Ayahku Membawa Cinta Pertamanya Pulang Setelah 36 Tahun Menikah, Lalu Mewariskan 80% Saham Perusahaan Kepadanya

Avatar penulis
Cerita 01
19 menit baca 893 tayangan
Ayahku Membawa Cinta Pertamanya Pulang Setelah 36 Tahun Menikah, Lalu Mewariskan 80% Saham Perusahaan Kepadanya
Indeks

Bagian 2

Pak Arif mulai membaca tanpa banyak pengantar.

Beberapa aset pribadi Ayah dibagi untukku, Ibu, dan sejumlah keperluan lain yang sudah ditentukan.

Tidak ada yang mengejutkan sampai ia membuka halaman mengenai PT Wijaya Prima.

Aku melihat Lina duduk lebih tegak.

Pak Arif membaca kalimat berikutnya.

“Delapan puluh persen saham PT Wijaya Prima yang tercatat atas nama Bapak Hendra Wijaya diwariskan kepada Ibu Lina Hartono.”

Ruangan langsung sunyi.

Aku bahkan sempat mengira salah dengar.

“Delapan puluh persen?” tanyaku.

Pak Arif menatapku.

Ayahku Membawa Cinta Pertamanya Pulang Setelah 36 Tahun Menikah, Lalu Mewariskan 80% Saham Perusahaan Kepadanya

“Benar.”

Ayah memang memegang delapan puluh persen saham perusahaan. Dua puluh persen sisanya atas nama Ibu sejak perusahaan melakukan penataan kepemilikan bertahun-tahun lalu.

Artinya, jika wasiat itu berjalan sebagaimana dibacakan, Lina bukan sekadar menerima uang.

Ia akan menjadi pemegang saham pengendali.

Paman Rudi berdiri.

“Kak Hendra waras waktu menandatangani ini?”

Pak Arif menjawab hati-hati.

“Dokumen yang saya bacakan dibuat ketika kondisi beliau masih dinilai mampu mengambil keputusan.”

“Dan perusahaan yang dibangun bersama keluarga diberikan kepada orang yang baru masuk rumah beberapa minggu?”

Lina akhirnya bicara.

“Pak Rudi, hubungan saya dengan Hendra tidak dimulai beberapa minggu lalu.”

Paman menatapnya.

“Yang saya lihat Anda baru tinggal di rumah kakak saya beberapa minggu.”

Lina mengatupkan bibir.

Aku menoleh kepada Ibu.

Semua orang juga melakukannya.

Mungkin mereka menunggu Ibu membanting meja.

Mungkin menuduh Ayah.

Mungkin mengusir Lina.

Ibu hanya bertanya kepada Pak Arif, “Sudah selesai?”

“Untuk bagian utama, sudah.”

Ibu mengangguk.

“Saya tahu.”

Aku menoleh cepat.

“Bu?”

Ia tidak menjelaskan.

Lina memandangnya beberapa detik.

Ada sesuatu yang berubah di wajahnya. Bukan takut. Lebih seperti bingung karena tidak mendapatkan reaksi yang ia harapkan.

Sebelum pergi, Pak Arif mengingatkan bahwa pembacaan wasiat tidak berarti perubahan kepemilikan saham selesai hari itu juga.

Dokumen masih harus diverifikasi dan proses administrasi perusahaan tetap harus mengikuti aturan yang berlaku.

Aku bersyukur mendengarnya.

Setidaknya Lina tidak bisa pulang membawa map lalu besok pagi mengganti seluruh direksi.

Namun tiga hari berikutnya terasa sangat panjang.

Lina mulai menerima telepon dari beberapa orang perusahaan.

Aku mendengarnya berbicara di halaman rumah.

“Ya, nanti kita bicarakan di kantor.”

Pada kesempatan lain:

“Saya ingin lihat laporan beberapa tahun terakhir.”

Ia belum resmi menguasai apa pun, tetapi cara bicaranya berubah.

Paman Rudi semakin kesal.

“Nadira, ibumu benar-benar mau diam?”

“Aku tidak tahu.”

“Kamu anak satu-satunya Hendra.”

“Itu tidak otomatis membuat saham itu milikku.”

“Aku tahu. Tapi paling tidak kalian periksa semuanya.”

Aku sudah berpikir hal yang sama.

Malamnya aku masuk ke kamar Ibu.

Untuk pertama kali sejak kematian Ayah, aku melihat meja kecilnya penuh dengan map.

“Bu, Ibu sedang apa?”

“Memeriksa dokumen lama.”

“Karena wasiat?”

Ibu menutup salah satu map.

“Nadira, jangan hubungi Lina soal saham.”

“Kenapa?”

“Karena semua belum selesai.”

Aku duduk.

“Ibu tahu sesuatu?”

Ia menggeleng.

“Ibu tahu satu hal. Jangan membuat keputusan ketika dokumennya belum lengkap.”

“Lalu kenapa waktu Pak Arif membacakan wasiat, Ibu bilang ‘saya tahu’?”

Ibu menatapku.

“Karena Ibu mendengar apa yang dia baca.”

“Itu saja?”

“Itu saja.”

Jawabannya membuatku jengkel.

Aku berdiri.

“Ibu selalu begini. Ayah membawa perempuan lain, Ibu diam. Ayah meninggalkan hampir seluruh kendali perusahaan kepadanya, Ibu juga diam. Aku bahkan tidak tahu apakah Ibu peduli.”

Wajah Ibu berubah sedikit.

Bukan marah.

Lelah.

“Ibu peduli. Tapi berteriak bukan satu-satunya bentuk peduli.”

Aku tidak menjawab.

Keesokan paginya aku mendapat telepon dari sekretaris perusahaan.

“Mbak Nadira, hari ini ada rapat dewan. Ibu Lina minta hadir.”

“Dia sudah punya hak masuk?”

“Secara formal status sahamnya belum selesai. Tapi beliau meminta hadir sebagai calon pemegang saham berdasarkan wasiat. Pak Komisaris mengizinkan sebagai undangan.”

Aku langsung menghubungi Ibu.

“Aku ke kantor.”

“Ibu ikut.”

Itu kalimat paling tegas yang kudengar darinya sejak Ayah sakit.

Ruang rapat PT Wijaya Prima berada di lantai enam kantor pusat di Surabaya.

Ketika aku dan Ibu masuk, hampir semua orang sudah duduk.

Sepuluh menit kemudian, suara sepatu hak terdengar dari koridor.

Lina masuk dengan blazer krem dan map kulit di tangan.

Ia tersenyum kepada beberapa anggota direksi.

“Maaf membuat menunggu.”

Tidak ada yang menjawab.

Lina memilih kursi yang dulu biasa dipakai Ayah ketika rapat pemegang saham.

Paman Rudi langsung berkata, “Kursi itu belum menjadi milik siapa pun.”

Lina menatapnya.

“Saya hanya duduk, Pak Rudi.”

Rapat belum sempat dimulai ketika pintu terbuka lagi.

Pak Arif masuk bersama seorang notaris perempuan yang tidak kukenal.

Lina mengerutkan kening.

“Pak Arif?”

Ia berdiri.

Pak Arif tidak duduk.

Ia meletakkan sebuah amplop resmi di meja, lalu melihat seluruh ruangan.

“Mohon perhatian sebentar.”

Semua orang terdiam.

“Ada perkembangan terkait wasiat almarhum Pak Hendra.”

Wajah Lina berubah.

Pak Arif melanjutkan.

“Tadi pagi saya menerima konfirmasi dan kuasa untuk menyampaikan adanya satu surat wasiat lain yang dibuat setelah dokumen yang kami bacakan di rumah.”

Senyum tipis di wajah Lina hilang.

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Tidak ada yang bergerak selama beberapa detik.

Aku memandang Pak Arif, lalu notaris yang berdiri di sampingnya.

Lina yang pertama bicara.

“Maksud Anda apa, surat wasiat lain?”

Pak Arif menunjuk kursi.

“Sebaiknya semua duduk dulu.”

“Apa dokumen itu sah?”

“Itulah yang sedang kami verifikasi bersama notaris yang menyimpannya.”

Lina tetap berdiri.

“Kenapa baru sekarang?”

Notaris perempuan itu memperkenalkan diri.

“Nama saya Maya Sutedja. Almarhum Pak Hendra datang ke kantor saya beberapa minggu sebelum kondisi kesehatannya memburuk. Beliau membuat surat wasiat baru. Setelah beliau meninggal, kami menjalankan pemeriksaan administrasi dan menghubungi pihak yang ditunjuk.”

Pak Arif menambahkan, “Dokumen yang saya bacakan sebelumnya memang ada dan dibuat lebih dahulu. Dokumen yang dibawa Bu Maya bertanggal sebelas hari setelahnya.”

Aku menoleh kepada Ibu.

Ekspresinya tetap tenang, tetapi kali ini aku melihat jarinya menggenggam ujung tas sedikit lebih kuat.

Berarti ia juga tidak tahu.

Lina akhirnya duduk.

“Baca saja.”

Bu Maya membuka dokumen.

Ia tidak membacakan setiap kalimat. Hanya bagian yang berhubungan dengan perusahaan dan hal-hal yang bertentangan dengan wasiat sebelumnya.

Dalam wasiat yang lebih baru, Ayah memang tetap memberikan sebagian harta kepada Lina.

Tetapi bukan delapan puluh persen saham perusahaan.

Dari delapan puluh persen saham milik Ayah, lima puluh persen diwariskan kepadaku.

Dua puluh persen diwariskan kepada Ibu.

Sepuluh persen diberikan kepada Lina.

Aku sampai harus melihat angka-angka yang ditulis Bu Maya di kertas untuk memahami akibatnya.

Sebelum Ayah meninggal, Ibu sudah memiliki dua puluh persen.

Dengan tambahan dua puluh persen dari wasiat terakhir, bagian Ibu menjadi empat puluh persen.

Aku memperoleh lima puluh persen.

Lina sepuluh persen.

Tidak ada satu pun dari kami yang bisa bertindak seolah perusahaan adalah milik pribadi.

Tetapi kendali yang tiga hari terakhir diyakini akan jatuh penuh ke tangan Lina, ternyata tidak pernah menjadi miliknya.

Lina menatap Bu Maya.

“Kenapa dia membuat wasiat kedua?”

Bu Maya menjawab, “Saya hanya dapat menjelaskan proses yang saya ketahui. Soal alasan pribadi beliau, saya tidak ingin berspekulasi.”

“Dia datang sendiri?”

“Ya.”

“Siapa yang menyuruhnya?”

“Tidak ada orang lain di ruangan ketika beliau menyampaikan kehendaknya kepada saya.”

Lina melirik Ibu.

“Bu Ratih tahu?”

Ibu menjawab sebelum siapa pun.

“Tidak.”

“Jangan bohong.”

Ibu menatapnya.

“Saya baru tahu hari ini.”

Untuk pertama kalinya, Lina tampak benar-benar kehilangan pijakan.

Ia menoleh kepadaku.

“Kamu tahu?”

Aku menggeleng.

Paman Rudi mengembuskan napas panjang.

“Kalau begitu cukup jelas.”

Lina menatapnya tajam.

“Belum tentu.”

Pak Arif mengangkat tangan.

“Karena menyangkut saham perusahaan, semuanya tetap harus mengikuti proses administrasi. Tidak ada perubahan kendali hari ini. Sampai dokumen selesai diverifikasi dan pencatatan dilakukan sebagaimana mestinya, keputusan perusahaan tetap dijalankan berdasarkan struktur yang masih berlaku.”

Aku lega mendengar itu.

Setidaknya ruangan itu tidak berubah menjadi tempat perebutan kursi.

Namun Lina belum selesai.

“Kalau begitu saya ingin salinan dokumen.”

Pak Arif mengangguk.

“Pihak yang berkepentingan akan menerima dokumen sesuai prosedur.”

“Dan saya ingin tahu kondisi Hendra saat membuatnya.”

“Itu juga bisa diperiksa melalui jalur yang benar.”

Lina berdiri.

Tangannya mengambil tas terlalu cepat hingga map di depannya hampir jatuh.

Sebelum keluar, ia berhenti di belakang kursi Ibu.

“Jadi ini yang Anda tunggu?”

Ibu menatap lurus ke depan.

“Saya tidak menunggu apa-apa dari Hendra.”

Lina tertawa pendek.

“Selama tiga puluh enam tahun Anda mempertahankan pernikahan tanpa cinta, lalu sekarang mau bilang tidak menunggu apa-apa?”

Aku menegang.

Ruangan mendadak terlalu sunyi.

Ibu berdiri.

Aku mengira akhirnya ia akan marah.

Tetapi suaranya tetap rendah.

“Bu Lina, kalau ingin membicarakan suami saya, kita bisa melakukannya di tempat lain. Ini kantor.”

“Saya cuma ingin tahu kenapa Anda begitu tenang.”

“Karena perusahaan ini punya karyawan yang besok tetap harus bekerja.”

Lina tidak menjawab.

Ibu memindahkan map dari kursi Ayah ke bagian tengah meja.

“Dan mereka tidak perlu melihat kita mengubah ruang rapat menjadi ruang keluarga.”

Lina mengambil tasnya dan pergi.

Rapat hari itu dibatalkan.

Di mobil, aku duduk di samping Ibu tanpa bicara hampir sepuluh menit.

Akhirnya aku bertanya, “Ibu benar-benar tidak tahu?”

“Tidak.”

“Lalu waktu wasiat pertama dibaca, kenapa Ibu sama sekali tidak panik?”

Ibu memandang jalan.

“Karena panik tidak mengubah isi kertas.”

“Kalau wasiat kedua tidak pernah ada?”

“Ya berarti Ibu tetap hanya punya dua puluh persen.”

“Dan Tante Lina dapat delapan puluh?”

“Iya.”

“Ibu bisa menerima itu?”

Ibu menoleh kepadaku.

“Menerima kenyataan dan menyetujui kenyataan itu dua hal berbeda.”

Aku terdiam.

Ia melanjutkan, “Kalau dokumennya memang sah, Ibu akan memeriksa apa hak Ibu, apa hak perusahaan, lalu mengambil keputusan dari sana. Kalau tidak sah, baru dipersoalkan. Ibu tidak mau membangun kemarahan berdasarkan sesuatu yang belum diperiksa.”

Aku baru memahami bahwa selama ini aku selalu membaca ketenangan Ibu sebagai kelemahan.

Padahal mungkin aku tidak pernah benar-benar mengenalnya.

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak Ayah meninggal, Ibu turun dan makan di meja makan.

Hanya kami berdua.

Aku bertanya sesuatu yang sudah kusimpan sejak kecil.

“Kenapa Ibu dan Ayah hidup terpisah selama tiga puluh enam tahun?”

Ibu tidak langsung menjawab.

Ia mengambil sedikit sayur.

Kemudian meletakkan sendoknya kembali.

“Ibu menikah dengan ayahmu ketika umur Ibu dua puluh empat.”

Aku tahu bagian itu.

“Pernikahan kami bukan pernikahan yang dipaksakan, kalau itu yang kamu pikirkan. Kami sama-sama setuju.”

“Terus?”

“Waktu itu Ayahmu sudah putus dengan Lina.”

Aku menatapnya.

“Ibu tahu tentang dia?”

“Setelah menikah.”

Ibu menarik napas.

“Bukan karena mereka masih bertemu. Ayahmu menyimpan surat dan foto. Suatu hari Ibu menemukannya.”

“Ayah selingkuh?”

“Selama bertahun-tahun pertama, tidak.”

Aku tidak tahu apakah jawaban itu melegakan atau justru membuat semuanya semakin aneh.

“Lalu kenapa kalian pisah kamar?”

“Karena beberapa tahun setelah kamu lahir, kami sadar kami tidak pernah membangun hubungan yang sama.”

“Karena Tante Lina?”

“Sebagian.”

Ibu menatap meja makan.

“Ayahmu mencintai seseorang yang tidak jadi ia nikahi. Ibu menikahi laki-laki yang Ibu kira bisa mencintai Ibu dengan cara yang sama. Kami berdua salah.”

“Terus kalian tetap menikah tiga puluh enam tahun?”

“Kami punya kamu. Kami punya perusahaan. Kami punya tanggung jawab.”

Aku spontan berkata, “Itu terdengar menyedihkan.”

Ibu tersenyum sangat tipis.

“Memang.”

Aku tidak menyangka ia akan mengakuinya begitu mudah.

“Kenapa tidak cerai?”

“Beberapa kali dibicarakan.”

“Kenapa tidak jadi?”

“Dulu karena kamu masih kecil. Setelah kamu besar, kami sudah terlalu terbiasa hidup masing-masing.”

Ibu mengangkat bahu kecil.

“Kami tidak saling mencintai sebagai pasangan, tapi kami juga tidak setiap hari saling menyiksa.”

Aku teringat semua foto keluarga.

Jarak di antara mereka.

Aku selalu berada di tengah.

“Jadi selama ini kalian cuma menjaga bentuknya?”

“Kurang lebih.”

“Dan perusahaan?”

“Ayahmu lebih kuat di penjualan dan relasi. Ibu lebih banyak mengurus operasional serta keuangan ketika perusahaan masih kecil. Setelah struktur perusahaan berubah, Ibu menyimpan dua puluh persen saham dan tidak lagi mengurus harian.”

Aku menatapnya.

“Kenapa aku tidak pernah tahu?”

“Kamu anak kami, bukan hakim pernikahan kami.”

Kalimat itu membuatku diam.

Beberapa hari kemudian, Pak Arif meminta kami datang ke kantor notaris.

Ia menjelaskan hasil pemeriksaan awal.

Wasiat kedua memang dibuat setelah wasiat pertama.

Prosesnya tercatat.

Dokumennya tidak muncul secara ajaib dari laci rahasia. Bu Maya menjelaskan bahwa setelah kematian Ayah, kantornya menjalankan prosedur untuk menghubungi pihak yang disebut dalam dokumen. Karena sebagian urusan perusahaan selama ini ditangani Pak Arif, koordinasi memerlukan beberapa hari.

Aku bertanya, “Jadi wasiat pertama tidak berlaku?”

Pak Arif menjawab hati-hati.

“Untuk bagian-bagian yang secara jelas sudah diubah oleh wasiat yang lebih baru, dokumen terakhir menjadi dasar yang harus diperiksa lebih lanjut. Tetapi kami tetap menyelesaikan semua proses secara formal. Saya tidak mau mengatakan semuanya selesai sebelum memang selesai.”

Aku menghargai jawaban itu.

Tidak ada kalimat ajaib.

Tidak ada orang yang menelepon lalu tiba-tiba mengubah daftar pemegang saham.

Kami tetap harus menunggu.

Ketika pertemuan selesai, Pak Arif meminta aku tinggal sebentar.

“Ada satu hal lagi.”

Ibu ikut duduk.

Pak Arif mengeluarkan satu lembar kertas.

“Ini bukan wasiat. Ini hanya instruksi bisnis yang Pak Hendra kirimkan kepada sekretaris direksi sebelum pertemuannya dengan Bu Maya.”

Aku membaca.

Ayah meminta agar tidak ada perubahan posisi direksi maupun penjualan aset besar sampai proses waris selesai.

Di bagian bawah terdapat catatan singkat:

Nadira harus diberi waktu memahami perusahaan sebelum mengambil keputusan. Ratih tahu bagaimana menjaga perusahaan tetap hidup. Jangan biarkan masalah pribadi menghancurkan pekerjaan ratusan orang.

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Tidak ada penjelasan soal Lina.

Tidak ada permintaan maaf.

Tidak ada surat panjang tentang cinta.

Hanya tiga kalimat yang terdengar sangat seperti Ayah.

Aku menyerahkan kertas kepada Ibu.

Ia membacanya.

Lalu memasukkannya kembali ke map.

Aku bertanya, “Kenapa Ayah awalnya memberi delapan puluh persen ke Tante Lina?”

Pak Arif menggeleng.

“Saya tidak tahu.”

Jawaban itu menggangguku.

Aku ingin sebab yang bersih.

Satu penjelasan yang bisa membuat semuanya masuk akal.

Ternyata hidup tidak selalu memberikannya.

Namun dua hari kemudian, Lina sendiri memberi sebagian jawabannya.

Ia datang ke rumah sekitar pukul empat sore.

Ibu sedang di taman.

Aku yang membuka pintu.

“Nadira, kita perlu bicara.”

“Tentang apa?”

“Wasiat.”

Aku mempersilahkannya masuk, tetapi tidak ke ruang kerja Ayah.

Kami duduk di ruang tamu.

Lina tidak lagi tampil seperti orang yang baru mendapat kendali perusahaan.

Ada lelah di wajahnya.

“Ayahmu pernah mengatakan dia ingin mengganti tahun-tahun yang hilang.”

Aku menunggu.

“Dia bilang perusahaan adalah hal terbesar yang dia bangun.”

“Lalu?”

“Dia ingin meninggalkan itu untukku.”

Aku bertanya, “Kenapa berubah?”

Lina menatapku cukup lama.

“Aku tidak tahu.”

“Tante yakin?”

Nada suaraku membuatnya tidak nyaman.

“Apa maksudmu?”

“Ayah membuat wasiat kedua sebelas hari kemudian. Pasti ada sesuatu yang berubah.”

Lina memalingkan wajah.

Aku tidak mengejarnya dengan tuduhan.

Aku hanya menunggu.

Akhirnya ia berkata, “Kami pernah bertengkar.”

Ibu muncul dari pintu menuju taman tetapi tidak ikut masuk. Ia berdiri cukup jauh.

Aku bertanya, “Tentang perusahaan?”

Lina menatapku lagi.

“Aku bertanya bagaimana perusahaan akan dijalankan nanti.”

“Itu saja?”

“Aku juga bilang kalau dia benar-benar ingin memberikan saham itu kepadaku, sebaiknya dia memperkenalkanku kepada direksi.”

“Kapan?”

“Sekitar dua minggu sebelum dia benar-benar melemah.”

Aku mulai melihat bentuk masalahnya.

“Tante sudah tahu tentang wasiat pertama?”

Lina tidak menjawab.

Aku mengulang.

“Ayah sudah memberi tahu Tante?”

“Dia mengatakan sebagian besar saham akan menjadi milikku.”

“Jadi sebelum Ayah meninggal, Tante sudah meminta posisi di perusahaan?”

“Aku tidak meminta posisi.”

“Tante meminta diperkenalkan ke direksi.”

“Itu wajar.”

“Untuk seseorang yang belum jadi pemegang saham?”

Lina mulai kesal.

“Aku bersama ayahmu jauh sebelum ibumu mengenalnya.”

Dari belakang, Ibu berkata, “Itu benar.”

Kami menoleh.

Ibu berjalan masuk.

Lina tampak tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu.

Ibu duduk di kursi seberang.

“Kamu mengenal Hendra lebih dulu.”

Lina menatapnya.

“Kalau begitu Anda seharusnya paham.”

“Paham apa?”

“Dia selalu mencintai saya.”

Ibu mengangguk.

“Saya juga tahu itu.”

Aku menahan napas.

Lina terlihat justru semakin tidak nyaman karena Ibu tidak membantah.

Ia berkata, “Kalau Anda tahu, kenapa bertahan?”

Ibu menjawab, “Karena itu keputusan saya.”

“Dan sekarang sahamnya malah jatuh ke Anda dan Nadira.”

“Bukan kami yang membuat wasiat.”

“Entah bagaimana dia berubah pikiran setelah tinggal bersama kalian.”

Aku menyela.

“Ayah tinggal bersama kami seumur hidup.”

Lina menatapku tajam.

Aku melanjutkan, “Kalau Tante mau mempertanyakan wasiat, silakan lewat prosedur yang benar. Tapi jangan menyiratkan Ibu memaksa Ayah tanpa bukti.”

Lina terdiam.

Aku sendiri sedikit terkejut mendengar suaraku.

Beberapa bulan sebelumnya, aku mungkin akan diam agar suasana tidak memburuk.

Sekarang aku justru merasa ada sesuatu yang harus dihentikan sebelum menjadi kebiasaan.

Lina berdiri.

Sebelum pergi ia berkata kepada Ibu, “Anda menang.”

Ibu juga berdiri.

“Tidak.”

Lina memandangnya.

Ibu berkata, “Hendra meninggal. Apa yang menurutmu saya menangkan?”

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Lina tidak punya jawaban.

Ia pergi tanpa menoleh lagi.

Setelah pintu tertutup, aku bertanya, “Ibu tidak marah?”

“Marah.”

Aku tersenyum kecil.

“Akhirnya mengaku juga.”

Ibu duduk kembali.

“Marah tidak selalu perlu ditunjukkan kepada orang yang membuat kita marah.”

Beberapa minggu berikutnya jauh dari tenang.

Lina menggunakan haknya untuk meminta penjelasan mengenai wasiat dan berkonsultasi dengan penasihat hukumnya.

Aku tidak menyalahkannya untuk itu.

Kalau aku berada di posisinya, menerima kabar bahwa delapan puluh persen saham akan menjadi milikku lalu mengetahui ada dokumen lain yang mengubah semuanya, aku juga pasti ingin memastikan.

Yang tidak kami izinkan adalah ia bertindak seolah proses sudah selesai.

Sekretaris perusahaan mendapat instruksi tertulis bahwa semua permintaan data harus mengikuti kewenangan yang sah.

Password sistem tidak diberikan kepada siapa pun di luar struktur perusahaan.

Tidak ada jabatan baru.

Tidak ada perubahan direktur.

Untuk pertama kalinya, aku ikut rapat operasional mingguan.

Aku sebelumnya bekerja di perusahaan konsultan logistik dan memang memahami dasar bisnis, tetapi aku sengaja tidak bekerja di perusahaan keluarga karena tidak ingin hidup di bawah bayang-bayang Ayah.

Sekarang lima puluh persen saham berpotensi menjadi tanggung jawabku.

Pada rapat pertama, aku lebih banyak mendengar.

Direktur operasional menunjukkan laporan arus kas.

Kepala gudang membahas masalah distribusi.

Aku tidak berpura-pura paham semuanya.

Kalau tidak mengerti, aku bertanya.

Seusai rapat, Paman Rudi berkata, “Ayahmu pasti senang.”

Aku langsung menjawab, “Kita tidak tahu.”

Ia terdiam.

Aku melanjutkan, “Aku tidak mau melakukan sesuatu hanya karena semua orang bilang Ayah pasti menginginkannya. Aku akan lihat dulu apakah aku memang mampu.”

Paman mengangguk.

“Itu lebih sehat.”

Ibu juga mulai datang ke kantor dua kali seminggu.

Bukan untuk mengambil alih.

Ia justru duduk di ruangan komisaris lama yang kosong dan memeriksa laporan.

Suatu hari aku bertanya, “Ibu mau kembali mengurus perusahaan?”

“Tidak sepenuhnya.”

“Kenapa?”

“Umur Ibu sudah enam puluh satu. Ibu tidak mau memulai hidup kedua dengan duduk di kantor sepuluh jam sehari.”

Aku tertawa.

“Aku pikir Ibu bakal bilang demi perusahaan.”

“Perusahaan bukan bayi.”

Jawaban itu membuatku tertawa lebih keras.

Dua bulan setelah kematian Ayah, urusan wasiat memasuki tahap yang jauh lebih jelas.

Tidak ada pengadilan dramatis.

Tidak ada orang ditangkap.

Tidak ada adegan keluarga saling berteriak.

Pihak Lina akhirnya tidak menemukan dasar yang cukup untuk menggugurkan wasiat terakhir.

Proses kepemilikan saham kemudian dilanjutkan berdasarkan dokumen tersebut.

Lina tetap menerima sepuluh persen.

Ibu tidak berusaha menghapus bagiannya.

Aku sempat bertanya, “Ibu tidak keberatan dia tetap punya saham?”

Ibu berkata, “Kalau itu keputusan terakhir ayahmu dan sah, kenapa Ibu harus mengambil yang bukan milik Ibu?”

Aku tahu tidak semua orang di keluarga akan setuju.

Paman Rudi termasuk yang paling keras.

“Setelah semua masalah ini, dia masih dapat sepuluh persen?”

Ibu menjawab, “Kita tidak membagi warisan berdasarkan siapa yang paling kita sukai.”

Itu menutup perdebatan.

Namun Lina tidak pernah lagi datang ke rumah.

Ia menghadiri satu rapat pemegang saham beberapa bulan kemudian dengan wakil hukumnya.

Sikapnya jauh lebih formal.

Kami juga demikian.

Tidak ada yang berpura-pura menjadi keluarga.

Tidak ada penghinaan.

Tidak ada usaha berdamai secara palsu.

Kami hanya menjalankan hak dan kewajiban masing-masing.

Hubunganku dengan Ibu berubah jauh lebih banyak daripada yang kuduga.

Selama bertahun-tahun aku mengira ia perempuan yang memilih diam karena takut kehilangan suami.

Ternyata bukan itu.

Ia hanya sudah lama berhenti menjadikan Ayah pusat hidupnya.

Taman, buku-buku, beberapa investasi kecil, teman-temannya, dan bagiannya di perusahaan sudah menjadi dunia sendiri.

Satu sore aku bertanya, “Kalau bisa mengulang semuanya, Ibu akan tetap menikah dengan Ayah?”

Ia tertawa kecil.

“Pertanyaanmu terlambat tiga puluh enam tahun.”

“Aku serius.”

Ibu berpikir.

“Kalau jawab tidak, berarti Ibu harus membayangkan hidup tanpa kamu.”

Aku terdiam.

Ia melanjutkan, “Jadi Ibu tidak tahu.”

“Kalau soal Ayah?”

“Dia membuat banyak keputusan yang menyakitkan.”

Ibu memetik satu daun kering dari tanaman.

“Tapi orang mati juga tidak otomatis berubah menjadi orang suci atau orang jahat. Dia tetap Hendra. Ada hal yang dia lakukan dengan baik, ada yang sangat buruk.”

Aku mengangguk.

Itu mungkin penjelasan paling adil yang pernah kudengar tentang Ayah.

Enam bulan setelah pemakaman, perusahaan belum berubah menjadi kerajaan yang tiba-tiba tumbuh berkali-kali lipat.

Justru ada banyak pekerjaan membosankan.

Audit.

Rapat.

Perubahan pencatatan saham.

Peninjauan kewenangan.

Pembagian tugas.

Aku masih belajar.

Beberapa keputusan yang kuusulkan ditolak direksi karena angkanya memang tidak masuk akal.

Aku juga pernah salah membaca proyeksi penjualan dan ditegur direktur keuangan.

Ibu menertawakanku ketika aku mengeluh.

“Bagus.”

“Apa yang bagus?”

“Berarti mereka tidak menganggap kamu benar hanya karena anak pendiri.”

Perlahan aku mulai memahami kenapa Ayah dalam instruksi terakhirnya meminta agar aku diberi waktu.

Mewarisi saham ternyata jauh lebih mudah daripada belajar menanggung akibat dari keputusan perusahaan.

Sementara itu, kehidupan di rumah berubah.

Kamar Ayah di lantai atas tetap kosong selama beberapa bulan.

Aku tidak sanggup memindahkan barangnya.

Ibu tidak memaksa.

Suatu Sabtu pagi, akhirnya kami naik bersama.

Aku membuka lemari.

Masih ada beberapa kemeja, buku catatan, kotak cerutu kosong, dan foto-foto lama.

Di salah satu laci, aku menemukan foto Ayah dan Lina ketika muda.

Foto yang sama yang pernah kulihat bertahun-tahun lalu.

Tulisan di belakangnya masih ada.

Untuk Lina, perempuan yang selalu kucintai.

Aku menyerahkannya kepada Ibu.

Ia membaca sebentar.

“Buang?” tanyaku.

Ibu menggeleng.

“Itu milik ayahmu.”

“Terus?”

“Simpan bersama barangnya.”

Aku memasukkannya ke kotak.

Tidak ada pembakaran foto.

Tidak ada air mata.

Tidak ada pidato tentang kemenangan.

Hanya sebuah benda dari kehidupan orang yang sudah tidak ada.

Beberapa minggu kemudian, Ibu pindah dari loteng kembali ke kamar lamanya di lantai bawah.

Pada hari pertama, aku membantunya membawa buku.

Aku menemukan satu kunci kecil di dalam mangkuk dekat pintu.

“Kunci apa?”

“Kamar atas.”

Aku memandangnya.

“Ibu mau simpan?”

Ia berpikir sebentar.

Lalu menyerahkannya kepadaku.

“Kamu saja.”

Aku naik dan membuka kamar Ayah untuk terakhir kalinya sebelum renovasi ringan dilakukan.

Jendela kubuka.

Udara lama perlahan keluar.

Foto-foto penting disimpan.

Dokumen perusahaan dipindahkan ke tempat yang semestinya.

Barang pribadi yang ingin kusimpan dimasukkan ke beberapa kotak.

Ketika selesai, aku turun.

Ibu sedang duduk di meja makan.

Untuk pertama kalinya sejak kecil, meja itu tidak terasa seperti garis perbatasan antara dua orang dewasa.

Aku duduk di kursi di sampingnya, bukan di tengah.

Kunci kamar Ayah kulepaskan dari gantungan kunci rumah dan kusimpan dalam kotak barang pribadinya.

Lalu aku menutup kotak itu.

Menurutmu, apakah Ratih benar karena memilih batas dan proses yang tenang daripada melawan Lina dengan kemarahan?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.