Mertuaku Memaksa Mengambil 70 Persen Gajiku, Suamiku Menyuruhku Menurut—Tiga Puluh Menit Setelah Pergi, Aku Membuka Pintu Apartemen Tepi Sungai yang Membungkam Mereka
Bagian 1 — Saat Mertuaku Mengusirku karena Menolak Menyerahkan Gaji, Suamiku Hanya Diam dan Mengira Aku Tak Punya Tempat untuk Pulang
“Kalau kamu tidak mau menyerahkan tujuh puluh persen gajimu kepada Ibu, silakan keluar dari rumah ini.”
Kalimat itu keluar dari mulut ayah mertuaku dengan suara datar.
Tidak ada bentakan.
Tidak ada meja yang dibanting.
Justru karena diucapkan setenang itu, aku tahu mereka sudah membicarakannya jauh sebelum makan malam ini dimulai.
Ibu mertuaku, Bu Ratna, menyilangkan tangan di depan dada. Tatapannya menempel padaku seolah ia sedang menunggu seseorang yang keras kepala akhirnya menyerah.
Di sebelahku, suamiku, Dimas, tidak mengatakan apa-apa.
Ia hanya melirikku berkali-kali.
Tatapan yang sangat kukenal.
Mengalah saja dulu.
Jangan bikin suasana tambah panjang.
Nanti kita bicarakan lagi.
Aku menatap mereka bertiga beberapa detik.
Lalu aku berdiri.
“Baik.”
Wajah Bu Ratna langsung melunak.
Ia mengira aku menyerah.
Sebuah buku rekening yang sejak tadi berada di atas meja didorongnya ke arahku.
“Nah, begitu lebih baik. Berikan ponselmu. Ibu bantu atur transfer otomatis setiap tanggal gajian.”
Aku tidak menyentuh buku rekening itu.
Aku berjalan melewatinya, masuk ke kamar, berjongkok di depan lemari, lalu menarik koper besar berwarna abu-abu dari bawah ranjang.
Karena kata “baik” yang baru saja kuucapkan bukan berarti aku bersedia menyerahkan gajiku.
Maksudku adalah—
Baik.
Aku akan pergi.
Semua bermula kurang dari dua puluh menit sebelumnya.
Kami sedang makan malam di rumah keluarga Dimas di Bekasi ketika Bu Ratna tiba-tiba mengeluarkan sebuah buku rekening.
“Nadira,” katanya.
“Mulai bulan depan, tujuh puluh persen gajimu masuk ke rekening ini.”
Aku berhenti menyendok sup.
“Untuk apa?”
“Untuk dikelola keluarga.”
“Rekening siapa?”
Bu Ratna menjawab tanpa ragu.
“Rekening Ibu.”
Aku meletakkan sendok.
Gajiku setelah dipotong pajak sekitar Rp38 juta per bulan.
Dua minggu sebelumnya aku baru dipromosikan menjadi kepala tim pengembangan produk di perusahaan teknologi material konstruksi tempatku bekerja.
Selain kenaikan gaji, aku menerima bonus proyek hampir Rp90 juta.
Malam ketika kabar promosi itu keluar, Dimas memelukku sambil berkata dia bangga.
Katanya menikah denganku adalah keberuntungannya.
Ternyata, dua hari kemudian, ia menceritakan jumlah gaji dan bonusku kepada kedua orang tuanya.
Dan sekarang aku akhirnya tahu kenapa.
Aku mengambil kalkulator di ponsel.
“Tujuh puluh persen berarti sekitar Rp26,6 juta setiap bulan.”
Bu Ratna mengangguk.
“Kurang lebih.”
“Kalau begitu setelah saya setor sebanyak itu, biaya listrik, air, belanja bulanan, internet, dan kebutuhan rumah tidak perlu saya bayar lagi?”
Wajahnya langsung berubah.
“Kamu sudah menikah tapi masih hitung-hitungan seperti orang asing?”
Aku hampir tertawa.
Apartemen seluas sekitar sembilan puluh meter persegi yang kami tempati memang milik ayah Dimas.
Namun selama hampir dua tahun menikah, sebagian besar pengeluaran rumah justru berasal dariku.
Kulkas aku yang membeli.
Mesin cuci aku.
Dua AC juga aku.
Sofa ruang tamu yang selalu dibanggakan Bu Ratna saat kerabat datang pun aku yang membayar.
Ketika dapur bocor dan kabinetnya rusak tahun lalu, hampir Rp68 juta biaya renovasi keluar dari rekeningku.
Biaya pengelolaan gedung?
Aku.
Internet?
Aku.
Belanja bulanan ketika orang tua Dimas datang menginap?
Sebagian besar aku.
Anehnya, ketika aku bertanya soal keputusan keluarga, jawabannya selalu sama.
“Ini rumah keluarga Dimas.”
Tapi ketika uang dibutuhkan, tiba-tiba aku menjadi “bagian dari keluarga”.
Aku menunjuk buku rekening itu.
“Kalau uang masuk ke rekening atas nama Ibu, secara hukum dan praktik kendalinya ada di tangan Ibu. Apa tujuan tabungannya?”
“Untuk masa depan kalian.”
“Berapa targetnya?”
Bu Ratna mulai kesal.
“Kenapa banyak sekali pertanyaan?”
“Karena itu uang hasil kerja saya.”
Ia menghentakkan telapak tangannya ke meja.
“Apa kamu kira Ibu mau mencuri uang menantu sendiri?”
Dimas akhirnya bersuara.
“Nadira, jangan ngomong seperti itu.”
Aku menoleh.
“Kalau begitu, kamu juga akan setor tujuh puluh persen?”
Ruangan langsung sunyi.
Dimas belum sempat menjawab ketika Bu Ratna menyela.
“Dimas laki-laki.”
Aku menatapnya.
“Lalu?”
“Dia perlu uang untuk relasi kerja, makan dengan klien, membantu teman, banyak kebutuhan.”
“Sedangkan saya?”
“Kamu perempuan. Paling pergi kantor lalu pulang. Pegang uang sebanyak itu buat apa?”
Aku memandang Dimas sekali lagi.
Ia menghindari mataku.
Saat itulah sesuatu di dalam diriku benar-benar dingin.
Aku tidak marah karena jumlahnya tujuh puluh persen.
Bukan juga semata-mata karena uang.
Aku marah karena mereka bahkan tidak merasa harus meminta persetujuanku.
Mereka sudah membagi penghasilanku seolah aku hanya mesin pencetak uang yang kebetulan menikah dengan anak mereka.
Aku bertanya untuk terakhir kalinya.
“Kalau saya menolak?”
Ayah Dimas meletakkan cangkir teh.
“Kalau tidak mau mengikuti aturan rumah ini, keluar.”
Bu Ratna langsung menambahkan,
“Silakan coba hidup sendiri. Sekarang sewa apartemen layak dekat kantor saja bisa belasan juta.”
Ia tersenyum tipis.
“Jangan karena baru naik jabatan lalu merasa hebat.”
“Perempuan yang sudah menikah harus tahu uangnya digunakan untuk keluarga.”
Aku menoleh kepada suamiku.
“Menurut kamu?”
Dimas mengembuskan napas panjang.
“Nadira, nurut dulu saja.”
“Jadi kamu setuju?”
“Bukan begitu.”
“Lalu bagaimana?”
“Orang tuaku ingin membantu kita menabung.”
Aku hampir bisa menebak kalimat berikutnya.
“Kalau nanti mereka sudah tenang, aku bicara lagi.”
Benar.
Itulah kalimatnya.
Nanti.
Selama dua tahun menikah, hidupku penuh dengan kata itu.
Ketika ibunya memintaku memasak meskipun aku baru pulang lembur:
Nanti aku bicara sama Ibu.
Ketika ayahnya memakai mobilku tanpa izin selama hampir seminggu:
Nanti aku jelaskan.
Ketika Bu Ratna membuka lemari pakaian kami dan mengomentari harga bajuku:
Sudahlah, nanti saja.
Dua tahun berlalu.
“Nanti” milik Dimas tidak pernah datang.
Aku berdiri.
Bu Ratna tersenyum puas.
“Begitu dong. Berikan ponselnya.”
Aku berjalan melewatinya.
Lima menit kemudian, Dimas menyusulku ke kamar dan terdiam melihat koper terbuka di atas ranjang.
Aku memasukkan pakaian kerja, laptop, beberapa dokumen pribadi, paspor, ijazah, dan barang-barang penting.
“Kamu ngapain?”
“Pindah.”
Dimas langsung menutup pintu.
“Papa ngomong begitu karena emosi.”
“Aku mendengarnya.”
“Jangan kekanak-kanakan.”
Tanganku berhenti.
Aku menatapnya.
“Yang meminta tujuh puluh persen gajiku bukan aku.”
“Nadira…”
“Yang mengancam mengusir juga bukan aku.”
Dimas merendahkan suara.
“Kamu mau tidur di mana?”
Aku kembali melipat pakaian.
“Bukan urusanmu.”
“Hotel? Kos? Rumah teman?”
Aku diam.
Ia mulai gelisah.
“Kamu sudah menikah. Kalau malam-malam keluar bawa koper, orang akan bicara apa tentang aku?”
Tentang aku.
Bukan tentang kami.
Bukan, “Aku takut kehilanganmu.”
Bukan, “Jangan pergi.”
Yang pertama dipikirkannya tetap wajahnya di depan orang lain.
Aku menutup koper.
Di luar kamar terdengar suara Bu Ratna.
“Dimas, biarkan dia!”
“Jangan dicegah!”
“Nanti setelah bayar sewa, listrik, makan sendiri beberapa minggu, dia juga pulang!”
Ponselku tiba-tiba bergetar.
Satu notifikasi masuk dari divisi General Affairs perusahaan.
Aku membacanya.
“Bu Nadira, unit hunian eksekutif yang dialokasikan untuk Anda telah selesai disiapkan. Kunci dapat diambil mulai pukul 07.00 besok.”
Aku mematikan layar.
Permohonan hunian itu sudah diajukan perusahaan enam bulan lalu sebagai fasilitas bagi karyawan senior yang menangani proyek strategis.
Aku bahkan belum pernah memberi tahu Dimas karena keputusan final baru keluar kemarin.
Dimas masih berdiri di depan pintu.
Aku hanya mengatakan dua kata.
“Minggir, Mas.”
Kali ini wajahnya mulai berubah.
Namun sebelum benar-benar pergi, aku mengambil sebuah map tebal dari laci meja.
Bu Ratna langsung berdiri ketika melihatnya.
“Itu apa?”
“Bukti pembayaran barang-barang saya.”
Aku mengeluarkan beberapa kuitansi.
“Kulkas Rp14 juta.”
“Mesin cuci Rp11 juta.”
“Dua AC Rp18 juta.”
“Televisi dan beberapa perabot sekitar Rp24 juta.”
“Besok saya akan mengirim teknisi untuk mengambil barang yang masih menjadi milik saya.”
Bu Ratna membelalak.
“Kamu mau mencopoti rumah?”
“Barang itu saya beli.”
Ayah Dimas langsung membentak,
“Kalau keluar, bawa pakaianmu saja!”
Aku membuka catatan transaksi di ponsel.
“Boleh.”
“Mau mempertahankan semuanya juga boleh.”
“Ganti uang saya setelah dikurangi penyusutan.”
Bu Ratna tertawa mengejek.
“Kamu tinggal gratis di rumah keluarga kami dua tahun. Tidak dihitung?”
Aku mengangguk.
“Bisa.”
Aku membuka spreadsheet yang memang sudah lama kusimpan.
“Nilai sewa unit sejenis sekitar Rp8 juta per bulan.”
“Saya hitung separuh karena saya tinggal bersama suami.”
“Dua tahun berarti Rp96 juta.”
Wajah Bu Ratna terlihat lega.
Sampai aku melanjutkan.
“Selama periode yang sama, saya membayar renovasi, biaya pengelolaan, listrik, internet, kebutuhan rumah dan sebagian besar furnitur total sekitar Rp214 juta.”
Aku menatap mereka.
“Kalau mau benar-benar menghitung, setelah dikurangi kontribusi sewa sekalipun, masih ada selisih lebih dari Rp100 juta dari uang saya.”
Tidak ada yang bicara.
Dimas akhirnya berkata dengan wajah merah,
“Suami istri kok sampai hitungan begini?”
Aku tersenyum hambar.
“Saat mengambil uangku, keluargamu menyebutnya aturan.”
“Saat aku menghitung uangku sendiri, kamu menyebutnya tidak punya perasaan.”
“Kalian tidak bisa selalu memilih aturan yang hanya menguntungkan kalian.”
Bu Ratna tiba-tiba berkata dengan suara tajam,
“Sudah dua tahun menikah, bahkan cucu saja belum bisa kamu kasih!”
Tanganku berhenti.
Aku perlahan menoleh kepada Dimas.
Wajahnya seketika pucat.
Kami pernah melakukan pemeriksaan kesuburan setahun lalu.
Dan hasil pemeriksaan itu bukan milikku yang bermasalah.
Selama ini aku diam demi menjaga harga dirinya.
Tapi rupanya diamku justru dipakai keluarganya untuk menyalahkanku.
Aku menatap Bu Ratna.
“Kalau Ibu masih ingin membahas soal anak…”
Dimas mendadak berdiri.
“IBU! SUDAH!”
Suasana langsung membeku.
Itu pertama kalinya malam itu Dimas membentak ibunya.
Sayangnya bukan untuk membelaku.
Ia hanya takut aku membuka rahasianya.
Aku menarik pegangan koper.
“Besok kita bicarakan sisanya lewat pesan.”
Lalu aku masuk ke kamar tamu dan mengunci pintu.
Dari luar masih terdengar suara Bu Ratna mencemooh.
Katanya aku akan pulang dalam tiga hari.
Ayah Dimas malah mengatakan paling lama seminggu.
Dimas mengetuk pintu tiga kali.
Aku tidak menjawab.
Aku hanya membuka kembali foto unit hunian dari perusahaan.
Luasnya 176 meter persegi.
Tiga kamar tidur.
Ruang kerja.
Furnished.
Parkir pribadi.
Sebagian besar biaya ditanggung perusahaan selama aku menjabat posisi tersebut.
Aku hanya perlu membayar biaya pengelolaan sekitar Rp1,7 juta per bulan.
Pukul enam tiga puluh pagi, aku akhirnya keluar membawa koper.
Bu Ratna sudah berdiri di ruang tamu dengan tangan terlipat.
“Masih mau pergi?”
“Bukankah Ibu yang menyuruh?”
Ia mendengus.
“Pergilah.”
“Nanti kalau pulang sambil menangis, jangan kira syaratnya masih tujuh puluh persen.”
Aku memasang sepatu.
“Kalau kamu mau masuk rumah ini lagi,” lanjutnya, “serahkan seluruh gajimu kepada Ibu.”
Aku membuka pintu.
“Tidak akan ada hari itu.”
Tiga puluh menit kemudian, aku sudah berdiri di sebuah kompleks apartemen eksekutif di kawasan Kalimalang yang dibangun menghadap aliran sungai dan cakrawala Jakarta Timur.
Petugas menyerahkan kartu akses.
“Selamat, Bu Nadira. Unit Anda di lantai tiga puluh satu.”
Pintu lift terbuka.
Aku naik.
Ketika pintu unit kubuka, aku tidak menemukan kamar kos sempit seperti yang mereka bayangkan.
Di hadapanku terbentang ruang keluarga luas dengan jendela kaca dari lantai sampai langit-langit.
Di luar sana, matahari pagi memantul di permukaan sungai.
Aku masuk sambil menarik koper.
Ponselku berbunyi.
Pesan dari Dimas.
“Mama bilang kamu masih diberi kesempatan terakhir. Malam ini pulang dan minta maaf.”
Beberapa detik kemudian sebuah foto masuk.
Seorang tukang kunci sedang berdiri di depan kamar tidur kami.
Bu Ratna ternyata mengganti kuncinya.
Aku menatap foto itu.
Lalu menatap kartu akses apartemen yang masih berada di tanganku.
Untuk pertama kalinya setelah dua tahun menikah, aku tertawa.
Mereka benar-benar yakin sedang mengunci pintu agar aku tidak bisa kembali.
Mereka tidak sadar…
aku justru baru saja mendapatkan kunci menuju hidup yang tidak lagi membutuhkan izin mereka.
#DramaKeluarga #KisahRumahTangga #MenantuIndonesia #PerempuanMandiri #CeritaViral
Bagian 2 — Mereka Menunggu Aku Memohon untuk Pulang, tetapi Satu Truk Pengangkut dan Dokumen dari Pengacara Membuat Mertuaku Mulai Panik
Hari pertama aku tinggal sendirian terasa aneh.
Bukan karena sepi.
Justru karena terlalu tenang.
Tidak ada suara Bu Ratna membuka pintu tanpa mengetuk.
Tidak ada pesan Dimas menanyakan kenapa makan malam belum tersedia.
Tidak ada komentar mengenai paket yang kubeli dengan uangku sendiri.
Aku duduk di dekat jendela sambil minum kopi dan menyadari sesuatu yang selama ini tidak pernah berani kuakui.
Rumah lama itu bukan membuatku nyaman.
Aku hanya sudah terbiasa merasa tidak nyaman.
Pukul delapan lewat sedikit, ponselku berbunyi.
Bu Ratna menelepon.
Aku tidak mengangkat.
Lalu pesan masuk.
“Teknisi datang. Kamu benar-benar menyuruh mereka mengambil AC dan mesin cuci?”
Aku menjawab singkat.
“Ya.”
Tidak sampai semenit, Dimas menelepon.
Kali ini kuangkat.
“Nadira, kamu keterlaluan.”
“Apa?”
“Mama bilang ada orang mau membawa barang dari apartemen.”
“Barang milikku.”
“Semua itu sudah dipakai bersama.”
“Kalau mau mempertahankan, bayar nilai sisanya.”
Dimas terdiam.
Aku sudah mengirim daftar lengkap malam sebelumnya.
Setelah penyusutan, nilai barang yang masih kuminta sekitar Rp47 juta.
“Aku ini suamimu,” katanya akhirnya.
“Justru itu. Seharusnya kamu tidak membiarkan istrimu diperlakukan seperti ATM.”
“Nanti kita bicara baik-baik.”
Aku nyaris tertawa mendengar kata “nanti” lagi.
“Sudah terlambat.”
Aku menutup telepon.
Siang itu, truk dari jasa pindahan tiba di apartemen lama.
Aku sengaja hadir bersama seorang rekan dari bagian legal perusahaan bernama Rika yang menjadi saksi.
Bu Ratna berdiri di ruang tamu dengan wajah merah.
“Kamu membawa orang luar ke rumah keluarga?”
Rika tersenyum sopan.
“Saya hanya mendampingi Bu Nadira memastikan barang pribadinya diambil tanpa perselisihan.”
Bu Ratna mulai berteriak bahwa semua barang yang masuk rumah anaknya otomatis menjadi milik keluarga.
Namun kuitansi pembelian tercatat atas namaku.
Nomor seri beberapa perangkat juga tercantum.
Teknisi melepas dua AC.
Mesin cuci dibawa.
Televisi dibawa.
Kulkas akhirnya mereka pertahankan setelah Dimas mentransfer nilai sisa sesuai kesepakatan.
Ketika proses hampir selesai, aku menyerahkan sebuah amplop kepada Dimas.
“Apa ini?”
“Surat dari pengacara.”
Wajahnya langsung berubah.
“Kamu serius?”
“Aku serius sejak malam kalian menyuruhku pergi.”
Isi surat itu belum gugatan cerai.
Belum.
Itu pemberitahuan resmi untuk memisahkan seluruh urusan keuangan dan meminta agar tidak ada seorang pun dari keluarganya mengakses rekening, kartu, aset, atau dokumen pribadiku.
Dimas menarik lenganku.
“Kita bisa selesaikan tanpa pengacara.”
Aku melepaskannya.
“Dua tahun aku mencoba menyelesaikan semuanya sebagai istrimu.”
“Kamu selalu memintaku mengalah.”
“Sekarang aku melindungi diriku sebagai individu.”
Bu Ratna tertawa sinis.
“Mentang-mentang punya jabatan baru!”
Aku menatapnya.
“Tidak.”
“Saya hanya akhirnya sadar bahwa punya penghasilan sendiri tapi tidak punya hak menentukan hidup sendiri adalah bentuk kemiskinan yang berbeda.”
Aku pergi.
Kupikir setelah itu mereka akan berhenti.
Ternyata aku terlalu optimis.
Tiga hari kemudian, Dimas datang ke kantorku.
Ia menunggu di lobi membawa bunga.
Aku turun setelah resepsionis memberi tahu.
“Nadira.”
Ia terlihat lelah.
“Ayo pulang.”
“Tidak.”
“Aku sudah bicara sama Mama.”
Aku mengangkat alis.
“Dan?”
“Syarat tujuh puluh persen dibatalkan.”
Aku diam.
Dimas mengira aku mulai goyah.
Ia mendekat.
“Kita mulai lagi.”
“Jadi sekarang uangku boleh tetap menjadi milikku?”
“Nadira, jangan sinis.”
“Aku hanya memastikan.”
Ia menghela napas.
“Mama cuma takut kamu terlalu boros.”
Aku tersenyum.
Bahkan setelah semuanya, ia masih membela ibunya.
“Dimas, masalahnya bukan tujuh puluh persen.”
“Lalu apa?”
“Masalahnya adalah ketika keluargamu merendahkanku, kamu berdiri di sebelah mereka.”
Ia terdiam.
Aku melanjutkan,
“Dan ketika ibumu menyalahkanku karena kita belum punya anak, kamu juga diam.”
Wajahnya menegang.
“Aku sudah bilang jangan bawa masalah itu.”
“Kenapa? Karena memalukan untukmu?”
“Nadira!”
Beberapa pegawai di lobi menoleh.
Aku merendahkan suara.
“Aku menutup mulut selama setahun supaya harga dirimu tetap terjaga.”
“Sebagai balasannya, kamu membiarkan keluargamu memakai masalah itu untuk mempermalukanku.”
Dimas tidak menjawab.
Aku berbalik hendak pergi.
Ia tiba-tiba berkata,
“Aku akan pindah dari rumah Papa.”
Langkahku berhenti.
Untuk sesaat aku benar-benar terkejut.
“Aku bisa ikut kamu,” katanya cepat. “Kita tinggal berdua.”
Aku menatapnya.
“Kamu tahu aku tinggal di mana?”
“Belum.”
“Itulah lucunya.”
“Apa?”
“Selama empat hari aku pergi, kamu tidak pernah sekali pun bertanya apakah aku aman.”
Wajah Dimas membeku.
“Kamu cuma bertanya kapan aku pulang.”
Aku masuk kembali ke lift.
Pintu hampir tertutup ketika ia menahannya.
“Nadira, kasih aku satu kesempatan.”
Aku memandang lelaki yang pernah begitu kucintai.
“Aku sudah memberimu dua tahun.”
Pintu menutup.
Namun kejutan sebenarnya datang malam itu.
Sekitar pukul sembilan, satpam apartemen menelepon.
“Bu Nadira, ada tiga orang mengaku keluarga Anda.”
Aku melihat layar interkom.
Dimas.
Bu Ratna.
Dan ayah mertuaku.
Entah bagaimana mereka mengetahui alamatku.
Aku turun ke lobi.
Begitu melihatku, Bu Ratna langsung berkata,
“Jadi ini tempatmu tinggal?”
Matanya menyapu marmer lobi, sofa besar dan resepsionis.
Ia jelas tidak menyangka.
“Kantormu membayar semua ini?”
“Itu bukan urusan Ibu.”
Ia mencibir.
“Jangan sombong. Fasilitas perusahaan bisa dicabut kapan saja.”
Ayah Dimas melangkah maju.
“Kami datang untuk menyelesaikan masalah keluarga.”
Aku menggeleng.
“Masalah keluarga kita sekarang ditangani secara tertulis.”
Bu Ratna kehilangan kesabaran.
Ia mengeluarkan beberapa lembar kertas dari tas.
“Kalau begitu baca ini!”
Aku menerimanya.
Beberapa transaksi rekening.
Namaku langsung terpaku pada salah satu angka.
Rp120 juta.
Transfer dari rekening Dimas ke rekening ibunya.
Dilakukan tiga bulan sebelumnya.
Kemudian Rp75 juta.
Lalu Rp40 juta.
Total Rp235 juta.
Aku menatap Dimas.
“Uang apa ini?”
Wajahnya seketika pucat.
Bu Ratna tampaknya baru menyadari ia memperlihatkan sesuatu yang seharusnya tidak kulihat.
Dimas cepat-cepat mencoba mengambil kertas itu.
Aku menariknya menjauh.
“Jawab.”
“Nadira…”
“Dari mana uang Rp235 juta ini?”
Tidak ada yang menjawab.
Lalu aku melihat keterangan transaksi pada transfer pertama.
Dana renovasi properti.
Aku tiba-tiba teringat sesuatu.
Enam bulan sebelumnya, Dimas memintaku mentransfer Rp250 juta ke rekening bersama kami.
Katanya untuk uang muka investasi rumah kecil yang akan kami beli bersama.
Properti yang sampai hari ini tidak pernah kutandatangani.
Aku mengangkat kertas perlahan.
“Jangan bilang…”
Aku menatap mereka satu per satu.
“Uang untuk rumah yang katanya akan kita beli itu kalian pindahkan ke rekening Ibu?”
Dan untuk pertama kalinya sejak aku meninggalkan rumah itu—
Bu Ratna tidak lagi terlihat sombong.
Ia terlihat takut.
Bagian 3 — Uang yang Mereka Sembunyikan Akhirnya Terbongkar, dan Saat Dimas Memohon Kesempatan Terakhir, Aku Sudah Menyiapkan Keputusan yang Tak Bisa Dibatalkan
Dimas mencoba menjelaskan semuanya di lobi apartemen.
Katanya uang itu hanya “dipinjam sementara”.
Katanya orang tuanya sedang merenovasi rumah lama untuk disewakan.
Katanya nanti uangnya akan dikembalikan.
Aku hanya bertanya satu hal.
“Kenapa tidak bilang kepadaku?”
Tidak ada jawaban.
Karena kami sama-sama tahu jawabannya.
Kalau mereka meminta izin, aku mungkin akan menolak.
Jadi mereka memilih mengambil keputusan tanpa aku.
Aku meminta mereka pergi.
Besok paginya, aku menemui pengacara.
Kami menelusuri semua transaksi rekening bersama.
Hasilnya jauh lebih buruk daripada yang kuduga.
Selama setahun terakhir, Dimas beberapa kali memindahkan uang dalam nominal kecil ke rekening ibunya.
Rp10 juta.
Rp15 juta.
Rp8 juta.
Rp20 juta.
Jumlahnya tidak cukup besar untuk langsung menarik perhatianku.
Jika ditotal, termasuk dana rumah, lebih dari Rp310 juta telah berpindah.
Sebagian uang itu adalah kontribusiku.
Aku merasa bodoh.
Bukan karena mempercayai suamiku.
Melainkan karena selama ini setiap kali naluriku mengatakan ada sesuatu yang salah, aku selalu memaksanya diam demi menjaga rumah tangga.
Pengacara menyarankan mediasi sebelum proses lebih lanjut.
Dimas datang sendirian.
Untuk pertama kalinya ia tidak membawa ibunya.
Ia duduk di seberangku dengan wajah kusut.
“Aku akan kembalikan uangnya.”
“Berapa lama?”
“Tiga bulan.”
Pengacaraku menyodorkan perjanjian tertulis.
Dimas membaca.
Jika pembayaran tidak dilakukan sesuai jadwal, penyelesaian akan diteruskan melalui jalur hukum sesuai bukti transaksi dan sumber dana.
Tangannya gemetar ketika menandatangani.
Kemudian ia menatapku.
“Kalau semuanya selesai, kamu mau pulang?”
Aku menggeleng.
“Nadira…”
“Aku mengajukan cerai.”
Wajahnya kosong.
Seolah selama ini ia benar-benar percaya semua ini hanya pertengkaran sementara.
“Kamu serius?”
“Sangat.”
“Cuma gara-gara uang?”
Aku menatapnya lama.
“Lucu.”
“Apa?”
“Dari awal kamu masih mengira masalahnya uang.”
Aku mencondongkan tubuh.
“Aku pergi karena di rumahmu, martabatku selalu menjadi sesuatu yang boleh dikorbankan supaya ibumu tidak marah.”
“Aku pergi karena setiap kali aku membutuhkan suami, kamu berubah menjadi anak kecil yang takut mengecewakan orang tuanya.”
“Aku pergi karena uang yang kita kumpulkan bersama bahkan bisa kamu pindahkan diam-diam.”
“Dan aku tidak mau menghabiskan sepuluh tahun berikutnya menunggu kamu berubah.”
Mata Dimas mulai merah.
“Aku cinta kamu.”
“Aku juga pernah sangat mencintaimu.”
Kalimat itu justru membuatnya diam.
Karena bentuk lampau jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan.
Proses berikutnya tidak mudah, tetapi jelas.
Dimas menjual mobil kedua yang selama ini jarang dipakai.
Ayahnya mengambil sebagian deposito.
Rumah yang mereka renovasi akhirnya harus dijaminkan untuk menutup sisa pembayaran.
Dalam tiga bulan, seluruh dana yang terbukti berasal dari kontribusiku kembali.
Bu Ratna pernah menelepon sekali.
Ia menangis.
Bukan meminta maaf.
Ia mengatakan bahwa sejak aku pergi, Dimas berubah.
Sering pulang terlambat.
Jarang bicara.
Tidak lagi menyerahkan uang sebanyak dulu kepada keluarga.
Lalu ia mengatakan,
“Keluarga kita jadi berantakan sejak kamu pergi.”
Aku menjawab tenang,
“Bukan sejak saya pergi, Bu.”
“Sejak semua orang di rumah itu merasa saya tidak punya hak berkata tidak.”
Setelah itu aku memblokir nomornya.
Perceraianku dengan Dimas selesai beberapa bulan kemudian.
Tidak ada adegan dramatis di pengadilan.
Tidak ada orang berlutut.
Tidak ada teriakan.
Hanya dua tanda tangan yang mengakhiri sesuatu yang sebenarnya sudah mati jauh sebelum kami menyadarinya.
Pada hari putusan selesai, Dimas menungguku di lorong.
“Nadira.”
Aku berhenti.
Ia terlihat jauh lebih kurus.
“Aku dengar kamu dapat promosi lagi.”
Aku mengangguk.
“Selamat.”
“Terima kasih.”
Ia memasukkan kedua tangan ke saku.
“Aku sering berpikir…”
Ia berhenti.
“Kalau malam itu aku membelamu, mungkin semuanya beda.”
Aku tersenyum tipis.
“Mungkin.”
“Aku bodoh.”
Kali ini aku tidak membantah.
Ia tertawa pahit.
Kemudian ia menanyakan satu hal.
“Kamu bahagia?”
Aku melihat keluar jendela gedung.
Aku teringat apartemen dengan jendela besar menghadap sungai.
Pagi yang tenang.
Meja kerja yang kupilih sendiri.
Tanaman kecil di balkon.
Teman-teman yang kembali sering kuundang makan malam karena aku tidak lagi takut seseorang akan mengomentari setiap pengeluaranku.
Aku mengangguk.
“Iya.”
Dan ternyata sesederhana itu.
Setahun setelah aku menarik koper keluar dari rumah keluarga Dimas, perusahaan menawariku kesempatan membeli unit apartemen yang kutempati dengan skema subsidi karyawan.
Aku mengambilnya.
Bukan karena apartemen itu mewah.
Bukan karena luasnya hampir dua kali rumah yang dulu kutinggali.
Aku membelinya karena tempat itu mengingatkanku pada pagi ketika aku akhirnya memilih diriku sendiri.
Di ruang kerjaku, aku masih menyimpan kartu akses pertama yang diberikan perusahaan.
Bukan sebagai kenang-kenangan tentang Dimas.
Justru sebaliknya.
Sebagai pengingat bahwa terkadang pintu yang dibanting orang lain di belakang kita bukanlah akhir.
Kadang itu hanya suara terakhir yang kita dengar sebelum menemukan pintu yang seharusnya kita buka sejak lama.
Dan orang-orang yang dulu yakin aku akan kembali sambil memohon?
Mereka akhirnya belajar bahwa perempuan yang pergi dengan satu koper tidak selalu sedang kehilangan rumah.
Kadang-kadang…
dia sedang meninggalkan tempat yang tak pernah menganggapnya rumah, lalu membangun kehidupan di mana tak seorang pun lagi bisa menentukan harga dirinya.

