Perlindungan Terakhir Sang Ayah Membalikkan Segalanya, Membebaskan Mira dari Ketakutan, dan Memberi Laras Kesempatan Membangun Kembali Keluarganya Bersama Raka

Avatar penulis
Cerita 05
7 menit baca 129 tayangan
Indeks

BAGIAN 3 — Perlindungan Terakhir Sang Ayah Membalikkan Segalanya, Membebaskan Mira dari Ketakutan, dan Memberi Laras Kesempatan Membangun Kembali Keluarganya Bersama Raka

Keesokan paginya, aku bertemu laki-laki bernama Pak Surya di sebuah kantor notaris di pusat kota.

Usianya hampir tujuh puluh tahun.

Begitu melihatku, dia mengeluarkan sebuah map tebal dari tasnya.

—Ayah Anda menitipkan ini kepada saya.

Di dalamnya terdapat salinan kepemilikan saham, surat wasiat tambahan, catatan transaksi, dan dokumen yang mencantumkan namaku serta Mira sebagai penerima manfaat.

Namun dokumen terakhir adalah yang paling penting.

Ayah telah membuat ketentuan khusus.

Tidak satu pun bagian kepemilikan kami boleh dialihkan tanpa persetujuan langsung kedua anaknya di hadapan notaris independen.

Artinya, tanda tangan palsu pada dokumen Bima tidak pernah cukup untuk membuat pengalihan itu sah.

—Lalu bagaimana dia bisa menggunakan aset itu selama bertahun-tahun?

Pak Surya menghela napas.

—Dengan dokumen palsu dan bantuan beberapa pihak. Tetapi kepemilikan dasarnya tidak pernah benar-benar berpindah.

Aku menatap lembaran di tanganku.

—Jadi kami masih pemiliknya?

—Secara hukum, ada dasar yang sangat kuat untuk mempertahankan kepemilikan Anda. Tetapi prosesnya tetap harus melalui pemeriksaan resmi.

Aku mengangguk.

Aku tidak menginginkan kemenangan instan.

Aku menginginkan semuanya diselesaikan dengan benar.

Hari itu juga, kami menemui pengacara independen.

Seluruh bukti diserahkan.

Ponsel lama, rekaman Ayah, dokumen asli, riwayat transaksi, bahkan keberadaan kamera di rumah Mira ikut dicatat.

Bima menelepon puluhan kali.

Aku tidak menjawab.

Kemudian pesan mulai masuk.

Awalnya dia marah.

Setelah itu mengancam akan mengambil Raka.

Beberapa jam kemudian nadanya berubah.

“Kita bisa menyelesaikan ini sebagai keluarga.”

Lalu:

“Aku akan mengembalikan bagian Kakak.”

Dan akhirnya:

“Tolong jangan hancurkan semuanya.”

Aku hanya membalas satu kali.

“Mulai sekarang, semua komunikasi melalui pengacara.”

Setelah itu nomornya kublokir.

Mira duduk di sampingku sambil memandangi layar.

—Aku tidak pernah berani melakukan itu.

—Apa?

—Mengatakan tidak kepadanya.

Aku menggenggam tangannya.

—Sekarang belajar.

Proses berikutnya tidak selesai dalam sehari.

Selama beberapa minggu, dokumen diperiksa satu per satu.

Beberapa rekening yang berkaitan dengan aset tersebut dibekukan sementara.

Perusahaan yang sahamnya diwariskan Ayah memberikan catatan resmi.

Ternyata selama bertahun-tahun Bima menggunakan hak ekonomi dari kepemilikan itu sebagai jaminan untuk memperoleh pendanaan bagi bisnisnya.

Sebagian menghasilkan keuntungan.

Sebagian lagi digunakan untuk menutup utang.

Namun ada kabar baik.

Nilai aset pokok belum hilang.

Setelah pemeriksaan dan mediasi panjang, bagian yang secara sah menjadi milikku dan Mira dipisahkan dari kepentingan bisnis Bima.

Mira juga memulai proses hukum keluarga agar pengasuhan Raka dan urusan rumah tangganya dapat diselesaikan secara resmi.

Aku tidak pernah memaksanya untuk bercerai.

Keputusan itu harus menjadi miliknya sendiri.

Suatu malam, ketika kami bertiga tinggal sementara di apartemen sewaan, Mira berkata:

—Kak, aku sudah memutuskan.

Aku memandangnya.

—Aku tidak mau kembali.

Kali ini suaranya tidak gemetar.

—Aku sudah terlalu lama hidup dengan rasa takut. Aku tidak ingin Raka tumbuh dan menganggap kehidupan seperti itu normal.

Aku tersenyum kecil.

—Kalau begitu, kita mulai dari awal.

Beberapa bulan kemudian, kehidupan kami benar-benar berubah.

Mira menyewa rumah kecil di lingkungan yang tenang.

Bukan rumah mewah.

Tidak ada gerbang tinggi.

Tidak ada kamera yang mengawasi ruang keluarga.

Tetapi pada pagi pertama kami pindah, Raka berlari dari kamar menuju halaman tanpa meminta izin siapa pun.

Dia berdiri di bawah matahari sambil tertawa.

Aku melihat Mira menutup mulutnya.

Air matanya jatuh.

—Kenapa menangis?

Aku bertanya.

Dia tersenyum.

—Karena baru sekarang aku sadar betapa lama anakku tidak pernah merasa bebas.

Aku merangkul bahunya.

Mira kemudian mulai bekerja lagi.

Sebelum menikah, dia pernah belajar desain interior tetapi berhenti setelah memiliki Raka.

Dengan sebagian uang yang akhirnya kembali berada di bawah kendalinya sendiri, dia tidak membeli mobil mewah ataupun rumah besar.

Dia menyewa sebuah studio kecil.

Awalnya hanya dua pegawai.

Enam bulan kemudian menjadi lima.

Aku kembali ke kota tempat tinggalku.

Tetapi sekarang hampir setiap malam Raka menelepon.

—Tante Laras, lihat gambar Raka!

—Tante, hari ini Raka dapat nilai bagus!

—Tante, kapan datang lagi?

Sampai suatu hari dia bertanya:

—Tante, kenapa Tante tidak tinggal bersama kami saja?

Aku tertawa.

—Karena Tante juga punya kehidupan sendiri.

Raka berpikir sebentar.

—Tapi kita tetap keluarga?

Aku terdiam.

Pertanyaan sederhana itu membuat dadaku terasa hangat.

—Selalu.

Setahun setelah hari ketika kami meninggalkan rumah Bima, aku kembali mengunjungi Mira.

Rumah kecil itu sudah berubah.

Ada tanaman di teras.

Sepeda Raka tergeletak di halaman.

Dari dapur tercium aroma sup hangat.

Aku baru saja meletakkan koper ketika Raka berlari keluar.

—Tante!

Dia memeluk pinggangku.

Anak yang dahulu selalu menunduk dan takut membuat suara kini berbicara tanpa henti.

Malamnya kami makan bertiga.

Di tengah makan, Mira mengeluarkan sebuah kotak kecil.

—Ini untuk Kakak.

Aku membukanya.

Di dalamnya ada kunci.

—Kunci apa?

—Rumah ini.

Aku tertawa.

—Untuk apa?

—Supaya Kakak tidak perlu mengetuk kalau datang.

Aku menatapnya.

Mira tersenyum.

—Dulu aku selalu merasa harus meminta izin untuk membuka pintu rumahku sendiri. Sekarang aku ingin orang yang kusayangi tahu bahwa pintu ini selalu terbuka untuk mereka.

Aku menggenggam kunci itu erat.

Raka tiba-tiba berkata:

—Tante juga punya kamar sendiri!

—Benarkah?

—Benar! Tapi jangan ambil kamar Raka.

Kami semua tertawa.

Setelah Raka tidur, aku dan Mira duduk di teras.

Dia bertanya:

—Kak masih memikirkan Ayah?

—Kadang-kadang.

—Aku juga.

Mira terdiam sebentar.

—Kalau ponsel itu tidak ditemukan, menurut Kakak apa yang akan terjadi?

Aku melihat langit malam.

—Aku tidak tahu.

Kemudian aku menoleh kepadanya.

—Tapi mungkin bukan ponsel itu yang menyelamatkan kita.

—Lalu apa?

—Raka.

Mira terdiam.

Aku tersenyum.

—Dia yang cukup berani mengambil sesuatu dari gudang meskipun selama ini selalu takut melakukan kesalahan.

Mata Mira kembali berkaca-kaca.

Beberapa hari kemudian, sebelum pulang, aku mengajak Raka sarapan.

Aku membuat makanan sederhana yang dulu sering dibuat ibu kami.

Raka mencicipinya lalu mengangkat kepala.

—Enak.

—Kalau begitu makan yang banyak.

Dia makan beberapa suap, lalu tiba-tiba bertanya:

—Tante Laras, Kakek orang baik?

Aku berhenti.

—Kenapa bertanya begitu?

—Karena suara Kakek di ponsel seperti sedang takut.

Aku memikirkan jawabannya.

—Kakek bukan orang sempurna. Tapi dia berusaha melindungi keluarganya dengan cara yang dia tahu.

Raka mengangguk seolah mengerti.

Kemudian dia berkata:

—Kalau Raka besar nanti, Raka juga mau melindungi Mama.

Aku mengusap rambutnya.

—Melindungi orang yang kita sayangi bukan berarti mengatur hidup mereka.

Dia memandangku penasaran.

—Terus bagaimana?

—Berdiri di samping mereka ketika mereka membutuhkan kita. Dan membiarkan mereka memilih jalan sendiri.

Raka mengangguk serius.

Pagi itu, ketika aku hendak pergi, Mira dan Raka mengantarku sampai depan rumah.

Aku memasukkan koper ke mobil.

Mira memelukku lama.

—Terima kasih sudah datang waktu itu.

Aku tersenyum.

—Padahal awalnya kamu yang menyuruhku pulang.

Dia tertawa sambil menangis.

—Aku bodoh.

—Tidak. Kamu hanya takut.

Aku melepaskan pelukannya.

—Yang penting sekarang kamu sudah tahu bahwa kamu bisa hidup tanpa rasa takut itu.

Raka berlari mendekat dan memasukkan sesuatu ke tanganku.

Itu sebuah gantungan kunci kecil berbentuk rumah.

—Supaya Tante ingat jalan pulang.

Aku menatap benda itu cukup lama.

Kemudian aku berjongkok dan memeluknya.

Saat mobil mulai bergerak, kulihat mereka berdiri berdampingan di depan rumah.

Tidak ada rumah besar.

Tidak ada mobil mahal.

Tidak ada kehidupan sempurna seperti yang dahulu ditampilkan Mira kepada semua orang.

Namun untuk pertama kalinya, wajah adikku terlihat benar-benar bahagia.

Aku memasukkan tangan ke saku.

Di sana ada dua kunci.

Kunci rumah Mira dan gantungan kecil pemberian Raka.

Saat itulah aku akhirnya memahami sesuatu.

Warisan terbesar Ayah ternyata bukan saham bernilai miliaran rupiah.

Bukan uang.

Bukan pula dokumen yang disembunyikannya bertahun-tahun.

Warisan terbesar itu adalah kesempatan bagi kami untuk menemukan jalan kembali satu sama lain.

Sebuah keluarga pernah hampir hancur karena ketakutan, rahasia, dan keserakahan.

Tetapi pada akhirnya, kami tidak memilih membalas semuanya dengan kebencian.

Kami memilih memulai kembali.

Dan kali ini, tidak ada seorang pun yang harus meminta izin untuk membuka pintu, melangkah keluar rumah, atau menentukan seperti apa hidup yang ingin mereka jalani.