BAGIAN 3
“Bohong.”
Itu kata pertama Reza.
Bukan kepada Bu Murni.
Kepadaku.
“Dia bohong.”
Bu Murni tidak membalas.

Orang-orang di sekitar kami mulai saling memandang. Aku melihat kepala proyek memberi isyarat kepada operator alat berat untuk mematikan mesin.
Suara diesel merendah lalu berhenti.
Aneh sekali, setelah mesin mati, jalan itu terasa jauh lebih bising.
Ada pedagang yang berbisik.
Ada motor lewat.
Ada tukang kopi menggeser kursi.
Dan ada napas Reza yang terdengar terlalu cepat.
Aku berkata, “Kita masuk kios.”
“Aku tidak akan duduk di tempat begini untuk dengar fitnah.”
“Kalau begitu berdiri.”
“Arga.”
“Aku tidak tanya apakah kamu mau.”
Reza menatapku beberapa detik.
Aku tidak pernah bicara begitu kepadanya.
Biasanya kami berdebat seperti dua orang yang sejak kecil tahu batas masing-masing. Ia meninggikan suara, aku menurunkannya. Ia mendesak, aku mencari jalan tengah.
Pola itu sudah berlangsung puluhan tahun.
Pagi itu aku tidak mencari jalan tengah.
Kami masuk ke kios bunga Dini.
Ruangan itu sempit. Ember plastik berisi mawar, krisan, dan sedap malam memenuhi sisi kiri. Ada meja kecil dengan gunting, pita, dan kalkulator.
Dini menutup pintu setengah.
Bu Murni duduk.
Reza tetap berdiri.
Aku berdiri di depannya.
“Umurmu dua belas waktu itu?”
Ia tidak menjawab.
“Aku tujuh.”
“Sudah tiga puluh dua tahun, Ga.”
“Berarti kamu ingat.”
“Aku ingat kebakaran.”
“Dan gudang.”
Ia memalingkan wajah.
Bu Murni berkata, “Jangan paksa dia menjawab di depan banyak orang.”
Aku menoleh.
“Ibu masih melindungi dia?”
“Tidak.”
“Lalu?”
“Saya melindungi kamu dari mengambil keputusan saat marah.”
Aku hampir membantah.
Namun aku diam.
Itulah kalimat pertama sejak pagi yang tidak berusaha menyembunyikan sesuatu dariku.
Aku menarik satu kursi.
“Ceritakan dari awal.”
Bu Murni memandang Reza.
“Bukan saya yang harus mulai.”
Reza tertawa pendek tanpa humor.
“Hebat. Jadi sekarang sidang keluarga di kios bunga.”
Aku berkata, “Mulai.”
Ia menyandarkan kedua tangan di meja.
“Kamu waktu kecil selalu ikut Om Surya.”
Ayahku.
Ia jarang sekali menyebut nama ayah.
“Terus?”
“Om Surya suka bawa kamu ke gudang. Kamu tahu semua orang. Mandor, sopir, orang dapur.”
“Aku tujuh tahun.”
“Kamu tetap dapat perhatian semua orang.”
Aku mulai memahami arah pembicaraan itu, tetapi tidak menyelanya.
Reza mengusap wajah.
“Hari itu ada makan keluarga. Kamu merusak mobil-mobilanku.”
“Aku tidak ingat.”
“Tentu saja tidak.”
Nada suaranya berubah.
Bukan lagi suara COO perusahaan dengan ratusan pegawai.
Aku sedang mendengar anak umur dua belas tahun yang selama tiga dekade tidak pernah benar-benar meninggalkan satu sore buruk.
“Itu mobil remote dari Papa,” katanya. “Satu-satunya yang aku punya. Kamu injak.”
“Lalu kamu mengunciku?”
Reza diam.
Bu Murni menutup mata sesaat.
“Aku cuma mau bikin kamu nangis,” katanya akhirnya.
Udara seakan menyempit.
“Berapa lama?”
“Entah.”
“Lima menit?”
“Mungkin.”
“Sepuluh?”
“Tidak tahu.”
“Api sudah ada?”
“Belum!”
Ia menjawab keras.
Dini terkejut.
Reza menurunkan suaranya.
“Api belum ada. Aku bersumpah.”
Bu Murni mengangguk.
“Api mulai dari ruang panel dekat belakang. Ada korsleting. Semua orang tahu itu setelahnya.”
Jadi Reza tidak membakar ruko.
Bukan itu kesalahannya.
Kesalahannya adalah sebuah tindakan kekanak-kanakan yang, pada hari biasa, mungkin hanya berakhir dengan aku menangis lima menit lalu mengadu kepada orang dewasa.
Namun hari itu bukan hari biasa.
“Aku dengar orang teriak ada asap,” lanjut Reza. “Aku mau balik.”
“Kenapa tidak?”
Ia menatapku.
“Aku takut.”
Dua kata itu menua tiga puluh dua tahun di wajahnya.
“Aku lari cari Papa.”
“Dan Om Damar?”
“Dia sedang di depan.”
“Reza bilang apa?”
Bu Murni menjawab, “Saya tidak tahu saat itu.”
Reza menatap lantai.
“Aku bilang ke Papa kamu ada di belakang.”
“Hanya itu?”
Ia tidak menjawab.
Aku menunggu.
Akhirnya ia berkata, “Dia tanya kenapa aku tahu.”
Sekarang semuanya jelas.
“Kamu bilang pintunya kamu kunci.”
Ia mengangguk sangat kecil.
Aku duduk.
Bukan karena dramatis.
Kakiku memang tiba-tiba tidak ingin menopang berat tubuhku.
Bu Murni melanjutkan cerita.
Saat orang-orang berlari ke depan ruko, ia berada di dapur belakang. Ia mendengar pukulan dari gudang.
Pintu utama sudah terlalu panas.
Ada jendela kecil di samping yang sebagian tertutup rak.
Ia memecahkan kaca dengan tabung besi.
Tangannya terkena pecahan dan panas.
“Aku ada di dalam?”
“Kamu di bawah meja.”
Aku menelan ludah.
“Kenapa bunga?”
Untuk pertama kalinya Bu Murni tersenyum tipis.
“Kamu tidak mau lihat saya. Kamu lihat api terus.”
Di luar jendela dapur tumbuh beberapa pot bunga sepatu.
“Saya ambil satu. Saya bilang, ‘Lihat ini saja. Pegang. Kalau bunganya masih merah, berarti kamu masih bisa keluar.’”
Aku menunduk.
Tanganku gemetar ringan di atas lutut.
Aku tidak menangis.
Belum.
Kenangan itu tidak kembali utuh seperti adegan film.
Justru hanya potongan kecil.
Merah dekat wajahku.
Bau kain basah.
Suara perempuan.
Sakit pada siku ketika tubuhku ditarik melalui jendela.
Sekarang aku tahu dari mana semuanya berasal.
“Pak Harun?”
“Datang setelah saya berhasil bawa kamu ke halaman belakang. Saya sudah tidak kuat.”
“Dia menggendongku ke ambulans.”
“Iya.”
Itulah bagian cerita keluarga yang tidak sepenuhnya bohong.
Mereka hanya memotong bagian awalnya.
Reza akhirnya duduk.
“Papa panik.”
Aku menatapnya.
“Bukan cuma karena aku.”
Ia tidak menjawab.
“Karena kamu.”
“Kamu anak satu-satunya Om Surya. Orang tuamu meninggal. Kalau semua orang tahu aku mengunci kamu…”
“Kamu dua belas.”
“Coba bilang itu ke orang yang baru kehilangan anak dan menantunya!”
Suara Reza pecah.
Ia bangkit lagi.
“Papa pikir keluarga akan hancur. Nenek masih hidup waktu itu. Kakek baru meninggal setahun sebelumnya. Perusahaan berantakan. Semua orang saling menyalahkan.”
“Jadi Om membuat cerita Pak Harun?”
“Awalnya bukan begitu.”
Bu Murni menyela.
“Pak Harun memang yang bawa Arga ke ambulans. Orang-orang melihat. Besoknya sudah ada yang bilang Pak Harun menyelamatkan Arga.”
“Dan Om Damar membiarkannya.”
Bu Murni mengangguk.
“Lalu lama-lama jadi versi resmi.”
Aku menatap Reza.
“Kamu tidak pernah mengoreksi.”
“Aku dua belas.”
“Waktu umurmu dua puluh?”
Ia diam.
“Tiga puluh?”
Diam.
“Empat puluh?”
“Ga…”
“Pagi kemarin kamu berdiri di lift bersamaku dan bilang perempuan ini mungkin ingatannya campur.”
“Aku takut.”
“Masih?”
Reza memukul meja dengan telapak tangan.
“Iya!”
Dini mundur.
Bu Murni tetap diam.
“Aku takut!” ulang Reza. “Puaskah?”
“Tidak.”
“Kamu mau apa? Aku mengaku? Iya, aku mengunci pintu. Aku anak bodoh umur dua belas tahun yang marah karena mobil remote rusak. Lima menit kemudian ruko terbakar dan om-tanteku meninggal. Sejak hari itu setiap kali aku lihat kamu di meja makan rumah kami, aku tahu kalau Papa bilang satu kalimat saja, mungkin kamu tidak akan mau lihat mukaku lagi.”
Aku menatapnya.
“Jadi kamu memilih aku mencintaimu tanpa tahu siapa dirimu.”
Wajahnya berubah.
“Jangan putar seperti itu.”
“Lalu bagaimana?”
“Aku juga hidup dengan kejadian itu!”
Aku berdiri.
“Bedanya, kamu hidup dengan kebenaran.”
Ia terdiam.
“Aku hidup dengan cerita yang kalian pilihkan.”
Bu Murni mengusap ujung selendangnya.
“Pak Arga.”
Aku menoleh.
“Ini belum selesai.”
Tentu saja belum.
Karena kalau masalahnya hanya perbuatan anak dua belas tahun tiga puluh dua tahun lalu, Bu Murni tidak perlu datang ke kantor kemarin.
Aku menatap Reza.
“Kenapa kios ini harus dikosongkan tanpa relokasi?”
Reza menggeleng.
“Jangan campur proyek.”
“Justru proyek yang membawa semua ini kembali.”
“Karena areanya memang harus dikosongkan.”
“Empat belas kios?”
“Iya.”
“Semua tidak punya kontrak aktif?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Ia tidak menjawab.
Aku mengingat perkataan tim: manajemen lama berantakan.
Aku juga mengingat satu hal lain.
Reza tidak perlu melihat daftar ketika kutanya berapa lama keluarga Bu Murni memakai kios.
Dia tahu.
“Dini,” kataku, “kapan pertama kali tim proyek datang?”
“Sekitar empat bulan lalu.”
“Siapa?”
“Awalnya staf.”
“Reza?”
Dini melihat sepupuku.
“Pak Reza datang sendiri tiga kali.”
Aku tertawa pendek.
Bukan karena lucu.
COO perusahaan kami hampir tidak pernah mengurus satu penyewa kios sendiri.
“Apa yang kamu bicarakan?”
Dini membuka mulut, tetapi Reza lebih dulu berkata, “Aku menawarkan uang pindah.”
“Berapa?”
“Rp25 juta.”
Dini menggeleng.
“Pertama Rp15 juta.”
Reza menatapnya.
“Terakhir Rp25 juta.”
“Dengan syarat?” tanyaku.
Dini diam.
Bu Murni yang menjawab.
“Kami pergi sebelum pembangunan mulai dan tidak mendatangi kantor pusat.”
Aku melihat Reza.
Ia mengangkat kedua tangan.
“Aku ingin proyek lancar.”
“Kenapa keluarga ini khusus dilarang datang ke kantor pusat?”
“Karena aku tahu apa yang bisa terjadi.”
“Nah.”
Ia menggeleng.
“Ga, dengar. Proyek ini sudah telat. Bank sudah kasih jadwal. Calon penyewa besar minta serah terima. Kita punya margin makin tipis. Kalau semua orang yang pernah dijanjikan sesuatu oleh generasi lama datang bawa cerita, proyek tidak akan jalan.”
“Jangan pakai enam ratus karyawan untuk membenarkan keputusanmu.”
“Aku memang memikirkan enam ratus karyawan!”
“Kamu juga memikirkan dirimu sendiri.”
Reza menatapku.
“Kamu takut Bu Murni bertemu aku.”
Ia tidak menyangkal.
“Apa Om Damar tahu?”
Hening.
Itu cukup sebagai jawaban.
Aku keluar dari kios.
Reza mengejarku.
“Jangan telepon Papa sekarang.”
Aku berhenti.
“Kenapa?”
“Dia sudah tua.”
“Bu Murni lebih tua.”
“Itu beda.”
Aku berbalik.
“Selama tiga puluh dua tahun semua orang selalu punya alasan kenapa Om Damar harus dilindungi, kenapa kamu harus dilindungi, kenapa perusahaan harus dilindungi.”
Aku menunjuk kios kecil di belakang kami.
“Lucunya, orang yang tangannya rusak karena menyelamatkanku justru tidak pernah masuk daftar yang perlu dilindungi.”
Reza tidak membalas.
Aku naik mobil.
Satu tempat lagi harus kudatangi sebelum aku bicara kepada Om Damar.
Pak Harun tinggal bersama putrinya di Sidoarjo.
Aku menelepon lebih dulu.
Ketika mendengar namaku, ia diam hampir setengah menit.
“Pak Harun, saya cuma perlu satu jawaban.”
“Datang saja.”
Rumahnya sederhana, di kompleks yang jalannya hanya cukup untuk dua mobil berpapasan pelan.
Pak Harun sudah enam puluh delapan tahun. Tubuhnya mengecil dibanding ingatanku, tetapi kumis tipisnya masih sama.
Ia mempersilahkanku duduk di teras.
Aku tidak berputar-putar.
“Bapak masuk ke dalam ruko malam kebakaran?”
Ia menunduk.
“Tidak.”
Satu kalimat itu membongkar sisa keraguan yang masih kupelihara.
“Kenapa selama ini Bapak tidak bilang?”
Pak Harun meremas kedua tangannya.
“Waktu kamu kecil, saya pikir lebih baik kamu punya satu cerita yang gampang.”
“Ketika saya dewasa?”
“Saya pikir bukan hak saya membuka keluarga orang.”
“Bapak tahu Reza mengunci pintu?”
“Belakangan.”
“Dari siapa?”
“Pak Damar.”
Aku menutup mata sebentar.
Pak Harun melanjutkan.
“Bapakmu dan Pak Damar itu dekat sekali. Setelah kebakaran, Pak Damar seperti orang kehilangan arah. Kakaknya meninggal. Kakak iparnya meninggal. Keponakannya hampir mati. Anaknya sendiri merasa semua itu salah dia.”
“Jadi Om menyelamatkan Reza.”
“Iya.”
Pak Harun menatapku.
“Tapi dia juga menyelamatkan kamu, Arga.”
Aku langsung menoleh.
“Jangan hapus yang satu karena marah pada yang lain.”
Kalimat itu menahanku.
Pak Harun tidak sedang membela kebohongan.
Ia mengingatkanku pada sesuatu yang lebih sulit.
Om Damar memang berbohong.
Tetapi orang yang sama juga duduk di samping ranjangku ketika aku demam. Mengantar rapor. Mengajariku menyetir. Menjual sebagian tanahnya ketika bisnis keluarga jatuh dan biaya kuliahku jatuh tempo.
Kebenaran baru tidak otomatis menghapus semua kebenaran lama.
Justru itu yang membuatnya sakit.
Kalau Om Damar hanya orang jahat, keputusan akan jauh lebih mudah.
Sore itu aku menelepon sekretaris dan meminta rapat direksi serta komisaris pukul sembilan pagi berikutnya.
Aku juga meminta kepala legal, kepala keuangan, dan manajer proyek hadir.
Bukan untuk membahas kebakaran.
Untuk membahas apa yang dilakukan perusahaan sekarang.
Malamnya Reza mengirim belasan pesan.
Aku hanya membaca.
Kamu mau mempermalukan Papa di depan orang kantor?
Ini urusan keluarga.
Aku siap bicara berdua.
Jangan bikin keputusan saat emosi.
Pesan terakhir datang hampir tengah malam.
Kalau proyek gagal, orang akan menyalahkan kamu, bukan Bu Murni.
Untuk pertama kalinya, ancaman seperti itu tidak membuatku buru-buru mencari jalan damai.
Aku meletakkan ponsel dengan layar menghadap meja dan tidur.
Pagi berikutnya Om Damar datang ke kantor sebelum rapat.
Ia menungguku di ruanganku.
Tidak mengenakan jas, hanya batik lengan panjang.
Kelihatan jauh lebih tua dibanding dua hari sebelumnya.
“Om mau bicara.”
“Silakan.”
“Tutup pintu.”
Aku menutupnya.
Ia duduk di sofa yang biasanya dipakai tamu.
“Apa yang kamu mau dengar?”
“Yang benar.”
Om tertawa pahit.
“Orang selalu bilang begitu sebelum tahu harga kebenaran.”
“Aku sudah bayar harganya tiga puluh dua tahun.”
“Tidak. Kamu hidup baik.”
Aku menatapnya.
“Karena Om?”
“Sebagian.”
Setidaknya ia jujur soal itu.
Aku duduk di seberangnya.
“Kenapa Om menuduh Bu Murni mencuri?”
Ia menarik napas.
“Saya tidak menuduh secara resmi.”
“Jangan pakai kalimat perusahaan sama aku.”
Matanya naik.
Aku jarang memanggilnya dengan nada seperti itu.
Om Damar mengusap lutut.
“Setelah kebakaran, ada gelang ibumu yang tidak ketemu.”
“Bu Murni ambil?”
“Saya tidak tahu.”
“Om membuat dia percaya dia bisa dituduh.”
Ia diam.
“Kenapa?”
“Karena saya takut dia bicara.”
Akhirnya.
Tidak ada lagi alasan panjang.
“Aku tujuh tahun, Om.”
“Saya tahu.”
“Reza dua belas.”
“Saya tahu.”
“Kalau Om mengatakan yang sebenarnya, apa yang Om pikir akan terjadi?”
Om Damar menatap jendela.
“Nenekmu akan menyalahkan Reza sampai mati.”
“Om tidak tahu itu.”
“Saya kenal ibu saya.”
“Lalu aku?”
“Kamu baru kehilangan orang tua.”
“Aku juga kehilangan hak tahu.”
Om membungkuk sedikit.
“Waktu itu saya tidak memikirkan hak. Saya memikirkan bagaimana melewati hari berikutnya.”
Aku terdiam.
Itu mungkin kalimat paling jujur yang ia ucapkan.
Ia tidak sedang menjadi dalang besar.
Ia seorang adik yang kehilangan kakak, ayah yang melihat anaknya ketakutan, dan paman yang tiba-tiba harus membesarkan keponakan.
Ia membuat keputusan buruk dalam keadaan buruk.
Masalahnya, keputusan buruk itu kemudian dipertahankan bahkan setelah keadaan darurat berlalu.
“Kenapa setelah aku dewasa Om tetap diam?”
“Karena setiap tahun makin sulit.”
“Dan proyek ini?”
Ia mengusap wajah.
“Reza cerita Bu Murni masih tinggal dekat gudang. Dia takut perempuan itu cari kamu.”
“Dia memang cari aku.”
“Karena proyek.”
“Dan karena Reza mencoba membuang keluarganya tanpa jalur relokasi.”
“Reza mencoba menjaga proyek.”
Aku berdiri.
“Ini masalahnya, Om.”
Ia menatapku.
“Semua yang dilakukan Reza selalu punya nama yang lebih baik.”
Om Damar ikut berdiri.
“Jangan hancurkan karier dia karena kesalahan waktu umur dua belas.”
“Aku tidak akan.”
Wajah Om sedikit berubah.
“Aku akan menilai kariernya dari apa yang dia lakukan umur empat puluh empat.”
Om Damar tidak menjawab.
Aku melanjutkan.
“Dia menggunakan kewenangannya untuk mempercepat pengosongan. Dia datang sendiri ke keluarga Bu Murni. Dia menawarkan uang dengan syarat mereka jangan datang ke kantor pusat. Setelah aku keluarkan instruksi penghentian, dia tetap menyuruh kontraktor bekerja.”
“Dia sedang tertekan.”
“Semua orang tertekan.”
Aku membuka pintu.
“Rapat mulai sepuluh menit lagi.”
Om Damar tidak bergerak.
“Arga.”
Aku menoleh.
Ia berkata pelan, “Apa setelah ini kamu masih anggap saya keluarga?”
Pertanyaan itu akhirnya menembus tempat yang paling sakit.
Aku memegang gagang pintu cukup lama.
“Om tetap orang yang membesarkan aku.”
Matanya memerah.
“Tapi mulai sekarang, itu bukan izin untuk memilih kebenaran mana yang boleh aku tahu.”
Rapat berlangsung hampir tiga jam.
Aku tidak menceritakan detail kebakaran kepada direksi.
Itu bukan urusan mereka.
Aku hanya menjelaskan konflik kepentingan yang relevan: manajemen proyek telah mengambil tindakan khusus terhadap satu kelompok penghuni karena hubungan pribadi masa lalu dengan keluarga pemegang saham.
Kepala proyek mengakui menerima perintah lisan dari Reza untuk tetap bekerja meski surat penghentian sudah keluar.
Kepala legal menunjukkan bahwa status empat belas kios memang tidak rapi. Beberapa tidak punya perjanjian sewa aktif, tetapi catatan pembayaran utilitas dan pungutan pengelolaan selama bertahun-tahun membuktikan perusahaan mengetahui mereka menggunakan ruang tersebut.
Artinya, memperlakukan semuanya sebagai orang yang tiba-tiba menduduki tanah perusahaan jelas tidak mencerminkan kenyataan.
Aku bertanya kepada Reza, “Kenapa tidak dilakukan pemetaan penghuni dari awal?”
Ia duduk di ujung meja.
“Karena waktunya tidak cukup.”
“Proyek disiapkan sebelas bulan.”
“Tim lambat.”
Manajer proyek menatap meja.
Aku berkata, “Jangan lempar ke staf.”
Reza menatapku.
“Kamu mau dengar apa?”
“Yang benar.”
Ia tertawa kecil.
Kalimat yang sama dengan Om Damar.
“Aku mau proyek cepat selesai. Aku tahu ada risiko Bu Murni bicara sama kamu. Jadi aku pikir kalau keluarganya pindah sebelum konstruksi, masalahnya selesai.”
Kepala keuangan menatap kami bergantian.
Aku bertanya, “Apakah ada uang perusahaan yang kamu ambil?”
“Tidak.”
“Komisi pribadi?”
“Tidak.”
“Kontrak ke pihak keluarga?”
“Tidak.”
Aku percaya bagian itu.
Kesalahannya bukan pencurian.
Justru itu membuat situasinya lebih nyata dan, dengan cara tertentu, lebih menyedihkan.
Reza tidak melakukan semua ini untuk menjadi kaya.
Ia melakukannya karena tiga puluh dua tahun lalu ia belajar satu cara menghadapi masalah: singkirkan sumber ketakutan sebelum orang lain melihatnya.
Dulu pintu gudang.
Sekarang kios.
Polanya berbeda bentuk, tetapi sama.
Aku mengeluarkan keputusan.
Proyek dihentikan enam minggu untuk verifikasi seluruh penghuni lama.
Tim proyek lama diganti sebagian.
Setiap kios akan diperiksa berdasarkan riwayat penggunaan, pembayaran, kebutuhan relokasi, dan kondisi usaha.
Tidak semua otomatis mendapat uang besar.
Tidak semua otomatis boleh tinggal.
Tetapi tidak ada lagi yang akan disingkirkan hanya dengan kalimat “tidak ada kontrak aktif” tanpa memeriksa bagaimana perusahaan sendiri membiarkan situasi itu bertahun-tahun.
Biaya keterlambatan diperkirakan antara Rp600 juta sampai Rp900 juta tergantung jadwal baru.
Kontrak dengan calon penyewa harus dinegosiasi ulang.
Bonus kinerja direksi tahun itu ditahan sampai dampak proyek jelas.
Termasuk bonusku.
Reza menatapku.
“Kamu rela perusahaan rugi segitu?”
“Tidak.”
“Lalu?”
“Aku menerima bahwa keputusan buruk punya biaya.”
Ia tersenyum dingin.
“Enak sekali bicara moral kalau pegang saham paling besar.”
Aku mengangguk.
“Itu benar.”
Ia tampak tidak siap aku menyetujuinya.
“Aku memang punya ruang lebih besar untuk menanggung kerugian. Karena itu aku tidak akan meminta pedagang kecil menanggung seluruh harga dari keputusan yang kubiarkan terjadi.”
Ruangan sunyi.
Aku menambahkan keputusan kedua.
Sampai evaluasi selesai, Reza tidak lagi memegang proyek tersebut.
Ia tetap COO.
Aku tidak akan menghancurkan karier tiga puluh tahun karena dendam pada anak umur dua belas tahun.
Tetapi kewenangan relokasi dan hubungan komunitas dicabut darinya.
Keputusan ketiga lebih sulit.
Om Damar mengajukan pengunduran diri sebagai komisaris utama.
Aku tidak memintanya.
Ia sendiri yang berkata, “Kalau saya tetap duduk di sini, semua orang akan bertanya keputusan siapa yang sebenarnya berlaku.”
Tidak ada yang langsung menerima.
Kami membahasnya.
Pada akhirnya disepakati ia mundur setelah masa transisi dua bulan.
Ketika rapat selesai, Reza masih duduk.
Orang lain keluar satu per satu.
Om Damar juga pergi.
Tinggal kami berdua.
“Kamu puas?” tanyanya.
Aku menatap sepupuku.
“Tidak.”
“Papa mundur.”
“Itu keputusan Papa.”
“Karena kamu.”
“Karena apa yang kita semua lakukan.”
Reza berdiri.
“Aku tidak melakukan apa-apa saat kebakaran.”
“Aku tahu.”
“Aku cuma mengunci kamu.”
“Aku tahu.”
“Api bukan salahku.”
“Aku tahu.”
Ia memandangku seperti menunggu hukuman yang sudah dibayangkannya sejak umur dua belas.
Aku berkata, “Aku tidak membencimu karena itu.”
Wajahnya berubah.
“Jangan bohong.”
“Aku marah. Sangat.”
“Bedanya?”
“Anak umur dua belas bisa melakukan hal bodoh.”
Aku menarik napas.
“Yang sulit buatku adalah pria umur empat puluh empat masih membuat keputusan berdasarkan ketakutan anak itu.”
Reza menatap pintu.
“Aku tidak tahu cara bilang ke kamu.”
“Kamu punya tiga puluh dua tahun.”
“Aku tahu.”
“Kenapa waktu proyek muncul kamu tetap tidak bilang?”
Ia tertawa getir.
“Karena aku pikir tinggal sedikit lagi.”
“Apa?”
“Sedikit lagi semua jejaknya hilang.”
Kalimat itu membuatku benar-benar diam.
Bukan karena ia terdengar jahat.
Karena ia terdengar lelah.
“Aku pikir gudang dibongkar, orang-orang lama pindah, Bu Murni makin tua, semua selesai.”
“Dan kamu bisa bernapas.”
Ia mengangguk.
“Kurang lebih.”
Aku menatapnya lama.
“Kalau hidupmu hanya tenang selama orang lain diam, itu bukan tenang, Za.”
Ia tidak menjawab.
Kemudian ia mengambil tas dan keluar.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada permintaan maaf indah.
Tidak ada musik dalam hidup nyata.
Dua hari kemudian aku kembali ke rumah Bu Murni.
Kali ini tanpa bunga di tanganku.
Ia sedang menyortir daun di teras.
“Saya dengar proyek berhenti.”
“Enam minggu.”
“Semua orang marah?”
“Cukup banyak.”
Ia mengangguk seolah itu wajar.
Aku duduk.
“Saya mau tanya satu hal.”
“Silakan.”
“Kenapa Ibu baru datang sekarang?”
Ia memisahkan daun yang rusak dari yang masih bagus.
“Karena Dini.”
“Karena kios?”
“Bukan cuma.”
Ia mengangkat wajah.
“Saya dulu memilih diam. Anak saya ikut menanggung diam itu. Sekarang cucu saya mulai ikut.”
Ia menarik napas.
“Saya pikir cukup.”
“Kenapa dulu Ibu menerima?”
“Suami saya sakit. Tangan saya tidak bisa dipakai kerja beberapa bulan. Pak Damar bayar rumah sakit. Bantu kontrakan. Membiarkan saya pakai tempat laundry.”
Ia tersenyum kecil.
“Waktu orang miskin sedang takut, bantuan dan tekanan kadang terasa hampir sama.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Ia melanjutkan, “Tapi jangan buat saya jadi orang suci.”
Aku mengernyit.
“Saya juga pilih uang dan keamanan keluarga saya daripada kebenaran.”
“Ibu baru saja menyelamatkan anak tujuh tahun.”
“Lalu saya diam tiga puluh dua tahun.”
“Karena Om menekan Ibu.”
“Karena saya juga takut.”
Ia menunjuk rumah kontrakannya.
“Kita semua punya alasan. Alasan tidak selalu membuat keputusan jadi benar.”
Kalimat itu tinggal di kepalaku lama setelah aku pulang.
Enam minggu berikutnya tidak menyenangkan.
Ada investor yang mengeluh.
Ada calon penyewa yang meminta potongan.
Kontraktor meminta biaya tambahan.
Beberapa direksi mempertanyakan kenapa persoalan sosial tidak dibereskan sejak awal.
Aku tidak bisa menyalahkan Reza untuk semuanya.
Aku yang menandatangani anggaran.
Aku yang selama bertahun-tahun nyaman mengatakan, “Urusan lapangan serahkan Reza.”
Kepercayaanku bukan kesalahan.
Tetapi kepercayaanku yang malas ikut membuat sistem ini mungkin terjadi.
Jadi aku ikut duduk dalam tiga pertemuan dengan penghuni.
Tidak setiap tuntutan kami setujui.
Ada dua kios yang baru ditempati kurang dari setahun dan memang tidak punya riwayat jelas. Mereka menerima bantuan pindah kecil.
Ada lima usaha lama yang mendapatkan kompensasi masa transisi serta prioritas menyewa ruang baru dengan tarif bertahap.
Tujuh lainnya memilih menerima uang relokasi dan pindah.
Keluarga Bu Murni termasuk yang mendapat pilihan ruang di kompleks baru.
Dini sempat berkata, “Kalau karena Nenek menyelamatkan Bapak, saya tidak mau.”
Aku menggeleng.
“Bukan.”
“Lalu?”
“Karena riwayat usaha kalian memang paling panjang.”
“Kalau Nenek tidak datang ke kantor?”
Pertanyaan itu menusuk.
Aku menjawab jujur.
“Mungkin aku tidak akan tahu.”
“Berarti tetap karena Nenek.”
“Karena Nenek membuatku melihat masalah yang seharusnya kulihat lebih awal.”
Dini menerima jawaban itu.
Bu Murni memilih tetap tidak ikut campur dalam perundingan.
“Saya sudah terlalu banyak membuat keputusan untuk anak-cucu saya karena takut,” katanya.
“Apa pun yang Dini pilih, biar dia yang pilih.”
Tiga bulan setelah kejadian di lobi, Om Damar resmi meninggalkan kursi komisaris utama.
Kami masih bertemu.
Tetapi tidak sesering dulu.
Makan malam keluarga pertama setelah semuanya terbuka sangat canggung.
Om Damar duduk di ujung meja.
Reza datang terlambat.
Tidak ada yang membicarakan kebakaran.
Tidak ada yang tahu bagaimana memulainya.
Ketika makanan hampir habis, Om Damar tiba-tiba berkata, “Dulu kamu paling tidak suka sayur asem.”
Aku menatap mangkuk di depanku.
“Sampai sekarang.”
Om tersenyum sebentar.
Hanya sebentar.
Itulah bentuk hubungan kami saat itu.
Bukan kembali seperti dulu.
Bukan juga putus.
Aku tidak ingin menghapus tiga puluh tahun kebaikannya hanya karena satu kebohongan besar.
Tetapi aku juga tidak mau lagi membayar kebaikan itu dengan kepatuhan tanpa batas.
Ada beberapa pintu yang, setelah dibuka, memang tidak perlu ditutup kembali.
Reza lebih sulit.
Selama hampir dua bulan ia hanya bicara denganku soal pekerjaan.
Singkat.
Formal.
Tidak ada lagi pesan tengah malam.
Tidak ada lagi makan siang berdua.
Kemudian suatu pagi ia masuk ke ruanganku.
“Ada rapat penghuni jam dua?”
“Iya.”
“Aku ikut boleh?”
Aku menatapnya.
“Sebagai apa?”
“Bukan pengambil keputusan.”
“Lalu?”
Ia menarik napas.
“Orang yang perlu dengar.”
Aku mengangguk.
Ia ikut.
Tidak banyak bicara.
Ketika seorang pemilik warung tua mengeluh karena tim proyek lama berkali-kali mengubah informasi, Reza tidak membela diri.
Ia hanya berkata, “Bagian itu tanggung jawab kami.”
Bukan permintaan maaf besar.
Tetapi untuk seseorang yang selama puluhan tahun selalu mencari alasan sebelum mengakui kesalahan, kalimat kecil itu cukup berarti.
Enam bulan kemudian proyek mulai berjalan lagi.
Lebih lambat dari rencana awal.
Margin kami turun.
Tidak ada bencana.
Enam ratus karyawan yang dulu selalu digunakan sebagai alasan tetap menerima gaji.
Perusahaan tidak runtuh karena kami berhenti enam minggu untuk memperbaiki sesuatu.
Terkadang kita menyebut sebuah keputusan “demi banyak orang” hanya karena takut mengakui siapa sebenarnya yang sedang kita lindungi.
Pada hari ruang komersial tahap pertama dibuka, aku turun ke lantai dasar menjelang siang.
Pintu putar gedung baru berkilau di bawah cahaya.
Seorang petugas keamanan menyapaku.
Di seberang lobi, ada kios bunga kecil.
Dini sedang merapikan rangkaian.
Bu Murni duduk di kursi dekatnya, mengenakan selendang cokelat yang sama seperti hari pertama kami bertemu.
Ia tidak membawa bunga untukku.
Kali ini aku yang berjalan ke kios.
“Berapa yang merah itu?”
Dini tersenyum.
“Bunga sepatu tidak biasa dijual potong, Pak.”
“Kalau begitu satu pot.”
Bu Murni mendengus kecil.
“Mau ditaruh di kantor?”
“Iya.”
“Jangan lupa disiram.”
Aku mengangkat pot itu.
“Kalau mati?”
“Ya beli lagi.”
Aku tertawa.
Sederhana sekali.
Mungkin memang begitu seharusnya.
Tidak semua hal dari masa lalu harus disimpan selamanya hanya karena kita takut kehilangan bentuk keluarga yang lama.
Ada yang perlu dirawat.
Ada yang perlu dipindahkan.
Ada yang harus dibiarkan selesai.
Aku membawa pot bunga itu melewati pintu putar.
Tiga puluh dua tahun lalu, seorang perempuan menyuruhku melihat bunga merah supaya aku berani keluar dari tempat yang terbakar.
Sekarang aku akhirnya mengerti bahwa sepanjang hidup, yang paling sulit bukan keluar dari api.
Yang paling sulit adalah membuka pintu yang selama bertahun-tahun kita yakini memang seharusnya terkunci.
Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Menurut kalian, apakah Arga benar tetap mempertahankan hubungan dengan Om Damar dan Reza, atau ada kebohongan keluarga yang terlalu besar untuk diberi kesempatan kedua? Semoga kita semua diberi keberanian untuk membantu keluarga tanpa kehilangan batas, dan memaafkan tanpa harus kembali menjadi orang yang selalu mengalah.
