Bagian 3 — Saat Semua Bukti Diletakkan di Meja, Suamiku Kehilangan Jabatan, Perempuan yang Dibelanya Pergi, dan Aku Akhirnya Mendapatkan Hidupku Kembali

Avatar penulis
Cerita 02
13 menit baca 107 tayangan
Bagian 3 — Saat Semua Bukti Diletakkan di Meja, Suamiku Kehilangan Jabatan, Perempuan yang Dibelanya Pergi, dan Aku Akhirnya Mendapatkan Hidupku Kembali
Indeks

Bagian 3 — Saat Semua Bukti Diletakkan di Meja, Suamiku Kehilangan Jabatan, Perempuan yang Dibelanya Pergi, dan Aku Akhirnya Mendapatkan Hidupku Kembali

Arga menonton rekaman CCTV itu tiga kali.

Menurut Rafi, pada pemutaran pertama dia hanya berdiri di belakang kursinya.

Pada pemutaran kedua dia duduk.

Pada pemutaran ketiga dia meminta semua orang keluar kecuali Rafi dan Pak Darma.

Tidak ada lagi kalimat bahwa aku cemburuan.

Tidak ada lagi tuduhan bahwa aku kasar.

Tidak ada lagi pembelaan bahwa Selena adalah korban.

Yang tersisa hanyalah gambar seorang perempuan yang sengaja menciptakan situasi, kemudian seorang suami yang datang tanpa mencari tahu kebenaran dan langsung menampar istrinya.

Yang paling menghancurkan mungkin bukan kebohongan Selena.

Melainkan fakta bahwa kebohongan itu berhasil karena Arga memang sudah terbiasa menganggap perkataanku tidak penting.

Hari itu juga Selena dipanggil.

Awalnya dia masih menyangkal.

“Videonya tidak menunjukkan semuanya.”

Pak Darma menaruh laptop di depan Selena.

“Ada rekaman dari dua kamera.”

Selena pucat.

Arga berdiri di dekat jendela.

“Kenapa?”

Hanya satu kata.

Selena menatapnya.

“Mas…”

“Kenapa kamu melakukan itu?”

“Aku panik.”

“Kamu menelepon seseorang sebelum kejadian dan bilang ingin membuat Nadia terlihat meledak di depan semua orang.”

Selena terdiam.

Arga membalik badan.

“Aku tanya sekali lagi.”

“Kenapa?”

Perempuan itu akhirnya kehilangan ketenangannya.

“Karena aku capek!”

Suaranya meninggi.

“Setiap kali aku bertanya kapan kamu akan menyelesaikan rumah tanggamu, kamu selalu bilang tunggu.”

“Setiap kali aku tanya apakah kamu mencintai dia, kamu bilang tidak.”

“Kamu bilang Nadia cuma tinggal di rumah.”

“Kamu bilang dia tidak punya tempat lain untuk pergi.”

“Kamu bilang cepat atau lambat dia sendiri yang akan menyerah.”

Ruangan itu sunyi.

Rafi menundukkan kepala.

Pak Darma menutup laptop.

Untuk pertama kalinya, bukan aku yang mendengar Arga merendahkanku.

Semua orang di ruangan itu mendengarnya dari perempuan yang selama ini dia bela.

Selena belum selesai.

“Kamu yang selalu mengatakan pernikahan kalian sudah mati!”

“Kalau begitu kenapa sampai sekarang dia masih ada?”

Arga menatap Selena lama sekali.

Lalu dia bertanya,

“Jadi kamu sengaja menjebaknya?”

Selena tertawa pendek, tetapi matanya mulai berkaca-kaca.

“Aku cuma ingin kamu akhirnya mengambil keputusan.”

“Dan transaksi Lazuardi?”

Pertanyaan itu membuat wajah Selena berubah.

“Jangan campurkan urusan pribadi dengan pekerjaan.”

“Justru sekarang semuanya bercampur.”

Arga menunjuk laporan audit.

“Kenapa perusahaan kakakmu tidak pernah dicantumkan sebagai pihak terafiliasi?”

Selena tidak menjawab.

Audit yang awalnya hanya memeriksa empat belas invoice berkembang menjadi pemeriksaan hampir satu tahun transaksi.

Hasil akhirnya jauh lebih buruk daripada yang kubayangkan.

Tidak semua pembayaran kepada Lazuardi Kreasi fiktif.

Sebagian acara memang benar dilaksanakan.

Sebagian kampanye memang ada.

Tetapi beberapa nilai dinaikkan.

Ada biaya produksi yang ditagih dua kali.

Ada honor talent yang berbeda antara invoice dan bukti pembayaran.

Ada pengadaan suvenir yang harganya hampir dua kali lipat dibanding penawaran vendor lain.

Dan ada pembayaran kepada rekening pribadi Selena yang tidak didukung dokumen memadai.

Selena mengatakan uang itu merupakan penggantian biaya.

Auditor mengatakan sebagian tidak dapat dibuktikan.

Aku tidak ikut campur setelah menyerahkan informasi awal.

Bukti sudah berbicara sendiri.

Yang paling mengejutkan justru nama Arga muncul berulang kali pada kolom persetujuan.

Mungkin dia tidak menerima uang.

Tetapi dia telah mengabaikan prosedur perusahaan untuk seseorang yang memiliki hubungan pribadi dengannya.

Dan sekarang kelalaiannya harus dibayar.

Investor yang sedang mempertimbangkan pendanaan ekspansi tidak langsung membatalkan seluruh rencana.

Mereka hanya mengatakan proses akan ditunda sampai audit selesai dan tata kelola diperbaiki.

Bagi perusahaan yang sudah menyewa dua gudang baru untuk ekspansi, penundaan itu cukup membuat arus kas tertekan.

Rapat pemegang saham luar biasa kemudian digelar.

Arga bukan satu-satunya pemilik perusahaan.

Ia memegang 45 persen saham.

Sisanya dimiliki dua investor lama dan keluarga pendiri lainnya.

Setelah membaca laporan audit, para pemegang saham sepakat Arga tidak lagi boleh memegang kendali operasional penuh.

Dia dicopot dari posisi direktur utama.

Sahamnya tetap miliknya.

Tidak ada yang merampas hartanya.

Namun kursi yang selama bertahun-tahun membuatnya merasa tidak bisa disentuh siapa pun akhirnya diberikan kepada COO perusahaan.

Pak Darma kemudian memberi tahu Rafi satu kalimat yang menyebar di kalangan manajemen.

“Perusahaan tidak jatuh karena seorang istri pergi.”

“Perusahaan hampir jatuh karena direkturnya merasa aturan tidak berlaku untuk dirinya.”

Sedangkan Selena diberhentikan setelah proses pemeriksaan internal selesai.

PT Lazuardi Kreasi diwajibkan mengembalikan pembayaran yang terbukti tidak memiliki dasar dokumen yang memadai sesuai hasil audit dan penyelesaian kontrak.

Hubungan Selena dan Arga juga berakhir.

Bukan karena Arga tiba-tiba menyadari betapa cintanya dia kepadaku.

Hidup nyata tidak sesederhana itu.

Mereka berakhir karena ketika kepercayaan dibangun dari kebohongan, akhirnya masing-masing mulai mencurigai yang lain.

Selena merasa Arga melempar seluruh kesalahan kepadanya.

Arga merasa Selena memanfaatkannya.

Mereka yang sebelumnya terlihat begitu kompak mulai saling menyalahkan bahkan sebelum audit selesai.

Aku mendengar semuanya dari Rafi.

Bukan karena aku bertanya.

Dia hanya merasa perlu menyampaikan beberapa perkembangan yang berhubungan dengan proses hukum.

Aku tidak merasa senang.

Tetapi aku juga tidak merasa kasihan.

Ada sebuah tahap dalam hidup ketika seseorang sudah terlalu lama disakiti sampai akhirnya tidak lagi membutuhkan kehancuran orang lain untuk merasa menang.

Aku hanya ingin bebas.

Proses perceraianku dengan Arga berjalan beberapa bulan.

Dia mencoba menghubungiku berkali-kali.

Setelah nomornya kublokir, dia menggunakan nomor kantor.

Setelah itu kubatasi, dia mengirim email.

Kemudian menghubungi Om Bima.

Om hanya menjawab,

“Urus dengan pengacaranya.”

Suatu sore Arga berdiri di depan rumah lama ayahku.

Aku baru pulang dari kantor ketika melihat mobilnya.

Aku hampir langsung masuk tanpa berhenti.

“Nadia.”

Aku menoleh.

Wajahnya terlihat berbeda.

Lebih kurus.

Tidak lagi memakai setelan mahal seperti biasanya.

Hanya kemeja putih dengan lengan digulung.

“Aku cuma minta lima menit.”

“Ada Bu Ratna?”

“Tidak.”

“Kalau begitu kita tidak perlu bicara.”

Dia menunduk.

“Aku tidak akan menyentuhmu.”

Aku diam.

Kalimat itu seharusnya tidak perlu dikatakan oleh seorang suami kepada istrinya.

Tetapi setelah malam di ballroom tersebut, batas kami memang sudah berubah.

“Aku melihat videonya.”

Katanya.

“Aku tahu.”

“Aku salah.”

Aku menatapnya.

“Bukan salah karena tertipu Selena.”

“Arga, jangan salah memahami masalahnya.”

Dia mengangkat kepala.

“Kamu menamparku sebelum bertanya.”

“Kamu sudah memutuskan aku bersalah sebelum tahu apa pun.”

“Bahkan kalau Selena benar-benar terluka karena aku, kamu tetap tidak berhak memperlakukanku seperti itu.”

Dia tidak menjawab.

Aku melanjutkan.

“Yang terjadi malam itu bukan awal masalah kita.”

“Itu akhirnya.”

Selama bertahun-tahun aku membuat hidup Arga nyaman.

Aku mengingat jadwal obat ibunya.

Aku mengirim pakaian ketika dia dinas.

Aku mengatur acara keluarga.

Aku berbicara dengan kontraktor rumah.

Aku menemani Mama sampai dini hari ketika harus masuk IGD.

Aku meninggalkan karier karena dia meminta.

Tidak ada satu pun hal itu yang membuatku lebih rendah.

Namun ketika sebuah pekerjaan tidak menghasilkan slip gaji, Arga perlahan menganggap pekerjaan tersebut tidak bernilai.

Kemudian dia menggunakan ketergantungan yang ia ciptakan sendiri untuk meremehkanku.

“Kamu benar.”

Suara Arga rendah.

“Aku selalu berpikir kamu tidak mungkin pergi.”

Aku tersenyum tipis.

“Aku tahu.”

“Aku bahkan…”

Dia berhenti.

“Aku benar-benar tidak tahu kamu punya aset sebesar itu.”

“Itu juga bukan masalahnya.”

Arga menatapku.

“Andai aku tidak punya Rp18,4 miliar, apakah perlakuanmu kepadaku jadi benar?”

Dia langsung menggeleng.

“Tidak.”

“Nah.”

“Itulah satu-satunya hal yang perlu kamu pahami.”

Aku tidak meninggalkan Arga karena aku ternyata punya uang.

Aku meninggalkannya karena akhirnya aku mengerti bahwa manusia tidak perlu kaya untuk berhak dihormati.

Uang hanya membuat proses keluarku menjadi lebih mudah.

Harga diriku seharusnya tetap sama bahkan seandainya rekeningku kosong.

Arga mengusap wajah.

“Aku ingin memperbaiki semuanya.”

“Perusahaan?”

“Kita.”

Untuk beberapa detik aku hanya mendengar suara kendaraan di jalan.

Kemudian aku bertanya,

“Empat tahun lalu, ketika aku berhenti bekerja demi merawat Mama, kamu bilang cuma sementara.”

Dia mengangguk.

“Dua tahun kemudian ketika aku ingin bekerja lagi, kamu bilang aku tidak perlu.”

Dia kembali mengangguk.

“Lalu malam itu kamu menggunakan fakta bahwa aku tidak bekerja untuk mengatakan aku tidak akan bisa hidup tanpamu.”

Arga tidak sanggup menatapku.

“Kamu mengerti sekarang?”

“Iya.”

“Bagus.”

Aku membuka pagar.

“Karena aku tidak mau mengajarimu untuk kedua kalinya.”

Sebelum masuk aku menoleh.

“Soal pinjaman perusahaan, lunasi sesuai kesepakatan pengacara.”

Arga mengangguk pelan.

“Nadia…”

Aku menunggu.

“Maaf.”

Kali ini tidak ada alasan.

Tidak ada Selena.

Tidak ada stres.

Tidak ada kalimat “tapi kamu juga”.

Hanya satu kata.

Maaf.

Dan justru karena itulah aku bisa menjawab dengan tenang.

“Aku menerima permintaan maafmu.”

Wajahnya langsung berubah, seolah masih ada harapan.

Aku melanjutkan,

“Tapi menerima permintaan maaf bukan berarti kembali.”

Lalu kututup pagar.

Itu percakapan pribadi terakhir kami.

Dalam penyelesaian perceraian, semua harta yang tercatat sebagai milik masing-masing sesuai perjanjian perkawinan tetap dipisahkan.

Aku tidak meminta saham perusahaan Arga.

Tidak meminta rumahnya.

Tidak meminta mobil.

Tidak meminta uang bulanan.

Yang kutagih hanya apa yang memang menjadi hakku.

Pinjaman Rp3,25 miliar dibayar secara bertahap melalui skema yang disepakati pengacara kedua pihak.

Aku juga mengambil kembali barang-barang pribadi dan peninggalan keluarga.

Termasuk satu benda yang selama berminggu-minggu kupikir tidak akan pernah kembali.

Bros bunga melati milik Mama.

Ternyata setelah pemeriksaan internal, Selena mengembalikannya melalui Rafi.

Kotak kecil itu sampai ke kantorku pada hari Selasa sore.

Tidak ada pesan dari Selena.

Hanya bros.

Aku memegangnya cukup lama.

Kemudian memasukkannya kembali ke kotak.

Aneh.

Dulu benda itu terasa seperti simbol bahwa aku benar-benar diterima menjadi bagian keluarga Mahendra.

Sekarang benda itu memiliki arti yang berbeda.

Aku menyimpannya bukan karena masih ingin menjadi bagian keluarga tersebut.

Aku menyimpannya karena perempuan yang memberikannya pernah memperlakukanku dengan baik.

Kenangan baik tidak harus ikut dibuang hanya karena pernikahan berakhir buruk.

Enam bulan setelah meninggalkan Jakarta, hidupku sama sekali tidak terlihat seperti hidup yang dulu kubayangkan.

Aku bangun pukul enam pagi.

Sarapan sederhana.

Pukul delapan sudah berada di kantor.

Hari-hari pertamaku kembali bekerja tidak mudah.

Sistem berubah.

Perangkat lunak gudang berbeda.

Beberapa istilah ekspor yang dulu kuhafal sudah diperbarui.

Bahkan staf yang lebih muda terkadang harus mengajariku cara menggunakan dashboard baru.

Anehnya aku tidak malu.

Empat tahun lalu aku takut terlihat tidak tahu.

Sekarang aku justru menikmati proses belajar lagi.

Om Bima tidak memberiku posisi direktur.

Aku ditempatkan sebagai kepala pengembangan operasional dengan target jelas selama satu tahun.

“Pemegang saham tetap harus kerja kalau mau masuk manajemen.”

Begitu katanya.

Aku tertawa.

“Setuju.”

Proyek pertamaku adalah membenahi kontrak vendor transportasi dingin.

Aku menemukan biaya perjalanan kosong yang terlalu tinggi.

Kami mengubah rute.

Menggabungkan pengiriman.

Memasang sistem monitoring kendaraan.

Dalam delapan bulan, biaya distribusi turun hampir sembilan persen.

Tidak spektakuler.

Tidak membuatku menjadi miliarder baru.

Tidak ada media yang menulis namaku.

Tetapi ketika laporan kuartal pertama dengan hasil kerjaku dicetak dan diletakkan di meja, aku menatap angka-angka itu hampir satu menit.

Aku lupa betapa menyenangkannya merasa mampu.

Aku lupa bagaimana rasanya memiliki pekerjaan yang selesai karena keputusanku sendiri.

Aku lupa bahwa sebelum menjadi istri Arga, aku pernah memiliki dunia seperti ini.

Pada ulang tahunku yang ke-37, staf divisi membawakan nasi tumpeng kecil.

Tidak ada ballroom.

Tidak ada gaun mahal.

Tidak ada ratusan tamu.

Hanya sekitar dua puluh orang di ruang rapat.

Seorang staf muda bernama Rina bertanya,

“Bu Nadia, kenapa Ibu tidak pernah pakai mobil mewah?”

Aku tertawa.

“Karena macetnya sama.”

Semua orang tertawa.

Sore harinya aku pulang dan menemukan sebuah amplop dari pengacara.

Di dalamnya terdapat salinan putusan perceraian yang sudah berkekuatan sesuai proses administrasi yang kami jalani.

Aku membaca namaku.

Nama Arga.

Tanggal.

Beberapa halaman bahasa hukum.

Begitu sederhana untuk sesuatu yang pernah mengambil empat tahun hidupku.

Aku duduk di teras sampai matahari hampir tenggelam.

Apakah aku sedih?

Sedikit.

Ada pernikahan yang berakhir karena sejak awal tidak pernah ada cinta.

Pernikahanku tidak seperti itu.

Aku pernah mencintai Arga dengan sungguh-sungguh.

Mungkin itulah sebabnya meninggalkannya begitu menyakitkan.

Tetapi mencintai seseorang tidak berarti harus tinggal ketika cinta sudah berubah menjadi tempat kita terus-menerus direndahkan.

Ponselku berbunyi.

Pesan dari nomor yang kukenal.

Rafi.

“Bu Nadia, maaf mengganggu. Pelunasan terakhir pinjaman perusahaan sudah ditransfer hari ini sesuai jadwal.”

Aku membuka mobile banking.

Masuk.

Jumlahnya sesuai.

Aku membalas singkat.

“Terima kasih informasinya.”

Beberapa menit kemudian ada pesan kedua.

“Pak Arga sudah tidak menangani operasional perusahaan. Beliau sekarang hanya aktif sebagai pemegang saham dan penasihat non-eksekutif.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Akhirnya aku hanya menulis,

“Semoga perusahaan ke depan lebih baik.”

Itulah kenyataannya.

Aku tidak berharap ratusan karyawan kehilangan pekerjaan hanya karena aku pernah disakiti direktur mereka.

Kesalahan Arga harus dibayar Arga.

Bukan staf gudang.

Bukan sopir.

Bukan administrasi.

Bukan keluarga orang-orang yang mencari nafkah di sana.

Perusahaan itu akhirnya selamat setelah ekspansi diperlambat dan manajemen baru melakukan restrukturisasi.

Investor lama tetap bertahan.

Kontrak vendor bermasalah dihentikan.

Sistem persetujuan pengadaan diperketat.

Sedangkan Arga kehilangan sesuatu yang mungkin lebih berat baginya daripada uang.

Kendali.

Selama bertahun-tahun dia percaya semua hal akan tetap berada di tempat yang dia tentukan.

Istri akan tetap di rumah.

Perusahaan akan tetap mengikuti keputusannya.

Selena akan tetap menunggunya.

Karyawan akan tetap diam.

Tetapi satu keputusan buruk membuka semua retakan yang selama ini dia abaikan.

Tentang Selena, terakhir kudengar dia pindah dari Jakarta setelah urusannya dengan perusahaan selesai.

Aku tidak mencari tahu ke mana.

Aku tidak ingin menjadikan hidup perempuan itu sebagai tontonan.

Dia bertanggung jawab atas kebohongannya.

Arga bertanggung jawab atas pilihannya.

Dan aku bertanggung jawab atas satu hal:

Tidak kembali ke tempat yang telah menghilangkan diriku sendiri.

Setahun setelah perceraian, aku membeli sebuah rumah kecil dengan halaman di Semarang.

Bukan rumah mewah.

Tidak ada kolam renang.

Tidak ada marmer impor.

Tetapi sertifikatnya atas namaku.

Kunci pintunya hanya ada di tanganku.

Di halaman belakang aku menanam pohon jeruk.

Pada hari pertama pindah, Om Bima datang membawa dua kursi rotan.

“Rumah baru harus punya tempat ngopi.”

Katanya.

Kami duduk di teras sampai malam.

Sebelum pulang dia bertanya,

“Kamu bahagia?”

Aku memikirkan pertanyaan itu cukup lama.

Dulu, definisi bahagiaku sangat rumit.

Harus punya pernikahan yang bertahan.

Harus membuat suami bangga.

Harus diterima keluarga.

Harus menjaga semuanya tetap utuh.

Sekarang jawabannya jauh lebih sederhana.

“Tenang.”

Kataku.

“Aku sekarang tenang.”

Om Bima mengangguk.

“Mungkin itu lebih mahal daripada bahagia.”

Aku tersenyum.

Di kamar, aku membuka laci.

Bros bunga melati peninggalan Mama masih berada di sana.

Di sebelahnya terdapat dokumen perjanjian perkawinanku yang lama.

Aku mengambil dokumen itu.

Dulu lembaran tersebut dibuat ayah untuk melindungi asetku.

Namun akhirnya aku sadar, tidak ada dokumen yang bisa melindungi harga diri seseorang kalau orang itu sendiri terus membiarkannya diinjak.

Aku memasukkan berkas perceraian ke dalam map yang sama.

Menutup laci.

Lalu mematikan lampu.

Setahun sebelumnya, setelah menamparku di depan puluhan orang, Arga pernah bertanya,

“Kalau meninggalkanku, kamu mau hidup bagaimana?”

Sekarang aku akhirnya memiliki jawabannya.

Aku hidup dengan bangun setiap pagi tanpa takut salah bicara.

Aku bekerja karena aku ingin bekerja.

Aku menggunakan uangku tanpa harus meminta izin.

Aku bisa makan malam sendirian tanpa merasa ditinggalkan.

Aku bisa tidur tanpa menunggu suara mobil seseorang memasuki halaman tengah malam.

Aku bisa melihat wajahku di cermin dan mengenali perempuan di sana.

Rp18,4 miliar itu masih ada dalam portofolio investasiku.

Sebagian berkembang.

Sebagian kupakai membeli rumah.

Sebagian tetap kusimpan.

Tetapi uang itu bukan kemenangan terbesar yang kubawa ketika meninggalkan rumah Arga.

Kemenanganku adalah keberanian untuk akhirnya memahami bahwa empat tahun pengorbanan tidak mewajibkanku mengorbankan empat puluh tahun berikutnya.

Tamparan malam itu memang menyakitkan.

Namun anehnya, tamparan itulah yang memutus tali terakhir yang selama ini membuatku terus bertahan.

Arga kehilangan seorang istri yang pernah melakukan hampir apa saja untuk rumah tangganya.

Dia kehilangan jabatan karena pilihan bisnisnya sendiri.

Dia kehilangan kepercayaan orang-orang karena berkali-kali membiarkan hubungan pribadi mengalahkan tanggung jawab.

Sedangkan aku?

Aku kehilangan sebuah pernikahan.

Tetapi mendapatkan kembali hidupku.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ketika menutup pintu rumah pada malam hari, aku tidak merasa sedang meninggalkan siapa pun.

Aku akhirnya pulang kepada diriku sendiri.