DIA MEMELUK PRIA YANG SALAH DI BANDARA—TANPA TAHU PRIA ITU ADALAH MILIARDER YANG SUDAH MENGUBAH HIDUP KELUARGANYA

Avatar penulis
Cerita 04
18 menit baca 103 tayangan
DIA MEMELUK PRIA YANG SALAH DI BANDARA—TANPA TAHU PRIA ITU ADALAH MILIARDER YANG SUDAH MENGUBAH HIDUP KELUARGANYA
Indeks

DIA MEMELUK PRIA YANG SALAH DI BANDARA—TANPA TAHU PRIA ITU ADALAH MILIARDER YANG SUDAH MENGUBAH HIDUP KELUARGANYA

Nadira Prameswari baru sadar bahwa ia sedang memeluk pria yang salah ketika pria itu meletakkan satu tangan dengan hati-hati di bahunya lalu berkata dengan suara yang sama sekali tidak pernah ia dengar sebelumnya,

“Kalau boleh menebak… sepertinya kita belum pernah bertemu.”

Selama satu detik yang terasa mustahil, Nadira menolak mempercayainya.

DIA MEMELUK PRIA YANG SALAH DI BANDARA—TANPA TAHU PRIA ITU ADALAH MILIARDER YANG SUDAH MENGUBAH HIDUP KELUARGANYA

Kedua lengannya masih melingkari dada bidang yang tertutup mantel abu-abu gelap. Pipinya menempel pada kemeja putih pria itu. Dari tubuhnya tercium aroma samar kayu cedar, hujan, dan parfum mahal yang jelas tidak mungkin dimiliki kakaknya.

Lalu Nadira mendongak.

Dan rasanya ia ingin menghilang dari muka bumi.

Pria yang menatapnya itu bukan Dimas.

Ia lebih tinggi dari Dimas, rahangnya lebih tegas, dan terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja “diserang” pelukan oleh seorang perempuan dua puluh sembilan tahun di tengah ramainya terminal kedatangan Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Rambut hitamnya tertata rapi ke belakang.

Sepasang matanya yang gelap memandang Nadira dengan kilatan geli yang nyaris tak terlihat.

Sekitar dua meter di belakangnya berdiri dua pria mengenakan setelan hitam.

Salah satu dari mereka langsung bergerak waspada.

“Ya Tuhan…”

Nadira melompat mundur begitu cepat hingga hak sepatu botnya tersangkut pada pegangan koper.

Tubuhnya hampir jatuh.

Pria asing itu refleks menangkap lengannya.

“Ya Tuhan,” ulang Nadira. “Maaf. Maaf sekali. Saya kira Anda kakak saya.”

“Kalau begitu sedikit lebih tidak mengkhawatirkan.”

“Saya sudah delapan bulan tidak bertemu dengannya.”

“Itu menjelaskan pelukannya.”

“Dia tinggi. Anda tinggi. Rambutnya hitam. Rambut Anda juga hitam. Saya melihat Anda dari antara ratusan orang dan—”

Nadira berhenti bicara.

Pria itu hanya menunggu.

Nadira memejamkan mata.

“Saya malah membuat keadaan semakin memalukan, ya?”

“Sedikit.”

“Bagus.”

Salah satu pria bersetelan hitam mendekat.

“Pak Mahendra, semuanya aman?”

Mata Nadira langsung terbuka.

Mahendra.

Nama itu menghantam pikirannya bahkan sebelum ia benar-benar menyadari siapa pria di depannya.

Arga Mahendra.

Pendiri sekaligus CEO Mahendra Nusantara Group.

Usianya tiga puluh delapan tahun.

Bisnisnya membentang dari properti komersial, logistik, pergudangan, teknologi, sampai investasi berbagai perusahaan di Jakarta dan Surabaya.

Nama Arga Mahendra sering muncul dalam majalah bisnis sebagai salah satu pengusaha muda paling berpengaruh di Indonesia.

Ia jarang muncul di televisi.

Jarang memberikan wawancara.

Dan semakin jarang terlihat menghadiri acara sosial.

Nadira pernah melihat fotonya di sebuah majalah bisnis yang tertinggal di kedai kopi bandara tempatnya bekerja.

Dan sekarang…

Ia baru saja memeluk pria itu sambil hampir menangis dan mengatakan bahwa ia sangat merindukannya.

Nadira menatapnya tanpa berkedip.

Arga menyadarinya.

“Nah,” katanya tenang. “Tatapan seperti itu biasanya membuat percakapan menjadi kurang menarik.”

“Tatapan apa?”

“Tatapan ketika seseorang akhirnya tahu siapa saya.”

Nadira menelan ludah.

“Sebenarnya saya sedang menghitung apakah saya masih sempat pindah ke Bandung, mengganti nama, dan memulai hidup baru sebelum rekaman CCTV bandara ini tersebar ke internet.”

Untuk pertama kalinya, Arga Mahendra tertawa.

Bukan tawa kecil penuh sopan santun seperti yang biasa dilakukan orang-orang penting di depan kamera.

Tawanya benar-benar tulus.

Dan anehnya…

hangat.

“Anda mungkin akan selamat,” katanya.

“Anda gampang bicara karena bukan Anda yang baru saja meneriakkan ‘Aku kangen banget’ sambil memeluk dada orang asing.”

Tiba-tiba terdengar suara dari belakang.

“Nadira!”

Ia langsung berbalik.

Kakaknya, Dimas Pratama, sedang berjalan cepat menerobos kerumunan.

Dan dari senyum lebarnya, jelas sekali Dimas telah menyaksikan cukup banyak untuk memahami bencana apa yang baru saja terjadi.

Nadira langsung menunjuknya.

“Ini salah kamu.”

Dimas berhenti.

“Salah aku?”

“Kamu beli mantel yang sama!”

Dimas memandang Arga.

Lalu memandang mantel yang dikenakannya sendiri.

“Enggak sama.”

Nadira ingin lantai bandara menelannya hidup-hidup.

Arga tersenyum tipis.

“Selamat pulang,” katanya kepada Dimas.

Kemudian ia menatap Nadira sekali lagi.

“Lain kali, pastikan lihat wajahnya dulu.”

Nadira hanya berdiri di sana sambil menyaksikan Arga berjalan pergi bersama dua orang pengawalnya.

Dimas berdiri di sampingnya.

“Siapa tadi?”

Nadira menarik koper dengan kasar.

“Bukan siapa-siapa.”

Ia baru berjalan tiga langkah ketika Dimas berkata,

“Itu Arga Mahendra.”

“Aku tahu.”

“Arga Mahendra yang itu?”

“Aku tahu.”

“Yang punya perusahaan di mana-mana itu?”

Nadira terus berjalan.

“Kalau kamu sayang sama aku, jangan pernah ceritakan ini kepada siapa pun.”

Dimas menyeringai.

“Oke. Jadi Ibu harus segera ditelepon.”

“Tolong jangan.”

“Terlambat.”

Tiga bulan kemudian, Nadira akan kembali mengingat kejadian itu dan bertanya-tanya apakah takdir sebenarnya memiliki selera humor yang sangat aneh.

Karena pria asing yang tidak sengaja dipeluknya hari itu kelak akan menjadi pria yang duduk di sebelahnya di sebuah rumah sakit Jakarta pada pukul tiga pagi.

Pria yang sama akan menjadi alasan mengapa pintu sebuah rumah makan tua milik keluarganya—yang sudah bertahun-tahun terkunci—akhirnya terbuka kembali.

Dan sebelum Nadira memahami apa yang sebenarnya terjadi, ia akan menemukan bahwa perusahaan milik Arga Mahendra ternyata memiliki hubungan langsung dengan tragedi terburuk yang pernah menghancurkan keluarganya.

Namun sore itu, semua rahasia itu belum ada.

Yang ada hanyalah rasa malu.

Dan kopi.

Nadira bekerja di sebuah kedai kopi bernama Langit Coffee di area Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.

Tempat itu selalu penuh dengan penumpang yang memesan kopi seolah keterlambatan mendapatkan kafein merupakan masalah nasional.

Menjelang pukul empat sore, Nadira sudah membuat ulang dua cappuccino, membersihkan susu cokelat yang tumpah di lantai, dan menjelaskan tiga kali kepada pelanggan bahwa permintaan “sangat panas” tidak berarti kopinya harus mendidih seperti air untuk membuat mi instan.

Manajernya, Pak Rudi, tiba-tiba muncul di sebelah mesin espresso.

“Nadira, meja dua belas minta Americano lagi.”

Nadira menoleh.

“Sejak kapan kita antar pesanan ke meja?”

“Dia yang minta.”

Nadira memandang Pak Rudi dengan curiga.

Pak Rudi menurunkan suaranya.

“Sudah. Antar saja.”

Itu jelas mencurigakan.

Nadira membawa cangkir Americano itu menuju area tempat duduk.

Lalu langkahnya berhenti.

Di meja nomor dua belas duduk…

Arga Mahendra.

Mantelnya sudah dilepas.

Dasi yang dikenakannya sedikit dilonggarkan.

Salah satu lengannya bertumpu santai di kursi kosong di sampingnya.

Dan dari ekspresi wajahnya, pria itu terlihat terlalu senang melihat Nadira datang.

“Tidak.”

Alis Arga terangkat.

“Itu cara menyapa pelanggan yang cukup unik.”

“Anda pasti tidak mungkin membutuhkan kopi bandara.”

“Sepertinya saya membutuhkannya.”

“Ada lounge eksekutif di lantai atas.”

“Kopinya tidak enak.”

Nadira meletakkan cangkir di hadapannya.

“Anda sengaja datang ke sini.”

“Saya ada pertemuan di sekitar sini.”

“Ini bandara.”

“Saya sering bepergian.”

Nadira menyipitkan mata.

Arga mengangkat cangkir lalu menyesapnya.

“Kopinya enak.”

“Anda bahkan belum sempat merasakannya.”

Arga mengambil satu tegukan lagi.

“Sekarang sudah.”

Nadira berusaha keras agar tidak tersenyum.

“Anda sedang mengejek saya.”

“Sedikit.”

“Pengusaha kaya memang punya waktu luang sebanyak ini?”

Arga tidak langsung menjawab.

Ia hanya meletakkan cangkirnya perlahan.

Kemudian menatap Nadira dengan ekspresi yang tiba-tiba berbeda.

Tidak lagi penuh gurauan.

Tidak lagi santai.

Seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan.

Sesuatu yang jauh lebih serius daripada kejadian memalukan di terminal beberapa jam sebelumnya.

Dan Nadira sama sekali tidak tahu bahwa alasan Arga Mahendra kembali ke kedai kopi itu…

sebenarnya bukan karena kopi.

Arga tidak langsung menjawab pertanyaan Nadira.

Ia hanya menatap cangkir Americano di depannya selama beberapa detik, lalu mengangkat wajah.

“Kalau saya jawab jujur, Anda mungkin akan semakin curiga.”

Nadira menyilangkan tangan di dada.

“Saya sudah curiga.”

“Saya kembali karena ingin memastikan sesuatu.”

“Apa?”

Arga memandang wajahnya lebih lama daripada yang membuat Nadira nyaman.

“Nama keluarga Anda.”

Nadira berhenti tersenyum.

“Prameswari?”

“Bukan.”

Arga menggeleng pelan.

“Nama ibu Anda sebelum menikah.”

Jantung Nadira seperti ditarik mendadak.

Tidak banyak orang tahu bahwa sebelum menikah dengan ayah Nadira, ibunya bernama Ratih Wibisono.

Nama itu hampir tidak pernah disebut lagi sejak ayah Nadira meninggal.

Nadira menurunkan tangannya.

“Bagaimana Anda tahu nama ibu saya?”

Arga tidak menjawab langsung.

Ia mengeluarkan ponsel, membuka sesuatu, lalu mendorong layar itu perlahan ke arah Nadira.

Di layar terlihat foto sebuah bangunan tua.

Cat putihnya sudah kusam. Papan nama kayunya miring. Sebagian jendelanya tertutup papan.

Namun Nadira mengenal bangunan itu bahkan dalam keadaan terbakar sekalipun.

Rumah Makan Sari Rasa.

Restoran milik kakek dan neneknya.

Tempat Nadira tumbuh.

Tempat ayahnya bekerja sampai malam setiap hari.

Tempat keluarganya hancur sebelas tahun lalu.

Nadira merasa tenggorokannya mengering.

“Kenapa Anda punya foto ini?”

Arga menarik napas.

“Karena tanah dan bangunan itu sekarang berada di bawah salah satu perusahaan saya.”

Nadira menatapnya.

Tidak ada suara yang keluar.

Arga melanjutkan.

“Lebih tepatnya, perusahaan yang saya ambil alih empat tahun lalu.”

Dada Nadira mulai terasa sesak.

“Jadi perusahaan Anda yang mengambil restoran keluarga saya?”

“Bukan saya yang mengambilnya.”

“Tapi sekarang milik Anda.”

“Secara hukum, iya.”

Nadira mundur satu langkah.

Semua rasa malu dan kelucuan beberapa jam sebelumnya hilang begitu saja.

Yang tersisa hanya kemarahan lama yang selama bertahun-tahun tidak pernah benar-benar mati.

Sebelas tahun lalu, ayah Nadira kehilangan restoran itu karena utang.

Setidaknya, itulah yang selalu dipercayai keluarga mereka.

Ayahnya, Bima Prameswari, adalah pria yang sangat bangga pada usaha keluarganya. Rumah Makan Sari Rasa bukan restoran mewah. Hanya bangunan dua lantai dengan tiga puluh meja, halaman belakang kecil, dan dapur panas yang selalu berbau bawang goreng.

Namun restoran itu membiayai sekolah Nadira dan Dimas.

Membayar pengobatan nenek mereka.

Menjadi tempat hampir seluruh keluarga besar berkumpul setiap Lebaran.

Lalu suatu pagi, surat penyitaan datang.

Ayah Nadira dituduh menunggak pinjaman bisnis dalam jumlah yang tidak mungkin dibayar.

Tiga bulan kemudian restoran ditutup.

Enam bulan setelahnya, ayah Nadira terkena serangan jantung.

Ia meninggal sebelum ulang tahun Nadira yang kesembilan belas.

Keluarga mereka tidak pernah pulih sepenuhnya.

Nadira menatap Arga dengan mata mulai panas.

“Kalau Anda datang ke sini untuk membicarakan pembelian tanah, saya tidak tertarik.”

“Nadira—”

“Jangan panggil nama saya seperti kita teman lama.”

Arga terdiam.

Nadira menahan napas.

“Anda tahu apa yang terjadi setelah restoran itu diambil?”

“Saya tahu sebagian.”

“Sebagian?”

“Ibu saya menjual perhiasannya. Dimas berhenti kuliah satu semester. Saya bekerja sambil kuliah. Ayah saya meninggal dengan perasaan bahwa dia menghancurkan keluarga kami.”

Suara Nadira pecah di kalimat terakhir.

Beberapa pelanggan menoleh.

Nadira tidak peduli.

“Jadi kalau perusahaan Anda sekarang memiliki tempat itu, selamat. Tapi jangan datang ke sini dan bersikap seolah Anda sedang melakukan sesuatu yang baik.”

Arga berdiri.

“Saya tidak datang untuk membela perusahaan saya.”

“Lalu untuk apa?”

“Karena saya menemukan sesuatu tentang utang ayah Anda.”

Nadira membeku.

Arga mengambil sebuah amplop cokelat tipis dari tas kulit di kursi sebelahnya.

Ia meletakkannya di meja.

“Utang itu mungkin tidak pernah ada.”

Nadira menatap amplop tersebut.

Sekeliling mereka mendadak terasa terlalu sunyi.

“Apa maksud Anda?”

“Saya sedang melakukan audit aset lama setelah akuisisi. Kami menemukan dokumen yang tidak cocok dengan catatan bank.”

“Dokumen apa?”

“Perjanjian pinjaman atas nama ayah Anda.”

Arga membuka amplop.

Ada beberapa salinan dokumen.

Tanda tangan.

Stempel.

Angka.

Dan sebuah nama yang Nadira kenal.

Bima Prameswari.

Ayahnya.

“Tanda tangannya dipalsukan,” kata Arga.

Nadira tidak bergerak.

Arga menunjuk dua lembar lain.

“Perusahaan lama yang membeli utang tersebut menggunakan anak perusahaan untuk mengambil alih sertifikat tanah. Kami menemukan pembayaran keluar kepada seorang perantara beberapa hari sebelum surat pinjaman dibuat.”

Nadira memandang dokumen itu seperti sedang membaca bahasa asing.

“Siapa perantaranya?”

Arga tidak menjawab.

Dan dari keheningannya, Nadira langsung tahu jawabannya akan buruk.

“Siapa?”

Arga berkata pelan,

“Paman Anda.”

Dunia seolah berhenti.

“Paman siapa?”

“Adik ibu Anda.”

Nadira menatapnya tidak percaya.

“Om Surya?”

Arga mengangguk.

Nadira tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Karena tubuhnya tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

“Itu tidak mungkin.”

“Nadira—”

“Om Surya tinggal bersama kami hampir setahun setelah Ayah meninggal.”

“Saya tahu.”

“Dia membantu bayar sekolah saya.”

“Saya tahu.”

“Dia yang paling marah ketika restoran diambil!”

Arga diam.

Nadira meraih dokumen.

Tangannya gemetar.

Ada bukti transfer.

Nama perusahaan.

Nomor rekening.

Dan nama lengkap Surya Wibisono.

Nominalnya membuat perut Nadira mual.

Dua miliar rupiah.

Sebelas tahun lalu.

Nadira duduk perlahan.

“Kenapa?”

“Saya belum tahu.”

“Kenapa dia melakukan itu?”

“Saya belum tahu.”

Untuk pertama kalinya sejak bertemu, Arga terlihat benar-benar tak berdaya.

“Saya hanya tahu uang itu masuk ke rekeningnya tiga hari sebelum dokumen pinjaman ayah Anda dibuat.”

Nadira memandang lantai.

Air matanya jatuh tanpa suara.

Ayahnya meninggal dengan rasa malu.

Ia yakin dirinya gagal.

Padahal mungkin seseorang sengaja menghancurkannya.

Dan orang itu adalah adik kandung istrinya sendiri.

Malam itu Nadira pulang bersama Dimas.

Mereka tidak berbicara selama hampir seluruh perjalanan dari Tangerang menuju rumah ibu mereka di Depok.

Ketika sampai, Ratih sedang menyiram tanaman di teras.

Ia tersenyum saat melihat Dimas.

Lalu senyum itu memudar ketika melihat wajah Nadira.

“Ada apa?”

Nadira masuk tanpa menjawab.

Ia meletakkan dokumen di meja makan.

“Ibu kenal ini?”

Ratih membaca halaman pertama.

Wajahnya langsung pucat.

“Ibu?”

Ratih duduk.

Dimas menatap ibunya.

“Bu, apa Ibu tahu?”

Tidak ada jawaban.

Dan keheningan itulah yang membuat Nadira takut.

“Ibu tahu?”

Ratih menutup mata.

Air mata keluar.

“Sedikit.”

Nadira merasa sesuatu dalam dirinya runtuh lagi.

“Apa maksudnya sedikit?”

“Waktu itu… Surya datang menemui Ibu.”

“Kapan?”

“Beberapa minggu setelah restoran disita.”

“Dia bilang apa?”

Ratih menekan kedua tangan ke wajah.

“Dia bilang semuanya kesalahan.”

Dimas berdiri.

“Kesalahan apa?”

Ratih menangis.

“Dia terlilit utang.”

Nadira menatap ibunya.

“Jadi benar?”

Ratih mengangguk sangat pelan.

Surya pernah menjalankan bisnis distribusi bahan makanan.

Bisnis itu gagal.

Ia meminjam uang dari orang-orang yang salah.

Untuk menyelamatkan dirinya, Surya memberikan informasi tentang aset restoran keluarga.

Ia bahkan menyerahkan salinan dokumen usaha milik Bima.

Awalnya ia mengira perusahaan pemberi pinjaman hanya akan memakai tanah itu sebagai jaminan sementara.

Namun mereka justru membuat pinjaman palsu dan mengambil restoran.

“Kenapa Ibu tidak pernah bilang kepada Ayah?”

Ratih menangis lebih keras.

“Karena Ayahmu sudah sakit.”

“Dia meninggal tanpa tahu kebenarannya!”

“Ibu takut.”

“Takut apa?”

“Takut kalau dia tahu adik Ibu sendiri yang melakukannya, dia akan hancur lebih cepat.”

Nadira berdiri.

“Dia memang hancur, Bu.”

Kalimat itu menghantam seluruh ruangan.

Ratih tidak menjawab.

Dimas memalingkan wajah.

Nadira keluar dari rumah.

Arga menemukan Nadira hampir satu jam kemudian di depan minimarket dekat kompleks.

Ia duduk di trotoar sambil memegang sebotol air yang belum dibuka.

“Dimas menelepon saya.”

Nadira tidak menoleh.

“Kenapa semua orang menelepon Anda sekarang?”

“Karena dia tidak tahu harus melakukan apa.”

“Dan Anda tahu?”

“Tidak.”

Arga duduk di sampingnya.

Untuk beberapa saat mereka diam.

Kemudian Nadira bertanya,

“Kenapa Anda peduli?”

Arga memandang jalan.

“Karena perusahaan yang melakukan semua itu didirikan oleh ayah saya.”

Nadira menoleh.

Arga tidak menghindari tatapannya.

“Cald—”

Ia berhenti, lalu tersenyum hambar.

“Mahendra Capital. Nama lamanya Mahendra Asset Recovery.”

Nadira merasa darahnya dingin.

“Ayah Anda?”

Arga mengangguk.

“Beliau meninggal enam tahun lalu.”

“Jadi keluarga Anda menghancurkan keluarga saya.”

“Ya.”

Jawaban itu begitu sederhana hingga terasa lebih menyakitkan.

Arga menatap tangannya sendiri.

“Saya baru mengetahui cara perusahaan itu beroperasi setelah mengambil alih seluruh grup. Ada beberapa aset yang diperoleh melalui praktik seperti ini.”

“Beberapa?”

“Tujuh belas yang sudah saya temukan.”

Nadira tertawa pahit.

“Dan Anda baru sekarang peduli?”

“Saya mengembalikan sebelas di antaranya.”

Nadira menatapnya.

Arga melanjutkan.

“Empat sudah diselesaikan lewat kompensasi. Dua masih dalam proses hukum.”

“Rumah makan kami?”

“Yang ketujuh belas.”

Nadira diam.

“Saya datang ke kedai tadi karena setelah melihat nama ibu Anda di dokumen lama, saya mencari data keluarga. Lalu saya melihat nama Anda di daftar karyawan bandara.”

“Jadi pelukan tadi benar-benar kebetulan?”

Untuk pertama kalinya Arga hampir tersenyum.

“Sepenuhnya.”

Nadira menunduk.

“Ini gila.”

“Sedikit.”

“Jangan gunakan lelucon saya.”

“Maaf.”

Dua minggu berikutnya berubah menjadi kekacauan.

Tim hukum Arga membuka kembali seluruh dokumen.

Surya menghilang dari rumahnya.

Ratih jatuh sakit karena tekanan darah naik.

Dimas marah hampir setiap hari.

Lalu, suatu malam, Surya akhirnya datang.

Ia terlihat jauh lebih tua daripada yang Nadira ingat.

Ia berdiri di ruang tamu rumah Ratih sambil menangis sebelum satu kata pun keluar.

“Nadira…”

“Jangan panggil nama saya.”

Surya mengangguk.

“Aku pantas menerima itu.”

Dimas berdiri di sudut ruangan dengan rahang mengeras.

Surya mengeluarkan sebuah map plastik.

“Ada sesuatu yang kalian harus tahu.”

Nadira tertawa pahit.

“Masih ada lagi?”

Surya meletakkan map itu di meja.

Di dalamnya ada salinan surat.

Surat yang ditulis Bima Prameswari dua hari sebelum meninggal.

Nadira mengenali tulisan tangan ayahnya.

Ia mulai membaca.

Tangannya gemetar pada paragraf kedua.

Ayahnya ternyata tahu.

Ia tahu Surya terlibat.

Ia mengetahuinya hampir sebulan sebelum meninggal.

Namun ia tidak pernah memberi tahu Ratih.

Tidak pernah memberi tahu anak-anaknya.

Di bagian akhir surat, Bima menulis:

Surya melakukan kesalahan yang tidak bisa dibenarkan.

Tetapi kalau anak-anakku suatu hari mengetahui ini, jangan ajari mereka hidup dengan kebencian.

Restoran bisa dibangun kembali.

Uang bisa dicari lagi.

Tapi keluarga yang dipenuhi kebencian tidak akan pernah menjadi rumah.

Nadira tidak mampu membaca kalimat berikutnya.

Dimas mengambil surat itu.

Surya menangis.

“Ayah kalian menemui saya.”

Nadira menatapnya.

“Dia tahu saya menerima uang.”

“Lalu kenapa dia diam?”

“Karena saya mencoba bunuh diri.”

Ruangan menjadi hening.

Surya mengusap wajah.

“Setelah semuanya terjadi, saya tidak sanggup hidup dengan rasa bersalah. Kak Bima menemukan saya. Dia membawa saya ke rumah sakit. Dia bilang satu nyawa tidak akan mengembalikan restoran.”

Nadira menutup mulut.

Selama bertahun-tahun ia membayangkan ayahnya meninggal dengan rasa malu.

Ternyata pada minggu-minggu terakhir hidupnya, ayahnya justru sedang melindungi orang yang telah menghancurkannya.

“Kenapa Om tidak pernah mengaku?”

“Karena saya pengecut.”

Surya menatap Ratih.

“Dan karena Kak Bima meminta saya berjanji menjaga kalian kalau sesuatu terjadi padanya.”

Nadira teringat uang sekolah.

Biaya rumah sakit ibunya.

Semua bantuan Surya selama bertahun-tahun.

Bukan kemurahan hati.

Itu penebusan.

Tiga bulan kemudian, sebuah akta baru ditandatangani di kantor notaris Jakarta.

Mahendra Nusantara Group menyerahkan kembali kepemilikan penuh tanah dan bangunan Rumah Makan Sari Rasa kepada keluarga Prameswari tanpa biaya.

Selain itu, Arga mengembalikan nilai pendapatan sewa yang dihasilkan tanah tersebut selama bertahun-tahun sejak perusahaannya mengambil alih aset.

Jumlahnya jauh lebih besar daripada yang Nadira bayangkan.

Tetapi ketika notaris menyodorkan dokumen terakhir, Nadira tidak langsung menandatangani.

Ia memandang Arga.

“Kenapa Anda melakukan semua ini?”

“Karena itu bukan milik kami.”

“Bisa saja Anda hanya bayar kompensasi.”

“Bisa.”

“Dan selesai.”

“Bisa.”

“Lalu kenapa restoran?”

Arga menatapnya.

“Karena ada sesuatu yang ayah saya tulis sebelum meninggal.”

Nadira mengernyit.

Arga membuka dompetnya.

Ia mengeluarkan sebuah kertas kecil yang sudah terlipat berkali-kali.

“Ayah saya meninggalkan daftar nama.”

“Nama siapa?”

“Keluarga yang dia tahu pernah dirugikan perusahaan.”

Nadira melihat kertas itu.

Nama Bima Prameswari berada paling atas.

Nadira menahan napas.

“Kenapa paling atas?”

Arga menjawab pelan,

“Karena kasus ayah Anda adalah satu-satunya yang membuat ayah saya menyesal sampai akhir hidupnya.”

Nadira tidak memahami.

Arga melanjutkan.

“Setelah restoran disita, ayah Anda pernah datang langsung menemui ayah saya.”

“Apa?”

“Dia tidak datang untuk meminta restoran kembali.”

“Lalu?”

“Dia datang membawa seluruh tabungannya.”

Nadira bingung.

“Untuk apa?”

“Untuk membeli kembali utang karyawan-karyawannya.”

Nadira terpaku.

Arga menjelaskan bahwa ketika restoran ditutup, beberapa karyawan lama ikut terlilit pinjaman karena kehilangan pekerjaan.

Bima datang kepada ayah Arga dan menawarkan seluruh uang yang tersisa agar perusahaan tidak mengejar mereka.

“Dia kehilangan restoran,” kata Arga, “tapi masih memikirkan orang lain.”

Air mata Nadira mulai jatuh.

“Ayah saya mengatakan kepada saya, beberapa bulan sebelum meninggal, bahwa dia pernah bertemu seorang pria paling bodoh yang pernah dia kenal.”

Nadira hampir tertawa di tengah tangis.

“Itu terdengar seperti Ayah.”

“Lalu dia bilang pria bodoh itu juga manusia paling baik yang pernah berdiri di kantornya.”

Arga terdiam.

“Sejak kecil, saya selalu penasaran siapa Bima Prameswari.”

Nadira menatapnya.

“Jadi Anda sudah tahu nama ayah saya?”

“Saya tahu namanya.”

“Sejak kapan?”

“Sejak saya berumur tujuh belas tahun.”

Nadira menghapus air mata.

“Dan Anda baru tahu saya anaknya setelah saya memeluk Anda di bandara?”

Arga tersenyum kecil.

“Ya.”

Untuk beberapa detik mereka hanya saling menatap.

Lalu Nadira mulai tertawa.

Benar-benar tertawa.

Tangis dan tawa bercampur menjadi satu.

Arga ikut tersenyum.

“Takdir ternyata punya selera humor buruk,” kata Nadira.

“Sangat buruk.”

Enam bulan kemudian, Rumah Makan Sari Rasa dibuka kembali.

Bangunannya direnovasi, tetapi Nadira menolak mengubah papan nama kayu lama.

Meja nomor tujuh tetap dibiarkan berada di dekat jendela, persis seperti dulu.

Itu meja favorit ayahnya.

Ratih mengelola dapur.

Dimas menangani keuangan.

Surya tidak bekerja di sana.

Itu keputusan Nadira.

Memaafkan tidak berarti melupakan.

Namun setiap Minggu pagi, Surya datang membantu membersihkan halaman sebelum restoran buka.

Tak seorang pun membayar.

Tak seorang pun menyuruh.

Dan perlahan-lahan, keluarga itu belajar bahwa beberapa luka tidak sembuh karena dihapus.

Luka sembuh karena orang-orang berhenti membiarkannya menentukan masa depan mereka.

Pada malam pembukaan kembali restoran, Nadira berdiri di depan pintu setelah pelanggan terakhir pulang.

Arga muncul membawa dua gelas kopi.

“Kopi bandara?” tanya Nadira.

“Lebih buruk.”

Nadira mengambil satu.

“Berani sekali.”

Mereka duduk di tangga depan restoran.

Tidak ada pengawal.

Tidak ada jas mahal.

Tidak ada wartawan.

Hanya dua orang yang pernah bertemu melalui sebuah pelukan salah alamat.

Nadira menatap papan nama restoran.

“Ayah saya seharusnya melihat ini.”

Arga diam beberapa detik.

“Menurut saya dia sudah melihat sesuatu yang lebih penting.”

Nadira menoleh.

“Apa?”

“Bahwa Anda tidak membiarkan apa yang terjadi kepadanya menghancurkan Anda.”

Nadira menatap gelas kopinya.

“Kadang saya masih marah.”

“Bagus.”

“Bagus?”

“Berarti Anda manusia.”

Nadira tersenyum.

“Pengusaha kaya ternyata bisa bicara normal juga.”

“Kadang-kadang.”

Nadira menyenggol bahunya.

Kemudian Arga bertanya,

“Boleh saya mengajukan pertanyaan?”

“Silakan.”

“Waktu di bandara…”

Nadira langsung mengerang.

“Jangan.”

“Saya cuma penasaran.”

“Tidak.”

“Pelukan itu sebenarnya untuk kakak Anda, kan?”

Nadira menatapnya.

“Jelas.”

“Sayang sekali.”

Nadira berhenti.

“Kenapa?”

Arga memandang lurus ke depan.

“Karena saya berharap yang berikutnya bukan salah alamat.”

Nadira menatap wajahnya.

Arga tetap diam.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, pria itu terlihat gugup.

Benar-benar gugup.

Nadira tersenyum perlahan.

Lalu ia meletakkan gelas kopi di sampingnya.

“Kalau begitu kali ini saya akan memastikan wajahnya dulu.”

Arga menoleh.

Nadira memandangnya beberapa detik.

Lalu memeluknya.

Pelan.

Sengaja.

Tanpa salah orang.

Di balik jendela restoran, Ratih melihat mereka dan tersenyum sambil menghapus air mata.

Di dinding dekat kasir tergantung satu foto lama.

Bima Prameswari berdiri di depan Rumah Makan Sari Rasa bersama keluarganya.

Di bawah foto itu, Nadira memasang sebuah kalimat dari surat terakhir ayahnya:

Rumah bukan tempat yang tidak pernah hancur. Rumah adalah tempat orang-orang memilih membangunnya kembali.

Dan bertahun-tahun kemudian, ketika seseorang bertanya kepada Nadira bagaimana ia bertemu dengan pria yang akhirnya menjadi suaminya, ia selalu memberikan jawaban yang sama.

“Aku memeluk orang yang salah di bandara.”

Kemudian ia akan tersenyum.

“Untungnya, hidup ternyata membawaku kepada orang yang tepat.”

TAMAT