Bagian 3 — Saat ayah menagih biaya pesta Lebaran, aku menunjukkan bukti terakhir dan kakakku akhirnya membayar harga dari keserakahannya sendiri di depan keluarga

Avatar penulis
Cerita 02
14 menit baca 454 tayangan
Bagian 3 — Saat ayah menagih biaya pesta Lebaran, aku menunjukkan bukti terakhir dan kakakku akhirnya membayar harga dari keserakahannya sendiri di depan keluarga
Indeks

Bagian 3 — Saat ayah menagih biaya pesta Lebaran, aku menunjukkan bukti terakhir dan kakakku akhirnya membayar harga dari keserakahannya sendiri di depan keluarga

Aku tidak langsung pulang.

Selama bertahun-tahun, setiap kali keluarga membuat masalah, aku selalu menjadi orang pertama yang datang membereskan.

Ketika Raka kekurangan uang sekolah anaknya, aku mentransfer.

Ketika ayah perlu memperbaiki rumah, aku membayar.

Ketika tagihan listrik menunggak, mereka meneleponku.

Aku terbiasa mengira membantu keluarga adalah kewajiban.

Yang tidak kusadari, mereka perlahan mengubah kewajiban itu menjadi hak mereka atas hidupku.

Jadi ketika sepupuku mengirim foto gudang tersebut, aku hanya menjawab satu kalimat.

“Semoga Raka bisa menyelesaikannya.”

Dua hari kemudian ayah menelepon.

Aku sedang berada di tram menuju kantor.

“Nadira, kamu dengar soal bisnis kakakmu?”

“Sedikit.”

“Dia sedang kesulitan.”

“Aku ikut prihatin.”

Ayah terdiam.

Aku tahu dia menungguku bertanya berapa banyak uang yang dibutuhkan.

Aku tidak bertanya.

Akhirnya dia sendiri yang mengatakan.

“Kalau kamu punya dana sekitar delapan ratus juta, pinjamkan dulu.”

Aku sampai menurunkan ponsel untuk memastikan aku tidak salah dengar.

“Delapan ratus juta?”

“Cuma sementara.”

“Aku tidak punya.”

“Kamu baru jual apartemen.”

Aku tertawa kecil.

Jadi mereka masih menghitung uangku.

“Apartemen itu milikku. Uangnya sudah kupakai.”

“Dipakai apa?”

“Itu bukan urusan Ayah.”

Nada suara ayah berubah.

“Kamu sekarang kurang ajar sekali sejak tinggal di luar negeri.”

Aku menatap gedung-gedung yang lewat di balik jendela.

“Dulu ketika Ayah bilang aku akan menjadi orang luar setelah menikah, aku bahkan belum menikah. Sekarang aku benar-benar tinggal ribuan kilometer dari rumah, kenapa uangku masih dianggap uang keluarga?”

Ayah langsung menutup telepon.

Sejak itu kami tidak berbicara hampir tiga bulan.

Sementara itu proses keberatanku terus berjalan.

Aku mendapat satu kabar yang mengubah semuanya.

Pemeriksaan dokumen memastikan tanda tanganku dalam surat persetujuan memang bukan tanda tangan yang kubuat.

Namun aku mengambil keputusan yang membuat pengacaraku sendiri sempat terkejut.

Aku tidak ingin Raka masuk penjara.

Aku juga tidak ingin menghabiskan bertahun-tahun hidupku untuk menghancurkan kakakku.

Yang kuinginkan sederhana.

Namaku dibersihkan.

Hakku atas bagian peninggalan ibu diselesaikan.

Dan keluarga tidak boleh menggunakan namaku lagi.

Dalam mediasi, akhirnya dibuat kesepakatan.

Nilai bagian yang terkait dengan hak waris ibu dan hakku dihitung berdasarkan dokumen resmi, sementara masalah penggunaan tanda tangan diselesaikan dengan pengakuan tertulis, koreksi administrasi, serta pembayaran hak yang seharusnya menjadi bagianku.

Jumlah yang akhirnya menjadi hakku bukan setengah dari Rp11,8 miliar.

Jauh lebih kecil.

Tetapi tetap cukup besar untuk mengubah hidupku.

Sekitar Rp1,74 miliar setelah seluruh perhitungan dan penyelesaian.

Ayah marah ketika mengetahui hasilnya.

Raka lebih marah lagi.

Karena uang yang seharusnya tersedia sudah banyak digunakan, sebagian kewajiban penyelesaian harus diambil dari dana pembebasan yang masih tertahan dan sebagian lagi menjadi utang Raka kepadaku berdasarkan perjanjian mediasi.

Aku menerima uang yang memang menjadi hakku.

Tidak satu rupiah lebih.

Lalu aku menutup semua percakapan mengenai warisan.

Kupikir cerita itu selesai.

Ternyata keserakahan jarang berhenti ketika mendapatkan uang.

Biasanya ia justru menjadi lebih lapar.

Raka menggunakan uang dari ayah untuk membeli dua gudang dan masuk ke bisnis distribusi bahan bangunan.

Awalnya bagus.

Setidaknya itulah yang selalu dipamerkannya di Facebook.

Foto makan di restoran mahal.

Foto mobil.

Foto liburan.

Foto jam tangan.

Foto vila.

Caption tentang “hasil kerja keras”.

Aku hampir tertawa ketika melihatnya.

Karena aku tahu modal “kerja keras” itu berasal dari uang pembebasan rumah keluarga.

Masalah muncul enam bulan kemudian.

Raka ingin berkembang lebih cepat.

Dia mengambil kredit besar untuk membeli armada truk.

Gudang dijaminkan.

Vila dijaminkan.

Bahkan sebagian deposito ayah ikut dijadikan jaminan tambahan.

Lalu salah satu pelanggan terbesarnya berhenti membayar.

Arus kas macet.

Cicilan terus berjalan.

Untuk menutup lubang pertama, Raka mengambil pinjaman lain.

Untuk menutup pinjaman kedua, dia menjual mobil.

Untuk menjaga citranya, dia tetap mengadakan acara keluarga dan mentraktir kerabat.

Begitulah sampai akhirnya semuanya runtuh.

Aku mengetahui detailnya bukan dari ayah.

Melainkan dari Melinda.

Suatu malam dia mengirim pesan kepadaku.

Mbak, aku tahu kita tidak dekat. Tapi aku tidak tahu harus bicara kepada siapa lagi.

Kami melakukan panggilan video.

Wajahnya terlihat jauh lebih kurus.

“Aku baru tahu beberapa dokumen pinjaman ditandatangani tanpa aku benar-benar paham risikonya.”

Aku diam mendengarkan.

“Aku tidak minta Mbak Nadira melunasi utang kami.”

Setidaknya dia masih punya harga diri untuk mengatakan itu.

“Aku cuma mau Mbak tahu situasinya. Bapak terus bilang nanti Mbak Nadira pasti bantu kalau sudah benar-benar darurat.”

Aku tersenyum pahit.

“Raka juga bilang begitu?”

Melinda menunduk.

“Iya.”

Ternyata dalam kepala mereka, aku bukan saudara.

Aku adalah dana darurat.

Aku mengucapkan terima kasih kepada Melinda karena sudah jujur.

Sebelum telepon ditutup, aku bertanya soal dua keponakanku.

“Mereka bagaimana?”

“Baik. Cuma mulai sadar ada masalah.”

Aku berpikir beberapa detik.

“Kalau nanti ada masalah uang sekolah, kirim tagihan sekolahnya langsung kepadaku.”

Melinda menatapku.

“Tapi jangan kirim uang kepada kami?”

“Benar.”

Aku tidak akan membuat anak-anak menanggung kesalahan orang tuanya.

Tapi aku juga tidak akan memberikan uang tunai yang bisa kembali masuk ke lubang bisnis Raka.

Menjelang Lebaran, ayah mulai menghubungiku lagi.

Awalnya pesan singkat.

Pulang tahun ini?

Tidak kujawab.

Lalu foto rumah lama sebelum dibongkar.

Ayah menemukan foto ibumu.

Aku membaca pesan itu berkali-kali.

Entah kenapa, nama ibu masih punya kekuatan untuk membuat pertahananku goyah.

Dua hari kemudian ayah menelepon.

“Kamu sudah hampir dua tahun tidak Lebaran di rumah.”

“Satu setengah tahun.”

“Pulanglah.”

Aku diam.

“Ayah sudah tua.”

Kalimat itu hampir berhasil.

Hampir.

Kemudian ayah menambahkan, “Keluarga besar juga mau kumpul. Kita sewa ballroom hotel.”

Aku mengerutkan kening.

“Ballroom?”

“Iya. Sekalian syukuran.”

“Syukuran apa?”

Ayah berhenti sebentar.

“Ya… supaya orang tidak tahu masalah Raka.”

Aku benar-benar kehilangan kata-kata.

Bisnis hampir bangkrut.

Gudang terancam dilelang.

Tetapi mereka menyewa ballroom agar keluarga tidak tahu.

“Kenapa tidak makan sederhana di rumah saja?”

“Sudah telanjur pesan.”

Aku langsung tahu ke mana arah percakapan ini.

“Siapa yang bayar?”

Ayah tidak menjawab.

“Yah?”

“Uang muka sudah dibayar.”

“Lalu sisanya?”

“Kita bicarakan nanti.”

Aku menghela napas.

“Aku tidak ikut.”

“Nadira.”

“Aku sudah punya rencana.”

“Lebaran cuma setahun sekali.”

“Aku tahu.”

Ayah menggunakan kartu terakhir.

“Kalau ibumu masih hidup, dia pasti ingin anak-anaknya berkumpul.”

Aku menutup mata.

Aku benci ketika orang menggunakan seseorang yang sudah meninggal untuk memaksa orang yang masih hidup.

Namun akhirnya aku tetap pulang ke Indonesia.

Bukan karena ballroom.

Bukan karena Raka.

Aku pulang karena ingin mengunjungi makam ibu.

Dan karena ada satu dokumen terakhir yang harus kutandatangani bersama notaris terkait penyelesaian aset peninggalannya.

Aku sengaja tidak memberi tahu keluarga tanggal kedatanganku.

Malam takbiran, setelah dari makam ibu, aku berniat kembali ke hotel tempatku menginap.

Tetapi Pakde Bambang mengetahui aku berada di Jakarta.

Entah dari siapa.

Teleponku berdering.

“Nadira, kamu di sini?”

“Iya, Pakde.”

“Datanglah sebentar. Ayahmu sejak sore bilang kamu akan datang.”

Aku terdiam.

Ayah ternyata sudah mengatakan kepada seluruh keluarga bahwa aku akan menghadiri acara.

Bahkan sebelum aku menyetujuinya.

Akhirnya aku pergi.

Ballroom sebuah hotel di Bekasi penuh sekitar tujuh puluh orang.

Lampu hangat.

Meja bundar.

Dekorasi hijau dan emas.

Hampers tersusun dekat pintu.

Di panggung kecil bahkan ada layar LED bertuliskan ucapan Idulfitri.

Ayah melihatku dari jauh.

Wajahnya langsung cerah.

“Nah! Nadira datang!”

Semua orang menoleh.

Aku hampir tertawa melihat sandiwara itu.

Ayah memelukku di depan keluarga besar seolah tidak pernah mengusirku dari keluarga.

Raka datang beberapa detik kemudian.

Penampilannya berubah.

Jam mahalnya tidak ada.

Mobilnya juga bukan Fortuner lagi.

Dia tampak lebih kurus.

“Dir.”

Aku mengangguk.

“Kak.”

Tidak ada pelukan.

Tidak ada basa-basi.

Kami makan.

Aku berbicara dengan para sepupu.

Untuk pertama kalinya setelah lama, aku bahkan menikmati suasananya.

Sampai seorang staf hotel mendekati ayah sekitar pukul sembilan malam.

Mereka berbicara pelan.

Aku melihat ekspresi ayah berubah.

Kemudian ayah memandangku.

Aku sudah tahu.

Beberapa menit kemudian dia duduk di sampingku.

“Nadira.”

“Hmm?”

“Kartu Raka ada kendala limit.”

Aku meletakkan sendok.

“Lalu?”

Ayah merendahkan suara.

“Tagihan acara belum lunas.”

“Berapa?”

Dia menatap sekeliling sebelum menjawab.

“Rp268 juta.”

Aku hampir tersedak air.

“Dua ratus enam puluh delapan juta?”

“Termasuk ballroom, makanan, dekorasi, hampers, kamar keluarga, semuanya.”

Aku menatap meja-meja penuh makanan.

Tujuh puluh orang.

Dekorasi.

LED.

Hadiah.

Sementara bisnis Raka hampir bangkrut.

“Kenapa membuat acara semahal ini?”

Ayah mulai kesal.

“Sudah. Jangan bahas itu sekarang.”

Lalu dia mengeluarkan ponselnya.

“Transfer saja ke rekening hotel. Besok kita urus.”

Aku menatap ponselnya.

Kemudian wajahnya.

“Tidak.”

Ayah membeku.

“Apa?”

“Aku tidak akan bayar.”

Raka yang duduk di seberang kami ikut menoleh.

“Nadira, jangan bikin masalah di sini.”

“Aku tidak membuat masalah.”

Aku mengambil gelas air.

“Aku hanya tidak mau membayar pesta kalian.”

Ayah berbisik tajam.

“Semua keluarga ada di sini.”

“Itu alasan Ayah memilih tempat seperti ini, bukan?”

Wajahnya memerah.

“Ayah cuma pinjam.”

“Kapan dikembalikan?”

“Setelah urusan Raka selesai.”

Aku menatap Raka.

“Gudang pertama kapan dilelang?”

Raka langsung berdiri setengah.

“Siapa yang bilang?”

“Tidak penting.”

Beberapa kerabat mulai melirik.

Suara kami memang belum keras, tapi bahasa tubuh kami sudah menarik perhatian.

Ayah meraih lenganku.

“Nadira, dengarkan Ayah. Kamu punya uang.”

Aku melepaskan tangannya perlahan.

“Memiliki uang tidak berarti aku wajib membayar keputusan orang lain.”

“Kamu anak Ayah.”

Aku menatapnya lurus.

Kalimat berikutnya keluar sangat tenang.

“Waktu Rp11,8 miliar datang, Ayah bilang aku akan menjadi orang luar.”

Ayah membisu.

Aku melanjutkan.

“Sekarang aku memang sudah menetap di luar negeri.”

Beberapa orang di meja sebelah mulai mendengar.

“Jadi kenapa setiap ada tagihan, tiba-tiba aku kembali menjadi anak perempuan Ayah?”

Raka berdiri.

“Jangan bicara soal uang lama lagi!”

Aku ikut berdiri.

“Aku juga tidak ingin membicarakannya.”

“Lalu kenapa sekarang?”

“Karena kalian sedang meminta uang lagi.”

Ayah mencoba menenangkan situasi.

“Nadira, nanti kita bicara di kamar.”

“Tidak perlu.”

Aku membuka tasku.

Bukan untuk mengambil kartu.

Aku mengambil sebuah map tipis.

Raka melihatnya dan wajahnya langsung berubah.

“Apa itu?”

“Dokumen penyelesaian terakhir.”

Aku menaruhnya di meja.

“Bagian peninggalan Ibu sudah selesai. Tidak ada lagi urusan aset antara aku, Ayah, dan Raka.”

Ayah mengembuskan napas.

“Bagus. Berarti semuanya sudah selesai.”

“Belum.”

Aku menatap Raka.

“Ada satu hal yang belum kalian ketahui.”

Aku mengeluarkan lembar kedua.

Itu adalah salinan kesepakatan pembayaran yang ditandatangani Raka setelah mediasi.

Sebagian kewajibannya kepadaku jatuh tempo bulan sebelumnya.

Dia belum membayar.

Raka mencoba mengambil kertas itu.

Aku menahannya.

“Jangan.”

“Apa maumu?”

“Tidak ada.”

Aku memasukkan kembali surat tersebut ke dalam map.

“Aku cuma ingin memastikan malam ini kalian memahami sesuatu.”

Aku menunjuk ballroom.

“Aku tidak akan menagih Raka malam ini.”

Raka tampak sedikit lega.

“Tapi aku juga tidak akan menyelamatkannya.”

Keheningan kecil terbentuk.

Pakde Bambang akhirnya mendekat.

“Ada apa ini?”

Ayah buru-buru berkata, “Tidak ada apa-apa.”

Namun Raka sudah kehilangan kendali.

“Dia sengaja mau mempermalukan keluarga!”

Aku menatapnya.

“Siapa yang memalsukan tanda tanganku?”

Wajahnya langsung pucat.

Ruangan di sekitar kami sunyi.

Raka tidak menjawab.

Aku mengulang.

“Siapa yang memalsukan tanda tanganku dalam dokumen pembebasan?”

Pakde memandang Raka.

“Raka?”

Ayah berdiri.

“Sudah! Itu masalah lama!”

“Benar,” kataku. “Masalah lama yang selama ini membuat semua orang mengira aku menggugat keluarga hanya karena rakus.”

Aku melihat satu per satu wajah kerabat yang dulu meneleponku.

“Beberapa dari kalian pernah bilang aku anak durhaka.”

Tidak ada yang berani menatapku.

“Aku tidak pernah mencoba mengambil bagian milik ayah. Aku hanya menghentikan penggunaan namaku tanpa izin.”

Bude yang dulu paling keras mengkritikku perlahan bertanya, “Tanda tangannya benar dipalsukan?”

Ayah menunduk.

Raka masih diam.

Jawabannya sudah jelas.

Aku tidak merasa menang.

Aneh.

Aku hanya merasa ringan.

Seperti beban yang selama bertahun-tahun kugendong akhirnya diletakkan di lantai.

Seorang staf hotel kembali mendekat.

“Maaf, Pak. Kami membutuhkan penyelesaian pembayaran sebelum pukul sepuluh.”

Semua orang melihat ayah.

Lalu melihat Raka.

Tidak ada lagi yang melihatku.

Dan untuk pertama kalinya, mereka memahami bahwa tagihan itu bukan tanggung jawabku.

Pakde Bambang akhirnya berkata, “Acara ini siapa yang pesan?”

Raka tidak menjawab.

Ayah berbisik, “Kami.”

“Kalau begitu kalian selesaikan.”

Malam itu tidak ada keajaiban.

Tidak ada saudara kaya tiba-tiba muncul.

Tidak ada uang jatuh dari langit.

Hotel akhirnya menyepakati sebagian pembayaran malam itu, sementara sisanya ditagihkan berdasarkan perjanjian tertulis.

Ayah harus mencairkan deposito yang masih tersisa.

Raka menjual satu-satunya mobil keluarga beberapa hari kemudian untuk menutup sebagian kewajiban.

Bulan berikutnya satu gudangnya resmi dijual.

Vila di Puncak juga dilepas.

Bisnis logistiknya diperkecil drastis.

Dari belasan kendaraan operasional, tersisa tiga.

Rumah mewah yang sempat ingin dibelinya tidak pernah terwujud.

Dia kembali tinggal di rumah kontrakan yang jauh lebih sederhana bersama Melinda dan anak-anaknya.

Aku tidak merayakan kehancurannya.

Tetapi aku juga tidak mencegahnya.

Konsekuensi bukan kekejaman.

Kadang konsekuensi adalah satu-satunya guru yang masih mau berbicara ketika semua nasihat sudah ditertawakan.

Beberapa bulan kemudian Raka mengirim pesan.

Aku sudah transfer cicilan pertama sesuai kesepakatan.

Aku memeriksa rekening.

Benar.

Lalu pesan kedua masuk.

Maaf soal tanda tangan waktu itu.

Aku membaca kalimat tersebut lama.

Tidak ada alasan.

Tidak ada “tapi”.

Tidak ada “karena Ayah menyuruh”.

Hanya permintaan maaf.

Aku membalas:

Aku terima permintaan maafmu. Selesaikan kewajibanmu. Setelah itu kita tidak perlu bicara soal uang lagi.

Hubunganku dengan ayah lebih sulit.

Hampir enam bulan dia tidak menghubungiku.

Kemudian suatu Minggu pagi, teleponku berdering.

Video call.

Ayah terlihat duduk sendirian di sebuah rumah kontrakan kecil.

Setelah rumah lama dibongkar dan sebagian besar uangnya habis masuk ke bisnis Raka, dia ternyata tidak punya rumah sendiri lagi.

Raka ingin ayah tinggal bersama mereka.

Ayah menolak karena rumah kontrakan Raka sempit.

“Nadira.”

“Iya, Yah.”

Ayah menatap layar cukup lama.

“Ayah salah.”

Aku tidak menjawab.

“Ayah pikir kalau semua diberikan kepada anak laki-laki, keluarga akan aman.”

Dia menghela napas.

“Ternyata Ayah membesarkan Raka dengan keyakinan bahwa apa pun kesalahannya akan selalu ada orang yang menolong.”

Mataku mulai panas.

“Ayah juga membesarkanku dengan keyakinan bahwa aku harus bekerja dua kali lebih keras untuk pantas disebut keluarga.”

Ayah menunduk.

“Ayah tahu.”

Untuk pertama kalinya, dia tidak membela diri.

Tidak menyebut tradisi.

Tidak menyebut anak laki-laki.

Tidak menyebut nama keluarga.

Dia hanya berkata, “Maaf.”

Aku tidak langsung memaafkannya.

Ada luka yang membutuhkan waktu lebih lama daripada satu percakapan.

Namun kami mulai berbicara lagi.

Sedikit demi sedikit.

Aku tetap tidak memberikan uang kepadanya untuk melunasi utang Raka.

Sebaliknya, aku menyewa sebuah rumah sederhana atas namaku untuk ayah tinggal.

Kontraknya kubayar langsung kepada pemilik.

Tagihan kebutuhan dasar kubantu secukupnya.

Tidak ada uang tunai besar.

Tidak ada modal usaha.

Tidak ada cek kosong.

Batas itu membuat hubungan kami jauh lebih sehat.

Aku juga terus membayar sebagian biaya pendidikan kedua keponakanku langsung ke sekolah.

Anak-anak tidak seharusnya membayar dosa keserakahan orang dewasa.

Setahun setelah malam takbiran itu, aku kembali ke Indonesia.

Bukan untuk sidang.

Bukan untuk pembagian warisan.

Bukan untuk menyelesaikan utang.

Kami bertiga pergi ke makam ibu.

Aku, ayah, dan Raka.

Tidak ada ballroom.

Tidak ada mobil mahal.

Tidak ada jam emas.

Kami datang dengan dua mobil biasa dan membawa bunga.

Di depan makam ibu, ayah berdiri lama sekali.

Kemudian dia berkata lirih, “Ibumu dulu pernah bilang Ayah terlalu memanjakan Raka.”

Raka tersenyum pahit.

“Ternyata Ibu benar.”

Aku tidak menjawab.

Angin sore bergerak pelan melalui pepohonan.

Raka kemudian menatapku.

“Dir.”

“Ya?”

“Kalau dulu uang itu dibagi dengan benar, mungkin semuanya tidak akan begini.”

Aku menggeleng.

“Bukan uangnya yang membuat semuanya begini.”

Dia menatapku.

“Lalu?”

“Cara kalian melihat uang.”

Aku menunjuk ayah, lalu Raka.

“Kalian menganggap uang sebagai bukti siapa yang lebih penting dalam keluarga.”

Aku menarik napas.

“Padahal uang seharusnya tidak pernah menentukan siapa yang boleh disebut anak dan siapa yang dianggap orang luar.”

Tidak ada yang membantah.

Beberapa hari kemudian aku kembali ke Melbourne.

Kehidupanku tidak berubah menjadi dongeng.

Aku masih bekerja.

Masih bangun pagi.

Masih mengejar tram.

Masih mengeluh tentang rapat.

Tetapi ada satu hal yang berbeda.

Untuk pertama kalinya, aku tidak lagi merasa harus membeli tempatku di dalam sebuah keluarga.

Uang Rp1,74 miliar yang menjadi hakku tidak kugunakan untuk pamer.

Sebagian menjadi uang muka sebuah apartemen kecil.

Sebagian masuk investasi.

Sebagian kusimpan.

Dan sebuah porsi khusus kusisihkan untuk membantu pendidikan dua keponakanku selama mereka tetap sekolah dengan sungguh-sungguh.

Tidak ada nama keluarga di rekening itu.

Tidak ada syarat mereka harus menjadi laki-laki.

Yang ada hanya dua nama anak yang sama-sama berhak memiliki masa depan.

Pada malam Idulfitri berikutnya, ayah mengirim foto sederhana.

Dia, Raka, Melinda, dan dua anak mereka duduk di ruang makan kecil.

Di meja hanya ada opor, ketupat, sambal goreng, dan beberapa kue.

Tidak ada ballroom.

Tidak ada dekorasi mahal.

Tidak ada tagihan ratusan juta.

Di bawah foto itu ayah menulis:

Tahun ini sederhana. Tapi rasanya lebih tenang.

Aku tersenyum.

Lalu membalas:

Selamat Idulfitri, Yah.

Beberapa detik kemudian muncul balasan.

Maaf lahir batin, Nak.

Aku menatap satu kata terakhir cukup lama.

Nak.

Bukan orang luar.

Bukan anak perempuan yang suatu hari akan pergi.

Bukan ATM ketika keluarga sedang kesulitan.

Hanya anak.

Dan setelah semua yang terjadi, ternyata itulah satu-satunya warisan yang sejak awal benar-benar ingin kudapatkan.