BAGIAN 2
“Kenapa harus tanya Ibu?”
Aku belum sempat bergerak ketika Nita menjawab.
“Karena aku tidak mengambil keputusan sendirian.”
Bu Sumi mundur perlahan membawa celemeknya. Pak Awan pura-pura memeriksa tali di mobil. Semua orang bisa merasakan percakapan kami sudah bukan tentang freezer.
“Apa yang Ibu setujui?”
“Nanti di rumah.”
“Nit.”
“Tidak di depan pegawai.”

Kali ini aku mengalah, bukan karena takut bertengkar, tetapi karena dia benar mengenai satu hal.
Bu Sumi dan dua pegawai lain tidak perlu menjadi penonton pertengkaran keluarga.
Aku mengambil kunci mobil.
Namun sebelum pergi, aku memotret celemek itu.
Nita melihatku.
“Masih perlu foto juga?”
“Sekarang iya.”
Kami berangkat dengan mobil masing-masing.
Di lampu merah pertama, ponselku bergetar.
Pesan dari kakak kami, Rendra.
Maya, jangan bikin Ibu stres. Kita ngomong baik-baik.
Aku membaca pesan itu tiga kali.
Aku belum menghubungi Rendra.
Berarti Nita sudah melakukannya.
Atau lebih buruk, Rendra sudah tahu sejak sebelumnya.
Aku tidak langsung menuju rumah Ibu.
Aku memarkir mobil di depan minimarket dan menelepon satu orang yang sudah lama memasok ayam untuk Dapur Lestari.
Pak Harun menjawab setelah dering kedua.
“Bu Maya? Wah, lama tidak dengar suara.”
Aku menahan diri agar tidak terdengar sedang menginterogasi.
“Pak, aku sedang membantu penutupan dapur. Mau memastikan, masih ada tagihan pengiriman yang belum selesai?”
“Yang Lestari?”
“Iya.”
“Ada sedikit yang lama. Tapi pengiriman rutin kan sudah pindah.”
“Pindah ke mana?”
Hening dua detik.
“Waru.”
Aku menatap kendaraan yang lewat di kaca depan.
“Sejak kapan?”
“November, mungkin. Mbak Nita bilang dapur produksi pindah sementara. Saya kira Ibu tahu.”
“Nama usahanya tetap Dapur Lestari?”
Pak Harun tertawa kecil, bingung.
“Awalnya iya. Terus nota pemesanan jadi Dapur Nirmala.”
“Pesanannya sama?”
“Sebagian pelanggan lama, iya.”
“Seperti siapa?”
Dia menyebut dua sekolah swasta, satu kantor distributor, dan sebuah klinik.
Aku mengenali semuanya.
Dulu pesanan mereka termasuk yang paling stabil.
Dan Nita pernah mengatakan kepadaku bahwa dua di antaranya “berhenti pesan karena pindah vendor”.
Aku mengucapkan terima kasih lalu menutup telepon.
Teori pertamaku sederhana.
Nita diam-diam memindahkan pelanggan yang menguntungkan ke perusahaan sendiri, meninggalkan Dapur Lestari dengan utang dan biaya lama.
Aku marah.
Tapi teori itu belum menjelaskan pesan Rendra.
Belum menjelaskan ucapan Nita tentang Ibu.
Aku menelepon nomor Dapur Nirmala yang kutemukan melalui foto profil WhatsApp Pak Harun setelah ia mengirimkan nota lama yang kuminta.
Seorang perempuan muda menjawab.
“Dapur Nirmala, selamat siang.”
Aku hampir menyebut namaku.
Lalu aku berubah pikiran.
“Mbak, saya mau tanya katering untuk seratus lima puluh porsi. Menunya mirip nasi box ayam bumbu rujak yang dulu pernah dibuat Dapur Lestari.”
Perempuan itu langsung berkata, “Bisa, Bu. Resep lama Dapur Lestari memang masih kami kerjakan.”
Aku menggenggam setir.
“Orangnya sama?”
“Sebagian tim lama masih di sini.”
“Bu Lestari masih terlibat?”
“Oh, Ibu sudah jarang ke dapur. Sekarang Bu Nita yang pegang.”
Aku menutup telepon dengan alasan akan menghubungi lagi.
Ketika tiba di rumah Ibu, mobil Rendra sudah ada di depan.
Jadi memang rapat keluarga.
Tanpa perlu diundang.
Ibu duduk di ruang tengah dengan tongkat di samping kursinya. Tangan kanannya masih sedikit lemah akibat stroke, tetapi pikirannya tetap jernih.
Nita duduk dekat jendela.
Rendra di sofa.
“Ada apa sampai begini?” tanya Ibu.
Aku meletakkan tas di meja.
“Aku ingin tahu Dapur Nirmala itu apa.”
Mata Ibu berpindah ke Nita.
Gerakan kecil.
Tapi cukup.
“Ibu tahu?” tanyaku.
Ibu menarik napas.
“Nita cuma mencoba menyelamatkan pekerjaan.”
“Pekerjaan siapa?”
“Orang-orang dapur.”
“Dengan memindahkan pelanggan Dapur Lestari?”
Rendra menyela.
“Jangan langsung pakai kata memindahkan seperti dicuri.”
Aku menatap kakakku.
“Kamu juga tahu?”
Dia mengusap lutut.
“Aku tahu ada dapur baru.”
“Sejak kapan?”
“Beberapa bulan.”
“Dan tidak pernah terpikir memberitahuku?”
Rendra menjadi defensif.
“Kamu sibuk. Setiap kali bicara soal dapur, kamu bilang yang penting Ibu tidak kekurangan.”
Kalimat itu benar.
Dan justru karena benar, aku merasa makin tidak nyaman.
Aku menatap Ibu.
“Uang Rp8 juta yang kukirim setiap bulan dipakai untuk apa?”
Ibu mengerutkan kening.
“Untuk kebutuhan.”
“Kebutuhan siapa?”
Nita berdiri.
“Jangan bicara seperti kami makan uang Mbak.”
“Aku belum bilang begitu.”
“Cara Mbak bertanya sudah begitu.”
Ibu mengetuk lantai dengan ujung tongkat.
“Duduk dulu.”
Aku duduk.
Bukan karena masalah selesai.
Justru karena aku ingin mendengar sampai habis.
Nita menjelaskan bahwa tahun lalu Dapur Lestari mulai kesulitan membayar pemasok. Beberapa peralatan harus diperbaiki. Pelanggan korporat mulai meminta faktur dan sistem pemesanan yang lebih rapi.
Menurutnya, usaha lama terlalu berantakan.
Maka dibukalah Dapur Nirmala.
“Kenapa bukan membenahi Dapur Lestari?”
Nita menjawab, “Karena utang lama sudah terlalu banyak.”
“Jadi utangnya ditinggalkan?”
“Bukan ditinggalkan.”
“Lalu?”
Nita menatap Ibu.
Ibu berkata pelan, “Nanti dibayar pelan-pelan.”
“Siapa yang bayar?”
Tidak ada yang menjawab.
Itu jawaban paling jelas yang kudapat hari itu.
Aku menatap Rendra.
“Kalian mengira aku yang akan menutupnya?”
Rendra mendecakkan lidah.
“Bukan begitu.”
“Lalu bagaimana?”
“Kita keluarga.”
Aku tertawa satu kali.
Bukan karena lucu.
Kalimat itu selama bertahun-tahun selalu muncul tepat sebelum aku diminta menanggung sesuatu.
Aku berdiri.
“Aku belum selesai mencari tahu.”
Nita ikut berdiri.
“Mbak mau apa lagi?”
“Mengerti sebenarnya usaha ini sudah pindah sejauh apa.”
“Mau datang ke Waru dan mempermalukanku di depan pegawai?”
“Aku belum memutuskan.”
Aku pergi sebelum percakapan berubah menjadi teriakan.
Keesokan paginya aku mendatangi alamat Dapur Nirmala.
Bukan diam-diam.
Aku mengirim pesan kepada Nita lima menit sebelum sampai.
Aku datang melihat dapur. Aku tidak akan membuat keributan.
Tempat itu adalah gudang kecil di belakang deretan ruko di Waru.
Begitu masuk, aku langsung mengenali dua freezer dari Dapur Lestari.
Rak pendinginnya juga.
Tiga pegawai lama menyapaku canggung.
Di dinding tergantung daftar pesanan untuk empat hari ke depan.
Tidak sedikit.
Dua acara kantor.
Satu pesta ulang tahun.
Tiga ratus nasi kotak untuk sekolah.
Di sudut, Bu Sumi sedang memotong cabai.
Aku menghampirinya.
“Bu, sejak kapan kerja di sini?”
Dia terlihat tidak enak.
“Sekitar delapan bulan.”
“Nita yang memindahkan?”
Bu Sumi menelan ludah.
“Bu Lestari yang bilang kami ikut Mbak Nita saja supaya tetap punya kerja.”
Aku diam.
Bu Sumi melanjutkan dengan suara lebih pelan.
“Ibu bilang Dapur Lestari biar ditutup pelan-pelan.”
“Lalu utangnya?”
Wajahnya berubah.
Aku tahu sebelum dia bicara bahwa aku akan mendengar sesuatu yang tidak kusukai.
“Maaf, Mbak. Saya kira keluarga sudah sepakat.”
“Sepakat apa?”
Bu Sumi menatap pintu.
Kemudian kepadaku.
“Bu Lestari pernah bilang, pelanggan dan pegawai ikut Mbak Nita. Utang lama nanti keluarga urus.”
“Keluarga siapa?”
Dia tidak menjawab.
Aku menahan napas.
Bu Sumi akhirnya berkata,
“Waktu itu Ibu bilang, ‘Maya kerjanya sudah mapan. Dia pasti tidak akan membiarkan nama keluarga jelek karena utang.’”
Aku tidak marah kepada Bu Sumi.
Dia hanya mengulangi kalimat yang pernah didengarnya.
Tetapi untuk pertama kalinya, masalah itu terasa jauh lebih besar daripada katering yang dipindahkan diam-diam.
Adikku bukan satu-satunya orang yang sudah membuat rencana berdasarkan uangku.
Ibuku sendiri rupanya ikut yakin bahwa pada akhirnya aku akan mengalah.
Kalau orang yang paling ingin kita lindungi ternyata ikut membuat keputusan tanpa kita, batas apa yang masih pantas dipertahankan?
BAGIAN 3
Aku masih berdiri di depan meja potong ketika suara motor berhenti di halaman gudang.
Nita datang.
Dia masuk tanpa melepas helm terlebih dahulu.
“Mbak memang tidak bisa menunggu, ya?”
Bu Sumi langsung membawa talenan ke meja lain.
Aku tidak ingin melibatkan pegawai.
“Nit, kita bicara di luar.”
“Apa yang Bu Sumi bilang?”
“Tidak penting siapa yang bilang.”
“Jadi sekarang Mbak keliling tanya orang?”
Aku berjalan menuju halaman.
Nita mengikuti.
Kami berdiri di samping mobilku, di bawah atap seng yang membuat suara siang terasa terperangkap.
“Aku cuma ingin satu jawaban,” kataku.
“Apalagi?”
“Utang Dapur Lestari sekarang sebenarnya berapa?”
Nita memalingkan muka.
“Kurang lebih seratus delapan puluh.”
“Kurang lebih?”
“Seratus delapan puluh enam juta kalau semua dihitung.”
Aku sudah menduga lebih dari seratus juta.
Tetapi mendengar angka pastinya membuat semuanya menjadi nyata.
“Ke siapa?”
“Pemasok bahan sekitar delapan puluh dua. Sewa alat dan servis dua puluh tujuh. Ada kewajiban pajak yang sedang dibereskan. Sisanya upah tertunda dan beberapa pembayaran.”
“Pesanan yang sekarang ada di sini menghasilkan berapa?”
“Tidak bisa dihitung begitu saja.”
“Aku tidak tanya laba bersih. Omzet rata-rata.”
Nita melepaskan helm.
“Mbak datang kemari mau jadi auditor?”
“Aku sudah membayar delapan juta sebulan selama hampir setahun karena kamu bilang dapur rugi dan biaya Ibu berat.”
“Itu bukan modal usaha.”
“Lalu uangnya ke mana?”
Nita menatapku lurus.
“Ke rumah Ibu. Ke obat. Ke makanan. Ke listrik. Ke pegawai yang waktu itu belum bisa dibayar. Kadang ke cicilan mobil pengiriman.”
Aku mengangguk pelan.
“Nah. Itu dia.”
“Apa?”
“Kamu mencampur semuanya.”
“Karena hidup memang bercampur, Mbak!”
Untuk pertama kalinya dia meninggikan suara.
“Tidak semua orang punya gaji tanggal dua puluh lima, ada THR, ada BPJS perusahaan, lalu tinggal transfer dan merasa sudah menyelesaikan bagian keluarga!”
Aku tidak langsung membalas.
Kalimat itu kasar.
Tetapi di dalamnya ada luka yang sudah lama kusadari ada, hanya tidak pernah kami buka.
Nita menahan napas.
“Aku di dapur ini sejak umur dua puluh tiga.”
“Aku tahu.”
“Tidak, Mbak tidak tahu.”
“Aku tahu kamu membantu Ibu.”
“Membantu?”
Dia tertawa pahit.
“Aku berhenti kerja di hotel waktu Bapak sakit. Setelah Bapak meninggal, aku tetap di katering karena Ibu tidak sanggup sendiri. Waktu Mbak ambil sertifikasi dan pindah ke Surabaya, siapa yang pegang pesanan? Aku. Waktu Mas Rendra dipindah kerja ke luar kota, siapa yang antar Ibu kontrol? Aku.”
Aku membiarkannya bicara.
“Aku bukan bilang kamu tidak berkorban,” kataku ketika dia berhenti.
“Tapi selama bertahun-tahun tidak ada yang menyebut itu pekerjaan. Semua bilang, ‘Nita kan memang di rumah.’”
“Jadi Dapur Nirmala kompensasi untukmu?”
Pertanyaan itu membuatnya diam.
Aku tahu aku akhirnya menyentuh inti masalah.
“Aku tanya lagi. Dapur Nirmala ini menurutmu milik siapa?”
Nita menatap pintu gudang.
“Milikku.”
“Dan Ibu setuju?”
“Iya.”
“Dengan pelanggan lama Dapur Lestari?”
“Iya.”
“Peralatan Dapur Lestari?”
“Tidak semuanya.”
“Pegawai?”
“Mereka bebas memilih.”
“Resep?”
Nita mengatupkan bibir.
“Nit.”
“Resep itu aku yang mengerjakan bersama Ibu bertahun-tahun.”
“Aku tidak menyangkal.”
“Lalu apa yang Mbak mau?”
“Transparansi.”
Dia mendengus.
“Setelah semua sudah terlanjur?”
“Justru karena sudah terlanjur.”
Aku membuka pintu mobil tetapi tidak masuk.
“Aku mau daftar utang, daftar aset yang pindah ke sini, dan jumlah tagihan pelanggan Dapur Lestari yang masih belum dibayar.”
“Untuk apa?”
“Supaya kita tahu apa yang sebenarnya tersisa sebelum menutup usaha lama.”
“Lalu Mbak akan ambil Nirmala?”
Aku menatapnya.
Itulah ketakutannya.
Bukan sekadar takut ketahuan.
Dia takut setelah menghabiskan separuh hidup membangun usaha bersama Ibu, aku akan datang dengan status anak yang dianggap “lebih berhasil” lalu mengambil bagian dari satu-satunya hal yang ia merasa benar-benar miliki.
“Aku tidak mau Dapur Nirmala,” kataku.
Nita kelihatan tidak percaya.
“Aku tidak mau satu persen pun.”
“Terus?”
“Tapi aku juga tidak akan membayar Rp186 juta supaya kamu bisa memulai dari nol dengan pelanggan lama dan alat lama.”
Wajahnya mengeras lagi.
“Jadi Mbak mau biarkan nama Ibu jelek?”
Nah.
Kalimat itu.
Aku pernah mendengar variasinya sepanjang hidup.
Kalau tidak membantu, aku tidak peduli keluarga.
Kalau bertanya, berarti tidak percaya.
Kalau menolak, berarti merasa paling sukses.
Kalau diam, semuanya terus berjalan.
“Aku tidak akan membiarkan utang itu hilang,” kataku.
“Tapi aku juga tidak akan mengambil tanggung jawab yang dibuat tanpa persetujuanku.”
Nita menggeleng.
“Mudah bicara.”
“Besok kita duduk bersama. Kamu, aku, Mas Rendra, dan Ibu.”
“Aku sudah tahu akhirnya. Mbak akan menyuruh semuanya dihitung sampai sendok.”
“Kalau perlu.”
Aku masuk mobil.
Nita memanggil sebelum aku menutup pintu.
“Mbak Maya.”
Aku menoleh.
Untuk pertama kalinya sejak datang, kemarahannya turun sedikit.
“Kalau aku tidak bikin Nirmala, sebelas orang kehilangan pekerjaan.”
Aku melihat ke dalam gudang.
Bu Sumi sedang mengaduk bumbu. Seorang pemuda mengangkat kotak nasi. Dua perempuan menimbang lauk.
“Aku percaya itu salah satu alasanmu.”
“Salah satu?”
“Iya.”
Dia menatapku tajam.
“Kamu juga menyelamatkan dirimu sendiri.”
Aku tidak mengatakan itu sebagai tuduhan.
Mungkin karena itu, Nita tidak membantah.
Malam itu aku tidak langsung menelepon Ibu.
Aku duduk di meja makan rumahku sendiri di Surabaya.
Anakku, Rama, bekerja di Yogyakarta dan hanya pulang sebulan sekali. Rumah terasa terlalu tenang.
Biasanya kalau ada masalah keluarga, aku membuka aplikasi mobile banking.
Aku menghitung.
Berapa yang dibutuhkan.
Lalu kukirim.
Setelah itu aku merasa lega karena tidak perlu berdebat.
Malam itu aku membuka aplikasi yang sama.
Transfer otomatis Rp8 juta kepada Nita dijadwalkan empat hari lagi.
Jempolku berhenti di layar.
Aku menonaktifkannya.
Tidak ada petir.
Tidak ada pesan marah lima detik kemudian.
Hanya satu tulisan kecil:
Transaksi berkala telah dihentikan.
Aku menaruh ponsel di meja.
Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, aku tidak menyelesaikan rasa bersalah dengan transfer.
Besoknya kami berkumpul di rumah Ibu pukul sepuluh pagi.
Aku sengaja membawa buku tulis biasa.
Bukan map.
Bukan tumpukan dokumen.
Aku ingin percakapan itu dimulai dari kami, bukan kertas.
Rendra datang terakhir.
Ia duduk sambil menghela napas panjang.
“Kenapa rasanya seperti rapat direksi?”
“Karena selama ini kita justru tidak pernah rapat,” jawabku.
Ibu melirikku.
“Kamu marah sama Ibu?”
“Aku kecewa.”
“Karena Ibu memberi dapur ke Nita?”
“Bukan cuma itu.”
Nita menyilangkan tangan.
“Sudah, Mbak. Bilang saja.”
Aku menatap Ibu.
“Kenapa Ibu tidak pernah bilang pelanggan Dapur Lestari dipindah?”
Ibu mengusap ujung kain di lututnya.
“Kalau Ibu bilang, kamu pasti tidak setuju.”
“Jadi karena aku mungkin tidak setuju, aku tidak perlu tahu?”
“Maya…”
“Ibu tahu aku mengirim uang tiap bulan karena mengira usaha lama sedang sepi.”
“Memang sepi.”
“Sepi karena pelanggan bagus dipindah.”
Nita menyela.
“Mereka tidak semuanya dipindah. Ada yang memilih lanjut dengan kami.”
“Karena ditawari oleh orang yang sama, masakannya sama, pegawainya sama, dan sebagian peralatannya sama.”
“Lalu mereka harus pergi ke katering lain supaya Mbak puas?”
“Bukan itu masalahnya.”
Rendra mengangkat tangan.
“Bisa tidak kita fokus solusi?”
Aku menoleh kepadanya.
“Bisa. Berapa yang kamu tahu soal utangnya?”
Rendra terlihat kesal.
“Nita pernah bilang sekitar seratus lima puluh.”
“Sekarang Rp186 juta.”
Dia memandang Nita.
“Kok naik?”
“Ada beberapa yang belum masuk waktu itu.”
Aku mengeluarkan pena.
“Pertanyaan kedua. Siapa yang selama ini diasumsikan akan membayar?”
Rendra bersandar.
“Tidak ada yang bilang kamu sendiri.”
“Berarti bagaimana pembagiannya?”
Tidak ada jawaban.
Aku membuka buku.
“Mas, sebutkan angka yang selama ini kamu rencanakan.”
“Apa?”
“Kontribusimu.”
Rendra mengusap wajah.
“Aku baru pensiun. Anak bungsuku masih kuliah.”
“Aku tahu.”
“Jangan seperti penagih utang.”
“Aku tidak menagih utangmu. Aku bertanya, saat kalian memutuskan pelanggan dan aset dipindah, apa kalian punya rencana membayar kewajiban Dapur Lestari?”
Ibu akhirnya berkata,
“Ibu pikir rumah kontrakan belakang bisa dipakai.”
Aku terdiam.
Rumah kontrakan belakang adalah rumah kecil yang dibeli Ibu dan Bapak hampir dua puluh tahun lalu. Uang sewanya sekitar Rp2,2 juta sebulan dan menjadi salah satu pemasukan tetap Ibu.
“Dipakai bagaimana?”
“Kalau perlu dijual.”
Nita langsung berkata, “Aku sudah bilang jangan.”
Aku menatapnya.
“Kamu tahu rencana itu?”
“Ibu pernah ngomong. Aku tidak setuju.”
Ada sesuatu yang berubah di dalam kepalaku.
Selama dua hari terakhir aku melihat Nita sebagai orang yang memindahkan bagian sehat dari usaha, lalu membiarkan bangkainya untuk kami.
Ternyata ada lapisan lain.
Ibu bersedia menjual salah satu sumber penghasilannya sendiri agar utang usaha lama selesai dan Dapur Nirmala tetap hidup.
“Kenapa Ibu mau jual kontrakan?”
Ibu menjawab sederhana.
“Supaya selesai.”
“Lalu kebutuhan Ibu?”
“Kalian ada.”
Aku hampir tertawa.
Bukan karena lucu.
Karena itulah seluruh sistem keluarga kami dalam tiga kata.
Kalian ada.
Tidak perlu rencana pensiun yang jelas.
Tidak perlu membedakan uang usaha dan uang rumah.
Tidak perlu membicarakan siapa bertanggung jawab.
Kalau ada lubang, salah satu anak akan menutup.
Biasanya aku.
Aku menatap Ibu.
“Bu, kalau kontrakan dijual, uang sewa hilang.”
“Ibu tidak banyak kebutuhan.”
“Terapi?”
“Kamu bisa bantu.”
“Nah.”
Ibu mengerutkan kening.
“Nah apa?”
“Begitu cara kita hidup bertahun-tahun. Satu keputusan ditutup keputusan lain. Dapur rugi, aku kirim uang. Nita tidak punya penghasilan tetap, dapur diberikan ke Nita. Utang lama ada, kontrakan mau dijual. Setelah uang sewa hilang, aku yang menambah biaya Ibu.”
Rendra berkata, “Maya, jangan hitung keluarga seperti perusahaan.”
Aku menoleh kepadanya.
“Justru karena kita tidak pernah menghitung, semua orang menganggap orang lain akan menanggung.”
Dia diam.
Ibu terlihat tersinggung.
“Ibu tidak pernah memaksa kamu.”
“Tidak.”
Aku menurunkan suara.
“Ibu tidak pernah perlu.”
Kalimat itu menyakitiku sendiri saat keluar.
Ibu menatapku lama.
Aku melanjutkan.
“Sejak aku mulai punya gaji lebih baik, setiap ada masalah aku selalu bilang, ‘Sudah, biar aku bantu.’ Aku yang mengajari semuanya bahwa paling mudah meminta uang kepadaku daripada membicarakan masalah.”
Nita menatapku.
Untuk pertama kalinya, ekspresinya bukan melawan.
Mungkin karena aku akhirnya mengakui bagianku.
“Aku ikut membuat sistem ini,” kataku.
“Tapi aku tidak akan melanjutkannya.”
Ibu menunduk.
“Apa maumu?”
Aku membuka halaman baru.
“Pertama, kontrakan tidak dijual untuk sekarang.”
“Kenapa kamu yang memutuskan?” tanya Ibu.
“Bukan aku. Itu rumah Ibu. Ibu boleh memutuskan. Tapi kalau dijual untuk menutup utang usaha, aku tidak akan mengganti pendapatan sewanya setiap bulan. Ibu harus tahu konsekuensinya sebelum memilih.”
Ibu tidak menjawab.
“Kedua,” lanjutku, “biaya Ibu kita pisahkan dari usaha.”
Rendra terlihat tidak nyaman.
“Bagaimana?”
“Obat, terapi, kebutuhan rumah, pendamping kalau nanti perlu. Kita catat sederhana. Bukan untuk mempermalukan siapa pun. Supaya jelas.”
“Dibagi tiga?” tanya Nita.
“Tidak harus sama.”
Rendra langsung melihatku.
Aku berkata, “Sesuai kemampuan dan waktu. Nita selama ini memberi tenaga paling banyak. Itu harus dihitung sebagai kontribusi juga.”
Nita berkedip.
Sepertinya ia tidak menduga aku akan mengatakan itu.
“Mas Rendra bisa ambil jadwal antar kontrol dua kali sebulan atau bayar transport kalau tidak bisa. Aku menanggung terapi yang tidak ditutup BPJS dan sebagian kebutuhan bulanan.”
Ibu mulai berkata, “Ibu tidak mau jadi beban.”
Aku meraih tangannya.
“Justru kita sedang berhenti membuat Ibu jadi alasan untuk semua hal.”
Ruangan sunyi beberapa detik.
Kemudian aku melihat Nita.
“Ketiga, Dapur Nirmala tetap milikmu.”
Dia tidak segera bereaksi.
“Aku tidak akan menuntut bagian.”
Rendra mengangkat alis.
Ibu menatapku.
“Tapi,” lanjutku, “peralatan Dapur Lestari yang sekarang dipakai Nirmala harus dinilai wajar.”
Nita kembali tegang.
“Aku tidak punya uang beli semuanya sekaligus.”
“Tidak harus sekaligus.”
“Terus?”
“Catat unitnya. Yang benar-benar rusak jangan dihargai tinggi. Yang masih dipakai, Nirmala beli secara cicilan. Uangnya masuk untuk menyelesaikan utang Dapur Lestari.”
Nita menggeleng.
“Kalau semua harus dibeli, kas kami habis.”
“Berapa omzet rata-rata?”
Dia mendesah.
“Sekitar Rp85 sampai Rp110 juta sebulan.”
Rendra menatapnya.
Angka itu jelas baru baginya juga.
Aku bertanya, “Laba?”
“Kadang dua belas. Kadang delapan belas. Kalau banyak acara bisa dua puluh lebih.”
“Berarti usaha itu bukan kecil.”
“Biaya juga besar.”
“Aku tahu.”
Aku bekerja di dapur profesional. Aku tidak akan berpura-pura omzet sama dengan uang bebas.
“Aku tidak minta Rp100 juta besok. Kita cari harga wajar peralatan, lalu cicil.”
Ibu berkata, “Kalau begitu Nita yang paling berat.”
Aku menatap Ibu.
“Karena selama ini yang paling ringan siapa?”
Ibu terdiam.
Aku langsung menyesal nadaku terlalu tajam.
Aku menarik napas.
“Maaf. Maksudku bukan menghukum Nita. Tapi kalau usaha baru mengambil manfaat dari aset lama, usaha baru juga harus ikut memikul proses penutupannya.”
Nita menunduk.
“Berapa?”
“Belum tahu. Kita hitung dulu.”
Dia mengusap telapak tangan.
“Kalau aku setuju, Mbak berhenti ikut campur Nirmala?”
“Aku tidak ingin ikut mengelola.”
“Resep?”
“Bukan milikku untuk direbut.”
Ibu menatapku lama.
Ada sesuatu di wajahnya yang melunak.
Mungkin karena ia selama ini mengira keberatanku berarti aku ingin mendapatkan bagian.
Padahal yang menyakitiku bukan karena Nita memperoleh usaha.
Yang menyakitiku adalah semua orang merasa aku tidak perlu diajak bicara selama pada akhirnya aku bisa diminta membayar.
Rendra berdeham.
“Terus utang Rp186 juta bagaimana?”
Aku menulis angka itu di tengah halaman.
“Pertama kita kurangi dengan tagihan pelanggan Dapur Lestari yang masih bisa ditagih.”
Nita berkata, “Ada sekitar enam puluh sampai tujuh puluh.”
“Berapa yang realistis masuk?”
“Mungkin lima puluh delapan.”
“Baik.”
Aku menulis.
“Peralatan yang dijual ke Pak Awan?”
“Kalau semua jadi, sekitar tiga puluh satu.”
“Jangan jual yang masih dipakai Nirmala dengan harga rongsok.”
Nita mengangguk pelan.
“Kemarin itu cuma barang rusak.”
Aku menunjuk freezer tua.
“Yang Rp150 ribu?”
Dia hampir tersenyum.
“Harganya memang segitu.”
“Pak Lilik bilang kompresornya masih bisa diperbaiki.”
“Biaya servisnya bisa lebih mahal dari barangnya.”
Untuk pertama kalinya sejak dua hari terakhir, ketegangan di ruangan retak sedikit.
Bukan damai.
Hanya sebuah celah untuk bernapas.
Kami terus menghitung.
Tidak rapi.
Tidak indah.
Beberapa angka harus dicek ulang.
Tetapi menjelang siang, gambarnya mulai terlihat.
Piutang yang kemungkinan bisa ditagih: sekitar Rp58 juta.
Penjualan barang yang tidak dipakai: diperkirakan Rp34 juta.
Nilai beberapa peralatan yang sudah berpindah ke Nirmala dan masih digunakan: sekitar Rp42 juta setelah nanti diperiksa satu per satu.
Masih ada kekurangan.
Sekitar Rp52 juta, belum termasuk kemungkinan selisih.
Rendra menatap angka itu.
“Jadi tetap harus ada yang nombok.”
“Ya,” kataku.
Ibu langsung berkata, “Jual kontrakan.”
“Tidak perlu buru-buru.”
Aku melihat Rendra.
“Mas?”
Dia menggaruk kepala.
“Aku bisa sepuluh juta. Tapi dicicil tiga bulan.”
Itu bukan angka besar dibanding tabungannya, aku tahu.
Tetapi setidaknya kali ini dia menyebut angka, bukan kata “keluarga”.
Aku mengangguk.
“Aku bisa lima belas.”
Nita menatapku.
“Mbak masih mau keluar uang?”
“Aku tidak pernah bilang aku tidak akan membantu.”
“Lalu bedanya?”
Aku menutup buku sebentar.
“Sekarang aku tahu untuk apa.”
Nita menunduk.
Dia berkata sangat pelan,
“Aku bisa menanggung sisanya dari Nirmala, tapi beri waktu.”
“Berapa?”
“Enam bulan.”
“Jangan sampai gaji pegawai terganggu.”
“Aku tahu.”
“Dan jangan pakai uang kebutuhan Ibu.”
Dia mengangkat mata.
“Baik.”
Aku belum pernah mendengar kata itu dari Nita dengan nada sesederhana itu.
Ibu mengusap tangannya.
“Jadi selesai?”
“Belum,” kataku.
Wajahnya langsung lelah.
“Apa lagi?”
“Aku ingin tahu kenapa sejak awal tidak ada yang bicara jujur.”
Rendra menghela napas.
“Maya…”
“Ini justru bagian yang paling penting.”
Aku menatap Nita.
“Kenapa kamu tidak pernah bilang langsung bahwa menurutmu Dapur Nirmala pantas jadi milikmu?”
Nita tidak menjawab.
“Kamu pikir aku akan menolak?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Dia tertawa hambar.
“Karena sejak kecil kalau ada keputusan besar, yang ditanya selalu Mbak.”
Aku tertegun.
Rendra menyandarkan punggung.
Nita melanjutkan.
“Nilaimu paling bagus. Kamu masuk sekolah favorit. Kamu kuliah. Bapak bangga sekali waktu kamu kerja di rumah sakit.”
“Apa hubungannya?”
“Tidak ada, kalau dilihat satu-satu.”
Dia memandang Ibu.
“Tapi waktu aku bilang mau ambil kursus pastry, Ibu bilang siapa nanti bantu dapur.”
Ibu membuka mulut.
Nita mengangkat tangan.
“Tidak apa-apa, Bu. Sudah lama.”
Tapi jelas belum selesai baginya.
“Aku tidak bilang aku dipaksa seumur hidup. Aku memilih tinggal juga. Aku menikah di sini. Aku punya anak di sini. Aku suka masak. Tapi setiap keputusan keluarga selalu terasa seperti hidup Mbak harus dijaga supaya tetap maju, sementara aku dianggap bisa menyesuaikan.”
Aku tidak tahu harus membela diri atau meminta maaf.
Akhirnya aku memilih tidak melakukan keduanya.
“Aku tidak tahu kamu merasa begitu.”
Nita mengangkat bahu.
“Karena aku juga tidak pernah bilang.”
Itulah masalah keluarga kami.
Kami tidak mengatakan hal-hal besar.
Kami mengirim makanan.
Kami membayar tagihan.
Kami datang saat sakit.
Kami membantu pindahan.
Kami meminjamkan uang.
Lalu kami berharap semua tindakan itu otomatis diterjemahkan menjadi kalimat yang tidak pernah diucapkan.
Aku peduli.
Aku capek.
Aku iri.
Aku takut.
Aku merasa tidak dianggap.
Aku butuh bantuan.
Aku tidak setuju.
Semua disimpan sampai berubah menjadi keputusan diam-diam.
Ibu tiba-tiba berkata,
“Ibu kasih Nirmala ke Nita karena Ibu takut.”
Kami bertiga melihatnya.
“Takut apa, Bu?” tanyaku.
“Kalau dapur ditutup begitu saja, Nita tidak punya pegangan.”
Nita menatap lantai.
Ibu melanjutkan.
“Bowo usahanya juga tidak sebagus dulu. Anak mereka masih butuh biaya. Nita sudah terlalu lama kerja di dapur. Kalau harus mulai melamar kerja umur empat puluh lima, Ibu takut.”
Aku mengangguk.
“Kenapa Ibu tidak bilang begitu kepadaku?”
Ibu menatapku.
“Karena kalau Ibu bilang, kamu pasti membantu.”
Aku hampir tersenyum karena ironi itu.
“Bukankah itu yang Ibu mau?”
“Tidak.”
Jawabannya mengejutkanku.
Ibu menggenggam tongkat.
“Ibu tidak mau kamu bilang iya karena kasihan.”
Aku menunggu.
“Ibu ingin Nita punya sesuatu yang benar-benar miliknya.”
“Lalu utangnya?”
Wajah Ibu berubah.
Di situlah rasa bersalah muncul.
“Ibu pikir… nanti kita cari jalan.”
“Kita?”
Ibu diam.
Aku tidak perlu memaksa.
Kami berdua tahu arti “kita” yang dimaksud.
Aku.
Mungkin Rendra sedikit.
Tapi terutama aku.
Ibu menunduk.
“Ibu salah.”
Itu bukan permintaan maaf panjang.
Bukan tangisan.
Bukan pengakuan dramatis.
Hanya tiga kata dari perempuan yang hampir sepanjang hidupnya sulit mengakui keputusan buruk.
Anehnya, justru itu yang membuat tenggorokanku terasa berat.
“Aku juga salah, Bu.”
Ibu mengangkat kepala.
“Aku terlalu sering membantu tanpa bertanya. Lama-lama aku sendiri marah karena semua orang terbiasa.”
Nita mengusap hidung dengan punggung tangan.
“Kalau dari awal Mbak tanya, mungkin aku juga marah.”
“Aku tahu.”
“Mungkin aku bilang Mbak tidak percaya.”
“Mungkin.”
“Dan mungkin kita tetap bertengkar.”
“Pasti.”
Rendra tertawa pendek.
Akhirnya aku ikut tersenyum.
Bukan karena semuanya selesai.
Karena untuk pertama kali kami mengakui bahwa konflik tidak selalu berarti keluarga hancur.
Kadang justru karena terlalu takut bertengkar, kami menciptakan masalah yang jauh lebih mahal.
Penutupan Dapur Lestari memakan waktu hampir dua bulan.
Tidak ada penyelesaian satu hari.
Tidak ada angka yang langsung cocok.
Salah satu pelanggan lama hanya membayar separuh tagihan karena mempermasalahkan pesanan yang terlambat.
Satu pemasok meminta jadwal pembayaran tertulis.
Kami menyetujuinya.
Pak Lilik datang memeriksa peralatan satu per satu.
Ternyata dari enam unit pendingin, tiga sudah di Dapur Nirmala, dua masih di dapur lama, dan satu memang sudah lama rusak.
Freezer tua DL-04 yang membuat semua ini terbuka ternyata masih hidup.
Pak Lilik mengganti karet tutup, memperbaiki relay, dan menggeleng ketika Nita bertanya biaya.
“Kalau dijual dua ratus ribu kemarin, saya yang rugi hati melihatnya.”
Nita tertawa.
“Pak, barangnya punya Mbak Maya sekarang.”
Pak Lilik melihatku.
“Mau dibawa ke Surabaya?”
Aku memandang freezer itu.
“Belum tahu.”
Dapur Nirmala akhirnya membeli empat unit peralatan bekas dari Dapur Lestari secara bertahap.
Bukan harga baru.
Bukan pula harga rongsok.
Kami menyepakati angka yang masih masuk akal supaya usaha Nita tidak langsung kehabisan napas.
Rendra membayar kontribusinya dalam tiga kali transfer seperti yang dijanjikan.
Aku membayar Rp15 juta langsung ke dua pemasok, bukan melalui rekening Nita.
Perubahan kecil.
Tapi penting bagiku.
Setiap rupiah punya tujuan yang jelas.
Biaya Ibu juga berubah.
Sekarang ada satu grup WhatsApp khusus berisi aku, Nita, dan Rendra.
Namanya dibuat Rendra:
Urusan Ibu, Bukan Urusan Dunia
Aku sempat protes nama itu, tapi Ibu tertawa ketika melihatnya, jadi kami biarkan.
Nita mengirim jadwal terapi.
Aku membayar langsung sebagian biaya yang tidak ditanggung BPJS.
Rendra mengambil jadwal kontrol hari Sabtu dua kali sebulan.
Pada bulan pertama dia terlambat satu kali dan Ibu mengomel hampir sepanjang jalan.
Setelah itu dia tidak terlambat lagi.
Yang paling sulit justru hubunganku dengan Nita.
Kami tidak langsung akrab.
Selama hampir tiga minggu, pesan kami hanya soal angka.
Tagihan Pak Harun sudah dibayar Rp7 juta.
Oke.
Servis freezer Rp850 ribu.
Oke.
Ibu kontrol Jumat.
Aku tidak bisa. Mas Rendra.
Tidak ada stiker.
Tidak ada basa-basi.
Suatu malam ia menelepon.
Aku melihat namanya di layar dan sempat berpikir pasti ada masalah uang.
Ternyata dia berkata,
“Mbak, aku mau tanya porsi ayam rica.”
Aku tertawa.
“Kenapa tanya aku?”
“Di rumah sakit Mbak biasa hitung porsi banyak.”
Kami bicara tujuh menit.
Tidak menyentuh utang.
Tidak menyentuh masa lalu.
Setelah menutup telepon, aku sadar mungkin hubungan kami memang harus dibangun ulang dari percakapan-percakapan kecil seperti itu.
Bukan dari satu permintaan maaf besar.
Tiga bulan kemudian, Dapur Lestari resmi berhenti menerima pesanan.
Papan namanya dilepas.
Ibu ingin menyimpannya.
Nita tidak.
Aku akhirnya membawa papan kayu kecil itu ke rumah Ibu dan meletakkannya di gudang.
Utang lama belum lunas seluruhnya.
Masih ada sekitar Rp29 juta yang dicicil Dapur Nirmala sesuai kesepakatan.
Tidak nyaman.
Tapi jelas.
Tidak lagi tersembunyi di balik kalimat “nanti keluarga urus”.
Usaha Nita juga tidak tiba-tiba sukses besar.
Dua bulan pertama setelah mulai membayar cicilan, dia harus menolak membeli oven baru.
Bowo menjual satu mobil operasional lama dari usaha sewanya untuk menutup sebagian utangnya sendiri.
Keponakanku, Salsa, yang tadinya ingin mengambil semester pendek berbayar, menundanya.
Nita tidak pernah menyalahkanku secara langsung.
Tapi suatu sore Ibu bercerita bahwa Nita sempat berkata,
“Kalau Mbak Maya tidak membongkar semuanya, tahun ini mungkin lebih ringan.”
Ibu menjawab,
“Tapi tahun depan mungkin lebih berat.”
Aku tidak tahu apakah Nita menerima jawaban itu.
Aku tidak bertanya.
Ada hal yang tidak perlu diselesaikan pada hari yang sama.
Enam bulan setelah hari penjualan barang bekas itu, aku sedang di rumah Ibu ketika Nita datang membawa dua kotak nasi.
“Pesanan sisa,” katanya.
Aku membuka satu.
Ayam bumbu rujak.
Tempe kering.
Urap.
Menu yang sudah dibuat Ibu sejak kami masih remaja.
“Nirmala sekarang masih pakai ini?” tanyaku.
“Pelanggan suka.”
Ibu yang duduk di teras berkata, “Sambalnya kurang pedas.”
Nita memutar mata.
“Semua sambal menurut Ibu kurang pedas.”
Kami makan di teras.
Tidak ada pembicaraan besar.
Rendra mengirim foto karena sedang mengantar istrinya.
Rama, anakku, menelepon sebentar dari Yogyakarta.
Sore itu terasa biasa.
Dan mungkin justru itulah yang kuinginkan.
Sebelum pulang, aku membuka gudang untuk mengambil kardus.
Di sana masih ada freezer tua DL-04.
Aku tidak pernah jadi membawanya ke Surabaya.
Setelah diperbaiki Pak Lilik, Ibu memakainya untuk menyimpan makanan beku dan beberapa pesanan kecil dari tetangga.
Bukan untuk menghidupkan Dapur Lestari lagi.
Hanya untuk membuat pastel, risoles, atau lauk ketika ia sedang ingin merasa sibuk.
Aku membuka tutupnya.
Karet baru membuatnya menutup rapat.
Di bagian samping, bekas lapisan cat yang menutupi stiker sudah mengelupas.
Tulisan DL-04 masih terlihat.
Begitu pula tulisan Waru.
Aku pernah berpikir harus mengecat ulang bagian itu.
Lalu kuurungkan.
Tidak semua bekas perlu ditutupi.
Nita muncul di pintu gudang.
“Mbak.”
“Hm?”
“Bulan depan cicilan terakhir ke Pak Harun selesai.”
“Bagus.”
Dia memainkan kunci mobilnya.
Lalu berkata tanpa melihatku,
“Yang waktu itu… aku memang seharusnya bilang.”
Aku menunggu.
Tidak ada kalimat lanjutan.
Aku juga tidak meminta.
“Dan aku seharusnya lebih banyak bertanya,” jawabku.
Nita mengangguk.
Itu saja.
Dia pergi ke mobil.
Aku menutup freezer sampai terdengar bunyi karet menempel rapat.
Dulu aku mengira menjadi anak yang bisa diandalkan berarti selalu siap membuka dompet ketika keluarga membutuhkan sesuatu.
Sekarang aku masih membantu Ibu.
Aku masih datang kalau Nita menelepon.
Aku masih ikut menyelesaikan masalah yang memang menjadi tanggung jawabku.
Bedanya, aku tidak lagi menyebut diam sebagai kerukunan.
Dan keluargaku perlahan belajar bahwa kata “tidak” bukan berarti aku berhenti menyayangi mereka.
Aku mematikan lampu gudang.
Dari teras terdengar Ibu memanggil Nita karena kotak makanannya tertinggal.
Nita mengomel sambil kembali mengambilnya.
Aku tersenyum, menutup pintu, lalu memastikan freezer tua itu tetap menyala di dalam.
Bukan sebagai harta karun.
Bukan sebagai bukti kemenangan.
Hanya sebagai benda lama yang akhirnya kami berhenti pura-pura tidak tahu pernah dibawa ke mana.
Terima kasih sudah mengikuti kisah Maya sampai akhir. Menurut kalian, apakah keputusan Maya untuk tetap membantu keluarga tetapi menghentikan kebiasaan membayar tanpa penjelasan sudah adil? Semoga kita semua diberi keluarga yang mau belajar berbicara sebelum masalah kecil berubah menjadi luka bertahun-tahun. Jika kisah ini mengingatkan kalian pada seseorang, silakan bagikan pendapat dengan tenang di komentar.
