BAGIAN 2
Arman menyusulku sampai ke tempat parkir.
Langkahnya cepat.
Aku mendengarnya dari belakang, dan suara sepatu itu membuatku lebih sakit daripada kalau ia memanggil namaku seratus kali.
“Ratih.”
Aku membuka pintu mobil.
“Jangan pulang sendiri dalam keadaan begini.”
Aku menoleh.
“Dalam keadaan bagaimana?”
“Kamu lagi emosi.”
Aku hampir tertawa.

Delapan bulan aku memapahnya ke kamar mandi ketika pinggangnya kambuh.
Dua bulan ia sudah bisa berjalan normal dan memilih membiarkanku tetap mengira ia belum mampu.
Sekarang ia mengkhawatirkan emosiku.
“Aku tidak akan bicara di sini,” kataku.
“Justru kita harus bicara sekarang.”
“Tidak.”
“Aku punya alasan.”
Aku masuk ke mobil.
Sebelum menutup pintu, aku berkata,
“Selama dua bulan kamu punya banyak kesempatan memberi alasan itu.”
Aku pulang bukan untuk menangis.
Aku pulang karena ada satu hal yang tiba-tiba lebih mendesak daripada perasaanku.
Toko.
Setibanya di rumah, kotak surabi masih ada di meja.
Aku memindahkannya ke kulkas tanpa membuka.
Kemudian aku naik ke kamar kerja kecil di lantai dua.
Aku tidak mencari dokumen rahasia.
Aku tidak membuka lemari Arman.
Aku membuka hal yang memang menjadi tanggung jawabku setiap hari.
Catatan stok.
Daftar pelanggan.
Jadwal kendaraan.
Aku mulai dari tiga bulan terakhir.
Satu per satu.
Beberapa pengiriman tercatat keluar tetapi tidak memiliki tanda terima dari pelanggan.
Ada dua belas.
Dari dua belas itu, delapan memakai mobil boks yang kulihat di gudang.
Aku menelepon kepala gudang toko, Pak Yusuf.
“Pak, saya tanya satu hal. Kalau Pak Arman minta barang keluar, selama ini Bapak catat atas instruksi siapa?”
Ia terdiam.
“Bu Ratih…”
“Jawab saja.”
“Pak Arman bilang barang itu untuk percobaan cabang distribusi.”
“Cabang milik toko?”
“Katanya masih bagian keluarga.”
Bukan “milik toko”.
Bagian keluarga.
Dua kata yang terdengar mirip kalau orang sengaja tidak ingin menjelaskan terlalu jauh.
“Kenapa Bapak tidak pernah tanya saya?”
“Pak Arman bilang Ibu sudah setuju.”
Aku memejamkan mata.
“Baik.”
“Bu, saya…”
“Besok semua barang keluar harus pakai persetujuan saya atau Bu Siska dari administrasi. Termasuk kalau yang minta Pak Arman atau Mas Raka.”
Pak Yusuf terdengar gugup.
“Kalau Pak Arman marah?”
“Suruh telepon saya.”
Itu keputusan kecil.
Tetapi aku tahu harganya.
Begitu Arman tahu, perang yang selama ini disembunyikan akan menjadi terang-terangan.
Lima belas menit kemudian, ponselku berdering.
Arman.
Aku biarkan.
Lalu Raka.
Kubiarakan.
Kemudian kakak Arman, Mbak Lilis.
Aku langsung tahu mereka sudah mulai menelepon keluarga.
Aku mengangkat.
“Ti, kamu di rumah?”
“Iya.”
“Arman telepon saya. Katanya kamu salah paham soal usaha Raka.”
Cepat sekali.
“Dia bilang aku salah paham soal apa?”
“Katanya itu sebenarnya rencana supaya Raka punya pegangan.”
“Dengan pelanggan tokoku?”
“Kan kalian keluarga.”
Aku tertawa pendek.
Bukan karena lucu.
Karena kalimat itu terlalu bisa ditebak.
“Mbak, kalau keluarga membuka usaha baru pakai stok usaha lama tanpa memberi tahu orang yang mengurus keuangannya, itu disebut apa?”
Lilis terdiam sebentar.
“Kamu jangan langsung hitam putih.”
“Aku cuma bertanya.”
“Arman juga punya bagian di toko itu.”
“Benar.”
“Berarti dia punya hak memikirkan masa depan anaknya.”
“Benar.”
Lilis terdengar lega, mengira aku mulai setuju.
Aku melanjutkan,
“Tapi dia tidak punya hak berbohong bahwa aku sudah menyetujui pemindahan barang.”
Hening.
Lalu suaranya turun.
“Ratih, jangan dibesar-besarkan. Raka cuma butuh kesempatan. Kamu sendiri tahu selama ini usahanya gagal terus.”
Itulah pertama kalinya aku menyadari bahwa masalahnya bukan hanya Arman dan Raka.
Orang lain sudah tahu ada gudang itu.
Mungkin tidak tahu semua detail.
Tetapi mereka tahu cukup banyak.
“Mbak sudah pernah ke gudangnya?”
Ia tidak menjawab.
“Mbak?”
“Sekali.”
Kepalaku terasa sangat jernih tiba-tiba.
“Kapan?”
“Waktu pembukaan kecil-kecilan.”
“Pembukaan?”
“Jangan pakai nada begitu, Ti.”
Aku melihat kalender meja.
Tanggal dua belas bulan lalu, Arman berkata punggungnya sakit sekali dan meminta aku membatalkan makan malam ulang tahun pernikahan kami.
Malam itu aku makan sendiri di dapur setelah membantunya tidur.
Tanggal dua belas.
Aku membuka WhatsApp dan mencari percakapan.
Ada pesannya pukul enam sore.
Pinggangku lagi parah. Jangan lama-lama di toko ya.
Aku menatap kalimat itu cukup lama.
“Pembukaannya tanggal dua belas?”
Lilis tidak langsung menjawab.
Itu jawabannya.
Aku menutup telepon.
Beberapa menit kemudian, Arman pulang.
Aku mendengar pintu depan dibuka.
Lalu langkah kaki normal.
Bukan langkah lambat yang selama berbulan-bulan kukenal.
Ia tidak lagi berusaha berpura-pura.
Mungkin karena semuanya sudah terbuka.
Ia naik ke kamar kerja.
“Aku tahu kamu blokir pengeluaran gudang.”
“Aku tidak memblokir. Aku mengembalikan prosedur toko.”
“Kita harus bicara.”
Aku menutup buku stok.
“Silakan.”
Arman duduk di kursi seberang.
“Aku memang salah tidak bilang pemulihanku sudah jauh lebih baik.”
“Kenapa?”
“Karena setiap kali soal Raka dibahas, kamu langsung defensif.”
Aku menatapnya.
“Jadi kamu berpura-pura sakit karena aku defensif?”
“Aku tidak berpura-pura dari awal.”
“Aku tidak bilang dari awal.”
Ia mengusap wajah.
“Waktu aku mulai membaik, rencana gudang sudah jalan.”
“Dan kalau aku tahu kamu sehat, aku akan lebih banyak datang ke toko.”
Ia diam.
Aku mencondongkan tubuh.
“Benar?”
“Ratih, dengar dulu.”
“Benar atau tidak?”
“Ya.”
Satu kata.
Tidak keras.
Tetapi cukup.
Aku menyandarkan punggung.
“Apa rencanamu?”
“Denar dibangun supaya Raka bisa pegang distribusi luar kota.”
“Dengan pelanggan kita.”
“Sebagian.”
“Dengan stok kita.”
“Sementara.”
“Dengan kendaraan kita.”
“Kita keluarga, Ti.”
Aku hampir menjawab, tetapi memilih diam.
Ia melanjutkan.
“Usia kita sudah lewat lima puluh. Sampai kapan kamu mau pegang semuanya sendiri?”
“Aku tidak pegang semuanya sendiri. Aku bekerja.”
“Kamu tahu maksudku.”
“Tidak. Jelaskan.”
Arman mulai kehilangan kesabaran.
“Raka anakku. Dia harus punya masa depan.”
“Dan aku menghalanginya?”
“Kamu selalu bilang dia belum siap.”
“Karena setiap usaha yang dia mulai, dia tinggalkan begitu mulai sulit.”
“Makanya kali ini aku bantu.”
“Bantu dengan memindahkan pelanggan kita diam-diam?”
“Kalau aku minta izin, kamu pasti menolak.”
Aku terdiam.
Ada sesuatu yang aneh pada kalimat itu.
Bukan karena isinya.
Karena ia mengatakannya tanpa rasa bersalah.
Seolah penolakanku terhadap sesuatu menjadi alasan yang cukup untuk tidak memberiku pilihan.
“Ada berapa pelanggan yang sudah dipindahkan?”
“Belum banyak.”
“Berapa?”
“Ratih.”
Aku berdiri.
“Kalau kamu tidak jawab, besok aku telepon satu-satu.”
Ia menatapku beberapa detik.
“Dua puluh enam.”
Lebih banyak daripada nama di papan.
Aku merasakan kuku jariku menekan telapak tangan.
“Omzet?”
“Belum stabil.”
“Berapa?”
“Sekitar seratus tujuh puluh juta tiga bulan terakhir.”
Aku tidak berteriak.
Justru aku merasa lebih tenang.
“Dan uangnya masuk ke Raka.”
“Modal juga keluar dari kita.”
“Berapa?”
“Tidak semua dicatat sebagai modal.”
Aku menatapnya lama.
“Berarti kamu sendiri tidak tahu berapa.”
Arman berdiri.
“Bukan itu masalah utamanya.”
“Lalu apa?”
Ia berjalan ke jendela.
Untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu selain pembelaan di wajahnya.
Ketakutan.
“Raka punya utang.”
Aku tidak terkejut.
Aku hanya berkata,
“Berapa?”
“Sekitar tiga ratus dua puluh juta.”
“Dari usaha sebelumnya?”
“Sebagian.”
“Sebagian lagi?”
“Pinjaman pribadi.”
“Jadi Denar dibuat untuk membayar utangnya?”
“Untuk membuat dia punya arus kas.”
Aku menatap suamiku.
Akhirnya penjelasan sementara muncul.
Aku pikir aku sudah memahami semuanya.
Arman takut anaknya gagal lagi.
Ia memindahkan pelanggan dan barang dari usaha kami agar Raka langsung mempunyai pemasukan.
Salah.
Tetapi masih bisa kupahami sebagai kesalahan seorang ayah.
Kemudian Arman mengatakan sesuatu yang membuat penjelasan itu runtuh.
“Kalau Denar gagal, Raka tidak punya tempat lagi.”
“Maksudmu?”
Ia menatap lantai.
Aku tahu kalimat berikutnya tidak akan ringan.
“Rumahnya sudah diagunkan.”
Aku berdiri diam.
“Rumah yang uang mukanya kita bantu?”
Ia mengangguk.
“Dan kamu tahu?”
“Sudah lama.”
“Berapa lama?”
“Hampir setahun.”
Sebelum kecelakaan.
Sebelum gudang.
Sebelum semua kebohongan tentang pemulihan.
Aku menatap wajah laki-laki yang sudah hidup bersamaku dua puluh empat tahun.
Tiba-tiba kecelakaannya tidak lagi menjadi awal masalah.
Masalah itu sudah ada jauh sebelumnya.
“Jadi gudang ini bukan ide yang muncul setelah kamu kecelakaan.”
Arman tidak menjawab.
“Man.”
Ia mengangkat mata.
“Bukan.”
Aku memikirkan ulang semuanya.
Kecelakaan hanya memberi kesempatan.
Kesempatan untuk membuatku sibuk.
Kesempatan untuk menjauhkan aku dari operasional.
Kesempatan untuk melakukan sesuatu yang sudah direncanakan.
“Apa lagi yang belum aku tahu?”
Arman diam.
Aku menunggu.
Lalu dari bawah terdengar pintu terbuka.
Raka masuk tanpa mengetuk.
Ia naik dengan wajah tegang.
Begitu melihatku, ia berkata,
“Tante, tolong jangan hentikan pengiriman besok.”
“Kenapa?”
“Karena kalau barang besok tidak jalan, kami bisa kehilangan kontrak.”
“Kontrak dengan siapa?”
Raka menoleh kepada ayahnya.
Sekali lagi, tatapan mereka mengatakan lebih banyak daripada jawaban.
Aku berdiri di antara keduanya.
“Kontrak apa?”
Arman berkata,
“Ratih…”
Raka memotong,
“Dengan tiga toko di Tasik dan satu distributor Garut.”
“Atas nama Denar?”
“Ya.”
“Jaminan stok dari mana?”
Tidak ada yang menjawab.
Aku menatap Raka.
“Stok dari mana?”
Ia berkata pelan,
“Dari toko.”
Aku mengangguk.
“Tanpa persetujuanku.”
“Tante, kalau ini berhenti sekarang, aku habis.”
Untuk pertama kalinya, ia tidak terdengar menantang.
Ia terdengar takut.
Dan ketakutan itu membuatku melihat satu hal lain.
Arman bukan satu-satunya orang yang punya sesuatu untuk diselamatkan.
Raka juga.
Tetapi masih ada seseorang yang belum hadir di ruangan itu.
Orang yang namanya muncul di catatan kendaraan beberapa kali sebagai pemberi instruksi ketika Arman seharusnya sedang “istirahat di rumah”.
Namanya: Nisa.
Anak perempuanku sendiri.
Besok paginya, sebelum membuka toko, aku meneleponnya.
“Nis, Mama mau tanya sesuatu.”
“Ya, Ma?”
“Kamu tahu soal Denar?”
Hening.
Kemudian terdengar napas panjang dari seberang.
“Ma…”
Hanya dari cara ia memanggilku, aku tahu jawabannya.
Anakku sendiri sudah tahu.
Dan saat itu aku mengerti, kebohongan ini tidak dibangun oleh satu orang.
Ia dipelihara oleh sebuah keluarga yang sudah sepakat bahwa aku adalah orang terakhir yang perlu diajak bicara.
Kalau orang-orang terdekatmu berbohong karena yakin kamu akan menolak keputusan mereka, menurutmu itu masih bisa disebut melindungi keluarga?
BAGIAN 3
Aku tidak langsung memarahi Nisa.
Itu justru membuatnya semakin gelisah.
“Sejak kapan kamu tahu?” tanyaku.
Nisa terdiam cukup lama.
“Tiga bulan lebih.”
Suaranya kecil.
Anakku berusia dua puluh sembilan tahun. Ia bekerja sebagai staf administrasi di perusahaan logistik di Cimahi, sudah menikah, dan jarang ikut campur urusan toko kecuali aku meminta bantuan.
Karena itu namanya di catatan kendaraan membuatku lebih bingung daripada marah.
“Kamu pernah ke gudang?”
“Pernah.”
“Berapa kali?”
“Beberapa.”
“Kenapa?”
“Papa minta bantu atur pengiriman awal.”
Aku meletakkan bolpoin.
Aku sedang duduk di kantor kecil lantai dua toko. Di bawah, suara pintu rolling baru dibuka oleh pegawai.
“Apa Papa bilang tentang aku?”
Nisa tidak menjawab.
“Nis.”
“Papa bilang Mama tahu rencananya, cuma belum setuju cara pembagiannya.”
Aku memejamkan mata.
“Dan kamu percaya?”
“Awalnya.”
“Lalu?”
“Waktu Papa mulai bisa nyetir lagi, aku tanya kenapa Mama masih antar terapi.”
Aku membuka mata.
“Kapan Papa mulai nyetir?”
“Sekitar dua bulan setengah lalu.”
Jadi bahkan tanggal pemulihannya lebih lama daripada pengakuan Arman.
“Apa jawabannya?”
“Papa bilang jangan ikut campur.”
Aku tertawa pelan.
“Dan kamu tetap diam.”
Nisa mulai menangis.
Aku tidak memotong.
Aku menunggu sampai ia bicara lagi.
“Aku salah, Ma.”
“Kenapa kamu diam?”
“Karena aku takut kalau Mama tahu, Mama sama Papa bertengkar besar.”
“Jadi kamu memilih membiarkan Mama terus merawat orang yang sudah bisa menyetir?”
“Ma…”
“Jawab.”
“Iya.”
Satu kata dari anak sendiri bisa mengubah bentuk rasa sakit.
Aku tidak lagi hanya merasa dikhianati sebagai istri.
Aku merasa selama berbulan-bulan peranku di rumah sudah diputuskan tanpa persetujuanku.
Aku adalah orang yang harus menjaga suasana.
Orang yang akan marah kalau tahu.
Maka solusi keluarga adalah tidak memberitahuku.
Ironisnya, ketakutan mereka pada kemarahanku justru membuat mereka merasa berhak memperlakukanku seperti orang yang tidak cukup dewasa untuk menerima kenyataan.
“Apa lagi yang kamu tahu?”
“Aku tidak tahu soal utang Kak Raka sampai bulan lalu.”
“Kamu tahu pelanggan dipindahkan?”
“Beberapa.”
“Stok?”
“Papa bilang dihitung sebagai modal bersama.”
Aku menatap layar komputer.
“Bersama siapa?”
Nisa terdiam.
“Papa bilang Denar nanti akan jadi usaha keluarga.”
Itu kalimat yang kutunggu tanpa tahu aku sedang menunggunya.
“Usaha keluarga.”
“Iya.”
“Apakah Papa pernah bilang toko ini nanti diapakan?”
Tidak ada jawaban.
Aku bisa mendengar suara kendaraan lewat dari sisi Nisa.
“Nis.”
“Papa pernah bilang mungkin tahun depan Mama sebaiknya mulai mengurangi kegiatan.”
Tanganku berhenti di atas meja.
“Kenapa?”
“Katanya Mama sudah terlalu capek.”
Aku hampir tertawa.
Orang yang membuatku bekerja dua kali lebih banyak selama delapan bulan ternyata juga menggunakan kelelahan itu sebagai bukti bahwa aku harus mundur.
“Lanjutkan.”
“Katanya nanti toko utama bisa lebih banyak dipegang Papa dan aku, distribusinya Kak Raka.”
Aku menelan ludah.
“Dan Mama?”
“Papa bilang Mama bisa fokus ke rumah.”
Ada kalimat yang terlalu besar untuk langsung dirasakan.
Mereka masuk dulu ke kepala sebagai suara.
Baru beberapa detik kemudian maknanya menyentuh tubuh.
Aku melihat sekeliling kantor.
Lemari arsip yang kubeli bekas dua puluh tahun lalu.
Kalkulator besar yang tombol nolnya sudah pudar.
Foto toko pertama kami.
Buku pelanggan yang sebagian kutulis dengan tangan ketika belum ada sistem komputer.
Usaha itu memang dibangun bersama Arman.
Tetapi gagasan bahwa aku bisa begitu saja “fokus ke rumah” bukan sekadar pembagian kerja.
Itu penghapusan.
Pelan-pelan.
Dibungkus sebagai kepedulian.
“Kenapa kamu tidak bilang padaku?”
Nisa menangis lebih keras.
“Aku pikir Papa cuma bicara karena khawatir sama Mama.”
Aku mengusap kening.
“Aku perlu waktu.”
“Ma, aku bisa datang.”
“Tidak sekarang.”
“Mama marah sama aku?”
Aku menatap foto keluarga di rak.
“Marah.”
Ia terisak.
“Tapi Mama lebih marah karena selama ini Mama mengajarkan kamu bahwa menghindari pertengkaran itu lebih penting daripada mengatakan hal yang benar.”
Setelah telepon berakhir, aku duduk sendirian hampir sepuluh menit.
Aku tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Nisa.
Sejak kecil ia melihat aku menyelesaikan hampir semua ketegangan dengan kalimat yang sama.
Sudahlah.
Tidak usah diperpanjang.
Mama urus.
Kalimat-kalimat itu terdengar damai.
Tetapi kalau terlalu sering diucapkan, orang lain belajar sesuatu.
Bahwa aku akan mengalah setelah keberatan.
Bahwa aku akan memperbaiki akibat pilihan mereka.
Bahwa aku tidak akan pergi.
Aku berdiri.
Hari itu aku tidak langsung membuka catatan bank.
Aku melakukan sesuatu yang lebih sederhana.
Aku turun ke lantai toko.
“Pak Yusuf.”
Kepala gudang menghampiri.
“Ya, Bu.”
“Mulai hari ini, pisahkan stok yang sudah punya surat jalan Denar dari stok toko.”
Ia tampak bingung.
“Dipisah bagaimana?”
“Jangan keluarkan apa pun. Hitung jumlahnya. Bu Siska catat.”
“Kalau Mas Raka datang?”
“Suruh bicara dengan saya.”
Deni yang sedang menyusun gulungan kain menatapku.
Aku menghampirinya.
“Den, kamu tahu pelanggan mana yang sudah ditawari pindah?”
Ia ragu.
“Beberapa, Bu.”
“Bikin daftar. Jangan hubungi mereka dulu.”
“Baik.”
Aku tidak ingin merebut kembali semuanya dengan panik.
Aku ingin tahu seberapa luas masalahnya.
Menjelang siang, Arman datang.
Tanpa tongkat.
Beberapa pegawai menoleh.
Aku bisa melihat rasa malu di wajahnya.
Bukan rasa malu karena ketahuan berjalan.
Rasa malu karena para pegawai sekarang tahu bahwa cerita mengenai kondisi kesehatannya tidak sepenuhnya benar.
Ia masuk ke kantor.
“Aku dengar kamu tahan semua stok.”
“Aku tahan barang yang statusnya tidak jelas.”
“Kontrak Raka bisa gagal.”
“Kontrak Raka bukan kontrak toko.”
“Modalnya dari toko.”
“Itu justru masalahnya.”
Arman menutup pintu.
“Ratih, jangan hukum Raka karena kamu marah sama aku.”
“Aku tidak menghukum siapa pun.”
“Kamu tahu kalau barang tidak dikirim, dia kena penalti.”
“Berapa?”
“Sekitar dua puluh delapan juta.”
“Bagus.”
Ia menatapku tajam.
“Maksudmu?”
“Sekarang setidaknya aku tahu ada harga nyata dari keputusan yang dibuat tanpa persetujuanku.”
Arman menggerakkan rahang.
“Ini bukan caramu biasanya.”
Aku menatapnya.
“Itu mungkin sebabnya kalian berani melakukan ini.”
Ia tidak langsung membalas.
Aku membuka sebuah map tipis, bukan dokumen rahasia, hanya hasil hitungan pagi itu.
“Selama tiga bulan, stok senilai sekitar dua ratus tiga belas juta keluar ke Denar. Itu harga pokok, bukan harga jual. Kendaraan toko dipakai empat puluh tiga kali. Sopir dibayar dari toko. Solar dari toko. Enam pelanggan sudah berhenti pesan lewat kita karena Raka menawarkan harga lebih rendah.”
Arman duduk.
“Aku akan ganti.”
“Kapan?”
“Begitu Denar stabil.”
“Dengan uang dari pelanggan yang dipindahkan dari sini?”
Ia tidak menjawab.
Aku mendorong kertas ke arahnya.
“Ini bukan investasi.”
“Lalu menurutmu apa?”
“Subsidi diam-diam.”
“Aku hanya mau memberi Raka kesempatan.”
“Kesempatan seharusnya datang dengan risiko yang dia tanggung sendiri.”
“Dia anakku.”
“Aku tahu.”
“Kamu tidak akan mengerti.”
Kalimat itu lebih tajam daripada teriakan.
Aku bersandar.
“Karena dia bukan anak kandungku?”
Arman mengalihkan mata.
Dua puluh empat tahun menikah, kami hampir tidak pernah mengatakan hal itu secara langsung.
Raka selalu menjadi anaknya.
Nisa anak kami.
Aku tidak pernah meminta Arman memilih.
Tetapi rupanya selama ini ia menyimpan keyakinan bahwa ada satu wilayah yang tidak akan pernah benar-benar kupahami.
“Aku tidak bilang begitu,” katanya.
“Tapi kamu memikirkannya.”
“Ratih.”
“Selama kuliahnya siapa yang membayar ketika ibunya tidak bisa bantu?”
“Kita.”
“Ketika menikah?”
“Kita.”
“Waktu usaha kopinya gagal?”
Arman menekan bibir.
“Kita.”
“Ketika dia menunggak cicilan mobil?”
“Kamu bantu.”
“Aku.”
Aku menunjuk dadaku.
“Jangan sekarang berdiri di depanku dan bilang aku tidak akan mengerti hanya karena aku bukan orang yang melahirkannya.”
Arman menunduk.
Aku tidak merasa menang.
Aku merasa lelah.
“Apa yang sebenarnya kamu takutkan?”
Ia mengusap kedua telapak tangan.
“Aku takut Raka tidak pernah berdiri sendiri.”
“Lalu kenapa setiap kali dia jatuh, kamu mengangkatnya sebelum dia belajar berdiri?”
Ia menatapku.
Aku melanjutkan,
“Dan kenapa aku yang harus menjadi lantainya?”
Arman bangkit.
“Aku tidak mau bicara kalau kamu sudah pakai kata-kata seperti itu.”
Ia membuka pintu.
Aku berkata sebelum ia keluar,
“Sore ini jam empat, datang ke gudang Denar. Bawa Raka.”
Ia berhenti.
“Untuk apa?”
“Kita hitung apa yang milik toko dan apa yang milik dia.”
“Jangan buat pegawai lihat masalah keluarga.”
Aku hampir tersenyum.
“Masalah ini sudah melibatkan pegawai sejak kalian menyuruh mereka memindahkan barang.”
Jam empat kurang sepuluh aku tiba di gudang Denar.
Raka sudah ada di sana.
Arman datang lima menit kemudian.
Aku membawa Bu Siska, staf administrasi yang sudah bekerja bersamaku sebelas tahun, dan Pak Yusuf.
Bukan untuk menjadi saksi drama.
Untuk menghitung barang.
Raka terlihat kesal.
“Tante sengaja bawa orang toko?”
“Mereka perlu tahu stok mana yang harus kembali.”
“Kalau dikembalikan semua, aku tidak bisa jalan.”
Aku meletakkan clipboard di meja.
“Kita belum bicara semua.”
Arman berdiri di sisi Raka.
“Ratih, minimal selesaikan pesanan yang sudah masuk.”
“Bisa.”
Raka langsung mengangkat kepala.
“Tapi,” lanjutku, “Denar bayar barang yang dipakai. Harga sesuai harga pokok. Kendaraan sewa sendiri. Sopir sendiri.”
Wajahnya jatuh.
“Tante tahu aku belum punya uang sebanyak itu.”
“Kalau tidak punya modal, kenapa menerima kontrak?”
“Karena Papa bilang…”
Ia berhenti.
Aku menoleh kepada Arman.
“Nah.”
Arman berkata cepat,
“Aku bilang toko bisa bantu beberapa bulan.”
“Toko atau aku?”
Ia diam.
Aku berjalan ke papan putih yang kemarin kupotret.
Tulisan PINDAH DENAR masih ada.
Aku menunjuk nama-nama pelanggan.
“Siapa yang membuat daftar ini?”
Raka mengangkat tangan sedikit.
“Aku.”
“Siapa yang memilih pelanggan?”
“Papa.”
Arman menghela napas.
“Pelanggan grosir luar kota memang lebih cocok dikelola Raka.”
“Kenapa?”
“Karena kita perlu regenerasi.”
“Regenerasi berarti mengajari.”
Aku menunjuk tulisan merah.
“Bukan memindahkan diam-diam.”
Raka mengetuk meja dengan jari.
“Tante memang dari dulu tidak percaya aku.”
Akhirnya.
Kalimat yang sebenarnya ada di bawah semua ini.
Aku menatapnya.
“Kamu benar.”
Arman langsung menyela.
“Ratih.”
Aku mengangkat tangan.
“Aku memang tidak percaya kamu mengelola uang besar tanpa pengawasan.”
Raka tertawa pahit.
“Nah, kan.”
“Karena kamu sudah beberapa kali meninggalkan kewajiban ketika keadaan sulit.”
“Itu dulu.”
“Utang tiga ratus dua puluh juta itu dulu?”
Ia diam.
“Aku tidak mengatakan kamu tidak bisa berubah.”
Aku menurunkan suara.
“Tapi perubahan bukan sesuatu yang Papa kamu bisa hadiahkan dengan mengambil pelanggan orang lain.”
Raka menatap lantai.
“Rumahku bisa disita.”
Nada suaranya berbeda.
Tidak marah.
Takut.
“Aku tahu.”
Ia mengangkat wajah cepat.
“Papa bilang?”
“Ya.”
“Kalau Denar berhenti…”
“Rumahmu tetap bermasalah.”
Ia tidak menjawab.
“Jadi kita berhenti berpura-pura bahwa mengambil pelanggan toko akan menyelesaikan akar masalah.”
Arman berkata,
“Lalu kamu maunya apa? Kita biarkan dia kehilangan rumah?”
Aku menatap suamiku.
“Inilah masalah kita selama bertahun-tahun.”
“Apa?”
“Setiap kali ada konsekuensi, kamu mencari siapa yang bisa menanggungnya untuk Raka.”
“Dia anakku!”
“Dan karena dia anakmu, kamu tidak pernah membiarkan dia benar-benar dewasa.”
Raka tersentak.
“Jangan bicarakan aku seolah aku tidak ada.”
“Bagus,” kataku. “Berarti kamu bisa jawab sendiri.”
Aku menghadapnya.
“Kamu mau mempertahankan Denar?”
Ia terdiam.
“Jawab.”
“Mau.”
“Kalau begitu usaha itu harus menjadi usahamu, bukan saluran bocor dari toko kami.”
“Aku tidak punya modal.”
“Jual mobil.”
Wajahnya berubah.
“Apa?”
“Mobilmu masih cukup bagus.”
“Tapi aku perlu kendaraan.”
“Beli motor bekas.”
Ia menatapku seolah aku mengusulkan sesuatu yang kejam.
Aku melanjutkan,
“Kurangi gudang. Ambil pesanan yang sanggup kamu penuhi. Berhenti menawarkan harga di bawah toko hanya untuk mengambil pelanggan. Bayar stok yang sudah kamu pakai secara bertahap.”
Arman langsung berkata,
“Ratih, jangan keterlaluan.”
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
“Dia punya anak dua.”
“Aku tahu.”
“Biaya sekolah.”
“Aku tahu.”
“Cicilan rumah.”
“Aku juga tahu.”
“Lalu kamu masih suruh jual mobil?”
“Man.”
Aku menatap suamiku tepat di mata.
“Sudah dua puluh empat tahun aku ikut membayar harga dari setiap orang yang kamu bilang sedang kesulitan.”
Ia terdiam.
“Aku bukan mengatakan kita berhenti peduli.”
Aku menepuk kertas di tanganku.
“Aku mengatakan mulai sekarang bantuan punya batas.”
Raka menggeleng.
“Tante gampang ngomong karena Tante punya toko.”
Aku menatapnya.
“Toko ini dulu ukurannya empat kali lima meter.”
Ia tidak menjawab.
“Papa kamu pernah tidur di lantai kios karena kami tidak punya uang untuk sewa gudang. Aku pernah mengantar kain pakai angkot sambil bawa Nisa yang masih bayi.”
Raka memalingkan muka.
“Jangan bicara seolah toko ini turun dari langit.”
Arman tiba-tiba berkata,
“Sudah.”
Nada suaranya keras.
Semua diam.
Ia menatapku.
“Yang kamu mau sebenarnya apa?”
Pertanyaan itu mengejutkanku karena jawabannya ternyata sederhana.
“Aku mau hakku untuk ikut menentukan hidupku sendiri.”
Arman mengerutkan kening.
“Apa maksudmu?”
“Kalian memutuskan aku harus mulai mundur dari toko.”
Wajahnya berubah.
Aku tahu Nisa tidak seharusnya mengatakan itu kepadaku.
“Siapa bilang?”
“Nisa.”
Ia mengusap wajah.
“Dia salah menangkap.”
“Jadi kamu tidak pernah bilang aku sebaiknya fokus di rumah?”
Arman diam.
Raka menatap ayahnya.
Aku melanjutkan,
“Kamu kecelakaan. Aku mengambil hampir semua pekerjaan. Aku berhenti mengembangkan cabang. Aku membatalkan perjalanan. Aku merawatmu.”
Arman berkata,
“Aku tahu.”
“Tidak. Kamu memanfaatkan itu.”
“Ratih…”
“Ketika kamu mulai sehat, kamu tidak memberitahuku karena kalau aku tahu, aku akan kembali punya waktu.”
Ia diam.
“Kamu perlu aku lelah.”
Pak Yusuf menunduk.
Bu Siska menatap catatannya.
Aku tidak peduli lagi siapa yang mendengar.
“Kamu perlu aku sibuk cukup lama supaya Denar tumbuh tanpa pertanyaanku.”
Arman berkata pelan,
“Aku cuma ingin semuanya sudah terbukti sebelum bicara.”
“Terbukti apa?”
“Bahwa Raka bisa.”
“Tapi selama tiga bulan dia bisa karena toko menopang semuanya.”
Arman tidak menjawab.
Aku berjalan beberapa langkah.
Di salah satu sudut gudang ada kursi plastik biru dan tongkat lipat milik Arman.
Tongkat itu bersandar pada dinding.
Tampak bersih.
Hampir tidak pernah dipakai.
Aku menunjuknya.
“Kenapa tongkat itu ada di sini?”
Raka menjawab spontan,
“Papa bawa kalau nanti ada yang dari toko datang.”
Arman langsung menoleh tajam kepadanya.
Semua orang diam.
Itulah satu kalimat kecil yang akhirnya menyambungkan semuanya.
Bukan hanya aku yang dibohongi di rumah.
Ia sengaja mempertahankan penampilan sakit jika ada pegawai yang melihat.
Arman menutup mata.
Raka sadar ia bicara terlalu banyak.
Aku tidak merasakan ledakan emosi.
Yang muncul justru rasa sedih yang dalam dan dingin.
“Jadi direncanakan.”
Arman menggeleng.
“Tidak seperti yang kamu pikir.”
“Ada tongkat cadangan di gudang untuk dipakai kalau pegawai toko datang.”
Ia tidak bisa menjawab.
“Bagian mana yang salah dari pikiranku?”
Tidak ada jawaban.
Aku mengambil napas panjang.
“Mulai besok Denar tidak boleh memakai stok toko tanpa pembelian.”
Arman menatapku.
“Ratih.”
“Pelanggan yang sudah menandatangani pesanan dengan Denar boleh dilayani sampai satu bulan, tapi barang dibayar.”
“Dia tidak sanggup.”
“Berarti jumlah pesanan dikurangi.”
“Kalau ada pelanggan yang pindah sukarela?”
“Silakan.”
Raka tampak kaget.
Aku menatapnya.
“Aku tidak punya hak memaksa pelanggan tinggal. Tapi kamu tidak boleh mengambil data harga internal, daftar diskon, kendaraan, pegawai, dan stok toko secara gratis.”
Untuk pertama kalinya sejak percakapan dimulai, ia mengangguk sedikit.
Aku menoleh kepada Arman.
“Dan mulai hari ini kamu tidak lagi punya wewenang tunggal untuk memindahkan stok.”
Wajahnya mengeras.
“Toko itu juga milikku.”
“Benar.”
“Jadi kamu tidak bisa…”
“Aku tidak mengambil bagianmu.”
Aku memotong.
“Aku mengubah prosedur operasional karena kamu sudah menyalahgunakan kepercayaan.”
Arman menatapku beberapa detik.
“Kamu mau mempermalukanku di depan pegawai?”
Aku menggeleng.
“Tidak.”
Aku menunjuk gudang.
“Kamu sudah melakukan itu sendiri ketika membuat pegawai berbohong kepada istrimu.”
Ia mengambil kunci mobil dari meja.
“Kalau begini caranya, aku tidak mau bicara.”
Ia pergi.
Aku membiarkannya.
Dulu aku pasti menyusul.
Dulu aku akan takut ia marah seharian.
Dulu mungkin aku akan melunakkan keputusan agar ia pulang tenang.
Hari itu aku tetap di gudang.
Kami menghitung sampai hampir pukul delapan malam.
Saat selesai, nilai stok milik toko yang masih berada di sana Rp86 juta.
Sebagian barang yang sudah terjual belum dibayar kepada toko.
Aku membuat jadwal pembayaran.
Raka duduk di seberangku.
Tidak ada lagi Arman di sampingnya.
Mungkin itu pertama kalinya dalam bertahun-tahun ia harus bicara langsung tentang akibat pilihannya.
“Aku tidak bisa bayar besar setiap bulan,” katanya.
“Berapa yang sanggup?”
Ia menghitung.
“Rp8 juta.”
“Mulai bulan depan.”
“Kalau penjualan jelek?”
“Kita tinjau lagi berdasarkan angka, bukan cerita.”
Ia mengangguk.
Kemudian ia bertanya,
“Tante benar-benar mau biarkan rumahku kena?”
Aku menatapnya.
“Aku tidak mau.”
“Terus?”
“Tapi aku juga tidak akan melunasi utangmu.”
Ia terlihat kecewa.
“Kalau rumah itu harus dijual untuk menyelesaikan pinjaman sebelum disita, jual.”
Wajahnya pucat.
“Itu rumah anak-anak.”
“Anak-anakmu butuh orang tua yang bertanggung jawab lebih daripada rumah yang dipertahankan dengan utang baru.”
Raka menunduk.
Aku tidak tahu apakah ia menerima kalimat itu.
Aku juga tidak membutuhkan ia menerimanya malam itu.
Di rumah, Arman tidur di kamar bawah.
Aku tidur di atas.
Bukan sebagai hukuman.
Aku hanya tidak ingin berbaring di sampingnya.
Keesokan paginya ia menungguku di dapur.
Tidak ada tongkat.
Aku membuat kopi untuk diriku sendiri.
Ia berkata,
“Kamu mau begini terus?”
“Begini bagaimana?”
“Seolah kita orang asing.”
Aku duduk.
“Sekarang aku memang merasa tidak mengenal beberapa bagian dirimu.”
Arman menarik kursi.
“Aku salah.”
Itu pertama kalinya ia mengatakannya tanpa tambahan.
Aku menunggu.
“Aku salah bohong soal kondisiku.”
Aku tetap diam.
“Aku salah pindahkan barang tanpa bicara.”
Ia menarik napas.
“Tapi soal Raka…”
“Nah.”
Aku mengangkat tangan.
“Di situlah kita belum selesai.”
“Aku tetap tidak bisa membiarkan dia jatuh.”
“Aku tidak meminta kamu berhenti menjadi ayah.”
“Lalu?”
“Aku meminta kamu berhenti menggunakan milikku sebagai bantalan setiap kali dia jatuh.”
Arman menatap meja.
Aku melanjutkan,
“Kalau kamu mau membantu Raka dari uang pribadimu, setelah kebutuhan rumah dan kewajiban bersama selesai, kita bicarakan. Tapi kamu tidak boleh lagi menjanjikan aset usaha, stok, kendaraan, atau pelanggan tanpa persetujuanku.”
“Dan kalau aku tidak setuju?”
“Kalau kamu ingin menjalankan usaha terpisah dengannya, kita pisahkan porsi usaha kita secara jelas.”
Ia langsung menatapku.
“Kamu mau pisah bisnis?”
“Kalau perlu.”
“Maksudmu cerai?”
“Jangan melompat.”
Aku menatapnya lurus.
“Aku sedang bicara soal toko.”
Ia terdiam.
Untuk pertama kalinya aku melihat ketakutannya secara utuh.
Bukan hanya takut Raka gagal.
Ia takut kehilangan tempatnya sendiri.
Selama bertahun-tahun, Arman dikenal keluarga sebagai orang yang “punya toko tekstil”.
Ia yang berbicara di acara keluarga.
Ia yang memberi kesan tahu semua urusan.
Padahal lima belas tahun terakhir, hampir seluruh sistem keuangan dan operasional ada di tanganku.
Mungkin diam-diam ia merasa semakin menjadi orang kedua dalam usaha yang dulu kami mulai bersama.
Dan ketika kecelakaan membuatnya benar-benar bergantung kepadaku, rasa itu semakin buruk.
“Apa kamu merasa aku mengambil toko ini darimu?” tanyaku.
Ia tidak menjawab.
“Man.”
“Kadang.”
Jawabannya pelan.
Aku tidak menyangka.
Ia menatap cangkir.
“Kalau ada masalah, pegawai cari kamu.”
“Karena aku pegang operasional.”
“Pemasok telepon kamu.”
“Karena aku yang bayar.”
“Anak-anak juga kalau butuh sesuatu cari kamu.”
Aku menghela napas.
“Jadi ini soal itu?”
“Bukan cuma.”
“Tapi ada.”
Ia mengangguk.
Aku mulai melihat emotional truth yang lebih pahit daripada sekadar uang.
Arman tidak hanya ingin menyelamatkan Raka.
Ia ingin kembali merasa menjadi orang yang menentukan arah keluarga.
Alih-alih mengatakan ia merasa kehilangan peran, ia membangun sistem baru di mana ia kembali menjadi pusat.
Raka bergantung padanya.
Nisa diminta membantu.
Pegawai menerima instruksinya.
Aku ditempatkan di rumah merawatnya.
“Kenapa tidak pernah bicara?”
Arman tertawa pendek.
“Mau bilang apa? Bahwa suamimu minder karena istrinya lebih dibutuhkan di toko?”
Aku tidak menjawab.
Ia mengusap wajah.
“Aku malu.”
Untuk pertama kalinya, aku memahami motifnya tanpa membenarkannya.
Itu penting.
Memahami tidak sama dengan memaafkan.
“Aku mungkin ikut membuatmu merasa begitu,” kataku.
Arman mengangkat wajah.
“Aku sering mengambil alih karena lebih cepat.”
Ia diam.
“Aku juga jarang bertanya kamu mau pegang bagian apa. Kalau ada kesalahan, aku bereskan. Kalau ada masalah keluarga, aku bayar. Lama-lama aku juga membuat semua orang bergantung padaku.”
Arman hampir tersenyum sedih.
“Tapi itu tidak membuat apa yang kamu lakukan jadi benar.”
Senyum itu hilang.
“Aku tahu.”
“Dan aku belum bisa percaya hanya karena kamu bilang tahu.”
Ia mengangguk pelan.
Dua hari kemudian, kami mengadakan pertemuan kecil di kantor toko.
Bukan acara keluarga besar.
Tidak ada kakak-adik yang datang memberi ceramah.
Hanya aku, Arman, Raka, Nisa, Bu Siska, dan Pak Yusuf.
Aku sengaja tidak membawa persoalan ini ke grup WhatsApp keluarga.
Aku tidak ingin mempermalukan siapa pun.
Aku hanya ingin sistemnya berubah.
Aku membacakan aturan operasional baru.
Semua pengeluaran stok harus tercatat.
Kendaraan toko tidak boleh digunakan usaha lain.
Data pelanggan hanya boleh diakses staf yang memang bekerja untuk toko.
Setiap keputusan investasi di atas jumlah tertentu harus disetujui kami berdua.
Denar diberi waktu satu bulan menyelesaikan pesanan yang sudah ada, lalu berdiri sendiri.
Raka duduk kaku.
Nisa terlihat sangat tidak nyaman.
Setelah aku selesai, Arman berkata,
“Aku setuju.”
Semua orang menoleh kepadanya.
Aku pun.
Ia melanjutkan,
“Dan keputusan pindah stok sebelumnya tanggung jawab saya. Bukan pegawai.”
Pak Yusuf terlihat lega.
Arman menoleh kepada Raka.
“Kamu mulai sekarang jangan bilang ke siapa pun bahwa toko akan menanggung Denar.”
Raka mengerutkan kening.
“Pa.”
“Dengar.”
Suara Arman tidak keras.
“Tiga kali aku bantu kamu dengan cara yang membuat kamu tidak perlu melihat akibat keputusanmu.”
Raka menatap meja.
“Aku pikir itu bentuk sayang.”
Arman berhenti sebentar.
“Kayaknya aku salah.”
Tidak ada pelukan.
Tidak ada tangisan bersama.
Raka bahkan pulang lebih dulu dengan wajah kesal.
Dan menurutku itu lebih masuk akal.
Orang tidak berubah hanya karena mendengar satu percakapan bagus.
Tiga minggu kemudian, Raka menjual mobilnya.
Aku tahu karena Nisa memberitahu.
Ia membeli motor bekas dan mulai mengantar beberapa pesanan sendiri.
Gudang Denar dipindahkan ke tempat yang lebih kecil.
Dua pelanggan memilih tetap membeli lewat Raka.
Tiga kembali ke toko kami.
Sisanya tidak kupaksa.
Utangnya belum selesai.
Rumahnya juga belum aman sepenuhnya.
Tetapi ia mulai berbicara dengan pihak pemberi pinjaman untuk menjual rumah sendiri dan mencari kontrakan yang lebih murah daripada menunggu masalah bertambah.
Ketika ia memberitahuku, wajahnya masih terlihat malu.
“Tante pasti merasa aku gagal lagi.”
Aku menjawab,
“Menjual sesuatu karena tidak sanggup mempertahankannya bukan selalu kegagalan.”
Ia menatapku.
“Kadang kegagalan itu justru pura-pura mampu sampai semua orang ikut tenggelam.”
Ia tidak berkata apa-apa.
Tetapi bulan berikutnya, Rp8 juta pertama masuk ke rekening toko dengan keterangan:
Pembayaran stok Denar 1.
Aku tidak membalas dengan ucapan panjang.
Aku hanya mengirim:
Diterima.
Arman mulai kembali bekerja tiga hari seminggu.
Kami tidak langsung kembali seperti dulu.
Ia tidak lagi duduk di kursi utama kantor seolah tidak ada yang terjadi.
Aku juga berhenti memperlakukannya seperti pasien.
Kalau ia mengatakan pinggangnya pegal, aku bertanya,
“Perlu istirahat atau perlu dokter?”
Aku tidak otomatis mengambil alih.
Itu perubahan kecil.
Tetapi bagiku besar.
Nisa datang suatu Minggu membawa martabak.
Kami duduk di ruang tengah.
Ia meminta maaf lagi.
Aku tidak mengatakan semuanya sudah selesai.
Aku berkata,
“Mama masih kecewa.”
Ia mengangguk.
“Tapi Mama juga tahu kenapa kamu takut bicara.”
“Aku pikir kalau aku bilang, keluarga kita hancur.”
Aku menatapnya.
“Keluarga tidak selalu hancur karena pertengkaran.”
Ia menunggu.
“Kadang keluarga rusak justru karena semua orang terlalu takut mengatakan sesuatu.”
Nisa menyeka matanya.
Sejak itu, hubunganku dengannya perlahan membaik.
Bukan karena kami melupakan.
Karena kami mulai berbicara sebelum rasa tidak enak berubah menjadi kebohongan.
Dengan Arman, prosesnya lebih lambat.
Ada malam ketika kami makan tanpa banyak bicara.
Ada pagi ketika aku masih teringat bagaimana ia berjalan di gudang dengan begitu mudah.
Kadang ketika melihat tongkat lamanya tersimpan di bawah tangga, rasa marah muncul lagi.
Bukan pada benda itu.
Pada diriku sendiri yang selama dua bulan terakhir merawat seseorang yang sebenarnya sudah mampu mengambil gelasnya sendiri.
Suatu sore, hampir empat bulan setelah aku menemukan gudang itu, Arman membawa tongkat tersebut keluar.
“Aku mau buang ini.”
Aku sedang memotong daun kering tanaman di teras.
“Kenapa?”
“Tidak perlu lagi.”
Aku menatap tongkat itu.
Dulu benda itu membuatku cemas kalau tidak berada di dekatnya.
Sekarang rasanya hanya seperti potongan aluminium.
“Jangan buang,” kataku.
Arman mengerutkan kening.
“Buat apa?”
“Sumbangkan kalau masih layak.”
Ia tersenyum tipis.
“Baik.”
Kemudian ia berdiri di sana beberapa detik.
“Ratih.”
“Hm?”
“Aku belum pernah tanya ini.”
“Apa?”
“Cabang Cimahi yang dulu mau kamu buka… masih mau?”
Tanganku berhenti di atas pot.
Selama delapan bulan aku bahkan tidak memikirkan rencana itu.
Aku mengira kesempatan sudah lewat.
“Mungkin.”
“Kalau mau, coba lagi.”
Aku menatapnya.
“Kamu tidak keberatan?”
Begitu kalimat itu keluar, aku langsung menyadari kebiasaanku belum sepenuhnya hilang.
Aku masih meminta izin untuk sesuatu yang seharusnya kami bicarakan sebagai dua orang setara.
Arman juga menyadarinya.
Ia tersenyum hambar.
“Bukan soal aku keberatan.”
Aku mengangguk.
“Benar.”
Dua bulan kemudian, aku belum membuka cabang baru.
Aku memutuskan tidak terburu-buru.
Tetapi aku menyewa sebuah kios kecil di Cimahi selama enam bulan untuk menguji pasar dua hari seminggu.
Aku tidak mengelolanya sendirian.
Deni yang meminta kesempatan untuk belajar kutunjuk membantu.
Arman tidak ikut mengambil alih.
Ia hanya sekali datang membawa makan siang.
Sore itu, ketika aku menutup rolling door kios, ponselku berbunyi.
Pesan dari Raka.
Pembayaran bulan keempat sudah masuk, Tante. Minggu depan aku mungkin telat dua hari karena ada pelanggan yang belum bayar.
Dulu aku mungkin langsung menawarkan bantuan.
Aku membaca pesannya.
Kemudian mengetik:
Kabari sebelum jatuh tempo. Kita atur jadwalnya. Jangan diam.
Ia membalas:
Siap.
Aku memasukkan ponsel ke tas.
Di seberang jalan, Deni sudah menyalakan motor.
Aku memeriksa gembok kios sekali lagi.
Bukan karena takut ada yang mengambil milikku.
Hanya karena sekarang aku tahu dengan pasti mana yang memang menjadi tanggung jawabku, dan mana yang tidak.
Arman masih suamiku.
Raka tetap bagian dari keluargaku.
Nisa tetap anak yang sangat kusayangi.
Tetapi mencintai mereka tidak lagi berarti aku harus membuat diriku lelah agar mereka tidak pernah menghadapi rasa tidak nyaman.
Malam itu aku pulang membawa buku pesanan dari kios baru.
Arman sedang menyiram tanaman di depan rumah.
Ia mengangkat selang ketika melihatku.
“Ramai?”
“Lumayan.”
Ia tersenyum.
Aku membuka pintu sendiri.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, suara langkah di belakangku tidak membuatku bertanya apakah seseorang sedang berpura-pura.
Hanya ada dua orang dewasa yang masih belajar hidup bersama setelah kepercayaan retak.
Tidak sempurna.
Tidak seperti dulu.
Tetapi kali ini, tanpa tongkat palsu, tanpa pelanggan yang dipindahkan diam-diam, dan tanpa satu orang harus kehabisan tenaga supaya seluruh keluarga terlihat baik-baik saja.
Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Menurut kalian, apakah Ratih terlalu keras kepada Arman dan Raka, atau justru batas seperti itu memang harus dibuat jauh lebih awal? Semoga kita semua diberi keberanian untuk membantu keluarga tanpa kehilangan hak atas hidup, tenaga, dan keputusan kita sendiri.
