Menjelang akhir tahun, suamiku bilang semua tiket pesawat sudah habis dan memaksaku pulang dengan kereta selama hampir dua hari. Aku sedang hamil enam bulan, tetapi dia menyuruhku berdiri sementara dia dan adik perempuannya menikmati kabin kelas eksekutif. “Berdiri saja. Bagus buat ibu hamil,” katanya sambil tertawa. Aku ikut tertawa. Lalu aku turun di stasiun pertama. Ketika mereka akhirnya tiba di rumah keluarga dua hari kemudian, wajah mereka langsung membeku saat melihat siapa yang sudah menunggu di sana bersamaku…

Avatar penulis
Cerita 04
18 menit baca 1,070 tayangan
Menjelang akhir tahun, suamiku bilang semua tiket pesawat sudah habis dan memaksaku pulang dengan kereta selama hampir dua hari. Aku sedang hamil enam bulan, tetapi dia menyuruhku berdiri sementara dia dan adik perempuannya menikmati kabin kelas eksekutif.  “Berdiri saja. Bagus buat ibu hamil,” katanya sambil tertawa.  Aku ikut tertawa.  Lalu aku turun di stasiun pertama.  Ketika mereka akhirnya tiba di rumah keluarga dua hari kemudian, wajah mereka langsung membeku saat melihat siapa yang sudah menunggu di sana bersamaku…
Indeks

Menjelang akhir tahun, suamiku bilang semua tiket pesawat sudah habis dan memaksaku pulang dengan kereta selama hampir dua hari. Aku sedang hamil enam bulan, tetapi dia menyuruhku berdiri sementara dia dan adik perempuannya menikmati kabin kelas eksekutif.

“Berdiri saja. Bagus buat ibu hamil,” katanya sambil tertawa.

Aku ikut tertawa.

Lalu aku turun di stasiun pertama.

Ketika mereka akhirnya tiba di rumah keluarga dua hari kemudian, wajah mereka langsung membeku saat melihat siapa yang sudah menunggu di sana bersamaku…

Menjelang akhir tahun, suamiku bilang semua tiket pesawat sudah habis dan memaksaku pulang dengan kereta selama hampir dua hari. Aku sedang hamil enam bulan, tetapi dia menyuruhku berdiri sementara dia dan adik perempuannya menikmati kabin kelas eksekutif.  “Berdiri saja. Bagus buat ibu hamil,” katanya sambil tertawa.  Aku ikut tertawa.  Lalu aku turun di stasiun pertama.  Ketika mereka akhirnya tiba di rumah keluarga dua hari kemudian, wajah mereka langsung membeku saat melihat siapa yang sudah menunggu di sana bersamaku…

“Kamu berdiri saja, Nadira.”

Suamiku, Raka, mengucapkan kalimat itu seolah sedang menyuruhku mengambil segelas air.

Udara malam akhir Desember terasa dingin di peron Stasiun Pasar Senen, Jakarta. Orang-orang berdesakan membawa koper, kardus oleh-oleh, dan tas besar untuk pulang kampung menjelang liburan Tahun Baru.

Di tangan Raka ada dua tiket kabin kelas eksekutif untuk perjalanan panjang menuju Surabaya.

Satu untuk dirinya.

Satu lagi untuk adik perempuannya, Dina.

Tidak ada untukku.

Aku menatap dua tiket itu, lalu menatap perutku yang sudah memasuki usia kehamilan enam bulan.

“Jadi… tiketku mana?”

Raka menghela napas panjang, seolah pertanyaanku sangat merepotkan.

“Sudah kubilang dari kemarin. Tiket pesawat habis. Tiket kereta juga hampir semuanya habis. Aku cuma dapat dua kursi yang nyaman.”

Dina berdiri di sampingnya dengan mantel krem mahal dan koper bermerek. Dia tersenyum tipis kepadaku.

“Maaf banget ya, Kak Nadira,” katanya dengan nada manis yang justru terdengar mengejek. “Aku gampang mabuk kalau perjalanan jauh. Kalau tidak dapat tempat nyaman, bisa pusing seharian.”

Aku menatap Raka.

“Dan aku?”

“Kamu kan sehat.”

Jawabannya begitu cepat.

Seolah kehamilanku tidak berarti apa-apa.

Raka kemudian menambahkan sambil tertawa kecil, “Lagian berdiri sesekali bagus buat ibu hamil. Anggap saja olahraga.”

Dina menutup mulutnya, tetapi aku tetap mendengar tawanya.

“Hahaha… benar juga.”

Aku tidak marah.

Tidak berteriak.

Tidak bertengkar di tengah stasiun.

Aku hanya mengangguk.

“Oke.”

Mata Raka langsung berubah lega.

Selama hampir lima tahun menikah, dia sudah terbiasa melihatku mengalah.

Kalau ibunya meminta uang, aku diam.

Kalau Dina tiba-tiba ikut liburan keluarga dan semua biayanya dibebankan kepada kami, aku diam.

Kalau Raka pulang lewat tengah malam dengan alasan rapat, aku juga diam.

Menurutnya, diam berarti bodoh.

Menurutnya, diam berarti aku tidak pernah mengetahui apa pun.

Itulah kesalahan terbesarnya.

Karena jauh di dalam tas tanganku malam itu terdapat sebuah amplop cokelat tebal.

Dan Raka sama sekali tidak tahu apa isinya.

Kereta akhirnya berangkat.

Aku mendapatkan tempat seadanya di gerbong yang jauh lebih ramai, sementara Raka dan Dina berjalan menuju bagian yang lebih nyaman.

Sebelum pergi, Raka bahkan sempat menoleh.

“Kalau ada petugas lewat, coba tanya ada kursi kosong atau tidak.”

Kemudian dia pergi.

Tanpa membantu membawa tasku.

Tanpa bertanya apakah kakiku sakit.

Tanpa sekalipun menoleh pada istrinya yang sedang mengandung anaknya.

Sekitar lima belas menit setelah kereta meninggalkan Jakarta, ponselku bergetar.

Pesan dari Raka.

Kalau berhenti nanti, belikan aku sama Dina makanan hangat. Kita mau tidur dulu.

Aku membaca pesan itu dua kali.

Kemudian satu pesan lagi masuk.

Jangan lupa kopi buat Dina. Jangan terlalu manis.

Aku menatap layar ponsel.

Entah kenapa, sesuatu yang selama berbulan-bulan menekan dadaku tiba-tiba terasa hilang.

Lalu aku tertawa.

Pelan pada awalnya.

Kemudian semakin keras.

Seorang ibu tua di dekatku sampai menoleh bingung.

Aku segera menutup mulut.

“Maaf, Bu.”

Namun aku masih tersenyum.

Bukan karena ada sesuatu yang lucu.

Melainkan karena akhirnya aku memahami satu hal:

Aku tidak perlu menunggu lebih lama lagi.

Raka mengira malam itu dia sedang mempermalukanku.

Padahal tanpa sadar, dia baru saja memberiku kesempatan sempurna untuk pergi.

Ketika kereta berhenti di stasiun berikutnya, aku mengambil tas dan turun.

Pintu menutup di belakangku.

Aku berdiri di peron sambil memandangi rangkaian kereta perlahan bergerak menjauh.

Di dalam sana, Raka mungkin sedang merebahkan tubuhnya dengan nyaman.

Dina mungkin sedang memainkan ponselnya.

Mereka mengira aku sedang berlari mencari makanan dan kopi.

Mereka tidak tahu bahwa aku tidak akan naik kembali.

Aku mengeluarkan ponsel dan memesan kendaraan menuju bandara.

Karena ada satu hal lain yang Raka tidak ketahui.

Tiket pesawat sebenarnya tidak pernah habis.

Setidaknya, tidak semuanya.

Aku sudah memeriksanya sendiri tiga hari sebelumnya.

Masih ada beberapa penerbangan menuju Surabaya.

Harganya memang mahal karena musim liburan.

Tetapi tersedia.

Raka berbohong.

Dan aku tahu persis mengapa dia berbohong.

Aku masuk ke mobil, lalu membuka tas.

Tanganku menyentuh amplop cokelat itu.

Aku menariknya keluar sedikit.

Di dalamnya ada cetakan foto.

Bukti transfer.

Salinan reservasi hotel.

Dan tangkapan layar percakapan yang sudah kukumpulkan selama hampir tiga bulan.

Nama perempuan dalam semua bukti itu membuat perutku terasa dingin setiap kali melihatnya.

Dina.

Perempuan yang selama ini diperkenalkan Raka kepada semua orang sebagai “adik kesayangannya”.

Perempuan yang selalu hadir dalam hampir setiap perjalanan keluarga.

Perempuan yang tadi berdiri di samping suamiku sambil menertawakan istrinya yang sedang hamil.

Dina bukan adik kandung Raka.

Bahkan mereka tidak memiliki hubungan darah sedikit pun.

Keluarga Raka memang mengenalnya sejak kecil dan selalu menyebutnya seperti anggota keluarga sendiri.

Namun hubungan mereka sudah berubah jauh melewati batas yang selama ini mereka tunjukkan kepadaku.

Dan aku memiliki buktinya.

Foto pertama memperlihatkan Raka dan Dina keluar dari sebuah hotel di Bandung.

Foto kedua diambil dua minggu kemudian di restoran kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Tangan mereka saling menggenggam di bawah meja.

Lalu ada percakapan yang membuatku berhenti mencari alasan untuk suamiku.

Setelah semuanya selesai, kita tidak perlu pura-pura jadi kakak-adik lagi.

Pesan itu dikirim Raka.

Balasan Dina hanya satu kalimat.

Tunggu sampai bayinya lahir. Jangan sampai Nadira curiga sekarang.

Aku menutup amplop.

Tiga bulan sebelumnya, membaca kalimat itu membuatku menangis semalaman.

Sekarang tidak lagi.

Sekarang aku hanya memiliki satu tujuan.

Aku harus tiba di Surabaya sebelum mereka.

Jauh sebelum mereka.

Dan aku akan menunggu di rumah orang tua Raka.


Penerbanganku mendarat keesokan paginya.

Aku langsung menuju rumah keluarga Raka di kawasan Surabaya Barat.

Ayah mertuaku, Pak Hendra, membuka pintu.

Wajahnya langsung berubah ketika melihatku berdiri sendirian membawa koper.

“Nadira?”

Dia melihat ke belakangku.

“Raka mana?”

“Masih di perjalanan.”

“Bukannya kalian berangkat bersama?”

“Kami memang berangkat bersama.”

Aku menarik napas.

“Tapi saya turun.”

Ibu mertuaku, Bu Ratih, muncul dari ruang tengah.

Begitu melihat wajahku, senyumnya menghilang.

“Nadira, ada apa?”

Aku memegang amplop cokelat itu semakin erat.

“Ayah, Ibu… sebelum Raka sampai, saya ingin menunjukkan sesuatu.”

Kami duduk di ruang keluarga.

Aku mengeluarkan seluruh isi amplop.

Satu demi satu.

Foto.

Bukti pembayaran.

Percakapan.

Reservasi hotel.

Pak Hendra tidak mengatakan apa pun selama hampir lima menit.

Tangannya gemetar ketika memegang salah satu foto.

Bu Ratih menangis.

Tetapi kejutan terbesar belum datang.

Karena aku mengeluarkan satu dokumen terakhir.

Bukan bukti perselingkuhan.

Melainkan surat dari pengacaraku.

“Aku sudah mengajukan proses perceraian.”

Bu Ratih menutup mulut.

Pak Hendra menatapku.

“Kapan?”

“Tiga hari lalu.”

“Raka tahu?”

Aku menggeleng.

“Belum.”

Untuk pertama kalinya sejak tiba, aku tersenyum.

“Dia akan tahu ketika sampai.”

Perjalanan kereta mereka masih sangat panjang.

Sementara aku sudah duduk di rumah yang mereka kira akan menjadi panggung tempatku kembali dipermalukan.

Selama perjalanan itu, Raka meneleponku puluhan kali.

Aku tidak menjawab.

Pesannya berubah dari kesal menjadi marah.

Kamu di mana?

Kenapa tidak naik lagi?

Nadira, jangan kekanak-kanakan.

Kemudian:

Orang tuaku jangan sampai tahu kita bertengkar.

Aku hanya membaca pesan terakhir itu sambil tersenyum.

Terlambat.

Hampir dua hari kemudian, sebuah mobil berhenti di depan rumah.

Aku sedang duduk bersama Pak Hendra dan Bu Ratih ketika pintu terbuka.

Suara Raka terdengar dari luar.

“Bu! Yah! Kami sampai!”

Dina tertawa.

Kemudian mereka masuk.

Raka berhenti tepat di ambang ruang keluarga.

Wajahnya langsung pucat.

Karena aku sudah duduk di sana.

Tetapi bukan keberadaanku yang membuatnya membeku.

Melainkan benda-benda yang tersusun rapi di atas meja.

Foto-foto mereka.

Bukti hotel.

Percakapan mereka.

Dan surat dari pengacaraku.

Dina berdiri di belakangnya.

Kopernya terlepas dari tangan.

Pak Hendra bangkit perlahan dari kursinya.

“Raka.”

Suara ayahnya begitu tenang hingga terasa lebih menakutkan daripada bentakan.

Raka menelan ludah.

“Yah… aku bisa jelaskan.”

Pak Hendra mengambil salah satu foto.

“Bagus.”

Dia meletakkannya tepat di depan anaknya.

“Karena kami sudah menunggumu hampir dua hari untuk mendengar penjelasan itu.”

Aku memandang Raka.

Pria yang beberapa puluh jam sebelumnya tertawa karena mengira istrinya yang sedang hamil akan berdiri sepanjang perjalanan.

Sekarang justru dia yang tidak mampu bergerak.

Raka menatapku.

“Kamu menjebakku.”

Aku hampir tertawa lagi.

“Tidak, Raka.”

Aku berdiri perlahan, satu tangan menyangga perutku.

“Aku hanya turun dari kereta.”

Aku mengambil tasku.

“Kalianlah yang memilih terus melaju.”

Dan saat aku berjalan menuju pintu, Bu Ratih tiba-tiba berkata sesuatu yang membuat Raka semakin pucat.

“Nadira, tunggu.”

Aku berhenti.

Bu Ratih masuk ke kamar dan kembali membawa sebuah map hitam yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Dia meletakkannya di meja.

“Ada sesuatu tentang Raka yang juga harus kamu ketahui.”

Raka langsung maju.

“Bu, jangan!”

Pak Hendra menahan lengannya.

Bu Ratih membuka map tersebut.

Dan ketika aku melihat nama yang tertulis di halaman pertama, napasku tercekat.

Ternyata perselingkuhan itu bukan satu-satunya rahasia yang disembunyikan suamiku.

Dan apa yang ada di dalam map itu bisa mengubah masa depan anak yang sedang kukandung selamanya…

BAGIAN 2 — RAHASIA DI DALAM MAP HITAM

“Bu, jangan!”

Suara Raka pecah.

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku melihat ketakutan yang benar-benar nyata di wajah suamiku.

Bukan kemarahan karena ketahuan berselingkuh.

Bukan rasa malu karena foto-fotonya bersama Dina terbongkar.

Melainkan ketakutan.

Bu Ratih tetap membuka map hitam itu.

Tangannya gemetar.

“Nadira,” katanya pelan, “seharusnya Ibu memberikan ini kepadamu sejak lama.”

Aku menatap halaman pertama.

Ada nama Raka.

Ada nama sebuah perusahaan.

Dan di bawahnya tercantum angka yang membuatku mengernyit.

Rp1.850.000.000.

Hampir dua miliar rupiah.

“Apa ini?”

Pak Hendra menatap anaknya.

“Biarkan Raka yang menjelaskan.”

Raka tidak menjawab.

Dina yang sejak tadi berdiri di dekat pintu tiba-tiba mengambil kopernya.

“Aku pulang saja.”

“Duduk.”

Suara Pak Hendra membuatnya berhenti.

“Masalah ini juga menyangkut kamu.”

Dina membeku.

Aku mengambil dokumen berikutnya.

Ada beberapa lembar transaksi bank.

Transfer dalam jumlah besar dilakukan selama hampir tiga tahun.

Rp75 juta.

Rp120 juta.

Rp200 juta.

Sebagian masuk ke rekening perusahaan bernama PT Damar Sentosa Abadi.

Aku tidak mengenal perusahaan itu.

Tetapi aku mengenal nama pemilik rekening penerimanya.

Dina Maharani.

Aku mengangkat kepala.

“Kalian punya perusahaan bersama?”

Dina langsung menggeleng.

“Bukan seperti yang kamu pikirkan.”

Aku tertawa kecil.

Kalimat paling klasik dari seseorang yang baru saja tertangkap.

“Kalau begitu jelaskan.”

Raka akhirnya bicara.

“Itu investasi.”

“Investasi apa?”

Dia diam.

Pak Hendra mengambil dokumen terakhir.

“Investasi menggunakan uang Nadira.”

Ruangan mendadak sunyi.

Aku bahkan tidak langsung memahami kalimat itu.

“Uang… saya?”

Pak Hendra mengangguk.

Kemudian dia mendorong beberapa lembar rekening koran ke arahku.

Aku membacanya.

Lalu membacanya lagi.

Nama rekening asal membuat dadaku sesak.

Rekening investasi yang dibuat ayahku sebelum meninggal.

Ayah meninggal empat tahun lalu.

Sebelum meninggal, beliau meninggalkan sebagian hasil penjualan tanah keluarga untukku. Aku jarang menyentuh uang itu karena ingin menyimpannya sebagai dana pendidikan anakku kelak.

Raka mengetahui rekening tersebut.

Tetapi dia tidak memiliki akses.

Setidaknya…

itulah yang selama ini kupercaya.

“Bagaimana dia bisa mengambil uang ini?”

Bu Ratih mulai menangis.

“Tiga tahun lalu Raka meminta Ayah dan Ibu menjadi saksi untuk beberapa dokumen. Dia bilang dokumen itu untuk pengajuan rumah.”

Aku menatap Raka.

“Kamu memalsukan tanda tanganku?”

“Tidak.”

Jawabannya terlalu cepat.

Pak Hendra membanting telapak tangan ke meja.

“Jangan bohong lagi!”

Raka terdiam.

Pak Hendra menunjuk salah satu dokumen.

“Dia menggunakan surat kuasa yang tanda tangannya dipalsukan.”

Kakiku terasa lemas.

Aku duduk kembali.

Perselingkuhan ternyata bukan pengkhianatan terbesar.

Selama tiga tahun, suamiku bukan hanya membohongiku.

Dia mencuri masa depanku.

Mencuri uang peninggalan ayahku.

Dan melakukannya bersama perempuan yang selama ini diperkenalkan sebagai adiknya sendiri.

Aku menatap Dina.

“Berapa banyak yang kamu tahu?”

Air mukanya berubah.

“Nadira, dengarkan dulu—”

“Berapa banyak?”

Dina mulai menangis.

“Semuanya.”

Satu kata itu menghancurkan sisa keraguan dalam diriku.

Aku mengangguk perlahan.

“Baik.”

Raka mendekat.

“Nadira, aku akan mengembalikannya.”

Aku memandangnya.

“Dengan apa?”

“Aku masih punya aset.”

Pak Hendra tertawa pahit.

“Aset?”

Dia mengambil selembar dokumen lain.

“Rumahmu sudah diagunkan.”

Aku menoleh cepat.

“Apa?”

Raka memejamkan mata.

Rumah kami di Jakarta.

Rumah tempat aku menyiapkan kamar bayi.

Tempat aku memilih warna dinding.

Tempat aku menyimpan pakaian kecil yang kubeli diam-diam untuk anak kami.

Sudah dijadikan jaminan utang.

Tanpa sepengetahuanku.

Aku memegang perutku.

Anakku bergerak.

Seolah mengingatkanku bahwa aku tidak sendirian.

Aku tidak boleh runtuh.

Belum.

“Kenapa?” tanyaku.

Raka akhirnya duduk.

Wajahnya tertunduk.

“Bisnisnya gagal.”

“Bisnis siapa?”

“Bisnis kami.”

Aku melihat Dina.

Raka melanjutkan.

“Kami membuka perusahaan distribusi. Awalnya bagus. Lalu ada masalah dengan pemasok. Kami rugi besar.”

“Dan daripada mengatakan kepadaku, kamu mencuri uangku?”

“Aku mau menggantinya sebelum kamu tahu.”

“Lalu hubungan kalian?”

Dia diam.

Aku menatap Dina.

Dina menyeka air matanya.

“Itu terjadi setelah bisnis mulai bermasalah.”

Aku tertawa tanpa suara.

Tentu saja.

Setiap kebohongan mereka membutuhkan kebohongan lain untuk menopangnya.

“Berapa lama?”

Dina menunduk.

“Hampir dua tahun.”

Bu Ratih menangis semakin keras.

Aku justru merasa anehnya tenang.

Mungkin karena ada titik ketika seseorang sudah dikhianati terlalu jauh hingga tidak ada lagi ruang untuk terkejut.

Aku berdiri.

“Besok pengacaraku akan menerima salinan semua dokumen ini.”

Raka langsung bangkit.

“Nadira!”

“Aku belum selesai.”

Aku menatapnya lurus.

“Mulai hari ini, jangan hubungi aku kecuali melalui pengacara.”

“Aku ayah dari anakmu!”

Kalimat itu akhirnya membuat emosiku pecah.

“Dan kapan kamu mengingatnya?”

Semua orang diam.

“Ketika kamu menyuruh ibu dari anakmu berdiri berjam-jam sementara kamu duduk nyaman bersama perempuan yang kamu selingkuhi?”

Raka tidak mampu menjawab.

“Ketika kamu menggadaikan rumah tempat anakmu seharusnya tumbuh?”

Aku menunjuk dokumen di meja.

“Atau ketika kamu mencuri uang yang kusiapkan untuk masa depannya?”

Wajah Raka memucat.

Aku mengambil tasku.

“Kamu boleh menjadi ayah biologisnya, Raka.”

Aku menarik napas.

“Tapi menjadi seorang ayah membutuhkan lebih dari sekadar hubungan darah.”

Aku berjalan menuju pintu.

Namun sebelum aku keluar, Dina tiba-tiba berkata,

“Nadira, tunggu.”

Aku berhenti.

“Ada satu hal lagi.”

Raka menoleh kepadanya.

“Diam, Dina.”

Dina tidak memedulikannya.

Dia membuka koper.

Dari bagian paling bawah, dia mengambil sebuah amplop putih.

“Aku tidak sanggup menyimpan ini lagi.”

Raka menerjang ke arahnya.

Pak Hendra segera menghalanginya.

“Apa itu?” tanyaku.

Dina menyerahkannya kepadaku.

Aku membukanya.

Hanya ada satu lembar kertas.

Hasil pemeriksaan laboratorium.

Aku membaca bagian atasnya.

Kemudian mataku berhenti pada satu kalimat.

Tanganku mendadak dingin.

“Ini… apa?”

Dina menangis.

“Aku hamil.”

Ruangan seperti kehilangan udara.

Bu Ratih terduduk.

Pak Hendra memejamkan mata.

Aku menatap Raka.

Dia tidak berani menatapku.

“Berapa bulan?”

“Tiga.”

Aku mengangguk.

Tidak menangis.

Anehnya, tidak ada air mata.

Aku hanya memasukkan kertas itu kembali ke amplop dan menyerahkannya kepada Dina.

“Selamat.”

Dina menatapku seolah aku baru saja menamparnya.

Aku berjalan keluar.

Kali ini tidak ada yang menghentikanku.


BAGIAN 3 — ENAM BULAN KEMUDIAN

Perceraianku tidak berlangsung sederhana.

Pengacaraku menemukan lebih banyak transaksi.

Dokumen palsu.

Pinjaman.

Bahkan beberapa pembayaran kartu kredit Dina ternyata berasal dari rekening perusahaan yang didanai menggunakan uangku.

Aku melaporkan pemalsuan dokumen tersebut melalui jalur hukum.

Rumah yang diagunkan menjadi sengketa, tetapi karena tanda tanganku dalam beberapa dokumen terbukti tidak sah, posisiku jauh lebih kuat daripada yang diperkirakan Raka.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku berhenti melindungi nama baik keluarga.

Aku tidak menulis apa pun di media sosial.

Tidak membuat status panjang.

Tidak mengirim foto perselingkuhan kepada teman-temannya.

Aku tidak membutuhkan keramaian.

Aku hanya membutuhkan kebenaran tercatat di tempat yang tepat.

Di dokumen hukum.

Di rekening bank.

Di meja pengacara.

Raka beberapa kali mencoba menemuiku.

Aku selalu menolak.

Sampai suatu sore, tiga minggu sebelum perkiraan kelahiranku, aku menerima pesan dari Bu Ratih.

Nadira, bolehkah Ibu datang sendiri? Ada sesuatu yang harus Ibu berikan.

Aku mengizinkannya.

Kami bertemu di apartemen kecil yang kusewa sementara di Jakarta.

Ketika Bu Ratih datang, dia membawa satu kotak kayu.

“Apa ini?”

“Peninggalan ayahmu.”

Aku langsung menatapnya.

“Ayah saya?”

Dia mengangguk.

Ternyata ayahku pernah menemui Pak Hendra beberapa bulan sebelum meninggal.

Ayah sudah tidak sepenuhnya mempercayai Raka.

Bukan karena mengetahui perselingkuhannya.

Saat itu hubungan Raka dan Dina bahkan mungkin belum dimulai.

Tetapi Ayah pernah melihat Raka diam-diam memeriksa dokumen keuanganku.

Ayah kemudian meminta Pak Hendra berjanji satu hal.

Jika suatu hari Raka mencoba mengambil apa yang bukan haknya, kotak itu harus diberikan kepadaku.

Aku membukanya.

Di dalamnya ada surat tulisan tangan.

Tulisan Ayah.

Tanganku langsung gemetar.

Untuk Nadira,

kalau kamu membaca surat ini, mungkin Ayah sudah tidak bisa berdiri di sampingmu. Jadi Ayah hanya ingin kamu mengingat sesuatu.

Aku berhenti membaca karena pandanganku kabur.

Untuk pertama kalinya sejak semua kejadian itu, aku menangis.

Aku melanjutkan.

Jangan mempertahankan rumah hanya karena takut disebut gagal membangun keluarga. Rumah bukan dinding, bukan sertifikat, bukan nama suami di kartu keluarga. Rumah adalah tempat kamu tidak perlu takut menjadi dirimu sendiri.

Air mataku jatuh ke kertas.

Kalau suatu hari kamu harus memilih antara mempertahankan seseorang dan mempertahankan harga dirimu, pilih dirimu. Orang yang benar-benar menyayangimu tidak akan membuatmu membayar cinta dengan harga dirimu sendiri.

Aku memeluk surat itu.

Bu Ratih ikut menangis.

“Ayahmu seperti sudah tahu.”

Aku menggeleng.

“Tidak.”

Aku menyentuh perutku.

“Mungkin Ayah cuma mengenal anak perempuannya.”


Tiga minggu kemudian, putriku lahir.

Aku memberinya nama Alya Kirana.

Ketika perawat meletakkannya di dadaku, seluruh dunia terasa mengecil menjadi wajah mungil dengan mata terpejam itu.

Aku menangis.

Bukan karena Raka tidak ada.

Melainkan karena akhirnya aku memahami bahwa kehilangan sebuah pernikahan tidak sama dengan kehilangan keluarga.

Aku sudah memiliki keluarga.

Dia berada dalam pelukanku.

Bu Ratih dan Pak Hendra datang ke rumah sakit.

Aku mengizinkan mereka menemui cucunya.

Kesalahan anak mereka bukan alasan bagiku untuk merampas kakek dan nenek yang tulus menyayangi Alya.

Raka tidak datang.

Dan alasannya baru kuketahui dua hari kemudian.

Dina mengalami keguguran.

Aku terdiam cukup lama ketika Bu Ratih memberitahuku.

Tidak ada rasa puas.

Tidak ada kemenangan.

Hanya kesedihan.

Apa pun kesalahan Dina, kehilangan seorang calon anak bukan sesuatu yang pantas dirayakan.

Aku mengirim satu pesan singkat kepadanya.

Semoga kamu diberi kekuatan untuk melewati ini.

Dia tidak membalas.

Sampai tiga bulan kemudian.

Saat itu proses perceraianku hampir selesai.

Dina meminta bertemu.

Awalnya aku ingin menolak.

Tetapi akhirnya kami bertemu di sebuah kafe kecil.

Dina terlihat berbeda.

Tidak ada tas mahal.

Tidak ada pakaian mencolok.

Tidak ada senyum mengejek.

Dia meletakkan sebuah flashdisk di meja.

“Apa ini?”

“Semua data perusahaan.”

Aku menatapnya.

“Aku sudah menyerahkan salinannya kepada pengacaramu.”

“Kenapa?”

Dina terdiam.

Kemudian berkata,

“Karena ada sesuatu yang belum kamu tahu.”

Aku hampir tertawa.

“Masih ada lagi?”

Dia mengangguk.

“Raka berbohong kepadaku juga.”

Ternyata perusahaan itu tidak benar-benar dimiliki bersama.

Sebagian besar saham tercatat atas nama perusahaan lain yang sepenuhnya dikendalikan Raka.

Dina hanyalah wajah yang digunakan untuk menerima dana dan menandatangani transaksi.

Ketika bisnis runtuh, hampir seluruh kewajiban justru diarahkan kepadanya.

“Dia berencana meninggalkanku setelah uangmu habis,” katanya.

Aku menatapnya lama.

“Kamu ingin aku kasihan?”

“Tidak.”

Dina menggeleng.

“Aku cuma ingin kamu tahu bahwa kamu benar.”

“Benar tentang apa?”

“Kereta itu.”

Aku mengernyit.

Dina tersenyum pahit.

“Waktu kamu turun, aku menertawakanmu.”

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Aku pikir kamu kalah.”

Dia menatap tangannya.

“Ternyata kamu satu-satunya dari kami yang tahu kapan harus turun.”

Kalimat itu membuatku diam.

Dina berdiri.

Sebelum pergi, dia berkata,

“Aku minta maaf, Nadira. Aku tahu maaf tidak memperbaiki apa pun.”

Aku menjawab,

“Memang tidak.”

Dia mengangguk.

“Tapi terima kasih sudah mengembalikan datanya.”

Itu saja.

Aku tidak memeluknya.

Tidak mengatakan aku memaafkannya.

Beberapa luka tidak membutuhkan rekonsiliasi agar bisa sembuh.

Kadang kita hanya perlu berhenti membiarkan orang yang melukai kita menentukan bagaimana hidup kita berakhir.


SATU TAHUN KEMUDIAN

Aku kembali ke Stasiun Pasar Senen.

Kali ini bukan untuk perjalanan lima puluh jam.

Bukan untuk mengikuti suami.

Dan bukan untuk membuktikan apa pun kepada siapa pun.

Aku membawa Alya mengunjungi sahabatku di Jawa Tengah.

Dia sudah bisa berdiri sambil berpegangan.

Di ruang tunggu, Alya tertawa ketika melihat kereta masuk.

Aku menggendongnya.

Kemudian tanpa sengaja aku teringat malam itu.

Peron dingin.

Dua tiket.

Tawa Raka.

“Kamu berdiri saja.”

Aku tersenyum.

Aneh sekali.

Dulu aku menganggap turun dari kereta sebagai akhir pernikahanku.

Sekarang aku menyadari sesuatu.

Itu bukan akhir.

Itu adalah pertama kalinya aku memilih arah hidupku sendiri.

Ponselku berbunyi.

Pesan dari pengacara.

Kasus terakhir terkait aset telah selesai.

Sebagian besar uang peninggalan ayahku berhasil dipulihkan melalui penyelesaian aset perusahaan.

Perceraianku sudah sah.

Raka diwajibkan memenuhi tanggung jawabnya terhadap Alya melalui mekanisme yang ditetapkan secara hukum.

Aku membaca pesan itu sekali.

Lalu mematikan layar.

Tidak ada pesta.

Tidak ada teriakan kemenangan.

Aku hanya mencium kepala putriku.

“Ayo, Sayang.”

Kami naik ke kereta.

Kali ini aku memiliki tempat duduk sendiri.

Di samping jendela.

Alya duduk di pangkuanku sambil menempelkan telapak tangannya ke kaca.

Ketika kereta mulai bergerak, aku mengeluarkan surat Ayah dari tasku.

Sudutnya sudah sedikit kusut karena terlalu sering kubaca.

Ada satu kalimat di bagian paling bawah yang dulu hampir kulewatkan.

Kalau suatu hari kamu merasa ditinggalkan, lihat siapa yang masih ada di sisimu. Kadang keluarga yang paling kamu butuhkan sedang menunggumu menjadi cukup berani untuk memilihnya.

Aku memandang Alya.

Dia menatapku lalu tertawa.

Aku ikut tertawa.

Setahun lalu, Raka menyuruhku berdiri karena dia menganggap aku tidak punya pilihan.

Dia salah.

Aku selalu punya pilihan.

Aku hanya terlalu lama takut mengambilnya.

Dan ternyata keputusan terbesar dalam hidupku bukan ketika aku menikah.

Bukan ketika aku menandatangani surat perceraian.

Bahkan bukan ketika aku membongkar pengkhianatan suamiku.

Keputusan terbesar itu terjadi di sebuah peron sederhana.

Ketika pintu kereta terbuka…

dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku berhenti bertanya ke mana orang lain ingin membawaku.

Aku hanya turun.

Kereta itu pergi membawa Raka dan seluruh kebohongannya.

Sedangkan aku?

Aku akhirnya pulang.

Bukan ke rumah Raka.

Bukan ke rumah orang tuanya.

Melainkan kepada diriku sendiri.

Aku memeluk Alya lebih erat ketika pemandangan Jakarta perlahan menghilang dari balik jendela.

“Ayahmu pernah membuat Mama berdiri,” bisikku sambil tersenyum.

“Tapi kamu, Alya…”

Aku mencium keningnya.

“…membuat Mama belajar berdiri dengan kaki Mama sendiri.”

Kereta melaju semakin jauh.

Dan kali ini, aku tidak ingin turun.

Karena akhirnya aku tahu persis ke mana aku sedang pergi.

TAMAT.