Putriku Memilih Tidur di Bawah Meja Dapur. Saat Gurunya Membuka Boneka Tuanya, Aku Mengerti Kenapa Ia Takut Pulang

Avatar penulis
Cerita 01
17 menit baca 489 tayangan
Putriku Memilih Tidur di Bawah Meja Dapur. Saat Gurunya Membuka Boneka Tuanya, Aku Mengerti Kenapa Ia Takut Pulang
Indeks

Bagian 2

Di atas kertas itu ada gambar rumah kami.

Aku mengenali meja makan persegi yang digambar dengan empat kaki terlalu panjang. Ada kulkas, pintu kamar, sofa, dan tiga orang berbentuk garis.

Naya menggambar dirinya sendiri sangat kecil di bawah meja.

Aku berdiri dekat pintu depan.

Arman digambar di antara aku dan pintu.

Di samping gambar tubuhnya, Naya menulis dengan pensil:

Kalau Ibu pergi, aku tidak boleh ikut.

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Putriku Memilih Tidur di Bawah Meja Dapur. Saat Gurunya Membuka Boneka Tuanya, Aku Mengerti Kenapa Ia Takut Pulang

“Bu Rina,” kataku, “Naya pernah cerita siapa yang mengatakan itu?”

“Tidak langsung.”

Bu Rina duduk di depanku.

“Kalau ditanya, dia selalu bilang takut Ibu marah atau tidak percaya.”

Aku menunduk.

Kalimat terakhir itu terasa jauh lebih berat daripada gambar apa pun.

Tidak percaya.

Anakku sembilan tahun dan sudah belajar bahwa kebenaran harus membawa bukti kalau ingin sampai kepadaku.

Bu Rina memanggil Naya dari ruang sebelah.

Ketika masuk, Naya berhenti di ambang pintu begitu melihat ponsel lamanya di meja.

Wajahnya langsung pucat.

“Ibu nemu?”

Aku berdiri.

Ia mundur satu langkah.

Aku tidak mendekatinya dulu.

“Iya.”

Naya menatap lantai.

“Maaf.”

Satu kata itu membuat dadaku seperti kosong.

“Kenapa kamu minta maaf?”

“Aku ambil HP Ibu dari laci.”

“Bukan itu yang Ibu tanyakan.”

Ia menggosok ujung jarinya yang kukunya sudah pendek.

“Aku takut Om Arman buang kalau dia tahu.”

Aku berlutut agar wajah kami sejajar.

“Kenapa kamu merekam?”

Ia menelan ludah.

“Karena kalau aku cuma bilang, Ibu nanti tanya aku salah dengar atau nggak.”

Aku tidak punya jawaban untuk itu.

Bu Rina memalingkan wajah sebentar, memberi kami ruang.

Aku mengulurkan tangan.

Kali ini Naya yang mendekat.

Aku memeluknya dan merasakan betapa kurus bahunya di balik seragam sekolah.

“Mulai sekarang,” bisikku, “kamu tidak perlu merekam apa-apa lagi.”

Naya tidak menjawab.

Seolah ia belum berani percaya.

Kami mendengarkan dua rekaman lain bersama Bu Rina, tetapi Naya keluar dari ruangan lebih dulu.

Aku tidak ingin ia mendengar lagi.

Rekaman pertama berisi pertengkaran yang bahkan hampir kulupakan.

Arman sedang memarahiku karena aku memberi uang kepada Naya untuk membeli buku tambahan tanpa memberitahunya.

“Kamu selalu mendahulukan dia,” suaranya terdengar.

“Dia anakku.”

“Dan aku suamimu.”

Kemudian ia berkata, “Kalau kamu terus begini, jangan kaget kalau suatu hari aku putuskan siapa yang tinggal di rumah ini.”

Rekaman berikutnya lebih pendek.

Suara televisi terdengar dari ruang tamu.

Lalu suara Arman, jauh lebih pelan.

Ia sedang bicara kepada Naya.

“Kalau Ibumu nanti marah sama Om dan bilang mau pergi, kamu jangan ikut campur.”

Suara Naya kecil sekali.

“Aku ikut Ibu.”

“Jangan membantah.”

“Tapi aku anak Ibu.”

Arman berhenti beberapa detik.

Kemudian berkata, “Kalau Ibumu tidak bisa mengurus dirinya sendiri, siapa bilang dia bisa menentukan semuanya?”

Tanganku mulai gemetar.

Sekarang aku mengerti kalimat Naya pada malam itu.

Kalau dia bilang Ibu harus pergi sendiri, jangan percaya.

Arman bukan sekadar membuatku takut kehilangan anakku.

Ia juga membuat anakku takut kehilangan ibunya.

Aku meminta Bu Rina menghentikan rekaman.

“Cukup.”

Ia mengangguk.

“Bu Laras, sekolah punya kontak pendamping perlindungan perempuan dan anak di wilayah sini. Saya bisa bantu Ibu menghubungi mereka.”

Biasanya aku akan berkata tidak perlu.

Biasanya aku akan berpikir nanti orang menganggap rumah tanggaku gagal.

Aku akan membayangkan wajah Bu Ratna.

Tetangga.

Keluarga Arman.

Kali ini aku melihat gambar Naya lagi.

“Hubungi, Bu.”

Itu keputusan pertamaku.

Kecil.

Tapi setelah mengatakannya, aku tahu aku tidak bisa kembali menjadi orang yang pura-pura tidak mendengar.

Sambil menunggu, aku memeriksa ponselku.

Ada empat panggilan tak terjawab dari Arman.

Lalu pesan.

Kamu lama sekali.

Pesan berikutnya datang dua menit kemudian.

Jangan bikin urusan sekolah jadi drama rumah tangga.

Kemudian:

Jam lima aku jemput Naya. Kita bicara di rumah.

Aku menatap layar cukup lama.

Bu Rina membaca ekspresiku.

“Ada apa?”

Aku menyerahkan ponsel kepadanya.

Ia membaca pesan itu.

“Naya masih terdaftar boleh dijemput Pak Arman?”

Aku mengangguk.

Dulu aku menambahkan namanya sebagai orang yang boleh menjemput karena jadwal kerjaku sering berubah.

Aku berdiri.

“Bu Rina.”

“Iya?”

“Mulai hari ini, jangan serahkan Naya kepadanya.”

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Bu Rina tidak mempertanyakannya.

Ia mengajakku ke ruang administrasi sekolah dan meminta aku sendiri mengubah daftar penjemput.

Namaku tetap sebagai wali utama. Nama Arman dicoret dari daftar orang yang boleh membawa Naya pulang tanpa persetujuanku.

Tanganku masih gemetar ketika menandatangani formulir perubahan itu.

Tapi untuk pertama kalinya sejak menikah, rasa takut tidak menghentikan tanganku bergerak.

Arman menelepon lagi.

Aku tidak mengangkat.

Lima menit kemudian ponselku kembali bergetar.

Laras, jawab.

Aku menaruhnya dalam mode senyap.

Seorang pendamping dari layanan perlindungan perempuan dan anak berbicara denganku lewat telepon sore itu. Ia tidak menjanjikan bahwa semua akan beres. Ia justru menanyakan hal-hal sederhana yang selama ini tidak pernah kupikirkan sebagai bagian dari keselamatan.

Apakah dokumen identitasku ada di rumah?

Apakah akta dan dokumen sekolah Naya aman?

Apakah Arman tahu kata sandi rekeningku?

Apakah aku punya tempat tinggal sementara?

Apakah ia pernah melarangku keluar, mengambil ponsel, menahan uang, atau mengancamku?

Pada pertanyaan terakhir aku terlalu lama diam.

“Bu Laras?”

“Pernah mengancam.”

“Secara tertulis?”

“Lebih sering bicara.”

“Rekamannya simpan. Jangan hanya di satu perangkat.”

Aku memandang ponsel tua Naya di atas meja Bu Rina.

Anakku sudah memikirkan sesuatu yang bahkan tidak terpikir olehku.

Bukan karena ia lebih pintar.

Karena ia terpaksa lebih waspada.

Aku memindahkan salinan rekaman ke penyimpanan milikku dan menyerahkan satu salinan kepada Bu Rina untuk disimpan bersama catatan sekolah sesuai prosedur mereka. Ponsel lama itu kumatikan.

“Naya nggak usah pegang ini lagi,” kataku.

Bu Rina mengangguk.

Sore itu aku tidak membawa Naya pulang ke apartemen.

Aku juga tidak menghadapi Arman.

Kami menginap sementara di tempat aman yang dibantu dicarikan oleh pendamping.

Tempatnya sederhana. Satu kamar, dua tempat tidur, kipas angin kecil, dan kamar mandi di ujung lorong.

Naya tidak mengeluh.

Justru ketika kami masuk, ia langsung bertanya, “Om Arman tahu tempat ini?”

“Nggak.”

“Dia bisa datang?”

“Nggak akan Ibu izinkan.”

Naya menaruh tasnya di lantai.

Boneka kainnya masih berada di dalam.

Aku melihatnya beberapa detik.

Kemudian aku bertanya, “Kamu tahu HP lama itu dari mana?”

“Laci meja Ibu.”

“Kapan kamu ambil?”

“Waktu Om Arman bentak Ibu soal uang sekolah.”

Aku mengingat malam itu.

Aku menganggapnya pertengkaran rumah tangga biasa.

Arman bilang aku terlalu boros karena membayar buku tambahan Naya.

Aku membela diri.

Ia mendekat dan berkata aku harus belajar meminta izin kalau menggunakan uang rumah tangga.

Padahal uang buku itu berasal dari gajiku sendiri.

“Kenapa kamu masukkan ke boneka?”

“Kalau di tas, Om suka periksa.”

Aku menoleh cepat.

“Dia periksa tasmu?”

Naya mengangguk kecil.

“Kadang.”

“Untuk apa?”

“Katanya takut aku bawa barang aneh dari sekolah.”

Aku menarik napas pelan.

Ini bukan saatnya menanyainya seperti penyidik.

“Kalau ada hal lain yang bikin kamu takut, kamu boleh cerita kapan saja. Tapi kamu nggak perlu cari bukti.”

Naya menatapku.

“Kalau nggak ada bukti, Ibu percaya?”

Pertanyaan itu tidak bisa kujawab dengan janji kosong.

Jadi aku berkata, “Ibu akan dengar dulu. Ibu tidak akan langsung bilang kamu salah.”

Itu rupanya cukup.

Malam itu Naya tidur di tempat tidur.

Bukan di bawah meja.

Tetapi ia meminta lampu kamar mandi tetap menyala dan pintu jangan ditutup penuh.

Aku menurutinya.

Aku sendiri tidak tidur sampai lewat tengah malam.

Pesan Arman terus masuk.

Awalnya marah.

Kamu bawa anak itu ke mana?

Lalu berubah lembut.

Laras, kita cuma salah paham.

Lalu kembali menekan.

Kamu sadar orang akan berpikir apa kalau kamu menyeret masalah rumah tangga ke sekolah?

Beberapa menit kemudian:

Ibu sudah dengar. Dia sangat kecewa sama kamu.

Tak lama setelah itu, Bu Ratna menelepon.

Aku sempat mempertimbangkan untuk tidak mengangkat.

Akhirnya kuterima.

“Laras, kamu di mana?”

“Aman.”

“Arman pulang, kalian nggak ada. Katanya kamu bawa Naya pergi gara-gara masalah kecil.”

Aku memejamkan mata.

“Masalah kecil yang mana, Bu?”

“Namanya suami istri pasti pernah bicara keras.”

Aku duduk di tepi tempat tidur.

“Naya tidur di bawah meja hampir setiap malam.”

Bu Ratna diam sebentar.

“Anak kecil memang suka aneh-aneh.”

“Dia merekam Arman.”

Kali ini diamnya lebih lama.

“Merekam?”

“Iya.”

“Anak seusia dia merekam orang dewasa? Itu tidak baik, Laras.”

Aku memandang Naya yang sedang tidur.

Ada satu titik di mana kalimat yang dulu mungkin membuatku merasa bersalah tiba-tiba terdengar sebagaimana mestinya.

Terbalik.

“Yang membuat saya khawatir bukan kenapa Naya merekam,” kataku. “Tapi kenapa dia merasa harus melakukannya.”

“Jangan bicara seolah anak saya penjahat.”

“Saya tidak bilang begitu.”

“Arman menerima kamu dan anakmu.”

Kalimat itu lagi.

Seakan kebaikan pada awal pernikahan adalah surat izin untuk melakukan apa saja sesudahnya.

“Bu, saya sedang tidak membahas siapa menerima siapa.”

“Kamu pikir mudah bagi laki-laki menikahi perempuan yang sudah punya anak?”

Aku terdiam beberapa detik.

Dulu pertanyaan itu akan membuatku mengecil.

Malam itu tidak.

“Kalau harga dari diterima adalah anak saya harus takut tidur di kamarnya sendiri, harganya terlalu mahal.”

Bu Ratna langsung meninggikan suara.

Aku mengakhiri telepon.

Bukan dengan marah.

Aku hanya berkata, “Besok saya akan urus barang-barang kami. Malam ini saya tidak akan pulang.”

Lalu kututup sambungan.

Keesokan paginya aku menemui pendamping secara langsung.

Aku membawa rekaman, gambar Naya, pesan-pesan dari Arman, dan catatan singkat yang kutulis sendiri tentang beberapa kejadian yang masih kuingat.

Tidak semuanya bisa dibuktikan.

Aku belajar menerima itu.

Aku tidak memerlukan bukti sempurna untuk setiap kalimat yang pernah membuatku takut.

Aku hanya membutuhkan cukup kejelasan untuk menentukan apa yang akan kulakukan selanjutnya.

Pendamping menjelaskan beberapa pilihan praktis.

Aku bisa berkonsultasi dengan bantuan hukum.

Aku bisa membuat pengaduan jika merasa ada ancaman dan membutuhkan perlindungan.

Aku juga sebaiknya tidak mengambil barang dari apartemen sendirian jika khawatir akan terjadi tekanan.

Tidak ada seorang pun yang berkata, “Besok semuanya selesai.”

Justru karena itu aku percaya pada prosesnya.

Aku kemudian berbicara dengan seorang petugas bantuan hukum.

Kepadanya aku mengakui sesuatu yang paling memalukan bagiku.

“Aku takut Arman benar-benar bisa mengambil Naya.”

Petugas itu tidak menertawakanku.

Ia juga tidak memberi janji berlebihan.

“Ancaman seseorang tidak otomatis menjadi hak,” katanya. “Yang penting sekarang jangan membuat keputusan karena takut pada ancaman itu. Bawa dokumen anak Ibu, simpan bukti, dan jangan biarkan dia mengatur pertemuan sendirian.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi setelah berbulan-bulan mendengar Arman bicara seolah dirinya bisa menentukan semua hal di rumah, aku membutuhkan seseorang untuk mengingatkanku bahwa suara paling keras tidak selalu punya kewenangan paling besar.

Siang harinya aku mengganti kata sandi mobile banking dan emailku.

Arman tidak memiliki rekeningku, tetapi ia tahu beberapa PIN lama karena selama menikah aku tidak pernah menganggap itu masalah.

Aku juga menghubungi tempat kerjaku.

Bukan untuk menceritakan semuanya.

Aku hanya meminta jadwal dua hari ke depan diubah agar bisa mengurus Naya.

Pemilik kedai mengizinkan, dengan catatan beberapa shift akhir pekan harus kuganti kemudian.

Tidak ada keajaiban.

Tagihan tetap ada.

Sewa tetap harus dibayar.

Aku bahkan duduk hampir satu jam menghitung apakah gajiku cukup kalau harus kembali hidup berdua dengan Naya.

Angkanya membuat perutku mual.

Tapi aku pernah hidup seperti itu sebelumnya.

Sulit bukan berarti mustahil.

Dua hari kemudian aku kembali ke apartemen untuk mengambil dokumen, pakaian, perlengkapan sekolah Naya, dan beberapa barang penting.

Aku tidak datang sendiri.

Seorang pendamping ikut bersamaku dan pengelola gedung sudah diberi tahu bahwa aku hanya akan mengambil barang pribadi serta milik anakku.

Arman ada di dalam.

Ketika pintu terbuka, ia terlihat seperti laki-laki yang sama yang selama ini dikenal tetangga.

Kaos polos.

Celana panjang.

Rambut rapi.

Tidak ada wajah monster.

Justru itulah yang dulu membuatku terus meragukan diri sendiri.

“Laras.”

Ia melihat orang di sampingku.

“Kamu serius membawa orang lain ke rumah kita?”

“Aku cuma ambil barang.”

“Masuk. Kita bicara.”

“Aku bicara di sini saja.”

Wajahnya berubah sedikit.

“Ini rumah kita.”

“Aku tahu.”

“Jadi jangan perlakukan aku seperti orang asing.”

Aku tidak menjawab.

Ia merendahkan suara.

Kebiasaan lama.

Suara yang hanya ditujukan untukku.

“Kamu sedang merusak rumah tangga gara-gara anak sembilan tahun.”

Pendamping di sampingku mendengar jelas.

Mungkin itu sebabnya Arman langsung memperbaiki kalimatnya.

“Maksud saya, gara-gara salah paham dari anak sembilan tahun.”

Aku masuk bersama pendamping.

Hal pertama yang kulakukan adalah mengambil map dokumen dari lemari.

KTP.

Dokumen sekolah Naya.

Surat-surat penting yang berkaitan denganku.

Beberapa buku tabungan lama.

Arman mengikutiku.

“Di mana Naya?”

“Aman.”

“Dia anak di rumah ini juga.”

Aku berbalik.

“Dia anakku.”

“Aku yang kasih makan dia juga.”

“Aku nggak menyangkal.”

“Sekarang setelah semua yang aku lakukan, kamu bawa dia kabur?”

Kata kabur membuatku hampir tertawa.

Bukan karena lucu.

Karena dua hari sebelumnya aku mungkin masih akan merasa bersalah mendengarnya.

Sekarang aku tahu aku tidak sedang kabur.

Aku sedang keluar dari situasi yang membuat anakku bersembunyi di bawah meja.

“Aku dengar rekamannya,” kataku.

Arman diam.

Tidak lama.

Hanya satu atau dua detik.

Kemudian ia mengangkat dagu.

“Rekaman apa?”

“Yang dibuat Naya.”

Wajahnya mengeras.

“Dia merekam kita?”

“Beberapa minggu.”

“Jadi selama ini dia memata-matai kita?”

Aku hampir menjawab.

Kemudian kusadari lagi bagaimana ia menggeser pusat masalah.

“Arman, dia sembilan tahun.”

“Justru itu. Anak sembilan tahun nggak punya hak merekam pembicaraan suami istri.”

“Aku nggak akan debat soal itu sekarang.”

“Kamu mestinya marah sama dia.”

Aku menatapnya.

“Dia tidur di bawah meja.”

Arman mendengus.

“Karena kamu meladeni.”

Aku mengeluarkan ponselku.

Aku tidak memainkan seluruh rekaman.

Cukup satu bagian.

Suaranya sendiri memenuhi ruang tamu.

Kalau Ibumu nanti marah sama Om dan bilang mau pergi, kamu jangan ikut campur.

Lalu suara Naya:

Aku ikut Ibu.

Kemudian Arman:

Kalau Ibumu tidak bisa mengurus dirinya sendiri, siapa bilang dia bisa menentukan semuanya?

Aku mematikan rekaman.

Arman menatap ponselku.

Ia tidak berkata bahwa suara itu palsu.

Ia tidak berkata Naya mengarangnya.

Ia hanya berkata, “Kamu nggak tahu konteksnya.”

“Jelaskan.”

“Dia selalu ikut campur.”

“Dia anakku. Dia tinggal di rumah yang sama. Kamu bicara seperti itu sama dia.”

“Aku cuma kasih dia disiplin.”

“Dengan bilang aku nggak mampu mengurusnya?”

Arman mengusap wajah.

“Laras, kamu terlalu emosional.”

Aku merasa sesuatu dalam diriku berhenti bergerak saat itu.

Kalimat itu sudah terlalu sering kudengar.

Kali ini tidak berhasil.

“Aku cuma mau tahu satu hal.”

“Apa?”

“Waktu kamu bilang kalau aku pergi Naya tetap di sini, kamu memang berniat menahannya?”

Arman menatap pendamping di sampingku, lalu kembali kepadaku.

“Kenapa sekarang semuanya harus dibicarakan di depan orang?”

“Jawab saja.”

Ia menghela napas keras.

“Aku nggak pernah bilang mau menculik anakmu.”

“Itu bukan pertanyaanku.”

“Ya Tuhan, Laras.”

“Kenapa kamu bilang begitu?”

Untuk pertama kalinya, suaranya naik.

“Karena kalau aku bilang kamu boleh pergi sambil bawa Naya, kamu pasti pergi setiap kita bertengkar!”

Ruangan mendadak sunyi.

Arman sepertinya baru sadar apa yang keluar dari mulutnya.

Aku tidak bergerak.

Ia melanjutkan, kali ini lebih cepat.

“Aku cuma mau kamu berhenti pakai ancaman pergi setiap ada masalah.”

“Aku tidak pernah mengancam pergi.”

“Kamu pernah bilang capek.”

“Capek bukan berarti pergi.”

“Ya, tapi aku tahu kamu. Kamu gampang panik. Jadi aku bilang sesuatu yang bikin kamu berhenti.”

Itulah jawabannya.

Tidak ada rahasia besar.

Tidak ada rencana rumit.

Tidak ada dokumen tersembunyi.

Jauh lebih sederhana dari itu.

Arman tahu aku paling takut gagal sebagai ibu.

Ia tahu aku paling takut tidak mampu menghidupi Naya.

Dan ia menggunakan dua ketakutan itu setiap kali ingin aku diam.

“Aku juga ngomong begitu ke Naya supaya dia nggak ikut bikin suasana tambah kacau,” katanya.

Aku masih menatapnya.

“Naya sembilan tahun.”

“Aku tahu umurnya.”

“Dia pikir kalau aku pergi, dia akan ditinggal di sini.”

“Aku nggak pernah bilang persis begitu.”

“Aku punya rekamannya.”

Arman menutup mulut.

Aku mengambil map dokumen dan memasukkannya ke tas.

“Laras.”

Aku berjalan menuju kamar Naya.

“Laras, dengar dulu.”

Aku mengambil seragam sekolah, beberapa pakaian, buku pelajaran, dan obat alerginya.

Arman berdiri di pintu.

“Aku bisa berubah.”

Aku terus memasukkan pakaian.

“Kita konseling.”

Aku berhenti sebentar.

“Sekarang?”

“Aku serius.”

“Dua hari lalu kamu bilang semua ini drama anak kecil.”

“Aku lagi marah.”

“Semalam ibumu menelepon dan bilang aku harus bersyukur kamu menerima aku dan Naya.”

“Aku nggak tahu dia ngomong apa.”

“Aku tahu.”

Arman mendekat satu langkah.

Pendamping langsung bergerak sedikit ke depan.

Arman berhenti.

“Aku sayang kamu.”

Aku menutup tas Naya.

Mungkin ia memang percaya itu.

Itulah bagian yang paling membingungkan dari hubungan seperti kami.

Seseorang bisa merasa sayang dan tetap menganggap ketakutanmu alat yang boleh digunakan.

“Aku tidak akan pulang ke sini,” kataku.

Ia menatapku lama.

“Jadi selesai begitu saja?”

“Tidak.”

Aku mengangkat tas.

“Tidak selesai begitu saja. Makanya aku akan mengurusnya dengan benar.”

“Apa maksudmu?”

“Aku akan bicara dengan bantuan hukum.”

Wajahnya berubah.

“Kamu mau cerai?”

Aku tidak langsung menjawab.

Dua hari sebelumnya, kata itu masih terasa seperti jurang.

Sekarang aku memikirkan Naya di bawah meja dapur.

“Ya.”

Arman menatapku seolah baru pertama kali melihat bahwa aku bisa membuat keputusan tanpa meminta persetujuannya.

“Karena rekaman?”

“Karena apa yang ada di rekaman itu memang terjadi.”

Ia tidak punya jawaban.

Aku mengambil boneka Naya dari tempat tidurnya.

Jahitan di punggungnya masih terbuka.

Kemudian aku berjalan keluar.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada tetangga berkumpul.

Tidak ada adegan dramatis di lorong.

Pintu apartemen hanya menutup pelan di belakangku.

Tapi ketika bunyinya terdengar, aku tahu hubungan kami tidak akan kembali ke bentuk sebelumnya.

Proses sesudahnya jauh lebih membosankan daripada cerita orang-orang tentang meninggalkan pasangan.

Ada formulir.

Ada konsultasi.

Ada jadwal.

Ada urusan barang yang tertinggal.

Ada pembicaraan tentang kontrak sewa.

Ada pertanyaan bagaimana aku dan Naya akan hidup dengan satu penghasilan lagi.

Aku memulai proses perceraian melalui bantuan hukum yang kudapatkan.

Tidak selesai dalam seminggu.

Aku tidak mengharapkannya.

Arman terus mengirim pesan selama beberapa waktu.

Kadang meminta maaf.

Kadang menyalahkan aku.

Kadang menyalahkan sekolah.

Dua kali ia menyalahkan Naya karena “terlalu sensitif”.

Setiap kali membaca kalimat itu, aku semakin yakin aku belum salah mengambil jarak.

Aku hanya membalas hal-hal yang perlu.

Tentang barang.

Tentang administrasi.

Tentang proses resmi.

Aku tidak lagi berusaha meyakinkannya bahwa tindakannya menyakitkan.

Seseorang yang sudah mendengar anak sembilan tahun tidur di bawah meja dan masih memusatkan pembicaraan pada dirinya sendiri bukan orang yang bisa kuubah dengan satu percakapan bagus.

Bu Ratna berhenti menelepon setelah aku menolak tiga kali membicarakan kemungkinan pulang.

Beberapa minggu kemudian ia mengirim pesan.

Ibu tetap merasa kamu terlalu jauh membawa masalah ini, tapi Ibu berharap Naya baik-baik saja.

Bukan permintaan maaf.

Bukan pula pengakuan.

Aku menerimanya sebagaimana adanya dan tidak membalas.

Aku dan Naya pindah ke rumah kontrakan kecil sekitar dua puluh menit dari sekolahnya.

Dindingnya lebih tipis daripada apartemen lama.

Dapur dan ruang makan menyatu.

Kamar mandinya sempit.

Aku kembali menghitung pengeluaran seperti sebelum menikah.

Rp1,6 juta untuk kontrakan.

Listrik.

Transportasi.

Makan.

Sekolah.

Obat.

Ada malam ketika aku menatap aplikasi bank dan merasa takut.

Tapi itu takut yang berbeda.

Takut karena angka benar-benar kecil bisa dihitung.

Bukan takut karena seseorang terus mengatakan aku tidak mampu sampai aku mempercayainya.

Aku mengambil beberapa shift tambahan setiap bulan.

Tidak setiap hari.

Aku tidak mau Naya kembali merasa harus mengurus dirinya sendiri karena aku selalu bekerja.

Kami belajar hidup dengan lebih sedikit.

Naya mulai mengikuti pendampingan melalui layanan yang direkomendasikan sekolah.

Pada minggu pertama ia masih memeriksa pintu dua atau tiga kali sebelum tidur.

Ia masih duduk dekat pintu kelas.

Kadang kalau ada laki-laki berjalan cepat di lorong kontrakan, bahunya langsung kaku.

Tidak ada perubahan ajaib.

Tapi perlahan-lahan ia mulai bercerita lagi.

Suatu sore ia pulang dan mengeluh panjang karena teman sebangkunya meminjam pensil warna tanpa mengembalikan.

Aku hampir menangis karena senang mendengar keluhan sekecil itu.

Aku tidak menangis di depannya.

Aku hanya berkata, “Besok minta balik.”

Ia mengangguk.

Dua bulan setelah kami pindah, aku menjahit kembali punggung boneka lamanya.

Ponsel tua itu tidak kumasukkan lagi ke sana.

Aku menyimpannya dalam amplop bersama salinan dokumen yang mungkin masih diperlukan.

Boneka itu kembali menjadi boneka.

Bukan tempat menyembunyikan bukti.

Pada malam yang sama, aku sedang merapikan dapur ketika tiba-tiba menyadari sesuatu.

Tidak ada selimut di bawah meja.

Tidak ada tas sekolah.

Tidak ada boneka.

Aku berjalan ke kamar Naya.

Pintunya terbuka setengah.

Ia sudah tidur di kasurnya sendiri, satu kaki keluar dari selimut, buku cerita masih terbuka di samping bantal.

Aku tidak membangunkannya.

Aku kembali ke dapur dan mematikan lampu.

Di bawah meja hanya ada sepasang sandal sekolah yang ia tendang sembarangan sore tadi.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, tempat itu tidak perlu menjadi tempat persembunyian siapa pun.

Menurutmu, apakah Laras benar menolak pulang meski Arman berjanji berubah setelah rekaman itu terungkap?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.