Suamiku Bilang Kalau Mau Makan Aku Harus Bayar Sendiri, Lalu Ia Menjanjikan Pesta Ulang Tahunnya dari Dapurku

Avatar penulis
Cerita 01
21 menit baca 2,421 tayangan
Suamiku Bilang Kalau Mau Makan Aku Harus Bayar Sendiri, Lalu Ia Menjanjikan Pesta Ulang Tahunnya dari Dapurku
Indeks

Bagian 2

“Makanan yang kamu bilang Nadia masak itu mana, Man?”

Untuk beberapa detik, Arman tidak menjawab.

Aku bisa melihat matanya bergerak dari ibunya ke arahku.

“Nadia lagi ngambek,” katanya akhirnya.

Aku berhenti menempelkan hiasan pada kotak kue.

“Bukan.”

Suamiku Bilang Kalau Mau Makan Aku Harus Bayar Sendiri, Lalu Ia Menjanjikan Pesta Ulang Tahunnya dari Dapurku

Semua orang di dekat dapur menoleh.

Arman menghela napas keras.

“Nad, jangan mulai sekarang.”

“Aku cuma meluruskan. Aku tidak pernah setuju memasak untuk acara ini.”

Ibu Ratna mengerutkan dahi.

“Tapi Arman bilang sudah dibicarakan.”

“Belum pernah.”

Arman langsung memotong.

“Dia istriku, Bu. Biasanya juga kalau ada acara dia masak.”

Dimas yang sejak tadi bersandar di dekat pintu dapur akhirnya berkata, “Tiga minggu lalu Arman sendiri yang bilang Nadia kalau mau makan harus beli makanan sendiri.”

Ruangan mendadak lebih sunyi.

Arman menatap adiknya.

“Dim, enggak usah ikut campur.”

“Aku ada di sini waktu kamu ngomong.”

Ibu Ratna memandang Arman lagi.

“Memangnya kenapa ngomong begitu?”

Arman tertawa pendek, tapi suaranya tidak terdengar santai.

“Cuma ribut suami istri biasa.”

Aku berdiri.

“Kalau cuma ribut biasa, kenapa setelah itu aku harus membeli dan memasak makanan sendiri selama tiga minggu?”

“Nadia,” katanya dengan rahang mengeras, “ini bukan waktu yang tepat.”

Aku menatap orang-orang yang telah datang karena undangan Arman.

“Justru aku juga tidak mau membahas rumah tangga kami di depan semua orang. Aku cuma mau jelas satu hal. Aku tidak pernah menjanjikan makanan malam ini.”

Salah satu pamannya bertanya apakah sebaiknya mereka memesan makanan.

Arman menjawab cepat bahwa ia akan mengurusnya.

Barulah ia mengambil ponselnya.

Karena Sabtu malam dan jumlah orang cukup banyak, restoran yang biasa mereka gunakan tidak bisa mengirim dengan cepat. Arman menelepon beberapa tempat, berjalan mondar-mandir sambil berbicara semakin keras.

Akhirnya ia memesan nasi, ayam, beberapa lauk, dan makanan tambahan dari dua tempat berbeda.

Harganya jauh lebih mahal daripada kalau ia merencanakan dari awal.

Aku tidak berkomentar.

Ketika makanan datang lebih dari satu jam kemudian, sebagian anak sudah merengek lapar. Beberapa orang dewasa terlihat tidak nyaman. Ibu Ratna terus memandang antara aku dan Arman.

Aku makan saladku sendiri.

Arman melihatnya.

“Serius kamu makan itu sekarang?”

“Iya.”

“Di depan semua orang?”

Aku menatapnya.

“Itu makan malamku.”

Ia tidak menjawab.

Pesta tidak berubah menjadi bencana besar seperti dalam film. Tidak ada orang yang membanting pintu. Tidak ada yang berteriak.

Justru itu yang membuat semuanya terasa lebih nyata.

Orang-orang tetap makan.

Mereka tetap mengucapkan selamat ulang tahun.

Tapi suasananya tidak sama.

Arman tidak lagi menjadi tuan rumah yang murah hati dengan istri yang diam-diam mengurus semuanya.

Untuk pertama kalinya, orang-orang melihat bahwa di balik semua jamuan yang selama ini mereka nikmati, ada seseorang yang membeli bahan, memasak, membersihkan dapur, dan tidak pernah ditanya apakah ia bersedia.

Setelah tamu terakhir pulang, Arman menutup pintu dengan keras.

“Kamu puas?”

Aku sedang mengumpulkan gelas plastik.

“Dengan apa?”

“Bikin aku kelihatan bodoh.”

Aku meletakkan gelas di meja.

“Aku tidak mengundang mereka.”

“Kamu tahu aku ulang tahun.”

“Aku juga tahu tiga minggu lalu kamu bilang aku harus beli makananku sendiri.”

“Jangan dipelintir.”

“Apa yang kupelintir?”

“Aku ngomong waktu emosi.”

“Terus kapan kamu bilang aturan itu sudah selesai?”

Ia membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

“Kalau menurutmu aku seharusnya tahu bahwa ucapanmu tidak sungguh-sungguh, harusnya kamu juga tahu aku bukan katering yang bisa kamu pesan lewat grup keluarga.”

Arman menatapku tajam.

“Mulai sekarang jangan harap aku membayar apa pun yang kamu pakai.”

Aku terdiam sesaat.

Lalu aku mengangguk.

“Baik.”

Ia tampak tidak menyangka.

Aku masuk ke kamar, mengambil kotak tagihan yang sudah kuhitung beberapa hari sebelumnya, lalu membawanya ke meja makan.

“Besok kita hitung semua.”

“Apa?”

“Semua kebutuhan rumah. Yang kamu bayar, yang aku bayar. Kita bagi dengan jelas.”

Arman tertawa sinis.

“Rumah tangga kok pakai hitung-hitungan.”

“Kamu yang memulainya dengan bilang kamu membiayaiku.”

Aku mengeluarkan satu map.

“Aku cuma ingin tahu faktanya.”

Wajahnya berubah sedikit ketika melihat struk, tagihan, dan bukti pembayaran yang sudah kuurutkan.

Ia tidak duduk.

“Aku enggak punya waktu buat beginian.”

“Enggak apa-apa. Aku punya.”

Malam itu ia tidur membelakangiku.

Besok paginya, sebelum berangkat bekerja, aku mulai memisahkan satu hal lagi.

Bukan makanan.

Uang.

Pendapatan dari pesanan kue selama ini masuk ke rekening pribadiku, tetapi aku sering langsung menggunakannya untuk kebutuhan rumah tanpa mencatatnya dengan baik.

Aku membuat catatan baru.

Setiap pembayaran pelanggan.

Setiap bahan kue.

Setiap tagihan rumah yang kubayar.

Setiap belanja.

Bukan untuk memenangkan pertandingan melawan suamiku.

Aku hanya tidak mau lagi seseorang mengatakan aku hidup dari uangnya sementara aku sendiri tidak tahu persis berapa besar uangku yang mengalir keluar.

Dua hari kemudian, ketika aku selesai menghitung enam bulan terakhir, aku memeriksa angkanya tiga kali.

Jumlah yang keluar dari penghasilanku untuk kebutuhan bersama mencapai lebih dari Rp31 juta.

Itu belum termasuk bahan makanan ketika keluarga Arman datang dan belum termasuk uang dari pesanan kue yang sering kupakai untuk menutup kebutuhan mendadak.

Aku membawa catatan itu ke ruang tengah.

Arman melihat angka di bagian bawah halaman.

Lalu ia berkata sesuatu yang membuatku akhirnya mengerti bahwa masalah kami jauh lebih besar daripada makan malam ulang tahun.

“Jangan tunjukkan ini ke keluargaku.”

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Aku berdiri di depan sofa sambil memegang kertas itu.

“Kenapa?”

Arman menatap televisi meskipun layarnya bahkan belum dinyalakan.

“Nadia, sudah cukup ulang tahunku jadi bahan pembicaraan.”

“Aku belum menunjukkan apa pun kepada siapa pun.”

“Ya jangan.”

“Kenapa?”

Ia menarik napas panjang.

“Kamu mau apa sebenarnya?”

“Aku mau tahu kenapa kamu takut keluargamu melihat angka ini.”

Arman berdiri dan mengambil botol air dari meja.

“Karena keluarga enggak perlu tahu soal keuangan rumah tangga kita.”

Aku hampir mengangguk.

Kalimat itu masuk akal.

Kalau saja selama bertahun-tahun ia juga memegang prinsip yang sama.

“Tapi kamu boleh bilang di depan mereka kalau kamu yang membiayaiku?”

“Itu beda.”

“Bedanya apa?”

“Ya beda saja.”

Aku meletakkan kertas di meja.

“Selama enam bulan, lebih dari Rp31 juta keluar dari penghasilanku untuk kebutuhan kita. Aku tidak bilang kamu tidak membayar apa-apa. Aku juga tidak pernah bilang aku menanggung semuanya. Tapi kamu berulang kali bicara seolah-olah aku cuma tinggal di rumah, makan dari uangmu, lalu sesekali ‘membantu’.”

Arman mulai berjalan ke arah kamar.

Aku tidak mengejarnya.

“Kalau kamu tidak mau bicara sekarang, tidak apa-apa,” kataku. “Tapi mulai bulan ini pengeluaran rumah harus jelas.”

Ia berhenti.

“Jelas bagaimana?”

“Kita tulis kebutuhan bersama. Kita sepakati bagian masing-masing. Penghasilan kuenya tidak otomatis jadi dana cadangan setiap kali ada kebutuhan yang tidak kamu rencanakan.”

“Jadi sekarang uangmu uangmu, uangku uang kita?”

Aku menatapnya.

“Tidak. Justru aku minta semuanya jelas supaya enggak ada yang merasa dipakai.”

Ia tertawa kecil.

“Hebat. Gara-gara satu omongan, sekarang rumah tangga kita kayak perusahaan.”

Ia masuk kamar dan menutup pintu.

Aku tetap berdiri di ruang tengah.

Dulu, kalimat seperti itu biasanya cukup membuatku merasa bersalah.

Aku akan berpikir mungkin aku terlalu kaku.

Mungkin aku terlalu menghitung.

Mungkin seorang istri memang seharusnya tidak mempermasalahkan hal-hal seperti ini.

Tapi setelah melihat sendiri catatan pengeluaranku, rasa bersalah itu tidak datang sekuat biasanya.

Yang datang justru pertanyaan lain.

Kalau Arman benar-benar merasa aku tidak berkontribusi, kenapa ia takut keluarganya melihat fakta?

Beberapa hari setelah ulang tahun itu, Ibu Ratna meneleponku.

Aku sedang menunggu oven selesai memanggang dua loyang bolu cokelat.

“Nadia, Ibu mau bicara.”

“Iya, Bu.”

“Kamu sama Arman masih ribut?”

“Sedang menyelesaikan beberapa hal.”

Ibu Ratna diam sebentar.

“Ibu sebenarnya tidak mau ikut campur.”

Kalimat itu selalu membuatku waspada karena biasanya setelahnya justru ada campur tangan.

“Tapi kemarin Arman pulang ke rumah Ibu. Kelihatannya kepikiran sekali.”

Aku memeriksa timer oven.

“Dia cerita apa?”

“Katanya sekarang kamu menghitung semua pengeluaran.”

“Iya.”

“Nadia, dalam rumah tangga jangan semuanya dihitung.”

Aku tersenyum kecil meskipun ia tidak bisa melihatnya.

“Aku juga dulu berpikir begitu, Bu.”

“Nah.”

“Tapi kalau salah satu orang memakai uang sebagai alasan untuk merendahkan yang lain, menurutku angka jadi penting.”

Telepon hening.

Ibu Ratna akhirnya berkata, “Arman mungkin salah ngomong. Tapi dia kan kerja juga.”

“Aku tidak pernah bilang dia tidak kerja.”

“Dia bilang selama ini dia yang paling banyak menanggung.”

Aku mematikan oven.

“Dia bilang begitu ke Ibu?”

“Ya… dari dulu memang begitu yang Ibu tahu.”

Tanganku berhenti pada gagang oven.

“Dari dulu?”

Ibu Ratna rupanya sadar ia mengatakan terlalu banyak.

“Maksud Ibu, dia sering bilang dia banyak tanggungan.”

“Dia pernah bilang aku tidak ikut membayar kebutuhan rumah?”

“Bukan begitu…”

“Bu.”

Nada suaraku tidak tinggi.

“Kalau Ibu pernah dengar Arman bilang begitu, aku cuma ingin tahu.”

Ia menarik napas.

“Pernah beberapa kali dia bilang penghasilanmu kebanyakan buat bahan kue dan keperluanmu sendiri.”

Aku tidak langsung menjawab.

Tidak ada bukti rahasia.

Tidak ada pesan tersembunyi.

Tidak ada rekening misterius.

Hanya satu kalimat dari ibunya yang menjelaskan sesuatu yang selama ini tidak pernah kupahami.

Arman bukan hanya merendahkanku ketika sedang marah.

Ia sudah membentuk cerita tentang rumah tangga kami di depan keluarganya.

Dalam cerita itu, ia laki-laki yang bekerja keras membiayai semuanya.

Aku istrinya yang punya pekerjaan kecil-kecilan dan hobi membuat kue.

Padahal dari “hobi” itu aku membayar listrik, gas, belanja, kebutuhan rumah, dan banyak pengeluaran yang tidak pernah ia sebut.

“Ibu?” kataku.

“Iya?”

“Terima kasih sudah jujur.”

“Nadia, jangan jadi tambah ribut gara-gara Ibu.”

“Aku tidak akan membawa nama Ibu.”

Setelah telepon berakhir, aku mengeluarkan bolu dari oven.

Tanganku tetap bekerja.

Memindahkan loyang.

Menimbang krim.

Memotong cokelat.

Tapi pikiranku kembali ke banyak kejadian kecil.

Arman bercanda di depan sepupunya, “Kalau bukan gue, Nadia cuma makan kue gagal tiap hari.”

Arman mengatakan kepada Dimas, “Dia kerja buat tambahan saja.”

Arman pernah berkata kepada ibunya ketika aku membayar perbaikan pompa air, “Nadia kebetulan lagi pegang uang.”

Kebetulan.

Tambahan.

Membantu.

Kata-kata kecil yang lama-lama menghapus sebagian besar kenyataan.

Malam itu aku menunggu Arman pulang.

Ia datang hampir pukul sembilan.

Aku tidak langsung bicara ketika ia membuka sepatu.

Setelah ia mandi dan masuk ruang tengah, barulah aku duduk di kursi seberangnya.

“Aku tadi bicara dengan Ibu.”

Arman langsung mengangkat wajah.

“Soal apa?”

“Keuangan kita.”

Wajahnya menegang.

“Aku kan sudah bilang jangan bawa keluarga.”

“Aku enggak bawa. Ibu yang menelepon.”

“Terus?”

“Katanya dari dulu kamu bilang penghasilanku hampir habis buat bahan kue dan keperluanku sendiri.”

Arman tidak menjawab.

“Benar?”

“Dia salah paham.”

“Dari mana salah paham itu datang?”

“Nadia, aku capek.”

“Aku juga.”

Ia berdiri.

Aku tetap duduk.

“Duduk sebentar, Man. Lima menit saja.”

Mungkin karena suaraku tidak marah, akhirnya ia kembali duduk.

“Aku tidak mau bertengkar,” kataku. “Aku cuma ingin kamu jawab.”

Ia mengusap wajah.

“Aku kadang ngomong begitu karena keluarga selalu tanya soal uang.”

“Kenapa jawabnya harus membuatku kelihatan tidak berkontribusi?”

“Ya masa aku cerita semua detail?”

“Kamu bisa bilang kita sama-sama kerja.”

“Ya sudah, harusnya aku bilang begitu.”

“Kenapa tidak?”

Ia diam.

Aku menunggu.

Dulu aku akan mengisi keheningan untuknya.

Aku akan mengatakan, “Mungkin kamu enggak sengaja.”

Atau, “Aku tahu sebenarnya kamu enggak bermaksud.”

Malam itu aku membiarkan ia mencari kalimatnya sendiri.

Akhirnya Arman berkata, “Di keluargaku laki-laki memang dianggap harus menanggung rumah.”

Aku mengangguk.

“Lalu?”

“Ya aku enggak mau kelihatan kayak penghasilan istriku lebih kepakai.”

Aku menatapnya.

“Kamu malu kalau keluargamu tahu aku ikut membayar?”

“Bukan malu.”

“Terus?”

Ia menyandarkan tubuh.

“Sulit dijelasin.”

“Coba.”

Arman mengembuskan napas.

“Dimas dari dulu selalu dianggap paling santai. Aku yang paling bertanggung jawab. Ibu juga sering cerita ke saudara kalau aku setelah menikah sudah bisa ngurus rumah sendiri. Aku cuma…”

Ia berhenti.

“Kamu cuma apa?”

“Aku enggak mau kelihatan seolah-olah aku bergantung sama kamu.”

Aku memandang tanganku sendiri.

Tiba-tiba semuanya terasa sederhana.

Bukan berarti tidak menyakitkan.

Justru karena sederhana, rasanya lebih jelas.

Untuk mempertahankan citra sebagai laki-laki yang menanggung rumah, Arman membutuhkan satu hal.

Orang lain harus percaya bahwa aku ditanggung.

“Jadi setiap kamu bilang aku cuma ‘membantu’,” kataku pelan, “itu supaya kamu kelihatan lebih mampu?”

“Jangan dibikin seburuk itu.”

“Waktu kamu bilang aku hidup seperti ratu, itu juga supaya kamu kelihatan bagaimana?”

“Aku waktu itu marah.”

“Di depan Dimas.”

Arman tidak menjawab.

Aku melanjutkan.

“Dan waktu ulang tahun, kamu bilang ke semua orang aku yang masak tanpa tanya. Karena kalau aku keluar uang dan tenaga, kamu bisa jadi orang yang mengundang.”

“Nadia, semua orang melakukan hal seperti itu dalam keluarga.”

“Tidak semua orang menghina istrinya lalu memakai tenaga istrinya supaya terlihat dermawan.”

Suasana kembali diam.

Arman terlihat ingin marah, tapi kemudian hanya duduk.

“Apa maumu sekarang?” katanya.

“Aku mau dua hal.”

Ia menatapku.

“Pertama, mulai bulan ini semua kebutuhan rumah kita catat jelas. Tidak perlu menghitung sampai sabun satu batang. Tapi biaya besar dan rutin harus jelas.”

“Yang kedua?”

Aku menahan napas sebentar.

“Kamu perbaiki sendiri cerita yang selama ini kamu buat di keluargamu.”

Wajahnya langsung berubah.

“Maksudnya?”

“Bilang ke mereka bahwa aku selama ini ikut membayar rumah ini.”

“Nadia.”

“Tidak usah kirim jumlah. Tidak usah tunjukkan catatanku. Cukup bilang yang benar.”

Ia tertawa, kali ini tanpa humor.

“Jadi aku harus bikin pengumuman di grup keluarga karena kamu sakit hati?”

“Bukan.”

Aku berdiri mengambil kertas pengeluaran dari meja.

“Kamu boleh tidak melakukannya.”

“Bagus.”

“Tapi kalau kamu tidak mau memperbaiki kebohonganmu karena takut malu, aku perlu tahu.”

“Tahu apa?”

“Mana yang lebih penting buatmu. Pernikahan kita atau citramu di depan keluargamu.”

Ia menatapku lama.

“Jangan kasih ultimatum.”

“Aku enggak mengancam.”

Aku membawa kertas itu masuk ke kamar.

“Aku sedang menentukan apa yang bisa kuterima.”

Tiga hari berlalu.

Arman tidak mengatakan apa pun di grup keluarga.

Aku tidak menagih.

Kami berbicara seperlunya.

Aku tetap bekerja.

Tetap membuat kue.

Tetap membayar bagian kebutuhan rumah yang selama ini memang menjadi tanggung jawabku, tapi mulai mencatat semuanya.

Suatu sore Dimas datang mengambil helm yang pernah ditinggalkannya.

Arman belum pulang.

Dimas berdiri sebentar di depan pintu.

“Kalian gimana?”

“Belum tahu.”

Ia mengangguk.

“Aku enggak mau ikut campur. Cuma… waktu itu aku sebenarnya kaget Arman ngomong begitu ke kamu.”

Aku tersenyum tipis.

“Aku juga.”

“Dia kalau di depan keluarga memang suka gengsi.”

Aku melihatnya.

“Dari dulu?”

Dimas mengangkat bahu.

“Dari kami masih muda. Kalau lagi ada saudara, dia paling enggak suka kelihatan kalah.”

Aku tidak bertanya lebih jauh.

Aku sudah punya jawaban yang cukup.

Masalahku bukan apakah Arman memiliki sifat buruk.

Semua orang punya.

Masalahku adalah apakah ia menganggap sifat itu cukup penting untuk diperbaiki setelah tahu dampaknya kepadaku.

Malam keempat, aku mendengar notifikasi ponselnya berkali-kali.

Aku sedang membungkus kue di meja makan.

Arman keluar dari kamar sambil memegang ponsel.

“Aku sudah kirim pesan.”

Tanganku berhenti.

“Pesan apa?”

“Ke grup keluarga.”

Aku menatapnya.

“Boleh lihat?”

Ia ragu sebentar, kemudian menyerahkan ponsel.

Pesannya pendek.

Kurang lebih ia mengatakan bahwa masalah di ulang tahunnya terjadi karena salah paham, bahwa selama ini kami sama-sama membayar kebutuhan rumah, dan bahwa ia salah bicara mengenai kontribusiku.

Aku membaca dua kali.

Bukan permintaan maaf.

Bukan pengakuan penuh.

Tapi setidaknya fakta yang selama bertahun-tahun ia kaburkan mulai dikoreksi.

Aku mengembalikan ponselnya.

“Terima kasih.”

Arman tampak lega.

Seolah ia mengira masalah selesai.

Ternyata belum.

Minggu berikutnya kami mencoba menjalani aturan baru.

Kami menulis pengeluaran rutin rumah.

Tidak sempurna, tetapi lebih jelas.

Aku berhenti membeli bahan makanan untuk keluarganya kecuali aku sendiri yang mengundang.

Kalau Ibu Ratna ingin datang makan, aku tidak keberatan.

Tapi kami membicarakannya dulu.

Kalau Arman ingin mengajak Dimas, ia bertanya.

Perubahan kecil itu membuat rumah kami terasa aneh pada awalnya.

Lalu aku sadar yang terasa aneh bukan aturannya.

Yang terasa aneh adalah karena sebelumnya aku tidak punya ruang untuk mengatakan tidak.

Masalah berikutnya datang dua minggu kemudian.

Hari Minggu siang, Arman duduk di meja makan sambil melihat ponselnya.

“Bulan depan ulang tahun Ibu.”

Aku yang sedang menulis daftar pesanan hanya menjawab, “Iya.”

“Keluarga mau bikin makan di rumah Ibu.”

“Bagus.”

“Nanti kamu bikin kue, ya.”

Tanganku berhenti.

Arman langsung melihat wajahku.

“Aku tanya.”

Aku menatapnya.

“Barusan kamu bilang ‘nanti kamu bikin kue’.”

Ia menghela napas.

“Oke. Kamu bisa bikin kue untuk Ibu?”

“Bisa, kalau tanggalnya tidak bentrok dengan pesanan pelanggan.”

“Kita lihat tanggalnya.”

Percakapan itu hanya berlangsung beberapa detik.

Tapi bagiku penting.

Ia mengubah kalimatnya.

Dulu, aku mungkin akan menganggap itu bukti semua sudah membaik.

Lalu malam sebelum ulang tahun Ibu Ratna, aku menemukan sesuatu yang jauh lebih sederhana daripada rahasia besar.

Aku melihat pesan masuk di ponselku dari salah satu sepupu Arman.

“Nadia, makasih ya sudah mau bikinin semua dessert besok. Arman bilang selain kue ada dessert box juga. Kalau bisa tiga puluh, ya.”

Aku membaca pesan itu dua kali.

Lalu menoleh ke ruang tengah.

Arman sedang menonton televisi.

Aku berjalan mendekat.

“Man.”

“Hmm?”

Aku menunjukkan layar.

Ia membacanya.

Wajahnya berubah.

“Aku bisa jelasin.”

Aku menunggu.

“Sepupuku nanya soal dessert. Aku bilang mungkin kamu bisa bantu.”

“Dia bilang kamu sudah bilang aku mau bikin tiga puluh.”

“Aku pikir sekalian saja. Toh kamu memang bikin kue.”

Aku menurunkan ponsel.

Dua minggu.

Hanya dua minggu sejak ia mengoreksi dirinya di grup keluarga.

Dua minggu sejak kami membuat aturan untuk bertanya.

Dan ketika situasinya kembali nyaman, kebiasaan lamanya muncul lagi.

“Bahan tiga puluh dessert box siapa yang bayar?”

“Nanti aku ganti.”

“Waktuku?”

Arman mulai terlihat kesal.

“Nadia, ini ulang tahun ibuku.”

“Aku sudah setuju membuat kue.”

“Tambah dessert sedikit saja kenapa jadi masalah?”

Aku tertawa pelan.

Bukan karena lucu.

Karena akhirnya aku mengerti sesuatu yang selama ini berusaha kuhindari.

Kami tidak sedang bertengkar tentang makanan.

Tidak pernah.

Masalah kami adalah Arman menganggap persetujuanku sebagai formalitas.

Selama keinginannya menurutnya masuk akal, ia merasa boleh memutuskan dulu dan memberitahuku kemudian.

“Kamu belum berubah,” kataku.

Wajahnya mengeras.

“Jangan berlebihan.”

“Aku pikir waktu kamu kirim pesan ke grup itu, kamu paham.”

“Aku sudah minta maaf.”

“Kamu tidak minta maaf.”

“Ya sudah, aku mengaku salah.”

“Terus kamu melakukan hal yang sama.”

“Ini cuma dessert!”

“Persis.”

Aku menatapnya.

“Kalau untuk hal sekecil tiga puluh dessert saja kamu masih merasa boleh menjanjikan waktuku tanpa bertanya, aku enggak percaya untuk keputusan yang lebih besar kamu akan memperlakukanku berbeda.”

Arman berdiri.

“Kamu mau cerai gara-gara makanan?”

Aku diam beberapa detik.

“Bukan gara-gara makanan.”

“Nah.”

“Karena cara kamu memperlakukanku.”

Ia berjalan menjauh lalu kembali.

“Aku sudah mengoreksi semuanya ke keluarga. Kamu masih kurang apa?”

“Perubahan.”

“Aku berubah.”

“Dua minggu.”

“Terus karena satu kesalahan langsung enggak ada nilainya?”

Aku menatap meja makan tempat selama bertahun-tahun aku menaruh piring untuk keluarganya.

“Aku enggak bilang enggak ada nilainya.”

“Terus?”

“Aku bilang itu belum cukup.”

Malam itu aku tidak membuat tiga puluh dessert box.

Aku tetap menyelesaikan kue untuk Ibu Ratna karena aku memang sudah menyetujuinya.

Paginya Arman membawa kue itu ke rumah ibunya.

Aku tidak ikut.

Ia kembali sore hari dalam keadaan lebih tenang.

“Ibu tanya kamu kenapa enggak datang.”

“Apa kamu bilang?”

“Aku bilang kita lagi ada masalah.”

Aku mengangguk.

Ia duduk.

“Nadia, kita mau begini terus?”

“Aku juga enggak mau.”

“Terus kita perbaiki.”

“Aku sudah mencoba.”

“Aku juga.”

“Aku tahu.”

Jawabanku membuatnya terdiam.

Aku tidak ingin mengubah Arman menjadi penjahat dalam kepalaku.

Ia bekerja.

Ia pernah membantuku ketika aku sakit.

Ia pernah menjemput pesanan bahan kue ketika aku kewalahan.

Ada hari-hari ketika kami tertawa bersama dan makan malam tanpa masalah.

Justru karena itu keputusan berikutnya tidak terasa seperti kemenangan.

Aku masih mencintai sebagian dari kehidupan kami.

Tapi cinta tidak membuat kebiasaan merendahkan menjadi lebih kecil.

“Aku mau kita pisah rumah dulu,” kataku.

Arman langsung menatapku.

“Apa?”

“Aku butuh jarak.”

“Jangan ngomong sembarangan.”

“Aku sudah memikirkannya beberapa hari.”

“Karena dessert?”

Aku menggeleng.

“Karena selama tujuh tahun aku berkali-kali merasa harus mengalah supaya rumah tenang. Dan waktu aku akhirnya bilang batasnya, kamu menganggapnya aturan sementara sampai aku kembali seperti dulu.”

Arman terlihat benar-benar takut untuk pertama kalinya.

“Kamu mau pergi?”

“Untuk sementara, iya.”

Aku menyewa tempat kecil tidak jauh dari tokoku.

Bukan apartemen mewah.

Hanya rumah petak sederhana dengan satu kamar, dapur yang bahkan lebih kecil dari dapur lama, dan ruang depan yang cukup untuk menaruh rak bahan kue.

Aku membawa pakaian, peralatan kerja yang memang milikku, dokumen pribadi, dan bahan pesanan.

Aku tidak mengambil barang Arman.

Tidak mengosongkan rekening bersama.

Tidak membuat pengumuman apa pun kepada keluarganya.

Hari aku pindah, Arman berdiri di dekat pintu.

“Kamu serius.”

“Iya.”

“Berapa lama?”

“Aku belum tahu.”

“Kalau aku berubah?”

Aku memegang pegangan koper.

“Jangan berubah supaya aku pulang.”

Ia menatapku.

“Berubah karena kamu memang paham kenapa ini salah.”

Beberapa minggu berikutnya tidak mudah.

Ada malam ketika aku ingin meneleponnya hanya karena terbiasa mendengar suaranya.

Ada pagi ketika aku bangun dan lupa sesaat bahwa aku tidak lagi berada di rumah yang sama.

Ibu Ratna menelepon dua kali.

Pada telepon kedua, suaranya lebih pelan.

“Ibu mungkin juga salah.”

Aku duduk di lantai sambil menyusun kotak kue.

“Salah bagaimana?”

“Dari dulu kalau Arman cerita dia yang menanggung rumah, Ibu malah bangga. Ibu enggak pernah tanya lebih jauh.”

“Itu bukan tanggung jawab Ibu.”

“Dia anak Ibu.”

Aku tidak menjawab.

“Dia sekarang sering makan di rumah Ibu,” lanjutnya. “Ternyata mahal juga ya kalau tiap hari beli makan.”

Aku hampir tersenyum.

Tapi aku tidak ingin menjadikan kesulitan kecil Arman sebagai kemenangan.

Ia sedang menjalani akibat dari aturan yang pernah ia buat sendiri.

Itu saja.

Dua bulan setelah aku pindah, Arman meminta bertemu.

Kami bertemu di kedai kopi dekat tempat kerjaku.

Ia terlihat lebih kurus sedikit, tapi tidak hancur.

Tidak bangkrut.

Tidak kehilangan pekerjaan.

Tidak mendapatkan karma ajaib.

Ia hanya terlihat seperti laki-laki yang akhirnya harus hidup tanpa banyak pekerjaan tak terlihat yang selama ini dilakukan istrinya.

“Aku ikut konseling beberapa kali,” katanya.

Aku terkejut.

“Sendiri?”

“Iya.”

Aku mengangguk.

“Bagus.”

“Awalnya aku ke sana karena kupikir kalau konselor bilang aku sudah berubah, kamu akan percaya.”

Aku menahan senyum tipis.

“Terus?”

“Ternyata dia bilang aku masih mikir semuanya sebagai cara supaya kamu balik.”

Aku tidak menjawab.

Arman melihat cangkirnya.

“Aku baru sadar selama ini aku enggak cuma mau dianggap mampu sama keluargaku.”

Ia berhenti sebentar.

“Aku butuh mereka melihatku sebagai orang yang paling berhasil. Dan kadang aku memakai kamu supaya cerita itu tetap kelihatan bagus.”

Aku menatapnya.

Itulah pertama kalinya ia mengatakan sesuatu tanpa kata “tapi” setelahnya.

“Aku minta maaf,” katanya. “Bukan cuma soal ulang tahun. Bukan soal dessert juga.”

Aku menunggu.

“Aku minta maaf karena selama ini aku menikmati semua yang kamu kerjakan sambil membiarkan orang lain pikir aku yang menyediakan semuanya.”

Dadaku terasa berat.

Aku ingin kalimat itu datang tujuh tahun lebih awal.

Atau tiga bulan lebih awal.

Atau bahkan beberapa minggu lebih awal.

Tapi hidup tidak bekerja seperti itu.

Penyesalan yang datang terlambat tetap bisa tulus.

Hanya saja ketulusan tidak selalu mengembalikan sesuatu ke bentuk semula.

“Aku percaya kamu sekarang ngerti,” kataku.

Harapan langsung muncul di wajahnya.

“Tapi?”

Aku mengusap sisi cangkir dengan ibu jari.

“Tapi aku enggak mau kembali ke pernikahan kita hanya karena kamu baru mulai berubah.”

“Aku bisa terus konseling.”

“Aku harap kamu terus.”

“Kita juga bisa konseling berdua.”

Aku diam beberapa saat.

“Aku sudah memutuskan untuk melanjutkan perpisahan ini secara resmi.”

Wajahnya jatuh.

“Nad…”

“Aku enggak bilang tujuh tahun kita semuanya buruk.”

“Terus kenapa?”

“Karena aku terlalu lama menjadi orang yang harus mengecil supaya kamu merasa besar.”

Ia menunduk.

Aku melanjutkan dengan suara pelan.

“Kalau aku pulang sekarang, aku tahu diriku. Aku akan mulai mengawasi setiap kata-katamu. Setiap kali keluargamu datang, aku akan bertanya dalam hati apakah kamu benar-benar sudah berubah. Aku enggak mau hidup seperti itu.”

Arman tidak membantah.

Ia juga tidak memohon di depan orang-orang.

Tidak ada adegan besar.

Kami hanya duduk lama di meja kecil itu.

Dua orang yang pernah saling mencintai dan mungkin masih memiliki sisa cinta, tapi akhirnya mengakui bahwa rasa sayang tidak selalu cukup untuk membuat sebuah rumah tetap sehat.

Proses perpisahan kami tidak selesai dalam sehari.

Ada dokumen yang harus diurus.

Ada barang yang harus dibagi.

Ada percakapan yang masih membuatku pulang dengan kepala berat.

Kami tidak berubah menjadi teman baik.

Tapi kami juga tidak berubah menjadi musuh.

Tiga bulan kemudian, tempat tinggalku masih kecil.

Ovenku hanya muat dua loyang.

Aku masih bekerja pagi di toko.

Pesanan kue kadang ramai, kadang sepi.

Aku tidak tiba-tiba menjadi pengusaha besar.

Yang berubah adalah hal-hal kecil.

Ketika membeli belanja mingguan, aku tahu persis untuk siapa makanan itu.

Ketika ada pelanggan membayar pesanan, aku mencatatnya sebelum uangnya pergi ke mana pun.

Kalau Ibu Ratna ingin memesan kue, ia bertanya harga lebih dulu seperti pelanggan lain.

Pertama kali ia melakukannya, ia berkata, “Jangan kasih harga keluarga kalau malah bikin kamu rugi.”

Aku tertawa kecil.

“Baik, Bu.”

Hubunganku dengannya tidak langsung dekat.

Tapi setidaknya sekarang kami berbicara berdasarkan kenyataan, bukan cerita yang dibuat orang lain.

Dimas sesekali mengirim pesan menanyakan kabarku.

Arman tetap menjalani konseling.

Dari beberapa percakapan kami mengenai urusan perpisahan, aku bisa melihat ia memang mulai berubah.

Mungkin perubahan itu akan membuat hidupnya dengan orang lain suatu hari nanti lebih baik.

Aku tidak tahu.

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa harus mengetahui jawabannya.

Suatu malam setelah menyelesaikan pesanan, aku memasukkan satu wadah makan ke kulkas.

Sup ayam sederhana.

Tidak istimewa.

Aku mengambil selembar label kecil yang biasa kupakai untuk pesanan.

Tanganku berhenti ketika teringat tiga bulan sebelumnya, ketika aku menempelkan namaku pada makanan hanya agar suamiku tidak mengambilnya.

Aku hampir melepas label itu.

Lalu aku tersenyum kecil dan tetap menempelkannya.

NADIA.

Bukan untuk melarang siapa pun.

Sekarang memang hanya aku yang tinggal di sana.

Aku menutup pintu kulkas, mematikan lampu dapur, lalu memeriksa kunci pintu depan sebelum tidur.

Tidak ada pesta.

Tidak ada orang yang menunggu aku memasak.

Tidak ada suara yang mengatakan siapa yang membiayai siapa.

Hanya dapur kecil, satu wadah sup, dan makanan yang kubeli dengan uangku sendiri tanpa perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun.

Menurutmu, apakah Nadia sudah tepat memilih berpisah setelah Arman mulai berubah, atau seharusnya ia memberi pernikahan mereka satu kesempatan lagi?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.