IBU MERTUAKU MELEMPARKAN KOPERKU KELUAR RUMAH, SEMENTARA SUAMIKU MEMAKSAKU MENANDATANGANI SURAT PELEPASAN HAK ATAS HARTA — MEREKA TIDAK TAHU BAHWA WANITA DI DALAM MOBIL HITAM DI DEPAN GERBANG TELAH MENCARIKU SELAMA 23 TAHUN

Avatar penulis
Cerita 05
19 menit baca 936 tayangan
Indeks

IBU MERTUAKU MELEMPARKAN KOPERKU KELUAR RUMAH, SEMENTARA SUAMIKU MEMAKSAKU MENANDATANGANI SURAT PELEPASAN HAK ATAS HARTA — MEREKA TIDAK TAHU BAHWA WANITA DI DALAM MOBIL HITAM DI DEPAN GERBANG TELAH MENCARIKU SELAMA 23 TAHUN

Hari ketika ibu mertuaku melemparkan koperku ke tangga depan rumah, hujan baru saja turun dengan deras.

Pakaianku berhamburan di halaman yang basah.

Salah satu gaunku bahkan terlindas roda kendaraan kurir hingga penuh lumpur.

Aku membungkuk untuk mengambilnya.

Ibu mertuaku, Ratih, berdiri di bawah teras dengan kedua tangan terlipat di dada. Tatapannya dingin tanpa sedikit pun rasa bersalah.

— Tidak perlu dipungut lagi. Bawa semuanya dan pergi. Mulai hari ini, kau bukan lagi bagian dari keluarga ini.

IBU MERTUAKU MELEMPARKAN KOPERKU KELUAR RUMAH, SEMENTARA SUAMIKU MEMAKSAKU MENANDATANGANI SURAT PELEPASAN HAK ATAS HARTA — MEREKA TIDAK TAHU BAHWA WANITA DI DALAM MOBIL HITAM DI DEPAN GERBANG TELAH MENCARIKU SELAMA 23 TAHUN

Suamiku, Dimas, berdiri tepat di belakangnya.

Tiga tahun kami menikah, baru kali ini aku melihatnya begitu tenang saat mengusirku dari rumah yang selama ini ikut kubangun dan kurawat sedikit demi sedikit.

Namun yang membuat hatiku jauh lebih dingin adalah perempuan yang berdiri di samping Dimas.

Sari.

Kerabat jauh Dimas.

Perempuan yang selama enam bulan terakhir terus dibawa ibu mertuaku ke rumah dengan alasan “membantu urusan keluarga”.

Saat itu, Sari mengenakan sandal rumah milikku.

Dan di lehernya tergantung kalung yang pernah diberikan Dimas kepadaku pada ulang tahun kedua pernikahan kami.

Aku menatap kalung itu.

Dimas segera mengalihkan pandangannya.

— Mira, jangan membuat semuanya menjadi buruk. Kita memang sudah tidak cocok lagi.

Aku tertawa kecil.

— Tidak cocok lagi, atau kau sudah menemukan perempuan lain?

Mata Sari langsung memerah.

— Kak Mira, jangan salah paham. Aku dan Kak Dimas sebenarnya…

— Tidak perlu menjelaskan.

Aku memotong ucapannya.

Aku sudah membaca pesan mereka tiga hari lalu.

Aku juga sudah tahu bahwa Sari sedang hamil hampir dua bulan.

Satu-satunya hal yang tidak kuduga adalah keluarga ini begitu tidak sabar menyingkirkanku sampai mereka bahkan tidak merasa perlu menyembunyikan semuanya.

Ratih melangkah maju lalu melemparkan setumpuk dokumen ke atas koperku.

— Tanda tangani.

Aku membukanya.

Bukan surat perceraian.

Melainkan surat pernyataan bahwa aku secara sukarela melepaskan seluruh hak dan kepentinganku terhadap bisnis furnitur milik Dimas.

Aku mengangkat kepala.

— Kenapa aku harus menandatanganinya?

Wajah Ratih langsung berubah.

— Karena bisnis itu milik anakku!

Aku membalik halaman demi halaman dengan tenang.

Tiga tahun lalu, ketika Dimas hanya memiliki sebuah toko kecil yang hampir bangkrut, akulah yang menjual seluruh perhiasan peninggalan ibu angkatku dan memberikan uang itu kepadanya sebagai modal.

Aku yang mendesain ulang produknya.

Aku yang mencari tempat produksi.

Aku pula yang mengurus pesanan online hingga pukul dua atau tiga dini hari.

Dua tahun kemudian, dari sebuah toko kecil, Dimas berhasil memiliki tiga showroom.

Namun semua izin usaha hanya tercatat atas namanya.

Dulu aku tidak pernah curiga.

Karena kupikir suami dan istri adalah satu keluarga.

Sungguh lucu.

Aku yang tidak pernah memiliki keluarga justru menjadi orang yang paling percaya pada arti kata “keluarga”.

Dimas mulai kehilangan kesabaran.

— Berapa yang kau mau?

Aku menatapnya.

— Kau pikir aku membutuhkan uang?

— Kalau bukan uang, lalu apa yang kau inginkan?

Dimas mencibir.

— Jangan lupa, kau tidak punya orang tua, tidak punya kakak ataupun adik. Setelah keluar dari rumahku, memangnya kau bisa pergi ke mana?

Ucapan itu membuatku terdiam.

Aku dibesarkan oleh ibu angkatku di sebuah kota kecil.

Beliau meninggal ketika usiaku dua puluh tahun.

Sebelum meninggal, beliau hanya memberitahuku satu hal.

Aku bukan anak kandungnya.

Beliau menemukanku di depan sebuah klinik ketika usiaku belum genap satu tahun.

Saat itu, satu-satunya benda yang ada bersamaku hanyalah gelang perak kecil dengan ukiran bunga yang aneh.

Selama bertahun-tahun, aku tidak pernah mencari orang tua kandungku.

Aku takut.

Takut mengetahui bahwa sebenarnya aku tidak pernah hilang.

Melainkan sengaja dibuang.

Dimas mengetahui ketakutan itu.

Dan hari ini, dia menggunakan luka terdalamku untuk menyakitiku.

Aku mengambil pena.

Tatapan ketiga orang di depanku langsung berubah.

Sari bahkan tidak mampu menyembunyikan senyumnya.

Ratih mendesak.

— Cepat tanda tangani.

Aku menempelkan ujung pena ke kertas.

Namun sebelum menandatangani, aku menatap Dimas.

— Kau benar-benar ingin aku melepaskan semua hak atas bisnis itu?

— Benar.

— Tidak akan menyesal nanti?

Dimas tertawa meremehkan.

— Orang yang akan menyesal adalah kau.

Aku menandatanganinya.

Satu goresan.

Dua goresan.

Kemudian kututup pena itu.

Ratih langsung merebut dokumen tersebut seolah takut aku berubah pikiran.

Sari tersenyum puas.

— Kak Mira, aku berharap setelah ini Kakak bisa menemukan kehidupan yang lebih cocok.

Aku menarik koperku dan berdiri.

— Aku juga berharap kau menyukai semua yang kutinggalkan.

Sari terdiam.

Dia tidak memahami maksudku.

Aku pun tidak berniat menjelaskan.

Karena pagi tadi, sebelum kembali ke rumah ini, aku baru menerima telepon dari pemilik kompleks tempat ketiga showroom Dimas menyewa lokasi.

Kontrak sewanya akan berakhir pada akhir bulan.

Pemilik baru tidak berniat memperpanjang kontrak tersebut.

Dimas belum mengetahuinya.

Dia baru saja mengambil pinjaman bank dalam jumlah besar untuk membeli persediaan menjelang musim perayaan akhir tahun.

Tanpa ketiga showroom itu, seluruh rencana bisnisnya bisa runtuh.

Namun semua itu bukan lagi urusanku.

Aku menarik koper menuju gerbang.

Hujan mulai mereda.

Saat itulah aku baru menyadari ada sebuah mobil hitam terparkir di seberang jalan.

Sejak kapan mobil itu berada di sana?

Pintu belakang mobil terbuka.

Seorang perempuan berusia sekitar lima puluhan turun.

Dia mengenakan kebaya berwarna lembut yang terlihat sangat anggun. Rambutnya disanggul rapi di belakang kepala.

Di belakangnya, seorang pria membawa payung.

Perempuan itu tidak melihat Dimas.

Tidak pula melihat ibu mertuaku.

Dia hanya menatapku.

Lebih tepatnya…

dia menatap pergelangan tanganku.

Gelang perak tua yang ditinggalkan ibu angkatku dan kusimpan selama lebih dari dua puluh tahun.

Wajah perempuan itu seketika pucat.

Tas di tangannya jatuh ke tanah.

— Gelang itu…

Suaranya bergetar.

Tanpa sadar aku menutupi pergelangan tanganku.

— Siapa Anda?

Perempuan itu berjalan cepat menyeberangi jalan.

Dimas keluar dari halaman dan mengerutkan kening.

— Hei! Anda mencari siapa?

Pria yang membawa payung langsung berdiri menghalangi Dimas.

— Mohon jangan mendekati beliau.

Dimas tertegun mendengar nada tegas pria tersebut.

Perempuan itu masih terus menatapku.

Matanya mulai memerah.

— Dari mana kau mendapatkan gelang itu?

— Ibu angkatku yang meninggalkannya untukku.

— Siapa nama ibu angkatmu?

Aku menyebutkan namanya.

Perempuan itu langsung menutup mulut dengan tangan.

Tubuhnya gemetar hebat.

Kemudian dia menoleh kepada pria di sampingnya.

— Hubungi pengacara. Minta dia datang sekarang.

Aku semakin bingung.

— Sebenarnya Anda siapa?

Namun dia tidak langsung menjawab.

Dia mengeluarkan ponsel lalu membuka sebuah foto lama.

Dalam foto tersebut terdapat seorang bayi yang usianya belum genap satu tahun.

Dan di pergelangan tangan bayi itu…

terpasang gelang perak yang sama persis dengan gelang milikku.

Jantungku berdetak keras.

Dari belakang, Ratih tiba-tiba berseru.

— Mira! Jangan berdiri di sana dan percaya begitu saja kepada orang asing!

Perempuan itu menoleh.

Tatapan lembutnya beberapa detik lalu seketika menghilang.

— Orang asing?

Dia memandang rumah di belakangku, kemudian melihat koper yang tergeletak di halaman.

— Kalian baru saja mengusirnya?

Tidak seorang pun menjawab.

Tepat saat itu, sebuah mobil lain berhenti.

Seorang pria berjas turun sambil membawa map dokumen tebal.

Dia berjalan langsung menghampiri perempuan tersebut.

— Nyonya, hasil verifikasinya sudah keluar.

Perempuan itu mengepalkan tangan.

— Katakan.

Pria tersebut memandangku sejenak, lalu membuka map.

— Kami telah mencocokkan arsip lama rumah sakit, dokumen adopsi, dan sampel tes yang pernah dikirim Nona Mira melalui program pencarian keluarga tiga bulan lalu.

Aku membeku.

Tiga bulan lalu?

Aku tiba-tiba teringat.

Saat mengikuti kegiatan donor darah, seorang petugas pernah memperkenalkanku pada program pencarian anggota keluarga yang terpisah.

Aku mendaftar.

Setelah itu, aku hampir melupakannya.

Pria tersebut menarik napas.

— Hasil pemeriksaan mengonfirmasi adanya hubungan biologis yang sesuai.

Payung di tangan perempuan itu jatuh.

Dia berjalan ke arahku lalu memelukku erat.

Tubuhku kaku.

Kemudian aku mendengar tangisnya tepat di samping telingaku.

— Dua puluh tiga tahun…

Suaranya pecah.

— Ibu sudah mencarimu selama dua puluh tiga tahun.

Suasana di belakangku langsung sunyi.

Namun pengacara itu belum menutup mapnya.

Dia menatap Dimas lalu tiba-tiba bertanya,

— Anda Dimas, pemilik jaringan toko furnitur yang sedang menyewa tiga unit komersial, bukan?

Dimas tampak bingung.

— Benar… memangnya kenapa?

Pengacara itu perlahan mengeluarkan dokumen lain.

— Kalau begitu, mungkin Anda juga perlu mengetahui sesuatu.

Dia meletakkan dokumen tersebut di depan Dimas.

— Seluruh kompleks komersial tempat ketiga showroom Anda beroperasi baru saja berpindah kepemilikan.

Dimas menunduk melihat nama yang tertulis pada dokumen.

Dalam sekejap, wajahnya kehilangan seluruh warna.

Karena nama pemilik baru yang tertera di sana…

adalah perempuan yang sedang memelukku.

Namun perempuan itu hanya melirik Dimas sekilas sebelum mengatakan sesuatu yang membuat semua orang di depan gerbang membeku.

— Itu baru sebagian kecil.

Dia menggenggam tanganku erat.

— Apa yang sebenarnya menjadi milik putriku… belum mulai kuambil kembali.

Pada detik itulah aku melihat Ratih terhuyung mundur.

Wajahnya pucat seperti kertas.

Matanya menatap perempuan di sampingku dengan ketakutan yang tidak bisa disembunyikan.

Seolah-olah…

dia akhirnya menyadari siapa perempuan itu sebenarnya.

BAGIAN 2

Ratih mundur dua langkah. Wajahnya yang beberapa menit lalu penuh kesombongan kini pucat seperti kehilangan darah.

— Ibu… Ibu Laras?

Perempuan yang baru saja memelukku perlahan menoleh.

— Kau mengenalku?

Suara Ratih tercekat.

Dimas menatap ibunya dengan bingung.

— Ibu, siapa dia?

Ratih tidak menjawab.

Namun aku melihat tangannya gemetar.

Laras melepaskan pelukannya, tetapi tetap menggenggam tanganku erat, seolah takut aku akan menghilang lagi.

Pengacara di sampingnya membuka map lain.

— Nyonya Laras adalah pemegang saham utama sebuah perusahaan investasi keluarga yang memiliki sejumlah properti komersial dan perusahaan manufaktur. Kompleks tempat ketiga showroom Anda berada hanyalah salah satu aset yang baru kembali berada di bawah pengelolaan langsung keluarga.

Mulut Dimas terbuka.

Sari yang sejak tadi berdiri di belakangnya langsung melepaskan pegangan dari lengannya.

Perubahan kecil itu tidak luput dari mataku.

Beberapa menit lalu dia memeluk Dimas seolah lelaki itu adalah hadiah terbesar dalam hidupnya.

Sekarang, ketika mengetahui bisnisnya mungkin berada di ambang masalah, dia mulai menjaga jarak.

Namun Laras tidak tertarik kepada mereka.

Dia menatap Ratih.

— Aku bertanya sekali lagi. Dari mana kau mengenalku?

Ratih menelan ludah.

— Bertahun-tahun lalu… suami saya pernah bekerja sebagai pemasok kecil untuk salah satu perusahaan keluarga Ibu.

Laras terdiam sesaat.

Kemudian sorot matanya berubah.

— Jadi kau tahu siapa aku sejak awal?

— Tidak! Saya bersumpah saya tidak tahu Mira adalah…

Ratih berhenti sebelum menyelesaikan kalimat.

Aku menatapnya tajam.

— Adalah apa?

Ratih semakin gugup.

Aku tiba-tiba teringat sesuatu.

Saat pertama kali datang ke rumah Dimas sebelum menikah, Ratih pernah melihat gelang perakku cukup lama.

Dia bahkan bertanya dari mana aku mendapatkannya.

Ketika kujawab bahwa gelang itu peninggalan sejak bayi, wajahnya sempat berubah.

Dulu aku menganggapnya tidak penting.

Sekarang dadaku mulai terasa sesak.

— Ibu pernah melihat gelang ini, bukan?

Ratih membisu.

Laras segera menatap pengacaranya.

— Cari tahu semuanya.

— Baik, Nyonya.

Dimas akhirnya kehilangan kesabaran.

— Tunggu! Apa pun yang terjadi dua puluh tahun lalu tidak ada hubungannya dengan bisnis saya. Kontrak showroom kami belum selesai!

Pengacara itu menatapnya tenang.

— Benar. Karena itu kami tidak akan melakukan tindakan di luar kontrak. Hak Anda tetap berlaku sampai masa sewanya berakhir.

Dimas tampak sedikit lega.

Namun kalimat berikutnya membuat wajahnya kembali kaku.

— Tetapi pemilik baru juga memiliki hak penuh untuk tidak memperpanjangnya.

— Kalian sengaja menghancurkan saya?

Laras menatapnya dingin.

— Tidak. Aku bahkan baru bertemu denganmu hari ini.

Dia menunjuk koperku yang basah.

— Bisnismu menghadapi masalah karena keputusanmu sendiri. Jangan menyalahkan putriku atas akibat dari pilihanmu.

Kata “putriku” membuat dadaku bergetar.

Aku masih belum terbiasa mendengarnya.

Dimas berbalik kepadaku.

— Mira, kita bisa membicarakan ini.

Aku hampir tertawa.

Lima belas menit lalu, dia bertanya aku bisa pergi ke mana setelah keluar dari rumahnya.

Sekarang suaranya mendadak lembut.

— Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan.

— Mira, aku sedang emosi tadi. Mengenai Sari…

Tiba-tiba Sari menyela.

— Kak Dimas, jangan membawa namaku! Kakak sendiri yang bilang pernikahan kalian sudah selesai!

Dimas menatapnya tidak percaya.

— Sari?

— Aku tidak pernah memintamu mengusir Kak Mira!

Mereka mulai saling menyalahkan tepat di depan kami.

Ironis sekali.

Hubungan yang mereka anggap cukup berharga untuk menghancurkan pernikahanku ternyata tidak mampu bertahan bahkan satu jam ketika uang mulai menjadi masalah.

Aku tidak ingin mendengarnya lagi.

— Bu…

Aku memandang Laras.

Kata itu terasa asing di lidahku.

Mata Laras langsung berkaca-kaca.

Aku menarik napas.

— Bisakah kita pergi dari sini?

Dia mengangguk berkali-kali.

— Tentu.

Saat aku hendak masuk ke mobil, Ratih tiba-tiba berlari mendekat.

— Mira!

Pria yang membawa payung segera menghalanginya.

Ratih berseru dari kejauhan.

— Jangan percaya begitu saja! Kau bahkan belum tahu mengapa kau bisa terpisah dari keluarga itu!

Aku berhenti.

Laras pun membeku.

Ratih menatap gelangku.

Lalu dia mengatakan sesuatu yang membuat semua orang terdiam.

— Karena malam ketika Mira menghilang… suamiku berada di rumah sakit yang sama!

Aku berbalik.

— Apa maksud Ibu?

Ratih menutup mulut, seolah baru menyadari dirinya telah mengatakan terlalu banyak.

Laras melangkah maju.

— Jelaskan.

— Saya… saya tidak tahu apa-apa.

— Kau baru saja mengatakan suamimu ada di sana.

Ratih mulai menangis.

— Dia hanya seorang sopir pengiriman waktu itu. Dia meninggal beberapa tahun lalu. Saya tidak tahu apa yang dia lakukan!

Pengacara Laras langsung mencatat sesuatu.

Laras tidak berteriak.

Justru ketenangannya terasa jauh lebih menakutkan.

— Besok pagi, seluruh arsip lama akan diperiksa kembali.

Kemudian dia menggenggam tanganku.

— Tetapi malam ini, putriku pulang bersamaku.

Aku masuk ke mobil.

Untuk pertama kalinya, aku tidak menoleh ke rumah yang selama tiga tahun kusebut rumahku.

Keesokan paginya aku terbangun di sebuah kamar yang tidak kukenal.

Bukan kemewahannya yang membuatku menangis.

Melainkan sebuah bingkai foto kecil di meja.

Foto bayi yang kulihat kemarin.

Di belakangnya tertulis satu kalimat dengan tinta yang telah memudar:

“Untuk putriku, semoga suatu hari Ibu bisa menemukanmu.”

Air mataku jatuh.

Pintu diketuk.

Laras masuk membawa sarapan sendiri.

— Aku tidak tahu makanan apa yang kau suka.

Aku tersenyum tipis.

— Apa saja boleh.

Dia duduk di sampingku.

Kami sama-sama canggung.

Dua puluh tiga tahun terlalu panjang untuk diperbaiki dalam satu malam.

Namun untuk pertama kalinya, aku merasa kami punya waktu.

Tiba-tiba pengacara masuk dengan wajah serius.

— Nyonya, kami menemukan sesuatu.

Dia meletakkan tiga dokumen di meja.

— Suami Ratih memang berada di rumah sakit malam itu. Tetapi ada hal lain yang lebih penting.

Dia menggeser sebuah foto lama ke arah kami.

Foto itu memperlihatkan seorang lelaki muda membawa bayi keluar melalui pintu samping rumah sakit.

Wajah Laras seketika berubah.

Aku menunjuk orang lain di sudut foto.

— Tunggu…

Tanganku mulai gemetar.

Karena perempuan muda yang berdiri beberapa meter dari lelaki itu…

memiliki wajah yang sangat kukenal.

Meskipun jauh lebih muda, aku tidak mungkin salah.

Itu Ratih.

Dan di tangannya terdapat sebuah benda kecil.

Gelang perak kedua.

Laras berdiri.

— Jadi dia berbohong.

Pengacara mengangguk.

— Dan kami juga menemukan alasan mengapa mereka melakukannya.

Dia membuka halaman terakhir.

Aku membaca angka yang tercetak di sana.

Lalu nama seseorang.

Darahku seakan berhenti mengalir.

Karena ternyata hilangnya aku dua puluh tiga tahun lalu bukan sebuah kecelakaan.

Dan keluarga Dimas mungkin telah mengetahui kebenaran jauh sebelum aku menikah dengannya.

BAGIAN 3

Aku membaca dokumen itu berulang kali.

Dua puluh tiga tahun lalu, ayah Dimas bukan sekadar sopir pengiriman.

Dia terlilit utang besar.

Menurut catatan lama yang ditemukan pengacara, seorang kerabat jauh keluarga Laras membayarnya untuk membawa bayi keluar dari rumah sakit.

Bayi itu adalah aku.

Tujuannya bukan untuk menyakitiku.

Mereka ingin menciptakan kekacauan dalam keluarga agar sebuah sengketa warisan bisa dimenangkan pihak lain.

Namun rencana itu berubah.

Ayah Dimas panik ketika pencarian besar-besaran dimulai. Dia menyerahkanku kepada seseorang untuk dibawa keluar kota.

Orang itu kemudian meninggalkanku di depan sebuah klinik.

Di sanalah ibu angkatku menemukanku.

Aku memandang Laras.

— Lalu Ratih?

Pengacara menjawab.

— Berdasarkan foto dan satu kesaksian lama, Ratih mengetahui sebagian rencana suaminya. Tetapi kami belum menemukan bukti bahwa dia terlibat langsung dalam penculikan. Yang jelas, dia mengetahui gelang keluarga Anda.

Aku teringat pertemuan pertama kami.

Tatapan Ratih pada gelangku.

Pertanyaannya.

Kegelisahannya.

— Jadi saat aku menikahi Dimas…

— Kemungkinan besar dia sudah curiga siapa dirimu.

Dadaku terasa lebih sakit daripada ketika mengetahui perselingkuhan Dimas.

Selama tiga tahun Ratih membiarkanku hidup di rumahnya.

Dia melihatku setiap hari.

Dia mengetahui bahwa keluargaku mungkin masih mencariku.

Namun dia diam.

Mungkin karena takut rahasia suaminya terbongkar.

Siang itu, Ratih datang bersama Dimas.

Sari tidak terlihat.

Mereka dihentikan di ruang tamu.

Aku memilih menemui mereka.

Ratih langsung berlutut.

— Mira, maafkan Ibu.

Aku tidak bergerak.

— Sejak kapan Ibu tahu?

Dia menangis.

— Saat pertama melihat gelangmu, Ibu curiga. Setelah pernikahan kalian, Ibu diam-diam mencari berita lama. Saat itulah Ibu yakin.

— Tiga tahun.

Suaraku nyaris berbisik.

— Selama tiga tahun Ibu tahu ada seorang ibu yang mencari anaknya, tetapi Ibu diam?

Ratih menunduk.

— Ibu takut.

— Dan karena takut, Ibu mengambil tiga tahun lagi dari kami.

Laras berdiri di belakangku.

Dia tidak mengatakan apa pun.

Keputusan tetap diberikan kepadaku.

Itulah hal pertama yang membuatku benar-benar merasa dihormati.

Aku memandang Ratih.

— Saya tidak akan membalas apa yang dilakukan suami Ibu dengan kebencian kepada Ibu. Tetapi semua informasi yang Ibu miliki harus diberikan kepada pihak berwenang. Setelah itu, biarkan proses hukum menentukan tanggung jawab masing-masing.

Ratih mengangguk sambil menangis.

Dimas kemudian maju.

Wajahnya terlihat kacau.

— Mira, aku tidak tahu apa pun tentang masa lalu itu.

— Aku percaya.

Dia tampak lega.

Namun aku melanjutkan.

— Tetapi perselingkuhanmu adalah pilihanmu sendiri.

Wajahnya jatuh.

— Aku melakukan kesalahan. Beri aku kesempatan sekali lagi.

— Kalau kemarin ibuku tidak datang, apakah kau akan mengatakan hal yang sama?

Dimas tidak mampu menjawab.

Itu sudah cukup.

— Kita selesaikan perceraian dengan baik.

— Bagaimana dengan bisnis?

Akhirnya.

Pertanyaan sebenarnya keluar.

Aku tersenyum pahit.

— Jadi itu yang paling kau khawatirkan?

— Bukan begitu…

— Tiga showroom itu akan mengikuti ketentuan kontrak. Tidak ada yang akan mengusirmu sebelum waktunya. Tapi setelah kontrak berakhir, keputusan bisnis akan dibuat secara profesional.

Aku menatapnya lurus.

— Aku tidak akan menghancurkanmu, Dimas. Tetapi aku juga tidak akan menyelamatkanmu dari akibat keputusanmu sendiri.

Dia pergi dengan kepala tertunduk.

Beberapa hari kemudian aku mendengar Sari meninggalkannya.

Setelah mengetahui utang bisnis Dimas jauh lebih besar daripada yang dibayangkannya, Sari memilih kembali ke keluarganya.

Aku tidak merasa puas.

Aku hanya merasa semuanya telah selesai.

Namun hidupku sendiri justru baru dimulai.

Tiga bulan berikutnya menjadi masa paling aneh sekaligus paling hangat dalam hidupku.

Tes DNA tambahan mengonfirmasi tanpa keraguan bahwa Laras adalah ibu kandungku.

Aku juga mengetahui ayah kandungku telah meninggal beberapa tahun sebelumnya.

Sebelum meninggal, dia masih menyimpan kamar kecil yang dipersiapkan untukku.

Di dalam lemari ada hadiah ulang tahun.

Satu untuk setiap tahun sejak aku menghilang.

Hadiah pertama adalah boneka.

Hadiah ketujuh sebuah kotak pensil.

Hadiah ketujuh belas sebuah jam tangan.

Hadiah terakhir sebuah buku kosong.

Pada halaman pertama ayah menulis:

“Kalau suatu hari Mira pulang dan Ayah sudah tidak ada, katakan kepadanya bahwa tidak pernah ada satu hari pun ketika kami berhenti menunggunya.”

Aku memeluk buku itu dan menangis sampai tertidur.

Untuk pertama kalinya aku mengetahui kebenaran yang selama ini paling kutakuti.

Aku tidak pernah dibuang.

Aku dicari.

Aku dirindukan.

Aku dicintai.

Luka yang kubawa sejak kecil tidak hilang dalam semalam.

Namun perlahan, luka itu mulai sembuh.

Aku juga menolak ketika Laras ingin langsung memberiku jabatan di perusahaan keluarga.

— Aku ingin bekerja karena kemampuanku, bukan hanya karena aku putrimu.

Dia tersenyum.

— Kalau begitu, tunjukkan kemampuanmu.

Aku mengajukan satu ide.

Daripada mengambil alih bisnis Dimas, aku ingin membangun merek furnitur baru yang mendukung pengrajin lokal dan menjual produk mereka melalui platform digital.

Pengalaman tiga tahun membangun bisnis dari nol ternyata tidak sia-sia.

Enam bulan kemudian, proyek pertamaku diluncurkan.

Aku memulainya hanya dengan satu ruang pamer kecil.

Setahun kemudian, kami memiliki jaringan penjualan di beberapa kota.

Dan hal yang paling membuatku bahagia bukan angka penjualan.

Melainkan papan kecil di pintu kantor:

MIRA HOME — Rumah seharusnya menjadi tempat seseorang merasa diterima.

Aku memilih nama itu untuk ibu angkatku, ibu kandungku, dan diriku sendiri.

Dua perempuan telah memberiku dua jenis kehidupan.

Yang satu membesarkanku ketika aku tidak punya siapa-siapa.

Yang satu menghabiskan dua puluh tiga tahun mencariku.

Aku adalah hasil cinta keduanya.

Setahun setelah hari hujan itu, aku kembali melewati jalan di depan rumah lama Dimas.

Rumah tersebut telah dijual.

Bisnisnya tidak bangkrut sepenuhnya, tetapi dia terpaksa menutup dua showroom dan kembali mengelola satu toko kecil.

Anehnya, aku merasa lega mendengarnya.

Bukan karena aku masih mencintainya.

Tetapi karena aku tidak ingin hidup dengan kebencian.

Dia kehilangan kesombongannya, bukan seluruh hidupnya.

Dan mungkin itu hukuman sekaligus kesempatan terbaik baginya untuk berubah.

Malam itu aku pulang ke rumah Laras.

Di meja makan ada dua piring.

Laras sedang belajar membuat makanan kesukaanku dari resep lama ibu angkatku.

Rasanya terlalu asin.

Aku mencicipinya lalu mengernyit.

Dia langsung panik.

— Tidak enak?

Aku tertawa.

— Sangat asin.

— Astaga! Jangan dimakan!

Dia hendak mengambil piringku, tetapi aku menahannya.

— Tidak apa-apa.

— Mira, nanti sakit perut.

Aku mengambil satu suapan lagi.

— Ibu sudah mencariku dua puluh tiga tahun. Masa aku tidak bisa menghabiskan satu piring masakan Ibu?

Laras terdiam.

Matanya langsung merah.

Aku pun hampir menangis.

Namun kemudian kami tertawa bersama.

Tidak ada rumah mewah yang bisa menggantikan dua puluh tiga tahun yang hilang.

Tidak ada uang yang mampu mengembalikan masa kecilku.

Tetapi aku akhirnya memahami sesuatu.

Keluarga bukan sekadar orang yang memiliki darah yang sama.

Keluarga adalah mereka yang memilih untuk menjaga kita ketika hidup menjadi sulit.

Ibu angkatku telah melakukan itu.

Laras sedang belajar melakukannya.

Dan sekarang aku juga belajar melakukan hal yang sama untuk diriku sendiri.

Aku tidak lagi menjadi perempuan yang berdiri di tengah hujan sambil memunguti pakaian dari lumpur.

Aku juga tidak lagi takut ditinggalkan.

Karena hari ketika Dimas mengusirku dari rumahnya ternyata bukanlah hari ketika aku kehilangan keluarga.

Justru pada hari itulah…

aku akhirnya menemukan jalan pulang.

Beberapa bulan kemudian, pada hari ulang tahunku, Laras menyerahkan sebuah kotak kecil kepadaku.

Di dalamnya ada gelang perak lamaku yang telah diperbaiki.

Di sebelahnya terdapat gelang baru dengan ukiran bunga yang sama.

— Yang lama adalah masa lalumu, kata Laras. — Jangan pernah membuangnya.

Dia memasangkan gelang baru di tangan satuku.

— Dan yang ini?

Laras tersenyum sambil menahan air mata.

— Untuk mengingatkanmu bahwa setelah semua yang terjadi, kau tetap berhak memiliki masa depan.

Aku melihat kedua gelang di pergelangan tanganku.

Satu membawa cerita tentang kehilangan.

Satu lagi membawa janji tentang kehidupan baru.

Aku memeluk ibuku.

Di luar jendela, hujan turun perlahan.

Hujan yang sama seperti hari ketika aku diusir.

Namun kali ini aku tidak berdiri sendirian di luar gerbang dengan sebuah koper.

Aku berada di dalam rumah.

Di tempat seseorang menungguku pulang.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, ketika seseorang memanggil namaku dari meja makan—

— Mira, ayo makan!

Aku bisa menjawab tanpa ragu,

— Ya, Bu. Aku pulang.