Bagian 2
“Damar,” Pak Surya membaca, “kalau surat ini sudah ada di tanganmu, berarti akhirnya aku benar ketika berkali-kali bilang aku tidak akan merepotkanmu selamanya.”
Aku menunduk.
Mira menggenggam tanganku lebih kuat.
Pak Surya melanjutkan.
“Aku tahu kau pernah marah kepadaku. Aku juga tahu ada hari-hari ketika kau pulang kerja, melihatku duduk di kursimu, lalu berharap rumahmu tidak mempunyai satu penghuni tambahan.”
Rudi bergerak gelisah.
Aku tidak.
Aku bahkan hampir tidak bernapas.

Karena itu benar.
Semua itu benar.
Surat tersebut tidak membuat Pak Harun terlihat seperti orang suci.
Justru sebaliknya.
Dia mengakui bahwa selama bertahun-tahun dia tidak punya penghasilan yang cukup untuk menanggung biaya hidupnya sendiri.
Dia juga mengakui satu hal yang lebih sulit kuterima.
Dia tahu kami kesulitan.
Dia mendengar pertengkaranku dengan Mira.
Dia tahu aku menjual pikap.
Dia tahu atap rumah tertunda diperbaiki.
Dia tahu anak-anak kami berbagi kamar.
“Kalau Bapak tahu,” Rudi memotong, “kenapa tidak bilang apa-apa?”
Pak Surya berhenti membaca.
“Pak Rudi, saya diminta membacakan surat sampai selesai.”
Rudi mendecakkan lidah, tetapi diam.
Pak Harun menulis bahwa bertahun-tahun sebelumnya dia masih memiliki sebidang tanah peninggalan keluarganya di Kabupaten Semarang.
Bukan tanah besar yang membuat seseorang menjadi kaya.
Pada awalnya nilainya juga tidak seberapa.
Aksesnya buruk dan selama bertahun-tahun dia menganggap tanah itu satu-satunya pengaman kalau suatu hari tidak ada anak yang mau menerimanya.
Aku menatap Mira.
“Aku tidak tahu,” bisiknya.
Dua tahun terakhir, nilai tanah itu naik setelah akses jalan di daerah tersebut membaik.
Beberapa orang mulai menawar.
Enam bulan sebelum meninggal, Pak Harun menjual sebagian kecil dari tanah tersebut dan menyimpan hasilnya di rekening atas namanya sendiri.
Sisanya masih tercatat atas nama beliau.
“Kenapa Bapak tidak memberikan uang itu ke sini?” tanyaku.
Itu pertanyaan pertama yang keluar dari mulutku.
Pak Surya melihat surat.
Jawabannya ada di halaman berikutnya.
“Aku terlambat, Dam,” tulis Pak Harun. “Aku terlalu lama hidup dengan ketakutan bahwa kalau harta terakhirku habis, aku akan menjadi orang tua yang bisa dipindahkan dari satu rumah ke rumah lain sesuka anak-anakku. Ketakutan itu membuatku diam terlalu lama. Diamku membuatmu membayar terlalu banyak.”
Mira menutup mulut dengan tangan.
Aku tidak merasa lega mendengarnya.
Aku justru kesal.
Karena uang enam bulan lalu tidak menghapus dua puluh tahun sebelumnya.
Tapi surat itu belum selesai.
Pak Surya membuka buku biru.
Di dalamnya, Pak Harun mencatat pengeluaran besar yang dia ketahui.
Operasi mata.
Obat.
Pemeriksaan dokter.
Perbaikan kamar mandinya setelah dia hampir jatuh.
Bahkan harga perkiraan pikap yang kujual.
Tidak semua angka tepat. Ada beberapa yang hanya diberi tanda tanya.
Namun yang membuat ruangan itu berubah bukan kolom pengeluaran.
Melainkan kolom di sebelahnya.
Nama anak-anak Pak Harun.
Tanggal ketika dia meminta bantuan.
Jawaban mereka.
Rudi berdiri.
“Bapak pernah telepon aku. Memangnya kenapa?”
Pak Surya membalik satu halaman.
“Juli 2013. Pak Harun meminta tinggal tiga bulan di rumah Pak Rudi karena Pak Damar baru kehilangan pekerjaan tambahan.”
Rudi langsung menjawab, “Waktu itu rumahku sedang renovasi.”
“Dicatat begitu.”
Halaman berikutnya.
“Februari 2017. Pak Harun meminta Lilis membantu biaya obat selama enam bulan.”
Lilis menunduk.
“Aku memang sedang susah waktu itu.”
Pak Surya mengangguk.
“Juga dicatat.”
Beni tidak menunggu namanya dibaca.
“Aku tahu aku jarang membantu.”
Untuk pertama kalinya, tidak ada pembelaan.
Pak Surya menutup buku sebentar.
Kemudian dia menjelaskan bahwa nilai seluruh harta Pak Harun tidak cukup untuk mengubah hidup siapa pun menjadi mewah.
Ada sisa tanah.
Ada tabungan dari penjualan sebagian tanah.
Ada simpanan kecil.
Pak Harun menulis keinginannya dengan jelas.
Kalau para ahli waris bersedia, dia ingin sebelum pembagian dilakukan, sejumlah uang diberikan kepada Mira dan aku sebagai pengganti sebagian biaya perawatan selama dua puluh tahun.
Bukan semuanya.
Hanya sebagian.
“Berapa?” tanya Rudi cepat.
“Rp240 juta.”
Rudi berdiri lagi.
“Tidak bisa.”
Mira menoleh.
“Kenapa tidak bisa?”
“Itu warisan Bapak.”
“Justru itu keinginan Bapak.”
“Damar bukan anaknya.”
Aku menyela sebelum Mira menjawab.
“Aku tidak minta.”
Rudi menatapku.
“Bagus.”
Pak Surya mengangkat tangan.
“Perlu saya jelaskan. Surat ini tidak berarti seluruh aset otomatis berpindah sesuai kalimat di dalamnya. Ada prosedur yang harus ditempuh. Ada dokumen yang harus diverifikasi. Para ahli waris akan bertemu notaris. Kalau ada kesepakatan keluarga, itu bisa dituangkan secara resmi. Kalau tidak, prosesnya berbeda.”
Rudi duduk kembali.
Wajahnya sedikit lebih tenang.
Lalu Pak Surya membuka halaman lain dari buku biru.
“Namun sebelum kita lanjut, ada satu catatan lagi yang berkaitan langsung dengan Pak Rudi.”
Ruangan menjadi sunyi.
Pak Surya mendorong buku itu ke tengah meja.
Ada satu baris yang ditulis lebih tebal daripada lainnya.
Rudi melihatnya.
Wajahnya berubah.
Aku membaca perlahan.
Rudi. Rp85.000.000. Pinjaman untuk uang muka rumah. Belum dikembalikan.
Di bawahnya ada tanggal sebelas tahun lalu dan nomor kuitansi.
Pak Surya mengeluarkan selembar surat dari dalam map.
Di bagian bawahnya ada tanda tangan Rudi.
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
“Itu bukan pinjaman.”
Rudi mengatakannya terlalu cepat.
Pak Surya tidak menjawab.
Dia hanya meletakkan salinan dokumen di depannya.
Rudi mengambilnya.
Aku bisa melihat jarinya bergerak di bagian bawah halaman, tepat di atas tanda tangan yang jelas-jelas miliknya.
“Itu Bapak yang kasih,” katanya lagi. “Bapak bilang tidak usah dipikirkan.”
Lilis menatap kakaknya.
“Kamu pernah bilang Bapak tidak punya uang.”
“Itu sebelas tahun lalu.”
“Delapan puluh lima juta bukan uang kecil sebelas tahun lalu.”
Rudi meletakkan kertas itu sedikit keras.
“Jangan ikut campur.”
Beni tertawa pendek tanpa humor.
“Kita semua sudah terlibat sejak Bapak tinggal dua puluh tahun di rumah Damar.”
Aku tidak menyukai arah pembicaraan itu.
Tiga hari sebelumnya kami baru menguburkan orang tua mereka.
Sekarang mereka sudah duduk mengelilingi meja makan kami, menghitung uang.
Tiba-tiba aku muak.
“Pak Surya,” kataku, “lanjutkan suratnya.”
Rudi menoleh.
“Kita harus bereskan soal ini dulu.”
“Bapakmu minta surat dibacakan.”
“Karena kamu dapat bagian besar.”
Aku menatapnya.
“Kalau aku cuma memikirkan bagian besar, aku tidak akan menjual pikap waktu ayahmu butuh operasi.”
Dia diam.
Aku sendiri terkejut mendengar kalimat itu keluar begitu tenang.
Selama bertahun-tahun, aku selalu mengira kalau suatu hari aku benar-benar menghadapi saudara-saudara Mira, aku akan berteriak.
Ternyata tidak.
Aku terlalu lelah untuk berteriak.
Pak Surya kembali membaca.
Pak Harun menjelaskan soal pinjaman itu tanpa banyak kata.
Sebelas tahun sebelumnya, Rudi meminta bantuan untuk uang muka rumah. Pak Harun masih memiliki sejumlah tabungan hasil menjual bagian kecil lahan keluarga beberapa tahun sebelumnya.
Dia meminjamkan Rp85 juta.
Rudi berjanji mengembalikan sedikit demi sedikit.
Tidak pernah terjadi.
Pak Harun tidak mengejarnya.
“Aku tidak ingin kehilangan anak hanya karena uang,” tulisnya.
Lalu kalimat berikutnya membuat Rudi menunduk.
“Tapi setelah itu, ketika aku meminta tiga bulan tinggal di rumahnya supaya Damar dan Mira bisa bernapas sedikit, Rudi bilang rumahnya tidak memungkinkan.”
Tidak ada yang bicara.
Aku teringat tahun itu.
Bengkel tempatku bekerja sempat mengurangi jam kerja.
Penghasilanku turun.
Anak sulung kami baru masuk sekolah menengah.
Aku mengambil pekerjaan mengecat mobil pada malam hari.
Pak Harun pasti tahu.
Ternyata saat itu dia mencoba pergi dari rumah kami.
Aku tidak pernah tahu.
“Kenapa Bapak tidak bilang ke aku?” tanya Mira pelan.
Pak Surya membaca jawabannya.
“Karena kau akan bertengkar dengan saudara-saudaramu. Dan pada saat itu aku lebih takut keluarga pecah daripada malu terus tinggal di rumahmu.”
Mira memejamkan mata.
Aku memandang meja.
Ironis sekali.
Selama bertahun-tahun kami semua sibuk menjaga agar keluarga tidak pecah.
Hasilnya, beban hanya menumpuk di satu tempat.
Surat itu lalu berbicara kepadaku lagi.
“Dam, aku tidak meminta kamu mengatakan aku ayah yang baik. Aku juga tidak meminta kamu melupakan tahun-tahun ketika aku membebani rumahmu. Aku hanya ingin kau tahu satu hal. Aku melihat semuanya.”
Aku menelan ludah.
“Aku melihat ketika kau pulang dengan tangan lecet lalu memperbaiki keran kamar mandiku malam itu juga.”
Aku ingat malam tersebut.
“Aku melihat kau menjual mobil yang kau sukai.”
Itu bukan mobil yang kusukai.
Itu pikap tua berisik yang pintunya harus dibanting dua kali agar tertutup.
Tapi aku tetap tersenyum pahit.
“Aku melihat anak-anakmu berbagi kamar tanpa pernah menyuruh kakeknya pergi.”
Bayu dan Nisa.
Saat Pak Harun pertama tinggal bersama kami, mereka masih kecil.
Sekarang keduanya sudah dewasa.
Bayu bekerja di Surabaya.
Nisa mengajar di sekolah swasta di Semarang.
Dua puluh tahun benar-benar telah lewat.
Bukan sekadar angka.
“Aku juga melihat kau marah,” surat itu melanjutkan.
“Itu hakmu.”
Aku memejamkan mata.
Entah kenapa, justru tiga kata itu yang paling menyakitkan.
Itu hakmu.
Selama dua puluh tahun aku menganggap kemarahanku sesuatu yang memalukan.
Aku marah lalu merasa bersalah.
Aku mengeluh lalu merasa kejam.
Aku berharap bebanku berkurang lalu membenci diriku sendiri karena berharap begitu.
Pak Harun tahu.
Dan dia tidak menulis bahwa aku salah.
Pak Surya berhenti sebentar untuk minum.
Rudi tidak lagi berbicara soal pembagian.
Mira masih memegang tanganku.
Surat itu kemudian menjelaskan mengapa Pak Harun tidak segera menggunakan tanah yang dimilikinya.
Sebagiannya sederhana.
Selama bertahun-tahun, nilainya rendah dan tidak menghasilkan pemasukan berarti.
Sebagiannya lebih sulit diterima.
Dia takut.
Setelah beberapa kali membantu anak-anaknya dengan uang, dia menyadari bahwa orang datang kepadanya ketika butuh sesuatu, tetapi selalu punya alasan ketika dia membutuhkan tempat tinggal.
Tanah itu menjadi satu-satunya hal yang membuatnya merasa masih punya pilihan.
“Aku mungkin salah karena mempertahankannya terlalu lama,” tulisnya. “Kalau aku menjualnya lima belas tahun lalu, mungkin aku bisa membayar sebagian hidupku sendiri. Tapi saat itu aku takut setelah uangnya habis, aku akan kehilangan satu-satunya pegangan.”
Aku tidak bisa langsung memaafkan keputusan itu.
Dan kurasa itulah yang membuat suratnya terasa jujur.
Dia tidak mencoba mengubah sejarah.
Dia memang membebani kami.
Kami memang kesulitan.
Dia memang memiliki aset yang suatu saat bisa dijual.
Ketakutannya nyata.
Tapi akibat keputusannya juga nyata.
Untuk pertama kalinya, aku bisa melihat Pak Harun bukan sebagai orang tua suci yang harus selalu dimaklumi, dan bukan sebagai beban yang selama ini kulihat.
Dia hanya seorang lelaki tua yang takut.
Dan terkadang orang yang takut membuat keputusan yang menyusahkan orang lain.
Pak Surya sampai di halaman terakhir.
“Dam, jangan jadikan kematianku alasan untuk menyiksa dirimu sendiri karena pernah ingin aku pergi.”
Aku menatap kursi kosong di teras belakang.
“Orang yang merawat orang tua juga boleh capek.”
Mira mulai menangis.
Bukan tangisan keras.
Air matanya hanya jatuh satu demi satu.
“Aku tidak bisa mengembalikan waktu, kamar anak-anakmu, mobilmu, atau malam-malam ketika kalian menghitung uang di meja makan. Yang bisa kulakukan hanya meninggalkan apa yang masih kumiliki dan meminta anak-anakku mengakui siapa yang benar-benar menanggung hidupku.”
Pak Surya berhenti.
Suara kipas angin terdengar jelas.
Kalimat terakhir surat itu pendek.
“Terima kasih, Nak. Kali ini, kalau masih ada yang bisa kubayar, biarkan aku membayarnya.”
Pak Surya menurunkan surat.
Tidak ada yang langsung bergerak.
Lalu Rudi berkata,
“Bapak emosional waktu menulis itu.”
Mira menoleh kepadanya.
Aku merasakan tangannya lepas dari tanganku.
Selama dua puluh tahun, Mira hampir selalu menghindari pertengkaran dengan saudara-saudaranya.
Kalau Rudi tidak datang menjenguk, dia membuat alasan.
Kalau Lilis bilang sedang repot, Mira mengerti.
Kalau Beni tidak punya uang, Mira mengerti.
Dia selalu mengerti semua orang.
Kecuali mungkin dirinya sendiri.
Kali ini wajahnya berbeda.
“Bapak menulis catatan selama bertahun-tahun,” katanya. “Itu bukan keputusan lima menit karena emosional.”
Rudi menggeleng.
“Kamu mau mengambil hampir setengah sebelum dibagi?”
“Bukan aku yang meminta.”
“Tapi kamu akan terima?”
Mira memandangku.
Aku belum tahu jawabannya.
Pak Surya memasukkan surat kembali ke amplop.
“Saya sarankan tidak ada keputusan hari ini. Bapak dan Ibu masih berduka. Dokumen tanah juga perlu diperiksa, lalu nanti kita bertemu notaris. Saya hanya menjalankan permintaan Pak Harun agar surat ini didengar semua orang.”
Lilis bertanya, “Tanahnya nilainya berapa?”
Pak Surya menjawab hati-hati.
“Perkiraan terakhir untuk bagian yang masih dimiliki Pak Harun sekitar Rp500 jutaan, tetapi itu bukan angka penjualan pasti. Ada juga tabungan hasil penjualan bagian sebelumnya dan simpanan lain. Semua akan dibuat daftar.”
Rudi langsung menghitung di kepalanya.
Aku bisa melihatnya.
Mira juga.
Aku bangkit dari kursi.
“Cukup untuk hari ini.”
Rudi memandangku tidak percaya.
“Kita belum selesai.”
“Bapaknya baru tiga hari dimakamkan.”
“Kita cuma membahas keinginannya.”
“Tidak. Kamu sudah menghitung apa yang kamu dapat.”
Dia berdiri.
“Aku anaknya.”
“Benar.”
Aku membuka pintu depan.
“Dan aku menantunya. Jadi kita semua punya tempat masing-masing. Hari ini tempatku adalah meminta kalian pulang dari rumahku.”
Beni berdiri lebih dulu.
Dia mengambil tasnya.
“Dam benar.”
Lilis mengikutinya.
Rudi masih berdiri beberapa detik.
Lalu dia meraih kunci mobil.
Sebelum keluar, dia berkata kepada Mira,
“Jangan tanda tangan apa pun tanpa bicara dengan kami.”
Mira memandangnya.
“Kalau nanti ada yang kutandatangani, aku akan membacanya dulu. Tapi aku tidak perlu izinmu.”
Rudi pergi.
Setelah pintu tertutup, rumah kembali sunyi.
Pak Surya pamit setelah meninggalkan salinan dokumen yang memang boleh kami simpan.
Kantong kain cokelat itu ternyata berisi benda-benda pribadi Pak Harun yang dia titipkan kepadanya ketika terakhir mengurus dokumen.
Jam tangan lama.
Cincin pernikahan yang sudah lama tidak dipakainya.
Buku tabungan lama.
Dan kunci kecil untuk kotak besi di kamar belakang.
Bukan emas.
Bukan tumpukan uang.
Pak Harun tetap Pak Harun sampai akhir.
Mira dan aku duduk di meja setelah semua orang pergi.
Untuk beberapa menit kami hanya melihat amplop kuning itu.
Lalu Mira berkata,
“Aku minta maaf.”
Aku mengangkat kepala.
“Untuk apa?”
“Selama ini setiap kamu mengeluh, aku selalu bilang, ‘Itu Bapakku.’”
Aku diam.
Mira mengusap ujung meja dengan jarinya.
“Aku pakai kalimat itu supaya percakapan selesai.”
Aku tidak pernah mendengar dia mengakuinya.
“Aku takut kalau kita bilang tidak sanggup, Bapak benar-benar tidak punya tempat,” lanjutnya. “Jadi aku membuat semua seolah-olah tanggung jawab kita memang tidak boleh dibicarakan.”
“Kita memang tidak mungkin membuang Bapak.”
“Aku tahu.”
Dia menatapku.
“Tapi itu bukan berarti kamu tidak boleh capek.”
Kalimat yang hampir sama dengan surat Pak Harun.
Aku tertawa kecil, tetapi mataku terasa panas.
“Aku juga sering keterlaluan.”
Mira tidak langsung membantah.
Itu salah satu alasan aku mencintainya.
“Ada hari-hari aku sengaja bicara keras supaya Bapak dengar,” kataku.
“Aku tahu.”
“Aku ingin dia merasa tidak nyaman.”
Mira menarik napas.
“Aku juga tahu.”
Rasa malu datang perlahan.
“Pernah aku pulang, lihat dia makan roti, dan yang kupikirkan cuma berapa harga rotinya.”
Mira menyentuh tanganku.
“Dam, surat Bapak tadi bukan surat yang bilang kamu tidak pernah salah.”
Aku menatapnya.
“Bapak cuma bilang dia melihat semua yang kamu lakukan.”
Malam itu kami tidak memutuskan soal uang.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, kami membicarakan dua puluh tahun tersebut tanpa mengubahnya menjadi pertengkaran.
Mira bercerita bahwa Pak Harun beberapa kali pernah berkata ingin pindah.
Mira selalu menolaknya karena tidak tahu harus memindahkan dia ke mana.
Aku bercerita bahwa ada masa ketika aku sengaja pulang lebih lama karena tidak ingin melihat kursi teras sudah dipakai.
Kami tidak mencari siapa yang paling bersalah.
Kami hanya akhirnya berhenti berpura-pura bahwa semua pengorbanan itu mudah.
Seminggu kemudian kami bertemu Pak Surya dan seorang notaris.
Rudi datang membawa wajah tegang.
Lilis dan Beni juga hadir.
Notaris menjelaskan dokumen satu per satu dengan bahasa sederhana.
Tanah Pak Harun memang masih tercatat atas namanya.
Tabungannya ada.
Catatan mengenai pinjaman Rudi juga memiliki bukti tertulis yang cukup jelas, tetapi kalau keluarga ingin menghindari perselisihan panjang, cara paling sederhana adalah membuat kesepakatan bersama setelah semua aset dan kewajiban diverifikasi.
Tidak ada rumah yang tiba-tiba berpindah nama dalam satu sore.
Tidak ada uang langsung dibagikan di meja.
Ada proses.
Ada dokumen.
Ada pajak dan biaya yang harus diperhitungkan.
Ada tanda tangan yang tidak boleh diberikan karena emosi.
Aku justru merasa lebih tenang mendengarnya.
Rudi tidak.
“Kalau surat Bapak tidak otomatis mengikat,” katanya, “kenapa kita harus kasih Rp240 juta?”
Mira menjawab sebelum siapa pun.
“Karena itu yang Bapak minta.”
“Kita anak-anaknya.”
“Ya.”
“Damar bukan.”
Mira memandang kakaknya lama.
“Waktu Bapak butuh dibawa ke rumah sakit jam dua pagi, siapa yang membawa?”
Rudi menghela napas.
“Jangan mulai.”
“Siapa?”
Tidak ada jawaban.
Mira melanjutkan.
“Waktu operasi mata, siapa jual mobil?”
“Damar sendiri yang memutuskan.”
“Benar.”
Suara Mira tetap pelan.
“Karena tidak ada orang lain yang datang.”
Rudi menatapku.
“Kamu mau pakai semua ini untuk bikin kami merasa bersalah?”
Aku menggeleng.
“Aku bahkan belum bilang aku mau ambil uangnya.”
“Terus kenapa kamu duduk di sini?”
“Karena ayahmu meminta kami semua duduk dan membicarakannya.”
Rudi tertawa pendek.
“Ayahku tinggal di rumahmu. Bukan berarti kamu jadi anak paling berbakti.”
Aku menatapnya.
“Aku tidak pernah bilang begitu.”
“Buku catatan itu membuat seolah kami tidak peduli.”
Beni akhirnya bicara.
“Memang banyak waktu kita tidak peduli.”
Rudi berbalik.
“Kamu gampang ngomong.”
“Aku ngomong tentang diriku sendiri.”
Beni menatap meja.
“Waktu Bapak minta aku bantu obat, aku bilang cicilan motor lagi banyak. Padahal minggu berikutnya aku ganti ponsel.”
Sunyi.
Lilis mengusap wajah.
“Aku juga pernah punya kesempatan mengambil Bapak beberapa bulan.”
Rudi menatap mereka satu per satu seperti baru sadar dia tidak akan mendapatkan dukungan otomatis.
Lalu dia kembali ke satu hal yang masih bisa dipertahankan.
“Uang Rp85 juta itu pemberian.”
Notaris tidak ikut berdebat.
Pak Surya hanya menunjukkan dokumen yang sudah pernah diperlihatkan di rumah kami.
Rudi membacanya lagi.
Ada kalimat tentang pengembalian.
Ada tanda tangan.
Ada tanggal.
“Bapak tidak pernah menagih,” katanya.
“Karena Bapakmu ayahmu,” kataku.
Aku tidak berniat bicara, tetapi kalimat itu keluar.
Rudi menatapku.
“Bukan berarti uang itu berubah jadi hadiah.”
Dia mengepalkan rahang.
Aku melanjutkan sebelum suasana kembali panas.
“Aku tidak ingin mengambil rumahmu. Aku tidak ingin mempermalukanmu. Tapi kalau kita semua mau memakai surat Bapak ketika menguntungkan kita, lalu mengabaikan catatannya ketika merugikan kita, pertemuan ini tidak ada gunanya.”
Notaris memberi kami waktu bicara sendiri.
Pertemuan pertama tidak menghasilkan kesepakatan.
Aku bahkan sempat berpikir semuanya akan berakhir menjadi konflik keluarga bertahun-tahun.
Namun sesuatu berubah setelah hari itu.
Lilis datang ke rumah kami dua hari kemudian.
Sendirian.
Dia membawa sekotak makanan, lalu tertawa malu ketika sadar dia baru saja membawa makanan ke rumah yang dua puluh tahun memberi makan ayahnya.
“Aku seharusnya datang lebih sering dulu,” katanya.
Mira tidak menjawab cepat.
Lilis menangis.
Tidak lama.
Tidak dramatis.
Dia cuma berkata,
“Aku selalu berpikir karena Bapak baik-baik saja di sini, berarti semuanya memang baik.”
Itu kalimat yang sangat sederhana.
Dan mungkin itulah alasan kami membiarkan banyak hal terlalu lama.
Karena Pak Harun tidak pernah terlantar.
Obatnya ada.
Makannya ada.
Kamarnya ada.
Jadi semua orang menganggap masalah sudah selesai.
Tidak ada yang bertanya siapa yang membayar agar masalah itu tetap terlihat selesai.
Beni menelepon beberapa hari kemudian.
Dia bilang akan mengikuti keinginan Bapak sepanjang prosesnya jelas.
Rudi tetap menolak.
Selama hampir tiga minggu, grup keluarga penuh pesan.
Aku sengaja tidak ikut berdebat.
Setiap kali nama keluargaku disebut, Mira yang menjawab.
Bukan karena aku bersembunyi.
Karena kali ini dia ingin berbicara sebagai anak Pak Harun, bukan sebagai istriku.
Ada satu pesan Rudi yang paling kuingat.
“Kalau Damar tidak menikah dengan Mira, dia juga tidak akan keluar uang untuk Bapak. Itu konsekuensi menikah.”
Mira membacanya dua kali.
Lalu menulis,
“Kalau begitu merawat Bapak juga konsekuensi menjadi anaknya. Kenapa dua puluh tahun hanya terasa seperti konsekuensi pernikahanku?”
Tidak ada jawaban sampai malam.
Aku tidak pernah melihat Mira menulis panjang tentang harga diri, batas, atau siapa yang benar.
Dia hanya menanyakan satu pertanyaan.
Dan untuk pertama kalinya, Rudi tidak punya jawaban yang rapi.
Akhirnya pertemuan kedua dilakukan.
Aku datang dengan satu keputusan.
Sebelum diskusi dimulai, aku mengatakan kepada mereka,
“Aku tidak mau Rp240 juta dianggap hadiah.”
Rudi menatapku.
“Apa maksudmu?”
“Kalau kita sepakat mengikuti permintaan Bapak, tulis jelas bahwa uang itu bagian dari penyelesaian keluarga karena biaya perawatan yang selama ini sebagian besar ditanggung rumah kami.”
Pak Surya mengangguk.
Aku melanjutkan.
“Dan uang itu bukan buat aku sendirian. Mira merawat Bapak setiap hari. Kalau ada bagian untuk biaya perawatan, itu milik kami berdua.”
Mira menatapku.
Aku hampir tersenyum.
Selama bertahun-tahun aku menghitung apa yang kubayar.
Aku jarang menghitung berapa banyak waktu Mira habiskan memastikan ayahnya makan, minum obat, mandi dengan aman, pergi kontrol, dan tidak jatuh saat aku bekerja.
Beban itu bukan hanya milikku.
Aku cuma lebih sering melihat bagian yang memiliki angka.
Rudi menyandarkan punggung.
“Dan sisanya?”
“Dibagi sesuai kesepakatan kalian sebagai anak-anak Pak Harun setelah semua dihitung.”
“Termasuk utangku?”
Aku menatapnya.
“Itu antara kamu dan dokumen yang kamu tanda tangani.”
Beni hampir tersenyum.
Rudi tidak.
Prosesnya tetap tidak selesai hari itu.
Tapi untuk pertama kalinya, semua orang setuju dengan kerangka yang sama.
Tanah akan dinilai dulu.
Kalau akhirnya dijual, hasil bersihnya akan dimasukkan dalam perhitungan bersama aset lain.
Permintaan Rp240 juta akan dihormati sebagai bagian penyelesaian keluarga untuk perawatan Pak Harun.
Pinjaman Rudi diperhitungkan berdasarkan dokumen yang ada, sehingga dia tidak bisa menerima bagian penuh seolah Rp85 juta itu tidak pernah terjadi.
Rudi akhirnya menyetujui setelah dua kali meminta waktu.
Bukan karena tiba-tiba dia merasa bersalah.
Bukan karena dia berubah menjadi orang lain.
Dia menghitung pilihan yang ada dan sadar sengketa panjang hanya akan menghabiskan biaya, waktu, dan hubungan yang sudah buruk.
Aku bisa menerima alasan itu.
Manusia tidak selalu melakukan hal benar karena alasan yang indah.
Kadang mereka melakukannya karena akhirnya pilihan buruk terlalu mahal.
Beberapa bulan kemudian, tanah Pak Harun terjual dengan harga sedikit di bawah perkiraan pertama.
Setelah biaya yang memang harus dibayar dan semua dokumen selesai, pembagian dilakukan sesuai kesepakatan keluarga.
Aku dan Mira menerima jumlah yang diminta Pak Harun.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada rasa menang.
Aku membuka aplikasi bank, melihat angka yang selama dua puluh tahun tidak pernah kubayangkan berasal dari Pak Harun, lalu meletakkan ponsel.
Mira bertanya,
“Kamu merasa apa?”
Aku berpikir cukup lama.
“Tidak tahu.”
Itu jawaban paling benar.
Uang tersebut tidak mengembalikan masa kecil anak-anak kami.
Tidak mengembalikan pikap.
Tidak membuat atap yang bocor selama setahun menjadi tidak pernah bocor.
Tidak menghapus ucapan kasarku.
Tidak membuat Pak Harun hidup kembali.
Tapi uang itu melakukan satu hal.
Ia membuat kami berhenti berpura-pura bahwa pengorbanan tidak memiliki biaya.
Kami memperbaiki atap.
Bukan dengan renovasi besar.
Hanya membenarkan bagian yang memang sudah terlalu lama ditunda.
Aku membeli pikap bekas beberapa minggu kemudian karena bisa kupakai mengambil pekerjaan tambahan dari bengkel.
Sisanya kami simpan.
Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Mira dan aku punya dana darurat yang tidak langsung kami kaitkan dengan kebutuhan orang lain.
Aku tetap bekerja.
Mira tetap menjalani hidupnya seperti biasa.
Tidak ada yang mendadak menjadi kaya.
Hubungan dengan Rudi tetap dingin.
Dia tidak pernah benar-benar meminta maaf kepadaku.
Namun beberapa bulan setelah penyelesaian, dia mengirim pesan singkat.
“Aku masih punya salinan foto Bapak waktu muda. Kalau Mira mau, nanti kukirim.”
Tidak ada pembicaraan soal uang.
Aku menjawab,
“Kirim ke Mira saja.”
Itu cukup.
Lilis mulai lebih sering menghubungi Mira.
Beni sesekali datang.
Aku tidak menyebut itu sebagai keluarga yang sembuh.
Keluarga jarang sembuh seperti luka kecil yang ditutup plester.
Kadang yang terjadi hanya orang belajar berhenti menekan bagian yang sama.
Mira dan aku juga berubah.
Bukan menjadi pasangan tanpa masalah.
Justru kami mulai membicarakan masalah sebelum berubah menjadi kemarahan.
Ketika beberapa bulan kemudian salah satu kerabat Mira meminta meminjam uang cukup besar, aku tidak langsung marah.
Mira tidak langsung berkata, “Dia keluarga.”
Kami duduk.
Melihat rekening.
Membicarakan apakah kami sanggup kehilangan uang itu kalau tidak kembali.
Lalu kami mengatakan tidak.
Tidak ada pertengkaran.
Aku baru sadar ternyata satu kata yang jelas bisa jauh lebih murah daripada dua puluh tahun rasa sungkan.
Kamar belakang Pak Harun sempat kami biarkan kosong cukup lama.
Mira belum siap mengubahnya.
Aku juga tidak memaksa.
Suatu hari Nisa pulang dan bertanya apakah dia boleh menggunakan kamar itu kalau menginap.
Mira berdiri di pintu cukup lama.
Lalu dia mengangguk.
Kami membersihkannya bersama.
Tidak membuang semuanya.
Topi abu-abu Pak Harun tetap kami simpan.
Radio kecilnya juga.
Aku memperbaiki kabel radionya karena sudah longgar.
Ketika akhirnya suara keluar lagi, Mira tertawa sambil menangis.
“Bapak selalu putar radio terlalu keras.”
“Karena pendengarannya sudah kurang.”
“Kamu dulu selalu ngomel.”
“Aku memang ngomel soal semuanya.”
Mira menatapku.
“Tidak semuanya.”
Sore itu aku membawa radio ke teras belakang.
Kursi Pak Harun masih ada.
Kayunya sudah kusetel ulang dan salah satu kakinya kuganti karena mulai goyah.
Aku duduk di sana untuk pertama kalinya sejak dia meninggal.
Ternyata kursi itu tidak senyaman yang kubayangkan selama dua puluh tahun.
Aku tertawa sendiri.
Mira keluar membawa dua cangkir kopi.
Dia meletakkan satu di meja kecil di sampingku.
Tidak ada lagi orang tua yang harus kami rawat di rumah.
Tidak ada lagi obat yang harus dihitung.
Tidak ada lagi suara langkah pelan dari kamar belakang.
Tetapi anehnya, aku tidak lagi melihat dua puluh tahun itu sebagai satu kolom pengeluaran panjang.
Pak Harun memang menjadi beban bagi kami.
Itu kenyataan.
Kami juga menjadi rumah terakhirnya.
Itu juga kenyataan.
Keduanya bisa benar pada saat yang sama.
Aku menyalakan radio kecilnya.
Suara penyiar memenuhi teras.
Di gantungan dekat pintu, topi abu-abu Pak Harun masih tergantung.
Aku menatapnya sebentar, lalu menyeruput kopi.
Kali ini aku tidak menghitung harganya.
Menurutmu, apakah Damar benar menerima bagian harta Pak Harun sebagai pengganti dua puluh tahun merawatnya?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
