BARU BEBERAPA JAM MENIKAH, ISTRIKU MENOLAK TIDUR DENGANKU—TAPI TENGAH MALAM AKU MELIHAT WANITA DI KAMAR AYAHKU

Avatar penulis
Cerita 04
20 menit baca 59 tayangan
BARU BEBERAPA JAM MENIKAH, ISTRIKU MENOLAK TIDUR DENGANKU—TAPI TENGAH MALAM AKU MELIHAT WANITA DI KAMAR AYAHKU
Indeks

BARU BEBERAPA JAM MENIKAH, ISTRIKU MENOLAK TIDUR DENGANKU—TAPI TENGAH MALAM AKU MELIHAT WANITA DI KAMAR AYAHKU

Hanya beberapa jam setelah pernikahan kami, istriku berkata, “Aku tidak bisa tidur denganmu malam ini. Aku sedang datang bulan.”

Namun tengah malam, aku mendengar suara aneh dari kamar ayahku.

Aku berjalan perlahan menyusuri lorong dan mengintip melalui celah pintu.

Ada seorang wanita berambut panjang di dalam kamar itu.

Tubuhku langsung membeku.

Alih-alih berteriak, aku diam-diam mendorong pintu hingga terbuka.

Apa yang kulihat malam itu membuatku mencurigai adanya hubungan rahasia antara istriku dan ayahku…

Namun ternyata, itu baru permulaan.

BARU BEBERAPA JAM MENIKAH, ISTRIKU MENOLAK TIDUR DENGANKU—TAPI TENGAH MALAM AKU MELIHAT WANITA DI KAMAR AYAHKU

BAGIAN 1

Pada malam pernikahanku sendiri, aku melihat seorang wanita menyelinap masuk ke kamar ayahku… dan selama beberapa menit yang terasa seperti selamanya, aku yakin wanita itu adalah istriku sendiri.

Namaku Raka Pratama.

Usiaku tiga puluh dua tahun dan aku bekerja sebagai mekanik alat berat di sebuah bengkel yang melayani perkebunan dan proyek konstruksi di kawasan Bogor, Jawa Barat.

Istriku, Nadira, berusia dua puluh delapan tahun. Dia bekerja sebagai guru TK di sebuah sekolah swasta.

Kami menikah pada hari Sabtu setelah hampir tiga tahun berpacaran.

Resepsi diadakan di rumah orang tuaku di pinggiran Bogor—sebuah rumah keluarga yang cukup luas dengan halaman belakang, garasi, gudang peralatan, serta beberapa kamar tambahan yang dibangun ayahku ketika usaha penyewaan alat berat miliknya mulai berkembang.

Ayahku bernama Hendra Pratama.

Usianya enam puluh satu tahun.

Selama puluhan tahun, dia bekerja di bidang konstruksi sebelum akhirnya membangun usaha sendiri dengan membeli alat berat bekas, memperbaikinya, kemudian menyewakannya kepada kontraktor dan pemilik perkebunan.

Ayah adalah tipe kepala keluarga yang suaranya selalu paling keras di meja makan.

Keputusannya hampir tidak pernah boleh dibantah.

Dan ada satu kalimat yang terus dia ulang sejak aku kecil:

“Masalah keluarga cukup diselesaikan di dalam keluarga.”

Ibuku, Sari, berusia lima puluh delapan tahun.

Hampir seluruh hidupnya dia habiskan mengurus rumah, merawat kebun kecil di halaman belakang, dan mencatat setiap rupiah yang keluar masuk dari usaha keluarga.

Meskipun tekanan darahnya sering naik, Ibu tetap bangun sebelum pukul enam setiap pagi untuk membuat kopi, menyiapkan sarapan, dan memeriksa catatan keuangan rumah tangga.

Resepsi pernikahan kami akhirnya selesai sekitar pukul sebelas malam.

Para tamu sudah pulang.

Kursi-kursi plastik mulai ditumpuk.

Lampu dekorasi di halaman perlahan dimatikan.

Ketika Nadira dan aku akhirnya masuk ke kamar, dia duduk di tepi ranjang sambil meletakkan telapak tangan di perut bagian bawah.

“Aku datang bulan lebih cepat,” katanya pelan dengan wajah sedikit malu. “Mungkin karena stres mengurus pernikahan. Siklusku jadi berantakan.”

Aku memeluknya.

“Tidak apa-apa. Kita baru menikah. Kita masih punya seumur hidup bersama.”

Aku membuatkan air hangat untuknya, memastikan dia nyaman, lalu kami berbaring sambil berbicara tentang resepsi, tamu-tamu yang datang, dan betapa melelahkannya hari itu.

Tidak lama kemudian, kami tertidur.

Namun lewat tengah malam, aku tiba-tiba terbangun.

Sisi ranjang Nadira kosong.

Aku meraba seprai di sebelahku.

Masih terasa hangat.

Awalnya aku mengira Nadira pergi ke kamar mandi.

Kemudian terdengar suara benturan logam pelan dari ujung lorong.

Aku membuka mata.

Suara itu berasal dari arah kamar ayahku.

Sudah hampir dua tahun Ayah dan Ibu tidur di kamar terpisah.

Menurut Ayah, kasur di kamar Ibu membuat punggungnya sakit. Selain itu, dia sering menerima telepon urusan bisnis sampai larut malam sehingga tidak ingin mengganggu tidur Ibu.

Aku keluar dari kamar.

Rumah sangat sunyi.

Sebagian besar keluarga yang menginap setelah resepsi sudah tidur.

Ketika mendekati ujung lorong, aku melihat pintu kamar Ayah terbuka sedikit.

Hanya beberapa sentimeter.

Cahaya lampu redup keluar melalui celahnya.

Lalu aku melihat sesuatu.

Siluet seorang wanita.

Rambut panjang berwarna gelap.

Tubuh ramping.

Tingginya hampir sama dengan Nadira.

Darahku seperti berhenti mengalir.

Kemudian terdengar suara tertahan dari dalam kamar.

Aku mundur satu langkah.

Tanganku dingin.

Jantungku menghantam dada begitu keras hingga aku takut orang di dalam kamar bisa mendengarnya.

Aku ingin mendorong pintu itu.

Aku ingin mengetahui siapa wanita tersebut.

Namun tubuhku seolah tidak mau bergerak.

Satu pikiran terus berputar di kepalaku.

Nadira.

Aku berbalik dan kembali ke kamar dengan kaki gemetar.

Aku duduk di tepi ranjang dalam kegelapan.

Sekitar lima menit kemudian, pintu samping kamar yang terhubung menuju area dapur perlahan terbuka.

Nadira masuk.

Dia membawa sebuah kaus basah di tangannya.

“Aku tadi mencuci ini sebentar di tempat cuci belakang,” bisiknya. “Kena noda. Aku takut kalau dibiarkan sampai besok bakal susah hilang.”

Aku menatapnya dari kepala sampai kaki.

Rambutnya sedikit berantakan.

Wajahnya terlihat lelah.

Aku mencoba mencari sesuatu yang aneh.

Apa saja.

“Kamu tadi lewat depan kamar Ayah?”

Nadira berhenti.

Ekspresinya berubah bingung.

“Tidak.”

“Yakin?”

“Iya. Aku lewat dapur. Kenapa?”

Aku terus menatapnya.

“Tidak apa-apa.”

Nadira mengernyitkan kening.

“Raka, kamu kenapa?”

“Tidak ada.”

Malam itu kami kembali berbaring.

Tetapi tidak ada satu pun dari kami yang benar-benar tidur nyenyak.

Aku membelakanginya sambil menatap dinding.

Sementara satu pertanyaan terus menghantui pikiranku:

Kalau wanita di kamar Ayah bukan Nadira… lalu siapa?

Keesokan paginya, Ayah sudah duduk di meja makan seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Dia menikmati nasi goreng buatan Ibu sambil bercanda dengan beberapa kerabat yang masih menginap.

Ketika Nadira datang, Ayah bahkan menarik kursi untuknya.

“Makan yang banyak,” katanya sambil menambahkan lauk ke piring Nadira.

Kemudian dia menepuk bahu istriku.

“Mulai sekarang kamu sudah jadi anak perempuan Ayah sendiri, bukan tamu lagi.”

Semua orang tertawa.

Kecuali aku.

Aku tidak sanggup menatap wajah Ayah terlalu lama.

Setiap kali melihat tangannya menyentuh bahu Nadira, bayangan wanita berambut panjang di kamar itu muncul kembali.

Beberapa jam kemudian, kami membereskan kursi dan meja dari halaman belakang.

Saat aku sedang membawa meja lipat menuju gudang, seseorang menghampiriku.

Itu Paman Budi, adik kandung Ayah.

Usianya lima puluh lima tahun dan sejak dulu dia ikut membantu mengurus beberapa urusan bisnis keluarga.

Dia memastikan tidak ada orang lain di sekitar kami sebelum bertanya pelan,

“Raka… semalam kamu keluar kamar?”

Aku langsung berhenti.

“Kenapa Paman tanya begitu?”

Budi tidak segera menjawab.

Matanya bergerak ke arah rumah.

Kemudian dia menurunkan suaranya.

“Karena sekitar tengah malam, Paman dengar pintu samping kamar ayahmu dibuka.”

Dadaku langsung terasa berat.

Aku meletakkan meja yang sedang kubawa.

“Ada seorang wanita di dalam kamar Ayah.”

Wajah Paman Budi berubah pucat.

“Kamu melihat siapa?”

Aku menggeleng.

“Tidak jelas. Aku cuma melihat rambut panjang dan bentuk tubuhnya.”

“Raka…”

“Aku sempat mengira itu Nadira.”

Paman Budi menatapku tajam.

“Tapi beberapa menit kemudian Nadira kembali ke kamar dari arah dapur. Dia bilang habis mencuci bajunya.”

Paman Budi tidak mengatakan apa-apa.

Namun rahangnya mengeras.

Aku semakin gelisah.

“Paman tahu sesuatu?”

Dia kembali melihat ke arah Ayah.

Di dekat halaman depan, Hendra sedang tertawa bersama beberapa tetangga seolah dunia ini tidak memiliki satu pun rahasia.

Lalu Paman Budi mengatakan sesuatu yang membuat tengkukku merinding.

“Raka… pintu samping kamar ayahmu itu bukan baru pertama kali dibuka tengah malam.”

Aku menatapnya.

“Maksud Paman?”

Budi menarik napas panjang.

“Ada alasan kenapa ibu dan ayahmu tidur terpisah selama dua tahun terakhir.”

Aku membeku.

“Ayah bilang karena sakit punggung.”

Paman Budi tertawa kecil.

Namun tidak ada sedikit pun humor dalam tawanya.

“Itu yang dia bilang kepadamu.”

Aku merasa tanah di bawah kakiku seperti bergeser.

“Jadi sebenarnya apa yang terjadi?”

Budi membuka mulut seolah hendak menjawab.

Namun tiba-tiba terdengar suara Ayah dari belakang rumah.

“Budi!”

Kami berdua menoleh.

Ayah berdiri beberapa meter dari kami.

Senyumnya sudah hilang.

Tatapannya tertuju langsung kepada adiknya.

“Ada yang perlu kamu bantu di depan.”

Budi diam beberapa detik.

Kemudian dia menepuk lenganku dan berbisik sangat pelan,

“Nanti malam cari Paman. Jangan bilang siapa-siapa. Terutama ayahmu.”

Dia berjalan pergi.

Aku tetap berdiri di samping gudang.

Dari kejauhan, aku melihat Ayah dan Paman Budi saling bertatapan.

Tidak ada satu kata pun yang keluar.

Namun untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat sesuatu di wajah ayahku yang hampir tidak pernah kulihat sebelumnya.

Ketakutan.

Dan saat itu aku belum tahu bahwa wanita yang kulihat di kamarnya bukanlah rahasia terbesar keluarga kami.

Karena sebelum malam berikutnya berakhir, aku akan menemukan sesuatu yang menghubungkan Ayah, Nadira, dan pernikahanku sendiri dengan sebuah kebohongan yang ternyata sudah dimulai jauh sebelum aku berdiri di depan altar.

Dan setelah mengetahui siapa sebenarnya wanita berambut panjang itu…

Aku berharap malam itu aku tidak pernah membuka pintu kamar Ayah.

BAGIAN 2 — WANITA DI KAMAR AYAHKU TERNYATA BUKAN ISTRIKU

Malam berikutnya, aku menunggu sampai rumah benar-benar sunyi.

Nadira sudah tertidur ketika aku keluar dari kamar dan berjalan menuju gudang belakang.

Paman Budi menungguku di sana.

Dia duduk di sebuah bangku kayu tua dengan sebuah amplop cokelat di tangannya.

Begitu melihatku, dia langsung berkata,

“Wanita yang kamu lihat semalam bukan Nadira.”

Aku seharusnya merasa lega.

Anehnya, aku justru semakin takut.

“Kalau bukan Nadira, siapa?”

Paman Budi menunduk.

“Namanya Lestari.”

Nama itu tidak berarti apa-apa bagiku.

“Siapa dia?”

Paman Budi mengusap wajahnya.

“Dua puluh sembilan tahun lalu, sebelum ayahmu punya usaha sebesar sekarang, ada seorang perempuan bernama Maya yang bekerja di kantor proyek tempat ayahmu menjadi mandor.”

“Terus?”

“Maya dan ayahmu punya hubungan.”

Aku terdiam.

“Waktu Ayah sudah menikah dengan Ibu?”

Paman Budi mengangguk.

Dadaku terasa sesak.

“Lalu Lestari?”

“Anak Maya.”

Aku menatapnya.

“Jadi dia…”

Paman Budi tidak langsung menjawab.

Namun tatapan matanya sudah cukup.

“Lestari adalah anak ayahmu.”

Aku mundur satu langkah.

“Berarti dia adik tiriku?”

“Iya.”

Aku hampir tertawa karena semuanya terdengar tidak masuk akal.

“Kalau dia anak Ayah, kenapa dia masuk kamar Ayah tengah malam? Dan suara yang kudengar itu apa?”

“Dia datang untuk meminta uang.”

“Kenapa diam-diam?”

“Karena ibunya sedang sakit. Maya butuh operasi. Lestari meminta ayahmu menepati janji lama.”

“Janji apa?”

Paman Budi mengangkat amplop cokelat di tangannya.

“Ini yang lebih penting.”

Aku mengambilnya.

Di dalamnya ada fotokopi dokumen lama.

Sebuah akta pendirian usaha.

Beberapa bukti transfer.

Dan satu lembar perjanjian dengan tanda tangan ayahku.

Aku membaca nama yang tercetak di sana.

Sari Pratama.

Nama ibuku.

“Apa ini?”

“Modal pertama usaha ayahmu bukan milik ayahmu.”

Aku menatap Paman Budi.

“Sebagian besar berasal dari ibumu.”

Menurut Paman Budi, ketika Ayah kehilangan pekerjaan hampir dua puluh lima tahun lalu, Ibu menjual sebidang tanah warisan dari kakeknya.

Uang itu digunakan membeli dua ekskavator bekas dan sebuah truk.

Itulah awal usaha yang sekarang selalu disebut Ayah sebagai “hasil kerja kerasnya sendiri.”

“Tapi apa hubungannya dengan Lestari?”

Paman Budi menelan ludah.

“Karena bertahun-tahun lalu, ayahmu diam-diam menjanjikan sebagian aset usaha kepada Maya.”

Aku menatap dokumen itu lagi.

“Dia menjanjikan sesuatu yang dibangun dari uang Ibu?”

“Iya.”

Aku meremas kertas tersebut.

“Tapi kenapa Paman baru bilang sekarang?”

Wajah Budi berubah.

“Karena aku pengecut.”

Untuk pertama kalinya, aku melihat seorang pria yang selama hidupku kukenal keras kepala itu menundukkan kepala karena malu.

“Aku tahu perselingkuhan itu. Aku tahu soal Lestari. Aku juga tahu kakakku menggunakan uang usaha untuk membantu mereka.”

“Dan Paman diam?”

“Ayahmu membayar utangku ketika bisnisku bangkrut. Sejak itu dia selalu mengingatkanku bahwa aku berutang kepadanya.”

Aku ingin marah.

Namun sebelum aku sempat bicara, terdengar suara dari belakang.

“Raka?”

Aku berbalik.

Nadira berdiri di pintu gudang.

Wajahnya pucat.

“Kamu ngapain di sini?”

Aku buru-buru memasukkan dokumen ke dalam amplop.

Namun terlambat.

Nadira sudah melihatnya.

Dan ketika matanya menangkap nama Lestari, ekspresinya berubah.

Aku langsung menyadarinya.

“Kamu kenal nama itu?”

Nadira tidak menjawab.

“Nadira.”

Dia menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Aku bisa jelaskan.”

Saat itulah seluruh rasa lega yang kurasakan beberapa menit sebelumnya lenyap.

“Kamu kenal dia?”

“Iya.”

“Sejak kapan?”

Nadira menutup mata.

“Sekitar delapan bulan.”

Aku merasa seperti dipukul.

Delapan bulan.

Jauh sebelum pernikahan kami.

“Apa hubunganmu dengan Lestari?”

Nadira menatap Paman Budi, kemudian kembali kepadaku.

“Dia datang ke sekolah tempat aku bekerja.”

“Untuk apa?”

“Dia mencariku.”

Aku membeku.

“Mencari kamu?”

Nadira mengangguk.

“Dia tahu aku akan menikah denganmu.”

“Dari mana?”

“Dari ayahmu.”

Ruangan mendadak terasa terlalu sempit.

Aku menggenggam sisi meja.

“Kenapa Ayah membicarakan calon istriku kepada anak rahasianya?”

Nadira mulai menangis.

“Karena Lestari sebenarnya datang kepadaku untuk memperingatkanku.”

“Memperingatkan apa?”

Nadira membuka mulut.

Namun suara Ayah tiba-tiba terdengar dari luar gudang.

“Cukup.”

Kami bertiga menoleh.

Hendra berdiri di sana.

Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kepanikan lagi.

Yang kulihat justru kemarahan.

“Kalian benar-benar mau menghancurkan keluarga ini hanya karena cerita lama?”

Aku menatapnya.

“Lestari anak Ayah?”

Ayah diam.

“Jawab!”

“Iya.”

Satu kata itu menghancurkan sesuatu dalam diriku.

“Ayah selingkuh dari Ibu?”

“Itu terjadi puluhan tahun lalu.”

“Dan selama puluhan tahun Ayah menyembunyikan seorang anak?”

“Ayah memastikan mereka hidup berkecukupan.”

Aku hampir tidak percaya mendengarnya.

“Dengan uang Ibu?”

Wajah Ayah berubah.

Matanya jatuh ke amplop di tanganku.

“Budi, kamu benar-benar bodoh.”

Paman Budi berdiri.

“Sudah terlalu lama, Mas.”

Ayah menunjuknya.

“Jangan sok suci.”

Lalu dia menatapku.

“Berikan dokumen itu.”

“Tidak.”

“Raka.”

“Tidak.”

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menolak perintah Ayah tanpa menundukkan kepala.

Dia maju satu langkah.

Namun Nadira berdiri di depanku.

“Ada satu hal lagi yang harus Raka tahu.”

Ayah langsung berhenti.

Wajahnya berubah.

“Nadira.”

Nada suaranya berbeda.

Bukan marah.

Takut.

Aku menatap istriku.

“Apa?”

Nadira menarik napas.

“Besok pagi kita pergi menemui Lestari.”

“Nadira!”

Ayah membentak begitu keras hingga suara itu menggema di gudang.

Nadira tidak mundur.

“Sudah cukup, Pak.”

Kemudian dia menatapku.

“Karena rahasia terbesar keluarga ini bukan tentang siapa ayah Lestari.”

Dia menggenggam tanganku.

“Rahasia terbesar itu tentang siapa yang sebenarnya memiliki perusahaan ayahmu.”


BAGIAN 3 — RAHASIA YANG DISEMBUNYIKAN SELAMA 25 TAHUN

Keesokan paginya, Nadira membawaku ke sebuah rumah sederhana di Cibinong.

Lestari yang membuka pintu.

Begitu melihatnya di bawah cahaya pagi, aku langsung mengenali rambut panjang yang kulihat malam pernikahanku.

Dia berusia sekitar dua puluh sembilan tahun.

Dan hal pertama yang membuatku tercekat adalah wajahnya.

Bentuk hidungnya.

Garis rahangnya.

Bahkan cara dia mengerutkan kening.

Semuanya mengingatkanku pada Ayah.

“Aku minta maaf datang malam pernikahanmu,” katanya.

Aku tidak menjawab.

“Kenapa kamu masuk kamar Ayah?”

“Karena dia tidak pernah mau menemuiku di tempat terbuka.”

“Suara yang kudengar?”

Lestari terlihat malu.

“Aku menjatuhkan kotak logam berisi dokumen. Lalu aku menangis dan memohon supaya dia membantu biaya operasi Ibu.”

Tidak ada perselingkuhan malam itu.

Tidak ada Nadira di kamar Ayah.

Namun kenyataan ternyata jauh lebih buruk.

Lestari mengajak kami masuk.

Seorang perempuan kurus terbaring di kamar belakang.

Itulah Maya.

Mantan kekasih ayahku.

Dia sakit, tetapi pikirannya masih sangat jernih.

Begitu melihatku, dia menangis.

“Kamu mirip ibumu.”

Aku duduk di hadapannya.

“Saya cuma ingin tahu kebenarannya.”

Maya mengangguk.

Lalu dia meminta Lestari mengambil sebuah kotak besi.

Kotak yang sama yang terjatuh malam itu.

Di dalamnya ada puluhan dokumen lama.

Bukti transfer.

Surat.

Fotokopi akta.

Dan sebuah buku catatan kecil milik ibuku.

Aku mengenali tulisan tangannya.

“Kenapa barang Ibu ada di sini?”

Maya menunduk.

“Karena ibumu yang memberikannya kepadaku.”

Aku tidak memahami maksudnya.

“Kapan?”

“Enam bulan lalu.”

Aku menatap Nadira.

Dia mengalihkan pandangan.

Saat itulah aku sadar.

Bukan hanya Ayah yang menyembunyikan sesuatu.

Ibu juga tahu.

Aku langsung pulang.

Ketika tiba di rumah, Ibu sedang duduk sendirian di meja makan.

Aku meletakkan kotak besi di depannya.

Tangannya berhenti bergerak.

“Ibu tahu soal Lestari?”

Dia tidak menjawab.

“Ibu.”

Air matanya mulai jatuh.

“Iya.”

“Sejak kapan?”

“Sejak Maya hamil.”

Aku terdiam.

Hampir tiga puluh tahun.

Ibu mengetahui semuanya.

“Kenapa Ibu tetap bersama Ayah?”

Pertanyaan itu membuatnya menangis lebih keras.

“Karena waktu itu kamu masih kecil. Ibu tidak punya pekerjaan tetap. Orang tua Ibu sudah meninggal. Dan semua orang bilang perempuan baik harus mempertahankan rumah tangganya.”

Dia menyeka air mata.

“Jadi Ibu bertahan.”

“Tapi perusahaan itu?”

Wajah Ibu berubah.

“Ayahmu selalu bilang perusahaan itu miliknya?”

Aku mengangguk.

Untuk pertama kalinya pagi itu, Ibu tersenyum pahit.

“Dia berbohong.”

Ibu berdiri dan masuk ke kamar.

Beberapa menit kemudian dia kembali membawa map merah.

Di dalamnya ada akta jual beli tanah lama, bukti modal, serta dokumen pendirian badan usaha.

Modal awal memang berasal dari tanah warisan Ibu.

Namun ada sesuatu yang lebih mengejutkan.

Dalam dokumen awal, Sari Pratama memiliki 70 persen kepemilikan usaha.

Ayah hanya 30 persen.

“Kenapa sekarang semua orang mengira perusahaan milik Ayah?”

“Karena setelah usaha berkembang, dia mengubah banyak dokumen.”

Aku menatapnya.

“Tanpa izin Ibu?”

Ibu mengangguk.

“Tanda tangan Ibu dipalsukan.”

Ruangan terasa sunyi.

“Kenapa tidak lapor?”

“Dulu Ibu takut.”

“Sekarang?”

Ibu memandangku.

“Sekarang Ibu sudah tidak takut.”

Ternyata itulah alasan Lestari mencari Nadira delapan bulan sebelumnya.

Maya telah menyimpan surat-surat lama dari Ayah.

Dalam salah satu surat, Ayah mengakui bahwa sebagian besar modal perusahaan berasal dari istrinya.

Beberapa dokumen lain menunjukkan aliran uang perusahaan ke rekening pribadi dan transaksi aset yang dilakukan tanpa persetujuan Ibu.

Lestari tahu Nadira akan menjadi bagian keluarga.

Dia berharap Nadira bisa meyakinkanku untuk membantu Ibu sebelum semuanya terlambat.

“Tapi kenapa kamu tidak pernah cerita?” tanyaku kepada Nadira.

Dia menangis.

“Karena ibumu memintaku diam.”

Aku menatap Ibu.

Ibu mengangguk.

“Ibu ingin memastikan buktinya lengkap.”

Aku marah.

Bukan hanya kepada Ayah.

Kepada mereka semua.

Selama delapan bulan, calon istriku mengetahui ada bom di bawah keluargaku dan membiarkanku berjalan menuju altar tanpa mengetahuinya.

“Aku seharusnya memberitahumu,” kata Nadira. “Aku salah.”

Aku tidak menjawab.

Hari itu juga, Ibu menghubungi seorang pengacara di Jakarta yang direkomendasikan keluarga Maya.

Audit dimulai.

Dan semakin banyak dokumen diperiksa, semakin buruk hasilnya.

Ayah bukan hanya menyembunyikan Lestari.

Selama bertahun-tahun, dia juga mengalihkan aset perusahaan ke beberapa badan usaha lain yang dikendalikan oleh orang kepercayaannya.

Ada tanah.

Alat berat.

Rekening investasi.

Semuanya bernilai miliaran rupiah.

Namun kejutan terbesar datang dua minggu kemudian.

Pengacara menemukan bahwa enam bulan sebelum pernikahanku, Ayah berusaha menjual sebidang tanah milik perusahaan.

Tanah itu bernilai hampir Rp9 miliar.

Dan uang hasil penjualannya direncanakan untuk membeli aset baru atas nama seseorang.

Aku mengira nama itu pasti Lestari atau Maya.

Ternyata bukan.

Nama yang tercantum membuat Nadira sampai menutup mulut.

Raka Pratama.

Namaku sendiri.

Aku menatap pengacara.

“Saya tidak pernah meminta ini.”

“Ibumu juga tidak tahu.”

Aku langsung menemui Ayah.

Dia duduk di kantor belakang gudang ketika aku melempar fotokopi dokumen itu ke mejanya.

“Kenapa Ayah mau membeli aset atas namaku?”

Dia tidak terlihat terkejut.

“Karena kamu anak laki-laki Ayah.”

“Itu uang Ibu.”

“Itu uang keluarga.”

“Jangan pakai kata keluarga untuk membenarkan pencurian.”

Ayah berdiri.

“Semua yang kulakukan untukmu!”

“Tidak.”

Aku menatapnya.

“Ayah melakukannya supaya suatu hari aku menerima sesuatu yang sebenarnya milik Ibu, lalu aku merasa berutang kepada Ayah.”

Wajahnya mengeras.

Untuk pertama kalinya, aku mengerti cara Ayah mengendalikan orang.

Dia menolong Paman Budi agar Budi diam.

Dia memberi Maya uang agar Maya tidak bicara.

Dia menjanjikan sesuatu kepada Lestari agar Lestari tetap tersembunyi.

Dan sekarang dia ingin memberiku aset agar aku menjadi penerus yang akan melindungi namanya.

Bagi Ayah, uang bukan sekadar kekayaan.

Uang adalah tali.

“Aku tidak mau tanah itu.”

“Kamu bodoh.”

“Mungkin.”

Aku berjalan menuju pintu.

“Tapi setidaknya aku tidak akan membeli kesetiaan keluargaku.”


Tiga bulan berikutnya menjadi masa paling berat dalam hidup kami.

Ibu mengajukan gugatan dan melaporkan dugaan pemalsuan dokumen.

Beberapa aset dibekukan selama pemeriksaan.

Ayah pindah dari rumah.

Untuk pertama kalinya sejak aku kecil, meja makan kami terasa sunyi tanpa suaranya.

Anehnya, Ibu justru terlihat lebih hidup.

Dia mulai tidur lebih nyenyak.

Tekanan darahnya lebih terkontrol.

Dia kembali menanam cabai, tomat, dan bunga melati di halaman.

Maya menjalani operasi.

Ibu bahkan datang menjenguknya.

Aku tidak ikut masuk ke kamar ketika mereka berbicara.

Namun satu jam kemudian, keduanya keluar dengan mata merah.

Aku bertanya kepada Ibu apa yang mereka bicarakan.

Ibu hanya menjawab,

“Dua perempuan menghabiskan terlalu banyak tahun hidup mereka menanggung akibat keputusan satu laki-laki. Kami memutuskan tidak akan menghabiskan sisa hidup dengan saling membenci.”

Kalimat itu tidak pernah kulupakan.

Lestari perlahan menjadi bagian hidup kami.

Awalnya canggung.

Sangat canggung.

Aku tidak tahu bagaimana memperlakukan seseorang yang baru kuketahui sebagai adik tiriku setelah tiga puluh dua tahun.

Sampai suatu sore dia datang ke bengkel membawa dua bungkus nasi padang.

Dia meletakkan satu di depanku.

“Katanya kamu suka rendang.”

Aku menatapnya.

“Kata siapa?”

“Ibu Sari.”

Aku tersenyum.

Itulah pertama kalinya aku memanggilnya,

“Dik.”

Lestari langsung menangis.

Aku juga hampir menangis, meskipun sampai hari ini aku selalu menyangkalnya.

Hubunganku dengan Nadira jauh lebih sulit diperbaiki.

Aku mencintainya.

Namun dia telah menyembunyikan kebenaran selama delapan bulan.

Kami tidak berpura-pura semuanya baik-baik saja.

Kami menjalani konseling pernikahan.

Aku mengatakan kepadanya bahwa cinta tanpa kejujuran bisa berubah menjadi bentuk perlindungan yang salah.

Dia mengaku ketakutan.

Takut menghancurkan hubunganku dengan orang tuaku.

Takut aku tidak mempercayainya.

Takut pernikahan kami batal.

“Aku pikir aku sedang melindungimu,” katanya.

“Padahal kamu mengambil hakku untuk memilih.”

Dia mengangguk.

“Maaf.”

Butuh waktu lama sebelum aku bisa memaafkannya.

Namun akhirnya aku melakukannya.

Bukan karena apa yang dia lakukan kecil.

Melainkan karena dia tidak lari dari akibatnya.

Dia tetap tinggal.

Menjawab semua pertanyaanku.

Menerima kemarahanku.

Dan membangun kembali kepercayaan itu sedikit demi sedikit.

Hampir setahun setelah malam pernikahan kami, sengketa perusahaan akhirnya mencapai penyelesaian.

Kepemilikan Ibu diakui berdasarkan dokumen asli dan bukti transaksi yang ditemukan.

Sebagian aset yang telah dialihkan dikembalikan.

Ayah kehilangan kendali atas perusahaan yang selama puluhan tahun dia sebut miliknya sendiri.

Namun Ibu melakukan sesuatu yang mengejutkan kami semua.

Dia tidak mengambil alih kursi direktur.

Dia menjual sebagian kepemilikannya kepada investor lokal dan mempertahankan porsi yang cukup untuk menjamin masa pensiunnya.

Sebagian uangnya dia gunakan untuk membeli rumah kecil.

Bukan rumah mewah.

Hanya rumah satu lantai dengan halaman yang cukup luas untuk kebunnya.

Ketika aku bertanya kenapa dia tidak mempertahankan kerajaan bisnis itu, Ibu tersenyum.

“Raka, Ibu sudah menghabiskan hampir tiga puluh tahun mempertahankan sesuatu hanya karena takut kehilangannya.”

Dia melihat ke halaman.

“Sekarang Ibu ingin tahu bagaimana rasanya hidup tanpa harus mempertahankan apa pun.”

Beberapa bulan kemudian, Maya meninggal karena komplikasi penyakitnya.

Lestari berada di sampingnya.

Yang mengejutkanku, Ibu juga ada di sana.

Ayah datang ke pemakaman.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, kami berdiri dalam satu tempat.

Dia terlihat jauh lebih tua.

Tidak ada lagi kemeja mahal.

Tidak ada sopir.

Tidak ada orang yang berlari membukakan pintu untuknya.

Setelah pemakaman selesai, Ayah mendekatiku.

“Ayah kehilangan semuanya.”

Aku menatapnya.

Dulu mungkin aku akan merasa kasihan.

Namun kemudian aku melihat Ibu dan Lestari berdiri beberapa meter di belakangku.

“Ayah tidak kehilangan semuanya sekaligus,” kataku.

“Ayah menukarnya sedikit demi sedikit.”

Dia mengerutkan kening.

“Maksudmu?”

“Setiap kali Ayah berbohong, Ayah menukar sedikit kepercayaan. Setiap kali Ayah membeli diam seseorang, Ayah menukar sedikit rasa hormat. Setiap kali Ayah menggunakan kata ‘keluarga’ untuk menutupi kesalahan, Ayah menukar sedikit cinta.”

Aku menatapnya.

“Sekarang tagihannya datang.”

Ayah tidak menjawab.

Dia hanya pergi.

Aku tidak tahu apakah suatu hari hubungan kami akan pulih.

Mungkin iya.

Mungkin tidak.

Namun ada satu hal yang akhirnya kupahami.

Memaafkan seseorang tidak selalu berarti mengembalikan mereka ke posisi yang sama dalam hidup kita.


Setahun setelah pernikahan kami, Nadira dan aku kembali ke rumah baru Ibu untuk makan malam.

Paman Budi datang bersama keluarganya.

Lestari juga hadir.

Di meja makan ada ayam bakar, sayur asem, sambal buatan Ibu, dan terlalu banyak makanan untuk enam orang.

Ketika semua orang sedang tertawa, Nadira menyentuh tanganku.

“Aku punya sesuatu.”

Jantungku langsung berdebar.

Setelah semua rahasia yang pernah kudengar, kalimat itu masih membuatku gugup.

Dia mengeluarkan sebuah amplop kecil.

Aku membukanya.

Di dalamnya ada hasil pemeriksaan dari dokter.

Aku menatap Nadira.

Dia tersenyum sambil menangis.

Aku akan menjadi ayah.

Aku tidak mengatakan apa-apa selama beberapa detik.

Kemudian aku memeluknya.

Ibu menangis.

Lestari berteriak kegirangan.

Budi tertawa begitu keras hingga hampir tersedak.

Di tengah semua itu, aku melihat ke meja makan.

Setahun sebelumnya, aku mengira keluargaku hancur karena seorang wanita berambut panjang masuk ke kamar ayahku pada malam pernikahanku.

Ternyata aku salah.

Keluarga kami sudah retak jauh sebelum malam itu.

Wanita tersebut hanya membuka pintu yang selama puluhan tahun kami semua takut buka.

Dan mungkin itulah bagian paling aneh dari semuanya.

Malam yang hampir menghancurkan pernikahanku justru menyelamatkan ibuku.

Malam yang membuatku mengira istriku mengkhianatiku justru mempertemukanku dengan seorang adik yang tidak pernah kuketahui keberadaannya.

Dan seorang perempuan yang selama bertahun-tahun dianggap sebagai bukti kehancuran keluarga kami ternyata meninggalkan sesuatu yang akhirnya membebaskan kami dari kebohongan.

Beberapa bulan kemudian, putri kami lahir.

Kami menamainya Alya Sari Pratama.

Nama tengahnya diambil dari nama ibuku.

Pada hari pertama membawa Alya pulang, aku berdiri di depan pintu rumah sambil menggendongnya.

Aku teringat satu kalimat yang sering diucapkan Ayah sepanjang masa kecilku:

“Masalah keluarga cukup diselesaikan di dalam keluarga.”

Dulu aku menganggapnya sebagai nasihat tentang kesetiaan.

Sekarang aku tahu kalimat itu sering digunakan untuk membuat orang takut bicara.

Maka ketika Alya tertidur di lenganku, aku berjanji kepadanya sesuatu yang berbeda.

Di keluarga kecil kami, masalah tidak akan disembunyikan demi menjaga nama baik.

Kesalahan tidak akan disebut rahasia keluarga.

Dan cinta tidak akan pernah digunakan sebagai alasan untuk meminta seseorang diam.

Karena rumah yang terlihat utuh dari luar belum tentu benar-benar sebuah keluarga.

Kadang-kadang, satu-satunya cara menyelamatkan keluarga adalah berani membuka pintu yang selama bertahun-tahun sengaja dikunci.

Dan malam pernikahanku…

aku akhirnya membuka pintu itu.

TAMAT.