Bagian 2
Aku akhirnya tidak tahan melihat kantong keempat.
“Kak.”
Mira menoleh.
“Kenapa?”
Aku menunjuk barang-barang di dekat pintu.
“Semua itu mau dibawa?”
Ia melihat kantongnya, lalu menatapku seperti pertanyaanku aneh.
“Tidak semua, kok.”

Hampir setengah isi ruang tamu sudah masuk ke sana.
Aku menahan diri agar tidak bicara kasar.
“Yang untuk Papa dan Mama tinggal apa?”
Mama langsung menyela.
“Ardi, jangan begitu. Kakakmu juga tidak tiap hari datang.”
Mira mengembuskan napas.
“Aku minta Mama, bukan ambil diam-diam.”
Kalimat itu membuatku tidak bisa membantah.
Ia benar.
Barang itu sudah kuberikan kepada orang tuaku.
Secara sederhana, barang itu bukan milikku lagi.
Kalau Mama memberikan semuanya kepada Mira, apa hakku melarang?
Tapi perasaan yang muncul tetap sulit kutelan.
Aku mengambil kotak teh yang masih tersisa.
“Yang ini buat Papa. Jangan dibawa.”
Mira mengangkat alis.
“Memangnya aku bilang mau ambil?”
Aku tidak menjawab.
Beni muncul dari belakang sambil membawa jaket anak-anak. Saat melihat empat kantong itu, wajahnya berubah sedikit.
“Banyak amat?”
Mira menjawab, “Mama yang kasih.”
Beni tidak mengatakan apa-apa lagi.
Mereka pulang sore itu.
Aku membantu Papa mengangkat sisa barang ke lemari.
Dari dua kardus besar yang kubawa, sebagian besar sudah hilang.
Papa melihatku diam-diam.
“Kamu tersinggung?”
“Tidak.”
“Jangan bohong.”
Aku memasukkan satu kotak makanan ke lemari.
“Kalau Papa dan Mama memang lebih suka barangnya diberikan ke Kak Mira, tahun depan aku tidak usah beli banyak.”
Papa terdiam.
Mama, yang mendengar dari dapur, langsung berkata, “Jangan dibawa perasaan begitu. Kakakmu hidupnya banyak kebutuhan.”
Aku menoleh.
“Memangnya hidupku tidak punya kebutuhan?”
Mama tidak menjawab.
Aku juga tidak melanjutkan.
Malamnya aku pulang ke apartemenku di Semarang. Untuk pertama kalinya setelah Imlek, aku membuka catatan pengeluaran tahun-tahun sebelumnya.
Aku tidak pernah menghitungnya dengan serius.
Ketika semua angka itu kukumpulkan, aku sendiri terkejut.
Bukan karena jumlahnya akan membuatku bangkrut.
Tidak.
Masalahnya adalah aku selama ini menganggap pembelian itu sebagai bentuk perhatian kepada Papa dan Mama, padahal hasil akhirnya hampir selalu sama.
Aku membeli.
Mereka senang menerima.
Mira membawa pulang.
Lalu aku mengulanginya.
Yang lebih menggangguku terjadi tiga hari kemudian.
Beni mengirim pesan.
“Di, makasih ya tehnya. Papa saya senang sekali. Mira bilang kamu memang sengaja belikan buat orang tua dua pihak.”
Aku membaca pesan itu dua kali.
Aku tidak langsung membalas.
Akhirnya kutulis:
“Yang mana?”
Ia mengirim foto kotak teh yang kubeli khusus untuk Papa.
Kotaknya sekarang berada di meja rumah orang tua Beni.
Aku hanya membalas:
“Oh.”
Beni kemudian menulis:
“Tiap tahun merepotkan kamu.”
Kalimat itu justru membuatku semakin diam.
Jadi selama ini mereka tahu barang itu berasal dariku.
Atau setidaknya Beni tahu.
Dan Mira sudah menjadikannya kebiasaan.
Aku tidak memarahi siapa pun.
Tidak menelepon Mama.
Tidak menuntut Mira mengembalikan barang.
Aku hanya membuat satu keputusan.
Tahun berikutnya aku tidak akan membeli apa-apa.
Bukan untuk menghukum mereka.
Aku ingin melihat apa yang sebenarnya mereka rindukan saat semua kotak itu tidak ada.
Dan malam tahun baru Imlek tahun ini, aku akhirnya mendapat jawabannya.
Setelah Papa bertanya kenapa aku tidak membawa hadiah, meja makan menjadi sunyi beberapa saat.
Mama berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Makan dulu. Supnya nanti dingin.”
Tapi Mira sudah gelisah sejak tadi.
Ia memandangku.
“Benar-benar tidak beli?”
“Tidak.”
“Besok juga tidak?”
Aku mengangkat wajah.
“Kenapa?”
Mira berhenti sebentar.
Beni langsung menatap istrinya.
Mama juga tidak bergerak.
Mira akhirnya berkata, “Aku sudah bilang ke Papa-Mamanya Beni kalau besok kami akan bawa teh, sarang burung, sama hampers seperti tahun lalu.”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Bahkan suara sendok Nia yang tadi menyentuh mangkuk berhenti.
Mira melanjutkan, lebih pelan.
“Kalau kamu memang tidak sempat beli, besok pagi kita cari dulu, ya. Aku sudah terlanjur janji.”
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Aku meletakkan sumpit.
“Kenapa aku yang harus beli?”
Mira mengerutkan kening.
“Ya karena biasanya kamu yang beli.”
“Itu hadiahku untuk Papa dan Mama.”
“Iya. Terus Mama biasanya kasih sebagian buat kami.”
“Sebagian?”
Tatapanku pindah ke Beni.
Ia langsung menunduk.
Mira mulai kesal.
“Jangan bicara seolah aku mencuri. Aku selalu minta izin.”
“Aku tidak bilang kamu mencuri.”
“Terus?”
Aku menahan beberapa detik sebelum menjawab.
“Aku baru tahu ternyata barang yang kubeli sudah masuk ke rencana Imlek keluarga kalian.”
Mira menyandarkan punggungnya ke kursi.
“Ardi, jangan dibesar-besarkan. Kita keluarga.”
Aku hampir tertawa mendengar kalimat itu.
Selama tujuh tahun, kalimat seperti itu memang selalu berhasil membuatku diam.
Mama segera ikut bicara.
“Sudah. Besok beli sedikit saja. Tidak usah sebanyak tahun lalu.”
Aku menoleh kepadanya.
“Ma, aku tidak akan beli.”
Wajah Mama berubah.
“Kenapa harus seperti ini saat Imlek?”
“Karena selama bertahun-tahun tidak pernah dibicarakan.”
Papa mengusap wajahnya pelan.
Anak-anak mulai melihat satu sama lain.
Beni tampaknya menyadari hal yang sama.
“Niko, Nia,” katanya, “kalian nonton TV dulu di depan.”
Setelah anak-anak pergi, suasana justru terasa lebih berat.
Mira menatapku.
“Kamu hitung-hitungan sama kakak sendiri sekarang?”
Aku menggeleng.
“Kalau aku hitung-hitungan, dari tahun pertama aku sudah marah.”
“Ya sudah. Berarti selama ini memang tidak masalah.”
“Itu justru masalahnya.”
Mira terdiam.
Aku tidak ingin berteriak.
Tidak ingin mengeluarkan daftar harga barang satu per satu.
Aku hanya ingin mendengar jawabannya.
“Setiap tahun,” kataku, “kamu memang sudah merencanakan mau bawa apa?”
Mira menghela napas.
“Tidak selalu.”
“Yang tahun lalu?”
Ia tidak menjawab.
Aku menoleh kepada Beni.
Ia terlihat semakin tidak nyaman.
“Kamu tahu?”
Beni menjawab hati-hati.
“Aku tahu Mira biasanya dapat barang dari sini.”
“Papa-Mamamu tahu itu aku yang beli?”
Ia ragu.
“Sebagian tahu.”
Mira langsung memotong.
“Beni, tidak perlu dijelaskan panjang.”
Aku menatap kakakku.
“Kenapa tidak?”
“Karena ini masalah kecil.”
“Kalau kecil, kenapa kamu sudah janji tahun ini sebelum tahu aku beli atau tidak?”
Mira tidak punya jawaban cepat.
Untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya tidak terlihat marah.
Ia justru terlihat terpojok.
Mama berkata pelan, “Mira juga punya alasan.”
Aku menatap Mama.
“Apa?”
Mama menggerakkan tangannya di atas meja, seperti sedang mencari cara paling aman untuk mengucapkannya.
“Keluarga Beni banyak saudara. Kalau Imlek semua datang bawa sesuatu.”
“Terus?”
“Kakakmu tidak mau kelihatan datang dengan tangan kosong.”
Aku tidak langsung memahami kalimat itu.
Lalu aku mengerti.
Aku tertawa pendek, bukan karena lucu.
“Jadi selama ini aku yang membayar supaya Kak Mira tidak kelihatan datang dengan tangan kosong?”
“Ardi.”
Mama menatapku dengan nada memperingatkan.
Tapi aku sudah terlalu lama diam.
“Ma, aku tanya saja.”
Mira langsung menjawab.
“Aku juga beli barang sendiri.”
“Aku tidak bilang kamu tidak pernah beli.”
“Seolah-olah semua yang kubawa dari sini itu untuk gaya-gayaan.”
“Kalau bukan, buat apa?”
Mira mengepalkan tangannya.
“Kamu pikir gampang jadi menantu? Kakak-kakak Beni datang bawa buah, kue, makanan, kadang uang untuk orang tua. Kalau aku datang cuma bawa dua anak, mau dibilang apa?”
Beni mengangkat kepala.
“Mira.”
“Apa? Memang begitu.”
Aku melihat suaminya.
“Jadi selama ini kamu juga tahu dia merasa harus membawa barang sebanyak itu?”
Beni mengusap leher.
“Jujur, aku tahu dia merasa tidak enak.”
“Kenapa kalian tidak beli sendiri?”
Mira langsung berkata, “Kami punya cicilan rumah. Sekolah anak. Mobil. Banyak kebutuhan.”
Aku menatapnya.
“Dan aku tidak punya kebutuhan?”
“Kamu sendiri.”
Tiga kata itu keluar begitu saja dari mulutnya.
Setelah mengatakannya, Mira sendiri tampak sadar bahwa kalimat tersebut terdengar buruk.
Aku tidak perlu meninggikan suara.
“Karena aku belum menikah, uangku dianggap lebih longgar?”
“Aku tidak bilang begitu.”
“Barusan Kakak bilang.”
“Bukan maksudku.”
Mama mencoba menyelamatkan keadaan.
“Ardi, Kakakmu cuma maksudnya tanggungannya lebih banyak.”
Aku menatap Mama.
“Makanya kalau aku beli sesuatu untuk Papa dan Mama, otomatis boleh menutup tanggungan Kak Mira?”
Papa akhirnya bicara.
“Cukup.”
Suaranya tidak keras.
Tapi semua orang diam.
Papa memandang Mira lebih dulu.
“Kamu memang keterlaluan kalau sudah sampai menjanjikan barang yang belum ada.”
Mira langsung membela diri.
“Aku cuma pikir tahun ini sama seperti biasanya.”
“Itu masalahnya,” jawab Papa.
Aku tidak menyangka Papa akan berkata begitu.
Namun setelah itu, ia menatapku.
“Kamu juga jangan merasa semua barang yang sudah diberikan kepada kami masih punya aturan dari kamu.”
Aku diam.
Papa benar.
Ia melanjutkan.
“Kalau kamu kasih hadiah ke Papa dan Mama, ya barang itu jadi punya kami. Kalau Mama kasih ke kakakmu, sebenarnya kami berhak.”
Aku mengangguk.
“Iya.”
Mira sedikit bersandar, seolah merasa akhirnya ada seseorang yang membelanya.
Tapi Papa belum selesai.
“Tapi kalau setiap tahun kalian menunggu Ardi beli, lalu kalian anggap itu stok yang bisa dibawa ke rumah sendiri, itu juga tidak benar.”
Mira kembali diam.
Aku justru merasa kepala lebih dingin setelah mendengar Papa.
Masalahnya memang bukan pencurian.
Bukan pula siapa yang secara teknis memiliki sebuah kotak teh setelah kuberikan.
Masalahnya adalah kebiasaan.
Semua orang sudah mengatur pengorbananku tanpa perlu menanyakannya lagi.
Mama memegang mangkuknya.
“Aku yang sering kasih ke Mira.”
Aku menatapnya.
Mama menghindari mataku beberapa detik.
“Kadang Mira tidak minta dulu.”
Kalimat itu membuatku terdiam.
Mira juga menoleh.
“Ma.”
Mama melanjutkan, “Aku tahu dia harus ke rumah mertuanya. Aku pikir barangnya banyak. Daripada dia beli lagi, ya aku kasih.”
Aku menatap meja.
Tiba-tiba banyak kejadian lama menjadi lebih jelas.
Ada tahun ketika Mira baru datang tetapi dua kotak sudah dipisahkan di meja dapur.
Ada tahun ketika Mama mengatakan, “Ini jangan dibuka dulu,” tanpa pernah menjelaskan untuk siapa.
Dulu kupikir Mama menyimpannya.
Mungkin sebagian memang sudah direncanakan untuk Mira.
Aku bertanya, “Mama pernah sengaja sisihkan dari awal?”
Mama mengangguk pelan.
“Pernah.”
“Berapa tahun?”
“Tidak ingat.”
“Kenapa tidak bilang?”
Mama tampak mulai kesal.
“Karena kupikir tidak perlu. Kamu sudah kasih ke Mama.”
Aku menatapnya.
“Iya. Mama memang boleh kasih ke siapa pun.”
“Terus kenapa sekarang kamu marah?”
“Karena tiap tahun Mama senang waktu aku datang bawa banyak. Papa bangga. Mama foto. Saudara-saudara dipanggil lihat.”
Mama terdiam.
“Tapi setelah itu, sebagian besar diberikan ke Kak Mira. Lalu tahun berikutnya kalian berharap aku beli lagi.”
Tidak ada yang menjawab.
Aku melanjutkan.
“Kalau sebenarnya Papa dan Mama tidak butuh sebanyak itu, kenapa aku harus terus menghabiskan uang untuk membuat rumah kelihatan penuh selama dua hari?”
Wajah Papa berubah.
Pertanyaanku rupanya mengenai bagian yang lebih tidak nyaman.
Papa mengusap meja dengan ujung jarinya.
“Aku memang senang.”
Aku menatapnya.
“Senang hadiahnya?”
“Senang kamu masih ingat.”
Jawaban itu jauh lebih sederhana daripada yang kuduga.
Papa berkata lagi, “Kalau saudara datang dan lihat anak sendiri perhatian, orang tua mana yang tidak bangga?”
Aku tidak langsung menjawab.
Aku memahami Papa.
Tapi aku juga akhirnya memahami diriku sendiri.
Selama bertahun-tahun aku membeli semakin banyak bukan hanya karena ingin Papa dan Mama menikmati barang bagus.
Aku juga mengejar ekspresi itu.
Kebanggaan Papa.
Foto Mama.
Pujian saudara.
Aku ikut membangun kebiasaan yang sekarang kubenci.
Mira menghela napas.
“Jadi sekarang semua salahku?”
“Tidak.”
Ia tampak tidak menyangka aku menjawab begitu.
Aku berkata, “Aku juga salah karena selama tujuh tahun tidak pernah bicara. Mama salah karena menganggap aku pasti beli lagi. Papa menikmati rumah penuh tapi tidak pernah tanya barangnya habis ke mana. Kak Mira salah karena lama-lama menganggap semua itu bagian dari jatah.”
Mira langsung bereaksi.
“Jatah apaan?”
“Kalau bukan jatah, kenapa sebelum barangnya ada Kakak sudah janji ke mertua?”
Mulutnya tertutup lagi.
Beni akhirnya bicara.
“Yang itu memang salah.”
Mira menatap suaminya.
“Kamu sekarang ikut menyalahkan aku?”
“Bukan begitu.”
“Terus?”
Beni menarik napas.
“Aku juga salah. Aku tahu barang yang kita bawa dari sini bukan kita yang beli. Tapi karena tiap tahun ada, aku tidak pernah bilang berhenti.”
Suasana menjadi hening.
Aku tidak tahu apakah Beni mengatakan itu karena benar-benar merasa bersalah atau hanya ingin menyelesaikan pertengkaran.
Tapi setidaknya ia mengatakan sesuatu yang selama ini tidak pernah dibicarakan.
Mira mengusap dahinya.
“Terus besok bagaimana?”
Aku hampir tidak percaya pertanyaan itu masih keluar.
“Bagaimana apanya?”
“Aku sudah janji.”
Aku menatapnya.
“Ya beli.”
Mira mengangkat kepala.
“Sekarang?”
“Besok pagi toko banyak yang masih buka.”
“Harganya pasti mahal.”
Aku mengangguk.
“Iya.”
Mira menatapku cukup lama.
Mungkin untuk pertama kalinya ia benar-benar menghitung berapa harga semua yang selama ini dibawanya pulang.
“Kalau cuma teh sama buah?”
“Terserah Kakak.”
Mama hendak bicara lagi.
Aku memotong dengan tenang.
“Ma, jangan kasih uang.”
Mama tersinggung.
“Mama belum bilang apa-apa.”
“Aku tahu.”
“Kalau Mama mau bantu Kakakmu, itu uang Mama.”
Aku berhenti.
Lalu mengangguk.
“Iya. Betul.”
Mama terlihat sedikit terkejut.
Aku melanjutkan.
“Kalau Mama mau kasih uang Mama, aku tidak akan larang. Tapi jangan nanti bilang uang belanja bulan depan kurang lalu minta aku menutupnya.”
Itu bukan ancaman.
Hanya batas yang seharusnya sudah kubuat sejak lama.
Mama tidak menjawab.
Makan malam dilanjutkan, tapi tidak ada lagi yang benar-benar lapar.
Setelah meja dibereskan, Mira menghampiriku di ruang tamu.
“Ardi.”
Aku menoleh.
“Kamu benar-benar sudah berubah.”
Aku hampir menjawab dengan kalimat tajam, tapi kuurungkan.
“Tidak. Aku cuma akhirnya ngomong.”
Ia menyilangkan tangan.
“Selama ini aku pikir kamu ikhlas.”
“Aku juga pikir begitu.”
Mira terdiam.
Jawaban itu tampaknya lebih mengganggunya daripada kalau aku marah.
“Aku tidak pernah paksa kamu beli.”
“Benar.”
“Aku juga selalu minta Mama.”
“Benar.”
“Jadi?”
Aku berdiri.
“Jadi mulai sekarang aku berhenti melakukan sesuatu yang ternyata membuatku kesal setiap tahun.”
Ia tidak bisa membantah itu.
Mira menatap ruang tamu yang kosong.
“Papa dan Mama jelas kecewa.”
“Aku tahu.”
“Kamu tega?”
Aku memandangnya.
“Kalau mereka mau teh, aku belikan teh. Kalau Mama butuh obat, aku bayar. Kalau kulkas rusak, aku bantu ganti. Tapi aku tidak akan lagi beli dua kardus barang hanya supaya rumah kelihatan penuh lalu tiga hari kemudian pindah ke rumah Kakak.”
Mira membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Aku mengambil jaketku.
Sebelum pulang, Mama memanggil.
“Ardi.”
Aku berbalik.
Ia berdiri dekat pintu dapur.
“Besok tetap datang makan, kan?”
Pertanyaan itu membuatku diam sesaat.
Ternyata setelah semua kotak, teh, kacang, dan sarang burung disingkirkan, yang paling ditakutkan Mama bukan rumah yang kosong.
Ia takut aku tidak datang.
“Aku datang.”
Wajahnya sedikit lega.
Pagi hari pertama Imlek, aku kembali ke rumah sekitar pukul sepuluh.
Tidak membawa hampers.
Aku hanya membawa satu kantong jeruk karena Mama menelepon pagi-pagi mengatakan buah di rumah tinggal sedikit untuk tamu.
Aku membelinya di perjalanan.
Ketika masuk, Papa sedang menyapu teras.
Ia melihat kantongku.
“Jeruk?”
“Mama yang minta.”
Papa tertawa kecil.
“Bagus.”
Tidak ada komentar soal teh.
Tidak ada pertanyaan tentang kotak besar.
Saudara mulai datang menjelang siang.
Aku sempat merasa canggung.
Tahun sebelumnya, ruang tamu terlihat seperti toko hampers.
Sekarang hanya ada beberapa stoples makanan buatan Mama, jeruk, dan dua kotak kue pemberian saudara.
Anehnya, tidak ada yang benar-benar peduli.
Salah satu tante bertanya kepada Mama, “Tahun ini tidak banyak hampers?”
Mama menjawab, “Tidak. Daripada kebanyakan, nanti juga tidak habis.”
Hanya begitu.
Tidak ada keluarga yang memandang kami miskin.
Tidak ada orang yang menertawakan Papa.
Lima menit kemudian mereka sudah membicarakan harga sayur dan sekolah cucu.
Aku sampai ingin tertawa.
Bertahun-tahun aku mengeluarkan jutaan rupiah demi suasana yang ternyata sebagian besar hanya ada di kepalaku sendiri.
Mira datang hampir jam satu.
Tangannya membawa dua kantong.
Satu kotak teh.
Satu kotak buah.
Wajahnya tidak terlalu cerah.
Mama langsung bertanya, “Habis berapa?”
Mira menaruh kantong itu di meja.
“Hampir Rp2,4 juta.”
Papa bersiul pelan.
Mira menatapku.
Aku pura-pura sibuk menuangkan teh.
“Sekarang tahu?” tanyaku.
Ia mendengus.
“Jangan senang dulu.”
“Aku tidak senang.”
Dan memang tidak.
Aku justru merasa sedikit kasihan.
Rp2,4 juta mungkin tidak menghancurkan keuangan keluarga Mira, tapi jelas bukan uang kecil bagi rumah tangga dengan dua anak.
Mungkin itulah alasan mengapa selama bertahun-tahun ia menerima kebiasaan itu tanpa banyak berpikir.
Gratis selalu terasa wajar kalau datang terus-menerus.
Sore harinya, sebelum pergi ke rumah mertuanya, Mira menghampiri Mama.
“Ma, yang kue ini aku ambil sedikit buat anak-anak, ya?”
Mama refleks hendak menjawab seperti biasanya.
Lalu ia berhenti.
Matanya mencari wajahku.
Aku langsung berkata, “Jangan lihat aku. Itu punya Mama.”
Mama terlihat malu.
Mira juga diam.
Akhirnya Mama membuka satu stoples, memasukkan beberapa kue ke wadah kecil, lalu menyerahkannya kepada Niko dan Nia.
“Ini buat kalian makan di mobil.”
Bukan satu kotak.
Bukan satu tas besar.
Hanya beberapa kue untuk cucunya.
Aku tidak merasa terganggu sama sekali.
Itulah pertama kalinya aku benar-benar memahami bahwa masalahku bukan berbagi.
Masalahku adalah ketika berbagi berubah menjadi kewajiban diam-diam.
Sekitar dua minggu setelah Imlek, Mama menelepon.
Ia bilang matanya semakin sulit membaca tulisan kecil.
Biasanya aku mungkin akan membeli vitamin mahal, mengirim buah, atau mencari suplemen di internet.
Kali ini aku berkata, “Besok kita periksa.”
Aku mengambil cuti setengah hari.
Aku mengantar Mama ke klinik mata, menunggu sampai selesai, kemudian membayar pemeriksaannya.
Dokter mengatakan tidak ada masalah berat. Kacamatanya hanya perlu diganti.
Di toko optik, Mama memilih bingkai yang menurutnya paling murah.
Aku menyuruhnya mencoba satu yang lebih nyaman.
Ia melihat harga.
“Yang ini mahal.”
“Dipakai setiap hari.”
Ia akhirnya mengambilnya.
Di perjalanan pulang, Mama berkata, “Kalau begini Mama tidak bisa kasih ke kakakmu.”
Aku menoleh.
Ia tersenyum.
Aku ikut tertawa.
Hubungan kami tidak langsung sempurna setelah itu.
Mama masih beberapa kali berkata aku sekarang lebih perhitungan.
Papa kadang bercanda rumah terlihat sepi tanpa tumpukan kotak.
Dan Mira hampir sebulan berbicara kepadaku seperlunya saja.
Aku tidak mengejarnya.
Suatu malam, sekitar enam minggu setelah Imlek, ia mengirim pesan.
Bukan permintaan maaf panjang.
Bukan juga pengakuan dramatis.
Hanya sebuah foto catatan di ponselnya.
Isinya daftar pengeluaran Imlek tahun depan.
Teh.
Buah.
Kue.
Anggaran untuk orang tua Beni.
Di bawahnya ada satu kalimat.
“Ternyata kalau dicatat dari jauh hari tidak terlalu berat.”
Aku membaca pesan itu cukup lama.
Lalu membalas:
“Memang.”
Beberapa menit kemudian ia menulis lagi.
“Yang sarang burung dulu… Mama benar-benar tidak pernah minum?”
Aku menjawab jujur.
“Yang aku beli waktu itu, tidak.”
Tidak ada balasan hampir sepuluh menit.
Kemudian muncul:
“Aku pikir masih ada.”
Aku tahu itu mungkin bukan permintaan maaf yang kuharapkan.
Tapi juga bukan pembelaan.
Aku membalas:
“Sudah lewat.”
Mira kemudian menulis:
“Tahun depan kalau kamu beli sesuatu buat Mama, bilang itu khusus buat dia. Aku tidak ambil.”
Aku tersenyum kecil.
“Tidak perlu. Kalau sudah kuberikan, terserah Mama. Aku saja yang sekarang tidak beli berlebihan.”
Itulah batas yang akhirnya paling masuk akal bagiku.
Aku tidak bisa memberikan sesuatu lalu tetap mengatur barang itu harus berada di mana.
Aku juga tidak bisa memaksa Papa dan Mama berhenti membantu anak perempuan mereka.
Tapi aku bisa memilih apa yang kubeli.
Berapa banyak.
Dan untuk alasan apa.
Beberapa bulan kemudian, ulang tahun Papa tiba.
Aku tidak membawa kardus.
Tidak membawa hampers.
Aku membelikannya satu kotak teh yang memang ia suka.
Hanya satu.
Saat kuberikan, Papa langsung tertawa.
“Kalau Mira datang bagaimana?”
“Kalau Papa mau kasih, silakan.”
Papa mengangkat alis.
“Serius?”
“Serius.”
“Tidak marah?”
Aku menggeleng.
“Kalau Papa kasih karena memang mau kasih, itu urusan Papa.”
“Terus kamu?”
“Aku tahun depan tidak beli penggantinya hanya karena teh ini habis.”
Papa tertawa cukup keras sampai Mama keluar dari dapur.
Kotak teh itu akhirnya tidak diberikan kepada siapa pun.
Bukan karena aku melarang.
Papa membuka sendiri bungkusnya malam itu.
Kami duduk di ruang makan setelah makan malam, hanya berdua karena Mama sedang menelepon saudaranya.
Papa menuangkan teh ke dua cangkir.
“Aromanya bagus.”
Aku mengangguk.
Ia kemudian berkata, “Dulu Papa mungkin terlalu senang dipuji.”
Aku menatapnya.
Papa memutar cangkir perlahan.
“Kalau saudara bilang anak Papa sukses, ya Papa senang.”
Aku tidak menjawab.
“Padahal kalau setiap tahun kamu pulang makan saja sebenarnya cukup.”
Kalimat itu tidak terdengar seperti permintaan maaf.
Papa memang bukan orang yang pandai meminta maaf.
Tapi aku mengerti maksudnya.
Aku mengambil cangkirku.
“Kopi juga cukup murah, Pa.”
Ia mendecakkan lidah.
“Sudah dibelikan teh bagus malah bicara kopi.”
Kami tertawa.
Imlek berikutnya masih beberapa bulan lagi.
Aku tidak tahu apakah Mira benar-benar akan mengikuti anggaran yang dibuatnya.
Aku juga tidak tahu apakah Mama suatu hari akan kembali memberikan sesuatu yang kubeli kepadanya.
Mungkin iya.
Sekarang aku tidak terlalu memikirkannya.
Di rumah Papa, kotak teh ulang tahun itu masih berada di lemari kecil ruang makan.
Bukan tersegel untuk dipamerkan.
Bukan disisihkan untuk dibawa orang lain.
Tutupnya sudah terbuka.
Isinya sudah berkurang hampir setengah.
Dan setiap kali aku pulang, Papa mengambil sedikit, memasukkannya ke teko, lalu bertanya dari dapur,
“Kamu minum juga?”
Menurutmu, apakah Ardi tepat berhenti membeli banyak hadiah setelah sadar keluarganya sudah menganggap kebiasaan itu sebagai kewajiban?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
