Saat Aku Kehilangan Bayi Kami Diam-Diam, Tunanganku Masih Memasak untuk Sahabat Lamanya—Satu Pesan Membuatku Membatalkan Pernikahan Tujuh Tahun Tanpa Menoleh Lagi

Avatar penulis
Cerita 03
15 menit baca 136 tayangan
Indeks

Saat Aku Kehilangan Bayi Kami Diam-Diam, Tunanganku Masih Memasak untuk Sahabat Lamanya—Satu Pesan Membuatku Membatalkan Pernikahan Tujuh Tahun Tanpa Menoleh Lagi

Bagian 1 — Sepulang dari Klinik dengan Tubuh Gemetar, Aku Mendengar Tunanganku Tertawa untuk Perempuan Lain Seolah Aku Tidak Pernah Ada

Sebelum prosedur medis dilakukan, sahabatku, Rani, menggenggam tanganku erat.

“Alma, kamu yakin tidak mau menelepon Dimas?”

Aku menatap layar ponsel yang sejak siang hanya menunjukkan satu balasan darinya.

Pukul 12.17 aku mengirim foto nasi ayam yang hampir tidak kusentuh.

Aku menulis:

“Rasanya aneh sekali hari ini. Aku mual terus. Seandainya kamu di sini, mungkin aku bisa makan masakanmu.”

Empat jam kemudian, Dimas hanya menjawab:

“Iya.”

Satu kata.

Tidak ada pertanyaan apakah aku baik-baik saja.

Tidak ada “sudah minum obat?”

Tidak ada “aku jemput nanti.”

Tetapi lima menit setelah itu, aku melihat unggahan Instagram seorang perempuan bernama Nadine Prameswari.

Foto semangkuk sup ayam buatan sendiri.

Di meja belakangnya terlihat celemek abu-abu milik Dimas.

Caption-nya sederhana:

“Sudah bertahun-tahun, ternyata masih ingat aku tidak suka wortel.”

Di kolom komentar, Dimas menulis:

“Kalau makan sembarangan terus, lambungmu kambuh lagi. Mulai sekarang bilang kalau belum makan, nanti aku masakkan.”

Nadine membalas dengan emoji tertawa.

Lalu mereka bercanda panjang.

Tentang rasa sup.

Tentang film yang sedang tayang.

Tentang hujan di Bandung.

Tentang lagu lama yang dulu mereka dengarkan bersama.

Aku membaca semuanya sampai layar ponsel meredup sendiri.

Kemudian aku kembali membuka percakapanku dengan Dimas.

Tujuh tahun.

Tujuh tahun aku mengirimkan hampir seluruh potongan kecil hidupku kepadanya.

Foto bunga tabebuya di pinggir jalan.

Kucing oren yang tidur di atas motor tetangga.

Bakso terlalu pedas.

Langit sore berwarna merah muda.

Sepatu baru yang menurutku lucu.

Dulu, Dimas selalu membalas panjang.

Bahkan foto kucing bisa berubah menjadi percakapan satu jam.

Namun sejak Nadine kembali dari Singapura enam bulan lalu, balasannya berubah menjadi:

“Oh.”

“Iya.”

“Bagus.”

“Nanti.”

“Sibuk.”

Ternyata bukan Dimas yang kehilangan minat berbicara.

Dia hanya kehilangan minat berbicara denganku.

Perasaan ingin berbagi tidak benar-benar hilang ketika cinta berubah.

Ia hanya berpindah alamat.

“Bu Alma?”

Seorang perawat memanggil namaku.

“Sudah waktunya.”

Aku berdiri perlahan.

Rani menangis sambil memelukku.

Kehamilanku baru memasuki minggu kesembilan ketika dokter menemukan masalah perkembangan serius. Setelah pemeriksaan lanjutan dan dua pendapat medis, dokter menjelaskan bahwa kehamilan itu tidak dapat dipertahankan dengan aman.

Aku menerima keputusan itu dengan kepala penuh kabut.

Yang lebih menyakitkan, Dimas bahkan tidak tahu aku datang ke klinik hari itu.

Tiga hari sebelumnya aku sudah mencoba memberitahunya bahwa dokter meminta pemeriksaan ulang.

Dia sedang mengetik pesan.

Tanpa mengangkat kepala, dia berkata,

“Nanti saja, Alma. Nadine sedang ada masalah dengan proyek kantornya. Aku bantu dulu.”

Nanti.

Selalu nanti.

Malam itu, ketika aku keluar dari klinik, langit Bandung sedang berwarna jingga keunguan.

Dulu aku pasti memotretnya.

Lalu mengirimkannya kepada Dimas.

“Lihat, langitnya cantik.”

Hari itu aku hanya memasukkan ponsel ke tas.

Dimas, langitnya memang cantik.

Tapi aku sudah tidak ingin membaginya denganmu lagi.

Aku tiba di apartemen hampir pukul sembilan malam.

Tubuhku lemas.

Perut bagian bawah masih terasa nyeri.

Begitu pintu kubuka, suara tawa Dimas terdengar dari ruang keluarga.

Dia sedang melakukan panggilan video.

“Nadine, serius, kamu harus nonton film itu sampai selesai. Ending-nya bukan seperti yang kamu kira.”

Aku berdiri di dekat rak sepatu.

Dimas menoleh.

Tatapannya singgah pada wajahku yang pucat hanya sekitar dua detik.

“Kamu baru pulang?”

“Iya.”

Dia menutup mikrofon ponselnya sebentar.

“Aku lagi bahas kerjaan sama Nadine. Malam ini aku nggak masak, ya. Kamu pesan makanan saja.”

Lalu, seolah baru mengingat sesuatu, dia menambahkan,

“Jangan pesan yang pedas. Katanya kamu belakangan gampang mual.”

Aku memegang amplop hasil pemeriksaan di dalam tas.

Untuk sesaat aku hampir tertawa.

Dia masih ingat aku sering mual.

Tapi tidak pernah cukup peduli untuk menanyakan alasannya.

Dimas kembali menyalakan mikrofon.

“Nadine, tadi sampai mana?”

Aku berjalan masuk sendirian.

Di meja makan ada dua mangkuk bekas sup.

Satu mangkuk milik Dimas.

Satu lagi sudah kosong.

Di wastafel ada wadah makanan kaca yang kukenal sebagai milik Nadine.

Berarti sebelum aku pulang, dia berada di sini.

Aku tidak bertanya.

Aku sudah terlalu lelah untuk menjadi perempuan yang terus meminta penjelasan dari seorang laki-laki yang sebenarnya sudah menjelaskan semuanya melalui tindakannya.

Aku mandi dengan air hangat, minum obat, lalu berbaring.

Pukul 10 malam.

Dimas masih menelepon.

Pukul 11.

Masih terdengar tawanya.

Pukul 12 lewat.

Masih terdengar suara Nadine dari ruang kerja.

Aku membuka aplikasi pemesanan tiket.

Besok siang ada kereta menuju Yogyakarta.

Kakakku tinggal di sana.

Aku memilih kursi dekat jendela.

Belum kubayar.

Tanganku berhenti ketika melihat cincin tunangan di jari.

Tiga minggu lagi kami seharusnya menikah.

Gedung sudah dibayar.

Undangan hampir dicetak.

Gaun sudah selesai fitting.

Namun bahkan pembicaraan soal menu resepsi kami berakhir dengan pertengkaran minggu lalu.

Aku ingin mengganti menu udang saus mentega.

Aku alergi udang cukup parah.

Dimas justru mengerutkan kening.

“Nadine suka seafood.”

Aku menatapnya.

“Apa hubungannya Nadine dengan menu pernikahan kita?”

“Dia bridesmaid dan teman dekat kita.”

“Teman dekatmu.”

Dimas mulai kesal.

“Alma, satu menu saja kenapa dipermasalahkan? Kamu tinggal jangan makan.”

Aku sampai terdiam.

“Ini pesta pernikahanku juga, Dimas.”

“Makanya jangan egois.”

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada yang kusadari saat itu.

Di pesta pernikahanku sendiri, aku dianggap egois karena tidak ingin menyediakan makanan yang bisa membuatku masuk IGD.

Sementara kesukaan Nadine harus dipertahankan.

Aku akhirnya menutup aplikasi tiket.

Bukan karena berubah pikiran.

Aku ingin memberi Dimas satu kesempatan terakhir.

Bukan untuk memperbaiki hubungan kami.

Hanya agar tujuh tahun ini berakhir melalui percakapan, bukan melalui pintu yang kututup diam-diam.

Pukul 01.43, pintu kamar akhirnya terbuka.

Dimas masuk sambil menguap.

Dia meletakkan ponselnya di nakas.

Aku langsung duduk.

“Dimas.”

“Hm?”

“Aku perlu bicara.”

Dia memandang wajahku beberapa detik.

Lalu menghela napas panjang seperti aku baru saja memberikan pekerjaan tambahan.

“Alma, aku capek banget.”

“Ini penting.”

“Semua hal menurutmu penting.”

Aku tercekat.

Dimas membuka selimut dan berbaring membelakangiku.

“Besok saja.”

“Kalau besok terlambat?”

Dia tidak menjawab.

Aku menatap punggung laki-laki yang selama tujuh tahun kupikir akan menjadi ayah dari anak-anakku.

Tanganku meraih amplop medis.

Lalu sesuatu jatuh dari saku jas Dimas yang tergantung di kursi.

Sebuah kuitansi restoran.

Aku membungkuk mengambilnya.

Tanggalnya hari ini.

Pukul 18.26.

Dua orang.

Restoran Jepang yang pernah kuminta datangi bersamanya selama berbulan-bulan.

Di bagian bawah ada tulisan tangan:

“Happy birthday, Nadine. Semoga tahun ini semua yang tertunda akhirnya jadi milikmu.”

Aku berhenti bernapas beberapa detik.

Hari ini bukan ulang tahun Nadine.

Aku tahu tanggal ulang tahunnya.

Lalu ponsel Dimas yang tergeletak di meja menyala.

Satu pesan muncul di layar.

Dari Nadine.

“Mas, cincin yang tadi kamu tunjukkan jangan sampai Alma lihat dulu. Kalau dia tahu sebelum pernikahannya batal, semuanya bisa berantakan.”

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Tiga kali.

Kemudian aku menoleh perlahan ke arah Dimas yang sudah tertidur membelakangiku.

Saat itulah aku sadar:

Mungkin selama ini aku bukan sedang kehilangan tunanganku kepada perempuan lain.

Mungkin aku sedang menjadi orang terakhir yang diberi tahu bahwa hidupku sendiri sudah mereka atur tanpa persetujuanku.

#DramaKeluarga #CeritaKehidupan #KisahPerempuan #RahasiaRumahTangga #CeritaIndonesia

Bagian 2 — Pesan Tentang Sebuah Cincin Membuka Rencana yang Mereka Sembunyikan, dan Aku Menemukan Namaku Sudah Dicoret dari Masa Depannya

Aku tidak membangunkan Dimas.

Aku hanya memotret notifikasi di layar ponselnya menggunakan ponselku.

Kemudian aku duduk sampai hampir subuh.

Nyeri di tubuhku terasa seperti sesuatu yang jauh dibandingkan rasa dingin di dada.

Pukul lima pagi, Dimas bangun.

Aku masih duduk di tempat yang sama.

“Kamu belum tidur?”

Aku mengangkat kuitansi restoran.

“Apa ini?”

Wajahnya berubah.

Hanya sebentar.

Kemudian ekspresinya kembali datar.

“Cuma makan malam.”

“Dengan Nadine?”

“Iya.”

“Kenapa kamu tulis soal sesuatu yang tertunda akhirnya jadi miliknya?”

Dimas mengambil kuitansi itu dari tanganku.

“Kamu ngubek-ngubek barang aku sekarang?”

Aku hampir tidak percaya.

“Aku tanya apa maksudnya.”

“Alma, jangan mulai drama pagi-pagi.”

Lalu aku menunjukkan foto notifikasi.

Wajah Dimas benar-benar membeku.

“Kamu baca pesan pribadi aku?”

“Cincin apa?”

Dia diam.

“Jawab aku.”

Dimas mengusap wajah.

“Cincin lama.”

“Untuk siapa?”

“Nadine.”

Aku tertawa kecil.

Suara yang keluar bahkan terdengar asing di telingaku sendiri.

“Tiga minggu sebelum menikah denganku, kamu membeli cincin untuk perempuan lain?”

“Bukan begitu.”

“Lalu bagaimana?”

Dimas akhirnya duduk.

Dia menjelaskan bahwa ketika masih kuliah, dia dan Nadine pernah berjanji membeli sepasang cincin jika suatu hari karier mereka berhasil.

Katanya bukan cincin pertunangan.

Bukan simbol perselingkuhan.

Hanya “janji lama”.

“Dia baru balik setelah bertahun-tahun. Aku cuma memenuhi janji.”

Aku memandang laki-laki itu lama.

“Janji tujuh tahun lalu kepada dia lebih penting daripada perasaan calon istrimu sekarang?”

Dimas kehilangan kesabaran.

“Kamu selalu membuat semuanya tentang dirimu.”

Kalimat itu membuat sesuatu dalam diriku akhirnya putus.

Aku mengambil amplop medis dari samping tempat tidur.

Kutaruh di depannya.

“Kalau begitu baca.”

Dimas mengambilnya.

Beberapa detik kemudian wajahnya pucat.

“Apa ini?”

“Kehamilan kita.”

Dia mengangkat kepala cepat.

“Kamu hamil?”

“Sudah tidak.”

Ruangan menjadi sunyi.

Dimas menatap lembaran itu seperti tidak memahami tulisan di atasnya.

“Kapan kamu tahu?”

“Dua minggu lalu.”

“Kenapa kamu nggak bilang?”

Aku tertawa getir.

“Aku mencoba.”

“Aku pasti ingat kalau kamu pernah bilang!”

“Tiga malam lalu aku bilang dokter meminta pemeriksaan ulang karena ada masalah.”

Dimas tampak kebingungan.

Kemudian ekspresinya berubah saat dia mengingat.

Malam ketika dia berkata:

“Nanti saja, Nadine sedang ada masalah.”

Aku melanjutkan,

“Kemarin dokter melakukan tindakan karena kehamilan itu tidak bisa dipertahankan dengan aman.”

Bibir Dimas bergerak.

“Kemarin?”

Aku mengangguk.

“Ketika aku di klinik, kamu memasak untuk Nadine.”

Dia berdiri mendadak.

“Kenapa kamu pergi sendiri?!”

Pertanyaan itu begitu ironis sampai aku tidak punya tenaga untuk marah.

“Karena setiap kali aku mencoba mendekat, kamu menyuruhku menunggu.”

Dimas berjalan mondar-mandir.

“Kamu seharusnya telepon aku!”

“Aku sudah tujuh tahun meneleponmu, Dimas.”

Dia terdiam.

“Bedanya cuma selama ini aku belum sadar bahwa kamu sudah berhenti mengangkatnya, bahkan ketika secara fisik kamu masih ada di sampingku.”

Aku melepas cincin tunangan.

Meletakkannya di meja.

“Kita selesai.”

Dimas menatap cincin itu.

Beberapa detik kemudian dia malah tertawa pendek.

“Kamu lagi emosional karena kondisi kamu.”

“Tidak.”

“Alma, kamu habis kehilangan kehamilan. Jangan membuat keputusan besar sekarang.”

Aku menggeleng.

“Keputusan ini bukan dibuat kemarin.”

“Lalu?”

“Keputusan ini dibuat sedikit demi sedikit setiap kali kamu memilih dia.”

Dimas mencoba meraih tanganku.

Aku mundur.

“Aku mau ke Yogyakarta.”

“Untuk berapa lama?”

“Tidak kembali.”

Barulah wajahnya benar-benar berubah.

“Jangan berlebihan.”

Aku masuk ke ruang lemari dan mengeluarkan koper.

Dimas mengikutiku.

“Kita sudah bayar gedung hampir seratus juta.”

“Ambil bagianmu. Bagian depositku tidak perlu dikembalikan.”

“Undangan bagaimana?”

“Batalkan.”

“Orang tua kita bagaimana?”

“Jelaskan.”

“Alma!”

Aku berhenti memasukkan pakaian.

Dia berdiri di pintu.

“Aku nggak pernah selingkuh.”

Aku menatapnya.

“Perselingkuhan bukan satu-satunya cara mengkhianati seseorang.”

Dia diam.

“Kamu memberikan perhatian, waktu, antusiasme, perhatian kecil, bahkan makanan buatan tangan kepada perempuan lain. Semua hal yang selama bertahun-tahun kuminta darimu, tapi selalu kamu bilang tidak punya waktu.”

“Dia cuma teman!”

“Mungkin.”

Aku menutup koper.

“Tapi aku tidak mau menikah dengan laki-laki yang membuat tunangannya merasa menjadi orang ketiga dalam hubungannya sendiri.”

Aku memesan mobil menuju stasiun.

Saat kendaraan hampir tiba, bel apartemen berbunyi.

Dimas membuka pintu.

Nadine berdiri di luar.

Dia membawa tas kertas sebuah butik perhiasan.

Begitu melihat koperku, wajahnya langsung berubah.

“Alma?”

Aku melihat tas di tangannya.

Logo toko yang sama seperti kotak cincin tunanganku.

Dimas panik.

“Nadine, kenapa kamu datang sekarang?”

Nadine memandang kami bergantian.

“Aku cuma mau mengembalikan ini. Dimas bilang ukurannya perlu diganti.”

Aku tersenyum tipis.

“Boleh aku lihat?”

Nadine tidak menjawab.

Aku mengambil kotak dari tas kertas itu.

Di dalamnya terdapat cincin berlian kecil.

Bukan cincin persahabatan.

Di bagian dalamnya ada ukiran:

D & N.

Dan sebuah tanggal.

Tanggal satu minggu setelah hari pernikahanku yang seharusnya berlangsung.

Darah di wajah Dimas langsung hilang.

Aku membaca tanggal itu sekali lagi.

Kemudian menatapnya.

“Jadi, seminggu setelah menikah denganku, apa yang seharusnya terjadi?”

Dimas membuka mulut.

Namun Nadine lebih dulu berkata,

“Mas Dimas… bukankah kamu bilang Alma sudah setuju soal rencana pembatalan pernikahan?”

Aku membeku.

Dimas menoleh tajam.

“Nadine, diam.”

Tetapi sudah terlambat.

Aku menarik gagang koper.

“Tidak. Biarkan dia bicara.”

Nadine tampak ketakutan.

Sedangkan wajah Dimas sekarang tidak lagi menunjukkan kesal.

Dia terlihat seperti seseorang yang baru sadar bahwa kebohongan yang disusunnya selama berbulan-bulan runtuh dalam waktu kurang dari satu menit.

Aku menatap Nadine.

“Pembatalan apa?”

Dan jawaban perempuan itu membuatku akhirnya mengerti mengapa beberapa minggu terakhir Dimas terus menunda pencetakan undangan kami.

Bagian 3 — Aku Pergi Membawa Koper dan Harga Diriku, Lalu Kebohongan Mereka Runtuh Saat Semua Orang Akhirnya Mengetahui Siapa yang Dipermainkan

Nadine duduk dengan wajah pucat.

Dimas berdiri di dekat pintu.

Aku tetap berdiri sambil memegang koper.

“Bicara.”

Nadine menelan ludah.

“Dimas bilang hubungan kalian sedang bermasalah.”

Aku tidak menjawab.

“Katanya kalian mungkin membatalkan pernikahan.”

“Kapan dia bilang?”

“Sekitar dua bulan lalu.”

Aku menoleh kepada Dimas.

Dua bulan lalu.

Saat aku sibuk memilih kain kebaya bersama ibunya.

Saat kami baru membayar cicilan kedua gedung.

Saat dia masih tidur di sebelahku setiap malam.

Nadine melanjutkan,

“Dia bilang setelah semuanya selesai, kami akan mencoba bersama lagi.”

Dimas langsung memotong.

“Aku nggak pernah bilang begitu!”

Nadine menatapnya tidak percaya.

“Kamu bilang kamu menyesal memilih Alma setelah aku pergi ke Singapura.”

“Nadine!”

“Kamu juga bilang tanggal di cincin itu tanggal kita mulai dari awal!”

Aku melihat cincin di tanganku.

Seminggu setelah tanggal pernikahanku.

Sekarang semuanya masuk akal.

Dimas rupanya ingin menunggu sampai pernikahan kami dibatalkan, memberi waktu beberapa hari agar terlihat pantas, kemudian memulai hubungan dengan Nadine.

Mungkin dia belum menyentuh perempuan itu.

Mungkin mereka belum pernah berciuman.

Tetapi di kepalanya, masa depan bersamaku sudah selesai jauh sebelum dia berani mengatakannya.

Yang dilakukan Dimas hanyalah mempertahankanku sebagai cadangan sampai dia yakin Nadine akan menerimanya.

Aku memasukkan cincin D & N kembali ke kotak.

Kemudian menyerahkannya kepada Nadine.

“Ambil.”

Nadine tidak bergerak.

“Aku nggak tahu dia masih merencanakan pernikahan kalian, Alma.”

Aku tersenyum hambar.

“Sekarang kamu tahu.”

Dimas mendekat.

“Alma, dengar dulu.”

“Tidak ada lagi yang perlu didengar.”

“Aku sempat bingung.”

“Bingung tidak membuatmu berbohong selama dua bulan.”

“Aku takut menyakitimu.”

Kalimat itu akhirnya membuatku tertawa.

“Jadi caramu agar tidak menyakitiku adalah membiarkanku memilih gaun pengantin sementara kamu memilih tanggal masa depan bersama perempuan lain?”

Dimas kehilangan kata-kata.

Aku berjalan ke pintu.

Dia menahan koperku.

“Jangan pergi.”

“Lepas.”

“Kita bisa memperbaiki ini.”

“Dimas.”

Aku menatap matanya.

“Anak kita tidak ada lagi.”

Tangannya perlahan terlepas.

“Dan hubungan kita juga selesai.”

Aku berangkat ke Yogyakarta pagi itu.

Di dalam kereta, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku mematikan ponsel tanpa takut melewatkan pesan Dimas.

Ternyata ketenangan tidak selalu terasa bahagia.

Kadang-kadang ia terasa seperti duduk sendirian sambil menangis tanpa suara.

Tetapi tetap lebih baik daripada terus menunggu seseorang memilih kita.

Kakakku, Arif, menjemput di Stasiun Tugu.

Begitu melihatku, dia tidak bertanya apa pun.

Dia hanya memelukku.

Aku menangis di bahunya hampir sepuluh menit.

Hari-hari berikutnya tidak mudah.

Aku membatalkan vendor.

Menghubungi keluarga.

Menjawab pertanyaan kerabat.

Mengembalikan beberapa hadiah.

Ibuku sempat menangis ketika mengetahui semuanya.

Namun beliau hanya berkata,

“Lebih baik malu karena pernikahan batal daripada menderita karena pernikahan dipaksakan.”

Dua minggu kemudian, ibu Dimas datang ke Yogyakarta.

Dia meminta maaf.

Bukan meminta kami kembali.

Dia sudah mengetahui soal Nadine dan cincin itu.

Ternyata Dimas bahkan menggunakan sebagian dana tabungan pernikahan yang kami kumpulkan bersama untuk membeli cincin Nadine.

Aku segera meminta laporan rekening.

Jumlahnya Rp18,7 juta.

Uang itu kami sisihkan sedikit demi sedikit hampir tiga tahun.

Aku mengirim bukti transfer milikku kepada Dimas dan meminta bagianku dikembalikan.

Awalnya dia bilang akan mengurusnya nanti.

Aku memberi batas waktu tujuh hari.

Kali ini aku tidak memohon.

Aku menyertakan seluruh bukti transaksi dan mengatakan jika tidak diselesaikan, persoalan dana bersama akan kutangani secara resmi.

Dua hari kemudian uangku dikembalikan penuh.

Sementara hubungan Dimas dan Nadine?

Tidak pernah dimulai.

Nadine mengirim pesan kepadaku sebulan setelah aku pergi.

Dia meminta maaf.

Katanya setelah mengetahui Dimas berbohong kepada kami berdua, dia tidak mau meneruskan hubungan apa pun dengannya.

Aku tidak membalas panjang.

Hanya:

“Semoga setelah ini kita sama-sama memilih orang yang jujur.”

Aku tidak membenci Nadine.

Aku juga tidak menganggapnya tidak bersalah.

Tetapi orang yang berjanji hidup denganku bukan dia.

Dimas-lah yang punya kewajiban menjaga batas.

Dan Dimas memilih melanggarnya.

Tiga bulan berlalu.

Aku menyewa apartemen kecil di Yogyakarta.

Kembali bekerja sebagai ilustrator freelance.

Mengikuti kelas keramik setiap Sabtu.

Mulai memasak lagi.

Untuk diriku sendiri.

Lucunya, suatu sore aku sedang membuat sup ketika pesan Dimas masuk.

Foto langit senja Bandung.

Dulu dia jarang sekali mengirim foto apa pun.

Pesannya berbunyi:

“Langit hari ini bagus. Tiba-tiba ingat kamu dulu selalu kirim foto begini.”

Aku memandangnya cukup lama.

Lalu untuk pertama kalinya aku memahami sesuatu.

Orang sering baru menyadari nilai perhatian setelah perhatian itu berhenti datang.

Dimas mengirim pesan lagi.

“Aku kangen ngobrol sama kamu.”

Kemudian:

“Boleh kita mulai lagi?”

Aku tidak menjawab.

Bukan karena ingin menghukumnya.

Aku hanya sudah tidak punya sesuatu untuk dikatakan.

Enam bulan kemudian, tanpa sengaja aku bertemu Dimas lagi ketika menghadiri pernikahan seorang teman di Solo.

Dia terlihat lebih kurus.

Kami berdiri beberapa meter dari meja prasmanan.

Untuk beberapa detik kami hanya saling menatap.

Dia yang lebih dulu mendekat.

“Kamu kelihatan baik.”

“Terima kasih.”

“Aku dengar sekarang tinggal di Jogja.”

“Iya.”

Dia mengangguk.

Ada banyak hal seperti ingin dia katakan.

Akhirnya hanya satu kalimat yang keluar.

“Aku benar-benar minta maaf.”

Dulu mungkin aku akan menangis mendengar itu.

Hari itu tidak.

“Aku sudah memaafkan.”

Matanya langsung berubah.

“Kalau begitu…”

“Tapi memaafkan bukan berarti kembali.”

Dia terdiam.

Aku tersenyum kecil.

“Semoga kamu belajar sesuatu dari semuanya.”

Aku meninggalkannya di sana.

Bukan dengan kemenangan besar.

Bukan dengan dendam.

Hanya dengan hati yang akhirnya ringan.

Setahun setelah pernikahanku batal, aku membuka studio ilustrasi kecil bersama dua teman.

Hari pembukaannya, Rani datang membawa bunga matahari.

Dia menunjuk langit sore.

“Alma, lihat.”

Aku menoleh.

Langit Yogyakarta sedang merah keemasan.

Indah sekali.

Refleks tanganku mengambil ponsel.

Sesaat aku teringat diriku yang dulu selalu memotret langit untuk Dimas.

Kali ini aku mengambil foto itu untuk diriku sendiri.

Aku unggah dengan satu kalimat:

“Ada masa ketika kita berhenti meminta seseorang melihat dunia melalui mata kita, lalu mulai menikmatinya tanpa perlu persetujuan siapa pun.”

Rani membaca caption-ku dan tersenyum.

“Sudah benar-benar selesai?”

Aku memasukkan ponsel ke tas.

Kemudian menatap langit sekali lagi.

“Iya.”

Dan kali ini jawabanku tidak terasa seperti kehilangan.

Rasanya seperti pulang.

#DramaKeluarga #CeritaKehidupan #KisahPerempuan #BangkitKembali #CeritaIndonesia