Bagian 2
Ketika kardus terakhir dimasukkan ke mobil, Arman belum juga pergi.
Dia berdiri di ujung garasi sambil menatapku.
“Jadi kamu serius?”
Aku hampir bertanya apa yang dia maksud.
Serius tentang apa?
Tentang mengunci rumahku?
Tentang menghentikan kartu yang kubayar?
Atau tentang tidak menyediakan kamar tamu untuk istri barunya?
“Aku serius soal satu hal,” jawabku. “Kamu tidak tinggal di sini lagi.”
Bu Ratna mendekat.

“Rina, dengarkan Ibu. Arman memang salah. Tapi keputusan besar jangan dibuat saat emosi.”
Aku menatap perempuan yang baru dua jam sebelumnya menyebutku keterlaluan.
“Bu, yang membuat keputusan besar tadi malam bukan saya.”
Arman mengusap wajahnya.
“Pernikahan kami bukan urusanmu lagi.”
Kalimat itu justru membuatku tertawa pendek.
“Kalau begitu rumahku juga bukan urusanmu.”
Dinda masuk ke mobil tanpa berkata apa-apa.
Lilis membanting pintu bagasi.
Sebelum pergi, Arman menunjukku.
“Kita belum selesai.”
“Untuk pertama kalinya hari ini kita sepakat.”
Mereka pergi.
Baru setelah mobilnya hilang di tikungan, lututku terasa lemas.
Aku duduk di lantai garasi selama beberapa menit.
Tidak ada rasa kemenangan.
Yang ada cuma kelelahan dan satu kesadaran yang mulai membuat perutku mual.
Kalau Arman berani menggunakan kartu-kartuku untuk hidup sehari-hari bersama perempuan lain, berapa banyak yang sebenarnya sudah kubayar tanpa tahu?
Aku masuk, mengunci pintu, lalu membuka laporan transaksi enam bulan terakhir.
Aku tidak mencari-cari rahasia dalam ponselnya.
Aku tidak punya akses ke rekening pribadinya.
Aku hanya membaca tagihan yang memang atas namaku.
Awalnya tidak ada yang mencolok.
Bensin.
Restoran.
Belanja bulanan.
Hotel untuk perjalanan kerja.
Kemudian aku mulai memperhatikan pola.
Satu restoran di daerah Kuta muncul empat kali pada bulan yang seharusnya tidak ada perjalanan kantor.
Sebuah toko perhiasan di Surabaya.
Dua pembayaran hotel akhir pekan di Malang.
Uang muka vila di Bali.
Dan tiga hari sebelum keberangkatannya, transaksi sebesar Rp18,7 juta ke sebuah penyedia acara.
Aku menatap angka itu lama.
Total pengeluaran yang tidak kukenal selama beberapa bulan mencapai hampir Rp63 juta.
Tidak semuanya pasti berkaitan dengan Dinda.
Tetapi jumlahnya cukup membuat tanganku berhenti di atas trackpad.
Selama ini Arman selalu mengeluh kalau aku bertanya kenapa tagihan bulanannya naik.
“Namanya juga kebutuhan.”
“Jangan semuanya dihitung.”
“Aku kan suamimu.”
Aku mengunduh seluruh laporan.
Pukul empat sore aku menelepon bank untuk memastikan seluruh kartu tambahan benar-benar sudah diblokir dan meminta informasi prosedur perubahan akses.
Petugas tidak memberi tahu apa pun tentang rekening Arman.
Dia hanya menjelaskan fasilitas atas namaku sendiri, persis yang kubutuhkan.
Setelah itu aku membuat folder baru di laptop.
Namanya sederhana.
Arman.
Untuk pertama kalinya, aku mengumpulkan bukti bukan supaya bisa membereskan masalahnya.
Aku mengumpulkannya supaya tidak ikut tenggelam bersamanya.
Malamnya grup WhatsApp keluarga Arman meledak.
Lilis menulis bahwa aku mempermalukan kakaknya.
Seorang tante bertanya kenapa urusan suami-istri harus dibesar-besarkan.
Bu Ratna mengatakan sebaiknya kami duduk bersama “demi menjaga nama keluarga”.
Aku keluar dari grup.
Lima menit kemudian nomor tak dikenal mengirim pesan.
Ternyata Dinda.
“Aku perlu tanya sesuatu.”
Aku tidak menjawab.
Pesan kedua datang.
“Rumah itu benar-benar milikmu dari sebelum menikah?”
Aku mengetik, lalu menghapus.
Akhirnya aku menjawab singkat.
“Iya.”
Tanda mengetik muncul lama.
“Arman bilang rumah itu milik kalian berdua.”
Aku tidak merespons.
Pesan berikutnya membuatku duduk lebih tegak.
“Dia bilang setelah kami menikah, dia akan mengurus penjualan rumah itu dan kalian memang sudah sepakat membagi hasilnya setelah perceraian.”
Aku membaca kalimat tersebut dua kali.
Kemudian Dinda mengirim tiga tangkapan layar percakapan mereka.
Aku tidak membutuhkan semuanya.
Satu sudah cukup.
Dalam pesan yang dikirim Arman dua bulan sebelumnya, tertulis:
“Rumah Surabaya nanti dijual. Rina sudah setuju. Bagian aku cukup buat uang muka rumah baru dan modal usaha kita.”
Aku tidak pernah setuju menjual rumah.
Aku bahkan tidak pernah membicarakan perceraian sebelum malam sebelumnya.
Aku menyimpan tangkapan layar itu.
Lalu kutanya satu hal.
“Dinda, dia bilang sejak kapan kami sudah berpisah?”
Jawabannya datang hampir seketika.
“Sejak November.”
November.
Aku menoleh ke kalender kecil di meja kerja.
Pada November, aku dan Arman merayakan ulang tahun pernikahan kami di Yogyakarta.
Aku yang memesan hotelnya.
Aku yang membayar makan malamnya.
Dan setelah pulang, dia mengunggah foto kami dengan tulisan:
“Enam tahun dengan perempuan terbaik yang pernah masuk ke hidupku.”
Aku menutup mata sebentar.
Bukan karena ingin menangis.
Aku sedang menyusun kembali delapan bulan terakhir.
Arman ternyata tidak menjalani satu kebohongan.
Dia menjalani dua kehidupan dan membiarkan dua perempuan menerima versi cerita yang berbeda.
Ponselku berbunyi lagi.
Dinda menulis:
“Ada satu hal lagi yang sebaiknya kamu tahu. Dia bukan cuma menjanjikan uang hasil rumah itu.”
Aku menunggu.
“Dia bilang kamu sudah setuju menanggung sisa utangnya sebelum kalian berpisah.”
Di bawahnya, Dinda mengirim foto sebuah daftar utang yang pernah Arman tunjukkan kepadanya.
Di salah satu baris terdapat angka yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Rp184 juta.
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Aku menatap angka Rp184 juta sampai layar ponsel meredup sendiri.
Selama enam tahun menikah, aku tahu Arman punya kebiasaan buruk soal uang.
Dia pernah mencicil ponsel mahal padahal ponsel lamanya masih bagus.
Pernah mengambil kredit motor yang kemudian jarang digunakan.
Pernah meminjam dari temannya untuk menutup tagihan kartu lain sebelum akhirnya aku membantu melunasinya dengan syarat dia berhenti membuat utang baru.
Tetapi Rp184 juta bukan angka yang bisa muncul hanya karena beberapa pembelian impulsif.
Aku mengirim pesan kepada Dinda.
“Utang apa?”
Jawabannya baru datang sepuluh menit kemudian.
“Aku tidak tahu semuanya. Dia bilang sebagian pinjaman pribadi dan sebagian untuk investasi yang gagal.”
“Kamu pernah melihat dokumennya?”
“Tidak.”
“Dia pernah bilang aku ikut tanda tangan?”
“Dia bilang kamu yang akan membereskan.”
Aku meletakkan ponsel.
Itulah Arman.
Bukan “Rina setuju”.
Bukan “Rina bertanggung jawab”.
Bukan “Rina ikut menandatangani”.
Cuma:
Rina yang akan membereskan.
Kalimat yang selama bertahun-tahun terdengar biasa sekarang terasa seperti ringkasan seluruh perkawinan kami.
Aku tidak menanyai Dinda lebih jauh malam itu.
Dia masih perempuan yang menjalani hubungan delapan bulan dengan suamiku. Apa pun kebohongan yang diceritakan Arman kepadanya, fakta itu tidak hilang.
Tetapi aku juga tidak membutuhkan musuh tambahan.
Yang kubutuhkan adalah memastikan masalah Arman tidak lagi masuk ke hidupku melalui pintu yang selama ini kubiarkan terbuka.
Keesokan paginya aku mengambil cuti.
Aku membawa dokumen rumah, buku nikah, laporan kartu, salinan mutasi rekeningku, dan tangkapan layar pesan Arman ke kantor seorang advokat keluarga yang direkomendasikan rekan kerjaku.
Namanya Bu Maya.
Aku menceritakan semuanya tanpa dilebih-lebihkan.
Tentang pesan dari Bali.
Tentang perempuan lain.
Tentang rumah.
Tentang kartu tambahan.
Tentang utang Rp184 juta yang baru kuketahui dari Dinda.
Bu Maya mendengarkan sambil sesekali mencatat.
Ketika aku selesai, pertanyaan pertamanya sederhana.
“Utang Rp184 juta itu Ibu pernah tanda tangan?”
“Tidak pernah.”
“Ada jaminan milik Ibu?”
“Sepengetahuan saya tidak.”
“Pernah memberi surat kuasa kepada suami untuk menjaminkan rumah?”
“Tidak.”
“Pernah menandatangani dokumen kosong?”
Aku langsung menggeleng.
Bu Maya menutup pulpennya.
“Baik. Jangan berasumsi dulu bahwa semua utangnya otomatis menjadi kewajiban Ibu. Kita harus lihat satu per satu sumbernya, kapan dibuat, untuk tujuan apa, dan siapa yang menandatangani.”
Aku mengembuskan napas.
“Rumah saya bagaimana?”
Dia membuka salinan dokumen yang kubawa.
“Rumah ini dibeli sebelum perkawinan?”
“Iya.”
“Dan sejak awal tercatat atas nama Ibu?”
“Iya.”
“Tidak pernah dialihkan atau dijadikan jaminan bersama?”
“Tidak.”
Bu Maya mengangguk.
“Posisinya berbeda dengan harta yang diperoleh selama perkawinan. Suami Ibu juga tidak otomatis menjadi pemilik hanya karena tinggal di sana. Kalau nanti ada sengketa, tetap ada prosesnya, tetapi jangan serahkan dokumen asli atau menandatangani apa pun tanpa diperiksa.”
Aku mengangguk.
“Dia mengatakan sudah menikahi perempuan lain.”
“Bukti pesannya simpan. Jangan berdebat dulu soal sah atau tidaknya hubungan kedua itu lewat WhatsApp. Untuk kepentingan proses perkawinan Ibu sendiri, kita fokus pada fakta yang bisa dibuktikan dan keputusan Ibu.”
Keputusan Ibu.
Dua kata itu membuatku diam.
Bu Maya menatapku.
“Ibu ingin mempertahankan perkawinan ini?”
Aku tidak langsung menjawab.
Semalam aku masih terlalu sibuk memblokir kartu, mengganti kunci, dan menghitung angka.
Sekarang pertanyaan itu duduk di depanku tanpa tempat bersembunyi.
“Aku…” Aku berhenti, lalu memperbaiki caraku bicara. “Saya belum tahu apa yang harus saya rasakan.”
“Itu berbeda dari apa yang ingin Ibu lakukan.”
Aku memandang dokumen di meja.
Enam tahun.
Aku teringat Arman tertawa di dapur.
Arman membelikanku bubur ketika aku demam.
Arman memegang tangan ibuku saat beliau dirawat.
Tidak semua tahun itu palsu.
Itulah bagian yang paling menyakitkan.
Kalau semuanya buruk, mungkin lebih mudah meninggalkan.
Tetapi seseorang tidak perlu menjadi monster setiap hari untuk menghancurkan kepercayaan pada satu hari tertentu.
“Aku tidak bisa kembali hidup seolah ini cuma pertengkaran,” kataku pelan.
Bu Maya menunggu.
“Aku ingin berpisah secara hukum.”
Dia mengangguk.
Tidak mengatakan selamat.
Tidak mengatakan aku hebat.
Dia hanya mulai menjelaskan langkah-langkah yang perlu kami siapkan.
Itu justru membuatku merasa keputusan tersebut nyata.
Bukan adegan drama.
Bukan ancaman saat marah.
Sebuah keputusan yang akan memiliki formulir, jadwal, biaya, dan akibat.
Saat keluar dari kantornya, ponselku menunjukkan tujuh panggilan tak terjawab dari Arman.
Aku tidak menelepon balik.
Dia kemudian mengirim pesan dari nomor lain.
“Kita harus bicara.”
Aku menjawab:
“Besok pukul 10.00. Tempat umum. Aku akan datang dengan pendamping hukum.”
Balasannya langsung datang.
“Segitunya?”
Aku tidak membalas.
Besoknya kami bertemu di sebuah kafe yang tidak jauh dari kantor Bu Maya.
Arman datang sendiri.
Aku datang bersama Bu Maya, tetapi dia duduk beberapa meja dari kami. Kehadirannya bukan untuk mengancam.
Aku cuma tidak ingin percakapan penting ini berubah menjadi versi-versi cerita yang berbeda setelah kami pulang.
Arman duduk di depanku.
Dia terlihat lebih lelah dibanding dua hari sebelumnya.
“Aku kira kita bisa bicara berdua.”
“Kita tetap bicara berdua.”
Dia melihat ke arah Bu Maya.
“Kamu bawa pengacara.”
“Karena sekarang kita membahas perceraian, rumah, barang, dan uang.”
Wajahnya mengeras.
“Rina, jangan langsung gila begini.”
Aku memandangnya.
“Aku tidak berteriak. Aku tidak menyentuh barangmu. Aku bahkan mengemas kaus kakimu satu-satu. Bagian mana yang gila?”
Dia memalingkan muka.
“Pernikahan dengan Dinda terjadi karena hubungan kita memang sudah lama mati.”
“Sejak kapan?”
“Kita sama-sama tahu.”
“Jawab.”
Dia mengusap tengkuk.
“Sudah berbulan-bulan.”
“November?”
Dia menatapku.
Aku tahu dari ekspresinya bahwa Dinda belum mengatakan kepadanya soal percakapan kami.
“Kamu bilang apa ke Dinda tentang November?”
“Jangan seret dia.”
“Aku tidak menyeret siapa-siapa. Dia yang menghubungiku.”
Arman menegang.
Aku melanjutkan.
“Pada November kamu bilang kepadanya kita sudah berpisah.”
Dia diam.
“Pada November kita ke Yogyakarta untuk ulang tahun pernikahan.”
“Itu cuma perjalanan.”
“Kamu unggah foto kita.”
“Apa hubungannya?”
“Hubungannya sederhana. Kamu menceritakan dua kenyataan berbeda.”
Dia mengetuk meja dengan jarinya.
“Aku takut kamu tidak bisa menerima.”
“Kamu tidak pernah mencoba memberitahuku.”
“Aku tahu kamu. Kamu pasti bikin semuanya susah.”
Aku hampir menjawab dengan marah.
Namun kalimat itu terlalu familiar.
Setiap kali Arman membuat keputusan yang tidak ingin dipertanggungjawabkan, alasannya selalu sama.
Aku terlalu banyak bertanya.
Aku terlalu teliti.
Aku terlalu ingin tahu.
Aku terlalu “susah”.
“Baik,” kataku. “Sekarang soal uang.”
Dia langsung bersandar.
“Kenapa uang lagi?”
Aku membuka salinan laporan kartu.
“Karena Rp18,7 juta dibayar ke penyedia acara tiga hari sebelum kamu ke Bali.”
Dia terdiam.
“Aku tidak tahu itu untuk apa.”
“Kamu pemegang kartu tambahannya.”
“Aku banyak transaksi.”
“Total pengeluaran yang tidak bisa kukenali hampir Rp63 juta dalam beberapa bulan.”
“Itu bukan semuanya buat Dinda.”
“Aku tidak bilang semuanya.”
“Nah.”
“Tapi berarti sebagian memang untuk dia.”
Arman tidak menjawab.
Aku membuka halaman lain.
“Sekarang Rp184 juta.”
Wajahnya berubah.
Cukup kecil.
Tetapi aku melihatnya.
“Dari mana kamu dapat angka itu?”
“Jadi angkanya benar?”
“Rina.”
“Benar atau tidak?”
Dia menarik napas.
“Itu pinjaman.”
“Pinjaman apa?”
“Masalah bisnis.”
“Kita tidak punya bisnis bersama.”
“Aku pernah masuk investasi sama teman.”
“Rp184 juta?”
“Tidak semuanya pokok. Ada beberapa kewajiban lain.”
“Kamu pernah bilang kepadaku?”
“Aku mau bilang setelah keadaan lebih stabil.”
Aku menatapnya.
“Dan ke Dinda kamu bilang aku akan membereskannya.”
Arman membeku.
Beberapa detik kemudian dia berkata, “Dia menunjukkan pesan kita?”
“Yang kubahas sekarang bukan Dinda.”
“Kalian sekarang kompak?”
Aku hampir tertawa.
“Tidak. Aku bahkan tidak tahu apakah aku ingin melihat wajahnya lagi setelah semua ini. Tapi kebohonganmu tidak berubah hanya karena aku tidak menyukainya.”
Dia menurunkan suara.
“Rin, dengar dulu.”
“Aku mendengarkan.”
“Kamu selalu lebih bagus mengatur uang. Aku pikir setelah semua selesai, kita bisa bicara. Rumah itu juga punya nilai besar. Kita bisa jual, bagi, dan semua orang mulai hidup baru.”
Aku menatapnya begitu lama sampai dia terlihat tidak nyaman.
“Kamu sudah menjanjikan hasil penjualan rumahku?”
“Jangan bilang rumahmu terus. Kita tinggal di situ enam tahun.”
“Jawab pertanyaanku.”
“Aku cuma membicarakan kemungkinan.”
“Ke Dinda kamu bilang aku sudah setuju.”
Arman menghela napas keras.
“Itu supaya dia tenang.”
Sebuah kebohongan untuk menenangkan Dinda.
Sebuah kebohongan lain untuk menenangkan ibunya.
Kemudian kebohongan berikutnya untuk menenangkan dirinya sendiri.
Semua dibayar oleh orang yang tidak diberi kesempatan mengetahui kenyataan.
“Aku tidak akan menjual rumah.”
“Jangan egois.”
Aku sampai harus menurunkan cangkir karena takut tertawa.
“Egois?”
“Kamu sendirian di rumah sebesar itu. Kita bisa selesaikan banyak hal dengan satu penjualan.”
“Utangmu.”
“Sebagian.”
“Modalmu dengan Dinda.”
Dia tidak menjawab.
“Tempat tinggal kalian.”
Masih diam.
“Apa lagi?”
Arman menatap meja.
“Aku pikir kita akan membagi dengan adil.”
“Apa yang kamu sebut adil ternyata selalu dimulai dari sesuatu milikku.”
Dia akhirnya kehilangan kesabaran.
“Enam tahun aku suamimu! Aku juga berkontribusi.”
“Aku tidak menyangkal kamu pernah membayar kebutuhan rumah. Kita bisa catat apa pun yang memang perlu dihitung dalam proses nanti.”
“Aku tidak bicara soal struk belanja!”
“Aku juga tidak.”
Nada suaraku tetap rendah.
“Aku bicara soal kenyataan bahwa kamu memberi tahu perempuan lain bahwa rumah yang kubeli sebelum mengenalmu akan dijual untuk membiayai hidup kalian.”
Dia diam.
Aku menggeser satu lembar kertas ke arahnya.
“Itu daftar barang yang sudah kamu ambil. Masih ada beberapa dokumen dan barang kecil di rumah. Kirim daftar kalau ada yang tertinggal.”
“Apa ini?”
“Catatan serah terima.”
“Kamu benar-benar sudah merencanakan semua?”
“Tidak.”
Aku menatapnya.
“Kamu yang membuat rencana delapan bulan. Aku baru mulai mengurus akibatnya tiga hari lalu.”
Untuk pertama kalinya, Arman tidak punya jawaban cepat.
Kami duduk diam hampir satu menit.
Lalu suaranya berubah.
Lebih pelan.
“Kalau aku bilang aku melakukan kesalahan?”
“Kamu memang melakukan kesalahan.”
“Kalau aku bilang semuanya terlalu cepat?”
“Delapan bulan tidak cepat.”
“Rina, aku bingung.”
“Kamu menikah saat bingung?”
Dia mengusap wajah.
“Dinda juga marah sekarang.”
Aku tidak bertanya kenapa.
Aku tidak merasa puas.
Aku cuma lelah mendengar perempuan lain digunakan sebagai alasan baru.
“Aku mau pulang dulu beberapa hari,” katanya.
Aku langsung mengerti maksudnya.
“Tidak.”
“Cuma sementara.”
“Tidak.”
“Aku tidak punya tempat.”
“Kamu baru menikah.”
“Situasinya rumit.”
“Itu bukan alasan untuk masuk kembali ke rumahku.”
Dia menatapku tajam.
“Kamu bisa begitu saja membuang enam tahun?”
Aku merasakan sesuatu menusuk di dada, tetapi kali ini tidak kubiarkan rasa sakit itu mengubah jawabanku.
“Enam tahun itu tidak hilang. Justru karena aku mengingat semuanya, aku tahu aku tidak mau menjalani tahun ketujuh seperti ini.”
Aku berdiri.
Pertemuan selesai.
Sebelum pergi, aku berkata, “Mulai sekarang komunikasi soal rumah, utang, dan proses perpisahan lewat pesan atau kuasa hukum. Jangan datang tanpa janji.”
Arman tidak menjawab.
Tiga hari berikutnya relatif tenang.
Kemudian Bu Ratna datang.
Dia tidak menelepon lebih dulu.
Aku melihatnya dari kamera dan hampir membiarkannya berdiri di luar.
Namun aku akhirnya membuka pagar, bukan pintu rumah.
Dia kelihatan jauh lebih tua daripada seminggu sebelumnya.
“Boleh Ibu masuk?”
“Kita bicara di teras saja.”
Dia jelas tidak suka.
Tetapi dia duduk.
Beberapa saat kami tidak berkata apa-apa.
Lalu dia bertanya, “Kamu benar-benar mau cerai?”
“Iya.”
“Tidak bisa dimaafkan?”
Aku menarik napas.
“Bu, kalau persoalannya cuma dia selingkuh lalu mengaku dan berhenti, saya mungkin masih perlu waktu untuk menjawab. Tapi dia membangun hubungan delapan bulan, menikahi perempuan itu, membiayai sebagian hidupnya dengan kartu saya, berbohong bahwa kami sudah berpisah, menjanjikan rumah saya, dan menyembunyikan utang.”
Bu Ratna menunduk.
Aku memperhatikannya.
“Apa Ibu tahu soal Dinda?”
Dia tidak langsung menjawab.
Itu sudah cukup.
“Kapan?”
“Beberapa bulan.”
Aku menatapnya.
“Berapa bulan?”
“Arman pernah cerita ada perempuan di kantor.”
“Dan Ibu tahu dia masih tinggal dengan saya?”
“Ibu pikir dia sedang bingung.”
Aku tertawa kecil tanpa humor.
“Semua orang rupanya menganggap kebingungan Arman harus ditanggung perempuan lain.”
“Jangan begitu.”
“Bagaimana, Bu?”
“Ibu sudah menyuruh dia berpikir baik-baik.”
“Tapi Ibu datang ke rumah saya dua hari lalu dan memarahi saya karena mengganti kunci.”
Bu Ratna terdiam.
“Aku panik.”
“Kenapa?”
“Karena Arman bilang kamu menahan semua barang dan uangnya.”
Aku mengangguk pelan.
Lagi.
Cerita lain.
“Semua barangnya sudah dia ambil. Uang miliknya tidak saya ambil satu rupiah pun. Yang saya tutup hanya kartu tambahan atas nama saya.”
Bu Ratna melihat ke halaman.
“Dia bilang berbeda.”
“Saya tahu.”
Kemudian aku bertanya sesuatu yang sejak tadi kupikirkan.
“Ibu tahu soal utangnya?”
Kepalanya langsung menoleh.
“Utang apa?”
Aku tidak menjelaskan jumlah.
Ekspresi Bu Ratna terlihat terlalu tulus untuk dibuat-buat.
Saat itulah aku mengerti bahwa bahkan ibunya tidak mengetahui seluruh hidup Arman.
Aku tidak merasa kasihan kepada diri sendiri saja.
Entah berapa banyak orang yang selama bertahun-tahun menerima bagian cerita yang dibuat khusus agar mereka tetap membantu.
Bu Ratna pulang tanpa memintaku mengubah keputusan lagi.
Sebelum pergi, dia berkata pelan, “Ibu salah karena langsung menyalahkan kamu.”
Aku tidak menjawab dengan “tidak apa-apa”.
Karena memang tidak apa-apa bukan kalimat yang benar.
Aku hanya berkata, “Terima kasih sudah bilang begitu.”
Itu batas yang cukup untuk hari itu.
Minggu berikutnya, keadaan finansial mulai menjadi lebih jelas.
Melalui komunikasi tertulis, Arman mengakui utang pribadinya berasal dari dua pinjaman dan satu investasi yang gagal. Tidak ada tanda tanganku pada dokumen yang dia tunjukkan.
Advokatku tetap meminta agar semuanya diperiksa sebelum kami menyimpulkan tanggung jawab hukumnya.
Aku mengikuti saran itu.
Aku tidak menelepon pemberi pinjaman.
Aku tidak mencoba melunasi.
Aku juga tidak mengirim uang kepada Arman ketika dia menulis:
“Kalau cicilan bulan ini telat, masalah makin besar.”
Dulu, kalimat semacam itu cukup untuk membuatku membuka mobile banking.
Sekarang aku menjawab:
“Kalau ada dokumen yang menurutmu menjadi tanggung jawab bersama, kirim ke Bu Maya.”
Tidak ada dokumen yang dikirim.
Arman lalu mencoba cara lain.
“Setidaknya bantu sebagian. Kamu tahu aku lagi sulit.”
Aku membaca pesan itu sambil duduk di meja makan.
Jari-jariku sempat membuka aplikasi bank karena kebiasaan.
Aku bahkan sudah sampai di halaman utama.
Lalu kututup lagi.
Bukan karena ingin menghukumnya.
Aku hanya tidak mau lagi membayar agar Arman terhindar dari akibat keputusan yang tidak pernah melibatkanku.
Beberapa hari kemudian Dinda menghubungiku lagi.
“Aku minta maaf.”
Aku menatap pesan itu.
Dia melanjutkan.
“Aku tahu dia masih menikah. Aku tidak akan pura-pura tidak tahu. Tapi dia bilang kalian sudah hidup terpisah secara emosional dan cuma menunggu urusan resmi selesai.”
Aku membalas:
“Kamu tetap memilih percaya dan melanjutkan hubungan dengannya.”
“Iya.”
Tidak ada pembelaan.
Itu membuatku sedikit terkejut.
“Aku salah,” tulisnya.
Aku tidak mengatakan aku memaafkannya.
Aku juga tidak menghinanya.
“Aku tidak punya ruang untuk membahas hubungan kalian sekarang.”
“Aku mengerti.”
Sebelum percakapan selesai, dia mengirim satu pesan terakhir.
“Kalau kamu butuh salinan percakapan tentang rumah atau uang, aku akan kirim. Selain itu aku tidak akan mengganggumu.”
Aku menyimpan pesan tersebut.
Tidak lebih.
Hubunganku dengan Dinda tidak berubah menjadi persahabatan.
Aku tidak membutuhkannya.
Aku cuma membutuhkan kebenaran yang cukup untuk mengambil keputusan sendiri.
Sebulan kemudian proses perpisahan kami sudah berjalan.
Tidak dramatis.
Tidak ada Arman menangis di depan pagar setiap malam.
Tidak ada polisi menyeret siapa pun.
Tidak ada keluarga besar berkumpul untuk mengadili.
Justru sebagian besar prosesnya membosankan.
Dokumen.
Pertemuan.
Daftar aset.
Pertanyaan tentang kewajiban.
Pemeriksaan transaksi.
Jadwal.
Itulah yang membuat semuanya terasa lebih nyata.
Ada satu pertemuan terakhir yang paling sulit.
Arman meminta berbicara tanpa keluarga.
Kali ini aku setuju bertemu di kantor mediator yang disarankan kuasa hukum kami.
Dia duduk di seberangku.
Sudah tidak ada lagi gaya percaya diri seperti ketika datang dari Bali.
“Aku tidak minta kamu langsung berubah pikiran,” katanya.
“Aku memang tidak akan.”
Dia mengangguk.
“Aku cuma mau bilang sesuatu.”
Aku menunggu.
“Aku sudah terbiasa kamu membereskan semuanya.”
Aku tidak menyangka itu yang akan dia katakan.
Dia melanjutkan.
“Awalnya cuma hal kecil. Tagihan. Cicilan. Kalau aku telat, kamu bayar dulu. Kalau aku salah hitung, kamu yang cari jalan. Lama-lama aku…”
Dia berhenti.
“Menganggap aku akan selalu melakukannya?” tanyaku.
“Iya.”
“Termasuk setelah kamu menikahi orang lain?”
Dia menutup mata sebentar.
“Aku tahu kedengarannya gila kalau dikatakan sekarang.”
“Bukan gila.”
Aku memandangnya.
“Cuma sangat egois.”
Dia mengangguk.
Untuk pertama kalinya, dia tidak membantah.
“Aku pikir rumah itu akan jadi bagian yang bisa kita bagi.”
“Kamu tidak pernah bertanya.”
“Aku tahu.”
“Kamu tidak pernah melihat sertifikat.”
“Tidak.”
“Tapi kamu sudah menjanjikan uangnya.”
“Iya.”
Ada kelegaan aneh mendengar pengakuan sederhana tanpa kalimat tambahan.
Tanpa “tapi”.
Tanpa “karena kamu”.
Tanpa “Dinda membuatku”.
Aku tidak membutuhkan pengakuannya untuk pergi.
Namun aku membutuhkan diriku sendiri untuk melihat bahwa selama ini masalah kami bukan satu malam di Bali.
Malam itu cuma membuka semua yang sudah lama kubiarkan.
Arman selalu membuat keputusan.
Aku selalu membersihkan akibatnya.
Dia berutang.
Aku mencari cara membayar.
Dia lupa kewajiban.
Aku mengingatkan.
Dia membuat orang lain berharap.
Aku yang diminta memenuhi.
Dia bahkan mengkhianatiku dengan keyakinan bahwa setelah semuanya meledak, entah bagaimana aku tetap akan membantu mendaratkannya dengan selamat.
“Aku menyesal,” katanya.
Aku percaya dia menyesal.
Mungkin karena kehilangan rumah.
Mungkin karena utang.
Mungkin karena Dinda sekarang mengetahui kondisi keuangannya.
Mungkin juga karena akhirnya melihat apa yang sudah dia lakukan kepadaku.
Manusia bisa menyesali banyak hal sekaligus.
Namun penyesalan bukan mesin waktu.
“Aku dengar,” kataku.
“Kamu tidak bisa kasih satu kesempatan?”
Aku menggeleng.
“Tidak.”
Dia menatapku lama.
“Aku tidak membenci kamu, Man.”
Itu benar.
“Aku juga tidak berharap hidupmu hancur. Bayar utangmu. Bereskan hubunganmu dengan Dinda. Jelaskan semuanya ke ibumu tanpa membuatku jadi alasan.”
Aku menarik napas.
“Tapi aku tidak akan kembali jadi orang yang menanggung semuanya supaya kamu tidak perlu berubah.”
Dia menunduk.
Percakapan kami selesai tanpa pelukan.
Tanpa sumpah.
Tanpa adegan terakhir yang indah.
Aku keluar lebih dulu.
Sekitar tiga bulan setelah pesan dari Bali itu, rumahku jauh lebih sunyi.
Proses perceraian belum seluruhnya selesai, tetapi keputusan utama kami sudah tidak berubah.
Arman tinggal di tempat lain.
Kami berkomunikasi hanya untuk hal-hal yang perlu.
Dia mulai mencicil utangnya sendiri.
Soal transaksi kartu yang digunakan untuk kepentingan pribadinya, penyelesaiannya dicatat dalam pembahasan keuangan kami. Tidak semuanya langsung kembali kepadaku, dan aku sudah berhenti berharap setiap masalah akan selesai dalam satu hari.
Bu Ratna menghubungiku sesekali.
Hubungan kami tidak kembali seperti dulu.
Dia pernah datang membawa makanan dan meminta maaf sekali lagi karena mengetahui hubungan Arman tetapi memilih menganggapnya “fase”.
Aku menerima makanan itu.
Aku tidak memberinya kunci rumah.
Lilis tidak pernah meminta maaf.
Dia juga tidak lagi datang.
Anehnya, itu membuat hidup lebih sederhana.
Tentang Dinda, aku hanya mengetahui sedikit.
Hubungannya dengan Arman menjadi persoalan mereka sendiri. Aku tidak mencari kabar. Status dan konsekuensi dari apa yang mereka lakukan di Bali juga kutinggalkan pada proses yang semestinya, bukan pada gosip keluarga.
Aku sudah punya cukup banyak urusan dengan hidupku sendiri.
Perubahan terbesar justru terlihat pada hal-hal kecil.
Tidak ada lagi tagihan yang muncul lalu langsung kubayar tanpa bertanya.
Tidak ada lagi pesan dari Arman tengah malam meminta transfer untuk “keadaan darurat” yang ternyata akibat keputusan tiga minggu sebelumnya.
Aku mengganti cara menyimpan dokumen.
Membuat akun rumah tangga yang benar-benar terpisah.
Menghapus nama Arman dari layanan yang memang berada di bawah tanggung jawabku setelah semua prosedurnya selesai.
Awalnya rumah terasa terlalu besar.
Ada dua cangkir kopi, padahal yang dipakai cuma satu.
Ada sisi lemari kosong.
Ada kursi makan yang selama bertahun-tahun selalu ditempatinya.
Aku sempat berpikir untuk menjual rumah itu.
Bukan karena Arman pernah menjanjikannya.
Karena aku bertanya kepada diriku sendiri apakah aku masih menginginkannya.
Aku memanggil agen properti.
Kami berbicara hampir satu jam.
Setelah dia pulang, aku berdiri di halaman belakang sambil memandang pohon mangga yang kutanam sebelum menikah.
Kemudian kusadari sesuatu.
Selama beberapa bulan terakhir, semua orang sibuk membicarakan rumah itu seolah cuma angka.
Arman melihat modal.
Dinda melihat janji.
Bu Ratna melihat tempat anaknya berhak pulang.
Aku hampir ikut melihatnya sebagai simbol luka.
Padahal dulu aku membelinya karena alasan yang jauh lebih sederhana.
Aku ingin punya tempat yang tidak bergantung pada siapa pun.
Keesokan harinya aku menelepon agen tersebut.
“Saya tidak jadi menjual.”
Dia tidak bertanya kenapa.
Sore itu aku pulang kerja agak terlambat.
Aku membuka pagar, memarkir mobil, lalu berjalan ke pintu depan.
Dulu Arman selalu menyimpan satu kunci cadangan di bawah pot dekat teras meskipun berkali-kali kuminta jangan.
Pot itu masih ada.
Aku mengangkatnya.
Tanah di bawahnya kosong.
Tidak ada kunci lama.
Tidak ada akses cadangan.
Tidak ada siapa pun yang bisa masuk hanya karena merasa pernah berhak.
Aku menurunkan pot itu kembali, mengambil kunci baru dari tasku, dan membuka pintu rumahku sendiri.
Menurutmu, apakah Rina seharusnya memberi Arman kesempatan kedua setelah pengkhianatan dan kebohongan finansial selama berbulan-bulan?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
