BAGIAN 3
Pak Surono pulang lima menit kemudian dengan wajah serba salah.
Tidak ada yang menahannya.
Aris langsung masuk ke rumah.
Siska mengikutinya.
Aku membantu Bapak berdiri.
Tangannya dingin.
“Ibu di mana?”
“Belakang,” jawabnya.

Kami menemukan Ibu sedang duduk di bangku kecil dekat tempat jemuran sambil mengupas bawang.
Ada baskom besar di depannya.
Matanya tidak terangkat ketika kami datang.
Bapak berhenti dua langkah darinya.
“Ratna.”
Ibu tetap mengupas.
“Uang sekolah itu kamu tahu?”
Pisau kecil di tangannya berhenti.
Aku menahan napas.
“Bu?”
Ibu menaruh bawang ke baskom.
“Sedikit.”
Bapak tertawa pendek.
Bukan tertawa karena lucu.
“Sedikit itu berapa?”
“Aris pernah cerita ada pembayaran di depan.”
“Rp186 juta?”
Ibu memejamkan mata.
Aku sudah tidak perlu jawaban.
Bapak menarik kursi plastik dan duduk.
“Aku tanya kamu berkali-kali kenapa uang usaha selalu kurang.”
Ibu menatapnya.
“Waktu itu Aris bilang uangnya dipakai muter.”
“Dan kamu percaya?”
“Kalau tidak dibantu, usahanya tutup.”
“Sekarang?”
Ibu tidak menjawab.
Dari dalam rumah terdengar pintu kamar dibanting.
Aku ingin mengejar Aris.
Bapak menahanku.
“Jangan sekarang.”
“Kenapa?”
“Kalau kamu masuk sambil marah, dia akan bicara soal kamu. Bukan soal uang.”
Aku terdiam.
Bapak ternyata masih mengenal anaknya dengan sangat baik.
Aris selalu begitu.
Kalau terpojok, dia akan memindahkan pertandingan ke lapangan lain.
Aku kaya.
Aku jarang pulang.
Aku tidak tahu beratnya mengurus orang tua.
Aku cuma bisa kirim uang.
Semua itu ada bagian benarnya.
Dan justru karena ada bagian yang benar, selama bertahun-tahun aku mudah dibuat merasa bersalah.
Aku duduk di samping Ibu.
“Mulai dari awal.”
Ibu mengusap matanya dengan punggung tangan.
“Tidak ada yang perlu dibesar-besarkan.”
Aku menatap baskom bawang.
“Ibu bangun jam setengah empat hampir setiap hari.”
“Itu biasa.”
“Uang belanja masuk usaha.”
“Kadang.”
“Bapak tidak dibayar.”
“Dia juga cuma bantu.”
“Gelang Ibu dijual.”
Ibu menunduk.
“Yang itu memang Ibu sendiri yang mau.”
“Kenapa?”
Untuk pertama kalinya suaranya pecah.
“Karena Aris bilang kalau pesanan sekolah gagal, namanya habis.”
Aku menunggu.
“Terus?”
Ibu diam lama.
“Dan dia punya utang ke beberapa pemasok.”
“Berapa?”
“Tidak tahu pasti.”
Aku langsung melihat kebohongan itu.
Bukan dari wajahnya.
Dari cara Ibu melipat ujung bajunya.
Kebiasaan lama.
Dia melakukan hal yang sama ketika menyembunyikan nilai matematika Aris dari Bapak tiga puluh tahun lalu.
“Berapa, Bu?”
“Sekitar seratus jutaan.”
“Seratus berapa?”
Ibu menatapku.
“Dua ratus empat puluh.”
Aku menutup mata sebentar.
Bapak tidak bergerak.
Seolah-olah tubuhnya berhenti mengikuti percakapan.
“Utang usaha?” tanyaku.
Ibu menjawab, “Sebagian.”
“Sebagian yang lain?”
Tidak ada suara.
Aku memanggil, “Siska.”
Tidak ada jawaban.
Aku berdiri dan berjalan ke ruang tengah.
Siska sedang melipat kardus.
Tangannya bergerak cepat.
“Siska.”
“Aku lagi kerja, Mbak.”
“Kita perlu bicara.”
“Nanti.”
“Sekarang.”
Dia menatapku.
“Aku bukan pegawai Mbak.”
“Benar. Karena itu aku tidak menyuruhmu. Aku bertanya.”
Dia melempar kardus yang sedang dilipat ke meja.
“Apa lagi?”
“Utang Rp240 juta itu utang apa?”
Wajahnya langsung menegang.
Dari kamar, Aris berteriak,
“Tidak usah jawab!”
Siska menoleh ke arah pintu.
Aku juga.
Kemudian dia berkata, sangat pelan,
“Kalau aku tidak jawab, nanti semua dibilang salahku lagi.”
Pintu kamar terbuka.
Aris keluar.
“Sekarang kamu mau apa?”
Siska berdiri.
“Aku mau cerita.”
“Cerita apa?”
“Yang benar.”
Aris berjalan mendekat.
“Jangan bikin drama.”
Siska tertawa.
“Mbakmu sudah di sini tiga hari. Dramanya sudah terlambat dicegah.”
Ibu muncul dari belakang.
“Sudah, Sis.”
Siska berbalik.
“Bu, justru karena semua orang di rumah ini selalu bilang ‘sudah’, masalahnya tidak pernah benar-benar selesai.”
Aku melihat wajah Ibu.
Kalimat itu mengenai sesuatu yang selama ini tidak pernah kami sebut.
Aris menuding istrinya.
“Kamu juga menikmati usaha ini.”
“Aku kerja di sini.”
“Terus?”
“Aku kerja, Ris. Aku tidak bilang semua keputusanmu benar.”
“Kamu setuju waktu kita ambil pesanan sekolah.”
“Aku setuju ambil pesanan. Aku tidak setuju kamu pakai uang muka untuk menutup utang lama.”
Bapak berdiri dari kursinya.
“Utang lama apa?”
Aris memalingkan wajah.
Siska menatap lantai.
“Akhir 2022, waktu katering belum sebesar sekarang, Aris ikut usaha distribusi bahan makanan sama temannya.”
Aku menatap adikku.
Aku sama sekali tidak pernah mendengar cerita itu.
Siska melanjutkan.
“Dia masuk modal Rp150 juta.”
“Dari mana?”
“Pinjam.”
Aris menyela.
“Investasi, bukan judi.”
“Aku tidak bilang judi.”
“Cara ngomongmu begitu.”
Siska menarik napas.
“Usahanya gagal. Temannya pergi ke luar Jawa. Utangnya tetap ada.”
Aku bertanya, “Lalu uang muka sekolah dipakai membayar itu?”
“Sebagian.”
“Berapa?”
“Sekitar Rp90 juta.”
Aris tertawa tanpa humor.
“Nah, puas? Sekarang sudah tahu semuanya?”
“Belum,” kataku.
Aku melihat Siska.
“Yang lain?”
Dia mengangkat kepala.
“Mobil pengiriman.”
“Bukannya mobil itu sewa?”
“Awalnya.”
Aris berkata tajam, “Siska.”
“Aku capek, Ris.”
Dia menoleh kepadaku.
“Dia ambil kredit mobil bekas karena katanya sewa terlalu mahal. Cicilannya Rp5,7 juta sebulan.”
“Bayar dari usaha?”
“Harusnya.”
“Nyatanya?”
Siska menunjuk ke belakang.
“Kalau cashflow kurang, dari uang rumah.”
Aku terdiam.
Semua potongan kecil mulai menyatu.
Pompa air.
Kulkas.
Gas.
Tambahan belanja.
Permintaan uang mendadak.
Bukan karena rumah orang tuaku semakin mahal untuk dipelihara.
Rumah itu diam-diam berubah menjadi penyangga sebuah bisnis yang terlalu besar untuk uang yang dimilikinya.
Dan setiap kali kekurangan, sistem keluarga kami punya satu jawaban.
Mira nanti kirim.
Aku memandang Ibu.
“Sudah berapa lama uangku dipakai begini?”
Ibu menangis.
Tidak keras.
Hanya air mata yang jatuh satu-satu.
“Mira…”
“Berapa lama?”
“Hampir setahun.”
Aris langsung berkata, “Itu bukan uang Mbak. Kalau sudah dikasih ke Ibu, ya hak Ibu.”
Aku mengangguk.
Dia tampak kaget karena aku tidak membantah.
“Benar.”
Semua orang diam.
Aku melanjutkan.
“Kalau Ibu memilih memberi uangnya ke kamu, secara moral aku bisa marah, tapi Ibu memang punya pilihan.”
Aris bersandar ke meja seolah baru memenangkan sesuatu.
“Tuh.”
“Tapi mulai hari ini, aku juga punya pilihan.”
Wajahnya berubah lagi.
Aku berjalan ke dapur.
Mematikan satu kompor yang tidak dipakai.
Membuka lemari di sudut.
Di sana ada minyak, tepung, saus, wadah plastik.
Barang-barang usaha bercampur dengan kebutuhan rumah.
Aku kembali ke ruang tengah.
“Aku tidak akan lagi mengirim uang tunai ke rumah ini.”
Ibu menatapku.
“Mira…”
“Aku tetap akan membayar kebutuhan Ibu dan Bapak. Obat, BPJS, kontrol dokter, kebutuhan harian.”
Aris menyela.
“Bedanya apa?”
“Bedanya, aku tidak akan membiayai usaha kamu tanpa sadar.”
“Mbak pikir aku mau uang Mbak?”
“Tidak tahu. Dan itu masalahnya. Selama ini kita semua sengaja tidak mau tahu.”
Dia maju selangkah.
“Kalau begitu jangan kirim apa-apa.”
Bapak berkata, “Ris.”
Aris mengangkat suaranya.
“Biar! Selama ini semua orang menganggap dia pahlawan karena transfer beberapa juta dari Surabaya.”
Kalimat itu akhirnya keluar.
Aku menatapnya.
“Mungkin kamu benar.”
Dia terdiam.
“Mungkin aku memang terlalu gampang mengirim uang supaya tidak perlu pulang dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.”
Ibu mengangkat wajah.
“Mira…”
Aku melanjutkan karena kalau berhenti, aku mungkin akan menangis.
“Waktu Ibu bilang genteng bocor, aku kirim uang. Bapak masuk rumah sakit, aku bayar. Aris bilang butuh freezer supaya usaha jalan, aku beli. Aku selalu merasa sudah melakukan bagianku.”
Aku melihat Bapak.
“Ternyata aku juga membuat semuanya terlalu mudah.”
Aris mendengus.
“Jangan sekarang pura-pura introspeksi supaya kelihatan paling dewasa.”
“Aku tidak sedang bicara untuk kelihatan dewasa.”
Aku menunjuk kalender di kamar.
“Aku sedang bicara karena Bapak mencatat seratus sembilan belas hari dia bekerja tanpa dibayar, dan aku tidak pernah bertanya satu kali pun.”
Bapak menunduk.
Siska duduk.
Ibu mulai menangis lebih keras.
Aris tidak menjawab.
Aku mengambil kursi.
“Sekarang kita hitung hal yang selama ini tidak pernah dihitung.”
Aris langsung menggeleng.
“Aku tidak punya waktu.”
“Kalau kamu pergi, besok aku bawa Bapak Ibu tinggal sementara di tempat lain.”
Ibu terkejut.
“Mira!”
Aku menatapnya.
“Bukan karena aku mau mengambil mereka dari rumah. Karena mereka butuh tidur, makan, dan berpikir tanpa ada tiga ratus kotak nasi lewat di depan kamar.”
Aris tertawa sinis.
“Terus usahaku?”
“Itu pertanyaan yang seharusnya kamu pikirkan sebelum menjadikan rumah ini dapur produksi penuh.”
“Ini rumah Bapak Ibu.”
“Betul.”
“Kalau mereka izinkan, Mbak tidak punya hak.”
Aku menoleh pada kedua orang tuaku.
“Bapak. Ibu. Kalian izinkan?”
Ibu langsung melihat Aris.
Gerakan kecil itu menjawab lebih banyak daripada kata-kata.
Bapak berkata, “Dulu iya.”
Aris menoleh cepat.
“Dulu?”
“Waktu masih dua puluh sampai lima puluh kotak.”
“Sekarang kan berkembang.”
“Rumah Bapak juga ikut habis.”
“Apanya yang habis?”
Bapak mengangkat tangannya.
“Kamu tahu Bapak terakhir duduk baca koran di ruang depan kapan?”
Aris terdiam.
“Bapak tahu rumah kecil. Kalau usaha maju, ya kita sesuaikan.”
“Siapa yang kita?”
Suara Bapak tetap tenang.
“Kamu pindahkan lemari Bapak tanpa tanya.”
“Supaya ada ruang.”
“Kamu pakai kamar depan untuk stok.”
“Cuma sementara.”
“Kamu bilang Bapak jangan menerima tamu hari Selasa dan Kamis karena driver ramai.”
“Demi operasional.”
“Waktu teman Bapak datang bulan lalu, kamu suruh Bapak ngobrol di warung.”
Aris mengusap wajah.
“Bapak ini maunya apa? Saya juga kerja buat keluarga.”
“Bapak mau rumah Bapak kembali menjadi rumah sebelum menjadi tempat usaha.”
Kalimat itu membuat Aris diam.
Aku belum pernah mendengar Bapak berbicara setegas itu kepada adikku.
Siska menatap suaminya.
“Dengar.”
Aris berbalik kepadanya.
“Kamu jangan ikut.”
“Kenapa? Aku yang tiap hari ngurus pesanan.”
“Kamu mau usaha ini mati?”
Siska menjawab, “Aku mau usaha ini hidup tanpa menghabiskan semua orang.”
Aris berjalan ke halaman.
Aku membiarkannya.
Tidak semua confrontation harus dikejar sampai seseorang mengaku kalah.
Kadang orang pergi karena belum punya jawaban.
Sore itu kami mulai dengan hal kecil.
Bukan utang.
Bukan Rp186 juta.
Bukan siapa paling bersalah.
Kami membuat daftar ruang.
Ruang tamu.
Kamar depan.
Kamar tengah.
Dapur.
Gudang kecil.
Teras.
Aku meminta Bapak dan Ibu menentukan sendiri mana yang boleh dipakai usaha.
Aris belum kembali.
Siska duduk bersama kami.
Ibu masih sulit bicara.
Setiap kali kami menyebut perubahan, dia bertanya,
“Nanti Aris bagaimana?”
Akhirnya aku meletakkan pulpen.
“Bu, setiap jawaban Ibu selalu Aris.”
Ibu menatapku.
“Aku juga anak Ibu.”
Dia langsung menangis.
Aku menyesal sesaat setelah mengatakannya.
Tapi kalimat itu sudah terlalu lama tinggal di dalam diriku.
Bapak memegang lututnya.
“Mira.”
Aku menggeleng.
“Tidak apa-apa, Pak. Sekalian.”
Aku melihat Ibu.
“Sejak dulu kalau Aris gagal, kita harus mengerti. Kalau Aris tidak naik kelas, jangan dimarahi karena dia sensitif. Kalau dia berhenti kuliah, kasihan karena salah jurusan. Kalau usahanya rugi, kita bantu karena dia punya anak.”
Ibu berkata pelan, “Kamu dari dulu kuat.”
Aku tersenyum.
Itulah kalimatnya.
Kalimat yang membuat anak yang dianggap kuat sering tidak diberi hak untuk membutuhkan apa-apa.
“Bukan berarti aku tidak capek.”
Ibu mengusap air matanya.
“Kamu punya pekerjaan bagus.”
“Karena itu uangku dianggap lebih mudah diberikan.”
“Ibu tidak pernah memaksa.”
“Tidak.”
Aku mengangguk.
“Dan aku juga tidak pernah berani bilang tidak.”
Itulah bagian yang paling menyakitkan.
Aku tidak bisa meletakkan seluruh kesalahan di tangan mereka.
Bertahun-tahun aku mendapatkan rasa aman dari peran sebagai orang yang bisa menyelesaikan masalah.
Aku tidak perlu meminta apa pun.
Tidak perlu mengaku kesepian setelah pernikahanku berakhir.
Tidak perlu mengaku takut saat perusahaan tempatku bekerja hampir melakukan PHK.
Selama aku masih bisa mengirim uang, keluargaku akan menganggapku baik-baik saja.
Dan aku membiarkan itu.
Ibu berkata, “Ibu tidak bermaksud membedakan.”
“Aku percaya.”
“Aris memang lebih sering bikin Ibu khawatir.”
“Justru itu.”
Aku menatapnya.
“Karena dia selalu membuat Ibu khawatir, seluruh keluarga hidup mengelilingi kekhawatiran Ibu tentang dia.”
Bapak menunduk.
Siska menutup mulut dengan tangan.
Tidak ada yang membantah.
Aris pulang selepas Magrib.
Dia tidak makan bersama kami.
Pukul delapan dia memanggil Siska ke kamar.
Mereka bertengkar pelan.
Aku tidak menguping, tetapi rumah itu kecil.
Beberapa kata tetap terdengar.
“Kalau keluar, sewa tempat dari mana?”
“Kurangi pesanan.”
“Terus cicilan?”
“Itu yang dari awal aku bilang.”
Kemudian sunyi.
Pagi berikutnya aku bangun pukul empat.
Ibu sudah di dapur.
Tangannya meraih bawang.
Aku mengambil baskom itu.
“Tidur lagi.”
“Nanti bumbu…”
“Siska punya dua pegawai.”
“Nanti rasanya beda.”
Aku hampir tertawa.
Kalimat Lilis ternyata benar-benar menjadi fondasi bisnis itu.
“Tiga hari pertama mungkin beda.”
Ibu menatapku.
“Pelanggan bisa komplain.”
“Kalau usaha hanya bisa bertahan karena perempuan tujuh puluh dua tahun bangun jam setengah empat tanpa dibayar, berarti harga jualnya memang salah.”
Ibu terdiam.
Aku membawa baskom keluar.
Siska sudah datang.
Dia melihatku.
“Mbak, taruh saja. Biar aku.”
“Mulai hari ini Ibu tidak masuk jadwal kecuali Ibu sendiri mau.”
Siska mengangguk.
Tidak ada protes.
Aris muncul setengah jam kemudian.
“Apa lagi ini?”
Siska menjawab sebelum aku.
“Ibu libur.”
“Pesanan dua ratus delapan puluh.”
“Aku tahu.”
“Bumbu?”
“Aku bikin.”
“Kamu nggak bisa persis.”
Siska menatapnya.
“Kalau pelanggan hanya mau rasa tangan Ibu, kita bayar Ibu.”
Aris tertawa tidak percaya.
“Bayar orang tua sendiri?”
Bapak yang sedang minum teh di meja makan menjawab,
“Kenapa? Pegawai lain anak siapa?”
Aris tidak punya jawaban.
Hari itu dapur kacau.
Tidak parah.
Tapi cukup untuk menunjukkan selama ini berapa banyak pekerjaan tak terlihat yang dilakukan Ibu.
Siska terlambat empat puluh menit menyelesaikan bumbu.
Lilis salah menghitung lauk.
Aris harus membantu mengikat kantong sambal.
Aku tidak ikut.
Bukan karena aku ingin melihat mereka gagal.
Karena untuk pertama kalinya aku tidak ingin otomatis masuk dan menyelamatkan keadaan.
Pukul sebelas semua pesanan tetap berangkat.
Terlambat dua puluh menit.
Dunia tidak kiamat.
Siang hari kami duduk berlima.
Kali ini Aris ikut.
Dia terlihat lelah.
“Aku sudah hitung,” katanya.
Aku menunggu.
“Kalau sewa dapur luar sekarang, paling murah sekitar Rp4 sampai Rp5 juta sebulan. Belum listrik sama transport.”
Siska berkata, “Bisa kurangi volume dulu.”
“Kalau volume turun, cicilan mobil bagaimana?”
Aku bertanya, “Berapa sisa kredit?”
“Dua puluh satu bulan.”
“Utang pemasok?”
Aris diam.
“Ris.”
“Sekitar Rp73 juta.”
Bapak mengangkat alis.
“Kemarin katanya Rp240 juta.”
“Itu total dulu.”
“Yang lain?”
“Sudah dibayar.”
“Pakai apa?”
Aris menatap meja.
“Uang muka sekolah.”
Tidak ada lagi yang perlu ditanyakan.
Kami sudah tahu polanya.
Aku berkata, “Aku tidak akan bayar utang itu.”
Aris tertawa kecil.
“Aku juga tidak minta.”
“Bagus.”
“Tapi kalau usaha turun, mungkin aku telat bayar beberapa pemasok.”
“Itu konsekuensi.”
Dia menatapku tajam.
“Mudah buat Mbak ngomong.”
“Benar.”
Aku tidak menghindar.
“Karena itu usahamu, bukan usahaku.”
Kalimat itu tampaknya lebih menyakitkan daripada kalau aku memarahinya.
Aris bersandar.
“Dulu waktu aku mulai, Mbak bilang ini usaha keluarga.”
“Aku salah.”
“Enak. Tinggal bilang salah.”
“Karena aku tidak paham bedanya membantu keluarga dengan ikut membuat aturan jadi kabur.”
Siska berkata, “Kita perlu pisah uang usaha sama uang rumah.”
Aris memandangnya.
“Sekarang kamu pintar.”
“Aku dari dulu bilang.”
“Tidak usah sok.”
Siska menatapnya lama.
“Aku berhenti kalau kamu ngomong begitu lagi.”
Ibu langsung bersuara.
“Jangan sampai rumah tangga kalian…”
Siska memotong dengan lembut.
“Bu, ini bukan soal cerai.”
Ibu diam.
“Setiap ada masalah, Ibu takut yang paling buruk dulu. Karena itu semua orang akhirnya mengalah supaya Ibu tenang.”
Aku memandang Siska.
Untuk pertama kalinya aku mengerti kenapa dia terlihat takut saat Pak Surono menyebut uang muka.
Dia bukan takut rahasianya terbongkar.
Dia takut kami kembali memakai pola lama.
Aris membuat keputusan.
Ibu membela.
Bapak diam.
Aku membayar.
Siska mengerjakan.
Lalu semua orang berpura-pura masalah selesai.
Siska bangkit dan mengambil sebuah buku tulis dari rak dapur.
Dia meletakkannya di meja.
“Aku sudah catat tiga bulan terakhir.”
Aris menegang.
“Apa?”
“Biaya sebenarnya.”
Dia membuka halaman.
Bahan baku.
Gas.
Gaji pegawai.
Bensin.
Kemasan.
Cicilan mobil.
Perawatan alat.
Makanan yang gagal.
Pesanan yang terlambat bayar.
Aku membaca beberapa baris.
Aku tidak perlu menjadi akuntan untuk melihat masalahnya.
Beberapa paket dijual terlalu murah.
Terutama pesanan sekolah dan kantor yang didapat melalui kenalan Bapak.
Aris mengejar omzet.
Semakin banyak pesanan, dia merasa usaha semakin berhasil.
Padahal beberapa pesanan besar justru menghasilkan margin yang sangat tipis.
Siska berkata, “Kalau biaya tenaga Ibu dan Bapak dimasukkan, paket Rp30 ribu itu beberapa kali untungnya nggak sampai Rp2 ribu per kotak.”
Bapak tertawa pendek.
“Jadi Bapak kerja gratis supaya orang lain dapat nasi murah.”
Aris menekan dahinya.
“Aku sengaja ambil margin kecil supaya pelanggan masuk.”
“Setahun?” tanyaku.
“Persaingan katering itu berat.”
Siska menjawab, “Bukan cuma persaingan. Kamu takut menaikkan harga karena semua orang kenal Bapak.”
Aris menatap Bapak.
Akhirnya deeper truth itu muncul.
Usahanya bukan hanya memakai rumah orang tua kami.
Bukan hanya memakai tenaga mereka.
Aris juga memakai reputasi Bapak.
Pak Harun dikenal puluhan tahun sebagai guru yang tidak enak menolak orang.
Aris mewarisi bukan sekadar dapur.
Dia memakai jaringan kepercayaan yang dibangun Bapak seumur hidup.
Dan karena takut mengecewakan orang-orang lama Bapak, harga tidak pernah benar-benar disesuaikan.
“Aku mau usaha ini berhasil,” kata Aris.
Bapak menjawab, “Kamu mau terlihat berhasil.”
Aris mengangkat wajah.
Itu kalimat yang paling tepat hari itu.
Bapak melanjutkan.
“Beda.”
Tidak ada yang bicara hampir satu menit.
Lalu Aris berkata,
“Bapak pikir enak umur empat puluh enam balik ke rumah orang tua?”
Suaranya berubah.
Tidak lagi keras.
Lebih buruk.
Jujur.
“Teman-temanku sudah punya rumah. Ada yang punya dua cabang usaha. Aku balik ke sini bawa istri, bawa anak, bilang cuma beberapa bulan.”
Dia tertawa pahit.
“Setiap ketemu orang, ditanya sekarang kerja apa.”
Ibu memandangnya.
“Ris…”
“Aku capek kelihatan gagal.”
Itulah pertama kalinya dia mengucapkannya.
Bukan alasan yang membuat semua kesalahannya hilang.
Tapi akhirnya aku bisa melihat apa yang selama ini dia lindungi.
Bukan Dapur Ratna.
Bukan mobil.
Bukan pesanan sekolah.
Harga dirinya.
“Aku kira kalau omzet besar, semuanya akan beres,” katanya.
Siska berkata, “Makanya kamu selalu ambil pesanan.”
Aris mengangguk.
“Kalau kalender penuh rasanya… ya, rasanya aku berhasil.”
Bapak mengusap wajah.
“Kamu bisa bilang sama Bapak.”
Aris menatapnya.
“Bapak guru.”
“Apa hubungannya?”
“Dari dulu kalau ada orang gagal, Bapak bilang kurang disiplin.”
Bapak terdiam.
Aku melihat sebuah sejarah lain terbuka.
Kali ini bukan milikku.
Bapak menatap meja cukup lama.
“Apa Bapak pernah bilang begitu ke kamu?”
“Banyak.”
“Bapak tidak ingat.”
“Ya karena bukan Bapak yang dengar.”
Tidak ada permintaan maaf dramatis.
Tidak ada pelukan.
Bapak hanya mengangguk pelan.
“Itu mungkin salah Bapak.”
Aris menelan ludah.
Percakapan belum membuatnya berubah.
Tapi untuk pertama kalinya dia berhenti bertahan selama beberapa detik.
Kami membuat keputusan hari itu.
Bukan keputusan sempurna.
Keputusan yang bisa dijalankan.
Selama enam minggu, Dapur Ratna boleh tetap menggunakan dapur rumah dengan batas pukul enam pagi sampai pukul tiga sore.
Ruang tamu dikembalikan menjadi ruang tamu.
Stok dipindahkan ke kamar depan maksimal dua minggu, kemudian Aris harus mencari tempat lain.
Bapak dan Ibu tidak lagi menjadi tenaga kerja otomatis.
Kalau Ibu ingin membuat bumbu khusus, dia dibayar per produksi.
Kalau Bapak membantu pengiriman atau administrasi, juga dicatat.
Tidak ada lagi uang rumah masuk ke usaha.
Tidak ada lagi biaya usaha disebut “pompa rusak”, “gas habis”, atau “belanja naik”.
Aku membayar kebutuhan Bapak dan Ibu melalui pos-pos yang jelas.
Bukan karena aku tidak percaya mereka.
Karena aku juga sedang melatih diriku sendiri berhenti menyelesaikan kecemasan dengan mengirim uang.
Aris menolak satu hal.
“Aku nggak mau bayar sewa ke Bapak Ibu. Nanti kesannya aku ngontrak di rumah sendiri.”
Aku menjawab, “Ya sudah. Pindah.”
Dia menatapku.
Aku tidak berkedip.
Bapak berkata, “Bayar bukan karena kamu orang lain.”
Aris menoleh.
“Karena listrik, air, dan rumah ini ada biayanya.”
Akhirnya disepakati Rp2,5 juta sebulan selama enam minggu masa transisi.
Setelah itu dia harus pindah ke dapur produksi lain.
Aris tidak senang.
Tapi tidak semua batas yang sehat terasa menyenangkan bagi orang yang sebelumnya diuntungkan oleh ketidakjelasan.
Minggu pertama berantakan.
Dua pelanggan membatalkan setelah harga dinaikkan.
Satu sekolah mengurangi jumlah pesanan.
Aris marah.
Dia mengirim pesan kepadaku.
“Puas sekarang omzet turun?”
Aku membaca pesan itu saat sedang bekerja.
Dulu aku pasti menelepon.
Menjelaskan.
Membujuk.
Mungkin menawarkan uang.
Kali itu aku hanya menjawab:
“Lebih baik omzet turun daripada setiap kotak membuat kalian makin berutang.”
Dia tidak membalas tiga hari.
Minggu kedua, Siska menghentikan dua menu yang marginnya paling kecil.
Minggu ketiga, mobil pengiriman mereka jual.
Aris awalnya menolak.
Kemudian dia sendiri yang memasang iklan.
Hasil penjualan tidak menutup seluruh sisa kredit, tetapi cicilan bulanan hilang.
Mereka kembali menyewa kendaraan jika ada pesanan besar.
“Kelihatan mundur,” kata Aris pada Bapak.
Bapak menjawab,
“Kalau mundur dua langkah bikin kamu tidak jatuh ke got, ya mundur.”
Aku mendengar cerita itu dari Ibu melalui telepon.
Untuk pertama kalinya setelah lama, dia tertawa saat bercerita tentang Aris.
Bukan tertawa menutupi masalah.
Tertawa biasa.
Bulan berikutnya Aris menyewa dapur sederhana di belakang sebuah ruko sekitar dua kilometer dari rumah.
Tidak luas.
Catnya kusam.
Parkirnya sempit.
Tapi ada saluran gas yang lebih aman dan ruang penyimpanan sendiri.
Dia memindahkan freezer yang dulu kubelikan.
Aku tidak meminta uangnya kembali.
Bantuan itu memang kuberikan saat aku masih percaya pada cara lama.
Yang berubah adalah bantuan berikutnya.
Tidak ada lagi.
Utang pemasok dicicil.
Tidak cepat.
Tidak dramatis.
Siska membuat jadwal pembayaran.
Dua pemasok meminta pembayaran tunai untuk sementara.
Satu pemasok berhenti bekerja sama.
Itu konsekuensi yang harus mereka terima.
Pak Surono juga dihubungi.
Bukan olehku.
Oleh Aris sendiri.
Dia menjelaskan bahwa harga pesanan berikutnya harus berubah.
Pak Surono sempat keberatan.
Aris hampir menyerah.
Kemudian Bapak mengambil telepon.
“Surono, kalau kamu ingin bantu anak saya, bayar harga yang benar. Jangan minta harga teman sampai dia rugi.”
Aku tidak ada di sana.
Siska merekam potongan percakapan itu tanpa sengaja karena sedang mengirim voice note kepadaku.
Aku memutarnya dua kali.
Bukan karena kalimatnya hebat.
Karena seumur hidup Bapak adalah orang yang paling sulit menaikkan harga pada kenalan.
Dia juga sedang belajar.
Ibu yang paling lama berubah.
Dua bulan kemudian aku pulang lagi.
Pagi pertama, aku terbangun pukul lima karena mendengar suara dari dapur.
Aku langsung bangun.
Ibu sedang membuat nasi goreng.
Hanya satu wajan.
Tidak ada baskom.
Tidak ada dua ratus kotak.
Tidak ada orang berteriak dari depan rumah.
“Kok pagi-pagi?”
Ibu tersenyum.
“Bapakmu minta.”
Aku duduk.
Di meja ada dua piring.
Ibu menambahkan satu untukku.
Aku memperhatikan tangannya.
Kulit di jarinya sudah membaik.
“Aris bagaimana?”
“Masih pusing utang.”
“Terus?”
“Ya bayar.”
Aku tersenyum.
Jawaban sederhana itu terasa seperti kemajuan besar.
Dulu setelah mengatakan Aris pusing utang, Ibu pasti akan menatapku dengan cara tertentu.
Tatapan yang berarti, mungkin kamu bisa membantu.
Sekarang tidak.
“Dia kemarin minta pinjam Ibu?” tanyaku.
Ibu mengangguk.
“Berapa?”
“Rp2 juta.”
“Terus?”
“Ibu bilang tidak ada.”
“Memang tidak ada?”
Ibu tersenyum kecil.
“Ada.”
Aku tertawa.
“Ibu bohong?”
“Kadang orang perlu mendengar tidak ada supaya belajar mencari cara lain.”
Kami tertawa bersama.
Lalu Ibu menjadi serius.
“Mira.”
“Hm?”
“Dulu Ibu pikir karena kamu jarang minta bantuan, berarti kamu tidak butuh banyak perhatian.”
Aku menatap piring.
“Ibu tahu sekarang itu salah.”
Aku tidak menjawab cepat.
Aku tidak ingin menjadikan satu kalimat sebagai obat untuk puluhan tahun.
Tapi aku juga tidak ingin menolak perubahan hanya karena datang terlambat.
“Aku juga salah, Bu.”
“Apa?”
“Aku membuat semua orang terbiasa melihatku sebagai dompet yang bisa bicara.”
Ibu mencubit lenganku.
“Mulutmu.”
Aku tertawa.
Siang itu Aris datang.
Dia lebih kurus.
Kaosnya bau bawang goreng.
Dia membawa satu wadah besar semur ayam.
“Percobaan menu.”
Aku mencicipi.
“Kurang manis.”
Dia mendengus.
“Kalau terlalu manis nanti Mbak bilang diabetes.”
Hubungan kami belum kembali seperti dulu.
Mungkin tidak akan.
Ada hal-hal yang sudah kami katakan dan tidak bisa dimasukkan lagi ke dalam mulut.
Tapi setidaknya sekarang dia datang tanpa membawa proposal.
Tanpa mengatakan gas habis.
Tanpa menyelipkan kebutuhan uang di antara pertanyaan tentang pekerjaanku.
Sebelum pulang dia duduk dengan Bapak di teras.
Aku melihat dari dalam.
Mereka bicara soal harga beras.
Kemudian soal mantan murid Bapak.
Lalu terdengar mereka berdebat soal sepak bola.
Hal biasa.
Hal yang selama lebih dari setahun hilang karena teras selalu dipenuhi kardus dan driver.
Tiga bulan kemudian, Bapak mencopot kalender lama dari belakang pintu kamar.
Aku kebetulan sedang di Solo lagi.
“Buang saja,” kataku.
Bapak melihat angka-angka merah itu.
Seratus sembilan belas hari.
Seratus dua puluh tujuh hari.
Dia menggeleng.
“Tidak.”
“Mau disimpan?”
“Sebentar.”
Dia mengambil pulpen.
Di kotak tanggal hari itu, dia menulis satu angka.
Aku tertawa.
“Apaan?”
“Hari kerja gratis bulan ini.”
Kemudian dia menggulung kalender dan memasukkannya ke lemari.
Bukan untuk menyimpan dendam.
Mungkin hanya untuk mengingat bahwa sesuatu yang tidak dihitung terlalu lama akhirnya bisa dianggap tidak bernilai.
Pagi sebelum aku kembali ke Surabaya, aku duduk di ruang tamu.
Rak buku Bapak sudah kembali.
Televisi lama dipasang lagi.
Ada dua kursi rotan dekat jendela.
Tidak ada kardus makanan.
Tidak ada papan omzet.
Ibu meletakkan teh di meja lalu membuka pintu depan lebar-lebar.
Bapak keluar membawa koran.
Seorang tetangga berhenti di pagar dan menyapanya.
Bapak tidak perlu melihat jam.
Tidak perlu bertanya apakah ada driver datang.
Tidak perlu pergi ke warung untuk menerima tamu.
Dia hanya menarik kursi ke teras dan berkata,
“Mari, duduk.”
Aku mengambil tasku.
Ponselku berbunyi.
Pesan dari Aris.
Mbak, bulan depan kemungkinan pesanan turun lagi. Tapi utang pemasok tinggal Rp41 juta. Nggak usah bantu. Cuma kasih tahu.
Aku membaca sampai selesai.
Lalu memasukkan ponsel ke tas.
Untuk pertama kalinya, kalimat nggak usah bantu tidak terdengar seperti sindiran.
Dan untuk pertama kalinya juga, aku mempercayainya.
Aku berpamitan kepada Ibu dan Bapak.
Saat berjalan menuju ujung gang, aku sempat menoleh.
Bapak masih duduk di teras rumahnya sendiri.
Ibu berdiri di ambang pintu sambil memegang lap dapur.
Tidak ada pemandangan besar.
Tidak ada kemenangan yang perlu diumumkan.
Hanya dua orang tua yang akhirnya kembali memiliki hak atas hal yang selama ini dianggap terlalu kecil untuk dipertahankan.
Waktu mereka.
Tenaga mereka.
Meja makan mereka.
Dan rumah yang kembali boleh terasa seperti rumah.
Terima kasih sudah mengikuti kisah Mira dan keluarganya sampai akhir. Menurut kalian, apakah Mira terlambat menetapkan batas, atau justru keluarganya memang baru bisa berubah ketika semua orang berhenti menutupi masalah? Semoga kita selalu diberi keberanian untuk membantu keluarga tanpa kehilangan rasa hormat terhadap diri sendiri dan orang yang kita sayangi.
