Di Pemakaman Adikku, Keponakanku Memaksa Peti Putih Itu Dibuka karena Yakin Ibunya Masih Hidup, dan Saat Tutupnya Terangkat Aku Sadar Seluruh Keluarga Telah Sepakat Menyembunyikan Sesuatu Dariku

Avatar penulis
Cerita 01
23 menit baca 625 tayangan
Di Pemakaman Adikku, Keponakanku Memaksa Peti Putih Itu Dibuka karena Yakin Ibunya Masih Hidup, dan Saat Tutupnya Terangkat Aku Sadar Seluruh Keluarga Telah Sepakat Menyembunyikan Sesuatu Dariku
Indeks

BAGIAN 3

Arga ingin mengemudi sendiri.

Aku tidak mengizinkannya.

Tangannya masih gemetar.

Kami berhenti di sebuah minimarket sebelum masuk tol. Aku membeli air, plester untuk bibirnya, dan kopi yang akhirnya tidak kuminum.

“Kenapa wajahmu sampai begini?” tanyaku.

Arga memandang keluar jendela.

“Semalam aku ke gudang.”

“Buat apa?”

“Aku lihat Om Rudi bawa koper Mama.”

“Lalu?”

“Mandor Bimo suruh aku pulang.”

Di Pemakaman Adikku, Keponakanku Memaksa Peti Putih Itu Dibuka karena Yakin Ibunya Masih Hidup, dan Saat Tutupnya Terangkat Aku Sadar Seluruh Keluarga Telah Sepakat Menyembunyikan Sesuatu Dariku

Aku menunggu.

“Terus aku maksa masuk.”

“Kamu berkelahi?”

“Dia yang dorong dulu.”

“Ga.”

Dia menatapku.

“Kamu pukul dia?”

“Satu kali.”

Aku menghela napas.

“Mulai sekarang jangan.”

“Tante masih mau lindungi mereka?”

“Tidak.”

Aku memasang sabuk pengaman lagi.

“Aku sedang berusaha supaya malam ini tidak berakhir dengan kamu ditangkap karena memukul orang sementara ibumu masih belum kita temukan.”

Arga terdiam.

Beberapa kilometer kemudian dia berkata, “Mama pernah bilang Tante selalu begitu.”

“Begitu bagaimana?”

“Selalu mau semua orang tetap tenang.”

Aku tertawa kecil tanpa rasa lucu.

“Dia benar.”

“Katanya itu sebabnya Eyang selalu menang.”

Kalimat itu menemaniku sepanjang perjalanan.

Aku ingin membantah.

Ingin mengatakan menjaga keluarga tetap rukun berbeda dengan membiarkan seseorang menang.

Namun semakin kupikirkan, semakin sulit menemukan perbedaannya dalam hidup kami.

Ketika Rudi gagal pertama kali mengelola toko furnitur kedua, Dita ingin menutup cabang itu.

Aku yang berkata jangan.

Ketika Rudi mengambil uang muka dari pelanggan untuk menutup cicilan mesin, Dita ingin melibatkan akuntan luar.

Aku bilang tidak usah mempermalukan adik sendiri.

Ketika Dita mengeluh Ayah selalu mengubah keputusan setelah bicara empat mata dengan Rudi, aku berkata, “Kamu juga jangan terlalu keras.”

Selama bertahun-tahun aku merasa diriku penengah.

Mungkin sebenarnya aku hanya orang yang paling rajin membersihkan akibat setelah orang lain melewati batas.

Kami tiba di Prigen hampir pukul empat sore.

Arga menunjukkan lokasi vila milik Pak Hadi dari foto yang pernah dikirim Dita beberapa bulan lalu.

Tiga bangunan berjajar di jalan kecil menanjak.

Vila ketiga memiliki pagar abu-abu.

Sebuah mobil hitam terparkir di samping.

Aku mengenal mobil itu.

Pak Hadi.

Arga langsung membuka pintu.

Aku menahan lengannya.

“Kita tidak masuk sembarangan.”

“Mama di dalam.”

“Kita pastikan dulu.”

Aku berjalan ke warung kecil sekitar lima puluh meter dari vila.

Seorang ibu sedang menyusun botol minuman di lemari pendingin.

Aku menunjukkan foto Dita.

“Bu, pernah lihat perempuan ini?”

Dia memperhatikan cukup lama.

“Yang kemarin datang pakai mobil hitam?”

Arga bergerak mendekat.

“Kapan?”

“Dua atau tiga hari lalu.”

“Dia sendiri?”

“Tidak. Sama dua orang laki-laki sama satu perempuan.”

“Perempuan siapa?”

“Kayaknya perawat. Pakai baju biasa, tapi bawa tas medis.”

Aku bertanya, “Perempuan ini bisa jalan?”

“Bisa. Tapi kelihatannya lemas.”

Arga menutup mulut dengan tangan.

Aku mengucapkan terima kasih.

Di mobil aku menelepon nomor Dita.

Mati.

Lalu aku menelepon Rudi.

Dia tidak mengangkat.

Aku menelepon Ayah.

Beliau mengangkat pada dering kedua.

“Kalian sudah sampai?”

Aku menatap vila dari balik kaca mobil.

“Jadi Ayah tahu kami akan menemukannya.”

“Ratih, jangan masuk.”

“Dita ada di dalam?”

“Dia sedang ditangani.”

“Ditangani siapa?”

“Perawat.”

“Dokter siapa?”

Ayah diam.

“Rumah sakit mana yang merujuk?”

Diam lagi.

“Diagnosis apa?”

“Jangan bicara seolah Ayah orang jahat.”

Aku menutup mata.

“Aku tidak tanya Ayah orang jahat atau bukan. Aku tanya Dita sakit apa.”

“Dia panik. Tidak tidur beberapa hari. Mengancam akan menghancurkan usaha.”

“Jadi kalian memberinya obat?”

“Perawat yang kasih.”

“Atas perintah siapa?”

Suara Ayah turun.

“Dia perlu istirahat.”

Aku berkata, “Aku akan masuk. Kalau Dita bilang dia mau tinggal, aku akan pulang. Kalau dia bilang mau pergi, aku bawa dia.”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Besok pagi ada pertemuan dengan tiga supplier. Kalau Dita hadir, semua batal.”

“Tiga supplier itu ada hubungannya dengan Rp1,8 miliar?”

Ayah menarik napas.

“Ratih.”

“Ayah berbohong soal kematian anak Ayah sendiri. Jangan harap aku masih menerima jawaban satu kata.”

Telepon ditutup.

Aku melihat Arga.

“Kita panggil bantuan.”

“Polisi?”

“Ya. Tapi pertama kita butuh bukti bahwa dia di dalam dan tidak bebas.”

Aku menelepon layanan darurat lokal dan menjelaskan sesingkat mungkin bahwa ada dugaan seorang anggota keluarga dewasa ditahan di vila dan diberi obat tanpa persetujuan jelas.

Aku juga menghubungi kenalan lama suamiku yang sekarang bekerja sebagai dokter umum di Surabaya, bukan untuk menyelamatkan kami, tetapi untuk menanyakan satu hal sederhana.

“Apa orang dewasa bisa diberi obat penenang beberapa hari di vila oleh perawat tanpa pemeriksaan dokter?”

Jawabannya cukup.

“Kalau memang begitu, jangan bawa pulang dulu sebelum diperiksa medis.”

Aku menutup telepon.

Arga berkata, “Aku masuk sekarang.”

“Tunggu.”

“Tante selalu bilang tunggu.”

Aku menatapnya.

“Kali ini aku menunggu supaya kita tidak melakukan kesalahan yang bisa dipakai mereka untuk membalikkan semuanya.”

Dia mengatupkan rahang.

Lima belas menit kemudian petugas datang.

Pak Hadi keluar dari vila sebelum mereka mengetuk.

Wajahnya langsung berubah saat melihatku.

“Ratih?”

“Dita di dalam?”

Dia tersenyum kaku.

“Kalian salah paham.”

Arga maju.

“Mana Mama?”

Pak Hadi mengangkat kedua tangan.

“Tenang dulu.”

Aku berkata, “Pak Hadi, saya cuma tanya. Dita ada di dalam?”

Dia menoleh ke pintu vila.

Itu sudah cukup sebagai jawaban.

Petugas meminta masuk.

Pak Hadi mengatakan itu properti pribadi.

Setelah beberapa percakapan yang terasa jauh lebih panjang daripada kenyataannya, pintu akhirnya dibuka.

Aku tidak pernah melupakan bau kamar itu.

Bukan bau rumah sakit.

Bau balsem, kopi dingin, dan kamar yang terlalu lama tidak dibuka jendelanya.

Dita berbaring di tempat tidur dengan rambut kusut.

Tidak terikat.

Tidak disumpal.

Itu justru membuat pemandangan tersebut terasa lebih nyata dan lebih buruk.

Di kursi dekat tempat tidur ada seorang perempuan sekitar lima puluh tahun yang memperkenalkan diri sebagai perawat lepas.

Dita membuka mata ketika Arga memanggil.

“Ma?”

Matanya bergerak lambat.

Dia mencoba duduk.

Perawat hendak membantunya.

Dita menepis tangannya.

“Jangan sentuh aku.”

Arga berlutut di samping ranjang.

Aku berdiri dua langkah di belakangnya.

Adikku terlihat jauh lebih kurus daripada lima hari sebelumnya.

Ketika melihatku, wajahnya berubah.

Bukan lega.

Marah.

“Kak Ratih.”

Aku mendekat.

“Aku datang.”

Dia tertawa kecil.

“Sekarang?”

Aku tidak bisa menjawab.

Dia menunjuk Arga.

“Bawa aku pergi.”

Perawat berkata, “Bu Dita masih harus istirahat.”

Dita menoleh.

“Saya sudah bilang dari kemarin saya mau pulang.”

Petugas langsung bertanya beberapa hal.

Aku membiarkan mereka.

Dita menjawab pelan tetapi jelas.

Dia tahu tanggal.

Tahu lokasi.

Tahu siapa aku.

Tahu siapa anaknya.

Dan yang paling penting, dia berkali-kali mengatakan ingin keluar.

Kami tidak membawanya langsung pulang.

Dia dibawa untuk pemeriksaan medis.

Aku ikut.

Arga duduk di sampingnya sepanjang jalan.

Dita tidak bicara kepadaku.

Di ruang pemeriksaan, aku akhirnya tahu gambaran kasarnya.

Dita memang kelelahan berat.

Dia memang tidak tidur hampir dua malam penuh sebelum dibawa ke Prigen.

Dia memang sempat panik.

Namun bukan itu alasan dia dikurung dari dunia luar.

Masalahnya dimulai tiga bulan sebelumnya.

Rudi mengambil enam pesanan proyek hotel dan apartemen sekaligus.

Nilainya terlihat besar.

Masalahnya, uang muka dari dua proyek pertama sudah dipakai untuk membeli bahan proyek ketiga dan keempat.

Ketika satu proyek menunda pembayaran, lubang mulai terbuka.

Lalu Rudi meminjam bahan dari supplier dengan janji pembayaran tiga puluh hari.

Setelah itu enam puluh hari.

Kemudian sembilan puluh.

Dita yang mengurus operasional mulai menolak menandatangani jadwal produksi baru.

“Aku bilang berhenti terima pesanan,” katanya dari ranjang pemeriksaan.

Aku duduk di kursi plastik.

Arga di luar membeli makanan.

“Rudi bilang kalau berhenti, orang tahu kita bermasalah.”

“Lalu?”

“Ayah suruh aku lanjut tiga bulan.”

“Kenapa kamu tidak cerita ke aku?”

Dia memandangku cukup lama.

“Untuk apa?”

Kalimat itu lebih menyakitkan daripada bentakan.

“Aku bisa bantu.”

“Itu masalahnya, Kak.”

Aku menunduk.

Dita melanjutkan.

“Kakak selalu bantu.”

Aku tidak menjawab.

“Rudi bikin lubang, Kakak tutup. Ayah marah sama aku karena aku protes, Kakak suruh aku mengalah. Ibu takut keluarga pecah, Kakak bilang jangan bahas di depan orang.”

Dia mengusap wajah.

“Setiap kali aku mencoba membuat masalah berhenti, Kakak membuat akibatnya lebih ringan untuk mereka.”

Aku menatap tangan sendiri.

“Jadi apa yang terjadi minggu lalu?”

Dita memandang jendela.

“Aku menemukan tiga supplier baru menerima surat jadwal pembayaran atas namaku.”

Aku langsung menoleh.

“Kamu tanda tangan?”

“Tidak.”

“Rudi?”

“Akses tanda tangan digital kantor ada di komputer administrasi.”

Aku menutup mata sebentar.

“Dia pakai itu?”

“Aku tidak tahu siapa yang menekan tombolnya. Aku cuma tahu suratnya keluar seolah aku yang menyetujui.”

Ini bukan sekadar utang.

Nama Dita digunakan untuk membuat supplier percaya orang yang dikenal disiplin masih menjamin pembayaran.

“Berapa total kewajibannya?”

“Kalau semua dihitung, hampir Rp2,4 miliar.”

Angka Rudi lebih kecil enam ratus juta.

“Kenapa Rudi bilang Rp1,8 miliar?”

“Karena dia belum menghitung pesangon kalau kita harus mengurangi pegawai, denda pengiriman, dan dua komplain proyek.”

Aku bersandar.

“Kenapa Ayah membuat pemakaman?”

Dita tersenyum pahit.

“Aku juga baru tahu bagian itu dari Arga lewat telepon.”

“Jadi awalnya mereka tidak bilang akan membuatmu seolah mati?”

“Tidak.”

Dia mulai menceritakan malam ketika semuanya pecah.

Dita datang ke rumah Ayah membawa daftar pesanan yang harus dihentikan.

Ayah menolak.

Rudi memohon waktu tiga hari.

Dita mengatakan keesokan paginya dia akan menelepon supplier sendiri dan menjelaskan bahwa setiap keputusan baru harus dikonfirmasi langsung kepadanya.

Ayah marah.

Mereka bertengkar.

Ibu menangis.

Dita mengalami serangan panik.

Pak Hadi kebetulan berada di rumah.

Perawat yang biasa merawat istrinya dipanggil.

Dita diberi obat untuk tidur.

Saat bangun, dia sudah berada di Prigen.

“Mereka bilang aku harus istirahat tiga hari,” katanya.

“HP-mu?”

“Ayah ambil.”

“Kenapa?”

“Supaya aku tidak membuat keputusan saat emosional.”

Aku mengepalkan jari di pangkuan.

“Ayah bilang begitu?”

“Berkali-kali.”

“Lalu pemakaman?”

Dita menatapku.

“Besok paginya aku coba keluar. Pak Hadi bilang jangan dulu. Aku marah. Aku bilang kalau mereka menahanku, aku akan lapor.”

Dia mengambil napas pelan.

“Siangnya perawat salah taruh HP. Aku telepon Arga.”

Hanya sekitar dua menit.

Dita mengatakan kepada anaknya bahwa dia berada di sebuah vila, tidak tahu alamatnya, dan keluarga mungkin akan mengatakan dia pergi untuk menenangkan diri.

“Lalu?”

“Malamnya aku dengar Pak Hadi bicara sama Ayah.”

“Apa?”

Dita menatapku.

“Mereka mau bilang aku meninggal beberapa hari.”

Aku hampir tidak percaya.

“Untuk apa?”

“Supaya supplier berhenti mencoba menghubungiku dan Rudi bisa membereskan perjanjian sementara.”

“Beberapa hari?”

“Ayah pikir setelah urusan beres, mereka bisa bilang ada kesalahan identifikasi atau berita keluarga yang salah.”

Aku menatapnya.

“Itu gila.”

“Menurut Ayah, lebih baik keluarga malu karena salah kabar daripada usaha jatuh.”

Sekarang aku mengerti mekanismenya.

Bukan rencana kriminal canggih.

Justru sesuatu yang lebih khas keluarga kami.

Sebuah keputusan buruk dibuat untuk menutup keputusan buruk sebelumnya.

Lalu keputusan buruk baru dibuat supaya kebohongan pertama tidak terlihat.

Sampai akhirnya ada peti kosong di rumah duka dan puluhan orang mengirim karangan bunga untuk perempuan yang masih hidup.

“Ayah benar-benar mengira ini bisa dibereskan setelah tiga hari?” tanyaku.

Dita tertawa pendek.

“Seumur hidup Ayah selalu yakin semuanya bisa dibereskan kalau kita semua diam dulu.”

Aku menunduk.

Karena aku juga hidup dengan keyakinan itu.

Malam itu Dita harus menginap untuk observasi.

Arga tidur di kursi.

Aku pulang ke Sidoarjo.

Bukan untuk istirahat.

Aku pergi ke gudang.

Lampu bagian kantor masih menyala.

Rudi ada di sana.

Ayah juga.

Enam kepala bagian duduk di ruang rapat kecil.

Ketika aku masuk, pembicaraan berhenti.

Rudi berdiri.

“Kakak dari mana?”

“Rumah sakit.”

Ayah bertanya, “Bagaimana Dita?”

“Dia sadar.”

“Bisa pulang?”

“Besok.”

Aku menaruh tas di meja.

“Sekarang kita bicara soal usaha.”

Salah satu kepala produksi hendak berdiri.

Aku berkata, “Pak Joko, tetap di sini. Ini menyangkut gaji kalian juga.”

Ayah menatapku tajam.

“Ini urusan keluarga.”

“Tidak lagi.”

Aku mengeluarkan catatan yang kubuat dari penjelasan Dita.

“Berapa kas tersedia?”

Rudi menjawab, “Sekitar Rp460 juta.”

Kepala keuangan menoleh kepadanya.

Aku menangkap gerakannya.

“Berapa sebenarnya, Bu Ina?”

Perempuan itu terlihat tidak nyaman.

“Kalau kas bebas… sekitar Rp287 juta.”

Aku memandang Rudi.

“Kemarin kamu bilang Rp600 juta.”

“Itu termasuk pembayaran masuk.”

“Yang belum masuk bukan kas.”

Ayah memotong.

“Ratih, kamu bukan orang kantor.”

“Benar.”

Aku memandang semua orang.

“Makanya saya akan bertanya seperti orang luar.”

Aku menunjuk kepala produksi.

“Kalau mulai hari ini kita berhenti menerima pesanan baru, berapa proyek yang masih harus selesai?”

“Tujuh.”

“Berapa yang benar-benar sudah dibayar bahan?”

Dia melihat Rudi.

Aku berkata, “Lihat saya.”

“Tiga.”

Ruangan mulai terasa berbeda.

Informasi yang selama ini terpisah mulai bertemu.

Bukan satu penggelapan besar.

Bukan satu transaksi.

Sebuah sistem.

Rudi terus menerima pesanan untuk menutup pesanan sebelumnya.

Ayah terus menyetujuinya karena takut pegawai tahu.

Aku terus mengirim uang saat kekurangan karena takut keluarga pecah.

Dita satu-satunya yang terus mengatakan berhenti.

Kami menyebutnya keras kepala.

Sekarang dia hampir kehilangan kebebasannya karena tidak mau ikut berbohong.

“Apa rencana besok?” tanyaku.

Rudi menjawab, “Negosiasi pembayaran enam bulan.”

“Dengan jaminan apa?”

Dia diam.

Ayah berkata, “Ruko lama.”

Aku menatapnya.

Ruko itu memang milik usaha.

“Cukup?”

“Tidak semua.”

“Lalu?”

Rudi berkata pelan, “Kalau perlu mobil distribusi dua unit.”

Kepala logistik langsung berkata, “Kalau dua mobil dijual, pengiriman bagaimana?”

“Bisa sewa.”

“Biayanya malah naik.”

Ayah memukul meja.

“Jangan semua bicara sekaligus.”

Dulu, kami akan diam.

Malam itu aku tidak.

“Ayah, itu juga bagian masalahnya.”

Beliau menatapku.

“Ayah selalu minta semua diam, lalu Ayah memutuskan sendiri.”

“Ayah menyelamatkan usaha yang memberi makan delapan puluh keluarga.”

“Dengan mengorbankan anak Ayah sendiri?”

“Jangan bicara seolah Ayah mau mencelakakan Dita!”

“Lalu apa nama yang tepat untuk memasukkan dia ke vila, mengambil teleponnya, dan membuat pemakaman palsu?”

Rudi berdiri.

“Itu ideku.”

Ayah langsung menoleh.

Aku memandang Rudi.

Dia menarik napas.

“Peti kosong itu ideku.”

“Kenapa?”

“Karena supplier terus cari Kak Dita. Salah satunya bilang akan datang ke rumah. Aku panik.”

“Jadi kamu bunuh dia di mata orang?”

“Cuma sementara.”

Aku menatap wajah adikku.

Tiga kata itu mungkin merangkum hidupnya.

Cuma sementara.

Ambil uang kas, cuma sementara.

Pakai uang muka proyek lain, cuma sementara.

Minta Kak Ratih tambah modal, cuma sementara.

Suruh Dita diam, cuma sementara.

“Kenapa Mandor Bimo memukul Arga?”

Rudi menunduk.

“Dia tidak kusuruh pukul.”

“Tapi kamu suruh halangi?”

“Ya.”

Ayah berkata, “Rudi sudah mengaku. Sekarang tidak perlu memperpanjang.”

Aku menatap beliau.

“Ayah bahkan sekarang masih ingin kita berhenti karena sudah ada satu orang yang mengaku.”

“Kamu mau apa?”

Pertanyaan itu akhirnya datang.

Selama bertahun-tahun aku selalu tahu apa yang keluarga ingin aku lakukan.

Bayar.

Menenangkan.

Menutup.

Membujuk.

Malam itu, untuk pertama kalinya aku memikirkan apa yang sebenarnya ingin kulakukan.

“Aku tidak akan tambah modal lagi.”

Rudi menatapku.

“Kak.”

“Aku juga tidak akan menjadi penjamin pinjaman apa pun.”

“Kita tidak minta.”

“Belum.”

Ayah berkata, “Kalau usaha jatuh, jangan pura-pura tidak tahu siapa yang membuatnya jatuh.”

Aku menatap beliau lama.

Itulah kalimat yang selama ini kutakuti.

Menjadi penyebab keluarga rugi.

Menjadi anak yang dianggap tidak berbakti.

Menjadi kakak yang membiarkan adiknya tenggelam.

Aku berkata, “Usaha ini tidak jatuh karena aku berhenti menolong. Kalau jatuh, itu karena kita bertahun-tahun menunda melihat masalah.”

Rudi duduk kembali.

Aku melanjutkan.

“Besok tidak ada negosiasi atas nama Dita.”

Ayah langsung membantah.

“Kamu tidak bisa putuskan.”

“Aku tidak. Dita yang akan putuskan namanya boleh dipakai atau tidak.”

Aku menoleh kepada Bu Ina.

“Mulai malam ini, akses administrasi yang menggunakan nama Dita dinonaktifkan sampai dia sendiri datang.”

Rudi berkata, “Kakak bukan direktur.”

“Benar.”

Aku mengambil ponsel.

“Tapi aku pemegang dua puluh persen modal perusahaan sejak Ibu dan Ayah memindahkan sebagian saham setelah Mas Yanto meninggal. Dan kalau kalian menolak transparansi, aku akan meminta rapat pemegang saham resmi.”

Ayah memandangku.

Beliau tahu aku tidak sedang menggertak.

Aku tidak perlu menjadi ahli hukum.

Aku hanya perlu berhenti berpura-pura tidak punya hak bicara.

Rudi berdiri lagi.

“Kalau Kak Ratih lakukan itu, supplier tahu kita bermasalah.”

“Mereka memang berhak tahu kapasitas pembayaran kita.”

“Kakak mau mempermalukan keluarga?”

Aku hampir tersenyum.

Kalimat yang sama.

Selalu kembali ke sana.

“Aku lebih malu membuat pemakaman orang hidup.”

Rudi menunduk.

Kali ini tidak ada jawaban.

Besok paginya Dita pulang ke rumahku, bukan ke rumah Ayah.

Ibu datang satu jam kemudian.

Beliau membawa bubur dan tas kecil berisi pakaian Dita.

Saat melihat anaknya duduk di sofa, Ibu menangis.

Dita tidak langsung memeluknya.

Itu menyakitkan untuk dilihat.

Namun aku mengerti.

Ibu duduk di kursi seberang.

“Maaf.”

Dita menatap mangkuk bubur di meja.

“Ibu tahu aku di Prigen?”

Ibu mengangguk.

“Sejak kapan?”

“Malam kedua.”

“Mengapa Ibu diam?”

Air mata Ibu jatuh.

“Ayahmu bilang cuma beberapa hari.”

Dita tertawa kecil.

Aku mengenali tawa itu.

Tidak ada kelucuan di dalamnya.

“Lalu pemakaman?”

Ibu menutup wajah.

“Aku bilang jangan.”

“Tapi Ibu datang.”

“Ibu takut.”

“Takut sama siapa?”

Ibu tidak menjawab.

Dita berkata, “Seumur hidup kita semua takut sama Ayah, ya?”

Aku duduk di samping jendela.

Ibu menatapku.

Mungkin berharap aku menolongnya.

Dulu aku pasti akan berkata, Ibu juga korban keadaan.

Aku tidak mengatakan itu.

Karena meskipun rasa takut menjelaskan keputusan seseorang, rasa takut tidak selalu menghapus akibat keputusan itu.

Ibu akhirnya berkata, “Aku takut kalau usaha hancur, Ayahmu tidak kuat.”

Dita mengangguk.

“Jadi Ibu memilih aku yang harus kuat.”

Ibu mulai menangis lebih keras.

Dita berdiri dan masuk kamar.

Dia tidak membanting pintu.

Justru penutupan pintu yang pelan itu terasa lebih berat.

Aku memberi Ibu air.

Beliau berkata, “Kamu sekarang membenciku?”

“Tidak.”

“Dita pasti benci.”

“Entahlah.”

“Kamu bicara dengannya.”

Aku menatap Ibu.

“Bu, aku tidak akan membujuk Dita supaya cepat memaafkan.”

Ibu terlihat terkejut.

“Maksudmu?”

“Aku terlalu sering menyuruh orang yang terluka mengalah supaya keluarga cepat tenang.”

Ibu menunduk.

“Aku tidak mau lakukan itu lagi.”

Hari yang sama kami mengadakan rapat kecil di kantor.

Dita datang hanya satu jam.

Dia masih pucat, tetapi suaranya kembali seperti biasa.

Ayah duduk di ujung meja.

Rudi di sebelahnya.

Aku memilih kursi di samping Dita.

Bukan di tengah.

Aku tidak ingin lagi menjadi jembatan yang dipijak kedua sisi.

Dita membawa satu lembar daftar.

“Ini yang akan kita lakukan.”

Ayah langsung berkata, “Kamu belum sehat.”

“Aku sehat cukup untuk bilang nama dan persetujuanku tidak boleh dipakai.”

“Tidak ada yang berniat merugikanmu.”

“Ayah membuat pemakamanku.”

Ayah menunduk sebentar.

Rudi berkata, “Itu aku.”

Dita menoleh.

“Dan siapa yang mengambil HP-ku?”

Rudi diam.

Dita menatap Ayah.

Beliau menjawab, “Ayah.”

“Siapa yang suruh Pak Hadi jangan membiarkan aku pulang?”

“Ayah.”

“Siapa yang bilang ke Ibu supaya diam?”

Ayah mulai kehilangan kesabaran.

“Kalau kamu mau membuat Ayah jadi penjahat, silakan.”

Dita menggeleng.

“Aku tidak perlu membuat apa pun.”

Sunyi beberapa detik.

Lalu dia mendorong daftar ke tengah meja.

“Kita hentikan penerimaan proyek baru tiga minggu.”

Rudi langsung membantah.

“Kita mati.”

“Kita berhenti menambah utang.”

“Pelanggan lari.”

“Lebih baik beberapa pelanggan lari daripada semua supplier berhenti kirim barang.”

Kepala produksi mengangguk pelan.

Dita melanjutkan.

“Dua kendaraan lama dijual. Bukan yang utama.”

Rudi hendak bicara.

Dita mengangkat tangan.

“Gudang kedua yang sudah delapan bulan setengah kosong kita tutup.”

Ayah berkata, “Itu gudang pertama kita.”

“Justru karena itu tidak boleh jadi alasan kita bayar sewa Rp32 juta setiap bulan untuk nostalgia.”

Ayah menatap meja.

“Dan Rudi?”

Pertanyaan itu keluar dari mulutku.

Dita memandang adik kami.

“Tidak lagi pegang pembelian dan pembayaran.”

Rudi tertawa pahit.

“Jadi aku dipecat dari usaha sendiri?”

“Tidak.”

“Kedengarannya begitu.”

“Kamu tetap pegang sales, kalau kamu mau. Semua pesanan baru harus disetujui produksi dan keuangan.”

“Aku diperlakukan kayak anak magang.”

Dita berkata pelan, “Karena selama ini kamu berjualan seperti uang muka pelanggan itu uang bebas.”

Wajah Rudi memerah.

“Aku melakukan itu supaya pegawai tetap kerja.”

“Aku tahu.”

“Kamu pikir aku senang berutang?”

“Tidak.”

“Kamu pikir aku tidur nyenyak?”

“Tidak.”

“Jadi jangan bicara seolah aku cuma serakah.”

Dita diam sebentar.

“Aku tidak pernah bilang kamu serakah.”

Itu membuat Rudi berhenti.

Dita melanjutkan.

“Aku bilang kamu takut gagal sampai kamu lebih memilih membuat semua orang masuk ke masalah yang sama daripada mengakui satu proyek sudah tidak sanggup kita kerjakan.”

Rudi memandang jendela.

Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku melihat bukan hanya kesalahannya.

Aku melihat ketakutannya.

Rudi tumbuh sebagai satu-satunya anak laki-laki.

Sejak kecil semua orang mengatakan dialah penerus usaha Ayah.

Ketika bisnis mulai bermasalah di tangannya, dia tidak tahu cara pulang dan berkata, Aku tidak mampu.

Jadi dia terus meminjam waktu.

Ayah terus memberinya waktu.

Aku terus memberinya uang.

Dan Dita menjadi satu-satunya orang yang tidak memberi apa yang dia minta.

Itulah sebabnya kami semua menganggap Dita kejam.

Rudi berkata pelan, “Kalau aku keluar dari pembelian, orang akan tahu aku gagal.”

Aku menjawab sebelum Dita.

“Mereka mungkin memang perlu tahu kamu melakukan kesalahan.”

Dia menatapku.

“Kak Ratih sekarang gampang bicara karena bukan Kakak yang kerja di sini tiap hari.”

“Benar.”

Aku mengangguk.

“Dan aku juga salah karena setiap kali kamu hampir menghadapi akibat, aku membuatnya lebih ringan.”

Dia tidak menjawab.

“Aku tidak akan lakukan itu lagi.”

Ayah memukul meja.

“Jadi semuanya sekarang salah Rudi?”

Aku menoleh.

“Tidak.”

Aku menatap beliau.

“Ayah juga.”

Wajah beliau mengeras.

“Apa?”

“Ayah tahu sejak dua bulan lalu arus kas bermasalah.”

“Siapa bilang?”

“Bu Ina.”

Kepala keuangan menunduk.

“Ayah tetap suruh ambil proyek baru.”

“Itu keputusan bisnis.”

“Ayah juga tahu akses nama Dita digunakan.”

Beliau diam.

Itu jawaban.

“Ayah tidak perlu menekan tombol sendiri untuk ikut bertanggung jawab.”

“Jaga bicaramu.”

Dulu aku akan berhenti.

Kali ini tidak.

“Ayah membuat kita semua percaya bahwa menjaga keluarga berarti menjaga keputusan Ayah.”

“Semua yang Ayah lakukan untuk kalian.”

“Aku tahu.”

Aku menahan suara agar tidak naik.

“Ayah bekerja sejak sebelum matahari terbit waktu kami kecil. Ayah jual motor untuk bayar kuliahku. Ayah bangun usaha ini dari satu bengkel.”

Mata beliau berubah sedikit.

“Aku tidak melupakan itu.”

Aku melanjutkan.

“Tapi jasa lama tidak memberi siapa pun hak untuk mengambil kebebasan anaknya sekarang.”

Ayah berdiri.

Tidak ada yang mencoba menghentikannya saat dia berjalan keluar.

Pintu tidak dibanting.

Aku mendengar langkahnya sampai ke ujung lorong.

Rapat tetap berjalan.

Itu mungkin konsekuensi yang paling sulit bagi Ayah.

Dunia tidak berhenti hanya karena beliau meninggalkan ruangan.

Tiga minggu berikutnya tidak indah.

Tidak ada kemenangan cepat.

Dua supplier menghentikan pengiriman sampai tunggakan awal dibayar.

Kami harus membatalkan satu proyek.

Perusahaan kehilangan uang muka dan membayar penalti Rp74 juta.

Sebelas pekerja harian tidak lagi mendapat jadwal penuh.

Dita meminta manajer produksi berbicara langsung kepada mereka.

Tidak semua menerima dengan tenang.

Seorang pekerja yang sudah sembilan tahun di sana berkata, “Kenapa baru sekarang?”

Tidak ada jawaban yang bagus.

Karena jawaban jujurnya adalah kami semua terlalu lama berharap masalah akan hilang kalau ditutupi.

Aku memasukkan Rp120 juta ke perusahaan.

Bukan sebagai penyelamatan diam-diam.

Kali ini tertulis sebagai pinjaman pemegang saham dengan jadwal pengembalian.

Rudi sempat marah.

“Kakak bilang tidak mau bantu lagi.”

“Aku bilang tidak mau menutup lubang tanpa aturan.”

Itulah perbedaan yang baru kupahami pada usia lima puluh satu.

Membantu tidak harus berarti menyerahkan kendali.

Menolong tidak harus berarti membuat seseorang bebas dari akibat.

Rudi tidak dipecat.

Tapi akses ke pembayaran dicabut.

Semua pesanan besar harus ditinjau tiga orang.

Dua mobil lama terjual.

Gudang kedua ditutup.

Utang supplier disusun ulang dengan jadwal yang jauh lebih berat daripada yang Rudi inginkan.

Beberapa orang menyebut keluarga kami sedang bermasalah.

Mereka benar.

Anehnya, setelah masalah tidak lagi disembunyikan, rasa malunya justru lebih kecil daripada yang kubayangkan.

Tentang pemakaman palsu dan penahanan Dita, prosesnya jauh lebih rumit.

Kami memberikan keterangan.

Pak Hadi juga dimintai keterangan.

Perawat mengatakan dia memang diminta menjaga Dita dan mengira keluarga sudah sepakat, tetapi kemudian mengakui Dita beberapa kali meminta pulang.

Tidak ada satu percakapan yang langsung membereskan semuanya.

Tidak ada kalimat ajaib.

Tidak ada satu pagi ketika kami bangun dan keluarga kami kembali normal.

Dita pindah sementara ke apartemen kecil dekat tempat kerjaku.

Arga tinggal bersamanya.

Sebulan pertama dia hampir tidak mau datang ke rumah Ayah.

Ibu datang dua kali seminggu membawa makanan.

Dita menerima makanannya.

Kadang mereka bicara.

Kadang tidak.

Ayah tidak pernah datang.

Rudi datang sekali.

Dia berdiri di depan pintu apartemen membawa inhaler Dita yang dulu tertinggal di rumah.

“Aku nemu ini.”

Dita mengambilnya.

“Terima kasih.”

Rudi masih berdiri.

“Aku sudah jual motor.”

Dita menatapnya.

“Untuk bayar apa?”

“Sebagian utang pribadi.”

Aku yang sedang duduk di dalam langsung mengerti.

Jadi Rp2,4 miliar itu belum seluruhnya.

Ada kewajiban pribadi yang tidak dibebankan ke perusahaan.

Dulu aku mungkin akan langsung bertanya berapa.

Lalu memikirkan berapa yang bisa kubantu.

Aku tidak bertanya.

Dita juga tidak.

Rudi berkata, “Aku cuma mau bilang aku mulai bayar sendiri.”

Dita mengangguk.

“Bagus.”

Dia menunggu.

Mungkin berharap akan dipersilakan masuk.

Dita tidak melakukannya.

Rudi akhirnya berkata, “Aku belum siap minta maaf.”

“Aku juga belum siap bilang tidak apa-apa.”

Dia tersenyum kecil.

“Ya.”

Kemudian dia pergi.

Tiga bulan setelah hari pemakaman palsu itu, usaha kami belum sepenuhnya pulih.

Tapi gaji tidak lagi terlambat.

Utang turun.

Proyek lebih sedikit.

Rudi tidak lagi terlihat seperti orang yang terus mengejar api dengan ember kosong.

Dia masih mudah tersinggung ketika orang memeriksa pekerjaannya.

Kadang dia masih berkata, “Dulu Ayah tidak begini.”

Tapi dia mulai menyerahkan laporan tepat waktu.

Itu bukan perubahan besar.

Aku belajar tidak menuntut perubahan besar hanya agar akhir cerita terasa indah.

Ayah akhirnya menelepon Dita pada bulan keempat.

Aku tidak tahu seluruh percakapan mereka.

Aku hanya tahu Dita duduk di balkon setelahnya cukup lama.

Aku bertanya, “Ayah minta maaf?”

Dia menggeleng.

“Belum.”

“Dia bilang apa?”

“Dia tanya kabarku.”

“Itu saja?”

“Dia bilang pohon mangga belakang rumah berbuah banyak.”

Aku hampir tertawa.

Begitulah Ayah.

Mengelilingi kalimat yang sebenarnya ingin dia ucapkan sampai semua orang kelelahan.

“Kamu jawab apa?”

“Aku bilang kalau mau kirim mangga, titip Ibu saja.”

Aku mengangguk.

“Bagus.”

Dia menatapku.

“Kakak tidak mau suruh aku telepon balik?”

Aku menggeleng.

“Tidak.”

“Tidak mau bilang Ayah sudah tua?”

“Tidak.”

“Tidak mau bilang nanti menyesal?”

Aku tersenyum.

“Tidak.”

Dita memandangku beberapa detik.

“Kakak berubah.”

“Sedikit.”

Dia menggeleng.

“Lumayan.”

Hubunganku dengan Ayah juga tidak kembali seperti dulu.

Kami masih bicara.

Aku masih mengantar beliau kontrol.

Aku masih membayar sebagian obat yang memang sudah menjadi bagianku sejak lama.

Namun ketika beliau meminta aku menambah uang untuk menutup utang lama Rudi, aku berkata tidak.

Ketika beliau mulai mengatakan, “Tapi kamu kan punya…”

Aku menjawab, “Aku sudah menentukan bagianku.”

Tidak ada pertengkaran.

Ayah hanya diam sepanjang perjalanan pulang.

Dulu diam beliau bisa membuatku merasa bersalah berhari-hari.

Sekarang aku tetap membuat makan malam malam itu.

Aku tetap tidur.

Aku tidak mati karena seseorang kecewa kepadaku.

Itu mungkin pelajaran yang paling terlambat kupahami.

Pada suatu Minggu pagi, aku datang ke rumah Dita membawa nasi pecel.

Arga sedang membersihkan motor.

Bekas luka di bibirnya sudah hilang.

Di teras ada jaket biru yang dulu diletakkan di atas karung pasir di dalam peti.

Dita mencucinya minggu sebelumnya.

Dia mengangkat jaket itu dari jemuran.

“Aku pikir mau buang.”

“Kenapa tidak?”

Dia melipatnya.

“Sayang. Masih bagus.”

Aku tertawa.

“Logis.”

Dia meletakkannya di atas kursi.

Lalu kami duduk bertiga sarapan.

Tidak ada pembicaraan besar.

Tidak ada rekonsiliasi keluarga.

Tidak ada janji semua akan kembali seperti dulu.

Telepon Dita berbunyi.

Nama Ayah muncul di layar.

Dia melihatnya.

Arga juga.

Dita membiarkan dua dering berlalu sebelum mengangkat.

“Halo, Yah.”

Aku menunduk dan melanjutkan makan.

Dulu aku pasti akan mendengarkan setiap kata, mencari tanda apakah keluarga kami sudah pulih.

Sekarang aku tidak perlu.

Beberapa hubungan memang tidak kembali ke bentuk lama.

Kadang itu bukan kegagalan.

Kadang justru untuk pertama kalinya setiap orang berdiri di tempatnya sendiri.

Dan pagi itu, ketika Dita masih berbicara pelan dengan Ayah sementara Arga mengeluh sambal buatan ibunya terlalu pedas, aku melihat jaket biru di atas kursi.

Benda yang pernah dipakai untuk meyakinkan orang bahwa adikku sudah mati.

Sekarang hanya jaket biasa lagi.

Milik seorang perempuan yang masih hidup.

Dan akhirnya, hidup menurut keputusannya sendiri.

Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Menurut kalian, apakah Ratih terlalu lama diam, atau justru wajar jika seseorang baru berani memasang batas setelah melihat akibatnya sendiri? Semoga kita semua diberi keberanian untuk membantu keluarga tanpa kehilangan hak untuk berkata cukup, dan semoga rumah selalu menjadi tempat pulang, bukan tempat seseorang dipaksa diam.