Bagian 2
Daniel menahan map itu dengan telapak tangannya.
“Jennifer.”
Nada suaranya masih pelan, tetapi aku mengenali peringatannya.
Aku menatapnya.
“Aku tidak akan bayar.”
Staf hotel berdiri canggung di samping meja. Mama Daniel langsung mendekat.
“Ada masalah apa?”
Daniel buru-buru tersenyum lagi.

“Enggak ada, Ma. Kartuku cuma ada sedikit masalah.”
Lalu dia menoleh kepadaku.
“Jen, kita bicara nanti. Bayar dulu.”
Aku menggeleng.
“Yang pesan ballroom kamu. Yang setuju tambahan makanan kamu. Yang tambah tamu juga kamu. Selesaikan sendiri.”
Wajahnya mulai memerah.
“Bukannya tadi kamu bilang oke?”
“Aku bilang akan kuurus.”
Aku mendorong map itu satu sentimeter lagi.
“Ini caraku mengurusnya.”
Papanya menatap Daniel.
“Kartumu kenapa?”
Daniel tidak menjawab.
Aku bisa merasakan beberapa pasang mata mulai tertuju pada meja kami.
Aku tidak ingin membuat pengumuman di tengah pesta baptisan Lily. Aku juga tidak ingin menyeret bayi kami ke pertengkaran orang dewasa.
Jadi aku menoleh kepada staf hotel.
“Maaf, Pak. Pemesanan acara ini atas nama siapa?”
Ia tampak ragu, lalu menjawab sopan, “Atas nama Pak Daniel, Bu.”
“Silakan diselesaikan dengan beliau.”
Daniel menggertakkan rahang.
Setelah staf itu pergi beberapa langkah, Daniel berbisik, “Kamu sengaja mau mempermalukan aku?”
Aku hampir tertawa, tetapi tidak jadi.
“Rekening tabungan kita kosong, Dan.”
Tubuhnya langsung kaku.
Aku melanjutkan dengan suara yang cukup rendah agar hanya orang-orang di meja kami yang mendengar.
“Jangan bilang nanti kamu transfer. Transfer dari rekening mana?”
Dia tidak menjawab.
Mamaya memandang kami bergantian.
“Tabungan apa?”
Daniel segera berdiri.
“Jen, ikut aku.”
“Tidak.”
“Sekarang.”
“Aku mau tetap di sini sama Lily.”
Itulah pertama kalinya dalam bertahun-tahun aku menolak perintah Daniel tanpa menjelaskan panjang lebar.
Dia berdiri beberapa detik, lalu pergi menelepon seseorang.
Sepuluh menit kemudian, aku melihat dia kembali bersama mamanya. Entah apa yang dikatakannya, tetapi Mama Daniel akhirnya mengeluarkan kartu dari dompet.
Aku langsung berkata, “Ma, itu bukan tanggung jawab Mama.”
Ia menatapku dengan wajah tegang.
“Nanti Daniel ganti.”
Kalimat yang sama.
Aku tidak berdebat lagi.
Tagihan dibayar.
Bukan olehku.
Sisa pesta terasa berbeda.
Daniel masih berusaha berbicara dengan tamu, tetapi sekarang ia beberapa kali menatapku dari seberang ruangan. Setiap kali pandangan kami bertemu, dia segera memalingkan wajah.
Setelah tamu terakhir pergi, aku menyerahkan Lily kepada Mamaku.
“Tolong bawa Lily pulang ke rumah Mama malam ini.”
Mamaku menatap wajahku.
“Kamu yakin?”
Aku mengangguk.
Daniel yang berdiri beberapa meter dari kami langsung berjalan mendekat.
“Lily ikut kita.”
“Tidak malam ini.”
“Kamu enggak bisa memutuskan sendiri.”
Aku menatapnya.
“Lucu kamu bilang begitu.”
Dia terdiam.
Dalam perjalanan pulang, kami tidak berbicara sampai mobil masuk garasi.
Begitu pintu rumah tertutup, Daniel meletakkan kunci mobil begitu keras sampai berbunyi di meja.
“Sekarang jelaskan apa masalahmu.”
Aku membuka tas.
Map yang kubawa sejak siang kutaruh di meja makan.
Daniel melihatnya.
Wajahnya berubah.
“Apa itu?”
Aku mengeluarkan salinan mutasi rekening.
Lalu beberapa tangkapan layar percakapan.
Nama Chloe terlihat jelas di bagian atas.
Daniel tidak menyentuh kertas itu.
Dia hanya menatapnya.
“Aku tahu sejak tiga bulan lalu,” kataku.
Beberapa detik berlalu.
“Jen…”
“Aku tahu kamu menemani dia ke rumah sakit.”
Dia menutup mata sebentar.
“Aku tahu kamu kirim lebih dari Rp220 juta dalam beberapa bulan.”
“Dengar dulu.”
“Aku tahu sebagian uang terakhir dari tabungan kita juga kamu kirim ke dia tiga hari lalu.”
“Situasinya enggak sesederhana yang kamu pikir.”
Aku menatap wajahnya.
Itulah kalimat yang paling kutunggu.
Bukan permintaan maaf.
Bukan pengakuan.
Sebuah alasan.
“Baik,” kataku. “Buat sederhana untukku.”
Daniel menarik kursi dan duduk.
Dia mengusap wajah dengan kedua tangan.
“Chloe menghubungiku beberapa bulan lalu. Awalnya cuma karena ada masalah. Kami ngobrol. Aku memang salah membiarkan semuanya jadi terlalu jauh.”
“Terlalu jauh sampai dia hamil?”
Dia tidak menjawab.
“Anaknya kamu?”
Daniel menatap meja.
Lama sekali.
Kemudian dia berkata pelan, “Ya.”
Aku sudah tahu kemungkinan itu sejak membaca pesan pertama.
Tetapi mendengarnya langsung tetap berbeda.
Aku mengambil satu napas.
“Dan kamu berencana memberi tahu aku kapan?”
Daniel menatapku akhirnya.
“Setelah baptisan Lily.”
Aku tidak bergerak.
Dia melanjutkan, “Aku mau baptisan selesai dulu. Aku enggak mau keluarga tahu sebelum itu. Aku cuma butuh waktu beberapa hari lagi untuk menentukan semuanya.”
Beberapa hari.
Setelah tiga bulan kebohongan.
Setelah mengosongkan tabungan kami.
Setelah berdiri di depan seluruh keluarga dan berterima kasih kepadaku sebagai istrinya.
Aku memasukkan kembali kertas-kertas itu ke dalam map.
Daniel melihat gerakanku.
“Kamu mau ke mana?”
Aku menutup map.
“Ke rumah Mama.”
Dia berdiri.
“Kita belum selesai bicara.”
Aku menatapnya.
“Benar.”
Aku menggenggam map itu.
“Tapi malam ini kamu baru saja memberi tahu aku satu hal yang belum kuketahui.”
Daniel mengerutkan dahi.
“Apa?”
“Kamu sudah menentukan kapan hidupku boleh mengetahui kebenaran.”
Aku mengambil kunci mobil cadangan.
“Mulai sekarang, bagian itu bukan keputusanmu lagi.”
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Daniel berdiri di depan pintu sebelum aku sempat membukanya.
“Jangan pergi malam-malam begini.”
Aku menatap tangannya yang masih menempel di gagang pintu.
“Geser.”
“Jen, kita punya bayi. Kamu tidak bisa langsung kabur setiap ada masalah.”
Kata-katanya membuatku berhenti.
Bukan karena aku berubah pikiran.
Karena dia baru saja menyebut apa yang dilakukannya selama berbulan-bulan sebagai “masalah”.
Aku meletakkan tas di lantai.
“Aku tidak pergi karena kita bertengkar soal siapa yang lupa bayar listrik.”
“Aku tahu.”
“Tidak. Kalau kamu tahu, kamu tidak akan bicara seperti ini.”
Daniel menghela napas panjang.
“Aku salah. Aku tahu aku salah.”
“Bagian yang mana?”
Dia menatapku.
Aku mulai menghitung tanpa meninggikan suara.
“Tidur dengan Chloe?”
Rahangnya menegang.
“Membuatnya hamil?”
Dia memalingkan wajah.
“Berbohong kepadaku setiap hari?”
“Jen…”
“Mengirim uang keluarga kita ke dia?”
“Aku akan ganti.”
“Mengosongkan rekening yang juga kuisi?”
“Aku bilang akan kuganti.”
“Atau menggunakan sisa tabungan untuk pesta supaya semua orang melihatmu sebagai suami dan ayah yang hebat?”
Daniel tidak menjawab lagi.
Aku menunjuk pintu.
“Geser.”
Kali ini dia melakukannya.
Aku menginap di rumah orang tuaku malam itu.
Mama tidak langsung bertanya ketika aku datang. Ia hanya mengambil Lily dari gendonganku ketika bayi itu mulai rewel, lalu membiarkanku duduk di meja makan.
Beberapa menit kemudian Papa keluar dari kamar.
“Kamu sudah makan?”
Aku menggeleng.
Dia membuka kulkas.
Tidak ada nasihat besar.
Tidak ada pertanyaan mengapa aku tidak menyadari perselingkuhan lebih awal.
Mama menghangatkan sup sementara Papa menggendong Lily berjalan pelan di ruang tengah.
Aku baru bercerita setelah Lily tidur.
Aku tidak menunjukkan semua tangkapan layar.
Aku cuma mengatakan hal yang perlu mereka ketahui.
Daniel berselingkuh.
Chloe sedang mengandung anaknya.
Uang tabungan kami sudah dipakai tanpa persetujuanku untuk membiayai Chloe dan pesta.
Aku sudah berkonsultasi dengan advokat sebelum hari itu.
Mama menatap mangkuk supku yang hampir tidak kusentuh.
“Sudah berapa lama kamu tahu?”
“Tiga bulan.”
Ia mengangkat kepala cepat.
“Kamu simpan sendirian selama itu?”
“Aku perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi sebelum aku melakukan apa-apa.”
Mama memejamkan mata sebentar.
“Kenapa tidak bilang Mama?”
Aku menatap Lily yang tidur di boks kecil dekat sofa.
“Karena waktu itu aku masih hamil. Aku cuma mau Lily lahir dulu tanpa rumah ini meledak.”
Papa meletakkan tangannya di meja.
“Besok jangan putuskan apa pun hanya karena semua orang sedang marah.”
Aku mengangguk.
Lalu dia menambahkan, “Tapi jangan pulang hanya karena semua orang menyuruhmu menjaga nama keluarga.”
Itulah satu-satunya nasihat yang kubutuhkan malam itu.
Ponselku bergetar hampir tanpa henti.
Daniel menelepon sembilan kali.
Aku tidak menjawab.
Kemudian pesan-pesan masuk.
Kita harus bicara.
Aku minta maaf.
Aku panik.
Aku tahu aku salah.
Tolong jangan libatkan orang tua.
Lalu, sekitar pukul satu dini hari:
Jangan melakukan sesuatu yang tidak bisa kita perbaiki.
Aku membaca kalimat terakhir dua kali.
Ada sesuatu yang selama berbulan-bulan tidak pernah kulihat.
Daniel masih berbicara seolah dialah yang menentukan batas kerusakan.
Keesokan paginya aku menelepon advokat yang pernah kutemui.
Aku tidak meminta dia “mengurus semuanya”.
Aku hanya mengatakan keadaan sudah berubah dan aku perlu membuat langkah berikutnya dengan kepala dingin.
Kami bertemu siang itu.
Aku membawa mutasi rekening yang bisa kuakses, salinan percakapan, dokumen pernikahan, dan beberapa catatan tentang pengeluaran keluarga.
Ia melihat semuanya satu per satu.
“Yang paling penting sekarang jangan campur adukkan marah dengan tindakan keuangan,” katanya. “Penghasilan yang masuk atas namamu sendiri, amankan dengan benar. Untuk rekening bersama, simpan seluruh catatan transaksi yang bisa kamu akses secara sah. Jangan memindahkan uang yang bukan hakmu hanya karena takut Daniel melakukannya lebih dulu.”
Aku mengangguk.
“Dan soal perceraian?”
“Kita bisa membicarakan prosesnya kalau itu keputusanmu. Tapi kamu tidak perlu memutuskan seluruh hidup hari ini.”
Aku pulang dengan tiga hal yang jelas.
Pertama, gajiku bulan berikutnya tidak akan lagi masuk ke rekening yang biasa kami pakai bersama.
Kedua, semua dokumen pribadi dan dokumen Lily yang berada di rumah harus diamankan.
Ketiga, aku tidak akan menandatangani atau membayar apa pun atas permintaan Daniel tanpa memahami tujuannya.
Langkah-langkah itu tidak terasa dramatis.
Tidak ada musik kemenangan.
Aku bahkan masih menangis di toilet kantor advokat sebelum pulang.
Tetapi untuk pertama kalinya sejak menemukan percakapan Chloe, aku melakukan sesuatu yang bukan sekadar mengumpulkan bukti.
Aku mulai menentukan ruang gerakku sendiri.
Sore itu Daniel datang ke rumah orang tuaku.
Papa membukakan pintu.
“Aku mau bicara sama Jennifer.”
Papa menoleh kepadaku.
Keputusan tetap diberikan kepadaku.
Aku mengangguk.
Kami duduk di teras belakang.
Daniel tampak tidak tidur. Kemejanya kusut, dan rambutnya tidak serapi biasanya.
“Aku sudah bilang ke Mama jangan ganggu kamu.”
Aku hampir bertanya kenapa dia merasa itu sebuah kebaikan, tetapi aku menahan diri.
“Apa yang kamu mau?”
“Aku mau pulangin kalian.”
“Belum.”
“Berapa lama?”
“Aku enggak tahu.”
Daniel mengusap kedua lututnya.
“Jen, aku tidak mau kehilangan Lily.”
“Aku juga tidak mau Lily kehilangan ayahnya.”
Dia menatapku cepat, seolah kalimat itu memberinya harapan.
Aku melanjutkan.
“Tapi menjadi ayah Lily tidak otomatis berarti kamu tetap menjadi suamiku.”
Harapan itu hilang.
“Aku bisa akhiri semuanya dengan Chloe.”
Aku memperhatikannya.
“Bagaimana dengan anakmu?”
Dia diam.
Aku sengaja menunggu.
“Itu tetap tanggung jawabku,” katanya akhirnya.
“Benar.”
“Jadi aku akan menanggung kebutuhannya. Tapi aku bisa berhenti berhubungan dengan Chloe selain soal anak.”
Aku menyandarkan punggung ke kursi.
“Daniel, kamu masih belum paham.”
“Apa lagi yang harus kupahami?”
“Kamu mengatakan ‘aku bisa akhiri Chloe’ seperti perempuan itu adalah masalah utama.”
Dia menatapku bingung.
“Masalah utamanya kamu.”
Wajahnya mengeras sedikit.
Aku tidak peduli.
“Kamu yang menikah denganku. Kamu yang membuat janji kepadaku. Kamu yang membuka hubungan lain. Kamu yang memindahkan uang. Kamu yang berbohong. Kamu yang merencanakan memberi tahu aku setelah pesta, seolah aku salah satu agenda yang bisa kamu atur.”
“Aku takut.”
“Aku tahu.”
“Aku takut kamu bawa Lily pergi.”
Aku menatapnya.
“Tapi kamu tidak terlalu takut kehilangan kami sampai kamu berhenti.”
Daniel membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Aku membiarkan kalimat itu tinggal di antara kami.
Beberapa hari berikutnya membuat keadaan semakin jelas.
Mama Daniel menelepon.
Awalnya suaranya lembut.
“Jennifer, Mama tidak membenarkan apa yang Daniel lakukan.”
Aku diam.
“Tapi kalian baru punya anak. Jangan langsung ambil keputusan besar.”
“Aku belum langsung mengambil keputusan.”
“Daniel bilang kamu sudah bicara dengan pengacara.”
“Advokat.”
“Itu maksud Mama. Kalau sudah bawa orang hukum, semuanya jadi makin besar.”
Aku menatap kalender di dinding rumah orang tuaku.
“Ma, masalahnya sudah besar sebelum saya datang ke advokat.”
Ia terdiam.
Kemudian kalimat yang kutakutkan muncul.
“Keluarga kita juga harus dipikirkan. Kalau sampai semua orang tahu…”
“Semua orang?”
“Maksud Mama, keluarga besar. Teman gereja. Rekan kantor Daniel. Kamu tahu sendiri omongan orang.”
Aku menutup mata beberapa detik.
Di pesta, Daniel menghabiskan begitu banyak uang agar orang memuji keluarga kami.
Sekarang mamanya meminta aku membantu mempertahankan gambar itu.
“Ma, saya tidak akan mengumumkan apa-apa ke siapa pun. Tapi saya juga tidak akan mempertahankan pernikahan hanya supaya orang lain tidak punya bahan bicara.”
“Jangan begitu. Mama bukan menyuruh kamu pura-pura.”
“Kalau saya diminta diam demi nama keluarga sementara Daniel masih belum membereskan akibat perbuatannya, itu namanya apa?”
Ia terdiam cukup lama.
Ketika bicara lagi, suaranya lebih rendah.
“Mama cuma takut Lily nanti jadi korban.”
Aku melihat anakku tertidur di pelukan Mamaku.
“Justru karena Lily saya harus berhenti berpura-pura semuanya baik-baik saja.”
Aku mengakhiri telepon tanpa bertengkar.
Malamnya Daniel mengirim pesan.
Mama bilang kamu kasar sama dia.
Aku membaca pesan itu, kemudian meletakkan ponsel.
Dua menit kemudian masuk pesan lain.
Maaf. Abaikan. Aku seharusnya tidak bilang begitu.
Itu perubahan kecil.
Mungkin baru pertama kalinya dia menahan diri untuk tidak menjadikan ibunya perisai.
Tetapi perubahan kecil bukan alasan untuk melupakan tiga bulan kebohongan.
Seminggu setelah pesta, aku kembali ke rumah bersama Papa untuk mengambil pakaian, dokumen, laptop, dan beberapa barang Lily.
Daniel ada di sana.
Rumah tampak sama.
Foto pernikahan kami masih tergantung di ruang keluarga.
Bunga dari baptisan Lily mulai layu dalam vas.
Daniel mengikuti kami sampai ke kamar.
“Harus bawa sebanyak itu?”
Aku memasukkan pakaian kerja ke koper.
“Aku belum tahu berapa lama aku tinggal di rumah Mama.”
“Aku enggak akan mengusir kamu dari rumah sendiri.”
“Aku tahu.”
Aku membuka laci dan mengambil paspor serta beberapa dokumen.
Daniel berdiri di ambang pintu.
“Jen.”
Aku menoleh.
“Aku mau kasih kamu akses semua rekeningku.”
Aku berhenti.
“Untuk apa?”
“Supaya kamu tahu aku tidak kirim uang lagi diam-diam.”
Aku menutup laci.
“Kepercayaan bukan dibangun dengan aku berubah menjadi petugas pemeriksa rekeningmu.”
“Aku cuma mencoba transparan.”
“Kalau kamu mau transparan, mulai dari hal yang belum kamu ceritakan.”
Ia menatapku lama.
“Apa lagi yang kamu mau tahu?”
“Apakah Chloe tahu kita masih hidup bersama sebagai suami istri ketika kalian mulai lagi?”
Daniel menggeser berat badannya.
“Aku bilang hubungan kita sedang buruk.”
“Itu bukan jawabanku.”
Dia mengembuskan napas.
“Aku bilang kita sudah membicarakan pisah.”
Aku menatapnya.
“Kita tidak pernah membicarakan pisah.”
“Aku tahu.”
“Jadi kamu bukan hanya berbohong kepadaku.”
Dia menunduk.
Aku merasakan sesuatu di dalam diriku akhirnya selesai menyusun potongan-potongan yang selama ini terpisah.
Chloe mungkin tahu Daniel sudah menikah.
Itu tidak membuat pilihannya benar.
Tetapi Daniel telah menciptakan dua versi kehidupan.
Di rumah, dia berkata kami sedang menabung untuk anak pertama kami.
Kepada Chloe, dia berkata pernikahannya pada dasarnya sudah selesai.
Di depan keluarga, dia berdiri sambil mengangkat gelas dan memuji istrinya.
Tidak ada satu pun versi itu yang sepenuhnya nyata.
Hanya Daniel yang tahu semuanya.
Aku menutup koper.
“Aku perlu nomor Chloe.”
Dia langsung mengangkat kepala.
“Untuk apa?”
“Aku mau bicara dengannya.”
“Tidak perlu.”
“Menurut siapa?”
“Jen, itu cuma akan bikin semuanya makin buruk.”
Aku hampir tersenyum.
Kalimat itu lagi.
Seseorang selalu memutuskan apa yang boleh kuketahui agar keadaan tidak “semakin buruk”.
“Kasih nomornya.”
“Aku enggak mau kalian saling menyerang.”
“Aku tidak akan menyerang siapa pun.”
Daniel masih ragu.
Akhirnya ia mengambil ponsel dan menyebutkan nomor.
Aku menyimpannya.
Dua hari kemudian, setelah mempertimbangkan cukup lama, aku mengirim satu pesan.
Namaku Jennifer. Aku istri Daniel. Aku tidak menghubungimu untuk bertengkar. Aku perlu memastikan beberapa hal yang menyangkut uang keluarga dan apa yang Daniel katakan kepada kita berdua. Kalau kamu tidak ingin bicara, aku akan hormati.
Balasan baru datang hampir tiga jam kemudian.
Aku tahu kamu istrinya.
Setelah beberapa pesan singkat, kami setuju berbicara lewat telepon.
Suara Chloe terdengar lebih muda dari yang kubayangkan.
Ia tidak meminta maaf lebih dulu.
Aku juga tidak menuntutnya.
“Apa yang Daniel katakan tentang pernikahan kami?” tanyaku.
Chloe diam sebentar.
“Dia bilang kalian cuma tinggal bersama karena kehamilanmu.”
Tanganku mencengkeram tepi meja.
“Dia bilang hubungan kalian sudah selesai sebelum aku kembali menghubunginya. Katanya setelah Lily lahir, kalian akan mengatur perpisahan baik-baik.”
Aku tidak menyela.
“Dia tidak pernah bilang begitu kepadaku.”
Kali ini Chloe yang diam.
“Aku tahu kalian masih menikah,” katanya akhirnya. “Aku tidak mau pura-pura jadi orang tidak tahu apa-apa. Tapi aku percaya kalau kalian memang sudah sepakat berpisah.”
“Aku tidak menelepon untuk menentukan seberapa bersalah kamu.”
“Lalu?”
“Uang.”
Aku menyebut beberapa transfer.
Chloe mengenali sebagian besar.
Ia mengatakan Daniel memang membayar sewa tempat tinggalnya beberapa bulan, pemeriksaan kehamilan, dan biaya rumah sakit.
“Dia bilang uang itu dari penghasilannya sendiri.”
Aku menatap mutasi rekening di depanku.
“Sebagian berasal dari rekening tabungan kami.”
Chloe tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya, aku mendengar napasnya berubah.
“Dia tidak bilang itu.”
“Aku menduga begitu.”
“Jennifer…”
“Aku cuma perlu memastikan.”
Sebelum telepon selesai, Chloe mengatakan satu hal lagi.
“Aku tidak tahu pesta baptisan itu besar. Dia cuma bilang harus menyelesaikan satu acara keluarga sebelum bicara denganmu.”
Tidak ada pengakuan dramatis.
Tidak ada bukti rahasia baru.
Hanya satu kebohongan lain yang cocok dengan semua kebohongan sebelumnya.
Setelah menutup telepon, aku tidak merasa menang.
Aku duduk di ruang makan rumah Mamaku dengan tangan di atas meja.
Ada dua perempuan yang Daniel beri cerita berbeda agar keduanya tetap berada di tempat yang dia butuhkan.
Perbedaannya, aku sudah tidak mau tinggal di tempat yang disiapkannya untukku.
Sore itu aku menelepon Daniel.
“Aku sudah bicara dengan Chloe.”
Sunyi.
“Apa yang dia bilang?”
“Cukup.”
“Jen, dia pasti…”
“Jangan.”
Dia berhenti.
“Aku tidak menelepon untuk membandingkan versi kalian. Aku menelepon karena aku sudah memutuskan sesuatu.”
Suara Daniel berubah.
“Apa?”
“Aku akan mengajukan perceraian.”
Tak ada suara dari ujung sana beberapa detik.
“Jangan lakukan ini.”
“Aku sudah mempertimbangkannya sejak sebelum pesta.”
“Kita bisa konseling.”
“Mungkin kita memang butuh konseling untuk belajar menjadi orang tua Lily setelah ini.”
“Maksudmu?”
“Aku tidak bilang kamu tidak boleh menjadi ayahnya.”
“Terus pernikahan kita?”
“Aku tidak mau meneruskannya.”
Daniel menarik napas panjang.
“Karena Chloe?”
“Karena pilihanmu selama berbulan-bulan.”
“Kalau aku bisa membuktikan semuanya berhenti?”
“Anakmu dengan Chloe tidak berhenti ada.”
“Aku tahu.”
“Dan aku tidak mau kamu mengabaikan anak itu demi meyakinkanku kamu berubah.”
Dia diam lagi.
Itu mungkin kalimat yang tidak dia duga.
Aku sendiri juga tidak pernah menyangka akan mengatakannya.
Tetapi seorang bayi tidak punya tanggung jawab atas kebohongan ayahnya.
“Kalau anak itu memang anakmu, kamu bertanggung jawab,” kataku. “Aku tidak akan menjadi alasan kamu lari dari tanggung jawab itu. Tapi aku juga tidak harus tetap menjadi istrimu agar kamu belajar bertanggung jawab.”
Daniel mulai menangis.
Bukan keras.
Aku hanya mendengar suaranya pecah.
“Jen, aku masih sayang kamu.”
Aku memejamkan mata.
Mungkin sebagian dari dirinya memang merasa begitu.
Itulah hal paling menyakitkan tentang beberapa pengkhianatan.
Pelakunya tidak selalu berhenti memiliki perasaan.
Dia hanya berkali-kali memilih dirinya sendiri di atas orang yang katanya dia cintai.
“Aku percaya kamu merasa begitu,” jawabku.
“Terus kenapa enggak bisa coba sekali lagi?”
“Karena rasa sayangmu tidak menghentikanmu ketika kamu masih punya kesempatan untuk jujur.”
Aku menutup telepon beberapa menit kemudian.
Proses setelah itu tidak cepat.
Tidak ada satu tanda tangan yang langsung mengubah semuanya.
Aku dan Daniel mulai tinggal terpisah secara tetap.
Melalui advokat, kami menyusun langkah mengenai dokumen keuangan dan proses perceraian. Ada pembicaraan terpisah tentang kontribusi masing-masing pada tabungan yang sudah terpakai, kebutuhan Lily, dan bagaimana tanggung jawab Daniel sebagai ayah tetap berjalan.
Aku tidak menuntut agar dia membayar kembali seluruh uang dalam satu hari.
Itu tidak realistis.
Tetapi jumlah yang diambil dari tabungan keluarga dicatat dan menjadi bagian dari hal yang harus dibicarakan secara resmi.
Daniel juga mulai mengirim biaya rutin untuk Lily langsung melalui rekening yang disepakati untuk kebutuhan anak, bukan ke rekening bersama lama yang bisa dipakai tanpa kejelasan.
Bulan pertama terasa kacau.
Daniel beberapa kali berubah sikap.
Kadang dia meminta maaf.
Kadang dia marah karena merasa aku terlalu cepat menyerah.
Kadang dia menyalahkan tekanan kerja, ketakutannya menjadi ayah, atau pertemuan kembali dengan Chloe yang terjadi pada “waktu yang salah”.
Suatu malam dia berkata, “Semua orang bisa melakukan kesalahan.”
Aku menjawab, “Benar. Tapi tidak semua kesalahan membutuhkan tiga bulan, dua kehidupan, dan puluhan transfer bank.”
Setelah itu ia tidak menggunakan kalimat tersebut lagi.
Mamaya membutuhkan waktu lebih lama.
Ia sempat meminta pertemuan keluarga dengan alasan semuanya seharusnya diselesaikan “di dalam”.
Aku datang karena tidak ingin menghindar.
Daniel, kedua orang tuanya, dan orang tuaku duduk di ruang keluarga rumah Mama Daniel.
Tidak ada paman.
Tidak ada tante.
Tidak ada keluarga besar.
Aku sudah meminta itu sejak awal.
Mama Daniel bicara pertama.
“Mama cuma ingin tahu apakah benar-benar tidak ada jalan kembali.”
Aku melihat Daniel.
Ia tampak lebih kurus.
“Aku sudah memutuskan.”
Mamaya mengusap tangan.
“Kalau soal uang, Daniel bisa kembalikan.”
Aku mengangguk.
“Memang harus dibicarakan.”
“Kalau soal perempuan itu…”
“Bukan cuma perempuan itu, Ma.”
Ia berhenti.
Aku tidak berpidato.
Aku tidak mengeluarkan semua tangkapan layar dari tas.
Aku hanya berkata, “Selama berbulan-bulan saya menjalani satu pernikahan. Daniel menjalani dua cerita. Kalau saya tetap tinggal hanya supaya keluarga kita terlihat utuh, saya akan membantu kebohongan itu hidup lebih lama.”
Papanya, yang sejak awal diam, akhirnya bicara.
“Daniel.”
Daniel mengangkat kepala.
“Kamu sudah bilang kepada Chloe bahwa kamu dan Jennifer akan berpisah?”
Daniel mengangguk pelan.
“Padahal belum pernah dibicarakan?”
“Iya.”
Papanya menarik napas.
“Lalu di baptisan kamu pidato seperti itu?”
Daniel menunduk.
Tidak ada yang berteriak.
Justru keheningan setelah pertanyaan itu terasa lebih berat daripada pertengkaran.
Mama Daniel mulai menangis.
Aku tidak merasa puas.
Aku juga tidak merasa perlu menghiburnya.
Beberapa akibat memang tidak perlu diberi hiasan agar terasa keras.
Dua bulan kemudian, Daniel mulai menjalani jadwal rutin bertemu Lily.
Awalnya aku selalu ada.
Setelah beberapa waktu, ketika aku melihat ia benar-benar datang tepat waktu, membawa kebutuhan Lily sendiri, dan tidak menjadikan pertemuan itu sebagai alasan untuk memaksaku membicarakan pernikahan, aku mulai memberi ruang lebih banyak.
Hubungan kami berubah menjadi percakapan yang sangat praktis.
“Lily demam ringan tadi malam.”
“Obatnya apa?”
“Dokter bilang cukup dipantau.”
“Aku datang jam empat seperti biasa.”
“Ya.”
Tidak hangat.
Tidak bermusuhan.
Untuk sementara itu cukup.
Tentang Chloe, aku hanya tahu seperlunya.
Daniel tetap bertanggung jawab terhadap kehamilannya dan anak yang kemudian lahir.
Aku tidak pernah lagi menghubungi Chloe setelah percakapan kami.
Dia bukan temanku.
Aku juga tidak membutuhkan dia menjadi musuhku seumur hidup.
Orang yang berjanji kepadaku adalah Daniel.
Enam bulan setelah pesta baptisan, proses perceraian kami masih berjalan.
Beberapa persoalan keuangan belum selesai sepenuhnya.
Daniel sudah mengembalikan sebagian uang yang diambil dari tabungan kami melalui pembayaran bertahap sesuai kesepakatan sementara yang dibuat dalam proses kami.
Kami belum sepakat tentang semua hal.
Kadang masih ada percakapan yang membuatku pulang dengan kepala sakit.
Kadang aku masih terbangun malam-malam dan mengingat pidato Daniel di hotel.
“Orang yang paling pantas aku ucapkan terima kasih adalah Jennifer.”
Dulu kalimat itu membuatku marah.
Sekarang tidak terlalu.
Aku akhirnya memahami sesuatu yang sederhana.
Pesta itu memang bukan untuk Lily.
Bukan juga untukku.
Pesta itu adalah tempat Daniel berusaha mempertahankan gambaran dirinya sendiri beberapa hari lebih lama sebelum kebenaran menyusulnya.
Dan ketika tagihan Rp68,4 juta didorong ke arahku, sebenarnya ia tidak hanya memintaku membayar ballroom.
Ia memintaku sekali lagi membantu membiayai gambaran itu.
Aku hanya akhirnya berhenti.
Suatu sore setelah Daniel mengembalikan Lily, aku berdiri di depan pintu rumah kontrakan kecil yang kutempati sementara dekat kantor.
Tempat itu tidak semewah rumah kami dulu.
Mainan Lily memenuhi sebagian ruang keluarga.
Botol susu masih ada di meja.
Di dekat pintu hanya ada satu set kunci cadangan.
Dulu Daniel selalu punya akses ke mana pun aku tinggal.
Sekarang tidak.
Ia menyerahkan tas Lily kepadaku.
“Dia sudah makan. Popoknya juga baru diganti.”
“Terima kasih.”
Daniel menatap ke dalam rumah sebentar.
Kemudian kembali menatapku.
“Jen.”
“Ya?”
“Aku benar-benar minta maaf.”
Aku tahu itu bukan pertama kalinya dia mengatakannya.
Tetapi kali ini dia tidak menambahkan alasan.
Tidak ada “aku sedang stres”.
Tidak ada “kita juga sedang jauh”.
Tidak ada “Chloe datang di saat yang salah”.
Hanya permintaan maaf.
Aku mengangguk.
“Aku dengar.”
Dia seperti menunggu sesuatu lagi.
Mungkin pengampunan.
Mungkin harapan.
Aku tidak memberikannya sesuatu yang belum kumiliki.
“Selamat malam, Dan.”
“Selamat malam.”
Daniel berjalan menuju mobilnya.
Aku masuk bersama Lily.
Kemudian aku menutup pintu dan memutar kunci dari dalam.
Bukan karena aku takut dia masuk.
Bukan untuk menghukumnya.
Aku cuma sedang mengunci rumahku sendiri.
Dan untuk pertama kalinya sejak melihat nama Chloe di layar komputer itu, aku tidak perlu bertanya siapa yang memegang kuncinya.
Menurutmu, apakah Jennifer tepat memilih bercerai meski Daniel akhirnya mulai bertanggung jawab sebagai ayah bagi kedua anaknya?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
