AKU PULANG TIGA MINGGU LEBIH CEPAT UNTUK MEMELUK PUTRAKU YANG BARU LAHIR, TAPI YANG KUTEMUKAN JUSTRU ISTRIKU BERDARAH, KELAPARAN, DAN MEMELUK BAYI KAMI DI APARTEMEN YANG DINGIN—SEMENTARA IBU DAN ADIKKU MENGHABISKAN HAMPIR RP600 JUTA DI RESORT MEWAH BALI, TANPA TAHU SEMUA YANG MEREKA LAKUKAN TEREKAM KAMERA

Avatar penulis
Cerita 04
21 menit baca 609 tayangan
AKU PULANG TIGA MINGGU LEBIH CEPAT UNTUK MEMELUK PUTRAKU YANG BARU LAHIR, TAPI YANG KUTEMUKAN JUSTRU ISTRIKU BERDARAH, KELAPARAN, DAN MEMELUK BAYI KAMI DI APARTEMEN YANG DINGIN—SEMENTARA IBU DAN ADIKKU MENGHABISKAN HAMPIR RP600 JUTA DI RESORT MEWAH BALI, TANPA TAHU SEMUA YANG MEREKA LAKUKAN TEREKAM KAMERA
Indeks

AKU PULANG TIGA MINGGU LEBIH CEPAT UNTUK MEMELUK PUTRAKU YANG BARU LAHIR, TAPI YANG KUTEMUKAN JUSTRU ISTRIKU BERDARAH, KELAPARAN, DAN MEMELUK BAYI KAMI DI APARTEMEN YANG DINGIN—SEMENTARA IBU DAN ADIKKU MENGHABISKAN HAMPIR RP600 JUTA DI RESORT MEWAH BALI, TANPA TAHU SEMUA YANG MEREKA LAKUKAN TEREKAM KAMERA

Aku pulang tiga minggu lebih cepat karena ingin memberi kejutan kepada istriku dan akhirnya menggendong putra kami yang baru lahir.

Namun ketika membuka pintu apartemen kami di Jakarta Selatan, aku justru menemukan istriku tergeletak lemah di lantai ruang tamu.

Nadira berdarah.

Dia kelaparan.

Tubuhnya menggigil sambil memeluk bayi kami erat-erat ke dadanya, berusaha menjaga putra kami tetap hangat di apartemen yang terasa dingin dan nyaris tidak layak dihuni.

AKU PULANG TIGA MINGGU LEBIH CEPAT UNTUK MEMELUK PUTRAKU YANG BARU LAHIR, TAPI YANG KUTEMUKAN JUSTRU ISTRIKU BERDARAH, KELAPARAN, DAN MEMELUK BAYI KAMI DI APARTEMEN YANG DINGIN—SEMENTARA IBU DAN ADIKKU MENGHABISKAN HAMPIR RP600 JUTA DI RESORT MEWAH BALI, TANPA TAHU SEMUA YANG MEREKA LAKUKAN TEREKAM KAMERA

Sementara itu, ibu dan adik perempuanku telah mengambil uang yang kutinggalkan khusus untuk biaya persalinan, makanan, listrik, obat-obatan, perawat pascamelahirkan, dan kebutuhan bayi.

Mereka menggunakan uang itu untuk menikmati liburan mewah di Bali.

Namun mereka melakukan satu kesalahan besar.

Mereka lupa bahwa hampir seluruh area utama apartemenku terekam kamera keamanan.

Dan saat aku membuka rekamannya, aku menemukan sesuatu yang jauh lebih buruk daripada sekadar uang yang hilang.


Aku berdiri terpaku di ambang pintu.

Selama beberapa detik, aku bahkan lupa bagaimana caranya bernapas.

“Nadira?”

Istriku perlahan mengangkat wajah.

“Arga?”

Suaranya begitu pelan hingga hampir tidak terdengar.

Aku hampir tidak mengenali perempuan yang enam minggu sebelumnya kupeluk sebelum berangkat ke Singapura untuk menyelesaikan kontrak terbesar dalam karierku.

Bibir Nadira pecah-pecah.

Pipinya cekung.

Wajahnya pucat.

Sebuah selimut tipis membungkus tubuhnya, tetapi dia masih gemetar hebat hingga bayi di pelukannya ikut bergetar.

Putraku.

Anak yang bahkan belum pernah kugendong.

Koperku langsung terlepas dari tangan.

Aku berlari menghampiri mereka.

“Nadira, apa yang terjadi?”

Dia mencoba duduk lebih tegak, tetapi tubuhnya terlalu lemah.

Aku menyentuh dahinya.

Panas.

Lalu tanganku menyentuh tangan kecil putraku.

Dingin.

Terlalu dingin.

Dadaku seperti diremas.

“Kenapa apartemen sedingin ini?”

Mata Nadira mulai berkaca-kaca.

“Listrik sempat diputus.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Bagaimana dengan makanan?”

Dia menunduk.

“Hampir tidak ada.”

“Perawat yang seharusnya mendampingimu?”

Nadira tidak menjawab.

Dan justru diam itulah yang membuatku semakin takut.

Sebelum berangkat ke Singapura, aku sudah mempersiapkan semuanya.

Aku mentransfer hampir Rp600 juta ke rekening khusus kebutuhan rumah tangga.

Uang itu bukan untuk bisnis.

Bukan untuk investasi.

Bukan untuk membeli barang mewah.

Uang itu khusus untuk biaya persalinan Nadira, perawat pascamelahirkan, makanan bergizi, listrik, kebutuhan bayi, obat-obatan, transportasi ke rumah sakit, serta segala keadaan darurat selama aku berada di luar negeri.

Ibuku, Ratna, bahkan bersikeras ingin mengurus semuanya.

Sebelum keberangkatanku, dia menggenggam tanganku dan tersenyum seolah aku tidak perlu mengkhawatirkan apa pun.

“Arga, kamu fokus saja menyelesaikan pekerjaanmu. Nadira itu menantu Ibu. Bayinya cucu Ibu sendiri. Keluarga harus saling menjaga.”

Adik perempuanku, Citra, juga meyakinkanku.

“Tenang saja, Mas. Aku akan sering datang menemani Mbak Nadira.”

Aku mempercayai mereka.

Bagaimanapun, mereka keluargaku.

Ternyata itu menjadi salah satu kesalahan terbesar dalam hidupku.

Nadira tiba-tiba mencengkeram pergelangan tanganku.

Pegangannya begitu lemah hingga hampir tidak terasa.

“Ibumu bilang… kamu yang menghentikan uangnya.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

Air mata mulai mengalir di pipinya.

“Ibu Ratna bilang kontrakmu di Singapura gagal. Katanya perusahaanmu sedang bermasalah dan kamu malu memberitahuku.”

Aku merasa seluruh ruangan mendadak sunyi.

“Dia mengatakan itu kepadamu?”

Nadira mengangguk.

“Dia juga bilang aku tidak boleh meneleponmu karena kamu sedang stres dan tidak ingin diganggu.”

Rahangku mengeras.

“Citra?”

Nadira memejamkan mata sebentar.

“Dia bilang aku harus berhenti bersikap seperti putri manja hanya karena baru melahirkan.”

Aku tidak langsung menjawab.

Aneh sekali.

Aku seharusnya marah.

Seharusnya aku berteriak.

Tetapi yang kurasakan justru sesuatu yang jauh lebih dingin.

Aku mengambil ponsel dan segera menghubungi ambulans.

Kemudian kulepas jaket tebal yang masih kupakai dan membungkus tubuh Nadira.

“Aku di sini sekarang.”

Nadira menatapku dengan mata penuh ketakutan.

“Aku takut bayi kita kenapa-kenapa.”

“Dia akan baik-baik saja.”

Aku berusaha terdengar yakin.

Padahal tanganku sendiri gemetar.

Ketika petugas medis tiba, Nadira langsung dibawa ke rumah sakit.

Aku ikut bersama mereka sambil terus berada di sisi putraku.

Barulah di rumah sakit aku mengetahui betapa buruk keadaan yang sebenarnya.

Dokter mengatakan Nadira mengalami dehidrasi berat, kekurangan nutrisi, infeksi pascapersalinan yang tidak ditangani dengan benar, serta kehilangan cukup banyak darah.

Putra kami mengalami hipotermia ringan.

Untungnya kondisinya stabil.

Aku duduk di samping ranjang Nadira selama berjam-jam.

Ketika akhirnya dia tertidur karena obat, aku menatap wajahnya lama sekali.

Kemudian kubuka ponsel.

Ada satu pertanyaan yang harus segera kujawab.

Ke mana perginya hampir Rp600 juta yang kutinggalkan?

Aku membuka aplikasi perbankan.

Rekening khusus yang sebelumnya berisi hampir Rp600 juta sekarang nyaris kosong.

Aku menatap layar tanpa berkedip.

Kemudian kubuka riwayat transaksi.

Satu transfer.

Dua.

Lima.

Delapan.

Belasan transaksi.

Sebagian uang dipindahkan ke tiga rekening yang tidak kukenal.

Ada pembayaran kartu kredit.

Pembelian tiket pesawat.

Transaksi hotel.

Belanja barang mewah.

Dan beberapa penarikan tunai dalam jumlah besar.

Aku mengambil tangkapan layar semuanya.

Kemudian aku membuka media sosial ibuku.

Aku bahkan tidak perlu mencari lama.

Unggahan terbaru Ratna muncul di bagian paling atas.

Foto pertama memperlihatkan ibuku tersenyum lebar mengenakan kacamata hitam di tepi kolam renang sebuah resort mewah di Bali.

Foto berikutnya memperlihatkan Citra duduk di restoran hotel dengan pemandangan laut, mengangkat gelas minuman sambil tertawa.

Ada pula foto tas-tas belanja dari butik mahal.

Lalu foto kamar hotel mereka.

Suite luas.

Balkon pribadi.

Pemandangan laut.

Di bawah foto itu, ibuku menulis:

“Kadang perempuan juga pantas menikmati hasil kerja keras dan sedikit kemewahan.”

Aku menatap kalimat itu hampir satu menit.

Hasil kerja keras?

Sementara istriku hampir kehilangan nyawanya?

Sementara cucunya kedinginan?

Aku menyimpan semua unggahan itu.

Satu per satu.

Kemudian aku melakukan sesuatu yang mungkin terasa aneh bagi orang lain.

Aku tersenyum.

Bukan karena aku merasa lucu.

Bukan pula karena aku sudah memaafkan mereka.

Aku tersenyum karena tiba-tiba teringat sesuatu yang tampaknya sudah dilupakan ibu dan adikku.

Dua tahun sebelumnya, gedung apartemen kami pernah mengalami serangkaian pencurian.

Karena pekerjaanku membuatku sering bepergian ke luar kota dan luar negeri, aku memasang sistem keamanan profesional.

Kamera ditempatkan di pintu masuk, ruang tamu, koridor, area dapur, balkon, serta beberapa area bersama lainnya.

Tidak ada kamera di kamar tidur atau kamar mandi.

Namun hampir semua tempat yang harus dilewati seseorang ketika masuk, keluar, membawa barang, atau berbicara di ruang bersama…

terekam.

Dan sistem itu tidak hanya menyimpan rekaman di perangkat apartemen.

Semua data otomatis dicadangkan ke penyimpanan cloud terenkripsi.

Aku membuka aplikasi keamanan.

Memasukkan kata sandi.

Kemudian memilih rekaman dari enam minggu terakhir.

File demi file muncul.

Ratusan jam rekaman.

Aku mulai memutarnya dengan kecepatan tinggi.

Awalnya semuanya terlihat biasa.

Ibuku datang membawa beberapa tas.

Citra datang beberapa hari kemudian.

Mereka membantu Nadira.

Setidaknya begitulah kelihatannya.

Namun setelah aku berangkat ke Singapura, semuanya perlahan berubah.

Aku melihat ibuku berdiri di dapur bersama Citra.

Aku memperbesar suara.

Dan kalimat pertama yang kudengar membuat seluruh tubuhku membeku.

Suara Ratna terdengar sangat jelas.

“Kalau Arga pulang nanti, Nadira jangan sampai tahu uangnya dipakai ke mana.”

Citra tertawa kecil.

“Memangnya Mas Arga bakal periksa?”

Ibuku menjawab dengan santai.

“Dia terlalu percaya keluarga.”

Aku menghentikan rekaman.

Tanganku mencengkeram ponsel begitu kuat.

Kemudian kutekan tombol putar lagi.

Beberapa hari setelah itu, kamera merekam Citra membawa dua koper besar keluar dari apartemen.

Rekaman lain memperlihatkan ibuku mengambil kartu ATM dari sebuah amplop di laci dapur.

Kemudian muncul rekaman yang jauh lebih buruk.

Nadira berdiri di ruang tamu sambil menggendong bayi kami.

Wajahnya pucat.

Dia meminta uang kepada ibuku untuk membeli obat.

Ratna berdiri di depannya.

Dan dengan suara yang begitu tenang, ibuku berkata,

“Belajar hidup sederhana, Nadira. Jangan semua masalah sedikit-sedikit mengandalkan uang suamimu.”

Aku menatap layar tanpa bergerak.

Namun rekaman berikutnyalah yang membuatku sadar bahwa persoalan ini bukan lagi sekadar pencurian uang.

Pada malam sebelum ibu dan adikku terbang ke Bali, kamera di koridor merekam percakapan mereka.

Citra berbisik,

“Kalau kondisi Mbak Nadira makin buruk bagaimana?”

Ibuku memasukkan sesuatu ke dalam tasnya.

Kemudian dia menjawab,

“Jangan ikut campur. Nanti Arga pulang juga semuanya selesai.”

Citra terlihat ragu.

“Tapi bayinya?”

Ratna berhenti.

Dia menoleh ke arah kamar tempat cucunya tidur.

Lalu mengucapkan satu kalimat yang membuat darahku terasa membeku.

“Selama dia masih bernapas, bukan masalah kita.”

Aku langsung menghentikan videonya.

Ruangan rumah sakit terasa terlalu sempit.

Aku berdiri dan berjalan menuju jendela.

Jakarta malam itu dipenuhi cahaya.

Di belakangku, istriku tertidur dengan infus terpasang di tangannya.

Putraku berada beberapa ruangan dari sana di bawah pengawasan dokter.

Sedangkan dua orang yang melakukan semua ini sedang menikmati kamar hotel mewah dengan uang yang seharusnya menjaga mereka tetap aman.

Mereka mengira telah mengambil hampir Rp600 juta dariku.

Mereka salah.

Mereka sebenarnya baru saja membeli bukti yang bisa menghancurkan kebohongan mereka sendiri.

Aku menyalin seluruh rekaman ke penyimpanan terpisah.

Mengunduh catatan transaksi bank.

Menyimpan tangkapan layar unggahan media sosial mereka.

Lalu aku menelepon pengacaraku.

“Pak Bima?”

“Arga? Kamu sudah kembali dari Singapura?”

“Sudah.”

“Ada masalah?”

Aku memandang Nadira yang tertidur.

“Ya.”

“Masalah apa?”

Aku kembali menatap layar laptop yang menampilkan wajah ibu dan adikku.

“Besok pagi saya kirim beberapa rekaman, transaksi bank, dan dokumen.”

Bima terdiam sejenak.

“Untuk apa?”

Aku menarik napas panjang.

“Karena saya ingin memastikan dua orang yang melakukan ini tidak punya kesempatan menghapus satu pun bukti.”

Setelah sambungan berakhir, ponselku bergetar.

Sebuah pesan masuk dari ibu.

Ratna:

Arga, Ibu dengar kamu sudah pulang. Jangan percaya semua cerita Nadira. Dia sedang emosional setelah melahirkan. Nanti kalau Ibu pulang dari Bali, kita bicara baik-baik sebagai keluarga.

Beberapa detik kemudian, pesan kedua masuk.

Jangan membuat masalah ini besar.

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Kemudian kulihat putraku dari balik kaca ruang perawatan.

Tangannya yang sangat kecil bergerak perlahan di dalam selimut hangat.

Aku kembali menatap pesan ibu.

Lalu mengetik satu jawaban pendek.

“Tenang, Bu. Aku tidak akan melakukan apa pun sebelum Ibu pulang.”

Aku menekan kirim.

Itu bukan kebohongan.

Karena aku memang ingin mereka pulang.

Aku ingin mereka turun dari pesawat dengan tenang.

Aku ingin mereka kembali ke Jakarta dengan keyakinan bahwa semuanya masih bisa ditutupi dengan alasan, tangisan, dan satu kalimat yang selalu mereka gunakan:

“Kita ini keluarga.”

Yang tidak mereka ketahui adalah saat mereka tiba nanti…

mungkin bukan hanya aku yang akan menunggu.

Dan mereka sama sekali belum tahu rekaman apa saja yang sudah kutemukan.

BAGIAN 2 — REKAMAN YANG MENGUBAH SEGALANYA

Keesokan paginya, aku tidak pergi ke kantor.

Aku tetap berada di rumah sakit.

Nadira masih lemah, tetapi kondisinya mulai membaik. Putra kami juga sudah dipindahkan ke ruang perawatan bayi dan tidak lagi membutuhkan penghangat khusus.

Untuk pertama kalinya sejak aku pulang, aku bisa menyentuh pipinya tanpa merasakan dingin yang membuat jantungku berhenti.

Aku menatapnya melalui kaca.

“Namanya siapa?” tanya seorang perawat.

Aku tersenyum kecil.

“Belum kami putuskan.”

Perawat itu ikut tersenyum.

“Berarti Ayah harus segera memutuskan. Anak ini sudah menunggu namanya.”

Aku tertawa pelan.

Namun ketika kembali ke kamar Nadira, senyumku menghilang.

Di atas meja terdapat sebuah map cokelat yang dibawa pengacaraku, Bima.

Dia duduk di samping jendela dengan laptop terbuka.

“Aku sudah memeriksa semua transaksi,” katanya.

Aku duduk di hadapannya.

“Berapa yang sebenarnya mereka ambil?”

“Bukan hanya Rp600 juta.”

Aku mengerutkan kening.

“Apa maksudmu?”

Bima memutar laptop ke arahku.

“Ada rekening lain.”

Aku menatap layar.

Selama enam minggu terakhir, ibuku dan Citra ternyata tidak hanya mengambil uang dari rekening rumah tangga.

Mereka juga menggunakan kartu kredit cadangan milikku.

Totalnya hampir Rp840 juta.

Beberapa transaksi bahkan dilakukan setelah Nadira dibawa ke rumah sakit.

“Setelah mereka tahu kamu pulang?” tanyaku.

Bima mengangguk.

“Lihat waktunya.”

Aku memperhatikan layar.

Transaksi terakhir terjadi pukul 09.14 pagi.

Sebuah pembayaran besar ke sebuah butik perhiasan di Bali.

Aku tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Aku hanya tidak percaya.

“Jadi mereka masih berbelanja ketika istriku sedang dirawat?”

“Ya.”

Bima kemudian membuka dokumen lain.

“Tapi ada hal yang lebih penting.”

Dia memperbesar sebuah transaksi.

“Uang terbesar tidak masuk ke rekening pribadi ibumu.”

“Lalu?”

“Masuk ke rekening sebuah perusahaan.”

Nama perusahaan itu muncul di layar.

PT Sinar Kencana Properti.

Aku mengernyit.

Aku pernah mendengar nama itu.

Perusahaan kecil yang bergerak di bidang properti.

“Kenapa mereka mengirim uang ke perusahaan ini?”

Bima menatapku.

“Itulah yang sedang kami cari tahu.”

Aku bersandar.

“Tunggu. Jangan laporkan dulu.”

Bima terlihat terkejut.

“Arga?”

“Aku ingin tahu semuanya.”

Dia mengangguk.

Kemudian aku kembali melihat rekaman CCTV.

Aku memutar rekaman dari tiga minggu sebelumnya.

Ratna dan Citra berdiri di ruang tamu.

Mereka sedang berbicara dengan seorang pria yang tidak kukenal.

Pria itu menyerahkan sebuah map hitam kepada ibuku.

Aku memperbesar gambar.

Wajahnya tidak terlalu jelas.

Tetapi ada satu benda yang terlihat sangat jelas.

Sebuah cincin dengan lambang berbentuk segitiga.

Aku terdiam.

Bima menatapku.

“Kamu kenal?”

Aku menggeleng.

“Tidak.”

Namun beberapa detik kemudian, aku teringat sesuatu.

Cincin yang sama pernah kulihat pada seseorang.

Bukan di rumah.

Melainkan di sebuah acara keluarga dua tahun lalu.

Aku berdiri.

“Bima, putar rekaman ini lagi.”

Dia mengulangnya.

Pria itu masuk ke apartemen.

Ratna menyerahkan amplop.

Kemudian pria itu berkata sesuatu.

Aku menaikkan volume.

Suara terdengar samar, tetapi cukup jelas.

“Kalau anak itu tetap tinggal di sini, rencana kita akan sulit.”

Aku membeku.

Anak itu?

Bima menatapku.

“Dia bicara tentang siapa?”

Aku tidak menjawab.

Mataku tertuju pada pintu kamar rumah sakit.

Di baliknya ada Nadira.

Dan putra kami.

Tiba-tiba seluruh cerita terasa jauh lebih besar daripada pencurian uang.


Dua jam kemudian, aku meminta Bima melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Kami menemukan sesuatu.

Enam minggu sebelum aku pulang, ibuku ternyata telah menghubungi sebuah perusahaan properti.

Tujuannya?

Menjual apartemen kami.

Tanpa sepengetahuanku.

Aku menatap dokumen itu berkali-kali.

“Ini tidak mungkin.”

Bima menunjuk sebuah surat kuasa.

“Surat ini menggunakan tanda tanganmu.”

Aku langsung tahu.

“Palsu.”

Dia mengangguk.

“Jelas palsu.”

Namun ada sesuatu yang membuatku semakin bingung.

Mengapa mereka ingin menjual apartemen kami?

Aku membuka rekaman lainnya.

Citra sedang berbicara dengan pria yang sama.

“Kalau apartemennya terjual, bagaimana dengan Nadira?”

Pria itu menjawab,

“Dia akan pergi sendiri.”

“Dan bayinya?”

“Anaknya juga.”

Citra terlihat gugup.

“Mas, aku tidak yakin ini benar.”

Pria itu berdiri.

“Sudah terlambat untuk ragu.”

Kemudian kamera menangkap wajahnya lebih jelas.

Aku menatap layar.

Dan untuk pertama kalinya aku mengenalinya.

Namanya Dedi.

Dia adalah mantan rekan bisnis ayahku.

Seseorang yang selama bertahun-tahun kuanggap sudah tidak berhubungan dengan keluargaku.

Bima langsung menelepon seseorang untuk memeriksa riwayat perusahaan tersebut.

Setengah jam kemudian, jawabannya datang.

PT Sinar Kencana Properti ternyata memiliki utang besar.

Dan salah satu aset yang mereka incar adalah tanah di pinggiran Jakarta yang pernah dimiliki ayahku.

Tanah yang selama ini kukira sudah dijual sebelum beliau meninggal.

Tetapi ternyata tidak.

Tanah itu masih ada.

Dan nilainya sangat besar.

Aku menatap Bima.

“Apa hubungannya dengan apartemen kami?”

Bima membuka dokumen lain.

“Ini yang aneh.”

Nama ayahku muncul di sebuah akta lama.

Lalu namaku.

Kemudian nama ibuku.

Aku membaca dokumen itu perlahan.

Ternyata ayahku pernah mendirikan sebuah perusahaan keluarga.

Aku tidak pernah tahu.

Dan setelah beliau meninggal, saham pengendali seharusnya jatuh kepadaku.

Namun beberapa bulan sebelum kematiannya, ada perubahan dokumen.

Tanda tangannya dipalsukan.

Sebagian aset dialihkan.

Aku mengangkat kepala.

“Ibuku?”

Bima menggeleng.

“Belum tentu.”

“Lalu siapa?”

Dia menunjuk sebuah halaman.

“Orang yang mengajukan perubahan dokumen adalah Dedi.”

Aku merasakan sesuatu jatuh di dalam dadaku.

Selama bertahun-tahun, aku mengira ibuku hanya terlalu mengontrol.

Terlalu suka ikut campur.

Terlalu boros.

Ternyata mungkin ada seseorang yang jauh lebih berbahaya di belakangnya.


Malam itu, Nadira terbangun.

Aku duduk di samping ranjangnya.

Dia menatapku beberapa detik.

“Arga?”

“Aku di sini.”

“Bayinya?”

“Baik.”

Dia tersenyum kecil.

Aku menggenggam tangannya.

“Nadira, aku harus memberitahumu sesuatu.”

Dia mengangguk.

Aku menceritakan semuanya.

Tentang uang.

Tentang kamera.

Tentang Dedi.

Tentang apartemen.

Tentang perusahaan lama ayahku.

Nadira mendengarkan dalam diam.

Ketika selesai, dia bertanya,

“Jadi… ibumu melakukan semua itu demi uang?”

Aku menatap tangannya.

“Mungkin.”

Nadira menggeleng pelan.

“Tidak.”

Aku mengangkat kepala.

“Apa maksudmu?”

Dia menarik napas.

“Selama enam minggu terakhir, aku selalu berpikir ibumu membenciku.”

Aku terdiam.

“Tapi ada sesuatu yang tidak pernah kuceritakan.”

“Apa?”

Nadira menatap pintu.

“Beberapa hari sebelum kamu pulang, ibumu datang ke kamarku.”

“Apa yang dia lakukan?”

“Dia menangis.”

Aku terdiam.

“Menangis?”

Nadira mengangguk.

“Dia meminta maaf.”

Aku tidak percaya.

“Kenapa kamu tidak pernah menceritakannya?”

“Karena malam itu Citra masuk. Setelah itu ibumu kembali berubah.”

Aku mendekat.

“Apa yang dikatakan ibuku?”

Nadira menatapku lama.

“Dia bilang, ‘Kalau Arga mengetahui semuanya sekarang, mereka akan menghancurkannya.’”

Aku membeku.

“Mereka?”

Nadira mengangguk.

“Aku bertanya siapa yang dia maksud.”

“Dan?”

“Dia tidak menjawab.”

Kemudian Nadira berkata sesuatu yang membuat seluruh tubuhku merinding.

“Dia hanya mengatakan satu hal.”

“Apa?”

“Jaga anakmu. Jangan biarkan siapa pun membawa dia pergi.”

Aku berdiri.

Selama ini aku mengira ibuku adalah pelaku utama.

Tetapi bagaimana jika…

dia juga sedang ketakutan?


Pukul sebelas malam, ponselku berdering.

Nomor tidak dikenal.

Aku mengangkatnya.

“Arga?”

Aku langsung mengenali suara itu.

Ibuku.

“Bu?”

“Ibu sudah pulang ke Jakarta.”

Aku melihat jam.

“Kamu di mana?”

“Hotel.”

“Kenapa tidak pulang?”

Dia terdiam cukup lama.

“Karena Ibu takut.”

Aku berdiri.

“Takut pada siapa?”

“Dedi.”

Aku menutup mata.

Akhirnya.

Nama itu keluar dari mulutnya sendiri.

“Bu, besok datang ke rumah sakit.”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena kalau Ibu datang, dia akan tahu bahwa Ibu sudah bicara.”

Aku mengepalkan tangan.

“Jelaskan semuanya.”

Suara ibuku bergetar.

“Arga… uang yang Ibu ambil memang salah.”

Aku tidak menjawab.

“Ibu tidak akan membela diri.”

“Lalu kenapa?”

“Karena Dedi mengancam Citra.”

Aku membeku.

“Dengan apa?”

“Dengan utang.”

Aku mendengarkan.

Ibuku mulai menangis.

“Citra meminjam uang darinya untuk membayar utang bisnisnya. Ketika dia tidak mampu membayar, Dedi memaksa kami membantu.”

Aku menutup mata.

“Kenapa uang rumah tangga?”

“Karena Dedi tahu kamu menyimpan dana darurat.”

“Jadi Ibu mengambil uangku?”

“Iya.”

Suaranya hampir tidak terdengar.

“Dan Ibu berbohong kepada Nadira?”

“Iya.”

Aku merasa marah.

Tetapi ada sesuatu yang lain.

Sesuatu yang tidak bisa kujelaskan.

“Kenapa kalian ingin menjual apartemen?”

Ibuku terdiam.

Kemudian dia berkata,

“Karena apartemen itu menyimpan dokumen.”

Aku menatap Bima.

“Dokumen apa?”

“Dokumen asli milik ayahmu.”

Aku membeku.

“Ayah?”

“Dedi telah mencari dokumen itu selama bertahun-tahun.”

Aku menelan ludah.

“Apa isinya?”

Ibuku menangis lebih keras.

“Bukti bahwa sebagian besar perusahaan yang dia kuasai sebenarnya bukan miliknya.”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Dan ayahmu menyimpan bukti itu di tempat yang tidak pernah diketahui siapa pun.”

“Di apartemen?”

“Tidak.”

“Lalu di mana?”

Ibuku menarik napas panjang.

“Di dalam rumah lama kita.”

Aku langsung tahu rumah yang dia maksud.

Rumah masa kecilku di Depok.

Rumah yang sudah lama kosong.


Pagi berikutnya, aku, Bima, dan seorang penyidik swasta pergi ke rumah lama itu.

Rumah tersebut penuh debu.

Aku membuka pintu kamar ayahku.

Segalanya masih hampir sama.

Rak buku.

Meja kerja.

Lampu tua.

Foto keluarga.

Aku berdiri di tengah ruangan dan mencoba mengingat masa kecilku.

Kemudian mataku tertuju pada sebuah lukisan lama.

Sebuah lukisan pemandangan sawah.

Aku mengangkatnya.

Di belakangnya ada brankas kecil.

Aku menatap Bima.

“Ini baru pertama kali aku melihatnya.”

Kami membuka brankas itu.

Di dalamnya ada beberapa dokumen.

Satu flash drive.

Dan sebuah amplop putih.

Namaku tertulis di atasnya.

Untuk Arga, jika suatu hari aku tidak bisa menjelaskan semuanya sendiri.

Tanganku gemetar ketika membukanya.

Surat ayahku hanya terdiri dari tiga halaman.

Tetapi kalimat pertama membuatku harus duduk.

Arga, kalau kamu membaca surat ini, berarti sesuatu yang sangat buruk telah terjadi.

Aku terus membaca.

Ayahku menjelaskan bahwa Dedi pernah menipu perusahaan.

Namun yang lebih mengejutkan adalah dia menulis tentang Ratna.

Ibumu bukan orang yang sempurna. Dia keras kepala dan sering membuat keputusan yang salah. Tetapi jangan pernah percaya bahwa dia ingin menghancurkanmu.

Aku berhenti.

Bima membaca bagian berikutnya.

Jika suatu hari Dedi mendekati keluarga kita, jangan melawannya sendirian.

Kemudian kalimat terakhir:

Dan satu hal yang paling penting—jaga Nadira. Dia adalah satu-satunya orang yang tidak pernah meminta apa pun darimu selain dirimu sendiri.

Aku menutup mata.

Air mataku jatuh.

Ayahku telah meninggal bertahun-tahun lalu.

Tetapi pagi itu rasanya seperti dia baru saja berbicara kepadaku.


Flash drive tersebut berisi dokumen keuangan dan rekaman percakapan lama.

Bukti itu cukup untuk membuktikan penggelapan aset perusahaan.

Bima langsung mengatakan bahwa dokumen tersebut harus diamankan dan diserahkan kepada pihak berwenang.

Namun ada satu file video.

Aku membukanya.

Ayahku duduk di meja yang sama.

Wajahnya terlihat jauh lebih muda.

Dan di sampingnya…

adalah ibuku.

Aku menahan napas.

Ayahku berkata,

“Ratna, kalau aku tidak sempat menyelesaikan semuanya, kamu harus melindungi Arga.”

Ibuku menangis dalam video.

“Aku tidak tahu caranya.”

“Kamu harus membuat dia membencimu jika perlu.”

Aku menatap layar.

Apa?

Ayahku melanjutkan,

“Selama Dedi percaya kamu berada di pihaknya, Arga akan aman.”

Aku tidak bisa bergerak.

Tiba-tiba semua kejadian selama beberapa minggu terakhir terlihat berbeda.

Ibuku memang mencuri uang.

Dia memang menyakiti Nadira.

Dia memang melakukan hal yang tidak bisa dibenarkan.

Tetapi mungkin selama bertahun-tahun dia juga melakukan sesuatu yang tidak pernah kuketahui.

Dia sengaja menjaga jarak.

Sengaja membuatku tidak terlalu percaya kepadanya.

Agar jika suatu hari Dedi datang…

aku tidak mudah dipancing melalui dirinya.

Namun rencana itu akhirnya gagal.

Karena Citra membuat utang.

Dan Dedi menemukan kesempatan.


Sore itu, aku kembali ke rumah sakit.

Nadira sedang duduk sambil menggendong bayi kami.

Aku duduk di sampingnya.

“Namanya sudah kupilih.”

Dia tersenyum.

“Apa?”

Aku melihat wajah kecil anak kami.

“Raka.”

Nadira tersenyum.

“Kenapa Raka?”

“Karena aku ingin dia tumbuh menjadi laki-laki yang tahu bahwa kekuatan bukan berarti tidak pernah jatuh.”

Nadira menyentuh tanganku.

Aku kemudian menceritakan semuanya.

Tentang surat ayahku.

Tentang video.

Tentang ibuku.

Nadira terdiam lama.

“Jadi… ibumu memang bersalah.”

Aku mengangguk.

“Tapi dia juga mencoba melindungi kamu.”

Aku mengangguk lagi.

Nadira menatapku.

“Kamu akan memaafkannya?”

Aku melihat putra kami.

“Aku belum tahu.”

Dan untuk pertama kalinya, aku merasa jawaban itu cukup jujur.

Aku tidak perlu langsung memaafkan.

Aku juga tidak perlu langsung membenci.

Ada kesalahan yang harus dipertanggungjawabkan.

Ada luka yang membutuhkan waktu.


Dua minggu kemudian, kasus tersebut mulai berjalan secara hukum.

Dedi diperiksa atas dugaan penggelapan dan pemalsuan dokumen.

Citra mengembalikan sebagian uang dan bersedia memberikan kesaksian.

Ibuku juga menyerahkan semua bukti yang dia miliki.

Aku tidak menarik laporan terhadap mereka.

Tetapi aku juga tidak mencabutnya.

Aku membiarkan proses hukum berjalan.

Karena memaafkan seseorang tidak berarti menghapus akibat perbuatannya.

Ratna akhirnya datang ke rumah sakit.

Dia berdiri di depan pintu sambil menangis.

Aku tidak langsung memeluknya.

Kami hanya saling memandang.

“Aku minta maaf,” katanya.

Aku mengangguk.

“Aku tahu.”

“Ibu tidak berharap kamu memaafkan sekarang.”

Aku menarik napas.

“Bagus.”

Dia tersenyum sedih.

“Aku hanya ingin melihat cucuku.”

Aku membuka pintu.

Ratna mendekati ranjang bayi.

Tangannya gemetar ketika menyentuh pipi Raka.

“Maafkan Nenek,” bisiknya.

Air matanya jatuh.

“Aku hampir membuatmu kehilangan keluargamu.”

Aku berdiri di belakangnya.

Untuk beberapa detik, tidak ada seorang pun yang bicara.

Kemudian Raka menggenggam jari ibuku.

Ratna langsung menangis.

Aku juga.

Bukan karena semua luka tiba-tiba hilang.

Tetapi karena untuk pertama kalinya, aku melihat ibuku bukan sebagai penjahat atau korban.

Dia hanyalah seorang manusia yang membuat keputusan buruk, menyimpan terlalu banyak rahasia, dan akhirnya hampir menghancurkan orang-orang yang ingin dia lindungi.


Enam bulan kemudian, hidup kami perlahan kembali normal.

Nadira sehat.

Raka tumbuh menjadi bayi yang ceria.

Aku kembali bekerja, tetapi tidak lagi menghabiskan seluruh hidupku di kantor.

Aku juga menjual apartemen lama dan membeli rumah yang lebih sederhana.

Di ruang keluarga, aku memasang satu foto.

Foto ayahku.

Di bawahnya, ada foto kecil Raka.

Dua generasi yang tidak pernah sempat bertemu.

Dan di meja kecil di sampingnya, aku menyimpan satu benda.

Sebuah kamera keamanan lama.

Bukan karena aku masih takut.

Tetapi karena benda itu mengingatkanku pada satu pelajaran.

Kadang-kadang kita baru mengetahui siapa seseorang sebenarnya ketika kita berhenti mendengarkan kata-kata mereka dan mulai melihat apa yang mereka lakukan.

Namun ada satu hal yang paling mengubah hidupku.

Bukan uang Rp600 juta yang hilang.

Bukan rekaman CCTV.

Bukan pula kasus hukum.

Melainkan malam ketika aku pertama kali menyentuh tangan putraku dan merasakan betapa dinginnya tubuh kecil itu.

Hari itu aku menyadari sesuatu.

Aku hampir kehilangan keluargaku bukan karena orang asing.

Tetapi karena orang-orang yang paling dekat denganku menyimpan rahasia terlalu lama.

Dan aku sendiri terlalu sibuk mengejar kesuksesan sampai lupa bahwa keluarga tidak membutuhkan rekening besar.

Mereka membutuhkan kehadiran.

Sekarang setiap malam, sebelum tidur, aku selalu memeriksa Raka.

Bukan karena takut sesuatu terjadi.

Aku hanya ingin memastikan dia hangat.

Suatu malam, Nadira bertanya,

“Kamu masih marah kepada ibumu?”

Aku memandangnya.

“Kadang-kadang.”

“Dan kamu masih mencintainya?”

Aku tersenyum.

“Juga kadang-kadang.”

Nadira tertawa kecil.

Aku mencium keningnya.

Karena ternyata manusia memang bisa merasakan dua hal yang bertentangan sekaligus.

Kita bisa terluka dan tetap mencintai.

Kita bisa memaafkan tanpa melupakan.

Kita bisa memberi seseorang kesempatan kedua tanpa memberikan kembali kepercayaan yang sama.

Dan mungkin itulah bentuk kedewasaan yang sebenarnya.

Beberapa bulan kemudian, ibuku mengirim sebuah pesan.

Hanya satu kalimat.

“Ibu tidak akan pernah meminta kamu melupakan apa yang Ibu lakukan. Ibu hanya berterima kasih karena kamu masih mengizinkan Ibu menjadi nenek Raka.”

Aku membaca pesan itu lama.

Lalu membalas:

“Jangan sia-siakan kesempatan itu, Bu.”

Tidak ada kata maaf.

Tidak ada kata sayang.

Belum.

Tetapi untuk pertama kalinya, kami tidak membutuhkan kata-kata besar.

Karena di ruang tamu rumahku, seorang bayi sedang tertawa.

Dan ibuku sedang menggendongnya.

Nadira duduk di sebelahku.

Aku melihat mereka dan teringat hari ketika aku membuka pintu apartemen itu.

Hari ketika aku mengira semua yang kubangun telah dihancurkan.

Ternyata aku salah.

Hari itu bukan akhir keluargaku.

Itu adalah hari ketika aku akhirnya melihat keluargaku apa adanya.

Tidak sempurna.

Tidak bersih dari kesalahan.

Tetapi masih memiliki kesempatan untuk berubah.

Dan ketika Raka menggenggam jariku malam itu, aku membuat janji dalam hati.

Aku tidak akan pernah lagi membiarkan pekerjaan, uang, atau ambisi membuatku lupa pulang.

Karena pada akhirnya, rumah bukanlah tempat yang memiliki kamera paling banyak.

Rumah adalah tempat di mana orang-orang yang kita cintai tahu bahwa kita akan selalu kembali.

Dan kali ini, aku benar-benar pulang.