Ponsel Lama Itu Membuka Rahasia Ayah, Sementara Kepulangan Bima yang Mendadak Membuat Mira Akhirnya Mengungkap Kebenaran yang Disembunyikannya Bertahun-Tahun

Avatar penulis
Cerita 05
6 menit baca 106 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — Ponsel Lama Itu Membuka Rahasia Ayah, Sementara Kepulangan Bima yang Mendadak Membuat Mira Akhirnya Mengungkap Kebenaran yang Disembunyikannya Bertahun-Tahun

—Apa Kakak baru saja menemukan sesuatu yang sebenarnya bukan milik Kakak?

Bima berdiri di ujung lorong tanpa bergerak.

Aku bisa merasakan ponsel lama di dalam saku bajuku seperti benda panas yang menempel di kulit.

Mira berdiri di sebelahku dengan wajah pucat, sementara Raka bersembunyi di belakang tubuhku.

Aku memandang Bima dan berusaha mempertahankan ekspresi setenang mungkin.

—Aku tidak mengerti maksudmu.

Bima tersenyum tipis.

Namun senyum itu sama sekali tidak mencapai matanya.

—Benarkah?

Dia berjalan mendekat.

—Aku meninggalkan sebuah ponsel lama di gudang. Sekarang ponsel itu tidak ada.

Raka langsung menggenggam bajuku lebih erat.

Gerakan kecil itu tidak luput dari perhatian Bima.

—Raka.

Suara Bima berubah dingin.

—Kamu masuk ke gudang?

Anak itu menundukkan kepala.

Aku segera maju satu langkah.

—Jangan bicara seperti itu kepada anak kecil.

Bima berhenti.

Untuk beberapa detik kami hanya saling menatap.

Kemudian dia tertawa pendek.

—Kak Laras, sepertinya Kakak mulai terlalu ikut campur.

—Mira adalah adikku. Raka keponakanku. Kalau mereka ketakutan di rumah sendiri, tentu aku akan ikut campur.

Wajah Bima menegang.

Mira tiba-tiba memegang lenganku.

—Kak, cukup.

Aku menoleh.

Matanya seperti sedang memohon agar aku tidak memperburuk keadaan.

Bima mengulurkan tangan.

—Berikan ponselnya.

Aku tidak bergerak.

—Ponsel apa?

—Jangan membuat semuanya lebih sulit.

Dia maju lagi.

Namun sebelum sempat mendekat, aku mengeluarkan ponselku sendiri.

—Kalau kamu menyentuhku, aku akan menelepon keamanan kompleks.

Langkah Bima berhenti.

Mungkin selama ini dia terbiasa melihat Mira menuruti semua perkataannya.

Namun aku bukan Mira.

Setelah beberapa detik, dia menarik napas panjang.

—Baiklah. Kita bicara seperti orang dewasa.

Dia menunjuk ruang keluarga.

—Turun.

Aku menggandeng Raka.

Kami turun bersama.

Begitu sampai di bawah, Bima menutup tirai ruang keluarga.

Kemudian dia memandang Mira.

—Kamu yang memberitahunya?

Mira menggeleng cepat.

—Tidak.

—Lalu bagaimana ponsel itu keluar dari gudang?

—Raka menemukannya.

Bima memejamkan mata sejenak.

Ketika membukanya kembali, dia justru terlihat lebih tenang.

—Kak Laras, apa pun yang Kakak dengar di ponsel itu adalah urusan lama keluarga kami.

—Keluarga kami?

Aku menatapnya tajam.

—Itu suara ayahku.

Bima terdiam.

Aku melanjutkan:

—Dan namaku tercantum dalam daftar transaksi.

Untuk pertama kalinya, ekspresinya benar-benar berubah.

Hanya sesaat.

Namun cukup untuk membuatku yakin bahwa dia mengetahui semuanya.

—Berapa banyak yang Kakak lihat?

Aku tersenyum dingin.

—Cukup banyak.

Bima duduk di sofa.

—Kalau begitu aku akan menjelaskan.

—Aku ingin Mira yang menjelaskan.

Aku menoleh kepada adikku.

—Sekarang.

Mira berdiri membeku.

Air mata perlahan memenuhi matanya.

Akhirnya dia duduk di sampingku.

—Sebelum Ayah meninggal, perusahaan kecil yang beliau bangun ternyata memiliki saham di sebuah perusahaan distribusi. Nilainya naik besar beberapa tahun kemudian.

Aku mengerutkan kening.

—Kenapa aku tidak pernah tahu?

—Karena Ayah sengaja merahasiakannya.

Mira mengusap air matanya.

—Beliau membagi kepemilikan itu untuk kita berdua. Separuh atas namamu, separuh atas namaku.

Aku merasa napasku tertahan.

—Lalu kenapa pengacara mengatakan Ayah tidak meninggalkan apa-apa?

Mira menatap Bima.

Jawabannya sudah jelas sebelum dia berbicara.

—Pengacara yang mengurus dokumen warisan waktu itu adalah kenalan keluarga Bima.

Bima segera menyela.

—Jangan memutarbalikkan cerita.

Aku mengangkat tangan.

—Biarkan dia bicara.

Mira mulai menangis.

—Setelah Ayah meninggal, Bima bilang saham itu sedang bermasalah. Dia bilang kalau kita mengakuinya, kita mungkin harus menanggung utang perusahaan. Aku takut. Saat itu Raka masih kecil. Aku menandatangani beberapa dokumen.

—Dokumen apa?

—Surat kuasa.

Dadaku terasa sesak.

—Atas bagianmu saja?

Mira menggeleng.

—Ada satu dokumen lain yang seharusnya membutuhkan tanda tangan Kakak.

Aku langsung mengerti.

—Jangan bilang…

Mira menutup wajahnya.

—Tanda tangan Kakak dipalsukan.

Ruangan itu mendadak sunyi.

Aku menatap Bima.

Dia tidak membantah.

—Berapa nilainya sekarang?

Mira berbisik:

—Aku tidak tahu pasti.

Bima akhirnya berkata:

—Sekitar dua puluh tujuh miliar rupiah.

Aku hampir mengira salah mendengar.

—Apa?

—Nilai terakhir sekitar dua puluh tujuh miliar.

Aku menatap laki-laki yang duduk di depanku.

Tiba-tiba semua menjadi masuk akal.

Rumah besar.

Bisnis yang berkembang terlalu cepat.

Gaya hidup yang tidak pernah cocok dengan pendapatan yang Mira ceritakan.

—Kamu menggunakan aset kami untuk membangun bisnismu.

Bima menghela napas.

—Aku mengembangkannya. Kalau uang itu dibiarkan, nilainya tidak akan sebesar sekarang.

—Itu bukan uangmu.

—Tapi akulah yang membuatnya berkembang!

Suaranya meninggi.

Raka tersentak.

Aku langsung merangkulnya.

Bima menyadari reaksinya lalu menurunkan suara.

—Aku tidak pernah berniat mengambil semuanya.

Aku tertawa pendek.

—Lalu kamera di rumah ini untuk apa?

Dia diam.

Aku menoleh kepada Mira.

—Dan kenapa kamu tidak bisa keluar rumah tanpa izin?

Mira menggigit bibir.

—Karena aku pernah mencoba pergi.

Bima langsung berdiri.

—Mira!

Namun kali ini Mira berteriak balik.

—Cukup!

Aku belum pernah melihat adikku seperti itu.

Seluruh tubuhnya gemetar, tetapi dia tetap berdiri.

—Dua tahun lalu aku mengetahui saham itu masih ada. Aku ingin menghubungi Kak Laras. Bima mengetahuinya.

Dia menatapku.

—Sejak itu semua rekeningku dia pegang. Dia bilang kalau aku mencoba membawa Raka pergi, dia akan menggunakan dokumen yang pernah kutandatangani untuk menuduhku ikut melakukan penipuan.

Aku mengepalkan tangan.

—Kenapa kamu tidak menghubungiku?

—Aku malu.

Air matanya jatuh.

—Aku takut Kakak membenciku karena dulu aku ikut menandatangani dokumen itu.

Aku berdiri lalu memeluknya.

—Kamu seharusnya takut kehilangan dirimu sendiri, bukan takut aku membencimu.

Mira menangis di bahuku.

Tiba-tiba Bima bergerak menuju pintu.

Aku segera berkata:

—Mau ke mana?

—Keluar.

—Silakan.

Aku mengeluarkan ponsel lama dari saku.

—Tapi benda ini ikut denganku.

Bima berhenti.

—Kak Laras, jangan melakukan sesuatu yang akan Kakak sesali.

Aku menatapnya.

—Justru untuk pertama kalinya sejak datang ke rumah ini, aku tahu persis apa yang harus kulakukan.

Aku membawa Mira dan Raka naik ke lantai atas.

Kami memasukkan pakaian secukupnya ke dalam koper.

Tidak sampai dua puluh menit kemudian, kami keluar dari rumah itu.

Anehnya, Bima tidak menghentikan kami.

Dia hanya berdiri di depan pintu sambil menatap.

Ketika mobil sewaan mulai meninggalkan kompleks, Mira masih terus melihat ke belakang.

—Kak…

—Apa?

—Aku takut.

Aku menggenggam tangannya.

—Sekarang kamu tidak sendirian lagi.

Kami menuju sebuah hotel.

Begitu pintu kamar terkunci, aku menghubungkan ponsel lama itu ke laptop.

Aku menyalin seluruh rekaman, foto, dan dokumen ke beberapa tempat penyimpanan.

Kemudian aku membuka rekaman kedua.

Suara Ayah kembali terdengar.

“Kalau Laras mendengar ini, carilah Pak Surya.”

Setelah itu terdengar sebuah nomor telepon.

Aku langsung mencatatnya.

Nomor tersebut masih aktif.

Aku menelepon.

Setelah tiga kali dering, seorang laki-laki tua menjawab.

—Halo?

Aku menarik napas.

—Apakah Anda mengenal ayah saya?

Di ujung sana mendadak sunyi.

Kemudian laki-laki itu bertanya:

—Anda Laras?

Jantungku berdegup keras.

—Ya.

Suara lelaki itu berubah serius.

—Akhirnya Anda menelepon. Saya sudah menunggu hampir empat tahun.

Aku menatap Mira.

—Menunggu saya untuk apa?

Jawaban lelaki itu membuat tanganku membeku di atas meja.

—Untuk menyerahkan dokumen asli yang membuktikan bahwa seluruh transaksi atas nama Anda selama empat tahun terakhir tidak pernah mendapat persetujuan Anda.

Dia berhenti sejenak.

—Dan ada satu hal lagi yang harus Anda ketahui. Ayah Anda sudah menduga seseorang akan mencoba mengambil saham itu. Karena itu, beliau membuat satu perlindungan terakhir yang bahkan Bima tidak pernah ketahui.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)