Saudari Kandungku Dinyatakan Meninggal Saat Melahirkan, tetapi Suaminya Memaksa Kremasi Hari Itu Juga dan Gelang Bayi Berbunyi dari Kantong Jenazah

Avatar penulis
Cerita 01
19 menit baca 709 tayangan
Saudari Kandungku Dinyatakan Meninggal Saat Melahirkan, tetapi Suaminya Memaksa Kremasi Hari Itu Juga dan Gelang Bayi Berbunyi dari Kantong Jenazah
Indeks

Bagian 2

Petugas krematorium segera menarik ranjang menjauh dari pintu ruang pembakaran.

“Tidak ada yang menyentuh apa pun dulu,” katanya.

Bram maju.

“Saya suaminya. Saya minta proses dilanjutkan.”

“Tidak bisa, Pak.”

“Kertasnya sudah saya tanda tangani.”

Saudari Kandungku Dinyatakan Meninggal Saat Melahirkan, tetapi Suaminya Memaksa Kremasi Hari Itu Juga dan Gelang Bayi Berbunyi dari Kantong Jenazah

“Sekarang ada dugaan dokumen bermasalah dan ada alat rumah sakit di dalam kantong. Kami harus berhenti.”

Bram mencoba mengambil pegangan ranjang.

Aku berdiri di depannya.

“Jangan sentuh Dania.”

Untuk pertama kalinya ia tidak memandangku sebagai kakak iparnya.

Ia memandangku seperti hambatan.

“Marisa, kamu enggak tahu apa-apa.”

“Makanya kantong ini jangan masuk ke mana-mana sampai aku tahu.”

Perawat yang datang tadi memperkenalkan dirinya sebagai Siska. Tangannya juga gemetar, tetapi suaranya tetap jelas.

“Tadi pagi Bu Dania masih hidup setelah bayinya lahir.”

Mama hampir jatuh.

Aku memegang siku meja.

“Apa?”

Bram langsung berkata, “Dia bingung. Dia bukan dokter yang menangani.”

Siska menoleh kepadanya.

“Saya yang memeriksa tanda vitalnya setelah dia kembali dari ruang tindakan.”

Wajah Bram menegang.

Siska melanjutkan, “Kondisinya memang buruk. Tekanan darahnya turun. Dia perlu penanganan lanjutan. Tapi waktu saya terakhir melihat, dia masih bernapas.”

Aku menatap kantong itu.

“Buka.”

Petugas ragu.

“Bu…”

“Kalau ada kemungkinan dia masih hidup, buka.”

Siska mendekat.

“Saya perawat. Tolong.”

Petugas memanggil dua pegawai lain. Salah satu dari mereka menghubungi layanan darurat dan polisi.

Bram mundur.

Aku melihatnya memasukkan tangan ke saku.

“Jangan pergi,” kataku.

“Aku mau telepon rumah sakit.”

“Telepon di sini.”

Ia menatapku lama.

Alarm dari dalam kantong masih berbunyi.

Petugas memotong lakban tambahan, lalu membuka ritsleting beberapa sentimeter.

Siska langsung mendorong tangannya masuk dan menyentuh leher Dania.

Wajahnya berubah.

“Masih ada nadi.”

Mama menjerit.

Aku tidak ingat apa yang kukatakan setelah itu.

Aku hanya ingat ritsleting dibuka lebih jauh, dan wajah Dania terlihat.

Pucat.

Bibirnya hampir tidak berwarna.

Matanya tertutup.

Tetapi dadanya bergerak.

Sangat kecil.

Sangat lambat.

Siska berteriak meminta oksigen.

Bram membalikkan badan.

Aku mengejarnya sampai ke pintu.

“Kamu mau ke mana?”

“Ambil barang.”

“Barang apa?”

Ia tidak menjawab.

Dua petugas menahan pintu sambil mengatakan polisi sedang menuju lokasi.

Aku kembali kepada Dania.

Di bawah selimut tipis yang membungkus tubuhnya, darah masih merembes.

Itulah noda yang kulihat pada lakban.

Ambulans datang beberapa menit kemudian.

Mama ikut bersama Dania.

Aku hendak naik juga ketika Siska menarik lenganku.

“Bayinya.”

Aku menatapnya.

“Masih hidup?”

Ia mengangguk cepat.

“Waktu lahir menangis. Bayi laki-laki. Kondisinya cukup baik.”

“Lalu kenapa Bram bilang meninggal?”

“Saya enggak tahu semuanya.”

“Di mana dia?”

Siska memegang tanganku.

“Saya lihat Pak Bram membawa bayi keluar dari area perawatan setelah gelangnya dilepas. Saya protes. Dia bilang dokter sudah memberi izin.”

“Dan kamu percaya?”

“Enggak.”

Ia menelan ludah.

“Saya mengikuti dari jauh. Dia masuk ke lorong servis dekat laundry. Setelah itu saya dipanggil kembali karena Bu Dania memburuk.”

“Dania menulis catatan itu kapan?”

“Sebelum saya keluar dari kamarnya. Dia sadar sebentar. Dia minta kertas.”

Siska menatapku.

“Dia bilang suaminya baru saja mengatakan bayinya meninggal. Tapi Bu Dania mendengar tangisan bayinya sendiri beberapa menit sebelumnya.”

Dingin merayap di lenganku.

“Gelang yang berbunyi tadi?”

“Saya menemukan gelangnya di troli dekat tempat Bu Dania dipindahkan. Saya selipkan ke dalam kantong sebelum kendaraan berangkat.”

“Kenapa?”

“Karena saya takut kantong itu dibawa keluar tanpa pemeriksaan. Gelang itu masih aktif.”

Aku menatapnya.

“Kenapa kamu enggak langsung hentikan mereka?”

“Saya sudah coba. Petugas yang membawa jenazah menunjukkan formulir pemindahan dan bilang dokter sudah menyatakan meninggal. Nama dokter di formulir itu bukan dokter yang menangani Bu Dania.”

Ia mengambil napas.

“Saya pergi mencari supervisor. Waktu kembali, mobilnya sudah berangkat.”

Karena itulah ia mengejar kami.

Karena itulah gelang itu berada di kantong.

Aku langsung menghubungi rumah sakit.

Polisi sudah meminta mereka mengamankan area terkait dan tidak membuang apa pun dari ruang laundry sampai pemeriksaan dilakukan.

Kurang dari satu jam kemudian, seorang petugas meneleponku.

“Bu Marisa?”

“Iya.”

“Kami menemukan seorang bayi laki-laki hidup di ruang penyimpanan linen sementara dekat laundry.”

Kakiku lemas.

“Keadaannya?”

“Sudah dibawa ke unit neonatal. Untuk sementara stabil.”

Aku menutup mata.

Keponakanku hidup.

Adikku hidup.

Dan suami adikku tadi pagi mengatakan keduanya sudah meninggal.

Aku menoleh kepada Bram.

Ia duduk di kursi dengan dua polisi berdiri tidak jauh darinya.

“Kenapa?” tanyaku.

Bram mengusap wajah.

“Bukan seperti yang kamu pikir.”

“Dua orang hidup kamu kirim ke tempat berbeda lalu kamu bilang mereka mati.”

“Dania enggak akan selamat.”

“Kamu dokter?”

Ia diam.

Aku melangkah lebih dekat.

“Kenapa bayinya kamu sembunyikan?”

“Aku cuma mau memindahkannya.”

“Ke mana?”

Tidak ada jawaban.

Aku melihat tas Dania masih di samping kakinya.

Tas yang sejak pukul tiga pagi tidak pernah ia lepaskan.

Polisi meminta tas itu diamankan bersama barang lain karena Dania belum bisa memberikan keterangan.

Saat seorang petugas membuka bagian depan untuk mencatat isinya, sebuah amplop bank jatuh ke lantai.

Di sudut amplop tertulis nama Dania.

Di bawahnya ada angka yang membuatku berhenti bernapas sejenak.

Rp680.000.000.

Bram langsung berdiri.

“Itu bukan urusan kalian.”

Aku tidak menyentuh amplop itu.

Aku hanya menatapnya.

“Kalau bukan urusan kami, kenapa kamu bawa dokumen itu saat istrimu sedang melahirkan?”

Ia tidak menjawab.

Petugas membuka amplop itu di depan saksi.

Di dalamnya ada surat pemberitahuan tunggakan kredit usaha atas nama Dania.

Dan tanda tangan pada beberapa lembar pengajuan tampak berbeda dari tanda tangan adikku yang kukenal.

Aku memandang Bram.

Ia akhirnya berkata pelan,

“Dania sudah tahu soal itu.”

Aku langsung teringat kalimat terakhir adikku sebelum pintu ruang bersalin tertutup.

Jangan percaya dia.

Dan untuk pertama kalinya aku mengerti bahwa pagi itu mungkin bukan awal dari masalah mereka.

Mungkin pagi itu adalah saat Bram mencoba memastikan Dania tidak pernah sempat menceritakan apa yang sudah ia ketahui.

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Aku tidak ikut ketika polisi membawa Bram untuk dimintai keterangan.

Aku juga tidak mengejarnya dengan pertanyaan.

Saat itu hanya ada dua orang yang penting bagiku.

Dania dan bayi laki-lakinya.

Aku tiba kembali di rumah sakit menjelang sore.

Mama duduk di lorong ICU dengan pakaian yang sama sejak dini hari. Rambutnya berantakan. Kedua tangannya memegang gelas air yang bahkan belum disentuh.

Begitu melihatku, pertanyaan pertama Mama bukan tentang Bram.

“Bayinya?”

“Hidup.”

Bibir Mama bergerak tetapi tidak ada suara.

Aku duduk di sebelahnya.

“Bayi laki-laki. Sekarang dirawat.”

Air mata Mama akhirnya jatuh.

“Dania?”

“Masih ditangani.”

Kami duduk lama.

Aku tidak menceritakan soal amplop bank.

Belum.

Mama sudah cukup menerima satu kehidupan penuh dalam setengah hari.

Menjelang malam, dokter keluar.

Operasi tambahan berhasil menghentikan pendarahan Dania. Ia kehilangan banyak darah dan kondisinya masih harus diawasi ketat, tetapi dokter mengatakan kalimat yang sejak pagi ingin kudengar.

“Ada respons yang baik.”

Aku mengangguk berkali-kali.

“Dia akan sadar?”

“Kami berharap begitu. Tapi jangan dipaksa. Tubuhnya mengalami kondisi berat.”

Aku bertanya satu hal lagi.

“Dok, tadi pagi… apa Dania pernah dinyatakan meninggal?”

Dokter terdiam.

“Bukan oleh tim saya.”

Jawaban itu cukup.

Rumah sakit langsung melakukan pemeriksaan internal. Polisi mengambil salinan dokumen yang berkaitan dengan pemindahan Dania. Pihak manajemen juga mengakui ada prosedur yang dilanggar serius.

Tidak ada satu orang pun yang seharusnya bisa membawa pasien dari area perawatan, menyebutnya jenazah, lalu mengirimnya ke krematorium hanya berdasarkan omongan keluarga.

Namun itulah yang hampir terjadi.

Dua hari kemudian, Dania mulai sadar.

Aku berada di samping ranjang ketika jarinya bergerak.

Matanya membuka sedikit.

“Mar…”

Aku langsung berdiri.

“Jangan banyak ngomong.”

Ia melihat sekeliling.

Kemudian tangannya mencari sesuatu di atas selimut.

Aku tahu apa yang ingin ia tanyakan.

“Bayimu hidup.”

Matanya langsung terbuka lebih lebar.

“Laki-laki. Aman.”

Air mata mengalir dari sisi matanya.

Ia berusaha bicara.

“Bram…”

“Dia enggak di sini.”

Dania menutup mata lagi.

Aku menunggu sampai perawat mengatakan ia cukup kuat untuk berbicara beberapa menit.

Sore itu aku duduk di sampingnya.

Mama berada di ujung ranjang.

“Cerita pelan-pelan,” kataku.

Dania memandang Mama lebih dulu.

“Maaf.”

Mama langsung menggenggam tangannya.

“Kamu enggak perlu minta maaf.”

Dania menarik napas pendek.

“Aku sudah mau cerita dari dua bulan lalu.”

Tentang Bram.

Tentang utang.

Tentang sesuatu yang selama ini ia sembunyikan karena malu.

Dania memiliki usaha distribusi perlengkapan salon kecil yang dirintisnya sebelum menikah. Bukan perusahaan besar. Ia punya satu ruko sewaan, empat pegawai, dan beberapa pelanggan tetap di Surabaya serta Sidoarjo.

Bram pernah membantu bagian pemasaran.

Karena mereka suami istri, Dania memberinya akses ke beberapa dokumen usaha.

Itulah kesalahan yang selama berbulan-bulan ia sesali.

Sekitar tiga bulan sebelum melahirkan, Dania mulai menerima telepon mengenai pembayaran cicilan kredit yang tidak ia kenal.

Awalnya Bram mengatakan itu hanya kesalahan administrasi.

Kemudian ia mengaku pernah mengajukan pembiayaan untuk memperbesar usaha.

“Dia bilang semua demi aku dan bayi,” ujar Dania.

“Rp680 juta?” tanyaku.

Dania mengangguk.

“Aku enggak pernah setuju.”

Mama menatapku.

Aku menjelaskan singkat tentang amplop yang ditemukan polisi.

Dania menutup mata.

“Aku sudah minta salinan dokumen dari lembaga pembiayaan lewat jalur resmi. Ada tanda tanganku di beberapa formulir.”

“Bukan kamu yang tanda tangan?”

“Bukan.”

Bram rupanya menggunakan dokumen usaha Dania untuk mendapatkan pembiayaan yang kemudian sebagian besar tidak masuk ke usaha Dania sama sekali.

Polisi masih memeriksa aliran dananya.

Dania sendiri belum tahu semuanya.

Yang ia tahu, beberapa bulan sebelumnya Bram mulai punya masalah keuangan yang tidak pernah ia jelaskan.

Ada cicilan kendaraan yang menunggak.

Ada utang pribadi.

Ada transfer ke rekening yang tidak ia kenal.

Dan setiap kali Dania bertanya, Bram menjawab hal yang sama.

“Nanti aku bereskan.”

Ketika kehamilan Dania masuk bulan kedelapan, ia berhenti menerima jawaban itu.

“Aku bilang setelah melahirkan aku akan tinggal dulu sama Mama.”

Mama menangis lagi.

Dania melanjutkan.

“Aku mau pisahkan semua urusan usaha. Aku juga bilang kalau dokumen itu benar-benar dipalsukan, aku akan lapor.”

Aku mulai memahami perubahan Bram beberapa minggu terakhir.

Ia lebih sering menelepon Dania.

Lebih sering datang menjemput.

Tidak pernah membiarkannya pergi lama sendirian.

Kami mengira ia sedang menjadi suami yang lebih perhatian menjelang kelahiran anak pertama mereka.

Ternyata Dania merasa diawasi.

“Kenapa kamu enggak bilang ke aku?”

Dania menatapku.

“Karena aku malu.”

“Malu apa?”

“Aku selalu bilang ke orang-orang rumah tanggaku baik-baik saja.”

Aku tidak menjawab.

Dania menelan ludah.

“Setiap aku mau cerita, aku merasa bodoh. Aku tanda tangan banyak hal selama menikah karena percaya sama dia. Aku kasih dia akses ke dokumen usaha. Aku bahkan pernah kasih PIN ponsel.”

Aku mengambil tangannya.

“Sekarang jangan pikirkan itu dulu.”

Tetapi ia menggeleng.

“Aku harus pikirkan. Kalau aku enggak cerita sekarang, nanti aku bisa mundur lagi.”

Ia kemudian menceritakan apa yang terjadi setelah ia masuk ruang tindakan.

Bayinya lahir dengan selamat.

Dania mendengar tangisannya.

Ia bahkan sempat melihat wajah kecil itu beberapa detik.

Kemudian terjadi pendarahan.

Orang-orang di ruangan bergerak cepat.

Dania dibawa menjalani tindakan tambahan.

Ketika sadar sebentar, Bram berada di dekat ranjangnya.

Ia mengatakan bayi mereka meninggal.

“Aku tahu dia bohong,” kata Dania.

“Karena kamu dengar bayinya menangis?”

“Bukan cuma itu.”

Sebelum kondisinya memburuk, seorang perawat sempat mengatakan bayi akan dibawa untuk pemeriksaan rutin dan keadaannya cukup stabil.

Perawat itu adalah Siska.

Dania meminta melihat bayinya.

Bram justru menyuruhnya istirahat.

Lalu ia menyodorkan beberapa lembar kertas.

“Aku enggak bisa baca semuanya. Pandanganku kabur.”

“Kertas apa?”

“Aku cuma lihat bagian tanda tangan.”

Ia menolak.

Bram marah.

Tidak berteriak.

Justru itu yang membuat Dania takut.

“Dia bilang, ‘Kenapa kamu selalu bikin semuanya sulit?’”

Dania kemudian mendengar Bram menelepon seseorang dari dekat pintu.

Ia hanya menangkap beberapa potongan kalimat.

Hari ini.

Jangan sampai keluarganya ikut campur.

Setelah itu Bram kembali ke ranjang dan mengatakan kondisi Dania mungkin tidak tertolong.

“Bayangkan,” kata Dania pelan, “aku masih hidup, dan suamiku sendiri ngomong soal kematianku seperti urusan yang sudah selesai.”

Tanganku mengepal.

“Terus?”

“Siska masuk.”

Saat Bram keluar sebentar, Dania meminta kertas.

Ia menulis catatan secepat mungkin.

Kenapa ia menyebut ruang linen kotor?

Karena sebelum itu ia sempat melihat Bram keluar dari area bayi membawa bungkusan kecil di balik kain.

Siska juga melihatnya.

Lorong yang dimasuki Bram adalah lorong menuju layanan laundry.

Dania tidak tahu apakah bayinya benar-benar ada di sana.

Ia hanya tidak punya petunjuk lain.

“Setelah itu aku enggak ingat.”

Aku menatapnya.

“Dania, ada kemungkinan kamu dibawa keluar rumah sakit masih hidup.”

Ia memejamkan mata.

“Aku tahu.”

“Polisi akan minta keterangan.”

“Aku akan kasih.”

“Kalau kamu belum siap…”

“Aku siap.”

Suara Dania lemah.

Tetapi kalimatnya tidak.

“Selama ini aku selalu menunggu dia membereskan masalah yang dia buat. Sekarang aku enggak mau menunggu lagi.”

Hari berikutnya, untuk pertama kalinya Dania melihat putranya.

Bayi itu dibawa ke kamarnya sebentar setelah dokter memastikan keadaan keduanya memungkinkan.

Ia kecil sekali di pelukan Dania.

Rambutnya hitam dan tebal.

Tangannya mengepal.

Dania menangis tanpa suara.

“Aku mau namain dia Raka,” katanya.

“Itu nama yang kemarin kamu bilang?”

Ia mengangguk.

Bram dan Dania memang pernah menyebut beberapa pilihan nama. Raka adalah satu-satunya yang selalu kembali mereka bicarakan.

Aku tidak tahu bagaimana perasaan Dania ketika menyadari nama yang dulu ia pilih bersama suaminya sekarang melekat pada seorang anak yang hampir disembunyikan darinya.

Aku tidak bertanya.

Ada luka yang tidak perlu langsung diberi nama.

Tiga hari setelah Dania sadar, seorang penyidik datang bersama petugas perempuan untuk mengambil keterangan awal.

Tidak ada adegan dramatis.

Tidak ada polisi yang berdiri lalu berkata kasus selesai.

Mereka bertanya.

Mencatat.

Meminta waktu.

Memeriksa dokumen.

Pihak rumah sakit menyerahkan rekaman akses pintu, catatan perawatan, dokumen perpindahan pasien, dan daftar petugas yang bekerja pada pagi itu.

Aku awalnya berharap semuanya akan langsung jelas.

Ternyata dunia nyata tidak bekerja begitu.

Setiap jawaban membuka pertanyaan lain.

Formulir pemindahan yang dipakai untuk membawa Dania memang bermasalah.

Tanda tangan dokter perlu diperiksa.

Alur pemindahan tidak sesuai catatan tim medis.

Seorang petugas transportasi kontrak mengakui menerima instruksi bahwa pasien sudah meninggal dan harus segera dibawa keluar.

Polisi masih memeriksa siapa yang memberikan instruksi dan apakah ada uang yang berpindah tangan.

Yang paling penting, tidak pernah ada pernyataan kematian yang sah dari dokter yang menangani Dania.

Bram juga tidak dibebaskan begitu saja setelah dimintai keterangan.

Tetapi aku sengaja tidak menanyakan setiap detail prosesnya.

Aku belajar sesuatu dalam beberapa hari itu.

Keadilan tidak harus berarti aku mengetahui setiap menit dari hidup Bram.

Tugas utamaku adalah membantu Dania kembali memegang hidupnya sendiri.

Seminggu setelah melahirkan, kondisi Dania cukup stabil untuk dipindahkan dari ruang perawatan intensif.

Bram meminta bertemu dengannya.

Permintaannya datang melalui pengacaranya.

Dania menolak.

Dua hari kemudian ia berubah pikiran.

“Aku mau dengar dia ngomong sendiri,” katanya.

Aku langsung menatapnya.

“Kamu yakin?”

“Bukan sendirian.”

Pertemuan dilakukan di ruang konsultasi rumah sakit dengan pendamping. Aku dan seorang petugas berada di dekat pintu.

Bram masuk tanpa tas, tanpa ponsel di tangan, tanpa sikap percaya diri yang biasanya memenuhi ruangan lebih dulu daripada tubuhnya.

Ia tampak lebih tua.

Dania duduk di kursi roda.

Raka sedang bersama Mama.

Bram memandang istrinya lama.

“Dan.”

Dania tidak menjawab.

“Aku minta maaf.”

“Untuk yang mana?”

Bram terdiam.

“Semua.”

“Itu bukan jawaban.”

Ia mengusap wajah.

“Aku panik.”

“Karena aku hampir meninggal?”

“Karena semuanya sudah kacau.”

“Utangmu?”

Bram menunduk.

“Sebagian.”

“Dokumen usahaku?”

“Aku pikir bisa kuganti sebelum kamu tahu.”

“Dengan uang dari mana?”

Tidak ada jawaban.

Dania menatapnya.

“Kenapa kamu bilang Raka meninggal?”

Bram membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

“Aku takut kamu bakal langsung melaporkan semuanya kalau sembuh.”

“Jadi bayiku kamu sembunyikan?”

“Aku enggak mau menyakiti dia.”

“Dia ditemukan di ruang linen.”

“Aku cuma butuh waktu.”

“Untuk apa?”

“Pergi.”

Ruangan menjadi sunyi.

Dania bertanya lagi.

“Pergi ke mana?”

“Ke luar kota.”

“Bawa anakku?”

“Anak kita.”

Dania memegang sandaran kursi.

“Aku masih hidup waktu kamu mencoba membawanya.”

“Aku pikir kondisimu…”

“Jangan.”

Suara Dania tidak keras.

Tetapi Bram berhenti.

“Jangan pernah selesaikan kalimat itu seolah-olah dokter yang bilang aku pasti mati.”

Bram menatap lantai.

Dania melanjutkan.

“Kamu bilang ke Mama aku sudah meninggal.”

Bram tidak membantah.

“Kamu bilang bayiku meninggal.”

Diam.

“Kamu membawa aku keluar dari rumah sakit.”

Diam lagi.

“Kamu bawa aku ke krematorium.”

“Dan…”

“Aku belum selesai.”

Itulah pertama kalinya dalam lima tahun pernikahan mereka aku melihat Bram benar-benar diam ketika Dania bicara.

“Kamu hampir membakar tubuhku ketika aku masih bernapas.”

Bram mulai menangis.

Aku pernah membayangkan kalau saat seperti itu datang, aku akan merasa puas.

Ternyata tidak.

Tangisan Bram tidak mengembalikan apa pun.

Tidak menghapus satu lembar dokumen.

Tidak menghapus ketakutan Dania.

Tidak membuat ruang linen tempat Raka ditemukan menjadi kurang dingin.

Bram mengusap matanya.

“Aku enggak berniat sampai sejauh itu.”

Dania menatapnya lama.

“Masalahnya bukan cuma seberapa jauh niatmu.”

Ia menarik napas.

“Masalahnya, setiap kali ada kesempatan untuk berhenti, kamu terus maju.”

Bram membeku.

“Kamu bisa mengaku soal utang.”

Tidak.

“Kamu bisa berhenti pakai dokumen usahaku.”

Tidak.

“Kamu bisa mengembalikan bayi itu.”

Tidak.

“Kamu bisa panggil dokter saat aku memburuk.”

Tidak.

“Kamu bisa menghentikan mobil yang membawaku.”

Tidak.

“Kamu bisa buka kantong itu di krematorium ketika gelang berbunyi.”

Tidak.

“Kamu malah bilang, ‘Masukkan saja.’”

Bram menutup wajahnya.

Dania tidak menangis.

“Aku enggak tahu nanti polisi akan menetapkan apa. Aku juga enggak tahu proses pengadilan akan selama apa.”

Ia memandang suaminya.

“Tapi untuk pernikahan kita, aku sudah tahu.”

Bram langsung mengangkat kepala.

“Dan, jangan ambil keputusan sekarang.”

“Aku sudah mengambil keputusan sebelum hari ini.”

“Kamu baru melahirkan. Kamu trauma.”

“Benar.”

“Berarti jangan…”

“Justru karena aku hampir kehilangan hidupku, aku enggak mau menyerahkan keputusan ini lagi ke kamu.”

Bram bergeser maju.

Petugas meminta ia tetap di tempat.

“Aku bisa berubah.”

Dania mengangguk kecil.

“Mungkin.”

Bram tampak terkejut.

“Kamu percaya?”

“Aku percaya orang bisa berubah.”

Kemudian Dania menatapnya lurus.

“Tapi aku enggak harus tetap jadi istrimu untuk menunggu itu terjadi.”

Bram menangis lagi.

Pertemuan selesai beberapa menit kemudian.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada keluarga besar bertepuk tangan.

Dania hanya meminta kembali ke kamar.

Begitu pintu tertutup, tangannya mulai gemetar.

Aku jongkok di depannya.

“Kamu mau balik?”

Ia menggeleng.

“Enggak.”

“Kamu takut?”

“Iya.”

Aku menggenggam tangannya.

“Bagus. Berarti kamu masih manusia.”

Ia tertawa kecil untuk pertama kalinya sejak masuk rumah sakit.

Lalu menangis.

Dua minggu kemudian, Dania pulang ke rumah Mama bersama Raka.

Rumah itu tidak besar.

Kamarnya hanya dua.

Aku membawa kasur tambahan ke ruang tengah selama beberapa malam pertama karena Dania masih sulit bangun sendiri.

Mama tidur dengan pintu terbuka supaya bisa mendengar kalau Raka menangis.

Aku membantu mengurus usaha Dania sementara ia memulihkan diri.

Salah satu hal pertama yang ia lakukan bukan mengajukan cerai.

Ia mengganti semua akses.

PIN.

Password mobile banking.

Email usaha.

Akses penyimpanan dokumen.

Ia menghubungi bank dan lembaga pembiayaan melalui jalur resmi, menjelaskan bahwa ada transaksi dan dokumen yang sedang disengketakan.

Ia juga membuat daftar satu per satu mengenai kewajiban yang memang benar miliknya dan mana yang harus diperiksa.

“Capek?” tanyaku suatu malam.

Dania duduk di meja makan dengan laptop terbuka.

Raka tidur di gendongan kain di dadanya.

“Banget.”

“Tutup dulu.”

“Sebentar.”

“Kamu enggak harus selesaikan semuanya malam ini.”

Ia memandang layar.

“Aku tahu.”

Kemudian ia menekan tombol simpan dan menutup laptop.

Itu perubahan kecil.

Dulu Dania selalu merasa semua masalah harus diselesaikan saat itu juga supaya tidak membuat orang lain kecewa.

Sekarang ia belajar menunda sesuatu ketika tubuhnya sudah lelah.

Proses pemisahan dengan Bram berjalan perlahan.

Dania mengajukan gugatan perceraian setelah kondisinya cukup pulih untuk bertemu kuasa hukumnya.

Soal utang usaha belum selesai.

Beberapa kewajiban masih harus diperiksa satu per satu karena ada dokumen yang menggunakan nama dan data Dania.

Tidak semua masalah keuangan hilang hanya karena ia menjadi korban.

Ia tetap harus memberikan dokumen.

Datang ke pertemuan.

Menjawab surat.

Membuktikan transaksi.

Menyimpan salinan.

Ada hari ketika ia marah karena merasa harus bekerja keras membersihkan sesuatu yang tidak dibuatnya.

Tetapi kali ini ia tidak membersihkannya sendirian.

Bram tidak lagi punya akses ke usaha.

Pegawai Dania mendapat instruksi bahwa semua keputusan pembayaran harus melalui Dania atau staf administrasinya.

Tidak ada lagi “Pak Bram bilang boleh” sebagai alasan.

Keluarga Bram sempat menghubungi Mama.

Ibunya meminta supaya kami tidak “memperbesar masalah”.

Mama memberikan ponselnya kepadaku.

Aku tidak membalas.

Dania sendiri akhirnya mengirim satu pesan singkat beberapa hari kemudian.

Saya tidak akan membahas proses hukum lewat keluarga. Kalau ada urusan tentang Raka atau dokumen, gunakan jalur yang sudah disepakati.

Tidak ada ceramah.

Tidak ada hinaan.

Setelah itu ia membisukan grup keluarga Bram.

Dua bulan berlalu.

Penyelidikan masih berjalan.

Dania beberapa kali diminta memberikan keterangan tambahan.

Pihak rumah sakit juga menjatuhkan sanksi internal terhadap beberapa pelanggaran prosedur sambil proses hukum berlanjut.

Siska datang menjenguk sekali.

Ia membawa satu baju bayi kecil.

Dania memeluknya lama.

“Aku enggak tahu harus bilang apa,” katanya.

Siska menggeleng.

“Enggak usah bilang apa-apa.”

Dania menunjuk Raka yang sedang tidur.

“Kalau waktu itu kamu enggak masukkan gelang itu…”

Siska menatap bayi itu.

“Saya juga sering kepikiran.”

Ia menarik napas.

“Sebenarnya saya enggak yakin alarmnya akan masih aktif setelah keluar area. Saya cuma tahu kalau saya biarkan kantong itu pergi tanpa apa pun yang bisa menarik perhatian, saya mungkin enggak keburu mengejar.”

Dania memegang tangannya.

“Berarti kamu bikin orang berhenti.”

Siska mengangguk.

“Untung mereka berhenti.”

Itu saja.

Tidak ada kalimat besar tentang takdir.

Kadang hidup seseorang memang berubah karena satu orang memilih untuk tidak mengabaikan sesuatu yang terasa salah.

Enam bulan setelah kelahiran Raka, Dania kembali bekerja tiga hari seminggu.

Usahanya belum sepenuhnya pulih.

Beberapa pelanggan pindah selama ia tidak aktif.

Ada cicilan yang masih diperdebatkan.

Ada biaya pengacara.

Ada malam ketika Raka demam ringan dan Dania panik sampai meneleponku tiga kali.

Ada juga pagi ketika ia tiba-tiba diam setelah mencium bau cairan pembersih yang mengingatkannya pada krematorium.

Pemulihan tidak berjalan lurus.

Tetapi hidupnya sudah kembali menjadi miliknya.

Suatu sore aku datang ke rumah Mama.

Dania sedang duduk di lantai ruang tengah menyortir dokumen.

Raka merangkak di dekat kakinya.

Di sebelah Dania ada satu kotak kecil.

“Apa itu?”

“Barang dari rumah lama.”

Ia mengeluarkan kunci.

Kunci rumah yang dulu ditempatinya bersama Bram.

Rumah itu masih termasuk urusan yang harus diselesaikan dalam proses perpisahan mereka.

Dania memandangi kunci tersebut beberapa detik.

“Aku dulu selalu taruh cadangan di pot depan.”

“Aku ingat.”

“Bram juga tahu.”

Ia mengambil satu amplop kecil, memasukkan kunci itu, lalu menuliskan nama aset dan tanggal di bagian luar.

“Besok aku serahkan ke pengacara bersama inventaris.”

Aku tersenyum.

“Enggak mau simpan?”

Dania menggeleng.

“Enggak ada gunanya pegang kunci kalau aku enggak mau masuk lagi.”

Raka meraih celana ibunya dan berusaha berdiri.

Dania langsung meletakkan amplop itu di meja lalu mengangkat anaknya.

Raka tertawa.

Dania mencium rambutnya.

Aku melihat kunci rumah itu tetap berada di dalam amplop, jauh dari tangannya.

Enam bulan sebelumnya, Bram hampir mengambil keputusan terakhir atas tubuh Dania, bayinya, uangnya, dan bahkan cara keluarganya mengucapkan selamat tinggal.

Sekarang keputusan-keputusan kecil itu kembali berada di tangan adikku.

Dan sore itu, ia tidak mengatakan apa-apa tentang menjadi kuat.

Ia hanya mengunci kotak dokumen miliknya sendiri, memasukkan kuncinya ke saku, lalu membawa Raka ke meja makan ketika Mama memanggil kami untuk makan malam.

Menurutmu, setelah apa yang dilakukan Bram, apakah keputusan Dania mengakhiri pernikahan adalah batas yang tepat atau masih ada ruang untuk kesempatan kedua?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.