Bagian 2
…Kirana bergerak dan menggumamkan satu kata dalam tidurnya.
“Ayah?”
Dimas langsung membeku.
Ia duduk, menarik napas beberapa kali, lalu mengusap wajah. Kirana tidak benar-benar bangun. Beberapa detik kemudian napasnya kembali teratur.
Dimas mengambil gelang merah muda dari bawah bantal, memasukkannya ke saku, lalu keluar.
Aku masih berdiri di dapur.
Ketika langkahnya terdengar mendekat, aku buru-buru mematikan layar ponsel.
Dimas masuk ke kamar kami dan kembali berbaring.

Aku menyusul sekitar satu menit kemudian.
Ia memunggungiku.
Aku tahu ia belum tidur.
Aku juga tahu ia tidak akan mengatakan apa pun.
Pagi harinya, aku menunggu Kirana selesai sarapan dan masuk kamar mandi.
Dimas sedang membuat kopi ketika aku berkata, “Gelang itu milik siapa?”
Sendok di tangannya berhenti.
Ia tidak menoleh.
“Gelang apa?”
Aku meletakkan ponsel di meja dan menjalankan rekaman kamera.
Tidak sampai sepuluh detik.
Cukup untuk memperlihatkan dirinya memasuki kamar Kirana.
Wajah Dimas berubah.
“Aku pasang kamera kemarin.”
Ia menutup mata sebentar.
“Maya…”
“Kamu bilang Kirana mungkin cuma bermimpi.”
“Aku bisa jelaskan.”
“Kamu bilang jangan bikin dia takut. Padahal kamu tahu kenapa kasurnya terasa penuh.”
Dimas menunduk.
Aku menahan suaraku karena Kirana masih ada di rumah.
“Sudah berapa malam?”
Ia tidak menjawab.
“Dimas.”
“Delapan atau sembilan.”
Aku sampai harus memegang ujung meja.
Hampir semua malam sejak Kirana pertama kali mengeluh.
“Kamu masuk setelah aku tidur?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Ia menarik kursi lalu duduk.
“Aku cuma mau memastikan dia baik-baik saja.”
“Dengan berbaring di kasurnya?”
Dimas mengusap wajah.
“Aku tahu kedengarannya aneh.”
“Bukan cuma aneh. Anak kita mulai takut tidur di kamar sendiri.”
“Aku nggak pernah berniat bikin dia takut.”
“Tapi kamu membiarkan dia mengira ada sesuatu yang salah dengannya.”
Ia tidak membantah.
Aku mengulurkan tangan.
“Gelangnya.”
Dimas menatapku.
“Kasih ke aku.”
Lama sekali ia diam sebelum akhirnya mengambil plastik merah muda itu dari saku.
Begitu benda itu berada di tanganku, aku langsung mengenal tulisannya.
Bukan nama pasien asing.
Tulisan di atasnya sudah sedikit pudar, tetapi masih terbaca.
BAYI NY. MAYA.
PEREMPUAN.
Tanggal delapan tahun lalu.
Gelang Kirana saat lahir.
Aku menyimpan gelang itu sejak kami pulang dari rumah sakit, bersama foto USG, kartu ucapan kelahiran, dan sepasang kaus kaki bayi pertama miliknya.
“Ini dari kotak kenangan Kirana.”
Dimas mengangguk.
“Kenapa kamu ambil?”
“Aku nggak tahu.”
“Jangan bilang nggak tahu.”
“Aku benar-benar nggak tahu kenapa malam pertama aku bawa.”
Nada suaranya mulai pecah.
“Aku buka kotak itu. Aku lihat gelangnya. Terus aku masuk kamar Kirana.”
Aku duduk di seberangnya.
“Apa yang terjadi di rumah sakit?”
Dimas mengangkat kepala cepat.
“Kenapa kamu tanya begitu?”
“Karena kamu nggak mulai begini delapan tahun lalu. Kamu mulai minggu ini.”
Ia terdiam.
Dan saat itulah aku tahu ada bagian lain yang belum ia ceritakan.
Kirana keluar dari kamar mandi sebelum kami bisa melanjutkan.
Aku memasukkan gelang itu ke sakuku.
Dimas berdiri dan berusaha kembali terlihat biasa.
Di mobil menuju sekolah, Kirana duduk diam beberapa menit sebelum bertanya, “Bu, tadi malam orangnya datang lagi?”
Aku menelan ludah.
Aku tidak mau berbohong kepadanya seperti Dimas berbohong kepadaku.
“Yang masuk kamar kamu itu Ayah.”
Kirana langsung menoleh.
“Ayah?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Nanti Ayah akan jelaskan bagian yang memang perlu kamu tahu. Tapi Ibu mau kamu tahu satu hal dulu. Kamu nggak salah merasa kasurnya penuh.”
Ia tampak berpikir.
“Jadi aku nggak mimpi?”
“Nggak.”
Kirana bersandar lagi.
Beberapa saat kemudian ia berkata pelan, “Aku kira aku jahat karena nggak suka ada orang tidur di situ.”
Kalimat itu membuatku semakin marah.
Bukan karena Dimas masuk kamar.
Karena selama lebih dari seminggu anak kami meragukan perasaannya sendiri.
Sepulang mengantar Kirana, aku berkata kepada Dimas bahwa mulai malam itu ia tidak boleh masuk kamar Kirana diam-diam lagi.
“Kalau ada keadaan darurat, tentu beda. Tapi kalau cuma ingin mengecek, ketuk. Kalau dia tidur, lihat dari pintu. Jangan berbaring di ranjangnya.”
Dimas mengangguk.
“Dan sementara ini kamu tidur di ruang kerja.”
Ia mengangkat wajah.
“Maya…”
“Aku perlu tidur tanpa bertanya-tanya kamu akan pergi ke mana jam dua pagi.”
Ia tidak membantah.
Sebelum berangkat kerja, ia berdiri lama di dekat pintu.
Lalu ia kembali ke meja makan dan mengeluarkan sebuah amplop dari tas.
Ia meletakkannya di depanku.
Logo rumah sakit tempatnya bekerja tercetak di sudut.
Di dalamnya ada surat undangan evaluasi internal kasus operasi, dijadwalkan keesokan harinya.
Nama pasien tidak ditulis lengkap, hanya inisial.
N.P.
Usia: delapan tahun.
Aku membaca angka itu dua kali.
Dimas duduk kembali.
“Namanya Nadira,” katanya.
Aku menatapnya.
“Umurnya sama dengan Kirana.”
Tangannya mengepal di atas meja.
“Aku yang mengoperasinya.”
Ia menelan ludah sebelum melanjutkan.
“Operasinya selesai. Malam itu aku pulang.”
Dimas menatap gelang kelahiran Kirana di tanganku.
“Satu jam setelah aku meninggalkan rumah sakit, kondisi Nadira jatuh.”
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Aku tidak langsung bertanya apakah Nadira meninggal.
Wajah Dimas sudah menjawabnya.
Aku menutup amplop perlahan.
“Kapan?”
“Sebelas hari lalu.”
Hari ketika semua ini dimulai.
Aku mengingat malam itu. Dimas pulang hampir pukul satu, jauh lebih malam dari biasanya. Ia mandi lama, tidak makan, lalu masuk kamar Kirana sebelum tidur.
Waktu itu aku mengira ia hanya mencium kening anak kami.
Ternyata itulah malam pertama.
“Kenapa kamu nggak cerita?”
Dimas menatap lantai.
“Aku nggak sanggup.”
“Kamu bisa cerita bahwa pasienmu meninggal tanpa menceritakan data medisnya.”
“Aku tahu.”
“Tapi kamu malah masuk kamar Kirana tiap malam.”
“Aku tahu.”
“Terus ketika dia bilang ada orang di kasurnya, kamu menyebutnya mimpi.”
Ia tidak menjawab.
Aku mencondongkan tubuh.
“Lihat aku.”
Perlahan Dimas mengangkat kepala.
“Kalau kamu takut, bilang kamu takut. Kalau kamu merasa bersalah, bilang kamu merasa bersalah. Jangan bikin anak delapan tahun mempertanyakan apa yang dia rasakan supaya kamu nggak perlu menjelaskan apa yang kamu lakukan.”
Rahangnya menegang.
“Aku malu.”
“Aku juga takut tadi malam.”
“Aku nggak pernah akan menyakiti Kirana.”
“Aku tidak bilang kamu mau menyakitinya.”
Kalimat itu membuatnya terdiam.
“Justru itu yang membuat semuanya lebih sulit. Aku melihat rekamannya. Aku tahu kamu bukan masuk ke sana dengan niat buruk. Tapi niat baik tidak otomatis membuat semua tindakan jadi baik.”
Dimas mengusap kedua tangannya.
“Aku cuma merasa kalau aku ada di sebelahnya, sesuatu nggak akan terjadi.”
“Seperti apa?”
Ia membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Akhirnya ia berkata, “Seperti Nadira.”
Aku tidak bertanya lebih jauh pagi itu.
Bukan karena semuanya selesai, melainkan karena aku sadar pembicaraan kami sudah mencapai titik yang tidak bisa diselesaikan dengan satu pertengkaran di meja makan.
Dimas tetap berangkat ke rumah sakit.
Aku mengembalikan gelang kelahiran Kirana ke kotak kenangan dan memindahkan kotak itu ke lemari kamarku.
Malamnya, kami bicara kepada Kirana bersama-sama.
Dimas duduk di kursi belajar, bukan di ranjang.
Kirana memeluk bantal sambil menatap ayahnya.
“Ayah yang tidur di sini?”
Dimas mengangguk.
“Iya.”
“Kenapa nggak bilang?”
Pertanyaan sederhana itu membuat Dimas lebih kesulitan menjawab daripada semua pertanyaanku.
“Ayah sedang takut.”
“Takut apa?”
Dimas menatapku sebentar.
Aku membiarkannya menjawab.
“Ada anak di rumah sakit yang sakit berat. Ayah sudah berusaha menolong, tapi anak itu nggak berhasil pulang ke rumah.”
Kirana terdiam.
“Anaknya meninggal?”
“Iya.”
“Terus Ayah takut aku juga meninggal?”
Dimas menunduk.
“Iya.”
Kirana mengerutkan kening.
“Tapi aku nggak sakit.”
“Ayah tahu.”
“Terus kenapa tidur di sini?”
Dimas menarik napas panjang.
“Karena Ayah melakukan hal yang salah waktu sedang takut. Ayah pikir kalau dekat kamu, Ayah akan tenang.”
Kirana memandang kasurnya.
“Tapi aku jadi sempit.”
Dimas hampir tersenyum, tetapi matanya merah.
“Iya. Ayah bikin kasurmu sempit.”
“Dan aku jadi takut.”
“Iya.”
Ia tidak menambahkan alasan lagi.
Tidak ada kalimat bahwa ia seorang ayah yang sayang anak. Tidak ada pembelaan soal stres atau pekerjaan.
Hanya pengakuan.
“Maaf.”
Kirana masih diam cukup lama.
Lalu ia berkata, “Kalau Ayah mau lihat aku tidur, berdiri di pintu aja.”
Dimas mengangguk.
“Boleh.”
“Jangan masuk kalau aku nggak panggil.”
“Baik.”
“Dan gelang rumah sakitnya jangan taruh di bantal aku.”
Dimas menatapku.
Aku terkejut Kirana mengetahui soal gelang, tetapi ternyata ia sempat melihatnya di tanganku sebelum berangkat sekolah.
“Baik,” jawab Dimas.
Malam itu Kirana meminta pintunya dibiarkan sedikit terbuka.
Bukan karena ia takut ada orang asing.
Karena sekarang ia tahu orang yang masuk adalah ayahnya sendiri.
Aku tidak menganggap rasa takut itu kecil hanya karena pelakunya orang yang ia cintai.
Dimas tidur di ruang kerja.
Sekitar pukul dua aku terbangun dan melihat sisi kasur kosong.
Panik pertamaku begitu cepat sampai aku langsung bangkit.
Lalu aku menemukan Dimas duduk di lantai lorong, sekitar tiga meter dari pintu kamar Kirana.
Ia bersandar ke dinding.
Tidak masuk.
Tidak menyentuh pintu.
Hanya duduk.
“Kamu sedang apa?” tanyaku pelan.
Ia menoleh.
“Aku kebangun.”
“Terus?”
“Aku mau masuk.”
Aku berdiri di ujung lorong.
“Tapi?”
“Dia bilang jangan.”
Untuk pertama kalinya sejak aku mengetahui semuanya, aku melihat Dimas menahan dirinya sendiri.
Itu belum cukup untuk membuatku percaya lagi.
Tetapi setidaknya ia berhenti mengubah kecemasannya menjadi masalah Kirana.
Keesokan paginya Dimas menghadiri evaluasi kasus Nadira.
Ia tidak memintaku ikut masuk ke rapat. Aku juga tidak meminta melihat rekam medis anak itu.
Nadira bukan anakku, dan keluarganya berhak atas privasi mereka.
Yang perlu kuketahui adalah tindakan suamiku sendiri.
Sore hari Dimas pulang membawa amplop yang sama.
Ia mengganti pakaian, duduk di meja makan, lalu berkata, “Aku mau cerita semuanya yang boleh kuceritakan.”
Aku duduk di depannya.
Nadira datang ke rumah sakit dalam kondisi serius akibat masalah di saluran pencernaan yang sudah menimbulkan infeksi berat. Operasi berlangsung lama tetapi secara teknis selesai sesuai rencana.
Setelah operasi, ia dipindahkan ke ruang perawatan intensif anak.
Dimas sudah bekerja hampir delapan belas jam hari itu.
Tim jaga malam mengambil alih pemantauan.
“Dokter senior menyuruhku pulang beberapa jam,” katanya. “Aku masih bilang aku bisa tinggal.”
“Kenapa akhirnya pulang?”
“Karena saat itu tanda-tandanya stabil. Dan aku benar-benar sudah nggak fokus.”
Sekitar satu jam kemudian, keadaan Nadira berubah cepat.
Tim jaga menangani terlebih dahulu dan menghubungi Dimas. Ia kembali ke rumah sakit secepat mungkin.
Mereka tidak berhasil menyelamatkan Nadira.
“Apa evaluasinya bilang kamu melakukan kesalahan?”
Dimas terdiam.
“Tidak ditemukan tindakan yang dianggap menyimpang dari prosedur.”
“Jadi kamu tidak meninggalkan pasien tanpa dokter?”
“Tidak.”
“Tidak ada yang menelepon kamu lalu kamu abaikan?”
“Tidak.”
“Tidak ada instruksi penting yang kamu lupakan?”
Dimas menggeleng.
“Tidak.”
Aku memperhatikan wajahnya.
“Lalu bagian mana yang membuatmu merasa bersalah?”
Ia menarik kursi lebih dekat ke meja.
“Sebelum aku pulang, ibunya Nadira tanya apakah aku akan tetap di rumah sakit.”
Aku menunggu.
“Aku bilang, ‘Saya pulang sebentar, Bu. Besok pagi saya cek lagi.’”
Dimas berhenti.
“Itu kalimat terakhir yang kuucapkan ke ibunya sebelum kondisi Nadira jatuh.”
Aku mulai mengerti.
Bukan karena ada bukti bahwa Dimas bisa mencegah kematian Nadira.
Bukan karena rapat rumah sakit menemukan kelalaian tersembunyi.
Ia terperangkap pada satu kemungkinan.
Bagaimana kalau aku tinggal?
Bagaimana kalau aku berada di ruangan itu lima menit lebih cepat?
Bagaimana kalau ada sesuatu yang bisa kulihat?
Bagaimana kalau?
Pertanyaan yang tidak punya ujung.
“Setelah Nadira meninggal, aku pulang,” lanjutnya. “Aku lihat Kirana tidur. Aku pikir, anak ini juga delapan tahun.”
Ia mengusap wajahnya.
“Besoknya aku buka kotak barang waktu dia lahir. Aku lihat gelang itu.”
“Kenapa dibawa ke kamarnya?”
“Aku ingin mengingat bahwa dia pernah sekecil itu dan sekarang dia ada di sini.”
“Itu masih belum menjelaskan kenapa kamu taruh di bawah bantalnya.”
Dimas mengangguk.
“Aku tahu.”
Ia memandang tangannya.
“Aku nggak punya penjelasan yang masuk akal.”
Setidaknya kali ini ia tidak berusaha membuat penjelasan yang terdengar bagus.
Ia hanya mengakui bahwa perilakunya sendiri sudah tidak masuk akal.
“Malam pertama aku duduk di sampingnya. Terus aku dengar dia bernapas.”
“Akhirnya kamu tidur di situ.”
“Iya.”
“Besok malam lagi.”
“Iya.”
“Lalu lagi.”
“Iya.”
Aku menatapnya.
“Dan ketika Kirana mulai bicara, kamu takut aku akan menghentikanmu.”
Dimas tidak langsung menjawab.
Aku tahu dari caranya diam bahwa aku benar.
“Aku takut kamu bilang aku aneh,” katanya akhirnya.
“Jadi kamu memilih membuat Kirana merasa aneh.”
Wajahnya jatuh.
Aku tidak menyesali kalimat itu.
Ada saat ketika seseorang perlu mendengar bentuk paling sederhana dari akibat perbuatannya.
Malam itu kami membuat beberapa keputusan.
Bukan keputusan besar tentang perceraian.
Aku belum sampai ke sana.
Tetapi juga bukan keputusan palsu bahwa semua bisa kembali normal karena Dimas sudah menangis dan minta maaf.
Ia tetap tidur di ruang kerja.
Ia tidak masuk kamar Kirana malam-malam kecuali Kirana memanggil atau ada keadaan darurat.
Ia juga setuju mengambil beberapa hari cuti yang memang masih bisa digunakannya dan menerima tawaran konseling yang diberikan rumah sakit setelah kasus Nadira.
Saat aku menyebut konseling, ia langsung menggeleng.
“Aku nggak gila.”
“Aku nggak bilang begitu.”
“Aku dokter, Maya.”
“Justru karena kamu dokter, kamu tahu orang bisa butuh bantuan tanpa harus kehilangan akal.”
Dimas diam.
Aku melanjutkan, “Kalau kamu sampai perlu masuk kamar anak kita diam-diam sembilan malam berturut-turut supaya bisa merasa aman, berarti cara kamu menghadapi ini sudah mengganggu rumah.”
Ia menatap meja.
“Aku akan datang.”
Itu bukan janji romantis.
Tidak ada musik.
Tidak ada pelukan.
Hanya seorang laki-laki yang akhirnya berhenti berkata bahwa semuanya baik-baik saja.
Beberapa hari pertama cukup berat.
Dimas sering terbangun tengah malam.
Aku tahu karena pintu ruang kerjanya terbuka, lalu suara langkahnya berhenti di lorong.
Kadang ia berdiri di sana kurang dari satu menit.
Kadang lima menit.
Namun ia tidak masuk.
Kirana juga belum kembali seperti semula.
Dua malam pertama, ia tidur dengan lampu bulan menyala lebih terang.
Malam ketiga, ia datang ke kamarku sekitar pukul satu.
“Ibu, boleh tidur sini?”
Aku menggeser tubuh.
“Boleh.”
Ia naik ke kasur tanpa berkata apa-apa.
Dimas sedang tidur di ruang kerja.
Kirana memegang tanganku sampai tertidur.
Aku tidak mengatakan bahwa ia sudah besar dan seharusnya kembali ke kamar sendiri.
Bukankah itu inti dari semua yang terjadi?
Kamar sendiri seharusnya aman karena ia memilih berada di sana, bukan karena orang dewasa memaksanya membuktikan bahwa ia berani.
Dua hari kemudian, Dimas mengetuk pintu kamar Kirana saat ia sedang membaca.
“Ayah boleh masuk?”
Kirana melihat ke arahku.
Aku sedang melipat pakaian di ujung lorong.
Aku tidak menjawab untuknya.
Kirana berpikir sebentar.
“Boleh.”
Dimas masuk dan duduk di kursi belajar.
“Sekolah gimana?”
“Biasa.”
“Matematika?”
“Sulit.”
Percakapan mereka terdengar sangat biasa.
Dan mungkin justru itu yang mereka butuhkan.
Beberapa menit kemudian Dimas berdiri.
“Malam ini Ayah nggak akan masuk kalau kamu sudah tidur.”
Kirana menatapnya.
“Bener?”
“Bener.”
“Kalau takut?”
Dimas tersenyum tipis.
“Ayah cari cara lain.”
“Duduk di luar boleh.”
“Iya.”
Kirana kembali ke bukunya.
“Ayah juga bisa minum air.”
Dimas tertawa pelan.
“Iya, bisa.”
Aku belum pernah membayangkan batas dalam keluarga bisa dijelaskan sesederhana itu oleh anak delapan tahun.
Seminggu kemudian, Dimas mulai konseling melalui layanan dukungan tenaga medis yang bekerja sama dengan rumah sakit.
Aku tidak menanyakan isi setiap pertemuan.
Aku hanya menanyakan satu hal.
“Kamu masih ingin masuk kamar Kirana tengah malam?”
“Kadang.”
“Masih?”
“Iya.”
“Terus kamu lakukan?”
“Nggak.”
Itu jawaban yang lebih berarti bagiku daripada “Aku sudah sembuh.”
Karena ternyata perubahan bukan hilangnya dorongan dalam sehari.
Perubahan adalah ketika dorongan itu datang dan seseorang memilih tidak mengikutinya.
Dimas juga mulai membicarakan kasus Nadira tanpa menjadikannya tanggung jawabku untuk menenangkan dirinya.
Ia pernah berkata saat kami makan malam, “Hari ini aku ingat ibunya.”
Aku tidak langsung menjawab, “Kamu sudah melakukan yang terbaik.”
Aku belajar bahwa kalimat semacam itu tidak selalu menolong.
Aku hanya bertanya, “Terus kamu melakukan apa?”
“Bicara sama konselor.”
“Bagus.”
Lalu kami melanjutkan makan.
Di rumah sakit, ia tetap mengikuti tindak lanjut evaluasi kasus. Tidak ada temuan baru yang mengubah kesimpulan awal, tetapi Dimas memilih mengurangi satu jadwal operasi tambahan untuk beberapa minggu.
Bukan berhenti menjadi dokter.
Bukan lari dari pekerjaannya.
Ia hanya mengakui bahwa kelelahan dan rasa bersalah yang ia bawa pulang tidak boleh terus diperlakukan seolah tidak ada.
Hubunganku dengannya jauh lebih lambat pulih daripada hubungan Kirana dengannya.
Aku masih memeriksa jam ketika terbangun malam.
Masih menoleh ke sisi ranjang.
Masih mendengarkan suara langkah kalau Dimas pergi ke dapur.
Suatu malam ia memergokiku memperhatikannya.
“Kamu pikir aku mau masuk kamar Kirana?”
Aku tidak berbohong.
“Kadang.”
Ia mengangguk.
“Wajar.”
“Aku nggak mau selamanya begini.”
“Aku juga nggak minta kamu langsung percaya.”
Itulah salah satu kali pertama Dimas tidak mencoba mempercepat proses karena rasa bersalahnya sendiri.
Sekitar tiga minggu setelah malam kamera itu, aku memintanya kembali tidur di kamar kami.
Bukan karena semuanya selesai.
Karena selama tiga minggu ia menghormati batas tanpa sekali pun mencoba menawar.
Malam pertama ia kembali, kami hampir tidak bicara.
Sekitar pukul dua belas lewat, Dimas masih terjaga.
“Aku kepikiran Kirana,” katanya.
Aku melihat jam.
“Terus?”
“Aku mau cek.”
Aku menunggu.
Ia tersenyum pahit.
“Tapi aku nggak akan masuk.”
Kami berjalan bersama ke lorong.
Pintu Kirana sedikit terbuka karena ia sendiri yang memilih begitu.
Dari luar kami bisa melihat cahaya lampu bulan dan sebagian selimutnya.
Dimas berdiri sekitar lima detik.
Lalu ia berbalik.
“Sudah.”
Kami kembali ke kamar.
Sederhana sekali.
Namun bagiku, lima detik itu lebih penting daripada seratus permintaan maaf.
Enam minggu kemudian, kamera di kamar Kirana kami lepas.
Bukan karena Dimas meminta.
Kirana yang bertanya.
“Bu, kameranya masih perlu?”
Aku menjelaskan kenapa dulu aku memasangnya dan bertanya apakah ia masih merasa terbantu.
Kirana berpikir sebentar lalu berkata, “Nggak. Sekarang Ayah ketuk.”
Aku melepas kamera sore itu.
Bekas perekatnya meninggalkan kotak kecil di antara stiker bintang.
Kirana protes karena tampilannya jelek.
Jadi kami membeli satu stiker bintang baru dan menutupinya.
Malam itu, tepat sebelum tidur, Dimas datang ke pintunya.
Tok.
Tok.
Kirana yang sedang membaca komik mengangkat kepala.
“Siapa?”
“Ayah.”
“Masuk.”
Dimas berdiri di dalam pintu.
“Ayah cuma mau bilang selamat malam.”
“Selamat malam.”
“Boleh cium kening?”
Kirana memutar mata seperti pertanyaan itu sangat merepotkan.
“Boleh, tapi cepat.”
Dimas mendekat, mencium keningnya, lalu langsung berdiri lagi.
Tidak duduk di kasur.
Tidak menarik selimutnya.
Tidak menyentuh bantal.
Sebelum keluar, ia berhenti.
“Kirana?”
“Hmm?”
“Kalau Ayah suatu hari bikin kamu nggak nyaman lagi, bilang.”
Kirana menatapnya serius.
“Aku kemarin sudah bilang.”
Dimas terdiam sebentar.
Lalu ia mengangguk.
“Iya. Dan Ayah seharusnya dengar dari awal.”
Setelah ia keluar, aku berdiri di lorong sambil menahan senyum kecil.
Bukan karena cerita kami berubah menjadi sempurna.
Dimas masih punya malam buruk.
Aku masih punya sisa marah.
Dan ada bagian dari kepercayaanku yang mungkin membutuhkan waktu jauh lebih lama daripada enam minggu untuk kembali.
Tetapi Kirana sudah kembali tidur di kamarnya sendiri.
Beberapa pagi kemudian, saat aku menyiapkan sarapan, ia masuk sambil menguap.
Aku hampir takut menanyakan bagaimana tidurnya.
Kirana mengambil segelas air.
“Bu?”
“Ya?”
“Kasurku kayaknya besar banget.”
Aku berhenti memotong buah.
“Besar?”
“Iya. Aku sampai bisa tidur miring begini.”
Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar sampai hampir menjatuhkan gelas.
Aku tertawa untuk pertama kalinya mendengar pembicaraan tentang kasur itu.
Malam berikutnya, setelah Kirana tidur, aku masuk sebentar untuk menutup jendela.
Lampu bulan menyala redup.
Boneka-bonekanya kembali memenuhi satu sudut ranjang.
Di bawah bantalnya tidak ada gelang rumah sakit.
Gelang merah muda dari hari kelahirannya sudah kembali ke dalam kotak kenangan, tersimpan di lemari kamarku bersama benda-benda yang memang berasal dari masa lalu.
Aku keluar dan menarik pintu sampai posisi yang Kirana suka.
Di ujung lorong, Dimas berdiri menunggu.
Ia tidak mendekati kamar itu.
Kami kembali ke kamar kami bersama.
Dan malam itu, ranjang putriku akhirnya benar-benar menjadi miliknya lagi.
Menurutmu, apakah Maya sudah tepat memberi Dimas kesempatan memperbaiki diri setelah ia mengakui kesalahannya dan menghormati batas Kirana?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
