BAGIAN 2
Aku tidak kembali masuk ke rumah.
Aku memotret setiap lembar surat koperasi itu, memasukkannya kembali ke amplop, lalu meletakkannya persis seperti semula di dompet obat Bapak.
Senin pagi, sebelum masuk kantor, aku menelepon nomor Koperasi Mebel Sumber Rejeki yang tercetak di surat.
Perempuan yang menjawab tidak mau membicarakan data anggota melalui telepon.
Aku mengerti.
Aku hanya bertanya satu hal.
“Kalau anggota koperasi meminta pencairan ke rekening orang lain, apakah bisa?”
“Biasanya tidak langsung, Bu. Kami minta rekening atas nama anggota. Kalau ada kondisi khusus, ada verifikasi dan dokumen tambahan.”
“Kalau anggota sudah lanjut usia?”
“Lebih ketat lagi. Bisa diminta datang atau diverifikasi langsung.”
Aku mengucapkan terima kasih.

Setidaknya uang itu belum tentu sudah pergi.
Saat jam makan siang, Dimas menelepon.
Tidak ada basa-basi.
“Mbak ambil surat dari dompet Bapak?”
“Aku tidak mengambil.”
“Tapi Mbak baca?”
Aku diam sebentar.
“Jadi kamu memang tahu soal Rp412 juta.”
Napasnya terdengar berat.
“Itu urusan Bapak.”
“Kalau urusan Bapak, kenapa rekeningmu yang ditulis?”
“Karena lebih gampang.”
“Lebih gampang untuk siapa?”
Telepon langsung ditutup.
Sore harinya Bu Wati datang ke kantorku.
Ia duduk di kursi tamu dengan tas kain di pangkuannya. Wajahnya tampak lebih tua daripada Sabtu kemarin.
“Ratih,” katanya pelan, “jangan melihat semuanya seolah kami sedang merampok Bapakmu.”
Aku menyandarkan punggung.
“Kalau begitu jelaskan.”
Ia tidak langsung menjawab.
Aku menunggu.
Akhirnya ia membuka tas dan mengeluarkan sebuah map plastik bening yang sudah menguning.
Di dalamnya ada fotokopi sertifikat tanah di Klaten, bukti penjualan, dan beberapa lembar transfer lama.
“Tahun 2014,” katanya, “bengkel Bapakmu hampir tutup.”
Aku tahu masa itu.
Yang tidak kutahu adalah apa yang terjadi setelahnya.
Bu Wati mendorong sebuah bukti transfer kepadaku.
Rp185 juta.
Pengirimnya Wati Lestari.
Penerimanya rekening usaha Bapak.
“Tanah itu warisan orang tuaku,” katanya. “Aku jual karena Bapakmu bilang cuma butuh waktu enam bulan.”
Aku menatap tanggalnya.
Dua belas tahun lalu.
“Kenapa aku tidak pernah tahu?”
“Karena aku tidak mau kamu berpikir aku sedang menagih kepada keluarga suamiku.”
Aku tidak bisa langsung menjawab.
Selama bertahun-tahun aku mengira akulah yang paling banyak berkorban setelah usaha Bapak melemah.
Ternyata sebelum aku membayar renovasi rumah, sebelum aku mentransfer uang bulanan, perempuan yang selalu kuanggap sedikit terlalu keras itu pernah menjual tanah warisannya sendiri.
“Bapak janji mengembalikan?” tanyaku.
Bu Wati mengangguk.
“Katanya kalau simpanan koperasi cair.”
Jadi itulah jawabannya, pikirku.
Rp412 juta itu bukan sedang dicuri.
Sebagian adalah utang lama Bapak kepada istrinya.
Untuk beberapa menit aku merasa malu karena sudah menyusun tuduhan di kepalaku.
Lalu aku teringat formulir.
“Kalau begitu kenapa rekening Dimas?”
Bu Wati menatap meja.
“Karena Dimas bilang lebih baik sekalian menyelesaikan semua.”
“Semua apa?”
Pintu ruang tamuku terbuka.
Dimas berdiri di sana.
Entah sejak kapan ia menunggu di luar.
“Utang Ibu,” katanya. “Utang tokoku. Biaya Bapak. Semua.”
Aku berdiri.
“Siapa yang mengundangmu?”
“Ibu.”
Bu Wati terlihat tidak nyaman.
Dimas masuk dan menutup pintu.
“Rp185 juta dua belas tahun lalu sekarang nilainya bukan Rp185 juta lagi, Mbak.”
“Bu Wati meminjamkan uang atau membeli investasi?”
“Jangan main kata.”
“Aku tidak main kata. Aku sedang mencoba tahu berapa sebenarnya yang kalian anggap hak kalian.”
Dimas menjawab tanpa ragu.
“Rp300 juta untuk Ibu. Sisanya buat bantu usahaku.”
Aku menatap Bu Wati.
“Bu?”
Ia tidak menjawab.
Itu sudah cukup.
Malamnya aku datang ke rumah Bapak.
Ia sedang duduk di teras, kaus tipis dan sarung kotak-kotak, tongkat bersandar di kursinya.
Aku duduk di sebelahnya.
“Pak, Bapak memang mau mengembalikan Rp185 juta ke Bu Wati?”
“Iya.”
“Kalau itu keputusan Bapak, aku tidak akan menghalangi.”
Ia menoleh, mungkin tidak menyangka.
“Tapi Bapak juga mau memberikan semua sisanya ke Dimas?”
Bapak meremas ujung sarungnya.
“Tokonya susah.”
“Berapa?”
“Dia bilang butuh bantuan.”
“Berapa, Pak?”
Ia tidak menjawab.
Aku tahu saat itu ada sesuatu yang belum ia katakan.
Aku menarik napas.
“Begini saja. Uang koperasi masuk dulu ke rekening Bapak sendiri. Rp185 juta untuk Bu Wati kalau itu utang yang memang Bapak akui. Sisanya untuk biaya kesehatan Bapak. Kalau nanti Bapak mau membantu Dimas, putuskan setelah tahu jumlah utangnya.”
Bapak menunduk.
“Kamu marah?”
“Aku marah karena semua orang menyimpan setengah cerita.”
Aku menggenggam tangannya.
“Tapi aku tidak mau mengambil uang Bapak.”
Keesokan paginya aku berniat menjemput Bapak agar kami bisa pergi bersama ke koperasi.
Ketika sampai, pintu kamarnya terbuka.
Tempat tidur kosong.
Tongkatnya masih berada di samping lemari.
Ponsel Bapak ada di meja.
“Bapak ke mana?”
Bu Wati keluar dari dapur.
“Dibawa Dimas.”
“Ke mana?”
“Katanya urus bank.”
Aku mengambil ponsel Bapak.
Layar masih menyala karena ada pesan baru.
Nama pengirimnya Kantor PPAT R. Kusuma.
Aku mengenali nama itu.
Nama yang tercetak kecil di halaman belakang map cokelat yang Sabtu lalu disodorkan Dimas kepadaku.
Pesannya singkat:
Kami tunggu pukul 11.30 untuk penandatanganan dokumen pengikatan jaminan SHM sesuai pengajuan kredit Rp450.000.000 atas nama Saudara Dimas Pranoto. Mohon pemilik sertifikat membawa KTP asli.
Aku melihat jam.
11.07.
Bapak tidak membawa tongkatnya.
Dan seseorang sedang membawanya untuk menandatangani rumahnya sebagai jaminan.
Saat itu aku tahu persoalannya bukan lagi sekadar Rp412 juta. Kalau kamu jadi aku, kamu akan mengejar mereka sekarang atau membiarkan Bapak membuat keputusan sendiri meski kamu tahu ada terlalu banyak hal yang belum dijelaskan kepadanya?
BAGIAN 3
Aku tidak menunggu jawaban Bu Wati.
“Kantornya di mana?”
Ia menatap ponsel di tanganku.
“Ratih…”
“Alamatnya.”
“Mereka cuma mau bicara dulu.”
“Kalau cuma bicara, tidak ada pesan tentang penandatanganan.”
Bu Wati meremas kain lap yang dibawanya.
“Aku bilang ke Dimas jangan buru-buru.”
“Dan dia tetap membawa Bapak?”
Bu Wati menutup mata sebentar.
“Di Jalan Slamet Riyadi arah Kartasura. Gedung dua lantai dekat toko elektronik.”
Aku mengambil kunci mobil.
Bu Wati ikut berjalan di belakangku.
“Aku ikut.”
Aku berhenti di dekat pagar.
“Bu, sebenarnya Ibu setuju rumah ini dijaminkan atau tidak?”
Pertanyaanku membuatnya diam.
Untuk pertama kalinya sejak masalah ini dimulai, aku melihat ketakutan jelas di wajahnya.
“Aku setuju kalau memang cuma sementara,” katanya.
“Itu bukan jawaban.”
“Dimas bilang paling lama dua tahun.”
“Sabtu dia bilang enam bulan.”
Bu Wati tidak berkata apa-apa lagi.
Aku mengerti.
Dimas memberi angka berbeda kepada orang berbeda.
Kami berangkat.
Sepanjang jalan, Bu Wati duduk sambil memegang tasnya dengan kedua tangan. Sesekali ia membuka ponsel, lalu menutupnya lagi.
“Berapa utang Dimas sebenarnya?” tanyaku.
“Dia tidak pernah bilang semua.”
“Yang Ibu tahu?”
“Supplier sekitar seratus lima puluh juta.”
“Itu saja?”
Bu Wati menelan ludah.
“Ada pinjaman bank.”
“Berapa?”
“Katanya delapan puluh.”
Aku hampir mengatakan sesuatu, tetapi menahannya.
“Dan dia mau meminjam Rp450 juta?”
Bu Wati memandang keluar jendela.
“Dia bilang kalau dapat modal baru, toko bisa kembali ramai.”
Kalimat itu terlalu familiar.
Bapak dulu juga sering berkata demikian ketika bengkel mulai kesulitan.
Satu pinjaman untuk menutup masalah lama.
Lalu pinjaman berikutnya supaya pinjaman pertama tidak terasa sia-sia.
Aku menekan pedal gas sedikit lebih dalam.
Kami tiba pukul 11.26.
Di ruang tunggu lantai dua, Dimas sedang berdiri di depan meja resepsionis. Bapak duduk di kursi dengan napas agak berat.
Tanpa tongkatnya.
Tangannya memegang map cokelat.
Ketika melihatku, wajah Dimas langsung berubah.
“Mbak ngapain ke sini?”
Aku tidak menjawab.
Aku berjalan ke Bapak.
“Pak, kenapa tidak bawa tongkat?”
Bapak terlihat kesal sekaligus malu.
“Lupa.”
“Dimas yang jemput?”
“Iya.”
Seorang perempuan sekitar lima puluhan keluar dari ruangan di belakang resepsionis.
“Pak Hadi?”
Dimas segera berdiri lebih tegak.
“Iya, Bu. Kami sudah siap.”
Aku mengangkat tangan.
“Maaf. Sebelum ada penandatanganan, saya ingin memastikan Bapak saya benar-benar memahami dokumen yang akan ditandatangani.”
Dimas mendesis.
“Mbak Ratih, cukup.”
Perempuan itu memandang kami bergantian.
“Saya Rina Kusuma. Silakan masuk dulu. Tidak perlu bicara keras di ruang tunggu.”
Kami berlima masuk ke ruangan.
Ada meja panjang, beberapa kursi, dan tumpukan dokumen yang disusun rapi.
Seorang petugas kredit dari sebuah BPR sudah menunggu.
Aku tidak mengenalnya.
Ia memperkenalkan diri sebagai Pak Anwar.
Dimas duduk di sebelah Bapak.
Aku sengaja mengambil kursi di seberangnya.
Bu Wati duduk paling ujung.
Bu Rina membuka map.
“Pak Hadi,” katanya kepada Bapak, “saya perlu mendengar langsung dari Bapak. Sertifikat rumah atas nama Bapak, benar?”
“Benar.”
“Dan Bapak bersedia menjadikan rumah sebagai jaminan untuk fasilitas kredit atas nama Pak Dimas?”
Bapak terdiam cukup lama.
Dimas menyentuh lengannya.
“Pak…”
Bu Rina langsung berkata, “Mohon jangan dibantu jawab.”
Dimas menarik tangan.
Aku tidak merasa menang.
Justru dadaku terasa lebih berat.
Bapak akhirnya berkata, “Saya mau bantu anak.”
“Apakah Bapak memahami kalau kredit bermasalah, jaminan bisa terkena proses sesuai perjanjian kredit?”
Bapak mengangguk pelan.
“Paham.”
Dimas menatapku seolah ingin berkata, lihat, semuanya selesai.
Aku membuka tas.
Aku mengeluarkan foto surat koperasi yang sudah kucetak pagi tadi.
“Pak, sebelum Bapak tanda tangan, aku cuma ingin tanya satu hal.”
Dimas langsung memukul meja dengan ujung jarinya.
“Ini bukan urusan Mbak.”
Bapak mengangkat wajah.
“Tanya apa?”
“Kalau Bapak masih punya Rp412 juta dari koperasi, kenapa Bapak harus menjaminkan rumah Rp450 juta untuk Dimas?”
Bu Rina berhenti membalik dokumen.
Pak Anwar menoleh kepada Dimas.
“Dana koperasi apa?”
Dimas berdiri.
“Itu tidak ada hubungannya dengan pengajuan.”
“Duduk,” kata Bapak.
Suara Bapak pelan.
Tetapi Dimas duduk.
Aku menatap Bapak.
“Pak, aku tahu Bapak mau membayar kembali Rp185 juta kepada Bu Wati. Aku setuju itu harus diselesaikan kalau memang itu janji Bapak.”
Dimas mendengus.
“Bukan cuma seratus delapan puluh lima.”
Aku menoleh.
“Biar Bapak yang bicara.”
Ia membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Bapak menatap meja.
“Aku pernah janji sama Dimas.”
Kata-kata itu membuat Bu Wati mengangkat kepala.
“Janji apa?”
Bapak mengusap lutut kirinya.
“Waktu tokonya hampir tutup tahun lalu. Aku bilang kalau uang koperasi keluar, aku bantu.”
“Berapa?” tanyaku.
“Tidak bilang angka.”
Dimas tertawa tanpa humor.
“Sekarang semua pura-pura lupa.”
Bu Wati menatap anaknya.
“Dimas, Bapak bilang bantu. Bukan kasih semuanya.”
“Kalau toko tutup, siapa yang rugi? Aku sendiri?”
“Aku tidak bilang begitu.”
“Selama ini siapa yang bawa Bapak ke rumah sakit? Siapa yang datang kalau malam-malam beliau sesak?”
Aku menjawab, “Kamu.”
“Nah.”
“Tapi merawat Bapak tidak membuatmu otomatis berhak atas rumahnya.”
Wajah Dimas memerah.
“Dan mentransfer uang tiap bulan juga tidak membuat Mbak paling berjasa.”
“Itu juga benar.”
Jawabanku membuatnya terdiam.
Aku melanjutkan.
“Aku tidak sedang lomba siapa paling berkorban. Aku cuma mau tidak ada orang yang memakai pengorbanan sebagai alasan mengambil keputusan untuk Bapak.”
Bapak tiba-tiba menutup wajahnya dengan telapak kanan.
“Aku yang salah.”
Tidak ada yang bicara.
Bu Wati bergerak mendekat.
“Pak?”
Bapak menurunkan tangannya.
“Aku bilang ke Ratih rumah ini nanti aman buat dia karena dia yang bayar renovasi.”
Aku menatapnya.
Aku memang pernah mendengar kalimat itu.
Lima tahun lalu, setelah atap bocor parah, aku menghabiskan hampir Rp96 juta untuk mengganti rangka, memperbaiki dua kamar mandi, dan meninggikan lantai belakang.
Saat aku mengatakan biaya itu terlalu besar, Bapak menjawab, “Nanti rumah ini juga jadi tempatmu pulang.”
Aku menganggapnya hanya ucapan seorang ayah.
Ternyata kepada Dimas, ia juga membuat janji.
Bapak meneruskan.
“Aku bilang ke Dimas nanti uang koperasi bisa bantu toko.”
Ia menoleh ke Bu Wati.
“Ke kamu aku janji tanahmu aku ganti.”
Bu Wati menunduk.
“Kenapa semua janji itu tidak pernah dibicarakan bersama?” tanyaku.
Bapak menggeleng.
“Karena setiap ngomong uang kalian bertengkar.”
Aku menatapnya lama.
“Pak, kita bertengkar sekarang justru karena Bapak tidak pernah mau bicara.”
Ruangan terasa sesak, meski pendingin udara cukup dingin.
Bapak tidak membantah.
“Aku pikir kalau ada uang nanti semua bisa dibereskan.”
“Uang tidak bisa membereskan janji yang berbeda-beda kepada tiga orang.”
Dimas berdiri lagi.
“Jadi sekarang apa? Karena Mbak Ratih datang, pengajuan dibatalkan?”
Pak Anwar berkata tenang, “Yang menentukan pemilik jaminan, Pak. Kami juga perlu memastikan semua pihak memahami proses.”
Dimas menunjukku.
“Dia bahkan tidak tinggal sama Bapak.”
Aku berdiri.
“Betul. Aku tidak tinggal bersama Bapak. Aku juga tidak punya hak memutuskan rumah Bapak.”
Dimas terlihat sedikit lega.
“Tapi aku punya hak memutuskan uangku sendiri.”
Semua mata mengarah kepadaku.
Aku menatap Bapak.
“Pak, selama ini aku membayar obat, fisioterapi, dan sebagian kebutuhan rumah karena kupikir itu membantu Bapak hidup tenang. Kalau rumah ini Bapak jadikan jaminan untuk utang usaha yang tidak pernah dibuka angkanya kepada kami, aku tidak sanggup terus membayar semuanya seolah tidak ada yang berubah.”
Bu Wati berbisik, “Ratih…”
“Aku tidak mengancam.”
Aku memandangnya.
“Aku sedang menetapkan batas. Kalau Bapak memilih menanggung risiko usaha Dimas, itu pilihan Bapak. Tapi jangan sekaligus berharap aku terus menanggung semua biaya Bapak supaya Dimas bisa memakai aset dan uang Bapak.”
Wajah Bapak berubah.
Bukan marah.
Lebih seperti seseorang yang baru menyadari satu keputusan memiliki harga yang nyata.
Ia menoleh kepada Dimas.
“Utangmu berapa sebenarnya?”
Dimas bersandar ke kursi.
“Kita sudah bahas.”
“Aku tanya sekarang.”
“Totalnya masih bisa diatur.”
“Berapa?”
“Pak…”
“Berapa?”
Dimas menggeser rahangnya.
“Sekitar dua ratus delapan puluh.”
Bu Wati berdiri.
“Kamu bilang ke Ibu dua ratus tiga puluh.”
“Karena ada tagihan baru.”
“Dan pinjaman empat ratus lima puluh?”
“Kalau cuma ambil pas-pasan, enam bulan lagi kita kekurangan modal lagi.”
Aku memejamkan mata sebentar.
Jadi benar.
Ini bukan pinjaman penyelamat selama enam bulan.
Dimas ingin menutup utang lama sekaligus mengambil modal baru, dengan rumah Bapak sebagai bantalan risiko.
Bu Wati menatap anaknya seolah baru pertama kali melihat bagian dari rencana yang selama ini sengaja tidak diperlihatkan.
“Kamu bilang setelah koperasi cair, pinjamannya bisa diperkecil.”
Dimas membalas, “Ibu juga tahu toko perlu uang.”
“Aku tahu perlu uang. Aku tidak tahu kamu mau ambil sebanyak ini.”
“Karena kalau aku jelaskan semua, kalian panik.”
Aku hampir tertawa.
Kalimat itu persis alasan yang selalu dipakai keluarga untuk menyembunyikan sesuatu.
Bu Rina menutup map.
“Saya rasa penandatanganan hari ini sebaiknya tidak dilanjutkan.”
Dimas berbalik kepadanya.
“Bu, semua dokumen sudah lengkap.”
“Dokumen bisa lengkap. Keputusan keluarga belum tentu.”
“Ini bukan keputusan keluarga.”
“Benar,” katanya. “Ini keputusan pemilik sertifikat. Dan saat ini Pak Hadi masih sedang bertanya mengenai penggunaan dananya. Saya tidak akan terburu-buru.”
Bapak menatap Dimas.
“Aku tidak jadi tanda tangan hari ini.”
Dimas berdiri begitu cepat sampai kursinya bergeser.
“Serius, Pak?”
Bapak mengangguk.
“Serius.”
“Supplierku jatuh tempo Jumat.”
“Kita cari cara lain.”
Dimas tertawa pahit.
“Kita?”
Ia menunjuk satu per satu.
“Mbak Ratih pulang ke rumahnya. Ibu tinggal di sini. Bapak duduk di teras. Yang menghadapi orang toko aku.”
Aku tidak membalas.
Karena ada bagian dari ucapannya yang benar.
Ia memang berada di tekanan yang tidak kami jalani.
Tetapi kebenaran itu tidak membuat caranya menjadi benar.
Dimas mengambil kunci mobil.
Sebelum keluar, ia berkata kepada Bapak, “Nanti kalau tokoku tutup, jangan bilang aku tidak pernah mencoba.”
Pintu menutup keras.
Bapak menunduk.
Bu Wati mulai menangis tanpa suara.
Aku tidak merasa lega.
Aku hanya merasa satu lapisan kebohongan akhirnya dibuka, dan di bawahnya ternyata masih ada bertahun-tahun rasa tidak enak, utang budi, dan janji yang tidak pernah berani dibicarakan.
Kami pulang dengan mobilku.
Bapak duduk di belakang bersama Bu Wati.
Setelah beberapa menit, ia berkata, “Aku bikin kalian semua saling curiga.”
Aku melihatnya lewat kaca tengah.
“Bapak bukan satu-satunya yang salah.”
“Tapi aku mulai.”
Tidak ada yang menjawab.
Sesampainya di rumah, aku membuat teh.
Kami bertiga duduk di meja makan yang sama tempat map cokelat disodorkan kepadaku beberapa hari sebelumnya.
Kali ini tidak ada Dimas.
Tidak ada formulir.
Hanya tiga gelas teh dan sebuah buku tulis tua yang tiba-tiba dibawa Bapak dari lemari kamarnya.
“Apa itu?” tanyaku.
Bapak meletakkannya di meja.
“Catatan.”
Aku membukanya.
Tulisan Bapak sudah mulai goyah pada halaman-halaman terakhir, tetapi halaman lama masih jelas.
Ada angka-angka.
Wati, tanah Klaten: 185.000.000.
Beberapa halaman kemudian:
Ratih, atap dan kamar mandi: 96.400.000.
Lalu:
Ratih, biaya setelah stroke.
Di bawahnya ada daftar transfer bulanan.
Aku menatap Bapak.
“Bapak mencatat semua?”
“Aku tidak mau lupa siapa yang bantu.”
Bu Wati menghapus air mata.
“Lalu buat apa dicatat kalau tidak pernah dibicarakan?”
Bapak memandang buku itu.
“Mungkin karena aku malu.”
Ia tersenyum kecil, pahit.
“Dulu aku yang bantu orang. Lama-lama kalian semua yang bantu aku.”
Aku merasakan kemarahanku melemah sedikit.
Bukan hilang.
Hanya berubah bentuk.
Bapak tidak sedang merancang penipuan.
Ia seorang laki-laki tua yang terlalu lama mengukur harga dirinya dari kemampuannya menjadi pemberi.
Ketika posisinya berbalik, ia memilih diam.
Diam itu memberi ruang bagi semua orang membuat cerita sendiri.
Aku mengira Bu Wati menghabiskan uang.
Bu Wati mengira aku akan menuntut rumah karena membayar renovasi.
Dimas menganggap janji “akan dibantu” sebagai kepastian bahwa uang koperasi pada akhirnya miliknya.
Bapak menganggap semuanya bisa diselesaikan nanti.
“Nanti” ternyata hampir membuat rumahnya masuk sebagai jaminan Rp450 juta.
Bu Wati menarik napas.
“Ada satu hal lagi.”
Aku menatapnya.
Ia menunduk ke gelas.
“Uang yang kamu kirim beberapa bulan terakhir tidak semuanya dipakai buat Bapak.”
Aku tidak bergerak.
“Berapa?”
“Tidak banyak setiap bulan.”
“Bu, berapa?”
Ia mulai mengusap jari telunjuk dengan ibu jarinya.
Kebiasaan yang baru kusadari selalu dilakukan ketika ia gugup.
“Total sekitar Rp12 juta.”
“Ke mana?”
Bu Wati tidak menjawab.
Aku sudah tahu.
“Dimas?”
Ia mengangguk.
“Untuk gaji pegawainya. Dia bilang cuma pinjam tiga minggu.”
Aku meletakkan cangkir.
“Dan Ibu pikir nanti bisa diganti dari uang koperasi.”
Bu Wati menatapku dengan mata merah.
“Iya.”
Aku berdiri dan berjalan ke dapur.
Bukan karena ingin membuat adegan.
Aku hanya perlu beberapa detik agar tidak mengatakan sesuatu yang akan kusesali.
Aku membuka keran, mencuci satu sendok yang sebenarnya sudah bersih, lalu mematikannya.
Ketika kembali, Bapak dan Bu Wati masih duduk di tempat yang sama.
“Kenapa tidak minta kepadaku?” tanyaku.
Bu Wati menjawab pelan, “Karena kamu pasti bilang tidak.”
Aku tertawa kecil.
“Itu berarti Ibu tahu aku tidak setuju.”
Ia menunduk.
Kalimat sederhana itu lebih menyakitkan daripada semua alasan sebelumnya.
Bukan karena Rp12 juta akan membuatku miskin.
Tetapi karena uang yang kukirim sambil berpikir sedang membeli obat untuk Bapak ternyata dianggap bagian dari kas keluarga yang bisa dipindahkan selama niatnya dianggap baik.
“Mulai bulan depan aku tidak transfer uang kebutuhan Bapak ke rekening Ibu lagi,” kataku.
Bu Wati mengangkat kepala.
Aku melanjutkan sebelum ia salah mengerti.
“Obat kubayar langsung ke apotek. Pengasuh kubayar langsung. Fisioterapi langsung. Kalau ada belanja lain, kirim jumlahnya.”
“Jadi kamu tidak percaya Ibu?”
“Aku percaya Ibu sayang Bapak.”
Aku menatapnya.
“Tapi soal uang, kepercayaan kita sudah berubah.”
Bu Wati membuka mulut lalu menutupnya lagi.
Bapak berkata, “Itu adil.”
Bu Wati menoleh kepadanya.
“Pak…”
“Iya. Kamu salah pakai uang Ratih.”
Ia diam.
Aku tidak menyangka Bapak akan mengatakan itu.
Selama hidupnya, ia lebih sering meredakan daripada menegaskan.
Mungkin hari di kantor PPAT tadi membuat sesuatu bergeser dalam dirinya juga.
Dua hari kemudian, kami bertiga datang ke koperasi.
Dimas tidak ikut.
Bapak menjalani verifikasi sendiri. Formulir lama dengan rekening Dimas dibatalkan. Ia meminta dana ditransfer ke rekening atas namanya sendiri.
Prosesnya tidak selesai dalam satu jam.
Ada dokumen yang harus diperbarui, tanda tangan yang dicek, dan beberapa hari menunggu.
Aku justru senang.
Setelah semua yang terjadi, melihat sebuah lembaga tidak mau memindahkan ratusan juta rupiah hanya berdasarkan omongan membuatku sedikit lebih tenang.
Delapan hari kemudian, Rp412.680.000 masuk ke rekening Bapak.
Malam itu kami kembali duduk di meja makan.
Dimas datang setelah Bu Wati meneleponnya.
Ia terlihat lebih kurus.
Tidak ada lagi nada sok tenang.
Ia membawa dua lembar tagihan supplier dan satu ringkasan pinjaman bank.
“Ini yang Mbak mau, kan?” katanya sambil meletakkan dokumen.
Aku membacanya.
Utang dagang: Rp164 juta.
Sisa pinjaman bank: Rp86 juta.
Kartu kredit usaha dan cicilan lain: hampir Rp31 juta.
Totalnya memang sekitar Rp281 juta.
“Kenapa bisa sebesar ini?” tanya Bapak.
Dimas mengusap wajah.
“Dua proyek renovasi gagal bayar. Aku tetap harus bayar bahan. Setelah itu aku gali tutup lubang.”
“Kenapa tidak bilang?”
Dimas tertawa hambar.
“Karena semua orang di keluarga ini jago sekali soal tidak bilang.”
Tidak ada yang bisa membantah.
Bu Wati mendorong piring pisang goreng ke tengah meja.
Tidak ada yang mengambil.
Bapak membuka buku catatannya.
“Aku akan bayar utangku ke Ibumu.”
Dimas langsung berkata, “Berarti tiga ratus?”
“Seratus delapan puluh lima.”
“Itu uang dua belas tahun lalu.”
“Dan waktu Ibumu memberi uang itu, tidak ada kesepakatan bunga.”
Dimas memandang Bu Wati.
“Ibu diam saja?”
Bu Wati menjawab, “Karena dari awal memang Rp185 juta.”
“Tapi tanah itu kalau tidak dijual sekarang mungkin sudah…”
“Tanahnya sudah dijual, Mas.”
Suara Bu Wati berubah.
“Jangan ubah pengorbanan Ibu jadi angka supaya utangmu bisa ikut masuk.”
Dimas terdiam.
Aku menatap Bu Wati.
Ada sesuatu yang akhirnya ia katakan kepada anaknya yang mungkin sudah terlalu lama ditahan.
Bapak meneruskan.
“Rp120 juta aku simpan buat perawatan dan kebutuhan kesehatan.”
Dimas menarik napas tajam.
“Berarti tinggal seratus tujuh.”
“Kurang lebih.”
Bapak menoleh kepadaku.
“Aku mau bayar sebagian uang renovasi Ratih.”
Aku langsung menggeleng.
“Pak…”
“Dengar dulu.”
Aku diam.
“Aku catat. Kamu keluar hampir seratus juta. Aku tidak bisa bayar semua. Aku mau kasih Rp40 juta.”
“Tidak perlu.”
“Perlu buat aku.”
Ada ketegasan dalam suaranya.
“Selama ini kamu selalu bilang tidak perlu. Akhirnya aku merasa semua bantuanmu memang tidak perlu dibicarakan. Itu juga salah.”
Aku menatap buku tua di hadapannya.
Dimas tersenyum miring.
“Enak juga. Datang bawa obat, pulang empat puluh juta.”
Aku menoleh pelan.
“Kalau mau menghitung seperti itu, kita bisa buka semua catatan dari sebelas bulan terakhir.”
Bu Wati berkata tegas, “Dimas, cukup.”
Ia tidak menjawab.
Bapak lalu berkata, “Aku punya sisa sekitar enam puluh tujuh juta setelah itu.”
Dimas menatapnya.
“Aku bisa kasih kamu Rp40 juta.”
Wajah Dimas berubah.
“Hanya empat puluh?”
“Pinjaman.”
Dimas tertawa.
“Pinjaman?”
“Iya.”
“Bapak mau bikin surat utang ke anak sendiri?”
Bapak mengangguk.
“Justru karena anak sendiri.”
Dimas berdiri.
“Kalau cuma empat puluh juta, tidak ada gunanya.”
Aku bertanya, “Berapa yang akan membuat tokonya selamat?”
“Setidaknya seratus lima puluh.”
“Selamat atau menunda masalah?”
Ia menatapku tajam.
“Jangan sok tahu soal usahaku.”
“Aku tidak tahu. Makanya aku tanya.”
Dimas mulai berjalan mondar-mandir.
“Kalau supplier utama dibayar seratus juta, stok bisa jalan. Sisanya aku cicil.”
“Lalu pinjaman bank?”
“Jalan seperti biasa.”
“Dan tiga bulan lagi?”
“Aku bisa kejar omzet.”
Aku menggeser lembar tagihan.
“Dengan omzet enam bulan terakhir?”
Ia berhenti.
“Dari mana Mbak tahu omzetku?”
“Dari ringkasan yang kamu sendiri bawa.”
Ia menatap kertasnya.
Untuk sesaat, ekspresinya tidak lagi marah.
Hanya lelah.
Aku mengenal ekspresi itu.
Aku pernah melihatnya di wajah Bapak belasan tahun lalu ketika bengkelnya mulai tenggelam.
Orang yang usahanya sedang kesulitan sering tidak meminta uang untuk menjadi kaya.
Mereka meminta uang karena satu bulan tambahan terasa seperti kesempatan terakhir.
Lalu bulan itu lewat.
Dan mereka membutuhkan kesempatan terakhir berikutnya.
Aku menurunkan suara.
“Dimas, kalau Rp150 juta dimasukkan ke toko tanpa perubahan apa pun, apa yang membuat hasilnya berbeda?”
Ia duduk kembali.
Tidak menjawab.
Bu Wati akhirnya mengambil satu pisang goreng, mematahkannya menjadi dua, tetapi tidak memakannya.
“Jual mobil bak yang satu,” katanya.
Dimas menatap ibunya.
“Itu buat kirim barang.”
“Kamu punya dua.”
“Yang satu sudah tua.”
“Jual yang lebih bagus.”
“Ibu gampang ngomong.”
“Aku sudah pernah jual tanah supaya usaha orang lain tidak tutup.”
Kalimat itu membuat Dimas diam.
Bu Wati menatapnya lurus.
“Aku tahu rasanya. Waktu itu aku pikir kalau aku berkorban sekali, masalah selesai. Ternyata setelah itu Bapakmu masih berutang sana-sini bertahun-tahun.”
Bapak menunduk.
Bu Wati melanjutkan.
“Aku tidak mau rumah ini jadi tanah kedua yang kujual.”
Tidak ada lagi yang bicara cukup lama.
Akhirnya Dimas mengambil dokumen dari meja.
“Aku pikir dulu.”
Ia pergi tanpa menyentuh makanan.
Malam itu aku membantu Bapak membuat daftar sederhana.
Bukan pembagian warisan.
Bukan dokumen hukum rumit.
Hanya daftar apa yang dimiliki, rekening mana yang aktif, di mana sertifikat disimpan, dan siapa yang boleh mengetahui apa.
Seminggu kemudian, atas keinginan Bapak sendiri, ia berkonsultasi dengan notaris mengenai dokumen-dokumen hartanya supaya tidak ada lagi janji samar seperti “nanti rumah ini untukmu” atau “nanti uang itu buat usahamu.”
Aku tidak meminta namaku dimasukkan ke mana pun.
Yang kuinginkan justru sebaliknya.
Aku ingin tidak ada lagi orang yang membangun hidup berdasarkan janji yang hanya pernah diucapkan di dapur atau di teras.
Bu Wati menerima Rp185 juta dari Bapak.
Ketika uang masuk, ia meneleponku.
“Aku sudah terima.”
“Bagus.”
“Aku mau simpan sebagian. Sebagian mungkin buat deposito.”
“Itu uang Ibu.”
Ia diam sebentar.
“Ratih.”
“Iya?”
“Maaf soal uang yang kukasih ke Dimas.”
Aku tidak langsung menjawab.
“Terima kasih sudah bilang.”
“Kamu masih marah?”
“Masih.”
Ia tertawa kecil, pahit.
“Ya sudah.”
Jawabannya justru membuatku tersenyum.
Setidaknya kali ini tidak ada tuntutan agar luka selesai hanya karena seseorang sudah meminta maaf.
Dimas akhirnya menerima Rp40 juta dari Bapak dua minggu kemudian.
Dengan surat sederhana.
Tidak ada bunga.
Pembayaran pertama enam bulan setelahnya.
Ia juga menjual mobil bak yang lebih baru dan menutup satu gudang sewaan.
Beberapa supplier bersedia mengatur ulang jadwal pembayaran setelah ia membayar sebagian tunggakan.
Tokonya tidak langsung sehat.
Tetapi untuk pertama kalinya, ia berhenti mencoba menyelamatkannya dengan uang yang belum menjadi miliknya.
Hubunganku dengannya memburuk selama beberapa minggu.
Di grup WhatsApp keluarga ia hampir tidak pernah membalas pesanku.
Kalau aku datang ke rumah Bapak dan kebetulan ia ada, kami hanya bicara seperlunya.
Aku tidak mengejarnya.
Dulu aku selalu merasa semua hubungan keluarga harus segera diperbaiki.
Sekarang aku mengerti kadang hubungan perlu dibiarkan dingin agar orang berhenti mengatakan sesuatu hanya untuk membuat suasana tampak baik.
Sebulan kemudian, suatu sore aku sedang membantu Bapak latihan berjalan di teras ketika motor Dimas masuk.
Ia membawa sekantong jeruk.
“Buat Bapak.”
Aku mengambil tas itu.
“Taruh saja di meja.”
Ia tidak langsung pergi.
“Mbak.”
Aku menoleh.
Ia menggaruk bagian belakang leher.
“Aku sudah transfer lima juta ke Bapak.”
“Bagus.”
“Aku tahu itu belum banyak.”
“Aku bukan yang memberi pinjaman.”
“Iya.”
Ia diam.
Kemudian berkata, “Waktu itu aku memang mau pakai uang koperasi buat toko.”
Aku menatapnya.
“Aku tahu.”
“Tapi bukan karena aku mau ambil semuanya.”
“Aku juga sudah tahu.”
Ia menghela napas.
“Aku panik.”
Kalimat itu kecil.
Tidak dramatis.
Tetapi mungkin itulah pengakuan paling jujur yang pernah kudengar darinya.
Aku menjawab, “Orang panik tetap bisa membuat keputusan yang menghancurkan orang lain.”
Dimas mengangguk.
“Aku tahu sekarang.”
Aku tidak memeluknya.
Tidak mengatakan semuanya sudah selesai.
Aku hanya memberikan jeruk itu kembali.
“Bawa dua ke Bapak. Dia tadi bilang mulutnya pahit.”
Dimas masuk.
Itu saja.
Namun kadang hubungan yang retak tidak perlu diperbaiki dengan pidato panjang.
Kadang cukup dengan dua orang yang berhenti berbohong mengenai keadaan retaknya.
Tiga bulan setelah hari di kantor PPAT, hidup kami jauh lebih membosankan.
Dan aku menyukai kebosanan itu.
Obat Bapak dikirim apotek langsung ke rumah.
Aku menerima foto kuitansinya.
Pengasuh dibayar lewat transfer terpisah.
Bu Wati mengirim pesan kalau ada biaya tambahan.
Kadang aku bilang iya.
Kadang aku bilang tidak.
Anehnya, dunia tidak runtuh ketika aku mulai berkata tidak.
Bapak masih tinggal di rumahnya.
Sertifikat rumah tidak dijaminkan.
Sebagian uang koperasi masih tersimpan sebagai dana kesehatan.
Bu Wati membeli kembali sebuah gelang emas tipis yang dulu pernah ia jual saat bengkel Bapak kesulitan. Ia menunjukkan gelang itu kepadaku sambil tertawa malu.
“Bukan investasi,” katanya. “Cuma pengin punya lagi.”
“Beli saja.”
Aku menerima Rp40 juta dari Bapak.
Awalnya aku benar-benar ingin menolak.
Lalu aku teringat perkataannya.
Selama ini aku terlalu terbiasa menjadi orang yang membantu sampai menerima kembali sesuatu terasa seperti keserakahan.
Aku menggunakan sebagian uang itu untuk memperbaiki kamar belakang rumahku sendiri yang bertahun-tahun kutunda.
Nadia, putriku, tertawa ketika melihat tukang mulai bekerja.
“Akhirnya uang Ibu dipakai buat rumah Ibu sendiri.”
Aku pura-pura tersinggung.
“Selama ini juga dipakai.”
“Untuk rumah Mbah.”
Aku tidak bisa membantah.
Suatu Minggu sore, aku datang membawa obat Bapak seperti biasa.
Pagar besi tertutup.
Sebelum aku turun dari mobil, Bu Wati sudah keluar dari rumah.
Ia membuka pagar.
Dulu suara pagar itu pernah membuatku merasa seperti orang asing yang sedang diberi izin memasuki keluarga sendiri.
Hari itu rasanya berbeda.
“Obatnya bawa?” tanyanya.
“Bawa.”
“Teh?”
“Boleh.”
Di teras, Bapak sedang memotong ujung daun tanaman cabai dengan gunting kecil. Tangannya masih sedikit gemetar.
Dimas tidak ada.
Tidak ada map cokelat di meja.
Tidak ada dokumen yang menunggu tanda tanganku.
Hanya tiga cangkir teh, toples kerupuk, dan buku catatan Bapak yang kini disimpan terbuka di laci ruang tamu, bukan disembunyikan di bawah pakaian.
Sebelum pulang, Bapak memanggilku.
“Tih.”
“Iya?”
“Kalau nanti aku mulai bilang ‘jangan ribut’ lagi…”
Aku tertawa.
“Kenapa?”
“Jangan didengar.”
Bu Wati tertawa dari dapur.
Aku ikut tertawa.
Bukan karena semua kesalahan sudah hilang.
Bu Wati tetap pernah memakai uang kirimanku tanpa izin.
Dimas tetap pernah mencoba mendorong Bapak menjaminkan rumah untuk usahanya.
Bapak tetap pernah membuat janji berbeda kepada kami karena takut mengecewakan siapa pun.
Dan aku sendiri terlalu lama percaya bahwa menjadi anak yang baik berarti selalu menyediakan uang, tenaga, dan pengertian sebelum orang lain bahkan sempat meminta.
Kami semua membawa bagian kesalahan masing-masing.
Bedanya, sekarang kesalahan itu tidak lagi dibungkus dengan kalimat “demi keluarga”.
Malamnya aku tiba di rumahku sendiri.
Aku memasukkan mobil, turun, lalu menutup pagar besi.
Bunyinya terdengar keras sekali di jalan yang sudah mulai sepi.
Dulu pagar tertutup membuatku merasa ditolak.
Sekarang, saat kunci pagar rumahku sendiri berputar di tanganku, aku mengerti sesuatu yang terlambat kupelajari.
Pintu yang tertutup tidak selalu berarti kita membuang keluarga.
Kadang itu hanya berarti kita akhirnya tahu di mana rumah kita berakhir, dan di mana tanggung jawab orang lain harus mulai berdiri dengan kakinya sendiri.
Aku masuk.
Ponselku berbunyi.
Grup WhatsApp keluarga.
Dimas mengirim foto bukti transfer cicilan keduanya kepada Bapak.
Bu Wati membalas dengan jempol.
Bapak mengirim stiker bunga yang entah bagaimana selalu ia pilih untuk semua situasi.
Aku tersenyum, lalu meletakkan ponsel dalam posisi terbalik di meja.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak merasa harus segera menjawab.
Dan tidak ada yang salah dengan itu.
Terima kasih sudah membaca kisah ini sampai akhir. Semoga kamu dan keluargamu selalu diberi kesehatan, ketenangan, dan keberanian untuk membicarakan hal-hal sulit sebelum diam berubah menjadi luka. Kalau kamu berada di posisi Ratih, apakah kamu tetap akan membantu Dimas setelah mengetahui seluruh keadaan, atau memilih memisahkan semua urusan keuangan sejak awal? Bagikan pendapatmu di kolom komentar, dan kalau cerita ini terasa dekat dengan kehidupan nyata, kamu boleh membagikannya kepada orang lain yang mungkin pernah berada dalam situasi serupa.
