Begitu Cerai Resmi, Aku Menutup Dua Kartu Tambahan. Lima Hari Kemudian Mantan Suamiku Mencoba Membeli Rumah Rp74 Miliar

Avatar penulis
Cerita 01
22 menit baca 587 tayangan
Begitu Cerai Resmi, Aku Menutup Dua Kartu Tambahan. Lima Hari Kemudian Mantan Suamiku Mencoba Membeli Rumah Rp74 Miliar
Indeks

Begitu Cerai Resmi, Aku Menutup Dua Kartu Tambahan. Lima Hari Kemudian Mantan Suamiku Mencoba Membeli Rumah Rp74 Miliar

Bagian 1

Beberapa menit setelah perceraian kami resmi, aku membuka aplikasi bank dan menutup dua kartu premium tambahan yang selama bertahun-tahun berada di dompet mantan suamiku dan ibunya.

Lima hari kemudian, mereka datang ke sebuah kompleks hunian mewah di Jakarta Selatan bersama perempuan baru mantan suamiku. Mereka berniat memberikan uang tanda jadi untuk sebuah rumah senilai hampir Rp74 miliar.

Ibu mantan suamiku mengeluarkan kartu hitamnya tanpa ragu.

“Tolong proses Rp1,15 miliar untuk tanda jadinya.”

Mesin pembayaran berbunyi.

Transaksi ditolak.

Begitu Cerai Resmi, Aku Menutup Dua Kartu Tambahan. Lima Hari Kemudian Mantan Suamiku Mencoba Membeli Rumah Rp74 Miliar

Dan ketika beberapa menit kemudian aku masuk melalui pintu kaca ruang pemasaran yang sama karena urusan pekerjaan, mantan suamiku menatapku seperti baru melihat orang yang seharusnya tidak mungkin berada di sana.

Namaku Ratih Pradana.

Selama hampir tujuh tahun aku menikah dengan Adrian Wijaya, lelaki yang jauh lebih menyukai terlihat kaya daripada membicarakan berapa banyak uang yang sebenarnya ia miliki.

Adrian adalah pendiri sekaligus direktur utama VertaCore Solutions, perusahaan teknologi yang ia bangun dari sebuah ruang kantor sewaan di Jakarta dengan empat pegawai, beberapa laptop yang masih dicicil, dan kepercayaan diri yang sering kali lebih besar daripada saldo rekening perusahaan.

Dia cerdas.

Dia berani mengambil risiko.

Dan dia bisa membuat orang percaya bahwa kesuksesan besar hanya tinggal menunggu waktu.

Ketika pertama mengenalnya, aku juga percaya.

Aku tidak menikah dengannya karena uang.

Justru ketika kami menikah, posisi keuangan kami sangat berbeda.

Aku sudah bekerja sebagai eksekutif senior di Arunika Global Holdings, perusahaan multinasional yang memiliki bisnis logistik, infrastruktur, teknologi, energi terbarukan, manufaktur, dan properti komersial.

Pada usia tiga puluh empat tahun, aku diangkat menjadi Chief Financial Officer untuk operasi global perusahaan.

Gajiku besar. Bonus tahunan dan saham jangka panjangku juga tidak kecil. Selain itu, aku sudah membangun portofolio investasi sendiri bahkan sebelum mengenal Adrian.

Penghasilanku setiap tahun mencapai puluhan miliar rupiah.

Hampir tidak ada seorang pun di keluarga Adrian yang tahu.

Aku memang tidak pernah merasa perlu memberi tahu mereka.

Aku tidak memakai perhiasan yang membuat orang menoleh dua kali. Mobilku nyaman, tetapi bukan kendaraan yang dibeli untuk dipamerkan. Aku jarang mengunggah kehidupan pribadi ke media sosial.

Dan setiap kali ibunya Adrian, Bu Mira, bertanya apa pekerjaanku, Adrian selalu menjawab lebih dulu.

“Ratih kerja di bagian keuangan perusahaan.”

Tidak salah.

Hanya sangat tidak lengkap.

Bu Mira tidak pernah bertanya lebih jauh karena topik favoritnya selalu anak laki-lakinya sendiri.

Menurut Bu Mira, Adrian adalah seorang visioner.

Calon pengusaha besar.

Lelaki yang suatu hari akan membuat nama keluarga Wijaya dikenal banyak orang.

Pada tahun-tahun pertama pernikahan, aku tidak keberatan mendengar semua itu.

Aku sendiri ingin VertaCore berhasil.

Ketika perusahaan hampir tidak mampu membayar gaji pada tahun kedua, aku memberikan pinjaman jembatan secara resmi.

Bukan uang yang kutransfer diam-diam kepada suami.

Pengacaraku menyiapkan dokumen. Adrian menandatanganinya. Bagian keuangan VertaCore mencatatnya sebagai kewajiban perusahaan.

Setahun kemudian, ketika arus kas mereka kembali terganggu karena satu klien besar terlambat membayar, aku memberi pinjaman kedua dengan prosedur yang sama.

Aku juga memiliki saham minoritas kecil dari salah satu putaran pendanaan awal.

Namun VertaCore tetap perusahaan Adrian.

Aku tidak ikut mengatur produknya.

Aku tidak memimpin pegawainya.

Aku tidak duduk setiap pagi mengawasi insinyur mereka bekerja.

Uangku hanya memberi perusahaan itu waktu bernapas pada masa-masa sulit.

Di rumah, ketimpangan keuangan kami jauh lebih besar.

Aku membayar sebagian besar cicilan rumah.

Pajak dan biaya pemeliharaan rumah juga lebih banyak kutanggung.

Liburan keluarga sebagian besar kubayar.

Ketika Adrian mengatakan seorang pendiri perusahaan harus terlihat meyakinkan di depan calon investor, aku membantu membiayai mobil SUV mewah yang ia inginkan.

Saat Bu Mira merenovasi dapurnya, sekitar Rp580 juta keluar dari rekeningku.

Ketika beliau membutuhkan perawatan gigi yang tidak seluruhnya ditanggung asuransi, aku yang menutup sisanya.

Pada ulang tahunnya yang keenam puluh, Bu Mira ingin mengajak keluarga menginap akhir pekan di sebuah resor mahal di Bali.

Adrian yang membuat reservasi.

Aku yang menerima tagihannya.

Di rumah, Adrian selalu mengucapkan terima kasih.

Di depan keluarganya, dia membiarkan orang lain menyimpulkan sesuatu yang berbeda.

Aku pertama kali benar-benar menyadarinya pada sebuah makan malam keluarga.

Sepupunya mengangkat gelas.

“Untuk Adrian. Pengusaha pertama di keluarga yang benar-benar berhasil.”

Semua tertawa.

Bu Mira tersenyum bangga.

“Dari dulu Adrian memang begitu. Kalau keluarga butuh apa-apa, dia tidak pernah hitung-hitungan.”

Aku menatap suamiku.

Adrian sempat melihat ke arahku.

Aku menunggu dia mengatakan satu kalimat sederhana.

Mungkin, “Ratih juga banyak membantu.”

Atau, “Sebagian besar biaya ini sebenarnya dari Ratih.”

Apa saja.

Dia tidak mengatakan apa pun.

Sejak saat itu aku mulai melihat pola yang sebelumnya sengaja kuabaikan.

Bu Mira melihat Adrian menyerahkan kartu kepada pelayan restoran.

Beliau tidak melihat notifikasi tagihannya masuk ke aplikasi bankku.

Beliau melihat Adrian memesan kamar hotel.

Beliau tidak tahu kartu tambahan di dompet anaknya terhubung ke rekening utamaku.

Beliau melihat Adrian meningkatkan tiket penerbangannya menjadi kelas bisnis.

Beliau mengira Adrian yang membayar.

Beberapa tahun setelah kami menikah, Adrian pernah meminta satu kartu tambahan lagi untuk Bu Mira.

Katanya lebih mudah untuk kebutuhan keluarga daripada aku harus mengganti pengeluaran satu per satu melalui transfer.

Aku setuju.

Kartu itu dicetak atas nama Mira Wijaya, tetapi rekening utamanya sepenuhnya milikku.

Adrian menjelaskannya dengan cara berbeda.

“Keuangan kami lewat satu layanan premium yang sama.”

Kalimat itu cukup membuat ibunya menyimpulkan bahwa uang tersebut milik kami bersama.

Lebih tepatnya, milik Adrian juga.

Pernah suatu ketika Bu Mira bertanya kepadanya di depanku, “Kartu Mama ini nanti kamu yang bayar, kan?”

Adrian menjawab santai, “Aku urus bagianku.”

Aku menoleh.

Dia tidak berbohong secara harfiah.

Tetapi dia juga tahu ibunya tidak memahami arti jawaban itu.

Faktanya sederhana.

Adrian tidak pernah mengganti tagihan kartu itu kepadaku.

Aku yang membayar.

Selama bertahun-tahun aku membiarkan keadaan tersebut berlangsung karena setiap kali mempertimbangkan pertengkaran yang mungkin terjadi, membayar terasa lebih mudah.

Aku tidak menyadari bahwa setiap kemudahan kecil yang kuberikan perlahan berubah menjadi sesuatu yang dianggap sebagai hak.

Sampai aku mengenal nama Maya Santoso.

Awalnya hanya nama.

Maya bergabung dengan VertaCore sebagai kepala komunikasi sekitar enam bulan sebelumnya.

Adrian sering membicarakannya saat pulang kerja.

Katanya Maya pintar membaca orang.

Punya jaringan bagus.

Paham cara bicara dengan calon investor.

Bisa membuat presentasi VertaCore terlihat jauh lebih matang.

Aku tidak pernah berpikir lebih jauh.

Sampai suatu sore rapat dewan direksi di kantorku selesai hampir satu jam lebih cepat dari jadwal.

Kantor VertaCore hanya beberapa blok dari tempatku berada.

Aku memutuskan mampir.

Bukan untuk memeriksa Adrian.

Aku bahkan membeli dua gelas kopi di perjalanan karena mengira kami bisa pulang bersama.

Aku jarang datang ke kantornya. Adrian selalu mengatakan dia suka memisahkan pekerjaan dan rumah.

Begitu aku memasuki lobi VertaCore, Chloe, resepsionis yang sudah beberapa kali kutemui di acara perusahaan, mendongak dan langsung terlihat tidak nyaman.

“Bu Ratih.”

“Hai, Chloe. Adrian ada?”

Tangannya berhenti di atas keyboard.

“Pak Adrian sedang keluar.”

“Rapat?”

“Sepertinya makan siang terlambat.”

Aku masih memegang dua gelas kopi.

“Dengan siapa?”

Chloe menunduk sepersekian detik.

Gerakan kecil itu lebih menggangguku daripada jawabannya.

“Bu Maya.”

Aku mengangguk perlahan.

“Di mana?”

Chloe jelas tidak ingin menjawab.

“Aku cuma mau menyusul. Ada sesuatu yang mau kubicarakan dengannya.”

Dia menarik napas.

“Kalau tidak salah, mereka ke The Oak Room.”

Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇

Bagian 2

Aku meninggalkan salah satu kopi di meja Chloe dan membawa satu lagi keluar.

The Oak Room hanya beberapa menit berjalan kaki dari kantor VertaCore. Tempat itu bukan restoran romantis secara terang-terangan. Banyak eksekutif makan siang di sana. Aku bahkan pernah beberapa kali membawa klien.

Sepanjang jalan aku masih berusaha memberi Adrian alasan yang masuk akal.

Mungkin mereka bertemu investor.

Mungkin makan siang itu benar-benar urusan pekerjaan.

Aku tidak meneleponnya.

Aku masuk melalui pintu samping restoran dan langsung melihat mereka.

Adrian dan Maya duduk di sudut yang cukup jauh dari meja-meja utama.

Tidak ada laptop.

Tidak ada dokumen.

Ponsel Adrian tergeletak di meja.

Tangannya berada di atas tangan Maya.

Mereka tidak sedang membicarakan pekerjaan.

Aku berdiri sekitar lima detik sebelum Adrian melihatku.

Tangannya langsung ditarik.

“Ratih?”

Maya ikut menoleh.

Aku tidak berteriak. Tidak ada yang kulempar.

Aku hanya meletakkan gelas kopi di ujung meja mereka.

“Tadinya aku mau membuat kejutan.”

Adrian berdiri.

“Ini tidak seperti yang kamu pikirkan.”

Aku melihat kursi kosong di antara mereka, dua piring yang hampir selesai, dan cara Maya memandang Adrian seolah mereka sudah berkali-kali menghadapi percakapan pribadi bersama.

“Kalau begitu jelaskan.”

Maya menunduk.

Adrian berkata, “Kami dekat. Aku seharusnya sudah bicara sama kamu.”

“Seberapa dekat?”

Dia tidak langsung menjawab.

Itu sudah cukup.

Maya akhirnya berdiri.

“Bu Ratih, saya minta maaf. Saya kira Adrian sudah mengatakan bahwa rumah tangga kalian memang sedang bermasalah.”

Aku menatap suamiku.

“Dia bilang apa?”

Maya terlihat semakin tidak nyaman.

“Bahwa kalian sudah lama hidup terpisah secara emosional dan sedang membicarakan perceraian.”

Kami bahkan belum pernah menggunakan kata cerai.

Aku mengangguk.

Lalu aku pergi.

Malam itu Adrian pulang hampir pukul sebelas.

Dia menemukan aku duduk di meja makan dengan map tipis berisi salinan dokumen pinjaman VertaCore yang selama ini kusimpan bersama berkas investasi.

“Ratih, dengarkan aku dulu.”

“Aku sudah mendengarkan cukup banyak sore tadi.”

Dia duduk di seberangku.

Adrian mengaku hubungan itu sudah berlangsung beberapa bulan. Dia bersikeras tidak pernah berniat mempermalukanku dan mengatakan pernikahan kami memang sudah lama “dingin”.

Yang aneh, aku baru mendengar definisi itu setelah dia membutuhkan alasan untuk menjelaskan Maya.

“Kapan kamu mau bilang?” tanyaku.

“Aku belum tahu.”

“Tapi Maya sudah tahu kita akan cerai?”

Dia memijat pelipis.

“Aku bilang mungkin.”

“Kepada dia kamu bilang mungkin. Kepadaku kamu tidak bilang apa-apa.”

Adrian terdiam.

Aku tidak mengambil keputusan besar malam itu.

Aku memindahkan beberapa dokumen pribadi ke lemari kerja yang bisa kukunci dan mengganti kata sandi akun keuangan yang hanya menjadi tanggung jawabku.

Dua hari kemudian aku menemui konsultan hukum yang selama ini menangani urusan investasiku.

Aku tidak meminta cara menghancurkan Adrian.

Aku hanya ingin tahu apa yang benar-benar milikku, apa yang menjadi kewajiban bersama, dan bagaimana memastikan pinjaman perusahaan tidak tercampur dengan persoalan perkawinan.

Jawabannya tidak dramatis.

Justru karena semuanya terdokumentasi, beberapa hal relatif jelas.

Pinjaman kepada VertaCore tetap utang perusahaan.

Saham minoritasku tetap tercatat.

Kartu tambahan Adrian dan Bu Mira berada di bawah rekening yang sepenuhnya atas namaku.

Aku berhak menghentikannya.

Namun setelah memikirkannya, aku tidak langsung menutup kartu tersebut.

Selama proses perpisahan, masih ada beberapa pengeluaran rumah yang belum dipisahkan. Aku tidak ingin keputusan emosional menciptakan kekacauan baru yang kemudian harus kami urai lagi.

Sebagai gantinya, aku memberi Adrian satu batas yang sangat jelas.

“Mulai sekarang kartu itu hanya untuk biaya rumah yang sudah kita sepakati sampai urusan kita selesai. Jangan membeli barang pribadi. Jangan membayar kebutuhan perusahaan. Dan jangan memakai kartu Mama untuk sesuatu yang tidak berkaitan dengan kebutuhan yang selama ini sudah berjalan.”

Adrian terlihat tersinggung.

“Seolah-olah aku pencuri.”

“Aku tidak bilang begitu.”

“Setelah tujuh tahun, sekarang kamu mau menghitung semuanya?”

“Justru karena tujuh tahun aku tidak menghitung dengan benar, kita sampai di sini.”

Untuk pertama kalinya, Adrian tidak punya jawaban cepat.

Tiga minggu kemudian aku mengajukan proses perceraian.

Bu Mira menelepon malam itu.

Beliau tidak bertanya bagaimana keadaanku.

Tidak bertanya apa yang terjadi dengan Maya.

Pertanyaan pertamanya adalah, “Ratih, apa benar kamu mau meninggalkan Adrian saat perusahaannya sedang masuk fase penting?”

Aku memejamkan mata.

“Bu, keputusan ini bukan soal perusahaannya.”

“Tapi selama ini kalian membangun semuanya bersama.”

Aku hampir tertawa mendengar kalimat itu.

Bukan karena lucu.

Karena akhirnya aku mengerti bahwa Bu Mira benar-benar percaya kehidupan yang ia lihat selama ini dibangun terutama oleh anaknya.

Dan Adrian tidak pernah punya alasan untuk memperbaiki pemahaman itu.

Beberapa bulan berikutnya mengubah perceraian kami menjadi sesuatu yang jauh lebih jelas daripada perselingkuhan semata.

Masalah terbesar bukan siapa Maya.

Masalahnya adalah Adrian sudah terlalu lama memperlakukan akses terhadap uangku seperti bagian permanen dari hidupnya.

Saat aku mulai memisahkan setiap kewajiban secara tertulis, dia baru menyadari betapa banyak hal yang selama ini tidak pernah benar-benar ia bayar.

Pada salah satu pertemuan terakhir sebelum perceraian selesai, Adrian menatap daftar pengeluaran dan berkata pelan, “Aku tidak pernah sadar angkanya sebesar ini.”

Aku menutup map.

“Aku rasa itu masalahnya.”

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Proses perceraian kami tidak selesai dalam beberapa minggu.

Ada rumah yang harus dibicarakan, rekening bersama yang harus dipisahkan, kendaraan yang masih dicicil, dan berbagai pengeluaran yang selama bertahun-tahun kami perlakukan seolah tidak membutuhkan batas karena kami suami istri.

Aku tidak ingin keluar dari perkawinan dengan membawa sesuatu yang bukan hakku.

Sebaliknya, aku juga tidak ingin meninggalkan sesuatu hanya karena Adrian terbiasa menggunakannya.

Kami akhirnya sepakat menjual rumah yang kami tempati dan membagi bagian yang memang menjadi hak masing-masing sesuai penyelesaian yang disusun melalui proses resmi.

SUV Adrian tetap ia pertahankan dengan mengambil alih kewajiban cicilannya.

Aku mempertahankan investasiku sendiri.

Pinjaman VertaCore tetap berdiri sebagai kewajiban perusahaan sesuai dokumen awal, bukan berubah menjadi senjata perceraian.

Adrian beberapa kali meminta agar pinjaman itu “dianggap selesai” sebagai bagian dari pembagian.

Aku menolak.

“Kalau sejak awal itu hadiah, kita tidak akan membuat perjanjian.”

“Kamu tahu perusahaan sedang butuh ruang.”

“Aku tahu. Karena itu pembayaran bisa mengikuti jadwal yang sudah disepakati. Tapi utangnya tetap utang.”

Dia menatapku lama.

Dulu aku mungkin akan menambahkan penjelasan panjang agar dia tidak tersinggung.

Kali itu aku tidak melakukannya.

Hubunganku dengan Bu Mira juga berubah.

Beliau meneleponku berkali-kali selama beberapa bulan pertama.

Kadang marah.

Kadang membujuk.

Kadang berbicara seolah perceraian hanyalah konflik rumah tangga kecil yang bisa selesai kalau aku bersedia “sedikit mengalah seperti dulu”.

Suatu sore beliau berkata, “Laki-laki yang sedang membangun bisnis memang pikirannya ke mana-mana, Ratih. Kamu istrinya. Harusnya kamu bantu dia kembali ke jalan yang benar.”

Aku sedang duduk di ruang rapat kosong ketika menerima telepon itu.

“Bu, saya sudah membantu Adrian bertahun-tahun.”

“Justru itu. Masa sekarang berhenti?”

Aku diam beberapa saat.

“Karena bantuan itu ada batasnya.”

Bu Mira menghela napas keras.

“Keluarga tidak menghitung bantuan.”

“Kalau begitu, keluarga juga seharusnya tidak menganggap bantuan sebagai hak.”

Percakapan kami berhenti di sana.

Aku tidak memblokir nomor beliau.

Aku juga tidak lagi mengangkat setiap kali beliau menelepon.

Sementara itu, Adrian tetap bersama Maya.

Hal itu mengejutkanku lebih sedikit daripada yang mungkin dibayangkan orang.

Ketika rasa marahku mulai reda, aku menyadari aku tidak benar-benar ingin Maya meninggalkannya sebagai bentuk hukuman.

Aku hanya ingin tidak lagi ikut membiayai kehidupan yang Adrian gunakan untuk membuat orang lain percaya sesuatu yang tidak benar.

Menjelang akhir proses perceraian, penggunaan kartu tambahan mulai jauh berkurang karena aku meminta setiap pengeluaran besar diberitahukan sebelumnya.

Tetapi aku tidak menutup kartunya sampai semuanya benar-benar selesai.

Hari ketika keputusan perceraian kami dinyatakan final, aku pulang lebih cepat dari kantor.

Tidak ada perayaan.

Tidak ada makan malam khusus.

Aku membuat teh, duduk di meja kecil apartemen sewaan yang kutempati sementara, lalu membuka aplikasi bank.

Di layar terlihat dua kartu tambahan.

ADRIAN WIJAYA.

MIRA WIJAYA.

Aku menatapnya beberapa detik.

Dua nama yang bertahun-tahun menjadi bagian dari kehidupan keuanganku.

Kemudian aku memilih kartu pertama.

Tutup kartu tambahan.

Konfirmasi.

Kartu kedua.

Tutup kartu tambahan.

Konfirmasi.

Selesai.

Tidak sampai tiga menit.

Aku tidak menghubungi Adrian.

Tidak menghubungi Bu Mira.

Menurutku tidak ada yang perlu dijelaskan lagi.

Perceraian kami sudah selesai.

Rekening itu milikku.

Lima hari kemudian, aku menjalani pagi yang sangat padat.

Divisi properti Arunika Global sedang meninjau struktur pendanaan tahap berikutnya dari Asteria Residence, sebuah pengembangan hunian premium di Jakarta Selatan yang menjadi salah satu investasi properti grup kami.

Aku bukan orang yang menjual rumah kepada calon pembeli.

Aku juga bukan pengelola proyek.

Tugasku hari itu adalah menghadiri pertemuan dengan tim keuangan proyek, pihak pengembang, dan beberapa mitra pendanaan.

Pertemuan awalnya dijadwalkan di kantor pusat.

Sekitar satu jam sebelum berangkat, sekretarisku memberi tahu lokasi dipindahkan ke galeri pemasaran Asteria karena salah satu direktur proyek sudah berada di sana.

Aku hampir meminta pertemuan dilakukan melalui video.

Untungnya aku tidak melakukannya.

Pada waktu hampir bersamaan, Adrian sedang duduk bersama Maya dan Bu Mira di ruang konsultasi pribadi di tempat yang sama.

Aku baru mengetahui urutannya belakangan.

Asteria Residence menjual rumah-rumah besar dengan tanah luas, keamanan pribadi, dan fasilitas yang memang ditujukan untuk kalangan dengan kemampuan finansial sangat tinggi.

Salah satu unit yang mereka lihat dipasarkan sekitar Rp74 miliar.

Maya rupanya menyukai rumah itu.

Adrian mengatakan kepada konsultan penjualan bahwa bisnisnya sedang memasuki fase ekspansi dan mereka ingin “mengamankan unit sebelum harga berikutnya berlaku”.

Bu Mira ikut datang.

Menurut penjelasan yang kemudian kudengar, beliaulah yang paling bersemangat.

Baginya, rumah itu semacam bukti bahwa semua ucapan tentang masa depan Adrian selama bertahun-tahun akhirnya menjadi kenyataan.

Masalahnya, Adrian tidak memiliki Rp74 miliar.

Bahkan untuk membayar tanda jadi Rp1,15 miliar secara langsung pun arus kas pribadinya tidak cukup longgar.

Perusahaannya memiliki nilai bisnis yang tidak sama dengan uang tunai pribadi.

Sebagian sahamnya juga tidak bisa begitu saja diubah menjadi uang dalam satu sore.

Tetapi Adrian sudah terlalu terbiasa mempunyai jalan pintas.

Kartu premium.

Kartu yang selama bertahun-tahun hampir tidak pernah ditolak.

Kartu yang dulu digunakannya untuk hotel, tiket, restoran, dan berbagai kebutuhan mahal.

Kartu yang dia tahu memiliki kapasitas transaksi sangat besar.

Entah apa yang dia katakan kepada Maya sebelumnya, aku tidak tahu.

Namun Bu Mira jelas tidak menyadari kartunya sudah tidak aktif.

Saat konsultan menjelaskan bahwa pembayaran tanda jadi bisa dilakukan setelah formulir reservasi selesai, Bu Mira mengeluarkan dompet.

“Pakai ini saja.”

Adrian rupanya sempat berkata, “Ma, nanti biar aku.”

Tetapi Bu Mira sudah menyerahkan kartu hitam dengan namanya sendiri.

Beliau tersenyum kepada konsultan.

“Anak saya yang urus pembayarannya. Kartu ini memang biasa dipakai untuk keluarga.”

Konsultan memasukkan nilai transaksi.

Rp1.150.000.000.

Bu Mira berkata, “Jalankan saja.”

Terminal memproses beberapa detik.

Lalu berbunyi.

DITOLAK.

Konsultan mencoba lagi setelah memastikan angka benar.

Hasilnya sama.

Bu Mira mengerutkan dahi.

“Tidak mungkin.”

Beliau menoleh ke Adrian.

“Telepon bank.”

Adrian memeriksa ponselnya.

Tidak ada notifikasi dari rekeningku karena sejak awal Adrian bukan pemilik rekening utama.

Dia mencoba menggunakan kartunya sendiri.

Ditolak juga karena kartu itu sudah ditutup.

Saat itulah, menurut konsultan yang kemudian menceritakannya kepadaku, sikap Adrian mulai berubah.

Dia tidak marah.

Justru terlihat seperti seseorang yang baru menyadari sesuatu yang seharusnya sudah ia pikirkan lima hari sebelumnya.

Maya bertanya, “Kenapa dua-duanya tidak bisa?”

Adrian menjawab, “Mungkin sistem bank.”

Bu Mira berkata, “Telepon Ratih. Biasanya dia yang urus layanan kartunya.”

Ruangan itu konon langsung sunyi.

Maya menoleh cepat.

“Ratih?”

Adrian berkata, “Ma, jangan sekarang.”

“Kenapa? Tinggal telepon. Bilang ada masalah kartu.”

Maya memandang kartu di atas meja.

Lalu kepada Adrian.

“Kartu itu terkait rekening Ratih?”

Adrian belum sempat menjawab.

Karena tepat pada saat itu pintu kaca utama terbuka.

Aku masuk bersama dua anggota tim keuangan Arunika.

Aku tidak langsung melihat mereka.

Resepsionis menyambutku.

“Selamat siang, Bu Ratih. Tim proyek sudah menunggu di ruang rapat sebelah kanan.”

Aku menyerahkan kartu identitas tamu.

Barulah aku mendengar suara kursi bergeser di area konsultasi.

Aku menoleh.

Adrian berdiri di sana.

Maya duduk di sampingnya.

Bu Mira memegang kartu hitam di tangannya.

Wajah Adrian kehilangan warna.

“Ratih.”

Aku juga berhenti.

Dari semua tempat di Jakarta, melihat mantan suamiku lima hari setelah perceraian di proyek properti yang akan kutinjau jelas bukan sesuatu yang kurencanakan.

Aku melihat maket rumah besar di meja.

Brosur Asteria.

Formulir reservasi.

Kemudian kartu di tangan Bu Mira.

Aku mengerti cukup cepat.

Bu Mira yang pertama berbicara.

“Ratih, kartunya kenapa?”

Tidak ada salam.

Aku memandang beliau.

“Kartu apa, Bu?”

“Ini. Dua-duanya tidak bisa dipakai.”

Adrian langsung menyela.

“Ma.”

Tetapi Bu Mira masih belum memahami masalah sebenarnya.

“Katanya transaksi ditolak. Padahal cuma untuk tanda jadi.”

“Berapa?”

Konsultan penjualan terlihat ingin menghilang dari ruangan.

Bu Mira menjawab, “Satu koma satu lima.”

Aku tidak berkata apa-apa.

Beliau menambahkan, “Miliar.”

Maya kini tidak melihatku.

Dia menatap Adrian.

Aku menarik napas pelan.

“Kartu itu sudah saya tutup lima hari lalu.”

Bu Mira berkedip.

“Kenapa?”

“Karena perceraian kami sudah selesai.”

“Tapi itu kartu Adrian.”

“Bukan.”

Aku tidak meninggikan suara.

“Kartu itu kartu tambahan atas rekening saya. Yang satu dicetak atas nama Adrian, yang satu atas nama Ibu. Rekening utamanya dari awal atas nama saya.”

Bu Mira menatap kartu di tangannya.

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, beliau benar-benar tidak punya kalimat.

Maya bertanya pelan kepada Adrian, “Kamu bilang fasilitas perbankannya milik kalian bersama.”

Adrian menjawab, “Dulu memang digunakan bersama.”

Aku tidak ikut campur.

Maya kembali bertanya, “Digunakan bersama atau dimiliki bersama?”

Pertanyaan itu bukan untukku.

Adrian mengusap rahangnya.

“Maya, kita bicarakan nanti.”

Bu Mira memandangku.

“Jadi selama ini…”

Aku tahu apa yang ingin ditanyakannya.

Aku juga tahu tidak ada cara lembut untuk menjawab tanpa kembali membuat kebohongan lama hidup.

“Tagihan kartu tambahan masuk ke rekening saya.”

“Termasuk kartu Mama?”

“Iya.”

“Yang Bali?”

“Iya.”

“Renovasi dapur?”

“Itu bukan dari kartu yang sama, tapi saya yang membayar sebagian besar.”

Beliau duduk perlahan.

Adrian menatapku dengan campuran malu dan marah.

“Harus sekarang?”

Aku menatapnya.

“Aku tidak datang ke sini untuk membahas hidup kita.”

“Kamu tahu apa yang terjadi dan kamu sengaja menjelaskan semuanya di depan Maya.”

“Aku baru masuk tiga menit lalu, Adrian.”

Dia terdiam.

Aku menunjuk ruang rapat di belakang resepsionis.

“Aku ada pekerjaan.”

Bu Mira masih memegang kartu tersebut.

“Kalau kami cuma perlu tanda jadi hari ini, apa kamu bisa mengaktifkannya sebentar?”

Kalimat itu membuat konsultan penjualan menunduk.

Adrian menutup mata.

“Ma, cukup.”

Aku memandang mantan ibu mertuaku.

“Tidak, Bu.”

Hanya itu.

Aku tidak mengatakan rumah itu terlalu mahal untuk mereka.

Tidak mengatakan Adrian tidak mampu.

Tidak mempermalukannya di depan pegawai proyek.

Tidak meminta siapa pun membatalkan reservasinya.

Mereka bebas membeli rumah apa pun jika punya cara membayarnya.

Tetapi bukan dengan rekeningku.

Aku berbalik dan masuk ke ruang rapat.

Pertemuan berlangsung hampir dua jam.

Beberapa kali pikiranku kembali ke ruangan di luar, tetapi aku memaksa fokus pada laporan arus kas, jadwal pembangunan, dan struktur pembiayaan.

Saat keluar, ruang konsultasi sudah kosong.

Konsultan yang tadi melayani mereka menghampiriku dengan hati-hati.

“Bu, mengenai tadi…”

“Tidak perlu menjelaskan.”

“Reservasinya tidak dilanjutkan.”

Aku mengangguk.

“Itu urusan mereka.”

Malamnya Adrian menelepon.

Aku hampir tidak mengangkatnya.

Namun kupikir ada kemungkinan berkaitan dengan dokumen perceraian yang belum dikirim, jadi akhirnya kujawab.

“Ada apa?”

“Aku cuma ingin tahu satu hal.”

Aku menunggu.

“Kamu sengaja menutup kartunya tanpa bilang?”

“Perceraian kita selesai hari itu.”

“Kamu bisa memberi tahu.”

“Kamu tahu rekening itu atas namaku.”

“Aku pikir setidaknya ada masa transisi.”

“Kita punya masa transisi berbulan-bulan.”

Dia diam.

Aku bisa mendengar suara kendaraan dari tempatnya berada.

Kemudian dia berkata, “Mama malu sekali.”

“Aku tidak bermaksud mempermalukan beliau.”

“Tapi akhirnya memang begitu.”

“Adrian, ibumu mencoba membayar tanda jadi rumah Rp74 miliar memakai rekening mantan menantunya. Kalau beliau baru tahu hari ini bahwa rekening itu bukan milikmu, masalahnya bukan karena aku menutup kartu lima hari lalu.”

Hening cukup lama.

“Aku seharusnya menjelaskan dari dulu,” katanya akhirnya.

“Iya.”

“Aku cuma… awalnya terasa tidak penting.”

Aku duduk di sofa.

“Lalu?”

“Lama-lama semua orang sudah percaya. Mama bangga. Keluarga juga. Rasanya aneh kalau tiba-tiba aku bilang sebagian besar bukan dari aku.”

“Jadi kamu biarkan saja.”

“Iya.”

Itu mungkin pengakuan paling jujur yang pernah kudengar darinya.

Tidak ada rencana besar.

Tidak ada konspirasi.

Hanya kebohongan kecil yang nyaman, diulang bertahun-tahun sampai berubah menjadi identitas yang dia sendiri takut kehilangan.

Aku berkata, “Itu juga yang terjadi pada kita. Aku terus membuat semuanya mudah. Kamu terus membiarkannya.”

Adrian tidak membantah.

Aku hampir menutup telepon ketika dia berkata, “Maya pergi dari tempat itu sendirian.”

Aku tidak menjawab.

“Dia marah.”

“Itu urusan kalian.”

“Dia pikir aku jauh lebih mapan secara pribadi.”

“Kamu harus menjelaskan kepadanya, bukan kepadaku.”

Aku mengakhiri percakapan.

Beberapa hari kemudian Bu Mira datang ke apartemenku.

Beliau menelepon dari lobi terlebih dahulu, dan aku mengizinkannya naik.

Bu Mira membawa kartu hitam yang sudah tidak aktif.

Beliau meletakkannya di meja.

“Mama kira ini milik Adrian.”

Aku duduk di seberangnya.

“Saya tahu.”

“Kenapa dulu kamu tidak pernah bilang?”

Pertanyaan itu membuatku berpikir.

“Karena waktu itu saya juga memilih jalan yang paling mudah.”

Beliau menatap tangannya sendiri.

“Mama banyak bicara soal bagaimana Adrian menjaga keluarga.”

Aku tidak menjawab.

“Berarti sebenarnya kamu yang…”

“Tidak semuanya, Bu. Adrian juga bekerja. Perusahaannya nyata. Dia punya penghasilan. Dia bukan orang yang tidak punya apa-apa.”

Aku tidak ingin mengganti satu cerita palsu dengan cerita palsu lain.

Adrian memang membangun VertaCore.

Dia memang bekerja bertahun-tahun.

Yang salah adalah membiarkan orang menganggap seluruh gaya hidup yang menyertainya berasal dari uangnya sendiri.

Bu Mira mengangguk pelan.

“Mama minta maaf karena pernah bicara seolah kamu cuma ikut menikmati keberhasilan Adrian.”

Aku tidak langsung berkata bahwa semuanya baik-baik saja.

Karena tidak semuanya baik-baik saja.

“Saya menerima permintaan maaf Ibu.”

Beliau menatapku.

“Tapi hubungan kita tidak akan kembali seperti dulu, ya?”

“Tidak.”

Jawabanku tenang.

Beliau mengangguk lagi.

Anehnya, aku menghargai bahwa kali ini beliau tidak mencoba membujuk.

Beberapa bulan kemudian, keadaan jauh lebih biasa daripada ending dramatis yang mungkin dibayangkan orang.

Adrian tidak bangkrut.

VertaCore tidak runtuh.

Perusahaan itu justru berhasil memperoleh pendanaan baru, meskipun dengan valuasi yang lebih rendah daripada yang Adrian harapkan.

Jadwal pengembalian pinjaman kepadaku direstrukturisasi secara resmi berdasarkan kemampuan arus kas perusahaan.

Pembayarannya belum selesai.

Tetapi setiap cicilan sekarang masuk sesuai jadwal tanpa percakapan pribadi di antara kami.

Rumah Rp74 miliar itu tentu tidak pernah dibeli.

Adrian pindah ke apartemen yang masih sangat nyaman, tetapi jauh lebih sesuai dengan penghasilan pribadinya.

Ia menjual SUV lamanya dan mengambil kendaraan yang cicilannya lebih masuk akal.

Aku mendengar Maya masih sempat bersamanya beberapa waktu setelah kejadian di Asteria.

Kemudian mereka berpisah.

Aku tidak pernah bertanya alasannya.

Aku juga tidak membutuhkan jawabannya.

Hubunganku dengan Bu Mira menjadi jarang tetapi lebih jujur.

Sesekali beliau mengirim pesan ketika ada surat atau barang lama milikku yang ditemukan setelah rumah dijual.

Tidak ada lagi permintaan tiket.

Tidak ada lagi reservasi hotel.

Tidak ada lagi kalimat, “Adrian bilang pakai kartu saja.”

Aku pindah ke apartemen milikku sendiri enam bulan setelah perceraian.

Tempatnya tidak sebesar rumah lama kami.

Justru itu yang kusukai.

Tidak ada kamar yang kubayar tetapi jarang dipakai.

Tidak ada garasi yang menyimpan kendaraan untuk membuat orang lain terkesan.

Tidak ada tagihan yang harus kutebak milik siapa.

Suatu malam setelah pulang bekerja, aku membuka aplikasi bank untuk memeriksa transaksi bulanan.

Dulu halaman rekening premium itu menampilkan tiga kartu.

Satu atas namaku.

Satu atas nama Adrian.

Satu atas nama Bu Mira.

Sekarang hanya ada satu.

Namaku sendiri.

Aku melihatnya sebentar, memastikan semua pembayaran bulan itu sesuai, lalu mengunci layar ponsel.

Di meja dekat pintu, kartu fisikku terletak di samping kunci apartemen.

Tidak ada kartu tambahan.

Tidak ada nama lain.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, apa yang terlihat dari luar sama persis dengan kenyataannya.

Menurutmu, apakah Ratih seharusnya menutup kartu tambahan lebih awal ketika ia mulai menyadari Adrian membiarkan keluarganya salah paham?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.