkan mengambil uang, atau sungkan bertanya?”
Rendy terdiam.
Aku hampir tersenyum.
Ibuku ternyata bisa sangat tajam kalau berhenti mencoba menyenangkan semua orang.
“Dua-duanya,” katanya akhirnya.
“Berarti tetap ambil.”
“Iya.”
“Kalau Ibu tidak tanya hari ini, sampai kapan?”
“Aku tidak tahu.”
“Bagus.”
Rendy memandang beliau.
“Apa?”
“Sekarang jawabannya jujur.”
Dia menunduk.
Rendy menjelaskan kondisi usahanya.
Tidak ada cerita dramatis.
Justru kedengarannya sangat biasa.
Klien belum membayar.
Gudang tetap menagih.
Ada alat yang dicicil.
Proyek baru butuh modal.
Setiap bulan dia percaya bulan berikutnya akan lebih baik.
Setiap bulan uang Ibu menjadi jembatan.
Sampai jembatan itu dianggap jalan permanen.
“Aku bisa menjual dua set panggung LED,” katanya.
“Jangan jual kalau membuat usaha mati,” jawabku.
Dia menatapku.
Aku melanjutkan.
“Tapi mulai bulan depan uang kios kembali ke Ibu.”
“Iya.”
“Utang kepada Ibu ditulis.”
Rendy mengangguk.
“Berapa kemampuan bayarmu?”
Dia berpikir.
“Rp4 juta sebulan.”
Ibu berkata, “Kebanyakan?”
Rendy terlihat malu.
“Kalau proyek lancar bisa lebih.”
“Jangan janji kalau tidak pasti,” kata Ibu.
Aku melirik beliau.
Ada sesuatu yang berubah.
Mungkin bukan Ibu.
Mungkin aku baru pertama kali memberi ruang agar beliau bicara sendiri.
Akhirnya mereka menyepakati Rp3 juta per bulan selama beberapa bulan pertama, lalu dievaluasi lagi.
Tidak ada bunga.
Ibu tidak mau.
Aku tidak ikut campur.
Sebelum pulang, Rendy berkata kepadaku, “Mas.”
“Ya?”
“Mbak Dita sebenarnya banyak bantu aku.”
“Aku tahu.”
“Dia takut aku tutup usaha.”
“Aku juga tahu.”
“Kalau pernikahan kalian…”
Aku mengangkat tangan.
“Jangan masuk ke sana.”
Dia mengangguk.
“Aku cuma merasa ini juga salahku.”
“Memang ada bagianmu.”
Wajahnya berubah sedikit.
Mungkin dia berharap aku bilang tidak.
Aku melanjutkan.
“Tapi hubungan kami bukan tanggung jawabmu.”
Dia pergi setelah mencium tangan Ibu.
Malam itu aku tidur di sofa ruang kerja.
Bukan karena tidak ada kamar.
Aku hanya tidak ingin naik ke lantai atas.
Terlalu banyak benda di sana yang dipilih bersama Dita.
Lampu gantung.
Tirai.
Rak buku.
Bahkan warna dinding.
Aku tidak membencinya.
Itu yang membuat semuanya lebih sulit.
Pagi berikutnya aku menelepon Bu Riska dan meminta jadwal fisioterapi dikembalikan.
Kemudian aku menelepon Pak Yanto dan penyewa kios kedua.
Aku tidak memberi instruksi.
Aku memberikan telepon kepada Ibu.
Beliau sendiri yang berbicara.
Pembayaran mulai bulan berikutnya kembali ke rekeningnya.
Surat perpanjangan yang belum ditandatangani dibatalkan.
Tidak ada polisi.
Tidak ada pengacara.
Tidak ada ancaman.
Karena untuk bagian itu, masalahnya belum membutuhkan semua itu.
Yang dibutuhkan hanya satu hal yang justru paling lama kami hindari.
Orang yang punya hak bicara akhirnya bicara sendiri.
Sore hari Dita datang mengambil sebagian barang.
Aku membuka pintu.
Matanya bengkak.
“Kamu sendirian?”
“Ibu sedang tidur.”
Dia masuk.
Kami tidak langsung bicara.
Dia melipat beberapa baju dari lemari tamu dan memasukkannya ke koper.
Setelah beberapa menit, dia berkata, “Ayah marah besar.”
“Kepada siapa?”
“Aku.”
Aku duduk di kursi dekat jendela.
“Kenapa?”
“Karena aku tidak bilang usaha Rendy bermasalah lagi.”
“Bukan karena uang Ibu?”
“Itu juga.”
Dia menutup koper.
“Ayah mau menjual mobilnya.”
“Untuk apa?”
“Bayar Ibu.”
“Jangan.”
Dita menatapku.
“Itu bukan keputusanmu.”
Aku tersenyum tipis.
“Benar.”
Dia tampak sadar dengan ironi kalimatnya sendiri.
Untuk beberapa detik kami sama-sama diam.
Kemudian Dita duduk di ujung tempat tidur.
“Aku tidak pernah membenci Ibu.”
“Aku tidak bilang kamu membenci.”
“Aku cuma…”
Dia berhenti.
“Aku merasa di rumah ini aku tidak punya tempat sebelum benar-benar masuk.”
Aku mendengarkan.
“Kamu dan Ibu punya bahasa sendiri. Kebiasaan sendiri. Kalau Ibu batuk sedikit, kamu pulang cepat. Kalau aku bilang aku takut menikah terlambat dan mungkin sulit punya anak, kamu bilang nanti kita periksa.”
Aku menelan ludah.
Dia melanjutkan.
“Kalau Rendy punya masalah, aku tahu kamu akan bantu. Tapi setiap kali kamu bantu, aku merasa keluargaku makin kecil di depanmu.”
“Aku tidak pernah melihat kalian begitu.”
“Tapi aku melihat diriku begitu.”
Itulah hal yang sering tidak bisa diperbaiki dengan niat baik.
Kita bisa memperlakukan seseorang dengan tulus, tetapi kalau orang itu membawa rasa malu sendiri, ketulusan kita kadang justru terasa seperti lampu yang menyorot bagian yang ingin mereka sembunyikan.
Aku berkata, “Seharusnya kamu cerita.”
“Seharusnya.”
“Seharusnya aku juga lebih banyak bertanya.”
Dita menatapku.
Aku melanjutkan sebelum dia salah mengartikan.
“Tapi itu tidak membuat apa yang kamu lakukan kepada Ibu menjadi kecil.”
“Aku tahu.”
“Kamu membuat beliau percaya aku mulai keberatan merawatnya.”
Air matanya kembali turun.
“Aku tahu.”
“Itu yang paling sulit buatku.”
“Aku marah waktu itu.”
“Kenapa?”
“Karena Ibu mau menghentikan uang ke Rendy.”
Akhirnya.
Kalimat paling sederhana sering paling berat.
Dita berkata, “Aku sudah bilang sebentar lagi selesai. Ibu tetap mau berhenti. Aku panik. Aku bilang kalau uangnya berhenti, kamu pasti tahu.”
“Lalu kamu membuat Ibu takut aku akan marah.”
“Iya.”
“Fisioterapi?”
Dia memejamkan mata.
“Bu Riska pernah bilang kepada Ibu kalau rumah Wonokromo bisa dibuat aman. Setelah itu Ibu terus bicara mau pulang.”
Aku menatapnya.
“Jadi kamu hentikan.”
“Iya.”
“Bukan karena biaya.”
“Bukan.”
Itulah titiknya.
Bukan uang kios.
Bukan Rendy.
Bukan hunian di Batu.
Pilihan.
Dita sudah sampai pada tahap ketika dia tidak hanya menyembunyikan informasi.
Dia mulai mengatur informasi mana yang boleh mencapai Ibu supaya keputusan Ibu bergerak ke arah yang dia inginkan.
Aku berdiri.
Dita juga berdiri.
“Kita tidak jadi menikah,” kataku.
Tidak ada musik.
Tidak ada teriakan.
Hanya suara AC dan seseorang menjual roti lewat jalan depan.
Dita menatapku lama sekali.
“Kamu sudah yakin?”
“Iya.”
Dia mengangguk sekali.
Kemudian duduk kembali.
Aku memberinya waktu.
Setelah beberapa menit dia bertanya, “Karena fisioterapi?”
“Karena aku tidak bisa membangun rumah tangga dengan orang yang ketika takut kehilangan tempatnya, memilih mengurangi kebebasan orang lain.”
Dia menunduk.
“Aku bisa berubah.”
“Aku percaya orang bisa berubah.”
Dia menatapku.
“Tapi?”
“Aku tidak harus menikah denganmu untuk membuktikan bahwa aku percaya.”
Tangannya menutup mulut.
Aku memandang keluar jendela.
Aku tidak merasa menang.
Itulah hal yang tidak pernah diceritakan orang ketika bicara soal batas.
Kadang keputusan yang benar tetap terasa menyakitkan.
Kadang tidak ada penjahat yang pergi sambil tertawa.
Kadang ada dua orang yang masih saling sayang, tetapi salah satu sudah melakukan sesuatu yang membuat rasa aman tidak bisa dibangun kembali.
Dita melepas cincin dari jarinya.
Kali ini aku menerimanya.
Dia meletakkannya di telapak tanganku.
“Aku minta maaf kepada Ibu sebelum pergi.”
Aku mengangguk.
Mereka bicara di kamar Ibu hampir dua puluh menit.
Aku tidak ikut.
Aku tidak pernah bertanya tepatnya apa yang mereka katakan.
Ibu hanya mengatakan kemudian bahwa Dita meminta maaf tanpa menyebut Rendy, tanpa menyebut stres, tanpa menyebut pernikahan.
Katanya hanya:
“Saya membuat Ibu takut kepada anak Ibu sendiri. Itu salah saya.”
Bagi Ibu, kalimat itu cukup untuk menutup percakapan.
Bukan untuk memaafkan semuanya.
Cukup untuk berhenti menambah luka.
Tiga minggu kemudian renovasi rumah Ibu dimulai.
Aku nyaris mengulangi kebiasaan lama.
Kontraktor pertama yang datang langsung kuberi daftar panjang.
Pintu kamar mandi diperlebar.
Lantai diganti.
Pegangan dipasang.
Dapur diturunkan sedikit.
Aku bahkan hampir memesan ranjang baru.
Ibu memotong.
“Siapa yang suruh ganti ranjang?”
Aku berhenti.
“Supaya lebih nyaman.”
“Ranjang Ibu nyaman.”
“Tapi sudah tua.”
“Yang tidur Ibu.”
Aku tertawa.
“Baik.”
Untuk pertama kalinya aku belajar bahwa membantu seseorang juga berarti menerima bahwa mereka mungkin memilih sesuatu yang tidak akan kita pilih.
Dua bulan kemudian Ibu kembali ke Wonokromo.
Pada minggu pertama aku datang hampir setiap malam.
Pada minggu kedua beliau menyuruhku berhenti.
“Kamu punya rumah sendiri.”
“Aku cuma memastikan.”
“Kalau Ibu butuh, Ibu telepon.”
“Kalau tidak telepon?”
“Berarti tidak butuh.”
Sulit.
Lebih sulit daripada membayar perawat.
Tetapi aku belajar.
Rendy membayar Rp3 juta setiap bulan tepat tanggal lima.
Bulan keempat dia membayar Rp5 juta karena mendapat proyek baru.
Aku tidak ikut memeriksa.
Ibu sendiri yang mencatat.
Usaha Rendy tidak langsung pulih.
Dia menutup salah satu gudangnya.
Tiga karyawan memilih pergi.
Sembilan lainnya bertahan.
Pak Anton akhirnya menjual mobil keduanya, tetapi bukan untuk membayar utang anaknya.
Dia memberikan sebagian uang kepada Rendy sebagai modal dengan syarat tertulis bahwa tidak boleh ada lagi pinjaman keluarga tanpa pembicaraan terbuka.
Ketika kudengar itu, aku hampir tertawa.
Rupanya bahkan seorang ayah yang sangat menjaga gengsi bisa belajar terlambat.
Dita tidak pernah meminta kembali uang cincin.
Aku menjualnya enam bulan kemudian.
Sebagian uangnya kupakai memperbaiki atap rumah Ibu yang ternyata bocor dekat dapur.
Ketika kuberi tahu, Ibu marah.
“Kenapa uang cincin dipakai ke sini?”
“Daripada kusimpan.”
“Harusnya buat liburan.”
“Aku tidak butuh.”
Ibu mendecakkan lidah.
“Kamu ini tidak sembuh-sembuh.”
“Apa lagi?”
“Sedikit-sedikit uang.”
Aku tertawa sampai beliau ikut tertawa.
Hubunganku dengan Dita tidak berubah menjadi pertemanan.
Kami juga tidak bermusuhan.
Beberapa bulan setelah perpisahan, dia mengirim satu pesan.
Rendy sudah mulai membayar utang dengan lebih teratur.
Dia sendiri keluar dari usaha dekorasi dan kembali bekerja sebagai koordinator acara di sebuah hotel.
Pesannya cuma beberapa baris.
Tidak ada permintaan kembali.
Tidak ada kalimat bahwa kami seharusnya mencoba lagi.
Di akhir dia menulis:
Sekarang aku baru mengerti, waktu itu aku bukan sedang mencari tempat dalam hidupmu. Aku sedang mencoba mengusir hal-hal yang membuatku merasa tidak cukup.
Aku membaca pesan itu dua kali.
Lalu menjawab:
Semoga kamu baik-baik.
Tidak lebih.
Ada masa ketika aku pasti akan menulis panjang.
Menjelaskan.
Menghibur.
Memastikan dia tidak terluka.
Sekarang aku tahu tidak semua kesedihan perlu kubereskan.
Pada suatu Minggu pagi, hampir setahun setelah hari ketika aku pulang lebih cepat itu, aku datang ke rumah Ibu membawa bubur ayam.
Pintu pagar terbuka.
Ibu sedang menyiram cabai di pot kecil dekat teras.
Tongkatnya sudah tidak dipakai.
Masih disimpan dekat pintu kalau beliau perlu.
“Bawa apa?” tanyanya.
“Bubur.”
“Sudah makan.”
Aku menatap bungkusan di tanganku.
“Kenapa tidak bilang?”
“Kamu tidak tanya.”
Aku tertawa.
“Baiklah. Aku makan sendiri.”
Aku duduk di teras.
Ibu terus menyiram tanaman.
Tidak ada rumah mewah.
Tidak ada orang yang mengatur jadwalnya.
Tidak ada seorang anak yang berdiri terlalu dekat untuk memastikan ibunya tidak jatuh.
Hanya seorang perempuan tujuh puluh satu tahun yang sedang menentukan sendiri pot mana yang sudah cukup air.
Teleponku bergetar di meja.
Dulu aku selalu langsung melihat layar.
Pagi itu tidak.
Aku membuka bungkus bubur, menarik satu kursi, dan bertanya kepada Ibu apakah cabainya sudah pernah dipanen.
Beliau menjawab panjang sekali.
Aku mendengarkan.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku akhirnya memahami sesuatu yang tidak bisa kubeli untuk orang yang paling kusayangi.
Bukan rumah.
Bukan perawat.
Bukan keamanan.
Ruang untuk memilih.
Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Kadang membantu keluarga bukan berarti mengambil semua keputusan untuk mereka, dan memaafkan juga tidak selalu berarti kembali ke hubungan yang sama. Kalau kalian berada di posisi Arga, apakah kalian masih akan memberi Dita kesempatan setelah semua yang terjadi, atau keputusan berpisah memang sudah paling masuk akal?
