Pagi Akad Nikahku, Calon Suamiku Membungkam Rebana Demi Adikku yang Masih Tidur—Lalu Satu Kalimat dari Kamar Itu Membuatku Membatalkan Pernikahan tanpa Ragu Sedikit Pun

Avatar penulis
Cerita 03
14 menit baca 204 tayangan
Auto Draft
Indeks

Pagi Akad Nikahku, Calon Suamiku Membungkam Rebana Demi Adikku yang Masih Tidur—Lalu Satu Kalimat dari Kamar Itu Membuatku Membatalkan Pernikahan tanpa Ragu Sedikit Pun

Bagian 1 — Saat Semua Orang Menyuruhku Mengalah Lagi, Aku Baru Sadar Pengantin Perempuan di Rumah Itu Tak Pernah Dianggap Penting oleh Siapa Pun

Pukul tujuh pagi, rombongan keluarga calon suamiku sudah berhenti di ujung gang rumah kami di Sleman.

Mobil pengantin sudah dihiasi melati.

Tim dokumentasi sudah memasang kamera.

Kelompok hadrah yang seharusnya mengiringi kedatangan calon pengantin pria bahkan sudah berdiri rapi dengan rebana di tangan.

Tapi tidak ada satu pun yang berani memainkan alat musik.

Alasannya sederhana.

Adikku, Salma, masih tidur.

Aku berdiri di depan cermin mengenakan kebaya putih yang kupilih sendiri enam bulan lalu ketika teleponku bergetar.

Nama Arga muncul di layar.

“Nadira, jangan bangunkan Salma dulu.”

Aku diam beberapa detik.

“Apa?”

“Semalam dia pulang dari butik hampir tengah malam. Tadi dia bilang kepalanya pusing. Aku sudah minta rombongan menunggu di ujung gang supaya suara mobil tidak mengganggunya.”

Aku menatap wajahku sendiri di cermin.

Riasan pengantin membuatku terlihat tenang.

Padahal dadaku mulai terasa sesak.

“Arga, akad kita jam delapan.”

“Kita masih bisa mundurkan sedikit. Jangan kaku soal waktu. Kasihan Salma.”

Belum sempat aku menjawab, telepon diputus.

Mama, Bu Ratih, masuk membawa kotak perhiasan.

Melihat wajahku, beliau malah menghela napas.

“Jangan mulai marah pagi-pagi. Ini hari pernikahanmu.”

“Aku tidak marah karena dia tidur, Ma. Aku cuma tidak mengerti kenapa semua orang harus berhenti hanya karena Salma belum bangun.”

Mama langsung mengerutkan dahi.

“Adikmu itu dari dulu gampang drop. Kamu tahu sendiri tekanan darahnya sering rendah.”

Aku hampir tertawa.

Aku memang tahu.

Aku tahu sejak SD aku sering terlambat karena Mama tidak mau mengantarku dulu sebelum Salma selesai sarapan.

Aku tahu saat SMA aku pernah kehilangan kesempatan ikut seleksi olimpiade karena harus menunggu Salma yang menangis tidak menemukan sepatu olahraga.

Aku juga tahu saat wisudaku, Mama pulang sebelum acara selesai karena Salma mengirim pesan bahwa dia sakit perut setelah makan seblak terlalu pedas.

Semua orang selalu punya alasan untuk memaklumi Salma.

Dan entah bagaimana, aku selalu menjadi orang yang diminta mengerti.

“Nadira itu kakak,” kata Mama berkali-kali.

“Kakak harus mengalah.”

Dulu aku percaya kalau aku cukup sabar, suatu hari Mama akan melihat pengorbananku.

Ternyata yang terjadi justru sebaliknya.

Semakin sering aku mengalah, semakin mereka menganggap aku tidak punya batas.

Setengah jam kemudian, Arga akhirnya masuk ke rumah.

Tidak ada suara rebana.

Tidak ada sorak keluarga.

Tidak ada prosesi meriah seperti yang berkali-kali ia ceritakan kepadaku.

Padahal dua minggu sebelumnya Arga sendiri berkata sambil tertawa bahwa ia ingin seluruh kampung tahu dia datang untuk menikahiku.

Hari ini dia bahkan meminta sopir tidak membunyikan klakson.

Aku mengira dia akan langsung mencariku.

Ternyata orang pertama yang ia tanyakan adalah Salma.

“Dia masih tidur?”

Mama mengangguk.

“Baru saja bergerak sedikit.”

Arga langsung menuju kamar Salma sambil membawa kantong kertas.

Aku mengikuti dari belakang.

Di dalamnya ada bubur ayam tanpa sambal, susu hangat, vitamin, dan roti kesukaan Salma.

Aku menatap benda-benda itu cukup lama.

Semalam aku sempat mengirim pesan kepada Arga bahwa perutku sakit karena gugup dan sejak siang aku tidak bisa makan.

Balasannya hanya:

“Besok makan setelah rias selesai saja, ya. Jangan banyak pikiran.”

Ternyata dia sempat menyiapkan sarapan.

Hanya bukan untukku.

Arga mengetuk pintu kamar Salma perlahan.

“Sal?”

Tidak ada jawaban.

Ia mengetuk lagi.

“Salma, aku masuk, ya.”

Ketika pintu dibuka, Salma masih meringkuk di balik selimut dengan kaus longgar dan celana tidur.

Arga justru tersenyum.

“Bangun dulu. Sudah pagi.”

Salma menggerutu pelan.

“Masih ngantuk.”

“Aku bawakan bubur.”

Salma membuka mata, lalu tersenyum malu-malu.

“Mas Arga kok baik banget.”

Entah siapa yang memberi aba-aba, kamera dokumentasi tiba-tiba diarahkan ke mereka.

Sang fotografer bahkan berkata antusias, “Bagus ini, natural. Mas Arga duduk sedikit lebih dekat.”

Aku berdiri di ambang pintu memakai kebaya pengantin lengkap.

Tidak seorang pun mengarahkan kamera kepadaku.

Arga duduk di tepi ranjang.

Saat Salma akhirnya menurunkan kaki, Arga mengambil sandal yang tergeletak jauh di bawah meja dan meletakkannya tepat di depan telapak kaki Salma.

“Nih. Jangan langsung berdiri, nanti pusing.”

Mama tertawa senang.

“Ya ampun, perhatian sekali calon kakak iparnya.”

Aku menoleh.

Calon kakak ipar?

Aku tidak tahu mengapa kata-kata itu tiba-tiba terdengar menjijikkan.

Salma mulai makan buburnya perlahan.

Kemudian ia berkata sesuatu yang membuat tanganku dingin.

“Untung semalam Mas Arga nemenin aku sampai tidur. Kalau enggak, mungkin aku malah tidak tidur sama sekali.”

Aku menatap Arga.

“Apa maksudnya?”

Salma tampak baru menyadari kesalahannya.

“Eh…”

Arga berdiri.

“Dia cemas karena pertama kali jadi pendamping pengantin.”

Aku merasakan tenggorokanku mengering.

“Semalam kalian teleponan?”

Tidak ada yang menjawab.

Aku membuka ponsel.

Jam 00.48 aku menelepon Arga.

Tidak dijawab.

Jam 01.03.

Tidak dijawab.

Jam 01.17.

Tidak dijawab.

Setelah itu dia hanya mengirim satu pesan:

“Tidurlah. Besok kita ketemu. Jangan melanggar pamali dengan ngobrol terus sebelum akad.”

Ternyata pada saat yang sama dia sedang menelepon adikku.

“Berapa lama?” tanyaku.

Salma memainkan ujung selimut.

“Mungkin… sampai jam tiga.”

Ruangan mendadak terasa terlalu sempit.

Aku memandang Arga.

“Jadi calon istrimu menelepon karena gugup, kamu bilang tidak boleh bicara. Tapi kamu menemani adikku selama dua jam?”

“Nadira, jangan dibesar-besarkan.”

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada bentakan.

Jangan dibesar-besarkan.

Kalimat yang sama yang kudengar setiap kali perasaanku bertabrakan dengan kebutuhan Salma.

Salma belum selesai makan ketika panitia dari gedung menelepon Mama.

Penghulu sudah datang.

Keluarga besar mulai menunggu.

Arga justru berkata, “Kita hilangkan saja sesi foto keluarga sebelum akad. Nanti juga ada foto setelah resepsi.”

Aku menatapnya.

“Sesi itu sudah kita rencanakan berbulan-bulan.”

“Waktu kita mepet gara-gara Salma belum siap.”

Aku hampir tidak percaya dengan apa yang kudengar.

Salma yang terlambat.

Tapi aku yang harus kehilangan bagian dari pernikahanku.

Mama menyentuh lenganku.

“Sudahlah, Dira. Jangan memperpanjang masalah.”

Untuk pertama kalinya pagi itu, aku menarik lenganku dari tangan Mama.

“Tidak.”

Semua orang menoleh.

Aku melepas ujung veil yang terpasang di rambut.

“Akadnya batal.”

Wajah Mama langsung pucat.

Arga menatapku seolah aku baru saja mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal.

“Nadira, jangan kekanak-kanakan.”

“Aku sangat serius.”

Salma mendadak menangis.

“Kak, kalau gara-gara aku, aku tidak usah ikut. Kalian berangkat saja.”

Mama langsung memeluknya.

“Kamu jangan menangis. Nanti pusing lagi.”

Arga ikut mendekat.

Sementara aku berdiri sendirian dalam pakaian pengantin.

Beberapa tante mulai berbisik.

Ada yang menyebutku egois.

Ada yang bilang aku terlalu sensitif.

Seorang paman bahkan berkata, “Rumah tangga itu perlu sabar. Baru begini saja sudah mau batal?”

Aku menatap mereka satu per satu.

“Aku sabar dua puluh sembilan tahun.”

Suasana langsung sunyi.

“Dan hari ini, di hari yang seharusnya menjadi satu-satunya hari aku tidak perlu mengalah, kalian masih menyuruhku mengalah.”

Salma menangis semakin keras lalu tiba-tiba berlari keluar kamar.

“Salma!”

Arga langsung mengejarnya.

Mama menyusul.

Beberapa kerabat ikut berhamburan keluar.

Tidak sampai dua menit, rumah yang tadi penuh orang menjadi hampir kosong.

Bahkan pada saat aku membatalkan pernikahanku sendiri, semua orang tetap memilih mengejar Salma.

Aku menatap pantulan diriku di cermin.

Lalu mataku jatuh pada ponsel Salma yang tertinggal di atas kasur.

Layarnya menyala karena sebuah pesan masuk.

Aku tidak menyentuhnya.

Tidak perlu.

Notifikasi itu terlihat jelas dari tempatku berdiri.

Pengirimnya: Mas Arga.

Dan isi pesannya membuat seluruh tubuhku membeku.

“Hapus obrolan kita semalam. Jangan sampai Nadira membaca waktu aku bilang bahkan setelah menikah nanti, kalau kamu butuh aku, aku tetap akan mendahulukanmu.”

Saat itu aku akhirnya mengerti—aku bukan sedang membatalkan satu hari pernikahan, aku sedang menyelamatkan seluruh sisa hidupku.

#DramaKeluarga #KisahPernikahan #CeritaIndonesia #PengkhianatanCinta #KisahViral

Bagian 2 — Ketika Arga Mengejar Adikku dan Meninggalkan Akad, Aku Menemukan Bukti bahwa Semua Pengorbananku Selama Ini Memang Disengaja oleh Mereka Sejak Awal

Aku memotret notifikasi itu menggunakan ponselku sendiri.

Setelahnya aku tidak membuka ponsel Salma.

Aku tidak membutuhkan lebih banyak bukti untuk mengetahui posisi siapa yang akan selalu dipilih Arga.

Dua puluh menit kemudian Mama menelepon.

Aku tidak menjawab.

Arga menyusul.

Lima panggilan.

Tujuh.

Sembilan.

Akhirnya sebuah pesan masuk.

“Salma naik ojek sendirian dan hampir pingsan di minimarket. Aku bawa dia ke klinik. Jangan buat keputusan saat emosi. Akad bisa kita lakukan sore.”

Aku membaca pesan itu dua kali.

Bukan permintaan maaf.

Bukan penjelasan tentang pesan yang kuketahui.

Bukan pertanyaan tentang keadaanku.

Ia hanya menganggap pernikahan kami seperti reservasi restoran yang bisa dipindahkan beberapa jam.

Aku membalas satu kali.

“Tidak ada akad sore ini.”

Lalu aku menghubungi wedding organizer.

“Mbak Rani, tolong umumkan kepada tamu bahwa akad dibatalkan atas keputusan saya. Konsumsi tetap dibagikan. Semua vendor yang sudah bekerja hari ini tetap dibayar.”

Suara di seberang terdengar ragu.

“Mbak Dira yakin?”

“Sangat yakin.”

Aku lalu mengganti kebaya putih dengan blus sederhana.

Ketika sampai di gedung, ratusan kursi sudah terisi.

Orang-orang memandangku.

Sebagian berbisik.

Sebagian mengangkat ponsel.

Aku meminta mikrofon.

Tanganku gemetar, tetapi suaraku tidak.

“Bapak, Ibu, keluarga, dan teman-teman yang sudah datang, saya minta maaf karena akad hari ini tidak dilanjutkan.”

Ruangan langsung gaduh.

“Ada keputusan besar yang baru saya ambil pagi ini. Saya tidak akan menjelaskan masalah pribadi kami di depan umum. Tapi saya tidak ingin memulai pernikahan dengan berpura-pura bahwa saya baik-baik saja.”

Aku membungkuk.

“Terima kasih sudah datang. Makanan sudah disediakan. Silakan dinikmati dan dibawa pulang. Saya yang bertanggung jawab atas keputusan ini.”

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak menunggu persetujuan Mama.

Aku pergi.

Sore itu aku membuka kembali email yang tiga minggu sebelumnya nyaris kuhapus.

Perusahaanku menawarkan posisi sebagai kepala proyek pembukaan kantor baru di Jakarta selama satu tahun.

Dulu aku menolaknya karena Arga mengatakan hubungan jarak jauh akan menyulitkan persiapan rumah tangga.

Aku menelepon atasanku.

“Bu Maya, apakah posisi Jakarta masih tersedia?”

Dia diam beberapa detik.

“Masih. Kamu berubah pikiran?”

“Iya.”

“Kapan bisa mulai?”

Aku melihat koper bulan madu yang masih kosong di sudut kamar.

“Senin.”

Malamnya Mama pulang.

Hal pertama yang beliau lakukan bukan memelukku.

Beliau meletakkan tas di meja dengan keras.

“Kamu tahu berapa banyak keluarga yang malu hari ini?”

Aku mengeluarkan foto notifikasi Arga.

“Baca.”

Mama membacanya.

Wajahnya berubah sesaat.

Tapi hanya sesaat.

“Kamu mungkin salah paham.”

Aku tertawa kecil.

Bahkan dengan bukti di depan mata, refleks pertama Mama tetap membela mereka.

“Kalau begitu aku capek memahami semuanya, Ma.”

Arga datang hampir pukul sepuluh malam.

Bajunya kusut.

Wajahnya lelah.

“Aku bisa jelaskan.”

“Jelaskan.”

Dia terdiam.

“Aku terlalu terbiasa menjaga Salma. Dia adikmu. Aku pikir setelah menikah kita tetap keluarga.”

“Menjaga?”

Aku menunjukkan foto pesan itu.

“Ini menjaga?”

Arga memejamkan mata.

“Aku memang salah memilih kata.”

“Bukan kata yang salah. Prioritasmu yang salah.”

Ia mencoba mendekat.

Aku mundur.

Untuk pertama kalinya wajahnya benar-benar panik.

“Nadira, enam tahun kita bersama.”

“Benar. Enam tahun.”

Aku melepas cincin tunangan.

“Dan baru hari ini aku sadar enam tahun itu tidak membuatmu mengenalku. Kamu hanya mengenal versi diriku yang selalu mengalah.”

Aku meletakkan cincin di telapak tangannya.

Dua hari kemudian aku berangkat ke Jakarta.

Aku kira semuanya selesai.

Ternyata tidak.

Pada malam pertamaku di apartemen sewaan dekat kantor, sepupuku, Siska, mengirim pesan.

“Dira, aku sebenarnya ragu mau mengirim ini. Tapi setelah kejadian kemarin, kamu berhak tahu.”

Ia mengirim beberapa tangkapan layar dari percakapannya dengan Salma tiga hari sebelum pernikahan.

Aku memperbesar gambar pertama.

Salma menulis:

“Aku penasaran saja. Setelah Kak Dira menikah, Mas Arga pasti berubah.”

Lalu pesan berikutnya.

“Jadi malam sebelum akad aku mau lihat dia masih bakal pilih aku atau tidak.”

Dan pesan terakhir membuat darahku serasa berhenti mengalir.

“Aku sengaja enggak tidur sampai hampir jam empat. Besok kalau aku susah bangun, kita lihat Mas Arga berani enggak bikin Nadira nunggu.”

Aku menatap layar sangat lama.

Ternyata hari pernikahanku bukan kacau karena Salma sakit.

Aku sedang dijadikan ujian.

Dan calon suamiku lulus sempurna—untuk menjadi laki-laki yang tidak seharusnya kunikahi.

Bagian 3 — Enam Bulan Setelah Pernikahan Batal, Mereka Datang Memintaku Kembali, tetapi Kali Ini Aku Membawa Kebenaran yang Tak Bisa Mereka Bantah

Aku tidak langsung mengirim tangkapan layar itu kepada siapa pun.

Aku tidur.

Besok paginya aku bekerja seperti biasa.

Baru setelah pulang kantor, aku membuat satu grup berisi Mama, Salma, dan Arga.

Aku memasukkan semua tangkapan layar dari Siska.

Tidak ada penjelasan panjang.

Aku hanya menulis:

“Ini alasan terakhir kenapa keputusan saya tidak akan berubah.”

Salma menelepon belasan kali.

Aku tidak menjawab.

Mama mengirim pesan:

“Adikmu cuma takut kehilangan perhatian. Jangan hancurkan keluarga karena kesalahan anak kecil.”

Anak kecil.

Salma berusia dua puluh empat tahun.

Cukup dewasa untuk bekerja.

Cukup dewasa untuk menjalin hubungan.

Cukup dewasa untuk merencanakan sebuah “ujian” kepada calon suami kakaknya.

Tetapi setiap kali harus bertanggung jawab, dia kembali disebut anak kecil.

Aku tidak membalas.

Arga justru datang ke Jakarta seminggu kemudian.

Dia menungguku di lobi kantor.

“Aku sudah marah besar ke Salma,” katanya.

Aku menatapnya.

“Lalu?”

“Aku tidak tahu dia sengaja melakukan itu.”

“Kalau dia benar-benar sakit hari itu, apa pilihanmu akan berbeda?”

Arga terdiam.

Aku tersenyum kecil.

“Berarti masalah kita bukan karena Salma berbohong. Masalah kita adalah bahkan kalau semua itu benar, kamu tetap memilih meninggalkan calon istrimu pada hari akad.”

Dia tidak bisa menjawab.

Aku berjalan melewatinya.

Setelah itu hidupku mulai berubah lebih cepat daripada yang kubayangkan.

Proyek Jakarta yang awalnya kutakuti justru berhasil.

Empat bulan kemudian, aku dipromosikan menjadi manajer regional.

Aku menyewa apartemen yang lebih nyaman, mulai olahraga lagi, bertemu teman-teman tanpa harus memikirkan apakah Salma sedang membutuhkan sesuatu.

Untuk pertama kalinya sejak kecil, hidupku terasa benar-benar milikku.

Sementara itu aku mendengar kabar dari Siska.

Hubungan Mama dan Salma mulai memburuk.

Bukan karena aku.

Karena setelah aku pergi, tidak ada lagi orang yang bisa diminta mengalah.

Salma marah ketika Mama menyuruhnya membayar cicilan motornya sendiri.

Dia marah ketika diminta membantu biaya rumah.

Dia marah ketika Mama tidak bisa menemaninya ke klinik karena harus menjaga nenek.

Selama bertahun-tahun aku menjadi bantalan di antara mereka.

Begitu aku keluar, mereka akhirnya harus menghadapi satu sama lain tanpa seseorang yang bisa dikorbankan.

Arga pun tidak mendapatkan akhir yang lebih indah.

Setelah pernikahan batal, keluarganya menuntut dia membayar sendiri sebagian besar biaya vendor yang sudah hangus karena beberapa perubahan jadwal dilakukan atas instruksinya.

Ayahnya menolak mengganti uang itu.

“Kalau kamu cukup dewasa mengubah acara tanpa berdiskusi dengan pengantin perempuan, kamu cukup dewasa membayar akibatnya.”

Kalimat itu kudengar dari mantan calon mertuaku ketika beliau menelepon untuk meminta maaf.

Aku tidak merasa menang.

Tapi untuk pertama kalinya, seseorang dari pihak Arga menyebut semuanya dengan nama yang benar.

Akibat.

Bukan salah paham.

Bukan sensitivitas.

Bukan drama.

Akibat.

Enam bulan setelah hari pernikahanku batal, Mama dan Salma datang ke apartemenku.

Arga datang satu jam kemudian.

Aku tidak tahu mereka merencanakannya bersama atau tidak.

Mama menangis.

“Pulanglah, Dira.”

“Jakarta sekarang rumahku.”

Mama menggenggam tanganku.

“Mama salah.”

Itu adalah dua kata yang selama hampir tiga puluh tahun ingin kudengar.

Anehnya, ketika akhirnya keluar, aku tidak merasa lega.

Aku hanya merasa tenang.

Salma duduk menunduk.

“Aku iri sama Kakak.”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena Kakak selalu kelihatan kuat. Semua orang percaya Kakak bisa mengurus semuanya. Aku takut setelah Kakak menikah, Mas Arga juga tidak akan memperhatikanku lagi.”

“Jadi kamu menguji calon suamiku.”

Air matanya jatuh.

“Iya.”

“Dan ketika dia memilihmu?”

Salma tidak menjawab.

Aku sudah mendapatkan jawabannya.

Arga kemudian mengeluarkan cincin lama kami dari saku.

“Aku belum bisa membuang ini.”

Aku tidak menyentuhnya.

“Nadira, kalau kamu mau, kita mulai lagi. Aku tahu sekarang batas antara peduli dan keterlaluan.”

Aku tersenyum.

“Bagus kalau kamu sudah belajar.”

Wajahnya sedikit cerah.

Lalu aku melanjutkan.

“Tapi pelajaran itu tidak harus dipraktikkan bersamaku.”

Senyumnya hilang.

Aku berdiri dan mengambil sebuah map.

Di dalamnya ada salinan pembayaran vendor, pembatalan rencana rumah yang dulu akan kami cicil bersama, serta bukti bahwa seluruh uang tabunganku sudah dipindahkan ke rekening pribadiku.

Tidak ada lagi urusan keuangan di antara kami.

Tidak ada lagi janji yang menggantung.

Tidak ada pintu belakang untuk kembali.

“Aku tidak membenci kalian,” kataku. “Tapi memaafkan bukan berarti memberikan posisi yang sama seperti dulu.”

Mama menangis lebih keras.

Aku memeluknya.

Namun ketika beliau berkata, “Pulanglah bersama Mama,” aku tetap menggeleng.

“Aku akan mengunjungi Mama. Tapi aku tidak akan kembali menjadi Nadira yang dulu.”

Setahun kemudian aku kembali ke Yogyakarta.

Bukan untuk menikah.

Bukan juga untuk membuktikan apa pun.

Aku pulang karena Mama berulang tahun.

Hubungan kami belum sempurna, tetapi jauh lebih sehat karena sekarang beliau tahu satu kalimat sederhana yang dulu tidak pernah beliau ajarkan kepada Salma:

Tidak semua keinginan harus dipenuhi.

Salma sudah pindah dan bekerja di Solo.

Kami sesekali berbicara.

Tidak dekat.

Tidak bermusuhan.

Cukup.

Tentang Arga, aku mendengar dia akhirnya dipindahkan ke luar kota dan memulai hidupnya sendiri.

Kami tidak pernah kembali bersama.

Dan itu justru menjadi akhir terbaik untuk kisah kami.

Pada malam sebelum kembali ke Jakarta, aku berdiri di depan kamar lama tempat kebaya pengantinku dulu tergantung.

Mama berdiri di belakangku.

“Kamu menyesal?”

Aku menatap koperku lalu tersenyum.

“Pernah sedih, iya.”

“Tapi menyesal?”

Aku menggeleng.

Aku hampir menikahi seorang laki-laki yang menganggap kebutuhanku bisa ditunda selama orang lain membutuhkan perhatiannya lebih dulu.

Aku hampir menghabiskan hidup menjadi perempuan yang selalu diminta memahami.

Hari ketika akadku batal memang menjadi hari paling memalukan bagi keluargaku.

Tetapi bagi diriku sendiri, itu adalah hari pertama aku berhenti menjadi pilihan kedua dalam hidupku sendiri.

Dan sejak saat itu, aku tidak pernah lagi meminta izin kepada siapa pun untuk memilih diriku terlebih dahulu.