Ibu Tiriku Menyembunyikan Surat Penerimaanku dan Bilang Aku Gagal, Sementara Ayah Tak Sekali Pun Menatapku Saat Keluarga Berkumpul

Avatar penulis
Cerita 01
11 menit baca 824 tayangan
Ibu Tiriku Menyembunyikan Surat Penerimaanku dan Bilang Aku Gagal, Sementara Ayah Tak Sekali Pun Menatapku Saat Keluarga Berkumpul
Indeks

Bagian 2

Pada kali ketiga Ibu Rina membuka laci yang sama, Om Arif akhirnya berkata,

“Sudah, Rina.”

Nada suaranya tidak keras.

Justru itu yang membuat ruangan terasa semakin sempit.

“Kalau suratnya memang kamu taruh di sini, dari tadi seharusnya sudah ketemu.”

Ibu Rina berdiri tegak.

Wajahnya merah.

Ibu Tiriku Menyembunyikan Surat Penerimaanku dan Bilang Aku Gagal, Sementara Ayah Tak Sekali Pun Menatapku Saat Keluarga Berkumpul

“Aku enggak tahu. Mungkin Nadira sudah memindahkan.”

Aku menatapnya.

“Aku baru tahu surat itu ada setelah menemukan amplopnya di tempat sampah.”

“Nadira!”

Ayah akhirnya meninggikan suara.

Aku menoleh.

Untuk pertama kalinya malam itu dia benar-benar melihatku.

Tapi bukan dengan tatapan seorang ayah yang ingin memahami anaknya.

Tatapannya seperti seseorang yang ingin masalah segera berhenti.

“Cukup.”

Dadaku terasa sesak.

“Cukup apa, Yah?”

“Kita bicara nanti setelah keluarga pulang.”

“Kenapa harus nanti?”

Ayah mengatupkan rahang.

“Karena ini urusan keluarga kita.”

Om Arif tertawa pendek.

Bukan karena lucu.

“Hendra, kami juga keluarga.”

Ayah diam.

Tante Mira mengambil ponselku dari atas meja dan memperbesar foto stiker pengiriman.

“Ini jelas.”

Dia menunjukkan layar kepada Ayah.

“Paket diterima Rina tanggal lima belas.”

“Aku enggak pernah bilang enggak terima!” kata Ibu Rina.

“Yang ditanyakan bukan kamu menerima atau enggak.”

Tante Mira menatapnya.

“Yang ditanyakan suratnya sekarang di mana.”

Ibu Rina memeluk kedua lengannya.

“Aku lupa.”

Dua kata itu jatuh begitu saja.

Tidak ada lagi cerita tentang meja belajarku.

Tidak ada lagi laci.

Tidak ada lagi tuduhan bahwa kamarku berantakan.

Hanya, “Aku lupa.”

Aku hampir tertawa.

Tapi rasanya terlalu pahit.

Om Arif memandang Ayah.

“Dan kalian mau menyuruh Nadira kerja di toko roti berdasarkan cerita bahwa dia gagal masuk kuliah?”

Tidak ada jawaban.

Dinda berdiri di belakang pintu.

Wajahnya tidak lagi terlihat puas.

Untuk pertama kalinya malam itu dia tampak takut.

Aku berjalan ke lemari dan mengambil map plastik berwarna biru.

Di dalamnya ada semua dokumen pendaftaranku.

Kartu peserta.

Fotokopi rapor.

Bukti pembayaran.

Cetakan hasil UTBK.

Aku mengeluarkan satu lembar.

“Nilai ini sudah keluar sebelum surat dikirim.”

Kuserahkan kepada Om Arif.

“752,18.”

Om Arif membacanya perlahan.

Kemudian dia menatap Ayah.

“Hendra, kamu tahu nilai ini?”

Ayah tidak menjawab.

Aku sudah tahu jawabannya.

“Tidak,” kataku.

Ayah menatapku tajam.

“Nadira.”

“Karena Ayah tidak pernah tanya.”

Kalimat itu keluar lebih tenang daripada yang kubayangkan.

Aku melanjutkan,

“Aku mau bilang setelah hasil resmi keluar. Tapi sejak tanggal lima belas, Ibu Rina bilang belum ada kabar.”

Aku menatap perempuan itu.

“Setiap hari aku tanya.”

Ibu Rina langsung menyela.

“Aku cuma mau cari waktu yang tepat!”

“Waktu yang tepat untuk apa?”

Suaraku masih datar.

“Untuk bilang aku diterima?”

Dia tidak menjawab.

“Atau waktu yang tepat untuk membuat semua orang percaya aku gagal?”

Dinda tiba-tiba berkata,

“Mama…”

Semua menoleh kepadanya.

Dinda menggigit bibir.

“Mama pernah bilang Nadira kemungkinan enggak jadi kuliah tahun ini.”

Ibu Rina membalik badan.

“Dinda, masuk kamar.”

“Tapi…”

“Masuk kamar!”

“Rina,” kata Om Arif tajam.

Dinda membeku.

Aku melihat matanya mulai berkaca-kaca.

Lalu dia berkata pelan,

“Mama bilang kalau Nadira enggak kuliah, uangnya bisa dipakai buat uang pangkal aku.”

Ruangan seperti kehilangan udara.

Ayah menatap Ibu Rina.

Kali ini lama.

“Apa?”

Ibu Rina langsung menggeleng.

“Anak ini salah dengar.”

“Aku enggak salah dengar.”

Dinda mulai menangis.

“Mama bilang Ayah cuma mampu biayai satu orang.”

Ibu Rina melangkah mendekatinya.

“Kamu enggak ngerti urusan orang dewasa.”

“Tapi Mama bilang…”

“Cukup!”

Om Arif berdiri di antara mereka.

“Jangan bentak anak karena dia mengatakan apa yang dia dengar.”

Aku tidak memandang Dinda.

Aku sedang memperhatikan Ayah.

Ada sesuatu di wajahnya yang perlahan runtuh.

Bukan kemarahan.

Lebih mirip kesadaran bahwa selama ini dia memilih tidak melihat.

Ayah duduk di tepi tempat tidurku.

“Rina.”

Suaranya pelan.

“Surat itu di mana?”

“Aku sudah bilang…”

“Di mana?”

Ibu Rina diam.

Ayah berdiri lagi.

“Rina.”

Lima tahun aku hidup bersama perempuan itu.

Aku mengenal caranya menghela napas ketika ingin membuat orang lain merasa bersalah.

Aku mengenal caranya memegang dada ketika ingin terlihat terluka.

Aku mengenal caranya menundukkan kepala lalu berbicara pelan saat dia ingin menjadi korban.

Malam itu semua gerakannya muncul satu per satu.

Tapi tidak ada yang berhasil.

Akhirnya dia duduk.

“Sudah kubuang.”

Dinda menutup mulut.

Tante Mira memejamkan mata.

Ayah hanya berdiri.

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Mungkin karena sejak menemukan amplop kosong itu, sebagian diriku sudah tahu.

Tapi mendengar pengakuannya tetap terasa berbeda.

“Kenapa?” tanya Ayah.

Ibu Rina mengusap wajah.

“Aku panik.”

“Kenapa?”

“Aku takut.”

“Takut apa?”

Dia menunjuk ke arah Dinda.

“Dinda belum dapat kampus negeri.”

Dinda menangis semakin keras.

“Jangan bawa aku, Ma.”

Ibu Rina seperti tidak mendengar.

“Kalau Nadira masuk UGM, biaya kos, biaya hidup, buku, semuanya besar.”

“Dia dapat UKT sesuai golongan,” kataku.

“Aku belum tahu!”

“Tapi Ibu tidak pernah tanya.”

Dia menatapku.

Aku melanjutkan,

“Ibu juga tidak pernah tanya apakah aku dapat beasiswa.”

Wajahnya berubah lagi.

Aku membuka ponsel.

Aku sebenarnya belum menerima keputusan final beasiswa.

Tapi dua minggu sebelumnya, aku sudah lolos tahap administrasi program bantuan pendidikan dari sebuah yayasan alumni sekolah.

Setidaknya ada kemungkinan biaya hidupku jauh lebih ringan.

“Aku sudah daftar bantuan pendidikan sejak Mei.”

Om Arif menatapku.

“Kamu urus sendiri?”

Aku mengangguk.

“Bu Ratna, guru BK-ku, yang bantu.”

Ayah duduk kembali.

Tangannya menutupi wajah.

Aku tidak merasa menang.

Tidak ada kemenangan ketika orang yang mengecewakanmu adalah ayahmu sendiri.

Yang ada hanya rasa lelah.

Aku mengambil napas.

“Aku cuma mau tahu satu hal.”

Ayah menurunkan tangan.

“Waktu Ibu Rina bilang aku gagal, Ayah percaya begitu saja?”

Dia membuka mulut.

Menutupnya lagi.

Jawaban itu sudah cukup.

Aku mengangguk kecil.

“Baik.”

“Nadira…”

“Aku capek, Yah.”

Suara itu akhirnya pecah.

Tidak keras.

Tapi aku tahu semua orang mendengarnya.

“Aku enggak marah karena Ayah enggak punya uang banyak.”

Aku menahan napas.

“Aku marah karena Ayah bahkan enggak tanya.”

Ayah menatap lantai.

“Ayah tinggal satu rumah sama aku.”

Mataku panas.

“Nilai keluar, Ayah enggak tanya. Surat enggak datang, Ayah enggak tanya. Semua orang bilang aku gagal, Ayah juga enggak tanya.”

Aku menelan ludah.

“Kalau tadi aku enggak menemukan amplop itu, mungkin bulan depan aku sudah kerja di toko roti dan semua orang percaya aku memang enggak cukup pintar untuk kuliah.”

Tidak ada yang menyela.

Kemudian Om Arif berkata,

“Besok pagi kita urus surat penggantinya.”

Aku menoleh.

“Bisa?”

“Kalau data kelulusan sudah ada di sistem, tentu bisa ditanyakan ke kampus.”

Dia mengambil ponselnya.

“Aku antar kamu kalau perlu.”

Untuk pertama kalinya sejak sore, bahuku terasa sedikit lebih ringan.

Pagi berikutnya, aku bangun pukul enam.

Aku kira rumah akan terasa aneh.

Ternyata jauh lebih aneh daripada yang kubayangkan.

Tidak ada suara Ibu Rina dari dapur.

Tidak ada daftar pekerjaan rumah.

Tidak ada perintah menyiapkan sarapan.

Ayah sudah duduk di meja makan ketika aku keluar kamar.

Di depannya ada dua cangkir teh.

“Nad.”

Aku berhenti.

“Duduk sebentar.”

Aku duduk di kursi paling jauh.

Ayah tidak protes.

Dia terlihat seperti tidak tidur semalaman.

“Ayah mau minta maaf.”

Aku menatap meja.

“Ayah salah.”

Aku tetap diam.

“Ayah terlalu lama memilih supaya rumah enggak ribut.”

Dia menarik napas.

“Ayah kira kalau Ayah diam, semuanya akan baik-baik saja.”

Aku menatapnya.

“Ternyata diam juga memilih pihak.”

Ayah menutup mata sebentar.

“Iya.”

Jawaban itu sederhana.

Dan untuk pertama kalinya, aku merasa dia benar-benar mengerti.

“Ayah enggak akan minta kamu langsung maafin.”

Aku mengangguk.

“Ayah cuma mau bilang, mulai sekarang urusan kuliahmu Ayah yang urus bareng kamu. Langsung.”

“Kalau uangnya enggak cukup?”

“Kita cari jalan.”

“Dinda?”

“Dinda juga tetap kuliah.”

Aku mengerutkan dahi.

Ayah melanjutkan,

“Enggak ada lagi cerita satu anak harus mengalah supaya anak lain bisa jalan.”

Hari itu Om Arif mengantarku ke Yogyakarta.

Ternyata surat fisik bukan satu-satunya bukti penerimaan.

Data kelulusanku tercatat resmi dalam sistem.

Setelah identitasku diverifikasi, petugas menjelaskan prosedur daftar ulang dan memberiku cetakan dokumen pengganti.

Aku memegang lembar itu dengan kedua tangan.

Nadira Prameswari.

Diterima.

Fakultas Hukum.

Aku membaca kalimat itu tiga kali.

Om Arif yang berdiri di sebelahku tersenyum.

“Foto dulu.”

Aku tertawa kecil.

Dia memotretku di depan gedung administrasi.

Aku tidak tahu kenapa, tapi ketika melihat hasil fotonya, aku menangis.

Bukan tangisan besar.

Air mataku hanya jatuh begitu saja.

Om Arif tidak bertanya.

Dia hanya berdiri di sebelahku sampai aku selesai.

Seminggu kemudian, hasil seleksi yayasan keluar.

Aku mendapatkan bantuan biaya hidup selama tahun pertama.

Tidak penuh.

Tapi cukup untuk membuat beban jauh lebih ringan.

Ketika kutunjukkan emailnya kepada Ayah, dia membaca dari awal sampai akhir.

“Selamat.”

Itu hanya satu kata.

Tapi kali ini dia mengatakannya sambil menatapku.

Aku menyimpan momen itu.

Bukan karena semuanya langsung sembuh.

Tapi karena itu adalah awal.

Dengan Ibu Rina, keadaan jauh lebih rumit.

Ayah meminta dia mengembalikan semua dokumen milikku yang selama ini disimpan di lemari utama.

Akta kelahiran.

Kartu keluarga.

Ijazah.

Sertifikat lomba.

Semuanya dipindahkan ke map yang kusimpan sendiri.

Ayah juga menghentikan kebiasaan menyerahkan seluruh urusan pendidikan kami kepada Ibu Rina.

Dinda mendapatkan bagian yang sama.

Pada suatu malam, Dinda mengetuk pintuku.

Dia berdiri sambil memegang gaun kuning yang dipakainya saat makan keluarga.

“Nad.”

“Ya?”

Dia menatap lantai.

“Aku mau minta maaf.”

Aku tidak menjawab.

“Aku memang senang waktu Mama bilang kamu mungkin gagal.”

Dia mulai menangis.

“Karena aku takut kalau kamu diterima kampus bagus dan aku enggak, semua orang bakal bandingin.”

Aku menatapnya lama.

“Jadi kamu tahu Mama bohong?”

Dia menggeleng cepat.

“Aku enggak tahu soal surat.”

Dia mengusap hidung.

“Aku cuma percaya cerita Mama.”

Aku mengangguk.

“Aku percaya.”

Dia menatapku, kaget.

“Tapi bukan berarti aku langsung baik-baik saja.”

Dinda mengangguk.

“Iya.”

Sebelum pergi, dia meletakkan sesuatu di mejaku.

Sebuah kotak kecil.

Di dalamnya ada pulpen baru.

Tidak mahal.

Tapi di tutup kotaknya, dia menulis dengan spidol,

Buat calon pengacara keluarga. Jangan galak-galak kalau nanti aku kena tilang.

Aku tertawa untuk pertama kalinya bersamanya setelah berbulan-bulan.

Dua bulan kemudian, aku pindah ke Yogyakarta.

Kamar kosku kecil.

Hanya ada tempat tidur satu orang, meja belajar, rak plastik, dan jendela yang menghadap tembok rumah sebelah.

Tapi semuanya milikku.

Tidak ada daftar pekerjaan rumah di pintu kulkas.

Tidak ada orang yang membuka suratku.

Tidak ada orang yang menentukan apakah mimpiku boleh sampai kepadaku atau tidak.

Pada hari pertama kuliah, Ayah mengantarku.

Dia membawakan satu kardus buku dan terlalu banyak makanan.

Sebelum pulang, dia berdiri canggung di depan pintu kos.

“Nad.”

“Ya?”

“Ayah masih banyak utang sama kamu.”

Aku menggeleng.

“Aku enggak butuh Ayah bayar semuanya sekaligus.”

Dia terdiam.

“Cukup jangan diam lagi.”

Ayah mengangguk.

“Iya.”

Dia menatapku.

Kali ini tidak hanya satu detik.

“Belajar yang benar.”

Aku tersenyum.

“Pasti.”

Ibu Rina tidak ikut mengantar.

Hubungan kami tidak berubah menjadi hangat seperti dalam sinetron.

Aku juga tidak tiba-tiba memanggilnya Ibu dengan penuh kasih.

Beberapa luka tidak selesai hanya karena seseorang akhirnya mengaku salah.

Tapi Ayah menetapkan batas yang jelas.

Dokumenku tidak boleh disentuh.

Keputusan pendidikan tidak boleh dibuat tanpa aku.

Uang kuliah dibicarakan terbuka.

Dinda juga tidak lagi boleh dijadikan alasan untuk mengorbankanku, dan aku tidak boleh dijadikan standar untuk merendahkan Dinda.

Perlahan, rumah kami berubah.

Bukan menjadi rumah sempurna.

Menjadi rumah yang setidaknya mulai belajar jujur.

Setahun kemudian, saat libur semester, aku pulang.

Di meja makan ada delapan orang lagi.

Hampir seperti malam ketika semuanya terbongkar.

Om Arif duduk di tempat yang sama.

Tante Mira membawa buah.

Dinda sekarang kuliah di kampus swasta jurusan desain komunikasi visual dan terlihat jauh lebih bahagia daripada ketika mengejar jurusan yang dipilih ibunya.

Ketika semua orang selesai makan, Om Arif bertanya,

“Gimana kuliahnya, calon pengacara?”

Aku tertawa.

“IP semester kemarin 3,78.”

“Wah!”

Tante Mira bertepuk tangan.

Dinda langsung berkata,

“Jangan besar kepala, Nad. Aku 3,81.”

Aku menoleh.

“Serius?”

Dia mengangkat dagu.

“Serius.”

Kami tertawa.

Lalu aku menyadari sesuatu.

Ayah sedang melihatku.

Bukan makanannya.

Bukan ponselnya.

Bukan Ibu Rina.

Aku.

Tatapannya penuh kebanggaan yang dulu sangat ingin kulihat.

Dulu mungkin aku akan melakukan apa saja demi tatapan itu.

Sekarang aku sudah tahu sesuatu yang lebih penting.

Nilai diriku tidak pernah bergantung pada apakah Ayah berani menatapku atau tidak.

Aku sudah belajar berdiri untuk diriku sendiri sebelum orang lain memilih berdiri di sampingku.

Setelah makan, aku membantu membawa piring ke dapur.

Ketika membuka pintu belakang untuk membuang sisa sayur, aku melihat tempat sampah organik yang sama.

Aku berhenti sebentar.

Setahun lalu, di sanalah aku menemukan amplop kosong yang nyaris mengubah seluruh hidupku.

Sekarang, di dalam tas yang tergantung di bahuku, ada kartu mahasiswa, buku hukum perdata, dan surat pemberitahuan bahwa bantuan pendidikanku diperpanjang untuk satu tahun lagi.

Aku menutup tempat sampah.

Kemudian aku masuk kembali.

Di ruang makan, Ayah memanggil,

“Nadira, sini. Om Arif mau foto keluarga.”

Aku berjalan ke sana.

Dinda menarik tanganku agar berdiri di sebelahnya.

Ayah berdiri di belakang kami.

Kamera menghitung mundur.

Tiga.

Dua.

Satu.

Dan kali ini, ketika foto diambil, tidak ada seorang pun yang menundukkan wajah.