Bagian 3 — Ketika Ibuku Menantang Kami Pergi dari Rumah, Aku Membuka Rekening, Sertifikat, dan Satu Keputusan yang Mengubah Seluruh Keluarga untuk Selamanya
Tidak ada seorang pun menyentuh makanan.
Bahkan suara sendok yang tadi sesekali beradu dengan piring langsung berhenti.
Ibu memandang map biru itu, lalu memandangku.
“Apa maksudmu?”
Aku duduk kembali.
“Duduk dulu, Bu.”
“Apa yang mau dibicarakan?”
“Semua.”
Dinda tertawa pendek.
Entah gugup atau mengejek.
“Mas, serius banget cuma gara-gara gelang?”
Aku menatap tangannya.
“Lepaskan dulu.”
“Mas—”
“Sekarang.”
Nada suaraku membuatnya diam.
Perlahan ia membuka pengait gelang itu.
Maya tidak mengatakan apa-apa.
Saat gelang diletakkan di meja, ia mengambilnya dengan dua tangan.
Aku melihat jari istriku gemetar.
Benda itu tidak mahal dibandingkan banyak perhiasan lain.
Namun aku tahu sejarahnya.
Ayah Maya membeli gelang tersebut ketika masih bekerja sebagai sopir antar-kota.
Beliau menyisihkan uang selama berbulan-bulan untuk memberikannya kepada Maya pada hari kelulusan kuliah.
Dua tahun kemudian beliau meninggal karena sakit.
Maya hampir tidak pernah memakainya karena takut rusak.
Dan orang-orang yang tinggal di rumahnya sendiri mengambil benda itu dari lemari tanpa izin hanya karena merasa berhak.
Aku kembali menatap Dinda.
“Kapan kamu mengambilnya?”
Dinda melirik ibu.
Ibu menjawab lebih dulu.
“Ibu yang ambil.”
“Kenapa?”
“Dinda ada acara kantor. Masa pinjam sebentar enggak boleh?”
“Kenapa enggak minta izin?”
“Karena kalau minta izin, belum tentu dikasih.”
Aku hampir tidak percaya mendengarnya.
“Jadi karena belum tentu dikasih, Ibu merasa lebih baik mengambil diam-diam?”
Ibu mulai meninggikan suara.
“Jangan bicara sama ibu seperti ibu pencuri!”
“Aku tidak menyebut Ibu pencuri.”
“Caramu bicara seperti itu!”
Aku menarik napas.
Di sampingku, Maya menyentuh lenganku.
Mungkin meminta agar aku tidak kehilangan kendali.
Justru sentuhan itu membuatku lebih tenang.
Aku membuka map.
Di dalamnya ada salinan dokumen KPR rumah, mutasi rekening bersama kami selama dua tahun, serta beberapa tangkapan layar transfer Maya kepada ibu.
Aku menggeser satu lembar ke tengah meja.
“Bu, waktu rumah ini dibeli empat tahun lalu, uang muka totalnya Rp310 juta.”
Ibu memandangku tanpa menjawab.
“Tabunganku waktu itu Rp125 juta.”
Aku menunjuk angka berikutnya.
“Rp185 juta sisanya berasal dari tabungan Maya sebelum menikah.”
Wajah Dinda perlahan berubah.
Ibu masih diam.
“KPR memang menggunakan namaku sebagai debitur utama karena perusahaan tempatku bekerja punya kerja sama dengan bank. Tapi cicilannya dibayar dari rekening bersama. Setiap bulan gajiku dan gaji Maya masuk ke rekening yang sama.”
Aku menatap ibu.
“Jadi berhenti bilang Maya numpang di rumahku.”
Ibu mencibir.
“Ibu cuma ngomong begitu sekali dua kali.”
Maya akhirnya berbicara.
“Bukan sekali dua kali, Bu.”
Suasana kembali diam.
Maya memegang gelang peninggalan ayahnya.
“Setiap kali saya menanyakan lauk, Ibu bilang saya datang paling akhir jadi harus tahu diri.”
Ia berhenti sebentar.
“Waktu saya membeli susu sendiri, Ibu bilang jangan memenuhi kulkas dengan barang pribadi karena ini rumah keluarga.”
Dinda menyela.
“Ya kan memang kulkas dipakai bersama.”
Maya mengangguk.
“Benar. Tapi susu yang saya beli sendiri diminum kamu.”
Dinda terdiam.
“Ketika saya menyimpan dua kotak makan untuk bekal kantor, Dinda mengambilnya karena katanya lapar malam-malam.”
Maya menatap adikku.
“Saya tidak pernah marah.”
Kemudian matanya berpindah kepada ibu.
“Tapi besoknya ketika saya mengambil satu potong ayam dari masakan Ibu untuk bekal, Ibu bilang lauk itu untuk keluarga.”
Kalimat terakhir itu membuat dadaku sesak.
Aku menoleh kepada ibu.
“Maya bukan keluarga?”
Ibu cepat menjawab.
“Jangan memelintir ucapan ibu.”
“Aku enggak perlu memelintir apa pun.”
Aku mengambil ponsel.
“Maya mentransfer Rp4,8 juta setiap bulan untuk belanja.”
Ibu mengangkat dagu.
“Itu kan memang uang makan.”
“Betul.”
Aku membuka kalkulator.
“Empat juta delapan ratus ribu dikali empat belas bulan.”
Dinda terlihat tidak nyaman.
“Total Rp67,2 juta.”
Ibu masih mempertahankan wajah keras.
“Memangnya kenapa? Tinggal di rumah juga makan, pakai listrik, pakai air.”
Aku tertawa kecil.
“Rumah siapa?”
Ibu membeku.
Aku melanjutkan.
“Cicilan rumah bukan Ibu yang bayar. Listrik utama dibayar dari rekening bersama kami. Internet juga. Air juga.”
Aku mengeluarkan buku catatan ayah.
“Jadi uang Rp4,8 juta ini sebagian besar seharusnya untuk belanja dapur.”
Ayah menunduk.
Ibu langsung melihat buku itu.
Wajahnya berubah.
“Kamu dapat itu dari mana?”
“Ayah.”
Tatapan ibu berpindah tajam kepada suaminya.
“Pak?”
Ayah tetap menunduk.
“Aku sudah bilang jangan pakai uang belanja buat yang lain, Ratih.”
Ibu mendesis.
“Sekarang Bapak ikut menyerang saya?”
“Aku tidak menyerang.”
Ayah akhirnya mengangkat kepala.
“Aku malu.”
Kalimat itu membuat semua orang diam.
Ayah menatap Maya.
“Maafkan Ayah.”
Maya terlihat terkejut.
Ayah meneruskan dengan suara berat.
“Ayah tahu makanan Maya sering tinggal sedikit.”
Dadaku langsung panas lagi.
“Ayah tahu?”
“Ayah tahu.”
“Sejak kapan?”
“Beberapa bulan.”
Aku menahan rahang.
“Kenapa Ayah diam?”
Ia memandang meja.
“Ayah pikir kalau Ayah bicara terus, rumah malah ribut.”
Aku mengangguk perlahan.
“Dan supaya rumah enggak ribut, Maya yang harus menanggungnya?”
Ayah tidak bisa menjawab.
Beberapa detik kemudian ia berkata pelan.
“Itulah kesalahan Ayah.”
Aku tidak membentaknya lagi.
Setidaknya ia tidak mencari alasan.
Aku membuka buku catatan.
“Bulan Mei. Belanja rumah Rp2,1 juta. Skincare Dinda Rp680 ribu.”
Dinda langsung bersuara.
“Itu aku pinjam!”
“Sudah dibayar?”
Ia diam.
“Bulan Juni. Belanja Rp2,4 juta. Uang muka ponsel Rp1,2 juta.”
Aku memandang adikku.
“Itu juga kamu?”
Dinda tidak menjawab.
“Bulan Juli, sepatu Rp950 ribu.”
Aku berhenti.
“Dan tadi aku dengar kamu mau mengambil satu juta lagi dari transfer Maya.”
Dinda mulai marah.
“Mas, jangan perhitungan begitu sama adik sendiri!”
Aku menatapnya.
“Masalahnya bukan uang satu juta.”
“Terus?”
“Masalahnya kamu menikmati uang orang yang bahkan untuk menggoreng satu telur saja dimarahi.”
Dinda langsung diam.
Wajah Maya berubah.
Sepertinya baru sadar aku mendengar bagian itu juga.
Ibu bangkit.
“Sudah!”
Ia menunjukku.
“Ibu tidak pernah menyuruh istrimu kelaparan!”
“Tidak?”
“Dia bisa masak sendiri!”
“Di rumah yang belanja dapurnya dia bayar?”
Ibu menggerakkan tangan kesal.
“Dia pulang malam! Mau bagaimana? Semua orang harus menunggu dia?”
“Tidak.”
Aku menjawab.
“Tidak ada yang meminta semua orang menunggu.”
Aku menunjuk meja.
“Tapi kalau ada tujuh lauk, apakah terlalu sulit menyimpan satu potong ayam, satu potong ikan, dua udang, dan semangkuk sop untuk orang yang membayar sebagian besar belanjanya?”
Ibu membuka mulut.
Tidak ada suara keluar.
Aku meneruskan.
“Apakah terlalu mahal satu telur?”
Mata ibu bergerak ke arah lain.
“Apakah terlalu berat mencuci piring sendiri setelah makan?”
Ibu berbalik kepada Maya.
“Jadi selama ini kamu mengadu?”
Maya langsung menegakkan badan.
Aku lebih cepat menjawab.
“Dia tidak mengadu.”
Ibu menunjuk Maya.
“Kalau tidak mengadu, bagaimana Raka tahu semua?”
“Aku pulang cepat kemarin.”
Ibu langsung berhenti.
“Aku lihat makanan di meja.”
Wajahnya sedikit memucat.
“Aku lihat tiga piring.”
Tangannya mulai turun.
“Aku sengaja keluar lagi.”
Sekarang Dinda juga menatapku.
“Aku lihat Maya pulang.”
Aku tidak mengalihkan mata dari ibu.
“Aku dengar Ibu menyuruh dia mencuci piring.”
Hening.
“Aku dengar Ibu menyuruh dia menyetrika baju Dinda.”
Dinda menunduk.
“Aku lihat dia mau menggoreng telur.”
Wajah ibu benar-benar berubah.
“Dan aku dengar Ibu bilang minyak mahal.”
Tidak seorang pun bergerak.
“Aku juga dengar pembicaraan soal uang.”
Ibu perlahan duduk kembali.
Aku mengucapkan kalimat berikutnya satu per satu.
“Aku dengar Ibu bilang Maya tidak akan berani bertanya.”
Aku berhenti.
“Aku dengar Ibu bilang Maya cuma istri.”
Maya menunduk.
“Aku dengar Ibu bilang dia harus tahu diri kalau mau dianggap keluarga.”
Ayah menutup wajah.
Dinda menggigit bibir.
Ibu tidak lagi menatapku.
Untuk pertama kalinya sejak pembicaraan itu dimulai, suaranya mengecil.
“Ibu cuma kesal waktu itu.”
“Kesal karena apa?”
“Karena…”
Ia tidak meneruskan.
Aku menunggu.
Akhirnya ibu berkata.
“Sejak kamu menikah, semuanya berubah.”
Aku mengernyit.
“Apa yang berubah?”
“Kamu lebih banyak memikirkan istrimu.”
Aku hampir tidak percaya.
“Dia istriku, Bu.”
“Ibu tahu.”
“Lalu?”
“Ibu membesarkanmu tiga puluh tahun.”
“Dan aku berterima kasih.”
Aku mencondongkan tubuh.
“Tapi membesarkanku bukan investasi yang membuat Ibu berhak menyakiti perempuan yang menikah denganku.”
Ibu berkaca-kaca.
Biasanya ketika ibu mulai menangis, aku selalu menjadi orang pertama yang melunak.
Mungkin itulah sebabnya banyak hal sampai separah ini.
Namun malam itu aku tetap duduk.
Aku tidak mendekatinya.
Aku tidak meminta maaf karena mengatakan kebenaran.
Ibu mengusap mata.
“Kamu sekarang berani sekali kepada ibu.”
Aku menjawab tenang.
“Aku seharusnya berani dari dulu.”
Dinda mendengus.
“Jadi sekarang Mbak Maya menang?”
Maya langsung menatapnya.
Aku bahkan lebih terkejut.
“Menang dari siapa?”
Dinda diam.
Aku bertanya lagi.
“Dari Ibu? Dari kamu?”
Ia mengangkat bahu.
“Ya kelihatan saja sekarang Mas bela dia habis-habisan.”
Aku menghela napas panjang.
“Din, pernikahan bukan pertandingan antara istri dan keluarga suami.”
Tidak ada jawaban.
“Kalau selama ini kamu melihat Maya sebagai lawan yang harus dikalahkan, berarti masalahnya lebih parah dari yang kupikir.”
Ponsel Dinda tiba-tiba berdering.
Nama “Arief” muncul di layar.
Ia menolaknya.
Beberapa detik kemudian bel rumah berbunyi.
Dinda terkejut.
“Kayaknya Arief.”
Arief adalah pacarnya.
Mereka berencana bertunangan dua bulan lagi.
Dinda berdiri cepat.
“Aku suruh pulang saja.”
Namun aku berkata, “Biarkan masuk.”
Ibu menatapku.
“Raka, ini urusan keluarga.”
“Justru.”
Aku menatap Dinda.
“Kalau dia mau menjadi keluarga, lebih baik dia tahu bagaimana calon istrinya memperlakukan orang di rumah.”
“Mas!”
Dinda langsung memerah.
Ia berlari ke depan.
Tetapi sudah terlambat.
Arief berdiri di ambang ruang makan membawa map cokelat.
Ia tersenyum canggung.
“Maaf, saya cuma mau antar berkas yang tadi Dinda tinggal.”
Tatapannya jatuh pada wajah semua orang.
“Ada masalah?”
Dinda cepat mendekatinya.
“Enggak. Kita keluar saja.”
Sebelum mereka pergi, aku berkata.
“Arief.”
Ia berhenti.
“Besok atau lusa, tanyakan sendiri kepada Dinda kenapa gelang yang dipakainya tadi ternyata diambil dari lemari Maya tanpa izin.”
Dinda berbalik marah.
“Mas Raka!”
Arief melihat pergelangan tangan Dinda.
Lalu melihat gelang yang sekarang berada di tangan Maya.
Ia tidak bodoh.
“Apa?”
Dinda langsung menjawab.
“Cuma pinjam!”
Arief tidak mengatakan apa-apa selama beberapa detik.
Kemudian ia memandang Maya.
“Mbak, benar?”
Maya terlihat tidak nyaman.
Aku tidak memaksanya menjawab.
Namun Dinda justru berkata cepat.
“Ibu yang ambil, bukan aku.”
Arief mengerutkan kening.
“Tapi kamu tahu itu punya Mbak Maya?”
Dinda diam.
“Dinda?”
“Ya tahu.”
“Kamu tahu pemiliknya tidak mengizinkan?”
“Cuma gelang!”
Arief menarik napas.
“Aku pulang dulu.”
Dinda panik.
“Lho, kita kan mau pergi?”
“Enggak.”
“Arief—”
“Aku perlu pikir.”
Lalu ia benar-benar pergi.
Dinda berbalik kepadaku dengan mata merah.
“Puas sekarang?”
Aku menggeleng.
“Aku tidak menghubungi Arief. Dia datang sendiri.”
“Kamu sengaja ngomong!”
“Karena kamu tidak merasa mengambil barang orang tanpa izin adalah masalah.”
Dinda menangis.
Ibu langsung merangkulnya.
“Nah, lihat! Adikmu sampai begini!”
Aku berdiri.
“Bu, berhenti.”
Ibu menatapku.
“Berhenti menjadikan orang yang melakukan kesalahan sebagai korban setiap kali ada konsekuensi.”
Ia terdiam.
Kemudian ia berdiri juga.
“Baik.”
Nada suaranya berubah dingin.
“Kalau kalian merasa ibu dan adikmu cuma beban, kami pergi.”
Aku mengangguk.
“Iya.”
Ibu sepertinya tidak menduga jawabanku.
“Apa?”
“Kalian pindah.”
Maya langsung menoleh kepadaku.
“Rak…”
Aku menggenggam tangannya.
Keputusan itu sebenarnya baru benar-benar terbentuk beberapa jam sebelumnya.
Namun semakin lama pembicaraan berlangsung, semakin aku yakin.
Aku menatap ayah.
“Ayah juga boleh ikut pindah bersama Ibu. Atau kalau butuh waktu karena kondisi lutut, kita atur. Tapi pola tinggal bersama seperti sekarang selesai.”
Ibu membelalak.
“Kamu mengusir orang tuamu?”
“Aku menghentikan situasi yang merusak rumah tanggaku.”
“Sama saja!”
“Tidak.”
Aku menggeleng.
“Aku masih anak Ibu. Aku masih akan membantu kebutuhan medis Ayah dan Ibu sesuai kemampuanku.”
Aku melirik buku catatan.
“Tapi tidak ada lagi transfer uang rumah ke rekening Ibu.”
Wajah ibu berubah.
“Mulai bulan depan, kalau obat Ayah perlu dibayar, aku bayar langsung ke apotek atau rumah sakit. Kalau BPJS perlu dibayar, aku bayar langsung. Kebutuhan pokok juga bisa kita atur.”
“Jadi ibu harus minta-minta?”
“Bukan.”
Aku menjawab.
“Tapi uang Maya tidak akan lagi dipakai membeli sepatu, skincare, ponsel, atau apa pun untuk Dinda.”
Dinda langsung menatapku.
“Aku punya gaji sendiri!”
“Bagus.”
Aku mengangguk.
“Berarti mulai sekarang kamu bisa membayar kebutuhanmu sendiri.”
Aku meminta mereka pindah dalam waktu tiga minggu.
Bukan malam itu.
Bukan pula ke jalan.
Ayah masih memiliki rumah kecil di Karawang yang selama ini dikontrakkan kepada orang lain. Masa sewanya kebetulan akan selesai satu bulan lagi.
Sambil menunggu, aku menawarkan biaya kontrakan sementara.
Ayah menolak.
“Ayah punya tabungan.”
Ibu tidak berkata apa-apa.
Malam itu berakhir tanpa teriakan lagi.
Ketika kami masuk kamar, Maya duduk di tepi ranjang sambil memegang gelangnya.
Aku duduk di lantai tepat di depannya.
Untuk beberapa saat kami tidak berbicara.
Kemudian aku berkata.
“Marah sama aku saja.”
Maya tersenyum tipis.
“Buat apa?”
“Karena aku pantas.”
Ia memandangku cukup lama.
“Aku memang pernah marah.”
“Kenapa enggak bilang?”
“Aku takut.”
Kalimat itu menyakitiku lebih daripada semua ucapan ibu malam itu.
“Takut sama aku?”
“Bukan takut kamu pukul atau marah.”
Ia menggeleng.
“Aku takut kamu menganggap aku membuatmu memilih.”
Matanya mulai merah.
“Setiap kali ada masalah dengan ibu, aku selalu berpikir satu hal. Kalau aku bicara, Raka pasti terjepit.”
Aku memegang kedua tangannya.
“Dan akhirnya kamu yang terjepit.”
Maya mengangguk.
“Awalnya cuma masalah kecil.”
Ia mulai bercerita.
Hari pertama ibu memindahkan semua bumbu dapur milik Maya karena katanya penataannya berantakan.
Minggu berikutnya ibu mengganti jadwal mencuci.
Kemudian mulai menentukan makanan apa yang boleh disimpan di kulkas.
Setelah itu Maya diminta menyerahkan uang belanja karena ibu merasa lebih pandai mengatur rumah.
Maya menurut.
Lalu porsi makannya mulai selalu menjadi yang terakhir.
Kalau ada makanan mahal, hampir tidak pernah tersisa.
Kalau Maya membeli makanan sendiri, ibu menyindirnya tidak mau berbagi.
Kalau ia membeli untuk semua orang, Dinda bisa menghabiskan bagiannya dan tidak seorang pun merasa perlu meminta maaf.
Pelan-pelan, batas itu terus bergeser.
Sampai akhirnya Maya merasa seperti tamu yang membayar biaya tinggal di rumahnya sendiri.
Aku menutup wajah dengan kedua tangan.
“Kenapa aku enggak pernah lihat?”
Maya menjawab sesuatu yang tidak pernah kulupakan.
“Karena mereka selalu baik waktu kamu ada.”
Aku mengangkat kepala.
Ia tersenyum pahit.
“Itu sebabnya aku sempat berpikir mungkin aku yang terlalu sensitif.”
Aku langsung berkata.
“Tidak.”
“Sekarang aku tahu.”
Aku menarik napas.
“Tapi mulai hari ini ada satu aturan.”
“Apa?”
“Kalau ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman di rumah kita, bilang.”
Maya tertawa kecil.
“Kedengarannya gampang.”
“Memang tidak gampang.”
Aku mengangguk.
“Tapi aku juga akan belajar mendengar tanpa langsung menyuruhmu mengalah.”
Aku tidak meminta Maya langsung memaafkanku.
Permintaan maaf tanpa perubahan cuma menjadi kalimat.
Jadi aku mulai dari tindakan.
Keesokan paginya aku menghubungi tukang kunci.
Ibu bertanya untuk apa.
Aku menjawab bahwa setelah mereka pindah, kunci pagar dan pintu utama akan diganti.
Ibu tersinggung.
Namun aku tidak mengubah keputusan.
Aku juga memisahkan urusan keuangan.
Tidak ada lagi rekening rumah yang bisa diakses siapa pun selain aku dan Maya.
Untuk kebutuhan orang tuaku, aku membuat anggaran tersendiri.
Dinda tidak termasuk.
Ia sudah bekerja.
Ia tidak memiliki alasan mengambil uang kakak iparnya.
Tiga hari kemudian Arief datang lagi.
Kali ini ia meminta bicara dengan Dinda di teras.
Aku tidak ikut campur.
Namun setelah hampir satu jam, Dinda masuk dengan mata bengkak.
Ia mengunci diri di kamar.
Malamnya ibu datang kepadaku.
“Arief menunda pertunangan.”
Aku mengangguk.
Aku sudah menduga.
“Senang?”
“Enggak.”
Ibu terkejut.
“Aku tidak ingin hidup Dinda hancur.”
“Terus kenapa kamu membuka aibnya?”
“Karena menutup kesalahan bukan cara menyelamatkan seseorang.”
Ibu tidak menjawab.
Arief sebenarnya tidak langsung memutuskan hubungan.
Ia hanya berkata kepada Dinda bahwa sebelum menikah, ia perlu melihat apakah Dinda bisa bertanggung jawab atas tindakannya sendiri.
Untuk pertama kalinya, adikku tidak bisa berlindung di belakang ibu.
Dinda mulai membayar kembali uang yang pernah dipakai untuk kebutuhan pribadinya.
Tidak sekaligus.
Gajinya tidak cukup.
Kami menghitung pengeluaran yang jelas bisa dibuktikan.
Totalnya Rp11,7 juta.
Aku tidak meminta bunga.
Tidak mempermalukannya di depan keluarga besar.
Ia mencicil Rp750 ribu setiap bulan kepada Maya.
Maya bahkan sempat berkata tidak perlu.
Aku menolak.
“Bukan karena kita butuh uangnya.”
Aku menatap Dinda.
“Karena kamu perlu belajar mengembalikan apa yang bukan milikmu.”
Ia tidak membantah.
Dua minggu kemudian, barang-barang ibu mulai masuk kardus.
Rumah terasa aneh.
Lebih sunyi.
Ayah paling banyak diam.
Suatu sore ia menghampiri Maya di dapur.
Aku kebetulan mendengar dari ruang makan.
“Maya.”
“Iya, Yah?”
“Ayah boleh ngomong?”
“Tentu.”
Ayah menarik kursi.
“Ayah paling malu bukan karena Ratih melakukan itu.”
Maya menunggu.
“Ayah malu karena Ayah melihat dan diam.”
Ia menghela napas panjang.
“Dulu Ayah pikir, yang penting jangan ada pertengkaran. Sekarang Ayah baru paham, diam juga bisa memihak.”
Maya tidak langsung menjawab.
Kemudian ia mengangguk.
“Saya masih kecewa, Yah.”
“Ayah tahu.”
“Tapi saya menghargai Ayah mengakuinya.”
Ayah tersenyum kecil.
“Terima kasih.”
Tidak ada pelukan dramatis.
Tidak ada air mata berlebihan.
Namun justru percakapan singkat itu terasa lebih jujur.
Hari kepindahan akhirnya tiba.
Sebuah mobil bak terbuka datang pagi-pagi.
Kardus dinaikkan satu per satu.
Dinda sudah lebih tenang.
Sebelum pergi, ia mendatangi Maya.
Tangannya menggenggam sesuatu.
Sebuah kotak kecil.
“Ini.”
Maya membukanya.
Di dalamnya terdapat kotak perhiasan baru.
“Aku beli supaya gelang Mbak disimpan di sini.”
Maya menatapnya.
Dinda menunduk.
“Maaf.”
Hanya satu kata.
Namun itu pertama kalinya ia mengatakannya.
Maya tidak langsung tersenyum.
Ia hanya menjawab.
“Terima kasih sudah mengembalikannya.”
Dinda mengangguk.
Mereka belum berdamai sepenuhnya.
Dan menurutku, tidak perlu pura-pura.
Kepercayaan tidak kembali hanya karena satu permintaan maaf.
Ibu adalah orang terakhir yang keluar.
Ia berdiri di ruang tamu, memandang sekeliling rumah.
Mungkin baru saat itu ia benar-benar menyadari bahwa tempat ini bukan wilayah yang otomatis menjadi miliknya hanya karena anak laki-lakinya tinggal di sana.
Ia menatapku.
“Kamu benar-benar tidak minta ibu tinggal?”
Aku menahan napas.
“Tidak.”
Matanya memerah.
“Apa kamu tidak sayang ibu?”
Aku mendekat.
“Sayang.”
“Kalau sayang—”
“Tapi sayang bukan berarti semua tindakan Ibu harus aku biarkan.”
Ibu terdiam.
Aku meneruskan.
“Kalau aku membiarkan Ibu terus menyakiti Maya, aku bukan anak yang baik. Aku cuma anak yang takut membuat ibunya kecewa.”
Air mata ibu jatuh.
“Dan kalau aku membiarkan rumah tanggaku rusak supaya Ibu senang, aku juga bukan suami yang baik.”
Ibu melihat Maya.
Untuk sesaat aku berharap ia akan meminta maaf.
Namun ia belum mampu.
Ia hanya mengambil tas.
“Ayo, Pak.”
Ayah mengangguk.
Mereka pergi.
Pintu tertutup.
Rumah mendadak sangat sunyi.
Aku berdiri cukup lama di ruang tamu.
Maya keluar dari dapur.
“Kok bengong?”
Aku menatapnya.
“Rumahnya sepi.”
“Menyesal?”
Aku memikirkan pertanyaan itu.
Kemudian menggeleng.
“Sedih, iya.”
Aku memeluknya.
“Menyesal, enggak.”
Malam itu kami tidak memasak banyak.
Kami cuma memesan nasi goreng dan sate ayam.
Dua piring.
Dua gelas.
Dua orang duduk di meja yang sama.
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Maya makan tanpa harus menunggu orang lain selesai.
Tidak ada yang menghitung berapa potong sate yang ia ambil.
Tidak ada yang mengomentari penggunaan sambal.
Tidak ada piring kotor orang lain menunggunya.
Setelah makan, aku membuka kotak martabak yang kubeli beberapa hari sebelumnya.
Tentu saja sudah tidak layak dimakan.
Maya tertawa.
“Kamu serius menyimpan ini?”
“Aku lupa.”
“Buang.”
Aku tertawa juga.
Besoknya aku membelikan yang baru.
Kali ini kami makan selagi hangat.
Namun kisah kami dengan ibu tidak selesai pada hari kepindahan itu.
Tiga bulan pertama, ibu hampir tidak pernah menghubungiku.
Jika aku menelepon, ia menjawab seperlunya.
Aku tetap mengirim biaya obat ayah langsung ke apotek.
Aku tetap datang sebulan sekali.
Maya tidak selalu ikut.
Dan aku tidak pernah memaksanya.
Dinda terus mencicil uang.
Hubungannya dengan Arief perlahan membaik.
Arief memberinya satu syarat sebelum membicarakan pertunangan lagi.
Ia harus belajar mengatur keuangannya sendiri selama enam bulan.
Tidak boleh meminta ibu membayar belanja pribadi.
Tidak boleh meminjam tanpa kepastian mengembalikan.
Dinda ternyata mampu.
Mungkin selama ini ia bukan tidak mampu.
Ia hanya terlalu terbiasa diselamatkan.
Bulan kelima, Dinda mendapatkan kenaikan gaji.
Ia langsung menaikkan cicilannya kepada Maya.
Aku tidak menyuruh.
Itu inisiatifnya sendiri.
Suatu malam ia mengirim pesan kepada Maya.
“Mbak, maaf dulu aku bilang Mbak terlalu sungkan. Sebenarnya aku yang terlalu enak.”
Maya menunjukkan pesan itu kepadaku.
“Balas apa?”
“Terserah kamu.”
Maya mengetik.
“Semoga kita sama-sama belajar.”
Hanya itu.
Aku tersenyum.
Itu sudah cukup.
Perubahan paling lambat justru terjadi pada ibu.
Hampir delapan bulan setelah kepindahan mereka, menjelang Idulfitri, ibu menelepon Maya.
Bukan aku.
Maya sedang di ruang keluarga ketika ponselnya berbunyi.
Ia menatap layar cukup lama.
“Siapa?”
“Ibumu.”
Aku langsung diam.
Maya menjawab.
“Halo, Bu.”
Aku tidak bisa mendengar suara ibu dengan jelas.
Maya hanya menjawab pendek-pendek.
“Iya.”
“Tidak, Bu.”
“Bisa.”
Kemudian ia melihatku.
“Besok Ibu mau datang.”
Aku bertanya.
“Kamu nyaman?”
Maya berpikir.
“Kalau cuma datang, iya.”
“Kalau kamu berubah pikiran, bilang.”
Ia mengangguk.
Besok siang ibu datang bersama ayah.
Untuk pertama kalinya sejak dulu, ibu berdiri di depan pagar dan menekan bel.
Ia tidak lagi memiliki kunci.
Aku membukakan pintu.
Di tangannya ada rantang bertingkat.
“Bawa makanan.”
Aku mempersilakan masuk.
Ibu duduk.
Maya membuat teh.
Suasananya canggung.
Sangat canggung.
Sampai akhirnya ibu membuka rantang.
Ada semur daging.
Perkedel.
Capcai.
Dan satu wadah kecil sop iga.
Ibu melihat Maya.
“Yang sop khusus buat kamu.”
Maya terdiam.
Ibu buru-buru menambahkan.
“Kalau enggak suka ya enggak usah dimakan.”
Maya menatap isi rantang.
“Saya suka.”
Ibu mengangguk kecil.
Lalu, tanpa melihat langsung kepada Maya, ia berkata.
“Dulu Ibu salah.”
Tidak ada yang menyela.
“Ibu merasa setelah Raka menikah, posisi Ibu tergeser.”
Ia tersenyum pahit.
“Padahal memang harus bergeser.”
Aku menatapnya.
Ibu melanjutkan.
“Anak laki-laki yang sudah menikah memang harus membangun rumah tangganya sendiri.”
Maya masih diam.
“Ibu marah pada keadaan, tapi yang kena kamu.”
Ibu akhirnya menatap Maya.
“Maaf.”
Tidak ada musik.
Tidak ada pelukan.
Maya bahkan tidak langsung menjawab.
Ia membutuhkan hampir sepuluh detik.
“Saya terima permintaan maaf Ibu.”
Mata ibu berkaca-kaca.
“Tapi saya belum bisa kembali seperti dulu.”
Ibu mengangguk.
“Tidak apa-apa.”
Dan mungkin untuk pertama kalinya, ibu benar-benar memahami batas.
Menerima permintaan maaf bukan berarti menghapus semuanya.
Memaafkan bukan berarti memberikan kembali akses yang sama.
Sejak hari itu hubungan mereka membaik perlahan.
Ibu datang hanya setelah memberi kabar.
Tidak pernah lagi membuka lemari Maya.
Tidak pernah meminta uang kepadanya.
Kalau membawa makanan, ia selalu memastikan ada bagian untuk semua orang.
Dinda akhirnya melunasi seluruh Rp11,7 juta.
Setelah cicilan terakhir, Maya mentransfer kembali Rp1 juta.
Dinda langsung menelepon.
“Mbak, kenapa dikembalikan?”
Maya tertawa.
“Hadiah karena akhirnya lunas.”
“Enggak mau.”
“Ambil.”
“Enggak.”
Akhirnya uang itu mereka gunakan untuk makan bersama.
Aku, Maya, Dinda, dan Arief.
Beberapa bulan kemudian Dinda dan Arief benar-benar bertunangan.
Kali ini tanpa uang dari ibu.
Tanpa uang dariku.
Dinda menabung sendiri.
Ia bahkan sengaja memilih acara kecil.
“Aku baru sadar,” katanya kepadaku, “selama ini aku suka hal mahal karena enggak pernah benar-benar merasakan susahnya bayar.”
Aku hanya tertawa.
“Bagus kalau sadar sebelum nikah.”
Ia mencubit lenganku.
Setahun setelah sore ketika aku pulang lebih cepat itu, aku kembali mengalami kejadian hampir sama.
Pukul lima lewat sedikit, rapat proyek selesai lebih cepat.
Aku tidak memberi tahu Maya.
Aku mampir ke kedai yang sama.
“Martabak cokelat keju satu.”
Penjualnya masih mengenaliku.
“Buat istri, Mas?”
Aku tersenyum.
“Iya.”
Ketika membuka pintu rumah, aroma tumisan keluar dari dapur.
Maya ternyata sudah pulang.
Ia sedang memasak nasi goreng sambil mendengarkan lagu dari ponsel.
Di meja ada dua piring.
Dua gelas.
Dua sendok.
Aku berdiri cukup lama melihatnya.
Maya menoleh.
“Kok sudah pulang?”
Aku tertawa.
Entah kenapa kalimat sederhana itu membuat dadaku terasa hangat.
Aku mengangkat kotak martabak.
“Bawa sesuatu.”
Maya langsung mematikan kompor.
“Cokelat keju?”
“Keju banyak.”
Ia tersenyum.
Kemudian melihat wajahku.
“Kok malah bengong?”
Aku mendekatinya dan memeluknya dari belakang.
“May.”
“Hm?”
“Terima kasih karena waktu itu kamu masih bertahan.”
Ia diam sebentar.
Kemudian melepaskan tanganku dan berbalik.
“Jangan berterima kasih untuk itu.”
Aku mengernyit.
Maya menatapku.
“Kalau dulu aku pergi, aku juga tidak salah.”
Aku mengangguk perlahan.
Ia benar.
“Yang perlu kamu ingat bukan aku bertahan atau enggak.”
“Terus?”
Maya tersenyum.
“Aku enggak butuh kamu selalu membelaku.”
Ia menyentuh dadaku.
“Aku cuma butuh kamu melihat.”
Kalimat itu sederhana.
Namun sejak hari itu, aku tidak pernah melupakannya.
Karena banyak ketidakadilan di dalam keluarga tidak selalu terjadi dengan teriakan.
Kadang bentuknya hanya satu kursi yang tidak pernah disiapkan.
Satu piring yang selalu mendapat sisa.
Satu telur yang dianggap terlalu mahal.
Satu perempuan yang terus diminta mengalah karena semua orang yakin dia tidak akan melawan.
Dan kadang, kehancuran sebuah rumah tangga tidak dimulai ketika seseorang berbuat jahat.
Ia dimulai ketika orang yang seharusnya melihat memilih terlalu lama untuk tidak melihat.
Aku hampir menjadi orang itu.
Untungnya, pada suatu sore, rapatku dibatalkan.
Aku pulang tiga jam lebih cepat.
Dan akhirnya melihat rumahku sendiri dengan mata terbuka.

