Ayah Pacarku Menertawakan Gaunku yang Kupinjam, Lalu Menghinaku di Depan Para Tamu Saat Makan Malam Keluarga

Avatar penulis
Cerita 01
27 menit baca 161 tayangan
Ayah Pacarku Menertawakan Gaunku yang Kupinjam, Lalu Menghinaku di Depan Para Tamu Saat Makan Malam Keluarga
Indeks

Ayah Pacarku Menertawakan Gaunku yang Kupinjam, Lalu Menghinaku di Depan Para Tamu Saat Makan Malam Keluarga

Bagian 1

Ayah pacarku memandang gaun hijau yang kupakai, lalu tertawa pendek seolah baru menemukan sesuatu yang sangat lucu. “Sampah jalanan pakai gaun pinjaman,” katanya di depan para tamunya. Raka memintaku mengabaikannya, sementara ayahnya bersandar di kursi dengan senyum puas, yakin akhirnya berhasil menunjukkan tempatku.

Aku tidak membalas.

Aku membiarkannya menikmati pertunjukan kecilnya sampai selesai.

Lalu aku berdiri, mengucapkan terima kasih atas makan malamnya, dan pergi.

Ayah Pacarku Menertawakan Gaunku yang Kupinjam, Lalu Menghinaku di Depan Para Tamu Saat Makan Malam Keluarga

Bram Wiratama sama sekali tidak tahu bahwa penghinaan itu baru saja menjawab satu pertanyaan yang sudah tiga bulan menggangguku.

Peringatan pertama sebenarnya muncul bahkan sebelum aku melewati pintu depan rumahnya.

Raka memandangi mobilku, kemudian deretan SUV hitam, sedan Eropa, dan mobil mewah lain yang memenuhi halaman rumah besar keluarganya di Pondok Indah.

“Kamu yakin mobilmu tidak mau diparkir di belakang saja?”

Aku menoleh pelan.

Raka langsung mengangkat kedua tangan.

“Itu kedengarannya buruk.”

“Memang buruk.”

“Maksudku karena mobil tamu Bapak memenuhi depan. Nanti kamu susah keluar.”

“Penyelamatan yang lumayan.”

Dia tertawa kecil dan menggenggam tanganku.

Toyota biru tuaku sudah hampir sepuluh tahun. Ada penyok kecil di dekat bumper belakang akibat troli belanja yang pernah meluncur sendiri di parkiran supermarket saat hujan deras.

Mesinnya masih sehat.

AC-nya masih dingin.

Aku tidak melihat alasan menggantinya.

Raka sudah beberapa kali menawarkan membantuku membeli mobil baru, dan jawabanku selalu sama.

“Kalau mobil ini sudah tidak mau jalan, baru aku ganti.”

Akhirnya dia berhenti menawarkan.

Bram Wiratama rupanya memiliki pandangan berbeda tentang apa yang dapat diketahui dari mobil seseorang.

Begitu kami masuk, matanya justru melewatiku dan memandang ke luar melalui pintu yang masih terbuka.

“Toyota itu punya kamu?”

“Ya.”

Dia tertawa pendek.

“Masih dipakai juga mobil seperti itu?”

Rahang Raka mengeras.

“Pak.”

“Apa? Bapak cuma mengobrol.”

Bram kemudian mengulurkan tangan kepadaku.

“Jadi, Nadia.”

Aku menjabat tangannya.

“Senang akhirnya bertemu, Pak.”

Cara dia berjabat tangan terasa lebih seperti ujian daripada sapaan.

Bram berusia awal enam puluhan. Rambutnya sudah banyak memutih, jasnya dijahit rapi, dan bahkan ketika sedang berdiri di rumah sendiri, penampilannya terlihat seperti seseorang yang baru keluar dari ruang rapat.

Dia membangun Wiratama Group dari perusahaan ekspedisi antarkota milik keluarganya menjadi kelompok usaha besar dengan armada logistik, pergudangan, perangkat lunak, kawasan industri, dan properti komersial.

Namanya terpampang di gedung yayasan, ruang kuliah yang ia biayai, serta acara amal yang hampir selalu dipenuhi orang berpengaruh.

Di luar keluarganya, Bram sering disebut dermawan.

Raka biasanya memilih kata lain.

Ibu Raka meninggal beberapa tahun sebelum kami bertemu. Sejak itu, menurut Raka, Bram semakin memperlakukan perusahaan dan keluarganya dengan cara yang sama.

Semua keputusan harus melewati dirinya.

Semua orang memiliki tempat.

Dan Bram senang menjadi orang yang menentukan tempat itu.

Raka sudah memperingatkanku sejak sore.

“Bapak pasti bertanya orang tuamu kerja apa.”

“Boleh.”

“Dia juga akan tanya kamu kuliah di mana.”

“Boleh juga.”

“Dia mungkin bertanya penghasilanmu.”

“Yang itu biarkan dia penasaran.”

Raka tertawa, tetapi wajahnya tetap tegang.

Kami sudah berpacaran hampir satu setengah tahun, namun sampai malam itu aku selalu berhasil menghindari pertemuan resmi dengan Bram.

Sebagian karena jadwal.

Sebagian karena pekerjaanku.

Sebagian besar karena aku sudah cukup sering melihat apa yang terjadi pada Raka setiap kali dia bersama ayahnya.

Raka berusia tiga puluh empat tahun dan sudah menjadi salah satu direktur di Wiratama Group.

Namun di dekat Bram, kadang-kadang dia kembali seperti anak sekolah.

Cara bicaranya dikoreksi.

Keputusannya dipertanyakan.

Setiap perbedaan pendapat selalu dibalas dengan pengingat mengenai siapa yang membangun perusahaan.

Kalau Raka menentangnya dalam rapat, Bram menganggapnya tidak tahu terima kasih.

Kalau Raka setuju, Bram menyebut itu tanda bahwa anaknya akhirnya belajar memahami dunia nyata.

Aku pernah bertanya kenapa Raka tetap bertahan.

“Ada hampir empat belas ribu karyawan yang tidak ada hubungannya dengan ego Bapak,” katanya. “Kalau semua orang yang tidak tahan pergi, tidak akan ada yang mencoba memperbaiki budaya perusahaan dari dalam.”

Jawaban itu salah satu alasan aku mencintainya.

Dia tahu apa yang dapat dibeli nama Wiratama.

Dia juga tahu apa yang tidak dapat dibeli.

Kami bertemu bukan di hotel mewah atau acara bisnis.

Kami bertemu di sebuah kegiatan pembagian bahan pangan di Jakarta.

Aku sedang membawa kardus ke gudang kecil ketika bagian bawahnya sobek dan bungkus mi serta beras kemasan kecil berserakan.

Raka yang kebetulan berada tidak jauh dariku langsung berjongkok membantu.

Aku tidak tahu siapa dia.

Dia juga tidak memperkenalkan nama keluarganya.

Kami menghabiskan hampir dua puluh menit membereskan kardus, lalu minum kopi instan terlalu manis dari gelas kertas.

Sebelum pulang dia meminta nomor teleponku.

Aku memberikannya.

Nama Wiratama baru muncul pada kencan ketiga.

Aku hampir tersedak minuman.

“Wiratama yang itu?”

Raka meringis.

“Sayangnya.”

Aku tertawa karena dia benar-benar terlihat malu.

Dia suka karena aku tidak terkesan.

Aku suka karena dia tidak berharap aku terkesan.

Di atas kertas, hidup kami memang berbeda jauh.

Raka tumbuh di rumah besar dengan sopir dan pegawai rumah tangga.

Aku tumbuh dengan melihat Ibu menghitung uang belanja di meja makan menjelang akhir bulan.

Mobil pertama Raka adalah mobil sport pemberian ulang tahun.

Mobil pertamaku mobil bekas berusia belasan tahun yang pintu penumpangnya kadang harus dibuka dari luar.

Raka kuliah di luar negeri.

Aku kuliah dengan beasiswa, bekerja malam beberapa kali seminggu, dan menyewa rumah bersama dua teman agar biaya hidup lebih ringan.

Aku tidak malu terhadap satu pun bagian hidupku.

Ibu bekerja keras sebagai petugas housekeeping hotel selama bertahun-tahun.

Aku juga bekerja keras.

Masa kecilku mengajarkan sesuatu yang tidak pernah kulupakan.

Uang memang dapat membuat banyak bagian hidup jauh lebih mudah.

Tetapi uang tidak otomatis memperbaiki watak seseorang.

Mungkin itu juga sebabnya aku tidak terlalu tertarik terlihat kaya.

Aku membeli sepatu yang bagus karena banyak berjalan.

Aku tidak keberatan mengeluarkan uang untuk bepergian.

Aku memberi tip dengan layak dan menyumbang untuk hal yang menurutku penting.

Tetapi aku tidak pernah memahami kebutuhan membeli sesuatu hanya supaya orang asing tahu berapa banyak uang yang kita miliki.

Gaun malam itu adalah contoh sederhana.

Gaun hijau tua itu milik sahabatku, Maya.

Dia membelinya untuk sebuah acara, memakainya sekali, lalu menawarkan kepadaku ketika tahu aku akan makan malam bersama keluarga Raka.

“Pakai saja.”

“Aku bisa beli gaun sendiri.”

“Aku tahu.”

“Kenapa nadamu seperti kakak kelas mau meminjamkan baju untuk acara perpisahan sekolah?”

“Karena gaun itu sudah ada di lemari dan kamu benci belanja.”

Dia benar.

Jadi aku meminjamnya.

Aku tidak menyangka detail kecil itu akan menjadi bahan favorit Bram sepanjang malam.

Makan malam tersebut jauh lebih besar daripada yang dijelaskan Raka.

Dua puluh tiga tamu duduk mengelilingi meja panjang dari kayu gelap di bawah dua lampu kristal besar.

Ada pemilik perusahaan teknologi, pemimpin universitas swasta, investor, bankir, pemilik grup properti, serta beberapa orang yang wajahnya sering kulihat di berita ekonomi.

Sebagian nama mereka kukenal karena pekerjaan.

Tak satu pun dari mereka tampak mengenaliku.

Aku lebih suka begitu.

Bram menempatkanku cukup jauh dari Raka.

Raka langsung menyadarinya.

“Pak, Nadia duduk di sebelah saya.”

“Susunan tempat duduk sudah dibuat.”

“Bisa dipindah.”

Bram tersenyum tipis.

“Ini cuma makan malam, Raka. Kamu masih bisa hidup walaupun pacarmu duduk beberapa meter dari kamu.”

Aku menyentuh lengan Raka.

“Tidak apa-apa.”

Dia tidak suka.

Aku juga tidak.

Tetapi pekerjaanku membuatku cukup sering berada di ruangan dengan orang yang menggunakan hal-hal kecil untuk menunjukkan kuasa.

Bram ingin aku mengerti bahwa aku hanya tamu di wilayahnya.

Jadi aku duduk.

Setengah jam pertama dia hampir tidak mengajakku bicara.

Kemudian seorang perempuan di seberang meja bertanya dari mana aku berasal.

“Solo.”

“Orang tuamu masih di sana?”

“Ibu masih tinggal di sana. Beliau sudah pensiun. Dulu bekerja di housekeeping hotel.”

Bram rupanya mendengar.

“Housekeeping?”

Aku menoleh.

“Iya.”

“Ayahmu?”

“Tidak membesarkanku.”

Keheningan kecil muncul.

Bukan karena aku malu.

Aku sudah lama belajar bahwa orang di meja seperti itu kadang bingung ketika seseorang menjawab pertanyaan pribadi dengan jujur tanpa meminta maaf atas hidupnya.

Bram menyesap minumannya.

“Kamu sendiri bekerja apa, Nadia?”

“Di bidang investasi.”

Alisnya terangkat.

“Investasi?”

“Iya.”

“Bank?”

“Bukan.”

“Perusahaan sekuritas?”

“Kurang lebih bidangnya berdekatan.”

Raka melirikku.

Dia tahu persis mengapa jawabanku sengaja umum.

Sebelum datang, aku sudah meminta Raka tidak menceritakan terlalu banyak tentang pekerjaanku.

Bukan karena aku menyembunyikan sesuatu.

Aku hanya ingin bertemu Bram sebagai Nadia, bukan sebagai jabatan, nama perusahaan, atau angka dana yang kukelola.

Selama bertahun-tahun aku melihat cara beberapa orang berubah setelah mengetahui pekerjaan seseorang.

Tiba-tiba lelucon biasa menjadi lucu.

Pesan dibalas jauh lebih cepat.

Kursi ditarikkan.

Nada bicara menjadi manis.

Aku ingin satu malam untuk melihat Bram tanpa semua itu.

Raka sempat keberatan, tetapi akhirnya setuju.

Bram menyeringai.

“Kamu penuh rahasia.”

“Tidak juga.”

“Kalau begitu bekerja di mana?”

Aku tersenyum.

“Saya lebih suka makan malam tetap menjadi makan malam, Pak. Bukan acara mencari koneksi.”

Seseorang di dekatku tertawa pelan.

Bram tidak.

“Saya menghargai orang ambisius,” katanya. “Terutama kalau harus mulai benar-benar dari bawah.”

Kalimat itu terdengar seperti pujian.

Nada suaranya tidak.

“Aku rasa semua orang punya sesuatu yang ingin mereka capai,” jawabku.

“Mungkin.”

Matanya turun ke gaunku.

“Desainer siapa?”

Aku melihat gaunku.

“Gaun ini?”

“Iya.”

“Tidak tahu.”

Untuk pertama kalinya dia tertawa cukup keras.

“Kamu tidak tahu merek gaunmu sendiri?”

“Ini milik temanku.”

Perempuan di seberangku bergerak tidak nyaman.

Bram bersandar.

“Jadi pinjaman?”

“Iya.”

Aku melanjutkan makan.

Raka sekarang menatap ayahnya dengan marah.

Bram justru terlihat semakin menikmati malam.

Dia bertanya aku tinggal di daerah mana.

Apakah rumahku milik sendiri atau sewa.

Apakah aku berniat “menaikkan standar hidup” kalau hubunganku dengan Raka semakin serius.

Kemudian dia bertanya apakah ibuku tahu putrinya berhasil mendapatkan seorang Wiratama.

“Ibu tahu aku berpacaran dengan Raka.”

“Itu bukan pertanyaan saya.”

“Itu jawaban saya.”

Seseorang berdeham, seolah sedang menyamarkan tawa.

Senyum Bram menghilang.

Makanan penutup tiba.

Bram bahkan tidak menyentuhnya.

Seorang tamu di dekatnya kemudian bercanda mengenai anak muda yang menikah demi keamanan finansial.

Aku bahkan tidak terlalu mengingat kalimat lengkapnya.

Aku hanya ingat Bram memandang lurus kepadaku.

“Kadang-kadang orang melihat keluarga seperti kami dan mengira mereka sudah menemukan lift,” katanya. “Tidak perlu lagi susah-susah naik tangga.”

Kursi Raka bergeser keras.

“Cukup, Pak.”

Bram tidak menoleh.

“Bapak sedang bicara umum.”

“Tidak.”

“Duduk.”

“Saya bukan anak kecil.”

“Kalau begitu jangan bersikap seperti anak kecil.”

Seluruh meja menjadi diam.

Dua puluh tiga orang tiba-tiba sangat tertarik pada piring masing-masing.

Bram kembali menatapku.

Matanya bergerak perlahan dari wajahku ke gaun hijau yang kupinjam.

Kemudian dia tertawa dingin.

“Sampah jalanan pakai gaun pinjaman.”

Tak seorang pun langsung bergerak.

Raka berdiri.

“Bapak kenapa, sih?”

Bram tetap menatapku.

Menunggu.

Mungkin dia mengharapkan aku menangis.

Atau marah.

Mungkin dia ingin aku membuat keributan, supaya kemudian dia dapat menoleh kepada para tamunya dan merasa sudah membuktikan bahwa aku memang tidak pantas duduk di meja itu.

Aku mengambil serbet dari pangkuanku, melipatnya, lalu meletakkannya di samping piring.

Raka berjalan mendekat.

“Nadia, tolong. Jangan dengarkan dia.”

Aku menatap Bram.

Dia tersenyum tipis.

Senyum seseorang yang mengira baru saja menang.

Jadi kubiarkan dia menikmati kemenangan kecil itu.

Aku tidak membalas penghinaan.

Aku tidak menjelaskan siapa dirinya menurutku.

Aku juga tidak menjelaskan siapa diriku.

Aku hanya berdiri.

“Terima kasih makan malamnya, Pak Bram.”

Senyumnya sedikit berubah.

Aku mengambil tas kecilku lalu berjalan keluar.

Raka menyusul sampai ruang depan.

“Nadia.”

“Aku pulang.”

“Aku ikut.”

“Jangan.”

Dia berhenti.

“Apa?”

“Tetap di sini.”

“Setelah apa yang Bapak lakukan?”

“Ini rumah ayahmu. Mereka tamunya. Ini masalah yang dia buat.”

“Aku seharusnya menghentikan dia sejak tadi.”

“Kamu sudah mencoba.”

“Tidak cukup.”

Wajah Raka merah karena marah.

Aku mengangkat tangan dan menyentuh pipinya.

“Aku tidak membutuhkan kamu menjadi pahlawan yang menyelamatkanku.”

“Dia baru saja menyebutmu sampah.”

“Aku dengar.”

“Kenapa kamu bisa setenang ini?”

Aku menoleh sekilas ke arah pintu ruang makan.

“Karena ayahmu baru saja menjawab pertanyaan yang sudah tiga bulan kupikirkan.”

Raka mengernyit.

“Pertanyaan apa?”

Aku membuka pintu depan.

“Apakah aku bisa memercayainya.”

Raka semakin bingung.

“Memercayainya untuk apa?”

Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇

Bagian 2

Aku tidak menjawab pertanyaan Raka malam itu.

Bukan karena ingin membuatnya penasaran.

Aku tidak bisa membicarakannya di rumah Bram.

“Aku telepon kamu besok,” kataku.

“Nadia, tunggu.”

“Besok.”

Aku masuk ke mobil dan pergi.

Tanganku baru mulai gemetar ketika gerbang rumah itu sudah jauh di belakang.

Aku memang tidak menangis di meja makan, tetapi bukan berarti penghinaan itu tidak menyakitkan. Sepanjang jalan pulang, aku terus mendengar kalimat Bram di kepalaku.

Sampah jalanan.

Gaun pinjaman.

Yang membuatku paling marah bukan gaunnya.

Bukan mobilku.

Bukan juga pertanyaannya tentang ibuku.

Yang menggangguku adalah betapa mudahnya dia memutuskan nilai seseorang hanya dari informasi yang menurutnya menunjukkan kelas sosial.

Tiga bulan sebelumnya, tim tempatku bekerja mulai menilai sebuah transaksi besar yang melibatkan Wiratama Group.

Aku adalah direktur investasi pada salah satu perusahaan pengelola dana institusional bernama Arunika Capital. Kami mengelola dana milik beberapa lembaga pensiun, perusahaan asuransi, dan investor jangka panjang.

Pekerjaanku bukan membeli saham lewat aplikasi lalu menunggu harganya naik.

Timku menilai perusahaan, utang, aset, arus kas, serta orang-orang yang mengendalikan keputusan besar di balik semuanya.

Wiratama Group sedang membutuhkan pendanaan ulang dalam jumlah besar.

Dalam dua belas bulan berikutnya, beberapa pinjaman lama mereka akan jatuh tempo. Bram ingin menggantinya dengan fasilitas pendanaan jangka panjang agar perusahaan dapat melanjutkan ekspansi logistik dan kawasan industrinya.

Nilainya lebih dari Rp8 triliun.

Arunika sedang mempertimbangkan menjadi investor utama dalam transaksi itu.

Kalau kami masuk, beberapa lembaga lain kemungkinan besar akan ikut.

Kalau kami mundur, mereka belum tentu pergi, tetapi semuanya akan menilai ulang.

Bram tahu nama Arunika.

Dia tahu ada seorang direktur investasi yang memimpin pemeriksaan.

Dia hanya belum pernah bertemu denganku secara langsung.

Sebagian besar pertemuan tahap awal dilakukan oleh tim analis, penasihat transaksi, serta direktur keuangannya. Pertemuan terakhir denganku dijadwalkan untuk minggu berikutnya.

Aku sengaja tidak memberi tahu Raka sejak awal.

Begitu mengetahui Wiratama Group masuk ke dalam daftar transaksi yang kutangani, aku sudah mengungkap hubungan kami kepada atasanku dan bagian kepatuhan.

Aku tidak mengambil keputusan sendirian.

Aku bahkan sudah menyatakan bahwa bila transaksi mencapai tahap final, persetujuan harus diberikan komite tanpa suaraku.

Tetapi sebelum itu, salah satu pekerjaanku tetap menilai risiko kepemimpinan perusahaan.

Dan selama tiga bulan aku punya satu kekhawatiran.

Bram terlalu banyak mengendalikan semuanya.

Beberapa keputusan besar secara formal melewati direksi, tetapi praktiknya hampir selalu menunggu persetujuannya.

Rencana suksesi tidak jelas.

Dewan komisaris beberapa kali meminta batas kewenangan antarperusahaan diperjelas, namun pembahasannya terus ditunda.

Secara angka, Wiratama Group masih kuat.

Secara tata kelola, aku belum yakin.

Aku ingin bertemu Bram sebagai calon anggota keluarga sebelum bertemu dengannya sebagai orang yang sedang menilai perusahaan.

Malam itu memberiku jawaban tentang sifatnya.

Tetapi sifat buruk bukan alasan cukup untuk membatalkan transaksi bernilai triliunan rupiah.

Itulah sebabnya pukul delapan pagi keesokan harinya aku tidak menelepon bank, media, atau siapa pun yang dapat mempermalukannya.

Aku menelepon atasanku.

Namanya Ratih.

“Aku perlu memperbarui pengungkapan konflik kepentinganku,” kataku.

“Ada apa?”

“Semalam aku bertemu Bram Wiratama dalam konteks pribadi. Pertemuannya buruk.”

“Seberapa buruk?”

“Cukup buruk sehingga aku tidak mau penilaianku terhadap dia dianggap objektif lagi.”

Ratih diam sejenak.

“Kamu mau mundur dari transaksi?”

“Dari keputusan final, iya. Tapi ada beberapa kekhawatiran tata kelola yang sudah kubuat sebelum semalam. Aku ingin tim independen memeriksanya tanpa aku.”

“Apa saja?”

Aku membuka catatan yang sudah kubuat dua minggu sebelumnya.

“Batas kewenangan Bram. Transaksi antarentitas. Jaminan silang. Dan apakah semua kewajiban jangka pendek benar-benar sudah masuk bahan komite.”

Ratih menarik napas.

“Itu bukan daftar kecil.”

“Makanya jangan pakai kesimpulanku. Periksa sendiri.”

Dia setuju.

Satu panggilan telepon.

Tidak ada ancaman.

Tidak ada balas dendam.

Aku hanya menarik diriku dari posisi yang dapat menimbulkan konflik dan meminta proses pemeriksaan dilanjutkan tanpa pengaruhku.

Sore harinya Raka datang ke apartemenku.

Aku menjelaskan semuanya.

Wajahnya perlahan berubah.

“Arunika?”

Aku mengangguk.

“Yang sedang menilai refinancing perusahaan?”

“Iya.”

“Dan kamu yang memimpin timnya?”

“Sampai pagi ini.”

Dia duduk tanpa bicara selama beberapa detik.

“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”

“Karena sebelum transaksi ini muncul, pekerjaanku tidak ada hubungannya dengan keluargamu. Setelah muncul, aku melaporkan hubungan kita ke kantor. Aku tidak mau kamu berada di tengah.”

“Bapak tahu Arunika bisa menentukan apakah beberapa investor lain ikut.”

“Aku tidak menentukan itu seorang diri.”

“Tapi pendapatmu penting.”

“Makanya aku mundur.”

Raka mengusap wajahnya.

“Kalau Bapak tahu…”

“Dia pasti mengira aku sedang membalas dendam.”

“Ya.”

“Dan aku tidak mau itu.”

Ponsel Raka bergetar.

Dia melihat layar.

Bram.

Raka tidak mengangkat.

Beberapa detik kemudian pesan masuk.

Raka membacanya, lalu menatapku.

“Aneh.”

“Apa?”

“Bapak menyuruhku datang ke kantor besok pagi. Katanya ada masalah dengan data refinancing dan dia ingin semua direktur hadir.”

Aku menatapnya.

“Masalah apa?”

“Dia tidak bilang.”

Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah Bram, kemarahanku tergeser oleh sesuatu yang jauh lebih dingin.

Karena pemeriksaan tambahan yang kuminta pagi itu bahkan belum selesai.

Kalau Bram sudah panik sebelum pertanyaan resmi dikirim, mungkin masalahnya bukan sekadar temperamen buruk.

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Keesokan paginya aku tidak ikut Raka ke kantor Wiratama Group.

Aku pergi ke kantorku sendiri seperti biasa.

Hubungan pribadi kami tidak memberiku hak masuk ke rapat keluarganya, dan pekerjaanku justru membuatku harus menjaga jarak lebih ketat.

Ratih sudah memindahkan tanggung jawab utama transaksi kepada Dimas, direktur lain yang selama ini hanya mendampingi.

“Aku mau semuanya bersih,” katanya ketika kami bertemu.

“Aku juga.”

“Kamu masih boleh menjelaskan catatan yang sudah dibuat sebelum konflik tadi malam. Setelah itu, keluar dari proses.”

Aku menyerahkan seluruh catatanku.

Pertanyaan yang kubuat sebenarnya sederhana.

Beberapa anak perusahaan Wiratama saling meminjamkan dana dalam jumlah besar. Hal itu tidak otomatis salah. Grup besar sering mengatur kas antarperusahaan.

Yang membuatku tidak nyaman adalah waktunya.

Dua perusahaan logistik menghasilkan arus kas kuat, tetapi beberapa kali mengirim dana ke perusahaan properti yang sedang membangun kawasan industri baru.

Pada saat yang sama, presentasi kepada calon investor menggambarkan masing-masing perusahaan seolah memiliki kemampuan memenuhi kewajiban sendiri.

Aku ingin memastikan tidak ada uang yang dihitung dua kali.

Aku juga ingin memastikan aset tertentu tidak dijadikan jaminan untuk lebih dari kewajiban yang sudah diungkapkan.

Sekitar pukul sebelas, Raka mengirim pesan.

Boleh bicara?

Aku meneleponnya dari ruang rapat kosong.

“Apa yang terjadi?”

Suara Raka terdengar lelah.

“Bapak marah besar pagi tadi.”

“Karena?”

“Direktur keuangan memberi tahu ada permintaan dokumen tambahan dari Arunika.”

“Itu normal.”

“Aku tahu. Tapi Bapak terus bilang kalian sengaja memperlambat transaksi.”

“Permintaannya belum sampai ke meja aku lagi.”

“Aku juga sudah bilang begitu.”

Aku menunggu.

Raka mengembuskan napas.

“Lalu aku bertanya kenapa dia begitu khawatir.”

“Dia jawab?”

“Awalnya tidak.”

Kemudian Raka menjelaskan sesuatu yang membuatku duduk lebih tegak.

Enam bulan sebelumnya, Bram memerintahkan salah satu anak perusahaan memberikan dukungan dana sementara kepada proyek kawasan industri yang mengalami pembengkakan biaya.

Nilainya sekitar Rp640 miliar.

Secara internal keputusan tersebut dianggap pinjaman antarperusahaan.

Masalahnya, sebagian dana berasal dari perusahaan yang arus kasnya sudah dijadikan dasar perhitungan kemampuan membayar utang dalam paket refinancing.

Lebih buruk lagi, fasilitas bank lama pada perusahaan itu memiliki batas tertentu untuk transaksi dengan pihak terafiliasi.

“Apa bank sudah tahu?” tanyaku.

“Direktur keuangan bilang mereka sudah berkirim surat meminta penjelasan.”

“Kapan?”

“Dua bulan lalu.”

Aku memejamkan mata.

“Surat itu ada dalam data room?”

“Aku tidak tahu.”

“Raka.”

“Aku benar-benar tidak tahu.”

“Cari tahu melalui kewenanganmu sebagai direktur. Jangan mengambil dokumen yang tidak boleh kamu akses hanya untukku.”

“Aku mengerti.”

Satu jam kemudian Dimas datang ke mejaku.

“Kamu pernah lihat surat keberatan dari bank soal transaksi antarperusahaan?”

“Tidak.”

“Tim legal juga belum.”

Aku tidak perlu mengatakan apa-apa lagi.

Dimas kembali ke ruangannya.

Pada sore hari, Arunika mengirim permintaan resmi kepada Wiratama Group untuk melengkapi dokumen.

Bukan tuduhan.

Bukan ancaman.

Kami meminta notulen rapat, surat bank, rincian transaksi antarperusahaan, dan status seluruh jaminan yang berkaitan dengan paket refinancing.

Jawaban pertama datang keesokan harinya.

Tidak lengkap.

Jawaban kedua datang setelah Dimas menolak melanjutkan rapat tanpa dokumen pendukung.

Di dalamnya terdapat surat bank yang disebut Raka.

Isinya tidak mengatakan Wiratama Group melakukan kejahatan.

Bank hanya meminta perusahaan memperbaiki pelaporan dan menyatakan bahwa transaksi tertentu berpotensi melanggar syarat fasilitas jika tidak dikembalikan atau disetujui sesuai prosedur.

Itu sudah cukup serius.

Bukti pendukung kedua muncul dari notulen rapat direksi.

Dua direktur sudah memperingatkan Bram bahwa pemindahan dana akan mempersulit refinancing.

Bram tetap memerintahkannya dengan alasan proyek properti tidak boleh terlihat gagal di mata mitra.

Masalah terbesar bukan uangnya.

Masalah terbesar adalah calon investor tidak pernah diberi gambaran lengkap mengenai perdebatan itu.

Dimas langsung meminta evaluasi risiko baru.

Aku tidak ikut memilih.

Aku tidak ikut rapat keputusan.

Aku bahkan meminta namaku dicatat sebagai pihak yang tidak memberikan rekomendasi akhir karena hubunganku dengan Raka.

Tiga hari kemudian, komite investasi Arunika menunda komitmen pendanaan.

Tidak membatalkan selamanya.

Mereka memberikan beberapa syarat.

Wiratama Group harus memperbaiki pelaporan transaksi antarentitas, menyelesaikan masalah dengan bank lama, memperjelas kewenangan pendiri, dan memperkuat pengawasan independen.

Tanpa itu, Arunika tidak akan masuk.

Berita tersebut tidak diumumkan ke publik.

Namun pasar pembiayaan perusahaan besar itu kecil.

Bank dan investor lain tidak mengetahui detail konflik pribadiku dengan Bram.

Mereka hanya melihat satu hal.

Investor utama yang diharapkan masuk belum memberikan komitmen.

Mereka mulai mengajukan pertanyaan sendiri.

Dua hari kemudian Bram meneleponku.

Aku tidak langsung mengangkat.

Dia menelepon lagi.

Pada panggilan ketiga aku menjawab.

“Nadia.”

Nada suaranya jauh berbeda dari malam makan malam.

“Pak Bram.”

“Kita perlu bertemu.”

“Kalau mengenai transaksi, Bapak harus melalui Dimas.”

“Jangan bermain seperti ini.”

Aku diam beberapa detik.

“Saya tidak sedang bermain.”

“Kamu tersinggung karena makan malam.”

“Benar.”

“Lalu kamu pulang dan menghancurkan pembiayaan perusahaan saya.”

“Tidak.”

“Jangan bohong.”

“Saya menarik diri dari keputusan transaksi karena hubungan pribadi saya dengan Raka membuat posisi saya tidak lagi netral.”

“Lalu tiba-tiba timmu menggali semua hal kecil.”

“Pertanyaan tata kelola itu sudah saya tulis sebelum kita bertemu.”

Dia tidak langsung menjawab.

Aku melanjutkan.

“Kalau semua dokumen perusahaan lengkap, pemeriksaan tambahan tidak akan menjadi masalah.”

“Kamu tidak mengerti bagaimana bisnis besar bekerja.”

Kalimat itu hampir membuatku tersenyum.

“Mungkin. Karena itu keputusan sekarang dibuat oleh orang lain.”

“Berapa?”

Aku mengernyit.

“Berapa apa?”

“Apa yang kamu mau?”

Aku benar-benar terdiam.

“Bapak pikir saya meminta uang?”

“Orang selalu menginginkan sesuatu.”

Malam makan malam itu kembali terlintas.

Mobilku.

Pekerjaan ibuku.

Gaun yang kupinjam.

Bram ternyata melihat hampir semua hubungan dengan cara yang sama.

Seseorang selalu sedang mencoba naik.

Seseorang selalu ingin sesuatu.

“Tidak ada angka yang bisa menyelesaikan masalah ini, Pak.”

“Semua punya angka.”

“Kalau begitu Bapak salah menilai saya dua kali.”

Aku memutus sambungan.

Raka mengetahui percakapan itu beberapa jam kemudian.

Dia datang menemuiku malam itu, tetapi kali ini tidak berusaha membela ayahnya.

“Aku sudah bilang ke Bapak jangan menghubungimu lagi soal transaksi.”

“Apa dia dengar?”

“Tidak.”

Aku menuangkan air untuk kami.

Raka duduk di kursi dekat dapur.

“Aku minta maaf.”

“Untuk apa?”

“Karena selama bertahun-tahun aku selalu berpikir satu-satunya cara menghadapi Bapak adalah mengurangi kerusakan setelah dia melakukan sesuatu.”

Aku duduk di seberangnya.

“Itu memang yang kamu lakukan malam itu.”

“Aku tahu.”

“Aku tidak menyalahkanmu atas ucapan dia.”

“Tapi?”

Aku menatapnya.

“Tapi aku tidak mau menghabiskan lima belas tahun berikutnya melihatmu meminta maaf atas sesuatu yang dilakukan ayahmu, sementara kamu tetap membiarkan dia menentukan hidupmu.”

Raka tidak menjawab cepat.

Itulah salah satu hal yang kusukai darinya.

Ketika pembicaraan benar-benar penting, dia tidak selalu buru-buru mencari kalimat sempurna.

“Apa kamu mau kita berpisah?”

“Aku mau kamu memutuskan seperti apa hidupmu tanpa menjadikan aku alasan.”

Dia mengangguk pelan.

Kami tidak menyelesaikan semuanya malam itu.

Dan menurutku, memang seharusnya begitu.

Masalah yang dibangun selama puluhan tahun tidak akan selesai dengan satu percakapan di meja dapur.

Sementara itu, tekanan di Wiratama Group meningkat.

Dalam dua minggu, bank utama meminta rencana perbaikan.

Investor lain menunda keputusan.

Pemasok tidak berhenti bekerja, karyawan tetap menerima gaji, dan perusahaan tidak langsung runtuh seperti dalam cerita balas dendam yang terlalu rapi.

Tetapi ekspansi besar yang direncanakan Bram harus dihentikan.

Dua pembelian lahan baru dibatalkan.

Proyek kawasan industri ditinjau ulang.

Direksi mulai membahas sesuatu yang selama bertahun-tahun dianggap tabu.

Mengurangi kewenangan Bram.

Raka berada di tengahnya.

Dia tidak meneleponku untuk meminta bantuan.

Dia tidak meminta informasi rahasia dari Arunika.

Dia justru menjaga jarak dari seluruh proses investasiku dan bekerja melalui dewan direksi serta komisaris perusahaannya sendiri.

Tiga minggu setelah makan malam, dia datang ke apartemenku membawa satu map tipis.

“Aku tidak akan menunjukkan dokumen perusahaan,” katanya. “Ini cuma surat pribadi.”

Dia menyerahkannya.

Surat pengunduran dirinya dari posisi yang selama ini secara langsung berada di bawah Bram.

Aku menatapnya.

“Kamu keluar?”

“Bukan dari perusahaan.”

“Lalu?”

“Aku mengundurkan diri dari posisi wakil direktur yang melapor langsung ke Bapak. Dewan menawarkan aku memimpin unit logistik secara terpisah selama restrukturisasi.”

“Bapak setuju?”

“Tidak.”

“Tapi dewan?”

“Setuju.”

Aku membaca surat itu sekali lagi.

“Kenapa?”

Raka bersandar ke kursi.

“Karena selama ini aku bilang bertahan demi empat belas ribu karyawan. Tapi sebagian dari itu cuma alasan supaya aku tidak perlu mengakui bahwa aku takut menghadapi Bapak.”

Aku menutup map.

“Takut apa?”

“Kalau aku benar-benar menolak dia, mungkin aku kehilangan keluarga.”

Aku tidak menjawab.

Raka menatap meja.

“Ternyata kalau seseorang hanya menganggapmu keluarga selama kamu patuh, yang kamu pertahankan sebenarnya bukan hubungan.”

Aku menggeser map kembali kepadanya.

“Jangan lakukan ini untukku.”

“Aku tahu.”

“Serius.”

“Aku melakukannya karena aku tidak mau umur empat puluh masih meminta izin untuk bernapas.”

Untuk pertama kalinya setelah makan malam di rumah Bram, aku merasa mungkin hubungan kami masih memiliki ruang.

Bukan karena Raka memilihku dibanding ayahnya.

Aku tidak pernah ingin menjadi kompetisi seperti itu.

Aku hanya perlu melihat bahwa dia mampu membuat keputusan yang menjadi miliknya sendiri.

Sebulan kemudian, keadaan Wiratama Group mencapai titik yang tidak bisa lagi dihindari.

Bram tidak kehilangan semuanya.

Dia tidak tiba-tiba jatuh miskin.

Rumahnya tetap ada.

Sahamnya masih bernilai sangat besar.

Tidak ada polisi datang menyeretnya keluar dari kantor.

Kenyataan jauh lebih lambat dan lebih menyakitkan bagi orang seperti Bram.

Dia kehilangan kendali.

Bank-bank yang sebelumnya menerima jaminan berdasarkan reputasinya sekarang meminta keputusan dewan yang lebih kuat.

Investor tidak mau menandatangani sebelum struktur pengawasan diperbaiki.

Dewan komisaris meminta seorang direktur utama profesional ditunjuk untuk menjalankan operasional harian.

Bram tetap menjadi pemegang saham terbesar dan pendiri.

Tetapi dia tidak lagi dapat memindahkan ratusan miliar antarunit hanya karena merasa sebuah proyek harus diselamatkan.

Tiga aset properti noninti diputuskan untuk dijual bertahap guna mengurangi utang.

Proyek kawasan industri yang menjadi kebanggaannya diperkecil.

Dua anak perusahaan yang selama ini dikendalikan dari kantor pusat diberi manajemen yang lebih mandiri.

Kerajaan yang Bram bangun selama hampir empat puluh tahun tidak musnah.

Ia dibongkar menjadi struktur yang tidak lagi bergantung pada satu orang.

Bagi Bram, itu mungkin terasa lebih buruk.

Raka memberitahuku bahwa dalam salah satu rapat dewan, ayahnya sampai berdiri dan berkata, “Kalian mengambil perusahaan saya.”

Salah satu komisaris lama menjawab, “Tidak, Bram. Kami sedang memastikan perusahaan ini tetap hidup setelah kamu tidak lagi duduk di ruangan ini.”

Raka tidak menceritakannya dengan puas.

Dia justru terlihat sedih.

“Dia benar-benar tidak tahu siapa dirinya kalau bukan orang yang mengendalikan semua ini.”

Aku memahami kesedihan itu.

Orang bisa menyakiti kita dan tetap menjadi orang yang kita sayangi.

Dua hal tersebut bisa benar pada saat bersamaan.

Dua bulan setelah makan malam itu, Bram meminta bertemu denganku.

Bukan melalui telepon.

Bukan di kantor.

Raka menyampaikan pesannya, tetapi tidak mencoba membujuk.

“Kalau kamu tidak mau, aku bilang tidak.”

Aku berpikir sehari.

“Aku mau.”

Kami bertemu di sebuah restoran hotel pada sore hari.

Tempat netral.

Bram datang lebih dulu.

Tidak ada tamu.

Tidak ada meja panjang.

Tidak ada dua puluh tiga orang yang bisa ia jadikan penonton.

Aku memakai celana bahan hitam dan kemeja putih sederhana.

Gaun hijau Maya sudah kukembalikan sejak lama.

Bram berdiri ketika aku datang.

“Nadia.”

“Pak Bram.”

Dia menunjuk kursi.

Kami duduk.

Untuk beberapa detik dia hanya memandang cangkir kopi.

Kemudian dia berkata, “Saya salah malam itu.”

Aku menunggu.

“Saya menghina kamu.”

“Iya.”

“Saya juga menghina ibu kamu.”

“Iya.”

Dia menarik napas pelan.

“Saya terbiasa menghadapi orang yang mendekati keluarga saya karena uang.”

“Aku tidak meragukan itu pernah terjadi.”

“Saya pikir kamu salah satunya.”

“Itu menjelaskan pikiran Bapak. Tidak membenarkan ucapan Bapak.”

Dia mengangguk.

Aku sedikit terkejut.

Bram yang kutemui malam itu mungkin akan berdebat selama satu jam.

Bram yang duduk di depanku sekarang tampak lebih tua.

Bukan lemah.

Hanya tidak lagi dikelilingi orang yang selalu mengiyakan.

“Saya pikir kamu membalas saya melalui Arunika.”

“Bapak masih berpikir begitu?”

Dia diam cukup lama.

“Tidak.”

“Apa yang mengubah pikiran Bapak?”

“Dimas menunjukkan catatan tanggal pertanyaan tata kelola pertama.”

Catatan itu dibuat hampir tiga minggu sebelum makan malam.

“Aku juga mengundurkan diri dari keputusan final.”

“Saya tahu sekarang.”

“Berarti Bapak juga tahu saya tidak membongkar perusahaan Bapak.”

Dia tersenyum hambar.

“Tidak. Saya sendiri yang membuat terlalu banyak hal bergantung pada kepercayaan terhadap saya.”

Itu mungkin kalimat paling jujur yang pernah kudengar darinya.

Aku tidak buru-buru mengatakan semuanya baik-baik saja.

Belum.

Bram kemudian bertanya, “Apakah kamu bisa memaafkan saya?”

Aku memikirkan jawabannya.

“Aku bisa berhenti marah.”

Dia menatapku.

“Tapi?”

“Itu berbeda dengan mempercayai Bapak.”

Dia mengangguk pelan.

“Apa yang harus saya lakukan?”

“Aku bukan orang yang menentukan itu.”

“Nadia.”

“Serius. Mulai dari Raka. Jangan menelepon dia hanya untuk memerintah. Jangan gunakan perusahaan untuk menghukumnya karena berbeda pendapat. Kalau Bapak meminta maaf, jangan langsung meminta semuanya kembali seperti semula.”

Bram melihat ke luar jendela.

“Apa dia mengatakan saya menghukumnya?”

“Raka tidak perlu mengatakannya.”

Aku berdiri setelah percakapan kami selesai.

Bram juga berdiri.

Sebelum aku pergi, dia berkata, “Tentang ibu kamu…”

Aku berhenti.

“Saya malu pernah bicara seperti itu.”

Kali ini aku percaya dia memang malu.

Tetapi rasa malu tetap bukan penghapus.

“Beliau tidak tahu apa yang Bapak katakan.”

Bram tampak lega.

Aku melanjutkan, “Dan aku tidak akan memberitahunya. Bukan untuk melindungi Bapak. Aku cuma tidak mau Ibu membawa pulang luka dari orang yang bahkan tidak mengenalnya.”

Dia tidak punya jawaban.

Aku meninggalkannya di sana.

Arunika akhirnya tidak menjadi investor utama Wiratama Group.

Tiga bulan setelah penilaian pertama, komite memutuskan risiko transisinya masih terlalu tinggi untuk mandat kami.

Perusahaan mendapatkan paket pendanaan lain dari beberapa bank setelah menyelesaikan sebagian syarat restrukturisasi.

Nilainya lebih kecil.

Biayanya lebih mahal.

Akibatnya, rencana ekspansi lima tahun dipangkas.

Beberapa proyek dijual.

Bram kehilangan jabatan operasional hariannya.

Namun perusahaan tidak bangkrut dan ribuan karyawan tidak harus membayar harga untuk kesalahan satu orang.

Menurutku itu hasil yang jauh lebih baik daripada kehancuran total.

Aku juga tidak pernah menerima keuntungan pribadi dari keputusan tersebut.

Pekerjaanku tetap sama.

Mobilku juga tetap sama.

Suatu Sabtu pagi sekitar enam bulan setelah makan malam pertama itu, Raka datang ke apartemenku membawa dua kopi.

Dia mengetuk kap mobil Toyotaku.

“Masih belum mau diganti?”

“Masih jalan.”

“Bumpernya makin jelek.”

“Karakter.”

Dia tertawa.

Hubungan kami tidak berubah menjadi sempurna.

Raka masih menjalani terapi untuk memahami pola hubungannya dengan ayahnya.

Kadang-kadang dia masih merasa bersalah setelah mengatakan tidak kepada Bram.

Kadang dia menjawab telepon ayahnya, lalu baru sadar satu jam kemudian bahwa mereka kembali berdebat tentang hal yang bukan urusan Bram.

Tetapi sekarang Raka berhenti.

Dia menarik batas.

Dia tidak meminta izin untuk keputusan hidup pribadi.

Bram juga tidak mendadak berubah menjadi ayah yang hangat.

Namun dia mulai belajar bahwa telepon yang tidak dijawab bukan penghinaan, dan perbedaan pendapat bukan pengkhianatan.

Aku bertemu dengannya beberapa kali setelah itu.

Tidak pernah ada lagi komentar tentang mobilku.

Tidak ada pertanyaan tentang penghasilanku.

Dan ketika dia akhirnya bertemu Ibu beberapa bulan kemudian, dia memperkenalkan diri dengan sopan tanpa menyebut perusahaan, nilai kekayaan, atau satu pun gedung yang pernah memakai namanya.

Ibu pulang dan berkata kepadaku, “Ayahnya Raka kaku sekali.”

Aku hampir tertawa.

“Itu sudah versi membaik, Bu.”

Pada malam ulang tahun Raka, kami makan sederhana di apartemenku bersama beberapa teman.

Maya datang dan melihat lemari kecil dekat kamar.

“Ngomong-ngomong, gaun hijaunya masih muat banget buat kamu. Mau pinjam lagi kapan-kapan?”

Aku memandangnya.

“Boleh.”

Raka langsung tertawa.

“Serius?”

“Kenapa tidak?”

Aku mengambil kunci mobil dari meja.

Di gantungan kunci itu masih ada goresan kecil yang sudah bertahun-tahun tidak pernah kuganti.

Enam bulan sebelumnya, aku keluar dari rumah keluarga Wiratama sambil mengenakan gaun pinjaman, mengendarai Toyota tua, dan membawa satu kesimpulan sederhana.

Bram menilai orang dari apa yang bisa ia lihat.

Aku hampir melakukan kesalahan sebaliknya dengan menganggap satu malam sudah cukup untuk menentukan seluruh masa depan semua orang.

Yang akhirnya mengubah hidup kami bukan satu telepon.

Telepon itu hanya membuka pemeriksaan yang seharusnya memang dilakukan.

Sisanya datang dari catatan yang sudah ada, keputusan yang sudah dibuat, batas yang akhirnya ditegakkan, dan orang-orang yang berhenti membiarkan satu orang mengendalikan segalanya.

Aku membuka pintu mobil.

Raka duduk di kursi penumpang dan menarik sabuk pengaman.

“Ke mana?”

Aku menyalakan mesin.

“Ke rumah Ibu.”

“Naik ini?”

Aku menatapnya.

“Kalau kamu malu, bisa duduk di belakang.”

Dia tertawa dan menutup pintu.

Toyota tua itu keluar dari parkiran tanpa masalah, seperti biasanya.

Menurutmu, apakah Nadia tepat tetap memberi Raka kesempatan setelah melihat bagaimana ia mulai menetapkan batas dengan ayahnya?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.