BAGIAN 2
Aku mengetuk tiga kali.
Suara di dalam langsung berhenti.
Tidak lama kemudian pintu terbuka.
Nisa berdiri di sana.
Rambutnya lebih pendek daripada terakhir kali kulihat.
Tubuhnya lebih kurus.
Ia memakai kaus abu-abu dan celana rumah.
Tangannya masih memegang sendok.
Untuk beberapa detik kami hanya saling memandang.

Lalu matanya turun ke dompet Ayah di tanganku.
“Ibu?”
Aku tidak tahu kalimat mana yang lebih dulu ingin keluar.
Kenapa kamu tidak pernah menghubungiku.
Kenapa kamu tinggal seperti ini.
Anak siapa yang tadi memanggil Mbah.
Kenapa Dedi tahu.
Kenapa Ayah berbohong.
Yang keluar justru:
“Ayah ketinggalan dompet.”
Nisa membuka pintu sedikit lebih lebar.
Ayah duduk di lantai beralaskan tikar bersama seorang anak laki-laki kecil.
Di antara mereka ada buku gambar kereta yang kuambil dari rak toko dua minggu sebelumnya.
Anak itu memegang pensil biru.
Stiker dinosaurus hijau memenuhi kotak pensilnya.
Aku langsung tahu dari mana stiker yang pernah menempel di lengan Ayah berasal.
Anak itu menatapku.
Wajahnya tidak mirip Nisa sepenuhnya.
Ada alis tebal dan rambut agak bergelombang yang pasti milik ayahnya.
Tapi ketika ia memicingkan mata karena bingung, aku seperti melihat Nisa saat berumur lima tahun.
“Ini siapa, Ma?”
Tidak ada seorang pun menjawab.
Ayah berdiri perlahan.
“Tari.”
Aku menatapnya.
“Sudah berapa lama?”
Ayah tahu aku tidak sedang menanyakan berapa lama ia berada di kontrakan itu.
“Hampir setahun.”
Aku tertawa pendek.
Bukan karena lucu.
“Hampir setahun.”
Nisa menunduk.
Anak laki-laki itu memegang tangan ibunya.
Aku menatap dua kotak makan di meja kecil.
Satu sudah kosong.
Satu lagi terbuka setengah.
Nasi, telur kecap, tumis wortel.
Tanpa sambal.
“Makanan itu buat dia?”
Ayah menjawab, “Kadang untuk Raka. Kadang mereka makan bertiga kalau Adnan sudah pulang.”
Raka.
Jadi aku bahkan baru mengetahui nama cucuku sambil berdiri di ambang sebuah kontrakan.
“Umurnya berapa?”
Nisa menelan ludah.
“Lima tahun bulan depan.”
Lima.
Aku menghitung otomatis.
Berarti Nisa sudah hamil tidak lama setelah kami bertengkar.
“Aku tidak tahu.”
“Aku tahu.”
Jawabannya pelan.
Justru itu yang membuat dadaku terasa sesak.
“Kamu sengaja tidak memberitahu?”
Nisa mengangkat wajah.
“Ibu bilang jangan datang setiap kali pilihanku menyusahkan.”
Kalimatku sendiri kembali kepadaku dengan suara anakku.
Aku tidak punya jawaban cepat.
Ayah mengambil dompet dari tanganku.
“Kita bicara di rumah saja.”
Aku menoleh kepadanya.
“Kenapa Dedi tahu?”
Nisa dan Ayah sama-sama diam.
“Kenapa?”
Nisa akhirnya berkata, “Om Dedi yang mengantar Mbah pertama kali ke sini.”
Aku menatap Ayah.
Lalu Nisa.
“Jadi semua orang tahu kecuali aku?”
“Tidak semua,” kata Ayah.
“Cukup banyak.”
“Bu,” Nisa menyela, “tolong jangan bertengkar di depan Raka.”
Aku melihat anak kecil itu masih memegang ujung kaus ibunya.
Mendadak aku merasa menjadi tamu yang terlalu berisik di rumah orang lain.
Aku masuk satu langkah.
“Boleh aku tahu siapa dia?”
Nisa menatapku lama.
Kemudian ia membungkuk pada Raka.
“Salim dulu sama…”
Ia berhenti.
Tidak sanggup menyebutku nenek.
Aku juga belum tahu apakah aku pantas meminta gelar itu.
Raka justru bertanya, “Ini ibunya Mama?”
Nisa mengangguk.
Anak itu mendekat pelan, lalu mengulurkan tangan kecil.
Aku menyentuhnya.
Hangat.
“Saya Raka,” katanya sopan.
Aku hampir menangis karena cucuku memperkenalkan diri kepadaku seperti kami baru bertemu di ruang tunggu dokter.
Aku menahan semuanya.
“Lestari,” jawabku refleks.
Ayah menatapku tajam.
Aku menarik napas.
“Maksudnya… Nenek.”
Raka tersenyum sedikit.
Hanya sebentar.
Tapi cukup untuk membuatku harus memalingkan wajah.
Kami tidak bicara banyak lagi.
Nisa menjelaskan Adnan sedang bekerja malam memasang AC di sebuah ruko baru.
Ia sendiri menerima jahitan sederhana dari tetangga dan sesekali membantu administrasi sebuah toko online dari rumah.
Mereka tidak kaya.
Tetapi rumah itu bersih.
Tidak ada tanda-tanda orang meminta diselamatkan.
“Ayah bawa uang juga?” tanyaku ketika Raka masuk ke kamar mengambil mainan.
Nisa langsung menjawab, “Tidak.”
Ayah menyandarkan punggung ke dinding.
“Nisa tidak mau.”
“Terus makanan?”
Nisa tersenyum hambar.
“Awalnya aku juga tidak mau.”
“Lalu?”
“Mbah datang bawa nasi pecel. Dia bilang kalau aku menolak, dia akan makan dua bungkus sendiri dan gula darahnya naik. Jadi aku terpaksa ambil.”
Ayah mendengus.
“Itu taktik.”
Untuk pertama kali sore itu, mulutku hampir tersenyum.
Hampir.
Kemudian aku ingat Dedi.
Aku keluar dan meneleponnya.
Ia mengangkat pada dering kedua.
“Kamu tahu.”
Sunyi sebentar.
“Sudah ketemu?”
“Dedi.”
“Iya. Aku tahu.”
“Kenapa kamu tidak bilang?”
“Karena Nisa minta.”
“Dan kamu pilih menyimpan ini dariku?”
“Aku pilih tidak memaksa orang yang belum siap ketemu Mbak.”
Aku memejamkan mata.
“Kamu selama ini mau memindahkan Bapak ke panti, padahal kamu tahu ke mana dia pergi?”
“Justru karena aku tahu.”
Aku membuka mata.
“Maksudmu?”
“Bapak naik angkot sendiri, kadang jalan hampir satu kilometer, menyeberang jalan besar, cuma karena kalau kita antar, Mbak bisa curiga.”
Dadaku mengencang.
“Jadi salahku?”
“Aku tidak bilang begitu.”
“Kedengarannya begitu.”
Dedi diam.
Lalu ia berkata, “Besok pagi aku datang. Kita bicara sama Bapak.”
“Tidak usah bawa brosur.”
“Ini bukan soal brosur lagi, Mbak.”
Nada suaranya berubah.
“Ada hal lain yang perlu Mbak dengar.”
“Apa?”
“Besok saja.”
“Aku benci kalau orang bilang begitu.”
“Aku tahu.”
Ia menutup telepon.
Aku kembali ke dalam.
Ayah sedang duduk dengan Raka, memperbaiki roda kereta plastik menggunakan potongan sedotan.
Nisa berdiri di dapur kecil mencuci dua kotak makan.
Aku memperhatikannya beberapa detik.
Dulu kalau ia mencuci piring, lantai dapur selalu ikut basah.
Sekarang gerakannya rapi.
Ada banyak tahun yang hilang di antara kedua gambaran itu.
Sebelum aku pulang, Raka menyerahkan buku gambarnya kepadaku.
Di halaman terakhir ada empat orang digambar dengan krayon.
Seorang laki-laki kecil.
Seorang perempuan.
Seorang pria tua berambut putih.
Dan satu sosok kosong, hanya lingkaran kepala tanpa wajah.
“Yang ini siapa?” tanyaku.
Raka melihat ibunya.
Nisa membeku.
Raka menjawab polos.
“Belum tahu. Mbah bilang nanti kalau orangnya datang, aku baru gambar mukanya.”
Malam itu aku tidak bisa tidur.
Tapi bukan hanya karena aku baru menemukan cucu yang tidak kukenal.
Aku mulai memahami sesuatu yang lebih mengganggu.
Ayah tidak sekadar menyembunyikan tempat yang ia datangi.
Selama hampir setahun, ia telah membangun sebuah jalan antara dua bagian keluargaku yang putus.
Dan ia melakukan semuanya dengan cara diam-diam karena ia yakin aku akan menghancurkan jalan itu kalau mengetahuinya.
Pagi berikutnya, Dedi datang.
Ia tidak membawa brosur rumah lansia.
Ia membawa map medis Ayah dari rumah sakit.
Ia meletakkannya di meja.
“Bapak sudah pernah diperiksa dokter geriatri tiga minggu lalu.”
Aku menatap Ayah.
“Kapan?”
Ayah menyandarkan tubuh.
“Dedi mengantar.”
“Kenapa aku tidak diberi tahu?”
“Karena aku ingin bicara dengan dokter tanpa kamu jawab semua pertanyaan untukku.”
Kalimat itu membuatku diam.
Dedi membuka hasil pemeriksaan.
“Dokter bilang fungsi ingatan Bapak masih cukup baik untuk usianya. Yang dia soroti justru satu hal.”
“Apa?”
Dedi menatapku.
“Bapak merasa semua anaknya mulai memperlakukan dia seperti orang yang sudah tidak mampu mengambil keputusan.”
Aku menoleh pada Ayah.
Ia tidak membantah.
Lalu Dedi melanjutkan, “Dan Bapak bilang kalau kita tetap memaksanya masuk rumah lansia, dia akan pindah sendiri.”
“Ke mana?”
Ayah menjawab tanpa melihatku.
“Ke kontrakan dekat Nisa.”
Aku berdiri begitu cepat sampai kursiku bergeser.
“Bapak serius?”
“Sangat.”
Aku menatap dua orang di depanku.
Baru sehari sebelumnya aku merasa dikhianati karena mereka menyimpan rahasia.
Sekarang aku sadar ada kemungkinan lebih buruk.
Bukan Ayah yang akan kami kehilangan karena ia makin tua.
Kami bisa kehilangan dia karena selama ini kami terlalu sibuk memutuskan apa yang terbaik untuknya.
Menurut kalian, siapa yang sebenarnya salah di keluarga ini: anak-anak yang terlalu takut kehilangan orang tua, atau orang tua yang akhirnya memilih menyembunyikan hidupnya sendiri?
BAGIAN 3
“Bapak tidak akan pindah ke kontrakan Nisa.”
Kalimat itu keluar dari mulutku sebelum sempat kupikirkan.
Ayah menatapku.
Dedi juga.
Dan begitu aku mendengarnya sendiri, aku sadar aku baru saja melakukan tepat apa yang dituduhkan mereka kepadaku.
Menentukan.
Memutuskan.
Menganggap keinginanku otomatis menjadi keputusan keluarga.
Aku menarik kursi kembali dan duduk.
“Maaf.”
Dedi mengangkat alis.
Aku menatap Ayah.
“Maksudku… aku tidak ingin Bapak pindah. Tapi itu berbeda.”
Ayah tidak segera menjawab.
Tangannya berada di atas meja, jari telunjuknya mengusap bekas goresan kecil di permukaan kayu.
Meja itu sudah kami pakai sejak aku masih menikah.
Nisa pernah mengerjakan PR di sana.
Ibu pernah memotong kue ulang tahun Dedi di sana.
Sekarang kami duduk mengelilinginya seperti tiga orang yang baru belajar cara berbicara.
“Aku juga tidak ingin masuk panti,” kata Ayah.
Dedi mengusap wajah.
“Pak, aku bukan mau membuang Bapak.”
“Aku tahu.”
“Kalau tahu kenapa setiap kali aku bahas itu Bapak bicara seperti aku anak durhaka?”
Ayah menatapnya.
“Aku tidak pernah bilang kamu durhaka.”
“Bapak tidak perlu bilang. Tatapan Bapak sudah cukup.”
Ada kelelahan di suara Dedi yang jarang kudengar.
Ia menarik map medis ke tengah meja.
“Dua bulan lalu Pak Seno telepon aku. Katanya Bapak hampir keserempet motor.”
“Aku tidak hampir keserempet.”
“Bapak berdiri di tengah jalan.”
“Karena lampunya baru berubah.”
“Minggu setelah itu hujan besar, Bapak pulang jalan kaki.”
“Angkotnya lama.”
“Minggu lalu gula darah Bapak turun karena tidak makan siang.”
Aku menoleh cepat.
“Apa?”
Ayah melirik Dedi seolah adikku baru membocorkan rahasia negara.
Dedi menunjuknya.
“Nah. Itu. Mbak bahkan tidak tahu.”
Aku menatap Ayah.
“Kenapa tidak bilang?”
“Aku cuma telat makan.”
“Karena?”
Ayah diam.
Aku sudah tahu jawabannya sebelum ia bicara.
“Nasi yang kubawa tinggal satu kotak. Raka lapar. Aku makan pisang.”
Dadaku terasa berat.
“Bapak.”
“Aku tidak pingsan.”
Dedi mengangkat dua tangan.
“Inilah maksudku! Semua harus tunggu sampai pingsan baru disebut masalah?”
Ayah mulai kesal.
“Kamu juga jangan lebay.”
“Aku lebay karena aku yang ditelepon orang!”
“Kenapa bukan Tari?”
“Karena Pak Seno tahu kalau telepon Mbak Tari, Bapak akan dimarahi dulu, baru ditanya.”
Aku memandang Dedi.
Ia terdiam setelah mengucapkannya.
Kalimat itu terasa kasar.
Yang lebih menyakitkan, aku tidak bisa langsung bilang ia salah.
Aku memang begitu.
Kalau takut, aku marah.
Kalau khawatir, aku membuat aturan.
Kalau orang yang kusayang mengambil keputusan yang menurutku buruk, aku membungkus ketakutanku menjadi nasihat sampai mereka sulit bernapas.
Begitu pula yang kulakukan kepada Nisa.
Aku berdiri.
“Aku buka toko dulu.”
Dedi terlihat terkejut.
“Kita belum selesai.”
“Aku tahu.”
Aku mengambil kunci.
“Tapi kalau kita bicara sekarang, kita cuma akan mengulang siapa yang paling benar.”
Aku menatap Ayah.
“Nanti siang, boleh aku antar Bapak ke rumah sakit?”
Ayah langsung curiga.
“Buat apa?”
“Bukan untuk memeriksa Bapak diam-diam.”
Dedi mendengus kecil.
Aku abaikan.
“Aku mau dengar langsung dari dokter apa yang aman dan apa yang tidak. Setelah itu Bapak sendiri yang putuskan.”
Ayah mengamatiku.
“Sendiri?”
“Keputusan Bapak. Tapi kita semua boleh mengemukakan kekhawatiran.”
Dedi tertawa pendek.
“Mbak terdengar seperti moderator rapat RT.”
“Daripada seperti sipir.”
Ayah akhirnya tersenyum tipis.
“Jam berapa?”
“Setelah zuhur.”
“Baik.”
Aku membuka pintu belakang toko.
Sebelum keluar, Dedi memanggil.
“Mbak.”
Aku menoleh.
“Soal Nisa…”
“Belum.”
Ia mengangguk.
Aku belum sanggup membicarakannya.
Tapi untuk pertama kali setelah tiga tahun, kata “belum” terasa berbeda dari “tidak”.
Dokter yang memeriksa Ayah bernama dr. Ratih.
Usianya mungkin awal lima puluhan, berkacamata tipis, dan punya kebiasaan menatap orang yang sedang bicara sampai selesai.
Aku mulai menjelaskan riwayat Ayah.
Belum tiga kalimat, dokter mengangkat tangan.
“Bu Lestari.”
Aku berhenti.
“Boleh Pak Rahmat yang cerita dulu?”
Aku merasa pipiku panas.
Ayah melirikku.
Tidak mengejek.
Itu lebih memalukan.
Dokter bertanya tentang obat, pola tidur, ingatan, aktivitas sehari-hari, perjalanan Jumat, dan kejadian ketika gula darahnya turun.
Ayah menjawab satu per satu.
Kadang tepat.
Kadang ia lupa tanggal.
Sekali ia salah menyebut nama obat.
Tapi ia tahu kapan harus meminumnya dan untuk apa.
Setelah hampir empat puluh menit, dokter berkata, “Pak Rahmat masih punya kapasitas yang baik untuk mengambil keputusan sehari-hari. Tapi risiko fisiknya memang meningkat.”
Dedi yang ikut bersama kami langsung menyandarkan tubuh ke depan.
“Nah.”
Dokter menoleh.
“Pak Dedi, saya belum selesai.”
Aku hampir tersenyum.
Dedi menutup mulut.
“Masalahnya bukan memilih antara membiarkan beliau bebas sepenuhnya atau mengambil seluruh kebebasannya,” lanjut dokter. “Yang dibutuhkan penyesuaian.”
Ayah mengangguk.
“Misalnya?”
“Perjalanan jauh sebaiknya tidak sendiri. Bukan karena Bapak tidak mampu berpikir, tapi karena keseimbangan, gula darah, dan refleks tidak seperti dulu.”
Ayah diam.
“Bapak tetap boleh pergi,” kata dokter. “Tapi ada teman jalan atau transportasi yang lebih aman.”
Dedi melirikku seolah ingin berkata, lihat.
Aku tidak memberi kesempatan.
“Kalau di rumah?”
“Kalau sebagian besar kegiatan masih mandiri, belum ada alasan medis bahwa beliau harus tinggal di fasilitas lansia hanya karena usia.”
Dedi menghela napas.
Bukan kecewa.
Lebih seperti orang yang akhirnya mendapatkan garis batas yang jelas.
Ayah bertanya, “Jadi saya belum boleh dibuang?”
Dokter tertawa.
“Kalau keluarga Bapak berniat membuang, itu bukan bidang saya.”
Dalam perjalanan pulang, kami bertiga makan soto di sebuah warung dekat rumah sakit.
Tidak ada yang menyentuh topik Nisa selama beberapa menit.
Kemudian Dedi berkata, “Aku minta maaf soal panti.”
Ayah mengaduk jeruk hangatnya.
“Kenapa?”
“Aku terlalu cepat memutuskan.”
Ayah mengangguk.
“Memang.”
Dedi tampak ingin kesal, tetapi urung.
“Aku tetap tidak setuju Bapak pergi ke Tlogosari sendiri.”
“Aku juga sekarang tidak setuju,” kataku.
Ayah menatap kami bergantian.
Aku melanjutkan cepat.
“Tapi Bapak tetap boleh pergi.”
“Dengan sopir?”
“Bisa ojek langganan. Bisa aku antar sampai ujung gang. Bisa Dedi. Bisa siapa pun yang Bapak pilih.”
Ayah menyendok soto.
“Kalau kamu antar sampai depan pintu, kamu akan ikut masuk.”
“Kalau Nisa tidak mau, aku tidak masuk.”
Ayah berhenti mengunyah.
Ia menatapku cukup lama.
“Kamu sanggup?”
Pertanyaan itu bukan tentang menunggu di luar pintu.
Kami berdua tahu.
“Aku coba.”
Ayah kembali makan.
“Ya sudah.”
Sesederhana itu.
Tapi pulang dari warung, ada sesuatu dalam hubungan kami yang bergeser.
Bukan selesai.
Hanya bergeser sedikit.
Kadang satu sentimeter cukup untuk membuka pintu yang sebelumnya macet.
Masalah berikutnya ternyata Dedi.
Malam itu, ia datang lagi sendirian.
Tidak ada Ayah di ruang depan. Ayah sedang mandi.
Dedi duduk di kursi plastik dekat rak buku.
“Aku mau jelaskan satu hal.”
Aku sedang menghitung pemasukan toko.
“Kalau soal kenapa kamu tahu tentang Nisa, aku belum yakin mau dengar.”
“Mbak harus dengar.”
Aku menutup buku.
Dedi menatap tangannya.
“Setahun lalu Nisa telepon aku.”
“Kenapa?”
“Bapak jatuh di kamar mandi.”
Aku langsung berdiri.
“Di rumah Nisa?”
“Bukan. Di rumah kita. Mbak waktu itu ke Salatiga menghadiri pernikahan Bu Nanik.”
Aku mencoba mengingat.
Benar.
Aku pergi sehari.
Dedi menjaga Ayah.
“Bapak cuma terpeleset,” lanjut Dedi. “Nggak luka. Tapi malam itu Bapak bicara soal Nisa.”
“Kenapa?”
“Karena sebelumnya dia menemukan nomor Nisa di ponsel lama Ibu.”
Aku tidak tahu Ibu masih menyimpan nomor itu.
“Bapak minta aku telepon.”
“Dan kamu lakukan.”
“Iya.”
“Tanpa bilang aku.”
Dedi langsung menatapku.
“Mbak, tiga tahun Nisa nggak pulang. Tiga tahun. Kalau aku bilang dulu, apa yang akan Mbak lakukan?”
Aku membuka mulut.
Tidak ada jawaban yang membuatku terlihat baik.
Dedi melanjutkan.
“Nisa mau ketemu Bapak. Tapi dia bilang tidak mau ketemu Mbak.”
“Kenapa?”
Dedi menggeleng pelan.
“Jangan tanya sesuatu yang jawabannya sudah Mbak tahu.”
Aku menatap meja.
Ada tumpukan kuitansi, bolpoin, stapler.
Benda-benda kecil yang terasa sangat penting selama bertahun-tahun.
Tiba-tiba tidak ada satu pun yang bisa menolongku.
“Kenapa kamu setuju merahasiakannya?”
“Awalnya cuma sekali.”
“Lalu jadi setahun.”
“Karena setelah ketemu Raka, Bapak nggak mau berhenti.”
“Dan kamu membiarkan beliau pergi sendiri.”
Dedi tertawa tanpa senyum.
“Tidak. Tiga bulan pertama aku antar.”
Aku menatapnya.
“Terus?”
“Bapak mulai bilang tidak usah. Katanya aku sibuk.”
“Dan kamu percaya?”
“Aku punya dua anak, Mbak. Pekerjaanku keliling. Ada hari-hari ketika aku memang nggak bisa.”
Nada suaranya keras sekarang.
“Aku tidak bangga soal itu.”
Aku diam.
“Makanya aku panik waktu tahu Bapak tetap pergi sendiri. Aku menyuruh Nisa minta Bapak berhenti.”
“Dia menolak?”
“Nisa sudah berkali-kali bilang jangan datang terlalu sering.”
“Kenapa?”
Dedi tersenyum pahit.
“Karena dia tahu Bapak akan terus datang selama dia terlihat butuh.”
Kalimat itu mengingatkanku pada sesuatu.
Nisa selalu membenci dikasihani.
Waktu SMA, ia pernah berjalan kaki hampir tiga kilometer karena uang angkotnya hilang.
Ia tidak meneleponku.
Ketika kutanya kenapa, ia berkata, “Nanti Ibu bilang aku ceroboh.”
Aku waktu itu menganggapnya keras kepala.
Sekarang aku mulai melihat kemungkinan lain.
Barangkali sejak kecil, Nisa belajar bahwa meminta pertolongan dariku selalu datang bersama penilaian.
“Adnan bagaimana?” tanyaku.
“Orangnya baik.”
Aku menatap Dedi.
“Kamu kenal juga?”
“Pernah ketemu dua kali.”
“Hebat.”
“Mbak mau marah, silakan.”
“Aku memang marah.”
“Aku tahu.”
“Tapi aku bahkan tidak tahu wajah cucuku, sementara kamu sudah dua kali bertemu suaminya.”
Dedi menunduk.
Kali ini ia tidak membela diri.
“Aku minta maaf untuk bagian itu.”
Aku memalingkan wajah.
Ia melanjutkan, “Tapi aku juga ingin Mbak tahu sesuatu. Nisa tidak pernah minta uang.”
“Aku tahu.”
“Bahkan waktu Adnan kecelakaan kerja tahun lalu, dia tidak minta.”
Aku menatapnya lagi.
“Kecelakaan?”
“Jatuh dari tangga waktu pasang AC. Pergelangan kaki retak. Dua bulan nggak bisa kerja penuh.”
Aku merasa mual.
“Kenapa tidak ada yang bilang?”
Dedi mulai kehilangan kesabarannya.
“Karena ini bukan cuma soal kami tidak bilang, Mbak.”
Aku langsung berdiri.
“Apa maksudmu?”
“Maksudku, Mbak membuat sangat jelas tiga tahun lalu bahwa hidup Nisa bukan urusan Mbak lagi kalau dia tetap menikah dengan Adnan.”
“Aku marah waktu itu.”
“Dia juga marah.”
“Aku ibunya.”
“Betul.”
Dedi berdiri.
“Tapi menjadi ibu bukan berarti semua kalimat yang kita ucapkan saat marah otomatis tidak berlaku.”
Aku ingin membalas.
Ayah keluar dari lorong sebelum aku sempat.
Ia memakai kaus putih dan sarung.
“Kalian ribut lagi?”
“Tidak,” kata Dedi.
“Iya,” kataku.
Ayah menatap kami.
Dedi mengambil kunci motor.
“Aku pulang.”
Sebelum keluar, ia berhenti di pintu.
“Mbak, aku tahu aku salah menyimpan ini terlalu lama.”
Ia menarik napas.
“Tapi kalau Mbak cuma sibuk mencari siapa yang salah karena merahasiakan Nisa, Mbak akan melewatkan pertanyaan yang lebih penting.”
“Apa?”
“Kenapa Nisa merasa lebih aman hidup tanpa ibunya daripada mengetuk pintu rumah sendiri.”
Ia pergi.
Aku tidak mengejarnya.
Ayah duduk di kursi.
“Aku tidak suka caranya bicara.”
“Bapak mau membelaku?”
“Tidak.”
Aku menatapnya.
“Aku cuma bilang caranya.”
Aku tertawa pendek.
“Akhir-akhir ini semua orang tampaknya punya banyak hal untuk dikatakan kepadaku.”
Ayah memandang tangannya.
“Kami sebenarnya sudah lama punya.”
“Kenapa baru sekarang?”
“Karena kamu baru sekarang diam cukup lama untuk mendengar.”
Aku menatap Ayah.
Untuk sesaat, aku ingin masuk kamar dan membanting pintu.
Sebaliknya aku duduk.
“Makanan dua kotak itu ide siapa?”
Ayah tersenyum tipis.
“Pertama kali aku datang, aku bawa beras lima kilo.”
“Nisa menolak?”
“Dia menyuruhku bawa pulang.”
Aku bisa membayangkannya.
“Lalu?”
“Minggu berikutnya aku bawa uang.”
“Ditolak lagi?”
“Dia marah.”
Aku hampir tersenyum.
“Terus Bapak bawa makanan.”
“Bukan.”
Ayah bersandar.
“Aku datang tanpa bawa apa-apa.”
“Dan?”
“Raka sedang makan telur kecap. Aku bilang baunya enak.”
Aku mulai mengerti.
“Nisa menyuruh Bapak makan.”
“Iya.”
“Besoknya?”
“Jumat berikutnya aku bilang gantian.”
Jadi bukan Ayah menyelamatkan mereka dengan makanan.
Mereka bergantian memberinya alasan untuk datang.
Dua kotak itu bukan bantuan sosial.
Bukan sedekah.
Bukan kewajiban.
Itu cara sebuah keluarga yang rusak menjaga hubungan tanpa harus menyebutnya demikian.
“Ayah,” kataku pelan.
“Hm?”
“Kenapa Bapak tidak pernah memaksa Nisa pulang?”
Ayah menatapku seolah pertanyaan itu aneh.
“Karena dia bukan koper.”
Aku tertawa, lalu menutup wajah dengan tangan.
“Serius.”
“Aku juga serius.”
Ia terdiam sejenak.
“Orang bisa kita rindukan tanpa kita seret pulang.”
Mataku mulai panas.
Ayah jarang berbicara panjang tentang perasaan.
Mungkin karena generasinya tidak terbiasa.
Atau mungkin karena sepanjang hidupnya, Ibu yang melakukan pekerjaan itu untuk kami.
“Aku pikir waktu itu aku sedang menyelamatkan Nisa dari hidup susah.”
Ayah mengangguk.
“Aku tahu.”
“Adnan tidak punya pekerjaan tetap. Nisa berhenti kuliah.”
“Aku tahu.”
“Aku cuma takut dia menyesal.”
“Aku juga.”
Aku menatapnya.
“Lalu kenapa Bapak tidak mendukungku?”
“Karena takut tidak memberi kita hak mengambil setir dari tangan orang lain.”
Aku terdiam.
Ayah menatap ke arah toko yang lampunya masih menyala.
“Dulu waktu ibumu mau jual kue setelah kamu lahir, aku melarang.”
Aku pernah mendengar cerita itu.
“Kata Bapak karena Ibu harus mengurus aku.”
“Itu alasan yang bagus.”
“Memang.”
“Buatku.”
Ia tersenyum kecil.
“Ibumu marah tiga bulan.”
“Aku tidak tahu.”
“Tentu tidak. Kamu masih bayi.”
“Terus?”
“Akhirnya dia tetap jualan. Dan ternyata yang harus belajar menyesuaikan bukan dia. Aku.”
Aku mengusap mata.
“Ayah sedang bilang aku seperti Ayah dulu?”
“Tidak.”
Ia bangkit perlahan.
“Aku cuma bilang sifat buruk juga bisa diwariskan tanpa surat warisan.”
Aku tertawa di tengah air mata.
Ayah berjalan ke kamarnya.
Di depan pintu ia berhenti.
“Jumat besok aku mau ke rumah Nisa.”
Aku menatapnya.
“Aku antar.”
“Cuma sampai ujung gang.”
Aku mengangguk.
“Cuma sampai ujung gang.”
Jumat berikutnya, aku menutup toko selama satu jam setelah zuhur.
Ayah duduk di sampingku di mobil membawa satu tas kain.
Hari itu hanya ada satu kotak makanan.
Aku memperhatikannya.
“Kenapa satu?”
“Yang kedua mereka masak sendiri.”
Aku tidak bertanya lagi.
Kami sampai di ujung gang Tlogosari.
Ayah membuka pintu.
Aku tetap duduk.
Ia turun, lalu membungkuk ke jendela.
“Kamu mau menunggu?”
“Boleh?”
“Boleh.”
“Kira-kira berapa lama?”
“Entah.”
Aku menghela napas.
“Baik.”
Ayah berjalan masuk gang.
Aku mematikan mesin.
Dua puluh menit pertama aku memeriksa pesan toko.
Setengah jam kemudian aku mulai gelisah.
Empat puluh menit kemudian seorang anak berlari keluar gang.
Raka.
Ia berhenti ketika melihat mobilku.
Aku juga.
Ia tidak langsung mendekat.
Aku membuka pintu dan turun.
“Halo.”
“Halo.”
“Kok keluar sendiri?”
“Mbah suruh panggil.”
Jantungku berdebar.
“Kenapa?”
Raka mengangkat bahu.
“Katanya Nenek boleh masuk kalau mau.”
Aku menatap ujung gang.
“Kalau Mamamu?”
“Mama bilang terserah.”
Bagi orang lain, mungkin itu jawaban kecil.
Bagiku, itu pintu yang dibuka satu jari.
Aku mengikuti Raka.
Nisa duduk di lantai ketika aku masuk.
Di depannya ada kain-kain jahitan.
Ayah sedang minum teh.
Aku melepas sandal.
“Boleh?”
Nisa mengangguk.
Aku duduk dekat pintu.
Tidak terlalu dekat.
Beberapa detik canggung berlalu.
Raka menyelamatkan kami.
Ia membawa buku gambar.
“Nenek belum digambar.”
Aku melihat halaman dengan sosok tanpa wajah itu.
Nisa langsung berkata, “Raka, nanti saja.”
“Tidak apa-apa,” kataku.
Aku menatap cucuku.
“Kamu mau gambar seperti apa?”
Raka memiringkan kepala.
“Rambut Nenek pendek.”
“Iya.”
“Pakai kacamata?”
“Kalau baca.”
“Berarti nggak usah.”
Ia mulai menggambar.
Nisa memotong benang.
Aku menatap tangannya.
“Aku dengar Adnan pernah kecelakaan.”
Tangan Nisa berhenti.
“Om Dedi bilang?”
“Iya.”
Wajahnya tertutup lagi.
Aku langsung menambahkan, “Aku tidak datang untuk menawarkan uang.”
Ia menatapku.
“Benar?”
“Benar.”
“Lalu?”
Aku menarik napas.
“Aku cuma ingin tahu keadaannya sekarang.”
Nisa kembali memegang kain.
“Sudah normal. Masih kadang sakit kalau naik tangga terlalu banyak.”
Aku mengangguk.
“Kerjanya?”
“Masih teknisi. Sekarang lebih banyak servis rumahan.”
“Bagus.”
Hening.
Aku hampir bertanya apakah penghasilannya cukup.
Kutelan pertanyaan itu.
Sebagai gantinya aku bertanya, “Kamu sendiri masih suka menjahit?”
Nisa menatapku, sedikit terkejut.
“Iya.”
“Dulu kamu benci pelajaran keterampilan.”
“Itu karena Bu Ratna selalu menyuruh kami bikin taplak meja.”
Aku tertawa.
Nisa juga tersenyum kecil.
Hanya satu detik.
Tapi aku menyimpannya.
Kemudian ia berkata, “Bu.”
“Iya?”
“Jangan datang ke sini karena kasihan.”
Kalimat itu begitu mirip dirinya sejak kecil sampai dadaku sakit.
“Aku tidak tahu cara datang tanpa membawa rasa bersalah,” jawabku.
Nisa diam.
“Tapi aku bisa belajar tidak membawa rasa kasihan.”
Ia memandangku.
“Aku juga tidak mau semua langsung normal.”
“Aku juga tidak tahu bagaimana membuatnya normal.”
“Bagus.”
Aku hampir tertawa.
Nisa mengusap kain di pangkuannya.
“Ibu masih marah aku berhenti kuliah?”
Pertanyaan itu datang pelan sekali.
Aku berpikir sebelum menjawab.
“Aku masih berharap kamu menyelesaikannya suatu hari kalau kamu sendiri mau.”
Wajahnya menegang sedikit.
“Tapi?”
“Tapi aku salah karena membuat ijazah lebih penting daripada hubungan kita.”
Nisa tidak menjawab.
Aku melanjutkan.
“Aku juga salah karena menganggap memilih Adnan berarti kamu memilih melawanku.”
“Mama memang tidak suka Ayah,” sela Raka dari lantai.
Nisa menutup mata.
“Raka.”
Aku tertawa kecil.
“Dulu iya.”
“Sekarang?”
Aku menatap cucuku.
“Sekarang Nenek belum cukup kenal Ayahmu untuk bilang.”
Raka tampaknya puas.
Nisa justru menatapku lama.
“Dulu Ibu bilang Adnan akan membuat hidupku susah.”
Aku mengangguk.
“Aku ingat.”
“Memang susah.”
Aku menunduk.
“Tapi bukan berarti aku ingin pulang sambil mendengar Ibu bilang ‘sudah kubilang’.”
Aku menggenggam lutut.
“Aku mengerti sekarang.”
“Tidak. Ibu belum mengerti.”
Aku mengangkat wajah.
Nisa menatapku lurus.
“Yang membuatku pergi bukan karena Ibu tidak setuju aku menikah.”
Aku diam.
“Yang membuatku pergi karena Ibu selalu membuatku merasa kalau aku salah memilih satu hal, aku kehilangan hak untuk meminta bantuan selamanya.”
Aku merasakan sesuatu dalam diriku runtuh pelan.
Tidak dramatis.
Tidak seperti kaca pecah.
Lebih seperti rak tua yang ternyata selama ini miring, lalu akhirnya aku melihatnya dari depan.
“Aku pernah bilang begitu.”
“Bukan cuma sekali.”
Nisa menahan napas.
“Waktu aku gagal ujian masuk negeri, Ibu bilang kalau dulu aku belajar lebih serius, aku tidak perlu membebani Ibu biaya kuliah swasta.”
Aku ingat.
“Waktu aku tabrak motor tetangga, Ibu bayar. Tapi enam bulan setiap kita bertengkar, Ibu sebut lagi biaya perbaikannya.”
Aku menunduk.
“Waktu aku mau kerja di toko pakaian, Ibu bilang buat apa punya anak kuliah kalau ujung-ujungnya lipat baju.”
Aku menutup mata.
Semua kalimat itu pernah terasa masuk akal saat kuucapkan.
Itulah bagian paling buruknya.
Aku tidak pernah bangun pagi dan memutuskan menyakiti anakku.
Aku hanya terlalu yakin bahwa kekhawatiranku lebih bijaksana daripada pilihannya.
“Aku minta maaf,” kataku.
Nisa tidak menangis.
Ia juga tidak langsung memaafkan.
“Terima kasih.”
Hanya itu.
Aneh sekali.
Dulu mungkin aku akan kecewa.
Sekarang aku justru merasa jawaban itu jujur.
Ayah yang sedari tadi diam berdiri.
“Aku mau beli air mineral.”
Aku menatap gelas tehnya yang masih setengah.
“Nggak usah pura-pura.”
“Aku tidak pura-pura. Tenggorokanku kering.”
Ia mengajak Raka keluar.
Aku tahu ia sengaja memberi kami ruang.
Setelah pintu menutup, Nisa berkata, “Mbah sebenarnya capek.”
Aku menoleh.
“Aku tahu.”
“Bukan jalan.”
“Maksudmu?”
“Capek jadi perantara.”
Aku tidak langsung memahami.
Nisa melanjutkan.
“Setiap datang, dia selalu cerita Ibu sehat. Toko ramai. Kadang dia bawa foto baru depan toko. Ke Ibu dia bawa cerita tentang kami?”
Aku menggeleng.
“Tidak.”
Nisa tersenyum sedih.
“Karena aku yang melarang.”
Aku melihat pintu.
“Selama setahun dia menjaga dua kehidupan supaya tidak saling bertabrakan.”
“Iya.”
Aku menarik napas.
Dan di situlah aku menyadari surface problem yang selama ini kami perdebatkan sebenarnya salah.
Bukan soal apakah Ayah cukup kuat berjalan sendiri.
Bukan soal panti.
Bukan soal dua kotak makanan.
Ayah telah menjadi jembatan karena kami, dua perempuan dewasa, lebih memilih diam daripada mengambil risiko ditolak.
Kami membiarkan seorang laki-laki hampir delapan puluh tahun membawa hubungan kami di atas pundaknya.
“Ini harus berhenti,” kataku.
Nisa langsung tegang.
Aku cepat-cepat menambahkan, “Bukan hubungan kalian dengan Ayah.”
Ia menatapku.
“Ayah tidak boleh lagi menjadi kurir antara kita.”
“Terus?”
“Kalau kamu tidak ingin bicara denganku, bilang langsung.”
Nisa terlihat hampir tersenyum.
“Kalau aku ingin bicara?”
“Telepon.”
“Kalau Ibu mulai mengatur?”
“Tutup.”
Kali ini ia benar-benar tertawa.
Kecil.
Tapi nyata.
“Aku serius.”
“Aku tahu.”
Aku berdiri ketika mendengar suara Raka di luar.
Sebelum pintu terbuka, Nisa berkata, “Bu.”
Aku menoleh.
“Minggu depan Raka ulang tahun.”
Aku menahan napas.
Nisa melanjutkan, “Cuma makan sederhana.”
Aku tidak berani berharap terlalu cepat.
“Aku boleh datang?”
“Boleh.”
Aku tersenyum.
Nisa mengangkat satu jari.
“Tapi jangan bawa hadiah mahal.”
Aku mengangguk.
“Satu buku gambar?”
Dari luar, Raka berteriak, “Aku sudah punya!”
Kami berdua tertawa.
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku mendengar tawa anakku bercampur dengan tawaku sendiri.
Tidak menghapus apa pun.
Tapi cukup untuk membuat ruangan kecil itu terasa sedikit lebih luas.
Masalah Ayah kami selesaikan bukan dengan satu keputusan besar, tetapi beberapa keputusan kecil.
Pertama, rumah lansia dibatalkan.
Dedi kehilangan uang tanda jadi Rp1 juta.
Ia kesal selama dua hari.
Ayah menawarkan mengganti.
Dedi menolak.
“Anggap biaya kursus karena sok pintar.”
Ayah bilang, “Kursusmu mahal.”
Mereka kembali berdebat.
Tapi kali ini sambil tertawa.
Kedua, kami menyewa Bu Warsih, seorang tetangga berusia lima puluhan yang sebelumnya merawat ibunya sendiri, untuk datang tiga jam setiap hari kerja.
Bukan sebagai “penjaga Ayah”.
Ayah tidak mau istilah itu.
Resminya, ia membantu bersih-bersih ringan, menemani belanja, dan memastikan makan siang tidak terlambat.
Biayanya Rp1,8 juta per bulan.
Ayah membayar Rp800 ribu dari pensiunnya.
Aku, Dedi, dan Mira membagi sisanya.
Awalnya aku ingin membayar semuanya.
Ayah menolak.
“Kalau semua kamu bayar, nanti tiga bulan lagi kamu diam-diam merasa paling berjasa.”
Aku terdiam.
Dedi tertawa terlalu keras.
“Benar, kan?”
Aku melempar serbet ke arahnya.
Ayah benar.
Kebiasaanku menolong dengan uang sering punya sisi yang tidak ingin kuakui.
Aku memberi karena sayang.
Tapi kemudian aku merasa punya hak lebih besar untuk berpendapat.
Bantuan yang seharusnya menjadi tali kadang berubah menjadi tali kekang.
Ketiga, Jumat tetap menjadi hari Ayah ke Tlogosari.
Kadang aku antar.
Kadang Dedi.
Kadang ia memakai ojek langganan Pak Yusuf yang kami kenal.
Ayah tetap membawa tas kain.
Tapi isi tasnya berubah-ubah.
Kadang makanan.
Kadang buku cerita.
Kadang tidak ada apa-apa.
Dan itu justru membuatku lega.
Karena berarti ia pergi bukan untuk menyelamatkan siapa pun.
Ia pergi karena ingin bertemu orang yang ia sayangi.
Ulang tahun Raka tidak menjadi adegan rekonsiliasi besar.
Adnan pertama kali menyalamiku dengan kaku.
Ia pria berusia awal tiga puluhan, kulitnya gelap karena sering bekerja di luar ruangan, dan jari telunjuknya punya bekas luka panjang.
“Bu.”
“Adnan.”
Aku ingin mengatakan banyak hal.
Maaf.
Terima kasih menjaga Nisa.
Aku dulu salah menilaimu.
Tapi kami berdiri di depan nasi kuning berbentuk kecil dengan Raka berlari membawa balon.
Jadi aku hanya berkata, “Terima kasih sudah mengizinkan saya datang.”
Adnan menatap Nisa sebelum menjawab.
“Sama-sama.”
Itu cukup.
Aku membawa hadiah satu set pensil warna.
Harganya Rp85 ribu.
Aku hampir membeli sepeda.
Benar-benar hampir.
Di toko sepeda, tanganku sudah menyentuh label harga sebelum aku membayangkan wajah Nisa.
Aku pulang tanpa sepeda.
Kemajuan kadang bentuknya sangat tidak heroik.
Kadang hanya keberhasilan meninggalkan toko tanpa membeli sesuatu yang tidak diminta.
Dua minggu kemudian, Nisa datang ke tokoku.
Sendirian.
Aku sedang melayani seorang anak sekolah yang mencetak tugas.
Ketika melihatnya, tanganku berhenti di atas mouse.
“Kamu…”
“Mau print pola.”
Aku menelan harapan yang langsung naik terlalu tinggi.
“Oh.”
Ia menyerahkan flashdisk.
Aku mencetak dua belas lembar pola jahit.
Ketika akan membayar, aku berkata, “Tidak usah.”
Nisa menatapku.
Aku cepat-cepat memperbaiki.
“Diskon keluarga sepuluh persen.”
Ia tertawa.
“Peliiiit.”
Aku tersenyum.
“Bisnis tetap bisnis.”
Kalimat Ayah.
Nisa pasti menyadarinya karena ia ikut tersenyum.
Setelah itu ia datang lagi.
Tidak sering.
Kadang dua minggu sekali.
Kadang hanya mengantar Raka ketika Ayah ingin mengajaknya membeli es krim.
Hubungan kami tidak menjadi hangat dalam semalam.
Ada hari ketika kami baik-baik saja.
Ada hari ketika satu kalimat salah membuat Nisa diam lagi.
Sekali aku bertanya kenapa ia belum mempertimbangkan melanjutkan kuliah.
Wajahnya langsung berubah.
Aku hampir menjelaskan niatku.
Lalu aku berhenti.
“Maaf. Itu tadi aku mulai mengatur lagi.”
Nisa menatapku.
“Iya.”
“Lupakan.”
“Baik.”
Sederhana.
Dulu percakapan seperti itu bisa menjadi pertengkaran tiga hari.
Sekarang kami mulai belajar bahwa sebuah kesalahan tidak harus dibela sampai berubah menjadi perang.
Dedi juga berubah.
Bukan menjadi orang yang santai.
Mustahil.
Ia tetap membuat jadwal kontrol Ayah di kalender bersama.
Tetap mengirim pesan kalau tekanan darah Ayah naik.
Tetap menelepon dua kali kalau pesannya tidak dibaca.
Tapi sekarang ia bertanya dulu.
“Pak, Selasa mau saya antar kontrol atau Mbak Tari?”
Bukan:
“Selasa saya antar. Jangan pergi ke mana-mana.”
Perbedaannya hanya beberapa kata.
Bagi Ayah, itu besar.
Mira pulang dari Pekalongan sebulan kemudian.
Kami mengadakan makan siang.
Untuk pertama kalinya, kami membicarakan biaya, waktu, dan tanggung jawab merawat Ayah tanpa saling berlomba menjadi anak paling berbakti.
Mira mengakui selama ini ia terlalu mudah berkata, “Nanti aku ganti,” lalu lupa mengganti.
Aku mengakui aku sering bilang, “Sudah, biar aku,” tetapi menyimpan marah.
Dedi mengakui ia membuat keputusan cepat ketika panik.
Ayah mendengarkan.
Kemudian berkata, “Bagus. Sekarang giliran aku.”
Kami menoleh.
“Aku juga salah.”
Dedi terlihat kaget.
Ayah mengambil kerupuk.
“Aku sengaja merahasiakan Nisa terlalu lama.”
Aku diam.
“Aku bilang untuk melindungi hubungan kalian.”
Ia menggigit kerupuk.
“Sebagian benar.”
“Sebagian lagi?” tanyaku.
Ayah menatapku.
“Aku takut kamu marah kepadaku.”
Aku tidak menyangka jawabannya.
“Bapak takut kepadaku?”
“Takut kamu tidak mengizinkanku pergi.”
Aku ingin berkata aku tidak akan begitu.
Lalu aku ingat reaksiku pertama kali.
“Dan,” lanjut Ayah, “aku suka merasa dibutuhkan Raka.”
Suasana meja berubah.
Ayah menunduk sedikit.
“Setelah ibumu meninggal, kalian semua sibuk menjagaku. Tapi di rumah Nisa, aku bukan orang tua yang harus dijaga.”
Ia tersenyum.
“Aku Mbah yang bisa memperbaiki roda kereta.”
Aku menatap tangannya.
Tiba-tiba dua kotak makanan itu punya arti lain lagi.
Bukan hanya jembatan antara aku dan Nisa.
Bukan hanya cara Ayah menolong cucunya.
Itu juga cara seorang lelaki tua menemukan peran setelah kehilangan istrinya.
“Kami terlalu sibuk melihat Bapak sebagai tanggung jawab,” kata Mira pelan.
Ayah menunjuknya dengan kerupuk.
“Nah. Kamu paling pintar hari ini.”
Mira tertawa.
Aku tidak.
Aku sedang mengingat dua tahun terakhir.
Berapa kali aku menyiapkan bajunya tanpa bertanya.
Berapa kali aku menjawab pertanyaan dokter untuknya.
Berapa kali aku memutuskan menu.
Berapa kali aku berkata pada tamu, “Bapak sekarang sudah nggak kuat.”
Padahal Ayah duduk dua meter dari kami.
Mungkin cinta tidak selalu menjadi lebih baik ketika porsinya diperbesar.
Kadang cinta hanya perlu belajar duduk di kursinya sendiri.
Tiga bulan kemudian, sesuatu yang tidak kuduga terjadi.
Nisa datang ke toko sore-sore membawa sebuah brosur kursus.
Bukan kampus.
Kursus administrasi bisnis dan pembukuan digital enam bulan.
“Aku kepikiran ambil ini,” katanya.
Aku membaca sekilas.
Kelas malam.
Dua kali seminggu.
Biayanya tidak murah.
Aku ingin langsung berkata akan membayar.
Kalimat itu sudah sampai di ujung lidah.
Aku menahannya.
“Bagus.”
Nisa menunggu.
Aku juga.
Akhirnya ia berkata, “Cuma begitu?”
“Kamu mau komentar yang berapa halaman?”
Ia memutar mata.
“Kukira Ibu mau tanya biayanya.”
“Aku ingin.”
“Terus?”
“Aku sedang latihan.”
Ia tertawa.
Kemudian wajahnya menjadi lebih serius.
“Kalau aku minta pinjam sebagian biaya, boleh?”
Aku menatapnya.
Kata pinjam terasa berbeda dari beri.
Ada martabat di sana.
Ada kepercayaan.
Ada juga risiko.
“Boleh,” kataku. “Tapi kita tulis jumlahnya dan cara bayarnya. Bukan karena Ibu tidak percaya.”
Nisa mengangguk.
“Supaya nanti Ibu nggak ungkit lima tahun lagi?”
Aku menutup wajah sebentar.
“Pedas sekali.”
“Tapi benar?”
“Benar.”
Kami tertawa.
Akhirnya aku meminjamkan Rp4 juta.
Nisa membayar Rp500 ribu setiap bulan.
Bulan kedua ia terlambat lima hari.
Aku tidak menelepon.
Hari keenam ia datang sendiri.
“Maaf.”
“Tidak apa-apa.”
“Kenapa nggak ditagih?”
“Karena kita sudah sepakat. Aku bisa menunggu sampai kamu bicara.”
Ia mengangguk.
Kemudian meletakkan Rp500 ribu di meja.
Mungkin bagi orang lain itu hanya pembayaran cicilan.
Bagiku, itu bentuk hubungan baru.
Bukan hubungan ibu yang selalu menyelamatkan.
Bukan anak yang harus membuktikan dirinya.
Dua orang dewasa yang membuat kesepakatan dan berusaha menepatinya.
Suatu Jumat sore, hampir enam bulan sejak aku menemukan kontrakan Nisa, hujan turun deras.
Ayah duduk di toko menunggu reda.
Tas kainnya ada di samping kaki.
Aku menatap jam.
“Kalau terlalu deras, minggu depan saja.”
Ayah menoleh.
“Kamu mulai lagi?”
Aku tertawa.
“Bukan melarang.”
“Bagus.”
Lima menit kemudian sebuah mobil berhenti di depan toko.
Nisa turun membawa payung.
Raka melompat dari pintu belakang.
“Mbah!”
Ayah mengangkat alis kepadaku.
“Ternyata aku dijemput.”
Aku tersenyum.
Raka berlari masuk.
Di tangannya ada buku gambar yang dulu kuberikan.
“Nenek!”
“Iya?”
“Aku sudah ganti gambarnya.”
Ia membuka halaman terakhir.
Dulu di sana ada empat sosok.
Satu belum punya wajah.
Sekarang semuanya lengkap.
Raka.
Nisa.
Adnan.
Ayah.
Dan di ujung kanan ada seorang perempuan berambut pendek memakai kacamata terlalu besar.
Aku tertawa.
“Kacamata Nenek nggak segede itu.”
“Biar kelihatan.”
Aku memperhatikan gambar itu lagi.
Ada satu hal baru.
Di antara semua orang, Raka menggambar sebuah meja kecil.
Di atasnya ada piring, gelas, pensil warna, dan beberapa garis yang mungkin dimaksudkan sebagai makanan.
Tidak ada rumah besar.
Tidak ada uang.
Tidak ada orang yang menyelamatkan orang lain.
Hanya sebuah meja.
Beberapa kursi.
Orang-orang yang akhirnya memilih duduk cukup dekat untuk saling mendengar.
“Nenek ikut?” tanya Raka.
Aku melihat Nisa.
Dulu aku mungkin langsung mengambil tas dan mengunci toko.
Kali ini aku bertanya, “Boleh?”
Nisa mengangguk.
“Boleh.”
Aku memanggil Reni dari belakang.
“Tolong jaga toko satu jam, ya.”
Aku mengambil payung.
Ayah sudah berjalan lebih dulu bersama Raka.
Nisa berdiri menungguku di depan pintu.
Sebelum keluar, aku mengambil gambar Raka dan menempelkannya dengan selotip di dinding dekat mesin fotokopi.
Tempat yang setiap hari pasti kulihat.
Bukan untuk mengingatkan diriku bahwa keluarga harus selalu bersama.
Kami tidak selalu bersama.
Kadang Dedi masih membuatku kesal.
Kadang Nisa tidak menjawab pesanku selama dua hari.
Kadang aku masih bicara terlalu banyak.
Kadang Ayah tetap keras kepala.
Tapi sekarang kami tidak lagi menganggap diam sebagai satu-satunya cara menjaga hubungan.
Dan kami tidak lagi menganggap membantu berarti berhak mengendalikan.
Aku mematikan lampu bagian depan toko.
Di luar, hujan belum berhenti.
Nisa membuka payungnya sedikit lebih lebar agar cukup untuk kami berdua.
Aku berdiri di sampingnya.
Tidak di depan.
Tidak menariknya ke arah mana pun.
Kami hanya berjalan menuju mobil dengan langkah yang sama.
Untuk sementara, itu sudah lebih dari cukup.
Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Menurut kalian, kapan perhatian kepada keluarga berubah menjadi kontrol, dan bagaimana cara menjaga orang yang kita sayangi tanpa mengambil hak mereka untuk memilih? Semoga kita semua diberi kesehatan, hati yang lebih lapang, dan keberanian untuk memperbaiki hubungan sebelum diam menjadi terlalu panjang.
