Ibu Mertuaku Membius Supku dan Membawa Pria Asing ke Kamar Kami, Lalu Memanggil Suamiku untuk Menangkapku

Avatar penulis
Cerita 01
20 menit baca 758 tayangan
Ibu Mertuaku Membius Supku dan Membawa Pria Asing ke Kamar Kami, Lalu Memanggil Suamiku untuk Menangkapku
Indeks

Bagian 2

Adrian tidak langsung menjawab.

Wajahnya berubah dari marah menjadi bingung, lalu seperti seseorang yang baru menyadari bahwa lantai di bawah kakinya tidak lagi kokoh.

Bu Evelyn yang pertama bereaksi.

“Dia bohong!”

Aku turun dari ranjang.

“Jangan sentuh mangkuk itu.”

Bu Evelyn maju satu langkah.

“Apa maksudmu jangan disentuh? Kamu sekarang mau menuduh Mama meracuni kamu?”

“Aku tidak bilang racun.”

Ibu Mertuaku Membius Supku dan Membawa Pria Asing ke Kamar Kami, Lalu Memanggil Suamiku untuk Menangkapku

“Dengar sendiri!” katanya kepada orang-orang di pintu. “Dia sedang cari alasan karena ketahuan.”

Pria asing itu mundur ke dinding.

Aku menatapnya.

“Namamu siapa?”

Ia tidak menjawab.

“Jangan bicara dengan dia!” bentak Bu Evelyn.

Kalimat itu justru membuat beberapa orang saling pandang.

Aku berjalan ke cermin, mengambil kamera kecil dari belakangnya, lalu menunjukkan kartu memorinya.

“Tiga minggu terakhir kamera ini merekam kamar kami.”

Adrian memandang benda itu.

“Kamu pasang kamera?”

“Karena waktu aku bilang ada orang memindahkan barangku dan mengirim pesan dari ponselku, kamu bilang aku terlalu curiga.”

Rahang Adrian mengeras.

Aku mengambil laptop dari meja kerja kecil di sudut kamar.

Tanganku gemetar saat memasukkan kartu memori.

Bukan karena takut rekamannya hilang.

Aku tahu kamera bekerja.

Aku takut pada apa yang akan terjadi setelah semua orang melihatnya.

Selama beberapa menit tidak ada yang bicara.

Kemudian rekaman muncul.

Aku mempercepat bagian ketika kamar kosong.

Kami melihat aku masuk dan berpura-pura tidur.

Lalu Bu Evelyn membuka pintu.

Suara dari kamera cukup jelas.

“Sudah benar-benar tidur.”

Adrian tidak bergerak.

Kemudian pria itu masuk.

“Kalau dia bangun bagaimana?”

“Tidak akan. Obatnya cukup.”

Adik Adrian, Clara, menutup mulut dengan tangan.

Om Thomas yang tadi berdiri paling depan mundur sedikit.

Di layar, Bu Evelyn menyuruh pria itu duduk.

Lalu terdengar pertanyaan tentang uang.

Dan jawaban Bu Evelyn:

“Setelah dia keluar dari rumah ini.”

Aku menghentikan video.

Tidak ada yang memandangku sekarang.

Semua mata mengarah kepada Bu Evelyn.

Adrian berbicara pelan.

“Ma?”

Bu Evelyn menggeleng.

“Bukan begitu.”

“Aku baru dengar sendiri.”

“Dia menjebak Mama!”

Aku hampir tertawa, tetapi tidak ada yang lucu.

“Bagaimana aku menjebak Mama untuk masuk ke kamar sambil membawa pria yang tidak kukenal?”

Bu Evelyn menatap orang-orang di sekelilingnya seperti sedang mencari satu orang yang masih mau berdiri di pihaknya.

Ia menemukan Clara.

“Mama cuma mau membuktikan siapa sebenarnya perempuan ini.”

Clara mengerutkan kening.

“Tapi videonya menunjukkan Mama yang mengatur semuanya.”

“Karena kalian tidak pernah dengar Mama!”

Suara Bu Evelyn naik.

“Sejak Adrian menikah, dia berubah. Jarang pulang. Kalau Mama minta bantuan selalu tanya Natalia dulu. Apa-apa harus bicara dengan istrinya. Kalian pikir itu normal?”

Aku baru memahami sesuatu saat mendengar itu.

Selama ini aku selalu mencari alasan besar.

Uang.

Rumah.

Dendam tertentu.

Ternyata tidak ada.

Bu Evelyn hanya tidak tahan kehilangan kendali atas anak laki-lakinya.

Adrian mengusap wajah.

“Jadi karena aku bicara dengan istriku sebelum mengambil keputusan, Mama melakukan ini?”

Bu Evelyn mulai menangis lagi.

“Mama takut kehilangan kamu.”

Aku menatapnya.

“Karena takut kehilangan anak, Mama mencoba menghancurkan istrinya?”

Pria asing itu tiba-tiba berkata, “Saya mau pulang.”

Aku berbalik.

“Belum.”

“Saya tidak tahu akan ada obat.”

Bu Evelyn membentak, “Diam!”

Ia terlihat semakin panik.

Pria itu mengeluarkan ponsel.

“Bu, saya cuma disuruh datang, duduk di kamar, lalu pura-pura kabur. Saya tidak mau terlibat kalau ternyata ada obat.”

Ia membuka WhatsApp.

“Saya punya chat-nya.”

Bu Evelyn bergerak hendak merebut ponsel itu, tetapi Adrian berdiri di antara mereka.

“Jangan.”

Satu kata itu membuat ibunya berhenti.

Pria tersebut menunjukkan percakapannya kepadaku.

Tidak panjang.

Bu Evelyn menawarkan Rp4 juta untuk datang malam itu dan tambahan Rp6 juta jika rencananya berhasil.

Ia memberinya alamat.

Jam kedatangan.

Instruksi untuk menunggu di ujung jalan sampai menerima pesan.

Aku mengambil foto percakapan itu dengan ponselku sendiri.

“Kirim juga ke nomorku.”

Pria itu mengangguk.

Bu Evelyn menatap Adrian.

“Kamu membiarkan istrimu mempermalukan Mama di depan semua orang?”

Adrian menoleh kepadanya.

“Mama sendiri yang membawa semua orang ke sini.”

Tidak ada jawaban.

Aku menatap dua tetangga yang berdiri canggung di belakang.

“Maaf kalian harus melihat ini.”

Salah satunya, Pak Anton, menggeleng.

“Kami dipanggil karena katanya ada keadaan darurat.”

Aku mengangguk.

Aku lalu mengambil ponsel dan menghubungi polisi.

Bu Evelyn langsung berhenti menangis.

“Natalia.”

Aku terus berbicara dengan petugas di telepon.

“Natalia, cukup.”

Aku menatapnya sambil masih memegang ponsel.

“Mama hampir membuat suamiku percaya aku berselingkuh dengan pria yang Mama bayar. Supku juga diberi sesuatu. Aku tidak tahu obat apa atau berapa banyak.”

“Ini urusan keluarga.”

“Bukan lagi.”

Setelah telepon ditutup, satu per satu orang mulai keluar dari kamar.

Tidak ada yang tahu harus berkata apa.

Adrian tetap berdiri.

Ketika hanya kami, Clara, Bu Evelyn, dan pria asing itu yang tersisa, Adrian menatapku.

“Aku benar-benar tidak tahu.”

“Aku tahu.”

Jawabanku membuatnya tampak sedikit lega.

Lalu aku melanjutkan.

“Tapi aku sudah berkali-kali bilang sesuatu tidak beres.”

Ia kembali diam.

Aku teringat dua pesan aneh dari ponselku.

“Adrian, waktu pesan ke mantan rekan kerjaku terkirim dari ponselku, kamu sebenarnya sudah membacanya, kan?”

Ia menatap lantai.

Aku sudah tahu jawabannya sebelum ia mengangguk.

“Aku sempat lihat.”

“Kenapa kamu tidak bilang?”

“Mama yang menunjukkan pesan itu ke aku. Dia bilang mungkin aku perlu lebih memperhatikanmu.”

Aku menatap Bu Evelyn.

Sekarang pola itu akhirnya terlihat utuh.

Ia tidak memulai semuanya malam ini.

Selama berminggu-minggu, ia sedang menyiapkan Adrian untuk mempercayai hal terburuk tentangku.

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Aku tidak bertanya lagi kepada Bu Evelyn malam itu.

Untuk pertama kalinya sejak menikah, aku berhenti berharap penjelasannya akan membuat sesuatu terasa lebih masuk akal.

Tidak ada penjelasan yang bisa mengubah apa yang baru saja kulihat.

Adrian mengambil ponselnya.

“Pesan apa lagi yang Mama pernah tunjukkan ke aku?”

Bu Evelyn mengangkat dagu.

“Mama tidak perlu menjawab pertanyaan seperti terdakwa.”

“Aku bertanya sebagai anak Mama.”

“Kamu sudah memilih dia.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Bukan tuduhan baru.

Bukan sesuatu yang mengejutkan.

Justru karena begitu sederhana, semuanya terasa semakin jelas.

Adrian menatap ibunya lama.

“Mama benar,” katanya akhirnya. “Aku memilih menikah dengan Natalia.”

Bu Evelyn seperti tidak menyangka anaknya akan mengatakan itu.

“Jadi sekarang kamu membuang Mama?”

“Jangan putar semuanya.”

“Apa lagi namanya? Istrimu telepon polisi untuk ibumu sendiri.”

Aku menyelipkan kartu memori ke dalam dompet.

“Aku yang menelepon polisi. Adrian tidak menyuruhku.”

Ia menatapku tajam.

“Kamu puas sekarang?”

“Belum ada yang bisa membuat malam ini terasa memuaskan, Bu.”

Clara berdiri di dekat pintu dengan wajah pucat.

“Mama, berhenti saja.”

“Jangan ikut campur.”

“Aku tadi datang karena Mama telepon sambil menangis, bilang Kak Natalia ketahuan selingkuh. Mama menyuruhku cepat datang supaya aku melihat sendiri.”

Bu Evelyn terdiam.

Clara menggeleng.

“Mama sengaja ingin kami semua melihat.”

Aku menatap Adrian.

Itu bagian lain yang sejak tadi terus menggangguku.

Ketika pintu kamar dibuka, suamiku tidak datang sendirian.

Ada adiknya.

Omnya.

Sepupunya.

Dua tetangga.

Jika aku benar-benar sedang tidak sadar karena obat, aku akan terbangun setelah semuanya selesai dengan setengah keluarga suamiku yakin mereka telah melihat bukti perselingkuhanku.

Nama baikku selesai bahkan sebelum aku bisa bicara.

Dan Bu Evelyn tahu itu.

Suara kendaraan berhenti di depan rumah.

Beberapa menit kemudian dua petugas datang.

Aku tidak ingin menjadikan ruang tidur kami panggung kedua malam itu, jadi kami pindah ke ruang tamu.

Aku menjelaskan apa yang terjadi sesingkat mungkin.

Aku menunjukkan rekaman.

Pria asing itu akhirnya memperkenalkan dirinya sebagai Reno.

Ia menyerahkan ponselnya ketika diminta menunjukkan percakapan dengan Bu Evelyn.

Aku tidak tahu apa yang akan diputuskan petugas malam itu, dan aku tidak mencoba menjadi ahli hukum.

Yang kutahu, mereka mencatat keterangan kami dan meminta barang-barang tertentu tidak dibuang.

Mangkuk sup tetap berada di tempatnya sampai mereka melihatnya.

Aku memberikan salinan rekaman, bukan satu-satunya salinan.

Sebelumnya aku sudah mengirim file itu ke penyimpanan pribadiku.

Bukan karena aku tiba-tiba berubah menjadi orang yang selalu berpikir sepuluh langkah ke depan.

Aku hanya sudah belajar satu hal dari tiga minggu terakhir.

Kalau sesuatu menyangkut Bu Evelyn, aku tidak boleh bergantung pada satu bukti.

Ketika petugas selesai bertanya kepadaku, Adrian duduk di ujung sofa.

“Mau aku antar ke rumah sakit?”

“Aku tidak menelan supnya.”

“Tapi mungkin sedikit masuk.”

Aku menggeleng.

“Aku benar-benar membuangnya ke serbet.”

Ia menatap serbet yang sekarang sudah diamankan bersama mangkuk.

“Kamu tahu dari awal?”

“Begitu mencium baunya.”

“Kenapa kamu tidak langsung keluar dari rumah?”

Aku memandangnya.

Pertanyaan itu menyakitkan lebih dari yang mungkin ia sadari.

“Karena kalau aku cuma bilang sup itu terasa aneh, kamu akan percaya?”

Adrian membuka mulut.

Lalu menutupnya lagi.

Aku tidak perlu menjawab untuknya.

Selama tiga minggu aku sudah memberitahunya ada barang yang berpindah.

Ada pesan terkirim dari ponselku.

Ada sesuatu yang terasa salah.

Dan setiap kali, ia meminta penjelasan yang sempurna dariku sementara ibunya hanya perlu berkata, “Mama tidak mungkin.”

Ketika Bu Evelyn diminta ikut memberikan keterangan lebih lanjut, ia tidak lagi menangis.

Ia menatapku sebelum keluar.

“Keluarga ini tidak akan pernah sama lagi.”

Aku tidak menjawab.

Aku sedang menatap suamiku.

Karena untuk pertama kalinya aku sadar bahwa mungkin ia benar.

Keluarga ini memang tidak akan pernah sama.

Dan aku tidak yakin itu hal yang buruk.

Malam sudah lewat tengah malam ketika rumah akhirnya sepi.

Clara pulang setelah memelukku sebentar.

Om Thomas dan yang lain sudah lebih dulu pergi.

Reno tidak kembali.

Tinggal aku dan Adrian di ruang tamu.

Kami duduk berseberangan.

Tidak ada yang terdengar selain kipas angin dan sesekali kendaraan melewati jalan kompleks.

Adrian memecah keheningan.

“Aku minta maaf.”

Aku memandang tanganku.

“Aku tahu.”

“Tidak. Aku benar-benar minta maaf.”

Ia mencondongkan badan.

“Aku seharusnya percaya kamu.”

“Aku tidak pernah minta kamu langsung menganggap ibumu jahat.”

“Tapi aku selalu menganggap kamu yang berlebihan.”

Aku mengangguk.

Itulah yang ingin kudengar.

Bukan karena membuatku merasa menang.

Karena akhirnya ia menyebut masalah yang sebenarnya.

“Aku terus cari penjelasan yang paling nyaman,” katanya. “Kalau aku percaya kamu, berarti aku harus mengakui Mama mungkin melakukan sesuatu yang buruk. Aku tidak mau melihat itu.”

Aku mengambil napas.

“Dan karena kamu tidak mau melihatnya, aku yang harus tinggal di dalamnya.”

Adrian menunduk.

“Aku tahu.”

“Belum tentu.”

Ia mengangkat wajah.

“Apa maksudmu?”

“Kalau malam ini aku benar-benar minum sup itu, aku mungkin tidak bisa membela diri.”

Wajahnya berubah.

“Jangan.”

“Aku harus bilang.”

“Natalia…”

“Kamu masuk ke kamar dengan keluargamu, Adrian. Kamu datang sudah dalam keadaan marah. Waktu pintunya dibuka, apa yang kamu pikir?”

Ia tidak menjawab.

“Jawab.”

Ia mengusap kening.

“Aku pikir…”

Suaranya hampir tidak terdengar.

“Aku pikir Mama benar.”

Itu lebih menyakitkan daripada rekaman.

Aku sudah tahu.

Tapi mendengarnya berbeda.

Aku mengangguk pelan.

“Baik.”

Adrian tampak panik.

“Bukan berarti aku akan langsung melakukan apa pun. Aku cuma melihat seorang laki-laki di kamar kita dan…”

“Aku tahu apa yang kamu lihat.”

“Aku salah.”

“Ya.”

“Aku tahu aku salah.”

Untuk pertama kalinya malam itu, aku menangis.

Tidak keras.

Tidak sampai kehilangan kendali.

Aku hanya menyeka pipiku berkali-kali dan tetap tidak bisa menghentikannya.

“Aku capek sekali meyakinkan suamiku bahwa aku tidak gila.”

Adrian pindah dari sofa dan berlutut beberapa langkah dariku.

Aku langsung mengangkat tangan.

“Jangan dulu.”

Ia berhenti.

Aku berdiri.

“Aku mau pergi beberapa hari.”

“Kita bisa tetap di sini. Mama tidak akan masuk lagi.”

“Bukan cuma soal Mamamu.”

Ia menatapku.

“Aku juga perlu jauh dari kamu.”

Kalimat itu membuat bahunya turun.

Aku masuk kamar, mengambil koper kecil, dan memasukkan beberapa pakaian.

Ironis sekali.

Selama bertahun-tahun Bu Evelyn mengatakan aku akan meninggalkan rumah ini dengan koper hitam.

Malam itu aku memang menarik koper keluar dari lemari.

Tetapi bukan karena ia berhasil mengusirku.

Aku pergi karena aku ingin memilih sendiri tempat untuk tidur tanpa takut seseorang mengatur hidupku saat mataku tertutup.

Adrian berdiri di pintu kamar.

“Kamu mau ke mana?”

“Hotel dulu. Besok aku cari tempat sementara.”

“Aku ikut.”

“Jangan.”

“Natalia, ini sudah malam.”

“Aku bisa pesan taksi.”

“Aku tidak nyaman kamu pergi sendirian setelah semua ini.”

Aku menutup resleting koper.

“Aku empat tahun hidup sambil merasa tidak dipercaya di rumah sendiri. Kamu bisa menahan rasa tidak nyaman beberapa jam.”

Ia tidak membantah lagi.

Sebelum pergi, aku mengambil laptop, dokumen pribadiku, dan beberapa barang penting.

Aku juga mengganti kata sandi akun yang selama ini tersimpan di perangkat rumah.

Adrian melihatnya.

“Kamu pikir aku akan membuka akunmu?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Aku tidak mau ada orang lain yang bisa.”

Ia memahami maksudku.

Ia tidak mengatakan apa-apa.

Tiga hari berikutnya terasa lebih panjang daripada empat tahun pernikahanku.

Aku pindah dari hotel ke apartemen studio sewaan bulanan yang sederhana.

Tidak besar.

Tidak istimewa.

Tetapi kuncinya hanya ada padaku.

Adrian mengirim pesan setiap pagi.

Tidak pernah memaksa.

Ia memberi tahu bahwa Bu Evelyn tidak berada di rumah kami.

Ia sudah meminta ibunya mengembalikan semua kunci cadangan yang pernah ia pegang.

Kunci pintu juga diganti.

Hari kedua, ia mengirim satu pesan lagi.

“Aku sudah memberi tahu keluarga bahwa yang terjadi malam itu bukan perselingkuhanmu. Aku tidak menjelaskan detail yang bukan urusan mereka, tapi aku bilang Mama merekayasa situasi dan kamu tidak bersalah.”

Aku membaca pesan itu dua kali.

Itu tindakan pertama Adrian yang benar-benar berarti bagiku sejak malam tersebut.

Ia tidak membiarkan rumor berjalan sementara aku yang harus membersihkannya.

Namun aku belum pulang.

Pada hari keempat, Clara menelepon.

“Boleh aku bicara?”

“Boleh.”

“Aku minta maaf karena datang malam itu.”

“Kamu datang karena dipanggil.”

“Aku tetap ikut masuk ke kamar.”

Aku terdiam.

Clara menarik napas.

“Mama telepon kami satu-satu. Katanya Kak Adrian akan butuh keluarga karena akan melihat sesuatu yang berat. Om Thomas bahkan diminta mengajak Pak Anton sebagai saksi karena Mama bilang dia takut Kak Natalia akan menyangkal.”

Aku menutup mata.

Bu Evelyn memang tidak merencanakan pertengkaran.

Ia merencanakan sebuah putusan.

Saksi sudah disiapkan.

Cerita sudah disusun.

Ia hanya membutuhkan aku tidak sadar.

Clara melanjutkan.

“Mama tinggal sementara di rumah Tante Livia.”

“Bagaimana keadaannya?”

“Marah.”

Aku hampir tersenyum pahit.

“Bukan menyesal?”

“Kadang Mama bilang menyesal. Lima menit kemudian dia bilang semua ini tidak akan terjadi kalau Kak Adrian tidak berubah setelah menikah.”

Itulah Bu Evelyn.

Bahkan penyesalannya masih mencari seseorang untuk disalahkan.

“Kak,” kata Clara, “aku tidak akan menyuruh Kakak memaafkan Mama.”

“Terima kasih.”

“Tapi Adrian kacau sekali.”

Aku memandang jendela apartemen.

“Aku juga.”

“Iya.”

Clara berhenti sebentar.

“Maaf. Aku seharusnya tidak bilang begitu.”

“Tidak apa-apa.”

Setelah telepon berakhir, aku menyadari aku tidak membenci Adrian.

Itulah bagian tersulit.

Kalau aku membencinya, semuanya mungkin lebih sederhana.

Ia tidak merencanakan jebakan itu.

Ia tidak tahu tentang obat.

Ia tidak membayar Reno.

Namun selama bertahun-tahun, ia menciptakan ruang tempat ibunya bisa terus melewati batas karena setiap keluhanku dianggap masalah kecil.

Aku tidak tahu apakah pernikahan bisa bertahan setelah sesuatu seperti itu.

Dan aku tidak mau menjawab pertanyaan sebesar itu hanya karena rasa takut hidup sendiri.

Seminggu setelah kejadian, Adrian meminta bertemu.

Kami memilih sebuah kedai kopi dekat kantorku.

Tempat ramai.

Netral.

Ia sudah duduk saat aku tiba.

Tidak ada bunga.

Tidak ada hadiah.

Aku lega.

Ia hanya membawa sebuah map.

“Apa itu?”

“Bukan sesuatu yang harus kamu tanda tangani.”

Ia mendorong map ke arahku.

Di dalamnya ada salinan beberapa hal yang sudah ia urus.

Penggantian kunci rumah.

Pencabutan akses Bu Evelyn ke beberapa layanan rumah tangga yang dulu ia kelola.

Dan daftar barang milikku yang masih ada di rumah supaya aku bisa mengambilnya kapan saja.

Aku menutup map.

“Kamu tidak perlu menunjukkan semuanya.”

“Aku tahu. Tapi aku ingin kamu tahu aku tidak cuma bilang maaf.”

Aku menatapnya.

Wajahnya terlihat kurang tidur.

“Aku juga sudah mulai konseling sendiri.”

Aku tidak menyangka itu.

“Kenapa?”

“Karena aku baru sadar aku selalu menghindari konflik dengan Mama dengan cara membiarkan orang lain menanggungnya.”

Aku diam.

“Dulu kalau dia marah karena aku pulang terlambat, aku minta kamu maklum. Kalau dia bicara kasar, aku bilang kamu salah paham. Kalau dia datang tanpa kabar, aku bilang biarkan saja. Kedengarannya kecil satu-satu.”

“Ya.”

“Ternyata semuanya mengajari Mama bahwa kalau dia melewati batas, aku akan meminta kamu yang menyesuaikan diri.”

Itu kalimat paling jujur yang pernah ia ucapkan tentang keluarganya.

Aku tidak langsung luluh.

Kejujuran tidak menghapus akibat.

“Tapi aku tidak datang untuk memintamu pulang,” katanya.

“Lalu?”

“Aku mau bertanya apa yang kamu butuhkan untuk bisa mengambil keputusan tanpa tekanan dariku.”

Aku menatap cangkir yang belum kusentuh.

“Waktu.”

Ia mengangguk.

“Dan tidak ada lagi pembicaraan tentang ibumu lewat kamu.”

“Maksudmu?”

“Kalau dia mau minta maaf, dia bisa menyampaikannya lewat jalur yang wajar. Aku tidak mau setiap pertemuan kita berubah jadi laporan tentang Mama.”

“Baik.”

“Jangan minta aku mencabut laporan hanya karena keluarga mulai bicara.”

Ia menelan ludah.

“Aku tidak akan.”

“Kalau suatu hari aku mempertimbangkan pulang, ibumu tidak punya kunci rumah kita.”

“Tidak akan.”

“Bukan cuma kunci.”

Aku menatapnya langsung.

“Dia tidak bisa datang kapan saja. Tidak bisa memeriksa barangku. Tidak bisa mengatur siapa yang boleh masuk. Dan kalau dia menghina aku, kamu tidak boleh lagi menyuruhku diam demi menjaga suasana.”

Adrian mengangguk.

“Kali ini aku paham.”

“Aku belum yakin.”

“Itu adil.”

Kami pulang masing-masing.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada adegan besar.

Namun untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku merasa percakapan kami tidak berakhir dengan aku menjadi orang yang harus mengalah.

Dua minggu kemudian, tekanan keluarga mulai datang.

Bukan dari semua orang.

Sebagian justru diam.

Tetapi beberapa kerabat yang tidak hadir malam itu mulai mengirim pesan.

“Mama tetap mama.”

“Jangan sampai masalah keluarga dibawa terlalu jauh.”

“Bu Evelyn sudah tua.”

“Apa tidak bisa diselesaikan baik-baik?”

Aku membalas satu pesan saja.

“Masalah ini sedang ditangani pihak yang berwenang. Saya tidak akan membahasnya di grup keluarga.”

Setelah itu aku membisukan grup.

Dulu mungkin aku akan menulis penjelasan panjang agar semua orang memahami posisiku.

Sekarang aku tidak lagi merasa perlu mengadakan sidang untuk membuktikan bahwa aku berhak menjaga diriku sendiri.

Bu Evelyn akhirnya menghubungiku melalui sebuah pesan dua minggu kemudian.

Bukan lewat Adrian.

Pesannya pendek.

“Natalia, Mama mengakui apa yang Mama lakukan salah. Mama marah karena merasa kehilangan Adrian. Tapi Mama tidak berniat menyakitimu.”

Aku membaca kalimat terakhir beberapa kali.

Tidak berniat menyakitiku.

Ia mencampur obat ke makanan.

Membayar pria asing.

Mengatur kamar.

Membuka bajuku.

Mengundang keluarga.

Lalu berniat membuatku diusir.

Aku tidak membalas hari itu.

Keesokan paginya aku menulis:

“Saya menerima bahwa Ibu mengakui perbuatannya. Tetapi saya tidak setuju bahwa tidak ada niat menyakiti. Untuk sekarang saya tidak ingin bertemu. Tolong hormati itu.”

Ia membalas hampir satu jam kemudian.

“Hanya itu?”

Aku tidak menjawab.

Tiga bulan berlalu.

Proses atas laporan malam itu belum sepenuhnya selesai, dan aku tidak menggantungkan ketenanganku pada seberapa cepat semuanya berjalan.

Reno memberikan keterangan mengenai pembayaran yang dijanjikan.

Bu Evelyn memiliki pendamping hukum.

Aku juga berkonsultasi agar memahami hak dan langkahku tanpa membuat keputusan berdasarkan rumor keluarga.

Tidak ada penangkapan dramatis di ruang keluarga.

Tidak ada seorang pun kehilangan segalanya dalam satu malam.

Kehidupan tetap berjalan dengan cara yang jauh lebih biasa daripada drama yang dibuat Bu Evelyn.

Dan justru itu yang membuat akibatnya terasa nyata.

Bu Evelyn tidak lagi datang ke rumah Adrian.

Clara masih berhubungan dengannya.

Beberapa keluarga memihak Bu Evelyn, sebagian memilih tidak ikut campur.

Pak Anton menyapaku biasa ketika suatu hari kami berpapasan.

Tidak ada lagi bisik-bisik yang harus kujelaskan.

Adrian dan aku bertemu seminggu sekali.

Kadang untuk makan siang.

Kadang hanya berjalan sebentar setelah kerja.

Ia tidak pernah meminta kunci apartemenku.

Ia juga tidak pernah bertanya kapan aku akan pulang.

Pada bulan keempat, aku bertanya kepadanya saat kami duduk di dalam mobil seusai makan malam.

“Kalau aku tidak kembali ke rumah itu, bagaimana?”

Ia menatapku.

“Maksudmu kita berpisah?”

“Belum tentu.”

Aku merapikan tali tas.

“Aku tidak tahu apakah aku bisa tidur nyaman di kamar itu lagi.”

Ia mengangguk pelan.

“Aku juga sudah kepikiran.”

“Terus?”

“Aku bisa pindah.”

Aku menatapnya.

“Ke mana?”

“Kita cari rumah kontrakan lain kalau kamu mau mencoba lagi.”

Aku hampir langsung mengatakan itu tidak perlu.

Tetapi aku menahan diri.

Selama ini rumah bukan masalah utamanya.

Masalahnya adalah siapa yang merasa berhak masuk.

Siapa yang merasa berhak menentukan.

Dan siapa yang selama bertahun-tahun tidak menghentikannya.

“Rumah lama bagaimana?”

“Aku akan urus sendiri untuk sementara. Aku juga tidak mau menjadikan urusan properti sebagai alasan kamu harus kembali.”

Jawaban itu cukup.

Bukan untuk menghapus semuanya.

Tetapi cukup membuatku bersedia mempertimbangkan langkah berikutnya.

Sebulan kemudian, aku dan Adrian mulai mencari rumah kontrakan kecil.

Kami tidak mengatakan bahwa kami “kembali seperti dulu.”

Aku justru tidak ingin seperti dulu.

Aku ingin tahu apakah kami bisa membangun cara hidup yang berbeda.

Kami memilih rumah dua kamar di kawasan yang masih dekat dengan tempat kerja kami.

Tidak mewah.

Halaman depannya kecil.

Dapurnya bahkan lebih sempit daripada rumah sebelumnya.

Tetapi ketika pemilik menyerahkan dua set kunci, Adrian memberikan salah satunya kepadaku dan menyimpan satu untuk dirinya sendiri.

Tidak ada kunci ketiga untuk ibunya.

Tidak ada kunci cadangan yang ditaruh di bawah pot.

Tidak ada kerabat yang tahu kode apa pun karena memang tidak ada yang perlu tahu.

Malam pertama aku tidur di sana, aku terbangun sekitar pukul dua.

Adrian tertidur di sebelahku.

Aku mendengar suara kecil dari depan rumah.

Tubuhku langsung tegang.

Aku bangun dan memeriksa.

Ternyata hanya suara ranting kecil jatuh di teras karena angin.

Ketika kembali ke kamar, Adrian sudah bangun.

“Kamu kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

Ia memandang pintu.

“Kamu takut ada orang masuk?”

Aku tidak menjawab.

Ia tidak berkata, “Kamu terlalu curiga.”

Ia tidak tertawa.

Ia tidak mengatakan aku harus melupakan semuanya.

Ia hanya bangun, memeriksa pintu bersamaku, lalu kembali ke kamar.

“Sudah terkunci.”

Aku mengangguk.

Itu saja.

Tidak ada kalimat besar.

Tapi kadang perubahan memang terlihat dari hal sesederhana seseorang akhirnya percaya ketika kita bilang ada sesuatu yang membuat kita takut.

Enam bulan setelah malam sup itu, aku bertemu Bu Evelyn untuk pertama kali.

Bukan di rumah kami.

Bukan sendirian.

Kami bertemu di sebuah kedai yang dipilih bersama.

Adrian tidak duduk di meja yang sama. Ia menunggu beberapa meja jauhnya karena aku meminta begitu.

Bu Evelyn terlihat lebih tua.

Mungkin aku juga.

Ia memegang cangkir dengan kedua tangan.

“Terima kasih sudah mau datang.”

Aku mengangguk.

Beberapa detik berlalu.

Lalu ia berkata, “Mama tidak tahu harus mulai dari mana.”

“Mulai dari yang benar.”

Ia menarik napas.

“Mama ingin Adrian kembali seperti sebelum menikah.”

Aku menunggu.

“Mama merasa kamu mengambil tempat Mama.”

“Itu bukan tempat yang sama.”

“Saya tahu sekarang.”

Untuk pertama kali, ia memakai kata saya, bukan Mama, seolah sedang berusaha bicara kepadaku sebagai dua orang dewasa, bukan ibu yang menuntut seorang menantu menurut.

“Apa yang saya lakukan tidak bisa dibenarkan.”

Aku menatapnya.

Ia tidak menambahkan “tapi”.

Itu penting.

“Saya memasukkan obat ke supmu.”

Tangannya mengepal di sekitar cangkir.

“Saya membayar Reno. Saya mengatur kamar. Saya menghubungi keluarga supaya mereka datang dan melihat sesuatu yang sebenarnya saya buat sendiri.”

Matanya basah.

“Saya juga memegang bajumu saat kamu tidak bisa, atau saya kira tidak bisa, menolak. Saya sudah berbulan-bulan mencoba mencari kalimat yang membuat itu terdengar lebih ringan. Tidak ada.”

Aku tidak mengatakan apa-apa.

“Aku minta maaf.”

Kali ini aku percaya ia benar-benar menyesal.

Tetapi menyesal tidak sama dengan bisa kembali seperti semula.

“Aku menerima permintaan maaf Ibu,” kataku.

Wajahnya berubah sedikit.

“Berarti kita bisa mulai lagi?”

“Tidak seperti dulu.”

Ia terdiam.

“Aku tidak akan tinggal satu rumah dengan Ibu.”

Ia mengangguk perlahan.

“Ibu tidak akan punya kunci rumah kami.”

“Baik.”

“Kalau datang, kabari dulu.”

“Baik.”

“Dan kalau suatu hari Ibu kembali bicara kepadaku seperti aku orang luar yang bisa diusir kapan saja, aku akan pergi dari tempat itu. Bukan dari pernikahanku. Dari situasi itu.”

Ia mengusap mata.

“Saya mengerti.”

“Aku harap begitu.”

Ia menatapku.

“Kamu bisa memaafkan saya?”

Aku memikirkan pertanyaan itu sebelum menjawab.

“Mungkin sebagian.”

Ekspresinya jatuh.

Aku melanjutkan.

“Tapi aku tidak mau pura-pura lupa hanya supaya semuanya cepat nyaman.”

Ia mengangguk.

Kali ini ia tidak berdebat.

Pertemuan kami selesai setelah sekitar dua puluh menit.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada foto keluarga.

Tidak ada janji bahwa semuanya kembali baik.

Saat aku berdiri, Bu Evelyn berkata pelan, “Natalia.”

Aku menoleh.

“Terima kasih karena waktu itu kamu tidak membuang rekamannya.”

Aku sedikit terkejut.

Ia menunduk.

“Kalau tidak ada rekaman itu, mungkin sampai sekarang saya masih bilang kamu bohong.”

Aku tidak tahu apakah kalimat itu membuatku sedih atau lega.

Mungkin keduanya.

Aku berjalan menuju Adrian.

Ia berdiri.

“Bagaimana?”

“Sudah selesai.”

Ia tidak bertanya apa yang dibicarakan.

Kami keluar bersama.

Malam itu, ketika sampai di rumah kontrakan, Adrian masuk lebih dulu membawa kantong belanja.

Aku berdiri sebentar di depan pintu.

Enam bulan sebelumnya aku meninggalkan rumah lama dengan koper karena tidak lagi merasa aman di dalamnya.

Sekarang aku memasukkan kunci ke lubang pintu rumah kecil ini.

Kunci itu berputar sekali.

Aku masuk.

Lalu dari dalam, dengan tanganku sendiri, aku menguncinya kembali.

Menurutmu, apakah Natalia benar memberi Adrian kesempatan kedua setelah ia akhirnya mengakui kesalahannya dan menetapkan batas dengan ibunya?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.