Bagian 2
Aku membaca pesan itu sampai layar ponsel meredup.
“Pak?”
Perawat masih menunggu.
Aku menyerahkan bayi itu kembali dengan hati-hati.
“Dokumen apa?”
“Data administrasi pasien dan bayi. Bisa dilengkapi setelah Ibu Vania dipindahkan ke kamar.”
Aku mengangguk.
“Kalau ada bagian tentang data ayah, saya belum bisa mengisinya sekarang.”
Perawat menatap Vania sebentar, lalu kembali padaku.
“Baik. Nanti bisa dibicarakan dengan petugas administrasi.”
Tidak ada keributan.
Tidak ada musik dramatis.
Hanya suara alat medis, langkah orang-orang di lorong, dan seorang bayi yang menangis tanpa tahu bahwa tiga orang dewasa di sekelilingnya telah membuat hidupnya jauh lebih rumit sebelum dia sempat pulang dari rumah sakit.
Aku mendekati tempat tidur Vania.
“Dimas ayahnya?”
Dia menatap langit-langit.
“Aku tidak tahu.”
Jawaban itu membuatku lebih dingin daripada kalau dia langsung mengaku.
“Tidak tahu?”
“Kami pernah bersama.”
“Kapan?”
Dia menggigit bibir.
“Beberapa kali.”
“Waktu kamu sama aku?”
Vania mulai menangis.
Aku tidak merasa menang melihatnya.
“Jawab.”
“Iya.”
Aku mundur satu langkah.
“Dan kamu membiarkan aku beli apartemen. Mobil. Bayar semuanya.”
“Aku tidak pernah menyuruhmu sejauh itu.”
Aku menatapnya.
“Kamu memilih unitnya sendiri.”
Dia terdiam.
Aku menelepon Dimas.
Tidak diangkat.
Kutelepon lagi.
Tetap tidak.
Aku mengirim satu pesan.
Bayinya lahir. Kita perlu bicara soal tanda lahir di bawah mata kirinya.
Pesan itu terbaca kurang dari satu menit kemudian.
Tidak ada balasan.
Aku membayar biaya rumah sakit yang memang sudah kujanjikan dan memastikan tidak ada tagihan medis mendesak yang tertunda. Setelah itu aku mengatakan kepada Vania bahwa sampai persoalan ayah biologisnya jelas, aku tidak akan membuat keputusan finansial lain.
“Kamu mau meninggalkan aku sekarang?” katanya.
Aku hampir tertawa, tetapi tidak jadi.
Kalimat itu terlalu mirip dengan sesuatu yang seharusnya pernah ditanyakan Lusi kepadaku.
“Aku akan bertanggung jawab atas apa yang memang tanggung jawabku,” jawabku. “Tidak lebih dari itu.”
Ketika sampai di rumah, mobil Lusi tidak ada.
Beberapa pakaiannya masih tergantung di lemari. Buku-bukunya masih di rak. Mug favoritnya masih berada di dapur.
Dia tidak melakukan kepindahan teatrikal.
Dia hanya mengambil barang yang dia butuhkan.
Di ruang kerjaku, laci kedua terkunci.
Kuncinya masih terselip di tempat biasa.
Di dalamnya ada amplop cokelat dengan namaku.
Aku membuka bagian pertama.
Dua lembar dokumen lama dari arsip perusahaan.
Lusi pernah membantu mengurus administrasi firma kami, jadi aku mengenali formatnya.
Dokumen pertama adalah laporan biaya sebuah acara desain yang berlangsung hampir satu setengah tahun sebelum aku bertemu Vania di Bali.
Nama vendor eksternal tercetak di sana.
Vania Prasetyo.
Aku berhenti bernapas beberapa detik.
Dokumen kedua adalah salinan rangkaian email antara Dimas dan Vania mengenai acara tersebut.
Tidak ada kalimat romantis.
Tidak perlu.
Pada satu email, Dimas menulis:
Untuk penginapan nanti pakai alamat penagihan terpisah. Jangan kirim ke kantor.
Vania menjawab:
Seperti biasanya?
Dimas:
Iya. Jangan sampai masuk laporan yang dibawa pulang.
Tanggalnya jelas.
Mereka sudah saling mengenal jauh sebelum aku mengenal Vania.
Di bawah kedua dokumen itu ada satu catatan tulisan tangan Lusi.
Aku menemukan ini waktu membereskan arsip lama setelah kamu mulai mengambil uang tabungan kita. Aku tidak tahu seluruh ceritanya, tapi Dimas sudah mengenal Vania jauh sebelum Bali. Kamu mungkin perlu bertanya kenapa dia bertingkah seolah baru mengenalnya lewat kamu.
Ponselku berbunyi.
Dimas.
Aku langsung menjawab.
“Besok pagi,” katanya.
“Tidak. Sekarang.”
“Raka, kamu masih di rumah sakit?”
“Aku sudah pulang.”
Dia diam.
Aku membuka email lama itu sekali lagi.
“Sudah berapa lama kamu kenal Vania?”
Tidak ada jawaban.
“Dim.”
“Besok kita bicara di kantor.”
“Jawab satu saja. Anak itu kemungkinan anakmu?”
Napasnya terdengar di sambungan telepon.
Lalu dia berkata pelan,
“Jangan isi nama kamu sebagai ayah dulu.”
Sambungan terputus.

Bagian 3
Aku datang ke kantor sebelum pukul tujuh pagi.
Biasanya lantai kami baru ramai setelah setengah sembilan. Pagi itu hanya ada petugas kebersihan dan suara pendingin ruangan.
Dimas masuk dua puluh menit kemudian.
Dia berhenti ketika melihatku duduk di ruang rapat.
Aku meletakkan salinan dokumen dari amplop di atas meja.
Dia tidak bertanya dari mana aku mendapatkannya.
Itu jawaban pertama.
“Berapa lama?” tanyaku.
Dimas menarik kursi.
“Rak…”
“Berapa lama kamu sama Vania?”
Dia mengusap wajahnya.
“Hampir dua tahun sebelum kamu kenal dia.”
Aku menatapnya.
Dua tahun.
Bukan satu malam.
Bukan kesalahan setelah pesta.
“Waktu aku ketemu dia di Bali?”
“Kami sedang tidak baik.”
“Kalian putus?”
Dimas tidak langsung menjawab.
Aku tertawa pendek.
“Berarti tidak.”
“Kami sudah jarang ketemu.”
“Jawabannya tidak, Dim.”
Dia menunduk.
Aku teringat semua perjalanan kerja kami. Semua kali dia duduk di mobilku. Semua makan siang ketika aku membicarakan kehamilan Vania seperti orang bodoh yang baru memenangkan hidup.
“Waktu dia bilang hamil, kamu tahu?”
“Dia bilang ke aku beberapa minggu setelah bilang ke kamu.”
“Dan?”
“Dia sendiri tidak yakin.”
“Jadi kamu menyuruhku mengurus semuanya.”
Dimas menatapku sekarang.
“Aku salah.”
“Itu bukan jawaban.”
“Apa yang mau kamu dengar?”
“Kebenaran yang seharusnya kamu katakan sembilan bulan lalu.”
Dia berdiri, berjalan ke jendela, lalu kembali duduk.
“Vania panik. Kamu bahagia. Kamu sudah bicara soal meninggalkan Lusi. Kamu terus bilang akhirnya kamu punya anak.”
“Terus?”
“Aku pikir kalau ternyata anak itu memang anakmu, aku menghancurkan semuanya tanpa alasan.”
“Dan kalau anak itu anakmu?”
Dimas tidak menjawab.
Aku melanjutkan.
“Kamu berharap aku membayar sampai dia lahir, lalu setelah itu bagaimana?”
“Aku tidak tahu.”
“Kamu tahu cukup banyak untuk bilang aku harus kasih dia semuanya.”
Dia mengepalkan tangan di atas meja.
“Karena Vania terus menghubungiku. Dia minta aku ikut tanggung jawab. Aku bilang kami bahkan belum tahu siapa ayahnya.”
“Jadi solusi kamu adalah membiarkan aku percaya?”
Dimas mengangguk kecil.
Bukan pengakuan besar.
Bukan alasan rumit.
Hanya seorang laki-laki yang melihat jalan keluar yang menguntungkan dirinya sendiri dan mengambilnya.
Aku seharusnya ingin memukulnya.
Yang muncul justru rasa malu.
Karena Dimas memang menipuku.
Vania juga.
Tetapi mereka hanya bisa melakukan itu karena aku sedang sangat ingin mempercayai sesuatu yang membenarkan pengkhianatanku sendiri.
Aku mengambil kembali dokumen dari meja.
“Mulai hari ini, semua keputusan keuangan perusahaan yang biasanya kita setujui sendiri harus lewat prosedur internal yang sama dan dicatat.”
Dimas mengerutkan kening.
“Jangan campur urusan ini dengan perusahaan.”
“Justru karena aku pernah percaya penuh sama kamu, aku perlu memastikan urusan pribadi kita tidak masuk ke sana.”
“Aku tidak pernah ambil uang perusahaan.”
“Aku belum bilang kamu mengambil.”
Dia diam.
“Aku akan minta akuntan independen memeriksa transaksi dan pengeluaran enam belas bulan terakhir,” kataku. “Bukan karena aku sudah memutuskan kamu mencuri. Karena aku tidak akan lagi mengambil keputusan berdasarkan kepercayaan pribadi.”
Wajahnya mengeras.
“Kita bangun firma ini bersama.”
“Aku tahu.”
“Lalu cuma karena perempuan…”
“Jangan.”
Aku berdiri.
“Jangan sebut ini cuma karena perempuan. Kamu tahu aku pikir anak itu anakku. Kamu tahu aku sedang menghancurkan rumah tanggaku. Dan kamu memilih diam karena diam membuat hidupmu lebih gampang.”
Dia tidak punya bantahan.
Aku keluar.
Baru di parkiran aku menelepon Lusi.
Dia tidak menjawab.
Aku kirim pesan.
Aku sudah buka amplopnya. Aku tidak akan datang ke tempatmu tanpa izin. Kalau kamu bersedia, aku perlu bicara.
Balasannya datang hampir satu jam kemudian.
Besok jam empat. Kedai kopi dekat klinik lama kita.
Aku datang setengah jam lebih awal.
Lusi tiba tepat waktu dengan blus biru sederhana dan tas kerja kecil.
Aku berdiri.
Dia duduk tanpa tersenyum.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak tahu bagaimana memulai percakapan dengan istriku sendiri.
“Aku minta maaf.”
Lusi mengangkat tangan sedikit.
“Kalau kamu datang cuma untuk minta aku pulang karena Vania ternyata bohong, aku pulang sekarang.”
“Bukan.”
“Karena aku tidak mau jadi pilihan cadangan.”
“Aku tahu.”
“Belum tentu.”
Dia meletakkan tasnya di kursi kosong.
Aku menatap perutnya yang masih belum tampak berbeda.
“Tesnya benar?”
Lusi mengangguk.
“Aku sudah cek ke dokter. Masih awal.”
“Berapa minggu?”
“Hampir tujuh.”
Aku menghitung dalam kepala.
Lusi melihat wajahku berubah.
“Iya,” katanya. “Malam setelah Ayah pulang dari rumah sakit.”
Aku ingat.
Ayah baru saja diizinkan pulang setelah pemeriksaan lanjutan. Aku pulang ke rumah hampir tengah malam. Lusi masih bangun.
Kami berbicara lama untuk pertama kali dalam beberapa bulan.
Tentang Ayah.
Tentang ketakutan.
Tentang masa ketika pernikahan kami belum penuh kebohongan.
Malam itu kami tidur bersama.
Keesokan paginya aku pergi menemui Vania.
Aku bahkan sudah menyimpan kenangan itu di tempat yang paling nyaman bagiku, seolah tidak penting.
“Lus…”
“Jangan salah paham. Aku tidak menganggap ini tanda kita harus kembali.”
Aku menunduk.
“Aku tidak akan meminta itu sekarang.”
“Sekarang?”
Nada suaranya membuatku sadar aku masih berusaha menyisakan pintu.
Aku memperbaiki kalimatku.
“Aku tidak punya hak meminta itu.”
Lusi menatapku lama.
Kemudian dia bertanya, “Kamu tahu kenapa aku simpan dokumen itu?”
Aku menggeleng.
“Setelah kamu mulai mengambil uang dari tabungan kita, aku periksa apa yang memang menjadi hakku untuk lihat. Rekening bersama. Arsip administrasi lama yang masih ada di rumah. Bukan ponselmu.”
Aku teringat bagaimana aku pernah membanggakan diri di depan teman bahwa Lusi “tidak pernah kepo”.
Padahal aku mengartikan harga dirinya sebagai kelemahan.
“Nama Vania muncul di catatan lama,” lanjutnya. “Aku kenal nama belakangnya karena suatu kali kuitansi pembelian furnitur apartemennya masuk ke email rumah yang masih kamu pakai untuk beberapa tagihan.”
“Kenapa kamu tidak bilang?”
“Aku pernah tanya kamu apakah kamu yakin anak itu anakmu.”
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada kalau dia membentakku.
“Aku tahu.”
“Kamu bilang aku iri karena tidak bisa punya anak.”
Aku mengangguk.
Tidak ada alasan.
Lusi menatap meja.
“Kalau waktu itu aku keluarkan semua dokumen, kamu bakal percaya?”
Aku ingin bilang iya.
Aku tidak jadi.
Kami berdua tahu jawabannya.
Aku terlalu membutuhkan Vania untuk menjadi bukti bahwa aku bukan masalah dalam pernikahan kami.
“Aku tidak tahu apa hubungan Dimas dan Vania sekarang,” kata Lusi. “Aku cuma tahu mereka sudah saling kenal lama. Itu sebabnya aku simpan semuanya.”
“Kenapa pesanmu berhenti di tengah kalimat?”
Lusi nyaris tersenyum, tetapi bukan karena lucu.
“Karena aku mengetik sambil keluar dari laboratorium. Pesanku gagal terkirim lengkap. Setelah itu aku pikir tidak penting meneruskannya.”
Aku membuka ponsel.
Pesan terakhirnya memang terpotong.
“Aku mau menulis,” katanya, “‘kenapa Vania memilih Dimas, dari semua orang, untuk tetap dia temui diam-diam ketika dia tahu Dimas adalah orang yang paling dekat denganmu di kantor.’”
Jadi tidak ada kode rahasia.
Tidak ada rencana besar yang sengaja ditinggalkan Lusi untuk menghukumku.
Hanya pesan yang terpotong.
Kadang-kadang kenyataan jauh lebih sederhana daripada drama yang kita ciptakan sendiri.
Aku berkata, “Vania mengaku mereka masih tidur bersama.”
Lusi memejamkan mata sebentar.
“Dan bayinya?”
“Aku belum tahu.”
“Tes.”
“Aku akan minta.”
Lusi mengangkat kepalanya.
“Bukan untuk membalas siapa-siapa. Untuk anak itu.”
“Aku tahu.”
“Dia berhak tahu siapa ayahnya. Dan kamu juga tidak boleh mengambil keputusan berdasarkan wajah bayi saja.”
Itulah Lusi.
Bahkan setelah semua yang kulakukan, dia masih lebih memikirkan fakta daripada kepuasannya melihatku dipermalukan.
Aku mengeluarkan satu map lain.
“Aku juga mau bicara soal uang.”
Wajahnya langsung berubah waspada.
Aku mendorong salinan mutasi rekening bersama ke arahnya.
“Aku ambil Rp640 juta dari tabungan kita selama hampir setahun.”
Lusi menatap angka itu.
“Aku tahu.”
“Aku akan kembalikan bagian yang kuambil.”
“Dari mana?”
“Aku punya deposito pribadi dan pembagian keuntungan bulan depan.”
“Jangan pindahkan aset supaya kelihatan baik.”
“Aku tidak akan.”
Dia masih menatapku.
“Aku akan minta bantuan profesional untuk mencatat semua aset dan pengeluaran dengan benar,” kataku. “Aku tidak mau ada uang yang disembunyikan dari proses apa pun yang nanti kita jalani.”
Lusi menutup map.
“Proses apa?”
Aku menarik napas.
Aku sudah tahu jawabannya bahkan sebelum datang.
“Kamu ingin cerai?”
Dia tidak berkata cepat.
“Ya.”
Aku menatap jendela.
Di luar, seorang ibu sedang menarik tangan anak kecil agar tidak berlari ke parkiran.
“Apa karena Vania?”
“Bukan cuma Vania.”
Aku kembali menatap Lusi.
“Kamu mulai selingkuh jauh sebelum kamu tidur dengannya, Rak.”
Aku mengernyit.
“Kamu mulai waktu kamu memutuskan kegagalan punya anak adalah salahku. Waktu kamu tidak mau menyelesaikan pemeriksaanmu sendiri. Waktu kamu membuat aku menanggung rasa malu sendirian supaya kamu tetap merasa sebagai suami yang tidak bermasalah.”
Aku tidak bisa mengatakan dia salah.
“Lalu Vania datang,” lanjutnya, “dan kamu dapat cerita yang kamu suka. Perempuan lain hamil. Berarti aku yang gagal. Kamu yang benar.”
Tanganku mengepal di pangkuan.
“Aku tidak mau anak ini lahir dan membuat kita berpura-pura semuanya selesai.”
Aku memandangnya.
“Kalau kamu mengizinkan, aku ingin bertanggung jawab sebagai ayah.”
“Itu kewajibanmu kalau memang anak ini anakmu.”
Kalimatnya terdengar keras, tetapi memang benar.
“Dan soal kita?”
Lusi memasukkan dokumen ke tas.
“Soal kita akan kita urus sebagai dua orang dewasa. Bukan sebagai hadiah karena aku hamil.”
Dua hari kemudian, aku kembali ke rumah sakit.
Vania sudah dipindahkan ke kamar biasa.
Bayi itu tidur di sampingnya.
Ketika aku masuk, dia langsung bertanya, “Kamu dari mana?”
“Aku mau kita melakukan tes paternitas melalui laboratorium yang jelas.”
Wajahnya pucat.
“Sekarang?”
“Prosedurnya kita tanyakan. Aku tidak akan memaksa apa pun tanpa persetujuan yang benar.”
“Aku sudah bilang aku tidak tahu.”
“Itu sebabnya kita perlu tahu.”
Dia mulai menangis.
“Kalau bukan kamu, kamu benar-benar pergi?”
Aku duduk di kursi dekat pintu.
“Vania, aku sudah punya istri waktu aku mulai hubungan sama kamu. Aku tidak akan berdiri di sini pura-pura cuma kamu yang salah.”
Dia menatapku.
“Aku juga bohong. Aku juga menghancurkan sesuatu.”
Aku menunjuk bayi yang sedang tidur.
“Tapi dia tidak salah apa-apa. Jangan jadikan dia alat untuk menahan siapa pun.”
Vania menunduk.
Setelah cukup lama dia berkata, “Dimas tidak mau mengaku.”
“Kalau dia memang ayahnya, itu urusan yang harus kalian hadapi.”
“Dia bilang belum tentu.”
“Memang belum tentu.”
Akhirnya Vania setuju melakukan pemeriksaan sesuai prosedur laboratorium setelah dokter memastikan kondisi bayi memungkinkan.
Aku juga menjalani pengambilan sampel.
Menunggu hasilnya jauh lebih buruk daripada melihat tanda lahir.
Karena selama beberapa hari, masih ada satu bagian kecil dalam diriku yang berharap aku salah.
Bukan karena hubunganku dengan Vania.
Karena aku sudah membayangkan bayi itu sebagai anakku selama berbulan-bulan.
Aku sudah memilih nama.
Membeli ranjang kecil.
Membayangkan mengajarinya menggambar.
Kesalahan orang dewasa tidak otomatis menghapus rasa yang sudah terbentuk.
Hasilnya keluar beberapa hari kemudian.
Aku bukan ayah biologisnya.
Tidak ada adegan aku merobek kertas.
Aku hanya duduk di dalam mobil di parkiran laboratorium dan membaca bagian kesimpulan tiga kali.
Kemudian kusimpan dokumen itu ke dalam map.
Vania menelepon malamnya.
“Dimas akhirnya mau tes.”
Aku bertanya, “Karena kamu minta?”
“Karena aku bilang aku akan berhenti membiarkan dia bersembunyi.”
Aku tidak bertanya lebih banyak.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku mencoba membedakan mana bagian hidupku dan mana yang bukan.
Beberapa minggu kemudian Vania memberi tahu bahwa hasil Dimas sesuai.
Dia ayah biologis bayi itu.
Aku tidak datang menemui Dimas setelah mendengar kabar tersebut.
Kami sudah cukup bicara.
Hubungan bisnis kami jauh lebih rumit.
Pemeriksaan akuntan independen tidak menemukan Dimas mengambil uang perusahaan untuk Vania.
Aneh rasanya merasakan sedikit lega tentang satu hal di tengah pengkhianatan sebesar itu.
Aku juga harus menerima kenyataan bahwa sebagian besar uang yang kuberikan kepada Vania memang kuberikan secara sadar.
Apartemen itu sudah dibeli atas namanya.
Aku tidak bisa sekadar datang membawa kunci dan mengambilnya kembali karena sekarang aku merasa tertipu.
Penasihat hukum yang kutemui mengatakan hal paling tidak memuaskan tetapi paling masuk akal.
“Pisahkan kekecewaan pribadi dari posisi hukum Anda. Dokumen transaksi harus dilihat satu per satu.”
Jadi itulah yang kulakukan.
Tidak ada pembalasan besar.
Tidak ada pagi ketika Vania mendadak kehilangan semua yang pernah kuberikan.
Beberapa pembayaran yang belum jatuh tempo dan masih atas namaku dihentikan atau dialihkan sesuai perjanjian yang memang memungkinkan. Tagihan yang jelas milikku kuselesaikan.
Yang sudah menjadi miliknya, tetap menjadi masalah yang harus diterima sebagai konsekuensi pilihanku sendiri.
Rasanya seperti membayar uang kuliah untuk pelajaran paling mahal dalam hidupku.
Dengan Dimas, kami sepakat tidak mungkin kembali bekerja seperti sebelumnya.
Kami tidak saling percaya.
Perusahaan tidak bisa dijalankan hanya dengan gambar bagus dan kontrak. Ada rekening, tender, tanggung jawab kepada pegawai, dan keputusan yang nilainya miliaran rupiah.
Kami menggunakan ketentuan penyelesaian dalam perjanjian usaha dan meminta pihak independen menilai kepemilikan masing-masing.
Prosesnya memakan waktu berbulan-bulan.
Pada akhirnya aku memilih menjual bagianku.
Banyak orang bilang aku bodoh.
Firma itu kami bangun lebih dari sepuluh tahun.
Namaku melekat di sana.
Tetapi setiap kali duduk satu meja dengan Dimas, aku tidak lagi bisa memisahkan rekan bisnisku dari laki-laki yang pernah menatapku berbicara tentang “anakku” sambil mengetahui kemungkinan bayi itu justru anaknya.
Aku mengambil uang hasil penjualan sesuai nilai yang disepakati dan mulai mengerjakan proyek sendiri dalam skala jauh lebih kecil.
Tidak terasa seperti kemenangan.
Lebih mirip amputasi yang memang diperlukan agar sesuatu yang sudah rusak tidak terus menyeret bagian lain hidupku.
Hubunganku dengan Lusi juga tidak kembali seperti dulu.
Kami memulai proses perceraian dengan cara yang setenang mungkin.
Tidak selalu berhasil.
Ada hari ketika Lusi marah.
Ada hari ketika aku ingin membela diri lalu teringat bahwa pembelaan tidak mengubah apa yang kulakukan.
Ada pembicaraan tentang rumah.
Tabungan.
Biaya kehamilan.
Barang-barang bersama.
Kami memakai bantuan profesional untuk hal yang tidak bisa diselesaikan hanya lewat percakapan.
Aku mengembalikan uang yang kuambil dari tabungan bersama sesuai kesepakatan kami.
Aku tidak membelikannya mobil baru.
Tidak mengirim bunga setiap hari.
Tidak memakai kehamilannya untuk memaksa bertemu.
Aku bertanya sebelum datang ke pemeriksaan dokter.
Kadang dia mengizinkan.
Kadang dia pergi sendiri.
Pertama kali aku ikut, usia kehamilannya hampir empat bulan.
Dokter menunjukkan layar kecil.
Aku melihat bentuk kepala, tangan, gerakan yang cepat.
Lusi tidak menatapku.
Aku juga tidak berani menyentuh tangannya.
Dalam perjalanan keluar dari klinik, aku bertanya, “Kamu takut?”
“Setiap hari.”
“Aku juga.”
Dia menoleh.
“Bedanya, sekarang jangan jadikan takutmu alasan menyakiti orang.”
Aku mengangguk.
Tidak ada kalimat bagus untuk menjawabnya.
Beberapa bulan kemudian, kami mengetahui bayi itu perempuan.
Dulu aku mungkin akan kecewa sedetik karena dalam kepalaku selalu ada gambaran tentang anak laki-laki yang memakai namaku.
Kali ini aku hanya menatap gambar pemeriksaan dan bertanya pada dokter apakah semuanya berkembang baik.
Lusi memperhatikanku.
Dia tidak mengatakan apa pun.
Menjelang akhir kehamilannya, kami sudah tinggal terpisah.
Aku menyewa apartemen kecil sekitar dua puluh menit dari rumah lama kami. Lusi tetap tinggal di rumah sampai urusan pembagian selesai karena kami sepakat dia membutuhkan tempat yang stabil selama hamil.
Ayah akhirnya tahu tentang perceraian.
Kondisinya sudah jauh lebih baik ketika kami memberitahunya.
Dia tidak pingsan.
Tidak terkena serangan jantung kedua.
Semua ketakutan yang kupakai berbulan-bulan sebagai alasan ternyata tidak membebaskanku dari akibat.
Ayah hanya duduk lama di ruang tamu.
Kemudian dia bertanya,
“Kamu selingkuh?”
“Iya.”
“Lusi hamil?”
“Iya.”
“Anak perempuan yang satu lagi?”
“Bukan anakku.”
Ayah memejamkan mata.
Aku menunggu ceramah.
Yang keluar hanya satu kalimat.
“Jangan pakai cucuku untuk minta istrimu memaafkanmu.”
Aku menunduk.
“Tidak.”
Ayah menatapku.
“Kalau nanti dia memaafkan, itu urusan dia. Kalau tidak, ya kamu tetap jadi ayah yang benar.”
Itu mungkin percakapan tersulit kami.
Tujuh bulan lebih setelah hari ketika aku menggendong bayi Vania, Lusi melahirkan seorang anak perempuan.
Aku berada di rumah sakit karena dia mengizinkan.
Tidak di ruang persalinan.
Aku menunggu di luar bersama keluarganya sampai perawat memberi kabar bahwa ibu dan bayi sehat.
Ketika akhirnya aku boleh masuk, Lusi terlihat sangat lelah.
Bayi kecil itu tidur di sampingnya.
Aku mendekat perlahan.
Tidak mencari tanda lahir.
Tidak memeriksa bentuk hidung.
Tidak membandingkan alisnya dengan siapa pun.
Aku cuma melihatnya.
“Namanya Alya,” kata Lusi.
Aku mengangguk.
“Bagus.”
Lusi menatapku.
“Kamu mau gendong?”
Aku mengulurkan tangan.
Kali ini ketika seorang bayi diletakkan di lenganku, aku tidak merasa dunia sedang membenarkan aku.
Aku juga tidak merasa sedang diberi hadiah karena sudah menyesal.
Aku hanya tahu ada seorang anak yang tidak pernah meminta dilahirkan ke dalam kekacauan kami, dan dia membutuhkan ayah yang tidak menjadikan kebutuhannya sendiri sebagai pusat setiap keputusan.
Aku menatap Lusi.
“Terima kasih.”
“Jangan terima kasih ke aku karena dia lahir.”
Aku hampir tersenyum.
“Bukan itu.”
Dia tahu maksudku.
Kami tetap bercerai.
Itu bagian yang dulu mungkin tidak akan kupahami.
Aku pernah berpikir kehamilan Lusi akan menjadi jalan untuk pulang.
Ternyata anak bukan lem untuk menempelkan kembali sesuatu yang sudah pecah.
Perceraian kami selesai beberapa bulan kemudian.
Kami belajar mengatur jadwal Alya.
Aku datang pada hari-hari yang sudah disepakati.
Membayar kewajibanku tanpa harus diingatkan.
Kalau Lusi meminta perubahan jadwal, kami bicara.
Kalau kami tidak setuju, kami mencari jalan yang paling sedikit mengganggu anak.
Hubungan kami belum bisa disebut hangat.
Tetapi sudah tidak dipenuhi kebohongan.
Tentang Vania dan Dimas, aku hanya tahu sedikit.
Dimas bertanggung jawab atas anaknya setelah hasil tes keluar.
Apakah hubungan mereka bertahan atau tidak, aku tidak pernah mencari tahu.
Itu bukan lagi hidupku.
Kadang aku masih teringat apartemen mahal, mobil, uang yang keluar, perusahaan yang kutinggalkan.
Dulu aku menganggap semuanya bukti betapa seriusnya aku menjadi ayah.
Sekarang aku tahu aku sedang mencoba membeli kepastian.
Dan kepastian memang tidak dijual.
Suatu sore, ketika Alya berusia beberapa bulan, aku datang menjemputnya.
Lusi berdiri di pintu sambil menyerahkan tas bayi.
“Popoknya ada di bagian belakang. Susunya di depan.”
“Jam berapa dia terakhir minum?”
“Setengah empat.”
Aku mengangguk dan mencatat di ponsel.
Lusi memperhatikan.
“Apa?”
“Tidak apa-apa.”
Aku memasukkan ponsel ke saku.
Dia memberikan Alya kepadaku.
Sebelum pergi, aku menoleh ke arah pintu rumah yang dulu selalu kubuka tanpa berpikir.
Kunci lamaku sudah lama kukembalikan kepada Lusi.
Aku tidak punya hak masuk sesuka hati lagi.
Aneh, tetapi justru di situlah aku akhirnya memahami sesuatu yang dulu tidak pernah kupahami ketika masih tinggal di dalam rumah itu.
Punya keluarga bukan berarti memiliki orang-orang di dalamnya.
Aku menggendong Alya ke mobil, memastikan sabuk kursinya terpasang, lalu menutup pintu dengan pelan.
Di gantungan kunciku sekarang hanya ada satu kunci.
Kunci apartemen kecil tempat aku tinggal sendiri.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak mencoba membuka pintu yang bukan lagi milikku.
Menurutmu, apakah Lusi benar mempertahankan perceraian meski Raka akhirnya berusaha bertanggung jawab sebagai ayah?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
