BAGIAN 2
“Usaha keluarga?”
Aku mengulang dua kata itu.
Arman meletakkan piringnya kembali.
“Jangan cari masalah dari istilah.”
“Itu bukan istilah. Laundry itu kubangun sebelum menikah denganmu.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa kamu menjanjikan operasionalnya kepada Raka?”
“Aku tidak menjanjikan.”

“Fitri bilang kamu mengatakan bulan depan Raka mulai pegang operasional.”
“Belajar.”
“Tanpa bicara denganku.”
Arman menarik napas panjang.
“Tar, dia tujuh belas tahun. Aku cuma mau dia punya pengalaman.”
“Kalau cuma pengalaman, kamu bisa bilang begitu kepadaku.”
“Karena kalau ngomong sama kamu, semuanya jadi panjang.”
Kalimat itu menyelesaikan sesuatu di kepalaku.
Bukan karena aku sulit diajak bicara.
Arman memang lebih nyaman meminta maaf setelah bertindak daripada meminta izin sebelum bertindak.
Selama ini aku selalu menerima permintaan maaf versi murahnya.
Aku ke outlet pagi-pagi sekali.
Fitri sudah menunggu.
Ia bekerja denganku hampir enam tahun dan tahu kapan harus bicara, kapan harus tidak bertanya.
“Pak Arman sering ambil dokumen usaha?”
Fitri ragu.
“Nggak sering, Bu.”
“Berapa kali?”
Ia membuka laci kasir.
Bukan map rahasia.
Bukan bukti transfer misterius.
Hanya buku kas kecil yang setiap hari kulihat tetapi beberapa bulan terakhir jarang kuperiksa sendiri karena aku lebih banyak berada di outlet kedua.
Fitri menunjuk beberapa catatan.
“Ini.”
Ada lima belas pengambilan kas selama tujuh bulan.
Rp1,5 juta.
Rp800 ribu.
Rp2 juta.
Rp1,2 juta.
Jumlahnya tidak membuatku jatuh dari kursi.
Yang membuatku dingin adalah keterangannya.
Keperluan rumah. Pak Arman.
Uang sekolah. Pak Arman.
Keperluan Raka. Pak Arman.
“Kenapa kamu kasih?”
Fitri langsung pucat.
“Ibu dulu pernah bilang kalau Pak Arman butuh uang mendadak untuk rumah, boleh ambil asal dicatat.”
Aku memejamkan mata.
Benar.
Dua tahun lalu, ketika aku harus menjaga ibuku selama operasi katarak di Malang, aku pernah memberi instruksi itu.
Aku tidak pernah mencabutnya.
Weakness-ku selama ini bukan sekadar terlalu percaya.
Aku selalu membuat sistem supaya orang lain tidak perlu repot meminta kepadaku.
Lalu aku lupa bahwa kemudahan tanpa batas lama-lama terasa seperti hak.
“Totalnya?”
Fitri menunjukkan rekap.
Sekitar Rp24 juta dalam tujuh bulan.
Bukan angka yang menghancurkan usahaku.
Tapi cukup besar untuk membuatku bertanya berapa banyak keputusan lain yang dianggap terlalu kecil untuk diberitahukan kepadaku.
Siang itu aku menelepon Raka.
Ia sedang pulang sekolah.
“Kak, bisa ketemu Tante sebentar?”
Nada suaranya hati-hati.
“Kenapa?”
“Ngobrol soal laundry.”
Ia datang setengah jam kemudian.
Masih pakai seragam.
Begitu duduk, ia langsung berkata,
“Kalau soal cabang baru, aku belum pasti mau, Tante.”
Aku menatapnya.
“Kamu tahu soal cabang baru?”
Raka mengerutkan kening.
“Papa bilang Tante yang mau aku belajar di sini.”
“Papa bilang begitu?”
“Iya.”
“Sejak kapan?”
“Beberapa bulan lalu.”
Aku merasakan sesuatu di dada bergeser.
“Apa tepatnya yang Papa bilang?”
Raka memainkan ujung bungkus sedotan.
“Katanya Tante capek ngurus dua outlet. Nanti kalau aku selesai sekolah, aku bisa bantu kembangkan. Kalau cocok, cabang ketiga bisa aku pegang sambil kuliah atau setelah selesai.”
Aku tidak langsung menjawab.
Raka menatapku.
“Memangnya bukan begitu?”
“Tidak.”
Wajahnya berubah.
Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku melihat dia benar-benar kehilangan jawaban.
“Papa bilang Tante setuju.”
“Aku bahkan baru tahu tadi malam.”
Raka menunduk.
Aku memperhatikan anak yang selama ini diam-diam kusalahkan setiap kali Arman memintaku mengalah.
“Raka.”
“Hm?”
“Sekolah kuliner Bandung. Kamu pikir uangnya dari mana?”
“Papa.”
“Semua?”
Ia mengangguk pelan.
“Katanya sudah disiapkan.”
Aku hampir berkata bahwa sebagian rencana itu akan dibayar dengan memindahkan sekolah adiknya.
Tapi kutahan.
Bukan karena ingin melindungi Arman.
Aku hanya tidak ingin memakai satu anak untuk menyerang ayahnya di depan anak lain.
Aku pulang sore hari.
Arman sudah menungguku.
Di ruang tamu ada kakaknya, Bu Rini.
Aku mengenal susunan seperti ini.
Seseorang memanggil anggota keluarga lebih tua agar masalah pribadi berubah menjadi sidang moral.
Bu Rini menepuk sofa.
“Duduk, Tar.”
Aku tetap berdiri.
“Ada apa?”
“Arman cerita kamu keberatan bantu pendidikan Raka.”
Aku menoleh kepada suamiku.
Cepat sekali ceritanya berubah.
“Aku keberatan sekolah Nara dipindahkan tanpa persetujuanku.”
Bu Rini mendesah.
“Kan bukan berhenti sekolah.”
“Bukan itu persoalannya.”
“Raka tinggal selangkah menuju masa depan. Anak laki-laki juga tanggung jawabnya nanti besar.”
Aku tersenyum tipis.
Kalimat seperti itu selalu terdengar masuk akal kalau yang diminta berkorban bukan anak sendiri.
“Aku tidak pernah bilang Raka jangan kuliah.”
“Terus kenapa ribut?”
“Karena suamiku membuat keputusan atas sekolah anakku dan usahaku tanpa bicara denganku.”
Bu Rini menoleh ke Arman.
“Usaha?”
Arman memotong cepat.
“Cuma salah paham.”
Aku mengambil ponsel.
“Mulai hari ini, Arman tidak boleh mengambil uang kas outlet tanpa persetujuanku.”
Arman berdiri.
“Lestari.”
“Aku juga sudah memberi tahu Fitri.”
“Kamu mempermalukan aku di depan pegawaimu?”
“Tidak. Aku sedang mengatur usahaku.”
Wajahnya memerah.
“Aku suamimu.”
“Dan aku istrimu, bukan kasir yang harus menunggu laporan setelah uang dipakai.”
Bu Rini mencoba menenangkan.
“Jangan saling keras.”
Tapi sesuatu dalam diriku sudah bergerak.
Bukan marah.
Lebih seperti engsel pintu yang lama berkarat akhirnya dipaksa terbuka.
Malam itu Wina datang.
Bukan karena kupanggil.
Arman yang memintanya.
Katanya supaya semua bisa “dibicarakan dengan kepala dingin”.
Raka ikut.
Nara kutitipkan sementara kepada tetangga yang sudah kuanggap seperti saudara.
Kami duduk di ruang tamu.
Wina membuka pembicaraan.
“Aku nggak mau ikut campur rumah tangga kalian.”
Aku hampir tertawa, tapi tidak.
Ia melanjutkan,
“Aku cuma mau memastikan jangan sampai Raka jadi korban pertengkaran.”
“Aku setuju.”
Wina terlihat agak terkejut.
Aku menatapnya.
“Karena itu aku mau tanya langsung. Kamu tahu tentang rencana Raka mengelola outlet laundryku?”
“Tahu.”
“Dari siapa?”
Ia menoleh kepada Arman.
“Ya dari Arman.”
“Kamu pikir aku setuju?”
Wina diam terlalu lama.
Kemudian ia berkata,
“Aku pikir bukan cuma setuju.”
Arman langsung menyela.
“Win.”
Tapi Wina sudah memandangku.
“Bukannya dari awal kalian menikah memang ada kesepakatan kalau Raka tetap jadi prioritas utama sampai dia mandiri?”
Ruang tamu tidak menjadi sunyi.
Kulkas tetap berdengung.
Motor lewat di depan rumah.
Telepon Bu Rini bahkan sempat berbunyi sebelum ia mematikannya.
Tapi aku merasa sesuatu yang telah kukenal selama tujuh tahun tiba-tiba menunjukkan wajah sebenarnya.
Aku menatap Arman.
“Kesepakatan apa?”
Wina mulai tampak tidak nyaman.
“Arman bilang kalian membicarakan itu sebelum menikah.”
“Aku tidak pernah membuat kesepakatan seperti itu.”
Raka mengangkat kepala.
Bu Rini menatap adiknya.
Arman berdiri.
“Sudah. Pembicaraan ini nggak sehat.”
Aku tidak membiarkannya pergi.
“Duduk.”
Ia berhenti.
Untuk pertama kalinya selama tujuh tahun, suamiku terlihat seperti seseorang yang takut aku akan bertanya pertanyaan berikutnya.
Dan malam itu aku akhirnya tahu masalah kami bukan karena Arman terlalu menyayangi anak pertamanya.
Masalahnya adalah selama bertahun-tahun, ia membuat setiap orang hidup berdasarkan persetujuan dariku yang sebenarnya tidak pernah ada.
Kalau satu keluarga ternyata dibangun dari cerita yang berbeda-beda kepada setiap orang, siapa yang paling dulu harus dimintai kebenaran?
BAGIAN 3
Arman tidak duduk.
Ia berjalan ke dekat jendela lalu kembali, seperti orang yang ingin meninggalkan ruangan tetapi sadar semua pintu akan terlihat.
“Ini sudah kelewatan,” katanya.
Aku tetap di sofa.
“Yang mana?”
“Menjadikan urusan rumah tangga kita tontonan.”
Aku menatap Wina, Raka, lalu Bu Rini.
“Aku tidak mengundang mereka.”
Arman tidak menjawab.
Wina menyilangkan tangan.
“Memang Arman yang telepon aku.”
“Win, sudah.”
“Kenapa sudah?”
Untuk pertama kalinya malam itu, suara Wina naik.
“Kamu bilang Lestari mulai mempersulit biaya Raka. Kamu bilang dia keberatan karena Raka bukan anak kandungnya.”
Aku menoleh pelan kepada Arman.
Jadi itu yang ia katakan.
Bukan bahwa aku menolak pemindahan sekolah Nara.
Bukan bahwa ia mengambil uang kas tanpa memberitahuku.
Bukan bahwa ia menawarkan sebagian kendali usahaku kepada Raka.
Ia memilih cerita yang paling cepat membuatku terlihat buruk.
Ibu tiri yang tidak ikhlas membiayai anak suami.
Cerita itu sangat mudah dipercaya.
Mungkin karena masyarakat sudah punya tempat khusus untuk perempuan seperti aku.
Kalau terlalu dekat dengan anak tiri, dibilang mengambil posisi ibu kandung.
Kalau menjaga jarak, dibilang tidak sayang.
Kalau membelikan sesuatu, dianggap mencari muka.
Kalau berkata tidak, dianggap menunjukkan warna asli.
Tujuh tahun aku berjalan di tali tipis itu.
Dan rupanya suamiku sendiri berdiri di bawah sambil menggoyangkannya.
“Aku tidak pernah menolak pendidikan Raka,” kataku.
Wina mengerutkan dahi.
“Arman bilang kamu minta biaya kuliahnya dikurangi karena outletmu lagi seret.”
Aku menatap Arman.
“Itu juga tidak pernah kukatakan.”
“Tar…”
“Jangan panggil aku begitu sekarang.”
Bu Rini bergeser di kursinya.
“Man, sebenarnya kamu ngomong apa saja?”
Arman mengusap wajah.
“Semua orang lagi emosi. Apa pun yang kujelaskan sekarang bakal dipelintir.”
“Bagus,” kataku. “Berarti jangan jelaskan semuanya sekaligus.”
Aku mengambil formulir sekolah Nara dari atas meja.
“Mulai dari ini.”
Kutaruh di depannya.
“Kapan kamu memutuskan Nara harus pindah?”
Arman tidak menyentuh formulir.
“Aku belum memutuskan.”
“Formulir pengunduran dirinya sudah kamu bawa pulang.”
“Itu cuma persiapan.”
“Kamu sudah janji bertemu sekolah baru.”
“Kita memang perlu pilihan.”
“Aku tidak diberi pilihan.”
“Karena setiap ngomong soal uang kamu langsung sensitif.”
Aku hampir membalas.
Lalu aku teringat sesuatu.
Setiap kali Arman ingin melakukan sesuatu yang tidak ingin ia perdebatkan, ia selalu mengubah persoalan menjadi sifatku.
Aku sensitif.
Aku terlalu hitung-hitungan.
Aku terlalu protektif kepada Nara.
Aku kurang mengerti luka Raka.
Kalau pembicaraan berubah menjadi kekuranganku, tindakannya sendiri tidak perlu diperiksa.
“Baik,” kataku. “Kita bicara angka.”
Aku membuka catatan yang sudah kukirim ke ponselku dari outlet.
“Dalam tujuh bulan kamu mengambil sekitar Rp24 juta dari kas laundry.”
Wina menoleh cepat.
Raka melihat ayahnya.
Bu Rini berbisik, “Dua puluh empat?”
Arman mendengus.
“Untuk keluarga.”
“Sebagian mungkin.”
“Semua.”
“Kalau semua untuk keluarga, kenapa aku tidak tahu?”
“Kamu tahu aku sering butuh uang untuk Raka.”
“Aku tahu kamu kadang butuh bantuan. Aku tidak tahu kamu menganggap kas usahaku bisa diambil kapan saja.”
“Jangan pakai kata ‘ambil’ seolah aku maling.”
“Aku tidak bilang kamu maling.”
“Cara kamu bicara begitu.”
“Cara aku bicara tidak mengubah catatan kas.”
Raka tiba-tiba berkata,
“Pa, yang buat bimbel sama uang pendaftaran kemarin itu dari Tante?”
Arman langsung menoleh.
“Nggak usah ikut campur.”
“Tapi Papa bilang dari tabungan Papa.”
“Raka.”
Anak itu menunduk.
Aku melihat telinganya memerah.
Ada rasa malu di wajahnya.
Aku mengenali rasa malu itu karena aku sudah terlalu sering merasakannya sendiri.
Rasa malu menerima sesuatu yang ternyata datang dari sumber yang berbeda dari yang kita kira.
“Rak,” kataku.
Ia tidak melihatku.
“Aku tidak marah kamu pakai uang itu.”
Ia mengangkat mata.
“Yang membuatku marah, aku tidak diberi kesempatan memilih.”
Arman tertawa pendek.
“Nah. Mulai lagi. Semua harus izin kamu.”
Aku menatapnya.
“Kalau uang itu hasil usahaku, ya.”
“Dalam pernikahan ada namanya saling bantu.”
“Setuju.”
Aku menunjuk meja di antara kami.
“Bantuan itu diminta. Bukan diumumkan setelah dipakai.”
Wina diam beberapa saat sebelum bertanya,
“Man, kamu selama ini bilang Lestari yang menawarkan bantu semua kebutuhan tambahan Raka.”
Arman memijat pelipis.
“Ya memang selama ini dia bantu.”
“Bantu bukan berarti menawarkan semua,” kataku.
Wina menatapku.
“Aku serius nggak tahu.”
Aku percaya sebagian.
Bukan seluruhnya.
Wina bukan orang polos.
Selama bertahun-tahun ia cukup nyaman menerima ketika Arman membayar ini dan itu untuk Raka, bahkan beberapa hal yang sebenarnya bisa dibagi.
Ia juga pernah mengirim daftar kebutuhan sekolah langsung kepadaku tanpa salam panjang.
Pernah meminta aku menukar jadwal liburan karena ia punya acara.
Pernah berkata, “Kamu kan lebih fleksibel,” seakan waktuku tidak pernah memiliki harga.
Tapi itu berbeda dengan mengetahui bahwa Arman memakai namaku untuk mengesahkan semuanya.
Aku menoleh kepadanya.
“Kamu tadi bilang ada kesepakatan sebelum kami menikah.”
Wina mengangguk hati-hati.
“Arman cerita begitu.”
“Apa lagi yang dia bilang?”
“Tar,” kata Arman tajam.
Aku mengabaikannya.
Wina menatap Raka, lalu kembali kepadaku.
“Dia bilang kamu sendiri yang bilang tidak akan pernah membuat Raka merasa tersisih kalau kalian punya anak.”
Aku terdiam.
Kalimat itu memang pernah kuucapkan.
Saat kami masih bertunangan.
Tapi kalimat lengkapnya adalah:
Aku tidak mau kehadiranku membuat Raka merasa kehilangan ayahnya.
Bukan:
Raka harus mendapat prioritas di atas anak-anak lain seumur hidup.
Satu janji yang lembut telah dipotong, dibentuk ulang, lalu dipakai seperti perjanjian yang mengikatku selama tujuh tahun.
“Aku memang pernah bilang aku tidak ingin Raka merasa kehilangan ayahnya.”
Arman langsung menunjukku.
“Nah.”
“Tapi aku tidak pernah bilang Nara harus kehilangan ayahnya supaya itu terjadi.”
Tangannya turun.
Raka menatapku.
Ada sesuatu di matanya yang membuatku sulit bernapas.
“Papa bilang…” ia berhenti.
“Bilang apa?”
Raka melihat ayahnya.
“Papa bilang Tante nggak pernah benar-benar mau aku dekat sama keluarga ini.”
Aku tidak langsung memahami kalimat itu.
“Apa?”
“Raka, cukup,” kata Arman.
Tapi Raka berdiri.
Selama ini dia jarang melawan ayahnya di depanku.
Malam itu, mungkin karena terlalu banyak hal sudah pecah, ia tidak peduli lagi.
“Papa yang bilang!”
Arman ikut berdiri.
“Jangan kurang ajar.”
“Aku cuma jawab!”
“Duduk!”
Raka tetap berdiri.
Aku berkata pelan,
“Biarkan dia bicara.”
Arman berbalik kepadaku.
“Sekarang kamu mau anakku melawan aku?”
Anakku.
Bukan anak kita.
Bukan Raka.
Anakku.
Aku menyimpan kata itu di kepalaku.
Bukan untuk menyerang.
Untuk mengingat.
Raka menelan ludah.
“Waktu lomba masak sekolah kelas sebelas, aku tanya Papa Tante datang nggak.”
Aku ingat hari itu.
Arman menyuruhku tidak datang.
Katanya Wina ingin hadir bersama orang tuanya dan suasananya akan canggung.
Aku bahkan membantu menyiapkan bekal Raka pagi-pagi.
Setelah mereka berangkat, aku menemani Nara ke dokter gigi.
“Papa bilang kamu ada kerjaan,” kata Raka.
Aku memandang Arman.
Raka melanjutkan.
“Terus waktu pembagian rapor tahun lalu, aku tanya lagi.”
Hari itu pun aku ingat.
Arman berkata sekolah meminta hanya orang tua kandung hadir karena tempat terbatas.
Aku tidak pernah memeriksa.
Aku selalu takut terlihat memaksa masuk ke wilayah Wina sebagai ibu kandung.
“Papa bilang Tante nggak nyaman ikut urusan sekolahku.”
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Raka tertawa kecil, tapi tidak ada lucu di sana.
“Jadi aku pikir… ya sudah.”
Ia mengangkat bahu.
Gerakan remaja yang pura-pura tidak peduli.
“Tante memang nggak pengin dekat.”
Aku melihat kembali banyak hal yang selama ini tidak pernah kusatukan.
Raka berhenti mengajakku bicara soal sekolah ketika kelas delapan.
Kupikir ia mulai remaja dan butuh ruang.
Setiap kali aku menawarkan ikut acara, Arman berkata jangan membuat Wina tidak nyaman.
Setiap kali Raka pulang lebih dingin dari biasanya, Arman berkata usia segitu memang begitu.
Setiap kali aku bertanya apakah hubungan kami baik-baik saja, Arman menjawab,
“Jangan dipaksa. Kamu bukan ibunya.”
Mungkin itu benar.
Aku bukan ibunya.
Tapi ternyata bukan berarti Raka tidak pernah menunggu kehadiranku.
Aku menekan telapak tanganku ke lutut.
“Rak, aku nggak tahu Papa bilang begitu.”
Wajahnya kaku.
“Aku juga nggak tahu Tante nggak tahu.”
Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada tuduhan apa pun.
Kami berdua selama bertahun-tahun sama-sama mengira yang lain memilih menjaga jarak.
Di tengah-tengah kami berdiri satu orang yang selalu dibutuhkan untuk menjelaskan satu kepada yang lain.
Tiba-tiba aku memahami sesuatu.
Arman tidak hanya ingin menyenangkan Raka.
Ia ingin menjadi satu-satunya jembatan di antara semua orang.
Kalau Raka kecewa kepadaku, Arman yang menenangkan.
Kalau Wina keberatan, Arman yang menjadi penengah.
Kalau aku merasa tersisih, Arman yang menjelaskan bahwa aku harus sabar.
Kalau Nara kehilangan sesuatu, Arman bilang itu demi kakaknya.
Semua hubungan harus melewatinya.
Dan selama kami tidak bicara langsung satu sama lain, ia bisa menceritakan versi apa pun yang dibutuhkan untuk mempertahankan dirinya sebagai orang paling baik di tengah keluarga yang katanya rumit.
“Apa kamu juga bilang ke Raka kalau aku yang nggak mau dia tinggal lebih sering di sini?” tanyaku.
Arman tidak menjawab.
Raka menoleh cepat.
Aku mendapat jawabanku.
Dua tahun lalu, Raka ingin tinggal tiga malam dalam seminggu bersama kami karena sekolahnya lebih dekat dari rumah kami daripada rumah Wina.
Arman mengatakan Wina menolak.
Aku tidak pernah bertanya langsung kepada Wina.
Sekarang aku menatapnya.
“Kamu menolak?”
Wina terlihat bingung.
“Aku justru menyuruh dia coba. Arman yang bilang rumah kalian sempit dan Nara lagi susah tidur.”
Aku tertawa.
Bukan karena lucu.
Karena ternyata kebohongan tidak selalu terdengar besar ketika pertama kali diucapkan.
Kadang hanya:
Wina tidak nyaman.
Raka sedang sensitif.
Lestari sedang sibuk.
Nara bisa mengalah.
Satu per satu kecil.
Cukup kecil untuk tidak dipertengkarkan.
Cukup banyak untuk membentuk tujuh tahun kehidupan.
Bu Rini akhirnya bicara.
“Man…”
Arman mengangkat tangan.
“Kalian sekarang enak menyalahkan aku.”
Ia mondar-mandir.
“Nggak ada satu pun dari kalian yang tahu rasanya jadi aku setelah cerai.”
Wina mendecakkan lidah.
“Jangan bawa-bawa itu.”
“Aku kehilangan waktu sama anakku.”
“Karena keputusan kita berdua.”
“Aku cuma ketemu Raka beberapa hari.”
“Dulu kamu sendiri yang pindah kerja ke luar kota satu tahun.”
“Aku kerja!”
Suara Arman pecah.
Dan untuk pertama kalinya malam itu aku melihat sesuatu yang lebih tua daripada pernikahan kami.
Rasa bersalah.
Bukan cinta kepada Wina.
Bukan rencana jahat merampas usahaku.
Rasa bersalah seorang ayah yang percaya dirinya pernah gagal.
Masalahnya, ia tidak pernah menyembuhkan rasa bersalah itu.
Ia memberi makan rasa bersalah itu.
Dengan uang.
Dengan kelonggaran.
Dengan mengatakan iya kepada Raka sebelum anak itu sempat meminta.
Dengan memotong ruang Nara.
Dengan memakai penghasilanku.
Dengan membuat semua orang percaya bahwa aku menyetujuinya.
“Aku cuma nggak mau anakku merasa dibuang dua kali,” katanya.
Raka memandang ayahnya.
“Siapa yang bilang aku merasa dibuang?”
Arman terdiam.
“Aku memang sedih waktu kalian cerai,” lanjut Raka. “Tapi aku nggak pernah bilang semua harus buat aku.”
“Kamu masih kecil. Kamu nggak tahu.”
“Sekarang aku tahu.”
“Raka.”
“Aku nggak minta Nara pindah sekolah.”
Suara anak itu bergetar.
“Aku bahkan nggak tahu.”
Arman menunjuknya.
“Papa melakukan semua ini buat kamu.”
Raka mundur setengah langkah.
“Jangan kasih semuanya ke aku.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi aku melihat wajah Arman berubah.
Selama ini “demi Raka” adalah alasan yang tidak bisa dibantah.
Sekarang Raka sendiri menolaknya.
Wina mengusap dahinya.
“Sekolah Bandung juga nggak harus tahun depan kalau memang uangnya belum cukup.”
Arman menatapnya tak percaya.
“Bukannya kamu yang terus bilang kesempatan jangan disia-siakan?”
“Aku bilang cari cara. Bukan pindahin sekolah adiknya.”
“Kamu gampang ngomong karena selama ini aku yang mikirin biaya.”
Wina langsung tersulut.
“Kamu mau kita buka soal biaya sekarang?”
“Jangan.”
“Kamu yang mulai.”
Aku mengangkat tangan.
“Stop.”
Mereka menoleh kepadaku.
“Aku tidak mau malam ini berubah jadi daftar siapa paling banyak berkorban.”
Aku mengambil formulir sekolah Nara.
Kurobek menjadi dua.
Tidak dramatis.
Kertas itu bahkan agak sulit sobek karena cukup tebal.
Aku merobeknya sekali lagi.
“Nara tetap di sekolahnya.”
Arman menggeleng.
“Kita belum selesai bahas.”
“Aku sudah selesai untuk keputusan ini.”
“Kamu nggak bisa putuskan sendiri.”
Aku menatapnya lama.
“Kamu benar.”
Ia terdiam.
“Seharusnya keputusan tentang anak dibuat berdua.”
Kutaruh potongan formulir di meja.
“Sayangnya, kamu yang lebih dulu lupa.”
Aku lalu membuka ponsel.
“Mulai besok, semua pengeluaran dari laundry harus dengan persetujuanku atau kepala outlet. Tidak ada lagi pengambilan kas atas nama kebutuhan rumah.”
Arman tertawa sinis.
“Jadi sekarang kamu pisahkan uang?”
“Ya.”
“Karena satu salah paham?”
“Karena aku baru tahu sistem yang kubiarkan terbuka sudah lama kamu anggap sebagai hak.”
“Kamu tega.”
Dulu kata itu mungkin cukup membuatku mundur.
Malam itu tidak.
“Aku tidak menghentikan makanmu. Aku tidak mengambil gajimu. Aku tidak melarang kamu membiayai anakmu.”
Aku menunjuk diri sendiri.
“Aku hanya berhenti membiarkan uang usahaku dipakai tanpa aku tahu.”
Bu Rini menghela napas.
“Tar, tapi kalau begini nanti rumah tangga kalian makin jauh.”
Aku menatap kakak iparku.
“Bu, rumah tangga ini sudah jauh. Kami cuma baru berhenti pura-pura dekat.”
Bu Rini tidak menjawab.
Arman mengambil kunci mobil.
“Kalau kamu mau menang malam ini, selamat.”
Ia berjalan ke pintu.
Aku berdiri.
“Arman.”
Ia berhenti tanpa menoleh.
“Aku nggak mau menang.”
Aku menatap punggungnya.
“Aku mau berhenti hidup dalam keluarga di mana semua orang harus mengecil supaya kamu tidak merasa gagal sebagai ayah.”
Ia membuka pintu keras-keras dan pergi.
Aku menjemput Nara sekitar pukul sembilan malam.
Di perjalanan pulang ia bertanya,
“Papa marah?”
“Iya.”
“Karena aku?”
“Bukan.”
“Aku yang pertama bilang cerai.”
Aku memarkir mobil di depan rumah tapi belum mematikan mesin.
Lampu dashboard membuat wajah kecilnya terlihat pucat.
“Nara.”
Ia menatapku.
“Masalah orang dewasa bukan tanggung jawab anak.”
“Tapi kalau aku nggak bilang, Mama tetap diam.”
Aku tidak punya keberanian membohonginya.
Mungkin iya.
Kalau Nara tidak bicara sore itu, mungkin aku masih akan menandatangani formulir setelah tiga hari bertengkar.
Mungkin aku akan mengatakan pada diri sendiri sekolah baru juga bagus.
Mungkin aku akan menambah jam kerja supaya biaya kuliah Raka tetap terbayar.
Mungkin aku akan menganggap mengambil Rp24 juta dari kas sebagai sesuatu yang masih bisa dimaklumi.
Mungkin begitu caranya sistem keluarga bertahan.
Bukan karena tidak ada yang terluka.
Tapi karena orang yang paling terbiasa terluka terus menjelaskan kepada dirinya sendiri bahwa lukanya belum cukup besar untuk membuat masalah.
“Kamu membantu Mama melihat sesuatu,” kataku.
“Tapi keputusan setelah ini tetap keputusan Mama.”
“Jadi Mama benar-benar cerai?”
Pertanyaan itu tidak bisa kujawab cepat.
“Aku belum tahu.”
Nara menunduk.
Aku menggenggam tangannya.
“Tapi satu hal Mama tahu. Kamu nggak akan pindah sekolah cuma supaya orang lain lebih mudah.”
Untuk pertama kalinya hari itu, bahunya turun.
Arman pulang hampir tengah malam.
Aku belum tidur.
Ia membuka lemari, mengambil bantal, lalu tidur di kamar kerja.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada piring pecah.
Rumah tangga tidak selalu retak dengan suara keras.
Kadang retaknya justru terlihat dari dua orang yang masih tinggal di bawah atap yang sama tetapi sudah berhenti bertanya apakah satu sama lain akan tidur nyenyak.
Tiga hari berikutnya kami hanya bicara soal kebutuhan rumah.
Pada hari keempat, Arman mencoba kembali seperti biasa.
Ia membeli bubur ayam untuk sarapan.
Menanyakan jadwal Nara.
Bahkan menyiram tanaman depan rumah.
Dulu aku mungkin akan menganggap itu usaha berdamai.
Sekarang aku tahu bedanya antara berdamai dan menunggu masalah kehilangan panas.
Ketika ia duduk di seberangku, aku berkata,
“Aku mau kita bicara Sabtu.”
“Bicara apa lagi?”
“Semua hal yang selama ini kamu putuskan dengan memakai namaku.”
Ia menaruh sendok.
“Kalau kamu mau terus mengungkit…”
“Aku belum selesai memeriksa.”
Wajahnya langsung berubah.
“Memeriksa apa?”
Itu pertanyaan kecil.
Tapi cukup untuk membuatku tahu masih ada sesuatu yang membuatnya cemas.
Aku tidak mengejar.
Aku belajar dari caranya sendiri.
Kadang orang menunjukkan lebih banyak ketika kita tidak memberi tahu apa yang sudah kita ketahui.
Jumat sore, Raka datang ke outlet.
Sendirian.
Ia berdiri cukup lama di dekat mesin pengering sebelum akhirnya mendekat.
“Tante.”
“Ya?”
“Aku mau ngomong.”
Kami duduk di ruangan belakang.
Raka mengeluarkan sebuah buku tipis dari tasnya.
Bukan dokumen hukum.
Buku catatan sekolah.
Di beberapa halaman ada sketsa tata ruang dapur, daftar menu, dan hitungan kasar biaya membuka kafe kecil.
“Aku sebenarnya nggak mau ngurus laundry,” katanya.
Aku mengangkat alis.
“Papa pikir aku mau.”
“Kenapa kamu nggak bilang?”
“Pernah.”
“Kapan?”
“Beberapa kali.”
“Terus?”
“Papa bilang aku harus realistis. Katanya usaha keluarga sudah ada, tinggal diterusin.”
Aku menatap buku di tangannya.
“Yang kamu mau?”
“Masak.”
“Makanya sekolah kuliner?”
Ia mengangguk.
“Kalau nggak Bandung juga nggak apa-apa.”
Nada suaranya pelan.
“Aku cari yang di Surabaya juga ada.”
Aku merasa sedih dengan cara yang tidak kuduga.
Selama ini Arman bukan cuma mengambil pilihan dariku dan Nara.
Ia juga sedang mengambil pilihan dari Raka sambil menyebut semuanya demi masa depan anak itu.
“Kenapa Papa ingin kamu pegang laundry?”
Raka mengangkat bahu.
“Katanya supaya ada yang meneruskan.”
“Meneruskan milik siapa?”
Raka tidak menjawab.
Aku tahu jawabannya.
Meneruskan milikku.
Sesuatu yang tidak pernah kutawarkan untuk diwariskan kepadanya atau kepada siapa pun.
Aku menarik napas.
“Kamu tetap boleh belajar di sini kalau memang mau tahu cara usaha jalan.”
Raka menatapku.
“Tapi bukan karena Papa menjanjikan tempat ini.”
“Iya.”
“Dan bukan berarti nanti outletnya jadi milikmu.”
Ia mengangguk cepat.
“Aku ngerti.”
Aku hampir berkata, seharusnya dari dulu kita bicara begini.
Tapi tidak ada gunanya menghukum masa lalu dengan kalimat yang sudah terlambat.
Sebelum pulang, Raka berdiri di pintu.
“Tante.”
“Hm?”
“Maaf aku sering kasar sama Nara.”
Aku menatapnya.
“Kenapa sekarang minta maaf?”
Ia memasukkan tangan ke saku.
“Karena aku kira dia selalu dapat lebih banyak.”
Dadaku kembali sesak.
“Dari mana kamu pikir begitu?”
“Papa sering bilang.”
Aku menutup mata sebentar.
Tentu.
Untuk membuat Raka menerima semua tambahan, Arman harus membuatnya percaya Nara sudah memiliki lebih banyak.
Untuk membuat Nara mengalah, ia mengatakan Raka sudah kehilangan lebih banyak.
Untuk membuatku membantu, ia mengatakan aku harus membuktikan bahwa aku tidak membedakan anak tiri.
Semua orang diberi versi ketidakadilan masing-masing.
Dan semua versi itu membuat Arman menjadi orang yang paling diperlukan.
Sabtu pagi aku meminta Arman bertemu di outlet, bukan di rumah.
Aku sengaja memilih tempat kerjaku.
Bukan untuk menunjukkan kekuasaan.
Aku hanya tidak ingin Nara mendengar.
Wina datang karena ada hal yang perlu kami luruskan terkait Raka.
Raka ikut atas kemauannya sendiri.
Arman datang terakhir.
Begitu melihat mereka, ia hampir berbalik.
“Aku kira kita bicara berdua.”
“Ada hal yang menyangkut Raka.”
“Sekarang semua orang harus ikut?”
“Tidak. Yang tidak berkepentingan tidak ada.”
Kami duduk di ruang belakang.
Aku meletakkan tiga lembar kertas di meja.
Bukan kontrak.
Hanya daftar.
Pertama, biaya rumah tangga.
Kedua, biaya Raka yang selama ini kuketahui.
Ketiga, pengambilan kas laundry.
“Aku tidak akan memperdebatkan pengeluaran lama satu per satu,” kataku.
Arman terlihat sedikit lega.
“Tapi mulai sekarang kita ubah caranya.”
Aku menatapnya.
“Biaya rumah kita bagi jelas.”
“Biaya Raka kamu dan Wina bicarakan sebagai orang tuanya. Kalau aku ingin membantu, aku akan mengatakan jumlahnya sendiri.”
Wina mengangguk.
Arman tidak.
“Sekolah Nara tidak disentuh.”
“Aku sudah dengar.”
“Laundry tidak kamu pakai untuk menjanjikan masa depan kepada siapa pun.”
Rahangnya mengeras.
“Kamu sengaja bikin aku seperti orang nggak punya hak.”
“Memang kamu tidak punya hak mengambil keputusan tentang usahaku tanpa persetujuanku.”
“Aku suamimu.”
“Kalimat itu bukan surat kuasa.”
Wina menunduk, menahan reaksi.
Raka menatap meja.
Arman bersandar.
“Oke.”
Aku tahu nada itu.
Oke yang berarti ia menunggu sampai situasi reda.
Aku belum selesai.
“Ada satu hal lagi.”
“Apa?”
“Mulai bulan depan, aku dan Nara pindah sementara.”
Semua kepala terangkat.
Arman menatapku seolah baru kali itu aku berkata sesuatu yang tidak bisa ia kembalikan ke tempat semula.
“Kamu apa?”
“Aku sudah sewa rumah kecil dekat sekolah Nara.”
“Kamu diam-diam cari rumah?”
“Dua hari terakhir.”
“Jadi semua ini memang rencana kamu pergi?”
“Tidak.”
Aku bicara perlahan.
“Rencana pergi baru muncul setelah aku sadar kita tidak bisa memperbaiki apa pun selama hidup terus berjalan seperti biasa.”
Arman berdiri.
“Lestari, jangan main-main.”
“Aku tidak main-main.”
“Kamu bawa anakku keluar dari rumah?”
“Nara ikut aku.”
“Dia anakku juga.”
“Iya.”
Aku mengangguk.
“Karena itu kamu tetap boleh bertemu, mengantar sekolah, menghabiskan waktu dengannya. Aku tidak akan memakai Nara untuk menghukummu.”
Arman terdiam.
Kalimat itu sengaja kuucapkan.
Karena itulah perbedaan yang ingin kujaga antara aku dan dirinya.
Aku tidak akan membuat anak menjadi alat untuk mengatur rasa bersalah orang dewasa.
“Tapi aku nggak akan tinggal di rumah ini seperti tidak terjadi apa-apa.”
“Aku bisa berubah.”
Aku memandangnya.
Mungkin itu pertama kalinya ia mengucapkannya.
Dulu hanya:
Jangan sensitif.
Sudahlah.
Nanti kubicarakan.
Kamu terlalu membesar-besarkan.
Sekarang:
Aku bisa berubah.
Aku ingin percaya.
Tapi keinginan percaya bukan bukti perubahan.
“Aku harap begitu.”
“Kalau begitu kenapa pergi?”
“Karena perubahanmu tidak boleh bergantung pada aku tetap berada di tempat yang sama sambil menunggu.”
Ia memegang pinggir meja.
“Jadi kamu benar-benar mau cerai?”
Aku menjawab jujur.
“Aku mau melihat apakah masih ada pernikahan yang bisa diselamatkan setelah semua ceritamu dibongkar.”
Wajahnya pucat.
“Aku nggak pernah selingkuh.”
“Aku tahu.”
“Aku nggak pernah pukul kamu.”
“Aku tahu.”
“Aku kerja. Aku pulang. Aku tanggung jawab.”
Aku mengangguk.
“Semua itu benar.”
Ia terlihat bingung karena aku tidak membantah.
“Kamu bukan suami paling buruk di dunia, Man.”
Aku menatapnya.
“Tapi aku juga tidak harus menunggu kamu menjadi yang paling buruk dulu baru boleh pergi.”
Raka menoleh ke arah lain.
Wina menghela napas pelan.
Aku melanjutkan,
“Selama tujuh tahun kamu membuat semua orang percaya mereka harus bicara lewat kamu. Kamu mengubah kata-kata kami sedikit demi sedikit sampai setiap keputusan yang kamu mau terlihat seperti permintaan orang lain.”
“Aku cuma menghindari ribut.”
“Itu bukan menghindari ribut.”
Aku menggeleng.
“Itu menghindari jawaban ‘tidak’.”
Kalimat itu membuatnya diam.
Karena mungkin itulah inti semuanya.
Arman takut kehilangan Raka.
Takut Wina menilainya gagal sebagai ayah.
Takut aku menolak membantu.
Takut Nara menuntut bagian yang sama.
Jadi ia membuat sistem di mana tidak ada orang yang mendapat kesempatan memberikan jawaban sebenarnya.
Aku dan Nara pindah dua minggu kemudian.
Rumah kontrakan itu lebih kecil.
Hanya dua kamar.
Dapur sempit.
Tidak ada carport tertutup.
Suara anak tetangga terdengar jelas setiap sore.
Tapi hari pertama kami tidur di sana, Nara bertanya,
“Kalau aku mau makan ayam bagian paha, boleh?”
Aku sedang membuka kardus piring.
Pertanyaan itu begitu aneh sampai aku menoleh.
“Tentu.”
“Walau ada orang lain yang suka?”
“Kalau tinggal satu, kita tanya siapa yang mau. Bukan berarti satu orang punya hak selamanya.”
Nara mengangguk seperti sedang menyimpan aturan baru tentang dunia.
Malam itu kami makan ayam goreng dari warung dekat rumah.
Ada dua paha.
Nara mengambil satu.
Yang satu kubiarkan di piring.
Tidak ada yang marah.
Tidak ada anak yang harus membuktikan bahwa ia pantas makan.
Arman datang menemui Nara rutin.
Awalnya hubungan kami kaku.
Ia masih beberapa kali mencoba membuka percakapan dengan kalimat,
“Kapan kalian pulang?”
Aku selalu menjawab,
“Kita bukan sedang liburan.”
Bulan pertama ia marah.
Bulan kedua ia mulai berhenti menyalahkan.
Bukan karena tiba-tiba berubah menjadi pria baru.
Karena beberapa konsekuensi akhirnya harus ia jalani sendiri.
Ketika biaya kursus Raka jatuh tempo, ia dan Wina benar-benar duduk menghitung kemampuan masing-masing.
Mereka akhirnya memilih program persiapan yang lebih murah di Surabaya dan menunda rencana Bandung satu tahun.
Raka tidak hancur.
Dunia tidak berakhir.
Anak itu justru terlihat lebih lega.
Ia mulai magang setiap Sabtu di sebuah restoran kecil milik kenalan gurunya.
Bukan di laundryku.
Sesekali ia datang ke outlet hanya untuk membeli minum dan menggoda Fitri.
Hubungannya dengan Nara juga berubah perlahan.
Tidak langsung menjadi kakak sempurna.
Mereka masih rebutan remote.
Raka masih kadang malas membalas pesan adiknya.
Tapi suatu sore aku mendapati dua kotak donat di meja.
“Dari siapa?”
Nara menjawab,
“Kak Raka. Katanya satu buat aku, satu buat Mama.”
Hal kecil.
Tapi perubahan yang benar memang sering terlihat membosankan dari luar.
Tidak ada musik.
Tidak ada pidato.
Hanya seseorang mulai melakukan hal yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan.
Wina dan aku pun tidak menjadi sahabat.
Kami tidak perlu.
Namun sekarang kalau ada sesuatu tentang Raka yang menyangkutku, ia menghubungiku langsung.
Kadang pesannya kaku.
Kadang pesanku juga.
Tapi setidaknya tidak ada lagi penerjemah di tengah.
Bu Rini sempat dua kali memintaku memikirkan kembali kepindahan.
Aku menjawab bahwa aku memang sedang berpikir.
Hanya saja sekarang aku berpikir tanpa tekanan untuk segera membuat semua orang nyaman.
Setelah tiga bulan tinggal terpisah, Arman datang ke outlet.
Sendirian.
Ia tidak membawa hadiah.
Itu pertama kali aku merasa ia mungkin benar-benar ingin bicara.
Kami duduk di ruangan belakang yang sama.
Ia mengeluarkan selembar kertas.
“Apa ini?”
“Daftar pengambilan uang yang dulu.”
Aku melihatnya.
Ia sudah menghitung bagian yang menurutnya bukan biaya rumah bersama.
“Aku mau ganti bertahap.”
Aku mengangkat mata.
“Kenapa?”
“Karena memang harusnya aku ngomong dulu.”
Tidak ada “tapi”.
Aku menunggu.
Biasanya setelah pengakuan, ada pembelaan.
Hari itu tidak.
“Aku sudah transfer yang pertama Rp2 juta.”
Aku mengangguk.
“Terima kasih.”
Ia melihat tangannya.
“Raka bilang dia nggak mau laundry.”
Aku hampir tersenyum.
“Aku tahu.”
“Aku pikir kalau dia punya sesuatu yang jelas nanti dia nggak akan merasa aku ninggalin dia.”
“Dia butuh bapak. Bukan cabang laundry.”
Arman mengangguk pelan.
“Aku baru ngerti.”
Aku tidak mengatakan seharusnya kamu mengerti dari dulu.
Mungkin dulu ia memang belum mampu.
Tapi keterlambatan memahami sesuatu tetap punya harga.
“Aku konseling dua kali,” katanya.
Aku terkejut.
“Sendiri?”
“Iya.”
“Bagaimana?”
“Menyebalkan.”
Aku tertawa kecil sebelum sempat menahan.
Arman pun tersenyum sebentar.
Lalu wajahnya kembali serius.
“Ternyata aku banyak cerita soal orang lain supaya nggak perlu cerita soal diriku.”
Aku tidak menjawab.
Ia melanjutkan.
“Waktu cerai sama Wina, aku merasa jadi bapak gagal. Setiap Raka sedih, aku merasa harus bayar sesuatu.”
Ia menelan ludah.
“Waktu nikah sama kamu, aku takut kalau aku terlalu bahagia sama keluarga baru, berarti aku meninggalkan dia.”
Akhirnya.
Bukan pembenaran.
Bukan cerita panjang tentang betapa sulit hidupnya.
Sebuah pengakuan kecil mengenai ketakutan yang selama ini memimpin rumah kami.
“Aku ngerti rasa takutnya,” kataku.
“Tapi aku nggak bisa terus tinggal di bawah akibatnya.”
“Aku tahu.”
Kami terdiam.
Kemudian ia bertanya,
“Masih ada kesempatan?”
Aku memandang pria di depanku.
Aku pernah sangat mencintainya.
Mungkin sebagian diriku masih.
Tapi cinta ternyata bukan sakelar.
Ia juga bukan alasan otomatis untuk kembali ke tempat yang pernah menyakitimu.
“Aku belum tahu.”
Arman mengangguk.
Kali ini ia tidak memaksa.
“Aku akan tetap konseling.”
“Lakukan untuk dirimu.”
“Iya.”
“Bukan supaya aku pulang.”
Ia menatapku.
“Iya.”
Aku percaya ia sungguh-sungguh pada hari itu.
Tapi aku belum menjadikan ketulusan satu hari sebagai jaminan masa depan.
Enam bulan setelah Nara memintaku menceraikan ayahnya, aku akhirnya mengajukan gugatan perceraian.
Keputusan itu tidak datang pada malam kami bertengkar.
Tidak juga ketika aku menemukan catatan kas.
Tidak ketika Raka mengatakan bagaimana Arman menggambarkanku selama bertahun-tahun.
Keputusan itu datang setelah berbulan-bulan aku hidup tanpa harus menebak versi apa tentang diriku yang sedang diceritakan di ruangan lain.
Dan aku sadar aku tidak ingin kembali.
Arman menerima keputusan itu jauh lebih tenang daripada yang kubayangkan.
Ia tidak setuju.
Ia sempat meminta waktu lagi.
Tapi ia tidak mengancam mengambil Nara.
Tidak menjadikan Raka alat.
Tidak memanggil keluarga untuk menekanku.
Mungkin itulah satu bentuk perubahan yang akhirnya ia capai.
Terlambat untuk menyelamatkan pernikahan kami.
Tapi tidak terlambat untuk menjadi ayah yang lebih baik.
Proses perceraian kami tidak selesai dalam seminggu.
Ada pembicaraan soal pengasuhan Nara, biaya, barang rumah, dan jadwal.
Melelahkan.
Beberapa kali kami masih bertengkar.
Bedanya, sekarang aku tidak otomatis mengalah hanya karena ingin pembicaraan cepat selesai.
Aku belajar duduk dalam ketidaknyamanan.
Ternyata berkata “tidak” memang membuat ruangan terasa lebih panas beberapa menit.
Tapi berkata “iya” pada hal yang salah bisa membuat hidupmu dingin bertahun-tahun.
Setahun kemudian, aku membuka outlet laundry ketiga.
Bukan karena ingin membuktikan sesuatu kepada Arman.
Rencana itu memang sudah ada jauh sebelum semuanya pecah.
Fitri sekarang menjadi supervisor dua outlet.
Aku masih turun langsung beberapa hari dalam seminggu.
Raka sudah kuliah kuliner di Surabaya sambil bekerja paruh waktu.
Suatu sore ia datang membawa enam roti buatannya sendiri.
“Eksperimen,” katanya.
Nara mengambil satu.
“Yang cokelat buat aku.”
Raka mengangkat alis.
“Siapa bilang?”
“Kakak kan nggak suka cokelat.”
“Sekarang suka.”
Mereka mulai berdebat.
Aku sedang menghitung nota di meja kasir.
Dulu suara seperti itu mungkin membuatku buru-buru menjadi penengah.
Sore itu aku membiarkan mereka menyelesaikannya sendiri.
Akhirnya roti cokelat dibelah dua.
Raka memberikan potongan yang sedikit lebih besar kepada Nara sambil pura-pura tidak melihat.
Ponselku berbunyi.
Pesan dari Arman.
Besok aku jemput Nara jam sembilan. Raka ikut. Kami mau sarapan lalu cari sepatu sekolah. Kalau ada ukuran atau merek yang dia butuh, kabari.
Aku membaca pesan itu.
Tidak ada keputusan yang sudah dibuat.
Tidak ada nama orang lain dipakai untuk menekan.
Tidak ada kalimat bahwa aku harus mengerti.
Hanya informasi dan pertanyaan.
Aku menjawab:
Ukuran 34. Yang nyaman saja. Nara sudah tahu batas anggarannya.
Lalu kuletakkan ponsel dengan layar menghadap meja.
Di depan outlet, Nara sedang tertawa karena Raka terkena bubuk gula di hidung.
Mesin pengering berputar di belakangku.
Fitri memanggil dari gudang menanyakan stok plastik.
Pelanggan membuka pintu.
Hidupku tidak menjadi sempurna setelah perceraian.
Aku masih capek.
Masih menghitung uang.
Masih kadang merasa bersalah ketika melihat keluarga lain makan bersama lengkap.
Tapi rasa bersalah itu tidak lagi memegang kemudi.
Aku akhirnya mengerti sesuatu yang dulu tidak berani kuucapkan.
Menjaga keluarga tidak selalu berarti mempertahankan bentuknya.
Kadang keluarga justru baru punya kesempatan menjadi sehat setelah kita berhenti memaksa semua orang berdiri di posisi yang salah.
Aku bangkit dari kursi dan membuka pintu belakang outlet supaya udara sore masuk.
Nara memanggilku.
“Ma, Mama mau roti yang mana?”
Aku melihat nampan kecil di meja.
Masih ada tiga rasa.
“Yang keju.”
Nara langsung menyodorkannya.
Tidak ada yang menyuruhku mengambil sisa.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, hal sederhana itu terasa cukup.
Terima kasih sudah mengikuti kisah Lestari, Nara, Raka, dan keluarga mereka sampai akhir. Menurut kalian, apakah keputusan Lestari untuk tetap bercerai meski Arman mulai berubah terlalu keras, atau justru bentuk batas yang sehat setelah kepercayaan rusak bertahun-tahun? Semoga kita semua diberi keberanian untuk membantu keluarga tanpa kehilangan hak atas hidup kita sendiri.
